Archive for October, 2018

Tangi…tangi…tangi…

(bangun…bangun…bangun) suara itu sampai sekarang masih selalu kuingat ketika masa awal-awal mondok di PP Sunan Pandanaran Jogja.

Perempuan kurus tinggi, berambut panjang berkulit coklat merupakan sosok yang sangat terkenal di komplek putri.

Dia adalah Mbak Maesaroh, santri yang sudah sangat senior tinggal di komplek putri. Dia adalah orang kepercayaan Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud untuk menegakkan tata tertib dan aturan santri putri.

Komplek kami berada di dekat rumah Bapak Ndalem. Jadi kalau nderes mengaji subuh dan sore tinggal jalan sebentar ke dekat rumah Bapak.

Namun, karena santrinya banyak maka ada ritual beragam tentunya sebelum mengaji Al-qur’an dan mempersiapkan sekolah. Di situlah peranan kepala keamanan pondok putri sangat diandalkan. Yaitu membangunkan santri dan mendisiplinkan dalam segala hal baik sarapan pagi, makan siang dan juga sholat.

Aku yang masih usia 12 – 15 tahun saat itu selalu takut jika berjumpa Mbak Maesaroh. Jika kita santri di dalam santai dan sibuk sendiri atau bermain dengan santri lain saat ada Mbak Maisaroh semua takut. Bubar…bubar…. geli kalau ingat.

Bagaimanapun juga di komplek putri harus ada perempuan yang berani seperti Mbak Maesaroh yang tanggung jawab penuh atas ketertiban dan kedisipilinan. Dimana para santri Hufadz (Tahfidz 30 juzz) setiap saat ada di komplek putri tahu betul perkembangan tiap komplek.

Ada komplek putri dimana aku tinggal namanya SQL (Sekolah Luar) ada Mts Pandanaran, ada Madrasah Aliyah SPA (MASPA) dan ada Khuffadz (Hafalan 30 juzz) (semoga gak salah tulis). Kita semua sama rasa seperjuangan di Candi jalan Kaliurang.

Kini setelah 26 tahun tahun lewat (1992-2018) saya merasakan manfaat ketika di pondok dulu. Sama halnya kenangan tentang Mbak Maesaroh. Santri perempuan yang tegas dan bersahaja. Saat saya keluar tahun 1995 dia masih memimpin kepala keamanan komplek putri, entah setelah itu siapa penggantinya.

Selamat hari santri buat Mbak Maesaroh dan alumni PPSPA Jogja.

22 Oktober 2018
Pukul 20.00

“Ketika aku menembak, aku melihat seorang jatuh. Aku gemetar hingga ujung kaki, dan aku merasa sangat kedinginan..itu adalah kali pertama aku membunuh seseorang, -Anonim, milisi Thomas Lubanga, Kongo.

Judul : Anak – Anak Peluru ( Fenomena Tentara Anak di Dunia)

Penulis: Heri Sudiono dan Rini Rahmawati

Penerbit : Mata Padi Pressindo, Jogjakarta

Edisi : 2015

Ketika dilahirkan ketika dunia apakah pernah memilih akan menjadi anak siapa? Rahasia itu adalah milik semua anak yang suci dilahirkan ke dunia. Menjadi anak bangsawan atau lahir di tengah suasana medan perang dimana orangtua meninggal terhunus senjata tajam.

Perang yang Mereka Tidak Pahami

Inilah buku yang mengupas tentang anak-anak yang yang telah menjadi korban dari salah satu aksi terburuk dalam banyak konflik bersenjata di dunia. Pembunuhan, ritus kekerasan merupakan pengalaman sehari-hari anak ini di tengah kecamuk perang yang tidak mereka pahami. Satu-satunya hal yang mereka ketahui adalah mereka harus terus patuh dan terus membunuh demi kelangsungan hidup.

Terlepas dari motivasi setiap perjuangan buku yang membuat pembaca ngilu jika ini terdiri dari empat bab. Pertama, Anak-anak peluru, bercerita tentang tentara anak dalam perang di empat benua yaitu Afrika, Asia, Eropa dan Amerika Latin.

