Archive for the ‘Buku dan Media’ Category

Resensi Buku: Sapiens

Riwayat Singkat Umat Manusia

Penulis: Yuval Noah Harari

Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari Palar

Penyunting: Andya Primanda

Penerbit: KPG, 2017

Edisi : Cetakan ke-2 Oktober 2017

Buku “Sapiens” yang saya baca ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuntaskannya. Karena menyangkut sejarah kehidupan manusia yang  terdiri dari tiga revolusi. Pertama, revolusi kognitif, kedua revolusi pertanian, dan ketiga revolusi sains. Dimana pada saat peralihan dari revolusi pertanian ke sains, bahkan ada satu bab tersendiri tentang pemersatuan umat manusia.

Namun, perlu dijelaskan bahwa, Homo Sapiens yang ada di dalam buku ini bukan berdasarkan teori biologis, tapi teori Darwin. Dimana manusia pada awal di temukan, Homo Sapiens atau disebut spesies Sapiens (bijak) dalam genus homo (manusia), hlm 5.

Revolusi Kognitif dan Revolusi Pertanian

Homo Sapiens merupakan anggota satu famili yang merupakan salah satu rahasia paling terkunci rapat dalam sejarah. Dimana Homo Sapiens lebih suka memandang dirinya sendiri sebagai berbeda dari hewan.Kerabat-kerabat terdekat Homo Sapiens adalah simpanse, gorila dan orang utan. Simpanse adalah kerabat kita yang paling dekat.

Enam juta tahun yang lalu, satu kera betina memiliki dua putri, yang satu menjadi nenek moyang semua simpanse yang satu lagi adalah nenek moyang kita.

Guna menuntaskan kontroversi ini dan memahami perihal seksualitas, masyarakat dan politik kita, kita perlu belajar belajar tentang kehidupan leluhur kita, mengkaji bagaimana sapiens hidup antara revolusi kognitif pada 70.000 tahun silam dan awal mula revolusi pertanian sekitar 12.000 tahun silam.

Homo Sapiens hidup pada zaman dahulu kala dengan para pemburu dan pengumpul purba yang hidup di daerah yang lebih subur daripada Kalahari untuk mendapatkan bahan makanan dan bahan mentah.

Ditambah lagi, mereka menikmati beban pekerjaan rumah yang lebih ringan. Mereka tidak punya piring untuk dicuci, karpet untuk dibersihkan, lantai untuk di pel,popok untuk diganti, maupun tagihan untuk dibayar.

Para cendekiawan pernah percaya bahwa pertanian menyebar dari satu titik asal tunggal di Timur Tengah ke empat penjuru dunia.Orang-orang di Amerika Tengah mendomestikasi jagung dan buncis, orang Amerika Selatan membudidayakan kentang dan Ilama, revolusi pertanian pertama di Tiongkok mendomestikasi padi, millet dan babi.

Di daerah lain misalnya Amerika Utara bosan menyisir sesemakan demi mencari labu liar yang bisa di makan, orang Papua menjinakkan tebu dan pisang, sementara petani Afrika Barat pertama menjadi millet Afrika, padi Afrika, sorgum, dan gandum sesuai dengan kebutuhan mereka. Dari titik fokus awal ini, pertanian menyebar ke seluruh dunia.

Revolusi pertanian menjadikan masa depan jauh lebih penting daripada sebelumnya. Para petani harus selalu mengingat masa depan, bangun pagi-pagi buta untuk bekerja seharian di ladang karena mengkhawatirkan siklus musim produksi.

Pemersatuan Umat Manusia

Meskipun  penulis Yuval Noah Harari adalah  seorang Yahudi, beliau orang yang mengakui keragaman. Bahkan pada bagian tiga yang menjelaskan tentang Pemersatuan bangsa, beliau menampilkan gambar yang sangat indah tentang jamaah haji mengelilingi Ka’bah di Mekkah.

Bahkan hukum tentang agama sendiri bahas dalam satu bab di bagian tiga (248-256), juga bagaimana orang memandang sepakbola sebagai agama.

Revolusi Sains dan Kebahagiaan Semu

Dalam bagian yang membahas Revolusi Sains ini ada tujuh bab yaitu penemuan ketidak tahuan, perkawinan sains dan imperium, kredo kapitalis, roda-roda industri, revolusi perizinan, dan mereka pun hidup bahagia selamanya, tamatnya homo sapiens.

Orang yang terlalu banyak mengkonsumsi teknologi akan mengalami kebahagiaan semu karena menderita keterasingan dan kekosongan makna meskipun mereka makmur.

Dan barangkali leluhur kita yang tidak punya banyak hal justru menemukan banyak kepuasan dalam masyarakat, agama dan kedekatan dengan alam.

Uang, Penyakit dan Kebahagiaan

Orang yang kaya, baik karena membuat aplikasi teknologi yang memiliki jutaan pengguna dan penumpang, biasanya ia akan memiliki banyak uang. Kalau punya uang atau harta melimpah ia ingin makan enak dan bermalas-malasan. Membeli suatu yang mewah dengan cara mengkredit atau membeli makanan sembarangan yang penting enak.

Apa hubungan antara uang, makanan tidak bergizi (kemproh/jawa, geuleuh/sunda) yang biasa dibeli oleh orang kelebihan uang. Maka yang timbul adalah serangan penyakit seperti batuk dan jantung karena rokok dan makanan goreng-gorengan, sakit kanker karena makanan bermicin, sulit buang air besar karena kurang serat dan menjadi pemalas akibat jarang olahraga dan terlalu sering membeli fastfood dan memesan makanan lainnya lewat online.

Ada satu kesimpulan menarik tentang apa makna uang. Uang memang mendatangkan kebahagiaan, namun hanya sampai pada titik tertentu, dan selepas titik itu uang tidak punya makna (halaman 456).

Noah Harari juga menjelaskan jika sudah sampai pada kesimpulan di atas, terlalu banyak uang, malas-malasan, menimbulkan penyakit, maka yang ada adalah tergerusnya kebahagiaan. Tiada ada orang yang punya uang banyak tapi setiap hari mengeluh sakit, di rawat, dioperasi, tidak bisa jalan dan di hari tua sakit-sakitan.

Belum lagi orang yang terlalu banyak uang merusak lingkungan. Membeli makan dan tidak menghabiskan, bahkan sering membuang-buang makanan di tempat sampah, padahal di benua lain orang kelaparan. Apalagi yang merusak ekologis seperti menambang bahan bakar dan fosil yang seharusnya terpendam lama di habiskan orang-orang yang serakah untuk memenuhi permintaan pasar mobil atau kendaraan bermotor dan pemborosan listrik, seperti minyak bumi dan batubara.

Orang yang memiliki uang dan membeli kendaraan yang diisi oleh sumber daya yang merusak bumi, maka selamanya ia akan merasa diri paling kaya dan paling gagah.

Karena semua yang ada di dunia ini dia hanya melihat dari penampilan semata seperti mobil mewah, handphone mahal dan hidup serba ada. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah merusak alam dan lingkungan ekologis terbesar kita yaitu bumi dan seisinya.

Bahkan gejolak ekologis itu mungkin membahayakan kelestarian kita (Homo Sapiens) sendiri. Pemanasan global, naiknya permukaan laut dan pencemaran yang tersebar luas dapat menjadikan bumi kurang bersahabat bagi kita sendiri dan akibatnya pada masa depan mungkin terjadi lomba tiada akhir antara upaya manusia dan bencana alam yang dipicu manusia (420).

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus dan penerjemahannya juga sangat menarik dan cerdas. Kelebihan buku ini ada pada kualitas isi dan pemaparan yang jujur, gamblang dan mengejutkan.

Namun ada satu hal yang mestinya harus dipertanyakan tentang teori singularitas dan tamatnya Homo Sapiens berkaitan dengan berakhirnya kehidupan atau biasa kita sebut hari kiamat (dalam agama Islam).

Namun, sebenarnya ada satu pesan mulia dari buku ini, dimana hari akhir kehidupan (kiamat) bisa kita cegah dengan cara kembali ke bagian satu yaitu kembali ke zaman revolusi pertanian dan mengurangi menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan transportasi massal dan membiarkan jalan-jalan tol yang baru di bangun itu untuk distribusi bahan baku dan hasil industri dari pelosok tanah air agar merata, sehingga bahan yang sulit di daerah lain bisa disalurkan lewat truk dan lewat perjalanan laut. Jangan sampai ada mobil masuk ke kapal laut ya, apalagi mobil kreditan, karena akan membebani kapal dan tenggelam sehingga kalau tenggelam ke dasar laut yang hancur adalah biota laut dan kasihan nelayan, ikan mereka keracunan barang kemewahan orang-orang sebrang lautan yang serakah dan ingin punya mobil mewah padahal merusak lingkungan, alam, dan membebani lautan.

Jika bumi, lautan, udara semua di isi oleh keserakahan maka yang ada adalah ketidak seimbangan seperti kebakaran, longsor dan banjir meski tidak ada hujan, gempa alam di berbagai wilayah dan seperti yang kita lihat sekarang banyak terjadi kejadian kriminal karena orang kesulitan untuk membayar cicilan.

Itu saja mungkin yang bisa saya sampaikan dalam buku ini, anda akan rugi jika tidak membacanya. Akan tetapi karena buku ini mahal, maka sebaiknya kita sekarang lebih baik berolahraga, banyak jalan dan naik transportasi massal.

Kurangi makan-makan dan lebih baik kita menanam seperti Homo Sapien dulu ada dan senang berkelompok bersama untuk menanam aneka tanaman yang bisa bermanfaat untuk anak cucu kita, bukan berkumpul sambil makan-makan enak dan menghabiskan waktu percuma dan tidak menghabiskan makanan.

Surabaya, 15 Juli 2018

Pukul 11.27 WIB

Advertisements

Resensi Buku
Judul : Guncangan Besar (The Great Disruption)
Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru
Penulis :Francis Fukuyama
Penerjemah : Masri Maris
Editor : H. Wawan Setiawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama dan Freedom Institute

Edisi: I, 2005

Buku ini dimulai dengan pengantar yang mengejutkan dari seorang tokoh filosof Yunani. “Kita dapat mengenyahkan Alam dengan garpu rumput, tetapi Alam (rumput) selalu tumbuh lagi, dan ia akan menembus upaya bodoh kita dengan penuh kemenangan”-Horace, Epistles.

Bagaimana juga kini kita sudah tiba pada saatnya kembali kepada apa itu yang namanya Guncangan Besar dan mengajukan apa yang akan terjadi. Apakah kita ditakdirkan tergelincir ke dalam kekacauan sosial dan moral yang makin besar?
Sebenarnya bukan itu garis besar yang dimaksud dengan Guncangan Besar dalam buku ini.

Guncangan besar adalah tereduksinya dinamika garis dan arah (sekat-sekat) sosial, hubungan pertemanan, dan keluarga, karena perkembangan teknologi dan kebencian sosial yang terbentuk karena maraknya aplikasi media sosial, aplikasi online dan dinamika besar perubahan zaman. Itu sebesarnya guncangan besar yang saat ini sedang kita rasakan.

Kita mungkin tidak sadar, bahwa ketika kita sedang membuat status dalam media sosial, baik dalam bentuk Facebook, instagram, twitter, Path dan lain sebagainya, kita sangat ingin mendapat like atau komentar yang berarti kita sudah tidak ikhlas dalam berteman. Nah, ketika kita tidak menyadari bahwa hal itu yang memperburuk tentang kesan bahwa kita berteman atau tidak, disanalah terjadi guncangan besar. Contohnya, di sapa di whattsapp tidak menjawab, di colek tidak dibales atau di whattsapp group tidak aktif, maka di disitulah kita merasakan apa itu guncangan besar.

Buku ini terdiri dari tiga bagian, dengan tebal 447 halaman. Dalam ilmu sosial, perubahan sosial adalah suatu hal yang tidak dapat kita hindari.Para pelopor cabang ilmu ini seperti Ferdinand Tonnies, Emile Durkheim, dan Max Weber dengan cara masing-masing mencoba merumuskan teori-teori sosial berdasarkan gejala perubahan dalam masyarakat yang mereka amati.

Pada bab satu menjelaskan ikatan-ikatan dan modal sosial yang hilang diantara kita akibat terlalu sering bermedia sosial. Baik sosiolog maupun ekonom, tidaklah gembira dengan meluasnya penggunaan istilah media sosial, karena bagi sosiolog hal itu berarti semakin luasnya pengaruh ilmu ekonomi dan sosial, sementara bagi ekonom, konsep tersebut masih kabur dank arena itu sulit, jika tidak mustahil mengukurnya.

Dan memang, mengukur seluruh hubungan kerjasama sosial berdasarkan nilai-nilai kejujuran dan asas timbal balik bukanlah pekerjaan yang mudah. Jika kita menyatakan bahwa guncangan besar telah membawa dampak pada modal sosial, kita harus mencari landasan empiris untuk menguji apakah memang benar demikian?.

Masih dalam bab satu, dijelaskan tentang bagaimana kita melihat peran perempuan dalam guncangan besar. Makin banyaknya aborsi dan ketidak jelasan asal-usul biologis keluarga. Bila kita letakkan kekerabatan dan keluarga dalam konteks biologi, lebih mudah bagi kita untuk memahami mengapa keluarga inti mulai tercerai berai. Ikatan keluarga boleh dikatakan sudah rapuh, yang didasarkan pada tukar menukar perempuan kesuburan perempuan dengan sumber daya laki-laki.

