Archive for the ‘Artikel’ Category

Saya tidak menyangka jika kita bisa menanam jagung tidak harus punya kebun dan tanah luas. Menanam jagung itu bisa di lakukan di lahan terbatas dan bisa tumbuh subur dalam waktu seminggu sudah keluar batang dan daun.

Seminggu yang lalu, Mas Arif membeli  jagung yang sudah tua, untuk ditanam, gambarnya  seperti ini.

Seiring waktu yang berjalan, benih jagung tumbuh sangat cepat di awal November ini. Beginilah penampakannya, saya lupa persis kapan menanamnya seminggu lalu atau sepuluh hari yang lalu.

Saya tidak menyangka, jika kita bisa menanam jagung di halaman rumah belakang, dimana dari beberapa biji jagung yang ditanam baru tumbuh dua pohon. Faktor hujan sepertinya sangat berpengaruh terhadap perkembangan tumbuh tanaman.

Yuuk mari menanam jagung, biar suatu hari bisa buat kita masak untuk sayur asem, sayur lodeh atau bubur jagung.

14 November 2018

09.59

 

Advertisements

Awal November kemarin, majalah Basis tiba. Tema utama yang diangkat kali ini tentang “Kekayaan dan Persoalan Moral” dan sub tema lainnya seperti yang anda lihat di halaman sampul. Namun, ada beberapa artikel menarik yang saya suka dalam edisi kali ini, terutama wawasan baru berkaitan dengan istilah yang selama ini kita kenal. Dimana yang menulis di Majalah Basis tidak hanya para redaktur dan dosen Universitas Sanata Dharma (USD) tapi juga beberapa guru yang mengajar di sekolah dasar, penggiat literasi, penulis cerita anak dan pemerhati sosial, yang ditutup dengan pembahasan arsitektur sebuah galeri yang bernilai artistik.

Seperti biasa, majalah Basis itu saya baca harus saat tenang. Saat datang tidak langsung dibaca. Namun yang saya suka, karena saya sudah tidak lama mengikuti perkembangan akademik, saya tidak menyangka jika perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat dan binal.

Dimulai dari Mesianisme, dan Keutamaan Hidup Bertetangga

Apa itu Mesianisme? bagi saya ini istilah terbaru dalam dunia filsafat, membuat saya merasa sangat bodoh. Dalam artikel berjudul “Mesianisme sebagai Struktur Pengalaman dan Sejarah” yang ditulis dengan sangat keren oleh Fitzerald Kennedy Sitorus, Dosen Filsafat Fakultas Liberal Alts (FLA), Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci Tangerang, menegaskan jika Mesianisme adalah istilah yang berasal dari tradisi religius Judeo-Kristen yang dalam perkembangannya kemudian menjadi istilah generik untuk setiap kepercayaan atau ajaran mengenai kedatangan (kembali) seorang atau sekelompok penyelamat atau penebus pada akhir sejarah / zaman untuk mengembalikan segala kebaikan dari masa lalu yang telah hilang.

Peristiwa kembalinya masa lalu di masa depan itu bisa bersifat eskatologis apokaliptik, yakni penyelamatan manusia dari dunia ini melalui penghancuran dunia sekarang dan penciptaan baru yang sama sekali baru, tapi bisa juga bersifat politis, yakni penyelamatan manusia di dunia sekarang ini melalui total struktur-struktur sosial politis lama dan penciptaan struktur baru yang dapat mewujudkan harapan masyarakat yang berangkutan (Sabin Brachter).

Secara etimologis, mesias berasal dari bahasa Ibrani, mashiah, yang artinya (yang diurapi, atau yang diberkati (oleh Tuhan), atau yang terpilih (Lanternari, 1962: 52). Sesuai dengan asal – usulnya dalam konteks bangsa Israel, istilah ini mengacu kepada seorang pribadi yang berasal dari tengah-tengah bangsa Israel sendiri, yang dipilih Tuhan untuk mengemablikan zaman kejayaan Israel. Dimana zaman yang dimaksud adalah zaman ketika bangsa Israel hidup dalam kebebasan, kedamaian, harmoni, dan keadailan pada masa pemerintahan Raja Daud.

Tulisan sepanjang tujuh halaman ini bagus, anda wajib membacanya dimana ada beberapa bab tentang Universalisasi Paham Mesianisme, Beberapa Konsepsi paham mekanisme intelektual Yahudi, Struktur Pemikiran Mesianistik, serta Mesianisme dalam sejarah.

Setelah saya membaca Mesianisme, saya membaca tulisan Almarhum Anton M. Moeliono seorang Pemulia Bahasa yang ditulis oleh Tri Winarno, seorang esais dan kolektor buku. Dimana edisi beberapa waktu yang lalu ada Gorys Keraf, kali ini perkembangan bahasa membahas pemikiran beliau, pelopor terbentuknya Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Namun, dari sekian pemikiran almarhum, yang menarik adalah kredo pamungkas Anton M. Moeliono yang dituliskannya pada 1983.

“Yang enggan berbagi hidupnya dengan tetangga, yang segan memberi hidupnya untuk sesama, akan binasa. Yang rela berkorban memberi cinta dan jasa, yang suka berkawan akan tahu bahwa ia hidup selalu,”.

Wedang yang Mengejutkan

Saat menelusuri lembar demi lembar yang saya baca seperti Perenialisme (Heru Prakosa), Cerita, Kematian, dan Hal-hal yang Bersehadap (Wdyanuari Eko Putra), Galilah dan Daminah (Satyaningsih), Sawah, Petuah dan Pemandangan Indah (Bandung Mawardi), Kolonialisme, Pergundikan dan Alat Pergerakan (Retor Aw Kaligis), saya dikejutkan dengan tulisan menarik tentang “Air” yang ditulis oleh Tuginem (Guru SMPN 2 Karangdowo).

Dengan bahasa yang mengalir, Tuginem menjelaskan asal muasal air, manfaat air dari mulai memasak, mandi, menyiram tanaman, dan pentingnya air bagi kehidupan, sehingga air menjadi bahan utama hidup.

“Ketika sedang duduk di serambi rumah, seorang teman datang dengan wajah pucat dan kehausan. Segelas air segera kutuangkan untuknya. Rasa haus yang dideritanya segera lenyap. Wajahnya kembali ceria. Ucapan terimakasih meluncur tulus dari mulutnya. Air menjadi perekat untuk bersaudara. Sesuai dengan tema wedang dalam budaya Jawa yang dimaknai “nggawe kadang” atau membuat persaudaraan.

Sastra yang Merakyat

Pada bagian berikutnya, satu artikel menarik di bab buku yang ditulis oleh Dian Vita Ellyati, seorang pemerhati anak, berjudul “Ujung Pelangi di Pangkuan Ibu”. Dimana di awal kalimat dia mengutip tulisan seorang tokoh perempuan.

“Di pangkuan orangtuanya, anak-anak dibentuk sebagai pembaca,” (Emilie Buchwad). Dalam penjelasan di bawahnya ia menjelaskan tentang keutamaan membacakan buku. Selain agak sulit dipahami karena terlalu banyak referensi dan meloncat-loncat, saya mengira mungkin tulisan ini bermaksud bahwa membaca bagi anak itu mendorong pembentukan sirkuit ketika otak secara aktif menerima informasi – informasi essensial. Saya kira penulis harus membedakan mana buku anak dan penulis lagu anak di rubrik buku (tentu ini berbeda), biar pembaca tidak bingung.

Di rubrik tentang kabar, ada satu tulisan Willy Satya Putranta, yang menulis tentang pemikiran Sindhunata tentang Sastra yang Merakyat. Di mana saat ini kita melihat pameran sastra berada di mall atau pusat perbelanjaan mewah, butik ternama dan diulas secara membahana namun terkadang isinya di luar dugaan.

