Archive for the ‘Buku dan Media’ Category

Membaca di Alam Terbuka

Posted: November 16, 2018 by Eva in Buku dan Media
Tags:

Ada satu masa di Bali, saya pernah merasakan kenikmatan tiada tara membaca buku di alam terbuka.

Selain merasa santai, suasana alam yang hijau, menulis cerita, puisi sambil tiduran di bantal besar bersama teman dan sahabat, membuat waktu terasa sangat cepat.

Jika ingat,  saya ingin mengulang kembali, berkumpul bersama teman, sahabat di alam terbuka, di belakang taman baca di mana di situ pikiran kita terbuka.

Membaca alam, menggoreskan pena tentang apa yang kita rasa, dan bercengkrama dengan teman-teman…sungguh saya merindukan kalian semua. 📖📖📚📚📚♥️♥️♥️

Advertisements

Resensi Buku

Judul : Biografi Singkat Mohammad Hatta (1902-1980)

Penulis : Salman Alfarizi

Penerbit: GARASI, Jogjakarta

Edisi : Cetakan II, Juli 2009

Editor: Abdul Qadir Shaleh

Pada suatu ketika B.M Diah diminta oleh Majalah Prisma tentang generasi 1928 seperti Sukarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. Kata Diah :  “Sukarno dan Hatta disekap Belanda, Sjahrir idem dito. Tan Malaka lari.”

Setelah 73 tahun Indonesia merdeka, ada beragam generasi melintasinya. Indonesia tidak melupakan Mohammad Hatta, salah seorang proklamator dan pemimpin bangsa ini yang jujur dan antikorupsi. Memegang teguh prinsip, tegas, terampil organisasi, memiliki intelektualitas tak tertandingkan, dan pemegang paham sosialisme yang setia.

Sosok Mohammad Hatta, sudah lama dikenal sebagai salah satu pendiri bangsa. Wakil presiden yang mendampingi Ir. Sukarno ini dikenal sebagai sosok yang sederhana dan disipin tinggi. Ekonomi Kerakyatan yang diperjuangkan atau disebut sebagai Hattanomics pernah diterapkan di era awal kemerdekaan.

Saya tidak akan menjelaskan bagaimana kiprah sejarah dan perjuangannya sebelum kemerdekaan yang sudah banyak orang paham, namun akan mengulas sisi pribadi dia yang patut di tiru kita sebagai orangtua maupun generasi muda penerus.

Ada banyak buku yang mengulas tentang biografi ekonom terkemuka Indonesia Mohammad Hatta. Ditulis oleh beberapa penulis dan penerbit dengan pendekatan berbeda, semua sama bagusnya. Namun, jika anda ingin membaca singkat, cepat dan padat, tidak ada salahnya anda membaca buku ini.

Yatim Sejak Usia Delapan Tahun

Lelaki yang bertubuh kecil pendek dan berbadan gempal ini lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Ayahnya seorang mursyid, sebuah pemimpin tarekat sufi di Sumatera Barat bernama Haji Mohammad Djamil dan Ibunya Siti Saleha. Mohammad Djamil adalah cucu seorang seorang ulama Minangkabau bernama Syaikh Abdurrahman atau dikenal Syaikh Batuhampar.

Menurut Hamka, nama Mohammad Hatta berasal dari Muhammad Ata yang diambil dari seorang penulis kitab Al-Hikam bernama Muhammad Ibn Abdul Karim Ibn Ata-Ilah Alsukandari. Sedangkan kakek dan nenek dari pihak ibunya adalah pengusaha angkutan pos antara Bukittinggi dan Lubuk Sikaping dengan menggunakan kuda, bernama Ilyas Bagindo Marah dan istrinya Aminah. Hatta memanggil keduanya Pak Gaek dan Mak Gaek.

Pernikahan Mohammad Djamil dengan Saleha melahirkan dua orang anak yaitu Hatta dan Rafi’ah. Ketika berusia delapan tahun, ayahnya mursyid Mohammad Djamil wafat. Ibunya menikah lagi dengan Haji Ning, pengusaha asal Palembang. Dari pernikahan itu, Hatta punya adik  empat orang perempuan.

Kondisi rumah tangga semasa kecil sangat berpengaruh dalam pola hidup Hatta yang terlepas dari pola budaya Minangkabau tradisional yang lazimnya konservatif, ada kalanya cenderung reaksioner. Sama halnya dengan pemuka gerakan nasional sezamannya yang berasal dari Minangkabau seperti Ibrahim Marah Sutan, Rustam Effendi, Abdul Muis, Bahder Johan, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, Hazairin, Syaikh Djamil Djambek dan Syaikh Abdullah Muhammad.

Menikah Dengan Mas Kawin Buku

Terlalu panjang jika saya bercerita proses mahasiswa, menempuh pendidikan ke Belanda, aktif di organisasi dan memproklamasikan kemerdekaan RI. Saya kira nanti anda bisa baca sendiri dari halaman 15-32.

Lebih menarik kita membahas sisi pribadinya. Dimana Muhammad Hatta yang menikah usai Indonesia merdeka. Perempuan yang dinikahi Hatta adalah perempuan biasa yang saat menikah masih belia, bernama Siti Rahmiati Rachim. Mereka bertemu saat usia Rahmi berusia 17 tahun, selisih usianya dengan Mohammad Hatta adalah 24 tahun. Rahmi adalah perempuan kelahiran Bandung 16 Februari 1926. Mereka bertemu saat Sukarno dan Hatta kembali dari pengasingan. Hatta dan Rahmi menikah pada 18 November 1945 di Megamendung Bogor dengan mas kawin sebuah buku berjudul “Alam pikiran Yunani.”

Kecintaan Hatta pada buku sudah ada sejak kecil. Sejak umur lima tahun sudah bisa membaca dan menulis. Hatta punya kebiasaan membaca yang patut diteladani. Membaca buku pelajaran pada malam hari dan membaca buku lain termasuk roman untuk meluaskan cakrawala pengetahuan dibacanya pada sore hari. Selama 11 tahun di Belanda dia membawa 11 peti buku dan pakaian hanya satu koper.

Bagi Hatta, buku hampir seperti sebuah benda sakral. Dalam dunia pergerakan, mungkin Hatta adalah aktivis yang paling banyak menulis. Konon saat mahasiswa di Amsterdam kamarnya penuh sesak dengan buku. Dalam kehidupan sehari-hari, Hatta memiliki waktu khusus untuk belajar. Jauh dari kemewahan dan kegairahan akan perempuan.

Kekasih Hatta adalah buku, buku, dan buku. Karena itu, lahirlah anekdot; istri pertama Hatta sesungguhnya adalah buku, istri kedua Hatta adalah buku dan istri ketiga adalah Rahmi Hatta.

Berbeda dengan Sukarno yang sanggup membakar massa melalui pidato-pidatonya yang memikat. Hatta lebih banyak diam; ia lebih suka menulis. Isi buku-bukunya menggambarkan spektrum dan minat yang luas terhadap ekonomi, sosial dan sastra. Tokoh yang disukai Hatta adalah Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker, penulis Belanda yang pernah menulis Max Havelaar.

Satu ucapan Dekker yang kerap dikutip Hatta, dengan tepat menggambarkan sosok bekas wakil presiden itu adalah onhoorbar groeit de padi, artinya tak terdengar tumbuhlah padi. Hatta adalah padi yang tak terdengar itu.

Kepala Keluarga yang Disiplin dan Penuh Kasih Sayang

Selama mengayuh biduk rumah tangga, Hatta dan Rahmi memiliki tiga anak. Yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah dan Halida Nuriah. Sebagai orang tua, Hatta terkesan pendiam dan kaku. Namun dia sangat berwibawa dan penuh kasih sayang.

Curahan kasih sayang pun terasa unik, karena beliau bukan sosok yang suka memuji, membelai dan menyanjung berkepanjangan.

Namun, menyapa anak-anaknya dengan sopan tanpa memanggil “kamu”. Dia biasa bertanya misalnya “Meutia sudah membaca tulisan ini? Atau “Gemala, dimana letakkan buku tadi?.”

Bahasa Indonesia yang digunakan Hatta adalah Bahasa yang standar. Mungkin ini pula yang menyebabkan nilai Bahasa Indonesia ketiga putrinya 8 dan 9, karena mereka terbiasa mendengar ayahnya menggunakan Bahasa Indonesia standar. (Ini harus dicamkan orangtua dan generasi milenial hehehe).

Menurut anak-anaknya, Hatta adalah sosok ayah yang sangat disiplin selam hidupnya yang dijalani selama puluhan tahun saat sehat. Ketiga anaknya dibesarkan oleh orang tua dengan alam pikiran modern. Meutia Farida, anak tertua dibiarkan memilih jurusan yang disukainya. Hatta justru banyak memberi saran berharga untuk studi antropologinya.

Gemala menjelaskan jika ayahnya bangun pada 04.30 WIB, lalu sembahyang dan berolahraga satu jam. Sesudah mandi dan berpakaian selama 15 menit ia akan sarapan pada pukul 06.30 sembari mendengarkan radio, Hatta akan masuk ruang kerja dan mendengarkan agenda yang dibaca oleh sekretaris pribadi bernama Wangsa Widjaya. Penghargaan Hatta kepada waktu juga terlihat betul dalam menanggapi hidup rencana anak-anaknya.

Wafat Menjelang Matahari Terbenam

Ciri khas Hatta, sanggup menjadi seorang rasional tanpa harus kebarat-baratan. Tokoh yang taat beragama ini berorientasi kerakyatan mengambil teladan dari dunia barat dalam urusan disiplin dan berorganisasi. Di mata sang istri yang selama ini mendampinginya, Rahmi melukiskan sosok suaminya sebagai orang yang teguh prinsip.

“Keteguhan prinsipnya tidak bisa dipatahkan oleh orang-orang terdekatnya sekalipun,”

Kesabaran Hatta dan Rahmi juga terasa saat mereka merasakan kecilnya tunjangan wakil presiden saat itu. Pengabdian Mohammad Hatta kepada bangsa Indonesia sudah terbukti dengan baik. Begitu jujurnya Hatta, saat pensiun dari jabatan wakil presiden, dia pernah mengalami kesulitan membayar listrik rumahnya di jalan Diponegoro (hlm 7). Hal ini dikarenakan sedikitnya tunjangan pensiun wakil presiden (apres) saat itu.

Banyak cerita menarik lainnya seputar buku yang ditulis, perpustakaan pribadi Bung Hatta di Sumatera Barat dan Jogjakarta yang terbengkalai, (halaman, 202-203). Begitu juga dia tidak menyukai Siti Hartini, sehingga selalu menghindar jika ketemu Presiden Sukarno kalau ada Hartini, karena Beliau sangat hormat kepada Ibu Fatmawati. Beliau juga menengok Bung Karno saat dua hari sebelum meninggal dunia, dan kisah menggelora lainnya yang harus anda baca.

Namun, resensi ini harus diakhiri dengan meninggalnya Mohammad Hatta pada 14 maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta,  dan dikuburkan di Tanah Kusir pada 15 Maret 1980 pada usia 77 tahun.

Penyanyi Iwan Fals mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Halida Nuriah mengatakan jika hidup ayahnya sudah diatur Tuhan sedemikian rupa. “Seakan diatur oleh tangan yang lebih kuasa, masa hidupnya bagaikan satu kali putaran matahari. Ayah dilahirkan menjelang fajar menyingsing di kala panggilan sembahyang subuh berkumandang di surau-surau Kota Bukittinggi, dan wafat setelah tenggelamnya matahari, menjelang berakhirnya waktu maghrib…”.

Buku ini bagus dan singkat sesuai judulnya. Namun kelemahannya ada pada sampul yang kurang nyeni, struktur penulisan yang meloncat, ke belakang dulu lalu memulai lagi saat muda. Namun terlepas dari itu semua tidak banyak ejaan yang salah, bahasanya pun mengalir dan nyaman dibaca dari bab mana saja.

Selamat membaca…

Perpustakaan Veteran Blitar, 30 Oktober 2018
Pukul 12.59 WIB

Saya melihat mereka menyeberangi kekosongan

Lebih luas dan lebih dalam 

Dari ruang dan waktu

Seluruh keberadaanku

 

Terletak antara hati dan bunga mawar

Nyala api, burung-burung, helai-helai rumput. 

Jauh di bawah kedalam batin mereka

Mencabut daun dari bunga, sayap dari lalat

 

Menghantui hati dengan pisau bedah

Dan mencerai beraikan debu hidup itu dengan lensa

Sebab di kala senja, kilat dan nyamuk di udara

Mereka mengungkapkan misteri alam

 

Menyatakan Aku-lah Ada, meski tetap tanpa nama

(Kathleen Raine, “Exile” dalam The Collected Poems of Kathleen Raine, Hamish Hamilton, 1956)

 

Judul: Anak-anak Mencari Jati Diri

(Telaah Atas Perilaku Anak Sebagai Pengungkap Diri yang Asli)

Judul Asli: Children in Search Of Meaning

Penulis: Violet Madge

Penerbit:  BPK Gunung Mulia, Jakarta

Edisi: I, 1991

 

Pernahkah anda melihat seorang anak bertanya dari mana datangnya air mata atau kenapa mata ibu mengeluarkan air? Bukankah air itu berasal dari akar pohon yang menyerap hujan? Bagaimana seorang sapi bisa melahirkan, dan bagaimana kok ada cicak mati?