Pada bagian dua, lebih banyak menjelaskan tentang asal usul moral. Dimulai dari datangnya moral, kodrat manusia, dan tatanan sosial. Asal muasal kerjasama, mengatur diri sendiri, teknologi jaringan modal sosial dan batas-batas keniscayaan hierarki. Pada bab tentang jagad norma, Slug, dalam hal ini adalah ketentuan-ketentuan tentang batasan sosial di hadapan orang-orang yang memiliki harta dan jabatan tapi tidak memiliki kemanusiaan akan semakin banyak.
Seperti hal yang menyeruak sekarang adalah perdebatan seru mengani kerjasama dan persaingan.

Aku melihat dalam bab dua ini adalah bagaimana mungkin orang lebih senang dengan status yang memiliki banyak komentar dan like atau love dan sebagainya daripada mereka ngobrol atau sekedar berkumpul bersama keluarga. Akan tetapi yang mengerikan adalah kalau di dalam kehidupan dunia media sosial memiliki banyak teman, tapi di dalam kehidupan nyata ia sendirian.

Selain itu persaingan aplikasi online untuk merebut jumlah penumpang apakah memakai daring atau online dengan kendaraan transportasi tradisional. Mereka lebih senang individualism daripada kolektivisme. Selain itu, dalam jaringan sosial, seperti Saxenian, pakar hak cipta, sikap mementingkan hak cipta individu dan perusahaan semakin menguat.

Pada bagian selanjutnya adalah bab tiga, banyak orang secara intuitif percaya bahwa kapitalisme merusak kehidupan moral. Pasar menjadikan segalanya barang dagangan dan mengganti hubungan manusia dengan laba, seperti makin merebaknya toko daring atau toko online. Menurut masyarakat kapitalis modern lebih banyak menguras modal sosial daripada menghasilkannya.

Dalam bab lampiran, justru lebih menggetarkan dada. Bab yang membahas tentang guncangan besar di beberapa negara tentang apa yang dibahas dalam buku ini yaitu gesekan sosial akibat teknologi yang ada sekarang ini atau era perkembangan dunia industri ke dunia teknologi.

Dalam diagram di jelaskan bahwa tingkat kejahatan dengan kekerasan, tingkat pencurian, tingkat kesuburan dan perceraian, dalam hal ini hak ekonomi sosial keluarga justru mengalami kenaikan dalam kehidupan sosial.

Dalam bab ini beberapa negara seperti Kanada, Australia, Amerika Serikat, Jepang, Denmark, Korea Selatan, Finlandia dan Perancis, memiliki angka yang berbeda-beda dalam mengalami dinamika atau goncangan sosial.

Eva Rohilah
Pengamat Buku dan Sosial

Perjalanan Sudimara Tanabang  tadi pagi lumayan lama meski tidak sampai satu jam. Jika di commuter sekarang kebanyakan orang membuka Hp, maka pagi ini saya menemukan seorang perempuan yang tidak menyia-nyiakan waktunya untuk membaca buku.

Sambil berdiri, perempuan memakai celana jeans dan baju pink ini tidak berhenti sedetikpun membaca buku sambil berdiri dan mengenakan tutup muka. Saya foto candid, dari posisi berlawanan.

Sekilas saya memperhatikan bahwa perempuan muda itu membaca buku berjudul “The Broken Window” karya Jeffery Deaver. Seorang penulis asal Amerika Serikat yang karya-karyanya menjadi Best Seller Internasional.

Membaca di Kereta

Jeffery Deaver adalah seorang penulis fiksi dan juga pakar hukum. Karyanya banyak berkisah tentang misteri dan kriminal.

Sampai stasiun Palmerah beberapa penumpang banyak yang turun, perempuan tadi yang duduk berdiri pun mendapat tempat duduk dan dilanjutkan dengan duduk sambil membaca.

19 April 2018, Pukul 12.39

Hari ini sedang hectic. Tidak banyak waktu untuk menulis blog seperti hari kemarin. Akan tetapi, hari ini saya tertarik dengan buku kecil bersampul hitam gradasi kuning berjudul “Kamus 5000 Peribahasa Indonesia” karya Heru Kasida Brataatmadja yang diterbitkan kanisius Jogjakarta.

Buku kecil ini sangat bagus isinya. Banyak aneka peribahasa yang menggambarkan perasaan seseorang dan fenomena sosial yang ada di sekitar kita.

Urutan peribahasa urut abjad dari A hingga Z. Seperti A dalam kata Akar.
“Telah Berurat Akar” artinya sesuatu yang telah menjadi kebiasaan, dan tidak mudah diubah lagi.

Kemudian B dalam kata Besi.
“Asal besi mengepak kayu, asal emas menjadi pendok,”;artinya derajat seseorang dapat ditentukan dari perangainya.

D dalam kata “Dara”
“Bagai anak dara mabuk andam” artinya seorang perempuan yang berbuat sopan tetapi dibuat-buat.

Wah karena huruf abjad itu banyak langsung ke T ya, Timun.
“Bagai timun dandang, di luar merah di dalam pahit”
artinya lahirnya baik tetapi hatinya jahat.

Kemudian terakhir Z
“Zaman beralih musim bertukar”
artinya segala sesuatu berdasarkan putaran waktu.

Apalagi ya banyak peribahasa lain pokoknya. Sangat cocok dengan kondisi sekarang ini baik, sosial maupun politik. Sangat menarik.

Silahkan anda membeli jika menyukai peribahasa,  karena kamus ini bagus dan sangat laris, yang ada di tangan saya ini cetakan ke-21. Tebalnya 516 Halaman.

Yuuk kita belajar peribahasa untuk memperkaya khazanah bahasa ibu kita Bahasa Indonesia.

18 April 2018 Pukul 17:07

Judul Buku:
Seks dan Revolusi
Penulis:
Jean Paul Sartre
Penerjemah :
Sivester G Sukur
Cetakan: I, Mei 2002
Tebal: 258 Halaman
Penerbit: Bentang Pustaka Yogyakarta

Buku ini merupakan kompilasi dari berbagai esai Sartre yang dikelompokkan ke dalam dua tema utama, yaitu seks dan revolusi. Masing-masing tema berdiri sendiri dan dibahas dengan sudut pandang yang berbeda. Namun demikian pemaparan secara kontekstual dengan gagasan-gagasan yang mengejutkan menjadi ciri dari esai-esai Sartre ini. Buku ini diterjemahkan dari buku “Modern Times: Selected Non Fiction”, Penguin London, 2000.

Jean Paul Sartre (1905-1980) seorang pendiri eksistensialisme Perancis, memiliki pengaruh besar di berbagai bidang pemikiran modern. Sebagai seorang penulis yang cerdas dan orisinil, Sartre berkarya dalam banyak genre yang berbeda-beda. Sebagai seorang filsuf, novelis, penulis drama, biograf, kritisi di bidang kebudayaan, dan seorang wartawan politik, Sartre mendalami makna kebebasan manusia dalam suatu abad yang dibayangi oleh peperangan.

Sejumlah esai panjang dalam buku ini merefleksikan visi eksistensialis Sartre tentang Seksualitas dan revolusi. Hasrat seksual, cinta maternal,  bagi Sartre merupakan fenomena yang sesungguhnya tak lepas dari suatu modus kesadaran (tubuh) untuk mengada dan menjadi. Yang unik, didalam seks, kesadaran itu kemunculannya melibatkan penemuan tubuh lain.

Ketika berbicara tentang seks, cara pemaparan Sartre sangat berbeda dengan pembicaraan-pembicaraan seks pada umumnya. Seks, bagi seorang eksistensialis seperti Sartre tidak hanya bisa dipandang dari satu sisi saja yakni hasrat pemenuhan seksual. Seks adalah suatu hal yang harus dijabarkan secara mendetail dengan karakter dan fungsi yang melekat padanya.

Dalam esai panjang di awal buku ini, Sartre membahas tentang apakah makna hasrat yang sesungguhnya? Benarkah bahwa hasrat merupakan bagian terdiri dari fungsi tubuh sehingga pemenuhannya pun memerlukan kondisi tertentu. Sartre mengaitkan setiap permasalahan tersebut dengan keadaan tubuh fisik, meski hal ini tidak dapat diartikan bahwa setiap anggota tubuh tersebut akan juga bisa merasakan pemenuhan kondisi psikologis tersebut. Pertautan antara kondisi psikologis dan tubuh fisik ini kembali dipaparkan ketika Sartre membicarakan cinta keibuan.

Keingintahuan yang dingin dan kecemasan hati ini adalah kunci untuk memahami dunia seksual Sartre. Hal ini menimbulkan penghayatan yang tak terlupakan terhadap orang lain secara rinci, tanpa ilusi. Dia sangat piawai dalam seni kelam tentang cinta. Selain anak sekolah Perancis yang pakar dalam seluk beluk rumah bordil, Sartre mengetahui gairah menghanyutkan yang melambung dalam puisi-puisi seksual Baudelaire dan keletihan yang menggelisahkan yang murung dalam Baron Charlus-nya Proust.

Kebebasan yang merupakan ciri dari pemikiran Sartre, sangat mewarnai esai-esai ini hingga acapkali memunculkan suatu hal yang bagi para pembaca tidak lazim untuk dibicarakan.

Adapun mengenai revolusi, pandangan-pandangan Sartre tidak dapat dilepaskan dari pengalaman pribadinya saat menjalani wajib militer, ditangkap dan dipenjara oleh pihak Jerman ketika terjadi Perang Dunia II. Pengalamannya saat melarikan diri dari penjara tersebut untuk kemudian bergabung dengan gerakan perlawanan di Prancis sangat memperkaya pemikirannya sehingga dia mengalami beberapa fase revolusi secara intelektual. Oleh karena itu tidaklah mengherankankan jika darinya terlahir pemikiran-pemikiran yang begitu orisinil dan mendalam, saat ia merespon gagasan-gagasan tentang demokrasi, kelahiran, Stalinisme, konolialisme Eropa terhadap bangsa kulit hitam Afrika, pembebasan Paris, dan juga situasi Chekoslovakia tahun 1968.

Revolusi-revolusi besar yang muncul pada aabd ke-20 diulas oleh Sartre secara mendalam dan dinamis. Ia mendedahkan keterkaitan antara pengalaman historis kolektif itu dengan kesadaran individual. Terutama pada kaum libertarian penganut doktrin kebebasan yang selalu kritis. Disamping itu, esai-esai tentang revolusi inipun memprediksikan suatu bayangan ke depan, yakni peristiwa-peristiwa besar yang menyusul kemudian.

Meski merupakan respon terhadap situasi zamannya esai-esai Sartre ini tetap layak dibaca oleh pembaca masa kini karena di sini terimplikasi penghargaan yang tinggi terhadap manusia sebagai individu, yakni sesuatu yang kini cukup langka ketika manusia lebih banyak dipahami sebagai massa, masyarakat, gerombolan, ataupun semacam pangsa pasar dan konsumen yang tak lagi memiliki kebebasan memilih, berimajinasi, bebas memilih dan mempertanggungjawabkan hidup.

Buku ini adalah salah satu karya Sartre yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Membaca buku ini akan membuka cakrawala pembaca yang tidak hanya tentang seks dan revolusi saja, tapi juga banyak menyinggung masalah cinta kasih, moralitas, dan ketulusan seorang eksistensialis.

Gaya penulisan yang blak-blakan menjadi daya tarik buku ini, apalagi sang penulis, Sartre mempunya reputasi internasional yaitu penghargaan Nobel dibidang kesusastraan pada tahun 1964, meskipun akhirnya dia tolak. Tergugah oleh keinginan besarnya akan kebebasan dan keadilan, dicintai dan dibenci dalam kehidupan, Sartre memposisikan diri sebagai pengganti autentik modern bagi Voltaire, Victor Hugo, dan Emilie Zola, sayang sekali bila anda melewatkan buku ini.

Resensi ini dimuat pada 21 Juli 2002 di Harian Bernas yang sekarang surat kabarnya sudah tutup.

Judul Buku: Agama, Filsafat, Seni dalam Pemikiran Iqbal
Penulis: Asif Iqbal Khan
Penerjemah: Farida Arini
Cetakan: 1, Mei 2002
Tebal: vii + 167 halaman
Penerbit: Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta

Relasi Simbiosis Antar Agama, Filsafat dan Seni

Muhammad Iqbal merupakan satu-satunya individu dalam sejarah Islam modern yang bisa menerima pemikiran Barat modern bersamaan dengan ajaran abadi Islam. Hal inilah mungkin yang membuatnya mampu mengemban tugas amat berat yakni menyusun kembali pemikiran religius Islam

Iqbal adalah seorang pencinta kehidupan yang percaya pada pendekatan yang dinamis dan berpandangan ke depan pada kehidupan dan masalah-masalahnya. Ia berkeinginan membangun kembali Islam dengan kejayaan dan kesederhanaannya sambil menghadapi tantangan dari ilmu pengetahuan modern dan filsafat, serta untuk mencapai keselamatan bagi seluruh umat manusia baik di dunia maupun di kehidupan selanjutnya. Untuk mencapai hal itu Iqbal melakukannya dengan dua hal, yakni melalui pemikiran filsafat dan ketajaman puisinya.