Akan tetapi, Willy Satya Putranta justru mengupas tentang beberapa karya Shindunata seperti “Anak Bajang Menggiring Angin”, “Putri Cina”, dan “Air Kata-kata”. Misalnya dalam puisi “Air Kata-kata” yang dihiphopkan oleh kelompok Jahanam dan Rotra, tukang becak pun hafal dari kata ke kata “Cintamu Sepahit Topi Miring,”.

“Tidak mungkin puisi yang elite akan sampai pada pembaca yang demikian. Orang-orang itu mungkin tidak tahu kalau itu puisi, tetapi bisa menikmatinya sebagai puisi. Inilah seharusnya sastra. Kalau sastra hanya bergerak di kalangan elit sastra, apa gunanya menjadi sastra yang memang bicara tentang kehidupan? semoga ini pula yang mewarnai bahwa sebuah sastra itu akhirnya betul-betul hidup merakyat semacam ini,” harap Sindhunata menandaskan.

Kanigoro, 13 November 2018
Pukul 13.53

Kangen Karedok

Posted: November 3, 2018 by Eva in Artikel
Tags: ,

Udah dua hari ini aku kangen masakan sunda yaitu Karedok. Makanan yang terdiri dari kacang panjang, kubis (kol), tauge dan ketimun ini membuatnya gampang. Tidak usah direbus, semua mentah.

Bahan yang dihaluskan, bawang putih, garam, kencur, gula jawa, dan air asam. Kalau tidak pedas enggak usah pakai lombok rawit, tapi kalau anda suka pakai terserah.

Setelah semua bahan dihaluskan, jangan lupa masukkan kemangi dan goreng bawang merah. Tapi hari ini aku lupa gak pake keduanya dan males bolak balik ke pasar cari bahan yang kurang, jadi seadanya. Bawang goreng juga enggak, sayang minyak. Ini makanan khas Sunda kesukaanku Karedok.

Akhir pekan ini banyak waktu buat istirahat. Enaknya masak makanan kesukaan kita. Yuuk makan dulu dan jangan sampai terlambat makan dan selalu jaga kesehatan.

2 November 2018

Gethuk Ditaburi Parutan Kelapa

Posted: November 2, 2018 by Eva in Artikel
Tags: ,

Jajanan pasar di sini tidak berbeda dengan di Jogja dalam beberapa hal seperti jajanan yang sangat saya suka yaitu gethuk ditaburi parutan kelapa muda.

Dua minggu sekali saya  membeli gethuk ke pasar Banggle. Gethuk terbuat dari singkong yang dihaluskan dan dicampur gula merah. Sebelum memulai aktivitas rutin enaknya makan gethuk dulu. Biar perutnya tidak kosong.

Selain sehat, gethuk ini juga dijual oleh ibu-ibu sejak pagi, kebayang ya jam berapa mereka membuat gethuk ini.

Padahal kalau sudah agak siang dan  jajanan tradisional ini tidak habis, berarti sudah tidak awet. Mari yuuk lestarikan makanan tradisional.

2 November 2018

Pukul 08.44

Membuat Sendiri Mie Goreng Jawa

Posted: November 1, 2018 by Eva in Artikel

Selama ini saya agak sulit mencari mie goreng jawa yang biasa dijual di beberapa tempat di Selatan Jakarta. Sebenarnya ada beberapa pilihan aneka yang rasanya enak banget dan masaknya di anglo atau tungku.

Selama ini ada bakmie jogja, mie nyemek dan yang terakhir mie goreng jawa, dimana saya terakhir kali makan saat di Jakarta.

Kini saya mencoba bikin sendiri mie goreng jawa dengan tahapan sebagai berikut:

mie telur satu bungkus (rebus air sampai mendidih, angkat masukkan mie diamkan 5-10 menit) jangan sampai lembek.
sawi satu ikat (iris)
kecap
lombok rawit 8
bawang daun dan seledri
satu butir telur
bawang merah digoreng

Bumbu halus

bawang merah lima
bawang putih tiga
kemiri tiga
garam
merica secukupnya

Langkah-langkah:

Goreng bawang merah tiriskan
panaskan minyak
setelah ditiriskan, lalu aduk dengan kecap, haluskan bumbu halus semua dalam minyak panas, masukkan lombok utuh dan telur, orak arik telur dan semua bahan dengan api kecil.
Masukkan sawi, bawang daun seledri dalam bumbu halus.

Setelah menyerap masukkan mie yang sudah dibalur kecap
Aduk semua bahan dalam, masukkan garam lalu aduk-aduk  dengan api sedang dan matikan kompor.
Hidangkan mie goreng jawa yang telah matang dengan bawang goreng.

Yuuk sarapan

Wandra Banyuwangi

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

Resensi Buku

Judul : Biografi Singkat Mohammad Hatta (1902-1980)

Penulis : Salman Alfarizi

Penerbit: GARASI, Jogjakarta

Edisi : Cetakan II, Juli 2009

Editor: Abdul Qadir Shaleh

Pada suatu ketika B.M Diah diminta oleh Majalah Prisma tentang generasi 1928 seperti Sukarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. Kata Diah :  “Sukarno dan Hatta disekap Belanda, Sjahrir idem dito. Tan Malaka lari.”

Setelah 73 tahun Indonesia merdeka, ada beragam generasi melintasinya. Indonesia tidak melupakan Mohammad Hatta, salah seorang proklamator dan pemimpin bangsa ini yang jujur dan antikorupsi. Memegang teguh prinsip, tegas, terampil organisasi, memiliki intelektualitas tak tertandingkan, dan pemegang paham sosialisme yang setia.

Sosok Mohammad Hatta, sudah lama dikenal sebagai salah satu pendiri bangsa. Wakil presiden yang mendampingi Ir. Sukarno ini dikenal sebagai sosok yang sederhana dan disipin tinggi. Ekonomi Kerakyatan yang diperjuangkan atau disebut sebagai Hattanomics pernah diterapkan di era awal kemerdekaan.

Saya tidak akan menjelaskan bagaimana kiprah sejarah dan perjuangannya sebelum kemerdekaan yang sudah banyak orang paham, namun akan mengulas sisi pribadi dia yang patut di tiru kita sebagai orangtua maupun generasi muda penerus.

Ada banyak buku yang mengulas tentang biografi ekonom terkemuka Indonesia Mohammad Hatta. Ditulis oleh beberapa penulis dan penerbit dengan pendekatan berbeda, semua sama bagusnya. Namun, jika anda ingin membaca singkat, cepat dan padat, tidak ada salahnya anda membaca buku ini.

Yatim Sejak Usia Delapan Tahun

Lelaki yang bertubuh kecil pendek dan berbadan gempal ini lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Ayahnya seorang mursyid, sebuah pemimpin tarekat sufi di Sumatera Barat bernama Haji Mohammad Djamil dan Ibunya Siti Saleha. Mohammad Djamil adalah cucu seorang seorang ulama Minangkabau bernama Syaikh Abdurrahman atau dikenal Syaikh Batuhampar.

Menurut Hamka, nama Mohammad Hatta berasal dari Muhammad Ata yang diambil dari seorang penulis kitab Al-Hikam bernama Muhammad Ibn Abdul Karim Ibn Ata-Ilah Alsukandari. Sedangkan kakek dan nenek dari pihak ibunya adalah pengusaha angkutan pos antara Bukittinggi dan Lubuk Sikaping dengan menggunakan kuda, bernama Ilyas Bagindo Marah dan istrinya Aminah. Hatta memanggil keduanya Pak Gaek dan Mak Gaek.

Pernikahan Mohammad Djamil dengan Saleha melahirkan dua orang anak yaitu Hatta dan Rafi’ah. Ketika berusia delapan tahun, ayahnya mursyid Mohammad Djamil wafat. Ibunya menikah lagi dengan Haji Ning, pengusaha asal Palembang. Dari pernikahan itu, Hatta punya adik  empat orang perempuan.