Di situlah kita melihat bahwa ada beberapa tahapan dalam pendidikan anak. Dimana buku yang sudah lama terbit ini mendedahkan bahwa perkembangan atau pertumbuhan anak itu dilalui lewat pelbagai macam pertanyaan. Di mana orang tua harus menjawab dengan jujur.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama tentang Penemuan atas Dunia dan Manusia dan Kedua Beberapa refleksi  anak mencari jati diri. Pada bagian pertama terdiri dari tiga bab yaitu pendidikan masa kanak-kanak, pendidikan masa remaja, dan pendalaman pengertian selama Sekolah Dasar.

Tipis Namun Padat Berisi

Buku yang keren namun tipis ini (119 halaman), ini sudah menggebrak dari awal pembaca ketika kita dihadapkan pada beberapa pertanyaan mendasar dari seorang anak ketika mulai belajar bicara, menimpali ketika dinasehati dan melanggar perintah agama ketika diperingatkan orang tua sejak kecil. Tiga tahapan itu ada dalam bagian pertama isi buku ini.

Di setiap bab dalam buku ini disertai ringkasan, misalnya tentang anak-anak kecil mencari makna hidup dengan mencari jawaban kedua (second opinion) segala keingintahuan mereka akan gejala alam maupun manusia dengan bertanya kepada sahabat atau saudara untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Banyak pengalaman itu timbul lewat permainan, yang membenarkan pendapat Froebel bahwa: “Permainan itu bukan hal yang remeh , melainkan hal yang sangat penting dan mempunyai arti yang sangat mendalam.

Sedangkan menjelang remaja anak akan banyak, berpikir lebih keras, berfantasi (imaginasi), melihat drama dan tidak henti bertanya tentang bagaimana cara mencari kebebasan. Dimana masa remaja ini saya sepakat dengan Prof. Jeffrey bahwa ” Seperti yang dibuktikan dalam kepandaian anak-anak, akal budi manusia terus mencari makna dalam segala keadaan

Pesan Misterius  Anak yang Tersirat Sejak Embrional

Di balik kegiatan anak dari mulai menggambar, berbicara, mengetik, bermain, mendengarkan musik, menonton film, main game, beribadah, bermain bersama teman, liburan untuk jalan-jalan terdapat suatu maksud yang terdalam untuk mengungkap jati diri dalam kaitannya dengan dunia luar dan orang sekitarnya. Benih pemahaman tentang agama atau Ketuhanan juga tersirat walau masih embrional.

Jadi, melalui pengalaman atas dunia di sekitar mereka dan melalui hubungan antar sesama anak-anak sampai dewasa, tua dan meninggal dunia dapat sampai ke penemuan bahwa dalam pencarian atas jati diri masih terdapat misteri yang tidak dapat dipecahkan kelak dia menjadi apa dan meninggalnya seperti apa.

Makanya seperti apapun anak kita, jangan terlalu mengatur anak.  Biarkan dia menjadi dirinya sendiri, jangan terlalu dibanggakan kelebihan dan kekuranggannya dan juga kita harus menjaga agar meninggal dengan penuh keselamatan.

Kita boleh belajar untuk menghayatinya dengan semakin lebih bermakna, untuk menembusnya dengan semakin ciri-cirnya, namun betapapun dalam kita memasukinya dan mempelajari rahasia-rahasia anak, misteri itu tetap misterius.

Perpustakaan Kabupaten Blitar

8 Oktober, 2018

Pukul 10.14

 

Resensi Buku
Judul: Etika Jawa (Pedoman Luhur dan Prinsip Hidup Orang Jawa)
Penulis: Sri Wintala Achmad
Editor: Fita Nur A
Edisi: Januari, 2018
Penerbit: Araska, Bantul Jogjakarta
ISBN: 978-602-300-470-6

Dalam kehidupan manusia, peran etika sangat penting setelah ditegakkannya hukum. Karena dengan etika, manusia dapat membangun pribadi dan kepribadiannya menjadi kepribadian yang baik. Dalam prakata buku ini, ada semacam ungkapan bahwa hewan (binatang) hidup dengan nalurinya. Oleh karena itu hewan tidak mengenal etika. Tidak mengenal baik buruk dan benar atau salah. Maka sangatlah bodoh jika manusia menghajar hewan sampai tewas.

Berbicara mengenai etika, tidak dapat dilepaskan dengan daerah atau negara, dimana etika tersebut oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu orang-orang Barat berbeda dengan etika orang-orang Timur. Etika yang diterapkan oleh orang-orang Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Bali berbeda dengan etika yang diterapkan oleh orang-orang Jawa.

Mendalami Etika Filosofis dan Etika Teologis

Terlihat dalam pemaparan buku ini, sang penulis, Sri Wintala Achmad perempuan asal Cilacap  ini sangat hati-hati dalam menulis bertutur. Dimulai dengan makna etika dan arti kata Jawa.

Ada tiga pandangan dalam memahami etika yaitu etika filosofis yaitu etika yang berasal dari kegiatan berpikir menyangkut dua sifat yaitu non empiris dan praktis. Kedua, etika teologis yang bertitik tolak dari preuposisi agama. Etika teologis disebut juga Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris. Pandangan ketiga adalah relasi etika filosofis dan etika teologis menyangkut tiga aspek revisionsme (Augustinus), sintesis (Thomas Aquinas) dan Diaparalelisme (FED. Schleirmacher).

Banyak pertanyaan muncul kenapa perspektif budaya dan bahasa Jawa hanya meliputi Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimwa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Timur. Sri Wintala Achmad menjelaska  jika ketiga wilayah tersebut memiliki budaya hampir sama yaitu masyarakat asli Jawa Tengah menggunakan bahasa Jawa Panginyongan, DIY menggunakan bahasa Jawa dan Jawa Timur menggunakan Bahasa Jawa Pangarekan.

Sembilan Bab Bermutu dan Berkualitas

Terus terang, jika anda mengibaratkan makan, membaca buku ini isinya daging semua atau bernas dan berkualitas. Dimana ada sembilan bab dalam buku ini yang membahas saripati pembelajaran etika Jawa.

Dari mulai Pengertian hingga Slogan Etika Jawa, Ciri-Ciri Etika Jawa, Petuah Lisan Sumber Etika Jawa, Karya Sastra Etika Jawa, Aneka Simbol dan Etika Jawa, Etika Jawa Dalam Seni Tradisi, Etika Jawa Dalam Upacara Tradisi, Etika Jawa dan Aliran Kepercayaan serta Slogan-Slogan Etika Jawa.

Selain pengamatan pribadi, Sri Wintala Achmad juga menyampaikan beberapa pemikiran pengamat Jawa lainnya seperti Pardi Suratmo dan Iman Budhi Santoso misalnya dalam beberapa slogan-slogan dan etika Jawa.

Ada tujuh slogan yang dijadikan sumber etika antara lain. Eling lan waspada (bersikap ugahari, kritis dan tidak mudah terombang ambing), Sepi ing pamrih rame ing gawe (agar manusia bersikap penuh tanggung jawab, bertindak karena keinginan melainkan kebaikan), Andhap Asor (slogan yang mengajarkan sikap penuh rendah hati terhadap apa yang digariskan), Nrima (slogan agar manusia tidak memaksakan kehendak dan ambisius), Sabar (slogan agar manusia tidak terburu-buru, penuh perhitungan dalam bertindak), Aja Dumeh, slogan yang mengajarkan kepada manusia agar tidak sok atau sombong saat hidup bergelimang harta atau benda saat berkuasa), Gotong royong, slogan yang mengajarkan kepada manusia untuk bersikap suka memberi kesempatan kepada orang lain, saling menolong dan bekerjasama.

Sebenarnya masih banyak lagi beberapa tradisi dan makanan khas Jawa, kaitannya etika Jawa dan aliran kepercayaan. Namun sebaiknya jika anda ingin memahami lebih mendalam buku ini anda pasti akan sangat gembira.

Karena kalau saya baca sampai akhir  bagian Manunggaling Kawula Gusti hingga Kasampurnaning Dumadi (208-209) penulis yang merupakan alumni Fisafat UGM Yogyakarta ini pemaparannya sangat bagus, editannya bersih, nyaris sempurna tanpa cela.

Berbagai sumber yang lazim digunakan oleh orang tua dalam etika Jawa juga ada seperti dongeng, lelagon, tembang, simbol, benda pusaka, bahasa aksara, sesaji, kuliner, arsitektur, busana adat dan seni tradisi.

Apalagi di bagian akhir, ada beberapa slogan jawa yang berjumlah 57 slogan yang mengandung etika Jawa yang membuat anda mengerti kehidupan masyarakat Jawa.

Seperti Mikul dhuwur mendhem jero (memikul yang tinggi, mengubur yang dalam,dimana seorang anak harus menghormati orangtuanya yang telah melahirkan), Nabok nyilih tangan (memukul dengan meminjam tangan, Menang tanpa bala, ngasorke tanpa senjata artinya seseorang dapat meraih kemenangan dan menaklukkan dunia tanpa senjata hanya dengan cinta dan lain sebagainya.

Mengutamakan Spiritualitas daripada Materialitas

Jadi jika anda berada di luar daerah dari suku manapun dan memiliki sahabat, pasangan dan pimpinan dari suku Jawa tidak ada salahnya membaca buku ini sebagaai rujukan dan pedoman hidup etika Jawa.

Masyarakat Jawa Dimana seperti disampaikan Franz Magnis Suseno yang mengatakan jika di dalam lingkup masyarakat Jawa yang lebih memerhatikan spiritual ketimbang material, etika Jawa mendapatkan tempat utama. Oleh sebab itu pembelajaran mengenai etika Jawa tersebut dilakukan orang tua sejak anak masih berusia dini.

Koleksi khusus perpustakaan Bung Karno

28 Agustus 2018

Pukul 15:38

20180827_153639

 

Tidak, tidak ada ikatan yang membelenggu lebih erat,
Laut kehidupan tidak pernah begitu liar
Dibandingkan dengan ikatan yang ditetapkan Tuhan
Tidak juga ikatan ibu dan anaknya!

(Max Havelaar, Karya Multatuli halaman 41)

Resensi Buku
Judul : Max Havelaar
Penulis : Multatuli (Eduard Douwes Dekker)
Alih bahasa: Andi Tenri W
Editor : Hamonangan Simanjuntak
Penerbit : Narasi, Jogjakarta
Edisi : 2014

Saya sudah lama mengincar buku ini dan menemukan buku yang masih baru dan meminjamnya di Perpustakaan Kabupaten Blitar yang berada di jalan Veteran. Buku bersampul kuning emas ini merupakan karya seorang tokoh terkemuka asal Belanda yang tinggal cukup lama di Kabupaten Lebak Banten bernama Multatuli yang merupakan nama samaran dari Eduard Douwes Dekker.

Eduard Douwes Dekker adalah anggota Dewan Pengawas Keuangan Pemerintah Belanda yang pertama kali ditempatkan di wilayah Batavia (Hindia-Belanda) pada 1840. Tahun 1842 ia meminta dipindahkan ke Sumatera Barat. Di tahun yang sama pula, ia dipindahkan ke Natal, Sumatera Utara, untuk bertugas sebagai Kontelir. Baru setelah itu ditugaskan di Banten.

Membuka Busuknya Kolonialisme

Buku ini dibuka dengan sebuah pendahuluan yang menyentuh tentang keadaan seniman di akhir hidupnya. Sebuah persembahan untuk istrinya yang bernama Tina. Buku ini ditulis Multatuli di sebuah losmen yang disewanya di Belgia pada musim dingin tahun 1859, setelah cukup lama ia tinggal di Indonesia mengunjungi perkebunan kopi.

Tulisan setebal 396 halaman ini berisi tentang kritik tajam yang telah membuka sebagian besar mata publik dunia tentang betapa perihnya arti sebuah penindasan (kolonialisme).

Dalam buku ini, Multatuli menjelaskan tentang busuknya Kolonialisme Hindia Belanda, dan memberi ilham bangsa Indonesia untuk merdeka. Cerita tentang menderitanya petani di Lebak Banten yang karena kemiskinannya tidak bisa mendapatkan jodoh dari kelas yang lebih tinggi. Petani dianggap sebagai profesi yang sangat rendah, miskin dan tidak berkelas.

Menginspirasi Kartini dan Bung Karno

Di era jaman penjajahan Belanda, Max Havelaar merupakan buku yang sulit dicari bahkan dilarang beredar. Namun, beberapa tokoh pergerakan Indonesia membacanya dengan seksama seperti tokoh pergerakan Wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini dan Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno.

Kini, setelah 70 tahun merdeka (terbit 2014), anda bisa membaca karya fenomenal Multatuli yang saya sendiri merasa kebingungan membacanya karena ditulis dengan bahasa sastra tingkat tinggi yang membutuhkan perenungan terhadap curahan hati tokoh Max Havelaar tentang perasaannya pada perempuan yang ada dalam hidupnya, tentang kemiskinan kaum petani dan menderitanya perempuan yang terpisah dari suaminya yang ikut berperang menentang kolonialisme.

“Nak, jika mereka memberitahumu bahwa aku adalah bajingan yang tidak memiliki keberanian melakukan keadilan…, bahwa banyak ibu yang meninggal karena kesalahanku…, ketika mereka berkata bahwa ayah melalaikan tugas yang telah mencuri berkah dalam kepalamu…, oh, Max, max beritahu mereka betapa menderitanya aku! (Multatuli)

Saat saya menulis resensi ini, saya belum selesai membacanya. Jadi tidak tahu kelemahan kelebihannya. Semoga suatu hari nanti, orang akan paham dan bisa membedakan siapa itu Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, apa hubungannya dengan Ernest Douwes Dekker  yang pernah menjadi penjaga perpustakaan di Kotabaru Jogjakarta? Dan apa saja karya  Multatuli dan pemikirannya di masa lalu.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah berkunjung ke Museum Multatuli di Rangkas Bitung Lebak Banten. Sebaiknya, jika anda ingin tahu lebih dalam sosok Multatuli baca terlebih dulu buku ini.