Buku ini merupakan terjemahan dari buku yang berjudul Some Aspects of Iqbal Thought yang berisi tema pokok tentang pemikiran Iqbal. Ia seorang filsuf Islam yang cukup berpengaruh. Dia beranggapan bahwa media agama sebagai hal sangat penting dalam kehidupan seseorang.

Hanya agamalah yang dapat menyelesaikan sepenuhnya permasalahan yang kompleks berhubungan dengan manusia. Dalam peta khazanah pemikiran tentang Islam modern, barangkali Iqbal merupakan satu-satunya pemikir yang memiliki akar kuat dalam tradisi Islam—Timur maupun Barat modern.

Oleh karena itu tidak berlebihan bila Iqbal dikatakan sebagai salah satu filsuf Islam besar yang membidangi gerakan yang dikenal sebagai gerakan kebangkitan Islam. Ia mencita-citakan adanya sebuah Renaisans Islam (sebagai agama ynag sempurna, agung, sekaligus sederhana). Pemikiran Iqbal dapat saja tersingkir dikarenakan terjadinya kemunduran Islam berbentuk ritualisme, obskurantisme dan fanatisme.

Agama Rasional Upaya Iqbal untuk memberikan keharmonisan antaragama dan filsafat terutama termotivasi oleh pertimbangan praktis. Dia menganggap bahwa prinsip agama tetap dibutuhkan dalam dasar yang rasional.

Hal ini sesuai denan pendapatnya bahwa agama merupakan dasar bagi pikiran, dengan keberanian bergulat dengan filsafat dan ilmu pengetahuan modern, guna membangun kehidupan manusia yang bahagia baik di dunia maupun di hari kemudian.

Kenyataannya bahwa tujuan Iqbal sepanjang hidupnya adalah untuk membangun kembali Islam. Hal itu dapat dilihat dengan nyata dari syair, puisi maupun prosanya. Keinginannya untuk menghidupkan kembali moral sosial dan ide politik Islam dapat dilihat dari kekuatan ekspresi yang muncul dalam puisi-puisi filosofisnya seperti Asrar dan komposisi-komposisi puisinya yang lain.

Ide Iqbal yang sistematis dapat ditemui dalam bukunya yang religius-filosofis berjudul The Recontruction of Religions Throught of Islam (Rekrontruksi Pemikiran Religius Islam).

Pidato-pidato, pernyataan-pernyataan dan pemikiran-pemikiran Iqbal telah membuktikan bahwa dia telah menemukan inspirasi dan petunjuk dari ajaran Al-Qur’an dan kehidupan Rasulullah SAW. Iqbal juga bangga dengan hasil yang telah dicapai oleh filsuf-filsuf dan ilmuwan-ilmuwan Islam sepanjang masa.

Inilah salah satu alasan mengapa dia begitu bersemangat mendukung penelitian dan studi mendalam yang dilakukan secara terus-menerus dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan Islam.

Keistimewaan Iqbal yang luar biasa adalah pandangannya tentang dasar kebudayaan Barat modern dan Islam yakni bahwa Iqbal tidak menganggap salah dunia Islam saat ini dan sedang mengikuti kebudayaan Barat dengan cepat.

Satu-satunya kekhawatiran Iqbal adalah kalau “kehidupan fisik yang gemerlapan” dunia Barat akan mempengaruhi gerakan dunia sehingga memnyebabkan tidak mampu mencapai inti jiwa kebudayaan yang sebenarnya.

Iqbal yakin kalau gerakan kaum komunis di Eropa dimulai secara luas karena dorongan bebas pemikiran Islam, buah humanisme yang berbentuk ilmu pengetahuan dan filsafat modern, dengan penuh segala hormat hanyalah merupakan perluasan dari kebudayaan Islam. Di sini bisa kita lihat betapa kuatnya perhatian Iqbal pada masa ini.

Dalam salah satu suratnya kepada Sahib Zada Aftad Ahmad Khan, Sekretaris All India Muhamm dari Educational Conference (Konferensi Pendidikan Islam Seluruh India) di Aligarh yang bertanggal 4 Juni 1925, dia mengatakan: “Secara kasar dapat dikatakan kalau kejatuhan politik Islam di Eropa yang sedang terjadi saat ini dimulai ketika para pemikir Islam melihat kesia-siaan ilmu pengetahuan edukatif.

Sehingga praktis sekarang ini Eropa-lah yang mengambil alih tugas penelitian dan penemuan. Aktivitas intelektual di dunia Islam praktis terhenti saat ini.”

Saat ini Barat memimpin prinsip-prinsip Islam untuk kepentingan intelektual dan ilmu pengetahuan mereka, lalu kenapa kita harus mengambil petunjuk dari mereka? Kita juga bisa mengambil jalan dengan melalui sumber asli perkembangan modern dalam ajaran Islam. Kebangkitan Islam berikut penyebarannya memainkan peran sangat menentukan dalam sejarah. Kebangkitan ini dengan sukses telah membelokkan jalannya sejarah yakni denan mengubah negara Arab menjadi negara pemimpin pada masanya.

Orang Arab mendapat identitas baru dan ide-ide cemerlang dan mereka juga dikeluarkan dari lubang kemerosotan yang sangat dalam serta peradaban yang rendah. Tapi hal itu hanya mungkin dilakukan selama umat Islam tetap setia dan bertanggung jawab pada jiwa ajaran Islam.

Iqbal juga mengetahui mengapa saat ini umat Islam tidak termotivasi dan terinspirasi oleh semangat perubahan ilmuwan Islam pada masa lalu. Perubahan yang mereka lakukan adalah berusaha melawan dominasi filsafat pada masa itu yang dikuasai tradisi Yunani.

Hal itu membuktikan bahwa ilmuwan Islam bukan pengikut yang membabi buta. Para ilmuwan Islam ini memiliki keberanian untuk memiliki keyakinan yang “berbeda dengan jalur yang tersingkir” dibandingkan dengan pendahulu mereka. Tujuan mereka adalah menguasai dan mengendalikan alam, sejarah, perubahan keadaan sosial, etika dan politik yang ada, sehingga sesuai kondisi yang berlaku saat itu.

“Kritik konservatif tak pernah menjadi halangan bagi gerakan konstruktif mereka. Dibandingkan dengan tekanan filsafat Yunani konseptualisme dan abstraksisme, Al-Qur’an mengajarkan pendekatan yang pragmatis dan praktis dalam kehidupan.

Semangat perubahan ini menimbulkan konflik antara mereka dengan logika dan filsafat Yunani. Dalam kuliahnya yang berjudul “Jiwa Kebudayaan Islam”, Iqbal berusaha menemukan perbedaan esensial yang ada antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat.

Resensi ini dimuat di Harian Solo Pos, 28 Juli 2002. Tulisan lama.

17 April 2018, Pukul 11.19

Hari ini hanya ada sedikit tulisan yang saya baca di sebuah pembatas buku warna orange.

Ungkapan sederhana tentang skala prioritas dalam hidup.

“Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal;
tapi tentang memedulikan hal sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting,” Mark Manson.

11 April 2018, Pukul 17:10

Resensi Buku
Judul : Einstein, Kehidupan dan Pengaruhnya Bagi Dunia
Penulis: Walter Isaacson
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi : Cet I, November 2012

Einstein Bersepeda

Einstein Bersepeda

Jauh sebelum menulis tentang biografi Steve Jobs, Walter Isaacson sudah menulis tentang kisah fisikawan terkemuka, penerima nobel bidang Fisika Albert Einstein. Saya mungkin terlambat membaca buku pria kelahiran Swabia Jerman ini. Akan tetapi tidak ada salahnya jika di selasa sore ini saya bercerita sedikit tentang Albert Einstein.

Siapa yang tidak mengenal sosok fenomenal dan genius Albert Einstein yang terkenal dengan teori relativitas kuantumnya. Seluruh dunia mengakui kecerdasan Einstein dari anak kecil, remaja, hingga orang tua. Namun anda tahu, bagaimana kehidupan keluarganya, hal-hal yang paling membahagiakan, ketenaran, perceraian, pemberontakan, hingga kematiannya yang mengejutkan dunia.

Profesor Pengembara yang Gemar Bersepeda

Buku ini diawali dengan sangat ceria. Sosok Albert Einstein, mengayuh sepeda di sebuah taman di Santa barbara pada tahun 1933. Rambut ikalnya yang bergelombang tampak tertiup angin, senyuman gembira tampak di wajahnya. Dalam tulisan di bawah foto itu, Einstein berpesan kepada anak pertamanya Eduard.

“Hidup itu seperti mengendarai sepeda, agar tetap seimbang kau harus tetap bergerak,”-Albert Einstein

Einstein lahir dari pasangan ayah ibu berdarah Yahudi. Kedua orang tuanya adalah keturunan pedagang dan penjual keliling Yahudi yang lebih dari dua abad hidup sederhana di pedesaan Jerman Barat. Dari generasi ke generasi mereka membaur dengan budaya Jerman yang mereka sukai. Sejak kecil, Einstein mengalami terlambat dalam berbicara, sehingga orangtuanya sempat khawatir dan diperiksa ke dokter.

Saat mahasiswa di politeknik pun termasuk tipe mahasiswa yang kurang ajar (Bab-3, 1896-1900). Kisah cintanya juga sangat berliku dan mengharukan dengan Mileva, gadis berdarah Serbia yang memberinya tiga anak, namun mereka memutuskan bercerai. Disinilah kisah mengharukan bagaimana kita mengenal siapa itu Mileva, bagaimana anak-anak Einstein, juga kehidupannya pasca bercerai.

Buku yang bersampul biru ini terdiri dari 25 bab. Sekitar 12 bab bercerita dari masa kecil saat, tahun keajaiban, relativitas khusus, pikiran paling menggembirakan hingga cerita indah sebagai profesor pengembara.

Sosok Pemberontak dan Penyendiri

Setelah hampir separuh bab bercerita masa-masa remaja hingga kecerdasannya yang sudah terlihat sejak muda, dan pemikiran dan pandangannya terhadap kekuasaan. Separuh bab berikutnya lebih banyak mengupas tentang proses penerimaan nobel, mendalami tentang teori kuantum, ulang tahun ke-50, Pengungsi, Amerika, Tonggak Sejarah, Red Scare, hingga kehidupan di akhir hayatnya.

Hampir semua tulisan Isaacson, ditulis dengan sangat mendetail dalam menjelaskan suatu hal. Baik itu dalam kehidupan pribadi, teori, penemuan, bahkan masa-masa suram serta akhir hayat Einstein. Terlihat beberapa tokoh terkenal seperti surat-surat dari Galileo, Planck, Poincare, Lorentz dan lain-lain dalam mengungkap hubungan mereka dengan Einstein semasa hidupnya.

Ada serangkaian rumusan sederhana yang menentukan pandangan Einstein. Kreativitas mewajibkan kita untuk bersedia tidak patuh. Hal tersebut selanjutnya menuntun kita pada pikiran dan jiwa yang bebas yang selanjutnya menuntut semangat toleransi.

“Fondasi toleransi kerendahan hati-Keyakinan bahwa tidak seorangpun berhak memaksakan ide atau keyakinan pada orang lain,” tulis Isaacson tentang sosok Einstein.

Hal yang membuat Einstein istimewa adalah pikiran dan jiwanya yang ditempa oleh kerendahan hati. Dia dapat menjadi sangat percaya diri dalam perjalanan sunyinya, tetapi juga kagum oleh keindahan hasil karya alam.
“Jiwa adalah manifestasi dalam hukum alam semesta-Jiwa yang jauh lebih kuat daripada jiwa manusia dan jiwa yang ketika kita menghadapinya dengan kekuatan kita yang kecil, kita pasti merasa rendah hati,” – Einstein, hal 597

Dimata Isaacson, Albert Einstein adalah sosok penyendiri dan seorang pemberontak yang penuh rasa hormat.

Sampul Buku

Sampul Buku

 

Banjir Pujian

Karya Isaacson ini luar biasa. Banyak sekali media mauilmuwan baik di Amerika, Jerman dan negara lain memujinya. Dari New York Times, People, Chicago Tribun, Sunday Times dan lain sebagainya. Thomas L Friedman bahkan menyebut buku ini sebagai bacaan yang provokatif. Sedangkan Profesor Fisika Sylvesteer James Gates Jr dari Maryland University mengatakan jika buku ini berhasil menjalankan tugasnya yang mengagumkan, menjelaskan sains dengan benar, dan mengungkapkan seorang manusia.

Lebih dari dua puluh endorsement (pujian) hadir di edisi terjemahan Indonesia ini. Tidak ada salahnya jika anda membaca buku yang brilian dan mencerahkan ini. Sangat berguna terutama bagi pecinta sains, pecinta biografi, juga setelah selesai dibaca akan bermanfaat bagi anak atau kerabat kita kelak.

Saya suka dengan karya Walter Isaacson yang kaya ilmu dan mendalam dalam setiap buku yang ia tulis. Dua buku lainnya yang saya resensi adalah Biografi Steve Jobs klik di sini dan The Innovator. Silahkan mampir jika berkenan.

Di balik nama besar tokoh terkemuka baik dalam ilmu pengetahuan, sosial, humaniora dan digital, ada banyak kisah indah dan mengharukan tentang kehidupan pribadi yang belum terungkap dari sebuah biografi. Isaacson menceritakannya dengan bahasa yang mengalir, mudah dicerna dan tanpa menyudutkan.

