Archive for the ‘Artikel’ Category

Kongkalikong Dana APBN di Pelbagai Kementerian

Posted: December 12, 2017 by Eva in Artikel

Wah mengerikan sekali ya, bagaimana penyusunan uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini di perjual belikan dengan uang amplopan rapat di pelbagai kementerian, bagiku ini temuan yang sangat menggembirakan.

Waktu aku menulis ini, aku sedang dalam perjalanan ke Perpustakaan Kementerian Pendidikan tapi lewat jalur Kementerian Kehutanan. Di sana aku melihat betapa mengerikan sekali bagaimana uang APBN di putar-putar hanya untuk kepuasan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) terutama yang suka mengatur pencetakan uang di Kementerian Kehutanan dan Bank Indonesia.

Akan tetapi aku tahu siapa sebenarnya yang ingin membersihkan? justru yang ingin membersihkan dunia hitam orang-orang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menggandakan uang APBN untuk membantu orang-orang Palestina tapi lewat jakur Hezbollah. Dan yang sangat mengerikan itu, mereka adalah alumni Institut Pertanian Bogor (IPB)dan Institut Teknologi Bandung (ITB) terutama aktifis Mesjid Salman yang tidak tahu sejarah Palestina dan suka demo-demo pro Palestina tapi sebenarnya mereka memberi makan pasukan asal Yaman dan Kurdistan dalam hal ini Hezbollah yang sangat tidak disukai oleh Bangsa Israel dan Bangsa Palestina.

Jadi sebenarnya yang terjadi pada konflik Israel Palestina adalah orang-orang Hezbollah dimana mereka adalah orang-orang malas. Kamu tahu apa itu Hezbollah? Dia adalah orang-orang keturunan Yasser Arafat yang mengklaim bahwa negara Palestina adalah saat yang memberikannya adalah orang Indonesia.

Akan tetapi siapa justru yang mendalamaikan?Kita semua tahu siapa yang mendamaikan Israel-Palestina adalah Raja Jordania yang ingin memberitahu Donald Trump agar membiarkan para Yahudi pengelola Silicon Valley kembali ke Yerussalem dan membangun Israel sebagai bangsa yang maju seperti Amerika Serikat.

Kamu tahu siapa itu orang Yahudi Israel yang sangat ingin mendamaikan konflik? Mereka adalah Mark Zuckerberg, Bill Gates, Jack Windsor, John Bezos, Stanford Rockerfeller dan pendiri wordpress yang aku pakai sekarang ini, yaitu Matt Lawonski. Mereka semua adalah orang-orang Yahudi yang selama ini diberi keserdasan untuk membersihkan dunia dari kemunafikan orang-orang malas yang ingin menjadi besar dengan dan atas nama bantuan.

Kita semua tahu siapa itu orang Indonesia yang asli Yaman dan Kurdistan yang sekarang ini menghilang. Dia adalah orang Indonesia yang punya sihir dan syair Mesir Mesir yang ada di Jaringan Islam Liberal (JIL) dan siapa itu tokoh Yaman yang pemalas dan sangat bangga dengan sex harrastment terhadap anaknya sendiri adalah orang yang selama ini menghiasi wajah Islam moderat Indonesia, justeru sebenarnya mereka adalah orang-orang pemalas yang ingin dimuliakan.

Saya kira kita tidak usah menyebutkan siapa mereka, orang-orang yang suka membaca Al-qur’an sudah tahu siapa dia. Dengan demikian kita semua tahu bahwa sebetulnya konflik Israel Palestina akan berhasil jika Amerika Serikat memberikan izin kepada Jordania untuk mengusir pasukan Hezbollah untuk pergi dari Yerussalem dan orang-orang Yaman dan Kurdistan pergi dari Yerussalem. Jika mereka semua pergi, maka dengan senang hati kami semua orang Yahudi di seluruh dunia akan pergi ke Yerussalem dengan semua orang Yahudi yang ada di seluruh dunia untuk membangun kembali Israel. Dasn kami orang Israel yang merupakan kamu Yahudi keturunan Nabi Musa (Judaism) dan kaum Palestina (Pallaz and Tiens) atau kami menyebutnya kaum dengan cara damai.

Sekarang ini, kami ingin pasukan Jordania menarik semua pasukan Hezbollah dari Yerussalem dengan catatan, Republik Yaman Utara dan Yaman Selatan mau menerima orang-orang malas yang ada di Palestina. Begitu juga, pemerintahan Republik Turki yang ada di bawah pemerintahan Erdogan menerima orang-orang Kurdistan yang sangat malas dan hanya ingin makan uang sumbangan dari Indonesia yang selama ini merupakan uang recehan dari Dompet Dhuafa dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang seharusnya diberikan diberikan kepada orang tidak mampu di Indonesia justru diberikan kepada orang-orang malas di Yerussalem dan Tel Aviv.

Siapa sebenarnya Dompet Dhuafa dan Partai Keadilan Sejahtera? Silahkan kalian semua membaca di website pribadi mereka. Aku tahu saat ini ada orang di DPR yang tidak disukai oleh orang PKS dan Dompet Dhuafa, tapi dia memang tidak pernah menyumbang kepada Hezbollah, dia hanya menyumbang kepada Daerah Pemilihannya di Nusa Tenggara Barat. Akan tetapi siapa sebenarnya yang cerdas, bukan dia, tapi stafnya yang merupakan sahabat suami aku yang memang sangat menyukai sejarah. Baik sejarah Indonesia, sejarah dunia yang diterbitkan Pustaka Alvabet yang di proofreading suamiku yang di kritik sama orang PMII proofreadingnya jelek? akan tetapi siapa yang tahu bahwa buku SejarahDunia (The History of World) yang membenarkan adalah Kakaknya Mas Wakhit Hasyim yang sekarang sedang bersama Pak Komarudin Hidayat di Universitas Islam Syahid Hidayatullah Jakarta membersihkan pengaruh Jaringan Islam Liberal di Organisasi Kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam Indonesia (KAMMI).

Suami aku memang orang Nahdlatul Ulama, akan tetapi dia adalah anak Komite Masyarakat Pro Demokrasi (KMPD) dan Front Persatuan Pemuda Indonesia sama dengan stafnya Fahri Hamzah. Akan tetapi siapa yang selama ini curiga terhadap Fahri Hamzah, justru yang selalu memberikan syal bukan Hezbollah adalah stafnya Fahri Hamzah yang sangat tahu sejarah Palestina belum lama ini setelah diberitahu  Lukman Hakim Saefudin.

Siapa yang sekarang berada di Jordania? Itulah mata hati kita, Ibu Retno Marsudi yang dengan sepenuh hati meninggalkan keluarga, padahal suaminya lagi sakit difteri karena terlalu sering naik Commuterline. Suami Retno Marsudi adalah Mata Tuhan. Dia adalah Dirjen Kehutanan yang selama hidupnya sangat jijik dengan uang amplopan dari Percetakan Uang Negara yang sekarang diambil alih oleh Siti Nurbaya. Akan tetapi siapa yang menyembuhkan penyakit istri Ibu Retno Marsudi justru adalah Gubernur Jakarta, Anies Rasyid Baswedan yang memperbolehkan pasien Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan berobat dimana saja asal sembuh nanti biar diklaim sama Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Dan yang sudah mengganti uang berobat difteri yang kemudian juga menjadi uang yang diterima suami Retno Marsudi adalah uang yang sama dengan uang yang aku miliki sekarang di BRI, yaitu uang halal gajiku dari Majalah Guru dan Majalah Sekolah Dasar (SD) dimana aku waktu itu digaji setengah bulan dengan Pak Saiful Anam.

Lalu apa hubungannya gajiku dengan gaji suami Ibu Retno Marsudi? yang tahu jawabannya adalah uang APBN yang disusun oleh pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla semuanya adalah uang bunga bank yang memang diambil untuk membayar rapat di kementerian, termasuk rapat yang dihadiri Pak Jokowi sekarang, dimana biasanya makan nasi rames dan rebus-rebusan oleh Menteri Yuddi Chrisnandi diganti dengan masakan enak, yaitu masakan rumah makan padang dan snacknya adalah Monami, milik salah satu orang terkaya di dunia kuliner, yaitu Titik Puspa yang hanya ingin memberikan snacknya pada orang yang dia suka dengan harga murah, yaitu Monami di istana yang dibeli Binny Buchori sama harganya dengan Monami yang ada di Point Square dan Monami  Fatmawati yang sangat terkenal.

Akan tetapi apa yang terjadi sekarang? Titik Puspa justru sakit-sakitan dan meminta kepada Binny Buchori agar memberi dirinya dengan uang gaji jangan uang rapat, disinilah Pak Jokowi baru bisa membedakan jika dalam uang rapat yang ia terima adalah uang rapat yang sangat besar seperti yang aku terima dari Pak Wowon orangnya Anies Rasyid Baswedan. Yang sangat mengerikan adalah pencitraan Anies Rasyid Baswedan yang tidak tahu sejarah jika uang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah uang yang tidak boleh dipakai untuk pencitraan seperti buku dan lain sebagainya.

Di sinilah aku paham kenapa Kementerian sangat gila dengan buku Pendidikan Karakter. Akan tetapi orang Kemendikbud paham jika buku Karakter harus ditulis oleh orang yang berkarakter, bukan orang yang suka membicarakan kejelekan dan membicarakan omongan orang. Apalagi orang yang suka menghabiskan uang Kemendikbud buku karakter adalah bantuan dari JICA (Japan Internastional Contribution and Acomodation) adalah dana yang dipakai orang Kemendikbud dan Yayasan Sukma Bangsa untuk membangun Sekolah Sukma Bangsa. Padahal sebenarnya orang Jepang ingin membantu sekolah yang rusak.

Akan tetapi disinilah kepedulian yang sangat ingin disampaikan oleh orang Palestina yang ada di Indonesia. Orang Palestina yang ada di Indonesia dan selamanya ada di hati orang Yahudi Israel adalah orang yang mukanya mirip dengan Perdana Menteri Jordania yang sangat dikagumi dunia. Dia adalah Syech Abdurrahman Al-Ayyubi, dia adalah seorang perdana menteri yang sangat rendah hati setelah Raja Arab Saudi. Siapa yang tahu PM Jordania? tidak ada. Yang tahu PM Jordania adalah Raja Arab Saudi yang selalu membeli karpet dan selimut orang Palestina yang kemudian dia bagikan kepada Raja Arab Saudi dan para pembantunya, termasuk almarhum kakakku Khadijah yang memberiku selimut Palestina yang sangat tebal, juga dimiliki oleh Todung Mulya Lubis dan Almarhum Muna Lubis dan suaminya. Dan siapa sepertinya orang Turki yang asli? Orang Turki yang asli adalah orang yang membuat jilbab Turki mengkilap bukan jilbab printoutan yang pernah kukupas di blog ini sebelumnya. Orang Turki yang asli adalah orang keturunan Mehmed Syaltout yang sudah lama berada di Indonesia membuat karpet dari bulu angsa dan bulu kulit onta. Jika jilbab Turki Indonesia dijual di Thamrin City, maka jilbab print out mirip jilbab Turki itu hanya ada di Instagram. Siapa yang senang jika ada orang pulang haji bawa kulit unta untuk bahan sepatu KW-an akan tetapi jika setiap berangkat haji ada orang Batak yang membawa bulu angsa ke Arab Saudi dan dibawa ke Palestina itu yang tahu hanya Lukman Hakim Saefudin dan Ali Machzumi.

Siapa yang tahu kalau selimut, kesed, karpet, yang selama ini beredar di IKEA, Jerman dan Uni Eropa adalah selimut yang dibuat oleh orang Palestina di Swedia. Siapa sebenarnya Maher Zein dan Orang Swedia? Orang Swedia dikaruniai keindahaan Uni Eropa? Di mana pendidikan paling murah? dimana IKEA berkantor pusat? dan siapa yang paling suka belanja di IKEA. Yang suka belanja di IKEA adalah orang-orang Indonesia yang pernah belajar di Luar Negeri. Bahkan aku juga yang baru pertamakali berkunjung ke IKEA sangat suka dengan barang-barang IKEA. Ini memang mengerikan. Orang yang sudah lama bekerjasama dengan IKEA adalah temannya Bill Gates yaitu John Wood yang berhenti mendirikan Room to Read, justru ketika ada orang Palestina menyumbang ke Yayasan Sukma lewat Carrefour Indonesia yang sekarang diakuisisi oleh Chairul Tandjung adalah seluruh orang Palestina di Perancis yang memberikan bantuan lewat Yayasan Sukma yang dipimpin oleh Pak Baedhowi.

Itulah mata Tuhan, orang Palestina sangat percaya bahwa yang akan mendamaikan Palestina adalah orang yang sangat ingin membantu Aceh tapi dituding korupsi oleh anak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta karena ingin mendapat keuntungan dari uang jaket, topi, dan tas yang pakai relawan. Itu adalah aku yang selama ini difitnah memakan uang tsunami oleh orang-orang pasar senen yang akhirnya pasarnya terbakar oleh karena dibakar oleh orang yang menuduhku korupsi, karena sangat ingin membakar keuntungan seribu rupiah dalam uang sablonan oleh kakaknya. Akan tetapi siapa yang tahu jika yang membersihkan aku adalah orang-orang Pandanaran, justru dari setiap doa yang kuberikan oleh teman-temanku yang memang sangat mencintaiku dalam ketiadaan.

Siapa sebenarnya yang ingin aku bersihkan sekarang? Aku sangat ingin membersihkan Kementerian Pendidikan Kebudayaan yang justru melakukan korupsi besar-besaran dalam pengelolaan guru berprestasi dan guru garis depan yang setelah sekian lama berjalan. Aku tahu mereka menjahit rompi di tempat yang sama dengan yang membuatkan aku jaket tsunami karena aku tahu rasanya jahitan yang aku rasakan. Akan tetapi siapa yang sampai saat ini menyimpan jaket tsunami yang selalu kujaga dalam ketiadaan dan jaket Guru Garis Depan yang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang aku pakai lalu aku buang di tempat sampah rumahku yang sampai saat aku menulis ini belum ada yang mengambil? Aku akan mengecek, siapa yang selalu menginginkanku uang dari hasil korupsi? justru suamiku yang memang tidak ingin aku bekerja aku tidak sakit-sakitan. Akan tetapi siapa yang selalu membisikkkan kepadaku untuk bekerja adalah keinginanku untuk selalu belanja online?