Setelah itu baru berkunjung ke museum Multatuli, lihat film dokumentasinya dan harus paham betul sejarah kolonialisme dan prrgerakan Indonesia.

Malang, 22.06 WIB

“Rahasia sesungguhnya untuk meningkatkan kreativitas, bukan dengan terobsesi terhadap segala macam alat atau proses, tapi dengan mengerti motivasi kita,”- Scott Barry Kaufman, pengarang Wired to Create

Resensi Buku: What’s Your Creative Type (Semua Orang Kreatif, Anda Termasuk yang Mana?
Penulis: Meta Wagner
Alih bahasa: Adinto F.Susanto, Dinun Wicaksono
Editor : Adinto F Susanto
Penerbit: Grasindo, Jakarta
Edisi: I, Agustus, 2017

Lima Tipe Kreatif Orang di Dunia

Pertama kali saya melihat buku ini, saya penasaran terhadap isinya, apa saja tipe orang-orang kreatif di dunia yang bisa mengubah segala hal yang sulit menjadi sedemikian ringan dan menyenangkan, meskipun dalam posisi sulit.

Buku yang ditulis oleh Meta Wagner, seorang kontributor “The Boston Globe” dan kolumnis untuk “Pop Matters” memiliki perhatian terhadap budaya pop di kalangan anak muda di dunia, khususnya di Amerika Serikat.

Menurut Meta Wagner yang menulis pemikirannya dengan bahasa yang ringkas, padat dan berkualitas ini ada lima tipe orang kreatif di dunia, yaitu Pertama tipe sang primadona, kedunia tipe sang seniman, ketiga tipe sang pembuat perubahan, keempat tipe sang perasa, dan kelima tipe sang aktivis.

Kali ini saya tidak mau panjang lebar membahas buku ini, seperti penjelasan masing-masing tipe orang kreatif yang ada di atas seperti buku sebelumnya, karena buku ini tipis dan bisa didapat di toko buku terdekat dengan harga terjangkau.

Setelah membaca buku ini, anda pembaca, akan lebih kreatif membaca apa yang membuat anda menarik dan menggali potensi kreativitas diri anda apapun yang anda lakukan sekarang dimanapun berada.

Buku ini meski tidak sempurna, namun tidak ada kelemahan yang berarti. Bahkan di bagian kesimpulan ada tulisan panjang yang menjelaskan jika semua orang di dunia adalah orang kreatif.

Selamat membaca

Malang, 3 Agustus 2018

Resensi Buku: Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia)
Penulis : Ir. Sukarno
Edisi : Tjetakan Ketiga, 1963
Penerbit: Panitya Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Sukarno
Koleksi: UPT Perpustakaan Bung Karno Kota Blitar, Perpustakaan Nasional RI
Sarinah dan Perjuangan Perempuan untuk Keadilan Sosial

“Sjair Inggris mengatakan Man works from rise to set of sun, woman’s work is never done, artinya, laki kerdja dari matahari terbit sampai terbenam, perempuan kerdja tiada hentinja siang dan malam,” Ir.Sukarno, dalam buku Sarinah halaman 77

Screenshot_2018-07-28-14-34-15

Orang Ketjil Berbudi Besar

Raden Soekemi Sosrodiningrat dan Ida Ayu Nyoman Ray memiliki dua orang anak, yaitu Sukarmini dan Sukarno. Sebagai keluarga bangsawan, mereka memiliki kesibukan lain disamping membesarkan dua orang anaknya yang masih Balita. Sukarno akhirnya di asuh oleh Sarinah.

Kitab Sarinah ditulis oleh Sukarno sesudah berpindah kediaman dari Djakarta ke Djogjakarta, dimana saat itu tiap dua pekan sekali Sukarno mengadakan banyak kursus-kursus keputrian. Sukarno menulis bahwa alasan utamanya kenapa kitab (buku) ini dinamakan “Sarinah”?

Saja menamakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terimakasih saja kepada pengasuh saja ketika saja masih kanak-kanak. Pengasuh saja itu bernama Sarinah. Ia “mbok” saja. Ia membantu ibu saja, dan dari dia saja menerima banjak rasa kasih. Dari dia saja mendapat peladjaran mentjintai “orang ketjil”. Dia sendiripun “orang ketjil” tetapi budinja selalu besar! Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu.

Mendapat Pujian dari Tiga Pemimpin Dunia

Sebagai orang yang pernah bekerja di penerbitan, saya tidak menyangka jika buku yang ditulis presiden pertama Indonesia ini, sampulnya memuat endorsement (pujian) dari para pemimpin dunia, padahal buku ini terbit tahun 1963. Berarti bisa dibayangkan jika, dunia penerbitan di Indonesia sudah mengalami kemajuan pesat sejak jaman perjuangan. Paling sulit dalam proses penerbitan buku selain editing adalah mencari endorsement, harus lama menunggu, menyesuaikan jadwal dan menanti tokoh tersebut membaca buku yang ditulis. Ini membuktikan bahwa Bapak Proklamator kita selain menguasai banyak bahasa juga dikagumi pemimpin dunia.

Orang pertama yang menulis pujian terhadap buku bersampul gading dengan judul merah ini, adalah Mahatma Gandhi. Dia menulis sebagai berikut. Banyak sekali pergerakan-pergerakan kita kandas di tengah djalan, oleh karena keadaannya wanita kita”-Gandhi.
Setelah itu, pemberi pujian kedua adalah  Lenin. Lenin berkata “Djikalau tidak dengan mereka (wanita), kemenangan ta’ mungkin kita tjapai,” Lenin dan sebagai penutupnya adalah Presiden Turki,  yang menulis “Diantara soal-soal perjuangan yang harus diperhatikan, soal wanita hampir selalu dilupakan,” Kemal Ataturk.

Enam Bab Penuh Makna Filosofis

Anda jangan membayangkan jika buku ini menceritakan biografi Sarinah dari A-Z. Karena yang dalam buku ini yang dimaksud Sarinah oleh Bung Karno adalah symbol perempuan Indonesia yang tidak berdaya, lebih banyak menceritakan tentang pemikiran perempuan Indonesia yang harus berjuang, memperjuangkan dirinya, bangkit dari kebodohan dan keterpurukan namun tidak lupa kodrat.

Bab pertama, Sukarno menulis panjang lebar tentang Makna dan Soal Perempuan, bab kedua mendedahkan tentang Laki-laki dan Perempuan, bab tiga tentang dari Gua ke Kota. Terlihat, dalam proses penulisan, Sukarno sangat bersemangat dengan tulisan yang diketik dan banyak penekanan huruf-huruf besar jika menyangkut salah satu nilai yang diperjuangkan.

 

Usai tiga bab menjelaskan tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga, bernegara, dan kehidupan sosial, bab empat pembahasannya lebih mendalam yaitu menyangkut ideologi Matriarchat dan Patriarchat, yang dilanjutkan dengan bab lima membahas tentang wanita bergerak.

Dalam kaitannya dengan ideologi matriarki, patriarki, feminis dan neo feminis anda akan kaget dengan pemikiran Beliau. Dimana disini, dia mengambil banyak ide-ide tentang gerakan wanita yang menurut dia bisa menjadi semacam ruh dalam suatu perjuangan. Selain karena perempuan memiliki rahim (kasih sayang), maka ruh dalam rahim perempuan harus memperjuangkan diri akan terciptanya suatu kehidupan penuh harapan.

Sarinah Dalam Perdjoangan Republik Indonesia (more…)

Resensi Buku
Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat
Karya: Cindy Adams, Edisi Revisi, 2007
Alih bahasa: Syamsu Hadi
Penerbit: Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo Jogjakarta

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata,” Ir. Sukarno 1933.

Buku berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” ini merupakan karya monumental Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno yang memerintah sejak tahun 1945-1966. Buku ini berkisah tentang perjuangannya sejak dia lahir, sekolah, kuliah, menikah, memproklamasikan kemerdekaan, membesarkan anak-anak, mengunjungi pelbagai negara, bertarung melawan pemberontakan komunis dan paham Islam yang kolot, diturunkan dari pemerintahan dan diancam digantung karena antek CIA, hingga masa akhir hayatnya yang sakit cukup lama dan menderita di hari tua hingga ajal menjemput dan menutup mata.

Buku yang ditulis oleh wartawati asal Amerika Serikat Cindy Adams ini sudah beberapa kali terbit dan mengalami revisi, seperti yang dijelaskan Guruh Sukarnoputra dalam kata sambutannya di pembukaan buku ini. Sempat diterbitkan beberapa kali dan diterjemahkan dengan makna yang tidak tepat, membuat keluarga Bung Karno membuat revisi yang terbit pada tahun 2007.

Sebagai wartawati, Cindy Adams menulis dengan baik buku yang terdiri 33 bab ini. Narasi yang disampaikan Cindy Adams, ditulis secara bertutur, sehingga seolah-olah Bung Karno sendiri yang menceritakan dirinya dalam buku yang memiliki tebal 415 halaman ini ditulis pada tahun 1964. Awal mula penulisan buku ini adalah saat itu Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones berkunjung ke istana Bogor dan menyarankan Bung Karno untuk menulis biografi.

Bung Karno akhirnya menyetujui untuk membuat biografi dan bersedia diwawancara oleh Cindy Adams, wartawati Amerika Serikat yang berada di Indonesia bersama suaminya Joey Adams yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara.

Putra Sang Fajar Berbintang Gemini

Sukarno adalah anak dari seorang ibu kelahiran Bali. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai Serimben (biasa disapa Idayu). Idayu, merupakan keturunan bangsawan. Raja Singaraja yang terakhir adalah paman ibunya Bung Karno. Sedangkan sang ayah, berasal dari Blitar, Jawa Timur. Nama lengkapnya Raden Soekemi Sosrodiharjo. Raden Soekemi merupakan gelar kebangsawanan. Dan bapak berasal dari Keturunan Sultan Kediri.

Raden Soekemi-ayah Sukarno-merupakan mantri guru sekolah pribumi dan sempat menjadi asisten peneliti bahasa Van Den Tuuk dan pernah bekerja di Buleleng Singaraja, karena Ibu Sukarno (Idayu) berasal dari keluarga Serimbin.

Raden Soekemi merupakan putera seorang ulama masyhur pada masanya. Keluarga Raden Soekemi merupakan patriot hebat. Nenek dari nenek ayah Sukarno memiliki pejuang pendamping pahlawan besar Diponegoro. Sewaktu Sukarno kecil, Ibunya sering mendengarkan cerita-cerita mengenai kebangsaan dan kepahlawanan. Sukarno bersimpuh di dekat kaki Ibu berjam-jam untuk mendengarkan cerita menarik dari perjuangan melawan penjajahan.

Kepada Cindy Adams, Sukarno terus terang menceritakan kisah cinta orangtuanya di masa muda. “Ibuku tercinta itu pun menceritakan bagaimana Bapak menaklukkan hatinya. Semasa muda Ibu adalah gadis di Pura Hindu Budha yang bertugas membersihkan rumah ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak yang bekerja sebagai guru sekolah rendah gubernemen di Singaraja sering datang ke air mancur di muka pura pulang sekolah. Suatu hari dia melihat Ibu, sering bertegur sapa dan keduanya saling jatuh cinta. (hlm, 25)

Sudah menjadi tradisi, perempuan Bali tidak boleh menikah dengan orang luar. Bukan orang luar dari negara lain, tetapi orang dari pulau lain. Waktu itu sama sekali tidak ada perkawinan campuran antara satu suku dengan suku lain. Kalaupun bencana semacam ini terjadi, pengantin baru itu diasingkan dari rumah orangtuanya sendiri.

Karena ayah Sukarno beragama Islam dan Ibunya seorang Hindu tidak mungkin mereka menikah. Namun, karena saling cinta, mereka akhirnya mendobrak tradisi. Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai akhirnya melakukan kawin lari. Peristiwa ini memang tidak lazim, namun untuk mendapat pengesahan, kedua pengantin di bawa ke depan pengadilan.

Akhirnya pengadilan mengizinkan perkawinan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai meskipun pengadilan menjatuhkan denda kepada sebesar 25 ringgit atau 25 dollar kepada mempelai perempuan dengan menjual perhiasan.

“Karena merasa tidak disenangi di Bali, Bapak kemudian mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk pindah ke Jawa. Bapak di pindah ke Surabaya dan disanalah aku dilahirkan,” ujar Sukarno pada Cindy Adams. Sukarno lahir pada 6 Juni 1901.

Cindy Adams menulis tentang asal usul kenapa, dia mendapat julukan Putra Sang Fajar. “Ketika aku masih bocah kecil, mungkin berumur dua tahun, ibu telah memberkatiku. Dia bangun sebelum matahari terbit dan di dalam kegelapan di beranda rumah kami yang kecil dia duduk tidak bergerak, tanpa melakukan apa-apa dan tanpa bicara, hanya memandang ke arah timur dengan sabar menantikan datangnya fajar.

Ketika aku terbangun dan mendekatinya, dia mengulurkan kedua belah tangannya dan meraih badanku ke dalam pelukannya, lalu pelan-pelan mendekap tubuhku ke dadanya. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan lembut,” ujar Sukarno menerawang masa kecilnya bersama Ibu tercinta.

“Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau, anakku, kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena Ibu melahirkanmu saat fajar menyingsing. Kita orang Jawa memiliki suatu kepercayaan, bahwa seorang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah digariskan sebelumnya. Jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra sang fajar,” (hlm 21)

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal 6 Juni. Aku bernasib sangat baik dengan dilahirkan di bawah bintang Gemini, lambang anak kembar. Dan memang itulah aku yang sebenarnya. Dua sifat yang sangat bertentangan. Aku bisa lemah lembut atau aku bisa rewel; keras bagai baja, atau puitis penuh perasaan. Pribadiku merupakan perpaduan dari pikiran dan emosi.