10 April 2018, Pukul 20.29

Rara Mendut (Sebuah Trilogi)
Penulis: Y.B. Mangunwijaya
Penerbit: Gramedia, 2008
Tebal: 799 Halaman

Lebih Baik Menyambut Ajal di Ujung Keris, daripada Melayani Nafsu

Novel karya Romo Mangun ini dibuka dengan sebuah cerita  dari pinggir pantai. Menggambarkan kehidupan perempuan dan nelayan di sebuah teluk. Bahasanya yang humanis, syahdu, kadang campur bahasa Jawa, merupakan ciri khas Romo Mangun dalam mengurai kata. Membuat anda akan jatuh cinta membaca “Rara Mendut” sejak halaman pertama.

Ombak-ombak berbuih di pantai kampung nelayan Telukcikal pagi itu, seperti pagi-pagi yang lain, tak jera menderukan gelora kemerdekaan dan himne warna keabadian.

Tetapi tidak seperti hari-hari lazim, dari dalam buih-buih putih mendidih muncullah wajah, lalu sosok seorang gadis berkuncup-kuncup harapan; basah kuyup, rambut panjang sebagian terurai tak karuan dari ikatan ; tertawa bahagia karena baru saja ter-kapyuk (terciprat).

Entah kenapa saya selalu suka karya -karya Romo Mangun seperti halnya Rara Mendut yang bercerita tentang budak rampasan yang menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna, demi cintanya kepada Pranacitra.

Dibesarkan di kampung nelayan pantai utara Jawa, ia tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tak pernah menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya dianggap nyebal tatanan di lingkungan istana dimana perempuan diharuskan serba halus dan serba patuh. Tetapi ia tak gentar. Baginya lebih baik menyambut ajal di ujung keris daripada melayani nafsu sang Panglima tua.

Ada juga tokoh lain dalam kisah rakyat ini yaitu Genduk Duku dan Lusi Lindri. Kisah yang dikembangkan dari Babad Tanah Jawi dan berbagai sumber oleh Y.B. Mangun Wijaya, dicipta baru dan dibumbuinya dengan humor-humor segar khas almarhum Romo Mangun. Hingga tetap relevan untuk generasi masa kini.

4 April 2018, Pukul 16.04

Kamus Bahasa Sunda Karya Raden
Satjadibrata
Cetakan: Keempat, 2016
Tebal : 376 Halaman
Penerbit: Kiblat Buku Utama Bandung

Dalam sejarah Sunda, Kamus Basa Sunda Karya Raden Satjadibrata termasuk kamus yang banyak dipakai oleh pemerhati Bahasa Sunda.

Sebelumnya ada kamus Bahasa Sunda- Belanda yang disusun oleh orang Belanda. Yaitu, Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek (Leiden,1884, dan 1913), tapi yang memakai adalah orang Belanda.

Jadi, kamus ini dibuat dengan sepenuh hati oleh Satjadibrata dengan kesadaran bahwa Bahasa Sunda, dan budaya sunda lainnya akan memiliki banyak peminat dari daerah lain baik dari suku di luar suku sunda maupun peneliti dari luar negeri yang tertarik dengan tanah Pasundan.

“Karaos perlu teu kinten ayana kamus nu kenging di damel tuduh jalan, nyaeta kamus Sunda nu diterangkeun ku basa Sunda tur diangken ku ahli Basa Sunda, yen leres kateranganana.Hanjakal teu aya kamus sarupi kitu teh,” ujar Satjadibrata dalam pengantarnya.

Namun sebelum kamus Satjadibrata ini ada Bupati Cianjur R.Arya Kusumaningrat, namun kamus Melayu-Sunda pada tahun 1857, sayang belum dibukukan.

Cetakan pertama kamus Basa Sunda Karya Satjadibrata ini terbit pada tahun 1944 dengan judul Kamus Soenda-Melajoe, kemudian di revisi pada 1950 dengan judul Kamoes Soenda Indonesia.

Enampuluh tahun setelah edisi kedua terbit, Penerbit Kiblat Buku Utama dapat menerbitkan kembali Kamus sunda edisi ketiga. Namun, karena Bahasa Indonesia yang digunakan oleh Satjadibrata adalah Bahasa Indonesia yang berkembang tahun 1950, yang lebih dekat ke Bahasa Melayu, maka penerbit Kiblat menyuntingnya agar lebih sesuai dengan Bahasa Indonesia yang digunakan sekarang.

Ketika saya membaca kamus ini memang sangat lengkap sampai hal-hal terkecil (diterangkeun nepi ka bubuk leutikna) yang rumit dan jarang diucapkan. Meskipun saya asli orang Sunda, namun ada istilah-istilah yang saya belum familiar di kamus ini.

Seperti istilah “mutiktrik, artinya gede beuteung lantaran seubeuh dahar (kenyang akibat kebanyakan makan) kemudian “mutuh” yang artinya kacida teuing (keterlaluan), saya membacanya juga sambil seuserian (tertawa) karena banyak istilah-istilah lucu dan masih banyak istilah lainnya.

4 April 2018, Pukul 13.52

Beragam Makna Dibalik Tatapan Mata Perempuan

Resensi Buku: Tatapan Perempuan
(Perempuan Sebagai Penonton Budaya Populer)
Judul asli: The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture
Editor: Lorraine Gamman dan Margareth Marshment
Penerbit: Jalasutra, 2017

Sebuah buku bersampul biru, menarik perhatian saya sore itu. Sampulnya yang menawan dan judulnya yang menarik perhatian membuat mata ini tidak bisa melepaskan pandangan. Buku yang saya baca hari ini berjudul “Tatapan Perempuan” karya terjemahan dari Bahasa Inggris The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture yang terbit sudah lama yaitu pada tahun 1988.

Ada tiga belas penulis perempuan yang menulis disini. Mereka adalah Lorraine Gamman, Margareth Marshment, Suzanne Moore, Andrea Stuart, Maggie Anwell, Avis Lawellen, Belinda Budge, Jacky Stacey, Jacqui Roach dan Petal Felix, Anna Ross Muir, Ann Treneman, Janet Lee dan Shelagh Young.

Dari Teka-teki Tatapan Perempuan Hingga Status Perempuan di Bidang Film dan Televisi

Membuka lembaran awal buku ini, ada ungkapan menarik, kenapa menulis buku tentang perempuan yang memandang? Tentu ini adalah suatu teka-teki, memandangnya kepada siapa? kepada laki-laki atau kepada sesama perempuan? Dalam representasi yang paling popular tampaknya laki-laki melihat dan perempuan adalah yang dilihat. Dalam film, televisi, pers, narasi, dan narasi popular pun laki-laki diperlihatkan sebagai yang mengendalikan tatapan; perempuan yang dikendalikan.

Bagaimana kita dapat mengubahnya? Perubahan seringkali merupakan perlawanan pelan-pelan yang dilakukan hari demi hari yang memerlukan strategi pragmatis untuk hari ini dan besok. Umumnya strategi-strategi ini melibatkan perlawanan terhadap makna.

Budaya populer adalah wilayah perjuangan tempat pelbagai makna ditentukan dan diperdebatkan. Budaya populer juga dipandang sebagai suatu wilayah tempat makna diperdebatkan dan ideologi dominan dapat diobrak abrik. Diantara pasar dan ideologi, para pelaku finansial dan para produser, sutradara dan aktor, penerbit dan penulis, kapitalisme dan buruh, perempuan dan laki-laki dibahas maknanya dalam pelbagai hal, sejalan dengan perjuangan tanpa henti demi pengendalian.

Bahkan dalam Bab 10, Anne Ross Muir membahas tentang status perempuan yang bekerja di bidang film atau televisi. Ada banyak penulis, sutradara, produser, teknisi actor, penerbit, jurnalis, kritikus, guru, dan mahasiswi yang berpartisipasi yang berpartisipasi dalam produksi dan distribusi bentuk-bentuk populer pelbagai wacana disekelilingnya.

Tidak Hanya Berdasar Gender

Ada banyak film, sinetron dan karya lainnya yang dibahas dalam buku ini, meski sudah tidak kekinian karena settingnya tahun 1980-an. Bagaimana perempuan melihat film detektif polisi, juga cerita-cerita tentang persahabatan antar perempuan.

Menarik sekali mengupas tentang beberapa film bertemakan persahabatan perempuan seperti Stage Door (1937), The Woman (1939), Caged (1950), Girlfriend (1978) dll.

Seringkali kita melihat di televisi perempuan diperlihatkan bukan sebagai teman, tapi sebagai tokoh antagonis yang saling membenci, lawan dalam cinta atau bisnis.

Beberapa tokoh perempuan yang berhasil sebagai pejuang emansipasi, politisi, bahkan pengusaha sukses kadang jarang muncul, meski belakangan mulai ditampilkan.Entah karena tidak seimbang atau memang jumlahnya kurang.Meskipun dalam pengamatan saya lebih banyak peran segi sisi seksisme yang diutamakan.

Meskipun demikian buku ini tidak menghakimi batasan gender. Ada juga kritik terhadap para aktris perempuan di masa itu yang justru tidak terlihat memperjuangkan feminis, tapi lebih kepada memperjuangkan diri sendiri. Terlepas dari itu semua buku ini menarik sebagai bahan referensi bacaan bagi kalangan akademisi, pemuda hingga pelaku industri hiburan ditanah air juga bagi siapa saja yang tertarik melakukan kajian bagaimana posisi perempuan dalam budaya populer.

3 April 2018
Pukul 16.14

Maxim Gorky: Pecundang

Posted: March 31, 2018 by Eva in Buku dan Media
Tags: , ,

Buku ini aku beli bulan Juli tahun 2002, tapi waktu minggu lalu ke Gramedia di BSD kok masih beredar ya, banyak berjejer termasuk laris.

Sedikit pengarang Rusia yang menikmati popularitas dalam kehidupannya sebagaimana Maxim Gorky, dan sedikit saja novel yang menyodorkan pada kita kisah yang murung dari prahara besar revolusi Rusia.

Pecundang ditulis pada 1907. Maxim Gorky adalah nama pena dari Bapak Realisme sosialis ini. Gorky sendiri artinya pahit.

Dalam novel ini diceritakan tentang kekuasaan, pribadi yang risau dan kejujuran yang langka.

Resensi Buku: The Seat of the Soul (An Inspiring Vision of Humanity’s Spiritual Destiny (Visi Baru tentang Takdir Manusia)
Penulis: Gary Zukav
Penerjemah: M.Thoyibi
Penerbit: Pustaka Alvabet
Edisi: 1, Agustus 2006

Dengan kepiawaian luar biasa dalam menyederhanakan abstraksi ilmiah dan fisika baru, Gary Zukav membawa kita menuju tahap baru evolusi manusia. menurut penulis karya masyhur The Dancing Wu Li Masters ini, kita sedang berevolusi: dari mahluk pemburu kekuatan berdasar persepsi indrawi (kekuatan eksternal) menuju spesies pencari kekuatan otentik (berdasar nilai-nilai ruh).

Dengan mata ilmuwan dan hati filsuf, Zukav menunjukkan bahwa mengisi kehidupan dengan ketakziman, belas kasih dan kepercayaan membuat kegiatan-kegiatan kita penuh makna dan tujuan. Nilai-nilai ruh, mengubah perkawinan menjadi kemitraan spiritual, psikologi menjadi psikologi spiritual, dan setiap tulisannya reflektif dalam kehidupan sehari-hari.


Sebuah Karya yang Wajib Anda Baca

Buku ini adalah buku kedua yang sangat inspiratif. Setelah buku yang tidak akan terlupakan dan menjadi favorit sampai sekarang adalah Sang Alkemis karya Paulo Coelho yang aku baca sejak masih kuliah. The Seat of the Soul adalah buku yang paling lama saya baca (enam bulan lebih baru tuntas), penuh konsentrasi tinggi dan butuh suasana sepi saat membaca lembar demi lembar pemikiran Gary Zukav. The Seat of the Soul menggambarkan perjalanan menakjubkan menuju ruh kita masing-masing. Buku ini adalah bacaan favorit saya selama tahun 2017.

Sebenarnya sudah lama ingin meresensi buku ini, cuma ya itu belum selesai membacanya, jadi lambat hadir di blog. Ada empat bab dalam buku ini yaitu Pendahuluan yang berisi Evolusi, Karma, Ketakziman, dan Hati. Bab dua Penciptaan berisi tentang intuisi, Cahaya, Niat I, Niat II. Bab tiga tentang Tanggung Jawab, membahas tentang Pilihan, kecanduan, Hubungan dan Ruh. dan Bab empat mengangkat tema Kekuatan yang membahas Psikologi, Ilusi, Kekuatan dan kepercayaan.

Buku yang masuk Best Seller Internasional dan telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa ini direkomendasikan bagi anda yang menyukai buku-buku serius dengan penghayatan mendalam. Mungkin bagi yang tidak suka filsafat atau psikologi buku ini kurang bagus atau memusingkan. Karena memang banyak istilah-istilah seperti evolusi, manusia sarwa indra, manusia panca indra, teori evolusi,altruistis, dan masih banyak istilah lainnya yang membuat anda diam sejenak.

