Archive for the ‘Agama dan Spiritualitas’ Category

Judul Buku: Agama, Filsafat, Seni dalam Pemikiran Iqbal
Penulis: Asif Iqbal Khan
Penerjemah: Farida Arini
Cetakan: 1, Mei 2002
Tebal: vii + 167 halaman
Penerbit: Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta

Relasi Simbiosis Antar Agama, Filsafat dan Seni

Muhammad Iqbal merupakan satu-satunya individu dalam sejarah Islam modern yang bisa menerima pemikiran Barat modern bersamaan dengan ajaran abadi Islam. Hal inilah mungkin yang membuatnya mampu mengemban tugas amat berat yakni menyusun kembali pemikiran religius Islam

Iqbal adalah seorang pencinta kehidupan yang percaya pada pendekatan yang dinamis dan berpandangan ke depan pada kehidupan dan masalah-masalahnya. Ia berkeinginan membangun kembali Islam dengan kejayaan dan kesederhanaannya sambil menghadapi tantangan dari ilmu pengetahuan modern dan filsafat, serta untuk mencapai keselamatan bagi seluruh umat manusia baik di dunia maupun di kehidupan selanjutnya. Untuk mencapai hal itu Iqbal melakukannya dengan dua hal, yakni melalui pemikiran filsafat dan ketajaman puisinya.

Buku ini merupakan terjemahan dari buku yang berjudul Some Aspects of Iqbal Thought yang berisi tema pokok tentang pemikiran Iqbal. Ia seorang filsuf Islam yang cukup berpengaruh. Dia beranggapan bahwa media agama sebagai hal sangat penting dalam kehidupan seseorang.

Hanya agamalah yang dapat menyelesaikan sepenuhnya permasalahan yang kompleks berhubungan dengan manusia. Dalam peta khazanah pemikiran tentang Islam modern, barangkali Iqbal merupakan satu-satunya pemikir yang memiliki akar kuat dalam tradisi Islam—Timur maupun Barat modern.

Oleh karena itu tidak berlebihan bila Iqbal dikatakan sebagai salah satu filsuf Islam besar yang membidangi gerakan yang dikenal sebagai gerakan kebangkitan Islam. Ia mencita-citakan adanya sebuah Renaisans Islam (sebagai agama ynag sempurna, agung, sekaligus sederhana). Pemikiran Iqbal dapat saja tersingkir dikarenakan terjadinya kemunduran Islam berbentuk ritualisme, obskurantisme dan fanatisme.

Agama Rasional Upaya Iqbal untuk memberikan keharmonisan antaragama dan filsafat terutama termotivasi oleh pertimbangan praktis. Dia menganggap bahwa prinsip agama tetap dibutuhkan dalam dasar yang rasional.

Hal ini sesuai denan pendapatnya bahwa agama merupakan dasar bagi pikiran, dengan keberanian bergulat dengan filsafat dan ilmu pengetahuan modern, guna membangun kehidupan manusia yang bahagia baik di dunia maupun di hari kemudian.

Kenyataannya bahwa tujuan Iqbal sepanjang hidupnya adalah untuk membangun kembali Islam. Hal itu dapat dilihat dengan nyata dari syair, puisi maupun prosanya. Keinginannya untuk menghidupkan kembali moral sosial dan ide politik Islam dapat dilihat dari kekuatan ekspresi yang muncul dalam puisi-puisi filosofisnya seperti Asrar dan komposisi-komposisi puisinya yang lain.

Ide Iqbal yang sistematis dapat ditemui dalam bukunya yang religius-filosofis berjudul The Recontruction of Religions Throught of Islam (Rekrontruksi Pemikiran Religius Islam).

Pidato-pidato, pernyataan-pernyataan dan pemikiran-pemikiran Iqbal telah membuktikan bahwa dia telah menemukan inspirasi dan petunjuk dari ajaran Al-Qur’an dan kehidupan Rasulullah SAW. Iqbal juga bangga dengan hasil yang telah dicapai oleh filsuf-filsuf dan ilmuwan-ilmuwan Islam sepanjang masa.

Inilah salah satu alasan mengapa dia begitu bersemangat mendukung penelitian dan studi mendalam yang dilakukan secara terus-menerus dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan Islam.

Keistimewaan Iqbal yang luar biasa adalah pandangannya tentang dasar kebudayaan Barat modern dan Islam yakni bahwa Iqbal tidak menganggap salah dunia Islam saat ini dan sedang mengikuti kebudayaan Barat dengan cepat.

Satu-satunya kekhawatiran Iqbal adalah kalau “kehidupan fisik yang gemerlapan” dunia Barat akan mempengaruhi gerakan dunia sehingga memnyebabkan tidak mampu mencapai inti jiwa kebudayaan yang sebenarnya.

Iqbal yakin kalau gerakan kaum komunis di Eropa dimulai secara luas karena dorongan bebas pemikiran Islam, buah humanisme yang berbentuk ilmu pengetahuan dan filsafat modern, dengan penuh segala hormat hanyalah merupakan perluasan dari kebudayaan Islam. Di sini bisa kita lihat betapa kuatnya perhatian Iqbal pada masa ini.

Dalam salah satu suratnya kepada Sahib Zada Aftad Ahmad Khan, Sekretaris All India Muhamm dari Educational Conference (Konferensi Pendidikan Islam Seluruh India) di Aligarh yang bertanggal 4 Juni 1925, dia mengatakan: “Secara kasar dapat dikatakan kalau kejatuhan politik Islam di Eropa yang sedang terjadi saat ini dimulai ketika para pemikir Islam melihat kesia-siaan ilmu pengetahuan edukatif.

Sehingga praktis sekarang ini Eropa-lah yang mengambil alih tugas penelitian dan penemuan. Aktivitas intelektual di dunia Islam praktis terhenti saat ini.”

Saat ini Barat memimpin prinsip-prinsip Islam untuk kepentingan intelektual dan ilmu pengetahuan mereka, lalu kenapa kita harus mengambil petunjuk dari mereka? Kita juga bisa mengambil jalan dengan melalui sumber asli perkembangan modern dalam ajaran Islam. Kebangkitan Islam berikut penyebarannya memainkan peran sangat menentukan dalam sejarah. Kebangkitan ini dengan sukses telah membelokkan jalannya sejarah yakni denan mengubah negara Arab menjadi negara pemimpin pada masanya.

Orang Arab mendapat identitas baru dan ide-ide cemerlang dan mereka juga dikeluarkan dari lubang kemerosotan yang sangat dalam serta peradaban yang rendah. Tapi hal itu hanya mungkin dilakukan selama umat Islam tetap setia dan bertanggung jawab pada jiwa ajaran Islam.

Iqbal juga mengetahui mengapa saat ini umat Islam tidak termotivasi dan terinspirasi oleh semangat perubahan ilmuwan Islam pada masa lalu. Perubahan yang mereka lakukan adalah berusaha melawan dominasi filsafat pada masa itu yang dikuasai tradisi Yunani.

Hal itu membuktikan bahwa ilmuwan Islam bukan pengikut yang membabi buta. Para ilmuwan Islam ini memiliki keberanian untuk memiliki keyakinan yang “berbeda dengan jalur yang tersingkir” dibandingkan dengan pendahulu mereka. Tujuan mereka adalah menguasai dan mengendalikan alam, sejarah, perubahan keadaan sosial, etika dan politik yang ada, sehingga sesuai kondisi yang berlaku saat itu.

“Kritik konservatif tak pernah menjadi halangan bagi gerakan konstruktif mereka. Dibandingkan dengan tekanan filsafat Yunani konseptualisme dan abstraksisme, Al-Qur’an mengajarkan pendekatan yang pragmatis dan praktis dalam kehidupan.

Semangat perubahan ini menimbulkan konflik antara mereka dengan logika dan filsafat Yunani. Dalam kuliahnya yang berjudul “Jiwa Kebudayaan Islam”, Iqbal berusaha menemukan perbedaan esensial yang ada antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat.

