Archive for the ‘Artikel’ Category

Dalam dua tahun ini saya kehilangan dua orang yang dekat dengan saya dikarenakan penyakit kanker yang sangat ganas merenggut nyawa. Mereka dan keluarga enggan disebut nama lengkap, karena satu atau dua hal, jadi saya memakai inisial.

Dari mulai Kanker Usus Besar yang diderita kakak kelas waktu kuliah namanya (MSR) yang meninggal dunia di usia 40 tahun, bekerja sebagai PNS, awalnya tinggal di Cempaka Putih, namun setelah selama 1,5 tahun bergelut dengan kanker usus besar di rawat di Purbalingga.

Kedua, adalah teman SMA waktu Jalan Kapas Semaki, Jogja terkena Kanker Getah Bening,  (NHT), meninggal saat usia 37 th. Saya pernah memuat kisah beliau beberapa waktu lalu di sini.
NHT meninggal karena kanker getah bening, Ibu rumah tangga yang setia mendampingi suaminya yang bekerja di Kemendikbud, tinggal di Depok. Hanya 2,5 bulan menderita penyakit, dia akhirnya dibawa ke Bantul Jogja, di rawat di RS. Sardjito. Sungguh NHT sebaya sama aku saat wafat meninggalkan suami dan kedua anaknya yang masih usia Sekolah Dasar. Kini anaknya dititipkan di rumah mertuanya di Semin Gunung Kidul.


Aneka Pemicu kanker

Mari kita mengenali lebih dekat, beberapa gejala ketiga jenis kanker itu.  Apa yang saya ceritakan mungkin bukan persfektif ilmu kedokteran, karena saya bukan dokter, akan tetapi adalah dari cerita, berbasis pengalaman dan pengamatan keluarga terdekat yang tahu betul, kenapa mereka menderita kanker.

Dari cerita kerabat dan sahabat yang menemani selama almarhum dan almarhumah sakit, ada banyak pemicu kanker ketiga orang tersebut.

Pertama, (MSR) yang terkena Kanker Usus Besar, menurut kakaknya Kai Mei, ada tiga macam penyebab utama MSR terkena kanker usus besar. Pertama adalah makanan yang dikonsumi selama ini, yaitu suka dengan makanan yang penyajiannya cepat, enak. Kedua adalah pola makannya yang tidak teratur. Makan jika pas lapar saja, kadang tidak sarapan, makan siang terlambat. Dan yang ketiga ini mungkin banyak di alami kaum urban di ibukota, yaitu gaya hidup yang tidak teratur, dimana sering lembur dan menghabiskan waktu banyak, untuk nongkrong sampai larut malam.

Menurut Kak Mei, ketiga hal itu menjadi pemicu kenapa adiknya MSR terkena usus besar sampai meninggal dunia. Selama dirawat oleh keluarga, perawatan kanker usus besar ini ekstra hati-hati karena menjalar sampai saluran pembuangan, sehingga badan MSR tergerus kurus dan harus susah payah jika buang air besar.

Kedua, (NHT) Kanker Getah Bening ini ceritanya sangat panjang dan mengharukan. Awalnya, Sigit suaminya bercerita jika saat sisiran, NHT bertanya, kok leherku gatal ya, lalu dia garuk. Makin lama kok setelah digaruk, muncul benjol kecil yang empuk jika diraba, tampak kenyal dan berair. Setelah dirasa mengganggu tidak lama kemudian segera di periksa dan ternyata dia sudah terkena kanker getah bening stadium tiga. Dari situlah, Sigit sekeluarga boyongan dari Depok, pindah ke Jogjakarta dan rutin menjalani perawatan di RS. Sardjito.

Ada banyak pengalaman dari Mas Sigit ketika dia menceritakan pengalaman NHT 2,5 bulan kemotheraphi. Sungguh terharu dan menyesakkan dada, mengingat kita masih sebaya, disertai foto-foto saat masih ada.

“Nggih, bojo kulo niku gejalanipun nggih boten onten, tiba tiba bibar kerikan onten benjolan cilik, trus periksa ke dokter umum. niku menjelang puasa. nur taksih sehat puasa sampai hampir 3 minggu, terus mudik tgl 21 juni. tgl 22 periksa, disuruh operasi, diagnosa penyumbatan kelenjar ludah, trus ambil massa 0,5cc. tgl 5 juli dr hasil PA rs bethesda didiagnosa NHL (LIMPOMA NON HODGKIN). Kami rembukan karna disuruh kemo, saya pindahin rujukan askes/bpjs istri ke Bantul. thp 1 kemo tgl 25 juli, hasil lab dari RS sardjito keluar utk pastikan penyakitnya. thp 2 tgl 15 agustus, tp ngedrop mk dirawat tgl 15 tsb, tgl 16 kemonya, tgl 17 September pulang” ujar Mas Sigit menjelaskan.

Sampai saat meninggalpun, Mas Sigit tidak tahu apa penyebab kanker getah bening. Sebelum sel kanker menyerang, tidak ada gejala apa-apa tiba-tiba muncul, pemicu dari kebiasaan makan juga kecil atau jarang. Namun ada satu hal yang ia katakan dan saya berusaha mengingatnya untuk menjadi pelajaran di masa depan. Berikut saya kutip.

 

Kepada MSR dan NHT  yang sudah meninggalkan kami semua terlebih dahulu, semoga diterima amal ibadahnya di Sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kami memetik hikmah dari semua ini. Menuntun kami agar senantiasa lebih berhati-hati dan bisa mengantisipasi serta menghindari penyakit kanker yang kian merajalela.

Depok, Kamis 29 September 2018
Pukul 14.33

Advertisements

Gencarnya promo perjalanan (travelling) baik dari dalam negeri maupun luar negeri, memberi keuntungan sendiri bagi para pengrajin industri kecil di beberapa pelosok daerah.

Para pelaku industri kecil membuat aneka souvenir yang beragam dan memiliki ciri khas tersendiri yang tidak ada di daerah atau negara lain.

Salah satu yang menarik saya belakangan adalah para pedagang souvenir yang langka tapi unik dan cantik.
Keterbatasan suatu daerah untuk membuat bahan baku kerajinan tangan (cinderamata) atau souvenir tidak membuat mereka kehabisan akal.

Contohnya adalah souvenir lukisan dari kulit pohon yang berasal dari Pulau Fiji, suatu Pulau kecil dekat Selandia Baru.

Waktu melihat pertama kali wah keren ya, melukis di kulit pohon tanpa mblobor (tak beraturan) atau tinta yang tembus acak-acakan mengingat kulit pohon itu sangat tipis dan rapuh.

Selama ini di beberapa daerah melimpah ruah bahan dasar untuk melukis.Dari mulai kain, kanvas, kulit diolah sedemikian rupa, namun Pulau Fiji yang terpencil ini justru lebih kreatif, membuat lukisan dari kulit pohon, terkesan artistik namun sangat unik, jarang ada yang punya.

Ternyata kreasi cenderamata berbahan dasar kulit pohon ini tidak hanya ada di Pulau Fiji, kini Papua pun memiliki kreasi dengan bahan dasar sama.

Bedanya di Papua, kulit pohon dibuat untuk membuat tas tangan atau sejenis dompet yang natural. Tanpa cat dan polesan, hanya ada sedikit bordir komputer benang bertuliskan dan berlogo Papua.

Cendramata ini tampak cantik dan alami jika dipakai untuk sehari-hari atau belanja. Lengkap dengan beberapa wadah yang diresleting yang bisa menyimpan kartu, uang, hingga smartphone. Ringkas, masuk semua.

Ketika melihat dua souvenir berbahan kulit pohon ini saya sungguh penasaran seperti apa ya proses pembuatannya. Mengingat, proses pengambilan kulit pohon itu rumit, belum setelah itu proses produksi yang tentu dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

Saya salut sama kreativitas tanpa batas para pengrajin kulit pohon baik di Pulau Fiji maupun Papua, atau mungkin di daerah lainnya. Meskipun ada kelemahan dimana kedua barang itu tidak boleh kena basah dan hujan, karena akan mengkerut bahkan rusak, semoga bahan dasarnya tidak merusak pohon atau lingkungan.

Adakalanya kreativitas muncul justru saat kita dalam kondisi serba terbatas. Terimakasih buat yang sudah memberiku oleh-oleh lukisan dari Pulau Fiji dan Dompet dari Papua. Tabik….

