Archive for the ‘Buku dan Media’ Category

Sampul Buku-Rumah Bambu

Sampul Buku-Rumah Bambu

Cerita Sederhana yang Menukik Hati

Jika anda ingin membaca cerita-cerita yang ringan, pendek dan sangat menyentuh perasaan, anda harus membaca Kumpulan Cerpen karya YB.Mangun Wijaya atau akrab biasa disapa Romo Mangun dalam salah satu Kumpulan Cerpennya berjudul “Rumah Bambu” yang diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia (Penerbit KPG).

Buku ini sebenarnya buku lama, saya harap Penerbit berani untuk menerbitkan kembali buku-buku ini untuk generasi di masa yang akan datang yang lebih mencintai kesederhanaan dan hidup bersahaja dibanding dunia anak muda sekarang yang serba digital dan penuh hiruk pikuk belaka.

Ada satu peristiwa dalam hidup Romo Mangun yang di kemudian hari menjadi cerita “legendaris”. Seorang teman menyebut peristiwa itu sebagai tragedi lem kanji. Suatu ketika Romo Mangun menyuruh salah seorang pembantunya membuat lem kanji. Kebetulan Romo sedang membutuhkan banyak lem, sementara ia enggan membelinya di toko. Selain mahal dan bikin boros, memang demikianlah prinsipnya: Jangan mudah membeli sesuatu yang sebenarnya dapat dibuat sendiri. Lem kanji yang dipesan pun jadi.

Celaka, Romo bukannya senang, tetapi malah marah, sebab lem kanji itu terlalu banyak dan mubazir. Sambil marah, Romo mengambil piring, sendok, garam, lalu menyodorkan kepada si pembuat lem kanji itu dan menyuruh memakannya. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, tapi peristiwa itu benar-benar terjadi.

Dari cerita di atas dapat kita simbulkan bahwa kita harus pandai-pandai menilai diri sendiri. Suatu hal atau barang yang menurut kita mahal, belum tentu mahal menurut orang lain. Lebih baik kita membeli sedikit lem kanji daripada memarahi orang yang membuatkan kita lem kanji dengan banyak dan kelelahan agar mendapat upah.

Dalam buku yang terdiri dari 20 Cerita pendek (Cerpen) yang belum pernah di publikasikan ini, semua cerita yang ada dikemas secara artistik dan menggelitik namun cetar membahana. Kita akan di bawa ke dalam cerita bencong yang menyamar menjadi pengamen, hingga cerita-cerita sederhana lainnya yang menyentuh hati dan memekakkkan telinga.

Jadi tunggu apa lagi, datang saja ke Perpus Kementerian Kemendikbud untuk membaca buku ini, jika Penerbit KPG enggan menjualnya kembali, karena royaltinya belum diterima sama Romo Mangun Wijaya.

Jakarta, 4 Desember 2017

Advertisements

Sejak Maret 2017, aku hampir tidak pernah menulis di blog. Sangat malas dan tidak semangat. Bulan Juli sampai September sempat non aktif, karena ada sesuatu berdasarkan tracking dan menghilang sejenak dari google agar namanya tak muncul. Kadang aq berpikir, aq terlalu show up atau show off di blog, jadi adakalanya malu dan geli baca tulisan yang sudah lama, jadi lebih baik ditutup aja blogku, aku kadang berpikir demikian.

Seiring berjalannya waktu dan kerjaannya menumpuk aku larut dalam rutinitas. Beberapa hari yang lalu, aku buka detik.com dan ada tulisan tentang philantropis Bill Gates yang baru-baru ini rajin ngeblog review buku….ya ampuun seneng banget bacanya. Secara aku sejak lama review buku di blog ini, tapi aku tidak pernah peduli ada yang baca atau tidak, tapi bagiku ini sangat menyenangkan. Keponakanku  Auliani Ekasari Putri dari Jogja juga tanya kok bibi blognya ga aktif, akhirnya kemarin aku aktifin lagi.

Apa yang aku geluti sejak lama sekarang sudah banyak dilakukan orang. Aku salut dan sangat respek pada orang yang suka membaca atau pegiat literasi, meskipun kadang aku sendiri merasakan tidak semua orang suka membaca. Bahkan ada yang mengatakan aku terlalu teksbook dan kebanyakan teori, lebih baik banyak berbuat tidak usah terlalu lama baca buku, kata sebagian orang, yah bagiku itu adalah pilihan-pilihan kita dalam melakukan suatu kegiatan.

Salam Literasi bersama Guru Berprestasi

Bagiku membaca saat ini adalah suatu yang mahal. Duduk, meluangkan waktu dan menelisik lembar demi lembar itu sangat menyenangkan. Di tengah kerjaan yang menumpuk. Dengan membaca Kita dilatih untuk berempati dan peduli dengan apa yang diceritakan penulis. Nah, itulah kekuatan literasi, olah rasa, olah jiwa dengan bacaan. Dari situ kita akan merasakan suatu kepuasaan tersendiri dengan apa yang disampaikan penulis, setting cerita dan terbawa suasana. Apalagi jika bukunya bagus kita review supaya orang juga tahu apa yang kita baca mereka rajin membaca dan membeli buku yang kita punya.

Beberapa waktu yang lalu, dalam kurun waktu teakhir saya rajin mengunjungi perpus Kemendikbud, UIN Jakarta, Kemenkes, Perpusnas, FKM UI dan terakhir Perpustakaan Bank Indonesia.Saya suka berlama-lama di perpustakaan, karena tuntutan pekerjaan, setelah lama di lapangan untuk liputan dan bahan penulisan, biasanya saya mencari referensi di perpus. Tapi saya lebih suka perpus yang ga ada wifinya jadi kita tenang bisa membaca sampai selesai. Nanti kapan-kapan aku akan cerita pengalamanku selama 1,5 tahun mengunjungi aneka perpustakaan, ini seru dan mengasyikkan meskipun aku harus mengakhirinya karena harus ngantor lagi beberapa bulan belakangan.

di Perpustakaan Kemendikbud

Saat ini gerakan literasi sudah mulai menyeruak di berbagai lini, lingkungan sekolah misalnya, setelah berdoa diharapkan setiap murid membaca selama 10 menit buku cerita, itu yang diajarkan para guru untuk melatih murid agar senantiasa gemar membaca. Semoga kedepan orang akan semakin banyak membaca dan tentu saja, biasanya orang bisa menulis karena suka membaca. Jangan larut dengan hal-hal yang praktis luangkan waktu untuk menulis dan membaca.

di perpustakaan Bank Indonesia

Pepatah mengatakan jika Sahabat terbaik adalah buku, ya buku bisa kita bawa saat susah senang dan melanglang buana kemanapun si penulis membawa cerita. Mencintai buku adalah mencintai ilmu pengetahuan, semakin banyak membaca semakin kita merasa bodoh. Disitulah kita menjadi tidak mudah terpengaruh dengan berita online dan berita hoaks yang bertebaran. Dengan membaca kita juga punya second opinion, referensi dan rujukan. Apapagi aku suka menstabilo kutipan yang memotivasi atau kata-kata bijak yang menyentuh hati. Bagiku itu ibarat kita menemukan berlian di tengah pusaran padang pasir.

kutipan-kutipan seperti ini yang kusuka

Maka mari kita rajin membaca, menulis apa saja, menulis puisi, cerpen atau menulis di blog, atau opini selagi sempat. Jangan menulis status kebencian atau sikap nyinyir yang justru membuat orang tidak nyaman. Barbaik sangka sama orang, dan tidak menyimpan rasa dendam, maka hati kita menjadi lapang. Kita menulis, bekerja apapun yang kita lakukan diniati ibadah, tidak mengharap pujian manusia, karena yang berhak menilai diri kita adalah Tuhan. Salam Literasi

Salam Literasi

Berikut saya tulis link yang membuat saya termotivasi untuk menulis di blog lagi, tidak jadi menutupnya.

Pejaten 7 September 2017

Salam Literasi

https://inet.detik.com/cyberlife/d-3629030/ternyata-ini-hobi-bill-gates-yang-membuatnya-pintar

Ternyata Ini Hobi Bill Gates yang Membuatnya Pintar

Fino Yurio Kristo – detikInet
Share 0 Tweet 0 Share 0 1 komentar
Bill Gates (Foto: Internet)

Jakarta – Bill Gates mengaku sudah kecanduan membaca sejak kecil. Itu adalah salah satu kunci kepintaran dan kesuksesan pendiri Microsoft tersebut. Tak sekadar membaca, ia bahkan juga sempat menulis beberapa review buku di blognya, Gates Notes.

Berikut wawancara singkat dengan Bill Gates yang menceritakan soal kecanduannya membaca, dikutip detikINET dari New York Times.

Seperti apa peran membaca dalam hidup Anda?

Membaca adalah salah satu cara utama bagiku untuk belajar dan telah kulakukan sejak masa kanak-kanak. Belakangan ini, aku memang mengunjungi tempat-tempat menarik, bertemu dengan para ilmuwan, dan menyaksikan banyak kuliah online. Tapi membaca masih tetap menjadi cara utama bagiku mempelajari hal-hal baru dan menguji pemahamanku.

Bill Gates

Apa yang membuat Anda memutuskan menulis review buku di blog?

Aku selalu suka membaca dan belajar, jadi kupikir akan bagus jika orang membaca sebuah review buku dan juga merasa terdorong untuk membaca dan membagikan apa yang mereka pikirkan dengan teman-temannya.

Salah satu alasan utama aku memulai blog memang adalah untuk membagikan pemikiranku soal apa yang kubaca. Jadi menyenangkan melihat orang menulis reaksi dan rekomendasi mereka di kolom komentar.

Bagaimana Anda memilih buku yang akan dibaca?

Melinda dan aku kadang saling bertukar buku yang kami suka. Aku juga mendapatkan rekomendasi dari teman. Setelah menyelesaikan buku yang bagus, aku sering mencoba menemukan buku lain karya penulis yang sama atau buku yang mirip tentang subyek yang sama.

Buku apa yang sering Anda rekomendasikan?

Aku membaca buku The Better Angels of Our Nature karya Stephen Pinker beberapa tahun lalu dan setelahnya langsung aku menemui Stephen untuk bicara padanya. Aku review buku itu di Gates Notes karena aku ingin orang lain membacanya, menyukainya dan belajar darinya seperti halnya diriku. Ini mungkin buku favoritku dan yang paling sering kurekomendasikan.

Apakah Anda juga membaca novel?

Aku memang tidak membaca banyak fiksi tapi pernah terkejut karena merasa sangat suka dengan novel berjudul The Rosie Project karya Graeme Simsion. Melinda yang pertama membacanya dan kadang membacanya dengan suara keras. Akhirnya, aku memutuskan untuk juga membacanya.

Aku mulai membaca novel itu pada jam 11 malam dan keterusan sampai jam 3 dini hari. Novel itu sangat lucu dan juga menunjukkan banyak empati bagi orang yang berjuang di berbagai situasi sosial.

Jika anda ingin membaca website pribadi Bill Gates, silahkan kunjungi http://www.gatesnotes.com

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-Mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet DeNeefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

 

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama di adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali, mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan imagining India pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee. Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali, ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain belok-belokan di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-fotoakhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara ke Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya, dan Alex mereka turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampe besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di neka Museum saya mengikuti sesi Migrant dan Refugees bersama Stef vaessen, Sami Shah, Chris raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang A Little Life yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemau Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Empat Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan.Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak saya ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirma 21.40

MENGARUNGI PERJALANAN SPIRITUAL-INTELEKTUAL

Judul: Bahkan Malaikat Pun Bertanya
Penulis: Dr Jeffrey Lang
Pengantar: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktoebr 2000
Tebal: (xix + 302) halaman

Buku Jefrey Lang

Buku Jefrey Lang

Buku Bahkan Malaikat pun Bertanya ini berangkat dari keprihatinan penulisnya setelah melihat banyak orang Islam di negerinya menghindari atau bahkan mengingkari agama itu, lantaran tak mampu mendamaikan agama yang mereka warisi dengan pandangan Barat sekuler yang mereka peroleh.
Fenomena yang sesungguhnya melanda nyaris semua negeri muslim ini telah membelah umat Islam ke dalam dua kubu yang berlawanan: mereka membekukan dirinya dalam tradisi lama dan mereka yang mengekor pada peradaban Barat.

Yang pertama memandang pemikiran Islam terdahulu sebagai rujukan ideal, dan yang kedua melihat Barat sebagai puncak peradaban. Yang pertama kaum fundamentalis, sedangkan yang kedua kaum liberal.

Kedua kelompok itu sama “menyesatkan”. Agar tidak terperangkap dalam bahaya itu, lewat buku yang dalam peringkat Amazon.com mendapat bintang lima ini penulis menganjurkan umat Islam senantiasa mengembangkan sikap kritis. Baik dalam memandang realitas faktual yang muncul, maupun dalam memahami pesan-pesan Islam itu sendiri.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu stereotip yang populer di Barat. Disebut stereotip karena, kesan-kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab.

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apapun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila masuk Islam atau naik haji?

Hal seperti itulah yang mengusik Jeffrey Lang, ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk ditukar dengan jubah dan sorban seperti Cat Steven, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga tak pernah mengubah Thank God sebagai pengganti Alhamdulillah.

Menurut mualaf Amerika penulis buku terkenal Struggling to Surrender (telah di Indonesiakan menjadi Pergumulan Menuju Kepasrahan, Serambi, Juni 2002) ini, cara yang paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukan mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik.
Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan, katanya. Bahkan malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan pun bertanya! Mereka “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka Bumi: Apakah Engkau akan jadikan disana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

BUKU ini membawa pembaca mengarungi perjalanan spiritual intelektual dengan mendiskusikan konflik-konflik yang terjadi antara agama dan akal, rintangan-rintangan yang dipasang oleh kaum Muslim sendiri yang menghalangi orang untuk memeluk Islam, ekstremisme dalam komunitas Islam, dan lain-lain.

Bahkan Malaikat Pun Bertanya, memiliki arti umum yang sangat penting, ditulis dengan sangat bagus (orang mungkin tidak mengira bila penulisnnya seorang guru besar matematika), dan merupakan hasil dari kajian yang baik.

Memang buku ini adalah gambaran hidup tentang bagaimana Jeffrey Lang begitu tertarik kepada Islam tanpa terbendung lagi. Namun, buku ini juga menawarkan suatu program yang solid dengan menawarkan alasan yang baik bagi semua orang Amerika lainnya memerlukan kajian rasional yang luas dan mendalam sebelum berserah diri pada Allah.