Bab kedua berjudul “Mereka yang terjerumus: Kisah kelam tentara anak”,  bab tiga tentang “Kerja Lembaga – Lembaga Internasional”.  Bab empat “Rintihan Yang Masih Terdengar” yang membahas tentang GVSV di Kongo, anak kartel di Brazil, gerakan sipil dan pemimpin tradisional, kendala dalam usaha rehabilitasi, anak-anak dan trauma, serta pencegahan dan perekrutan anak dan bab kelima berisi “Kesaksian Setiap Tentara Anak” (ungkapan seperti di kalimat pembuka tulisan ini, 89-108).

Saya membaca buku ini tidak dari awal, langsung ke bab lima itu, sangat tidak menyangka ada buku yang menceritakan pengalaman luar biasa anak-anak yang dilahirkan penuh nestapa dan derita.

Mereka dididik menjadi bengis, menjadi pembunuh, akrab dengan senjata, alat penyoksa, tongkat, kawat berduri rantai serta belenggu.

Lokasi perang pun berbeda-beda. Ada yang dari milisi Kongo, FARC Kolombia, RUF, Sierra Leone, LRA Sudan, Renamo, Mozambik, Angkatan bersenjata Myanmar, Sandinista Venezuela, Girl Soldier Srilanka, tentara anak di Najaf Irak, tentara anak tahanan pasukan Israel di luar Ramallah.

Selain itu ada juga anak tentara yang berperang di Angola, Meksiko, dan juga informan anak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Indonesia yang masih berusia 17 tahun ada juga pengakuannya di buku ini ( halaman 98).

Tangan Kecil Berlumuran Darah

Perang telah merenggut mereka, menjerumuskan mereka ke dalam wilayah terkelamnya dan menghadirkan narasi kemanusiaan yang terburuk.Konflik berkepanjangan fisik maupun bathin menyisakan trauma mendalam.

Tangan-tangan kecil yang seharusnya menggenggam mainan dan buku pelajaran itu kini mengokang logam panas yang memuntahkan peluru, golok dingin pengooyak tubuh dengan jari berlumuran darah.

Tidak Ada Data Akurat

Tidak pernah ada catatan yang pasti tentang berapa banyak anak yang telah dilibatkan dalam semua konflik bersenjata di abad ini, tetapi kepedihan mereka menjadi catatan buruk dari setiap konflik.

Kesaksian pedih harus mereka alami terus hadir. Erang lirih dari balik barak militer menghadirkan horor kemanusiaan yang tidak terbayangkan. Kesaksian pemerkosaan yang dialami anak perempuan dan menjadi eksekutor terhadap orang yang mereka cintai.

Meski buku ini ada kelemahan karena bukan pengalaman pribadi, namun saya sangat apresiatif karena penulis buku ini menulis untuk tugas akhir kuliah Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman.

Meski kini perang senjata sudah tidak sebanyak dulu, namun kini perang melawan kepongahan perusak lingkungan justru sulit dilawan. Padahal korban bencana alam jumlahnya ribuan, mereka juga harus diselamatkan begitu juga  milyaran manusia sekarang ini harus berjuang dengan iklim yang tidak  menentu, pangan yang kian sulit dan sumber daya mineral dan non mineral kian menipis.

22 Oktober 2018

Pukul 09.32

 

Ketika bangun pagi ada banyak hal yang kita lakukan selain aktivitas rutin. Namun kemarin pagi terasa tidak biasa karena saya bisa menyaksikan momen istimewa yaitu menyaksikan fajar menyingsing sebelum matahari terbit.

Sekitar  pukul lima pagi lebih sedikit, cuaca masih agak gelap, semburat fajar berwarna jingga memenuhi langit. Warnanya hampir sama dengan lembayung senja ketika matahari terbenam itu kesan pertama kali saya melihat munculnya fajar pagi  menyambut kehidupan.

Warna orange keemasan sangat indah berpadu dengan langit yang masih gelap dan putihnya awan menjulang di angkasa.

Saya merasa sangat bersyukur bisa melihat fajar pagi, menyambut matahari terbit dan siap menjalani hari-hari yang panjang.

22 Oktober 2018

Pukul 06.38

 

Embun Pagi Sisa Hujan Semalam

Posted: October 21, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah
Tags: ,

 

Semalam saya terjaga tengah malam. Ketika hujan turun deras namun sebentar. Saya langsung keluar rumah dan sangat gembira setelah hampir dua bulan hujan jarang turun.

 

Saat subuh tiba, taman depan rumah bersukacita. Embun pagi hinggap di setiap dedaunan dan kelopak bunga. Pagi ini saya semangat dan gembira.

Selamat hari minggu….