Pamulang 27 Maret 2018
Pukul 17:21

Anda pasti sering menggunakan Google ketika ingin mencari informasi di berbagai bidang kehidupan. Enakkah jika ada sebuah analog Google khususnya untuk pencarian loker?

Informasi terbaru tentang semua loker di 64+ negara di seluruh dunia dapat Anda temukan pada Jooble, agregator lowongan kerja internasional.

Keuntungannya adalah bahwa semua postingan terdapat pada sumber yang sama. Anda tidak perlu menghabiskan waktu untuk browse lama atau mencari informasi di berbagai situs web kecil.

Dengan Jooble, Anda cukup memasukkan judul posisi serta lokasi yang diinginkan untuk mendapatkan akses ke ribuan lowongan aktual di seluruh dunia. Selain itu, mereka yang tinggal di kota-kota kecil, dapat memakai “pencarian lanjutan” untuk mencari peluang kerja di berbagai provinsi dan daerah dalam satu detik.

Satu situs web – semua loker! | One site – all jobs!

Jooble

Sekedar berbagi teman-teman adakah yang pernah mengalami pakaian baik baju atau celana kita kena goresan pena atau bercak tinta? saya akan berbagi sedikit pengalaman yang saya alami hari ini.

Celana saya kena bercak tinta merah dan garis pena warna biru di bagian kanan. Sangat mengganggu dan jika dipakai kelihatan tampak kotor.

Saya berusaha bertanya baik kepada kerabat, sahabat dan mbah google, hingga akhirnya saya menemukan cara sederhana dari berbagai penemuan tersebut.

1. Rendam bagian celana yang kena tinta dengan sabun cuci piring.
2. Setelah itu sikat dengan hati-hati, goresan pena sudah menghilang tapi bercak tinta masih sulit.
3.Bagian bercak tinta yang mengembang, taburi dengan baking soda, yang biasa buat kue, diamkan agak lama (setengah jam) hingga akhirnya nodanya perlahan pudar dan menghilang
4. Sikat halus dan noda pun hanya tinggal sedikit, setelah itu kucek-kucek pakai air sabun sedikit, lalu nodanya menghilang, bilas dan bersihkan.
5. Usai dibersihkan, keringkan di mesin cuci lalu jemur pakaian atau celana anda dan tampak bersih seperti sediakala.

Selamat mencoba yaa….

Selamat Hari Raya Nyepi

Posted: March 17, 2018 by Eva in Artikel
Tags:

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi Caka 1940, kepada semua umat Hindu yang ada di Indonesia dan di belahan dunia lain.

Semoga bisa diperingati dengan syahdu dan penuh makna.

Salam…

Selama saya tinggal di Pondok Petir, Depok, berbatasan dengan Pamulang, belum sekalipun saya main ke Kabupaten Lebak. Padahal tempat tinggal saya  dekat Tangerang Selatan, termasuk dekat. Baru pada bulan Februari lalu saya berkunjung ke  Kabupaten Lebak, naik KRL (Commuter) dari Sudimara ke Stasiun Rangkas Bitung. Saya berangkat pagi-pagi sekali  dan ternyata memang  jauh sekali perjalanan dari Sudimara ke Rangkas Bitung lebih dari satu jam perjalanan.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika anda bersama keluarga mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah di Provinsi Banten yang terkenal dengan penduduk aslinya Suku Baduy. Saya pun tidak menyesal berkunjung ke tempat ini, karena selain tempatnya mudah dijangkau (tidak jauh dari stasiun), datang ke sini juga anda (bebeunangan, bahasa Sunda-ed) artinya dapat banyak.

Kenapa dikatakan demikian, karena ada tiga tempat yang  anda bisa kunjungan yang terpusat di satu lokasi. Sehingga anda betah berlama-lama di sini. Pertama, mengunjungi perpustakaan Saidjah Adinda, setelah membaca koleksi buku, kemudian menonton film sejarah, kedua, berkunjung ke Museum Multatuli yang baru saja diresmikan dan sebelum pulang anda bisa mengunjungi cara pembuatan batik lebak yang berada persis di belakang museum, proses produksi, penjahitan sampai penjualan. Tidak ada salahnya, tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata anda bersama teman, kerabat, atau keluarga, baik yang berada di Jakarta ataupun pinggiran ibukota.

Perpustakaan Saidjah Adinda

Moda transportasi untuk menempuh ke tiga lokasi ini lokasi  bisa naik apa saja. Dari jalan kaki, naik ojek, hingga angkutan kota. Para pengemudi beragam angkutan disana sudah hapal. Bilang saja nama lokasi yang berada di dekat alun-alun, persisnya di Jl.Alun-alun Timur No.6 Rangkas Bitung, Lebak.

Pertama yang saya kunjungi adalah Perpustakaan Saidjah Adinda. Desain arsitektur perpustakaan ini unik, dengan deretan buku yang beragam. Ada ratusan koleksi buku milik perpustakaan Saidjah Adinda ini, dari sejarah, agama, politik, pertanian, sosial, dan buku bacaan anak-anak.

Berikut beberapa koleksi buku Perpus Saidjah Adinda. Pak Ali Rahmat, meminjami saya buku  bersampul kuning berjudul Max Havelaar.  Dan saya pun membacanya meski tidak sampai selesai.

Saat saya berkunjung, koleksi majalah dan koran yang berada di lantai dua ramai dengan anak-anak yang masih usia SD yang bergiliran juga sambil bermain. Sedangkan koleksi buku dewasa tampak sepi, karena sedang jam kerja sehingga hanya ada beberapa petugas yang merupakan pegawai dan anak muda.

Usai makan siang, perpustakaan mengumumkan ada pemutaran film Max Havelaar, di ruang audiovisual. Saya pun berkunjung kesana, dimana studionya dibuat dari rangkaian bambu. Anak-anak SMA nampak sudah memenuhi studio, dan film pun sudah diputar. Dari film itulah saya mengenal siapa itu Saidjah Adinda yang menjadi nama perpustakaan. Sangat mengerikan tokoh Saidjah dalam film ini, dimana ia seorang perempuan anak petani yang mengenakan caping namun ditendang dengan kasar oleh kolonial dan menjalin cinta tidak sampai dengan Adinda. Lebih jelasnya tentang siapa itu Saidjah Adinda, anda bisa klik link di bawah ini. Saidjah Adinda

Film yang berdurasi cukup lama ini menarik untuk ditonton. Selain mengenalkan sejarah bagaimana Kawedanaan Lebak di zaman kolonial, anda akan lebih paham

Museum Multatuli

 

Setelah melihat koleksi buku, majalah, surat kabar, serta menonton film di Audiovisual, saya berjalan sedikit ke gedung sebelah kanan dimana di situ ada Museum Multatuli. Karena sudah menonton filmnya saya jadi tahu sedikit tentang siapa itu Multatuli, kaitannya dan Max Havelaar, dan alasannya kenapa diabadikan sebagai museum. Museum ini menyerupai rumah tua bercat putih tulang kombinasi kuning gading.

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada Januari hingga Maret 1856. Berdasarkan pengalamannya di daerah tersebut, dia menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar yang pertama kali diterbitkan pada 1860.

Dengan Max Havelaar, Multatuli ingin membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Ide-ide itu menginspirasi tokoh-tokoh pendiri bangsa, seperti Soekarno, untuk memerdekakan Indonesia.

Sebagai karya monumental,  novel Max Havelaar, Kabupaten Lebak memutuskan untuk menjadikan bekas kantornya  dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an sebagai museum. Menurut Ubaidillah, Museum Multatuli ini direhab dan didesain ulang oleh arsitek dari IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia).

Sejak anda masuk di pintu depan anda akan tertegun dengan karya seni baik foto maupun karya seni lainnya, tentang eksistensi manusia. Sejarah kopi dan pertanian, puisi rendra, serta tokoh-tokoh pahlawan dari Lebak dan nasional. Hening dan senyap anda selama mengunjungi beberapa bagian museum yang dilengkapi dengan pidato tiada henti selama anda mengitarinya.

