Archive for October 22, 2018

Tangi…tangi…tangi…

(bangun…bangun…bangun) suara itu sampai sekarang masih selalu kuingat ketika masa awal-awal mondok di PP Sunan Pandanaran Jogja.

Perempuan kurus tinggi, berambut panjang berkulit coklat merupakan sosok yang sangat terkenal di komplek putri.

Dia adalah Mbak Maesaroh, santri yang sudah sangat senior tinggal di komplek putri. Dia adalah orang kepercayaan Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud untuk menegakkan tata tertib dan aturan santri putri.

Komplek kami berada di dekat rumah Bapak Ndalem. Jadi kalau nderes mengaji subuh dan sore tinggal jalan sebentar ke dekat rumah Bapak.

Namun, karena santrinya banyak maka ada ritual beragam tentunya sebelum mengaji Al-qur’an dan mempersiapkan sekolah. Di situlah peranan kepala keamanan pondok putri sangat diandalkan. Yaitu membangunkan santri dan mendisiplinkan dalam segala hal baik sarapan pagi, makan siang dan juga sholat.

Aku yang masih usia 12 – 15 tahun saat itu selalu takut jika berjumpa Mbak Maesaroh. Jika kita santri di dalam santai dan sibuk sendiri atau bermain dengan santri lain saat ada Mbak Maisaroh semua takut. Bubar…bubar…. geli kalau ingat.

Bagaimanapun juga di komplek putri harus ada perempuan yang berani seperti Mbak Maesaroh yang tanggung jawab penuh atas ketertiban dan kedisipilinan. Dimana para santri Hufadz (Tahfidz 30 juzz) setiap saat ada di komplek putri tahu betul perkembangan tiap komplek.

Ada komplek putri dimana aku tinggal namanya SQL (Sekolah Luar) ada Mts Pandanaran, ada Madrasah Aliyah SPA (MASPA) dan ada Khuffadz (Hafalan 30 juzz) (semoga gak salah tulis). Kita semua sama rasa seperjuangan di Candi jalan Kaliurang.

Kini setelah 26 tahun tahun lewat (1992-2018) saya merasakan manfaat ketika di pondok dulu. Sama halnya kenangan tentang Mbak Maesaroh. Santri perempuan yang tegas dan bersahaja. Saat saya keluar tahun 1995 dia masih memimpin kepala keamanan komplek putri, entah setelah itu siapa penggantinya.

Selamat hari santri buat Mbak Maesaroh dan alumni PPSPA Jogja.

22 Oktober 2018
Pukul 20.00

“Ketika aku menembak, aku melihat seorang jatuh. Aku gemetar hingga ujung kaki, dan aku merasa sangat kedinginan..itu adalah kali pertama aku membunuh seseorang, -Anonim, milisi Thomas Lubanga, Kongo.

Judul : Anak – Anak Peluru ( Fenomena Tentara Anak di Dunia)

Penulis: Heri Sudiono dan Rini Rahmawati

Penerbit : Mata Padi Pressindo, Jogjakarta

Edisi : 2015

Ketika dilahirkan ketika dunia apakah pernah memilih akan menjadi anak siapa? Rahasia itu adalah milik semua anak yang suci dilahirkan ke dunia. Menjadi anak bangsawan atau lahir di tengah suasana medan perang dimana orangtua meninggal terhunus senjata tajam.

Perang yang Mereka Tidak Pahami

Inilah buku yang mengupas tentang anak-anak yang yang telah menjadi korban dari salah satu aksi terburuk dalam banyak konflik bersenjata di dunia. Pembunuhan, ritus kekerasan merupakan pengalaman sehari-hari anak ini di tengah kecamuk perang yang tidak mereka pahami. Satu-satunya hal yang mereka ketahui adalah mereka harus terus patuh dan terus membunuh demi kelangsungan hidup.

Terlepas dari motivasi setiap perjuangan buku yang membuat pembaca ngilu jika ini terdiri dari empat bab. Pertama, Anak-anak peluru, bercerita tentang tentara anak dalam perang di empat benua yaitu Afrika, Asia, Eropa dan Amerika Latin.

Bab kedua berjudul “Mereka yang terjerumus: Kisah kelam tentara anak”,  bab tiga tentang “Kerja Lembaga – Lembaga Internasional”.  Bab empat “Rintihan Yang Masih Terdengar” yang membahas tentang GVSV di Kongo, anak kartel di Brazil, gerakan sipil dan pemimpin tradisional, kendala dalam usaha rehabilitasi, anak-anak dan trauma, serta pencegahan dan perekrutan anak dan bab kelima berisi “Kesaksian Setiap Tentara Anak” (ungkapan seperti di kalimat pembuka tulisan ini, 89-108).

Saya membaca buku ini tidak dari awal, langsung ke bab lima itu, sangat tidak menyangka ada buku yang menceritakan pengalaman luar biasa anak-anak yang dilahirkan penuh nestapa dan derita.

Mereka dididik menjadi bengis, menjadi pembunuh, akrab dengan senjata, alat penyoksa, tongkat, kawat berduri rantai serta belenggu.

Lokasi perang pun berbeda-beda. Ada yang dari milisi Kongo, FARC Kolombia, RUF, Sierra Leone, LRA Sudan, Renamo, Mozambik, Angkatan bersenjata Myanmar, Sandinista Venezuela, Girl Soldier Srilanka, tentara anak di Najaf Irak, tentara anak tahanan pasukan Israel di luar Ramallah.

Selain itu ada juga anak tentara yang berperang di Angola, Meksiko, dan juga informan anak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Indonesia yang masih berusia 17 tahun ada juga pengakuannya di buku ini ( halaman 98).

Tangan Kecil Berlumuran Darah

Perang telah merenggut mereka, menjerumuskan mereka ke dalam wilayah terkelamnya dan menghadirkan narasi kemanusiaan yang terburuk.Konflik berkepanjangan fisik maupun bathin menyisakan trauma mendalam.

Tangan-tangan kecil yang seharusnya menggenggam mainan dan buku pelajaran itu kini mengokang logam panas yang memuntahkan peluru, golok dingin pengooyak tubuh dengan jari berlumuran darah.

Tidak Ada Data Akurat

Tidak pernah ada catatan yang pasti tentang berapa banyak anak yang telah dilibatkan dalam semua konflik bersenjata di abad ini, tetapi kepedihan mereka menjadi catatan buruk dari setiap konflik.

Kesaksian pedih harus mereka alami terus hadir. Erang lirih dari balik barak militer menghadirkan horor kemanusiaan yang tidak terbayangkan. Kesaksian pemerkosaan yang dialami anak perempuan dan menjadi eksekutor terhadap orang yang mereka cintai.

Meski buku ini ada kelemahan karena bukan pengalaman pribadi, namun saya sangat apresiatif karena penulis buku ini menulis untuk tugas akhir kuliah Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman.

Meski kini perang senjata sudah tidak sebanyak dulu, namun kini perang melawan kepongahan perusak lingkungan justru sulit dilawan. Padahal korban bencana alam jumlahnya ribuan, mereka juga harus diselamatkan begitu juga  milyaran manusia sekarang ini harus berjuang dengan iklim yang tidak  menentu, pangan yang kian sulit dan sumber daya mineral dan non mineral kian menipis.

22 Oktober 2018

Pukul 09.32