 

 

Langkah demi langkah
Telah ku telusuri
Masa demi masa
Aku lalui begitu banyak

Segala hinaan yang  kualami

Tanya demi tanya
Semua telah kudaki
Jatuh dan bangun
Tegar kembali

Betapa pedih luka dan derita
Yang telah kujalani
Namun kini penderitaan serta hinaan
Berganti kebahagiaan dan kemuliaan

Air mata menjadi permata
Kebencian menjadi cinta
Bila hidup di dalam dunia
Bak sandiwara

Selamat tinggal kesengsaraan
Selamat tinggal penderitaan
Terimakasih atas pengalaman
Yang kau berikan

Reff:
Namun kini penderitaan serta hinaan
Berganti kebahagiaan dan kemuliaan
Air mata menjadi permata
Kebencian menjadi cinta
Bila hidup di dalam dunia
Bak sandiwara

Selamat tinggal kesengsaraan
Selamat tinggal penderitaan
Terimakasih atas pengalaman
Yang kau berikan

Kini terbukti cinta yang kualami
Bukannya mimpi
Lautan api telah menjadi
Taman surgawi

Apa yang dirindukan jika jauh dari Pamulang? salah satunya adalah makanan andalan kalau lagi malas  masak yaitu Kupat Tahu Magelang. Biasanya beli di Cilandak dekat Bona.

Di sini saya pun mencoba membuatnya sendiri meski baru pertama kali dan lumayan pegel dan cukup lama masaknya pagi tadi sampai 1,5 jam.

Dari mulai mencuci bersih bahan dasar seperti tauge (disiram air panas), tahu di goreng, kol dicuci lalu di goreng, seledri di iris, kacang tanah dan bawang merah digoreng.

Setelah itu membuat bahan bakwan berupa irisan wortel, kol, tepung, bawang daun di campur lalu di goreng. Setelah kering dan mengeras di potong-potong bakwannya.

Kuah gula juga mudah, rebus gula jawa 5 sendok dengan 70 ml, laos dan daun salam sampai mendidih lalu saring. Setelah itu siapkan bahan utama tauge, kol, tahu. Siapkan dengan rebusan gula dan bakwan yang telah dipotong.

Ambil bawang putih, lombok rawit sesuai selera jika suka pedas ambil beberapa, jika tidak suka pedas ya tidak usah pake lombok. Ulek halus dengan garam dan kacang. Ulek dipiring yang tidak mudah pecah.

Sajikan Hangat-hangat

20181018_074443

Karena disini gak ada ketupat saya ganti lontong. Potongi kecil-kecil. Hidangkan dengan menu utama yang disebutkan di atas bumbu halus. Masukkan bakwan dan siram dengan kuah gula. Aduk-aduk semua lalu sajikan dengan hangat. Taburkan irisan seledri dan bawang goreng.

Setelah mencoba lumayan pegal pas bikin bakwan karena gorengnya lama dengan api kecil jangan sampai gosong.

Jadi penasaran kapan-kapan pengen bikin lagi karena pertamakali puas dan kenyang. Cocok buat sarapan pagi atau makan malam. Selamat masak, silahkan mencoba ya…

Kanigoro 18 Oktober 2018

Pukul 20.29

 

“65 % kebahagiaan manusia ditentukan oleh lingkungan alam. Terutama oleh Pertanian dan Peternakan,” Eka Budianta, Budayawan, Kolumnis Trubus. 

Pergeseran gaya hidup yang sudah lama ditinggalkan rakyat Indonesia karena banyak yang melakukan urbanisasi ke kota besar menjadi buruh pabrik, pekerja otomotif, atau bekerja  di industri dengan teknologi maju di berbagai bidang  perlahan-lahan tapi pasti mulai mengalami pergeseran meski belum revolusioner.

Godaan gaji besar, gaya hidup hedonisme bertabur kemilau berlian dan nikmatnya jalan-jalan, senang-senang sepertinya masih akan lama untuk disadarkan. Entah jika Tuhan sudah memperingatkan  sesudah bencana beruntun yang menimpa ribuan korban gempa tsunami di Lombok, Sulawesi Tengah dan Jawa Timur beberapa  waktu terakhir.

Namun, saya percaya jika selama ini kembali ke desa, atau berkebun ditanah seadanya,  tidak hanya milik kaum petani di kampung. Masyarakat korban perkotaan juga sudah banyak yang menerapkan gaya hidup hijau, baik hijau di rumah, hijau pengelolaan sampah dan hijau alamiah dengan gaya hidup yang sederhana.