Resensi ini dimuat di Harian Solo Pos, 28 Juli 2002. Tulisan lama.

17 April 2018, Pukul 11.19

Advertisements

Usai menamatkan Sekolah Dasar di SDN Cisande IV Cibadak Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1992, aku melanjutkan untuk masuk pesantren. Saat itu, aku baru pertama kali menginjak kota Jogjakarta, dimana kakakku Teh Geugeu Syarifah sekolah SMP dan A Iwan kuliah di Universitas Negeri Yogjakarta (UNY).

Di usia yang masih 12 tahun aku sangat kaget ketika aku naik bis Rajawali jurusan Sukabumi Jogjakarta, aku dijemput kakak pertama untuk tinggal sementara di Perumnas Condong Catur sambil menunggu pengumuman masuk SMPN 30 Sardonoharjo Ngaglik Sleman, atau sekarang SMPN 3 Ngaglik.

Pada saat aku ke Jogja, aku masih memakai rok merah dan baju bintik merah, satu-satunya baju terbagus yang  kupunya. Setelah itu, aku dibonceng memakai motor Honda Astrea oleh kakak dari Condong Catur ke Ngaglik Sleman. Aku masih ingat betul, waktu itu  masih imut dan tidak memakai jilbab, lalu mendaftar ke SMPN 30 Sardonohardjo dan mendaftar di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran PPSPA yang beralamat di Jl.Kaliurang KM 12,5 Candi Ngaglik Sleman Jogjakarta.

Aku juga langsung berjumpa dengan KH. Mufid Mas’ud yang saat itu sedang bersantai memakai kaus putih dan sarung putih. Aku sangat senang bisa melihat pondok pesantren yang begitu besar, tidak seperti di kampungku di Sukabumi, dimana saya waktu SD tiap hari jalan kaki lewat galengan (pematang sawah) dan rel kereta api. Akan tetapi, karena kakakku ada 8, kalau hujan, kalau masuk sekolah SD sering digendong Kang Dada, kakak no 3 yang sekarang sudah punya cucu.

Rumah orang tuaku sederhana dengan sembilan anak. Akan tetapi sepeninggal ibuku, kakak pertama menyekolahkan adik-adiknya di Jogja. Sesudah diterima di SMP, kakak menjahit seragam di langganan kakak di Gejayan, seragamnya masih rok pendek dan seragam putih pendek. Lucunya waktu itu belum ada peraturan siswa SMP boleh mengenakan jilbab, baru setelah ada usulan dari Pondok Pesantren ke pihak sekolah, barulah kita semua memakai jilbab (anak pondok) yang di luar pondok dibebaskan, tidak ada kewajiban berjilbab.Waktu itu aku sekolah sepantar dengan keponakanku Trisasi Lestari dia masuk SMP 5 Jogja.

Aku masih ingat betul, waktu keponakanku masih kecil-kecil. Aku dekat dengan semua keponakanku. kakak iparku membekali aku selimut yang berwarna kuning merah garis-garis dan makanan ringan seperti Happy Tos dan perlengkapan untuk aku sekolah lainnya. Kakak-kakakku sangat mencintai aku, setiap bulan aku ditengok sama A Iwan untuk bayar bulanan yang saat itu langsung diberikan kepada Bapak Ndalem oleh Kakakku.

1524051719366

Asramaku berada di sebelah selatan dekat deretan kamar mandi, namanya SQL (Sekolah Luar). Kami semua adalah santri yang sekolah di luar (Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran MTSPA) dan Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran (MASPA). Tapi kata teman-teman sistem SQL sekarang sudah tidak ada. Karena sekarang PPSPA santrinya sudah 3.500 dari seluruh Indonesia yang kebanyakan adalah anak dan saudara alumni PPSPA sejak pertama kali didirikan pada tahun 1975.

Aku tidak tahu banyak sejarah Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud, karena beliau termasuk orang yang tidak banyak bicara, namun sangat tegas tapi sering bercanda. Seperti namanya, Mufid adalah orang yang memberi manfaat dan Mas’ud adalah orang yang selalu bahagia dan membahagiakan orang lain. Kalau di komplek putri kami mengaji setelah Subuh sampai sebelum berangkat sekolah, maka di komplek putra biasanya sore hari. Karena, aku waktu itu masih Juzz Amma dan Bin-Nadhor, maka saya sering nderes (Membaca Al-Qur’an) Kepada Ibu Ndalem Ibu Nyai.

Hj.Jauharoh Munawwir yang sangat tegas dan suaranya besar, dia selalu memakai mukena kalau nderes, semua takut sama Ibu Ndalem, biasanya dia memimpin Nderes berdua bersama anaknya Mbak Nah (Hj. Ninik Afifah).

Waktu mondok di Pandanaran aku bertemu dengan santri dari dari berbagai kota. Ada yang dari Cirebon, Indramayu, Jakarta, Klaten, Magelang, Pati (Ida Fitria Enha) dan lain sebagainya. Di situ kita juga belajar aneka bahasa daerah. Satu hal yang kuingat selama mondok di Pandanaran adalah kesederhanaan dalam makanan. Di mana makannya sayur nangka (jangan gori), sayur kol (jangan kol) dan kerupuk. Akan tetapi temanku Mbak Ika Nurazizah dari Magelang, kakak kelas di SMP selalu dibuatkan kering kentang sama kacang dan kalau dijenguk ibunya aku sering minta hehehe. Kalau aku karena tidak punya Ibu, begitupun ayahku (Apa) yang sudah tua tidak pernah menjenguk aku di pondok selama tiga tahun, jadi jarang dikirimi aneka makanan.

Kakakku Condong Catur juga jarang menengok, karena yang sering menjenguk dan mengantarku kebutuhan bulanan seperti susu dan Indomie, bulanan dan uang saku SMP adalah Kakak ke enam, Iwan Setiawan (A Iwan). Waktu itu, dia masih kuliah di Fakultas Ekonomi UNY.

Aku tidur di ranjang besi yang agak lebar, warnanya krem. Bagian atas diisi dua orang dan bagian bawah di isi dua orang. Pertama kali datang aku seranjang sama Mbak Siti Munawaroh, anak MAN I Jogja, dibawahnya ada Farikhatul Udkhiyah (Eka) dari Indramayu. Waktu ada Mbak Ika datang, saat itu aku pindah ranjang, selain sama mbak Ika, aku dekat juga sama mbak Tintin Nunani dari Cirebon.

Aku juga satu SMP sama si kembar Umi Haniin, Umi Haniatin, Farikhatul Udkhiyah (Eka), Lina Dwi Arfiastuti, Muchtar Hidayat, Eko Ariyanto, M.Nadjib, Muhammad Huda, Nuril, Rahmat dan masih banyak lainnya.

Satu asrama kita bergabung ada yang dari SMPN 30 Sardonoharjo, ada yang dari SMPN 8, ada yang dari MAN I, MAN Pakem, Universitas Gadjahmada, mereka harus menyesuaikan dengan jadwal pondok, seperti Kak Neny yang sekarang di Bandung, Kak Wahyunah yang sekarang di Bintaro, Kak Irma dan Kak Fauziyah. Semua santri-santrinya bahagia, seperti ketika saya mengikuti Haul ke 11 di Pondok Pesantren milik KH. Subhan Baalawi.

Kita semua alumni PPSPA yang di Jakarta Bogor Depok dan Bekasi memiliki Forum Silaturahmi Alumni Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Di Pondok Petir, justru aku ketemu dengan Kak Eni yang rumahnya tidak jauh dari rumahku di Pamulang Elok. Begitu juga, saya baru tahu bahwa yang memiliki Pondok Pesantren An-Nahdlah adalah Ibu Lia Zahiroh adalah alumni PPSPA istrinya Bapak Asrorun Ni’am. Dimana saat ini, anak pertama kakak kelas saya waktu di UIN UIN Sunan Kalijaga adalah Cak Shohib Sifatar yang bernama Arina (Kakak Arin) mondok di An-Nahdlah Pondok Petir.