Perjalanan spiritual Dr Lang menjadi terkesan unik dan menarik ketika ia ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi, ia berhasil menemukan pencerahan baru: no escape from being an american. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya.

Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya. Islam tidak pernah datang dari suatu vakum kultural. Karena itu, maka ditemukanlah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Dan mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Akan tetapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah jatuh pada hambatan besar: mengekor Barat? Memang disamping kaum fundamentalis yang mengekor kebudayaan Arab, kita juga menemukan kaum liberal yang mengekor Barat sebagai puncak peradaban.

Terlepas dari jebak-jebakan itu, Dr Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis pada bab 2 buku ini: “Cara paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukanlah mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik, melainkan justru harus sebaliknya. Komunitas Muslim harus terus mendorong kedua hal itu. Kita cenderung berbuat salah manakala kita tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri”.
***
MEMBACA buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalanan spiritual, bukan saja seorang Muslim Amerika, tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dan Islam aktual.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang persiektif orang non-Muslim tentang Ramadhan. Mereka menilai bahwa puasa merupakan ibadah ritual yang paling keras dalam Islam (hlm 216).
Namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa kekhawatiran dari buku ini, yakni dapat menjerumuskan pembaca non-Muslim pada kesan keliru dan sepihak tentang kaum Muslim. Boleh jadi pemburukan media Barat atas citra kaum Muslim dan agama mereka.

Jeffrey Lang menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli (berdasarkan akal) dan nakli (berdasarkan Al-Qur’an).

Uraian Dr Lang dalam buku ini juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. Bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan serius maupun ringan.

(Eva Rohilah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di harian Kompas edisi………..waktu itu ditelepon sama Pak Dewa Brata Redaktur Pustakaloka yang terbit setiap Senin, honornya saya masih ingat 350.000 sangat besar ukuran saat itu, dari sini pula saya diberi beberapa buku baru dari Penerbit Serambi yang Chief Editornya Pak Qamaruddin SF, setelah saya kerja di Alvabet kita sering bertemu sebagai sesama penerbit dan bersahabat baik dengan beliau.

JUNJUNGLAH TINGGI SISTEM NILAI YANG EGALITER

Judul: Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan
Penulis: Dr Irwan Abdullah
Editor: Ana Samsuri
Penerbit: Tarawang Press Yogyakarta
Cetakan 1 Maret 2001
Tebal: (xvi + 222) halaman

Buku Irwan Abdullah

Buku Irwan Abdullah

Diawali dengan ide dan gagasan RA Kartini leawt buku Habis Gelap terbitlah Terang perjuangan perempuan untuk kesetaraan hak sampai kini terus bergulir. Bahkan, belakangan ini wacana itu menjadi semakin marak, lantaran dalam rentang waktu yang demikian panjang dan lama, perempuan menuju persamaan hak belum juga mencapai klimaks.

Dalam struktur yang hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukan pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup.

Akan tetapi, mengapa dalam praktik sosial, perempuan mau mengalah atau dikalahkan? Kesalahan utama yang dilakukan para politisi, peneliti, dan kaum feminis, adalah mereproduksi struktur patriarirkal dengan menekankan wacana ketimpangan jender, perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung, halus, dan sebagainya.
Dengan cara itu sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa untuk kesejahteraan peremepuan. Sebaliknya, perempuan malah tersubordinasi secara terus menerus oleh wacana yang dibangun orang-orang yang sangat ingin membantu perempuan sekalipun
***
Buku Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan ini terdiri dari empat bagian, atau sebelas bab. Ditulis dengan saksama oleh dosen Fakultas Sastra UGM yang sangat tertarik pada masalah perempuan sejak mahasiswa. Penulis itu Dr. Irwan Abdullah, seorang feminis kelahiran Aceh Utara 37 tahun yang lalu.

Melalui bukunya tersebut ia berusaha membawa pembaca mengikuti dua arus besar yang melanda dunia ketiga. Dalam ranah sosial, pembicaraan mengenai perempuan telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada saat konsep “jender” digunakan sebagai perspektif. Jender lebih menunjuk kepada relasi dimana kaum lelaki dan perempuan berinteraksi.

Hal tersebut menjadi rumit tatkala perempuan memainkan berbagai peranan sekaligus. Perempuan ideal kemudian menjadi superwoman yang memiliki kapasitas domestik dan diharapkan memiliki kapasitas dalam bidang publik secara sempurna. Posisi laki-laki disini tampak cenderung tidak digugat.
Secara implisit dinyatakan bahwa peran publik merupakan tanda kemerdekaan perempuan, dan peran domestik digugat karena dianggap telah memenjarakan perempuan. Cara-cara seperti ini sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi sosial.

Dalam proses migrasi dari domestik ke publik, perempuan harus mengeluarkan biaya ideologi yang begitu besar. Perempuan tidak hanya harus memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki untuk memenuhi kriteria sebuah pekerjaan, tetapi juga harus cantik dan menawan. Bukankah ini sekaligus pelecehan terhadap perempuan.

Pada bagian lain, arus balik yang terjadi berasal dari realitas ekonomi. Hal ini berawal dari penandaan tubuh perempuan yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif ke arah fungsi ekonomi demi ekspansi kapital. Tubuh dan hasrat digunakan sebagai titik sentral produk yang disebut sebagai ekonomi libido.

Pembahasan soal itu menjadi menarik ketika menyangkut masalah tubuh perempuan dalam iklan dan rimba laki-laki. Stigma ini cukup diimbangi dengan peranan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi.

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Imbangan itu antar lain tampak dari hasil penelitian tentang bagaimana peranan perempuan dalam pasar, pedesaan, dan kerajinan rumah tangga yang lebih menenkankan pada aspek mobilitas dan mengankat marginalitas profesi seperti bakul (penjaja), tukang jamu. Bhakan juga peranannya dalam home industry.
***

Pesan utama dari penulis adalah bahwa usaha perbaikan kehidupan perempuan bukan usaha memerangi laki-laki tetapi mengubah sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obejek. Perubahan ini akan terjadi apabila bertumpu pada struktur yang menjunjung tinggi sistem nilai dan ideologi yang egaliter.

Kekuatan utama buku ini pada epilog yang merupakan rajutan dari berbagai bab. Masing-masing bagian digarap secara serius karena beberapa bahan dalam buku ini hasil penelitian lapangan serta riset perpustakaan yang dilengkapi dengan data kuantitatif yang cukup akurat.
Disamping itu ada terobosan yang cukup berani untuk melakukan penyegaran, penyusuran, dan penggerusan yang cukup mendalam atas kompilasi wacana yang telah ada, kritikan terhadap kaum feminis, sampai sindiran yang tajam terhadap kaum oportunis.

Sayangnya ada satu kelemahan yang cukup fatal, yaitu tidak seimbang (equal) antara judul buku dengan substansi, yakni dimensi seksisme kurang begitu disentuh secara mendalam. Ulasannya teramat singkat hanya sebatas retorika dan obyektivitas reproduksi dalam kaitannya dengan kekuasaan lelaki.
Hal itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran editor yang kurang memperhatikan grand opinion dan tidak fasih dalam menerapkan gaya penulisan ilmiah sehingga buku ini terkesan kaku meskipun alur penulisannya dari awal hingga akhir menarik.

Akan tetapi, setidaknya, sampul bergambar RA Kartini yang melankonis akan sedikit mengeliminir kelemahan buku ini. Yang jelas, dengan kelebihan dan kekurangannya itu, buku ini telah menambah panjang koleksi buku feminis. Siapapun yang peduli akan nasib, pendidikan, dan masa depan perempuan akan memperoleh manfaat dari buku ini.
(Eva Rohilah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurnalis LPM Sinergi Yogyakarta)
Dimuat di Harian Kompas edisi

JANGAN LUPAKAN TRADISI

Judul: Agama, Negara, dan Penerapan Syaria’ah
Judul Asli: Ad-Din Wa Ad Daulah wa Tathbiq As-Syari’ah Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah (Beirut 1996)
Penulis: Muhammad Abed Al Jabiri
Penerjemah: Ulin Nuha
Penerbit: Fajar Pustaka Bru, Yogyakarta
Cetakan I, September 2001
Tebal: (xxxvi + 201) halaman

Buku Abed Al-Jabiri

Buku Abed Al-Jabiri

MUHAMMAD Abed Al-Jabiri seorang pemikir terkemuka Arab saat ini yang mengangkat berbagai gagasan segar dalam rangka kebangkitan Islam, khususnya di lingkungan negara Arab. Ia punya analisa yang cukup signifikan terhadap masalah yang menyita kaum muslim tentang hubungan negara dan agama.

Masalah itu menjadi mendesak karena kemunculan negara-negara bangsa (nation state) dan berhembusnya semangat sekularisme yang dibawa Barat Modern. Dia mengemukakan, “pertanyaan apakah Islam itu agama atau negara” merupakan pertanyaan palsu karena diajukan oleh kebudayaan Barat dengan segala pengakuan historis yang dilaluinya, bukan cermin realitas kaum Muslim sendiri.

Menurut Al-Jabiri, kalau mau jujur menelaah Al Qur’an dan sejarah Islam, kita akan menemukan fakta bahwa Islam tidak pernah menentukan jenis dan bentuk negara. Rujukan historis maupun praktis tentang kenegaraan Islam hanya ada pada praktik sahabat Nabi SAW, yang menurut dia, itu hanya suatu ijtihad.
Oleh karena itu, sesuai perkembangan zaman, Al-Jabiri dengan tegas mengatakan bahwa demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum Muslim untuk masa kini dan masa depan. Meskipun dia tidak naif dengan mengatakan bahwa para sahabat Nabi SAW telah mempraktikkan demokrasi melalui ajaran syura yang dianggap mempunyai urgensi yang sama dengan demokrasi.

Jika negara itu demokratis, bagaimana dengan penerapan syariah, bagaimana meletakkan syari’ah dalam sebuah negara demokrasi? Al-Jabiri kembali membongkar tradisi dan sejarah secara rasional. Baginya, praktik kenegaraan dan penerapan hukum syariah harus dikaji dan ditelaah secara mendalam. Di sini hukum Islam dianggap sebagai hukum yang hidup (the living law) dan menjiwai setiap aturan tanpa memaksakan simbol sebagai suatu ciri yang otentik.

Buku yang merupakan terjemahan dari kumpulan artikel dari Bahasa Arab ini ditulis oleh Abed Al-Jabiri yang dewasa ini pemikiran dan gagasan-gagasannya dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim berkenaan dengan semakin menguatnya wacana post tradisionalisme Islam dan kajian tentang Islam Liberal.
***

TIDAK ada salahnya jika sebelum membaca buku ini akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang sosok Al-Jabiri.
Intelektual Muslim kelahiran Maroko tahun 1936 ini menempati posisi garda depan pemikiran Islam Arab kontemporer, sederajat dengan Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamd Abu Zayd, Basam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisi, Adonis. Al-Jabiri sering menulis berseri di beberapa harian ternama Timur Tengah, seperti Al-Syarqah Ausath.

Dalam suatu kesempatan pada waktu seminar di Berlin, Jerman, yang diselenggarakan oleh Federich Ebert Stiftung pada tahun 1996, Al-Jabiri bertemu dalam satu forum dengan Abdurrahman Wahid dan Fatima Mernissi yang sama-sama berbicara tentang Civil Society In the Moslem World.

Edisi Cetak Harian Kompas

Edisi Cetak Harian Kompas

Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Naqd al-Aql al’Arabi (Kritik Nalar Arab) yang mejadi perdebatan di kalangan intelektual Muslim karena berbeda dengan “Kritik Nalar Islam” Arkoun. Dalam bahasannya itu, jelas sekali pemikirannya tentang perubahan makna akal tersebut banyak dipengaruhi oleh tokoh filsafat Perancis seperti Jacques Lacan, Althussder, Jacques Derrida, Roland Barthes, dan Michael Foucoult.
Hingga kini tulisan-tulis Al-Jabiri bentuk buku telah mencapai angka belasan. Salah satu kumpulan tulisannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Baso bejudul Post Tradisionalis Islam (LKiS Yogyakarta, 2000) banyak mengulas tentang pejanlanan intelektual Al-Jabiri dan relevansi tradisi dalam pemikiran Islam kontemporer.
***

DALAM penuturannya yang cukup lugas lewat buku ini terasa kepeduliannya terhadap tradisi (al turats) cukup kental dan mewarnai uraiannya. Salah satu persoalan krusial saat ini bagi kebangkitan Islam adalah bagaimana menyikapi tradisi dalam kehidupan bernegara dan beragama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Menurut Al-Jabiri ada dua hal penting yang menyertai kekinian, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita, dan kedua adalah tradisi yang mencakup kemanusiaan yang lebih luas seperti pemikiran filsafat dan sains.

Sikap kaum Muslim terhadap tradisi mempunyai corak yang berbeda, ada yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam karena apa yang ada dalam tradisi tersebut dinilai sudah memadai. Seperti ulama konservatif dan mereka yang justru tidak memiliki pengetahuan yang memadai karena dididik oleh tradisi lain yang sudah memadai.
Kedua, mereka yang menganggap bahwa tradisi sama sekali tidak memadai dalam kehidupan modern saat ini, karena itu harus dibuang jauh-jauh. Kelompok ini adalah mereka yang berpikiran sekuler dan liberal ala Barat sehingga menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola Barat.

Kedua sikap tersebut menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang (ekstrem). Oleh karena itu Al-Jabiri mencoba mencari jalan keluar dari dua sikap ekstrem itu dengan tawaran agar kita berusaha bersikap dan berpijak pada tradisi. Namun, tentu bukan dalam kerangka tradisi kita melebur didalamnya dengan segenap gerak dan gelombangnya, tetapi lebih diperlakukan sebagai produk kebudayaan manusia, sebagai produk ilmiah yang senantiasa berkembang.

Dari sini kita belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional. Di Indonesia pemahaman tentang konsep ini sekarang sedang aktual diwacanakan sebagai “post tradisionalisme”.
***

BUKU yang terdiri dari dua bagian ini berusaha memposisikan hubungan agama dan negara dalam rujukan tradisi dan kebangkitan (renaissance). Penerapan syari’ah diulas secara mendetail, mulai salafisme sampai dengan ekstremisme, antara akidah dan syari’ah, juga diusahakan merasionalkan hukum-hukum syari’ah (hlm 168).
Beberapa kritik terhadap Mazhab Syafi’i, dan ajakan untuk menolak hukum (hudud) berdasarkan argumen ketidakjelasan, akan menjadi wacana yang menarik ketika hukum diletakkan dalam posisi agama dan negara, dengan memperhatikan tradisi dan budaya lokal.

