Archive for the ‘Buku dan Media’ Category

Beragam Makna Dibalik Tatapan Mata Perempuan

Resensi Buku: Tatapan Perempuan
(Perempuan Sebagai Penonton Budaya Populer)
Judul asli: The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture
Editor: Lorraine Gamman dan Margareth Marshment
Penerbit: Jalasutra, 2017

Sebuah buku bersampul biru, menarik perhatian saya sore itu. Sampulnya yang menawan dan judulnya yang menarik perhatian membuat mata ini tidak bisa melepaskan pandangan. Buku yang saya baca hari ini berjudul “Tatapan Perempuan” karya terjemahan dari Bahasa Inggris The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture yang terbit sudah lama yaitu pada tahun 1988.

Ada tiga belas penulis perempuan yang menulis disini. Mereka adalah Lorraine Gamman, Margareth Marshment, Suzanne Moore, Andrea Stuart, Maggie Anwell, Avis Lawellen, Belinda Budge, Jacky Stacey, Jacqui Roach dan Petal Felix, Anna Ross Muir, Ann Treneman, Janet Lee dan Shelagh Young.

Dari Teka-teki Tatapan Perempuan Hingga Status Perempuan di Bidang Film dan Televisi

Membuka lembaran awal buku ini, ada ungkapan menarik, kenapa menulis buku tentang perempuan yang memandang? Tentu ini adalah suatu teka-teki, memandangnya kepada siapa? kepada laki-laki atau kepada sesama perempuan? Dalam representasi yang paling popular tampaknya laki-laki melihat dan perempuan adalah yang dilihat. Dalam film, televisi, pers, narasi, dan narasi popular pun laki-laki diperlihatkan sebagai yang mengendalikan tatapan; perempuan yang dikendalikan.

Bagaimana kita dapat mengubahnya? Perubahan seringkali merupakan perlawanan pelan-pelan yang dilakukan hari demi hari yang memerlukan strategi pragmatis untuk hari ini dan besok. Umumnya strategi-strategi ini melibatkan perlawanan terhadap makna.

Budaya populer adalah wilayah perjuangan tempat pelbagai makna ditentukan dan diperdebatkan. Budaya populer juga dipandang sebagai suatu wilayah tempat makna diperdebatkan dan ideologi dominan dapat diobrak abrik. Diantara pasar dan ideologi, para pelaku finansial dan para produser, sutradara dan aktor, penerbit dan penulis, kapitalisme dan buruh, perempuan dan laki-laki dibahas maknanya dalam pelbagai hal, sejalan dengan perjuangan tanpa henti demi pengendalian.

Bahkan dalam Bab 10, Anne Ross Muir membahas tentang status perempuan yang bekerja di bidang film atau televisi. Ada banyak penulis, sutradara, produser, teknisi actor, penerbit, jurnalis, kritikus, guru, dan mahasiswi yang berpartisipasi yang berpartisipasi dalam produksi dan distribusi bentuk-bentuk populer pelbagai wacana disekelilingnya.

Tidak Hanya Berdasar Gender

Ada banyak film, sinetron dan karya lainnya yang dibahas dalam buku ini, meski sudah tidak kekinian karena settingnya tahun 1980-an. Bagaimana perempuan melihat film detektif polisi, juga cerita-cerita tentang persahabatan antar perempuan.

Menarik sekali mengupas tentang beberapa film bertemakan persahabatan perempuan seperti Stage Door (1937), The Woman (1939), Caged (1950), Girlfriend (1978) dll.

Seringkali kita melihat di televisi perempuan diperlihatkan bukan sebagai teman, tapi sebagai tokoh antagonis yang saling membenci, lawan dalam cinta atau bisnis.

Beberapa tokoh perempuan yang berhasil sebagai pejuang emansipasi, politisi, bahkan pengusaha sukses kadang jarang muncul, meski belakangan mulai ditampilkan.Entah karena tidak seimbang atau memang jumlahnya kurang.Meskipun dalam pengamatan saya lebih banyak peran segi sisi seksisme yang diutamakan.

Meskipun demikian buku ini tidak menghakimi batasan gender. Ada juga kritik terhadap para aktris perempuan di masa itu yang justru tidak terlihat memperjuangkan feminis, tapi lebih kepada memperjuangkan diri sendiri. Terlepas dari itu semua buku ini menarik sebagai bahan referensi bacaan bagi kalangan akademisi, pemuda hingga pelaku industri hiburan ditanah air juga bagi siapa saja yang tertarik melakukan kajian bagaimana posisi perempuan dalam budaya populer.

3 April 2018
Pukul 16.14

Maxim Gorky: Pecundang

Posted: March 31, 2018 by Eva in Buku dan Media
Tags: , ,

Buku ini aku beli bulan Juli tahun 2002, tapi waktu minggu lalu ke Gramedia di BSD kok masih beredar ya, banyak berjejer termasuk laris.

Sedikit pengarang Rusia yang menikmati popularitas dalam kehidupannya sebagaimana Maxim Gorky, dan sedikit saja novel yang menyodorkan pada kita kisah yang murung dari prahara besar revolusi Rusia.

Pecundang ditulis pada 1907. Maxim Gorky adalah nama pena dari Bapak Realisme sosialis ini. Gorky sendiri artinya pahit.

Dalam novel ini diceritakan tentang kekuasaan, pribadi yang risau dan kejujuran yang langka.

Resensi Buku: The Seat of the Soul (An Inspiring Vision of Humanity’s Spiritual Destiny (Visi Baru tentang Takdir Manusia)
Penulis: Gary Zukav
Penerjemah: M.Thoyibi
Penerbit: Pustaka Alvabet
Edisi: 1, Agustus 2006

Dengan kepiawaian luar biasa dalam menyederhanakan abstraksi ilmiah dan fisika baru, Gary Zukav membawa kita menuju tahap baru evolusi manusia. menurut penulis karya masyhur The Dancing Wu Li Masters ini, kita sedang berevolusi: dari mahluk pemburu kekuatan berdasar persepsi indrawi (kekuatan eksternal) menuju spesies pencari kekuatan otentik (berdasar nilai-nilai ruh).

Dengan mata ilmuwan dan hati filsuf, Zukav menunjukkan bahwa mengisi kehidupan dengan ketakziman, belas kasih dan kepercayaan membuat kegiatan-kegiatan kita penuh makna dan tujuan. Nilai-nilai ruh, mengubah perkawinan menjadi kemitraan spiritual, psikologi menjadi psikologi spiritual, dan setiap tulisannya reflektif dalam kehidupan sehari-hari.


Sebuah Karya yang Wajib Anda Baca

Buku ini adalah buku kedua yang sangat inspiratif. Setelah buku yang tidak akan terlupakan dan menjadi favorit sampai sekarang adalah Sang Alkemis karya Paulo Coelho yang aku baca sejak masih kuliah. The Seat of the Soul adalah buku yang paling lama saya baca (enam bulan lebih baru tuntas), penuh konsentrasi tinggi dan butuh suasana sepi saat membaca lembar demi lembar pemikiran Gary Zukav. The Seat of the Soul menggambarkan perjalanan menakjubkan menuju ruh kita masing-masing. Buku ini adalah bacaan favorit saya selama tahun 2017.

Sebenarnya sudah lama ingin meresensi buku ini, cuma ya itu belum selesai membacanya, jadi lambat hadir di blog. Ada empat bab dalam buku ini yaitu Pendahuluan yang berisi Evolusi, Karma, Ketakziman, dan Hati. Bab dua Penciptaan berisi tentang intuisi, Cahaya, Niat I, Niat II. Bab tiga tentang Tanggung Jawab, membahas tentang Pilihan, kecanduan, Hubungan dan Ruh. dan Bab empat mengangkat tema Kekuatan yang membahas Psikologi, Ilusi, Kekuatan dan kepercayaan.

Buku yang masuk Best Seller Internasional dan telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa ini direkomendasikan bagi anda yang menyukai buku-buku serius dengan penghayatan mendalam. Mungkin bagi yang tidak suka filsafat atau psikologi buku ini kurang bagus atau memusingkan. Karena memang banyak istilah-istilah seperti evolusi, manusia sarwa indra, manusia panca indra, teori evolusi,altruistis, dan masih banyak istilah lainnya yang membuat anda diam sejenak.

Dalam bab evolusi misalnya, Zukav menjelaskan jika ketika dua manusia saling berhubungan, dalam pengertian kompleksitas organisasional mereka dianggap berevolusi secara setara. Jika keduanya mempunyai intelegensia yang sama, tetapi yang satu berpikiran kerdil, kikir, egois, sementara yang lain murah hati dan altruistis, maka orang yang murah hati dan altruistis itu kita sebut lebih berevolusi (hlm 4).