Jadi bila anda penerima hadiah Guru Berprestasi sejak tahun 2007 yang disponsori Intel Pentium dan Bank Mandiri, maka aku sangat yakin jika yang salah dalam dunia digital adalah orang-orang Agus Martowidjoyo yang saat ini memenuhi  Bank Indonesia  dari mulai istrinya sampai tetangga bahkan sampai tujuh turunan keluarga semua adalah orang Bank Mandiri dan orang Agus Martowidjoyo. Dia yang sangat selalu keenakan dengan uang akhir bunga Bank dari semua aplikasi online, karena dari semua Bank yang menyisakan saldo paling besar adalah Bank Mandiri. Semua dana sertifikasi dan semua dana-dana APBN bahkan gaji Pak Jokowi juga yang mengisi adalah Bank Mandiri. Karena yang sangat kotor dalam perekrutan Gubernur Indonesia setelah Pak Boediono adalah Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo yang memang tiap hari tidak pernah bekerja dan hanya tidur saja, karena yang bekerja adalah anak buahnya yang tidak tahu bagaimana sistem perbankan dijalankan termasuk digandakan oleh politisi Nasdem Siti Nurbaya yang tidak bisa membedakan mana ilmu putih dan ilmu hitam.

Aku akan terus menulis dan akan membuka kebenaran, siapa sebenarnya yang bermain di dalam pengelolaan dana kemanusiaan yang selama ini dikelola Palang Merah Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Bank – Bank yang selama ini hidup dari sisa-sisa nasabah karena ingin mendapatkan uang halal? Jangan percaya naik haji dengan Bank Syari’ah, karena yang memiliki konsep-konsep syariah itu menurut Bank Mandiri adalah yang pegawainya memakai jilbab dan tahu bahwa bunga itu riba’. Akan tetapi jika Anda ingin Palestina dan Israel berdamai, maka berhentilah memakan uang rapat dan berhentilah menjadi nasabah Bank Mandiri.

Jakarta, 12 Desember 2017

Pukul 1:47

 

 

Advertisements

Menghadapi Tekanan Kerja

Posted: September 22, 2017 by Eva in Artikel
Ada masanya ketika kita bekerja kurang fokus, banyak melakukan kesalahan dan tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Disitulah kita seringkali dikritik, dibantai bahkan dipermalukan di hadapan rekan kerja lainnya.Lalu apa yang harus kamu lakukan.
Ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan dan kita sadari, lalu kita tindaklanjuti.
1.Evaluasi Diri
 Anda harus perhatikan betul pekerjaan yang mendapat kritikan, perbaiki semua kesalahan, minta maaf dan mengingat ingat mungkin saat anda melakukan pekerjaan tersebut anda sedang tidak fokus atau ada urusan pribadi lain yang lebih anda prioritaskan selain pekerjaan. Saya kira itu yang harus kita lakukan di awal.
2.Positif Thinking
Ada masanya ucapan atasan terhadap kita sangat menyakitkan, nah disitulah kita positif thinking.Jangan menganggap bahwa bos anda tidak suka atau benci,  terima kritik dengan terbuka dan berikan penjelasan. Jika tidak mau terima ya sebaiknya kita diam, tapi kita harus menerima masukan dan anggap saja bahwa atasan itu sayang sama kita agar kita menjadi lebih baik dalam bekerja.
3.Jangan Masukin Perasaan
Tingginya angka depresi dan sakit jiwa adalah karena orang mudah tersinggungan, perasa dan tidak suka melihat orang lain bahagia. Jika anda ditegur keras, di kritik bahkan dibantai habis-habisan, jangan semua ucapan orang dimasukin perasaan. Di situ kunci menjaga keseimbangan. Kita harus ingat, bahwa perjuangan masih panjang, masih ada keluarga dan saudara yang yang harus kita perhatikan. Kalau anda selalu sensitif dan mudah tersinggungan, dimanapun berada anda tidak akan betah kerja.
4. Fokus dan Susun Skala Prioritas
Anda harus benar-benar memperbaiki semua kesalahan yang pernah dilakukan. Jangan mengulanginya.Bekerja harus teliti dan jangan asal asalan.Susun skala prioritas jangan sampai anda kebingungan mana yang harus didahulukan. Hindari medsos dan obrolan tidak penting yg membuat anda tidak fokus.
5.Bekerja diniati Ibadah
Jangan terlalu bangga dengan apa yang kamu miliki sekarang, karir cemerlang, gaji lumayan dan fasilitas memuaskan.Apalagi sampai pamer keberhasilan.Jika anda merasa bangga dan sukses, saat anda mendapat tekanan dan ujian, anda sulit menerima kenyataan.Maka jadilah pekerja yang senantiasa bekerja keras dimanapun ditempatkan.
kerja
Kita sebagai orang bawahan, pekerja kantoran, ibu rumahtangga, bahkan sampai pejabat pemerintahan, semua mulia di mata Tuhan. Maka apapun yang kita kerjakan maka diniati dengan ibadah, serahkan semua kepada yang memberi pekerjaan. Jika anda menyadari bahwa kerja itu ibadah, maka sepenuh hati kita akan melakukannya tanpa ingin dilihat orang baik atau buruk.Kita bekerja demi keluarga, demi masa depan dan tentu saja jangan lupa beramal. Beri keseimbangan antara dunia akhirat, bersyukur, insyaallah anda akan tahan banting menerima tekanan dan ujian dalam setiap pekerjaan.
Commuterline 22 September 2017
Pasar Minggu Baru – Tanabang
Pukul 19.19

Resign?Maju Atau Mundur

Posted: May 15, 2017 by Eva in Artikel

Resensi Buku

Judul   : Resign, Memajukan Diri Bukan Mengundurkan Diri

Penulis: Mega Chandra (Me-Chan)

Penerbit: Self Publishing

Edisi     : Maret, 2017

sampul buku

Setelah sekian tahun anda bekerja, merangkak dari karir , yang paling bawah hingga mencapai posisi yang sudah mapan, atau bekerja lama tapi karir anda di perusahaan anda stagnan, maka pilihan untuk berhenti bekerja, dan tentu masih banyak alasan lain, karena ingin lebih memperhatikan anak dan orangtua (keluarga), karena sakit, atau karena tergoda ingin buka usaha sendiri.

Ada banyak alasan orang untuk memilih pilihan berhenti dari karir, namun tidak ada salahnya, sebelum anda memutuskan melanjutkan atau tidak karir anda, baca buku ini terlebih dahulu agar anda lebih menghadapi apa yang terjadi kemudian di masa yang akan datang, ketika karir anda berhenti, atau bahkan semakin melambung tinggi.

Buku berjdul ‘Resign” karya Mega Chandra ini, adalah buku kedua yang saya baca, buku pertama yang saya baca, adalah One Team One Goal bicara tentang cara kita bekerjasama dalam satu tim, sebuah buku penyemangat untuk saling berpegangan tangan membangun tim yang kompak untuk menuju satu kesuksesan. Resensinya bisa dibaca di sini Mengoptimalkan Teamwork, Hindari Ingin Maju Sendiri.

Nah buku terbaru, Motivator yang akrab dipanggil Me-Chan ini, membahas tuntas tentang Resign dari berbagai perspektif. Seperti biasa, ulasan penulis asal Lampung ini mengawali prolog dengan peristiwa sehari-hari kekininian tentang aneka perusahaan yang banyak mem-PHK karyawannya serta makin tergerusnya tenaga manusia oleh alih teknologi.

Namun, buku yang memiliki sampul artistik ini, tampil beda, tidak melulu pada satu titik tentang kenapa perlu resign atau tidak, tapi lebih kepada alasan dan gagasan untuk menghadapi rasa takut dan keluar dari zona nyaman agar anda bisa mengambil keputusan.

Mempersiapkan Diri Lebih Baik

Ada empat bab yang dibahas secara tuntas dalam buku ini. Pertama tentang Resign? Why Not, terdiri dari empat sub bab yaitu hadapi rasa takut, keluar dari zona nyaman, bertumbuh dengan SWOT Analysis, dan Ketakutan itu tidak akan terjadi.

Memasuki Bab dua, anda akan tercerahkan  dengan argumen lengkap, berjudul Why Resign? di sini akan didedahkan tentang dahsyatnya paradigma, Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Cepat. Sedangkan Bab ketiga, Me-Chan mendedahkan tentang Prepare Be Better. Ada tiga sub bab dalam buku ini yang menjelaskan tentang Good Preparation better than Good Explanation, Never Stop Study, Show up, Stand up, Speak up.

Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, pada buku kali ini di akhir setiap bab ada karikatur yang berkaitan dengan wacana yang dibahas tiap bab. Seperti bab empat yang merupakan inti dari buku ini, yaitu: Resign=Memajukan Diri. Menurut Me-Chan, menyiapkan diri baik mental dan skills adalah upaya terbaik yang harus kita lakukan jika kita siap menghadapi ujian dalam bentuk apapun, terlebih dengan tidak stabilnya kondisi perusahaan di mana kita dituntut selalu siap dengan segala resiko.

Resign itu harus maju, harus menjadi lebih baik karena yang mengajukan resign pasti seharusnya sudah jauh lebih siap dibandingkan yang di-resign-kan. Orang yang mengajukan resign pastinya sudah berpikir dalam tentang keputusannya apapun alasannya, itu sebabnya orang yang mengundurkan diri lebih siap dibandingkan dengan yang diberhentikan.

Namun sangat disayangkan apabila orang yang jauh lebih siap ternyata “resign” tidak mengalami kemajuan, resign tidak hanya karena bosan atau karena ingin mencari suasana baru tanpa perubahan apapun yang lebih baik. Baik dari sisi penghasilan, fasilitas atau yang paling utama yaitu kualitas dan karya yang lebih baik.

Dalam bab empat ini juga di bahas tentang Self Management dan Choose The Right Job for Us, Harus diingat memajukan diri bisa kita lakukan dengan banyak cara. Apapun yang kita pilih memiliki konsekuensi yang harus siap kita hadapi. oleh sebab itu kita harus lebih siap, maka proses reminder diri seperti self management dalam proses pengembangan diri mutlak harus kita jalankan jika kita ingin memiliki kebebasan memilih.

Jadi anda masih bingung dengan pilihan Anda? Tidak ada salahnya untuk membaca buku ini sebagai bahan pertimbangan. Selamat membaca

Eva Rohilah

Pengamat Buku tinggal di Depok

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-Mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet DeNeefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

 

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama di adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali, mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan imagining India pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee. Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali, ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain belok-belokan di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-fotoakhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara ke Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya, dan Alex mereka turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampe besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di neka Museum saya mengikuti sesi Migrant dan Refugees bersama Stef vaessen, Sami Shah, Chris raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang A Little Life yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemau Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Empat Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan.Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak saya ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirma 21.40

MENGARUNGI PERJALANAN SPIRITUAL-INTELEKTUAL

Judul: Bahkan Malaikat Pun Bertanya
Penulis: Dr Jeffrey Lang
Pengantar: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktoebr 2000
Tebal: (xix + 302) halaman

Buku Jefrey Lang

Buku Jefrey Lang

Buku Bahkan Malaikat pun Bertanya ini berangkat dari keprihatinan penulisnya setelah melihat banyak orang Islam di negerinya menghindari atau bahkan mengingkari agama itu, lantaran tak mampu mendamaikan agama yang mereka warisi dengan pandangan Barat sekuler yang mereka peroleh.
Fenomena yang sesungguhnya melanda nyaris semua negeri muslim ini telah membelah umat Islam ke dalam dua kubu yang berlawanan: mereka membekukan dirinya dalam tradisi lama dan mereka yang mengekor pada peradaban Barat.

Yang pertama memandang pemikiran Islam terdahulu sebagai rujukan ideal, dan yang kedua melihat Barat sebagai puncak peradaban. Yang pertama kaum fundamentalis, sedangkan yang kedua kaum liberal.

Kedua kelompok itu sama “menyesatkan”. Agar tidak terperangkap dalam bahaya itu, lewat buku yang dalam peringkat Amazon.com mendapat bintang lima ini penulis menganjurkan umat Islam senantiasa mengembangkan sikap kritis. Baik dalam memandang realitas faktual yang muncul, maupun dalam memahami pesan-pesan Islam itu sendiri.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu stereotip yang populer di Barat. Disebut stereotip karena, kesan-kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab.

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apapun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila masuk Islam atau naik haji?

Hal seperti itulah yang mengusik Jeffrey Lang, ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk ditukar dengan jubah dan sorban seperti Cat Steven, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga tak pernah mengubah Thank God sebagai pengganti Alhamdulillah.

Menurut mualaf Amerika penulis buku terkenal Struggling to Surrender (telah di Indonesiakan menjadi Pergumulan Menuju Kepasrahan, Serambi, Juni 2002) ini, cara yang paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukan mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik.
Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan, katanya. Bahkan malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan pun bertanya! Mereka “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka Bumi: Apakah Engkau akan jadikan disana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

BUKU ini membawa pembaca mengarungi perjalanan spiritual intelektual dengan mendiskusikan konflik-konflik yang terjadi antara agama dan akal, rintangan-rintangan yang dipasang oleh kaum Muslim sendiri yang menghalangi orang untuk memeluk Islam, ekstremisme dalam komunitas Islam, dan lain-lain.

Bahkan Malaikat Pun Bertanya, memiliki arti umum yang sangat penting, ditulis dengan sangat bagus (orang mungkin tidak mengira bila penulisnnya seorang guru besar matematika), dan merupakan hasil dari kajian yang baik.

Memang buku ini adalah gambaran hidup tentang bagaimana Jeffrey Lang begitu tertarik kepada Islam tanpa terbendung lagi. Namun, buku ini juga menawarkan suatu program yang solid dengan menawarkan alasan yang baik bagi semua orang Amerika lainnya memerlukan kajian rasional yang luas dan mendalam sebelum berserah diri pada Allah.

Perjalanan spiritual Dr Lang menjadi terkesan unik dan menarik ketika ia ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi, ia berhasil menemukan pencerahan baru: no escape from being an american. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya.

Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya. Islam tidak pernah datang dari suatu vakum kultural. Karena itu, maka ditemukanlah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Dan mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Akan tetapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah jatuh pada hambatan besar: mengekor Barat? Memang disamping kaum fundamentalis yang mengekor kebudayaan Arab, kita juga menemukan kaum liberal yang mengekor Barat sebagai puncak peradaban.