Kondisi rumah tangga semasa kecil sangat berpengaruh dalam pola hidup Hatta yang terlepas dari pola budaya Minangkabau tradisional yang lazimnya konservatif, ada kalanya cenderung reaksioner. Sama halnya dengan pemuka gerakan nasional sezamannya yang berasal dari Minangkabau seperti Ibrahim Marah Sutan, Rustam Effendi, Abdul Muis, Bahder Johan, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, Hazairin, Syaikh Djamil Djambek dan Syaikh Abdullah Muhammad.

Menikah Dengan Mas Kawin Buku

Terlalu panjang jika saya bercerita proses mahasiswa, menempuh pendidikan ke Belanda, aktif di organisasi dan memproklamasikan kemerdekaan RI. Saya kira nanti anda bisa baca sendiri dari halaman 15-32.

Lebih menarik kita membahas sisi pribadinya. Dimana Muhammad Hatta yang menikah usai Indonesia merdeka. Perempuan yang dinikahi Hatta adalah perempuan biasa yang saat menikah masih belia, bernama Siti Rahmiati Rachim. Mereka bertemu saat usia Rahmi berusia 17 tahun, selisih usianya dengan Mohammad Hatta adalah 24 tahun. Rahmi adalah perempuan kelahiran Bandung 16 Februari 1926. Mereka bertemu saat Sukarno dan Hatta kembali dari pengasingan. Hatta dan Rahmi menikah pada 18 November 1945 di Megamendung Bogor dengan mas kawin sebuah buku berjudul “Alam pikiran Yunani.”

Kecintaan Hatta pada buku sudah ada sejak kecil. Sejak umur lima tahun sudah bisa membaca dan menulis. Hatta punya kebiasaan membaca yang patut diteladani. Membaca buku pelajaran pada malam hari dan membaca buku lain termasuk roman untuk meluaskan cakrawala pengetahuan dibacanya pada sore hari. Selama 11 tahun di Belanda dia membawa 11 peti buku dan pakaian hanya satu koper.

Bagi Hatta, buku hampir seperti sebuah benda sakral. Dalam dunia pergerakan, mungkin Hatta adalah aktivis yang paling banyak menulis. Konon saat mahasiswa di Amsterdam kamarnya penuh sesak dengan buku. Dalam kehidupan sehari-hari, Hatta memiliki waktu khusus untuk belajar. Jauh dari kemewahan dan kegairahan akan perempuan.

Kekasih Hatta adalah buku, buku, dan buku. Karena itu, lahirlah anekdot; istri pertama Hatta sesungguhnya adalah buku, istri kedua Hatta adalah buku dan istri ketiga adalah Rahmi Hatta.

Berbeda dengan Sukarno yang sanggup membakar massa melalui pidato-pidatonya yang memikat. Hatta lebih banyak diam; ia lebih suka menulis. Isi buku-bukunya menggambarkan spektrum dan minat yang luas terhadap ekonomi, sosial dan sastra. Tokoh yang disukai Hatta adalah Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker, penulis Belanda yang pernah menulis Max Havelaar.

Satu ucapan Dekker yang kerap dikutip Hatta, dengan tepat menggambarkan sosok bekas wakil presiden itu adalah onhoorbar groeit de padi, artinya tak terdengar tumbuhlah padi. Hatta adalah padi yang tak terdengar itu.

Kepala Keluarga yang Disiplin dan Penuh Kasih Sayang

Selama mengayuh biduk rumah tangga, Hatta dan Rahmi memiliki tiga anak. Yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah dan Halida Nuriah. Sebagai orang tua, Hatta terkesan pendiam dan kaku. Namun dia sangat berwibawa dan penuh kasih sayang.

Curahan kasih sayang pun terasa unik, karena beliau bukan sosok yang suka memuji, membelai dan menyanjung berkepanjangan.

Namun, menyapa anak-anaknya dengan sopan tanpa memanggil “kamu”. Dia biasa bertanya misalnya “Meutia sudah membaca tulisan ini? Atau “Gemala, dimana letakkan buku tadi?.”

Bahasa Indonesia yang digunakan Hatta adalah Bahasa yang standar. Mungkin ini pula yang menyebabkan nilai Bahasa Indonesia ketiga putrinya 8 dan 9, karena mereka terbiasa mendengar ayahnya menggunakan Bahasa Indonesia standar. (Ini harus dicamkan orangtua dan generasi milenial hehehe).

Menurut anak-anaknya, Hatta adalah sosok ayah yang sangat disiplin selam hidupnya yang dijalani selama puluhan tahun saat sehat. Ketiga anaknya dibesarkan oleh orang tua dengan alam pikiran modern. Meutia Farida, anak tertua dibiarkan memilih jurusan yang disukainya. Hatta justru banyak memberi saran berharga untuk studi antropologinya.

Gemala menjelaskan jika ayahnya bangun pada 04.30 WIB, lalu sembahyang dan berolahraga satu jam. Sesudah mandi dan berpakaian selama 15 menit ia akan sarapan pada pukul 06.30 sembari mendengarkan radio, Hatta akan masuk ruang kerja dan mendengarkan agenda yang dibaca oleh sekretaris pribadi bernama Wangsa Widjaya. Penghargaan Hatta kepada waktu juga terlihat betul dalam menanggapi hidup rencana anak-anaknya.

Wafat Menjelang Matahari Terbenam

Ciri khas Hatta, sanggup menjadi seorang rasional tanpa harus kebarat-baratan. Tokoh yang taat beragama ini berorientasi kerakyatan mengambil teladan dari dunia barat dalam urusan disiplin dan berorganisasi. Di mata sang istri yang selama ini mendampinginya, Rahmi melukiskan sosok suaminya sebagai orang yang teguh prinsip.

“Keteguhan prinsipnya tidak bisa dipatahkan oleh orang-orang terdekatnya sekalipun,”

Kesabaran Hatta dan Rahmi juga terasa saat mereka merasakan kecilnya tunjangan wakil presiden saat itu. Pengabdian Mohammad Hatta kepada bangsa Indonesia sudah terbukti dengan baik. Begitu jujurnya Hatta, saat pensiun dari jabatan wakil presiden, dia pernah mengalami kesulitan membayar listrik rumahnya di jalan Diponegoro (hlm 7). Hal ini dikarenakan sedikitnya tunjangan pensiun wakil presiden (apres) saat itu.

Banyak cerita menarik lainnya seputar buku yang ditulis, perpustakaan pribadi Bung Hatta di Sumatera Barat dan Jogjakarta yang terbengkalai, (halaman, 202-203). Begitu juga dia tidak menyukai Siti Hartini, sehingga selalu menghindar jika ketemu Presiden Sukarno kalau ada Hartini, karena Beliau sangat hormat kepada Ibu Fatmawati. Beliau juga menengok Bung Karno saat dua hari sebelum meninggal dunia, dan kisah menggelora lainnya yang harus anda baca.

Namun, resensi ini harus diakhiri dengan meninggalnya Mohammad Hatta pada 14 maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta,  dan dikuburkan di Tanah Kusir pada 15 Maret 1980 pada usia 77 tahun.

Penyanyi Iwan Fals mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Halida Nuriah mengatakan jika hidup ayahnya sudah diatur Tuhan sedemikian rupa. “Seakan diatur oleh tangan yang lebih kuasa, masa hidupnya bagaikan satu kali putaran matahari. Ayah dilahirkan menjelang fajar menyingsing di kala panggilan sembahyang subuh berkumandang di surau-surau Kota Bukittinggi, dan wafat setelah tenggelamnya matahari, menjelang berakhirnya waktu maghrib…”.

Buku ini bagus dan singkat sesuai judulnya. Namun kelemahannya ada pada sampul yang kurang nyeni, struktur penulisan yang meloncat, ke belakang dulu lalu memulai lagi saat muda. Namun terlepas dari itu semua tidak banyak ejaan yang salah, bahasanya pun mengalir dan nyaman dibaca dari bab mana saja.