Dari Lee Harvey Oswald dan John F Kennedy Hingga Qabil dan Habil

Meskipun buku ini sudah terbit lama sekali, yaitu pertama pada tahun 1990 dan diterjemahkan pada tahun 2006, namun, apa yang disampaikan Zukav dalam pembahasannya tentang refleksi manusia dalam dinamika perubahan yang serba cepat ini membuat pembaca akan merefleksikan bagaimana relasi, ketakziman kita dengan keluarga, orangtua, sanak saudara, bahkan lingkungan kerja.

“Kita mengetahui bahwa aktivitas kehidupan diisi dengan ketakziman, aktivitas itu menjadi hidup dengan makna dan tujuan. Kita tahu bahwa ketika tak ada ketakziman dalam aktivitas kehidupan akibatnya adalah kekejaman, kekerasan dan kesendirian,” (hlm 6).

Masih membahas tentang ketakziman dan kebutuhan pada kekuatan fisik, menghasilkan sesuatu jenis kompetisi yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Kebutuhan itu mempengaruhi hubungan antar kekasih, antar kekuatan adidaya, antar saudara kandung, antar ras, antar kelas, dan antar jenis kelamin.

Saya pun sempat menstabilo suatu ungkapan Zukav yang menjelaskan. Energi permusuhan antara Lee harvey Oswald denga John Kennedy sama dengan yang menyebabkan permusuhan antara Qabil dan Habil. sanak saudara bertikai.


Membedakan tiga titik; Fisik, Jiwa dan Ruh

Membaca buku ini kita diajak membedakan ada tiga ruang dalam diri kita yang ibarat lapisan sebenarnya memiliki makna dan peran yang berbeda-beda. Yaitu diri kita sendiri secara fisik dan lahiriah, lapis kedua adalah jiwa (personality) dan yang lebih dalam lagi adalah ruh (soul) yang tidak kasat mata.

Dalam skema yang lebih besar, Zukav menjelaskan jika kerangka pemikiran yang lebih besar dari manusia sarwaindra memungkinkan pemahaman tentang perbedaan yang secara eksperiensial bermakna antara jiwa (personality) dan ruh (soul). Jiwa adalah bagian dari diri Anda yang lahir (fisik), hidup dan mati dalam dimensi waktu. Menjadi manusia dan memiliki ruh merupakan hal yang sama, ruh Anda,seperti halnya tubuh anda merupakan kendaraan evolusi anda.

Rasa takut dan emosi kekerasan yang telah telah menjadi ciri keberadaan hanya bisa dialami oleh jiwa. Hanya jiwalah yang dapat merasakan kemarahan, ketakutan, kebencian, balas dendam, kepedihan, rasa malu, penyesalan, ketidak acuhan, frustasi, kesinisan dan kesepian. Hanya jiwa yang bisa menghakimi, memanipulasi, dan mengeksploitasi. Hanya jiwalah yang dapat mengejar kekuatan eksternal. Hanya jiwalah yang dapat mengejar kekuatan eksternal. Jiwa sesungguhnya juga bisa mencintai, mengasihi, dan arif dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Tetapi cinta, belas kasih dan kearifan itu sebenarnya bukan berasal dari jiwa melainkan berasal dari pengalaman ruh. (hlm 15).


Keadilan Tanpa Penghakiman

Berikutnya yang menarik adalah dalam bab “Karma”, dimana Zukav mengangkat tokoh Mahatma Gandhi yang pernah dipukuli beberapa kali selama hidupnya. Meskipun Gandhi pernah dua kali dipukuli sampai hampir mati, dia menolak untuk menuntut para penyerangnya. Karena Gandhi mengetahui jika bahwa ora-orang itu melakukan sesuatu “yang mereka anggap benar”. Posisi penerimaan tanpa penghakiman ini merupakan inti kehidupan Gandhi yang tidak suka menyimpan dendam.

Apakah keadilan tanpa penghakiman itu? Keadilan tanpa penghakiman merupakan kebebasan melihat yang Anda lihat dan mengalami yang Anda alami tanpa menanggapi secara negatif. Hal ini memungkinkan Anda secara langsung mengalami aliran kecerdasan tanpa hambatan, pancaran dan cinta alam semesta yang melingkupi realitas fisik kita. keadilan tanpa penghakiman mengalir secara alami dari pemahaman atas ruh dan caranya berevolusi. Dan masih banyak pemikiran-pemikiran Zukav lainnya yang jika saya tulis disini nanti akan terlalu panjang atau justru membosankan jika anda hanya menyukai sesuatu yang bersifat praktis dan tidak suka membaca karya berat seperti ini.

Saya masih ingat betul, buku ini memang kurang begitu laku di pasar Indonesia. Banyak yang tidak tahu dan hanya sedikit saja yang membeli, padahal di luar negeri sangat berjaya di zamannya,menjadi Bestseller Internasional.

Tidak banyak memang harapan yang disampaikan Zukav dalam buku ini. Dalam pengantarnya dia menulis bahwa yang saya tawarkan dalam buku ini merupakan jendela yang saya gunakan untuk melihat kehidupan. Saya tawarkan jendela itu kepada pembaca, tetapi tidak mengharuskan pembaca untuk menerimanya. Kita punya banyak hal untuk dilakukan bersama, mari kita melakukannya dengan kearifan,cinta, dan kegembiraan.

Pondok Petir, Depok 28 Maret
Pukul 22.57

Siang itu cuaca sangat panas dan terik. Seorang kurir agen logistik mengagetkan saya dengan sebuah paket yang membuat saya gembira. Satu bundel majalah Basis edisi 01-02 tahun ke-67 2018 akhirnya tiba di rumah saya dengan selamat.

Ada empat tema besar kali ini seperti “Framming Gerakan Sosial”, “Ikonoklasme atau Idoloklasme”, Sayyid Ahmad Khan, Metode Kritis Rasional Pendidikan Sebagai Jalan Kemajuan, dan “Mencintai Boneka Mayu”.

Penantian majalah dua bulanan ini mengobati kerinduan saya yang sudah sangat lama  tidak pernah membaca Majalah ini.

Dejavu 15 tahun lalu

Bagaimana tidak, pada tahun 2000-2003 saat masih kuliah di kota Gudeg, meskipun saya kuliah di IAIN Sunan Kalijaga saya sering berkunjung ke Perpustakaan Sanata Dharma biasanya hari Senin, sambil membaca rubrik Pustakaloka yang memuat resensi buku, membuat saya betah berlama-lama di perpustakaan Sanata Dharma. Menunggu tulisan saya dimuat, atau siapa penulis yang hari ini resensinya di muat di Pustakaloka.

Selain alasan diatas, posisi perpus Sanata Dharma lokasinya di Mrican lebih dekat dengan rumah kakak di Condong Catur, perpustakaannya juga sunyi senyap dengan 800 lebih judul buku dan buka sampai jam 8 malam saat itu. Kalau ke perpus UIN Suka harus naik bis lagi, jadi saya suka singgah disitu tapi tidak sering, cuma tiap hari senin.

Di sana pula saya menemukan buku-buku lama yang terawat dengan rapi baru diantaranya karya-karya Romo Mangun Wijaya seperti “Burung-Burung Manyar” dari Penerbit Djambatan, serta karya-karya sastra inggris seperti Isabel Allende, dan karya lainnya yang beraneka ragam.

Nah sebelum membaca buku, biasanya saya ke bagian koran dan majalah, disanalah saya tidak pernah melewatkan Majalah Basis setiap edisi kala itu. Tidak terasa sudah 15 tahun, setelah hijrah ke Jakarta dan menetap di Depok (2003-2018) saya tidak pernah membaca Majalah Basis.

Tempo hari waktu saya ke Jogja, saya sengaja mampir ke perpus Sadhar, sekedar bernostalgia dan mengingat tempat saya mojok di lantai paling bawah. Masih seperti dulu, sunyi senyap, bedanya sekarang kalau mahasiswa di luar Sadhar, jika berkunjung ke Perpus membayar 25.000 selama satu hari. Tutupnya pun lebih malam.Di atas jam sembilan malam.

Saya Dejavu dan sedikit terharu mengingat masa-masa dulu saya sendirian tenggelam bersama buku, hingga tutup jam 8 malam. Kerinduan membuncah akan masa-masa itu, namun karena harus segera ke Panti Rapih, saya memfotokopi buku ke lantai tiga. Nah, disinilah bermula, mata saya tertuju pada Majalah Basis edisi Media Sosial dan Mobokrasi. Saya membaca, namun tidak sampai selesai.