Metode telaah kontemporer yang diajukan Al-Jabiri, merupakan sebuah terobosan yang cukup penting dan aktual dengan kondisi tanah air kita. Selama ini banyak orang yang menelaah tradisi untuk mencari sandaran otoritas belaka tanpa menyadari dimensi historis dan ideologis yang melahirkan tradisi itu. Dalam hal ini sikap terbuka Al-Jabiri terhadap demokrasi dan HAM dengan tanpa sedikit pun merasa terancam dengan kehilangan identitas keislamannya, juga merupakan satu hal yang patut diperhatikan.

Dalam hal tersebut strategi Al-Jabiri untuk mendudukkan pemikiran Barat dan Islam pada mekanisme dan historitasnya masing-masing, adalah sesuatu yang diambil dari semangat Ibn Rusyd dalam menjelaskan hubungan agama dan filsafat. Itu boleh dibilang sebagai merupakan strategi yang cukup menjanjikan.
Terlepas dari sampulnya yang kurang begitu menarik, isi buku ini akan sangat bermanfaat bagi khazanah intelektual Muslim, sebagai wacana alternatif dalam membincangkan kembali agama, negara, dan penerapan hukum (syari’ah) secara proporsional, tanpa melepaskan tradisi, pluralisme, dalam dinamika pergolakan pemikiran Islam kontemporer.
• EVA ROHILAH
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dimuat di Harian Nasional Kompas edisi 22 Maret 2002

Iseng-iseng buka file lama, tulisan lama waktu kuliah di Jogja sejak tahun 1998-2003. Di tulis ulang oleh Mbak Vidia Hapsari, anak tetangga di Pamulang Elok sekolah di MTsN Pamulang.

Masing-masing ada sejarahnya tulisan yang kebanyakan resensi buku ini. Berikut saya ulas seingatnya, kapan dimuat dan berapa honornya juga lupa hehe..

MERETAS ALTERNATIF SOSIALISME DAN AGAMA

Resensi Buku: Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat
Editor: Muhidin M Dahlan
Cetakan: 1 Juli 2000
Penerbit: Kreasi Wacana
Prolog: Muhammad Hatta

Sampul Buku

Sampul Buku

Tema wacana sosialisme religius dan Islam “kiri” kembali jadi perbincangan dalam kajian berbagai seminar maupun diskusi keagamaan. Kajian sosial ekonomi pun ikut mewarnainya dengan semkain merajalelanya kapitalis, sehingga menambah khazanah ilmu sosial menjadi tak pernah kering ataupun menjemukan. Apa yang ditawarkan Giddens dalam The Third way-nya bukanlah jawaban terhadap permasalahan yang ada dalam sistem kapitalisme. Dan mereka hanyalah bagian ‘marketing’ kapitalisme terhadap kehidupan dunia.

Tema itu pulalah yang menjadi sentral of idea dalam buku yang berjudul Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat yang disusun secara gotong royong oleh para penulis yang kebanyakan dari aktivis pergerakan mahasiswa. Lewat telaah sosiohistoris, buku ini berusaha membongkar “secara radikal” tentang segala asumsi teoritis dari opini umum selama ini tentang perspektif ideologi sosialis – marxist atau islamis dengan mempresentasikannya pada analisa yang kongkrit sekarang ini.

Prolog buku ini sangat menarik dengan memuat buah pikiran salah satu dari founding father Drs Moh Hatta (alm) yang pernah dimuat pada harian Daulat Rakyat edisi 30 September 1932. Moh Hatta, memfokuskan pada penyelesaian krisis pada masa itu yang diakibatkan oleh serangan kapitalisme dan Imperialisme barat yang mengakibatkan rakyat kelaparan dan tidak adanya keadilan serta disemangati oleh individualisme yang tinggi sebagai reaksi atas ajaran agama pada waktu itu.

Ide yang ditawarkan sebagai solusi kala itu adalah pergaulan rakyat, yaitu pergaulan hidup kolektivisme berdasar persamaan yang telah lama dianjurkan oleh Nabi Isa sejak lahir, dilanjutkan oleh Umat Islam dalam penganjur kaum buruh pada waktu itu, yaitu Karl Marx sampai Lenin.

Edisi Cetak di KR

Edisi Cetak di KR

Hal ini tentu saja sangat representatif dengan kondisi bangsa saat ini yang sedang dirundung krisis membutuhkan suatu pemecahan yang lebih mendasar dan fundamental. Kebijakan publik yang telah diambil untuk menangani krisis terkesan hanya terpatok pada perspektif ekonomis. Asumsi dasar para pembuat kebijakan, eksekutif dan legislatif serta para pengkritiknya sesungguhnya relatif sama. Perbedaan diantara mereka hanya pada prioritas teknis, anggapan intensitas hubungan antara faktor dan beberapa detail kebijaksanaan.

Secara umum buku ini dibagi dalam tiga tahap pembahasan. Pertama, pembahasan Sosialisme dipanggung ideologi dunia. Ideologi saat ini tidak bisa lagi disebut alternatif, ideologi adalah instrumental.

Alat penjelas yang kaku dan ketat yang dibutuhkan guna mengarahkan pikiran dan tindakan secara efisien. Ketidakminatan masyarakat pada sosialisme bisa kita rujuk dalam bentangan sejarahnya sendiri yang memang cukup variatif. Meretas langkah sosial demokrasi kerakyatan menurut Budi Irawanto, Imam Yudhotomo, dan Ihsan Abdullah Aktivis PRD, merupakan jalan menuju revolusi sejati.

Dengan mempelajari kegagalan kapitalisme di masa lampau, Bonnie Setiawan berusaha menyusuri paradigma alternatif pasca kapitalisme dengan menimbang tradisi kiri, yang diperkuat oleh pernyataan Dadang Juliantara yang mengaplikasikannya dengan ideologi agraria. Melacak jejak sosialisme Religius merupakan pokok pikiran pada bagian kedua, Muhammad Romzy dan Hajriyanto Y Thohari berusaha mendeskripsikan Pseudo Ideologi dan kohorensinya sosialisme dengan agama.

Secara Historis Suhendra menjabarkan secara mendetail tentang peta pergerakan sosio religius Yesus dari Nazareth suatu penghampiran sosiologis, sedangkan Jarot Doso Purwanto aktivis (HMI DIPO) lebih banyak menyoroti lanskap sosialisme religius dalam pusaran sejarah Indonesia.
(Eva Rohilah)

Ini adalah tulisan pertama kali aku dimuat di media “Kedaulatan Rakyat” pada 28 Februari 2001. Harian Lokal di Jogjakarta.

Tulisan berikutnya resensi di Harian Bernas

SULITNYA MERAJUT KEMBALI NASIONALISME YANG TERKOYAK

Judul: Nasionalisme Etnisitas (Pertaruhan sebuah wacana Kebangsaan)
Kata Pengantar: Drs Cornelis Lay MA
Tim Editor: Dr Th Sumartana, Elga Sarapung, Zuly Qodir, Samuel A Bless
Cetakan: 1, Februari 2001
Penerbit: Dian/Interfidel, kompas dan Forum Wacana
Tebal: xvii + 184

Sampul Buku

Sampul Buku

NASIONALISME sekarang ini bagiakan matahari yang redup di jagad khatulistiwa. Sinarnya nyaris habis karena digerogoti oleh primordialisme separatis dan globalisasi etnisitas. Seperti tatapan hampa seorang ibu yang kehilangan anak yang dicintainya. Menemukan kemballi anak yang hilang itu penuh perjuangan dan pengorbanan. Diwarnai ketegangan, dan ketidakpastian. Seperti halnya ketika kita nyaris kehilangan rasa nasionalisme.

Pergumulan wacana tentang nasionalisme menjadi sangat privat, orang per orang, tidak menyebar ke seluruh level masyarakat, terutama lapisan bawah. Mereka dilupakan karena keangkuhan interes-interes yang mengitari imajinasi dan berfikir kita yang disetir kekuasaan rezim. Mendiskusikan hal-hal pelik apalagi menyangkut soal kenegaraan menjadi sangat mahal, karena penguasaan public sphere sungguh luar biasa dominannya sehingga menjadi riil halangan untuk hidup dengan sikap demokratis.

Dengan semangat menumbuhkan wacana baru di Republik ini, kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi ini mencoba “memotret” sisi lain dari apa yang diperbincangkan di atas tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi ekonomi. Buku “Naionalisme Entisitas” ini menuturkan dan menganalisis proses merajut kembali nasionalisme yang sempat terkoyak dalam beberapa dekade terakhir ini.

Rumitnya jalan demokrasi di era reformasi semakin menambah runyam muka bangsa. Hal ini terlihat dari semakin merajalelanya konflik budaya yang terjadi di negeri seribu satu etnis. Selama ini budaya hampir tidak mempunyai ruang dan manifetasi dalam tekanan doktrin nasionalis kebangsaan yang semu. Ruang manifestasi budaya asli negeri ini terbuka sesudah gerakan reformasi. Namun karena tidak mempunyai mode manifestasi dan ketika sistem yang ada tidak memberi cukup toleransi, munculah beragam konflik dan kerusuhan massal di berbagai daerah.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi forum wacana muda, Kompas dan Interfidei. Suatu terobosan cerdas yang berusaha menggambarkan secara detail tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi. Tiga sudut pandang yang membelah buku ini menjadi tiga bagian.

Edisi Cetak di Harian Bernas

Edisi Cetak di Harian Bernas

Bagian pertama Nasionalisme pertaruhan sebuah definisi yang ditulis oleh LPM Lakson. Secara Historis, PM Laksono menggunakan analisa Lombart berangkat dari ruang politik menjadi serat benang budaya yang mempertalikan apa yang dibayangkan nasionalisme masa lalu dan cita-cita bersama dengan studi komparatif nasionalisme di berbagai negara. Penulis berusaha menarik kesimpulan global mengenai problema nasionalisme yang dicekik dan tercekik kekuatan etnisitas dan globalisasi, terkait dengan hal itu, Rocky Gerung menemukan problema disintegrasi atau keretakan pada tiga arena penting yaitu: Kekuasaan politik, penguasaan wilayah, dan identitas kekuasaan. Ia mengandaikan nasionalisme sebagai sebuah ideregulatif dalam filsafat berfikir Kant. Keretakan antara ketiganya akhirnya lahir dalam bentuk “krisis kebangsaan” yang berkepanjangan sampai saat ini.

Bagian kedua: Wacana kebangsaan dan warga negara, di kupas tuntas oleh Faruk HT dan Dede Oetomo, mereka lebih mempertegas kebutuhan psikis obyektif dari sebuah bangsa akan nasionalisme. Perkembangan kontemporer politik juga mempengaruhi perilaku bangsa dalam memahami nasionalisme. Yang menarik pada bagian ini adalah analogi dari sebuah Nasionalisme pada masa orde baru yang bersifat semu. Ibarat peralatan politik. Dapat dibayangkan semacam kotak politik yang dibawa kesana kemari.

Bagaimana wacana NKRI dan Federalisme di pahami tidak secara substantif lebih kepada konstruk personal elit politik saja. Bahkan otonomi daerah sebagai sebuah solusi berjalan tersendat karena perbedaan pendapatan perkapita yang menghambat.

Dalam Nasionalisme dalam globalisasi ekonomi pada bagian ketiga, lebih menekankan pada perilaku “meniru” yang menjadi image di Indonesia. Bentuk peniruan yang punya akibat serius adalah apa yang disebut sebagai bangsa yang konsumtif atas barang-barang asing yang menyumbangkan kemajuan bagi negara lain di atas harga yang mesti dibayar sendiri.

Peresensi Eva Rohilah
Mahasiswa Fak Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dimuat di Harian Bernas 13 Mei 2001

Belakangan ini ada banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan beberapa kegiatan yang kuikuti belakangan, namun entah kenapa untuk memenuhi penulisan terasa sulit mengatur waktu, beberapa hal yang ingin aku tulis adalah, Jurnal untuk Fakultas Tarbiyah, Jurnal untuk STAIN Pekalongan, Pengalaman 5 hari mengikuti event Ubud Writers and Readers Festival di Bali,15 Tahun Supernova, 4 Film pendek Wregas Bhanuteja, Digital Diplomacy CSIS, review buku2 pemikiran filsafat Islam, Materi Tafsir Alquran yang telah kuikuti setiap Rabu di Pusat Studi Alquran Pondok cabe, Resep bikin Puding, Pameran Filantropis, Perkembangan Buku Digital, Pemikiran dan refleksi hari guru nasional, dan Opini Pribadi saya tentang Truth Of Claim.

Semua itu tiap hari membayangi saya ketika bangun tidur, mana yang saya harus tulis terlebih dahulu. Deadline muncul tiap detik dan saya tidak bisa mengendalikan diri. Semua masih dalam tahap baca buku, pengumpulan data dan rangkaian struktur penulisan. Ada majalah dan buku referensi yang hilang membuat saya kalang kabut untuk bisa menuntaskan semua itu, kembali mencari pengganti dan rempong sana sini mencari buku yang hilang, belum lagi telat mengembalikan buku yang dipinjam ke perpustakaan.

Saat saya dihadapkan dengan semua itu, keasyikan di media sosial membuat saya lupa diri akan membaca buku dan tugas kewajiban menulis, dan sibuk mengamati perang medsos yang semakin hari semakin mengerikan. Saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat status tentang hal yang provokatif dan menyakitkan ormas atau organisasi mahasiswa yang sedang ramai dibicarakan. Tidak menulis status bukan berarti tidak peduli, tapi menghindari klaim bahwa saya paling benar. Politik semakin tidak menarik dan kebencian di media sosial mem1buat satu sama lain saling unfriend, unfollow.

Terlepas dari itu semua, saya gembira buku saya kedua sbg ghostwriter terbit dan akan di launching 10 november di Manado dan Jakarta. Sehabis itu jadwal menanti kemungkinan adalah buku tentang Kedaulatan pangan, juga sebagai Ghost Writer. Mungkin awal Desember baru mulai.

Saat saya galau, tiba-tiba seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Hasani Ahmad Said, saat kajian di PSQ menceritakan saat-saat terbaik menulis dan pengalaman dia waktu menyelesaikan studi S3 Doktor Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Dia bercerita tentang kisah beberapa tokoh yang mendisiplinkan diri untuk menulis.

Menurut Pak Hasan, saat paling tepat menulis bagi tiga guru besar UIN bermacam-macam. Pertama Pak Quraish Shihab, dia selalu menyempatkan menulis usai shalat subuh sampai jam 7 pagi, itu rutin dia lakukan, kalau tidak menulis ya membaca.