Selamat membaca…

Perpustakaan Veteran Blitar, 30 Oktober 2018
Pukul 12.59 WIB

Akhir pekan ini terasa istimewa,  saya mau masak sayur lodeh karena ada ikan asin dan sisa kol wortel bekas sayur sop kemarin untuk bikin bakwan.

Sudah lima bulan ini kami masak tanpa sambal. Kalau pun ingin pedas biasanya saya masukin cabe satuan (ceplus) di sayur.

Saya gak usah tulis resep, pasti pembaca semua sudah tahu caranya bikin sayur lodeh dll. Cuma untuk bakwan kriuk saya tambahkan tepung terigu dan sedikit tepung beras (dua sendok). Jangan lupa menu wajib di sini ada rempeyek.

Selamat berakhir pekan…yuuk masak…

Antara Kesetaraan dan Kebebasan

Posted: October 23, 2018 by Eva in Artikel

Alexis De Tocqueville, seorang pemikir besar Prancis yang sangat berpengaruh pernah menulis dalam pemikirannya tentang Revolusi, Demokrasi dan Masyarakat sebagai berikut.

1540258364732

Semua orang berkomentar bahwa pada zaman kita, dan terutama di Prancis, hasrat akan kesetaraan ini makin mendapat tempat di hati manusia. Sudah ratusan kali dikatakan bahwa orang yang sezaman dengan kita terikat secara jauh lebih bersemangat dan erat kesetaraan ketimbang kepada kebebasan; namun ketika saya tidak melihat bahwa penyebab fakta telah dianalisis secara memadai,saya akan berupaya memperlihatkannya.

Tidak mustahil kita membayangkan titik ekstrem tempat kebebasan dan kesetaraan bertemu dan berbaur. Marilah kita beranggapan bahwa semua anggota komunitas mengambil bagian dalam pemerintahan dan masing-masing memiliki hak yang setara padanya.

Ketika tiada seorangpun yang

berbeda dari rekan-rekannya, tiada

seorangpun  yang bisa menjalani

tirani manusia akan bebas secara

sempurna karena mereka akan

sepenuhnya setara; dan mereka

akan semua sempurna, karena

mereka akan sepenuhnya bebas. 

Dia mengambil contoh dari negara demokratis seperti Amerika Serikat.

Menurut Tocquoville menuju keadaan ideal inilah negara-negara demokratis terarah itulah bentuk terlengkap yang bisa dicapai oleh kesetaraan di muka bumi; namun ada ribuan kesetaraan lain yang tanpa menjadi benar-benar sempurna, tidak kurang dihargainya oleh negara – negara itu.

 

“Ketika aku menembak, aku melihat seorang jatuh. Aku gemetar hingga ujung kaki, dan aku merasa sangat kedinginan..itu adalah kali pertama aku membunuh seseorang, -Anonim, milisi Thomas Lubanga, Kongo.

Judul : Anak – Anak Peluru ( Fenomena Tentara Anak di Dunia)

Penulis: Heri Sudiono dan Rini Rahmawati

Penerbit : Mata Padi Pressindo, Jogjakarta

Edisi : 2015

Ketika dilahirkan ketika dunia apakah pernah memilih akan menjadi anak siapa? Rahasia itu adalah milik semua anak yang suci dilahirkan ke dunia. Menjadi anak bangsawan atau lahir di tengah suasana medan perang dimana orangtua meninggal terhunus senjata tajam.

Perang yang Mereka Tidak Pahami

Inilah buku yang mengupas tentang anak-anak yang yang telah menjadi korban dari salah satu aksi terburuk dalam banyak konflik bersenjata di dunia. Pembunuhan, ritus kekerasan merupakan pengalaman sehari-hari anak ini di tengah kecamuk perang yang tidak mereka pahami. Satu-satunya hal yang mereka ketahui adalah mereka harus terus patuh dan terus membunuh demi kelangsungan hidup.

Terlepas dari motivasi setiap perjuangan buku yang membuat pembaca ngilu jika ini terdiri dari empat bab. Pertama, Anak-anak peluru, bercerita tentang tentara anak dalam perang di empat benua yaitu Afrika, Asia, Eropa dan Amerika Latin.

Bab kedua berjudul “Mereka yang terjerumus: Kisah kelam tentara anak”,  bab tiga tentang “Kerja Lembaga – Lembaga Internasional”.  Bab empat “Rintihan Yang Masih Terdengar” yang membahas tentang GVSV di Kongo, anak kartel di Brazil, gerakan sipil dan pemimpin tradisional, kendala dalam usaha rehabilitasi, anak-anak dan trauma, serta pencegahan dan perekrutan anak dan bab kelima berisi “Kesaksian Setiap Tentara Anak” (ungkapan seperti di kalimat pembuka tulisan ini, 89-108).

Saya membaca buku ini tidak dari awal, langsung ke bab lima itu, sangat tidak menyangka ada buku yang menceritakan pengalaman luar biasa anak-anak yang dilahirkan penuh nestapa dan derita.

Mereka dididik menjadi bengis, menjadi pembunuh, akrab dengan senjata, alat penyoksa, tongkat, kawat berduri rantai serta belenggu.

Lokasi perang pun berbeda-beda. Ada yang dari milisi Kongo, FARC Kolombia, RUF, Sierra Leone, LRA Sudan, Renamo, Mozambik, Angkatan bersenjata Myanmar, Sandinista Venezuela, Girl Soldier Srilanka, tentara anak di Najaf Irak, tentara anak tahanan pasukan Israel di luar Ramallah.

Selain itu ada juga anak tentara yang berperang di Angola, Meksiko, dan juga informan anak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Indonesia yang masih berusia 17 tahun ada juga pengakuannya di buku ini ( halaman 98).

Tangan Kecil Berlumuran Darah

Perang telah merenggut mereka, menjerumuskan mereka ke dalam wilayah terkelamnya dan menghadirkan narasi kemanusiaan yang terburuk.Konflik berkepanjangan fisik maupun bathin menyisakan trauma mendalam.

Tangan-tangan kecil yang seharusnya menggenggam mainan dan buku pelajaran itu kini mengokang logam panas yang memuntahkan peluru, golok dingin pengooyak tubuh dengan jari berlumuran darah.

Tidak Ada Data Akurat

Tidak pernah ada catatan yang pasti tentang berapa banyak anak yang telah dilibatkan dalam semua konflik bersenjata di abad ini, tetapi kepedihan mereka menjadi catatan buruk dari setiap konflik.

Kesaksian pedih harus mereka alami terus hadir. Erang lirih dari balik barak militer menghadirkan horor kemanusiaan yang tidak terbayangkan. Kesaksian pemerkosaan yang dialami anak perempuan dan menjadi eksekutor terhadap orang yang mereka cintai.

Meski buku ini ada kelemahan karena bukan pengalaman pribadi, namun saya sangat apresiatif karena penulis buku ini menulis untuk tugas akhir kuliah Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman.

Meski kini perang senjata sudah tidak sebanyak dulu, namun kini perang melawan kepongahan perusak lingkungan justru sulit dilawan. Padahal korban bencana alam jumlahnya ribuan, mereka juga harus diselamatkan begitu juga  milyaran manusia sekarang ini harus berjuang dengan iklim yang tidak  menentu, pangan yang kian sulit dan sumber daya mineral dan non mineral kian menipis.

22 Oktober 2018

Pukul 09.32

 

Seks di Usia Menjelang Senja

Posted: October 15, 2018 by Eva in Artikel, Kesehatan
Tags: ,

Seks di Usia Menjelang Senja, Siapa Takut?
“Ingatlah bahwa berapa pun usia anda, Anda berhak menikmati kehidupan seksual yang tetap romantis dan membahagiakan.”

