Archive for November 1, 2018

Sudah memasuki bulan November sekarang ini, tidak terasa sudah 3, 5 bulan tinggal di perantauan,  kampung Mas Arif. Blitar terdiri dari dua wilayah, ada kabupaten dan ada kotamadya. Saya tinggal di Kabupaten Blitar, namun jarak dari kabupaten dan kota berdekatan.

Beberapa kali saya mengunjungi makam dan perpustakaan Bung Karno itu posisinya di daerah Kota Blitar, sedangkan perpustakaan kabupaten Blitar itu ada di jalan Veteran, sehingga saya menyebutnya Perpus Veteran.

20181101_093207-1

Pagi ini saya sengaja menyusuri Kota Blitar lewat trotoar jalan dari tempat alat jahit Fanny sampai jalan merdeka. Dimana di sini ada Taman Pecut, di dekat alun-alun kota Blitar.

Di Blitar berbeda dengan daerah seperti daerah pinggiran Jakarta yang dimana semua bahan baku baik sayuran mengoptimalisasikan produksi masyarakat setempat. Hasil pertanian seperti jagung, lombok dan aneka sayuran lainnya adalah hasil petani setempat, bukan merupakan kiriman dari daerah penyangga.

Di sini juga tidak banyak supermarket, ada mall juga sepi. Para pedagang setempat masih ramai membuka toko baik kelontong, toko kain, toko pakaian, industri kerajinan seperti batok kelapa, batik, pandan, anyaman bambu, tembikar bahkan sampai perbankan semua berjalan biasa saja, denyut ekonomi berjalan dengan baik, namun tidak begitu terasa persaingan yang kencang.

Setiap pagi banyak warung makanan buka dan ramai pengunjung, seperti sarapan nasi pecel, gado-gado, bubur bayi, dll. Ada juga para penjual makanan seperti  rempeyek, tahu lontong, dan lain-lain senantiasa ramai setiap hari.

Beberapa kali saya mengunjungi toko bahan kue dan  mengunjungi toko peralatan jahit,  juga toko kain di jalan merdeka membuat saya suka dengan aneka jenis sandang di sini. Hingga tidak terasa waktu pun beranjak siang.

Saya merasakan bahwa Blitar itu baik kota maupun kabupatennya sangat mandiri. Beberapa bahan masakan, ikan yang biasa saya konsumsi dulu pun di sini tidak semua ada, mungkin diproteksi melindungi pengusaha lokal.

Sepertinya ada kebijakan tertentu berkaitan dengan sistem ekonomi, jika tidak salah mungkin saya menyebutnya sistem ekonomi di sini seperti sistem dumping di Jepang. Namun dalam skala lokal.

Setelah menjelang siang, saya pun beranjak pulang. Melihat – lihat sebentar taman pecut yang bersebrangan dengan ruang terbuka hijau dimana ada beberapa pohon beringin besar mengitarinya. Angin siang semilir terasa di siang itu, para tukang becak pun banyak berada di sekitar taman. Saya pun segera pulang.

Blitar, 1 November 2018
Pukul 12.34 WIB

Advertisements

Membuat Sendiri Mie Goreng Jawa

Posted: November 1, 2018 by Eva in Artikel

Selama ini saya agak sulit mencari mie goreng jawa yang biasa dijual di beberapa tempat di Selatan Jakarta. Sebenarnya ada beberapa pilihan aneka yang rasanya enak banget dan masaknya di anglo atau tungku.

Selama ini ada bakmie jogja, mie nyemek dan yang terakhir mie goreng jawa, dimana saya terakhir kali makan saat di Jakarta.

Kini saya mencoba bikin sendiri mie goreng jawa dengan tahapan sebagai berikut:

mie telur satu bungkus (rebus air sampai mendidih, angkat masukkan mie diamkan 5-10 menit) jangan sampai lembek.
sawi satu ikat (iris)
kecap
lombok rawit 8
bawang daun dan seledri
satu butir telur
bawang merah digoreng

Bumbu halus

bawang merah lima
bawang putih tiga
kemiri tiga
garam
merica secukupnya

Langkah-langkah:

Goreng bawang merah tiriskan
panaskan minyak
setelah ditiriskan, lalu aduk dengan kecap, haluskan bumbu halus semua dalam minyak panas, masukkan lombok utuh dan telur, orak arik telur dan semua bahan dengan api kecil.
Masukkan sawi, bawang daun seledri dalam bumbu halus.

Setelah menyerap masukkan mie yang sudah dibalur kecap
Aduk semua bahan dalam, masukkan garam lalu aduk-aduk  dengan api sedang dan matikan kompor.
Hidangkan mie goreng jawa yang telah matang dengan bawang goreng.

Yuuk sarapan