Terlepas dari jebak-jebakan itu, Dr Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis pada bab 2 buku ini: “Cara paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukanlah mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik, melainkan justru harus sebaliknya. Komunitas Muslim harus terus mendorong kedua hal itu. Kita cenderung berbuat salah manakala kita tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri”.
***
MEMBACA buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalanan spiritual, bukan saja seorang Muslim Amerika, tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dan Islam aktual.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang persiektif orang non-Muslim tentang Ramadhan. Mereka menilai bahwa puasa merupakan ibadah ritual yang paling keras dalam Islam (hlm 216).
Namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa kekhawatiran dari buku ini, yakni dapat menjerumuskan pembaca non-Muslim pada kesan keliru dan sepihak tentang kaum Muslim. Boleh jadi pemburukan media Barat atas citra kaum Muslim dan agama mereka.

Jeffrey Lang menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli (berdasarkan akal) dan nakli (berdasarkan Al-Qur’an).

Uraian Dr Lang dalam buku ini juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. Bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan serius maupun ringan.

(Eva Rohilah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di harian Kompas edisi………..waktu itu ditelepon sama Pak Dewa Brata Redaktur Pustakaloka yang terbit setiap Senin, honornya saya masih ingat 350.000 sangat besar ukuran saat itu, dari sini pula saya diberi beberapa buku baru dari Penerbit Serambi yang Chief Editornya Pak Qamaruddin SF, setelah saya kerja di Alvabet kita sering bertemu sebagai sesama penerbit dan bersahabat baik dengan beliau.

JUNJUNGLAH TINGGI SISTEM NILAI YANG EGALITER

Judul: Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan
Penulis: Dr Irwan Abdullah
Editor: Ana Samsuri
Penerbit: Tarawang Press Yogyakarta
Cetakan 1 Maret 2001
Tebal: (xvi + 222) halaman

Buku Irwan Abdullah

Buku Irwan Abdullah

Diawali dengan ide dan gagasan RA Kartini leawt buku Habis Gelap terbitlah Terang perjuangan perempuan untuk kesetaraan hak sampai kini terus bergulir. Bahkan, belakangan ini wacana itu menjadi semakin marak, lantaran dalam rentang waktu yang demikian panjang dan lama, perempuan menuju persamaan hak belum juga mencapai klimaks.

Dalam struktur yang hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukan pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup.

Akan tetapi, mengapa dalam praktik sosial, perempuan mau mengalah atau dikalahkan? Kesalahan utama yang dilakukan para politisi, peneliti, dan kaum feminis, adalah mereproduksi struktur patriarirkal dengan menekankan wacana ketimpangan jender, perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung, halus, dan sebagainya.
Dengan cara itu sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa untuk kesejahteraan peremepuan. Sebaliknya, perempuan malah tersubordinasi secara terus menerus oleh wacana yang dibangun orang-orang yang sangat ingin membantu perempuan sekalipun
***
Buku Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan ini terdiri dari empat bagian, atau sebelas bab. Ditulis dengan saksama oleh dosen Fakultas Sastra UGM yang sangat tertarik pada masalah perempuan sejak mahasiswa. Penulis itu Dr. Irwan Abdullah, seorang feminis kelahiran Aceh Utara 37 tahun yang lalu.

Melalui bukunya tersebut ia berusaha membawa pembaca mengikuti dua arus besar yang melanda dunia ketiga. Dalam ranah sosial, pembicaraan mengenai perempuan telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada saat konsep “jender” digunakan sebagai perspektif. Jender lebih menunjuk kepada relasi dimana kaum lelaki dan perempuan berinteraksi.

Hal tersebut menjadi rumit tatkala perempuan memainkan berbagai peranan sekaligus. Perempuan ideal kemudian menjadi superwoman yang memiliki kapasitas domestik dan diharapkan memiliki kapasitas dalam bidang publik secara sempurna. Posisi laki-laki disini tampak cenderung tidak digugat.
Secara implisit dinyatakan bahwa peran publik merupakan tanda kemerdekaan perempuan, dan peran domestik digugat karena dianggap telah memenjarakan perempuan. Cara-cara seperti ini sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi sosial.

Dalam proses migrasi dari domestik ke publik, perempuan harus mengeluarkan biaya ideologi yang begitu besar. Perempuan tidak hanya harus memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki untuk memenuhi kriteria sebuah pekerjaan, tetapi juga harus cantik dan menawan. Bukankah ini sekaligus pelecehan terhadap perempuan.

Pada bagian lain, arus balik yang terjadi berasal dari realitas ekonomi. Hal ini berawal dari penandaan tubuh perempuan yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif ke arah fungsi ekonomi demi ekspansi kapital. Tubuh dan hasrat digunakan sebagai titik sentral produk yang disebut sebagai ekonomi libido.

Pembahasan soal itu menjadi menarik ketika menyangkut masalah tubuh perempuan dalam iklan dan rimba laki-laki. Stigma ini cukup diimbangi dengan peranan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi.

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Imbangan itu antar lain tampak dari hasil penelitian tentang bagaimana peranan perempuan dalam pasar, pedesaan, dan kerajinan rumah tangga yang lebih menenkankan pada aspek mobilitas dan mengankat marginalitas profesi seperti bakul (penjaja), tukang jamu. Bhakan juga peranannya dalam home industry.
***

Pesan utama dari penulis adalah bahwa usaha perbaikan kehidupan perempuan bukan usaha memerangi laki-laki tetapi mengubah sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obejek. Perubahan ini akan terjadi apabila bertumpu pada struktur yang menjunjung tinggi sistem nilai dan ideologi yang egaliter.

Kekuatan utama buku ini pada epilog yang merupakan rajutan dari berbagai bab. Masing-masing bagian digarap secara serius karena beberapa bahan dalam buku ini hasil penelitian lapangan serta riset perpustakaan yang dilengkapi dengan data kuantitatif yang cukup akurat.
Disamping itu ada terobosan yang cukup berani untuk melakukan penyegaran, penyusuran, dan penggerusan yang cukup mendalam atas kompilasi wacana yang telah ada, kritikan terhadap kaum feminis, sampai sindiran yang tajam terhadap kaum oportunis.

Sayangnya ada satu kelemahan yang cukup fatal, yaitu tidak seimbang (equal) antara judul buku dengan substansi, yakni dimensi seksisme kurang begitu disentuh secara mendalam. Ulasannya teramat singkat hanya sebatas retorika dan obyektivitas reproduksi dalam kaitannya dengan kekuasaan lelaki.
Hal itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran editor yang kurang memperhatikan grand opinion dan tidak fasih dalam menerapkan gaya penulisan ilmiah sehingga buku ini terkesan kaku meskipun alur penulisannya dari awal hingga akhir menarik.

Akan tetapi, setidaknya, sampul bergambar RA Kartini yang melankonis akan sedikit mengeliminir kelemahan buku ini. Yang jelas, dengan kelebihan dan kekurangannya itu, buku ini telah menambah panjang koleksi buku feminis. Siapapun yang peduli akan nasib, pendidikan, dan masa depan perempuan akan memperoleh manfaat dari buku ini.
(Eva Rohilah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurnalis LPM Sinergi Yogyakarta)
Dimuat di Harian Kompas edisi

JANGAN LUPAKAN TRADISI

Judul: Agama, Negara, dan Penerapan Syaria’ah
Judul Asli: Ad-Din Wa Ad Daulah wa Tathbiq As-Syari’ah Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah (Beirut 1996)
Penulis: Muhammad Abed Al Jabiri
Penerjemah: Ulin Nuha
Penerbit: Fajar Pustaka Bru, Yogyakarta
Cetakan I, September 2001
Tebal: (xxxvi + 201) halaman

Buku Abed Al-Jabiri

Buku Abed Al-Jabiri

MUHAMMAD Abed Al-Jabiri seorang pemikir terkemuka Arab saat ini yang mengangkat berbagai gagasan segar dalam rangka kebangkitan Islam, khususnya di lingkungan negara Arab. Ia punya analisa yang cukup signifikan terhadap masalah yang menyita kaum muslim tentang hubungan negara dan agama.

Masalah itu menjadi mendesak karena kemunculan negara-negara bangsa (nation state) dan berhembusnya semangat sekularisme yang dibawa Barat Modern. Dia mengemukakan, “pertanyaan apakah Islam itu agama atau negara” merupakan pertanyaan palsu karena diajukan oleh kebudayaan Barat dengan segala pengakuan historis yang dilaluinya, bukan cermin realitas kaum Muslim sendiri.

Menurut Al-Jabiri, kalau mau jujur menelaah Al Qur’an dan sejarah Islam, kita akan menemukan fakta bahwa Islam tidak pernah menentukan jenis dan bentuk negara. Rujukan historis maupun praktis tentang kenegaraan Islam hanya ada pada praktik sahabat Nabi SAW, yang menurut dia, itu hanya suatu ijtihad.
Oleh karena itu, sesuai perkembangan zaman, Al-Jabiri dengan tegas mengatakan bahwa demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum Muslim untuk masa kini dan masa depan. Meskipun dia tidak naif dengan mengatakan bahwa para sahabat Nabi SAW telah mempraktikkan demokrasi melalui ajaran syura yang dianggap mempunyai urgensi yang sama dengan demokrasi.

Jika negara itu demokratis, bagaimana dengan penerapan syariah, bagaimana meletakkan syari’ah dalam sebuah negara demokrasi? Al-Jabiri kembali membongkar tradisi dan sejarah secara rasional. Baginya, praktik kenegaraan dan penerapan hukum syariah harus dikaji dan ditelaah secara mendalam. Di sini hukum Islam dianggap sebagai hukum yang hidup (the living law) dan menjiwai setiap aturan tanpa memaksakan simbol sebagai suatu ciri yang otentik.

Buku yang merupakan terjemahan dari kumpulan artikel dari Bahasa Arab ini ditulis oleh Abed Al-Jabiri yang dewasa ini pemikiran dan gagasan-gagasannya dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim berkenaan dengan semakin menguatnya wacana post tradisionalisme Islam dan kajian tentang Islam Liberal.
***

TIDAK ada salahnya jika sebelum membaca buku ini akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang sosok Al-Jabiri.
Intelektual Muslim kelahiran Maroko tahun 1936 ini menempati posisi garda depan pemikiran Islam Arab kontemporer, sederajat dengan Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamd Abu Zayd, Basam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisi, Adonis. Al-Jabiri sering menulis berseri di beberapa harian ternama Timur Tengah, seperti Al-Syarqah Ausath.

Dalam suatu kesempatan pada waktu seminar di Berlin, Jerman, yang diselenggarakan oleh Federich Ebert Stiftung pada tahun 1996, Al-Jabiri bertemu dalam satu forum dengan Abdurrahman Wahid dan Fatima Mernissi yang sama-sama berbicara tentang Civil Society In the Moslem World.

Edisi Cetak Harian Kompas

Edisi Cetak Harian Kompas

Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Naqd al-Aql al’Arabi (Kritik Nalar Arab) yang mejadi perdebatan di kalangan intelektual Muslim karena berbeda dengan “Kritik Nalar Islam” Arkoun. Dalam bahasannya itu, jelas sekali pemikirannya tentang perubahan makna akal tersebut banyak dipengaruhi oleh tokoh filsafat Perancis seperti Jacques Lacan, Althussder, Jacques Derrida, Roland Barthes, dan Michael Foucoult.
Hingga kini tulisan-tulis Al-Jabiri bentuk buku telah mencapai angka belasan. Salah satu kumpulan tulisannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Baso bejudul Post Tradisionalis Islam (LKiS Yogyakarta, 2000) banyak mengulas tentang pejanlanan intelektual Al-Jabiri dan relevansi tradisi dalam pemikiran Islam kontemporer.
***

DALAM penuturannya yang cukup lugas lewat buku ini terasa kepeduliannya terhadap tradisi (al turats) cukup kental dan mewarnai uraiannya. Salah satu persoalan krusial saat ini bagi kebangkitan Islam adalah bagaimana menyikapi tradisi dalam kehidupan bernegara dan beragama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Menurut Al-Jabiri ada dua hal penting yang menyertai kekinian, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita, dan kedua adalah tradisi yang mencakup kemanusiaan yang lebih luas seperti pemikiran filsafat dan sains.

Sikap kaum Muslim terhadap tradisi mempunyai corak yang berbeda, ada yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam karena apa yang ada dalam tradisi tersebut dinilai sudah memadai. Seperti ulama konservatif dan mereka yang justru tidak memiliki pengetahuan yang memadai karena dididik oleh tradisi lain yang sudah memadai.
Kedua, mereka yang menganggap bahwa tradisi sama sekali tidak memadai dalam kehidupan modern saat ini, karena itu harus dibuang jauh-jauh. Kelompok ini adalah mereka yang berpikiran sekuler dan liberal ala Barat sehingga menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola Barat.

Kedua sikap tersebut menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang (ekstrem). Oleh karena itu Al-Jabiri mencoba mencari jalan keluar dari dua sikap ekstrem itu dengan tawaran agar kita berusaha bersikap dan berpijak pada tradisi. Namun, tentu bukan dalam kerangka tradisi kita melebur didalamnya dengan segenap gerak dan gelombangnya, tetapi lebih diperlakukan sebagai produk kebudayaan manusia, sebagai produk ilmiah yang senantiasa berkembang.

Dari sini kita belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional. Di Indonesia pemahaman tentang konsep ini sekarang sedang aktual diwacanakan sebagai “post tradisionalisme”.
***

BUKU yang terdiri dari dua bagian ini berusaha memposisikan hubungan agama dan negara dalam rujukan tradisi dan kebangkitan (renaissance). Penerapan syari’ah diulas secara mendetail, mulai salafisme sampai dengan ekstremisme, antara akidah dan syari’ah, juga diusahakan merasionalkan hukum-hukum syari’ah (hlm 168).
Beberapa kritik terhadap Mazhab Syafi’i, dan ajakan untuk menolak hukum (hudud) berdasarkan argumen ketidakjelasan, akan menjadi wacana yang menarik ketika hukum diletakkan dalam posisi agama dan negara, dengan memperhatikan tradisi dan budaya lokal.

Metode telaah kontemporer yang diajukan Al-Jabiri, merupakan sebuah terobosan yang cukup penting dan aktual dengan kondisi tanah air kita. Selama ini banyak orang yang menelaah tradisi untuk mencari sandaran otoritas belaka tanpa menyadari dimensi historis dan ideologis yang melahirkan tradisi itu. Dalam hal ini sikap terbuka Al-Jabiri terhadap demokrasi dan HAM dengan tanpa sedikit pun merasa terancam dengan kehilangan identitas keislamannya, juga merupakan satu hal yang patut diperhatikan.