Sesampai di Jakarta, saya mencoba menghubungi redaksi Majalah Basis dan memutuskan berlangganan, hingga akhirnya hari ini saya mulai membacanya.

Padat, Berisi dan Artistik

Satu hal yang saya suka dari Majalah Basis ini adalah isinya yang padat, berkualitas dan ilustrasi gambar yang artistik atau nyeni. Kajian historis, filosofis menjadi ciri khas dikaitkan dengan kondisi sekarang yang aktual. Sehingga kita akan dibawa pada petualangan intelektual yang tidak kering, namun kaya khazanah dengan bahasa yang mudah dicerna. Sampulnya selalu menggoda dan syarat interpretasi.

Untuk edisi ke -67, Majalah yang dipimpin oleh Sindhunata ini mengawalinya dengan rubrik Tanda-tanda Zaman, berjudul “Mencintai boneka Mayu” kisah yang menceritakan seorang fisioterapis Jepang bernama Masayu Ozaki yang mencintai boneka silikon sebagai pasangan hidup.

Saya sempat tersenyum simpul membaca rubrik ini, karena tidak menyangka ya, bagaimanapunn juga seorang suami tidak suka perempuan egois, dingin dan suka mengomel. Masayu lebih memilih boneka silikon seharga 70 juta yang sangat ia cintai.

Lembar demi lembar saya simak dengan gembira, pada rubrik kaca benggagala, radaksi Basis menampilkan tulisan tentang Ikonoklasme atau Idoloklasme yang ditulis mendalam oleh dosen STF Drijarkara Dr.A.Setyo Wibowo. Penulis
membuka dengan pemikiran kontemporer Prancis Jean Luc Marion yang membedakan ikon dari idola, kelihatannya istilah ikonoklasme harus diapresiasikan sebagai idoloklasme.

Masih banyak sebenarnya rubrik lain yang bagus, namun saat saya menulis sekarang ini belum semua rubrik saya baca sampai tuntas. Baru saya baca judulnya saja. Jadi jika anda ingin membaca semua isinya, silahkan membelinya atau berlangganan.

Namun karena minat saya pada buku, saya membaca rubrik pendidikan berjudul “Membaca: Minat atau Kemampuan” yang ditulis oleh Dian Vita Ellyati, serta kupas buku “Risalah Yap di Kursi Pesakitan” karya Muhammad Yunan Setiawan dan rehal buku “The Belly of Paris karya Emile Zola, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2017 yang dikupas oleh Laila Sari.

Itu saja sekilas tentang sebagian isi dari Majalah Basis edisi awal 2018 ini. Semoga bisa saya tuntaskan membacanya di akhir pekan ini. Terimakasih Pak Anang dari Majalah Basis yang merespon cepat, ketika dihubungi minggu lalu. Sesuai slogannya “Menembus Fakta” saya akan selalu menunggu fakta-fakta yang terungkap di edisi berikut-berikutnya.

Depok, 23 Maret 2018 Pukul 13:39

Resensi Buku
Judul: Jack Ma, Sisi-Sisi Tak terduga Godfather Bisnis China
(Biografi resmi karya asisten sekaligus sahabatnya)
Penulis: Chen Wei
Penerbit: Noura Publishing, Jakarta
Edisi: Cet ke-2, Mei 2017
Penerjemah Nadiah Abdidin, Inez Kriya Janitra

 

“Faktor kunci dari membual adalah memiliki pendengar-pendengar yang baik. Tidak peduli seberapapun hebatnya pemikiran manusia, Tuhan akan menggelengkan kepala dan tersenyum begitu mendengarnya. Jadi, membual tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya pemikiran Anda. Yang terpenting, Anda bahagia,”-Chen Wei, penulis.

Dikemas Secara Jenaka

Ketika membaca pengantar buku berjudul “Jack Ma, Sisi-Sisi Tak terduga Godfather Bisnis China.” (Biografi resmi karya asisten sekaligus sahabatnya) ini saya tertawa, terus terang sang penulis buku ini Chen Wei memiliki selera humor yang baik dalam menulis.

Kekuatan membual memang tidak dibatasi, kebebasan berimajinasi tidak disekat oleh ruang dan waktu. Sederhana saja sebenarnya, cara Chen Wei dalam menuliskan kisah tentang sahabatnya Jack Ma yang menjadi sosok berpengaruh dalam industri digital di China. “Menulis seperti membual,” ungkapnya renyah.

Menurut Chen Wei, hanya ada dua jenis manusia yang bahagia di dunia ini. Pertama, manusia-manusia yang suka membual, dan yang kedua manusia-manusia yang senang mendengarkan.
Manusia yang tidak membual tentu orang yang sengsara, meski dia memiliki prestasi-prestasi hebat seperti Michael Angelo. Manusia yang mampu membual tetapi tidak suka membual juga sengsara, seperti Arthur Schopenhauer.

Menjadi seorang asisten menurut Chen Wei adalah seorang profesi istimewa. Apalagi asisten Jack Ma yang betul-betul merangkak dari nol bersama-sama. Asisten-asisten berbeda juga memiliki dunia berbeda-beda. Para asisten di jenjang kepemimpinan menteri merupakan kader level kementerian, sementara asisten bagi selebritis layaknya pengasuh bayi seumur hidup mereka.

“Namun saya sama sekali bukan seperti itu, saya telah mengenal Zhang Jizhong dan Jack Ma selama lebih dari 10 tahun lebih dan telah menjadi asisten mereka berdua secara bergantian. Setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pekerjaan utama saya, saya tidak bisa memberikan satu jawaban yang pasti, entah dalam hubungannya dengan Mr.Zhang jizhang maupun dengan Jack Ma,” ungkap Jack Ma terus terang.

Terlambat Ibarat Seorang Merampok Bank

Chen Wei membuka cerita perkenalannya dengan Jack Ma saat bertemu di kelas Bahasa Inggris pada awal Tahun 1992. Menurut Chen Wei, sebagai seorang murid, Jack Ma adalah orang yang sangat disiplin dalam mengajar les Bahasa Inggris dibanding pengajar lainnya. Ia selalu tepat waktu dan jarang terlambat saat mengajar.

Chen Wei masih ingat betul bagaimana ucapan Jack Ma saat datang ke kelas. Dengan lugas Chen Wei menjelaskan ucapan Jack Ma.
“Topik kita hari ini adalah tentang keterlambatan. Saya pribadi paling benci keterlambatan, karena menunjukkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Keterlambatan menunjukkan ibarat membunuh seseorang untuk merampok bank,” ujar Jack Ma yang melekat di dalam pikiran Chen Wei saat mengenalnya pertama kali.

Selain itu ciri khas Jack Ma dalam mengajar Bahasa Inggris memiliki metodologi mengajar yang unik dan cara tersendiri. Dia tidak terpaku pada teks apalagi tata bahasa atau frasa kalimat.

Setelah membahas sejarah pertemuan pertama dengan Jack Ma, bab berikutnya mengalir dengan cepat dari mulai Bab dua berjudul tentang Jack Ma Merambah Internet, bab tiga tentang Jack Ma dan Jang Jizhong, bab Empat, Ali Baba Saya Datang, Bab lima tentang Orang-orang Ali yang Sibuk, bab 6 tentang Minat dan Filosofi, bab 7 tentang Tai Chi Jack Ma, bab 8 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Budaya Ali, bab 9 tentang Jack Ma dan Budaya Ali yang berbeda, bab 10, Jack Ma dan para selebritas, bab 11, Bepergian dengan Jack Ma, bab 12 dari Pensiun hingga menjadi Perusahaan Publik, dan diakhiri oleh Penutup berjudul Orang Ali yang Paling Tidak berambisi.

Meskipun sangat padat dengan 12 bab, namun dijamin ada tidak akan kelelahan membaca buku ini. Tidak sampai sehari, mungkin dalam hitungan 3-5 jam anda akan melahap buku bersampul putih dan merah ini.

Sarat Makna Filosofis

Meskipun Ali Baba merupakan perusahaan berbasis teknologi, tapi apa yang ditulis Chen Wei tentang Jack Ma dan perusahaan itu sarat nilai-nilai filosofis. Beberapa kejutan tentang Jack Ma akan anda temukan dalam perspektif Chen Wei sebagai orang terdekat.