Lalu kedua adalah Pak Azyumardi Azra, Kapan beliau produktif menulis? Menurut Pak Hasan, Pak Azyumardi selalu berangkat jam 6 ke kantornya sejak beliau jadi dosen, padahal dia mengajar mulai jam 9 atau jam 10, nah saat sampai di kantor sampai tiba waktu mengajar, disitulah dia menulis artikel, opini dan buku.

Lalu Pak Hasan cerita sendiri kesibukannya dia saat menulis disertasi. Dalam waktu setahun dia full waktunya habis di perpustakaan dan kost-kostan, bergelut dengan buku, makan dan tidur. itu saja tidak ada aktifitas lain, selama enam bulan terakhir tambah intensif semakin mencintai buku dan melupakan cinta-cinta yang lain…ahai..”untuk itulah kenapa saya baru menikah setelah lulus menjadi doktor”.

Pengalaman dari ketiga orang guru besar UIN yang diceritakan Pak Hasan, saya catat dan garis dengan stabillo tebal, siapa tahu akan berguna buat saya saat ini atau suatu hari nanti. Mungkin itu yang saya ingin tulis hari ini dan saya berterimakasih kepada Ibu Lilik Umi Kaltsum MA, ibu nyai yang menjadi guru mengaji saat saya di Sunan Pandanaran dulu dan sekarang menjadi ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliaulah yang mengajak saya mengikuti kajian di PSQ setiap rabu dengan materi yang
menarik dan berbagai metode tafsir Alqur’an.

bersama Ibu Nyai Lilik Umi Kaltsum, Guru Ngaji di PPSPA Jogja

Foto Bersama Bu Nyai Lilik Umi Kaltsum di rumah Ning Mainunah

Selain butuh disiplin waktu, tempat yang cozy juga baik untuk menulis, seperti perpustakaan dan rumah, jangan lupa matikan gadget anda saat menulis, jangan terlalu percaya atau copy paste google, menulislah dengan murni pemikiran sendiri, cara anda sendiri, dan jangan lupa sertakan referensi.

Gedung C Lantai 4
Sudirman 8 November 2016
Pulul 14.54

Resensi Buku
Judul: Papua Antara Uang dan Kewenangan
Penulis: Lukas Enembe
Penyunting: Arif Rahman, Moksen Sirsfefa, Ma’ruf Muttaqien
Penerbit: RM Books Jakarta
Harga: Rp. 60.0000
ISBN: 9786027936546

sampul-buku-papua

Jalan Terjal Membangun Papua
(Perlawanan Halus Lukas Enembe Terhadap Kebijakan Pusat, dari Mulai Otonomi Khusus Hingga PON 2020)

Provinsi Papua memiliki sejarah panjang dalam dinamika politik di Indonesia. Belum banyak karya atau buah pemikiran dalam bentuk buku tentang bagaimana yang pahit manis membangun provinsi yang berada di Ujung Timur Indonesia ini. Baru kali ini Gubernur yang sekarang Lukas Enembe, menuliskan tentang bagaimana perjalanannya membangun Peradaban di Papua dengan aneka macam sumber saya alam dan energi yang dimiliki, konflik yang terus mewarnai dan upaya peningkatan SDM di Provinsi penghasil emas ini.

Memahami Papua Melewati Politik Kasih

Dalam bagian awal buku ini, Lukas Enembe menulis dengan penuh semangat bahwa, Papua layaknya seekor cendrawasih yang menawan mata-mata yang melihatnya, dengan keberanekaragaman warna dan segala keindahannya. Kecantikan dan Kekayaan inilah yang mendatangkan decak kagum bagi siapapun yang melihatnya, tetapi juga mendatangkan bencanan bagi yang ingin merampas kekayaannya.

Menurut Lukas Enembe, tantangan terbesarnya dalam membangun Papua adalah memutuskan rentetan sejarah yang telah melukai hati dan menyengsarakan rakyat Papua. Trauma masa lalu berupa pemberlakuan kebijakan Papua sebagai Daerah Operasi Militer (DOM)telah meninggalkan trauma psikologis yang mendalam.
Kemarahan atas pembunuhan politik, pengambilan paksa terhadap hak adat, dan juga kesengsaraan orang asli Papua membuat sebagian orang Papua menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mereka mengangkat senjata melawan pemerintah pusat, walaupun DOM telah dicabut dari Papua, namun sampai hari ini persoalan OPM belum tuntas, Seharusnya pemerintah pusat tidak menunda-nunda proses komunikasi konstruktif untuk memutus rantai kekerasan di Papua.

Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di Papua, sebelum menjadi gubernur banyak yang meragukan kemampuannya. Sudah bukan rahasia lagi, bagaimana label terhadap orang pegunungan yang melekat pada Lukas Enembe banyak orang beranggapan tak memiliki kemampuan menjadi pemimpin, label inilah yang ingin saya patahkan. “Gejolak batin saya pada saat maju menjadi gubernur adalah keinginan membuat Papua bangkit dari keterpurukannya, tekad tersebut hanya bisa terjadi jika masyarakat Papua menghilangkan dikotomi antara masyarakat pesisir dengan masyarakat pegunungan, dan masyarakat pendatang dengan masyarakat asli,” (hal 17).

Untuk itu strategi politik yang dilakukan Lukas Enembe adalah dengan menerpkan politik kasih. Bagi Lukas Enembe, politik yang diletakkan pada kepentingan sesaat hanya akan melahirkan sifat oportunis dan keserakahan. Wajah politik ini hanya akan melahirkan orang-orang yang rakus akan kepentingan dunia. Lukas Enembe ingin meletakkan kembali esensi dan nilai-nilai kristiani di dalam perpolitikan di Papua. Baginya Politik adalah jalan penuh kasih dengan tanpa lawan tetapi dengan merang kul kawan demi kesejahteraan rakyat Papua. Dia menyebutnya dengan politik kasih.

Setiap Bab berisi pelbagai Isu Strategis

Buku yang terisi dari 10 bab ini sangat padat. Setiap babnya berisi beberapa isu strategis yang selama selalu menjadi sorotan di Papua. Seperti bab tersendiri tentang otonomi khusus dan pembangunan Papua, Perubahan Pendekatan Pembangunan, Geliat Ekonomi Papua, Gerbang Mas Hasrat Papua, serta satu bab tersendiri tentang magnet Papua bernama Freeport. Dalam bab Freeport ini Lukas menyoroti tentang kontrak karya, renegoisasi kontrak, 17 tuntutan rakyat Papua, dan Smelter yang hilang.

Sekilas memang tidak ada ungkapan atau sesuatu yang aneh dalam buku ini jika anda membacanya. Akan tetapi jika anda lebih mendalam membacanya dan menyerapi setiap ungkapan hati yang diungkapkan Lukas Enembe, ada semacam kegelisahan dan perlawanan halus dari putra daerah ini terhadap beberapa kebijakan pusat, bukan perlawanan tajam tapi lebih kepada kritik dan masukan agar pemerintah lebih mendengar suara hati rakyat Papua dari otonomi khusus sampai kesiapan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional XX . Diakui Lukas Enembe, saat ini perhatian pemerintah sangat besar dan tinggi terhadap Papua pembangunan di mana-mana, namun jika anda membaca buku ini anda akan tahu betul apa sebenarnya yang diinginkan rakyat Papua.

Inilah buku yang merupakan kumpulan pemikiran dan isi hari Lukas Enembe, ditulis dengan gaya tutur sederhana dan reflektif, yang tak bermaksud berlebihan. Buku ini berusaha menjelaskan jejak pemikiran Lukas Enembe setitik demi setitik, dengan tujuan untuk mensejahterakan rakyat Papua.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok

Judul : Inilah Saatnya Bisnis Kafe Anak Muda
Penulis : Ajeng Wind dan Sabirin Wardhana
Penerbit: Grasindo
ISBN : 9786023752447

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

Investasi menjadi sebuah kata yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan anak muda. Jika dulu seseorang berpikir untuk berbisnis ketika memasuki usia dewasa, saat ini keinginan berbisnis sudah muncul pada remaja-remaja unyu. Investasi merupakan salah satu contoh terjun ke dunia bisnis dengan keuntungan yang cukup menggiurkan. Siapapun bisa berhasil di bisnis ini asalkan tahu caranya. Investasi di bidang kafe ini sangat menggoda karena tren anak sekarang yang suku dengan wifi gratisan dan mengadakan kumpul atau nongkrong bareng. Buku yang ditulis full color ini sangat menarik perhatian karena berisi cara membuat kafe dengan praktis.

Tradisi adanya kafe berasal dari negara-negara Asia, terutama Timur Tengah. Dalam sejarah tercatat bahwa di Mekkah sekitar abad ke-16 banyak berdiri kafe yang digunakan untuk minum kopi dan membicarakan banyak hal termasuk politik negeri tersebut. Tahun 1530, kafe pertama didirikan di Damaskus. Setelah itu menjamurlah kafe di negeri nabi musa tersebut. pada 1600-an kafe masuk Istanbul Turki yang pada saat itu memiliki Konstantinopel sebagai gerbang perdagangan dengan dunia barat.

Setelah menguak sejarah, buku yang terdiri dari dua belas bab ini menjelaskan secara terperinci tentang konsep kafe yang akan dikelola. Dari mulai modal bangunan, menu, sampai konsep untung rugi. semua dikupas tuntas. Ada bab tersendiri tentang bagaimana cara menemukan konsep yang unik dan jitu, persiapan memulai usaha, hingga jangan pusing dengan mikir modal.

Membaca buku ini saya jadi ingat dua kafe yang konsepnya saya suka, Kafe Filosopi Kopi di daerah Blok M dan satu lagi tempat nongkrong di Walnut Cafe Sarinah. Dua-duanya asyik dan betah berlama-lama disana. Kumpul teman maupun bersenda gurau.

Kembali ke buku ini, yang menarik adalah ada hitung-hitungan dalam menentukan harga jual minuman atau makanan di kafe. Pada bab Tips menentukan harga jual, disini ditegaskan bahwa ada tips tertentu yaitu laba minimal dua kali lipat harga pokok, jika lebih maka makin benefit. Hitung-hitungan diulas secara lengkap dari halaman 170 sampai 220. Di jamin setelah membaca buku ini anda bisa memperkirakan berapa modal yang harus dikeluarkan untuk membuka sebuah kafe.
Pada akhir tulisan, penulis memberi gambaran kepada pembaca agar jangan ragu untuk membuka usaha kafe. Dia memberi beberapa tips diantaranya bisnis harus terukur, unik dan menarik, berbisnislah dari sekarang, Jadikan hobimu menjadi bisnismu, lakukan dengan senang, modal semangat sangat penting, buktikan kecintaanmu dan stay fokus, serta yakinlah dapat mencapai target.

Jika anda ingin memulai bisnis kafe, buku ini wajib anda pegang buat referensi agar lebih siap membangun usaha yang menjadi passion kita. Selamat mencoba.

Eva Rohilah
Writerpreneur, pengamat buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Resensi Buku
Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Editor : Eka Saputra dan Nurjannah Intan
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Maret 2016
ISBN : 978-602-291-143-2
Harga: Rp.69.000

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Barangkali diantara kita pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara di luar negeri dan menemukan ciri khas negara itu dari mulai tempat wisatanya, tata kotanya bersih atau tidak, penginapan yang nyaman dan murah, akses transportasi yang layak dan tentu saja ciri khas kuliner kota di negara tersebut. Namun ketika kita menemukan hal-hal baru di negara tersebut, ada sekeping hati yang yang merindukan suasana tanah air kita Indonesia tentang segala sesuatunya yang sulit kita temukan di negeri orang.

Dari Kota terbersih Sampai Kota Terjorok

Buku yang merupakan kisah perjalanan Pandji Pragiwaksono keliling dunia melakukan Stand up komedi “Mesake Bangsaku World Tour” (MBWT) ini sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan bahasa yang ringan dan kocak seperti kita lihat Pandji berstand-up komedi yang sering kita lihat di TV atau Youtube. Bedanya ini dalam bentuk buku. Negara yang dikunjungi Pandji mulai April 2014 sampai April 2015 yaitu Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Goldcoast, Hongkong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.
Pandji memang tokoh anak muda yang luar biasa, berkat kepintarannya dia berhasil melakukan perjalanan ke 25 kota dan 10 negara untuk melakukan stand up komedi MBWT dan bertemu warga Indonesia di luar negeri yang rindu akan Indonesia, untuk melakukannya tentu butuh biaya besar, tapi berkat sponsor Garuda Indonesia, Telkomsel dan Bank Mandiri semua mimpi Pandji terlaksana meskipun di beberapa kota tertentu harus menginap bukan di hotel tapi di kedutaan dan apartemen milik orang Indonesia. Membawa tujuh orang rombongan tentu bukan hal yang mudah, tapi rombongan Pandji kompak dalam melaksanakan misi besarnya yaitu menghibur rakyat Indonesia di luar negeri. Nah di sela-sela kunjungan tersebut ada banyak cerita yang kocak dan konyol dikisahkan Pandji yang membuat anda tertawa ngakak.

Misalnya tentang kebiasaan buang air besar di beberapa negara yang tidak menyediakan air untuk membersihkannya dan harus pake tissu toilet, hampir di semua negara dan ini tentu saja sangat menggelikan, meskipun ada di beberapa negara seperti Berlin yg menyediakan air, dan untuk megantisipasinya Pandji menyarankan untuk selalu membawa botol Aqua kosong ukuran dua liter agar memudahkannya.
Permasalahan toilet ini penting dan justru di bahas Pandji di awal buku, dia melihat kebersihan suatu negara bisa dilihat dari kebersihan toiletnya. Dari beberapa negara yang dikunjunginya dia berkesimpulan bahwa kota terjorok adalah kota Guangzhouw China dan Kota terbersih adalah kota Tokyo Jepang. Tentu ini sangat beralasan, Ghuang Zhow misalnya saat di Hotel Pandji menemukan kamar mandi laki dan perempuan tidak dipisah tapi di campur, di dalam toilet juga kotor dan jorok, padahal itu toilet hotel gmn toilet umum ya, bahkan di jalanan pun di trotoar dia menemukan kotoran manusia, ini sangat menjijikkan, berbeda dgn Jepang yang sangat mengutamakan kebersihan, toilet umum di Jepang sudah sangat modern bahkan banyak tombol yang sulit dimengerti, namun demikian betah berlama-lama karena nyaman dan wangi.