Dalam bab evolusi misalnya, Zukav menjelaskan jika ketika dua manusia saling berhubungan, dalam pengertian kompleksitas organisasional mereka dianggap berevolusi secara setara. Jika keduanya mempunyai intelegensia yang sama, tetapi yang satu berpikiran kerdil, kikir, egois, sementara yang lain murah hati dan altruistis, maka orang yang murah hati dan altruistis itu kita sebut lebih berevolusi (hlm 4).

Dari Lee Harvey Oswald dan John F Kennedy Hingga Qabil dan Habil

Meskipun buku ini sudah terbit lama sekali, yaitu pertama pada tahun 1990 dan diterjemahkan pada tahun 2006, namun, apa yang disampaikan Zukav dalam pembahasannya tentang refleksi manusia dalam dinamika perubahan yang serba cepat ini membuat pembaca akan merefleksikan bagaimana relasi, ketakziman kita dengan keluarga, orangtua, sanak saudara, bahkan lingkungan kerja.

“Kita mengetahui bahwa aktivitas kehidupan diisi dengan ketakziman, aktivitas itu menjadi hidup dengan makna dan tujuan. Kita tahu bahwa ketika tak ada ketakziman dalam aktivitas kehidupan akibatnya adalah kekejaman, kekerasan dan kesendirian,” (hlm 6).

Masih membahas tentang ketakziman dan kebutuhan pada kekuatan fisik, menghasilkan sesuatu jenis kompetisi yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Kebutuhan itu mempengaruhi hubungan antar kekasih, antar kekuatan adidaya, antar saudara kandung, antar ras, antar kelas, dan antar jenis kelamin.

Saya pun sempat menstabilo suatu ungkapan Zukav yang menjelaskan. Energi permusuhan antara Lee harvey Oswald denga John Kennedy sama dengan yang menyebabkan permusuhan antara Qabil dan Habil. sanak saudara bertikai.


Membedakan tiga titik; Fisik, Jiwa dan Ruh

Membaca buku ini kita diajak membedakan ada tiga ruang dalam diri kita yang ibarat lapisan sebenarnya memiliki makna dan peran yang berbeda-beda. Yaitu diri kita sendiri secara fisik dan lahiriah, lapis kedua adalah jiwa (personality) dan yang lebih dalam lagi adalah ruh (soul) yang tidak kasat mata.

Dalam skema yang lebih besar, Zukav menjelaskan jika kerangka pemikiran yang lebih besar dari manusia sarwaindra memungkinkan pemahaman tentang perbedaan yang secara eksperiensial bermakna antara jiwa (personality) dan ruh (soul). Jiwa adalah bagian dari diri Anda yang lahir (fisik), hidup dan mati dalam dimensi waktu. Menjadi manusia dan memiliki ruh merupakan hal yang sama, ruh Anda,seperti halnya tubuh anda merupakan kendaraan evolusi anda.

Rasa takut dan emosi kekerasan yang telah telah menjadi ciri keberadaan hanya bisa dialami oleh jiwa. Hanya jiwalah yang dapat merasakan kemarahan, ketakutan, kebencian, balas dendam, kepedihan, rasa malu, penyesalan, ketidak acuhan, frustasi, kesinisan dan kesepian. Hanya jiwa yang bisa menghakimi, memanipulasi, dan mengeksploitasi. Hanya jiwalah yang dapat mengejar kekuatan eksternal. Hanya jiwalah yang dapat mengejar kekuatan eksternal. Jiwa sesungguhnya juga bisa mencintai, mengasihi, dan arif dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Tetapi cinta, belas kasih dan kearifan itu sebenarnya bukan berasal dari jiwa melainkan berasal dari pengalaman ruh. (hlm 15).


Keadilan Tanpa Penghakiman

Berikutnya yang menarik adalah dalam bab “Karma”, dimana Zukav mengangkat tokoh Mahatma Gandhi yang pernah dipukuli beberapa kali selama hidupnya. Meskipun Gandhi pernah dua kali dipukuli sampai hampir mati, dia menolak untuk menuntut para penyerangnya. Karena Gandhi mengetahui jika bahwa ora-orang itu melakukan sesuatu “yang mereka anggap benar”. Posisi penerimaan tanpa penghakiman ini merupakan inti kehidupan Gandhi yang tidak suka menyimpan dendam.

Apakah keadilan tanpa penghakiman itu? Keadilan tanpa penghakiman merupakan kebebasan melihat yang Anda lihat dan mengalami yang Anda alami tanpa menanggapi secara negatif. Hal ini memungkinkan Anda secara langsung mengalami aliran kecerdasan tanpa hambatan, pancaran dan cinta alam semesta yang melingkupi realitas fisik kita. keadilan tanpa penghakiman mengalir secara alami dari pemahaman atas ruh dan caranya berevolusi. Dan masih banyak pemikiran-pemikiran Zukav lainnya yang jika saya tulis disini nanti akan terlalu panjang atau justru membosankan jika anda hanya menyukai sesuatu yang bersifat praktis dan tidak suka membaca karya berat seperti ini.

Saya masih ingat betul, buku ini memang kurang begitu laku di pasar Indonesia. Banyak yang tidak tahu dan hanya sedikit saja yang membeli, padahal di luar negeri sangat berjaya di zamannya,menjadi Bestseller Internasional.

Tidak banyak memang harapan yang disampaikan Zukav dalam buku ini. Dalam pengantarnya dia menulis bahwa yang saya tawarkan dalam buku ini merupakan jendela yang saya gunakan untuk melihat kehidupan. Saya tawarkan jendela itu kepada pembaca, tetapi tidak mengharuskan pembaca untuk menerimanya. Kita punya banyak hal untuk dilakukan bersama, mari kita melakukannya dengan kearifan,cinta, dan kegembiraan.

Pondok Petir, Depok 28 Maret
Pukul 22.57

Siang itu cuaca sangat panas dan terik. Seorang kurir agen logistik mengagetkan saya dengan sebuah paket yang membuat saya gembira. Satu bundel majalah Basis edisi 01-02 tahun ke-67 2018 akhirnya tiba di rumah saya dengan selamat.

Ada empat tema besar kali ini seperti “Framming Gerakan Sosial”, “Ikonoklasme atau Idoloklasme”, Sayyid Ahmad Khan, Metode Kritis Rasional Pendidikan Sebagai Jalan Kemajuan, dan “Mencintai Boneka Mayu”.

Penantian majalah dua bulanan ini mengobati kerinduan saya yang sudah sangat lama  tidak pernah membaca Majalah ini.

Dejavu 15 tahun lalu

Bagaimana tidak, pada tahun 2000-2003 saat masih kuliah di kota Gudeg, meskipun saya kuliah di IAIN Sunan Kalijaga saya sering berkunjung ke Perpustakaan Sanata Dharma biasanya hari Senin, sambil membaca rubrik Pustakaloka yang memuat resensi buku, membuat saya betah berlama-lama di perpustakaan Sanata Dharma. Menunggu tulisan saya dimuat, atau siapa penulis yang hari ini resensinya di muat di Pustakaloka.

Selain alasan diatas, posisi perpus Sanata Dharma lokasinya di Mrican lebih dekat dengan rumah kakak di Condong Catur, perpustakaannya juga sunyi senyap dengan 800 lebih judul buku dan buka sampai jam 8 malam saat itu. Kalau ke perpus UIN Suka harus naik bis lagi, jadi saya suka singgah disitu tapi tidak sering, cuma tiap hari senin.

Di sana pula saya menemukan buku-buku lama yang terawat dengan rapi baru diantaranya karya-karya Romo Mangun Wijaya seperti “Burung-Burung Manyar” dari Penerbit Djambatan, serta karya-karya sastra inggris seperti Isabel Allende, dan karya lainnya yang beraneka ragam.

Nah sebelum membaca buku, biasanya saya ke bagian koran dan majalah, disanalah saya tidak pernah melewatkan Majalah Basis setiap edisi kala itu. Tidak terasa sudah 15 tahun, setelah hijrah ke Jakarta dan menetap di Depok (2003-2018) saya tidak pernah membaca Majalah Basis.

Tempo hari waktu saya ke Jogja, saya sengaja mampir ke perpus Sadhar, sekedar bernostalgia dan mengingat tempat saya mojok di lantai paling bawah. Masih seperti dulu, sunyi senyap, bedanya sekarang kalau mahasiswa di luar Sadhar, jika berkunjung ke Perpus membayar 25.000 selama satu hari. Tutupnya pun lebih malam.Di atas jam sembilan malam.

Saya Dejavu dan sedikit terharu mengingat masa-masa dulu saya sendirian tenggelam bersama buku, hingga tutup jam 8 malam. Kerinduan membuncah akan masa-masa itu, namun karena harus segera ke Panti Rapih, saya memfotokopi buku ke lantai tiga. Nah, disinilah bermula, mata saya tertuju pada Majalah Basis edisi Media Sosial dan Mobokrasi. Saya membaca, namun tidak sampai selesai.

Sesampai di Jakarta, saya mencoba menghubungi redaksi Majalah Basis dan memutuskan berlangganan, hingga akhirnya hari ini saya mulai membacanya.

Padat, Berisi dan Artistik

Satu hal yang saya suka dari Majalah Basis ini adalah isinya yang padat, berkualitas dan ilustrasi gambar yang artistik atau nyeni. Kajian historis, filosofis menjadi ciri khas dikaitkan dengan kondisi sekarang yang aktual. Sehingga kita akan dibawa pada petualangan intelektual yang tidak kering, namun kaya khazanah dengan bahasa yang mudah dicerna. Sampulnya selalu menggoda dan syarat interpretasi.

Untuk edisi ke -67, Majalah yang dipimpin oleh Sindhunata ini mengawalinya dengan rubrik Tanda-tanda Zaman, berjudul “Mencintai boneka Mayu” kisah yang menceritakan seorang fisioterapis Jepang bernama Masayu Ozaki yang mencintai boneka silikon sebagai pasangan hidup.

Saya sempat tersenyum simpul membaca rubrik ini, karena tidak menyangka ya, bagaimanapunn juga seorang suami tidak suka perempuan egois, dingin dan suka mengomel. Masayu lebih memilih boneka silikon seharga 70 juta yang sangat ia cintai.

Lembar demi lembar saya simak dengan gembira, pada rubrik kaca benggagala, radaksi Basis menampilkan tulisan tentang Ikonoklasme atau Idoloklasme yang ditulis mendalam oleh dosen STF Drijarkara Dr.A.Setyo Wibowo. Penulis
membuka dengan pemikiran kontemporer Prancis Jean Luc Marion yang membedakan ikon dari idola, kelihatannya istilah ikonoklasme harus diapresiasikan sebagai idoloklasme.

Masih banyak sebenarnya rubrik lain yang bagus, namun saat saya menulis sekarang ini belum semua rubrik saya baca sampai tuntas. Baru saya baca judulnya saja. Jadi jika anda ingin membaca semua isinya, silahkan membelinya atau berlangganan.

Namun karena minat saya pada buku, saya membaca rubrik pendidikan berjudul “Membaca: Minat atau Kemampuan” yang ditulis oleh Dian Vita Ellyati, serta kupas buku “Risalah Yap di Kursi Pesakitan” karya Muhammad Yunan Setiawan dan rehal buku “The Belly of Paris karya Emile Zola, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2017 yang dikupas oleh Laila Sari.

Itu saja sekilas tentang sebagian isi dari Majalah Basis edisi awal 2018 ini. Semoga bisa saya tuntaskan membacanya di akhir pekan ini. Terimakasih Pak Anang dari Majalah Basis yang merespon cepat, ketika dihubungi minggu lalu. Sesuai slogannya “Menembus Fakta” saya akan selalu menunggu fakta-fakta yang terungkap di edisi berikut-berikutnya.

Depok, 23 Maret 2018 Pukul 13:39

Resensi Buku
Judul: Jack Ma, Sisi-Sisi Tak terduga Godfather Bisnis China
(Biografi resmi karya asisten sekaligus sahabatnya)
Penulis: Chen Wei
Penerbit: Noura Publishing, Jakarta
Edisi: Cet ke-2, Mei 2017
Penerjemah Nadiah Abdidin, Inez Kriya Janitra

 

“Faktor kunci dari membual adalah memiliki pendengar-pendengar yang baik. Tidak peduli seberapapun hebatnya pemikiran manusia, Tuhan akan menggelengkan kepala dan tersenyum begitu mendengarnya. Jadi, membual tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya pemikiran Anda. Yang terpenting, Anda bahagia,”-Chen Wei, penulis.

Dikemas Secara Jenaka

Ketika membaca pengantar buku berjudul “Jack Ma, Sisi-Sisi Tak terduga Godfather Bisnis China.” (Biografi resmi karya asisten sekaligus sahabatnya) ini saya tertawa, terus terang sang penulis buku ini Chen Wei memiliki selera humor yang baik dalam menulis.

Kekuatan membual memang tidak dibatasi, kebebasan berimajinasi tidak disekat oleh ruang dan waktu. Sederhana saja sebenarnya, cara Chen Wei dalam menuliskan kisah tentang sahabatnya Jack Ma yang menjadi sosok berpengaruh dalam industri digital di China. “Menulis seperti membual,” ungkapnya renyah.

Menurut Chen Wei, hanya ada dua jenis manusia yang bahagia di dunia ini. Pertama, manusia-manusia yang suka membual, dan yang kedua manusia-manusia yang senang mendengarkan.
Manusia yang tidak membual tentu orang yang sengsara, meski dia memiliki prestasi-prestasi hebat seperti Michael Angelo. Manusia yang mampu membual tetapi tidak suka membual juga sengsara, seperti Arthur Schopenhauer.