Diakui Chen Wei, Sejak tahun 1995 Jack Ma merambah internet memulai bisnis pertama, banyak yang sudah familiar dengan kisah-kisah perintisan usahanya. Namun, saya terkesan dengan sesuatu yang berbeda selama prosesnya mendirikan China Pages. Sosok Jack Ma di mata Chen Wei sangat luar biasa, dia memiliki banyak pendapat yang ia samakan dengan referensi dalam menggambarkan kerja keras Jack Ma dari Schopenhauer, Freiderich Wilhelm Nietzsche hingga Socrates.

“Setiap pemikir hebat lebih takut dipahami daripada salah dimengerti. Salah dimengerti barangkali akan melukai harga dirinya, tetapi dipahami akan melukai hati dan simpatinya,” Friedrich Nietszche, kutip Chen Wei dalam bab dua.

“Perjalanan bisnis Jack Ma sangat sering melebihi ekspektasi saya waktu mengambil pekerjaan ini,” ujar Chen Wei kagum. Falsafah China juga di paparkan penulis dengan baik tentang perkembangan tahap demi tahap perusahaan milik Jack Ma. Berikut saya kutip.

“Pohon Besar besar yang terengkuh oleh kedua lengan tumbuh dari sepucuk tunas”

“Menara Setinggi sembilan lantai menjulang dari Gundukan Tanah Kecil”

“Perjalanan sejumlah seribu bermula dari satu langkah”

Begitu juga ketika menggambarkan beberapa hambatan bisnis Jack Ma, Chen Wei mengutip filosof Jerman. “Manusia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tetapi dia tidak bisa mengatur atas apa yang dia inginkan,” Schopenhauer.

Kedekatan Chen Wei tidak hanya dengan Jack Ma sebagai atasan, tapi juga dengan istrinya Zhang Ying. Saya suka kalau membaca biografi tokoh siapapun itu berkaitan dengan kehidupan keluarga terdekat seperti pasangan dan kedua orang tua. Chen Wei menggambarkan Zhang Ying sebagai separuh jiwa Jack Ma, teman berbagi ranjang atau istilah dia itu “separuh tempat tidur” yang kita miliki merupakan hal yang penting dalam hidup.
Ketika mengibaratkan hidup sebagai suami istri, Chen Wei membuat saya tertawa sejenak. Karena dia menggambarkan hubungan seorang suami dengan istrinya setengah bercanda tapi penuh makna.

“Jika Anda mendapatkan seorang istri yang baik, maka anda akan bahagia, Jika anda mendapatkan istri yang buruk, maka anda akan menjadi filsuf,” Socrates.

Bukan Elang, Tapi Bakteri yang Terbang

Buku ini sangat bagus bukan hanya bagi anda yang berprofesi sebagai asisten ataupun bagi anda yang memiliki toko online atau hendak merintisnya. Tapi bagi siapa saja yang ingin belajar bahwa merintis usaha itu harus jatuh bangun dan penuh hambatan, meskipun setelah melewati semuanya berjalan lapang.

Saya memang tidak akan mengupas bisnis secara mendetail, karena pastilah sudah banyak orang mengupasnya. Akan tetapi saya berusaha mencatat beberapa sisi humanisme Chen Wei dalam menggambarkan sosok Jack Ma dengan segala kedekatan dan bualan-bualan yang kocak.

Chen Wei menggambarkan pekerjaan yang ia lakukan selama ini mendampingi Jack Ma,  membesarkan Ali Baba dengan semua jaringannya  ia lakukan sepenuh hati.

“Ada sejenis bakteri yang ingin terbang, tetapi tidak memiliki sayap. Karena itu dia menginvasi telur-telur katak. Akibat invasi bakteri itu, seluruh kecebong yang menetas bertransformasi menjadi katak lumpuh hingga dapat dengan mudah di makan elang. Akhirnya bakteri bisa merasakan indahnya terbang seperti yang selama ini ia impikan. Saya bukan seekor elang, saya adalah bakteri yang sedang terbang,” tuturnya lugas.

Buku ini ringan dan enak dibaca meskipun menurut saya kertas cetakannya terlalu tipis, sehingga bagi yang membacanya hati-hati kalau melipat atau kena hujan. Sampulnya yang putih bagus seperti isinya. Saya menutup resensi buku ini dengan satu bualan yang membuat pembaca apalagi anak muda semangat untuk belajar, bekerja dan berusaha.

“Kehidupan terasa gelap, kecuali ada semangat. Semangat terasa buta kecuali ada pengetahuan, pengetahuan hanyalah kesia-siaan kecuali ada pekerjaan,”Chen Wei.

Pondok Petir pukul 19.49

Saat ini, koleksi naskah-naskah kuno sulit ditemukan jika anda ingin memilikinya. Akan tetapi jika anda ingin  membaca dan mendalami beberapa naskah kuno yang terawat dengan rapi anda bisa mengunjungi Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.

Ada banyak koleksi naskah kuno seperti 12 seri Serat Centhini, Perjanjian Gianti – Perang Diponegoro (Sekitar Jogjakarta 1755-1825), Serat Smaradahana, Serat Gembring Baring, Serat Babad Dipanegara, hingga Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi pun ada dua judul. Pertama Babad Tanah Jawi karya Sudibjo Z.H yang diterbitkan Dinas Pendidikan dab Kebudayaan pada 1980,  dan Babad Tanah Jawi yang disusun olehW.L.Olthof Belanda tahun 1941. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit narasi Jogjakarta pada 2007.

Dari sekian banyak buku tersebut, disini saya akan mengulas secara singkat dua buku saja, yaitu Centhini dan Babad Tanah Jawi.

Centhini adalah sebuah buku tua, tidak saja tua umurnya, tetapi juga tua isi ajarannya. Konon, kata Centhini berasal dari kata Canti, suku kedua dibaca dengan letupan suara, sehingga terdengar kata Cantik. Kata cantik berasal dari bahasa Melayu yang artinya elok, indah, bagus, menyenangkan. Canti mendapat bubuhan ni, di belakangnya menunjukkan sifat kewanitaan (feminin) sehingga menjadi centhini. Sedangkan asal-usul mengapa cantini dapat berubah lafal menjadi centhini masih sulit diungkapkan. Karena sifat yang feminin itulah, setiap orang yang membaca buku centhini sering terpesona oleh keindahannya.

Dalam Falsafah Centhini dijelaskan bahwa yang berkehendak menyusun Serat Centhini adalah Pangeran Adipati Anom, Calon Pakubuwono V. Oleh karena yang dikehendakinya berisi berbagai hal tentang kehidupan maka  maka yang mengerjakannya pun terdiri dari beberapa orang seperti Kyai Pangulu Tafsir Anom yang berkaitan dengan gending-gending digarap oleh Demang Niyaga, adapun yang diserahi tugas menyusunnya dalam bentuk buku secara utuh adalah Yasadipura II bersama Rangga Tresna.

Serat Centhini adalah roman yang disusun dalam rangkaian tembang-tembang Jawa. Seperti layaknya sebuah roman, isinya dibuat sedemikian rupa sehingga memikat hati pembacanya.Isinya banyak menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia dalam bermasyarakat.

Serat Centhini ditulis untuk memuaskan semua orangtua yang gemar ajaran-ajaran ilmu tua akan tidak bosan-bosannya mengikuti wejangan Seh Amongraga.

Membaca Serat Centhini hendaknya kita kritis serta waspada, ada banyak nilai positif tentang makrifat misalnya tapi ada juga bahasa-bahasa yang khusus dewasa, membacanya harus hati -hati jika anda belum dewasa, jangan sampai terpengaruh ajaran-ajaran negatif yang dapat menjerumuskan.

Sedangkan Babad Tanah Jawi, berisi tentang kebiasaan masa lalu, raja-raja di tanah Jawa yang menjelaskan silsilah atau asal -usul garis keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya.

Teks asli “Babad Tanah Jawi” memuat silsilah raja-raja Jawa dari Nabi Adam, dewa-dewi dalam agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabharata, Cerita Panji Masa Kediri, Masa Kerajaan Pajajaran, Masa Majapahit hingga masa Demak yang kemudian dilanjutkan lagi dengan silailah kerajaan Pajang, Mataram dan berakhir pada masa Kertasura.

Semarang, 8 Maret 2018

Resensi Buku
Judul : Mahatma Gandhi (Sebuah Autobiografi)
Kisah tentang Eksperimen- eksperimen Saya Terhadap Kebenaran
Penulis : M.K.Gandhi
Judul asli: An Autobiography or The True Story of  My Experiment with Truth
Alih Bahasa : Andi Tenry W
Penyunting : Lilih Prilian Ari Pranowo
Penerbit : Narasi, Jogjakarta
Edisi : I, 2009

“Dunia menghancurkan debu di bawah kakinya, namun pencari kebenaran haruslah merendahkan diri sehingga debu saja akan bisa menghancurkannya.”- Mohandas Karamchand Gandhi, Ashram Sabarmati, 26 November 1925.

