Archive for November 7, 2018

IMG_7583Saat ini kita melihat tokoh inspirasi biasanya dari orang-orang terkemuka yang berhasil mengubah dunia. Namun, ternyata hari rabu ini saya mendapat inspirasi dari  sosok petani sederhana bernama Marjuni yang berhasil mempermudah pekerjaan menanam padi di sawah dengan hasil temuan yang keren tidak kalah inovatif dengan temuan universitas terkemuka.

Marjuni (44), adalah lelaki kelahiran Blitar yang bertransmigrasi ke daerah Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Belajar dari sekian lama menjadi petani, ayah tiga anak ini menciptakan alat bernama Tabela (Tanam Benih Langsung).

Ide Tabela ini dia rembuk bersama Karyani (47) temannya sesama petani di sawah. Sebelum membuat Tabela, dia mencari cara bagaimana supaya menanam padi bisa cepat dan praktis. Akhirnya terciptalah Tabela.

“Tabela memang dibuat untuk mempermudah pekerjaan petani dalam menanam padi. Ini adalah inovasi dari cara menanam padi dengan sistem tugal ataupun icir,” ujar lelaki berkumis ini.

Biaya Pembuatan Terjangkau

Penggunaan Tabela mirip dengan  memakai bajak, tetapi ditarik mundur. Agar benih yang baru ditanam tidak terinjak dan jarak tanam juga rapi. Ongkos biayanya kata Marjuni untuk menggunakan Tabela adalah sekitar Rp 700.000. Sedangkan jika menggunakan icir/tugal bisa mencapai Rp 4.000.000. Tentu ini sangat membantu para petani di lingkup petani Karangmulya dan petani lain di sekitarnya.

“Sesama petani kami saling berbagi pengetahuan, saya senang karena bisa menularkan cara meimbuat Tabela, sebagian lain ada di modifikasi saya juga tidak keberatan karena dibuat untuk membantu petani menekan ongkos produksi,” ujar Marjani.

Populer Namun Tidak Menuntut Hak Paten

Kini penggunaan Tabela semakin populer di kalangan Petani Tanah Bumbu terutama di Kusan Hulu dan Kusan Hilir. Selain membanggakan  dan bermanfaat, para petani pun semangat menanam padi, apalagi sekarang mulai musim penghujan.

Saat ini kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Selatan yang membina petani di Kasan Hulu coba memfasilitasi agar Tabela buatan Marjuni dipatenkan.

Lalu apa jawabannya? “Kalau saya pribadi, dipatenkan monggo (silahkan) enggak pun enggak apa-apa,” ucapnya. Marjuni berprinsip jika menjadi petani harus saling berbagi ilmu, rasa bangga justru muncul ketika petani lain menggunakannya.

“Mau bikin berapapun monggo, dengan begitu ilmu saya bisa diterapkan dan dikembangkan di mana-mana,” kata lelaki tamatan Sekolah Dasar (SD) yang juga pernah menjadi Juara I Inovasi Tepat Guna Tingkat Kabupaten Tanah Bumbu atas inovasi bahan bakar minyak dari limbah plastik pada tahun 2014.

Harian Kompas Edisi

Rabu 7 November, 2018

Koleksi Umum Perpustakaan Bung Karno

Pukul 11.28

Advertisements

Saat masih kost di daerah guru alif, duren tiga Jakarta Selatan, saya punya banyak cerita menarik. Saat itu saya indekost di tempatnya Sunariyah, teman lama asal Lombok kenal saat dia masih kerja di YLKI.

Kost tempat saya tinggal adalah milik seorang pengacara, namanya lupa, istrinya  cantik dan bekerja. Mereka punya anak tunggal yang lucu, gendut dan menggemaskan. Anaknya masih SD saat itu, yang diasuh oleh Mbak Ratmi yang juga pengelola kost-kostan.

Kami yang tinggal disitu ada beragam suku dan agama. Pekerjaan juga beda-beda. Ada yang bekerja di media, di mangga dua, kontraktor hingga pendeta perempuan.  Seperti biasa kami saling kenal satu sama lain dan saling menyapa dan peduli satu sama lain jika waktu pulang bekerja.

Kamar mandi di sana ada dua, dua-duanya untuk umum. Namun, di sana ada seorang perempuan paruh baya, berambut pendek hitam manis. Baik orangnya dan tegas. Sebut saja namanya Bu Santi, dia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di bilangan Blok M anaknya pun sudah besar. Tapi dia lebih senang tingga di guru alif daripada di rumah sendiri karena sibuk dan sering banyak lembur.

Jika saya dan teman – teman lain gantian menggunakan kamar mandi, tidak dengan Bu Santi. Dia selalu memakai kamar mandi yang sebelah barat, sampai teman-teman kost yang lain sungkan memakainya.

Tidak ada masalah sebenarnya dengan kamar mandi, karena jam kerja kami berbeda. Di sana saya senang punya banyak teman dengan aneka watak berbeda, dimana saya waktu itu kerja di Ciputat naik bis 57, lanjut P20 dan naik angkot D2 ke Plaza Mas Ciputat. Beberapa teman kost lain yang bekerja di daerah Kota, menggunakan kereta api dari stasiun Kalibata.

 

Waktu itu tahun 2004, ya sama bulan November. Berarti sekitar 14 tahun yang lalu kenangan terhadap Bu Santi dan kebiasaan teman – teman kost lain masih melekat dengan cerita lucu dan sebagainya.

Satu hal yang saya ingat dari Bu Santi itu kebiasaannya setelah mandi itu selalu menyikat sampai bersih gayung yang sudah dipakainya.  Dia sangat ekstrim terhadap kebersihan kamar mandi. Jika ingat kadang aku suka tertawa geli sampai segitunya ya, dia sangat bersih memelihara peralatan mandinya. 

Ini menjadi pelajaran berarti buat saya. Jadi sekarang, setiap lihat gayung di kamar mandi, saya selalu ingat Bu Santi hahaha….. Begitu juga masa-masa indah di gang guru alif duren tiga.  Itulah sedikit kisah lucu di selatan Jakarta.

Koleksi Umum Perpustakaan Bung Karno,

6 November 2018

Pukul 10.25

 

Kegembiraan tiada terkira dialami seluruh petani dan kita semua saat hujan deras turun tiada henti dua hari kemarin.

Selain tidak usah menyiram tanaman, hawa sejuk iklim kita membuat hati ini nyaman, dan tenang.

Esok paginya saat membuka jendela, titik embun menyisakan suasana yang membuat hati ini terpana.

Embun – embun yang menempel di dedaunan pohon jeruk, bunga yang baru saja mengembang, bulir-bulirnya sangat menyegarkan.

Selamat hari rabu teman-teman semua, mari kita mengawali pagi ini dengan semangat bekerja, dan hati gembira. 💐🌼🌸

Rabu, 6 November 2018

Pukul 07.02