Dalam opini tetap seputar agribisnis yang berjudul “Hijau Tangguh” yang ditulis oleh Eka Budianta, masyarakat di Indonesia dan juga dunia menulis tentang perkembangan pesat luar biasa bisnis hijau.

Di mulai dengan konferensi Kota Hijau di Warsawa Polandia, Pak Eka menulis dengan semangat perkembangan terkini industri hijau seperti terapi hortikultur, chemo garden, forest bathing, dan aneka agrowisata.

Bangunan Hijau

Semalam saya melihat ada upaya membangun rumah bambu bagi korban bencana gempa tsunami itu membuat saya tertarik membaca tulisan Trubus edisi Oktober 2018 ini. Eka Budianta menjelaskan jika di Jepang dan Singapura berdiri konstruksi rumah sakit dengan tanaman di dinding, kebun dan ikan-ikan parit di atapnya.

Lomba kebersihan di galakkan, biopori hidroponik, daur ulang dan gaya hidup hijau menyeruak ke seantero nusantara. kampung hijau dan disiplin, rajin dan semangat sukses di Malang dan Surabaya.

Meningkatnya Indeks Bahagia

Pada 2017 kemarin Indonesia, menduduki peringkat ke-81 dari 155 negara. Ada 10 aspek kehidupan essensial yang diperhitungkan. Mulai dari kesehatan, penghasilan, harmonis keluarga, hubungan sosial, kondisi rumah dan lingkungan, bahkan ketersediaan waktu luang.

Peningkatan produksi dan konsumsi buah dan sayur di pelosok negeri sangat berpengaruh untuk meningkatkan indeks bahagia orang Indonesia. Kata Pak Eka di Sangeh bali ada program forest bathing, dimana disana ada hutan pala yang menjadikan udara memiliki kandungan positif bagi tubuh manusia.

Untuk lengkapnya beli majalah Trubus ya biar puas, bisa belajar berkebun dan menerapkan gaya hidup hijau. Selamat membaca dan terimakasih Pak Eka Budianta.

Perpustakaan Veteran, 16 Oktober 2018

Pukul 14.39

 

Desa Jadi Kota (Tembang Sunda)

Posted: October 15, 2018 by Eva in Seni
Tags: , ,

Jauh tinggal di perantauan membuat aku kadang tidak bisa menahan rindu dengan suasana kampung halaman bumi Pasundan Sukabumi.

Mencari momen – momen berharga saat di kampungku yang sudah tidak sehijau dulu membuat aku melamun, setelah hampir tiap hari dengar lagu Jawa Timuran, kini aku memutar lagu degung, dan tembang sunda untuk mengobati kerinduan.

Yang nyanyi anak kecil suaranya bagus tapi gak tahu namanya, hanya ada nama penyanyi aslinya. Semoga berkenan. Ceuk urang Sunda mah keur sono ka lembur ceunah euy urang teh hehehe….

Desa jadi Kota – Kustian

Tah di dinya baheulamah
Saur emak saur bapak
Aya kebon cikur
Aya kebon sawah
Susukana heurang
Tempat urang
Kokojayan arulin
Jeung babaturan

Tuh di ditu baheulamah
Saur emak saur bapak
Gunung meuni hejo
Hantap meuni waas
Meuni waas
Rea sasatoan
Tempat paniisan urang
Arulin jeung babaturan

Ayeunamah beda jeung baheula
Rupa desa tos geus robahna jadi kota
Na kamana kebon sawah
Nu ngeplak mapaes endah
Na kamana ci susukan
Nu heurang cai ngagenclang
Na kamana gunung leuweung
Nu subur ku tatangkalan
Jeung kamana sasatoan nu
Reang teba- tebaan

Na kamana
Kiwari tinggal carita

Lirik Lagu
Siapa sangka menjadi begini
Siapa duga kita kan berpisah
Tak Percaya biarpun kenyataan
Yang pastinya ku kan kehilanganmu

Kita sebungbung
Tapi tak bersama
Kita bercinta tapi tidak sekata

Tunggu setahun hilang
Sekerlip mata
Lautan kasih
Disapa kemarau

Kukuderita kau kau berpulang
Diriku menangis engkau tertawa
Kau-kau aku sayang
kukukusingkirkan
Siksa aku selamanya