Buku bersampul kuning gading ini diawali dengan kata pengantar yang penuh perasaan tentang awal kisah penulis, Mohandas Karamchand Gandhi, seorang advokat dan tokoh pemimpin terkemuka dari India. Gandhi, menyanggupi menulis autobiografi atas permintaan rekan kerjanya. Saat awal menulis, kerusuhan di Bombay pecah sehingga harus berhenti. Sebagian besar dia menuangkan kisah pribadinya saat di penjara di Yeravda.

Sampul Buku

Gelar “Mahatma yang Melukai”

Sempat ada kegamangan dalam diri Gandhi, apakah ia harus menulis atau tidak sebuah autobiografi. Karena ada anggapan bahwa orang yang telah membentuk tingkah laku mereka berdasarkan pengaruh kata-kata Anda, yang dikatakan maupun dituliskan, bisa tertipu? Bukankah lebih baik bagi Anda untuk tidak menulis apapun yang menyerupai sebuah autobiografi, untuk saat ini?”. Argumen ini sangat memengaruhi jiwanya, namun dia memiliki alasan lain kenapa autobiografi penulis ini ada.

“Saya yakin atau bagaimanapun juga membujuk diri saya bahwa kaitan nilai dari semua eksperimen ini pasti memiliki nilai tambah bagi pembaca, eksperimen saya dalam bidang politik sekarang tak hanya diketahui di India, tapi mencapai batas tertentu dari dunia yang “beradab”. Gelar “Mahatma” (orang yang sangat bijaksana dan suci,ed) yang telah mereka sematkan pada saya, memiliki nilai, karenanya, yang lebih rendah. Kerap kali gelar tersebut melukai saya secara mendalam,” ungkapnya jujur.

Gandhi merasakan betul bagaimana dalam hidupnya hampir tidak ada waktu yang menyenangkan untuk dirinya. Ia menarasikan bahwa eksperimennya dalam dunia spiritual hanya diketahui secara pribadi, yang mana dari situlah ia mendapat kekuatan bekerja di dunia perpolitikan.

Menurut Ghandi, jika eksperimen itu sungguh-sungguh spiritual, tak kan ada ruang untuk memuji diri sendiri. “Semakin banyak saya bercermin dan melihat kembali ke masa lalu, semakin jelas saya merasaan keterbatasan saya,” katanya merendah.

Sebagai sebuah autobiografi, buku ini sangat bagus untuk dibaca dengan sepenuh hati. Meskipun sangat tebal, namun buku yang terdiri dari lima bab ini setiap bab dipaparkan dengan singkat dan lugas. Setiap tutur katanya halus dan sangat hati-hati. Dia menjabarkan beberapa istilah dengan halus seperti kata eksperimen untuk pengalaman, atau kebutuhan jasmani untuk kebutuhan seksual.

Anak Pemalu yang mengawali karir sebagai pengacara

Di awal bab satu, Gandhi menceritakan asal usul keluarganya yang berasal dari Kasta Bania, yang merupakan keluarga pedagang. Namun selama tiga generasi, mulai dari kakek hingga ayahnya menjadi perdana menteri di beberapa negara bagian Kathiawad. Sang ayah, Karamchand Gandhi atau Kaba Ghandi adalah anggota Dewan Rajasthnik.

Kaba Ghandi menikah empat kali berturut-turut setiap kali kehilangan istri karena meninggal dunia. Beliau memiliki dua orang putri dari pernikahan pertama dan kedua. Istri terakhir beliau, Pulitbai, memberinya seorang putri dan tiga orang putra. Ghandi adalah anak ketiga atau yang paling muda.

Ayahnya Kaba Ghandi adalah seorang penyayang dalam marganya, pecinta kebenaran, pemberani dan murah hati, namun pemarah. Ibunya, Pulitbai adalah sosok yang sangat religius. Tak pernah berpikir untuk makan sebelum melakukan sembahyang harian. Dia selalu melakukan Chaturmas (Ikrar untuk berpuasa dan semi puasa selama empat bulan musim penghujan).

“Ibu saya memiliki pengetahuan yang amat luas, beliau sangat memahami segala masalah negara, dan para wanita di dewan sangat mengagumi kecerdasannya,” tuturnya di bab awal. Dari pasangan inilah Ghandi lahir di Porbandar atau dikenal Sudamapuri pada 2 Oktober 1869.

Masa kecil Ghandi termasuk anak yang biasa saja dan sempat pindah sekolah mengikuti tugas ayahnya. Namun, sejak kecil dia termasuk sosok yang pemalu. “Saya sedemikian pemalu dan menghindari semua teman. Buku-buku dan pelajaran adalah teman sejati saya. Saya selalu berlari jika pulang, karena saya tak berani berbicara dengan siapapun. Saya bahkan khawatir kalau-kalau ada orang yang menertawakan saya,” tuturnya di halaman 7.

Sebagai seorang anak bungsu, Ghandi tidak dapat tunduk pada ayahanda. Dia terpaksa menikah muda. Cerita tentang pernikahan dini terasa pilu. Dengan terus terang dia sebenarnya sangat tidak ingin menceritakan bab ini.

“Saya sangat tidak berharap menulis bab ini, karena harus menelan pil pahit selama menulis. Akan tetapi jika saya pemuja kebenaran, saya tak bisa melakukannya. Adalah tugas yang menyakitkan untuk menuliskan tentang pernikahan waktu usia saya tiga belas tahun,” halaman 10.

Pada bab-bab berikutnya cerita Ghandi kian menarik bergulir indah. Setiap tutur katanya acapkali membuat kita berdebar, bahkan berdegup kencang. Kisah cintanya terhadap sang istri yang lugu, Kasturbai. Ikrar setia pasangan muda ini terasa indah yang dituturkan dengan bagus pada bab IV bagian I berjudul “Memerankan Peran Suami”.

“Jika saya harus sanggup bersetia pada istri, maka ia juga harus sanggup bersedia pada saya, pemikiran itu membuat saya menjadi seorang suami pencemburu, jelas saya tidak punya alasan untuk mencurigai kesetiaan istri saya, namun rasa cemburu tidak menunggu datangnya alasan,” ucap Gandhi.

Kecemburuan ini berlanjut saat Gandhi muda melanjutkan studi di Inggris. Sejak muda dia terlatih menjadi vegetarian. Bahkan terpilih menjadi Komite Eksekutif Perkumpulan Vegetarian.

Kesulitan praktik sebagai seorang pengacara, menarik untuk di simak di bagian XXV tentang ketidak berdayaannya mempelajari hukum. Ghandi telah mempelajari hukum, tapi tidak belajar bagaimana cara mempraktikkan hukum.

“Saya telah membaca dengan penuh minat “legal maxims” (peribahasa-peribahasa hukum, ed), tetapi tidak tahu bagaimana cara mengaplikasikannya dalam profesi saya. “Sic utere tuo ut alienum non laedas” (memanfaatkan kekayaanmu sebaik mungkin agar tidak mengganggu milik orang lain, ed),’ hlm 116.

Mantra Sebuah Buku dan Pengalaman di Penjara

Meskipun sempat mengalami hambatan dalam mempelajari ilmu hukum. Pada bab-bab berikutnya cerita semakin menarik karena berhasil menangani beberapa klien dan mengunjungi Afrika Selatan. Pada bagian empat, pada bab yang berjudul “Mantra Sebuah Buku” Ghandi menjelaskan tentang beberapa hal yang harus dilakukan dan dihindari dalam bekerja. Tidak hanya bekerja sebagai pengacara tapi juga dalam bekerja sosial.

Konsistensinya sebagai seorang pengabdi kebenaran betul-betul di uji dalam keseharian. “Sekarang saya sadar jika seorang pekerja sosial tidak boleh mengucapkan pernyataan yang belum ia pastikan terlebih dahulu. Di atas semua itu, seorang pengabdi kebenaran harus melatih kehati-hatian yang besar. Selain mengkritisi beberapa media asing dan India, sebuah buku juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hidup Ghandi.

Salah seorang teman bernama Tuan West (Gandhi memanggilnya), memberinya sebuah buku untuk dibaca sepanjang perjalanan di kereta yang ia katakan jika membaca buku ini, Gandhi pasti menyukainya. Judul buku itu adalah “Unto The Last” Karya Ruskin. Saat itu ia sedang berada di Afrika Selatan.