Aku orang yang suka memaafkan, akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala. Aku menjebloskan musuh-musuh negara ke balik jeruji penjara, namun aku tidak tega membiarkan burung terkurung di balik sangkar.


Berganti Nama Karena Sering Sakit

Raden Soekemi adalah seorang pecinta seni dan pengagum wayang. Sejak lahir, Sukarno diberi nama Kusno. Namun, karena sakit-sakitan, ayahnya mengganti namanya.

“Namaku ketika lahir adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang sakit-sakitan. Aku terkena malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit. Bapak berpikir. ”Namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain agar tidak sakit-sakitan lagi. Bapak adalah pengagum Mahabharata, cerita klasik Hindu zaman dahulu. Aku belum mencapai usia remaja, ketika bapak berkata, “Engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar Mahabharata.” (halaman31).

“Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno-mengikuti cara Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan semua OE ditulis kembali menjadi U. Nama Soekarno sekarang ditulis menjadi Sukarno. Tetapi tidak mudah bagi seseorang untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi dalam hal tanda tangan aku menulis S-O-E,” ungkap Sukarno terus terang tentang penulisan nama yang sampai saat ini masih simpang siur antara Soekarno atau Sukarno.

Karena buku ini sangat tebal, saya tidak akan menceritakan secara mendetail apa saja yang terjadi semasa kecil hingga beranjak dewasa menjadi remaja dan gemar membaca karya filsafat. Namun, jika anda ingin membaca langsung buku ini, ada beberapa bab yang menceritakan bagaimana kisah sedih masa mudanya di Eerste Indianse School, di mojokerto, kemudian pindah ke ke Europheesche Lagere School (ELS), dan melanjutkan ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya dan tinggal di rumas HOS Tjokroaminoto sahabat ayahnya, di buku ini Sukarno memiliki kesan Kota Surabaya sebagai Dapur Nasionalisme.

Di masa remaja, Sukarno melanjutkan kuliah ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH, sejak 1959 menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tinggal di kediaman H. Sanusi, teman dekat HOS Tjokroaminoto. Selama di Bandung, Sukarno melakukan perjalanan ke daerah persawahan di Bandung, disana ia bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen.

Selanjutnya setelah lulus ia berjuang, rajin menulis opini dan mendirikan Partai Nasional Indonesia serta keluar masuk penjara (bui) dari penjara Banceuy, Sukamiskin, proses pengadilan dan satu bab sendiri saat keluar dari penjara (139).

Perempuan dalam Kehidupan Sukarno

Selain peran ibunya Ida Ayu Nyoman Rai yang sangat ia hormati. Sukarno kecil diasuh oleh seorang perempuan bernama Sarinah. Bagi Sukarno, rasa cinta kasih sayang bagai oase yang luas di padang pasir. Ia mampu menyejukkan dan membasahi tanah yang tandus. Menurutnya terlahir sebagai anak orang miskin dan melarat merupakan surat takdir yang harus dijalani. Dalam kemiskinan itulah, ia mendapat kasih sayang cinta yang penuh dari seorang Ibu dan pengasuhnya bernama Sarinah.

Menurut Bung Karno, tidak ada cinta yang lebih baik dari cinta seorang ibu. Namun, ia juga tidak mengesampingkan sosok Sarinah sebagai seorang pengasuh. Sarinah adalah seorang pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Tidak ada hal yang istimewa dari riwayat hidupnya. Ia pun tidak menikah dan tidak memiliki keturunan.

“Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak menikah, dia kami anggap sebagai anggota keluarga. Dia tidur dengan kami, tinggal bersama kami, memakan apa yang kami makan, tetapi dia tidak mendapat gaji sepeserpun. Dialah yang mengajariku mengenal kasih sayang. Sarinah mengajariku untuk mencintai rakyat. Rakjat kecil.

Selagi dia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan dia memberi nasihat, “Karno, di atas segala nya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia,” Sarinah adalah satu nama biasa. Tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. Dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku.” (Halaman 30)

Karena rasa cintanya yang besar pada Sarinah, Sukarno menulis sebuah buku yang terbit pada tahun 1963 berjudul “Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia)” yang ia tulis di Jogjakarta. (Resensi Menyusul). Selain Ibu Idayu dan Sarinah, ada perempuan lain yang juga memiliki pengaruh dalam kehidupan Presiden pertama Indonesia ini.

Bung Karno menjelaskan jika dia menyukai gadis-gadis menarik di sekitarnya, karena aku merasa mereka seperti bunga dan aku suka memandang bunga. Orang bilang, Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan sudut matanya. Itu tidak benar. Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan seluruh bola matanya.

Tetapi ini bukanlah suatu kejahatan. Bahkan Nabi Muhammad SAW, mengagumi kecantikan. Dan sebagai seorang Islam yang saleh, aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. “Tuhan yang dapat menciptakan mahluk cantik seperti kaum perempuan adalah Tuhan yang maha besar dan maha pengasih,” Aku setuju dengan ucapan beliau ini. (hlm 13).

Perempuan pertama yang pernah melaksanakan kawin gantung dengan Sukarno adalah Siti Oetari (16 tahun), putri HOS Tjokroaminoto, pada tahun 1921, dan diajak kuliah di ITB Bandung. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di H. Sanusi dan jatuh cinta pada istri H. Sanusi bernama Inggit Garnasih dan menjelaskan pada Inggit bahwa hubungannya dengan Oetari adalah sebagai adik kakak. Sukarno juga terus terang kepada H.Sanusi bahwa ia mencintai Inggit, setelah itu H. Sanusi menceraikannya.

Sukarno dan Inggit Garnasih menikah pada 24 Maret 1923 dan menemani perjalanan politik, di penjara, diasingkan di Ende Flores, dan dibuang ke Bengkulu. Selama 18 Tahun menikah dengan Inggit, Sukarno tidak punya keturunan, mereka mengangkat anak angkat Ratna Juami (Omi), putri Ny. Murtasih kakaknya Inggit.

Di Bengkulu Ratna Juami sekolah di Rooms-Katholik Vakschool dan bersahabat karib dengan Fatmawati, putri tokoh Muhammadiyah di Bengkulu bernama Hassan Din. Saat itu Fatmawati berusia 15 tahun dan Sukarno mengajar Fatmawati dan Ratna Juami mengaji. Namun, karena intensitas di Pengasingan Bengkulu, lama-lama Sukarno jatuh cinta pada Fatmawati, dan berniat menikahinya.

Sukarno meminta restu pada Inggit untuk menikah dengan Fatmawati, namun Inggit menyatakan dengan tegas bahwa ia menolak dimadu dan memilih bercerai. Sukarno memulangkan Inggit ke Bandung pada 1942. Pada 1 Juni 1943, Sukarno menikah dengan Fatmawati.

Ir. Sukarno berpidato dalam sidang Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengenai dasar negara yang diberi nama Pancasila, 1 Juni 1945. Bersama dengan Ir. Sukarno dan Drs. Muhammad Hatta, Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan

Jepang dan memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dan membacakan teks proklamasi dan diangkat sebagai Presiden RI pertama oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945. Saat hamil Guntur, Fatmawati menjahit bendera merah putih yang nantinya menjadi bendera pusaka. (halaman, 398).

Perjuangan tidak Pernah Usai Meskipun Telah Merdeka Pada 4 Januari 1946, Ibukota negara pindah dari Jakarta ke Jogjakarta. Namun tidak lama kemudian pusat pemerintahan kembali dari Jogjakarta ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan pada Konferensi Meja Bundar (KMB), 28 Desember 1949. Pada 5 Juli 1959, Presiden Sukarno atas nama rakyat Indonesia mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959.

Dengan Fatmawati, Sukarno memiliki lima orang anak, yaitu Guntur, Megawati Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Pernikahan Fatmawati dan Bung Karno kandas pada 1954, ketika Bung Karno ingin menikahi Siti Hartini, perempuan asal Ponorogo. Fatmawati berprinsip tak ingin dimadu dan anti poligami. Dengan Siti Hartini, Bung Karno memiliki dua orang anak yaitu Taufan dan Bayu.

Dalam buku ini tidak diceritakan siapa saja perempuan yang menikah dengan Sukarno setelah Siti Hartini. Namun, dalam gambar di halaman belakang ada foto-foto Sukarno Hartini menjamu acara kenegaraan dalam menerima tamu dari luar negeri. Dan foto-foto anak-anak Fatmawati menghadiri pernikahan anak Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto), yaitu Kartika di Jepang. Mereka terlihat rukun dan guyub meskipun berbeda ibu kandung.

Disamping berkaitan dengan peran perempuan dalam kehidupan Sukarno, ada sepuluh bab lain yang harus anda baca, berkaitan dengan memepertahankan kemerdekaan, dimana masa-masa itu sejarah mencatat banyak peristiwa penting. Seperti ketika Jepang datang, Pendudukan Jepang, Kolaborator atau Pahlawan, Anakku yang Pertama, Harganya Kemerdekaan, Awal dari Akhirnya, Perundingan di Saigon, Diculik, Proklamasi, Revolusi dimulai.

Refleksi atas Sebuah Perjuangan Penuh Cinta

Setelah anda membaca dari awal tentang masa kecil, remaja, mahasiswa dan sejarah merdeka, pemberontakan dari dalam negeri yang dimana saya kira para pembaca sudah kenyang dengan pelajaran sejarah yang selama ini kita pelajari, dari SD-SMP. Jadi tidak usah saya perjelaskan panjang lebar, lebih baik membaca sendiri buku ini dan anda akan banyak membuka mata tentang siapa itu Sukarno, Muhammad Hatta dan para pahlawan yang selama ini berjuang buat tanah air tercinta.

Namun, anda akan terharu membaca bagian akhir. Terutama tiga bab yang menjelaskan tentang masa Masa Mempertahankan Hidup, Masa Perkembangan, dan Sukarno Menjawab. Bagaimana dia selalu gelisah dengan isu Partai Komunis Indonesia, sulit tidur dan tidak bisa lepas dari membaca buku saat ia dilanda kesedihan dan kecintaan pada rakyat Indonesia. Cerita tentang kaus dalam dan piyama kesayangan pemberian para sahabat, membuat kita sadar bahwa Bung Karno di era buku ini ditulis sedang dalam masa kegalauan. Pesan tentang ia dimana ia dikuburkan setelah meninggal, dan beberapa foto kenangan sejarah bersama keluarga dan saat ia sakit ada di halaman belakang.

Kartunis Penolak Bantuan

Dalam buku ini dijelaskan dengan tegas, Bung karno jika biografi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kehidupan pribadinya maupun terhadap rakyat yang dicintainya dan juga masyarakat Internasional. Ia gunakan kesempatan ini antara lain untuk menjawab serangkaian tuduhan yang pernah ditujukan pada media massa nasional dan internasional kepadanya, antara lain sebagai kolaborator Jepang dan komunis serta terlalu sering ke luar negeri.

Tidak cukup satu atau dua hari anda membaca buku bersampul merah ini. Saya sempat berhenti sejenak menghela nafas, merenung, melanjutkan lagi dengan perasaan bercampur aduk. Karena selama ini, saya mengakui, bahwa saya kurang banyak membaca buku sejarah pahlawan, hanya sekilas saja, tidak sampai mendalam sampai urusan yang sangat pribadi pun pendiri Bangsa ini. Bung Karno sangat terbuka dalam beberapa hal, kita semua anak muda dan generasi penerus harus tahu itu, jangan hanya enak-enak saja menikmati buah dari kemerdekaan.

Seperti buku Mahatma Gandhi yang pernah saya tulis sebelumnya di sini, peran Bapak, Ibu, Istri, keluarga dan sahabat memiliki pengaruh yang besar untuk mencetak seorang pemimpin revolusioner. Kita juga bisa merasakan bagaimana, kesedihan Bung Karno setelah menjadi Presiden dan tinggal di Istana, Ibunya tidak mau ikut ke Istana dan memilih tinggal di Blitar. Sehingga, Bung Karno, sering pulang ke Blitar, sungkem dan bersimpuh meminta do’a kepada ibunya agar semua pekerjaannya diberi kelancaran.

Setelah ini saya ingin banyak membaca karya lainnya berkaitan dengan beberapa tokoh yang ada dalam buku ini supaya saya, dan semoga Anda pembaca menjadi orang yang tidak sok tahu sejarah sebenarnya dan ahistoris. Dengan membaca kita akan merasakan bagaimana kegembiraan Sukarno mencintai Marhaen, bahagia memiliki anak, semangat memproklamasikan diri, perceraian, dan kesedihan yang menyayat hati, menghibur diri dengan buku dan tabah menghadapi masa akhir kehidupan

Ada dua kejutan yang saya baca di halaman akhir, yang membuat saya tidak menyesal membaca buku ini dari awal sampai akhir. Pertama yaitu, kebenciannya atas bantuan Amerika Serikat, dia mengatakan dengan tegas. “Go to Hell, American Aid,”. Tanpa ada kelanjutan makna sesudah itu. Kedua, Sebuah karya Karikatur yang ia buat sendiri dan dimuat di halaman belakang buku ini, karyanya bagus dan menarik. Saya tidak menyangka jika Bung Karno adalah seorang Kartunis.