Tidak begitu besar memang isi dari museum ini, akan tetapi anek koleksi, foto, peta, alur sejarah sampai dengan karya Multatuli sangat lengkap dan padat. Sehingga anda tidak usah berlama-lama di dalam anda bisa larut dalam sejarah zaman kolonial. Jika anda perhatikan betul, akan banyak ilmu dan sejarah yang saya sendiri tidak tahu awalnya nama-nama tokoh antikolonial.

Usai mencermati dan mengambil gambar, saya keluar museum dengan wawasan baru dan banyak hal tentang museum Multatuli. Banyak spot-spot menarik di dalam musem dan luar museum, tapi tidak saya cantumkan disini, biar nanti anda berkunjung kesana saja hehehe…

 Sentra Batik Lebak

Hari sudah beranjak sore, jam tiga saya keluar dari museum. Berjumpa dengan Pak Ubaidillah di pintu belakang saat saya mau ke sentra batik Lebak yang persis berada di belakang Museum. Kita ngobrol sebentar dan sempat ambil gambar. Tidak lama kemudian saya melanjutkan perjalanan ke sentra batik Lebak. Sentra batik ini sangat luas dan terbuka.

Tiga orang anak muda sedang melakukan proses membatik. Ada yang mencap, ada juga dua orang yang mendampinginya. Beberapa batik yang sudah selesai digarap dijemur hingga kering. Setelah itu di sebelah barat ada lelaki setengah baya yang sedang menjahit batik lebak, berupa konveksi yang terhubung dengan pemasaran.

Di bagian depan sentra batik, ada toko yang menjual batik yang sudah jadi. Ada yang dalam bentuk pakaian maupun kain siap jahit. Unik dan bagus corak motif batik Lebak saya perhatikan warnanya cerah. Berikut beberapa koleksinya.

Usai dari Sentra batik, saya lapar dan berencana kembali ke Stasiun Rangkas Bitung untuk melanjutkan perjalanan nanti malam ke Serang. Cukup puas sudah dari pagi hingga sore saya mengitari tiga tempat ini, ada banyak kesan yang mendalam dan wawasan  baru di luar yang saya ketahui selama ini.

Seusai dari sentra batik, wah anak-anak pulang sekolah ramai sekali berkumpul di Museum Multatuli. Ada yang bercengkrama, ada juga yang berselfie ria. Di selasar museum ada juga sekelompok anak muda, sepertinya dari Jakarta sedang berdiskusi serius membentuk lingkaran.

Jadi tunggu apalagi, ini kan hari Jum’at,  besok akhir pekan tidak ada salahnya anda berkunjung ke tiga lokasi ini untuk berwisata sambil menambah wawasan,   sambil jalan-jalan atau menghabiskan akhir pekan.

Pamulang, 10.05 WIB

Penampilannya sangat sederhana, sorot matanya redup dan cenderung pendiam. Tak banyak yang ia katakan selain mengucap syukur tak terhingga pada Allah SWT, saat namanya dipanggil sebagai juara I Guru Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional. Perasaan haru dan gembira bercampur menjadi satu, wajahnya seketika merah merona saat namanya dipanggil sebagai juara I Guru Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 18 Agustus 2017 di Jakarta.

Tidak terbersit sedikitpun dalam hati Susi Sugianti, perempuan kelahiran Subang 1 Februari 1982 ini akan terpilih menjadi juara. Karya Nyata yang dipersentasikanpun terbilang sederhana, tentang kreativitas menggambar bagi anak TK. Akan tetapi siapa sangka justru karya yang sederhana itu, mudah dicerna siswa dan Nci (biasa Susi dipanggil) berhasil mempertahankan karyanya dengan gigih dan seksama di hadapan para juru yang merupakan akademisi mumpuni di Pendidikan Anak Usia Dini.

Sangat Terpengaruh Sosok Ibu
Tatapan mata sendu, senantiasa terpancar dari perempuan bertubuh mungil ini. Sejak kecil Susi terbiasa hidup menderita. Lahir dari keluarga broken home dan memiliki ayah seorang penjudi ulung, membentuk jiwa Susi menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting.

Edy Sumartoyo sudah lama menginginkan anak laki-laki. Bagi Edy, anak perempuan tidak bisa berbuat apa-apa, membuat Susi terlecut hatinya untuk bekerja keras membanggakan kedua orangtua. Kelembutan hati sang ibu, Encem Sukaesih sangat mempengaruhi kepribadian dirinya untuk senantiasa sabar dan hidup welas asih dengan sesama.

“Setiap hari mamah bekerja keras mencari nafkah sambil berjualan, tapi yang nyesek jualannya itu minuman keras. Sering saya ketakutan ketika harus membantu melayani orang mabuk. Hati berontak, menjerit tapi tidak bisa berbuat apa – apa,” ujarnya lirih sambil menahan perasaan. Selain membantu jualan minuman keras, Susi juga menceritakan kisahnya sejak usia enam tahun berjualan es mambo keliling membantu orang tua.

Pada tahun 2005 Susi mendaftar di D2 Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak di Sekolah Tingi Agama Islam Sabili. Ibunya sangat bahagia ketika melihat dirinya kuliah. Harapan yang sering diungkap ibu Encem Sukaesih adalah ingin melihat Susi wisuda dan menikah. Namun semua tidak sesuai rencana. “Beliau meninggal dalam pelukan saya usai wisuda, itu pengalaman terpahit dalam hidup saya ”ucap perempuan bertubuh mungil ini tak kuasa menahan air mata.

Sepeninggal sang ibu, Susi tidak larut dalam duka. Dia memiliki motivasi belajar tinggi, rajin membaca dan mencintai ilmu pengetahuan. Tidak hanya berhenti meraih gelar sampai Diploma II, pada ahun 2008 untuk meningkatkan dan mengembangkan diri, Susi melanjutkan kuliah S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Terbuka.

Hijrah Ke Nusa Tenggara Timur
Setelah menikah, pada 17 Juli 2009 Susi hijrah ikut suami yang bertugas di daerah terpencil yaitu Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Walaupun tinggal satu wilayah tapi mereka berdua tidak tinggal bersama. Jarak dari kota Soe ke tempat tugas suaminya kurang lebih dua jam di tempuh memakai ojeg motor. “Suami pulang satu pekan sekali. Kalau musim hujan tidak pulang karena harus melewati tiga sungai,” ujar perempuan berhijab ini menjelaskan.

Naluri sebagai guru tidak bisa tergantikan dengan apapun. Di kota Soe Susi dipertemukan dengan pengurus Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang mengeloala PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). “Saya pun mulai mengajar di PAUD Aisyiyah dengan honor 50.000 perbulan. Suami merasa kasian. Setiap hari selain menjadi guru saya juga harus berperan ganda menjadi petugas kebersihan,” ujar perempuan yang pintar menari ini seraya tersenyum simpul.

Pada November 2009, Susi mendapat informasi dari suaminya ada satu formasi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil untuk guru TK. “Suami sangat mendukung saya untuk daftar. Saya menolak dengan alasan tidak jauh dari keluarga. Saya tidak ingin berjauhan, suami tetap menyarankan, akhirnya saya ikut daftar. Alhamdulillah saya lulus tes CPNS memakai ijazah D2,” ungkapnya mengingat awal diterima menjadi PNS.
Menjadi Juara Berkat Menggambar Bebas

Selama enam tahun mengajar di TK Pembina Kota Kupang, sudah banyak asam garam yang dirasakan guru yang pandai menari ini dalam mendidik murid-muridnya, hingga akhirnya Susi berani mengikuti ajang kompetisi Guru Berprestasi. Peran suami memiliki andil besar dalam ajang kali ini, karena harus berbagi peran, mengurus ketiga buah hatinya yang ditinggalkan.

Selama ini Susi merasa belum bisa berbuat banyak dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini. “Kepercayaan dari rekan guru, kepala sekolah dan para orangtualah yang meyakinkan saya bahwa saya layak menjadi guru berprestasi. Dan ini memotivasi saya untuk ikut lomba guru berprestasi dengan harapan dapat meningkatkan kinerja, disiplin, dedikasi dan loyalitas saya,” ujarnya semangat.

Dalam ajang prestisius ini, Susi memaparkan Karya Nyata berjudul “Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Menggambar Bebas Pada Anak,” judulnya memang sederhana, akan tetapi Susi memiliki pendekatan metodologi yang menarik dan menyenangkan anak didik.