Dalam hal tersebut strategi Al-Jabiri untuk mendudukkan pemikiran Barat dan Islam pada mekanisme dan historitasnya masing-masing, adalah sesuatu yang diambil dari semangat Ibn Rusyd dalam menjelaskan hubungan agama dan filsafat. Itu boleh dibilang sebagai merupakan strategi yang cukup menjanjikan.
Terlepas dari sampulnya yang kurang begitu menarik, isi buku ini akan sangat bermanfaat bagi khazanah intelektual Muslim, sebagai wacana alternatif dalam membincangkan kembali agama, negara, dan penerapan hukum (syari’ah) secara proporsional, tanpa melepaskan tradisi, pluralisme, dalam dinamika pergolakan pemikiran Islam kontemporer.
• EVA ROHILAH
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dimuat di Harian Nasional Kompas edisi 22 Maret 2002

Belakangan ini ada banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan beberapa kegiatan yang kuikuti belakangan, namun entah kenapa untuk memenuhi penulisan terasa sulit mengatur waktu, beberapa hal yang ingin aku tulis adalah, Jurnal untuk Fakultas Tarbiyah, Jurnal untuk STAIN Pekalongan, Pengalaman 5 hari mengikuti event Ubud Writers and Readers Festival di Bali,15 Tahun Supernova, 4 Film pendek Wregas Bhanuteja, Digital Diplomacy CSIS, review buku2 pemikiran filsafat Islam, Materi Tafsir Alquran yang telah kuikuti setiap Rabu di Pusat Studi Alquran Pondok cabe, Resep bikin Puding, Pameran Filantropis, Perkembangan Buku Digital, Pemikiran dan refleksi hari guru nasional, dan Opini Pribadi saya tentang Truth Of Claim.

Semua itu tiap hari membayangi saya ketika bangun tidur, mana yang saya harus tulis terlebih dahulu. Deadline muncul tiap detik dan saya tidak bisa mengendalikan diri. Semua masih dalam tahap baca buku, pengumpulan data dan rangkaian struktur penulisan. Ada majalah dan buku referensi yang hilang membuat saya kalang kabut untuk bisa menuntaskan semua itu, kembali mencari pengganti dan rempong sana sini mencari buku yang hilang, belum lagi telat mengembalikan buku yang dipinjam ke perpustakaan.

Saat saya dihadapkan dengan semua itu, keasyikan di media sosial membuat saya lupa diri akan membaca buku dan tugas kewajiban menulis, dan sibuk mengamati perang medsos yang semakin hari semakin mengerikan. Saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat status tentang hal yang provokatif dan menyakitkan ormas atau organisasi mahasiswa yang sedang ramai dibicarakan. Tidak menulis status bukan berarti tidak peduli, tapi menghindari klaim bahwa saya paling benar. Politik semakin tidak menarik dan kebencian di media sosial mem1buat satu sama lain saling unfriend, unfollow.

Terlepas dari itu semua, saya gembira buku saya kedua sbg ghostwriter terbit dan akan di launching 10 november di Manado dan Jakarta. Sehabis itu jadwal menanti kemungkinan adalah buku tentang Kedaulatan pangan, juga sebagai Ghost Writer. Mungkin awal Desember baru mulai.

Saat saya galau, tiba-tiba seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Hasani Ahmad Said, saat kajian di PSQ menceritakan saat-saat terbaik menulis dan pengalaman dia waktu menyelesaikan studi S3 Doktor Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Dia bercerita tentang kisah beberapa tokoh yang mendisiplinkan diri untuk menulis.

Menurut Pak Hasan, saat paling tepat menulis bagi tiga guru besar UIN bermacam-macam. Pertama Pak Quraish Shihab, dia selalu menyempatkan menulis usai shalat subuh sampai jam 7 pagi, itu rutin dia lakukan, kalau tidak menulis ya membaca.

Lalu kedua adalah Pak Azyumardi Azra, Kapan beliau produktif menulis? Menurut Pak Hasan, Pak Azyumardi selalu berangkat jam 6 ke kantornya sejak beliau jadi dosen, padahal dia mengajar mulai jam 9 atau jam 10, nah saat sampai di kantor sampai tiba waktu mengajar, disitulah dia menulis artikel, opini dan buku.

Lalu Pak Hasan cerita sendiri kesibukannya dia saat menulis disertasi. Dalam waktu setahun dia full waktunya habis di perpustakaan dan kost-kostan, bergelut dengan buku, makan dan tidur. itu saja tidak ada aktifitas lain, selama enam bulan terakhir tambah intensif semakin mencintai buku dan melupakan cinta-cinta yang lain…ahai..”untuk itulah kenapa saya baru menikah setelah lulus menjadi doktor”.

Pengalaman dari ketiga orang guru besar UIN yang diceritakan Pak Hasan, saya catat dan garis dengan stabillo tebal, siapa tahu akan berguna buat saya saat ini atau suatu hari nanti. Mungkin itu yang saya ingin tulis hari ini dan saya berterimakasih kepada Ibu Lilik Umi Kaltsum MA, ibu nyai yang menjadi guru mengaji saat saya di Sunan Pandanaran dulu dan sekarang menjadi ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliaulah yang mengajak saya mengikuti kajian di PSQ setiap rabu dengan materi yang
menarik dan berbagai metode tafsir Alqur’an.

bersama Ibu Nyai Lilik Umi Kaltsum, Guru Ngaji di PPSPA Jogja

Foto Bersama Bu Nyai Lilik Umi Kaltsum di rumah Ning Mainunah

Selain butuh disiplin waktu, tempat yang cozy juga baik untuk menulis, seperti perpustakaan dan rumah, jangan lupa matikan gadget anda saat menulis, jangan terlalu percaya atau copy paste google, menulislah dengan murni pemikiran sendiri, cara anda sendiri, dan jangan lupa sertakan referensi.

Gedung C Lantai 4
Sudirman 8 November 2016
Pulul 14.54

Resensi Buku
Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Editor : Eka Saputra dan Nurjannah Intan
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Maret 2016
ISBN : 978-602-291-143-2
Harga: Rp.69.000

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Barangkali diantara kita pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara di luar negeri dan menemukan ciri khas negara itu dari mulai tempat wisatanya, tata kotanya bersih atau tidak, penginapan yang nyaman dan murah, akses transportasi yang layak dan tentu saja ciri khas kuliner kota di negara tersebut. Namun ketika kita menemukan hal-hal baru di negara tersebut, ada sekeping hati yang yang merindukan suasana tanah air kita Indonesia tentang segala sesuatunya yang sulit kita temukan di negeri orang.

Dari Kota terbersih Sampai Kota Terjorok

Buku yang merupakan kisah perjalanan Pandji Pragiwaksono keliling dunia melakukan Stand up komedi “Mesake Bangsaku World Tour” (MBWT) ini sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan bahasa yang ringan dan kocak seperti kita lihat Pandji berstand-up komedi yang sering kita lihat di TV atau Youtube. Bedanya ini dalam bentuk buku. Negara yang dikunjungi Pandji mulai April 2014 sampai April 2015 yaitu Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Goldcoast, Hongkong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.
Pandji memang tokoh anak muda yang luar biasa, berkat kepintarannya dia berhasil melakukan perjalanan ke 25 kota dan 10 negara untuk melakukan stand up komedi MBWT dan bertemu warga Indonesia di luar negeri yang rindu akan Indonesia, untuk melakukannya tentu butuh biaya besar, tapi berkat sponsor Garuda Indonesia, Telkomsel dan Bank Mandiri semua mimpi Pandji terlaksana meskipun di beberapa kota tertentu harus menginap bukan di hotel tapi di kedutaan dan apartemen milik orang Indonesia. Membawa tujuh orang rombongan tentu bukan hal yang mudah, tapi rombongan Pandji kompak dalam melaksanakan misi besarnya yaitu menghibur rakyat Indonesia di luar negeri. Nah di sela-sela kunjungan tersebut ada banyak cerita yang kocak dan konyol dikisahkan Pandji yang membuat anda tertawa ngakak.

Misalnya tentang kebiasaan buang air besar di beberapa negara yang tidak menyediakan air untuk membersihkannya dan harus pake tissu toilet, hampir di semua negara dan ini tentu saja sangat menggelikan, meskipun ada di beberapa negara seperti Berlin yg menyediakan air, dan untuk megantisipasinya Pandji menyarankan untuk selalu membawa botol Aqua kosong ukuran dua liter agar memudahkannya.
Permasalahan toilet ini penting dan justru di bahas Pandji di awal buku, dia melihat kebersihan suatu negara bisa dilihat dari kebersihan toiletnya. Dari beberapa negara yang dikunjunginya dia berkesimpulan bahwa kota terjorok adalah kota Guangzhouw China dan Kota terbersih adalah kota Tokyo Jepang. Tentu ini sangat beralasan, Ghuang Zhow misalnya saat di Hotel Pandji menemukan kamar mandi laki dan perempuan tidak dipisah tapi di campur, di dalam toilet juga kotor dan jorok, padahal itu toilet hotel gmn toilet umum ya, bahkan di jalanan pun di trotoar dia menemukan kotoran manusia, ini sangat menjijikkan, berbeda dgn Jepang yang sangat mengutamakan kebersihan, toilet umum di Jepang sudah sangat modern bahkan banyak tombol yang sulit dimengerti, namun demikian betah berlama-lama karena nyaman dan wangi.

Kuliner, Penginapan murah, Kenyamanan Transportasi

Pandi sangat terperinci dan menjelaskan detail kota yang dikunjunginya, kelebihan dan kelemahan setiap kota diungkap secara gamblang. Contohnya kuliner enak di setiap kota seperti sea food enak di Sidney, keju dan roti yang enak dan murah di Amsterdam, kuliner enak di Hongkong dan beberapa makanan khas Indonesia di Amsterdam, Berlin, Camden Lock, word culinery di London, dan negara lainnya yang bisa menjadi rujukan anda jika berkunjung ke luar negeri. Oh ya selain tempat kuliner, tempat belanja favorit dan toko mainan serta toko musik juga ada beberapa yang dikupas di buku ini.
Jika Singapura tempat menginapnya mahal anda akan diberi tahu di mana menginap yang murah, begitu juga di tempat lain anda akan terkaget kaget dengan mahalnya penginapan di Eropa sehingga anda harus menyiapkan uang lebih. Juga alternatif penginapan murah lainnya. Satu hal yang juga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saya selama ini adalah penggunaan transportasi massal di luar negeri, hampir di setiap kota dia menceritakan kenyamanan transportasi seperti trem di london, kereta cepat di Jepang dan China, bis bis yang nyaman di kota Meulbourne yang sejuk dan menjadi kota ternyaman di dunia, Tube di London, dan juga kegalakan dan mahalnya sopir taxi di Sydney Australia.

Indonesia, Rich country Poor Management

Dari beberapa negara yang dikunjungi, seringkali Pandji bertemu orang bule dan menanyakan tentang kesannya terhadap Indonesia, dan Pandji menemukan jawabanya dari orang Spanyol yang mengatakan bahwa “Indonesia is the Rich Country, Poor Management” dan Pandji mengakui memang benar Indonesia, Indonesia negara kaya tapi miskin manajemen pengelolaan.
Meskipun demikian, setelah mengunjungi beberapa kota dan negara di atas, Pandji menemukan kebebasan dan kebahagiaan tiada tara di Indonesia dibandingkan di negara lain. Dua rasa itu Bebas dan Bahagia tidak ditemukan Pandji di negara lain, makanya nasionalisme Pandji teruji dalam hal kecintaannya terhadap Indonesia. Menurut Pandji Indonesia harus belajar banyak dari kota London dalam menjaga keragaman. Di London warga dunia dari berbagai negara hidup damai dan teratur.

Ada satu kalimat Pandji yang saya garis bawahi dalam buku ini yaitu pendapatnya tentang keragaman, Hasil studi Wayra di Inggris tentang riset keragaman. Riset atas 240 perusahaan start-up di London, menyatakan 82,5 persen responden setuju bahwa keragaman membawa pemikiran baru dan menumbuhkan kultur inovasi. Sebanyak 97,1 % menyatakan bersedia bekerjasama dalam tim yang beragam. Jadi bukan hanya warga London itu yang beragam tapi juga bersedia bekerjasama dalam perbedaan.

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

“Kita sering disuapi jargon Bhinneka Tunggal Ika, tapi pada kenyataannya kita belum benar-benar bisa bekerjasama dalam perbedaan. Bahkan belum bisa menghargai perbedaan apalagi perbedaan pendapat,” (halaman 143).
Saya senang dengan kutipan ini dan menjadi bahan perenungan dalam setiap pergaulan kita di era media sosial sekarang ini.
Rencana “Menemukan Indonesia” ini juga ada dalam bentuk film yang akan diputar pada 30 Maret 2016 mendatang, sebenarnya saya masih ingin menceritakan banyak tentang isi buku ini tapi akan sangat panjang, dan saya sarankan untuk mengetahui lebih banyak tentang kisah Pandji dan buku ini, saya rekomendasikan Anda untuk membacanya.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Resensi Buku
Judul : Koperasi Nelayan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap Berbasis Ekonomi Gotong Royong
Penulis : Ono Surono, ST
Editor : Eva Rohilah
Penyelaras
Bahasa : Ahmad Mustofa
Penerbit: RM Books Jakarta
Cetakan : I, Desember 2015
ISBN : 9786027936447
Harga : Rp.70.000

Sampull buku Koperasi Nelayan

Sampull buku Koperasi Nelayan

Kebijakan pembangunan di sektor kelautan dan perikanan selama ini dapat dikatakan belum berhasil menyelesaikan permasalahan kemiskinan nelayan secara mendasar. Modernisasi perikanan belum mampu menghapus kemiskinan di masyarakat nelayan pembudi daya ikan dan petambak garam. Selain itu, faktor keamanan di laut masih kurang terlindungi. Baru di era pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla inilah perhatian terhadap pemberdayaan sektor kelautan ini dibenahi seperti masalah pemberantasan Illegal Fishing yang gencar pemerintah. Kondisi yang merugikan karena illegal fishing ini perlu diperbaiki di samping melakukan sejumlah langkah lain agar potensi maritim Indonesia bisa dikelola dengan baik sekaligus memberikan kontribusi yang besar pada peningkatan kesejahteraan nelayan.

Namun, pemberantasan illegal fishing saja tidak cukup, masih banyak permasalahan yang melilit masyarakat nelayan Indonesia seperti demografi masyarakat pesisisir, minimnya teknologi penangkapan ikan, masalah keamanan nelayan, isu perbatasan antarnegara, dan buruknya manajemen pengelolaan nelayan. Beberapa permasalahan mendasar yang dialami nelayan dikupas secara tuntas dan jelas dalam buku ini agar masyarakat dan pemerintah tahu bahwa persoalan nelayan bukanlah persoalan yang sederhana, tapi sangatlah kompleks. sehingga perlu langkah besar untuk menerobos kemandegan dalam pengelolaan nelayan.