Kuliner, Penginapan murah, Kenyamanan Transportasi

Pandi sangat terperinci dan menjelaskan detail kota yang dikunjunginya, kelebihan dan kelemahan setiap kota diungkap secara gamblang. Contohnya kuliner enak di setiap kota seperti sea food enak di Sidney, keju dan roti yang enak dan murah di Amsterdam, kuliner enak di Hongkong dan beberapa makanan khas Indonesia di Amsterdam, Berlin, Camden Lock, word culinery di London, dan negara lainnya yang bisa menjadi rujukan anda jika berkunjung ke luar negeri. Oh ya selain tempat kuliner, tempat belanja favorit dan toko mainan serta toko musik juga ada beberapa yang dikupas di buku ini.
Jika Singapura tempat menginapnya mahal anda akan diberi tahu di mana menginap yang murah, begitu juga di tempat lain anda akan terkaget kaget dengan mahalnya penginapan di Eropa sehingga anda harus menyiapkan uang lebih. Juga alternatif penginapan murah lainnya. Satu hal yang juga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saya selama ini adalah penggunaan transportasi massal di luar negeri, hampir di setiap kota dia menceritakan kenyamanan transportasi seperti trem di london, kereta cepat di Jepang dan China, bis bis yang nyaman di kota Meulbourne yang sejuk dan menjadi kota ternyaman di dunia, Tube di London, dan juga kegalakan dan mahalnya sopir taxi di Sydney Australia.

Indonesia, Rich country Poor Management

Dari beberapa negara yang dikunjungi, seringkali Pandji bertemu orang bule dan menanyakan tentang kesannya terhadap Indonesia, dan Pandji menemukan jawabanya dari orang Spanyol yang mengatakan bahwa “Indonesia is the Rich Country, Poor Management” dan Pandji mengakui memang benar Indonesia, Indonesia negara kaya tapi miskin manajemen pengelolaan.
Meskipun demikian, setelah mengunjungi beberapa kota dan negara di atas, Pandji menemukan kebebasan dan kebahagiaan tiada tara di Indonesia dibandingkan di negara lain. Dua rasa itu Bebas dan Bahagia tidak ditemukan Pandji di negara lain, makanya nasionalisme Pandji teruji dalam hal kecintaannya terhadap Indonesia. Menurut Pandji Indonesia harus belajar banyak dari kota London dalam menjaga keragaman. Di London warga dunia dari berbagai negara hidup damai dan teratur.

Ada satu kalimat Pandji yang saya garis bawahi dalam buku ini yaitu pendapatnya tentang keragaman, Hasil studi Wayra di Inggris tentang riset keragaman. Riset atas 240 perusahaan start-up di London, menyatakan 82,5 persen responden setuju bahwa keragaman membawa pemikiran baru dan menumbuhkan kultur inovasi. Sebanyak 97,1 % menyatakan bersedia bekerjasama dalam tim yang beragam. Jadi bukan hanya warga London itu yang beragam tapi juga bersedia bekerjasama dalam perbedaan.

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

“Kita sering disuapi jargon Bhinneka Tunggal Ika, tapi pada kenyataannya kita belum benar-benar bisa bekerjasama dalam perbedaan. Bahkan belum bisa menghargai perbedaan apalagi perbedaan pendapat,” (halaman 143).
Saya senang dengan kutipan ini dan menjadi bahan perenungan dalam setiap pergaulan kita di era media sosial sekarang ini.
Rencana “Menemukan Indonesia” ini juga ada dalam bentuk film yang akan diputar pada 30 Maret 2016 mendatang, sebenarnya saya masih ingin menceritakan banyak tentang isi buku ini tapi akan sangat panjang, dan saya sarankan untuk mengetahui lebih banyak tentang kisah Pandji dan buku ini, saya rekomendasikan Anda untuk membacanya.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Awal tahun baru ini ada beberapa buku menarik yang harus saya baca dan resensi. Ada buku yang dibeli mas Arif, ada juga yang dikirim sama penerbit. Salah satunya adalah buku yang dikirim adik kelas ku di Sinergi Jogja Chusniyatul Munawaroh yang kerja di Mizan. Buku bagus bersampul merah bata itu adalah karya Rhenald Kasali, seorang guru besar UI yang memiliki lembaga bernama Rumah Perubahan yang konsen tentang Peningkatan Sumber Daya Manusia dan mencetak pemimpin masa depan yang melakuan perubahan.

Sampul Buku Change Leadership Non-Infinito

Sampul Buku Change Leadership Non-Infinito

Melakukan perubahan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak risiko yang harus dibayar. Berbahaya, bahkan tidak jarang mengancam jiwa. Namun tetap, betapapun besarnya biaya perubahan, dunia tidak pernah sepi dari tokoh-tokoh pembawa perubahan. Dalam buku ini Rhenald Kasali begitu gamblang memnggambarkan tentang sosok pemimpin perubahan. Pemimpin perubahan (change leader) baginya adalah pemimpin yang bisa memperbaiki hidup kita, bangsa kita dan keturunan kita. Bukan yang hanya menggunakan jabatannya untuk mengimpresi, pamer kekuasaan, apalagi mewariskan kerusakan. Seorang Change Leader, kata Rhenald tidak pernah takut akan banyak risiko. (more…)

Resensi Buku
Judul: Money Talking
(Para Pakar Internasional Bicara tentang Uang dan Cara Meraihnya)
Penulis: Zaenudin HM
Penerbit: Change
Edisi: I, November 2015
ISBN: 978-602-372-051-4

Menyebut nama Napoleon Hill, rasanya sulit melepaskannya dari predikat “Bapak Kesuksesan dan Kemakmuran”. Ya, dia memang berhasil merumuskan secara detail konkret dan aplikatif prinsip-prinsip kesuksesan hidup, khususnya dalam keuangan dan ekonomi. Semua itu diperolehnya secara ilmiah dari riset panjang (selama lebih dari 20 tahun) dengan mewawancarao tokoh-tokoh besar yang sukses dalam hidup mereka.

Sampul Buku Money Talking

Sampul Buku Money Talking


Dari kehidupan orang-orang besar inilah Napoleon mendapat pemahaman tentang rahasia kesuksesan hidup, dan mencatat serta menganalisanya ke dalam banyak tulisan. Selain membagikannya ke banyak orang lewat ceramah dan pidato, Napoleon menuliskannya ke dalam sejumlah buku. Alasan utama mengapa Napoleon menulis buku tentang bagaimana cara mendapatkan uang adalah karena fakta bahwa berjuta-juta orang dilumpuhkan oleh rasa takut pada kemiskinan.
Napoleon Hill adalah salahsatu tokoh yang dimuat dalam buku ini. Masih banyak tokoh lain yang juga sukses menghasilkan uang dan menjadi konglomerat. Para pakar itu antara lain Jack Canfiield, Brian Tracy, Joe Vitale, Richard Templar, John C Maxwell, Robert T.Kiyosaki, T Harv Eker, Zig Ziglar, dan Anthony Robbins. Semua tokoh itu diulas dalam sepuluh bab di dalam buku ini.

Buku karya Zaenudin HM ini adalah buku kedua yang saya resensi. Buku sebelumnya berjudul “Rahasia Hidup 30 Orang Sehat” https://evarohilah.wordpress.com/2014/09/23/kiat-hidup-sehat-dan-bugar-hingga-lanjut-usia/. Saya cermati penulis mempunyai konsen yang berbeda tidak hanya kesehatan namun juga ekonomi dan bahkan para pemimpin dunia, tapi ada kesamaan dimana Zaenudin HM menulis tentang beberapa tokoh yang berhasil di bidangnya.
Beberapa tokoh orang kaya di dunia barangkali anda pernah mendengar atau mengenal mereka yang saya sebutkan di atas. Tidak diragukan lagi, pemikiran mereka tentang kekayaan dan kemakmuran telah teruji dan terbukti. Mereka juga terbilang sebagai orang-orang sukses dalam pekerjaan dan karier.

Bicara tentang kesuksesan dan kekayaan, mereka memiliki kapasitas dan otoritas yang tinggi. Tak heran jika orang-orang terus berburu dan mempelajari pemikiran para pakar itu lewat buku-buku bestseller mereka yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Pertanyaan besarnya: Apa inti dari ajaran atau pemikiran mereka. Tentu beragam, namun berorientasi pada pengembangan diri. Nah buku ini fokus memuat rumusan-rumusan pemikiran mereka tentang uang dan bagaimana cara meraihnya. Lewat buku ini anda mendapatkan rumusan praktis, sistematis dan aplikatif. Sehingga anda tidak perlu menghabiskan waktu yang lama serta menguras tenaga ekstra guna memahami seluruh isi pemikiran mereka.
Menarik dalam buku ini karena ada kutipan-kutipan cerdas dari para tokoh tersebut yang di kasih tanda. Sehingga kita mudah memahami pemikiran mereka. Seperti kutipan Jack Canfield yang mengatakan bahwa “untuk meraih kesuksesan, terutama mendapatkan uang, orang harus berbuat atau bertindak”.

Kutipan lain yang menarik adalah dari Joe Vita yang mengatakan bahwa “Sekarang adalah waktu yang Tepat Untuk Menciptakan Masa Depan,”. Kemudian ada juga kutipan dari T Harv Eker yang mengatakan bahwa “Orang-orang kaya tidak fokus pada masalah. Mereka fokus pada tujuan mereka.
Buku ini sangat bagus sebagai referensi anda yang berbisnis dan memiliki cita-cita yang kuat bagaimana seni mencari uang. Di tulis dengan bahasa ringan menjadikan anda dan kutipan-kutipan yang diblok membuat anda betah membaca buku ini berlama-lama. Bagi Anda yang ingin cepat kaya dan memutar otak bagaimana caranya mengelola uang. Buku ini wajib Anda baca.

Eva Rohilah
Writerpreneur, Pengamat Buku
Tinggal di Depok

Resensi Buku
Judul : Setegar Ebony
(Catatan Hati Seorang Istri yang dikhianati Suami)
Penulis : Asih Karina
Editor : Iqbal Dawami
Proofrader : Arif Syarwani
Penerbit : Penerbit Alvabet
Edisi : I, November 2015
Harga : 59.800

Sudah hampir seminggu aku dikirimi buku penerbit buku Alvabet untuk meresensi dua buah buku, tapi belum juga aku sentuh karena rutinitas kantor yang banyak deadline menjelang akhir tahun membuatku tak sempat membaca buku. Akhir pekan ini aku pun dengan sepenuh hati membacanya dan aku kaget luar biasa. Buku yang dikirim alvabet bagus banget, kisah nyata dari seorang penulis di Malang, Asih Karina tentang cerita pribadinya yang mengalami kegagalan rumah tangga dan pengalaman pilunya ketika dikhianati suami. Buku ini kulahap dalam tiga jam dan akupun nangis bombay terharu….

Sampul Buku Setegar Ebony

Sampul Buku Setegar Ebony

Begitu banyak pernikahan hancur, sebelum semua yang diimpikan terwujud. Banyak pengkhianatan justru datang dari orang tercinta. Tak heran imajinasi pernikahan sebagai gerbang kehidupan penuh kebahagiaan dan keindahan dalam gelora cinta dan kasih sayang, dalam sekejap sirna begitu saja. Tetapi apakah kebahagiaan lenyap bersamaan dengan bubarnya pernikahan?

Cerita berawal dari kisah asmara yang meluap-luap menjelang pernikahan dengan setting cerita di daerah Malang Jawa Timur. Asih karina atau biasa dipanggil Karin, menabung lama untuk mempersiapkan pesta pernikahan yang bersahaja, baju pengantin, hantaran dan souvenir serta undangan pun telah disiapkan menjelang hari yang paling ditunggu semua wanita. Usai menikah bulan madu ke Bali pun dijalani Karin dan suaminya Ardhan.

Usai bulan madu, Karin pun tinggal di rumah mertua. Masa-masa yang berat karena harus ia jalani meninggalkan ibunya seorang single parent. Setiap hari dia mengantar kerja suami dan suaminya pun rajin sms, layaknya pengantin baru. Penuh kemesraan, perhatian dan pelukan kasih sayang. Hingga bebeberapa waktu kemudian Karin melakukan test pack dan dia pun dinyatakan positif hamil. Kegembiraan ini disambut bahagia oleh pasangan suami istri. Karin pun jaga kesehatan dan suaminya tambah rajin bekerja.

Namun, apa yang dinyana. Di saat kandungan menginjak enam bulan dan semakin besar. Sang suami Ardhan jarang pulang dan seringkali Karin menunggu sms yang tanpa balas. Berulangkali di Phpin dan tak ada kepastian hingga akhirnya sang suami pulang dan berkata terus terang, jika dirinya jauh hari sebelum menikah dengan Karin sudah punya istri dan anak. Bagai petir di siang bolong, Karin mendengar semua ini dan dia tidak terima. Ia masih berharap jika suaminya akan kembali padanya dan meninggalkan perempuan yang sudah dinikahinya. Ardhan minya cerai dan berjanji tidak akan memilih Karin maupun Kadek, istri pertamanya. Meskipun Ardhan berjanji akan membiayai persalinan Karin, namun Karin sudah terlanjur kecewa dan hampir putus asa. Untung saja ibunya banyak memberinya nasehat dan menguatkannya agar ia bisa tabah menghadapi cobaan.

Setegar Ebony adalah sekeping mozaik kehidupan. Lebih dari sebuah karya sastra, curahan hati, atau sebuah proyeksi kemarahan hati yang luka. Kisah ini adalah sebuah perenungan. Tergolong ke dalam jajaran karangan semi autobiografis lainnya. Ia tidak berangkat dari kegamangan wanita yang terombang-ambing pilihan kehidupan seperti Novel The Bell jar, karya Sylvia Plath ataupun The Awakening karya Kate Chopin. Cerita ini menggaris bawahi lara sebagai sebuah titik awal perjalanan panjang tokoh utama. Pembaca akan diajak berselancar memahami relung hati seorang wanita sederhana dengan mimpi sederhana.

Sebagaimana laiknya karangan semi autobiografis, sudut pandang “aku” menjadi sebuah titik yang menjadikan cerita bergulir dengan indah. Penulis mampu dengan jujur dan gamblang menuturkan desah resah, risau galau, hingga cenung renung yang semuanya merupakan sebuah proses panjang bangkit dari kejatuhan. Setiap untaian kisah adalah ratusan mozaik kecil yang menyatu dalam jalinan kisah yang utuh dalam alur maju mundur yang unik.
Selain itu, cerita ini dewasa dan mampu mendewasakan pembaca. Tokoh utama, Karin dalam buku ini mengajak kita untuk menjerit bersama dalam perih tak terperi yang membuat siapapun tak hendak melanjutkan hidup. Namun dalam kehendak ilahi, ia memilih kembali mengadukan semua yang terjadi. Karena itu penulis mampu mencapai suatu nilai religius tertinggi yaitu keikhlasan.