Banyak hal tak terduga dalam hidupku dimana aku berjumpa dengan alumni Pondok PPSPA waktu di Kaliurang Jogjakarta, justru setelah 26 tahun aku meninggalkan Pandanaran. Aku berjumpa dengan Bu Nyai Lilik Ummu Kaltsum yang dulu suka menggantikan Ibu Ndalem. Bu Nyai Lilik sekarang memiliki Pondok Tahfidz Alqur’an di Parung Bogor bersama Gus Mustofa.

Ada banyak kenangan indah selama tiga tahun mondok. Kami semua dididik untuk terbiasa disiplin dan prihatin. Disiplin karena harus cepat-cepatan mandi (bare), setelah itu cepat-cepatan antri nderes mengaji di mesjid yang ada di komplek putri dan habis itu kita jam 7 sudah harus masuk sekolah. Aku termasuk yang malas bersama Mbak Ika dan Mbak Tintin, biasanya kita antri paling belakang karena memang ingin selalu bersama bertiga kemana-mana. Tapi kini mereka justru sukses, Mbak Tintin berwirausaha dan Mbak Ika bekerja jadi PNS di Pemda Magelang sesuai lulusannya Administrasi Negara UGM.

Ada banyak filosofi yang kuat ketika nyantri di pesantren. Kenapa kita harus prihatin dan makan seadanya. Karena supaya kita tidak dimanja makan enak. Semua santri jika saat mudanya susah, maka ketika mendapat ujian di hari tua menjadi orang tidak punya, maka dia tidak merasa aneh. Begitu juga dengan hafalan Al-qur’an, jangan sampai lupa dan harus selalu membaca Al-qur’an habis Shalat lima waktu, atau kalau bisa satu juzz sehari, jangan hanya saat Bulan Ramadan saja, tapi harus setiap hari. Berikutnya adalah harus mandiri, jangan harap santri menjadi PNS atau berharap banyak pada pemerintah, lebih baik mandiri atau punya Pondok Pesantren sendiri seperti Mas Lukman Kakak kelas, seangkatan sama Mbak Ika yang memiliki Pondok Pesantren di Tebet, Bu Nyai Lilik, Kyai Khusnul di Pondok Cabe, KH. Subhan Baalawi di Pondok Rajeg Cibinong dan lain sebagainya.

Satu hal lagi yang selalu kuingat amanat Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud, yaitu jika kita sudah menghembuskan nafas terakhir, atau kalau kita meninggal dunia, kita tidak boleh menerima karangan bunga dari siapapun.

Ibu Ndalem Hj.Jauharoh Munawir wafat pada April 1998 dan Bapak Ndalem wafat pada 2 April 2007. Semoga beliau berdua senantiasa mendapat maghfurlah dari Allah SWT dan semua santrinya bisa mengamalkan amanat atau pesan beliau berdua dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini penerus Bapak Ndalem KH. Mufid mas’ud adalah KH. Mu’tashim Billah dan KH. Masykur Muhammad serta ke-delapan anak-anak lainnya yang tidak mau disebutkan namanya karena pendidikan Hj. Jauharoh yang tidak ingin anak-anaknya mengemban amanat berat sebagai anak Kyai. Sepertinya itu saja yang ingin aku tulis sekarang, mohon maaf jika ada teman satu asrama tidak tersebut namanya.

Jakarta, 9 januari 2018 Pukul 13.55

Berpikir Positif

Posted: November 6, 2017 by Eva in Agama dan Spiritualitas, Puisi

Berpikir Positif

Akan Percuma Segala Kebaikan
Jika ada Sedikit Saja Dalam Hati Kita
Rasa Benci.

Jika Kita Membenci Sesama
Berarti Kita Telah Membenci
Terhadap Siapa Yang Menciptakan
Kita

Tuhan Menciptakan Kita Sedemikian Rupa
Sangat Sempurna Dengan Segala Kelebihan dan Kekurangan
Lalu Kenapa Kita Membenci Sesama Mahluk Ciptaan Tuhan
Apa Yang Kamu Inginkan

Kita Tidak Bisa membuat orang lain menjadi seperti
yang kita inginkan
Karena Tuhan Menciptakan
Setiap Manusia Memiliki Keunikan
Semoga Kita Selalu Bekerjasama dalam Kebaikan
Saling peduli dan tolong menolong.

Benih Kebencian adalah Merasa Diri Paling Benar
(Truth Claim). Hal ini telah memicu kecurigaan dan prasangka buruk
pada orang lain. Kita Semua Harus Sadar
Bahwa Kebenaran yang Mutlak Adalah Milik Tuhan.

Mari Tebarkan Rasa Cinta dan
Berpikir Positif Terhadap Sesama.

Renungan Menjelang Deadline
Pamulang 6 november 2017
Pukul 20.53

MENGARUNGI PERJALANAN SPIRITUAL-INTELEKTUAL

Judul: Bahkan Malaikat Pun Bertanya
Penulis: Dr Jeffrey Lang
Pengantar: Jalaluddin Rahmat
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktober 2000
Tebal: (xix + 302) halaman

Buku Jefrey Lang

Buku Jefrey Lang

Buku Bahkan Malaikat pun Bertanya ini berangkat dari keprihatinan penulisnya setelah melihat banyak orang Islam di negerinya menghindari atau bahkan mengingkari agama itu, lantaran tak mampu mendamaikan agama yang mereka warisi dengan pandangan Barat sekuler yang mereka peroleh.
Fenomena yang sesungguhnya melanda nyaris semua negeri muslim ini telah membelah umat Islam ke dalam dua kubu yang berlawanan: mereka membekukan dirinya dalam tradisi lama dan mereka yang mengekor pada peradaban Barat.

Yang pertama memandang pemikiran Islam terdahulu sebagai rujukan ideal, dan yang kedua melihat Barat sebagai puncak peradaban. Yang pertama kaum fundamentalis, sedangkan yang kedua kaum liberal.

Kedua kelompok itu sama “menyesatkan”. Agar tidak terperangkap dalam bahaya itu, lewat buku yang dalam peringkat Amazon.com mendapat bintang lima ini penulis menganjurkan umat Islam senantiasa mengembangkan sikap kritis. Baik dalam memandang realitas faktual yang muncul, maupun dalam memahami pesan-pesan Islam itu sendiri.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu stereotip yang populer di Barat. Disebut stereotip karena, kesan-kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab.

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apapun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila masuk Islam atau naik haji?

Hal seperti itulah yang mengusik Jeffrey Lang, ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk ditukar dengan jubah dan sorban seperti Cat Steven, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga tak pernah mengubah Thank God sebagai pengganti Alhamdulillah.

Menurut mualaf Amerika penulis buku terkenal Struggling to Surrender (telah di Indonesiakan menjadi Pergumulan Menuju Kepasrahan, Serambi, Juni 2002) ini, cara yang paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukan mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik.
Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan, katanya. Bahkan malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan pun bertanya! Mereka “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka Bumi: Apakah Engkau akan jadikan disana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

BUKU ini membawa pembaca mengarungi perjalanan spiritual intelektual dengan mendiskusikan konflik-konflik yang terjadi antara agama dan akal, rintangan-rintangan yang dipasang oleh kaum Muslim sendiri yang menghalangi orang untuk memeluk Islam, ekstremisme dalam komunitas Islam, dan lain-lain.

Bahkan Malaikat Pun Bertanya, memiliki arti umum yang sangat penting, ditulis dengan sangat bagus (orang mungkin tidak mengira bila penulisnya seorang guru besar matematika), dan merupakan hasil dari kajian yang baik.