Buku ini sangat bagus, menurut Ghandi, buku itu berhasil merubah hidupnya. “ Buku ini mencengkeram saya, Johannes-Durban merupakan perjalanan selama dua puluh empat jam. Kereta itu sampai di sana pada malam hari. Saya tidak bisa tidur malam itu. Saya memutuskan untuk mengubah hidup saya menurut konsep ini,” halaman 432.

Bagi Gandhi ini merupakan buku Ruskin pertama yang ia baca. Selama masa pendidikan ia praktis tidak membaca apapun selain buku-buku teks. Bagaimanapun Gandhi menyadari jika dia mengalami kerugian karena pembatasan yang dipaksakan ini. Gandhi pun menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Gujarat, memberinya judul Sarvodaya (kesejahteraan untuk semua).

Selain pengalamannya bergulat dengan buku, pada bab lain, Gandhi juga menceritakan tentang pengalamannya di penjara pada tahun 1908, ditulis pada bab bejudul Satyagraha Domestik. Gandhi melihat beberapa peraturan yang harus dipatuhi para tahanan juga seharusnya secara sukarela dipatuhi oleh seorang “Brahmachari”, yaitu orang yang berniat melaksanakan pengendalian diri.

Peraturan-peraturan itu, contohnya adalah peraturan yang mengharuskan makanan terakhir dihabiskan sebelum matahari tenggelam. Baik tahanan India maupun tahanan India maupun Afrika tidak boleh minum kopi dan lain sebagainya.

Perkembangan politik di India banyak di kupas di bab V. Dari mulai Shantiniketan, Para Penumpang kelas tiga, Kumbha Mela,, Lakshman Jhula, Pendirian Ashram, Ketiga Gubernur Baik Hati, Hasrat untuk bersatu, Navajivan dan Young India, khilafat Lawan perlindungan Sapi, Kongres Amritsar, Kampanye Perekrutan, Dialog yang mengandung pelajaran dan lain sebagainya.

Saya tidak akan banyak menyoroti permasalahan politik di India. Karena pembahasannya saya sangat panjang, sehingga membacanyapun agak sedikit sukar karena kurang paham sejarah dan bahasa gujarat yang beraneka macam membuat saya harus membolak balik buku dan mencari makna. Bagi yang mengikuti sejarah India, tentu menarik karena permasalahan masa itu sangat pelik. Dari wabah hitam, kemiskinan petani, hingga pegawai kontrak.

Resolusi mengenai persatuan Hindu Muslim, penghapusan kaum paria dan khadi juga diajukan ke dalam kongres ini, semenjak menjadi amggota Kongres yang beragama Hindu telah menerima tanggung jawab untuk melepaskan agama Hindu dari kutukan kaum paria, dan Kongres telah menetapkan ikatan hubungan yang nyata dengan “kerangka” India melalui Khadi. Pemilihan tidak bekerjasama demi khilafat sendiri merupakan sebuah usaha praktis yang hebat yang dilakukan oleh Kongres untuk mewujudkan persatuan Hindu-Muslim.

Gandhi menguasai beragam agama di luar Hindu, yaitu Islam dan Kristen. Secara terbuka dia menulis dengan sederhana, beberapa ajaran agama yang ia pelajari, termasuk Al-Qur’an dan Bible (injil).

“Saya membeli Qur’an terjemahan Sale dan mulai membacanya. Saya juga mendapatkan buku-buku tentang Islam lainnya. Saya berkomunikasi dengan kawan-kawan Nasrani di Inggris, salah satunya Edward Maitland dan berkorespondensi dengannya. Ia mengirimkan saya “The Perfect Way” dan “The New Interpretation of Bible” (Penafsiran Baru dari Injil),” tulis Gandhi dalam autobiografinya.

Selain itu Gandhi atau ada juga orang yang memanggilnya Bapu, menyukai karya-karya Tolstoy seperti “The Kingdom of God is Within You”. Juga beberapa buku lokal India seperti Panchikaran, Maniratmala, Mumuksu Prakaran dan Yogavasistha.

Empat Ajaran Utama M.K Gandhi

Dalam pembahasannya berkaitan dengan perjuangan Gandhi selama ini, setiap upaya perjuangan yang dilakukan, ada upaya yang sangat kuat dari Gandhi untuk membela penduduk India dari kemiskinan.
Dalam setiap rangkaian kehidupannya, Gandhi sebagai tokoh perdamaian dikenal dengan empat prinsip perdamaian. Yakni pertama, Bramkhacharya (mengendalikan hasrat seksual), Satyagraha (Kekuatan kebenaran dan cinta), Swadeshi (memenuhi kebutuhan sendiri) dan Ahimsa (tanpa kekerasan terhadap semua mahluk).

Satu hal yang menjadi ciri khas Gandhi adalah empatinya merasakan penderitaan rakyat. Meskipun menangani kasus-kasus besar di beberapa negara, namun kemana-mana ia lebih senang berjalan kaki dan naik kereta kelas ekonomi sejak kuliah di Inggris dan menjadi pemimpin berpengaruh di India. Begitu juga dalam berpakaian, dia memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki para pemimpin lain di dunia. Wujud kesederhanannya sangat terpatri di dalam benak rakyat India.

Menurut Gandhi, Kebenaran hanya akan diikuti oleh perwujudan Ahimsa sepenuhnya. Untuk bisa melihat universalitas dan penyebarluasan Roh Kebenaran secara langsung, maka seseorang harus bisa mencintai mahluk terjahat sebagaimana ia mencintai dirinya. Dan orang yang mencita-citakan hal itu tak sanggup menghindar dari perjuangan dalam hidup.

“ Itulah sebabnya pengabdian saya kepada kebenaran telah telah menarik saya ke bidang politik; dan saya bisa berkata tanpa ragu, tapi dalam segala kerendahan hati, bahwa mereka yang mengatakan jika agama tak ada hubungannya dengan politik tak tahu apa arti agama,” tulis Gandhi mengejutkan saya di bab penutup.

Perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dilakukannya hingga akhir hayat. Dengan satir dia menulis. “ Biarlah ratusan orang macam saya ini mati, namun biarkan kebenaran menang, janganlah kita mengurangi standar kebenaran bahkan sehelai rambut pun dalam menilai mahluk fana yang berdosa ini,” pungkasnya.

Teladan Gandhi memang sangat fenomenal, luar biasa. Banyak sekali buku yang membahas tentang sosok dia.

Bahkan, seorang sejarawan Amerika Serikat, Stanley Wolpert, menulis buku yang ia pelajari dari autobiografi M.K.Ghandi ini berjudul Gandhi’s Passion The Life an Legacy of Mahatma Gandhi yang diterbitkan oleh Penerbit Raja Grafindo Jakarta dengan judul “Mahatma Gandhi Sang Penakluk Kekerasan,” yang terbit pada tahun 2002 disertai dengan kisah yang tragis di akhir hidupnya.

Buku autobiografi ini memang sudah sulit dicari. Saya menemukannya tidak sengaja di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten. Di Perpustakaan ini ada beberapa biografi tokoh dari Hitler, Bung Karno, hingga Jack Ma. Mungkin bisa didapati juga di perpustakaan atau di toko buku.

Jakarta, 27 Februari 2017
Pukul 15.31

Sampul Buku-Rumah Bambu

Sampul Buku-Rumah Bambu

Cerita Sederhana yang Menukik Hati

Jika anda ingin membaca cerita-cerita yang ringan, pendek dan sangat menyentuh perasaan, anda harus membaca Kumpulan Cerpen karya YB.Mangun Wijaya atau akrab biasa disapa Romo Mangun dalam salah satu Kumpulan Cerpennya berjudul “Rumah Bambu” yang diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia (Penerbit KPG).

Buku ini sebenarnya buku lama, saya harap Penerbit berani untuk menerbitkan kembali buku-buku ini untuk generasi di masa yang akan datang yang lebih mencintai kesederhanaan dan hidup bersahaja dibanding dunia anak muda sekarang yang serba digital dan penuh hiruk pikuk belaka.

Ada satu peristiwa dalam hidup Romo Mangun yang di kemudian hari menjadi cerita “legendaris”. Seorang teman menyebut peristiwa itu sebagai tragedi lem kanji. Suatu ketika Romo Mangun menyuruh salah seorang pembantunya membuat lem kanji. Kebetulan Romo sedang membutuhkan banyak lem, sementara ia enggan membelinya di toko. Selain mahal dan bikin boros, memang demikianlah prinsipnya: Jangan mudah membeli sesuatu yang sebenarnya dapat dibuat sendiri. Lem kanji yang dipesan pun jadi.