Menjadi seorang asisten menurut Chen Wei adalah seorang profesi istimewa. Apalagi asisten Jack Ma yang betul-betul merangkak dari nol bersama-sama. Asisten-asisten berbeda juga memiliki dunia berbeda-beda. Para asisten di jenjang kepemimpinan menteri merupakan kader level kementerian, sementara asisten bagi selebritis layaknya pengasuh bayi seumur hidup mereka.

“Namun saya sama sekali bukan seperti itu, saya telah mengenal Zhang Jizhong dan Jack Ma selama lebih dari 10 tahun lebih dan telah menjadi asisten mereka berdua secara bergantian. Setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pekerjaan utama saya, saya tidak bisa memberikan satu jawaban yang pasti, entah dalam hubungannya dengan Mr.Zhang jizhang maupun dengan Jack Ma,” ungkap Jack Ma terus terang.

Terlambat Ibarat Seorang Merampok Bank

Chen Wei membuka cerita perkenalannya dengan Jack Ma saat bertemu di kelas Bahasa Inggris pada awal Tahun 1992. Menurut Chen Wei, sebagai seorang murid, Jack Ma adalah orang yang sangat disiplin dalam mengajar les Bahasa Inggris dibanding pengajar lainnya. Ia selalu tepat waktu dan jarang terlambat saat mengajar.

Chen Wei masih ingat betul bagaimana ucapan Jack Ma saat datang ke kelas. Dengan lugas Chen Wei menjelaskan ucapan Jack Ma.
“Topik kita hari ini adalah tentang keterlambatan. Saya pribadi paling benci keterlambatan, karena menunjukkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Keterlambatan menunjukkan ibarat membunuh seseorang untuk merampok bank,” ujar Jack Ma yang melekat di dalam pikiran Chen Wei saat mengenalnya pertama kali.

Selain itu ciri khas Jack Ma dalam mengajar Bahasa Inggris memiliki metodologi mengajar yang unik dan cara tersendiri. Dia tidak terpaku pada teks apalagi tata bahasa atau frasa kalimat.

Setelah membahas sejarah pertemuan pertama dengan Jack Ma, bab berikutnya mengalir dengan cepat dari mulai Bab dua berjudul tentang Jack Ma Merambah Internet, bab tiga tentang Jack Ma dan Jang Jizhong, bab Empat, Ali Baba Saya Datang, Bab lima tentang Orang-orang Ali yang Sibuk, bab 6 tentang Minat dan Filosofi, bab 7 tentang Tai Chi Jack Ma, bab 8 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Budaya Ali, bab 9 tentang Jack Ma dan Budaya Ali yang berbeda, bab 10, Jack Ma dan para selebritas, bab 11, Bepergian dengan Jack Ma, bab 12 dari Pensiun hingga menjadi Perusahaan Publik, dan diakhiri oleh Penutup berjudul Orang Ali yang Paling Tidak berambisi.

Meskipun sangat padat dengan 12 bab, namun dijamin ada tidak akan kelelahan membaca buku ini. Tidak sampai sehari, mungkin dalam hitungan 3-5 jam anda akan melahap buku bersampul putih dan merah ini.

Sarat Makna Filosofis

Meskipun Ali Baba merupakan perusahaan berbasis teknologi, tapi apa yang ditulis Chen Wei tentang Jack Ma dan perusahaan itu sarat nilai-nilai filosofis. Beberapa kejutan tentang Jack Ma akan anda temukan dalam perspektif Chen Wei sebagai orang terdekat.

Diakui Chen Wei, Sejak tahun 1995 Jack Ma merambah internet memulai bisnis pertama, banyak yang sudah familiar dengan kisah-kisah perintisan usahanya. Namun, saya terkesan dengan sesuatu yang berbeda selama prosesnya mendirikan China Pages. Sosok Jack Ma di mata Chen Wei sangat luar biasa, dia memiliki banyak pendapat yang ia samakan dengan referensi dalam menggambarkan kerja keras Jack Ma dari Schopenhauer, Freiderich Wilhelm Nietzsche hingga Socrates.

“Setiap pemikir hebat lebih takut dipahami daripada salah dimengerti. Salah dimengerti barangkali akan melukai harga dirinya, tetapi dipahami akan melukai hati dan simpatinya,” Friedrich Nietszche, kutip Chen Wei dalam bab dua.

“Perjalanan bisnis Jack Ma sangat sering melebihi ekspektasi saya waktu mengambil pekerjaan ini,” ujar Chen Wei kagum. Falsafah China juga di paparkan penulis dengan baik tentang perkembangan tahap demi tahap perusahaan milik Jack Ma. Berikut saya kutip.

“Pohon Besar besar yang terengkuh oleh kedua lengan tumbuh dari sepucuk tunas”

“Menara Setinggi sembilan lantai menjulang dari Gundukan Tanah Kecil”

“Perjalanan sejumlah seribu bermula dari satu langkah”

Begitu juga ketika menggambarkan beberapa hambatan bisnis Jack Ma, Chen Wei mengutip filosof Jerman. “Manusia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tetapi dia tidak bisa mengatur atas apa yang dia inginkan,” Schopenhauer.

Kedekatan Chen Wei tidak hanya dengan Jack Ma sebagai atasan, tapi juga dengan istrinya Zhang Ying. Saya suka kalau membaca biografi tokoh siapapun itu berkaitan dengan kehidupan keluarga terdekat seperti pasangan dan kedua orang tua. Chen Wei menggambarkan Zhang Ying sebagai separuh jiwa Jack Ma, teman berbagi ranjang atau istilah dia itu “separuh tempat tidur” yang kita miliki merupakan hal yang penting dalam hidup.
Ketika mengibaratkan hidup sebagai suami istri, Chen Wei membuat saya tertawa sejenak. Karena dia menggambarkan hubungan seorang suami dengan istrinya setengah bercanda tapi penuh makna.

“Jika Anda mendapatkan seorang istri yang baik, maka anda akan bahagia, Jika anda mendapatkan istri yang buruk, maka anda akan menjadi filsuf,” Socrates.

Bukan Elang, Tapi Bakteri yang Terbang

Buku ini sangat bagus bukan hanya bagi anda yang berprofesi sebagai asisten ataupun bagi anda yang memiliki toko online atau hendak merintisnya. Tapi bagi siapa saja yang ingin belajar bahwa merintis usaha itu harus jatuh bangun dan penuh hambatan, meskipun setelah melewati semuanya berjalan lapang.

Saya memang tidak akan mengupas bisnis secara mendetail, karena pastilah sudah banyak orang mengupasnya. Akan tetapi saya berusaha mencatat beberapa sisi humanisme Chen Wei dalam menggambarkan sosok Jack Ma dengan segala kedekatan dan bualan-bualan yang kocak.

Chen Wei menggambarkan pekerjaan yang ia lakukan selama ini mendampingi Jack Ma,  membesarkan Ali Baba dengan semua jaringannya  ia lakukan sepenuh hati.

“Ada sejenis bakteri yang ingin terbang, tetapi tidak memiliki sayap. Karena itu dia menginvasi telur-telur katak. Akibat invasi bakteri itu, seluruh kecebong yang menetas bertransformasi menjadi katak lumpuh hingga dapat dengan mudah di makan elang. Akhirnya bakteri bisa merasakan indahnya terbang seperti yang selama ini ia impikan. Saya bukan seekor elang, saya adalah bakteri yang sedang terbang,” tuturnya lugas.

Buku ini ringan dan enak dibaca meskipun menurut saya kertas cetakannya terlalu tipis, sehingga bagi yang membacanya hati-hati kalau melipat atau kena hujan. Sampulnya yang putih bagus seperti isinya. Saya menutup resensi buku ini dengan satu bualan yang membuat pembaca apalagi anak muda semangat untuk belajar, bekerja dan berusaha.

“Kehidupan terasa gelap, kecuali ada semangat. Semangat terasa buta kecuali ada pengetahuan, pengetahuan hanyalah kesia-siaan kecuali ada pekerjaan,”Chen Wei.

Pondok Petir pukul 19.49

Saat ini, koleksi naskah-naskah kuno sulit ditemukan jika anda ingin memilikinya. Akan tetapi jika anda ingin  membaca dan mendalami beberapa naskah kuno yang terawat dengan rapi anda bisa mengunjungi Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.

Ada banyak koleksi naskah kuno seperti 12 seri Serat Centhini, Perjanjian Gianti – Perang Diponegoro (Sekitar Jogjakarta 1755-1825), Serat Smaradahana, Serat Gembring Baring, Serat Babad Dipanegara, hingga Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi pun ada dua judul. Pertama Babad Tanah Jawi karya Sudibjo Z.H yang diterbitkan Dinas Pendidikan dab Kebudayaan pada 1980,  dan Babad Tanah Jawi yang disusun olehW.L.Olthof Belanda tahun 1941. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit narasi Jogjakarta pada 2007.

Dari sekian banyak buku tersebut, disini saya akan mengulas secara singkat dua buku saja, yaitu Centhini dan Babad Tanah Jawi.

Centhini adalah sebuah buku tua, tidak saja tua umurnya, tetapi juga tua isi ajarannya. Konon, kata Centhini berasal dari kata Canti, suku kedua dibaca dengan letupan suara, sehingga terdengar kata Cantik. Kata cantik berasal dari bahasa Melayu yang artinya elok, indah, bagus, menyenangkan. Canti mendapat bubuhan ni, di belakangnya menunjukkan sifat kewanitaan (feminin) sehingga menjadi centhini. Sedangkan asal-usul mengapa cantini dapat berubah lafal menjadi centhini masih sulit diungkapkan. Karena sifat yang feminin itulah, setiap orang yang membaca buku centhini sering terpesona oleh keindahannya.

Dalam Falsafah Centhini dijelaskan bahwa yang berkehendak menyusun Serat Centhini adalah Pangeran Adipati Anom, Calon Pakubuwono V. Oleh karena yang dikehendakinya berisi berbagai hal tentang kehidupan maka  maka yang mengerjakannya pun terdiri dari beberapa orang seperti Kyai Pangulu Tafsir Anom yang berkaitan dengan gending-gending digarap oleh Demang Niyaga, adapun yang diserahi tugas menyusunnya dalam bentuk buku secara utuh adalah Yasadipura II bersama Rangga Tresna.

Serat Centhini adalah roman yang disusun dalam rangkaian tembang-tembang Jawa. Seperti layaknya sebuah roman, isinya dibuat sedemikian rupa sehingga memikat hati pembacanya.Isinya banyak menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia dalam bermasyarakat.

Serat Centhini ditulis untuk memuaskan semua orangtua yang gemar ajaran-ajaran ilmu tua akan tidak bosan-bosannya mengikuti wejangan Seh Amongraga.

Membaca Serat Centhini hendaknya kita kritis serta waspada, ada banyak nilai positif tentang makrifat misalnya tapi ada juga bahasa-bahasa yang khusus dewasa, membacanya harus hati -hati jika anda belum dewasa, jangan sampai terpengaruh ajaran-ajaran negatif yang dapat menjerumuskan.

Sedangkan Babad Tanah Jawi, berisi tentang kebiasaan masa lalu, raja-raja di tanah Jawa yang menjelaskan silsilah atau asal -usul garis keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya.

Teks asli “Babad Tanah Jawi” memuat silsilah raja-raja Jawa dari Nabi Adam, dewa-dewi dalam agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabharata, Cerita Panji Masa Kediri, Masa Kerajaan Pajajaran, Masa Majapahit hingga masa Demak yang kemudian dilanjutkan lagi dengan silailah kerajaan Pajang, Mataram dan berakhir pada masa Kertasura.

Semarang, 8 Maret 2018

Resensi Buku
Judul : Mahatma Gandhi (Sebuah Autobiografi)
Kisah tentang Eksperimen- eksperimen Saya Terhadap Kebenaran
Penulis : M.K.Gandhi
Judul asli: An Autobiography or The True Story of  My Experiment with Truth
Alih Bahasa : Andi Tenry W
Penyunting : Lilih Prilian Ari Pranowo
Penerbit : Narasi, Jogjakarta
Edisi : I, 2009

“Dunia menghancurkan debu di bawah kakinya, namun pencari kebenaran haruslah merendahkan diri sehingga debu saja akan bisa menghancurkannya.”- Mohandas Karamchand Gandhi, Ashram Sabarmati, 26 November 1925.

Buku bersampul kuning gading ini diawali dengan kata pengantar yang penuh perasaan tentang awal kisah penulis, Mohandas Karamchand Gandhi, seorang advokat dan tokoh pemimpin terkemuka dari India. Gandhi, menyanggupi menulis autobiografi atas permintaan rekan kerjanya. Saat awal menulis, kerusuhan di Bombay pecah sehingga harus berhenti. Sebagian besar dia menuangkan kisah pribadinya saat di penjara di Yeravda.

Sampul Buku

Gelar “Mahatma yang Melukai”

Sempat ada kegamangan dalam diri Gandhi, apakah ia harus menulis atau tidak sebuah autobiografi. Karena ada anggapan bahwa orang yang telah membentuk tingkah laku mereka berdasarkan pengaruh kata-kata Anda, yang dikatakan maupun dituliskan, bisa tertipu? Bukankah lebih baik bagi Anda untuk tidak menulis apapun yang menyerupai sebuah autobiografi, untuk saat ini?”. Argumen ini sangat memengaruhi jiwanya, namun dia memiliki alasan lain kenapa autobiografi penulis ini ada.