Memang buku ini adalah gambaran hidup tentang bagaimana Jeffrey Lang begitu tertarik kepada Islam tanpa terbendung lagi. Namun, buku ini juga menawarkan suatu program yang solid dengan menawarkan alasan yang baik bagi semua orang Amerika lainnya memerlukan kajian rasional yang luas dan mendalam sebelum berserah diri pada Allah.

Perjalanan spiritual Dr. Lang menjadi terkesan unik dan menarik ketika ia ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi, ia berhasil menemukan pencerahan baru: no escape from being an american. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya.

Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya. Islam tidak pernah datang dari suatu vakum kultural. Karena itu, maka ditemukanlah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Dan mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Akan tetapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah jatuh pada hambatan besar: mengekor Barat? Memang disamping kaum fundamentalis yang mengekor kebudayaan Arab, kita juga menemukan kaum liberal yang mengekor Barat sebagai puncak peradaban.

Terlepas dari jebak-jebakan itu, Dr Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis pada bab 2 buku ini: “Cara paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukanlah mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik, melainkan justru harus sebaliknya. Komunitas Muslim harus terus mendorong kedua hal itu. Kita cenderung berbuat salah manakala kita tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri”.
***
MEMBACA buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalanan spiritual, bukan saja seorang Muslim Amerika, tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dan Islam aktual.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang perspektif orang non-Muslim tentang Ramadhan. Mereka menilai bahwa puasa merupakan ibadah ritual yang paling keras dalam Islam (hlm 216).
Namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa kekhawatiran dari buku ini, yakni dapat menjerumuskan pembaca non-Muslim pada kesan keliru dan sepihak tentang kaum Muslim. Boleh jadi pemburukan media Barat atas citra kaum Muslim dan agama mereka.

Jeffrey Lang menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli (berdasarkan akal) dan nakli (berdasarkan Al-Qur’an).

Uraian Dr Lang dalam buku ini juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. Bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan serius maupun ringan.

(Eva Rohilah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di harian Kompas edisi 11 Maret 2001, waktu itu ditelepon sama Pak Dewa Brata Redaktur Pustakaloka yang terbit setiap Senin, honornya saya masih ingat 350.000 sangat besar ukuran saat itu, dari sini pula saya diberi beberapa buku baru dari Penerbit Serambi yang Chief Editornya Pak Qamaruddin SF, setelah saya kerja di Alvabet kita sering bertemu sebagai sesama penerbit dan bersahabat baik dengan beliau.

JUNJUNGLAH TINGGI SISTEM NILAI YANG EGALITER

Judul: Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan
Penulis: Dr. Irwan Abdullah
Editor: Ana Samsuri
Penerbit: Tarawang Press Yogyakarta
Cetakan 1 Maret 2001
Tebal: (xvi + 222) halaman

Buku Irwan Abdullah

Buku Irwan Abdullah

Diawali dengan ide dan gagasan RA Kartini lewat buku Habis Gelap terbitlah Terang perjuangan perempuan untuk kesetaraan hak sampai kini terus bergulir. Bahkan, belakangan ini wacana itu menjadi semakin marak, lantaran dalam rentang waktu yang demikian panjang dan lama, perempuan menuju persamaan hak belum juga mencapai klimaks.

Dalam struktur yang hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukan pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup.

Akan tetapi, mengapa dalam praktik sosial, perempuan mau mengalah atau dikalahkan? Kesalahan utama yang dilakukan para politisi, peneliti, dan kaum feminis, adalah mereproduksi struktur patriarirkal dengan menekankan wacana ketimpangan jender, perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung, halus, dan sebagainya.
Dengan cara itu sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa untuk kesejahteraan perempuan. Sebaliknya, perempuan malah tersubordinasi secara terus menerus oleh wacana yang dibangun orang-orang yang sangat ingin membantu perempuan sekalipun
***
Buku Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan ini terdiri dari empat bagian, atau sebelas bab. Ditulis dengan saksama oleh dosen Fakultas Sastra UGM yang sangat tertarik pada masalah perempuan sejak mahasiswa. Penulis itu Dr. Irwan Abdullah, seorang feminis kelahiran Aceh Utara 37 tahun yang lalu.

Melalui bukunya tersebut ia berusaha membawa pembaca mengikuti dua arus besar yang melanda dunia ketiga. Dalam ranah sosial, pembicaraan mengenai perempuan telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada saat konsep “jender” digunakan sebagai perspektif. Jender lebih menunjuk kepada relasi dimana kaum lelaki dan perempuan berinteraksi.

Hal tersebut menjadi rumit tatkala perempuan memainkan berbagai peranan sekaligus. Perempuan ideal kemudian menjadi superwoman yang memiliki kapasitas domestik dan diharapkan memiliki kapasitas dalam bidang publik secara sempurna. Posisi laki-laki disini tampak cenderung tidak digugat.
Secara implisit dinyatakan bahwa peran publik merupakan tanda kemerdekaan perempuan, dan peran domestik digugat karena dianggap telah memenjarakan perempuan. Cara-cara seperti ini sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi sosial.

Dalam proses migrasi dari domestik ke publik, perempuan harus mengeluarkan biaya ideologi yang begitu besar. Perempuan tidak hanya harus memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki untuk memenuhi kriteria sebuah pekerjaan, tetapi juga harus cantik dan menawan. Bukankah ini sekaligus pelecehan terhadap perempuan.

Pada bagian lain, arus balik yang terjadi berasal dari realitas ekonomi. Hal ini berawal dari penandaan tubuh perempuan yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif ke arah fungsi ekonomi demi ekspansi kapital. Tubuh dan hasrat digunakan sebagai titik sentral produk yang disebut sebagai ekonomi libido.

Pembahasan soal itu menjadi menarik ketika menyangkut masalah tubuh perempuan dalam iklan dan rimba laki-laki. Stigma ini cukup diimbangi dengan peranan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi.

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Imbangan itu antar lain tampak dari hasil penelitian tentang bagaimana peranan perempuan dalam pasar, pedesaan, dan kerajinan rumah tangga yang lebih menenkankan pada aspek mobilitas dan mengangkat marginalitas profesi seperti bakul (penjaja), tukang jamu. Bahkan juga peranannya dalam home industry.
***

Pesan utama dari penulis adalah bahwa usaha perbaikan kehidupan perempuan bukan usaha memerangi laki-laki tetapi mengubah sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obejek. Perubahan ini akan terjadi apabila bertumpu pada struktur yang menjunjung tinggi sistem nilai dan ideologi yang egaliter.

Kekuatan utama buku ini pada epilog yang merupakan rajutan dari berbagai bab. Masing-masing bagian digarap secara serius karena beberapa bahan dalam buku ini hasil penelitian lapangan serta riset perpustakaan yang dilengkapi dengan data kuantitatif yang cukup akurat.
Disamping itu ada terobosan yang cukup berani untuk melakukan penyegaran, penyusuran, dan penggerusan yang cukup mendalam atas kompilasi wacana yang telah ada, kritikan terhadap kaum feminis, sampai sindiran yang tajam terhadap kaum oportunis.

Sayangnya ada satu kelemahan yang cukup fatal, yaitu tidak seimbang (equal) antara judul buku dengan substansi, yakni dimensi seksisme kurang begitu disentuh secara mendalam. Ulasannya teramat singkat hanya sebatas retorika dan obyektivitas reproduksi dalam kaitannya dengan kekuasaan lelaki.
Hal itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran editor yang kurang memperhatikan grand opinion dan tidak fasih dalam menerapkan gaya penulisan ilmiah sehingga buku ini terkesan kaku meskipun alur penulisannya dari awal hingga akhir menarik.