“Judul ini diangkat ketika saya melihat kondisi di kelas banyak anak – anak yang tidak minat dalam menggambar padahal berdasarkan teori banyak sekali manfaat menggambar bagi perkembangan anak,” ujarnya rendah hati sambil menunjukkan para siswanya menggambar bebas.

Dalam pemaparannya Susi menegaskan jika anak dilatih berkreasi menggambar bebas, mereka akan terbiasa melatih kelancaran, mengemukakan gagasan, kelenturan untuk mengemukakan alternatif pemecahan masalah, orisinalitas dalam menghasilkan pemikiran, elaborasi dalam gagasan dan keuletan. Temuan yang ditemukan Susi Sugianti, membuat tercengang para juri, sehingga akhirnya menjadi yang terbaik dari seluruh perwakilan provinsi yang ada di Indonesia.

“Menjadi suatu kebanggaan bagi saya bisa menjadi juara 1 guru berprestasi tingkat nasional. Ini menjadi sebuah momen yang sangat luar biasa. Banyak airmata yang harus di keluarkan. Saya berjuang meyakinkan pihak Dinas Pendidikan Kota Kupang, bahwa di tingkat nasional ada lomba berprestasi untuk jenjang guru TK,” ujar perempuan yang suka membaca buku agama dan motivasi ini seraya tersenyum gembira. (ER)

Susi Sugianti adalah
Juara I Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional 2017

 

 

 

Dua orang perempuan paruh baya, turun dari kereta dengan barang bawaan yang penuh di kanan kirinya.

Setiba di stasiun, salah satu dari mereka membawa barangnya keluar. Karena kereta masih lama tiba di tujuan, kita pun lalu bertegur sapa.

“Bawa apa itu bu, sepertinya kok berat” saya bertanya kepada perempuan berkerudung ungu muda itu. “Biasa mbak oleh-oleh dari kampung,” ujarnya seraya tersenyum.

Lalu Ibu – ibu paruh baya itu menjelaskan jika orangtuanya memberinya banyak oleh-oleh buat di bawa ke Jakarta.

“Ini beras dan kerupuk dari orangtua saya, kalau pulang saya tidak bisa menolak menerima oleh-oleh dari mereka mesti berat, ada 12 kg ini mungkin berasnya,” ujarnya yang baru saja pulang dari Prembun Kebumen.

Sering kita tidak menyadari bahwa orangtua di rumah, jika masih ada selalu menanti kehadiran kita ke kampung halaman setiap saat. Di usia yang mulai senja, melihat anaknya sehat dan berguna bagi masyarakat tentu menjadi impian bagi setiap orangtua.

Begitu juga dengan doa dan harapan yang selalu ia doakan semoga anaknya di rantau selalu selamat dan terhindar dari marabahaya.

Begitu kita pulang anak-anaknya, maka apapun yang dia punya entah hasil bumi atau makanan yang ia bikin sendiri atau beli akan di bawakan untuk anak tercinta. Seperti halnya Ibu paruh baya ini yang membawa beras dan kerupuk.

Meski orangtua saya sudah tiada, saya selalu terharu kalau melihat kebaikan dan kasih sayang orangtua pada anaknya. Bagaimanapun cinta kasih orangtua adalah cinta kasih sepanjang hayat.

Saya jadi ingat ada nasehat bijak dari Master Cheng Yen yang suka saya lihat di DAAI TV.

“Ada dua hal yang tidak bisa ditunda, yaitu berbakti pada orang tua dan berbuat kebajikan,” Master Cheng Yen

Pagi di Gambasan

Posted: March 8, 2018 by Eva in Artikel, Puisi

Dinginnya pagi menahanku
Untuk beranjak dari tidur malamku
Membuka mata aku pun termangu
Memandang indahnya ciptaanmu…

Aku menunggu matahari terbit
Dari balik pintu yang berderit
Indahnya merapi di balik bukit
Seperti rinduku yang usai dijahit

Gambasan, 9 Maret 2017

Saat ini, koleksi naskah-naskah kuno sulit ditemukan jika anda ingin memilikinya. Akan tetapi jika anda ingin  membaca dan mendalami beberapa naskah kuno yang terawat dengan rapi anda bisa mengunjungi Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.

Ada banyak koleksi naskah kuno seperti 12 seri Serat Centhini, Perjanjian Gianti – Perang Diponegoro (Sekitar Jogjakarta 1755-1825), Serat Smaradahana, Serat Gembring Baring, Serat Babad Dipanegara, hingga Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi pun ada dua judul. Pertama Babad Tanah Jawi karya Sudibjo Z.H yang diterbitkan Dinas Pendidikan dab Kebudayaan pada 1980,  dan Babad Tanah Jawi yang disusun olehW.L.Olthof Belanda tahun 1941. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit narasi Jogjakarta pada 2007.

Dari sekian banyak buku tersebut, disini saya akan mengulas secara singkat dua buku saja, yaitu Centhini dan Babad Tanah Jawi.

Centhini adalah sebuah buku tua, tidak saja tua umurnya, tetapi juga tua isi ajarannya. Konon, kata Centhini berasal dari kata Canti, suku kedua dibaca dengan letupan suara, sehingga terdengar kata Cantik. Kata cantik berasal dari bahasa Melayu yang artinya elok, indah, bagus, menyenangkan. Canti mendapat bubuhan ni, di belakangnya menunjukkan sifat kewanitaan (feminin) sehingga menjadi centhini. Sedangkan asal-usul mengapa cantini dapat berubah lafal menjadi centhini masih sulit diungkapkan. Karena sifat yang feminin itulah, setiap orang yang membaca buku centhini sering terpesona oleh keindahannya.

Dalam Falsafah Centhini dijelaskan bahwa yang berkehendak menyusun Serat Centhini adalah Pangeran Adipati Anom, Calon Pakubuwono V. Oleh karena yang dikehendakinya berisi berbagai hal tentang kehidupan maka  maka yang mengerjakannya pun terdiri dari beberapa orang seperti Kyai Pangulu Tafsir Anom yang berkaitan dengan gending-gending digarap oleh Demang Niyaga, adapun yang diserahi tugas menyusunnya dalam bentuk buku secara utuh adalah Yasadipura II bersama Rangga Tresna.

Serat Centhini adalah roman yang disusun dalam rangkaian tembang-tembang Jawa. Seperti layaknya sebuah roman, isinya dibuat sedemikian rupa sehingga memikat hati pembacanya.Isinya banyak menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia dalam bermasyarakat.

Serat Centhini ditulis untuk memuaskan semua orangtua yang gemar ajaran-ajaran ilmu tua akan tidak bosan-bosannya mengikuti wejangan Seh Amongraga.

Membaca Serat Centhini hendaknya kita kritis serta waspada, ada banyak nilai positif tentang makrifat misalnya tapi ada juga bahasa-bahasa yang khusus dewasa, membacanya harus hati -hati jika anda belum dewasa, jangan sampai terpengaruh ajaran-ajaran negatif yang dapat menjerumuskan.

Sedangkan Babad Tanah Jawi, berisi tentang kebiasaan masa lalu, raja-raja di tanah Jawa yang menjelaskan silsilah atau asal -usul garis keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya.

Teks asli “Babad Tanah Jawi” memuat silsilah raja-raja Jawa dari Nabi Adam, dewa-dewi dalam agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabharata, Cerita Panji Masa Kediri, Masa Kerajaan Pajajaran, Masa Majapahit hingga masa Demak yang kemudian dilanjutkan lagi dengan silailah kerajaan Pajang, Mataram dan berakhir pada masa Kertasura.

Semarang, 8 Maret 2018

Ada kabar gembira lho buat para penggemar cemilan enak oleh-oleh khas Bandung Pisang Bolen Mayasari. Jika dulu agen Jakarta Selatan hanya ada satu di Kalibata sebelum lampu merah makam pahlawan, sekarang buka cabang resmi Jakarta Selatan. Tepatnya di depan terminal atau halte busway Lebak Bulus Jakarta Selatan. Sebentar lagi terminal ini juga menjadi stasiun MRT.

Saya lihat toko ini belum lama buka cabang dari cabang resmi di Bandung. Bisa jadi masih dalam hitungan bulan. Meskipun demikian karena posisinya strategis, maka toko kue ini mudah dikenali dengan warna resminya orange kecoklatan.