Dalam kata pengantar buku ini yang ditulis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, yang mengatakan bahwa Kedaulatan diartikan sebagai kemandirian dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan dengan memperkuat kemampuan nasional untuk melakukan penegakan hukum demi mewujudkan kedaulatan secara ekonomi. Keberlanjutan dimaksudkan untuk pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan secara lestari sehingga dapat memperkuat daya saing bagi pencapaian kemajuan dan kemandirian bangsa di masa mendatang. Kesejahteraan dicapai melalui pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, meningkatkan pendapatan dan pemerataan pendapatan, sehingga akan meningkatkan taraf hidup dan ketentraman masyarakat kelautan dan perikanan.

Oleh karena itu menurut Susi , dia menyambut baik penerbitan buku ini karena menyangkut pentingnya pelembagaan nelayan seperti koperasi. Hal ini sejalan dengan visi kementerian yang ketiga yaitu kesejahteraan. Kesejahteraan menjadi tujuan bersama serta menjadi salah satu program KKP. Jika nelayan berkoperasi maka kondisi perekonomiannya akan semakin meningkat dan nelayan lebih sejahtera. Saya harap Koperasi Nelayan menjadi distributor produk perikanan nelayan dan juga bisa menjadi ujung tombak pemasaran dari hasil perikanan tangkap.

Susi mengatakan bahwa ia besar di Pangandaran di bidang usaha perikanan. Dia melihat koperasi di Pangandaran sangat baik, seperti KUD Minasari, KUD Minapari, dan KUD Batu karas. Saya sempat menggadaikan 4,8 kg emas batangan untuk KUD Minapari, karena mereka tidak dapat pinjaman dari bank jika tidak ada jaminannya. Susi berani melakukan itu karena dia tahu KUD tersebut dikelola dengan benar, dan alhamdulillah lunas. Sementara itu Menteri Koperasi dan UMKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, mengharapkan buku ini bermanfaat bagi para pelaku usaha perikanan untuk mengembangakn masyarakat pesisir melalui kelembagaan koperasi perikanan dan koperasi nelayan.

Selain itu, buku ini juga menampilkan tentang penerapan kearifan lokal dan budaya dalam pengelolaan sumber daya kelautan seperti pesta laut Nadran di Indramayu Jawa Barat, pesta nelayan Mappaande Sasi di Mamuju Sulawesi Barat, pesta menangkap ikan terbang di Pattorani, Takalar Sulawesi Selatan dan kearifan lokal lainnya.

Salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan adalah dengan pengelolaan koperasi nelayan. Gagasan dan pikiran tentang Koperasi nelayan; Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap Berbasiskan Ekonomi Gotong Royong yang merupakan pengalaman penulis mengelola Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra, Karangsong Indramayu Jawa Barat ini diharapkan akan bermanfaat bagi nelayan dan masyarakat yang ingin mengembangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, pemerintah, serta para pengambil kebijakan. Karena memperjuangkan nasib nelayan, pembudidaya ikan dan petambak garam adalah kewajiban sosial politik dari seluruh elemen anak bangsa ini, apalagi pemerintah dan tentu seluruh anggota legislatif untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Buku ini hadir ditengah gencarnya pemerintah dalam mengkampanyekan Indonesia sebagai poros maritim dunia, namun minim referensi. Sangat jarang ada penulis yang menuangkan ide-ide besar tentang maritim dan pengelolaan perikanan tangkap dan hasil laut. Untuk itulah Ono Surono, ST yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangkan komisi IV, menuangkan ide dan pengalamannya mengelola Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra Indramayu Jawa Barat dalam sebuah buku yang ringan dan enak dibaca. Ono Surono yang juga merupakan ketua Ikatan Koperasi Perikanan Indonesia periode 2015-2020 mengharapkan agar buku ini bisa menjadi best practise bagi koperasi perikanan lain di seluruh pelosok negeri agar maju dan lebih berkembang.

Eva Rohilah
Pengamat Buku, tinggal di Depok

Resensi Buku
Judul Buku : Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu
Penulis : Nur Hidayat Sardini
Penerbit : LP2AB, Jakarta
Cetakan I : 2015
Tebal Buku : 248 hlm

Belajar Peradilan Etik dari DKPP
Oleh: Arif Syarwani

Masyarakat Indonesia baru saja disuguhi sebuah proses peradilan etik oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Sisi menarik dari peradilan etik tersebut adalah prosesnya, di mana ada beberapa bagian sidangnya dilakukan secara terbuka. Dalam persepsi masyarakat umum, peradilan etik secara terbuka itu mungkin terasa aneh. Biasanya, lembaga profesi mana pun, meskipun lembaga pemerintah, sidang etiknya akan digelar secara tertutup, karena menganggap persoalan etik pejabat adalah persoalan internal dan bukan untuk konsumsi publik.

Cover Buku Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu

Cover Buku Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu

Di satu sisi, dengan keterbukaan itu sidang MKD dapat dikatakan lebih maju dibanding sidang-sidang sebelumnya yang selalu dilakukan secara tertutup. Apalagi kalau dibandingkan dengan bentuk lembaga ini sebelumnya waktu masih bernama Badan Kehormatan DPR. (more…)

Judul : Inilah Saatnya Bisnis Kafe Anak Muda

Penulis : Ajeng Wind dan Sabirin Wardhana

Penerbit: Grasindo

ISBN : 9786023752447

Investasi menjadi sebuah kata yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan anak muda. Jika dulu seseorang berpikir untuk berbisnis ketika memasuki usia dewasa, saat ini keinginan berbisnis sudah muncul pada remaja-remaja unyu. Investasi merupakan salah satu contoh terjun ke dunia bisnis dengan keuntungan yang cukup menggiurkan. Siapapun bisa berhasil di bisnis ini asalkan tahu caranya. Investasi di bidang kafe ini sangat menggoda karena tren anak sekarang yang suku dengan wifi gratisan dan mengadakan kumpul atau nongkrong bareng. Buku yang ditulis full color ini sangat menarik perhatian karena berisi cara membuat kafe dengan praktis.

Sampul Buku

Sampul Buku

Tradisi adanya kafe berasal dari negara-negara Asia, terutama Timur Tengah. Dalam sejarah tercatat bahwa di Mekkah sekitar abad ke-16 banyak berdiri kafe yang digunakan untuk minum kopi dan membicarakan banyak hal termasuk politik negeri tersebut. Tahun 1530, kafe pertama didirikan di Damaskus. (more…)

Kenaikan permukaan air laut, pelestarian keanekaragaman hayati dan kemampuan manusia untuk bertindak dan beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim adalah tantangan lingkungan terbesar yang pada tahun ini diangkat menjadi tema Pesta Sains 2015. Melalui berbagai pameran interaktif, diskusi dan pemutaran film, Pesta Sains mengajak publik Indonesia untuk lebih memahami tantangan terbesar yang sedang kita hadapi abad ini.

Mural Bumi Kita

Mural Bumi Kita

Kedutaan Perancis untuk Indonesia dan Institut Francais Indonesia (IFI) membawa berbagai pameran yang dirancang oleh lembaga-lembaga penelitian Prancis (IRD, CNRS, CIRAD dan AFD) ke Indonesia. Selain mereka, beberapa LSM, perusahaan Prancis dan Indonesia yang peduli dan aktif di bidang lingkungan juga turut mendukung penyelenggaraan Pesta Sains tahun ini dengan berbagi program dan pengalaman mereka di bidang ini. Beberapa media seperti KOMPAS yang menggunakan kertas daur ulang, dan lembaga Artha Graha dan sponsor lainnya ikut mendukung acara ini.

Tema perubahan iklim untuk Pesta Sains edisi ke-2 ini dipilih sesuai dengan fokus KTT Iklim PBB/COP21 yang akan berlangsung di Paris dari tanggal 30 November s.d. 11 Desember 2015 yang salah satu poin diantaranya adalah untuk menyepakati kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Karena jika kenaikan temperatur iklim terlalu tinggi, itu berarti permukaan laut juga akan naik dan terjadi bencana alam ekstrem, seperti banjir, hujan deras, gunung meletus dll. Perancis sebagai tuan rumah dalam konferensi yang diikuti oleh 106 negara ini, PBB sebagai lembaga penyelenggara adalah yang membuat inisiasi empat komponen yang harus disepakati oleh negara peserta United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

Bersama Melawan Perubahan Iklim

Bersama Melawan Perubahan Iklim

Kamis malam 26 November 2015, Pesta Sains 2015 di tutup dan sekaligus peluncuran prapeluncuran Konferensi Tingkat Tinggi Iklim “Paris Climate 2015″ atau COP-21. Sebanyak 106 negara akan bergabung dalam pertemuan tersebut untuk membahas isu perubahan iklim yang sedang terjadi, ” ujar Premier Conseiller de ambassadeur de France en Indonesie et Timor Stephane Baumgarth. Stephane menjelaskan, perhelatan internasional tersebut juga diharapkan dapat memberikan kesadaran bagi seluruh pihak di dunia mengenai perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.

“Jika kita tidak serius menangani masalah ini, memang dunia kita tidak akan hilang. Tetapi ini akan sangat menyulitkan kehidupan kita di masa depan,” tukasnya.
Sehubungan dengan peran Indonesia dalam upaya penanganan perubahan iklim, dia berpendapar bahwa Indonesia memiliki tugas yang besar dalam isu tersebut.
Sebagai negara berkembang yang masuk ke dalam “Group of 20” atau G20, Indonesia seharusnya bisa lebih berupaya untuk menegaskan komitmen dan dukungannya terhadap upaya menjaga lingkungan, ujarnya.Selanjutnya, terkait dengan kegiatan Pesta Sains 2015 tersebut ia menjelaskan bahwa tujuan dari acara tersebut ialah untuk memberikan kesadaran kepada kaum muda mengenai bahaya perubahan iklim. Selain itu, yang terpenting ialah kaum muda dapat lebih berkontribusi dalam usaha menjaga lingkungan dengan memulainya dari diri sendiri. Sarwano Kusumaatmaja dari Dewan Perubahan Iklim Indonesia juga memberikan sambutan dan menegaskan jika Presiden Jokowi akan hadir pada perhelatan tersebut. Untuk memeriahkan acara ini hadir juga artis yang juga aktivis lingkungan yaitu Oppie Andarista, Nugie dan Nadine Chandrawinata

Sarwono Kusumaatmaja bersama Oppie Andaresta, Nugie,Nadine Chandrawina di Prapeluncuran COP 21

Sarwono Kusumaatmaja bersama Oppie Andaresta, Nugie,Nadine Chandrawina di Prapeluncuran COP 21

Masing-masing artis itu memiliki kepedulian terhadap lingkungan dengan cara masing-masing. Oppie Andaresta misalnya membuat buku untuk anak-anak tentang lingkungan, Nugie mempraktekkan dan mengkampanyekan hidup sehat dengan naik sepeda kemanapun dia pergi dan mulai memperjuangkan untuk lebih selektif dalam gaya hidup dari mulai apa yang kita makan, mengurangi plastik, dan membeli yang baik. Menggunakan lampu seperlunya dan hemat listrik. Dia juga menyarankan agar kita jangan buang sampah kalau bisa semua bisa didaur dan ulang. Sedangkan Nadine Chandrawinata mengajak masyarakat untuk go Blue, atau peduli laut. Nadine yang memiliki hobi diving ini mengatakan jika saat menyelam ia juga sambil membersihkan laut dari plastik yang menyangkut di terumbu karang yang dikira hewan laut ubur2 sehingga mereka makan. Pada akhirnya menurut Nadine semua akan bermuara ke laut jadi Go Green itu penting tapi jangan lupakan Go Blue pesan mantan putri Indonesia itu semangat.

Lebih bijak dalam mencharge HP

Lebih bijak dalam mencharge HP

Acara ditutup dengan pemukulan kentongan sebagai tanda prapeluncuran Cop 21 dan peserta diskusi diajak keliling ke pameran dan mural tentang kampanye perubahan iklim seperti mengecharge sambil bersepeda, Healthy Charger dan lain sebagainya. Acara yang berlangsung di bentara budaya ini juga ada pameran perubahan iklim di dalam gedung yang menarik untuk dilihat. Berikut saya tampilkan beberapa foto pameran.

Healthy Charger

Healthy Charger

Kebutuhan Listrik Dunia yang Semakin Tinggi

Kebutuhan Listrik Dunia yang Semakin Tinggi

Tidak ada Foto Bagus Untuk Perubahan Iklim

Tidak ada Foto Bagus Untuk Perubahan Iklim

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi perubahan iklim? Mulailah kita peduli lingkungan di mulai dari kita sendiri. Dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti hemat listrik, hemat plastik, bawa kantong belanjaan sendiri jika belanja, menggunakan sepeda atau naik kendaraan umum jika bepergian dan banyak hal lainnya yang bisa kita lakukan untuk bumi.

Kebayoran Lama 27 November 2015
Twitter: @evarhl Instagram: Eva Rohilah

Resensi Buku
Judul: Hidup Seimbang Hidup Bahagia
Penulis: Akhirudin DC, MA
Penyelaras bahasa: Fajar Kurnianto
Genre: Pengembangan Diri
Cetakan: I, September 2015
Ukuran: 13 x 20 cm
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-71503-4-8

Jarang ada buku motivasi yang membahas keseharian yang paling dekat dalam hidup kita yaitu tentang keseimbangan hidup, namun Sang motivator Akhirudin DC menjelaskannya secara mendetail dan gamblang disertai contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menjalani kehidupan, manusia membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan akan menghasilkan kemampuan diri, suatu kekuatan yang sangat diperlukan untuk bertanggung jawab penuh atas pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, sosial, dan spiritual. Dengan memiliki keseimbangan, seseorang dapat selalu siap dan berdaya penuh untuk melayani semua urusan kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Keseimbangan inilah sarana untuk menggapai kebahagiaan dalam hidup.