Akan tetapi, setidaknya, sampul bergambar RA Kartini yang melankonis akan sedikit mengeliminir kelemahan buku ini. Yang jelas, dengan kelebihan dan kekurangannya itu, buku ini telah menambah panjang koleksi buku feminis. Siapapun yang peduli akan nasib, pendidikan, dan masa depan perempuan akan memperoleh manfaat dari buku ini.
(Eva Rohilah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurnalis LPM Sinergi Yogyakarta)
Dimuat di Harian Kompas edisi 28 Mei 2001

JANGAN LUPAKAN TRADISI

Judul: Agama, Negara, dan Penerapan Syaria’ah
Judul Asli: Ad-Din Wa Ad Daulah wa Tathbiq As-Syari’ah Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah (Beirut 1996)
Penulis: Muhammad Abed Al Jabiri
Penerjemah: Ulin Nuha
Penerbit: Fajar Pustaka Bru, Yogyakarta
Cetakan I, September 2001
Tebal: (xxxvi + 201) halaman

Buku Abed Al-Jabiri

Buku Abed Al-Jabiri

MUHAMMAD Abed Al-Jabiri seorang pemikir terkemuka Arab saat ini yang mengangkat berbagai gagasan segar dalam rangka kebangkitan Islam, khususnya di lingkungan negara Arab. Ia punya analisa yang cukup signifikan terhadap masalah yang menyita kaum muslim tentang hubungan negara dan agama.

Masalah itu menjadi mendesak karena kemunculan negara-negara bangsa (nation state) dan berhembusnya semangat sekularisme yang dibawa Barat Modern. Dia mengemukakan pertanyaan apakah Islam itu agama atau negara merupakan pertanyaan palsu karena diajukan oleh kebudayaan Barat dengan segala pengakuan historis yang dilaluinya, bukan cermin realitas kaum Muslim sendiri.

Menurut Al-Jabiri, kalau mau jujur menelaah Al Qur’an dan sejarah Islam, kita akan menemukan fakta bahwa Islam tidak pernah menentukan jenis dan bentuk negara. Rujukan historis maupun praktis tentang kenegaraan Islam hanya ada pada praktik sahabat Nabi SAW, yang menurut dia, itu hanya suatu ijtihad.

Oleh karena itu, sesuai perkembangan zaman, Al-Jabiri dengan tegas mengatakan bahwa demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum Muslim untuk masa kini dan masa depan. Meskipun dia tidak naif dengan mengatakan bahwa para sahabat Nabi SAW telah mempraktikkan demokrasi melalui ajaran syura yang dianggap mempunyai urgensi yang sama dengan demokrasi.

Jika negara itu demokratis, bagaimana dengan penerapan syariah, bagaimana meletakkan syari’ah dalam sebuah negara demokrasi? Al-Jabiri kembali membongkar tradisi dan sejarah secara rasional. Baginya, praktik kenegaraan dan penerapan hukum syariah harus dikaji dan ditelaah secara mendalam. Di sini hukum Islam dianggap sebagai hukum yang hidup (the living law) dan menjiwai setiap aturan tanpa memaksakan simbol sebagai suatu ciri yang otentik.

Buku yang merupakan terjemahan dari kumpulan artikel dari Bahasa Arab ini ditulis oleh Abed Al-Jabiri yang dewasa ini pemikiran dan gagasan-gagasannya dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim berkenaan dengan semakin menguatnya wacana post tradisionalisme Islam dan kajian tentang Islam Liberal.
***

TIDAK ada salahnya jika sebelum membaca buku ini akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang sosok Al-Jabiri.
Intelektual Muslim kelahiran Maroko tahun 1936 ini menempati posisi garda depan pemikiran Islam Arab kontemporer, sederajat dengan Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamd Abu Zayd, Bassam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisi, Adonis. Al-Jabiri sering menulis berseri di beberapa harian ternama Timur Tengah, seperti Al-Syarqah Ausath.

Dalam suatu kesempatan pada waktu seminar di Berlin, Jerman, yang diselenggarakan oleh Federich Ebert Stiftung pada tahun 1996, Al-Jabiri bertemu dalam satu forum dengan Abdurrahman Wahid dan Fatima Mernissi yang sama-sama berbicara tentang Civil Society In the Moslem World.

Edisi Cetak Harian Kompas

Edisi Cetak Harian Kompas

Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Naqd al-Aql al’Arabi (Kritik Nalar Arab) yang mejadi perdebatan di kalangan intelektual Muslim karena berbeda dengan “Kritik Nalar Islam” Arkoun. Dalam bahasannya itu, jelas sekali pemikirannya tentang perubahan makna akal tersebut banyak dipengaruhi oleh tokoh filsafat Perancis seperti Jacques Lacan, Althusser, Jacques Derrida, Roland Barthes, dan Michael Foucoult.

Hingga kini tulisan-tulis Al-Jabiri bentuk buku telah mencapai angka belasan. Salah satu kumpulan tulisannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Baso bejudul Post Tradisionalis Islam (LKiS Yogyakarta, 2000) banyak mengulas tentang pejalanan intelektual Al-Jabiri dan relevansi tradisi dalam pemikiran Islam kontemporer.
***

DALAM penuturannya yang cukup lugas lewat buku ini terasa kepeduliannya terhadap tradisi (al turats) cukup kental dan mewarnai uraiannya. Salah satu persoalan krusial saat ini bagi kebangkitan Islam adalah bagaimana menyikapi tradisi dalam kehidupan bernegara dan beragama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Menurut Al-Jabiri ada dua hal penting yang menyertai kekinian, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita, dan kedua adalah tradisi yang mencakup kemanusiaan yang lebih luas seperti pemikiran filsafat dan sains.

Sikap kaum Muslim terhadap tradisi mempunyai corak yang berbeda, ada yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam karena apa yang ada dalam tradisi tersebut dinilai sudah memadai. Seperti ulama konservatif dan mereka yang justru tidak memiliki pengetahuan yang memadai karena dididik oleh tradisi lain yang sudah memadai.

Kedua, mereka yang menganggap bahwa tradisi sama sekali tidak memadai dalam kehidupan modern saat ini, karena itu harus dibuang jauh-jauh. Kelompok ini adalah mereka yang berpikiran sekuler dan liberal ala Barat sehingga menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola Barat.

Kedua sikap tersebut menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang (ekstrem). Oleh karena itu Al-Jabiri mencoba mencari jalan keluar dari dua sikap ekstrem itu dengan tawaran agar kita berusaha bersikap dan berpijak pada tradisi. Namun, tentu bukan dalam kerangka tradisi kita melebur didalamnya dengan segenap gerak dan gelombangnya, tetapi lebih diperlakukan sebagai produk kebudayaan manusia, sebagai produk ilmiah yang senantiasa berkembang.

Dari sini kita belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional. Di Indonesia pemahaman tentang konsep ini sekarang sedang aktual diwacanakan sebagai “post tradisionalisme”.
***

BUKU yang terdiri dari dua bagian ini berusaha memposisikan hubungan agama dan negara dalam rujukan tradisi dan kebangkitan (renaissance). Penerapan syari’ah diulas secara mendetail, mulai salafisme sampai dengan ekstremisme, antara akidah dan syari’ah, juga diusahakan merasionalkan hukum-hukum syari’ah (hlm 168).

Beberapa kritik terhadap Mazhab Syafi’i, dan ajakan untuk menolak hukum (hudud) berdasarkan argumen ketidakjelasan, akan menjadi wacana yang menarik ketika hukum diletakkan dalam posisi agama dan negara, dengan memperhatikan tradisi dan budaya lokal.

Metode telaah kontemporer yang diajukan Al-Jabiri, merupakan sebuah terobosan yang cukup penting dan aktual dengan kondisi tanah air kita. Selama ini banyak orang yang menelaah tradisi untuk mencari sandaran otoritas belaka tanpa menyadari dimensi historis dan ideologis yang melahirkan tradisi itu.

Dalam hal ini sikap terbuka Al-Jabiri terhadap demokrasi dan HAM dengan tanpa sedikit pun merasa terancam dengan kehilangan identitas keislamannya, juga merupakan satu hal yang patut diperhatikan.