Setegar Ebony ditulis dengan gaya bertutur penulis yang cenderung puitis, ilustratif dan cerdas juga diwarnai oleh sentuhan humor pribadi penulis. Sebuah gaya bahasa yang membuat kita ingin membaca cerita ini hingga akhir.

Meskipun penulis menawarkan tragedi sebagai sebuah refleksi katarsis, humor yang terselip disana-sini sebagai sentuhan karakter penulis menjadikan cerita ini sebuah perenungan unik akan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan luka melalui tawa. Cerita ini benar-benar terlahir dari hati penuh cinta dan dipersembahkan dengan penuh cinta.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana ending cerita, saat Karin melahirkan tanpa didampingi suami dan kesedihan yang tiada akhir. Saya persilakan pembaca membaca buku ini untuk mengetahui apakah happy ending atau tidak. Karena banyak hikmah yang dapat saya petik dari buku atau novel ini untuk membangun kehidupan rumah tangga dengan atau tanpa suami. Selamat membaca

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok Jawa Barat

http://www.evarohilah.wordpress.com

Resensi Buku

Judul : The Innovators (Kisah Para Peretas, Genius, Maniak yang Melahirkan Revolusi Digital)
Penulis : Walter Isaacson
Penerbit : Bentang Pustaka, Jogjakarta
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : Eka Saputra dan Nurjanah Intan
Edisi : September 2015
Harga : 120.000

Sampul Buku

Sampul Buku

Ketika anda pertamakali membaca buku ini anda akan disuguhkan diagram tabel lengkap awal sejarah terciptanya mesin komputer dari jaman pertama kali ada ide sampai dengan perkembangan terkini industri teknologi komputer terkini. Buku ini luar biasa lengkap bagai kamus berjalan. Walter Isaacson bukan sekedar menganalisis perangkat keras dan perangkat lunak yang menghasilkan revolusi digital, melainkan juga menelaah para perempuan dan laki-laki yang menelurkan ide-ide di balik aneka gawai. Isaacson membeberkan kisah keangkuhan dan idealisme, keserakahan dan pengorbanan serta kompleksitas hakiki di balik pengembangan teknologi yang sekilas terkesan sederhana. Pemaparan buku ini lugas dan terang benderang. Isaacson mahir mengurai benang kusut memori dan dokumentasi untuk kemudian dia rajut kembali menjadi suatu cerita yang indah dan menarik untuk dibaca. Buku ini memotret teknologi beserta ruang yang mewadahinya.

Di mulai dari kisah Ada Lovelace yang sudah meninggal 150 tahun lalu yang menulis surat penuh rasa bangga betapa tepat intuisinya mengenal alat kalkulasi yang kelak menjadi komputer serbaguna. Mesin indah yang tidak hanya memanipulasi musik mengolah kata-kata dan mengombinasikan berbagai simbol dengan ragam tak terbatas.
Mesin semacam itu muncul pada 1950-an dan sepanjang tiga puluh tahun berikutnya, lahir dua inovasi historis yang melahirkan perubahan revolusioner dalam hidup kita: microchip yang memungkinkan pembuatan kompter kecil untuk digunakan di rumah sebagai barang pribadi serta jaringan berbasis paket switching yang memungkinkan penyambungan komputer tersebut ke jejaring web.

Penyatuan antara PC dan internet lantas memekarkan kreativitas digital, aktivitas berbagai konten, pembentukan komunitas, dan jejaring sosial secara besar-besaran. Temuan tersebut mewujudkan – meminjam istilah Ada Lovelace sebagai sains yang puitis jalinan indah antara kreativitas dan teknologi, tak ubahnya anyaman dari mesin tenun Jackuard.

Buku ini terdiri dari 12 bab yang membahas komputer dan internet dari hulu ke hilir. Dari mulai pencetus awal yaitu Ada, Countess Of Lovelace di bab 1, bab 2 tentang penemu komputer, bab 3 tentang pemrograman, bab 4 membahas Transistor dan bab 5 tentang Microchip. Penemu video game dan internet di kupas tuntas di bab 7 dan 8, sedangkan bab 9 dan 10 membahas tentang Personal komputer dan perangkat lunak. Memasuki bab 10 dan 11 ada akan diajak mengulik sejarah Daring dan world wide web dan sinopsis buku ini di bab 12.

Sederet nama tokoh sang inovator yang banyak tidak diketahui namanya oleh khalayak banyak diungkap di sini dari mulai Ada, Countess of Lovelace pada tahun 1843, Vannevar Bush, Alan Turing, john Von Neumann, Grace Hopper, Robert Noyce, JCR Liclider, Paul Baran, Ken Kesey, Ted Nelson, Stewart Brand, Larry Roberts, Alan Kay, Paul Allen dan Bill Gates pendiri Microsoft, Steve Jobs memperkenalkan Apple dan Macintosh, Linus Torvalds perilis Linux, Tim Barners Lee penemu World Wide Web (www), Larry Page dan Sergey Brin meluncurkan Google, Ev Wulliams memunculkan Blogger hingga Jimmy Wales penemu wikipedia pada 2011.

Komputer dan internet tergolong temuan penting pada zaman kita. Namun hanya segelintir orang yang mengetahui siapa pencipta keduanya. Kebanyakan inovasi di era digital adalah hasil kolaborasi banyak orang hebat yang terlibat di dalamnya, sebagian panjang akal dan segelintir diantaranya sangat genius.

Buku ini memaparkan kisah para pionir, peretas, penemu, dan wirausahawan dalam revolusi digital di dunia. Siapa saja mereka, bagaimana cara berpikirnya, dan apa latar belakang kreativitasnya yang menakjubkan. Buku ini juga menarasikan cara mereka berkolaborasi dan apa sebabnya kerjasama tim justru membuat mereka semakin kreatif. Wajib di baca bagi anda yang ingin melek tentang dunia teknologi yang sekarang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia kita. Juga bagi para pelaku industri kreatif di era start-up dan aplikasi ini yang melahirkan entrepreneur-entrepreneur andal di bidang teknologi komputer dan komunikasi.

Eva Rohilah, Writerpreneur. Tinggal di Depok
Blog: http://www.evarohilah.wordpress.com

Usai datang ke acara launching babarafi di Fatmawati saya diundang mbak Nilam di acara launching bukunya tentang womanpreneur di @america, Pacific Place SCBD. Acara itu dilaksanakan hari jum’at jam dua siang. Aku sengaja izin ke kantor untuk menghadiri acara yang menurutku menarik, karena yang dilaunching adalah E-Book bukan buku cetak kayak biasanya. Para pembicara juga keren ada Novita Tandri Owner Tumble Tots, Yulia Astuti Owner Moz5 Salon, dan Ninan Moran Owner Go Girl. Acara dibuka oleh perwakilan dari duta besar Amerika.

para pembicara

Narasumber

Acara yang dimulai tepat waktu ini diawali dengan sambutan dari Nilam sari yang menceritakan tentang tentang ide awal menulis buku, sekilas tentang kebab babarafi dan memeperkenalkan nara sumber yang merupakan teman-teman dekatnya sesama womenpreneur. Tidak lama kemudian diskusi dilanjut oleh MC. Para narasumber bicara bergiliran, yang pertama adalah Nina Moran yang menceritakan suka dukanya menjadi womenpreneur. Dia pernah terjebak pada tagihan pajak sampai miliaran, kemudian ibu Yulia yang memiliki anak dengan kelainan tapi sabar mengurus salon muslimah yang tersebar di berbagai provinsi. Dan yang terakhir dan bersemangat adalah Novita Tandri. Perempuan sexy ini menceritakan suka dukanya mengelola Tumble Tots hingga pengalamannya mengisi acara parenting di radio Sonora. Setelah para narasumber menyampaikan materi dan tanya jawab, barulah Nilamsari tampil kedepan dan menceritakan pengalamannya menjadi womanpreneur.

Nilamsari, Owner Kebab Babarafi

Nilamsari, Owner Kebab Babarafi

Pada saat diskusi ada yang menarik dari para narasumber, yaitu tentang jatuh bangun mereka membangun perusahaan. Peran orang terdekat seperti keluarga, suami, anak-anak, kakak dan lain sebagainya diceritakan secara mendalam oleh para womenpreneur. Ini adalah momen yang luar biasa, kedua narasumber yaitu Nina Moran dan Yulia sampai menitikkan air mata. Meskipun mereka tegar dan kokoh hati mereka terenyuh mengingat jasa besar orang-orang terdekat yang mendorong perusahaannya. Ada momen yang menarik saat Nilamsari mendiskusikan bukunya dan ditemani Hendy Setiono,sang suami yang selalu mendukungnya. Pak Hendy mengecup mesra Ibu Nilam di hadapan hadirin, ini momen sangat priceless menurut saya, saya teringat suami saya mas Arif yang juga selalu mendukung segala macam usaha saya selama ini. Momen sekejap ini mengharukan, untung saya abadikan.

Nilamsari tertawa bahagia Habis dikecup Hendy Setiono

Nilamsari tertawa bahagia Habis dikecup Hendy Setiono

Usai diskusi tentang buku tibalah saat tanya jawab dan launching buku Womenpreneur. Acara yang dipandu MC ini berlangsung meriah karena para peserta launching buku juga antusias dan memberikan pertanyaan menarik berdasarkan pengalaman masing2 merintis usaha.

Launching Buku Womanpreneur karya Nilamsari

Launching Buku Womanpreneur karya Nilamsari

Selesai acara saya sempatin foto bareng penulis. Para peserta diskusi juga disuguhi black kebab yang enak banget. Selamat buat mbak Nilamsari. Semoga bukunya berguna buat para perempuan yang merintis usaha di Indonesia.

Bersama teman-teman

Bersama teman-teman

Resensi Buku
Judul: Hidup Seimbang Hidup Bahagia
Penulis: Akhirudin DC, MA
Penyelaras bahasa: Fajar Kurnianto
Genre: Pengembangan Diri
Cetakan: I, September 2015
Ukuran: 13 x 20 cm
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-71503-4-8

Jarang ada buku motivasi yang membahas keseharian yang paling dekat dalam hidup kita yaitu tentang keseimbangan hidup, namun Sang motivator Akhirudin DC menjelaskannya secara mendetail dan gamblang disertai contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menjalani kehidupan, manusia membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan akan menghasilkan kemampuan diri, suatu kekuatan yang sangat diperlukan untuk bertanggung jawab penuh atas pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, sosial, dan spiritual. Dengan memiliki keseimbangan, seseorang dapat selalu siap dan berdaya penuh untuk melayani semua urusan kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Keseimbangan inilah sarana untuk menggapai kebahagiaan dalam hidup.

Sampul Buku

Sampul Buku

Melalui buku ini, sang penulis, seorang trainer muda berbakat dalam bidang motivasi dan pengembangan diri, memandu pembaca untuk menemukan cara menggapai keseimbangan dengan bekerja tanpa mengabaikan aspek-aspek kehidupan yang seringkali dipertentangkan, seperti kehidupan pribadi, keluarga, spiritual, dan sosial. Buku ini dapat membantu Anda untuk memotivasi diri, meningkatkan manajemen diri, dan meningkatkan kualitas hidup melalui prinsip keharmonisan

Dr. Ir. H. Haikal Hassan, S.Kom, MM, CHt, MNLP, pengasuh Program Khazanah Trans7, dan seorang master trainer mengatakan dalam endorsementnya “Hidup Seimbang Hidup Bahagia adalah sebuah refleksi diri, dan karena itu buku ini sangat enak dibaca. Tidak berlebihan kiranya ia mengatakan demikian, karena penuturannya yang mudah dipahami Buku ini akan mengajak pembaca untuk menapaki kesimbangan hidup dan menjaga ikatan spiritual lebih kuat. Memprovokasi siapa saja untuk hidup lebih baik.

Buku ini ringan dan enak dibaca. Terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama tentang Balance Life=Beautiful Life, bagian kedua The Law Of Balance berisi tentang pengertian secara mendasar apa itu keseimbangan, berbagai implikasi makna keseimbangan dalam kehidupan manusia seperti keseimbangan antara ilmu dan amal, keseimbangan antara rasa takut dan harapan, keseimbangan dalam menjalankan ajaran agama dan keseimbangan dalam Alam semesta.

Di Muat di Majalah Monitor Daily (Monday) Edisi November 2015

Di Muat di Majalah Monitor Daily (Monday) Edisi November 2015

Salah satu yang dibahas dalam bagian dua adalah keseimbangan dalam diri manusia sebagai mahluk individu dan sosial, keseimbangan hidup dan kerja juga keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Selain itu diungkapkan juga hubungan antara keseimbangan kehidupan kerja dan produktivitas.
Saya mengenal penulisnya Akhirudin sejak masih mahasiswa dan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan dikenal sebagai sosok yang rajin dan ulet juga pintar berorganisasi. Menurut Akhirudin, dalam kesimpulannya salah satu sifat atau karakteristik idela manusia adalah mahluk yang selalu ingin memperbaiki dan mengembangkan potensi dengan berbagai macam cara, diantaranya dengan munculnya berbagai macam pemikiran atau ideologi-ideologi yang semua itu berusaha untuk mengubah kehidupan ini menjadi lebih baik. Namun terkadang pemikiran-pemikiran atau ideologi tersebut hanya melihat dari satu sisi tanpa melihat sisi lain.

Sikap seimbang memiliki beberapa makna yang sejalan dengan sikap pertengahan, atau tawazun. Sedangkan menurut Islam konsep keseimbangan dapat diartikan sebagai sikap adil yang tidak berat sebelah dalam segala hal, menempatkan sesuatu pada posisinya dan secara proporsional. Keadilan tersebut dapat bersifat hubungan manusia dengan Allah (habl min Allah) dan hubungan manusia dengan sesama manusia (habl min an-naas) yang juga mencakup di dalamnya hubungan manusia dengan alam semesta.

Setelah membaca buku ini, pembaca akan selalu optimis dalam mencapai kebahagiaan dan dalam menghadapi kehidupan dengan mengenali diri sendiri, termasuk lingkungan yang selama ini kita anggap kurang peduli. Penulis yang juga merupakan Direktur AD Consulting berpengalaman memberikan training di berbagai Perusahaan Nasional dan Internasional, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), instansi pemerintah pusat dan daerah dengan spesialis dalam pembentukan karakter pribadi dan budaya perusahaan.
Buku ringan dan tipis ini wajib anda miliki sebagai panduan sehari-hari hidup Anda. Selamat membaca!