Kehidupan seksual yang sehat dan romantic akan menambah semangat Anda dalam menikmati hidup; berapapun usia Anda bersama pasangan halal, tak perlu khawatir. Anda berhak menikmatinya dan menemukan makna di balik kehidupan seksual Anda bersama orang yang Paling anda kasihi, yang menemani hari-hari Anda menikmati karunia hidup.

Bagaimana jika Anda sudah berusia menjelang senja atau lanjut? Anda masih bisa menikmati hubungan seksual dengan nyaman atau tidak untuk kehidupan positif anda. Hal ini juga meningkatkan tingkat kenyamanan, mengurangi ketegangan, dan memperbaiki kualitas tidur yang membawa anda dan pasangan pada kualitas hidup yang lebih meningkat.

Jadi, bila anda dan pasangan mengalami problema seksual, jangan terburu-buru patah semangat. Semua problem seksual hendaklah Anda analisis dengan cerdas. Ingatlah bahwa berapapun usia anda, Anda berhak menikmati kehidupan seksual yang tetap romantic, sehat dan membahagiakan.

Pada laki-laki ada empat jenis gejala seksual yang mengganggu di usia senja. Yaitu, Disfungsi Ereksi (DE), menurunnya hasrat seksual, gangguan ejakulasi, dan nyeri testikuler pasca hubungan seksual. Sedangkan pada perempuan ada lima jenis gangguan. Yaitu Gangguan terbangkitnya hasrat seksual, kehilangan hasrat seksual, gangguan orgasme, vaginismus dan perubahan sensasi (Menua yang Sehat, dr. Yahya Wardoyo, SKM, Talenta Media, Jakarta, 2006)

Gangguan seksual banyak terjadi dengan kondisi diabetes mellitus, hipertensi, sclerosis, dan neurologis dan pemakaian obat berkepanjangan.Problem seksual yang timbul karena pengaruh psikologis dan psikososial perlu penanganan terprogram dalam lingkup lebih luas. Termasuk di dalamnya mempertahankan kebugaran fisik, kesehatan mental, dan sosial.

Bunga Kamboja Merah di Siang Terik

Posted: October 11, 2018 by Eva in Artikel

Tadi saat aku ada perlu ke luar dari rumah ke Makam Bung Karno, tidak sengaja aku menemukan bunga yang sangat indah. Bunga kamboja yang berwarna merah darah menyala di pinggir jalan.

Terik matahari siang itu, membuat aku terpukau dengan indahnya warna bunga yang merata di setiap daun. Aku abadikan saat aku berjalan melewatinya.

Meskipun di Blitar sangat jarang musim hujan, akan tetapi aneka bunga yang tumbuh berseri, kebun jagung, kebun cabe disini tumbuh subur.

Blitar, 11 Oktober 2018

Pukul14.37

 

Saya tidak mengerti dan sangat tidak mengerti, bagaimana mungkin kita sudah menolak berkali-kali sidang IMF-World Bank kok tetap saja diadakan. Malah ada kabar ribuan peserta mau menghadang Bali padahal daerah kita tanahnya sangat rapuh setelah gempa di Lombok dan gempa tsunami di Palu.

Kita sudah lama untuk melarang ini itu, tersurat tersirat kok ya pada nekad. Sebenarnya mau apa to orang IMF-World Bank di Bali, padahal udah ditolak tiga kali di  Bali. Pertama saat tumpah minyak di pantai, beberapa waktu kemudian running text bilang akan dipindah ke Lombok setelah itu gempa di Lombok dan saat lempengan bumi masih rapuh, air mata korban gempa tsunami belum kering malah maksa banget ngadain sidang.

Jangan sampai ya setelah ini lama tidak turun hujan, banyak bencana kebakaran, kekeringan dan daun-daun untuk membuat uang sudah tidak tumbuh makanya dollar naik. Karena harga kertas pembuat uang harganya makin tinggi dan banyak distribusi barang terhambat karena bencana, dan gagal musim membuat pangan mahal karena produksi turun maka sebaiknya tidak usah ada banyak pertemuan untuk makan-makan dan jalan-jalan apapun bentuknya karena kita tidak ingin ada yang pamer keberhasilan IMF World Bank.

“Maka apakah mereka tidak berjalan di

muka bumi, lalu mereka mempunyai hati

yang dengan itu mereka dapat memahami

atau mempunyai telinga yang dengan itu

mereka dapat mendengar? Karena

sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,

tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam

dada,” (Q.S. Al-Hajj, 46)

 

 

Sudah satu bulan lebih satu minggu saya boyongan pindah rumah ke kampung suami di Blitar. Meski sudah lama, membongkar kardus pindahan dan menata ruangan, syukuran, dan aneka kegiatan lainnya membuat saya betah lama-lama di rumah dan jarang keluar rumah kecuali ada keperluan mendesak.

Rumah Pinggir Kali

Tempat tinggal dimana saya ngontrak sekarang sebelumnya adalah milik seorang Tionghoa dimana terletak di komplek perumahan paling ujung yang berbatasan dengan sungai dan persawahan namun ditutup tembok jadi tidak terlihat langsung.

Ada yang bilang kita tinggal di Kuningan “Riverside”. Ini Kuningan Kanigoro Blitar ya bukan kuningan Jakarta atau Kuningan yang dekat Cirebon (guyon-guyon jika ada yang bertanya) takutnya salah paham jika keliru mengingat daerah Kuningan ternyata ada kemiripan nama.

Meski jauh dari mana-mana namun yang membuat saya betah di sini adalah cara pengelolaan sampah yang seminimal mungkin bisa dikurangi terutama saya yang habis pindahan tentu banyak barang baik itu kertas, pakaian atau benda lainnya yang harus dibuang. Tempat sampah disini juga terbuat dari bahan daur ulang bekas ban motor atau mobil.

1537837193659-1

Ketika awal datang saya sangat senang dengan adanya tiga kamar di belakang dan halaman belakang yang luas dimana di dalamnya ada pohon mangga, jeruk nipis, belimbing dan pandan.  Sebenarnya saya belanja suka bawa tas belanjaan sendiri tapi kalau ada bakul “ethek” (tukang sayur keliling) disini semua diwadahib plastik kecil-kecil, kata mas arif jangan dibuang karena plastik bekas itu bisa buat brongsong (bungkus) buah mangga.

Dan sisanya sampah kertas bekas, nota-nota, tiket, struk belanja, buku bekas, koran bekas hingga daun-daun kering yang mengotori halaman depan dan belakang serta ranting di bakar di tempat pembakaran sampah di belakang rumah.

Jadi betah di rumah dan malas kemana-mana, karena waktu sehari tidak cukup tahu-tahu sudah maghrib dan masih banyak pekerjaan rumah tangga belum seleasai hingga kadang lupa mengetik dan setor tulisan.

Kuningan, Kanigoro 25 September 2018

 

Sebenarnya saya membaca Majalah National Geographic sudah lama, biasanya saya baca di Perpustakaan Kemendikbud Senayan Jakarta. Banyak wawasan baru setiap edisi, namun belum pernah saya ceritakan di blog ini. Baru pada bulan ini saya bikin sedikit review Majalah edisi bulan Juni yang mengangkat tema tentang Bumi Atau Plastik, Ancaman dan Asa Plastik di Indonesia. Namun, kali ini saya membaca ulang di koleksi umum perpustakaan proklamator Bung Karno Blitar.

Saya juga sudah membaca edisi Bulan Juli, namun karena saya sudah merasakan dan melihat bagaimana sampah di pinggir pantai beberapa waktu yang lalu, maka tidak ada salahya atau semoga belum terlambat kita mengantisipasi sejak dini timbunan sampah plastik yang ada di daratan maupan pinggir laut (pantai) bahkan dalam laut.

Konsistensi Tanpa Sampul Plastik

Satu hal yang saya suka dari majalah ini adalah mencopot sampul plastik yang ada di setiap majalah baru. Wah menarik juga ya, dimana hal paling sulit dalam hidup kita adalah konsisten antara tulisan dan perbuatan. Pemberitahuan ini dimuat semacam pengumuman sederhana namun resikonya besar.