Dalam hal tersebut strategi Al-Jabiri untuk mendudukkan pemikiran Barat dan Islam pada mekanisme dan historitasnya masing-masing, adalah sesuatu yang diambil dari semangat Ibn Rusyd dalam menjelaskan hubungan agama dan filsafat. Itu boleh dibilang sebagai merupakan strategi yang cukup menjanjikan.

Terlepas dari sampulnya yang kurang begitu menarik, isi buku ini akan sangat bermanfaat bagi khazanah intelektual Muslim, sebagai wacana alternatif dalam membincangkan kembali agama, negara, dan penerapan hukum (syari’ah) secara proporsional, tanpa melepaskan tradisi, pluralisme, dalam dinamika pergolakan pemikiran Islam kontemporer.

• EVA ROHILAH
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dimuat di Harian Nasional Kompas edisi 22 Maret 2002

Iseng-iseng buka file lama, tulisan lama waktu kuliah di Jogja sejak tahun 1998-2003. Di tulis ulang oleh  Vidia Hapsari, anak tetangga di Pamulang Elok sekolah di MTsN Pamulang.

Masing-masing ada sejarahnya tulisan yang kebanyakan resensi buku ini. Berikut saya ulas seingatnya, kapan dimuat dan berapa honornya juga lupa hehe..

MERETAS ALTERNATIF SOSIALISME DAN AGAMA

Resensi Buku: Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat
Editor: Muhidin M Dahlan
Cetakan: 1 Juli 2000
Penerbit: Kreasi Wacana
Prolog: Muhammad Hatta

Sampul Buku

Sampul Buku

Tema wacana sosialisme religius dan Islam “kiri” kembali jadi perbincangan dalam kajian berbagai seminar maupun diskusi keagamaan. Kajian sosial ekonomi pun ikut mewarnainya dengan semakin merajalelanya kapitalis, sehingga menambah khazanah ilmu sosial menjadi tak pernah kering ataupun menjemukan. Apa yang ditawarkan Giddens dalam The Third way-nya bukanlah jawaban terhadap permasalahan yang ada dalam sistem kapitalisme. Dan mereka hanyalah bagian ‘marketing’ kapitalisme terhadap kehidupan dunia.

Tema itu pulalah yang menjadi sentral of idea dalam buku yang berjudul Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat yang disusun secara gotong royong oleh para penulis yang kebanyakan dari aktivis pergerakan mahasiswa. Lewat telaah sosiohistoris, buku ini berusaha membongkar “secara radikal” tentang segala asumsi teoritis dari opini umum selama ini tentang perspektif ideologi sosialis – marxist atau islamis dengan mempresentasikannya pada analisa yang kongkrit sekarang ini.

Prolog buku ini sangat menarik dengan memuat buah pikiran salah satu dari founding father Drs Moh Hatta (alm) yang pernah dimuat pada harian Daulat Rakyat edisi 30 September 1932. Moh Hatta, memfokuskan pada penyelesaian krisis pada masa itu yang diakibatkan oleh serangan kapitalisme dan Imperialisme barat yang mengakibatkan rakyat kelaparan dan tidak adanya keadilan serta disemangati oleh individualisme yang tinggi sebagai reaksi atas ajaran agama pada waktu itu.

Ide yang ditawarkan sebagai solusi kala itu adalah pergaulan rakyat, yaitu pergaulan hidup kolektivisme berdasar persamaan yang telah lama dianjurkan oleh Nabi Isa sejak lahir, dilanjutkan oleh Umat Islam dalam penganjur kaum buruh pada waktu itu, yaitu Karl Marx sampai Lenin.

Edisi Cetak di KR

Edisi Cetak di KR

Hal ini tentu saja sangat representatif dengan kondisi bangsa saat ini yang sedang dirundung krisis membutuhkan suatu pemecahan yang lebih mendasar dan fundamental. Kebijakan publik yang telah diambil untuk menangani krisis terkesan hanya terpatok pada perspektif ekonomis. Asumsi dasar para pembuat kebijakan, eksekutif dan legislatif serta para pengkritiknya sesungguhnya relatif sama. Perbedaan diantara mereka hanya pada prioritas teknis, anggapan intensitas hubungan antara faktor dan beberapa detail kebijaksanaan.

Secara umum buku ini dibagi dalam tiga tahap pembahasan. Pertama, pembahasan Sosialisme dipanggung ideologi dunia. Ideologi saat ini tidak bisa lagi disebut alternatif, ideologi adalah instrumental.

Alat penjelas yang kaku dan ketat yang dibutuhkan guna mengarahkan pikiran dan tindakan secara efisien. Ketidakminatan masyarakat pada sosialisme bisa kita rujuk dalam bentangan sejarahnya sendiri yang memang cukup variatif. Meretas langkah sosial demokrasi kerakyatan menurut Budi Irawanto, Imam Yudhotomo, dan Ihsan Abdullah Aktivis PRD, merupakan jalan menuju revolusi sejati.

Dengan mempelajari kegagalan kapitalisme di masa lampau, Bonnie Setiawan berusaha menyusuri paradigma alternatif pasca kapitalisme dengan menimbang tradisi kiri, yang diperkuat oleh pernyataan Dadang Juliantara yang mengaplikasikannya dengan ideologi agraria. Melacak jejak sosialisme Religius merupakan pokok pikiran pada bagian kedua, Muhammad Romzy dan Hajriyanto Y Thohari berusaha mendeskripsikan Pseudo Ideologi dan kohorensinya sosialisme dengan agama.

Secara Historis Suhendra menjabarkan secara mendetail tentang peta pergerakan sosio religius Yesus dari Nazareth suatu penghampiran sosiologis, sedangkan Jarot Doso Purwanto aktivis (HMI DIPO) lebih banyak menyoroti lanskap sosialisme religius dalam pusaran sejarah Indonesia.
(Eva Rohilah)

Ini adalah tulisan pertama kali aku dimuat di media “Kedaulatan Rakyat” pada 28 Februari 2001. Harian Lokal di Jogjakarta.

Tulisan berikutnya resensi di Harian Bernas

SULITNYA MERAJUT KEMBALI NASIONALISME YANG TERKOYAK

Judul: Nasionalisme Etnisitas (Pertaruhan sebuah wacana Kebangsaan)
Kata Pengantar: Drs Cornelis Lay MA
Tim Editor: Dr Th Sumartana, Elga Sarapung, Zuly Qodir, Samuel A Bless
Cetakan: 1, Februari 2001
Penerbit: Dian/Interfidel, kompas dan Forum Wacana
Tebal: xvii + 184

Sampul Buku

Sampul Buku

NASIONALISME sekarang ini bagiakan matahari yang redup di jagad khatulistiwa. Sinarnya nyaris habis karena digerogoti oleh primordialisme separatis dan globalisasi etnisitas. Seperti tatapan hampa seorang ibu yang kehilangan anak yang dicintainya. Menemukan kemballi anak yang hilang itu penuh perjuangan dan pengorbanan. Diwarnai ketegangan, dan ketidakpastian. Seperti halnya ketika kita nyaris kehilangan rasa nasionalisme.

Pergumulan wacana tentang nasionalisme menjadi sangat privat, orang per orang, tidak menyebar ke seluruh level masyarakat, terutama lapisan bawah. Mereka dilupakan karena keangkuhan interes-interes yang mengitari imajinasi dan berfikir kita yang disetir kekuasaan rezim. Mendiskusikan hal-hal pelik apalagi menyangkut soal kenegaraan menjadi sangat mahal, karena penguasaan public sphere sungguh luar biasa dominannya sehingga menjadi riil halangan untuk hidup dengan sikap demokratis.

Dengan semangat menumbuhkan wacana baru di Republik ini, kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi ini mencoba “memotret” sisi lain dari apa yang diperbincangkan di atas tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi ekonomi. Buku “Naionalisme Entisitas” ini menuturkan dan menganalisis proses merajut kembali nasionalisme yang sempat terkoyak dalam beberapa dekade terakhir ini.