Celaka, Romo bukannya senang, tetapi malah marah, sebab lem kanji itu terlalu banyak dan mubazir. Sambil marah, Romo mengambil piring, sendok, garam, lalu menyodorkan kepada si pembuat lem kanji itu dan menyuruh memakannya. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, tapi peristiwa itu benar-benar terjadi.

Selain itu ada juga cerita tentang pesawat tempur dan helikopter milik TNI angkatan Udara yang sudah lapuk dan bulukan, tapi berusaha diterbangkan oleh pilot yang masih belajar, tepatnya di halaman 97 yang berjudul tentang Pilot. Tapi yang terjadi sekarang memang Alutsista Kementerian Pertahanan dan semua TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara sudah pada lapuk dan hanya ada sedikit anggaran membeli Alutsista seperti Sukhoi, yang baru saja diberi mahal malah dipakai orang Rusia yang tidak tahu ilmu kedirgantaraan.

Dari cerita di atas dapat kita simbulkan bahwa kita harus pandai-pandai menilai diri sendiri. Suatu hal atau barang yang menurut kita mahal, belum tentu mahal menurut orang lain. Lebih baik kita membeli sedikit lem kanji daripada memarahi orang yang membuatkan kita lem kanji dengan banyak dan kelelahan agar mendapat upah.

Dalam buku yang terdiri dari 20 Cerita pendek (Cerpen) yang belum pernah di publikasikan ini, semua cerita yang ada dikemas secara artistik dan menggelitik namun cetar membahana. Kita akan di bawa ke dalam cerita bencong yang menyamar menjadi pengamen, hingga cerita-cerita sederhana lainnya yang menyentuh hati dan memekakkkan telinga.

Jadi tunggu apa lagi, datang saja ke Perpus Kementerian Kemendikbud untuk membaca buku ini, jika Penerbit KPG enggan menjualnya kembali, karena royaltinya belum diterima sama Romo Mangun Wijaya.

Jakarta, 4 Desember 2017

Sejak Maret 2017, Saya hampir tidak pernah menulis di blog. Sangat malas dan tidak semangat. Bulan Juli sampai September sempat non aktif, karena ada sesuatu berdasarkan tracking dan menghilang sejenak dari google agar namanya tak muncul.

Kadang saya berpikir, saya terlalu show up atau pamer di blog, jadi adakalanya malu dan geli baca tulisan yang sudah lama, jadi lebih baik ditutup aja blog ini, kadang berpikir demikian.

Seiring berjalannya waktu dan kerjaannya menumpuk saya larut dalam rutinitas. Beberapa hari yang lalu, saya buka website detik.com dan ada tulisan tentang Filantropis Bill Gates yang baru-baru ini rajin ngeblog review buku….ya ampuun seneng banget bacanya. Secara saya sejak lama review buku di blog ini, tapi saya tidak pernah peduli ada yang baca atau tidak, tapi bagiku ini sangat menyenangkan.

Keponakanku Auliani Ekasari Putri dari Jogja juga tanya kok bibi blognya tidak aktif, akhirnya kemarin saya aktifin lagi.

Apa yang saya geluti sejak lama sekarang sudah banyak dilakukan orang. Saya salut dan sangat respek pada orang yang suka membaca atau pegiat literasi, meskipun kadang saya sendiri merasakan tidak semua orang suka membaca. Bahkan ada yang mengatakan saya terlalu teksbook dan kebanyakan teori, lebih baik banyak berbuat tidak usah terlalu lama baca buku, kata sebagian orang, yah bagiku itu adalah pilihan-pilihan kita dalam melakukan suatu kegiatan.

Salam Literasi Bersama Guru Berprestasi

Bagi saya membaca saat ini adalah suatu yang mahal. Duduk, meluangkan waktu dan menelisik lembar demi lembar itu sangat menyenangkan. Di tengah kerjaan yang menumpuk. Dengan membaca kita dilatih untuk berempati dan peduli dengan apa yang diceritakan penulis. Nah, itulah kekuatan literasi. Olah rasa, olah jiwa dengan bacaan. Dari situ kita akan merasakan suatu kepuasaan tersendiri dengan apa yang disampaikan penulis, setting cerita dan terbawa suasana. Apalagi jika bukunya bagus kita review supaya orang juga tahu apa yang kita baca mereka rajin membaca dan membeli buku yang kita punya.

Beberapa waktu yang lalu, dalam kurun waktu  terakhir saya rajin mengunjungi Perpus Kemendikbud, Perpus UIN Jakarta, Perpus Kemenkes, Perpusnas, FKM UI dan terakhir Perpustakaan Bank Indonesia. Saya suka berlama-lama di perpustakaan, karena tuntutan pekerjaan, setelah lama di lapangan untuk liputan dan bahan penulisan, biasanya saya mencari referensi di perpus. Tapi saya lebih suka perpus yang ga ada wifinya jadi kita tenang bisa membaca sampai selesai. Nanti kapan-kapan saya akan cerita pengalaman selama 1,5 tahun mengunjungi aneka perpustakaan, ini seru dan mengasyikkan meskipun saya harus mengakhirinya karena harus ngantor lagi beberapa bulan belakangan.

di Perpustakaan Kemendikbud

Saat ini gerakan literasi sudah mulai menyeruak di berbagai lini, lingkungan sekolah misalnya, setelah berdoa diharapkan setiap murid membaca selama 10 menit buku cerita, itu yang diajarkan para guru untuk melatih murid agar senantiasa gemar membaca. Semoga kedepan orang akan semakin banyak membaca dan tentu saja, biasanya orang bisa menulis karena suka membaca. Jangan larut dengan hal-hal yang praktis luangkan waktu untuk menulis dan membaca.

di Perpustakaan Bank Indonesia

Pepatah mengatakan jika Sahabat terbaik adalah buku, ya buku bisa kita bawa saat susah senang dan melanglang buana kemanapun si penulis membawa cerita. Mencintai buku adalah mencintai ilmu pengetahuan, semakin banyak membaca semakin kita merasa bodoh. Disitulah kita menjadi tidak mudah terpengaruh dengan berita online dan berita hoaks yang bertebaran. Dengan membaca kita juga punya second opinion, referensi dan rujukan. Apalagi saya suka menstabilo kutipan yang memotivasi atau kata-kata bijak yang menyentuh hati. Bagi saya itu ibarat kita menemukan berlian di tengah pusaran padang pasir.

kutipan-kutipan seperti ini yang kusuka

Maka mari kita rajin membaca, menulis apa saja, menulis puisi, cerpen atau menulis di blog, atau opini selagi sempat. Jangan menulis status kebencian atau sikap nyinyir yang justru membuat orang tidak nyaman. Barbaik sangka sama orang, dan tidak menyimpan rasa dendam, maka hati kita menjadi lapang. Kita menulis, bekerja apapun yang kita lakukan diniati ibadah, tidak mengharap pujian manusia, karena yang berhak menilai diri kita adalah Tuhan. Salam Literasi.

Salam Literasi

Berikut saya tulis link yang membuat saya termotivasi untuk menulis di blog lagi, tidak jadi menutupnya.

Pejaten 7 September 2017

Salam Literasi

https://inet.detik.com/cyberlife/d-3629030/ternyata-ini-hobi-bill-gates-yang-membuatnya-pintar

Ternyata Ini Hobi Bill Gates yang Membuatnya Pintar

Fino Yurio Kristo – detikInet
Share 0 Tweet 0 Share 0 1 komentar
Bill Gates (Foto: Internet)

Jakarta – Bill Gates mengaku sudah kecanduan membaca sejak kecil. Itu adalah salah satu kunci kepintaran dan kesuksesan pendiri Microsoft tersebut. Tak sekadar membaca, ia bahkan juga sempat menulis beberapa review buku di blognya, Gates Notes.

Berikut wawancara singkat dengan Bill Gates yang menceritakan soal kecanduannya membaca, dikutip detikINET dari New York Times.

Seperti apa peran membaca dalam hidup Anda?

Membaca adalah salah satu cara utama bagiku untuk belajar dan telah kulakukan sejak masa kanak-kanak. Belakangan ini, aku memang mengunjungi tempat-tempat menarik, bertemu dengan para ilmuwan, dan menyaksikan banyak kuliah online. Tapi membaca masih tetap menjadi cara utama bagiku mempelajari hal-hal baru dan menguji pemahamanku.