Kuku tak menduga
Kau kau telah berubah
Dalam diam kau menolak cintaku

Aku sadar siapalah diri ini
Bagaikan titik di sisimu

Dan kau merasa nyaman
Ku tak disenangi
Kusapu air mata
Tanda perpisahan

IMG-20170628-WA0006

Seks di Usia Menjelang Senja

Posted: October 15, 2018 by Eva in Artikel, Kesehatan
Tags: ,

Seks di Usia Menjelang Senja, Siapa Takut?
“Ingatlah bahwa berapa pun usia anda, Anda berhak menikmati kehidupan seksual yang tetap romantis dan membahagiakan.”

Kehidupan seksual yang sehat dan romantic akan menambah semangat Anda dalam menikmati hidup; berapapun usia Anda bersama pasangan halal, tak perlu khawatir. Anda berhak menikmatinya dan menemukan makna di balik kehidupan seksual Anda bersama orang yang Paling anda kasihi, yang menemani hari-hari Anda menikmati karunia hidup.

Bagaimana jika Anda sudah berusia menjelang senja atau lanjut? Anda masih bisa menikmati hubungan seksual dengan nyaman atau tidak untuk kehidupan positif anda. Hal ini juga meningkatkan tingkat kenyamanan, mengurangi ketegangan, dan memperbaiki kualitas tidur yang membawa anda dan pasangan pada kualitas hidup yang lebih meningkat.

Jadi, bila anda dan pasangan mengalami problema seksual, jangan terburu-buru patah semangat. Semua problem seksual hendaklah Anda analisis dengan cerdas. Ingatlah bahwa berapapun usia anda, Anda berhak menikmati kehidupan seksual yang tetap romantic, sehat dan membahagiakan.

Pada laki-laki ada empat jenis gejala seksual yang mengganggu di usia senja. Yaitu, Disfungsi Ereksi (DE), menurunnya hasrat seksual, gangguan ejakulasi, dan nyeri testikuler pasca hubungan seksual. Sedangkan pada perempuan ada lima jenis gangguan. Yaitu Gangguan terbangkitnya hasrat seksual, kehilangan hasrat seksual, gangguan orgasme, vaginismus dan perubahan sensasi (Menua yang Sehat, dr. Yahya Wardoyo, SKM, Talenta Media, Jakarta, 2006)

Gangguan seksual banyak terjadi dengan kondisi diabetes mellitus, hipertensi, sclerosis, dan neurologis dan pemakaian obat berkepanjangan.Problem seksual yang timbul karena pengaruh psikologis dan psikososial perlu penanganan terprogram dalam lingkup lebih luas. Termasuk di dalamnya mempertahankan kebugaran fisik, kesehatan mental, dan sosial.

 

Abid

Bicara Tanda Mendengar

Kusampaikan sajak ini
Karena kamu mendengar
Kusampaikan sajak ini
Supaya aku tetap bicara
Dan kamu tetap mendengar

Kulukiskan hatimu langit
Menunggu terbitnya matahari
Bicara untuk mendengar
Mendengar untuk bicara
Dengan Puisi Leluhurmu

Selamat Ulang Tahun Muhammad Abid Manik
(Kumpulan Puisi Hadiah Seorang Ayah, Karya Eka Budianta, 2007)

Speak to show you have listened

I am sending you this poem
Simply because you listen
I am sending you this poem
So I can keeping talking
And you keep listening

I am painting your heart a sky
Waiting for the rising sun
Speaking to listen and
Listening to speak
With your ancestor poetry
Happy Birthday Muhammad Abid Manik
(Selected Poems, A Father’s Gift, By Eka Budianta, 2007)

Bukan Aku Tak Cinta – Saleem Iklim

Posted: October 15, 2018 by Eva in Seni

 

Selamat Jalan Saleem Iklim…

Iseng dengerin lagu siang ini, kangen masa-masa di Batavia. Aku amati beberapa foto yang ada selama di sana.