Luas toko kue Pisang Bolen Mayasari Cabang Jakarta Selatan ini terhitung lumayan luas. Karena tidak hanya ada aneka bolen seperti bolen keju, bolen pisang, peuyeum bolen, hingga bolen duren. Ada juga cheeseroll, brownies, kue tart, kripik talas pedas dan lain sebagainya.

Harganya sama dengan yang di Bandung semua pisang bolen dibandrol seharga 45.000 cuma yang rasa duren 48.000.

Tidak terasa sudah sejak 2007, tepatnya saya menjadi penggemar bolen mayasari, dulu harganya 32.000, naik 35.000, naik lagi 38.000 dan sekarang 45.000. Sedangkan cheesroll dan chocolate roll harganya 32.000 masih stabil.

Satu kelebihan dari bolen mayasari ini adalah teksturnya yang lembut dan ukuran kuenya yang pas. Kejunya juga sangat terasa. Semua keluarga suka oleh-oleh ini. Bagi yang belum mencoba Di jamin ketagihan, rekomended banget pokoknya.

Jadi buat kamu yang bingung cari oleh-oleh buat di bawa pulang ke kampung halaman, Mayasari Bakery and Pastry ini bisa segera meluncur ke Lebak Bulus Jakarta Selatan. Atau bagi yang di Jakarta Barat ada di Hayam wuruk 125 E.

Jika lagi mager pengen makan pisang bolen, bisa juga beli online bisa lewat aplikasi atau telfon ke tokonya langsung di nomor 08119919428.

Semoga bermanfaat…

Jakarta 7 Maret 2018

Pantun di Hari Selasa

Posted: February 27, 2018 by Eva in Artikel, Sastra

Di televisi dan radio sedang ramai iklan film “Benyamin Biang Kerok” tapi tayangnya masih lama awal Maret. Iseng-iseng di kereta berpantun sambil jalan.

Jalan-jalan ke pantai senggigi

Jalannya pelan lewat jembatan

Ayo Kawan kita bangun pagi

Nanti kamu kesiangan

 

Ikan lele ikan tenggiri

Di makan bersama di rumah makan

Ayo teman janganlah iri

Mari kita berjabat tangan

 

Makan cilok di hari rabu

Ciloknya basi kehujanan

Hari ini banyak yang nyabu

Jika ketangkep blingsatan

 

Sore-sore makan semangka

Enaknya makan dibelah-belah

Janganlah kawan berburuk sangka

Nanti hati kamu gelisah

 

Pagi-pagi ke Sukaraja

Mampir dulu di Sudimara

Ayo kawan mari bekerja

Bekerja dengan riang gembira

 

Stasiun Palmerah

27 Februari 2018

Pukul 08.33 WIB

Menjelang Malam di Pakupatan

Posted: February 23, 2018 by Eva in Artikel

Senja yang temaram

Kulangkahkan kaki beranjak pulang

Penuh Kegamangan

Dan tanda tanya

 

Apakah kamu pernah kehilangan?

Pertanyaan itu terus terngiang

Semua bergerak begitu cepat

Tanpa ada perlawanan

 

Keganjilan dan keanehan

Semua lewat saja tanpa aku curiga

Biarlah semua berlalu

Seiring nyaringnya klakson bis tiba

 

Di tengah sorot mata kondektur

Dan tatapan lesu penjual asongan

Hati ini  berdesir pelan

Apa makna kebebasan di era digital

 

Terminal Pakupatan,

23 Februari 2018

Pukul 19.15

Tiga Lagu Syahdu di Bis Hiba Utama

Posted: February 20, 2018 by Eva in Artikel

Setelah keluar pintu tol Koja menuju terminal Leuwi Panjang, seorang pengamen, anak muda berkaos hitam dan mengenakan topi coklat naik ke atas bis Hiba Utama dan menyanyikan tiga lagu syahdu yang membuat penumpang ngelangut.

Pertama yaitu lagu “Ke Jakarta ku Akan Kembali” tembang lawas yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Liriknya seperti ini :

Di sana rumahku
Dalam kabut biru
Hatiku sedih
Di hari minggu
Di sana kasihku
Berdiri menunggu
Di batas waktu
Yang telah tertentu

Reff.
Ke jakarta aku kan kembali
Walaupun apa yang kan terjadi
Kembali ke reff.
Pernah kualami
Hidupku sendiri

Temanku pergi
Dan menjauhi
Lama kumenanti
Ku harus mencari
Atau ku tiada
Dikenal lagi

Kemudian, pengamen muda itu menyanyi lagu kedua berjudul “Diana Kekasihku” Lagu yang dipopulerkan oleh Penyanyi yang sama yaitu Koes Plus.

Liriknya sebagai berikut:
Di gunung tinggi kutemui
Gadis manis putri paman petani
Cantik, menarik, menawan hati

Diana namanya manja sekali
Waktu aku mengikat janji
Ku berikan cincin bermata jeli
Tapi apa yang kualami
Paman petani marah ku dibenci
Reff :

Diana, Diana kekasihku
Bilang pada orang tuamu
Cincin permata yang jeli itu
Tanda kasih sayang untukmu

Di gunung tinggi kutemui
Gadis manis putri paman petani
Cantik, menarik, menawan hati
Diana namanya manja sekali
Waktu aku mengikat janji
Ku berikan cincin bermata jeli
Tapi apa yang kualami
Paman petani marah ku dibenci

Karena mengamen di bis itu waktunya cepat, maka lagu yang bersyair pendek sangat di sukai.

Rupanya usai dua tembang lawas, pengamen muda itu masih terus semangat dengan mempersembahkan lagu ketiga. Kali ini adalah lagu Firman Idol berjudul “Kehilangan”.

Para penumpang di bis ekonomi Hiba Utama yang tidak penuh ini pun terhibur. Mereka semua terdiam, namun tidak tahu juga dalam hati mereka ikut bernyanyi atau biasa saja. Namun, lagu ini bernada cukup tinggi sehingga saya pun ikut bernyanyi lirih.

Berikut lirik lagu “Kehilangan”

Ku coba ungkap tabir ini
Kisah antara kau dan aku
Terpisahkan oleh ruang dan waktu
Menyudutkanmu meninggalkanku
Ku merasa tlah kehilangan
Cintamu yang tlah lama hilang
Kau pergi jauh karena salahku
Yang tak pernah menganggap kamu ada
*
Asmara memisahkan kita
Mengingatkanku pada dirimu
Gelora mengingatkanku
Bahwa cintamu tlah merasuk jantungku
Reff:
Sejujurnya ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Seandainya kamu bisa
Mengulang kembali lagi cinta kita
Takkan ku sia-siakan kamu lagi
Back to *, Reff:
Sejujurnya ku tak bisa
Hidup tanpa ada kamu aku gila
Takkan ku sia-siakan kamu lagi.. (2x)

Lengkingan lagu di bait terakhir ini terus dinyanyikan oleh Pengamen muda hingga akhirnya dia berhenti, menunggu sebentar dan turun bersamaan dengan turunnya beberapa penumpang.

Setelah itu bis Hiba Utama melaju kencang, dan akhirnya tidak lama kemudian tiba di Stasiun Leuwi Panjang yang sekarang tambah rapi dan bersih.

Karawang 20 Februari 2018

Pukul 21.55

Judul Buku : Bagaimana Akhir Hidup Mereka (Misteri Seputar Kematian Selebritas Dunia)

Penulis : Rausyan Deniz

Penerbit: Visi Media Jakarta

Edisi : I, Maret 2013

Aneka Konspirasi di Balik Kematian Pesohor

“We owe respect to the living, to the dead we owe only truth,” Voltaire, Filsuf Perancis. Kita harus Menunjukkan rasa hormat dan kadang-kadang berkompromi atas kebenaran demi diplomasi dan silaturahmi dengan orang-orang yang masih hidup.

Buku ini bersampul putih dengan ukuran yang lebih besar tidak seperti buku populer kebanyakan. Tampil foto musisi dunia Michael Jackson dan artis Korea, pemeran utama “Winter Sonata” Park Yong Ha sebagai sampul.

Saya menemukan buku ini dalam deretan buku dewasa koleksi Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat. Judulnya cukup menarik dan provokatif, buku ini berjejer rapi dengan deretan buku populer lainnya.