Kelebihan buku ini ada pada penuturan yang gamblang dan menyentuh perasaan. Banyak kejutan, dan kita bisa memahami pemimpin berbintang gemini ini dari berbagai sudut pandang. Namun kelemahannya, buku ini sudah jarang beredar, hanya ada di beberapa tempat tertentu, itu saja tidak bisa dipinjam, hanya bisa ditempat. Sedangkan secara teknis kelemahan fatal ada pada cetakan foto yang nampak buram, padahal fotonya bagus-bagus. Seperti anak-anak Bung Karno ketika kecil, foto kunjungan pemimpin beberapa negara dan foto ketika Beliau sakit terlihat suram.

Namun, diantara ratusan buku yang berkisah tentang orator ulung dan arsitek ini, saya rekomendasikan membaca buku ini. Apalagi jika anda punya banyak waktu luang, tidak kebanyakan online, dan ingin mengetahui biografi pemimpin negeri yang sangat kita cintai ini.

Blitar, 25 Juli 2018, Pukul 18:34

Saya cukup lama mengikuti kecendrungan anak-anak Indonesia yang terlahir setelah tahun 2010 ke bawah, kaitannya dengan minat mereka terhadap membaca dan olahraga, untuk menghindari kecanduan mereka terhadap teknologi internet dan permainan (game) online yang ada dalam perangkat lunak (gadget) maupun komputer/laptop.

Meski penelitian saya ini belum sepenuhnya benar karena permasalahan anak di tiap daerah berbeda, namun saya optimis di masa yang akan datang, anak-anak Indonesia akan memiliki minat yang sangat tinggi terhadap dunia membaca atau dunia pustaka karena pendidikan orangtua dan semakin menariknya perpustakaan di setiap wilayah yang ada di Indonesia.

20180724_124350

 

Sejak awal tahun 2018, ada beberapa provinsi yang saya kunjungi seperti Perpustakaan DPR RI, Perpustakaan Jawa Barat, Perpustakaan Jawa Tengah, Grhatama Pustaka Jogjakarta, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta, Perpustaan Provinsi Banten, Perpustakaan Saidjah Adinda Lebak, Perpustakaan Daerah DKI Jakarta di Kuningan, Perpustakaan Kemendikbud, Perpustakaan Kementerian Keuangan, Perpustakaan Kementerian Pertanian, Perpustakaan Kabupaten Sukabumi, Perpustakaan Kota Sukabumi dan Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar.


Anak-anak banyak yang berkunjung ke perpustakaan bersama teman-teman satu kelas atau sepermainan. Ada juga yang diantar oleh ibunya usai dijemput dari sekolah. Beragam cara mereka dilakukan orang tua agar sang anak terhindar dari permainan (game) di gadget yang sudah seperti narkoba, sulit dihentikan.

Ki Hadjar Dewantara pernah melukiskan tentang pentingnya membaca bagi anak-anak. Terutama bila dikaitkan dengan keutamaan pendidikan.

Berkaitan dengan minat olahraga. Keberadaan Lingkungan, orangtua, remaja, dan sanak saudara yang gemar berlari setiap pagi (jogging) sebelum bekerja, atau naik sepeda untuk berangkat ke kantor atau berwiraswasta sudah semakin marak di kota-kota besar. Semoga para orang tua anak-anak Indonesia tidak sekedar suka menonton olahraga, tapi juga suka berolahraga.

Meskipun bagi kalangan petani di desa, berjalan kiloan meter atau bersepeda ke sawah itu sudah lama di lakukan sejak kecil hingga menjelang hari tua.

ol (6)

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang anak muda kekinian yang peduli energi dan lingkungan silahkan klik di sini Anak Muda Peduli Lingkungan dan Energi.

Kita memang tak bisa memaksa anak menjadi seperti yang diinginkan oleh orangtua. Namun, jika kita memberi contoh yang baik, maka dengan sendirinya sang anak bisa menjadikan orangtua sebagai figur panutan, begitu juga sebaliknya.

Maka saya berharap, di masa yang akan datang anak-anak Indonesia akan menorehkan prestasi di berbagai bidang, baik dalam penemuan (inovasi) karena ketekunan maupun dalam prestasi olahraga.

Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar, Jawa Timur, 23 Juli 2018

Pukul 13.17 WIB

Resensi Buku

Judul: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
(Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Lebih Baik)

Penulis: Mark Manson
Penerbit: Grasindo, Jakarta
Editor: Adinto F Susanto
Alih Bahasa: F.Wicakso
Edisi: I, Februari 2018.
Cet 2, Maret 2018

Buku bersampul orange ngejreng ini menarik perhatian saya dan tidak sabar membacanya saat melihat pertama kali. Judulnya yang provokatif ditulis oleh Mark Manson, blogger populer dari Amerika Serikat yang memahat kata dengan semangat yang meluap-luap, mudah dicerna, ringan dan enak dibaca.

Judul asli buku ini adalah The Subtle Art of Not Giving A Fu*k yang diterjemahkan menjadi “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (Pendekatan yang waras Demi menjalani hidup yang lebih baik) sangat menarik sebagai bacaan ringan bagi anda yang ingin merubah mindset (pemikiran). Terdiri dari Sembilan bab disertai sub bab yang membahas secara mendalam tentang beberapa hal di sekitar kita dari mulai pekerjaan, kebahagiaan, kegagalan, penolakan hingga kematian.

Membahas Eksistensi Diri dengan Gamblang dan To The Point

Dalam buku pengembangan diri yang mewakili generasi yang lahir di era-1980an, Mark Manson seorang  yang memiliki jutaan pembaca menunjukkan pada kita bahwa kunci untuk menjadi orang yang lebih kuat, lebih bahagia adalah dengan mengerjakan segala tantangan dengan lebih baik dan berhenti memaksa diri untuk menjadi “positif” setiap saat. Anda jangan kaget dengan ungkapan memaksa menjadi “positif” disini, akan tetapi menjadi diri kamu sendiri itu lebih baik, daripada tampil memoles diri untuk mendapat pengakuan.

Dimulai dengan kisah kegagalan beberapa tokoh terkemuka yang sering gagal dalam mewujudkan eksistensinya namun tidak pantang menyerah seperti penulis Charles Bukowski, Hiroo Onoda, Dave Mustaine dan lain sebagainya yang mengalami banyak penolakan hingga mereka sukses. Mark Manson mengemasnya dengan narasi yang menarik dan segar.

Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson melalui blognya telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dunia. “Tidak semua orang bisa menjadi luar biasa, ada para pemenang dan pecundang di masyarakat, dan beberapa diantaranya tidak adil dan bukan kesalahan Anda,” ujarnya. Tepat saat kita mampu mengakrabi ketakutan, kegagalan dan ketidak pastian saat kita berhenti melarikan diri dan mengelak, serta mulai menghadapi kenyataan-kenyataan yang menyakitkan-saat itulah kita mulai menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang selama ini kita cari dengan sekuat tenaga.

Ia melontarkan alasan bahwa manusia tak sempurna dan terbatas. Ia mengajak kita untuk mengerti batasan-batasan diri dan menerimanya, inilah sumber kekuatan yang paling nyata. Ia menulis pandangannya dengan gamblang dan bahasa yang to the point.


Bukan Sekedar Mencari Kebahagiaan Semu

Dalam tulisan ini setting era digital dan media sosial sangat terasa. Dia dengan santai menceritakan tentang kecemasan masyarakat di era di media sosial. Juga kritiknya terhadap gaya hidup konsumtif yang membuat orang tidak pernah puas.

“Saya meyakini ide ini bertahun-tahun, menghasilkan banyak uang, berkunjung ke lebih banyak negara, memiliki lebih banyak pengalaman, bersama dengan pasangan. Tetapi lebih banyak tidak selalu lebih baik. Faktanya justru kebalikannya yang benar. Sesungguhnya kita sering merasa bahagia dalam situasi berkekurangan,” ujar Mark Manson jujur. (hlm 216).

Dalam hidup ini kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya harus bijaksana dalam menentukan kepedulian anda. ‘Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal, tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting,” tulis Manson halaman 6.

Kelebihan buku ini ada pada penerjemah yang sangat fasih menggunakan istilah-istilah populer kekinian, sehingga menciptakan perbincangan yang dibungkus dengan cerita yang menghibur serta humor yang cadas. Kelemahannya menurut saya ada pada setting cerita yang sangat Amerika terutama tentang gaya hidup yang sangat kebarat-baratan.

Jangan Baca Buku ini Jika Anda Seorang Pemalas

Akan tetapi jika anda seorang pemalas, sering menghabiskan waktu percuma tanpa arah yang jelas, dengan berkumpul bersama teman-teman, atau sibuk mencela dan mencibir keadaan, maka sebaiknya anda jangan membaca buku ini. Apalagi jika anda orang yang sok sibuk kesana kemari, berkumpul bersama orang-orang yang tidak jelas, pamer ini itu, padahal anda sebenarnya tidak punya pekerjaan, maka jangan harap anda akan senang membaca buku ini.

Karena buku ini ditulis hanya untuk anda yang ingin memiliki banyak waktu untuk berkreasi, mengemas kesulitan dengan solusi cerdas, dan orang-orang yang optimis, dimana di setiap kesukaran, atau masalah ada yang bisa kita lakukan. Seperti menyalakan lilin dalam kegelapan, atau berwirausaha daripada menjadi pengangguran, meski untungnya tidak seberapa, akan tetapi kita tidak duduk diam dan termangu. Maka orang-orang yang ingin menjadi kreatif itu pasti akan senang membaca buku Mark Manson ini.

Meskipun demikian buku ini merupakan tamparan di wajah kita semua untuk mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan dan apa adanya. Orang tua, anak millennial hingga anak post-millenial pasti suka gaya menulis Manson. Sehingga tidak ada salahnya jika buku ini menjadi buku terlaris versi beberapa media di Amerika Serikat dan cetak ulang dalam bulan kedua di Indonesia.

22 Juli 2018, 10.39

Resensi Buku: Sapiens

Riwayat Singkat Umat Manusia

Penulis: Yuval Noah Harari

Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari Palar

Penyunting: Andya Primanda

Penerbit: KPG, 2017

Edisi : Cetakan ke-2 Oktober 2017

Buku “Sapiens” yang saya baca ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuntaskannya. Karena menyangkut sejarah kehidupan manusia yang  terdiri dari tiga revolusi. Pertama, revolusi kognitif, kedua revolusi pertanian, dan ketiga revolusi sains. Dimana pada saat peralihan dari revolusi pertanian ke sains, bahkan ada satu bab tersendiri tentang pemersatuan umat manusia.

Namun, perlu dijelaskan bahwa, Homo Sapiens yang ada di dalam buku ini bukan berdasarkan teori biologis, tapi teori Darwin. Dimana manusia pada awal di temukan, Homo Sapiens atau disebut spesies Sapiens (bijak) dalam genus homo (manusia), hlm 5.

Revolusi Kognitif dan Revolusi Pertanian

Homo Sapiens merupakan anggota satu famili yang merupakan salah satu rahasia paling terkunci rapat dalam sejarah. Dimana Homo Sapiens lebih suka memandang dirinya sendiri sebagai berbeda dari hewan.Kerabat-kerabat terdekat Homo Sapiens adalah simpanse, gorila dan orang utan. Simpanse adalah kerabat kita yang paling dekat.

Enam juta tahun yang lalu, satu kera betina memiliki dua putri, yang satu menjadi nenek moyang semua simpanse yang satu lagi adalah nenek moyang kita.

Guna menuntaskan kontroversi ini dan memahami perihal seksualitas, masyarakat dan politik kita, kita perlu belajar belajar tentang kehidupan leluhur kita, mengkaji bagaimana sapiens hidup antara revolusi kognitif pada 70.000 tahun silam dan awal mula revolusi pertanian sekitar 12.000 tahun silam.

Homo Sapiens hidup pada zaman dahulu kala dengan para pemburu dan pengumpul purba yang hidup di daerah yang lebih subur daripada Kalahari untuk mendapatkan bahan makanan dan bahan mentah.

Ditambah lagi, mereka menikmati beban pekerjaan rumah yang lebih ringan. Mereka tidak punya piring untuk dicuci, karpet untuk dibersihkan, lantai untuk di pel,popok untuk diganti, maupun tagihan untuk dibayar.

Para cendekiawan pernah percaya bahwa pertanian menyebar dari satu titik asal tunggal di Timur Tengah ke empat penjuru dunia.Orang-orang di Amerika Tengah mendomestikasi jagung dan buncis, orang Amerika Selatan membudidayakan kentang dan Ilama, revolusi pertanian pertama di Tiongkok mendomestikasi padi, millet dan babi.

Di daerah lain misalnya Amerika Utara bosan menyisir sesemakan demi mencari labu liar yang bisa di makan, orang Papua menjinakkan tebu dan pisang, sementara petani Afrika Barat pertama menjadi millet Afrika, padi Afrika, sorgum, dan gandum sesuai dengan kebutuhan mereka. Dari titik fokus awal ini, pertanian menyebar ke seluruh dunia.

Revolusi pertanian menjadikan masa depan jauh lebih penting daripada sebelumnya. Para petani harus selalu mengingat masa depan, bangun pagi-pagi buta untuk bekerja seharian di ladang karena mengkhawatirkan siklus musim produksi.

Pemersatuan Umat Manusia

Meskipun  penulis Yuval Noah Harari adalah  seorang Yahudi, beliau orang yang mengakui keragaman. Bahkan pada bagian tiga yang menjelaskan tentang Pemersatuan bangsa, beliau menampilkan gambar yang sangat indah tentang jamaah haji mengelilingi Ka’bah di Mekkah.

Bahkan hukum tentang agama sendiri bahas dalam satu bab di bagian tiga (248-256), juga bagaimana orang memandang sepakbola sebagai agama.