Eva Rohilah
Pecinta buku tinggal di Depok
Blog: http://www.evarohilah.wordpress.com

Resensi Buku

Judul : Sahabat Muhammad (Kisah Cinta dan Pergulatan Iman Generasi Muslim Awal)
Penulis : Nizar abazhah
Penerjemah : Taufik Damas dan M.Abidun
Penyunting : Juman Rofarif dan Dedi Slamet Riyadi
Penerbit : Zaman
ISBN : 978-602-1687-15-4

Sampul Buku

Sampul Buku

Banyak orang kagum setelah membaca sejarah para sahabat Rasulullah SAW. Karena berjumpa langsung dengan Rasulullah mereka memiliki posisi istimewa yang tak bisa dibandingkan dengan generasi sesudahnya. Tak sedikit yang bertanya-tanya bagaimana sebenarnya kondisi mereka, orang-orang yang tegar dan kukuh oleh dera-siksa, hinaan, pengucilan, dan segala bentuk intimidasi dari orang-orang kafir, demi mempertahankan akidah? Para sahabat yang telah beriman akan menjaga komitmen keimanan mereka, apapun resikonya. Tidak ada yang mereka harapkan selain syahid di hadapan Allah SWT.

Buku yang terdiri dari delapan bab ini menjelaskan secara terperinci bagaimana kisah para sahabat nabi baik yang berada di Mekkah maupun di Madinah, pertamakali masuk islam dan berjuang bersama Nabi Muhammad SAW. Di mulai dari bab pertama tentang Pancaran Cahaya, sang penulis buku ini menceritakan dengan indah bagaimana ketika Nabi sedang mendapat Wahyu di Gua Hira dimana permulaan Iman itu menjadi dasar. Pada bab kedua, nabi menceritakan tentang para sahabatnya yang menetap di Mekkah seperti Bilal, Abu Bakar, Thalhah ibn Ubaidillah, Keluarga Yasir, Mush’ab ibn Umair, Zubair ibn Awam, Sa’ad Ibn Abi Waqqash, Umar Ibn Khattab hingga perjalanan pertama nabi ke Habsyah.

bab ketiga, Rasulullah SAW menceritakan tentang beberapa rangkaian peristiwa penting seperti tahun berkabung dimana ia kehilangan orang-orang tercinta hingga peristiwa Isra Miraj yang bersejarah. Sedangkan pada bagian keempat Nizar Abazhah menceritakan tentang cakrawala baru dimana mulai diceritakan kekhawatiran kaum Quraisy dan perjalananan nabi dengan Sahabat Abu Bakar.

Cahaya Islam di Negeri Hijrah adalah bab kelima buku ini dimana pada bagian ini mulai terasa bentuk-bentuk persaudaraan di kota Madinah. Dikupas beberapa kisah sahabat dalam bab ini diantaranya adalah Abdurrahman ibn Auf, Salman Al-Farisi, Abu Qais, Abdullah Ibn Salam, Mikhyariq, Abu Hurairah dll.

Bab keenam buku ini menjelaskan tentang kisah setelah Penaklukkan Makkah. Pada bab ini dijelaskan bagaimana delapan tahun berlalu sejak Rasulullah pergi dari Mekkah ke Madinah dalam keadaan terusir, hina dan teraniaya. Kaum Musyrik Quraisy mengejarnya dengan senjata terhunus, mengadakan sayembara dan terus berusaha mengganggu ketentramannya. Kini setelah delapan tahun pergi meninggalkan tanah air, Rasulullah dan kaum muslim kembali ke kota Mekkah sebagai penakluk.

Pada bagian ketujuh buku ini ada tiga sub bab yaitu Kematian yang mengejutkan, Khalifah Rasulullah dan sifat-sifat sahabat. Ada banyak sifat-sifat sahabat nabi yang patut diteladani. Pemaparan buku ini yang menceritakan para sahabat nabi dengan tutur kata yang mudah dicerna dan dengan bahasa yang apik menjadikan buku ini layak dibaca disaat kita senggang. Kisah tauladan para sahabat nabi memacu keimanan kita untuk senantiasa menjaga akidah dan ahlak kita di masa sekarang ini. Bagi anda yang suka sejarah nabi dan bagaimana generasi muslim pertama ini berjuang di jalan Allah, Anda wajib membaca buku ini.

Eva Rohilah
Pecinta buku tinggal di Depok
Twitter: @evarhl

Resensi Buku

Judul : Psikologi Sufi (Untuk Transformasi Hati, Jiwa dan Ruh)
Penulis : Robert Frager,Ph.D
Penerjemah : Hasyimah Rauf
Penyunting : Qamaruddin SF
Penerbit : Zaman
Cetakan : I, 2014

Sampul Buku

Sampul Buku

Kebanyakan para sufi meyakini bahwa terdapat kebenaran mendasar dari seluruh agama. Agama-agama besar memiliki inti ajaran yang sama. Dalam buku yang bersampul putih kecoklatan ini, , pembaca akan memfokuskan diri pada tiga konsep dasar psikologi sufi yaitu hati, diri dan ruh. Hati maksudnya adalah hati spiritual. Menurut Psikologi sufi, hati menyimpan kecerdasan dan kearifan kita yang mendalam. Ia lokus makrifat, gnosis atau pengetahuan spiritual. Cita-cita para sufi adalah menumbuhkan hati yang lembut dan penuh kasih sayang, dan juga menumbuhkan kecerdasan hati. Ini kecerdasan yang lebih mendalam dan mendasar daripada kecerdasan abstrak akal. Jika mata kita terbuka , kita dapat mendengar kebenaran yang tersembunyi dibalik kata-kata yang diucapkan.

Konsep yang kedua adalah Diri. Dalam psilologi sufi, diri, jiwa, atau nafs adalah sebuah aspek psikis yang pertama sebagai musuh terburuk kita. Namun ia dapat tumbuh menjadi alat yang tak terhingga nilainya. Tingkat terendah adalah nafs tirani. Ia adalah seluruh kekuatan dalam diri yang menjauhkan kita dari jalan spiritual. Di sisi lain tingkat tertinggi nafs dikenal sebagai nafs yang suci. Pada tingkat ini, kepribadian bagaikan kristal murni dan sempurna yang memantulkan cahaya ilahi hampir tanpa cacat dan penyimpangan.
Ruh, konsep yang ketiga mencakup sebuah model ruh manusia yang didasari oleh prinsip evolusi. Ruh memiliki tujuh aspek atau dimensi: mineral, nabati, hewani, pribadi, insani, rahasia dan maharahasia. Setiap diri kita memiliki tujuh tingkat kesadaran. Tasawuf bertujuan agar ketujuh tingkat kesadaran ini bekerja secara seimbang dan selaras.

Buku yang terdiri dari delapan bab ini menjelaskan secara mendetail tentang ketiga konsep psikologi diatas disertai kisah-kisah dan obrolan sufi yang membawa kedamaian dalam hati. Membaca setiap lembarnya buku ini kita semakin diajak secara mendalam tentang beberapa aspek dalam kehidupan orang-orang sufi. Dalam buku ini juga kita akan memahami beberapa istilah dalam psikologi sufi seperti menjadi seorang Darwis, Mursyid dan menghormati Syekh yang sangat dihormati.

Buku yang ditulis oleh Robert Frager, Ph.D ini kaya akan renungan dan nasihat bagaimana seharusnya menjadi seorang sufi. Penulis yang meraih gelar doktor psikologi sosial dari Harvard Ubiversity ini juga seorang syekh atau mursid. Ia menjadi Presiden Tarekat Jerrahi California dan sudah 25 tahun menjadi pembimbing spiritual.

Buku ini menjadi referensi wajib bagi Anda yang ingin mendalami tentang sufi dan seluk beluk di dalamnya. Juga menjadi bacaan alternatif bagi anda yang mungkin terlalu disibukkan dengan urusan duniawi dalam aktivitas sehari-hari. Anda akan mengalami kesegaran dalam berfikir dan berusaha merenungkan kembali tentang hakekat hidup seorang sufi. Selamat Membaca.

Eva Rohilah
Pecinta Buku, tinggal di Depok
Twitter: @evarhl

Judul : Home Sweet Anywhere (Petualangan Menakjubkan dan Menginspirasi dari suami istri yang menjalani Hidup dengan Berkeliling Dunia)
Penulis : Lynne Martin
Penerjemah : Endang Sulistyowati
Editor : Nunung Wiyati
Penyelia : Chaerul Arif
Proofreader : Arif Syarwani
Cetakan : I, September 2014
Penerbit : Pustaka Alvabet
Harga : Rp.65.000

Buku bersampul biru laut ini merupakan kisah pribadi sang penulis Lynne Martin yang sempat menghebohkan Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu. Berawal dari kenekatan Lynne dan suaminya Tim Martin untuk menjual rumahnya di California dan melakukan traveling ke beberapa negara, meninggalkan anak dan keluarga terdekatnya. Hal ini tentu saja mengejutkan keluarganya, namun Lynne dan Tim merencanakan semuanya dengan penuh perhitungan.

Sampul Buku

Sampul Buku

Lynne dan Tim adalah sepasang suami istri yang menemukan cintanya kembali di masa tua mereka. Sebelumnya Lynne pernah menikah dengan Guy, namun Guy meninggal karena sakit, sedangkan Tim sudah bercerai dari istrinya. Sebelum mereka menikah, pada tahun 1970an, mereka pernah berpacaran namun belum berjodoh. Pada saat Guy sudah meninggal akhirnya Lynne memutuskan untuk menikahi Tim dan keduanya memutuskan untuk melakukan traveling dan menuliskan pengalamannya di sebuah blog.

Memutuskan menjual rumah, tentu adalah keputusan yang sulit. Apalagi ia harus meninggalkan semua barang dan kenangannya selama bertahun-tahun. Untuk itu mereka menyumbangkan sebagian besar barang yang ada di rumah ke lembaga amal dan koleksi pribadi mereka ke anak-anaknya. Untung saja selama bekerja sebagai humas sampai sekarang, Lynne memiliki perencana keuangan terpercaya yang mengatur keuangan dan investasinya, serta melaporkannya setiap bulan. Sehingga perjalanannya keliling dunia juga sudah mendapat persetujuan dari perencana keuangannya.

Lynne juga memiliki suami, Tim yang cerdas. Saat Lynne mempersiapkan segala sesuatunya seperti surat-surat kelengkapan dan packing pakaian, Tim sudah memesan apartemen, mobil dan kebutuhan lainnya di negara yang akan dikunjunginya. Hal ini tentu memudahkan keduanya mempersiapkan segala akomodasi yang dibutuhkan.

Lynee Martin

Lynee Martin

Buku ini terdiri dari Tiga belas bagian yang menceritakan pengalamannya di tiap negara yang dikunjunginya. Negara yang pertama dikunjunginya adalah Meksiko. Keduanya pun menjalani petualangan baru yang menakjubkan, dari mengunjungi piramida yang menjulang di Meksiko, menjelajahi pasar tradisional di Turki, menyaksikan rumah-rumah Georgia yang berkilau di Irlandia, hingga mendatangi pusat grosir olahraga di Italia. Argentina, Prancis, Inggris, Jerman, Portugal, dan Maroko telah pula mereka singgahi. Keduanya hidup dari satu apartemen ke apartemen lain, dari satu rumah sewaan ke rumah sewaan lain. Dengan koper kecil, dua komputer, selera untuk pengalaman baru, kebersamaan, serta fleksibilitas untuk merasa berada di rumah sendiri di hampir setiap situasi, keduanya menjalani hidup dan cinta tanpa batas.

Pengalamannya di setiap negara ia tulis dalam setiap bab di buku ini. Petualangannya memahami warga setempat, perkenalan dengan orang-orang baru, kebiasaan supir taxi di berbagai negara, kendala makanan, hingga kendala bahasa yang mereka hadapi untuk berkomunikasi dengan negara yang dikunjunginya ia jelaskan secara mendetail, sehingga pembaca seolah-olah merasakan pengalaman mereka.
Tulisannya yang awalnya ia muat di blog homefreeadventure.com ini menginspirasi dan membuat orang berdecak kagum. Home Sweet Anywhere adalah sebuah petualangan romantis yang sangat indah. Lebih dari itu, inilah peta jalan bagi siapa pun yang ingin mewujudkan impian untuk hidup berkelana tanpa batas. Pada Oktober 2012, Wall Street Journal memuat pengalaman mereka dan mendapat tanggapan positif dari pembaca, sehingga Lynne pun diundang dan diwawancarai berbagai media tentang pengalamannya.

Kisah suami istri ini mengilhami banyak orang terutama mereka yang sudah pensiun untuk merencanakan rencana mengisi hari tuanya dengan berkeliling dunia atau mengunjungi tempat-tempat yang belum dikunjungi semasa hidupnya. Sekarang Lynne dan Tim tidak memiliki alamat permanen dan berniat untuk tetap seperti itu sampai roda kehidupannya ber-henti berputar sekitar tiga puluh tahun ke depan.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi anda yang suka berpetualang atau traveling, bisa juga sebagai kado hadiah ulang tahun bagi orang tua atau saudara terdekat anda. Dilengkapi satu bab sendiri tentang apa saja yang harus dipersiapkan selama perjalanan, buku ini menjadi panduan lengkap bagi para traveler.

Eva Rohilah
Pecinta buku tinggal di Depok
Twitter: @evarhl

Resensi Buku
Judul : Rahasia Hidup Sehat 30 orang Tertua di Dunia
Penulis : Zaenuddin HM
Penyunting : Abu Ibrahim
Cetakan : I, Juni 2014
Penerbit : Pustaka Inspira

Pertamakali melihat buku ini saya melihat dari judulnya yang menarik, yaitu Rahasia Hidup Sehat 30 orang Tertua di Dunia dengan sampul foto seorang lelaki setengah baya yang sedang bersantai di taman terbuka hijau, terlihat cerah, bugar dan bahagia.

Sampul Buku

Sampul Buku

Buku ini merupakan rencana jangka panjang dari sang penulis, Zaenudin HM seorang jurnalis yang pernah meliput di redaksi kesehatan Harian Merdeka. Analisis yang mendalam dan berbagai hasil riset tentang rahasia sehat orang-orang tertua di dunia di paparkan dalam buku ini dengan sangat gamblang.