Karena apa, jika kita membeli buku atau majalah baru tanpa sampul plastik terkadang kita berpikir bukan buku atau majalah baru karena sudah tidak ada plastiknya 😊. Ya, semoga upaya ini menjadi kepedulian bagi kita semua untuk memperhatikan plastik atau sampah terdekat dalam kehidupan kita.

Ada banyak foto menarik seperti biasa, investigasi majalah ini berkaitan dengan semakin sulitnya kita menghentikan kebiasaan atau ketidakberdayaan terhadap apapun yang kita minum, makan, pakai dan tempat tinggal.

Delapan Juta Ton Plastik Berakhir di Laut dan Spesies Laut Terluka

Di halaman depan sudut kiri ada semacam penekanan kata terhadap jumlah sampah plastik dimana setiap tahun delapan juta ton plastik berakhir di laut. Itu baru yang terlihat di permukaan.

Dari halama 54 sampai halaman 101, laporan utama plastik ini membuat kita berkali-kali mengernyitkan dahi, tertegun, terbelalak melihat foto-foto, dan sedikit lega dengan adanya solusi untuk mengurangi.

Tulisan Laura Parker dan Fotografer Randy Olson dari National Geographic membuka tulisan dengan data statistik yang akurat tentang plastik.

Dia menulis bahwa sudah 150 tahun kita menciptakan materi yang ringan, kuat dan murah. Lebih dari 40% diantaranya hanya digunakan satu kali, Kini matero mukjizat ini membantu jantung berdenyut dan pesawat melesat dan delapan juta ton tiba di laut seperti yang saya tulis di atas.

Narasi yang kuat tentang bahaya plastik dan foto-foto sampah plastik di laut sangat menarik namun tidak asyik. Kenapa dikatakan demikian, karena kebiasaan buruk kita yang membuang barang plastik yang membahayakan biota laut.

20180728_091621
Sebelum Laut Berubah Menjadi Sup Plastik

Pada halaman 60 ditulis jika sampah plastik menewaskan jutaan satwa laut setiap tahun. Diketahui hampir 700 spesies, termasuk yang terancam punah karena dampaknya.Sebagian biota laut cedera dengan gamblang-tercekik jala terbengkalai atau cincin plastik minuman kaleng. Mungkin banyak lagi yang cedera tanpa terlihat.

“Spesies laut segala ukuran, dari zooplankton hingga paus, sekarang makan mikroplastik, serpih yang besarnya tak sampai lima meter,”

Ted Siegler, ahli ekonomi sumber daya daya dari Vermont mengatakan jika ini bukan masalah yang tidak diketahui solusinya.

“Kita tahu cara memungut sampah, cara membuang, cara mendaur ulang. Masalah utamanya adalah soal membangun lembaga dan sistem dan sistem, katanya idealnya sebelum laut berubah menjadi sup plastik encer yang mustahil dibenahi berabad-abad.

20180728_091610

Mendengar kata sup plastik, membuat saya menelan ludah. Membayangkan apa yang tejadi jika kita membiarkan ini berlangsung tanpa kesadaran dan pencegahan yang radikal.

Tutup botol minuman kemanasan dibuat dengan ilustrasi seperti gambar gurita plastik dengan spesies laut yang menghuni tutup botol. Seperti tutup botol minuman ringan dalam perut anak albatros di Midway Atoll, cacing keel yang hidup di tutup botol air minum, dll.

20180728_092521

 

Solusi untuk menghentikan

Pembahasan tentang plastik biodegrable dan Norwegia yang berhasil mendaur ulang 97%, produk yang bisa membantu mengurangi plastik, serta enam hal yang bisa anda dilakukan untuk menguranginya (98-101).

20180728_092658

Produk yang bisa membantu mengurangi limbah plastik juga disampaikan seperti sikat gigi dengan kepala sikat yang bisa diganti, pembungkus makanan berbahan dasar lilin lebah dan kapas, sedotan dari logam yang bisa dipakai ulang, dan cincin pengikat minuman yang dibuat dari kompos limbah pembuatan minuman berkaleng.

Lalu apa saja enam hal itu, pertama tanpa kantong plastik, tanpa sedotan, lupakan botol plastik, hindari kemasan plastik, daur ulang yang bisa, dan jangan buang sampah sembarangan.

Dilema Mengkampayekan Lingkungan Bersih dengan Penetrasi Kapital

Saya sendiri termasuk yang sulit konsisten dengan sampah plastik karena kondisi dan keadaan. Tidak hanya sampah plastik, saya juga gelisah dengan sampah elektronik dan teknologi seperti modem bekas, usb bekas, kaset bekas, baterei bekas, colokan bekas, casing bekas dan komputer dan laptop bekas. Dimana di masa yang akan datang pasti akan semakin menumpuk dan tidak tahu bagaimana cara mengurainya.

20180728_092717

Berbicara isu lingkungan kita juga harus memikirkan nasib industri plastik, pekerja pabrik plastik dan makanan yang dibungkus plastik dll. Menjadi dilematis memang ketika kepedulian lingkungan berlawanan dengan keuntungan kapital dan gaya hidup yang instan dan praktis.

Tapi bagaimanapun kesadaran dan lingkungan dan alam yang bersih itu lebih penting daripada uang banyak kita sakit-sakitan. Karena air yang kita minum tercemar hingga harus minum air kemasan dibungkus plastik, tanah yang kita tanami sudah tereduksi sampah yang tidak terurai, ikan yang kita makan terancam mengandung mikroplastik dan efek lainnya yang menimbulkan penyakit berbahaya dan akan mengancam bumi manusia dan isinya. Maka tidak aneh ya jika orang yang dipenjara atau orang tua kita dulu minum air keran.

Sebenarnya apa yang saya baca di majalah National Geographic kali ini baru sedikit saya sampaikan, lebih baik anda dan keluarga,sahabat, teman kerja atau semua orang membaca majalah ini. Bisa membeli, atau membacanya sambil berkunjung ke perpustakaan.

Koleksi umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar
28 Juli 2018 Pukul 14.50

Resensi Buku: Sapiens

Riwayat Singkat Umat Manusia

Penulis: Yuval Noah Harari

Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari Palar

Penyunting: Andya Primanda

Penerbit: KPG, 2017

Edisi : Cetakan ke-2 Oktober 2017

Buku “Sapiens” yang saya baca ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuntaskannya. Karena menyangkut sejarah kehidupan manusia yang  terdiri dari tiga revolusi. Pertama, revolusi kognitif, kedua revolusi pertanian, dan ketiga revolusi sains. Dimana pada saat peralihan dari revolusi pertanian ke sains, bahkan ada satu bab tersendiri tentang pemersatuan umat manusia.

Namun, perlu dijelaskan bahwa, Homo Sapiens yang ada di dalam buku ini bukan berdasarkan teori biologis, tapi teori Darwin. Dimana manusia pada awal di temukan, Homo Sapiens atau disebut spesies Sapiens (bijak) dalam genus homo (manusia), hlm 5.

Revolusi Kognitif dan Revolusi Pertanian

Homo Sapiens merupakan anggota satu famili yang merupakan salah satu rahasia paling terkunci rapat dalam sejarah. Dimana Homo Sapiens lebih suka memandang dirinya sendiri sebagai berbeda dari hewan.Kerabat-kerabat terdekat Homo Sapiens adalah simpanse, gorila dan orang utan. Simpanse adalah kerabat kita yang paling dekat.

Enam juta tahun yang lalu, satu kera betina memiliki dua putri, yang satu menjadi nenek moyang semua simpanse yang satu lagi adalah nenek moyang kita.

Guna menuntaskan kontroversi ini dan memahami perihal seksualitas, masyarakat dan politik kita, kita perlu belajar belajar tentang kehidupan leluhur kita, mengkaji bagaimana sapiens hidup antara revolusi kognitif pada 70.000 tahun silam dan awal mula revolusi pertanian sekitar 12.000 tahun silam.