“Saya yakin atau bagaimanapun juga membujuk diri saya bahwa kaitan nilai dari semua eksperimen ini pasti memiliki nilai tambah bagi pembaca, eksperimen saya dalam bidang politik sekarang tak hanya diketahui di India, tapi mencapai batas tertentu dari dunia yang “beradab”. Gelar “Mahatma” (orang yang sangat bijaksana dan suci,ed) yang telah mereka sematkan pada saya, memiliki nilai, karenanya, yang lebih rendah. Kerap kali gelar tersebut melukai saya secara mendalam,” ungkapnya jujur.

Gandhi merasakan betul bagaimana dalam hidupnya hampir tidak ada waktu yang menyenangkan untuk dirinya. Ia menarasikan bahwa eksperimennya dalam dunia spiritual hanya diketahui secara pribadi, yang mana dari situlah ia mendapat kekuatan bekerja di dunia perpolitikan.

Menurut Ghandi, jika eksperimen itu sungguh-sungguh spiritual, tak kan ada ruang untuk memuji diri sendiri. “Semakin banyak saya bercermin dan melihat kembali ke masa lalu, semakin jelas saya merasaan keterbatasan saya,” katanya merendah.

Sebagai sebuah autobiografi, buku ini sangat bagus untuk dibaca dengan sepenuh hati. Meskipun sangat tebal, namun buku yang terdiri dari lima bab ini setiap bab dipaparkan dengan singkat dan lugas. Setiap tutur katanya halus dan sangat hati-hati. Dia menjabarkan beberapa istilah dengan halus seperti kata eksperimen untuk pengalaman, atau kebutuhan jasmani untuk kebutuhan seksual.

Anak Pemalu yang mengawali karir sebagai pengacara

Di awal bab satu, Gandhi menceritakan asal usul keluarganya yang berasal dari Kasta Bania, yang merupakan keluarga pedagang. Namun selama tiga generasi, mulai dari kakek hingga ayahnya menjadi perdana menteri di beberapa negara bagian Kathiawad. Sang ayah, Karamchand Gandhi atau Kaba Ghandi adalah anggota Dewan Rajasthnik.

Kaba Ghandi menikah empat kali berturut-turut setiap kali kehilangan istri karena meninggal dunia. Beliau memiliki dua orang putri dari pernikahan pertama dan kedua. Istri terakhir beliau, Pulitbai, memberinya seorang putri dan tiga orang putra. Ghandi adalah anak ketiga atau yang paling muda.

Ayahnya Kaba Ghandi adalah seorang penyayang dalam marganya, pecinta kebenaran, pemberani dan murah hati, namun pemarah. Ibunya, Pulitbai adalah sosok yang sangat religius. Tak pernah berpikir untuk makan sebelum melakukan sembahyang harian. Dia selalu melakukan Chaturmas (Ikrar untuk berpuasa dan semi puasa selama empat bulan musim penghujan).

“Ibu saya memiliki pengetahuan yang amat luas, beliau sangat memahami segala masalah negara, dan para wanita di dewan sangat mengagumi kecerdasannya,” tuturnya di bab awal. Dari pasangan inilah Ghandi lahir di Porbandar atau dikenal Sudamapuri pada 2 Oktober 1869.

Masa kecil Ghandi termasuk anak yang biasa saja dan sempat pindah sekolah mengikuti tugas ayahnya. Namun, sejak kecil dia termasuk sosok yang pemalu. “Saya sedemikian pemalu dan menghindari semua teman. Buku-buku dan pelajaran adalah teman sejati saya. Saya selalu berlari jika pulang, karena saya tak berani berbicara dengan siapapun. Saya bahkan khawatir kalau-kalau ada orang yang menertawakan saya,” tuturnya di halaman 7.

Sebagai seorang anak bungsu, Ghandi tidak dapat tunduk pada ayahanda. Dia terpaksa menikah muda. Cerita tentang pernikahan dini terasa pilu. Dengan terus terang dia sebenarnya sangat tidak ingin menceritakan bab ini.

“Saya sangat tidak berharap menulis bab ini, karena harus menelan pil pahit selama menulis. Akan tetapi jika saya pemuja kebenaran, saya tak bisa melakukannya. Adalah tugas yang menyakitkan untuk menuliskan tentang pernikahan waktu usia saya tiga belas tahun,” halaman 10.

Pada bab-bab berikutnya cerita Ghandi kian menarik bergulir indah. Setiap tutur katanya acapkali membuat kita berdebar, bahkan berdegup kencang. Kisah cintanya terhadap sang istri yang lugu, Kasturbai. Ikrar setia pasangan muda ini terasa indah yang dituturkan dengan bagus pada bab IV bagian I berjudul “Memerankan Peran Suami”.

“Jika saya harus sanggup bersetia pada istri, maka ia juga harus sanggup bersedia pada saya, pemikiran itu membuat saya menjadi seorang suami pencemburu, jelas saya tidak punya alasan untuk mencurigai kesetiaan istri saya, namun rasa cemburu tidak menunggu datangnya alasan,” ucap Gandhi.

Kecemburuan ini berlanjut saat Gandhi muda melanjutkan studi di Inggris. Sejak muda dia terlatih menjadi vegetarian. Bahkan terpilih menjadi Komite Eksekutif Perkumpulan Vegetarian.

Kesulitan praktik sebagai seorang pengacara, menarik untuk di simak di bagian XXV tentang ketidak berdayaannya mempelajari hukum. Ghandi telah mempelajari hukum, tapi tidak belajar bagaimana cara mempraktikkan hukum.

“Saya telah membaca dengan penuh minat “legal maxims” (peribahasa-peribahasa hukum, ed), tetapi tidak tahu bagaimana cara mengaplikasikannya dalam profesi saya. “Sic utere tuo ut alienum non laedas” (memanfaatkan kekayaanmu sebaik mungkin agar tidak mengganggu milik orang lain, ed),’ hlm 116.

Mantra Sebuah Buku dan Pengalaman di Penjara

Meskipun sempat mengalami hambatan dalam mempelajari ilmu hukum. Pada bab-bab berikutnya cerita semakin menarik karena berhasil menangani beberapa klien dan mengunjungi Afrika Selatan. Pada bagian empat, pada bab yang berjudul “Mantra Sebuah Buku” Ghandi menjelaskan tentang beberapa hal yang harus dilakukan dan dihindari dalam bekerja. Tidak hanya bekerja sebagai pengacara tapi juga dalam bekerja sosial.

Konsistensinya sebagai seorang pengabdi kebenaran betul-betul di uji dalam keseharian. “Sekarang saya sadar jika seorang pekerja sosial tidak boleh mengucapkan pernyataan yang belum ia pastikan terlebih dahulu. Di atas semua itu, seorang pengabdi kebenaran harus melatih kehati-hatian yang besar. Selain mengkritisi beberapa media asing dan India, sebuah buku juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hidup Ghandi.

Salah seorang teman bernama Tuan West (Gandhi memanggilnya), memberinya sebuah buku untuk dibaca sepanjang perjalanan di kereta yang ia katakan jika membaca buku ini, Gandhi pasti menyukainya. Judul buku itu adalah “Unto The Last” Karya Ruskin. Saat itu ia sedang berada di Afrika Selatan.

Buku ini sangat bagus, menurut Ghandi, buku itu berhasil merubah hidupnya. “ Buku ini mencengkeram saya, Johannes-Durban merupakan perjalanan selama dua puluh empat jam. Kereta itu sampai di sana pada malam hari. Saya tidak bisa tidur malam itu. Saya memutuskan untuk mengubah hidup saya menurut konsep ini,” halaman 432.

Bagi Gandhi ini merupakan buku Ruskin pertama yang ia baca. Selama masa pendidikan ia praktis tidak membaca apapun selain buku-buku teks. Bagaimanapun Gandhi menyadari jika dia mengalami kerugian karena pembatasan yang dipaksakan ini. Gandhi pun menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Gujarat, memberinya judul Sarvodaya (kesejahteraan untuk semua).

Selain pengalamannya bergulat dengan buku, pada bab lain, Gandhi juga menceritakan tentang pengalamannya di penjara pada tahun 1908, ditulis pada bab bejudul Satyagraha Domestik. Gandhi melihat beberapa peraturan yang harus dipatuhi para tahanan juga seharusnya secara sukarela dipatuhi oleh seorang “Brahmachari”, yaitu orang yang berniat melaksanakan pengendalian diri.

Peraturan-peraturan itu, contohnya adalah peraturan yang mengharuskan makanan terakhir dihabiskan sebelum matahari tenggelam. Baik tahanan India maupun tahanan India maupun Afrika tidak boleh minum kopi dan lain sebagainya.

Perkembangan politik di India banyak di kupas di bab V. Dari mulai Shantiniketan, Para Penumpang kelas tiga, Kumbha Mela,, Lakshman Jhula, Pendirian Ashram, Ketiga Gubernur Baik Hati, Hasrat untuk bersatu, Navajivan dan Young India, khilafat Lawan perlindungan Sapi, Kongres Amritsar, Kampanye Perekrutan, Dialog yang mengandung pelajaran dan lain sebagainya.

Saya tidak akan banyak menyoroti permasalahan politik di India. Karena pembahasannya saya sangat panjang, sehingga membacanyapun agak sedikit sukar karena kurang paham sejarah dan bahasa gujarat yang beraneka macam membuat saya harus membolak balik buku dan mencari makna. Bagi yang mengikuti sejarah India, tentu menarik karena permasalahan masa itu sangat pelik. Dari wabah hitam, kemiskinan petani, hingga pegawai kontrak.

Resolusi mengenai persatuan Hindu Muslim, penghapusan kaum paria dan khadi juga diajukan ke dalam kongres ini, semenjak menjadi amggota Kongres yang beragama Hindu telah menerima tanggung jawab untuk melepaskan agama Hindu dari kutukan kaum paria, dan Kongres telah menetapkan ikatan hubungan yang nyata dengan “kerangka” India melalui Khadi. Pemilihan tidak bekerjasama demi khilafat sendiri merupakan sebuah usaha praktis yang hebat yang dilakukan oleh Kongres untuk mewujudkan persatuan Hindu-Muslim.

Gandhi menguasai beragam agama di luar Hindu, yaitu Islam dan Kristen. Secara terbuka dia menulis dengan sederhana, beberapa ajaran agama yang ia pelajari, termasuk Al-Qur’an dan Bible (injil).

“Saya membeli Qur’an terjemahan Sale dan mulai membacanya. Saya juga mendapatkan buku-buku tentang Islam lainnya. Saya berkomunikasi dengan kawan-kawan Nasrani di Inggris, salah satunya Edward Maitland dan berkorespondensi dengannya. Ia mengirimkan saya “The Perfect Way” dan “The New Interpretation of Bible” (Penafsiran Baru dari Injil),” tulis Gandhi dalam autobiografinya.

Selain itu Gandhi atau ada juga orang yang memanggilnya Bapu, menyukai karya-karya Tolstoy seperti “The Kingdom of God is Within You”. Juga beberapa buku lokal India seperti Panchikaran, Maniratmala, Mumuksu Prakaran dan Yogavasistha.

Empat Ajaran Utama M.K Gandhi

Dalam pembahasannya berkaitan dengan perjuangan Gandhi selama ini, setiap upaya perjuangan yang dilakukan, ada upaya yang sangat kuat dari Gandhi untuk membela penduduk India dari kemiskinan.
Dalam setiap rangkaian kehidupannya, Gandhi sebagai tokoh perdamaian dikenal dengan empat prinsip perdamaian. Yakni pertama, Bramkhacharya (mengendalikan hasrat seksual), Satyagraha (Kekuatan kebenaran dan cinta), Swadeshi (memenuhi kebutuhan sendiri) dan Ahimsa (tanpa kekerasan terhadap semua mahluk).

Satu hal yang menjadi ciri khas Gandhi adalah empatinya merasakan penderitaan rakyat. Meskipun menangani kasus-kasus besar di beberapa negara, namun kemana-mana ia lebih senang berjalan kaki dan naik kereta kelas ekonomi sejak kuliah di Inggris dan menjadi pemimpin berpengaruh di India. Begitu juga dalam berpakaian, dia memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki para pemimpin lain di dunia. Wujud kesederhanannya sangat terpatri di dalam benak rakyat India.

Menurut Gandhi, Kebenaran hanya akan diikuti oleh perwujudan Ahimsa sepenuhnya. Untuk bisa melihat universalitas dan penyebarluasan Roh Kebenaran secara langsung, maka seseorang harus bisa mencintai mahluk terjahat sebagaimana ia mencintai dirinya. Dan orang yang mencita-citakan hal itu tak sanggup menghindar dari perjuangan dalam hidup.

“ Itulah sebabnya pengabdian saya kepada kebenaran telah telah menarik saya ke bidang politik; dan saya bisa berkata tanpa ragu, tapi dalam segala kerendahan hati, bahwa mereka yang mengatakan jika agama tak ada hubungannya dengan politik tak tahu apa arti agama,” tulis Gandhi mengejutkan saya di bab penutup.

Perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dilakukannya hingga akhir hayat. Dengan satir dia menulis. “ Biarlah ratusan orang macam saya ini mati, namun biarkan kebenaran menang, janganlah kita mengurangi standar kebenaran bahkan sehelai rambut pun dalam menilai mahluk fana yang berdosa ini,” pungkasnya.

Teladan Gandhi memang sangat fenomenal, luar biasa. Banyak sekali buku yang membahas tentang sosok dia.

Bahkan, seorang sejarawan Amerika Serikat, Stanley Wolpert, menulis buku yang ia pelajari dari autobiografi M.K.Ghandi ini berjudul Gandhi’s Passion The Life an Legacy of Mahatma Gandhi yang diterbitkan oleh Penerbit Raja Grafindo Jakarta dengan judul “Mahatma Gandhi Sang Penakluk Kekerasan,” yang terbit pada tahun 2002 disertai dengan kisah yang tragis di akhir hidupnya.

Buku autobiografi ini memang sudah sulit dicari. Saya menemukannya tidak sengaja di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten. Di Perpustakaan ini ada beberapa biografi tokoh dari Hitler, Bung Karno, hingga Jack Ma. Mungkin bisa didapati juga di perpustakaan atau di toko buku.

Jakarta, 27 Februari 2017
Pukul 15.31

Sampul Buku-Rumah Bambu

Sampul Buku-Rumah Bambu

Cerita Sederhana yang Menukik Hati

Jika anda ingin membaca cerita-cerita yang ringan, pendek dan sangat menyentuh perasaan, anda harus membaca Kumpulan Cerpen karya YB.Mangun Wijaya atau akrab biasa disapa Romo Mangun dalam salah satu Kumpulan Cerpennya berjudul “Rumah Bambu” yang diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia (Penerbit KPG).

Buku ini sebenarnya buku lama, saya harap Penerbit berani untuk menerbitkan kembali buku-buku ini untuk generasi di masa yang akan datang yang lebih mencintai kesederhanaan dan hidup bersahaja dibanding dunia anak muda sekarang yang serba digital dan penuh hiruk pikuk belaka.

Ada satu peristiwa dalam hidup Romo Mangun yang di kemudian hari menjadi cerita “legendaris”. Seorang teman menyebut peristiwa itu sebagai tragedi lem kanji. Suatu ketika Romo Mangun menyuruh salah seorang pembantunya membuat lem kanji. Kebetulan Romo sedang membutuhkan banyak lem, sementara ia enggan membelinya di toko. Selain mahal dan bikin boros, memang demikianlah prinsipnya: Jangan mudah membeli sesuatu yang sebenarnya dapat dibuat sendiri. Lem kanji yang dipesan pun jadi.

Celaka, Romo bukannya senang, tetapi malah marah, sebab lem kanji itu terlalu banyak dan mubazir. Sambil marah, Romo mengambil piring, sendok, garam, lalu menyodorkan kepada si pembuat lem kanji itu dan menyuruh memakannya. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, tapi peristiwa itu benar-benar terjadi.

Selain itu ada juga cerita tentang pesawat tempur dan helikopter milik TNI angkatan Udara yang sudah lapuk dan bulukan, tapi berusaha diterbangkan oleh pilot yang masih belajar, tepatnya di halaman 97 yang berjudul tentang Pilot. Tapi yang terjadi sekarang memang Alutsista Kementerian Pertahanan dan semua TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara sudah pada lapuk dan hanya ada sedikit anggaran membeli Alutsista seperti Sukhoi, yang baru saja diberi mahal malah dipakai orang Rusia yang tidak tahu ilmu kedirgantaraan.

Dari cerita di atas dapat kita simbulkan bahwa kita harus pandai-pandai menilai diri sendiri. Suatu hal atau barang yang menurut kita mahal, belum tentu mahal menurut orang lain. Lebih baik kita membeli sedikit lem kanji daripada memarahi orang yang membuatkan kita lem kanji dengan banyak dan kelelahan agar mendapat upah.

Dalam buku yang terdiri dari 20 Cerita pendek (Cerpen) yang belum pernah di publikasikan ini, semua cerita yang ada dikemas secara artistik dan menggelitik namun cetar membahana. Kita akan di bawa ke dalam cerita bencong yang menyamar menjadi pengamen, hingga cerita-cerita sederhana lainnya yang menyentuh hati dan memekakkkan telinga.

Jadi tunggu apa lagi, datang saja ke Perpus Kementerian Kemendikbud untuk membaca buku ini, jika Penerbit KPG enggan menjualnya kembali, karena royaltinya belum diterima sama Romo Mangun Wijaya.

Jakarta, 4 Desember 2017

Sejak Maret 2017, Saya hampir tidak pernah menulis di blog. Sangat malas dan tidak semangat. Bulan Juli sampai September sempat non aktif, karena ada sesuatu berdasarkan tracking dan menghilang sejenak dari google agar namanya tak muncul.

Kadang saya berpikir, saya terlalu show up atau pamer di blog, jadi adakalanya malu dan geli baca tulisan yang sudah lama, jadi lebih baik ditutup aja blog ini, kadang berpikir demikian.

Seiring berjalannya waktu dan kerjaannya menumpuk saya larut dalam rutinitas. Beberapa hari yang lalu, saya buka website detik.com dan ada tulisan tentang Filantropis Bill Gates yang baru-baru ini rajin ngeblog review buku….ya ampuun seneng banget bacanya. Secara saya sejak lama review buku di blog ini, tapi saya tidak pernah peduli ada yang baca atau tidak, tapi bagiku ini sangat menyenangkan.

Keponakanku Auliani Ekasari Putri dari Jogja juga tanya kok bibi blognya tidak aktif, akhirnya kemarin saya aktifin lagi.

Apa yang saya geluti sejak lama sekarang sudah banyak dilakukan orang. Saya salut dan sangat respek pada orang yang suka membaca atau pegiat literasi, meskipun kadang saya sendiri merasakan tidak semua orang suka membaca. Bahkan ada yang mengatakan saya terlalu teksbook dan kebanyakan teori, lebih baik banyak berbuat tidak usah terlalu lama baca buku, kata sebagian orang, yah bagiku itu adalah pilihan-pilihan kita dalam melakukan suatu kegiatan.

Salam Literasi Bersama Guru Berprestasi

Bagi saya membaca saat ini adalah suatu yang mahal. Duduk, meluangkan waktu dan menelisik lembar demi lembar itu sangat menyenangkan. Di tengah kerjaan yang menumpuk. Dengan membaca kita dilatih untuk berempati dan peduli dengan apa yang diceritakan penulis. Nah, itulah kekuatan literasi. Olah rasa, olah jiwa dengan bacaan. Dari situ kita akan merasakan suatu kepuasaan tersendiri dengan apa yang disampaikan penulis, setting cerita dan terbawa suasana. Apalagi jika bukunya bagus kita review supaya orang juga tahu apa yang kita baca mereka rajin membaca dan membeli buku yang kita punya.

Beberapa waktu yang lalu, dalam kurun waktu  terakhir saya rajin mengunjungi Perpus Kemendikbud, Perpus UIN Jakarta, Perpus Kemenkes, Perpusnas, FKM UI dan terakhir Perpustakaan Bank Indonesia. Saya suka berlama-lama di perpustakaan, karena tuntutan pekerjaan, setelah lama di lapangan untuk liputan dan bahan penulisan, biasanya saya mencari referensi di perpus. Tapi saya lebih suka perpus yang ga ada wifinya jadi kita tenang bisa membaca sampai selesai. Nanti kapan-kapan saya akan cerita pengalaman selama 1,5 tahun mengunjungi aneka perpustakaan, ini seru dan mengasyikkan meskipun saya harus mengakhirinya karena harus ngantor lagi beberapa bulan belakangan.

di Perpustakaan Kemendikbud

Saat ini gerakan literasi sudah mulai menyeruak di berbagai lini, lingkungan sekolah misalnya, setelah berdoa diharapkan setiap murid membaca selama 10 menit buku cerita, itu yang diajarkan para guru untuk melatih murid agar senantiasa gemar membaca. Semoga kedepan orang akan semakin banyak membaca dan tentu saja, biasanya orang bisa menulis karena suka membaca. Jangan larut dengan hal-hal yang praktis luangkan waktu untuk menulis dan membaca.

di Perpustakaan Bank Indonesia

Pepatah mengatakan jika Sahabat terbaik adalah buku, ya buku bisa kita bawa saat susah senang dan melanglang buana kemanapun si penulis membawa cerita. Mencintai buku adalah mencintai ilmu pengetahuan, semakin banyak membaca semakin kita merasa bodoh. Disitulah kita menjadi tidak mudah terpengaruh dengan berita online dan berita hoaks yang bertebaran. Dengan membaca kita juga punya second opinion, referensi dan rujukan. Apalagi saya suka menstabilo kutipan yang memotivasi atau kata-kata bijak yang menyentuh hati. Bagi saya itu ibarat kita menemukan berlian di tengah pusaran padang pasir.

kutipan-kutipan seperti ini yang kusuka

Maka mari kita rajin membaca, menulis apa saja, menulis puisi, cerpen atau menulis di blog, atau opini selagi sempat. Jangan menulis status kebencian atau sikap nyinyir yang justru membuat orang tidak nyaman. Barbaik sangka sama orang, dan tidak menyimpan rasa dendam, maka hati kita menjadi lapang. Kita menulis, bekerja apapun yang kita lakukan diniati ibadah, tidak mengharap pujian manusia, karena yang berhak menilai diri kita adalah Tuhan. Salam Literasi.

Salam Literasi

Berikut saya tulis link yang membuat saya termotivasi untuk menulis di blog lagi, tidak jadi menutupnya.

Pejaten 7 September 2017

Salam Literasi

https://inet.detik.com/cyberlife/d-3629030/ternyata-ini-hobi-bill-gates-yang-membuatnya-pintar

Ternyata Ini Hobi Bill Gates yang Membuatnya Pintar

Fino Yurio Kristo – detikInet
Share 0 Tweet 0 Share 0 1 komentar
Bill Gates (Foto: Internet)

Jakarta – Bill Gates mengaku sudah kecanduan membaca sejak kecil. Itu adalah salah satu kunci kepintaran dan kesuksesan pendiri Microsoft tersebut. Tak sekadar membaca, ia bahkan juga sempat menulis beberapa review buku di blognya, Gates Notes.

Berikut wawancara singkat dengan Bill Gates yang menceritakan soal kecanduannya membaca, dikutip detikINET dari New York Times.

Seperti apa peran membaca dalam hidup Anda?

Membaca adalah salah satu cara utama bagiku untuk belajar dan telah kulakukan sejak masa kanak-kanak. Belakangan ini, aku memang mengunjungi tempat-tempat menarik, bertemu dengan para ilmuwan, dan menyaksikan banyak kuliah online. Tapi membaca masih tetap menjadi cara utama bagiku mempelajari hal-hal baru dan menguji pemahamanku.

Bill Gates

Apa yang membuat Anda memutuskan menulis review buku di blog?

Aku selalu suka membaca dan belajar, jadi kupikir akan bagus jika orang membaca sebuah review buku dan juga merasa terdorong untuk membaca dan membagikan apa yang mereka pikirkan dengan teman-temannya.

Salah satu alasan utama aku memulai blog memang adalah untuk membagikan pemikiranku soal apa yang kubaca. Jadi menyenangkan melihat orang menulis reaksi dan rekomendasi mereka di kolom komentar.

Bagaimana Anda memilih buku yang akan dibaca?

Melinda dan aku kadang saling bertukar buku yang kami suka. Aku juga mendapatkan rekomendasi dari teman. Setelah menyelesaikan buku yang bagus, aku sering mencoba menemukan buku lain karya penulis yang sama atau buku yang mirip tentang subyek yang sama.

Buku apa yang sering Anda rekomendasikan?

Aku membaca buku The Better Angels of Our Nature karya Stephen Pinker beberapa tahun lalu dan setelahnya langsung aku menemui Stephen untuk bicara padanya. Aku review buku itu di Gates Notes karena aku ingin orang lain membacanya, menyukainya dan belajar darinya seperti halnya diriku. Ini mungkin buku favoritku dan yang paling sering kurekomendasikan.

Apakah Anda juga membaca novel?

Aku memang tidak membaca banyak fiksi tapi pernah terkejut karena merasa sangat suka dengan novel berjudul The Rosie Project karya Graeme Simsion. Melinda yang pertama membacanya dan kadang membacanya dengan suara keras. Akhirnya, aku memutuskan untuk juga membacanya.

Aku mulai membaca novel itu pada jam 11 malam dan keterusan sampai jam 3 dini hari. Novel itu sangat lucu dan juga menunjukkan banyak empati bagi orang yang berjuang di berbagai situasi sosial.

Jika anda ingin membaca website pribadi Bill Gates, silahkan kunjungi http://www.gatesnotes.com

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet Deneefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers Festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali. Ia mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7 km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan “Imagining India” pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada aplikasi waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee . Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke Tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali. Ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain beulok-beulokan (kotor-kotoran) di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-foto akhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara di Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya Jack, serta Alex mereka semua turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampai besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di Neka Museum saya mengikuti sesi “Migrant “dan “Refugees” bersama Stef Vaessen, Sami Shah, Chris Raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang “A Little Life” yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemu Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Lima Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan. Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak aku ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbagai bangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket Bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan ke Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirman 21.40