Rumitnya jalan demokrasi di era reformasi semakin menambah runyam muka bangsa. Hal ini terlihat dari semakin merajalelanya konflik budaya yang terjadi di negeri seribu satu etnis. Selama ini budaya hampir tidak mempunyai ruang dan manifetasi dalam tekanan doktrin nasionalis kebangsaan yang semu. Ruang manifestasi budaya asli negeri ini terbuka sesudah gerakan reformasi. Namun karena tidak mempunyai mode manifestasi dan ketika sistem yang ada tidak memberi cukup toleransi, munculah beragam konflik dan kerusuhan massal di berbagai daerah.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi forum wacana muda, Kompas dan Interfidei. Suatu terobosan cerdas yang berusaha menggambarkan secara detail tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi. Tiga sudut pandang yang membelah buku ini menjadi tiga bagian.

Edisi Cetak di Harian Bernas

Edisi Cetak di Harian Bernas

Bagian pertama Nasionalisme pertaruhan sebuah definisi yang ditulis oleh PM Laksono. Secara Historis, PM Laksono menggunakan analisa Lombart berangkat dari ruang politik menjadi serat benang budaya yang mempertalikan apa yang dibayangkan nasionalisme masa lalu dan cita-cita bersama dengan studi komparatif nasionalisme di berbagai negara. Penulis berusaha menarik kesimpulan global mengenai problema nasionalisme yang dicekik dan tercekik kekuatan etnisitas dan globalisasi, terkait dengan hal itu, Rocky Gerung menemukan problema disintegrasi atau keretakan pada tiga arena penting yaitu: Kekuasaan politik, penguasaan wilayah, dan identitas kekuasaan. Ia mengandaikan nasionalisme sebagai sebuah ideregulatif dalam filsafat berfikir Kant. Keretakan antara ketiganya akhirnya lahir dalam bentuk “krisis kebangsaan” yang berkepanjangan sampai saat ini.

Bagian kedua: Wacana kebangsaan dan warga negara, di kupas tuntas oleh Faruk HT dan Dede Oetomo, mereka lebih mempertegas kebutuhan psikis obyektif dari sebuah bangsa akan nasionalisme. Perkembangan kontemporer politik juga mempengaruhi perilaku bangsa dalam memahami nasionalisme. Yang menarik pada bagian ini adalah analogi dari sebuah Nasionalisme pada masa orde baru yang bersifat semu. Ibarat peralatan politik. Dapat dibayangkan semacam kotak politik yang dibawa kesana kemari.

Bagaimana wacana NKRI dan Federalisme di pahami tidak secara substantif lebih kepada konstruk personal elit politik saja. Bahkan otonomi daerah sebagai sebuah solusi berjalan tersendat karena perbedaan pendapatan perkapita yang menghambat.

Dalam Nasionalisme dalam globalisasi ekonomi pada bagian ketiga, lebih menekankan pada perilaku “meniru” yang menjadi image di Indonesia. Bentuk peniruan yang punya akibat serius adalah apa yang disebut sebagai bangsa yang konsumtif atas barang-barang asing yang menyumbangkan kemajuan bagi negara lain di atas harga yang mesti dibayar sendiri.

Peresensi Eva Rohilah
Mahasiswa Fak Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dimuat di Harian Bernas 13 Mei 2001

Belakangan ini ada banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan beberapa kegiatan yang kuikuti belakangan, namun entah kenapa untuk memenuhi penulisan terasa sulit mengatur waktu, beberapa hal yang ingin aku tulis adalah, Jurnal untuk Fakultas Tarbiyah, Jurnal untuk STAIN Pekalongan, Pengalaman 5 hari mengikuti event Ubud Writers and Readers Festival di Bali,15 Tahun Supernova, 4 Film pendek Wregas Bhanuteja, Digital Diplomacy CSIS, Review buku-buku pemikiran filsafat Islam, Materi Tafsir Alquran yang telah kuikuti setiap Rabu di Pusat Studi Alquran Pondok cabe, Resep bikin Puding, Villa murah dan wisata favorit di Ubud, Pameran Filantropis, Perkembangan Buku Digital, Pemikiran dan refleksi hari guru nasional, dan Opini Pribadi saya tentang Truth Of Claim.

Semua itu tiap hari membayangi saya ketika bangun tidur, mana yang saya harus tulis terlebih dahulu. Deadline muncul tiap detik dan saya tidak bisa mengendalikan diri. Semua masih dalam tahap baca buku, pengumpulan data dan rangkaian struktur penulisan. Ada majalah dan buku referensi yang hilang membuat saya kalang kabut untuk bisa menuntaskan semua itu, kembali mencari pengganti dan rempong sana sini mencari buku yang hilang, belum lagi telat mengembalikan buku yang dipinjam ke perpustakaan.

Saat saya dihadapkan dengan semua itu, keasyikan di media sosial membuat saya lupa diri akan membaca buku dan tugas kewajiban menulis, dan sibuk mengamati perang media sosial yang semakin hari semakin mengerikan. Saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat status tentang hal yang provokatif dan menyakitkan ormas atau organisasi mahasiswa yang sedang ramai dibicarakan. Tidak menulis status bukan berarti tidak peduli, tapi menghindari klaim bahwa saya paling benar. Politik semakin tidak menarik dan kebencian di media sosial membuat satu sama lain saling unfriend, unfollow.

Terlepas dari itu semua, saya gembira buku saya kedua sebagai ghostwriter terbit dan akan di launching 10 november di Manado dan Jakarta. Sehabis itu jadwal menanti kemungkinan adalah buku tentang Kedaulatan pangan, juga sebagai Ghost Writer. Mungkin awal Desember baru mulai.

Saat saya galau, tiba-tiba seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Hasani Ahmad Said, saat kajian di PSQ menceritakan saat-saat terbaik menulis dan pengalaman dia waktu menyelesaikan studi S3 Doktor Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Dia bercerita tentang kisah beberapa tokoh yang mendisiplinkan diri untuk menulis.

Menurut Pak Hasan, saat paling tepat menulis bagi tiga guru besar UIN bermacam-macam. Pertama Pak Quraish Shihab, dia selalu menyempatkan menulis usai shalat subuh sampai jam 7 pagi, itu rutin dia lakukan, kalau tidak menulis ya membaca.

Lalu kedua adalah Pak Azyumardi Azra, Kapan beliau produktif menulis? Menurut Pak Hasan, Pak Azyumardi selalu berangkat jam 6 ke kantornya sejak beliau jadi dosen, padahal dia mengajar mulai jam 9 atau jam 10, nah saat sampai di kantor sampai tiba waktu mengajar, disitulah dia menulis artikel, opini dan buku.

Lalu Pak Hasan cerita sendiri kesibukannya dia saat menulis disertasi. Dalam waktu setahun dia full waktunya habis di perpustakaan dan kost-kostan, bergelut dengan buku, makan dan tidur. itu saja tidak ada aktifitas lain, selama enam bulan terakhir tambah intensif semakin mencintai buku dan melupakan cinta-cinta yang lain…ahai..”untuk itulah kenapa saya baru menikah setelah lulus menjadi doktor,” ujar Pak Hasani Ahmad Said

Pengalaman dari ketiga orang guru besar UIN yang diceritakan Pak Hasan, saya catat dan garis dengan stabillo tebal, siapa tahu akan berguna buat saya saat ini atau suatu hari nanti. Mungkin itu yang saya ingin tulis hari ini dan saya berterimakasih kepada Ibu Lilik Umi Kaltsum MA, ibu nyai yang menjadi guru mengaji saat saya di Sunan Pandanaran dulu dan sekarang menjadi ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliaulah yang mengajak saya mengikuti kajian di PSQ setiap rabu dengan materi yang
menarik dan berbagai metode tafsir Alqur’an.

bersama Ibu Nyai Lilik Umi Kaltsum, Guru Ngaji di PPSPA Jogja

Foto Bersama Bu Nyai Lilik Umi Kaltsum.