Revolusi Sains dan Kebahagiaan Semu

Dalam bagian yang membahas Revolusi Sains ini ada tujuh bab yaitu penemuan ketidak tahuan, perkawinan sains dan imperium, kredo kapitalis, roda-roda industri, revolusi perizinan, dan mereka pun hidup bahagia selamanya, tamatnya homo sapiens.

Orang yang terlalu banyak mengkonsumsi teknologi akan mengalami kebahagiaan semu karena menderita keterasingan dan kekosongan makna meskipun mereka makmur.

Dan barangkali leluhur kita yang tidak punya banyak hal justru menemukan banyak kepuasan dalam masyarakat, agama dan kedekatan dengan alam.

Uang, Penyakit dan Kebahagiaan

Orang yang kaya, baik karena membuat aplikasi teknologi yang memiliki jutaan pengguna dan penumpang, biasanya ia akan memiliki banyak uang. Kalau punya uang atau harta melimpah ia ingin makan enak dan bermalas-malasan. Membeli suatu yang mewah dengan cara mengkredit atau membeli makanan sembarangan yang penting enak.

Apa hubungan antara uang, makanan tidak bergizi (kemproh/jawa, geuleuh/sunda) yang biasa dibeli oleh orang kelebihan uang. Maka yang timbul adalah serangan penyakit seperti batuk dan jantung karena rokok dan makanan goreng-gorengan, sakit kanker karena makanan bermicin, sulit buang air besar karena kurang serat dan menjadi pemalas akibat jarang olahraga dan terlalu sering membeli fastfood dan memesan makanan lainnya lewat online.

Ada satu kesimpulan menarik tentang apa makna uang. Uang memang mendatangkan kebahagiaan, namun hanya sampai pada titik tertentu, dan selepas titik itu uang tidak punya makna (halaman 456).

Noah Harari juga menjelaskan jika sudah sampai pada kesimpulan di atas, terlalu banyak uang, malas-malasan, menimbulkan penyakit, maka yang ada adalah tergerusnya kebahagiaan. Tiada ada orang yang punya uang banyak tapi setiap hari mengeluh sakit, di rawat, dioperasi, tidak bisa jalan dan di hari tua sakit-sakitan.

Belum lagi orang yang terlalu banyak uang merusak lingkungan. Membeli makan dan tidak menghabiskan, bahkan sering membuang-buang makanan di tempat sampah, padahal di benua lain orang kelaparan. Apalagi yang merusak ekologis seperti menambang bahan bakar dan fosil yang seharusnya terpendam lama di habiskan orang-orang yang serakah untuk memenuhi permintaan pasar mobil atau kendaraan bermotor dan pemborosan listrik, seperti minyak bumi dan batubara.

Orang yang memiliki uang dan membeli kendaraan yang diisi oleh sumber daya yang merusak bumi, maka selamanya ia akan merasa diri paling kaya dan paling gagah.

Karena semua yang ada di dunia ini dia hanya melihat dari penampilan semata seperti mobil mewah, handphone mahal dan hidup serba ada. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah merusak alam dan lingkungan ekologis terbesar kita yaitu bumi dan seisinya.

Bahkan gejolak ekologis itu mungkin membahayakan kelestarian kita (Homo Sapiens) sendiri. Pemanasan global, naiknya permukaan laut dan pencemaran yang tersebar luas dapat menjadikan bumi kurang bersahabat bagi kita sendiri dan akibatnya pada masa depan mungkin terjadi lomba tiada akhir antara upaya manusia dan bencana alam yang dipicu manusia (420).

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus dan penerjemahannya juga sangat menarik dan cerdas. Kelebihan buku ini ada pada kualitas isi dan pemaparan yang jujur, gamblang dan mengejutkan.

Namun ada satu hal yang mestinya harus dipertanyakan tentang teori singularitas dan tamatnya Homo Sapiens berkaitan dengan berakhirnya kehidupan atau biasa kita sebut hari kiamat (dalam agama Islam).

Namun, sebenarnya ada satu pesan mulia dari buku ini, dimana hari akhir kehidupan (kiamat) bisa kita cegah dengan cara kembali ke bagian satu yaitu kembali ke zaman revolusi pertanian dan mengurangi menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan transportasi massal dan membiarkan jalan-jalan tol yang baru di bangun itu untuk distribusi bahan baku dan hasil industri dari pelosok tanah air agar merata, sehingga bahan yang sulit di daerah lain bisa disalurkan lewat truk dan lewat perjalanan laut. Jangan sampai ada mobil masuk ke kapal laut ya, apalagi mobil kreditan, karena akan membebani kapal dan tenggelam sehingga kalau tenggelam ke dasar laut yang hancur adalah biota laut dan kasihan nelayan, ikan mereka keracunan barang kemewahan orang-orang sebrang lautan yang serakah dan ingin punya mobil mewah padahal merusak lingkungan, alam, dan membebani lautan.

Jika bumi, lautan, udara semua di isi oleh keserakahan maka yang ada adalah ketidak seimbangan seperti kebakaran, longsor dan banjir meski tidak ada hujan, gempa alam di berbagai wilayah dan seperti yang kita lihat sekarang banyak terjadi kejadian kriminal karena orang kesulitan untuk membayar cicilan.

Itu saja mungkin yang bisa saya sampaikan dalam buku ini, anda akan rugi jika tidak membacanya. Akan tetapi karena buku ini mahal, maka sebaiknya kita sekarang lebih baik berolahraga, banyak jalan dan naik transportasi massal.

Kurangi makan-makan dan lebih baik kita menanam seperti Homo Sapien dulu ada dan senang berkelompok bersama untuk menanam aneka tanaman yang bisa bermanfaat untuk anak cucu kita, bukan berkumpul sambil makan-makan enak dan menghabiskan waktu percuma dan tidak menghabiskan makanan.

Surabaya, 15 Juli 2018

Pukul 11.27 WIB

Resensi Buku
Judul : Guncangan Besar (The Great Disruption)
Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru
Penulis :Francis Fukuyama
Penerjemah : Masri Maris
Editor : H. Wawan Setiawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama dan Freedom Institute

Edisi: I, 2005

Buku ini dimulai dengan pengantar yang mengejutkan dari seorang tokoh filosof Yunani. “Kita dapat mengenyahkan Alam dengan garpu rumput, tetapi Alam (rumput) selalu tumbuh lagi, dan ia akan menembus upaya bodoh kita dengan penuh kemenangan”-Horace, Epistles.

Bagaimana juga kini kita sudah tiba pada saatnya kembali kepada apa itu yang namanya Guncangan Besar dan mengajukan apa yang akan terjadi. Apakah kita ditakdirkan tergelincir ke dalam kekacauan sosial dan moral yang makin besar?
Sebenarnya bukan itu garis besar yang dimaksud dengan Guncangan Besar dalam buku ini.

Guncangan besar adalah tereduksinya dinamika garis dan arah (sekat-sekat) sosial, hubungan pertemanan, dan keluarga, karena perkembangan teknologi dan kebencian sosial yang terbentuk karena maraknya aplikasi media sosial, aplikasi online dan dinamika besar perubahan zaman. Itu sebesarnya guncangan besar yang saat ini sedang kita rasakan.

Kita mungkin tidak sadar, bahwa ketika kita sedang membuat status dalam media sosial, baik dalam bentuk Facebook, instagram, twitter, Path dan lain sebagainya, kita sangat ingin mendapat like atau komentar yang berarti kita sudah tidak ikhlas dalam berteman. Nah, ketika kita tidak menyadari bahwa hal itu yang memperburuk tentang kesan bahwa kita berteman atau tidak, disanalah terjadi guncangan besar. Contohnya, di sapa di whattsapp tidak menjawab, di colek tidak dibales atau di whattsapp group tidak aktif, maka di disitulah kita merasakan apa itu guncangan besar.

Buku ini terdiri dari tiga bagian, dengan tebal 447 halaman. Dalam ilmu sosial, perubahan sosial adalah suatu hal yang tidak dapat kita hindari.Para pelopor cabang ilmu ini seperti Ferdinand Tonnies, Emile Durkheim, dan Max Weber dengan cara masing-masing mencoba merumuskan teori-teori sosial berdasarkan gejala perubahan dalam masyarakat yang mereka amati.

Pada bab satu menjelaskan ikatan-ikatan dan modal sosial yang hilang diantara kita akibat terlalu sering bermedia sosial. Baik sosiolog maupun ekonom, tidaklah gembira dengan meluasnya penggunaan istilah media sosial, karena bagi sosiolog hal itu berarti semakin luasnya pengaruh ilmu ekonomi dan sosial, sementara bagi ekonom, konsep tersebut masih kabur dank arena itu sulit, jika tidak mustahil mengukurnya.

Dan memang, mengukur seluruh hubungan kerjasama sosial berdasarkan nilai-nilai kejujuran dan asas timbal balik bukanlah pekerjaan yang mudah. Jika kita menyatakan bahwa guncangan besar telah membawa dampak pada modal sosial, kita harus mencari landasan empiris untuk menguji apakah memang benar demikian?.

Masih dalam bab satu, dijelaskan tentang bagaimana kita melihat peran perempuan dalam guncangan besar. Makin banyaknya aborsi dan ketidak jelasan asal-usul biologis keluarga. Bila kita letakkan kekerabatan dan keluarga dalam konteks biologi, lebih mudah bagi kita untuk memahami mengapa keluarga inti mulai tercerai berai. Ikatan keluarga boleh dikatakan sudah rapuh, yang didasarkan pada tukar menukar perempuan kesuburan perempuan dengan sumber daya laki-laki.

Pada bagian dua, lebih banyak menjelaskan tentang asal usul moral. Dimulai dari datangnya moral, kodrat manusia, dan tatanan sosial. Asal muasal kerjasama, mengatur diri sendiri, teknologi jaringan modal sosial dan batas-batas keniscayaan hierarki. Pada bab tentang jagad norma, Slug, dalam hal ini adalah ketentuan-ketentuan tentang batasan sosial di hadapan orang-orang yang memiliki harta dan jabatan tapi tidak memiliki kemanusiaan akan semakin banyak.
Seperti hal yang menyeruak sekarang adalah perdebatan seru mengani kerjasama dan persaingan.

Aku melihat dalam bab dua ini adalah bagaimana mungkin orang lebih senang dengan status yang memiliki banyak komentar dan like atau love dan sebagainya daripada mereka ngobrol atau sekedar berkumpul bersama keluarga. Akan tetapi yang mengerikan adalah kalau di dalam kehidupan dunia media sosial memiliki banyak teman, tapi di dalam kehidupan nyata ia sendirian.

Selain itu persaingan aplikasi online untuk merebut jumlah penumpang apakah memakai daring atau online dengan kendaraan transportasi tradisional. Mereka lebih senang individualism daripada kolektivisme. Selain itu, dalam jaringan sosial, seperti Saxenian, pakar hak cipta, sikap mementingkan hak cipta individu dan perusahaan semakin menguat.

Pada bagian selanjutnya adalah bab tiga, banyak orang secara intuitif percaya bahwa kapitalisme merusak kehidupan moral. Pasar menjadikan segalanya barang dagangan dan mengganti hubungan manusia dengan laba, seperti makin merebaknya toko daring atau toko online. Menurut masyarakat kapitalis modern lebih banyak menguras modal sosial daripada menghasilkannya.

Dalam bab lampiran, justru lebih menggetarkan dada. Bab yang membahas tentang guncangan besar di beberapa negara tentang apa yang dibahas dalam buku ini yaitu gesekan sosial akibat teknologi yang ada sekarang ini atau era perkembangan dunia industri ke dunia teknologi.

Dalam diagram di jelaskan bahwa tingkat kejahatan dengan kekerasan, tingkat pencurian, tingkat kesuburan dan perceraian, dalam hal ini hak ekonomi sosial keluarga justru mengalami kenaikan dalam kehidupan sosial.

Dalam bab ini beberapa negara seperti Kanada, Australia, Amerika Serikat, Jepang, Denmark, Korea Selatan, Finlandia dan Perancis, memiliki angka yang berbeda-beda dalam mengalami dinamika atau goncangan sosial.

Eva Rohilah
Pengamat Buku dan Sosial

Perjalanan Sudimara Tanabang  tadi pagi lumayan lama meski tidak sampai satu jam. Jika di commuter sekarang kebanyakan orang membuka Hp, maka pagi ini saya menemukan seorang perempuan yang tidak menyia-nyiakan waktunya untuk membaca buku.

Sambil berdiri, perempuan memakai celana jeans dan baju pink ini tidak berhenti sedetikpun membaca buku sambil berdiri dan mengenakan tutup muka. Saya foto candid, dari posisi berlawanan.

Sekilas saya memperhatikan bahwa perempuan muda itu membaca buku berjudul “The Broken Window” karya Jeffery Deaver. Seorang penulis asal Amerika Serikat yang karya-karyanya menjadi Best Seller Internasional.

Membaca di Kereta

Jeffery Deaver adalah seorang penulis fiksi dan juga pakar hukum. Karyanya banyak berkisah tentang misteri dan kriminal.

Sampai stasiun Palmerah beberapa penumpang banyak yang turun, perempuan tadi yang duduk berdiri pun mendapat tempat duduk dan dilanjutkan dengan duduk sambil membaca.

19 April 2018, Pukul 12.39

Hari ini sedang hectic. Tidak banyak waktu untuk menulis blog seperti hari kemarin. Akan tetapi, hari ini saya tertarik dengan buku kecil bersampul hitam gradasi kuning berjudul “Kamus 5000 Peribahasa Indonesia” karya Heru Kasida Brataatmadja yang diterbitkan kanisius Jogjakarta.

Buku kecil ini sangat bagus isinya. Banyak aneka peribahasa yang menggambarkan perasaan seseorang dan fenomena sosial yang ada di sekitar kita.