Sampul Buku

Sampul Buku

Melalui buku ini, sang penulis, seorang trainer muda berbakat dalam bidang motivasi dan pengembangan diri, memandu pembaca untuk menemukan cara menggapai keseimbangan dengan bekerja tanpa mengabaikan aspek-aspek kehidupan yang seringkali dipertentangkan, seperti kehidupan pribadi, keluarga, spiritual, dan sosial. Buku ini dapat membantu Anda untuk memotivasi diri, meningkatkan manajemen diri, dan meningkatkan kualitas hidup melalui prinsip keharmonisan

Dr. Ir. H. Haikal Hassan, S.Kom, MM, CHt, MNLP, pengasuh Program Khazanah Trans7, dan seorang master trainer mengatakan dalam endorsementnya “Hidup Seimbang Hidup Bahagia adalah sebuah refleksi diri, dan karena itu buku ini sangat enak dibaca. Tidak berlebihan kiranya ia mengatakan demikian, karena penuturannya yang mudah dipahami Buku ini akan mengajak pembaca untuk menapaki kesimbangan hidup dan menjaga ikatan spiritual lebih kuat. Memprovokasi siapa saja untuk hidup lebih baik.

Buku ini ringan dan enak dibaca. Terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama tentang Balance Life=Beautiful Life, bagian kedua The Law Of Balance berisi tentang pengertian secara mendasar apa itu keseimbangan, berbagai implikasi makna keseimbangan dalam kehidupan manusia seperti keseimbangan antara ilmu dan amal, keseimbangan antara rasa takut dan harapan, keseimbangan dalam menjalankan ajaran agama dan keseimbangan dalam Alam semesta.

Di Muat di Majalah Monitor Daily (Monday) Edisi November 2015

Di Muat di Majalah Monitor Daily (Monday) Edisi November 2015

Salah satu yang dibahas dalam bagian dua adalah keseimbangan dalam diri manusia sebagai mahluk individu dan sosial, keseimbangan hidup dan kerja juga keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Selain itu diungkapkan juga hubungan antara keseimbangan kehidupan kerja dan produktivitas.
Saya mengenal penulisnya Akhirudin sejak masih mahasiswa dan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan dikenal sebagai sosok yang rajin dan ulet juga pintar berorganisasi. Menurut Akhirudin, dalam kesimpulannya salah satu sifat atau karakteristik idela manusia adalah mahluk yang selalu ingin memperbaiki dan mengembangkan potensi dengan berbagai macam cara, diantaranya dengan munculnya berbagai macam pemikiran atau ideologi-ideologi yang semua itu berusaha untuk mengubah kehidupan ini menjadi lebih baik. Namun terkadang pemikiran-pemikiran atau ideologi tersebut hanya melihat dari satu sisi tanpa melihat sisi lain.

Sikap seimbang memiliki beberapa makna yang sejalan dengan sikap pertengahan, atau tawazun. Sedangkan menurut Islam konsep keseimbangan dapat diartikan sebagai sikap adil yang tidak berat sebelah dalam segala hal, menempatkan sesuatu pada posisinya dan secara proporsional. Keadilan tersebut dapat bersifat hubungan manusia dengan Allah (habl min Allah) dan hubungan manusia dengan sesama manusia (habl min an-naas) yang juga mencakup di dalamnya hubungan manusia dengan alam semesta.

Setelah membaca buku ini, pembaca akan selalu optimis dalam mencapai kebahagiaan dan dalam menghadapi kehidupan dengan mengenali diri sendiri, termasuk lingkungan yang selama ini kita anggap kurang peduli. Penulis yang juga merupakan Direktur AD Consulting berpengalaman memberikan training di berbagai Perusahaan Nasional dan Internasional, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), instansi pemerintah pusat dan daerah dengan spesialis dalam pembentukan karakter pribadi dan budaya perusahaan.
Buku ringan dan tipis ini wajib anda miliki sebagai panduan sehari-hari hidup Anda. Selamat membaca!

Eva Rohilah
Pecinta buku tinggal di Depok
Blog: http://www.evarohilah.wordpress.com

Sebenarnya sudah lama aku memakai produk EIGER sejak tahun 2000, waktu masih kuliah di Jogja. Waktu itu aku masih pacaran ama mas Arif suka jalan-jalan cari penutup muka, tas, dompet dan jaket di beberapa toko Eiger yang ada di Jogja. Kami memang tidak begitu suka naik gunung seperti kebanyakan pecinta EIGER lainnya, tapi suka aja ama produk2nya.

Eiger Adventure

Eiger Adventure

Setelah beberapa tahun berselang kami menikah dan tinggal di Jakarta, banyak juga saya temui produk sejenis EIGER dan tak kalah bagusnya. Saya pun mulai melirik produk lain terutama jaket karena saya lihat di dekat tempat tinggal saya di Pamulang gak ada toko EIGER yang besar dan lengkap. Yang saya suka adalah koleksi EIGER di Mall Citra Grand Cibubur waktu aku jalan2 kesana ke tempat ponakan, lengkap bagus dan besar. Mas Arif sempat beli sandal disana udah sekitar setahun lalu dan sekarang masih awet.Saya juga sempat lihat acara Kick Andy yang menampilkan pendiri EIGER dan saya sangat suka sekali ternyata produk EIGER adalah asli bikinan dalam negeri dan sudah merambah ke mancanegara.

Asli Buatan Anak Negeri

Asli Buatan Anak Negeri

Seminggu yang lalu pulang dari Sukabumi, aku ditunjukkin mas Arif pusat EIGER di Bogor, tepatnya di jalan Siliwangi, di depan Mall Lippo deket di Pusat Kota Bogor, kalau dari Tajur lurus aja nanti ada di kiri jalan. Wah tempatnya besar dan baguus, aku suka banget berlama-lama disitu dan milih aneka macam produk. Penjaganya juga ramah-ramah dan pilihan barangnya lengkap.

Eiger Store Bogor

Eiger Store Bogor

Setelah keliling kesana kemari tujuan utamanya cari jaket, tapi kok yang lain juga menarik akhirnya kita beli tiga item. Jaket, kaos sama tas punggung buat aku kerja. Karena selama ini pake tas kulit cewek setelah kucoba kurang besar. Karena aku bawa makan siang dan perlengkapan lain jadi butuh tas yang cukup besar. Alhamdulilah dibeliin mas Arif wah senengnya. Total tiga item itu semua 850.000, lumayan lah tapi puas banget bagus-bagus barangnya.

Produk EIGER yang kubeli

Produk EIGER yang kubeli

Mulai minggu kemarin aku tiap masuk kerja pake tas EIGER ini, enak banget di pakenya dan nyaman. Kena hujan juga gak tembus. Warnanya Orange ngejreng banget kalau ada di kegelapan nyala. Semoga lain kali bisa beli produk EIGER lainnya. Semoga ada toko EIGER di Pamulang atau BSD yang cukup besar jadi gak usah jauh-jauh ke Bogor.
Aku Bangga Pake produk EIGER, produk asli Indonesia. Kualitas bagus dan dipakenya nyaman dan elegan.

Tas Eiger Gendong yang Kupake Sekarang

Tas Eiger Gendong yang Kupake Sekarang

Hari ini ada Quote bagus dari EIGER di Fans pagenya
Hanya bila pohon terakhir telah tumbang ditebang;
hanya bila air sungai terakhir telah tercemar;
hanya bila ikan terakhir telah ditangkap;
barulah manusia sadar bahwa uang di tangan tidak dapat dimakan

Cintai Alam Kita

Cintai Alam Kita

Maju Terus EIGER Indonesia.Saya tunggu produk2 baru berikutnya. Semoga makin berkembang dan jaya.

Jakarta, 17 November 2015

Resensi Buku:

Judul : Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Melalui Tuntutan Perbendaharaan Dan Tuntutan Ganti Rugi
Editor : Eva Rohilah, Lina M.Komarudin
Tebal : 486 Halaman
Cetakan : I, 2015
ISBN : 978-602-7936-43-0
Harga : Rp.80.000
Penerbit : RM Books Jakarta

Sampul Buku

Sampul Buku

Penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi yang dibahas didalam buku ini, merupakan best practice yang dilaksanakan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gorontalo. Penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan perbendaharaan sebagaimana yang diatur didalam Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara Penyelesaian Ganti Kerugian Negara Terhadap Bendahara, dan untuk penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan ganti rugi sebagaimana yang diatur didalam Peraturan Bupati Gorontalo Nomor 54 Tahun 2009 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara, dan Peraturan Bupati Gorontalo Nomor 29 Tahun 2012 tentang Hukum Acara MP-TGR.

Buku ini ditulis dengan baik oleh Yusran Lapananda, banyaknya daerah-daerah ingin mengetahui pelaksanaan atas penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan ganti rugi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Gorontalo melalui sidang MP-TGR. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya daerah-daerah baik pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota yang telah berkunjung “studi banding” ke Kabupaten Gorontalo untuk mempelajari pelaksanaan penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan ganti rugi. Salah satu alasan daerah-daerah belajar tentang penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan ganti rugi, adalah pada proses persidangan tuntutan ganti rugi yang dilakukan oleh MP-TGR (Majelis Pertimbangan-Tuntutan Ganti Rugi).

Penyelesaian ganti kerugian Negara/Daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara merupakan amanat UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Setiap pejabat negara dan pegawai negeri bukan bendahara yang melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya baik langsung atau tidak langsung yang merugikan keuangan negara diwajibkan mengganti kerugian dimaksud. Di dalam pelaksanaannya, tuntutan ganti rugi sampai dengan tindaklanjutnya seringkali mengalami kendala dalam penyelesaian ganti kerugian
Negara/Daerah sehingga berakibat pada belum optimalnya pengembalian/pemulihan ganti kerugian Negara/Daerah yang telah ditetapkan.
Inilah buku yang menyajikan sekelumit penyelesaian ganti kerugian negara/daerah sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah dan ketentuan lebih lanjut dengan peraturan daerah dan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Penulis buku ini, yang merupakan Kepala Dinas, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) berusaha untuk berbagi pengalaman seputar penyelesaian ganti keuangan negara/daerah di Kabupaten Gorontalo.

Resensi di Majalah

Resensi di Majalah

Dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan, Pemerintah Kabupaten Gorontalo telah menerbitkan Peraturan Bupati Gorontalo Nomor 54 Tahun 2009 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara. Peraturan Bupati ini, merupakan dasar hukum Pemerintah Kabupaten Gorontalo dalam memproses penyelesaian ganti kerugian Negara/daerah terhadap pegawai negari bukan bendahara atau melakukan tuntutan ganti rugi melalui MP-TGR (Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi).

Buku ini layak dibaca dan menjadi pedoman bagi pemerintah daerah (provinsi/kabupaten/kota) khususnya bagi para anggota TPKN/D (Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah) dan MP-TGR (Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi), serta pihak lainnya, para pengelola keuangan daerah masing-masing pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, pejabat pembuat komitmen, pejabat penatausahaan keuangan, pejabat pelaksana teknis kegiatan dan terutama bendahara dan para pihak yang berkepentingan di dalam menyelesaikan kerugian negara/daerah.

Eva Rohilah
Pecinta buku, tinggal di Depok

Resensi ini dimuat di Majalah Prestise Volume 20 Tahun 2015

Kadang kita bingung mengatur menu tiap harinya untuk keluarga. Tapi aku gak kehabisan ide. Tiap hari masak yang cepat dan tidak ribet, maka hari ini aku putuskan masak sop ikan gurame Daun Kemangi. Aku beli satu ekor ikan gurame sehari sebelumnya beli di tukang sayur biasa lalu minta tolong di filet. Setelah itu aku simpan di kulkas di bagian bawah aja simpannya agar segar dan tidak beku.

Pagi harinya keluarkan ikan gurame yang sudah difilet, rendam dalam air sejenak, lalu potong dadu. Siapkan bumbu-bumbunya yaitu
Tiga siung bawang putih, merica secukupnya, garam dan pala lalu haluskan. Masukkan air dalam panci biarkan hingga mendidih masukkan bumbu yang dihaluskan bersama ikan gurame dan aduk-aduk. Setelah hampir matang masukkan lombok rawit 8 buah, satu buah tomat segar potong -potong dan petik daun kemangi ambil daunnya, lalu aduk-aduk lagi hingga matang.

Setelah ikan empuk dan bumbu meresap, sop ikan segar gurame siap disantap dan dihidangkan. Jadi silahkan mencoba ibu-ibu bikinnya cepat dan saat disantap masih segar. Selamat menikmati…

Sop Ikan Gurame Daun Kemangi

Sop Ikan Gurame Daun Kemangi

Akhir pekan kemarin 17 Oktober 2010, aku diundang ke acara nonton bareng Film berjudul “Little Big Master” di Cinemaxx Plaza Semanggi persembahan Celestal Movies. Aku berangkat dari rumah bareng suami, lalu pisah di pasar minggu dan aq naik busway dari Pasar Minggu ke Plaza Semanggi. Sampai Plangi masih pagi jam 9, dan registrasi jam 10-jam 11. Aku bertemu dengan teman-teman dari Kumpulan Emak-emak blogger, ternyata banyak juga blogger dari komunitas lain seperti Kompasiana dan Blog detik. Kami mendapatkan goodie bag cantik dan snack.

Tepat pukul 11 Aku masuk studio dan tayangan film “Little Big Master” pun dimulai. Adegan diawali dialog seorang guru dengan murid yang merasa tertekan masuk di kelas berbakat sebuah Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) elit di Kota Hongkong. Orangtua sang murid tidak terima ketika mengetahui laporan bahwa anaknya tidak bisa dimasukkan kelas berbakat dan menanyakan siapa yang membuat laporan kepadanya, maka direktur sekolah memanggil kepala sekolah TK elit tersebut dan diminta menjelaskan kepada kedua orangtua anak tersebut. Sang Kepala Sekolah, Lui Wai-hung (diperankan oleh Miriam Yeung) menjelaskan apa adanya tentang kondisi muridnya, untuk menghindari sang murid dari stress, sebaiknya anak tersebut dimasukkan ke kelas reguler. Namun kedua orang tua murid yang merupakan orang terpandang dan kaya raya tetap tidak mau terima, sehingga akhirnya hati Direktur pun luluh. Dia lebih mematuhi keinginan orang tua murid untuk tetap memasukkan anak tersebut ke kelas berbakat dan mengabaikan pendapat Kepala Sekolahnya.

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Merasa tidak nyaman, Hung Usai mengajar di TK, Hung mengatakan kepada suaminya Dong (diperankan oleh Louis Koo) memilih mundur dari TK ternama dan berencana melakukan perjalanan pensiun keliling dunia. Dong yang bekerja sebagai perancang di museum pun sedang bermasalah dengan kantornya. Sehingga sisa waktu yang ada diisi Hung dengan berolahraga ke gym dan belajar bahasa asing. Namun, Hung mengerti bahwa kondisi pensiunnya hanyalah cara untuk menjauh dari minatnya yang memudar terhadap pendidikan.