Lirik lagunya rancak dan lucu,

dengerin ya…

Cikini ke Gondangdia

Cikini ke Gondangdia
Ku jadi begini gara-gara dia
Cikampek Tasikmalaya
Hatiku capek bila kau tak setia

Jakarta ke Jayapura
Jangan cinta kalau  pura-pura
Madura sampai Papua
Jangan kira ku tak  bisa mendua

Walau kau hanya tukang ojek
Tak Pernah absen meski hujan dan becek
Walau kau hanya supir bajaj
Hatiku senang tiap kali kau belai

Percuma kau jadi pilot
Makin tinggi cintamu makin melorot
Apalagi kau jadi nahkoda
Jarang pulang karena kepincut janda

Biarpun sederhana asalkan kau setia

Aku pun akan selalu cinta

Percuma banyak harta

Di luar kau mendua

Jangan kira aku diam saja

 

 

 

 

Selamat Akhir Pekan

Posted: October 12, 2018 by Eva in Lingkungan
Tags:

Tidak terasa sudah memasuki bulan kedua tinggal di Jawa Timur. Banyak sudah ilmu yang kupelajari dan mulai memahami sosiologi kultural orang Jawa.

Banyak tradisi baru yang harus aku sesuaikan dengan kebiasaanku dan tradisi setempat yang memiliki banyak perbedaan frontal. Dimana aku dididik orangtuaku untuk berani jika itu benar, sementara orang Jawa itu penuh unggah ungguh, hati-hati kalau bicara, dan jangan terlalu blak-blakan membuat saya harus berpikir beberapa kali jika ingin melakukan suatu hal takut menyinggung hati warga setempat.

Akan tetapi terlepas dari semua itu, aku tetap menjadi diri aku sendiri dengan segala kelemahan yang aku miliki dan senang berkeliling menyusuri daerah-daerah yang selama ini tidak aku temui di Sukabumi, Jogjakarta atau Pamulang.

Masyarakat di sini beraneka profesi. Dari petani, profesional hingga TNI. Kalau sore biasanya aku suka melihat kebun jagung, kebun cabe, dan aneka kebun lainnya di sekitar daerah Papungan di pinggir sungai yang ada di dekat kami tinggal.

Berikut aku videokan beberapa gambar yang aku temui di sini. Biasanya sabtu minggu banyak waktu berkumpul dengan keluarga. Selamat berakhir pekan teman-teman. Kangen kalian semua.

Blitar, 13 Oktober 2018

Pukul 06.56

Semua Buat Kamu

Posted: October 12, 2018 by Eva in Jalan-jalan
Tags: , , , ,

Kemarin saat pulang dari makam Bung Karno saya naik becak dari PPIP ke arah Kuningan Kanigoro di mana saya tinggal.

Sore yang cerah membuat saya terdiam melihat sekitar perjalanan yang cukup jauh. Dari mulai keluar pertigaan, sampai pusat kota jalan terlihat sepi dan tidak banyak kendaraan.

Tidak seperti hidup di Jakarta yang kemrungsung, serba cepat dan takut ketinggalan transportasi membuat kita seperti di kejar-kejar hantu hehehe, padahal apa sebenarnya yang dicari.

Di sini saya menikmati setiap desiran angin, hempasan waktu dan cuaca dingin meski sudah lama tidak turun hujan. Persis di depan saya ada seorang lelaki baru pulang mencari nafkah.

Mengayuh sepeda dengan membonceng keranjang kosong di kanan kirinya. Santai saja menikmati setiap kayuhan sepeda seiring berjalannya waktu. Lelaki ini mencari rejeki yang halal buat keluarga.

 

 

Bunga Kamboja Merah di Siang Terik

Posted: October 11, 2018 by Eva in Artikel

Tadi saat aku ada perlu ke luar dari rumah ke Makam Bung Karno, tidak sengaja aku menemukan bunga yang sangat indah. Bunga kamboja yang berwarna merah darah menyala di pinggir jalan.

Terik matahari siang itu, membuat aku terpukau dengan indahnya warna bunga yang merata di setiap daun. Aku abadikan saat aku berjalan melewatinya.

Meskipun di Blitar sangat jarang musim hujan, akan tetapi aneka bunga yang tumbuh berseri, kebun jagung, kebun cabe disini tumbuh subur.

Blitar, 11 Oktober 2018

Pukul14.37

 

Saya melihat mereka menyeberangi kekosongan

Lebih luas dan lebih dalam 

Dari ruang dan waktu

Seluruh keberadaanku

 

Terletak antara hati dan bunga mawar

Nyala api, burung-burung, helai-helai rumput. 