Urutan peribahasa urut abjad dari A hingga Z. Seperti A dalam kata Akar.
“Telah Berurat Akar” artinya sesuatu yang telah menjadi kebiasaan, dan tidak mudah diubah lagi.

Kemudian B dalam kata Besi.
“Asal besi mengepak kayu, asal emas menjadi pendok,”;artinya derajat seseorang dapat ditentukan dari perangainya.

D dalam kata “Dara”
“Bagai anak dara mabuk andam” artinya seorang perempuan yang berbuat sopan tetapi dibuat-buat.

Wah karena huruf abjad itu banyak langsung ke T ya, Timun.
“Bagai timun dandang, di luar merah di dalam pahit”
artinya lahirnya baik tetapi hatinya jahat.

Kemudian terakhir Z
“Zaman beralih musim bertukar”
artinya segala sesuatu berdasarkan putaran waktu.

Apalagi ya banyak peribahasa lain pokoknya. Sangat cocok dengan kondisi sekarang ini baik, sosial maupun politik. Sangat menarik.

Silahkan anda membeli jika menyukai peribahasa,  karena kamus ini bagus dan sangat laris, yang ada di tangan saya ini cetakan ke-21. Tebalnya 516 Halaman.

Yuuk kita belajar peribahasa untuk memperkaya khazanah bahasa ibu kita Bahasa Indonesia.

18 April 2018 Pukul 17:07

Judul Buku:
Seks dan Revolusi
Penulis:
Jean Paul Sartre
Penerjemah :
Sivester G Sukur
Cetakan: I, Mei 2002
Tebal: 258 Halaman
Penerbit: Bentang Pustaka Yogyakarta

Buku ini merupakan kompilasi dari berbagai esai Sartre yang dikelompokkan ke dalam dua tema utama, yaitu seks dan revolusi. Masing-masing tema berdiri sendiri dan dibahas dengan sudut pandang yang berbeda. Namun demikian pemaparan secara kontekstual dengan gagasan-gagasan yang mengejutkan menjadi ciri dari esai-esai Sartre ini. Buku ini diterjemahkan dari buku “Modern Times: Selected Non Fiction”, Penguin London, 2000.

Jean Paul Sartre (1905-1980) seorang pendiri eksistensialisme Perancis, memiliki pengaruh besar di berbagai bidang pemikiran modern. Sebagai seorang penulis yang cerdas dan orisinil, Sartre berkarya dalam banyak genre yang berbeda-beda. Sebagai seorang filsuf, novelis, penulis drama, biograf, kritisi di bidang kebudayaan, dan seorang wartawan politik, Sartre mendalami makna kebebasan manusia dalam suatu abad yang dibayangi oleh peperangan.

Sejumlah esai panjang dalam buku ini merefleksikan visi eksistensialis Sartre tentang Seksualitas dan revolusi. Hasrat seksual, cinta maternal,  bagi Sartre merupakan fenomena yang sesungguhnya tak lepas dari suatu modus kesadaran (tubuh) untuk mengada dan menjadi. Yang unik, didalam seks, kesadaran itu kemunculannya melibatkan penemuan tubuh lain.

Ketika berbicara tentang seks, cara pemaparan Sartre sangat berbeda dengan pembicaraan-pembicaraan seks pada umumnya. Seks, bagi seorang eksistensialis seperti Sartre tidak hanya bisa dipandang dari satu sisi saja yakni hasrat pemenuhan seksual. Seks adalah suatu hal yang harus dijabarkan secara mendetail dengan karakter dan fungsi yang melekat padanya.

Dalam esai panjang di awal buku ini, Sartre membahas tentang apakah makna hasrat yang sesungguhnya? Benarkah bahwa hasrat merupakan bagian terdiri dari fungsi tubuh sehingga pemenuhannya pun memerlukan kondisi tertentu. Sartre mengaitkan setiap permasalahan tersebut dengan keadaan tubuh fisik, meski hal ini tidak dapat diartikan bahwa setiap anggota tubuh tersebut akan juga bisa merasakan pemenuhan kondisi psikologis tersebut. Pertautan antara kondisi psikologis dan tubuh fisik ini kembali dipaparkan ketika Sartre membicarakan cinta keibuan.

Keingintahuan yang dingin dan kecemasan hati ini adalah kunci untuk memahami dunia seksual Sartre. Hal ini menimbulkan penghayatan yang tak terlupakan terhadap orang lain secara rinci, tanpa ilusi. Dia sangat piawai dalam seni kelam tentang cinta. Selain anak sekolah Perancis yang pakar dalam seluk beluk rumah bordil, Sartre mengetahui gairah menghanyutkan yang melambung dalam puisi-puisi seksual Baudelaire dan keletihan yang menggelisahkan yang murung dalam Baron Charlus-nya Proust.

Kebebasan yang merupakan ciri dari pemikiran Sartre, sangat mewarnai esai-esai ini hingga acapkali memunculkan suatu hal yang bagi para pembaca tidak lazim untuk dibicarakan.

Adapun mengenai revolusi, pandangan-pandangan Sartre tidak dapat dilepaskan dari pengalaman pribadinya saat menjalani wajib militer, ditangkap dan dipenjara oleh pihak Jerman ketika terjadi Perang Dunia II. Pengalamannya saat melarikan diri dari penjara tersebut untuk kemudian bergabung dengan gerakan perlawanan di Prancis sangat memperkaya pemikirannya sehingga dia mengalami beberapa fase revolusi secara intelektual. Oleh karena itu tidaklah mengherankankan jika darinya terlahir pemikiran-pemikiran yang begitu orisinil dan mendalam, saat ia merespon gagasan-gagasan tentang demokrasi, kelahiran, Stalinisme, konolialisme Eropa terhadap bangsa kulit hitam Afrika, pembebasan Paris, dan juga situasi Chekoslovakia tahun 1968.

Revolusi-revolusi besar yang muncul pada aabd ke-20 diulas oleh Sartre secara mendalam dan dinamis. Ia mendedahkan keterkaitan antara pengalaman historis kolektif itu dengan kesadaran individual. Terutama pada kaum libertarian penganut doktrin kebebasan yang selalu kritis. Disamping itu, esai-esai tentang revolusi inipun memprediksikan suatu bayangan ke depan, yakni peristiwa-peristiwa besar yang menyusul kemudian.

Meski merupakan respon terhadap situasi zamannya esai-esai Sartre ini tetap layak dibaca oleh pembaca masa kini karena di sini terimplikasi penghargaan yang tinggi terhadap manusia sebagai individu, yakni sesuatu yang kini cukup langka ketika manusia lebih banyak dipahami sebagai massa, masyarakat, gerombolan, ataupun semacam pangsa pasar dan konsumen yang tak lagi memiliki kebebasan memilih, berimajinasi, bebas memilih dan mempertanggungjawabkan hidup.

Buku ini adalah salah satu karya Sartre yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Membaca buku ini akan membuka cakrawala pembaca yang tidak hanya tentang seks dan revolusi saja, tapi juga banyak menyinggung masalah cinta kasih, moralitas, dan ketulusan seorang eksistensialis.

Gaya penulisan yang blak-blakan menjadi daya tarik buku ini, apalagi sang penulis, Sartre mempunya reputasi internasional yaitu penghargaan Nobel dibidang kesusastraan pada tahun 1964, meskipun akhirnya dia tolak. Tergugah oleh keinginan besarnya akan kebebasan dan keadilan, dicintai dan dibenci dalam kehidupan, Sartre memposisikan diri sebagai pengganti autentik modern bagi Voltaire, Victor Hugo, dan Emilie Zola, sayang sekali bila anda melewatkan buku ini.

Resensi ini dimuat pada 21 Juli 2002 di Harian Bernas yang sekarang surat kabarnya sudah tutup.

Judul Buku: Agama, Filsafat, Seni dalam Pemikiran Iqbal
Penulis: Asif Iqbal Khan
Penerjemah: Farida Arini
Cetakan: 1, Mei 2002
Tebal: vii + 167 halaman
Penerbit: Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta

Relasi Simbiosis Antar Agama, Filsafat dan Seni

Muhammad Iqbal merupakan satu-satunya individu dalam sejarah Islam modern yang bisa menerima pemikiran Barat modern bersamaan dengan ajaran abadi Islam. Hal inilah mungkin yang membuatnya mampu mengemban tugas amat berat yakni menyusun kembali pemikiran religius Islam

Iqbal adalah seorang pencinta kehidupan yang percaya pada pendekatan yang dinamis dan berpandangan ke depan pada kehidupan dan masalah-masalahnya. Ia berkeinginan membangun kembali Islam dengan kejayaan dan kesederhanaannya sambil menghadapi tantangan dari ilmu pengetahuan modern dan filsafat, serta untuk mencapai keselamatan bagi seluruh umat manusia baik di dunia maupun di kehidupan selanjutnya. Untuk mencapai hal itu Iqbal melakukannya dengan dua hal, yakni melalui pemikiran filsafat dan ketajaman puisinya.

Buku ini merupakan terjemahan dari buku yang berjudul Some Aspects of Iqbal Thought yang berisi tema pokok tentang pemikiran Iqbal. Ia seorang filsuf Islam yang cukup berpengaruh. Dia beranggapan bahwa media agama sebagai hal sangat penting dalam kehidupan seseorang.

Hanya agamalah yang dapat menyelesaikan sepenuhnya permasalahan yang kompleks berhubungan dengan manusia. Dalam peta khazanah pemikiran tentang Islam modern, barangkali Iqbal merupakan satu-satunya pemikir yang memiliki akar kuat dalam tradisi Islam—Timur maupun Barat modern.

Oleh karena itu tidak berlebihan bila Iqbal dikatakan sebagai salah satu filsuf Islam besar yang membidangi gerakan yang dikenal sebagai gerakan kebangkitan Islam. Ia mencita-citakan adanya sebuah Renaisans Islam (sebagai agama ynag sempurna, agung, sekaligus sederhana). Pemikiran Iqbal dapat saja tersingkir dikarenakan terjadinya kemunduran Islam berbentuk ritualisme, obskurantisme dan fanatisme.

Agama Rasional Upaya Iqbal untuk memberikan keharmonisan antaragama dan filsafat terutama termotivasi oleh pertimbangan praktis. Dia menganggap bahwa prinsip agama tetap dibutuhkan dalam dasar yang rasional.

Hal ini sesuai denan pendapatnya bahwa agama merupakan dasar bagi pikiran, dengan keberanian bergulat dengan filsafat dan ilmu pengetahuan modern, guna membangun kehidupan manusia yang bahagia baik di dunia maupun di hari kemudian.

Kenyataannya bahwa tujuan Iqbal sepanjang hidupnya adalah untuk membangun kembali Islam. Hal itu dapat dilihat dengan nyata dari syair, puisi maupun prosanya. Keinginannya untuk menghidupkan kembali moral sosial dan ide politik Islam dapat dilihat dari kekuatan ekspresi yang muncul dalam puisi-puisi filosofisnya seperti Asrar dan komposisi-komposisi puisinya yang lain.

Ide Iqbal yang sistematis dapat ditemui dalam bukunya yang religius-filosofis berjudul The Recontruction of Religions Throught of Islam (Rekrontruksi Pemikiran Religius Islam).

Pidato-pidato, pernyataan-pernyataan dan pemikiran-pemikiran Iqbal telah membuktikan bahwa dia telah menemukan inspirasi dan petunjuk dari ajaran Al-Qur’an dan kehidupan Rasulullah SAW. Iqbal juga bangga dengan hasil yang telah dicapai oleh filsuf-filsuf dan ilmuwan-ilmuwan Islam sepanjang masa.

Inilah salah satu alasan mengapa dia begitu bersemangat mendukung penelitian dan studi mendalam yang dilakukan secara terus-menerus dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan Islam.

Keistimewaan Iqbal yang luar biasa adalah pandangannya tentang dasar kebudayaan Barat modern dan Islam yakni bahwa Iqbal tidak menganggap salah dunia Islam saat ini dan sedang mengikuti kebudayaan Barat dengan cepat.

Satu-satunya kekhawatiran Iqbal adalah kalau “kehidupan fisik yang gemerlapan” dunia Barat akan mempengaruhi gerakan dunia sehingga memnyebabkan tidak mampu mencapai inti jiwa kebudayaan yang sebenarnya.

Iqbal yakin kalau gerakan kaum komunis di Eropa dimulai secara luas karena dorongan bebas pemikiran Islam, buah humanisme yang berbentuk ilmu pengetahuan dan filsafat modern, dengan penuh segala hormat hanyalah merupakan perluasan dari kebudayaan Islam. Di sini bisa kita lihat betapa kuatnya perhatian Iqbal pada masa ini.

Dalam salah satu suratnya kepada Sahib Zada Aftad Ahmad Khan, Sekretaris All India Muhamm dari Educational Conference (Konferensi Pendidikan Islam Seluruh India) di Aligarh yang bertanggal 4 Juni 1925, dia mengatakan: “Secara kasar dapat dikatakan kalau kejatuhan politik Islam di Eropa yang sedang terjadi saat ini dimulai ketika para pemikir Islam melihat kesia-siaan ilmu pengetahuan edukatif.

Sehingga praktis sekarang ini Eropa-lah yang mengambil alih tugas penelitian dan penemuan. Aktivitas intelektual di dunia Islam praktis terhenti saat ini.”

Saat ini Barat memimpin prinsip-prinsip Islam untuk kepentingan intelektual dan ilmu pengetahuan mereka, lalu kenapa kita harus mengambil petunjuk dari mereka? Kita juga bisa mengambil jalan dengan melalui sumber asli perkembangan modern dalam ajaran Islam. Kebangkitan Islam berikut penyebarannya memainkan peran sangat menentukan dalam sejarah. Kebangkitan ini dengan sukses telah membelokkan jalannya sejarah yakni denan mengubah negara Arab menjadi negara pemimpin pada masanya.