Saat tidak sengaja berolahraga, Hung memperhatikan ada iklan penerimaan di sebuah TK di desa yang mencari kepala sekolah sekaligus pengawas sekolah dalam satu posisi. Jika sekolah tersebut gagal mendapatkan kepala sekolah baru pada waktunya, maka akan ditutup. Hal ini membuat 5 siswa yang tersisa akan kehilangan kesempatan untuk bisa bersekolah. Hung khawatir, masa depan anak-anak tersebut menjadi tidak jelas. Dengan harapan bisa mencarikan sekolah yang lebih baik untuk mereka sebelum tahun ajaran baru tahun depan, Hung memutuskan untuk melamar jabatan sebagai kepala sekolah meski dengan gaji rendah (4.500 Dollar Hongkong) dan menunda perjalanan pensiunannya.

Saat pertama kali Hung mengunjungi kelima anak tersebut, Siu Suet, Ka Ka, Chu Chu serta Kitty dan Jennie, dua bersaudara dari Asia Selatan, mereka menolak keras untuk menerima orang asing. Namun setelah menunjukkan banyak perhatian dan kesabaran, Hung dengan cepat mendapat kepercayaan mereka. Kepolosan mereka yang murni menyentuh Hung serta menyalakan kembali minatnya terhadap pendidikan dan dia mulai tahu cerita di balik mereka satu per satu.

Hung Mengantarkan Anak didiknya ke toilet desa saat hujan deras

Masih banyak hal yang perlu dilakukan selain merencanakan kurikulum, termasuk memperbaiki bangunan tua sekolah tersebut, membersihkan toilet dan menjemput anak-anak ke sekolah. Saat hujan deras dan toilet sekolah meluap, Hung bahkan rela mengantarkan anak-anaknya ke toilet desa. Hung bahkan harus berdiri tegak menentang cemooh dari masyarakat setelah membantu orang tua mereka yang miskin. Namun demikian, dia mampu melewati semua kesulitan dengan semangatnya yang besar dan perlahan jatuh cinta pada tempat tersebut. Dia memutuskan untuk mengelola sekolah tersebut dan mulai mencari siswa baru.

Salah satu yang menarik dan menggores hati dari film ini adalah karakter kuat kelima muridnya. Murid pertama adalah Ho Siu Suet (diperankan oleh Ho Yun-Ying Winnie) Salah satu dari lima murid. Ibu Siu Suet masih menunggu visa di Cina Daratan untuk datang ke Hong Kong. Si kecil Siu Suet tinggal bersama ayahnya yang tua dan sakit-sakitan bekerja sebagai pengumpul besi tua. Dia mengurus pekerjaan rumah pada usia belia. Murid kedua adalah Tam Mei Chu / Chu Chu (diperankan oleh Keira Wang), Chu Chu takut pada hujan badai setelah kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan mobil saat malam badai dan petir menggelegar. Sejak itu Chu Chu diadopsi oleh kerabat jauhnya, Bibi Han.

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Murid ketiga adalah Fu Shun-ying sebagai Lo Ka Ka / Ka Ka (diperankan oleh Fu Shun-ying), Ka Ka adalah gadis yang sangat dewasa walau usianya masih belia. Dia menolak untuk pergi ke sekolah karena harus menjadi penengah pertengkaran kedua orang tuanya. Sedangkan murid ke empat dan kelima adalah Kittie dan Jennie Fahima (diperankan oleh Zaha Fathima & Khan Nayab). Kitty dan Jennie adalah kakak beradik diantara kelima murid. Mereka di bawah tekanan keluarga karena keberatan ayah mereka yang mengabaikan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuannya.Orangtuanya adalah imigran dari Asia Selatan.

Hung Bersama Kelima Muridnya

Hung Bersama Kelima Muridnya

Dengan setulus hati, Hung mengajar kelima muridnya. Dia juga mengajak para orangtuanya terlibat dengan kegiatan sekolah seperti field trip ke sebuah taman di kota Hongkong. Hung pun mulai dikenal oleh masyarakat dengan sebutan kepala sekolah 4.500 Dollar Hongkong. Pada saat bermain di taman tersebut ada dialog yang sangat menarik antara Hung dan salah seorang pengunjung taman yang difabel. Dia mengenal Hung melalui media dan mengatakan salut atas perjuangan Hung dia berkata “Pendidikan terbaik tidak terdapat pada pada perangkat kerasnya, namun ada pada kebaikan hati para pendidiknya,” ujarnya. Pesan dari perkataan pengunjung itu sangat dalam dan menyadarkan saya akan pentingnya kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah.

Bermain Bersama

Bermain Bersama

Waktu terus berlalu dan masa perekrutan siswa baru pun segera dimulai. Di sisi lain, para orang tua dihasut untuk mengeluarkan anak mereka dari sekolah. Hung menerima pemberitahuan terakhir tentang pemecatan dirinya. Namun Hung tidak putus asa, dia bisa mengatasi semuanya dan datang berkunjung ke ruamh muridnya. Hingga akhirnya dia mempersiapkan murid-muridnya untuk menari dan bernyanyi. Niat semula yang hanya mengajar sampai empat bulan pun pupus. Hung ingin merekrut siswa baru. Di sisi lain, Dong sangat mengkhawatirkan kesehatan Hung setelah mengetahui itu bukan pekerjaan sementara.

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Pada saat itu ada ketegangan antara Hung dan suaminya yang saat itu kurang setuju dengan rencana Hung, karena akan membatalkan impian mereka ke luar negeri. Saat ulang tahun ibunya, Hung yang datang terlambat mendapat pesan dari mertuanya bahwa Hung yang menderita penyakit tiroid sudah jarang berkunjung ke dokter yang menanganinya. Dong pun menyadari jika Hung belakangan jarang minum ramuan tradisional yang disiapkannya. Dia khawatir penyakitnya akan kambuh lagi meski sudah diangkat. Namun, Hung tidak pantang menyerah Hung sangat bersemangat mempersiapkan pesta kelulusan dan menyebar brosur dan menunggu pendaftaran siswa baru hingga saat-saat penting dimana ia harus menghadiri acara Dong dan tidak ada satupun murid yang mendaftar, penyakitnya pun kambuh dan ia pun jatuh sakit. Dong pun segera membawa Hung ke rumah sakit dan benar, jika penyakit tiroid yang dideritanya muncul lagi meskipun tumornya sudah diangkat. Berhari-hari Hung dirawat di rumah sakit dan Dong pun menggantikan perannya sebagai guru sekaligus kepala sekolah di TK tersebut.

Pada saat itu juga ada seorang tokoh di Hongkong yang merupakan pencari dana di bidang pendidikan ingin memanfaatkan popularitas Hung untuk kepentingan pribadinya. Beruntung Hung sadar dan tidak silau akan popularitas ia menolak tawaran tokoh tersebut.

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Setelah dirawat di rumah sakit, Hung pun bersiap ke sekolah untuk menemui kelima muridnya. Saat itu sekolah akan ditutup jika Hung tidak bisa mendapatkan siswa baru. Anak-anak putus asa untuk membuat sebuah penampilan terbaik dalam upacara kelulusan sebagai hadiah untuk kepala sekolah mereka tercinta dan sebagai perpisahan untuk semuanya. Mereka menahan tangis selama pentas dan adegan ini sangat mengharukan, Tidak hanya Hung yang terharu, saya liat semua penonton di cinemaxx terdiam dan hampir semua menangis melihat adegan ini.

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Saat itu Hung mengumumkan bahwa satu-satunya siswa yang lulus adalah Lo Ka Ka. Hung dan Ka Ka pun memberikan sambutan yang sangat menyentuh hati. Ka Ka sangat berterimakasih atas kerja keras kepala sekolah selama ini mendidik mereka, Kaka bahkan di masa depan bercita-cita ingin menjadi kepala sekolah seperti Hung, diapun minta izin jika ia ingin tidak lulus dan tetap belajar bersama Hung. Adegan ini merupakan klimaks dari “Little Big Master, sangat luar biasa mengharukan.

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Para orang tua murid yang hadir ikut menangis. Semua orang di desa yang akhirnya datang melihat, sangat tersentuh dan Hung menyadari bahwa kegigihan dan kerja keras serta ketulusan hatinya akhirnya membuahkan hasil. Tk ini tidak ditutup justru mendapatkan murid dan dukungan dari masyarakat luas. “Little Big Master” diangkat dari kisah nyata yang menceritakan tentang upaya nona Lui Lai Hung membangun kembali TK Yuen Kong dari sebuah TK yang suram menjadi TK terkemuka.

“Little Big Master” membuat ulang kisah tentang Hung membangun kembali sebuah TK menjadi kehidupan yang menyenangkan bagi para muridnya. Sebuah kisah kecil dengan tawa dan air mata di kota besar. Ada satu pesan yang disampaikan di akhir film ini “Bahwa dalam hidup kita, pasti akan bertemu seorang guru baik yang akan merubah Hidup Kalian,” ini pesan mengingatkan akan guru-guruku dulu saat SD, SMP dan SMA. Satu persatu mereka hadir dalam ingatanku dan aku pun berkata betapa besar jasa mereka.

Diproduseri Benny Chan,  “Little Big Master” menuai banyak pujian dan meraih sukses besar di Hong Kong serta berhasil meraup pendapatan HK$46,6 juta (sekitar Rp 80 milyar) di Hong Kong box office. Jangan lewatkan kisah menyentuh hati yang dihiasi oleh aksi para bintang cilik yang menggemaskan dan mengharukan dalam “Little Big Master” pada hari minggu, tanggal 25 Oktober jam 20.00 WIB hanya di Celestial Movies. Celestial Movies dapat disaksikan Indovision (CH. 20), K-Vision (CH. 47), MatrixTV (CH. 9), Nexmedia (CH. 508), OkeVision (CH. 19), OrangeTV (CH. 162), Skynindo (CH. 19), Transvision (CH. 112), TopTV (CH. 20), Topass TV (CH. 61), UTV (CH. 691), dan YesTV (CH. 108).

Saya berterimakasih kepada Celestial Movies karena diperkenankan menonton film ini. Sepulang dari Nobar saya langsung pulang ke rumah dan cari kanal Celestial Movies yang kebetulan saya berlangganan Transvision, saya penasaran dengan film-filmnya. Selama ini tidak tahu jika ada film Hongkong berkualitas. I Love HK Movies . Selamat Menyaksikan.

Nonton Bareng Seru

Nonton Bareng Seru

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis tentang Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang merupakan terobosan dan revolusi besar dalam sistem kesehatan di Indonesia. Sebenarnya banyak yang belum bisa membedakan apa itu JKN dan BPJS Kesehatan. JKN merupakan program pelayanan kesehatan terbaru yang merupakan kepanjangan dari Jaminan Kesehatan Nasional yang sistemnya menggunakan sistem asuransi. Artinya, seluruh warga Indonesia nantinya wajib menyisihkan sebagian kecil uangnya untuk jaminan kesehatan di masa depan. Bagaimana dengan rakyat miskin? Tidak perlu khawatir, semua rakyat miskin atau PBI (Penerima Bantuan Iuran) ditanggung kesehatannya oleh pemerintah. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi rakyat miskin untuk memeriksakan penyakitnya ke fasilitas kesehatan.

Sementara BPJS adalah singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. BPJS Kesehatan ini adalah perusahaan asuransi yang kita kenal sebelumnya sebagai PT Askes. Begitupun juga BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Antara JKN dan BPJS tentu berbeda. JKN merupakan nama programnya, sedangkan BPJS merupakan badan penyelenggaranya yang kinerjanya nanti diawasi oleh DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional).

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013 jenis Iuran dibagi menjadi:
– Iuran Jaminan Kesehatan bagi penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah daerah dibayar oleh Pemerintah Daerah (orang miskin dan tidak mampu).
– Iuran Jaminan Kesehatan bagi peserta Pekerja Penerima Upah (PNS, Anggota TNI/POLRI, Pejabat Negara, Pegawai pemerintah non pegawai negeri dan pegawai swasta) dibayar oleh Pemberi Kerja yang dipotong langsung dari gaji bulanan yang diterimanya.
– Pekerja Bukan Penerima Upah (pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri) dan Peserta bukan Pekerja (investor, perusahaan, penerima pensiun, veteran, perintis kemerdekaan, janda, duda, anak yatim piatu dari veteran atau perintis kemerdekaan) dibayar oleh Peserta yang bersangkutan.
Untuk jumlah iuran Jaminan Kesehatan bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang terdiri atas PNS, Anggota TNI, Anggota Polri, Pejabat Negara, dan Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri akan dipotong sebesar 5 persen dari gaji atau Upah per bulan, dengan ketentuan 3 persen dibayar oleh pemberi kerja, dan 2 persen dibayar oleh peserta.
Tapi iuran tidak dipotong sebesar demikian secara sekaligus. Karena secara bertahap akan dilakukan mulai 1 Januari 2014 hingga 30 Juni 2015 adalah pemotongan 4 persen dari Gaji atau Upah per bulan, dengan ketentuan 4 persen dibayar oleh Pemberi Kerja dan 0,5 persen dibayar oleh Peserta. Namun mulai 1 Juli 2015, pembayaran iuran 5 persen dari Gaji atau Upah per bulan itu menjadi 4 persen dibayar oleh Pemberi Kerja dan 1 persen oleh Peserta.

Kartu BPJS Kesehatan

Kartu BPJS Kesehatan

Sementara bagi peserta perorangan akan membayar iuran sebesar kemampuan dan kebutuhannya. Untuk saat ini sudah ditetapkan bahwa:

– Untuk mendapat fasilitas kelas I dikenai iuran Rp 59.500 per orang per bulan
– Untuk mendapat fasilitas kelas II dikenai iuran Rp 42.500 per orang per bulan
– Untuk mendapat fasilitas kelas III dikenai iuran Rp 25.500 per orang per bulan
Pembayaran iuran ini dilakukan paling lambat tanggal 10 setiap bulan dan apabila ada keterlambatan dikenakan denda administratif sebesar 2 persen dari total iuran yang tertunggak paling banyak untuk waktu 3 (tiga) bulan. Dan besaran iuran Jaminan Kesehatan ditinjau paling lama dua tahun sekali yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden.

Saya sendiri mulai awal tahun ini lupa kapan daftarnya menjadi anggota BPJS secara mandiri. Saat itu secara tidak sengaja sedang mengantri di BNI Pamulang mau nabung. Sebelah saya dua orang perempuan sedang mengantri mau bayar BPJS Kesehatan. Lalu saya tanya siapa yang sakit? Lalu dia jawab ayahnya sakit di sebuah rumah sakit di Gaplek Pamulang rawat inap atas rekomendasi dari klinik Mitra Sehat Jl.Surya Kencana Pamulang. Dia cerita kalau pihak klinik Mitra Sehat mengadakan pendaftaran secara massal untuk pasien yang biasa berobat di BPJS. Jadi yang mengurus pihak klinik ita gak usah capek-capek antri di kantor BPJS.