Berbicara kematian, adakalanya kita semua termenung. Penyebab kematian karena sakit, kecelakaan atau usia yang sudah senja sudah menjadi hal yang umum dialami setiap orang.

Akan tetapi adakalanya, kita melihat ada tokoh terkemuka (pesohor) maupun selebritas meninggal karena satu hal yang mengejutkan, penuh keganjilan bahkan misterius.

Nah, buku ini menjelaskan bagaimana ada 21 orang yang meninggal dunia dengan cara yang tidak biasa. Ada yang dibunuh sadis, bunuh diri, hingga kelalaian dokter. Semua dikupas Rausyan Deniz dengan cara penuturan yang menarik.

Dimulai dengan meninggalnya musisi jenius Joannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart, atau dia lebih senang memanggil dirinya Wolfgang Amade Mozart yang wafat di usia 35 tahun. Beliau lahir pada 27 Januari 1756 dan wafat pada 5 Desember 1791. Usia yang sangat muda bagi komposer yang karyanya melegenda.

Sejak kecil, Mozart terbiasa hidup nyaman. Terlahir dari keluarga musisi dia terbiasa keliling Eropa sejak kecil mengikuti konser orkestra sang Ayah.

Kemewahan hidup yang dirasakan Mozart dan keluarga tidak bertahan lama.Kesulitan finansial terjadi saat perang Austria dan Turki pada 1786, Mozart mengalami kesulitan finansial. Ia sering berhutang kepada musisi atau sesama mason, situasi sulit ini membuatnya depresi dan kehilangan sentuhan dalam berkarya. Istrinya Constanze mengajaknya bepergian untuk sejenak melupakan pekerjaannya.

Mozart meninggal dengan menyisakan banyak utang. Dia selalu berpikir bahwa dirinya diracun.Muncul banyak polemik seputar kematiannya, ada yang mengatakan karena demam tinggi, namun ada juga yang mengatakan karena kecemburuan pesaing beratnya Antonio Salieri, bahkan ada yang mengatakan bahwa kematiannya karena anggota Mason.

Selain Mozart ada 20 tokoh lain dalam buku ini yang meninggalnya penuh misteri. Seperti Marilyn Monroe, Janes Joplin, Sharon Tate, Jim Morisson, Bruce Lee, Elvis Presley, John Lennon, Heather O Rourke, Selena Quintanila – Perez, Tupac Shakur, Princess Diana, Heath Ledger, Jang Ja Yeon, Michael Jackson, Park Yong Ha, Chae Dong Ha, Amy Winehouse, dan Whitney Houston.

Mereka meninggal dengan cara yang beragam

Selain mengisahkan masa akhir hidupnya, penulis juga banyak menjelaskan era kejayaan pesohor, hasil karya dan tentu saja kegelisahan mereka yang dikutip saat mereka sedang dalam kesendirian.

Ada beberapa artis korea dalam buku ini selain musisi dunia yang meninggal justru saat popularitas menjulang, narkoba dan heroin banyak yang menjadi alasan utama disamping pembunuhan dan depresi. Namun sayang memang tidak ada musisi tanah air yang dikisahkan.

Semoga saja tidak ada ya artis Indonesia yang meninggal dengan konspirasi atau mengenaskan, meskipun sekarang gencarnya narkoba menghinggapi artis menjadi kegetiran sendiri di kalangan dunia hiburan. Apalagi anak muda yang memang harus hati-hati dalam pergaulan.

Tentu tidak menarik jika saya menceritakan satu persatu artis yang dimuat dalam buku ini bagaimana cara mereka meninggal dunia. Anda baca sendiri saja, atau kunjungi perpustakaan Provinsi Jawa Barat, atau perpustakaan lainnya, karena dalam buku ini tersaji lengkap ada gambar dan penyampaian cerita yang mudah dicerna.

Bandung, 20 Februari 2018

Pukul 16.11

Pada Akhirnya Kita Akan Pulang Sendirian

Posted: February 19, 2018 by Eva in Artikel

Minggu lalu ada berita duka bertubi-tubi dari Jogjakarta. Pada hari rabu, 6 September saya dikabari teman SMA, Nur Hartanti meninggal dunia karena kanker getah bening selama 2,5 bulan. Esok harinya 7 september ada Dewan Redaksi Pustaka Alvabet pada tahun 2004-2007 Pak Samsu Rizal Panggabean (SRP), meninggal karena sakit jantung, kemudian ayahnya Pak Bae, Mas Iyung, Mas Togen Abah Rouf meninggal senin dinihari 11 September 2017.

Semua berita yang kudengar terlambat karena aku lagi non aktif facebook sementara. Ada banyak kesan yang mendalam tentang ketiga orang itu, Nur hartanti, sosok anak pendiam, rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri sejak pertama aku kenal. Namun orangnya baik hati dan ramah. Dia kuliah di Geografi UGM bersama Dyank Aflahah, Dewi Masithoh, Opik Indrawan dan Febri. Mereka anak IPA 1 SMA Muhammadiyah II Jalan Kapas.

Sedangkan Pak Rizal aku hanya sebentar mengenalnya, Aku diajak bekerja di Alvabet oleh Mas Ahmad Zaky Kopma UIN Suka, disana aku diperkenalkan sama Dewan Redaksi yang menyeleksi semua terjemahan Alvabet seperti Pak Rizal. Taufik Adnan Amal, Pak HBS, Pak IAF dan Pak Bae merupakan orang yang harus mengacc semua sampul depan dan belakang, proses editing, kualitas terjemahan dan mengusulkan buku-buku yang akan diterbitkan. Sedangkan Abah Rouf adalah orangtua dari Pak Bae, Owner Alvabet juga ayah dari Mas Nurul Huda (Iyung) dan Ahmad Sirajul Huda (Togen) mereka berdua pernah lama bekerjasama dengan kami di Alvabet sebagai marketing dan pemasaran.

Jumat malam aku ke Jogja sama mas Arif Takziyah, paginya dijemput mobil teh geugeu. Kita berdua langsung menuju Rejodani Ngaglik, setelah sebelumnya makan soto kudus di Condong Catur. Sesampainya disana ada istri almarhum Bu Luthfi, serta anak Pak Rizal yang baru pulang dari Jepang Sarah Fitri Panggabean dan anak keduanya Irvan serta anak Pak bae, Dede.

Baru kali ini aku ke Jogja gak bilang-bilang teman, aku hanya langsung ke TKP, usai takziyah dan berziarah, aku langsung pergi ke Ngawi.

Pulang dari Ngawi, aku berziarah ke makam Kyai Mufid Mas’ud Sunan Pandanaran, saya terpukau ternyata Pondok Pesantren Sunan Pandanaran berkembang pesat, sangat bagus dan luas serta hijau, santrinya banyak.

Usai dari jalan kaliurang saya mampir Condong Catur tapi tidak ada Teh Neng adanya Hoho sendirian, baru setelah itu Takziyah ke Nurhartanti di jalan Berbah Banguntapan Bantul. Rumahnya memanjang dan parkirnya luas, sayang suaminya Mas Sigit tidak ada di tempat karena sedang ke rumah orangtuanya di Semin Gunung Kidul mengajak refreshing anak-anaknya.

Sehabis itu saya pulang ke Bantul ke Teh Geugeu, ketemu ponakan dan makan bakso, jam 12 malam pulang ke Tugu naik kereta ke Bandung. Sampai Bandung jam 9 pagi, dan lanjut naik kereta ke gambir jam 10.35. Sampai Jakarta saya langsung naik gojek ke kantor ambil kamera dan segera meluncur ke Golden Butik Kemayoran, ada acara kantor sampai Rabu 13 September.

Hari selasa saya dikejutkan sama status bbm, ada kabar ayahnya Pak Bae, Mas Iyung dan mas Togen meninggal dunia, saya baca siang dan rencana malam mau takziyah ke Bekasi. Tapi apa daya acara sampai malam, saya sangat kelelahan, pulang, istirahat dan bangun subuh untuk segera naik kereta ke Bekasi, ternyata sekarang ke Bekasi cepat dan gampang tidak sampai 1 jam, rumah duka tidak jauh juga dari stasiun.