Orang Arab mendapat identitas baru dan ide-ide cemerlang dan mereka juga dikeluarkan dari lubang kemerosotan yang sangat dalam serta peradaban yang rendah. Tapi hal itu hanya mungkin dilakukan selama umat Islam tetap setia dan bertanggung jawab pada jiwa ajaran Islam.

Iqbal juga mengetahui mengapa saat ini umat Islam tidak termotivasi dan terinspirasi oleh semangat perubahan ilmuwan Islam pada masa lalu. Perubahan yang mereka lakukan adalah berusaha melawan dominasi filsafat pada masa itu yang dikuasai tradisi Yunani.

Hal itu membuktikan bahwa ilmuwan Islam bukan pengikut yang membabi buta. Para ilmuwan Islam ini memiliki keberanian untuk memiliki keyakinan yang “berbeda dengan jalur yang tersingkir” dibandingkan dengan pendahulu mereka. Tujuan mereka adalah menguasai dan mengendalikan alam, sejarah, perubahan keadaan sosial, etika dan politik yang ada, sehingga sesuai kondisi yang berlaku saat itu.

“Kritik konservatif tak pernah menjadi halangan bagi gerakan konstruktif mereka. Dibandingkan dengan tekanan filsafat Yunani konseptualisme dan abstraksisme, Al-Qur’an mengajarkan pendekatan yang pragmatis dan praktis dalam kehidupan.

Semangat perubahan ini menimbulkan konflik antara mereka dengan logika dan filsafat Yunani. Dalam kuliahnya yang berjudul “Jiwa Kebudayaan Islam”, Iqbal berusaha menemukan perbedaan esensial yang ada antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Barat.

Resensi ini dimuat di Harian Solo Pos, 28 Juli 2002. Tulisan lama.

17 April 2018, Pukul 11.19

Hari ini hanya ada sedikit tulisan yang saya baca di sebuah pembatas buku warna orange.

Ungkapan sederhana tentang skala prioritas dalam hidup.

“Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal;
tapi tentang memedulikan hal sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting,” Mark Manson.

11 April 2018, Pukul 17:10

Resensi Buku
Judul : Einstein, Kehidupan dan Pengaruhnya Bagi Dunia
Penulis: Walter Isaacson
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi : Cet I, November 2012

Einstein Bersepeda

Einstein Bersepeda

Jauh sebelum menulis tentang biografi Steve Jobs, Walter Isaacson sudah menulis tentang kisah fisikawan terkemuka, penerima nobel bidang Fisika Albert Einstein. Saya mungkin terlambat membaca buku pria kelahiran Swabia Jerman ini. Akan tetapi tidak ada salahnya jika di selasa sore ini saya bercerita sedikit tentang Albert Einstein.

Siapa yang tidak mengenal sosok fenomenal dan genius Albert Einstein yang terkenal dengan teori relativitas kuantumnya. Seluruh dunia mengakui kecerdasan Einstein dari anak kecil, remaja, hingga orang tua. Namun anda tahu, bagaimana kehidupan keluarganya, hal-hal yang paling membahagiakan, ketenaran, perceraian, pemberontakan, hingga kematiannya yang mengejutkan dunia.

Profesor Pengembara yang Gemar Bersepeda

Buku ini diawali dengan sangat ceria. Sosok Albert Einstein, mengayuh sepeda di sebuah taman di Santa barbara pada tahun 1933. Rambut ikalnya yang bergelombang tampak tertiup angin, senyuman gembira tampak di wajahnya. Dalam tulisan di bawah foto itu, Einstein berpesan kepada anak pertamanya Eduard.

“Hidup itu seperti mengendarai sepeda, agar tetap seimbang kau harus tetap bergerak,”-Albert Einstein

Einstein lahir dari pasangan ayah ibu berdarah Yahudi. Kedua orang tuanya adalah keturunan pedagang dan penjual keliling Yahudi yang lebih dari dua abad hidup sederhana di pedesaan Jerman Barat. Dari generasi ke generasi mereka membaur dengan budaya Jerman yang mereka sukai. Sejak kecil, Einstein mengalami terlambat dalam berbicara, sehingga orangtuanya sempat khawatir dan diperiksa ke dokter.

Saat mahasiswa di politeknik pun termasuk tipe mahasiswa yang kurang ajar (Bab-3, 1896-1900). Kisah cintanya juga sangat berliku dan mengharukan dengan Mileva, gadis berdarah Serbia yang memberinya tiga anak, namun mereka memutuskan bercerai. Disinilah kisah mengharukan bagaimana kita mengenal siapa itu Mileva, bagaimana anak-anak Einstein, juga kehidupannya pasca bercerai.

Buku yang bersampul biru ini terdiri dari 25 bab. Sekitar 12 bab bercerita dari masa kecil saat, tahun keajaiban, relativitas khusus, pikiran paling menggembirakan hingga cerita indah sebagai profesor pengembara.

Sosok Pemberontak dan Penyendiri

Setelah hampir separuh bab bercerita masa-masa remaja hingga kecerdasannya yang sudah terlihat sejak muda, dan pemikiran dan pandangannya terhadap kekuasaan. Separuh bab berikutnya lebih banyak mengupas tentang proses penerimaan nobel, mendalami tentang teori kuantum, ulang tahun ke-50, Pengungsi, Amerika, Tonggak Sejarah, Red Scare, hingga kehidupan di akhir hayatnya.

Hampir semua tulisan Isaacson, ditulis dengan sangat mendetail dalam menjelaskan suatu hal. Baik itu dalam kehidupan pribadi, teori, penemuan, bahkan masa-masa suram serta akhir hayat Einstein. Terlihat beberapa tokoh terkenal seperti surat-surat dari Galileo, Planck, Poincare, Lorentz dan lain-lain dalam mengungkap hubungan mereka dengan Einstein semasa hidupnya.

Ada serangkaian rumusan sederhana yang menentukan pandangan Einstein. Kreativitas mewajibkan kita untuk bersedia tidak patuh. Hal tersebut selanjutnya menuntun kita pada pikiran dan jiwa yang bebas yang selanjutnya menuntut semangat toleransi.

“Fondasi toleransi kerendahan hati-Keyakinan bahwa tidak seorangpun berhak memaksakan ide atau keyakinan pada orang lain,” tulis Isaacson tentang sosok Einstein.

Hal yang membuat Einstein istimewa adalah pikiran dan jiwanya yang ditempa oleh kerendahan hati. Dia dapat menjadi sangat percaya diri dalam perjalanan sunyinya, tetapi juga kagum oleh keindahan hasil karya alam.
“Jiwa adalah manifestasi dalam hukum alam semesta-Jiwa yang jauh lebih kuat daripada jiwa manusia dan jiwa yang ketika kita menghadapinya dengan kekuatan kita yang kecil, kita pasti merasa rendah hati,” – Einstein, hal 597

Dimata Isaacson, Albert Einstein adalah sosok penyendiri dan seorang pemberontak yang penuh rasa hormat.

Sampul Buku

Sampul Buku

 

Banjir Pujian

Karya Isaacson ini luar biasa. Banyak sekali media mauilmuwan baik di Amerika, Jerman dan negara lain memujinya. Dari New York Times, People, Chicago Tribun, Sunday Times dan lain sebagainya. Thomas L Friedman bahkan menyebut buku ini sebagai bacaan yang provokatif. Sedangkan Profesor Fisika Sylvesteer James Gates Jr dari Maryland University mengatakan jika buku ini berhasil menjalankan tugasnya yang mengagumkan, menjelaskan sains dengan benar, dan mengungkapkan seorang manusia.

Lebih dari dua puluh endorsement (pujian) hadir di edisi terjemahan Indonesia ini. Tidak ada salahnya jika anda membaca buku yang brilian dan mencerahkan ini. Sangat berguna terutama bagi pecinta sains, pecinta biografi, juga setelah selesai dibaca akan bermanfaat bagi anak atau kerabat kita kelak.

Saya suka dengan karya Walter Isaacson yang kaya ilmu dan mendalam dalam setiap buku yang ia tulis. Dua buku lainnya yang saya resensi adalah Biografi Steve Jobs klik di sini dan The Innovator. Silahkan mampir jika berkenan.

Di balik nama besar tokoh terkemuka baik dalam ilmu pengetahuan, sosial, humaniora dan digital, ada banyak kisah indah dan mengharukan tentang kehidupan pribadi yang belum terungkap dari sebuah biografi. Isaacson menceritakannya dengan bahasa yang mengalir, mudah dicerna dan tanpa menyudutkan.

10 April 2018, Pukul 20.29

Rara Mendut (Sebuah Trilogi)
Penulis: Y.B. Mangunwijaya
Penerbit: Gramedia, 2008
Tebal: 799 Halaman

Lebih Baik Menyambut Ajal di Ujung Keris, daripada Melayani Nafsu

Novel karya Romo Mangun ini dibuka dengan sebuah cerita  dari pinggir pantai. Menggambarkan kehidupan perempuan dan nelayan di sebuah teluk. Bahasanya yang humanis, syahdu, kadang campur bahasa Jawa, merupakan ciri khas Romo Mangun dalam mengurai kata. Membuat anda akan jatuh cinta membaca “Rara Mendut” sejak halaman pertama.

Ombak-ombak berbuih di pantai kampung nelayan Telukcikal pagi itu, seperti pagi-pagi yang lain, tak jera menderukan gelora kemerdekaan dan himne warna keabadian.

Tetapi tidak seperti hari-hari lazim, dari dalam buih-buih putih mendidih muncullah wajah, lalu sosok seorang gadis berkuncup-kuncup harapan; basah kuyup, rambut panjang sebagian terurai tak karuan dari ikatan ; tertawa bahagia karena baru saja ter-kapyuk (terciprat).

Entah kenapa saya selalu suka karya -karya Romo Mangun seperti halnya Rara Mendut yang bercerita tentang budak rampasan yang menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna, demi cintanya kepada Pranacitra.

Dibesarkan di kampung nelayan pantai utara Jawa, ia tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tak pernah menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya dianggap nyebal tatanan di lingkungan istana dimana perempuan diharuskan serba halus dan serba patuh. Tetapi ia tak gentar. Baginya lebih baik menyambut ajal di ujung keris daripada melayani nafsu sang Panglima tua.

Ada juga tokoh lain dalam kisah rakyat ini yaitu Genduk Duku dan Lusi Lindri. Kisah yang dikembangkan dari Babad Tanah Jawi dan berbagai sumber oleh Y.B. Mangun Wijaya, dicipta baru dan dibumbuinya dengan humor-humor segar khas almarhum Romo Mangun. Hingga tetap relevan untuk generasi masa kini.

4 April 2018, Pukul 16.04

Kamus Bahasa Sunda Karya Raden
Satjadibrata
Cetakan: Keempat, 2016
Tebal : 376 Halaman
Penerbit: Kiblat Buku Utama Bandung

Dalam sejarah Sunda, Kamus Basa Sunda Karya Raden Satjadibrata termasuk kamus yang banyak dipakai oleh pemerhati Bahasa Sunda.

Sebelumnya ada kamus Bahasa Sunda- Belanda yang disusun oleh orang Belanda. Yaitu, Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek (Leiden,1884, dan 1913), tapi yang memakai adalah orang Belanda.

Jadi, kamus ini dibuat dengan sepenuh hati oleh Satjadibrata dengan kesadaran bahwa Bahasa Sunda, dan budaya sunda lainnya akan memiliki banyak peminat dari daerah lain baik dari suku di luar suku sunda maupun peneliti dari luar negeri yang tertarik dengan tanah Pasundan.

“Karaos perlu teu kinten ayana kamus nu kenging di damel tuduh jalan, nyaeta kamus Sunda nu diterangkeun ku basa Sunda tur diangken ku ahli Basa Sunda, yen leres kateranganana.Hanjakal teu aya kamus sarupi kitu teh,” ujar Satjadibrata dalam pengantarnya.

Namun sebelum kamus Satjadibrata ini ada Bupati Cianjur R.Arya Kusumaningrat, namun kamus Melayu-Sunda pada tahun 1857, sayang belum dibukukan.

Cetakan pertama kamus Basa Sunda Karya Satjadibrata ini terbit pada tahun 1944 dengan judul Kamus Soenda-Melajoe, kemudian di revisi pada 1950 dengan judul Kamoes Soenda Indonesia.

Enampuluh tahun setelah edisi kedua terbit, Penerbit Kiblat Buku Utama dapat menerbitkan kembali Kamus sunda edisi ketiga. Namun, karena Bahasa Indonesia yang digunakan oleh Satjadibrata adalah Bahasa Indonesia yang berkembang tahun 1950, yang lebih dekat ke Bahasa Melayu, maka penerbit Kiblat menyuntingnya agar lebih sesuai dengan Bahasa Indonesia yang digunakan sekarang.

Ketika saya membaca kamus ini memang sangat lengkap sampai hal-hal terkecil (diterangkeun nepi ka bubuk leutikna) yang rumit dan jarang diucapkan. Meskipun saya asli orang Sunda, namun ada istilah-istilah yang saya belum familiar di kamus ini.

Seperti istilah “mutiktrik, artinya gede beuteung lantaran seubeuh dahar (kenyang akibat kebanyakan makan) kemudian “mutuh” yang artinya kacida teuing (keterlaluan), saya membacanya juga sambil seuserian (tertawa) karena banyak istilah-istilah lucu dan masih banyak istilah lainnya.

4 April 2018, Pukul 13.52