Klinik Mitra Sehat Pamulang

Klinik Mitra Sehat Pamulang

Karena prosesnya mudah dan tidak perlu mengantri esok harinya saya mendaftarkan diri menjadi anggota BPJS melalui jalur klinik seperti yang dilakukan orang yang saya temui di kantor BNI tempo hari. Saya melengkapi ktp kk dan mengisi formulir BPJS Kesehatan serta membayar uang administrasi sebesar Rp.30.000 dan diminta seminggu kemudian datang lagi ke Klinik Mitra Sehat untuk mengambil kartu. Jangan lupa mencantumkan nomor HP yang bisa dihubungi.

Setelah sekitar kurang lebih seminggu saya kembali dan alhamdulilah ternyata kartu saya sudah jadi dan saya diharuskan membayar angsuran pertama untuk saya dan suami yang mengambil kelas 1 dengan biaya 120.000 perbulan satu kk. Saya lebih memilih mandiri karena kalau dari kantor kan kita tidak tahu akan selamanya kerja atau akan berhenti jadi saya dan suami lebih memilih jalur mandiri meskipun dianjurkan juga oleh kantor masing-masing.

Bulan kedua atau ketiga pembayaran saya lupa, tiba-tiba suami saya meriang dan panas mungkin karena kecapekan kerja. Biasanya saya pergi ke Pamulang Medical Centre (PMC) dan biasa dengan dokter disana habis sekitar 300.000 – 400.000 sekali berobat. Akan tetapi karena sekarang sudah ada BPJS Kesehatan, kami mencoba memakainya ke klinik Mitra Mehat. Alhamdulilah meski dokternya masih mudan dan imut-imut beserta obat2nya yang minimalis suami saya sembuh setelah beberapa hari. Setiap bulannya saya utamakan membayar BPJS Kesehatan bareng bersama bayar listrik dan pembayaran lainnya sebelum tanggal 10. Saya berusaha tepat waktu agar tidak kena penalti.

Plang Klinik Mitra Sehat

Plang Klinik Mitra Sehat

Setelah itu lama tidak memakai lagi BPJS kesehatan dan pada bulan Agustus, suami saya sakit lagi ada jerawat di punggung dan berobat ke Mitra Sehat lagi. Namun, kali ini cukup mengecewakan karena obat dan salep yang dikasih kurang bagus dan kurang mempan. Akhirnya saya tanya ke teman yang kerja jd dokter spesialis kulit dan diberi obat kulit khusus jerawat dan obat minumnya. Alhamdulillah sekarang berkurang jerawatnya. Jadi ada benarnya juga jika memang banyak yang mengeluh tentang BPJS, terutama tentang kualitas obat dan dokter. Tapi saya memakluminya karena mungkin baru tahap awal saja pelaksanaan BPJS Kesehatan mengalami kekurangan disana-sini. Ke depan, premi asuransi dari anggota yang daftar juga makin banyak saya yakin pelayanannya akan semakin baik.

Terlepas dari kekurangan disana sini, yang saya rasakan besar manfaatnya dari BPJS Kesehatan ini adalah bagusnya pelayanan dokter gigi di Mitra Sehat yang saya akui bagus. Gigi kanan saya berlubang dan saya harus tambal gigi. Setelah beberapa kali yang memakai BPJS Kesehatan adalah suami, kini saya yang harus periksa gigi. Satu bulan yang lalu tepatnya bulan September saya ditambal di dokter gigi Mitra Sehat gigi saya diberi obat dan ditambal sementara serta saya diminta untuk kembali seminggu lagi. Namun karena saya sibuk kerja saya baru kembali dua minggu kemudian. Untuk daftar di dokter gigi, saya harus datang sebelum jam 5 untuk daftar, alhamdulillah saya selalu dapat urutan awal terus karena izin dari kantor pulang lebih awal. Pada pertengahan september saya periksa yang kedua kalinya dan dan tambalan sementara dibongkar lalu diberi obat dan ditambal lagi. Saya sarankan bagi yang mau tambal gigi sebelumnya harus makan karena setelah ditambal saya tidak boleh makan dan minum selama dua jam. Saya disarankan untuk datang seminggu lagi untuk tambal permanen.

Antri Pasien Dokter Gigi

Antri Pasien Dokter Gigi

Nah untuk kali ketiga ini saya antri lamaa banget, karena saya datang terlambat ke klinik Mitra Sehat. Saya datang jam 5 dan dapat antrian no 10, alhasil mengular dan saya dapat giliran setelah magrib. Tapi alhamdulilah penanganannya cepat tambal permanen paling 20 menit udah sama bongkar tambalan lama dan bikin tambalan permanen. Saya senang dengan dokter gigi yang menangani saya karena saya merasa nyaman dan tidak sakit.

Tambal Gigi di Klinik Mitra Sehat

Tambal Gigi di Klinik Mitra Sehat

Alhamdulilah kini saya merasa nyaman dan makan pun enak setelah gigi saya ditambal dan kalau saya bandingkan dengan dokter gigi di tempat lain sekali periksa dan konsultasi Rp.80.000 dan tambal gigi Rp.300.000 tapi kalau di dokter gigi Mitra Sehat alhamdulilah gak bayar hanya pakai iuran BPJS. Kakak saya Hadijah, juga sudah bertahun-tahun menderita Diabetes sekali berobat Rp.600-700 rb sudah sama insulin tapi pakai BPJS di Rumah Sakit Bunut Sukabumi, bisa bebas biaya hanya menggunakan rekomendasi dari Puskesmas. Begitu juga Keponakan saya Kaki O di Jogja, juga dioperasi memakai fasilitas BPJS Kesehatan dari JKN. Alhamdulilah terasa lebih ringan, padahal operasi kaki itu menelan biaya jutaan.

Ini sangat membantu dan meringankan kami dan keluarga. Saya rasa saat ini indonesia sedang mengalami revolusi tata kelola sektor kesehatan. Berobat yang tadinya ratusan ribu sekali ke dokter sekarang bisa lebih murah dengan dicicil pake asuransi kesehatan lewat iuran BPJS Kesehatan. Meskipun banyak menuai protes disana sini terutama perusahaan asuransi dan kualitas dokter dan obat yang belum memadai, tapi begitulah proses revolusi harus berdarah-darah, saya yakin dengan semakin banyaknya premi yang terkumpul dan perhatian pemerintah terhadap sektor kesehatan, masa depan dunia kesehatan di Indonesia akan lebih baik.

Merawat Semangat Kerja…

Posted: June 24, 2015 by Eva in Artikel

Hari ini aku coba cari-cari artikel untuk menjadi penyemangat kerja…aku share disini dari http://www.leadership-park.com/new/more-about-u/merawat-semangat-kerja.html

Semangat kerja Anda adalah induk dari segala sukses yang menghubungkan semua potensi unggul Anda dalam melakukan kegiatan penyuluhan menghasilkan kinerja optimal sehinggap tujuan dari penyuluhan bisa tercapai. Tanpa semangat kerja, Anda akan merasa tidak efektif untuk melangkah ke arah kerja yang harus Anda selesaikan. Setiap orang pada dasarnya bersifat tidak konsisten dengan dirinya sendiri, hal ini akan terlihat dari fluktuasi semangat seseorang yang selalu turun naik.
Kadangkala semangat seseorang bisa berada di puncak kepercayaan diri yang sangat tinggi, tapi kadangkala semangat itu bisa berada di dasar yang paling rendah, yang membuat rasa percaya diri itu hilang. Manusia itu memang unik, sehebat apapun seseorang dengan kekuatan motivasi dan kepercayaan dirinya, pasti akan ada hari – hari yang membuat orang tersebut merasa kehilangan semua semangat kerjanya.
Untuk bisa menjaga dan merawat semangat kerja Anda secara konsisten dan stabil adalah sangat sulit, sebab dibutuhkan mental yang sangat terlatih oleh pengalaman hidup dengan berbagai macam situasi dan kondisi, tapi belum tentu setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar tentang makna hidup dari realitas perjalanan hidupnya.
Semangat adalah kata yang mengalirkan energi sukses dari satu titik darah ke titik darah berikutnya secara bersambung dan terus – menerus dalam diri seseorang. Bayangkan, apa jadinya hidup Anda bila tidak didasari oleh semangat hidup dan semangat kerja yang tinggi, mungkin Anda hanya akan menjadi makhluk yang hidup merayap di planet bumi ini, tanpa mampu berbuat apa – apa sampai hari akhir menjemput. Semangat itu harus dirawat dan dijaga, agar Anda bisa mencapai semua mimpi, harapan, dan keinginan Anda secara optimal. Cobalah renungkan sejenak tentang betapa pentingnya semangat kerja yang stabil dan konsisten dalam melakukan penyuluhan sosial dan membawa hidup Anda menuju keberhasilan.

semangat

Pahamilah cara terefektif untuk merawat semangat kerja Anda dalam melakukan penyuluhan dengan beberapa cara berikut ini:

Pastikan bahwa semangat kerja Anda selalu terkendali secara benar, dan Anda mampu mengatasi semua kesulitan secara tepat.
Pastikan Anda mampu mengkomunikasikan semua persoalan hidup Anda dengan menggunakan logika dan akal sehat.
Pastikan Anda secara rutin memberikan hadiah untuk kebahagian diri Anda.
Pastikan Anda telah sangat paham untuk memahami bahwa tanpa kerja keras, Anda tidak akan bisa mendapatkan sukses.
Pastikan Anda selalu mampu melihat dan memperbaiki semua kelemahan yang ada dalam diri Anda.
Pastikan Anda selalu mampu berpikir dan bertindak dengan lebih bijak.
Pastikan Anda selalu memompa semangat kerja dengan mengucapkan syukur terhadap apa yang sedang Anda nikmati sekarang.
Pastikan Anda selalu peduli untuk menjaga semangat kerja dengan kosentrasi tinggi.
Pastikan Anda telah memahami benar untuk bangkit kembali dari setiap kejatuhan.
Pastikan Anda terus tumbuh dengan semangat dan motivasi, yang tidak pernah hancur atau hilang oleh badai sekuat apapun.
Merawat semangat kerja dapat menjadi sebuah kebiasaan yang positif, bila Anda menjadi sadar akan pentingnya peran semangat kerja dalam mendorong sukses Anda.

Aneka Tempat Makan Pempek yang Enak

Posted: August 20, 2014 by Eva in Artikel, Kuliner

Sejak aku di Jogja, aku menyukai makanan khas Palembang Pempek. Waktu disana aku suka makannya Pempek Ny.Kamto yang ada di Malioboro Jogjakarta tepatnya di Jl.beskalan no 3 Jogjakarta, wah pempek disana enak banget pertamakalinya aku tahu makanan ini ya di Ny.kamto

Empek-empek Ny.Kamto di Jogjakarta

Empek-empek Ny.Kamto di Jogjakarta

Pempek itu jenisnya banyak, ada kapal selam, lenjer, adaan dan lain-lain. Tapi dari semuanya itu, aku paling suka kapal selam, karena bentuknya besar dan mengenyangkan.

Kapal Selam

Kapal Selam

Pada tahun 2003, aku hijrah ke Jakarta dan suka mencari Pempek enak yang ada di Jakarta. Aku menemukan beberapa seperti pempek Pak Raden Radio Dalam dan pada 2007 aku bekerja di Reka Gagas Cipta Kalibata aku menemukan pempek enak di Pasar Minggu. Saat kantor pindah ke Empang tiga, akupun sering makan disini, ataupun titip OB minta dibeliin. Alamat Pempek Pak Raden yang di Pasar Minggu adalah Jl.Raya Pasar Minggu Km 18 no 27.  

Empek-empek Pak Raden Pasar Minggu

Empek-empek Pak Raden Pasar Minggu

Setelah tidak kerja lagi banyak menghabiskan waktu di Pamulang, aku mulai mencari Pempek deket rumah tapi ternyata sulit jarang ada yang jual, ada juga di depan Giant Gaplek, warungnya kecil tapi pempeknya enak, gak ada plangnya tapi aku tahu yang jual namanya Mak cik, tapi gak bertahan lama, akhir 2013 warungnya tutup dan aku gak sempat mendokumentasikannya.

Pada 2014 ini, tidak sengaja aku menemukan Pempek yang paling enak dan paling mahal, yaitu Pempek Musi Raya di Ciputat, tepatnya di samping Ramayana Ciputat sekiar 200 meter dari situ kalau dari arah Lebakbulus kiri jalan. Aku bener-bener jatuh cinta dan ketagihan untuk datang ke Musi Raya.

Buat temen-temen pecinta kuliner yang ada di Tangerang Selatan aku rekomendasikan deh untuk makan Pempek di Musi Raya, mahalan dikit tapi kapal selamnya besar dan bikin kenyang. Selamat menikmati…

Pempek Musi Raya Ciputat Tangerang Selatan

Pempek Musi Raya Ciputat Tangerang Selatan

Pepes Ayam

Posted: February 10, 2014 by Eva in Artikel, Kuliner
Pepes Ayam

Pepes Ayam

Setelah punya presto, aku sekarang rajin bikin pepes, salah satunya adalah bikin aneka pepes dan botok. Pepes yang aku bikin diantaranya adalah pepes ayam, pepes ikan mas dan bothok. Berikut ini aku tulis resep masakan Pepes ayam yang merupakan resep dari kakaku teh jijah di sukabumi.

Pepes Ayam

Bahan
-Ayam dada atas separo/ 1/2 kg
-Daun Pisang
-Kemangi
-salam
-Daun Pisang
Bumbu yang dihaluskan
-5 siung Bawang merah
-5 siung Bawang Putih
-jahe
-kemiri
-merica
-garam
Bahan yang diiris
-sereh digeprek terus diiris
-bawang daun
-cabe merah

Cara Membuat
1. Cuci ayam dengan bersih, tiriskan
2. Blender bumbu yang dihaluskan
3. Tumis bumbu yang dihaluskan, lalu masukkan ayam dan aduk-aduk
4. Setelah dingin masukkan bahan yang diiris, salam dan kemangi
5. Bungkus dengan menggunakan daun pisang
6. Kukus dalam presto kurang lebih satu jam
7. Angkat dan tiriskan lalu hidangkan dengan nasi panas dan sambal

pepes ayam satuan-kcl

Selamat menikmati