Jauh di bawah kedalam batin mereka

Mencabut daun dari bunga, sayap dari lalat

 

Menghantui hati dengan pisau bedah

Dan mencerai beraikan debu hidup itu dengan lensa

Sebab di kala senja, kilat dan nyamuk di udara

Mereka mengungkapkan misteri alam

 

Menyatakan Aku-lah Ada, meski tetap tanpa nama

(Kathleen Raine, “Exile” dalam The Collected Poems of Kathleen Raine, Hamish Hamilton, 1956)

 

Judul: Anak-anak Mencari Jati Diri

(Telaah Atas Perilaku Anak Sebagai Pengungkap Diri yang Asli)

Judul Asli: Children in Search Of Meaning

Penulis: Violet Madge

Penerbit:  BPK Gunung Mulia, Jakarta

Edisi: I, 1991

 

Pernahkah anda melihat seorang anak bertanya dari mana datangnya air mata atau kenapa mata ibu mengeluarkan air? Bukankah air itu berasal dari akar pohon yang menyerap hujan? Bagaimana seorang sapi bisa melahirkan, dan bagaimana kok ada cicak mati?

Di situlah kita melihat bahwa ada beberapa tahapan dalam pendidikan anak. Dimana buku yang sudah lama terbit ini mendedahkan bahwa perkembangan atau pertumbuhan anak itu dilalui lewat pelbagai macam pertanyaan. Di mana orang tua harus menjawab dengan jujur.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama tentang Penemuan atas Dunia dan Manusia dan Kedua Beberapa refleksi  anak mencari jati diri. Pada bagian pertama terdiri dari tiga bab yaitu pendidikan masa kanak-kanak, pendidikan masa remaja, dan pendalaman pengertian selama Sekolah Dasar.

Tipis Namun Padat Berisi

Buku yang keren namun tipis ini (119 halaman), ini sudah menggebrak dari awal pembaca ketika kita dihadapkan pada beberapa pertanyaan mendasar dari seorang anak ketika mulai belajar bicara, menimpali ketika dinasehati dan melanggar perintah agama ketika diperingatkan orang tua sejak kecil. Tiga tahapan itu ada dalam bagian pertama isi buku ini.

Di setiap bab dalam buku ini disertai ringkasan, misalnya tentang anak-anak kecil mencari makna hidup dengan mencari jawaban kedua (second opinion) segala keingintahuan mereka akan gejala alam maupun manusia dengan bertanya kepada sahabat atau saudara untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Banyak pengalaman itu timbul lewat permainan, yang membenarkan pendapat Froebel bahwa: “Permainan itu bukan hal yang remeh , melainkan hal yang sangat penting dan mempunyai arti yang sangat mendalam.

Sedangkan menjelang remaja anak akan banyak, berpikir lebih keras, berfantasi (imaginasi), melihat drama dan tidak henti bertanya tentang bagaimana cara mencari kebebasan. Dimana masa remaja ini saya sepakat dengan Prof. Jeffrey bahwa ” Seperti yang dibuktikan dalam kepandaian anak-anak, akal budi manusia terus mencari makna dalam segala keadaan

Pesan Misterius  Anak yang Tersirat Sejak Embrional

Di balik kegiatan anak dari mulai menggambar, berbicara, mengetik, bermain, mendengarkan musik, menonton film, main game, beribadah, bermain bersama teman, liburan untuk jalan-jalan terdapat suatu maksud yang terdalam untuk mengungkap jati diri dalam kaitannya dengan dunia luar dan orang sekitarnya. Benih pemahaman tentang agama atau Ketuhanan juga tersirat walau masih embrional.

Jadi, melalui pengalaman atas dunia di sekitar mereka dan melalui hubungan antar sesama anak-anak sampai dewasa, tua dan meninggal dunia dapat sampai ke penemuan bahwa dalam pencarian atas jati diri masih terdapat misteri yang tidak dapat dipecahkan kelak dia menjadi apa dan meninggalnya seperti apa.

Makanya seperti apapun anak kita, jangan terlalu mengatur anak.  Biarkan dia menjadi dirinya sendiri, jangan terlalu dibanggakan kelebihan dan kekuranggannya dan juga kita harus menjaga agar meninggal dengan penuh keselamatan.

Kita boleh belajar untuk menghayatinya dengan semakin lebih bermakna, untuk menembusnya dengan semakin ciri-cirnya, namun betapapun dalam kita memasukinya dan mempelajari rahasia-rahasia anak, misteri itu tetap misterius.

Perpustakaan Kabupaten Blitar

8 Oktober, 2018

Pukul 10.14