Sepanjang jalan saya melamun sendirian, ingat terakhir ketemu mas Iyung dan Mas Duyung di Rs Medistra Bekasi, Abah Rouf sehat dan masih bisa shalat meski sakit. Saya waan sama teh ing dan Rifky karena hp mas iyung dan togen ga aktif, saya tanya alamat rumah ke mama oi, akhirnya saya sampai di Sawah Indah bertemu Umi, mas iyung, Togen dan dua orang kakak mas Iyung yang ga begitu aku kenal. Mereka sangat kehilangan. Umi sekarang memakai kursi roda dan duduk diam. Tidak banyak cerita, terakhir almarhum jatuh di kamar mandi.

Dari situ saya berpikir bahwa pada akhirnya kita semua akan meninggal. Kita akan pulang sendirian.

Satu hal yang harus aku siapkan adalah bahwa kita semua harus rela ditinggalkan oleh orang – orang yang kita cinta.

“Manusia ini tak punya akar

Dia diterbangkan ke mana-mana

seperti debu yang berhamburan di jalanan.

Ke segala arah, bertumbukan dengan angin

Ia jatuh terguling-guling.

Memang hidup kita ini sangatlah pendek

Kita datang ke dunia sebagai saudara

Tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah?”

Sajak T’ao Ch’ien

 

catatan: Ini tulisan tahun lalu Bulan September 2017

Hampir tiga tahun ini kami tiap hari beraktivitas menggunakan motor untuk bekerja. Parkir di Stasiun Sudimara lanjut naik KRL ke tempat bekerja, namun mulai awal tahun 2018 ini sesekali saya naik busway.Dulu jika pulang tidak bareng suami saya kadang naik angkot, tapi sering ngetem lama dan akhirnya naik ojek daring.

Resiko tidak bisa naik motor itu repot, kadang kalau tidak bisa diantar adakalanya kalau bepergian jarak dekat naik sepeda, atau naik ke opang lama di Pamulang Elok, namanya Bang Amir opang asli pondok petir, kalau tidak bisa kadang Bang Jadu. Mereka mudah dihubungi dan merupakan orang Betawi asli. Rumahnya tidak jauh dari komplek perumahan kami.

Namun siang itu kamis, 8 Februari saya kebetulan habis ada acara di daerah Palmerah arah Slipi, tiba-tiba saya kok malas ya naik KRL atau busway, saya kangen naik bis kuning Koantas Bima 102 jurusan Tanabang-Ciputat.

Biasanya di perempatan Slipi banyak bis yang ngetem tapi sore ini tidak, saya menunggu ada sekitar 10 menit langsung bisnya jalan. Saya sudah cukup lama tidak naik bis 102 terakhir kapan ya mungkin 1 tahun lalu lebih karena malas sekali lewat jalur Pondok Indah Radio Dalam karena macet sekali, lebih nyaman pakai commuter.

Namun seraya merenung entah kenapa saya sangat menikmati naik bis 102 yang isinya lumayan penuh. Baru naik fly over dekat Senayan saya dihibur pengamen remaja menyanyikan dua lagu, satu lagu ciptaan sendiri dan yang kedua lagi Franky Sahilatua yang asyik sekali ku dengar di tengah gemuruh mesin bis.

“Hangatnya matahari
Membakar tapak kaki
Siang itu disebuah terminal
Yang tak rapi. Wajah pejalan kaki
Kusut mengutuk hari
Jari jari kekar kondektur
Genit goda kaki

Wah sayang lagu mereka berhenti padahal saya masih menikmati.
Perlahan tapi pasti bis berjalan tanpa hambatan hanya macet sedikit depan Senayan City arah Taman Puring. Tiba-tiba naik seorang Bapak-bapak memakai kacamata berbaju hitam dan bertopi memetik gitar dengan syahdu. Wah saya merasa senang sekali dengan lagu-lagu lawas yang ia nyanyikan seperti lagu-lag Panbers dll salahsatunya liriknya begini…

“Demi engkau dan si buah hati aku rela begini….

Wah Bapak ini saya lihat sangat pintar bernyanyi dengan penuh perasaan sehingga semua penumpang diam, hingga akhirnya dia turun sebelum masuk jalan radio dalam.

Sekian lama perjalanan lancar, bis 102 tersendat di depan Plaza Pondok Indah sehingga harus memotong jalur lewat RSPI hujan deras mengguyur sampai halte busway Lebak Bulus.

Memasuki jalan Cirendeu bis bocor, waduh penumpang banyak yang pindah termasuk saya yang geser dua kursi ke belakang. Sampai di pool terakhir Pasar Ciputat hujan deras tiada henti karena kosong saya ngobrol sama kondektur yang cerita bahwa setorannya turun 50% lebih dari sehari 700 rb skg jd 300 rb karena sekarang ada busway jurusan Ciputat Sudirman dan kendaraan online di mana-mana. Dia berkata bahwa pengaruh dua jenis kendaraan itu sangat besar bagi kelangsungan armadanya sehingga sekarang armada 102 dikurangi.

Dia juga cerita kalau bis – bis kopaja dan Koantas lainnya sekarang sepi karena banyak kendaraan gratis seperti bis tingkat dan busway yang tidak lewat jalur. Bis P 19 juga kata kondektur tadi dulu setorannya paling besar sehari bisa 1.500.000 akan tetapi sekarang turus drastis di bawah 500 ribu.

Kemajuan teknologi dan kenyamanan berkendara sangat berpengaruh pada para pengusaha armada dan para sopir kondektur yang sekian lama hidup di ibukota. Sulit dicari solusi karena bagaimanapun harus ada yang menjadi korban dan dikorbankan.

Akan tetapi Bapak kondektur ini sangat tegar menghadapi apa yang dialaminya sehari-hari. Ia bercerita tiada beban. Badannya kekal dan kulitnya legam, rambutnya yang ikal dan sorot matanya yang tajam menggambarkan ketabahannya menghadapi bisnya yang bocor, sepinya penumpang bertarung dengan macet dan hujan sepanjang perjalanan Slipi – Ciputat. Saya membayar tarif 4000 rupiah.

Usai bercerita panjang lebar tentang setoran bis, dan terminal yang dibakar kami sampai di tujuan akhir. Ada tiga orang penumpang yang turun bersama saya, kami semua berlarian mencari tempat berteduh. Air menggenang membasahi sepatuku masuk sampai ke dalam sela-sela kaki, selokan mampet dan sayapun meloncat ke pinggir toko cari tempat berteduh menunggu angkot ke Reni Jaya jurusan Reni.

Seperti biasa angkot cukup lama lewat, hingga sekitar 12 menit kemudian datang dan ngetem di pengkolan (belokan) langsung penuh seperti biasa. Saya pun berjalan menuju ke angkot Reni dan akhirnya angkot pun berjalan. Selang berapa meter ke depan tiba-tiba ada penumpang bucis (bahasa sunda), (basah kuyup) lelaki setengah baya masuk tergesa membawa bungkusan besar hitam.

Dia mencegat agak ke tengah karena hujan, namun karena berhenti mendadak, sebuah mobil mewah di belakang langsung membunyikan klakson, Bapak itu setengah berteriak mengumpat “Orang kaya, gak sabaran,” ujarnya sambil menoleh ke belakang dan merapikan bawaan. Dia terlihat menahan geram, kami di dalam angkot pun berisik mendengar bunyi klakson.

Tidak lama kemudian, mobil itu menyalip dari sebelah kanan lalu melaju kencang. Kami semua penumpang dalam angkot Reni yang sudah ringkih dan karatan disana-sini hanya terpaku diam… hening. Tidak lama kemudian angkot Reni pun melaju perlahan dengan suara mesinnya yang khas, menderu, membelah hujan….