Terdiri dari Tiga bagian. Bagian pertama berisi tentang rahasia orang-orang berumur panjang dan tetap sehat. Menurut Zaenudin, ada 11 resep sehat 30 orang tertua di dunia, diantaranya yaitu pola pikir positif, bersykur dan berdoa, pola makan sehat, makan secukupnya, rajin berolahraga, aktif bergerak, kebiasaan jalan pagi, gemar makan tomat, hidup mandiri, gemar membaca buku dan suka memberi sedekah.

Jus Tomat

Jus Tomat

Pada bagian kedua, Buku ini mengisahkan tentang Kisah hidup orang-orang tertua masa kini. Dalam bagian ini diulas tentang 30 orang yang memiliki umur panjang, kebanyakan adalah yang memecahkan rekor orang yang tertua di dunia oleh Guinnes World Records. Rata-rata usia mereka adalah diatas 110 tahun. Dari 30 orang itu yang terbanyak adalah orang Jepang, dimana kebiasaan orang Jepang yang memiliki porsi makan sedikit dan cara pengolahan makannya di rebus, dikukus atau di bakar. Dari 30 orang itu hanya dua dari Indonesia, yaitu Dasiyem yang berusia 165 tahun dari Tuban Jawa Timur dan Mbah Katijah yang mencapai 120 tahun dari Kediri Jawa Timur.

Dasiyem 165 tahun

Dasiyem 165 tahun

Pada bagian ketiga Zaenudin memaparkan tentang Anjuran Ilmuwan dan Para Pakar Medis. Bagian ini hampir mirip dengan bagian pertama tapi lebih mendetail. Ada 11 resep sehat ilmuwan dan pakar medis. Pertama, makan dan tidur teratur. Makan sayuran mentah tiap hari dan diusahakan tidur siang juga di anjurkan agar tetap sehat. Tidurlah 6,5 jam sehari dan perbanyaklah makan buah apel. Kedua, Perbanyaklah tertawa, hilangkan amarah.

Tidur teratur

Tidur teratur

Dengan tertawa kita bisa membakar kalori, menghilangkan stress, memperbanyak kekebalan tubuh,menurunkan kadar gula darah dan membuat awet muda. Ketiga, Makan kacang bikin umur panjang, keempat Lakukanlah beberapa hal penting seperti lindungi DNA, lebih teliti, berhenti merokok, meditasi 15 menit sehari, jadilah sukarelawan, menikah atau berkeluarga, turunkan berat badan, dan batasi minum beralkohol.

Langkah yang kelima adalah mengikuti kegiatan keagamaan, yang keenam mengikuti olahraga ringan, yang ketujuh rukun dengan keluarga, teman dan tetangga. Berikutnya kedelapan adalah rajin berpuasa dan kesembilan meniru gaya hidup orang di beberapa negara yang memiliki rata-rata umur penduduknya diatas 80 tahun seperti Jepang, Scandinavia, Islandia, Mediterania, Prancis dan Spanyol.

Gaya Hidup Sehat Orang Jepang

Gaya Hidup Sehat Orang Jepang

Langkah berikutnya masih menurut saran para ilmuwan dan pakar medis adalah yang kesepuluh menerapkan gaya hidup suku Hunza Pakistan yang menerapkan pola makan sehat dengan konsumsi utama makanan yang masih alami berupa sayuran, kacang-kacangan, gandum dan buah-buahan yang segar, juga memiliki sikap yang positif.

Kacang-kacangan

Kacang-kacangan

Terakhir langkah kesebelas, adalah menerapkan hidup gaya orang Ikaria. Orang Ikaria tinggal di pegunungan. Mereka makan sayuran, buah dan biji-bijian, minum susu kambing serta teh herbal. Mereka juga memiliki waktu istirahat yang cukup, menikmati waktu yang ada serta mempererat hubungan keluarga dan sosial.
Jika anda ingin tahu lebih mendalam dan ingin memiliki badan yang sehat dan bugar sampai usia senja, tidak ada salahnya buku ini jadi rujukan. Buku ini Cocok sebagai referensi bagi anda yang sedang menerapkan pola hidup sehat, atau juga sebagai kado buat orang tua atau orang terdekat Anda yang sangat berarti dan anda ingin melihat mereka sehat, bahagia dan diberi umur yang panjang.

Eva Rohilah
Pecinta buku tinggal di Depok
Twitter : @evarhl

Resensi Buku
Sampul Buku
Judul : Gerobak Lee Myung Bak
(Kisah Nyata Tukang Sampah Menjadi Presiden)
Penulis : Lee Myung Bak (Mantan Presiden Korea Selatan)
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Judul Asli : The Uncharted Path
Cetakan : I, Juni 2014
ISBN :978-602-970697
Penerbit : Pustaka Inspira

Kisah nyata perjuangan hidup Lee Myung Bak, Presiden Korea Selatan periode 2008-2013 dikemas secara menarik dalam autobiografi berjudul The Uncharted Path yang diterjemahkan dengan baik oleh Penerbit Inspira. Siapa yang menyangka jika sejak kecil Lee Myung Bak hidup sangat miskin dan terbiasa kerja keras membantu orangtuanya dan membiayai sekolahnya sendiri.

Lee Myung Bak

Lee Myung Bak

Lee Myung Bak lahir di Osaka Jepang pada 19 Desember 1941. Buku ini mengawali cerita Lee Myung Bak Saat ia berusia empat tahun dimana ia dan keluarga kembali ke Korea untuk memulai hidup pasca perang. Kala itu pada Agustus 1945, dengan kekalahan Jepang dari tentara sekutu, akhirnya Korea meraih kemenangan setelah 36 tahun dijajah Jepang. Ayahnya Lee Choong-woo seorang buruh kasar di peternakan berasal dari sebuah kota kecil bernama Pohang.

Kenangan yang diingat pada masa kecilnya adalah membantu ibunya berjualan kue bolu kecil yang diisi selai kacang merah di sebuah pasar.Saat itu, usai perang korea yang berakhir pada 1953. Karena orangtuanya miskin dan kondisi pasca perang yang memprihatinkan, keluarga Lee menjadi tunawisma dan tinggal menumpang di rumah pamannya.

Makan Ampas

Usai menumpang di rumah sang paman, Lee Myung Bak sekeluarga akhirnya menetap di sebuah kuil tua yang tidak terpakai. Saking miskinnya setiap hari ia jarang makan nasi. Makanan sehari-harinya adalah ampas yang tersisa setelah membuat minuman keras. Ampas sangat murah dan hanya itu yang sanggup orangtuanya beli. Sebagai anak terkecil Myung Bak bertugas pergi ke tempat pembuatan minuman keras untuk mengambil ampas. Dengan uang sedikit ia hanya mampu membeli setumpuk dengan mutu terburuk.

Saat sekolah dasar, ia juga tidak pernah membawa bekal. Saat anak-anak lain menyantap makan siang ia meneguk air keran sebanyak-banyaknya. Meskipun begitu, Myung Bak tak pernah menganggap kemiskinan sebagai alasan, kemiskinan justru memperkuat semangatnya untuk bangkit.
Ketegaran dan pribadi Myung Bak banyak dibentuk oleh sosok seorang ibu. Ibunya berasal dari keluarga Kristen yang saleh. Seorang perempuan tangguh, cerdas dan bijaksana. Ibunya mengajarkan banyak hal pada Myung Bak agar bekerja tanpa pamrih dan membantu sesama. Setiap pagi Myung Bak dan saudara-saudaranya dibangunkan setiap pukul empat pagi. Usai bangun ibunya menyuruh anak-anaknya membentuk lingkaran untuk mengucapkan doa pagi. Menurut ibunya saat ia mengandung Myung Bak, ia bermimpi ada cahaya bulan bersinar terang hingga menyinari desa tetangga, sehingga ia diberi nama Myung (cemerlang) dan Bak (Menjangkau Luas)

Namun karena kondisi ekonomi, ibunya menyarankan kepada Myung Bak agar tidak usah kuliah, tapi tetap harus bekerja keras. Ibunya lebih mengutamakan pendidikan kedua kakaknya yang belajar di kota. Oleh karena itu pada saat SMA ia mengambil sekolah malam agar di siang harinya bisa membantu ibunya bekerja. Saat itu ia juga memulai usaha sendiri dengan menjual es krim dan gula-gula. Usai SMA, Lee Myung Bak memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan menjadi mahasiswa putus kuliah.

Universitas Korea

Universitas Korea

Dengan kerja keras, ia akhirnya lolos masuk Universitas Korea dan mengambil jurusan bisnis. Untuk membayar uang pendaftaran ia bekerja menjadi tukang angkut sampah di Itaewon. Setiap pagi, ia mengisi gerobak sorong dengan sampah lalu mengangkutnya sejauh beberapa kilometer. Pekerjaan itu ia lakukan hingga duduk di tingkat dua.

Saat mahasiswa sambil bekerja nyaris tanpa ada waktu istirahat, namun hal itu tidak menyurutkan akan ketertarikannya pada dunia aktivis mahasiswa, dengan kerja keras ia terpilih menjadi pemimpin mahasiswa. Bahkan saat banyak demonstrasi melawan pemerintahannya yang berkuasa saat itu Myung Bak akhirnya dipenjara. Saat itulah ibunya sering sakit-sakitan dan usai Myung Bak keluar dari penjara, ibunya pun meninggal. Pesan almarhum ibunya adalah agar Myung Bak agar selalu membela apa yang diyakini, selalu jujur dan jangan pernah takut.

27 Tahun Bekerja Untuk Hyundai

Hyundai Construction

Hyundai Construction

Begitu keluar dari penjara Lee Myung Bak rupanya telah lulus kuliah. Ia pun melamar pekerjaan ke berbagai tempat, sampai akhirnya ia menemukan iklan kecil di sebuah surat kabar tentang sebuah perusahaan bernama Hyundai Construction, perusahaan konstruksi membutuhkan karyawan untuk dipekerjakan di Thailand. Karena pernah dipenjara, proses kerja di Hyundai sempat mengalami kendala, namun akhirnya dapat diatasi. Ia diwawancara langsung oleh pendiri saat itu yaitu Chung Ju-Yung.
Karena terbiasa kerja keras, Lee Myung Bak menorehkan banyak prestasi di Hyndai Construction. Karirnya pun melejit dan perusahaan pun berkembang semakin pesat. Tidak hanya di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Filipina tapi hingga Timur Tengah seperti Irak, bahkan sampai Rusia. Kepercayaan Chung Ju-Yung terhadap dirinya dan perkembangan pesat perusahaan diceritakan dalam beberapa bagian buku ini, termasuk persaingan Hyundai dan Samsung juga dikupas secara menarik.

Chung Ju Yung

Chung Ju Yung

Pada usia 28 tahun ia menikah bertepatan dengan tanggal kelahirannya 19 Desember dengan seorang perempuan bernama Yoon ok. Ia dikaruniai empat orang anak. Namun karena kesibukannya sebagai eksekutif muda, ia bahkan tidak pernah mendampingi keempat anaknya lahir. Bahkan untuk liburan bersama pun sangat jarang ia lakukan. Kesibukannya sangat dipahami oleh Yoon ok. Sehingga kerja kerasnya berhasil. Pada saat usia 35 tahun ia ditunjuk Chung Ju Yung untuk mengemban amanah sebagai CEO Hyundai Construction.

Yoon ok

Yoon ok

Memulai Karir di Dunia Politik

Usai berhenti dari Hyundai, Lee Myung Bak lantas meniti karir di bidang politik, hingga akhirnya terpilih menjadi walikota Seoul. Gebrakannya yang banyak dikenang orang adalah memulihkan Cheonggyecheon. Dengan menata para pedagang di kota itu dan melakukan proyek Big Dig. Jalan-jalan di sekitarnya diperlebar, melakukan perbaikan sistem transportasi umum agar para pengendara mobil pribadi pindah menggunakan transportasi umum. Dengan dibantu teknologi Canggih kemacetan bisa diawasi begitu juga dengan adanya kereta bawah tanah dan penghancuran jalan tol.

Proyek Restorasi

Proyek Restorasi

Seperti yang dijanjikan, Sungai Cheonggyecheon pulih dalam dua tahun. Untuk pertamakalinya setelah berpuluh-puluh tahun warga dapat menikmati udara segar dan air yang bersih di jantung kota Seoul. Para pekerja kantor mulai bepergian dengan berjalan kaki dan di akhir pekan orang-orang datang bersama keluarga dan teman-teman mereka di taman terbuka. Seoul pun dikenal sebagai kota hijau. Sistem perbaikan transportasi seperti penataan bus dan lain-lain menjadi contoh beberapa negara seperti Vietnam dan China, Turki, Jepang, Taiwan hingga Indonesia. Lee Myung Bak pun mendapat sorotan dari berbagai media atas proyek restorasi yang dibangunnya. Ia pun mendapat penghargaan dari majalah TIME sebagai Pahlawan Lingkungan.

Sungai Cheonggyecheon di malam hari

Sungai Cheonggyecheon di malam hari

Ketertarikannya pada pembangunan yang berkelanjutan dan lingkungan membuat ia lebih banyak lagi belajar seusai menjadi walikota Seoul. Ia mengunjungi beberapa negara maju seperti Belanda, Jerman, Jepang, India dan Uni Emirat Arab. Ia mencari tahu apa yang dilakukan oleh orang lain untuk bertahan menghadapi abad ke-21.

Tanggal 19 Desember 2007, Lee Myung Bak mendapatkan kesempatan lain untuk melayani negaranya. Ia terpilih sebagai Presiden Republik Korea yang ke-17. ”Tanggal 19 Desember Kebetulan hari ulang tahunku sekaligus tanggal pernikahanku. Hari itu begitu istimewa dengan banyak perayaan. Jika ada yang bertanya apa yang kurayakan pada hari itu? Ulang tahun – hari pernikahan, atau hari terpilih sebagai Presiden- aku menjawab bahwa dalam suatu cara semuanya berhubungan: Aku merayakan kehidupanku, pernikahanku, serta kesempatan yang diberikan untuk melayani negaraku,” tulis Lee Myung Bak pada halaman 399.

Mendapat Penghargaan dari Majalah Time, Sebagai Pahlawan Lingkungan

Mendapat Penghargaan dari Majalah Time, Sebagai Pahlawan Lingkungan

Buku ini luar biasa, sangat inspiratif. Penyampaiannya sederhana dan mudah dicerna. Buku ini membuat kita yakin bahwa siapapun yang mau berjuang pasti bisa meraih mimpi. Layak dipaca oleh para pelaku bisnis, politisi atau siapa saja yang ingin mewujudkan mimpinya.

Eva Rohilah
Penulis adalah Pecinta Buku tinggal di Depok