Homo Sapiens hidup pada zaman dahulu kala dengan para pemburu dan pengumpul purba yang hidup di daerah yang lebih subur daripada Kalahari untuk mendapatkan bahan makanan dan bahan mentah.

Ditambah lagi, mereka menikmati beban pekerjaan rumah yang lebih ringan. Mereka tidak punya piring untuk dicuci, karpet untuk dibersihkan, lantai untuk di pel,popok untuk diganti, maupun tagihan untuk dibayar.

Para cendekiawan pernah percaya bahwa pertanian menyebar dari satu titik asal tunggal di Timur Tengah ke empat penjuru dunia.Orang-orang di Amerika Tengah mendomestikasi jagung dan buncis, orang Amerika Selatan membudidayakan kentang dan Ilama, revolusi pertanian pertama di Tiongkok mendomestikasi padi, millet dan babi.

Di daerah lain misalnya Amerika Utara bosan menyisir sesemakan demi mencari labu liar yang bisa di makan, orang Papua menjinakkan tebu dan pisang, sementara petani Afrika Barat pertama menjadi millet Afrika, padi Afrika, sorgum, dan gandum sesuai dengan kebutuhan mereka. Dari titik fokus awal ini, pertanian menyebar ke seluruh dunia.

Revolusi pertanian menjadikan masa depan jauh lebih penting daripada sebelumnya. Para petani harus selalu mengingat masa depan, bangun pagi-pagi buta untuk bekerja seharian di ladang karena mengkhawatirkan siklus musim produksi.

Pemersatuan Umat Manusia

Meskipun  penulis Yuval Noah Harari adalah  seorang Yahudi, beliau orang yang mengakui keragaman. Bahkan pada bagian tiga yang menjelaskan tentang Pemersatuan bangsa, beliau menampilkan gambar yang sangat indah tentang jamaah haji mengelilingi Ka’bah di Mekkah.

Bahkan hukum tentang agama sendiri bahas dalam satu bab di bagian tiga (248-256), juga bagaimana orang memandang sepakbola sebagai agama.

Revolusi Sains dan Kebahagiaan Semu

Dalam bagian yang membahas Revolusi Sains ini ada tujuh bab yaitu penemuan ketidak tahuan, perkawinan sains dan imperium, kredo kapitalis, roda-roda industri, revolusi perizinan, dan mereka pun hidup bahagia selamanya, tamatnya homo sapiens.

Orang yang terlalu banyak mengkonsumsi teknologi akan mengalami kebahagiaan semu karena menderita keterasingan dan kekosongan makna meskipun mereka makmur.

Dan barangkali leluhur kita yang tidak punya banyak hal justru menemukan banyak kepuasan dalam masyarakat, agama dan kedekatan dengan alam.

Uang, Penyakit dan Kebahagiaan

Orang yang kaya, baik karena membuat aplikasi teknologi yang memiliki jutaan pengguna dan penumpang, biasanya ia akan memiliki banyak uang. Kalau punya uang atau harta melimpah ia ingin makan enak dan bermalas-malasan. Membeli suatu yang mewah dengan cara mengkredit atau membeli makanan sembarangan yang penting enak.

Apa hubungan antara uang, makanan tidak bergizi (kemproh/jawa, geuleuh/sunda) yang biasa dibeli oleh orang kelebihan uang. Maka yang timbul adalah serangan penyakit seperti batuk dan jantung karena rokok dan makanan goreng-gorengan, sakit kanker karena makanan bermicin, sulit buang air besar karena kurang serat dan menjadi pemalas akibat jarang olahraga dan terlalu sering membeli fastfood dan memesan makanan lainnya lewat online.

Ada satu kesimpulan menarik tentang apa makna uang. Uang memang mendatangkan kebahagiaan, namun hanya sampai pada titik tertentu, dan selepas titik itu uang tidak punya makna (halaman 456).

Noah Harari juga menjelaskan jika sudah sampai pada kesimpulan di atas, terlalu banyak uang, malas-malasan, menimbulkan penyakit, maka yang ada adalah tergerusnya kebahagiaan. Tiada ada orang yang punya uang banyak tapi setiap hari mengeluh sakit, di rawat, dioperasi, tidak bisa jalan dan di hari tua sakit-sakitan.

Belum lagi orang yang terlalu banyak uang merusak lingkungan. Membeli makan dan tidak menghabiskan, bahkan sering membuang-buang makanan di tempat sampah, padahal di benua lain orang kelaparan. Apalagi yang merusak ekologis seperti menambang bahan bakar dan fosil yang seharusnya terpendam lama di habiskan orang-orang yang serakah untuk memenuhi permintaan pasar mobil atau kendaraan bermotor dan pemborosan listrik, seperti minyak bumi dan batubara.

Orang yang memiliki uang dan membeli kendaraan yang diisi oleh sumber daya yang merusak bumi, maka selamanya ia akan merasa diri paling kaya dan paling gagah.

Karena semua yang ada di dunia ini dia hanya melihat dari penampilan semata seperti mobil mewah, handphone mahal dan hidup serba ada. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah merusak alam dan lingkungan ekologis terbesar kita yaitu bumi dan seisinya.

Bahkan gejolak ekologis itu mungkin membahayakan kelestarian kita (Homo Sapiens) sendiri. Pemanasan global, naiknya permukaan laut dan pencemaran yang tersebar luas dapat menjadikan bumi kurang bersahabat bagi kita sendiri dan akibatnya pada masa depan mungkin terjadi lomba tiada akhir antara upaya manusia dan bencana alam yang dipicu manusia (420).

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus dan penerjemahannya juga sangat menarik dan cerdas. Kelebihan buku ini ada pada kualitas isi dan pemaparan yang jujur, gamblang dan mengejutkan.

Namun ada satu hal yang mestinya harus dipertanyakan tentang teori singularitas dan tamatnya Homo Sapiens berkaitan dengan berakhirnya kehidupan atau biasa kita sebut hari kiamat (dalam agama Islam).

Namun, sebenarnya ada satu pesan mulia dari buku ini, dimana hari akhir kehidupan (kiamat) bisa kita cegah dengan cara kembali ke bagian satu yaitu kembali ke zaman revolusi pertanian dan mengurangi menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan transportasi massal dan membiarkan jalan-jalan tol yang baru di bangun itu untuk distribusi bahan baku dan hasil industri dari pelosok tanah air agar merata, sehingga bahan yang sulit di daerah lain bisa disalurkan lewat truk dan lewat perjalanan laut. Jangan sampai ada mobil masuk ke kapal laut ya, apalagi mobil kreditan, karena akan membebani kapal dan tenggelam sehingga kalau tenggelam ke dasar laut yang hancur adalah biota laut dan kasihan nelayan, ikan mereka keracunan barang kemewahan orang-orang sebrang lautan yang serakah dan ingin punya mobil mewah padahal merusak lingkungan, alam, dan membebani lautan.

Jika bumi, lautan, udara semua di isi oleh keserakahan maka yang ada adalah ketidak seimbangan seperti kebakaran, longsor dan banjir meski tidak ada hujan, gempa alam di berbagai wilayah dan seperti yang kita lihat sekarang banyak terjadi kejadian kriminal karena orang kesulitan untuk membayar cicilan.

Itu saja mungkin yang bisa saya sampaikan dalam buku ini, anda akan rugi jika tidak membacanya. Akan tetapi karena buku ini mahal, maka sebaiknya kita sekarang lebih baik berolahraga, banyak jalan dan naik transportasi massal.

Kurangi makan-makan dan lebih baik kita menanam seperti Homo Sapien dulu ada dan senang berkelompok bersama untuk menanam aneka tanaman yang bisa bermanfaat untuk anak cucu kita, bukan berkumpul sambil makan-makan enak dan menghabiskan waktu percuma dan tidak menghabiskan makanan.