Pondok Petir, Minggu 11 Februari 2018

Hujan Pagi

Posted: February 3, 2018 by Eva in Artikel

Pagi yang Basah

Sabtu pagi diiringi hujan

Dingin menyelimuti tulang

Aku termenung memandang rintik hujan

yang jatuh mendera tanaman di taman kecilku

Tanah basah

Jiwa gelisah

Namun tanamanku gembira

Mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa

Perempuan pecinta hujan

Pondok Petir 3 Februari 2018 Pukul 06.34

Foto dibawah koleksi IG: @ubproject

FB_IMG_1520166139154

Menghadapi Tekanan Kerja

Posted: September 22, 2017 by Eva in Artikel
Ada masanya ketika kita bekerja kurang fokus, banyak melakukan kesalahan dan tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Disitulah kita seringkali dikritik, dibantai bahkan dipermalukan di hadapan rekan kerja lainnya.Lalu apa yang harus kamu lakukan.
Ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan dan kita sadari, lalu kita tindaklanjuti.
1.Evaluasi Diri
 Anda harus perhatikan betul pekerjaan yang mendapat kritikan, perbaiki semua kesalahan, minta maaf dan mengingat ingat mungkin saat anda melakukan pekerjaan tersebut anda sedang tidak fokus atau ada urusan pribadi lain yang lebih anda prioritaskan selain pekerjaan. Saya kira itu yang harus kita lakukan di awal.
2.Positif Thinking
Ada masanya ucapan atasan terhadap kita sangat menyakitkan, nah disitulah kita positif thinking.Jangan menganggap bahwa bos anda tidak suka atau benci,  terima kritik dengan terbuka dan berikan penjelasan. Jika tidak mau terima ya sebaiknya kita diam, tapi kita harus menerima masukan dan anggap saja bahwa atasan itu sayang sama kita agar kita menjadi lebih baik dalam bekerja.
3.Jangan Masukin Perasaan
Tingginya angka depresi dan sakit jiwa adalah karena orang mudah tersinggungan, perasa dan tidak suka melihat orang lain bahagia. Jika anda ditegur keras, di kritik bahkan dibantai habis-habisan, jangan semua ucapan orang dimasukin perasaan. Di situ kunci menjaga keseimbangan. Kita harus ingat, bahwa perjuangan masih panjang, masih ada keluarga dan saudara yang yang harus kita perhatikan. Kalau anda selalu sensitif dan mudah tersinggungan, dimanapun berada anda tidak akan betah kerja.
4. Fokus dan Susun Skala Prioritas
Anda harus benar-benar memperbaiki semua kesalahan yang pernah dilakukan. Jangan mengulanginya.Bekerja harus teliti dan jangan asal asalan.Susun skala prioritas jangan sampai anda kebingungan mana yang harus didahulukan. Hindari medsos dan obrolan tidak penting yg membuat anda tidak fokus.
5.Bekerja diniati Ibadah
Jangan terlalu bangga dengan apa yang kamu miliki sekarang, karir cemerlang, gaji lumayan dan fasilitas memuaskan.Apalagi sampai pamer keberhasilan.Jika anda merasa bangga dan sukses, saat anda mendapat tekanan dan ujian, anda sulit menerima kenyataan.Maka jadilah pekerja yang senantiasa bekerja keras dimanapun ditempatkan.
kerja
Kita sebagai orang bawahan, pekerja kantoran, ibu rumahtangga, akademisi, pekerja sosial, bahkan sampai politisi dan pejabat pemerintahan, semua mulia di mata Tuhan. Maka apapun yang kita kerjakan maka diniati dengan ibadah, serahkan semua kepada yang memberi pekerjaan. Jika anda menyadari bahwa kerja itu ibadah, maka sepenuh hati kita akan melakukannya tanpa ingin dilihat orang baik atau buruk.Kita bekerja demi keluarga, demi masa depan dan tentu saja jangan lupa beramal. Beri keseimbangan antara dunia akhirat, bersyukur, insyaallah anda akan tahan banting menerima tekanan dan ujian dalam setiap pekerjaan.
Commuterline 22 September 2017
Pasar Minggu Baru – Tanabang
Pukul 19.19

Resign?Maju Atau Mundur

Posted: May 15, 2017 by Eva in Artikel

Resensi Buku

Judul   : Resign, Memajukan Diri Bukan Mengundurkan Diri

Penulis: Mega Chandra (Me-Chan)

Penerbit: Self Publishing

Edisi     : Maret, 2017

sampul buku

Setelah sekian tahun anda bekerja, merangkak dari karir , yang paling bawah hingga mencapai posisi yang sudah mapan, atau bekerja lama tapi karir anda di perusahaan anda stagnan, maka pilihan untuk berhenti bekerja, dan tentu masih banyak alasan lain, karena ingin lebih memperhatikan anak dan orangtua (keluarga), karena sakit, atau karena tergoda ingin buka usaha sendiri.

Ada banyak alasan orang untuk memilih pilihan berhenti dari karir, namun tidak ada salahnya, sebelum anda memutuskan melanjutkan atau tidak karir anda, baca buku ini terlebih dahulu agar anda lebih menghadapi apa yang terjadi kemudian di masa yang akan datang, ketika karir anda berhenti, atau bahkan semakin melambung tinggi.

Buku berjdul ‘Resign” karya Mega Chandra ini, adalah buku kedua yang saya baca, buku pertama yang saya baca, adalah One Team One Goal bicara tentang cara kita bekerjasama dalam satu tim, sebuah buku penyemangat untuk saling berpegangan tangan membangun tim yang kompak untuk menuju satu kesuksesan. Resensinya bisa dibaca di sini Mengoptimalkan Teamwork, Hindari Ingin Maju Sendiri.

Nah buku terbaru, Motivator yang akrab dipanggil Me-Chan ini, membahas tuntas tentang Resign dari berbagai perspektif. Seperti biasa, ulasan penulis asal Lampung ini mengawali prolog dengan peristiwa sehari-hari kekininian tentang aneka perusahaan yang banyak mem-PHK karyawannya serta makin tergerusnya tenaga manusia oleh alih teknologi.

Namun, buku yang memiliki sampul artistik ini, tampil beda, tidak melulu pada satu titik tentang kenapa perlu resign atau tidak, tapi lebih kepada alasan dan gagasan untuk menghadapi rasa takut dan keluar dari zona nyaman agar anda bisa mengambil keputusan.

Mempersiapkan Diri Lebih Baik

Ada empat bab yang dibahas secara tuntas dalam buku ini. Pertama tentang Resign? Why Not, terdiri dari empat sub bab yaitu hadapi rasa takut, keluar dari zona nyaman, bertumbuh dengan SWOT Analysis, dan Ketakutan itu tidak akan terjadi.

Memasuki Bab dua, anda akan tercerahkan  dengan argumen lengkap, berjudul Why Resign? di sini akan didedahkan tentang dahsyatnya paradigma, Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Cepat. Sedangkan Bab ketiga, Me-Chan mendedahkan tentang Prepare Be Better. Ada tiga sub bab dalam buku ini yang menjelaskan tentang Good Preparation better than Good Explanation, Never Stop Study, Show up, Stand up, Speak up.

Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, pada buku kali ini di akhir setiap bab ada karikatur yang berkaitan dengan wacana yang dibahas tiap bab. Seperti bab empat yang merupakan inti dari buku ini, yaitu: Resign=Memajukan Diri. Menurut Me-Chan, menyiapkan diri baik mental dan skills adalah upaya terbaik yang harus kita lakukan jika kita siap menghadapi ujian dalam bentuk apapun, terlebih dengan tidak stabilnya kondisi perusahaan di mana kita dituntut selalu siap dengan segala resiko.

Resign itu harus maju, harus menjadi lebih baik karena yang mengajukan resign pasti seharusnya sudah jauh lebih siap dibandingkan yang di-resign-kan. Orang yang mengajukan resign pastinya sudah berpikir dalam tentang keputusannya apapun alasannya, itu sebabnya orang yang mengundurkan diri lebih siap dibandingkan dengan yang diberhentikan.

Namun sangat disayangkan apabila orang yang jauh lebih siap ternyata “resign” tidak mengalami kemajuan, resign tidak hanya karena bosan atau karena ingin mencari suasana baru tanpa perubahan apapun yang lebih baik. Baik dari sisi penghasilan, fasilitas atau yang paling utama yaitu kualitas dan karya yang lebih baik.

Dalam bab empat ini juga di bahas tentang Self Management dan Choose The Right Job for Us, Harus diingat memajukan diri bisa kita lakukan dengan banyak cara. Apapun yang kita pilih memiliki konsekuensi yang harus siap kita hadapi. oleh sebab itu kita harus lebih siap, maka proses reminder diri seperti self management dalam proses pengembangan diri mutlak harus kita jalankan jika kita ingin memiliki kebebasan memilih.

Jadi anda masih bingung dengan pilihan Anda? Tidak ada salahnya untuk membaca buku ini sebagai bahan pertimbangan. Selamat membaca

Eva Rohilah

Pengamat Buku tinggal di Depok