Selain butuh disiplin waktu, tempat yang nyaman juga baik untuk menulis, seperti perpustakaan dan rumah, jangan lupa matikan gadget anda saat menulis, jangan terlalu percaya atau copy paste google, menulislah dengan murni pemikiran sendiri, cara anda sendiri, dan jangan lupa sertakan referensi.

Gedung C Lantai 4
Sudirman 8 November 2016
Pulul 14.54

Terkadang aku masih serasa bermimpi jika Apa, ayah yang kucintai meninggalkan aku untuk selamanya. Ada rasa rindu dan haru di relung hatiku yang paling dalam mengingat kenanganku bersama beliau sepanjang usiaku. Yang selalu kuingat ayahku adalah seorang imam mesjid dan peternak ikan yang gigih. Kedisiplinannya melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah belum ada satupun yang mengalahkannya. Sebagai imam masjid dan Khatib Sholat Jumat, kehidupan ayahku sepenuhnya diabdikan untuk agama yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Apa sedang menulis Khutbah

Apa sedang menulis Khutbah

Nama lengkap ayahku Mualim Udin Jaenudin, lahir pada tanggal 3 Maret 1933, usianya saat meninggal 82 tahun. Usia panjang yang telah dia habiskan dengan penuh makna dengan membesarkan kesembilan anaknya. Sebagai anak bungsu, aku hanya sebentar mengalami kebersamaan bersama Apa yaitu waktu Sekolah Dasar. Setelah SMP hingga kuliah, aku lama di Jogja bersama kakakku dan jarang ketemu Apa. Tapi kenanganku yang sebentar sangat berkesan, menurut aq ayahku adalah orang yang paling sufi, nyaris tidak mempedulikan kehidupan duniawi, kesibukan sehari-hari adalah ibadah dan membaca Qur’an. Rutinitas sehari-hari selain ke mesjid adalah ngurus kolam ikan, bila menjelang idul fitri tiba di kampungku belum ada satupun yang berani mengganti imam shalat Iedul fitri, sepanjang usiaku Apa selalu menjadi imam besar Shalat Iedul fitri dan antrian orang yang ingin kambing atau sapi kurbannya di sembelih pada lebaran Iedul Adha.

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa adalah orang yang ikhlas luar biasa. Setelah ditinggal oleh ibuku (Emak Halimah) 30 tahun yang lalu, dia seorang sosok yang mandiri, dia selalu mencuci dan menyetrika bajunya sendiri, setrikaan yang dikerjakan pun sangat rapi dan setrikaan anak-anaknya gak pernah kepake. Ditinggal jauh oleh anak-anaknya merantau ke Jogja dia tidak pernah mengeluh dan terus berusaha. Selama ini ayahku juga jarang sakit, meskipun dia pernah dirawat beberapa tahun yang lalu karena pusing berputar. Ayahku juga seorang perokok berat, dan pernah dirontgen kalau paru-parunya udah kotor oleh asap rokok, tapi ayahku gak pernah mau berhenti merokok.

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Gigi ayahku sudah habis dan semuanya sudah ganti gigi palsu. Ayahku juga kalau makan gak mau yang asal-asalan, dia maunya makan enak kayak daging dan ikan. Kami sebagai anak-anaknya berusaha memenuhinya. Aku menyadari betul setelah aku menikah aku jarang pulang ke Sukabumi, itulah yang aku sesali sekarang. Aku pulang kadang sebulan sekali, setelah Apa meninggal aku berasa sangat menyesal kenapa aku gak sering pulang dan lebih banyak memperhatikan Apa.

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Sekitar tahun 2013, apa mengeluh karena tidak bisa baca Alqur’an. Rupanya apa kena Katarak. Kami anak-anaknya menabung bersama untuk melakukan operasi katarak agar Apa dia bisa membaca Al-Qur’an. Karena setiap habis sholat dan Bulan Puasa ayahku tidak bisa lepas dari Al-Qu’an, kalau Ramadhan dia seminggu sekali Khatam Alqur’an. Setelah uang terkumpul, Apa malah tidak mau operasi katarak karena takut sakit dan sayang uangnya, tentu kami anak-anaknya kecewa, tapi itu pilihannya sehingga operasi katarakpun gagal digelar. Tidak lama setelah tidak jadi operasi, aku ditelfon kakaku di Sukabumi, bahwa Apa kena Herpes zoster (nama lain: shingles atau cacar ular cacar api). Cacar ini umum mengenai lansia, akupun pulang ke Sukabumi dan apa dirawat selama hampir dua minggu di Rumah Sakit Bunut Sukabumi.

Apa Kena Herpes Zoster

Apa Kena Herpes Zoster

Setelah sakit herpes, Apa semakin terpuruk dan kelihatan tak berdaya. Dia sering mengeluh sakit kepala yang tidak tertahankan. Aku pun mulai lebih sering pulang ke Sukabumi dan prihatin dengan kondisi apa. Setelah hampir setahun kena Herpes ayahku dirawat sama kakak-kakakku di Sukabumi. Rupanya sakit herpes yang dulu kena syaraf dan akibatnya apa sudah menjadi pelupa. Setelah melewati rawat jalan, berangsur-angsur apa mulai pulih dan keliatan kembali sehat.

Apa setelah sembuh dari Herpes Zoster

Apa setelah sembuh dari Herpes Zoster

.

Karena sering sakit-sakitan dan usia mulai senja Apa sering terbaring di tempat tidur dan hanya bisa pasrah. Tidak bisa ke mesjid dan tidak bisa membaca Al-Qur’an. Kami anak-anaknya pun merasa sedih melihat kondisi ini. Saya pun berusaha membesarkan hatinya dan berniat membuat kartu BPJS buat jaga-jaga.

Foto terakhir untuk BPJS

Foto terakhir untuk BPJS

Enam bulan berselang sejak kesembuhan dari Herpes zoster, ayahku sesak napas dan gak bisa makan. Kami sekeluarga kumpul dan bermusyawarah bagaimana baiknya demi kesembuhan apa. Ternyata setelah diperiksa dokter di RS Kartika Sukabumi, Apa mengalami pembengkakan jantung dan lambung, juga paru2. Akhirnya dirawatlah di RS Kartika selama dua hari. Tidak lama setelah dirawat, kurang lebih satu bulan, Apa meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Aku ditelfon kakakku jam setengah 3 malam dan langsung ke Sukabumi sama mas Arif, sampai rumah, Apa sudah dikafani dan dibacain yasin sama sanak keluarga. Apa meninggal pada 25 Januari 2015.

Di Pusara Ayahku

Di Pusara Ayahku

Selama tujuh hari, kami melaksanakan Tahlil dan Yasiin. Kesembilan anak berkumpul kecuali Teh Idah, kami semua berduka dan merasa sangat kehilangan.

Apa dan Emak

Apa dan Emak

Dengan meninggalnya Apa, kami sembilan bersaudara sudah tidak punya lagi ayah dan ibu.

kami yang berduka

kami yang berduka

Pada awal Maret, kami menggelar acara 40 hari di Mesjid Assyarifiyah Bantarkaret Sukabumi Jawa barat di tempat ayahku menjadi imam masjid dan mengaji. Alhamdulilah yang datang banyak, kami mencetak Yaasin dan bagikan paket makanan, diiringi ceramah. Kami pun berdoa semoga amal ibadah Apa diterima Allah SWT. Tiga hal yang saya ingat dari almarhum adalah Hidup itu harus Ikhlas, banyak beribadah dan jangan lupa mengaji. Selamat jalan Apa…Kami anak-anakmu, menantu, cucu dan cicit sangat mencintaimu.

Peringatan 40 hari

Peringatan 40 hari