Surabaya, 15 Juli 2018

Pukul 11.27 WIB

Aaron Ashab dan Hidup Sesuka Hati

Posted: April 22, 2018 by Eva in Artikel, Seni
Tags: ,

Sebenarnya saya sudah lama mendengar lagu ini dari winamp. Lagunya rancak menyenangkan dengan iringan musik ceria seperti isi lagu.

Sambil menunggu akhir pekan habis tidak ada salahnya anda mendengarkan lagu karya penyanyi muda Aaron Ashab ini dengan santai dan hati gembira.

Cocok buat kamu yang cuek dan tidak begitu peduli atau memperhatikan pendapat orang lain hehehe…😅😊

Silahkan buka lagu ini di website youtube.com ya, judulnya Aaron Ashab “Sesuka Hati”.

 

Beberapa waktu yang lalu seorang teman mengirim saya paket lewat pos, tepatnya hari jum’at 13 April 2018. Saya kaget tiba-tiba ada sms notifikasi lewat sms lengkap dengan nomor resi yang bisa langsung terhubung ke website resmi kantor pos. Berikut contoh notifikasi lewat sms.

2018-04-16 16.47.38

Sekarang Pos Indonesia semakin maju dan mengikuti perkembangan digital. Bahkan sebelum mengirim kita bisa cek dulu di website biaya pengiriman. Lebih mudah seperti hendak membeli tiket ketika bepergian.

Karena sekarang ini saya jarang memaketkan barang, wah saya senang dengan perkembangan kantor pos di tengah gencarnya persaingan bisnis paket pengiriman / logistik di era belanja online.

Sore ini paket sampai dari kantor pos, seorang petugas pos dari kantor pos Bojongsari Sawangan datang dan mengantarkan paketnya dengan lengkap dan rapi. Setengah karung pengiriman masih menjadi bebannya hari ini.

Terimakasih Pak Pos…
16 April 2018 Pukul 15:47

Sangat menarik mencermati kehidupan nelayan di pesisir pantai utara Jawa. Tiga terasa tiga tahun masa-masa indah itu berlalu.

Profesi nelayan sebenarnya berkasta-kasta. Ada nelayan juragan atau pemilik kapal, nahkoda, dan nelayan anak buah kapal (ABK) . Begitu juga kapal yang dipakai untuk berlayar ada yang ada kapal yang 6GT – 30 GT bahkan ada yang diatas 30 GT – 300 GT yaitu kapal besar.

Ketika hendak berlayar pun, pemilik kapal dan nahkoda harus mengurus surat izin yang  dilengkapi, menyiapkan perbekalan, peralatan seperti jaring,dan es agar ikan awet disimpan di dalam kapal. Berbeda dengan nelayan kecil yang memakai perahu dan sehari langsung pulang, nelayan yang berlayar di atas kapal 30 GT harus meninggalkan anak istri cukup lama, hitungan minggu dan bulan.

Jenis jaring yang dipakai untuk menangkap ikan pun bermacam-macam. Ada jaring nilon, ada juga jaring lawek (kain). Bagi nelayan menangkap ikan memakai jaring sangat melelahkan karena harus memiliki tangan yang kuat.

Nelayan pantai utara Jawa di mana cuaca bagus seperti bulan ini berlayar jauh hingga menuju  tiga zona daerah yang kaya ikan yaitu Natuna, Karimata dan Selat Makassar.

Ketika mereka pulang berlayar pun mereka tidak bisa langsung pulang ke rumah. Sesampainya di muara tempat pelelangan ikan, mereka harus antri melewati empat tahapan yaitu timbang, lelang, packing dan administrasi.

Usai proses administrasi ini lah ikan hasil tangkapan langsung di distribusikan kepada para penjual ikan baik skala besar maupun kecil yang sudah menunggu di pelabuhan. Setelah itu, barulah para nelayan mendapat bayaran dari juragan pemilik kapal.

Oleh karena resiko berlayar sangat besar dan banyak keperluan untuk berlayar maka koperasi nelayan mutlak diperlukan. Begitu juga keselamatan dimana sekarang asuransi nelayan pun sudah dilaksanakan.

Hari ini, 6 April 2018, Semoga saya belum terlambat mengucapkan Selamat Hari Nelayan, kepada para nelayan yang mungkin malam ini sedang berlayar, bertarung dengan ombak dan cuaca, menjaring ikan sampai lautan terdalam. Juga kepada nelayan yang mungkin saat ini dalam perjalanan pulang dari berlayar dan tidak sabar menunggu anak istri di rumah yang lama ditinggal menjaring ikan.

6 April 2018, pukul 22:08

Nelayan Turun dari Kapal

Nelayan Turun dari Kapal

Sudah 11 tahun tinggal di Pondok Petir Depok, berbatasan dengan Pamulang, tepatnya sejak Januari 2007 seringkali di rumah ada barang-barang yang rusak. Entah itu karena faktor alam seperti petir atau karena memang alat rumahtangga sudah aus spare partnya.

Baik barang elektronik seperti AC, TV, kulkas dan mesin cuci. Handphone bisa sinyalnya kurang, lcdnya pecah atau bahkan mati total, serta laptop atau komputer yang sudah tidak bisa digunakan.

Dari pengalaman yang saya alami ada beberapa tempat service yang bisa direkomendasikan atau jadi rujukan, karena saya pernah mencobanya. Berikut saya tulis beberapa, mungkin ada yang sudah tahu, ada juga yang tidak.

1. Servis AC, kulkas, mesin cuci dll
Nama tempat servisnya adalah Makmur Service yang berada disebelah kiri dekat kampus Universitas Pamulang (Unpam). Kalau mau service disana harus janjian sehari sebelumnya karena antri. Berikut no telfonnya:0217431058

2. Service HP, tablet, android, dll.
Nama tempat servicenya Bintang Seluler. Dulu berada di dekat pertigaan kelurahan Reni, sekarang pindah ke sebelum pangkalan ojek (kalau dari arah gaplek), ada gang kecil dan plang tempat servis. No Hp:628567123542

3.Service komputer, laptop, dan sejenisnya.
Nama tempat service komputer ini adalah Point Komputer berada di dekat bekas Bank BRI di dekat bunderan Unpam komplek pamulang permai. Sangat cepat penyelesaian masalah komputer kita disini karena memiki tenaga ahli yang berpengalaman. Pernah ganti layar laptop karena pecah, masuk siang sore jam 5 sudah ada sparepartnya. No telfonya ini 021.7418450

4. Service televisi, DVD, tape recorder, dan sejenisnya.
Nama tempat servicenya saya lupa tapi dekat rumah berada di dekat Indomaret Suryakencana yang dekat Reni Jaya, samping foto kopi. Pernah tv saya kena petir di service cepat di sini. No telfnya jg tidak punya lebih baik datang langsung pingir jalan kelihatan.

5. Service alat rumah tangga seperti magicom rusak, blender, kipas angin dll.
Nama tempat servicenya adalah 33A Service
berada di jalan suryakencana seberang toko pakaian sebrang klinik mitra sehat. No hpnya adalah: 081808302412

6. Service Tas, biasanya jika tas kita rusak resletingnya, atau bernoda dan talinya lepas ada dua tempat service tapi saya lupa namanya, pertama di jl. H.Nawi sebrang Amec, yang kedua di Witanaharja sebelum danau.

Buat anda yang berada di Pamulang Barat, Reni Jaya, Pondok Petir, Bojongsari dan sekitarnya semoga bisa membantu ya. Ini bukan promosi hanya sekedar berbagi pengalaman. Mohon maaf jika ada tempat service yang tidak berkenan, takut melanggar undang-undang persaingan usaha (sok serius ☺) mungkin nanti bisa diupdate disini dan ditambah referensinya.

Semoga bermanfaat…

Pamulang 30 Maret 2018
Pukul 22.10 WIB