Bill Gates

Apa yang membuat Anda memutuskan menulis review buku di blog?

Aku selalu suka membaca dan belajar, jadi kupikir akan bagus jika orang membaca sebuah review buku dan juga merasa terdorong untuk membaca dan membagikan apa yang mereka pikirkan dengan teman-temannya.

Salah satu alasan utama aku memulai blog memang adalah untuk membagikan pemikiranku soal apa yang kubaca. Jadi menyenangkan melihat orang menulis reaksi dan rekomendasi mereka di kolom komentar.

Bagaimana Anda memilih buku yang akan dibaca?

Melinda dan aku kadang saling bertukar buku yang kami suka. Aku juga mendapatkan rekomendasi dari teman. Setelah menyelesaikan buku yang bagus, aku sering mencoba menemukan buku lain karya penulis yang sama atau buku yang mirip tentang subyek yang sama.

Buku apa yang sering Anda rekomendasikan?

Aku membaca buku The Better Angels of Our Nature karya Stephen Pinker beberapa tahun lalu dan setelahnya langsung aku menemui Stephen untuk bicara padanya. Aku review buku itu di Gates Notes karena aku ingin orang lain membacanya, menyukainya dan belajar darinya seperti halnya diriku. Ini mungkin buku favoritku dan yang paling sering kurekomendasikan.

Apakah Anda juga membaca novel?

Aku memang tidak membaca banyak fiksi tapi pernah terkejut karena merasa sangat suka dengan novel berjudul The Rosie Project karya Graeme Simsion. Melinda yang pertama membacanya dan kadang membacanya dengan suara keras. Akhirnya, aku memutuskan untuk juga membacanya.

Aku mulai membaca novel itu pada jam 11 malam dan keterusan sampai jam 3 dini hari. Novel itu sangat lucu dan juga menunjukkan banyak empati bagi orang yang berjuang di berbagai situasi sosial.

Jika anda ingin membaca website pribadi Bill Gates, silahkan kunjungi http://www.gatesnotes.com

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet Deneefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers Festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali. Ia mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7 km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan “Imagining India” pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada aplikasi waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee . Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke Tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali. Ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain beulok-beulokan (kotor-kotoran) di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-foto akhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara di Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya Jack, serta Alex mereka semua turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampai besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di Neka Museum saya mengikuti sesi “Migrant “dan “Refugees” bersama Stef Vaessen, Sami Shah, Chris Raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang “A Little Life” yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemu Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Lima Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan. Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak aku ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbagai bangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket Bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan ke Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirman 21.40

MENGARUNGI PERJALANAN SPIRITUAL-INTELEKTUAL

Judul: Bahkan Malaikat Pun Bertanya
Penulis: Dr Jeffrey Lang
Pengantar: Jalaluddin Rahmat
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktober 2000
Tebal: (xix + 302) halaman

Buku Jefrey Lang

Buku Jefrey Lang

Buku Bahkan Malaikat pun Bertanya ini berangkat dari keprihatinan penulisnya setelah melihat banyak orang Islam di negerinya menghindari atau bahkan mengingkari agama itu, lantaran tak mampu mendamaikan agama yang mereka warisi dengan pandangan Barat sekuler yang mereka peroleh.
Fenomena yang sesungguhnya melanda nyaris semua negeri muslim ini telah membelah umat Islam ke dalam dua kubu yang berlawanan: mereka membekukan dirinya dalam tradisi lama dan mereka yang mengekor pada peradaban Barat.

Yang pertama memandang pemikiran Islam terdahulu sebagai rujukan ideal, dan yang kedua melihat Barat sebagai puncak peradaban. Yang pertama kaum fundamentalis, sedangkan yang kedua kaum liberal.

Kedua kelompok itu sama “menyesatkan”. Agar tidak terperangkap dalam bahaya itu, lewat buku yang dalam peringkat Amazon.com mendapat bintang lima ini penulis menganjurkan umat Islam senantiasa mengembangkan sikap kritis. Baik dalam memandang realitas faktual yang muncul, maupun dalam memahami pesan-pesan Islam itu sendiri.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu stereotip yang populer di Barat. Disebut stereotip karena, kesan-kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab.

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apapun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila masuk Islam atau naik haji?

Hal seperti itulah yang mengusik Jeffrey Lang, ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk ditukar dengan jubah dan sorban seperti Cat Steven, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga tak pernah mengubah Thank God sebagai pengganti Alhamdulillah.

Menurut mualaf Amerika penulis buku terkenal Struggling to Surrender (telah di Indonesiakan menjadi Pergumulan Menuju Kepasrahan, Serambi, Juni 2002) ini, cara yang paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukan mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik.
Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan, katanya. Bahkan malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan pun bertanya! Mereka “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka Bumi: Apakah Engkau akan jadikan disana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

BUKU ini membawa pembaca mengarungi perjalanan spiritual intelektual dengan mendiskusikan konflik-konflik yang terjadi antara agama dan akal, rintangan-rintangan yang dipasang oleh kaum Muslim sendiri yang menghalangi orang untuk memeluk Islam, ekstremisme dalam komunitas Islam, dan lain-lain.

Bahkan Malaikat Pun Bertanya, memiliki arti umum yang sangat penting, ditulis dengan sangat bagus (orang mungkin tidak mengira bila penulisnya seorang guru besar matematika), dan merupakan hasil dari kajian yang baik.

Memang buku ini adalah gambaran hidup tentang bagaimana Jeffrey Lang begitu tertarik kepada Islam tanpa terbendung lagi. Namun, buku ini juga menawarkan suatu program yang solid dengan menawarkan alasan yang baik bagi semua orang Amerika lainnya memerlukan kajian rasional yang luas dan mendalam sebelum berserah diri pada Allah.

Perjalanan spiritual Dr. Lang menjadi terkesan unik dan menarik ketika ia ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi, ia berhasil menemukan pencerahan baru: no escape from being an american. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya.

Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya. Islam tidak pernah datang dari suatu vakum kultural. Karena itu, maka ditemukanlah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Dan mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Akan tetapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah jatuh pada hambatan besar: mengekor Barat? Memang disamping kaum fundamentalis yang mengekor kebudayaan Arab, kita juga menemukan kaum liberal yang mengekor Barat sebagai puncak peradaban.

Terlepas dari jebak-jebakan itu, Dr Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis pada bab 2 buku ini: “Cara paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukanlah mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik, melainkan justru harus sebaliknya. Komunitas Muslim harus terus mendorong kedua hal itu. Kita cenderung berbuat salah manakala kita tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri”.
***
MEMBACA buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalanan spiritual, bukan saja seorang Muslim Amerika, tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dan Islam aktual.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang perspektif orang non-Muslim tentang Ramadhan. Mereka menilai bahwa puasa merupakan ibadah ritual yang paling keras dalam Islam (hlm 216).
Namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa kekhawatiran dari buku ini, yakni dapat menjerumuskan pembaca non-Muslim pada kesan keliru dan sepihak tentang kaum Muslim. Boleh jadi pemburukan media Barat atas citra kaum Muslim dan agama mereka.

Jeffrey Lang menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli (berdasarkan akal) dan nakli (berdasarkan Al-Qur’an).

Uraian Dr Lang dalam buku ini juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. Bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan serius maupun ringan.

(Eva Rohilah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di harian Kompas edisi 11 Maret 2001, waktu itu ditelepon sama Pak Dewa Brata Redaktur Pustakaloka yang terbit setiap Senin, honornya saya masih ingat 350.000 sangat besar ukuran saat itu, dari sini pula saya diberi beberapa buku baru dari Penerbit Serambi yang Chief Editornya Pak Qamaruddin SF, setelah saya kerja di Alvabet kita sering bertemu sebagai sesama penerbit dan bersahabat baik dengan beliau.

JUNJUNGLAH TINGGI SISTEM NILAI YANG EGALITER

Judul: Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan
Penulis: Dr. Irwan Abdullah
Editor: Ana Samsuri
Penerbit: Tarawang Press Yogyakarta
Cetakan 1 Maret 2001
Tebal: (xvi + 222) halaman

Buku Irwan Abdullah

Buku Irwan Abdullah

Diawali dengan ide dan gagasan RA Kartini lewat buku Habis Gelap terbitlah Terang perjuangan perempuan untuk kesetaraan hak sampai kini terus bergulir. Bahkan, belakangan ini wacana itu menjadi semakin marak, lantaran dalam rentang waktu yang demikian panjang dan lama, perempuan menuju persamaan hak belum juga mencapai klimaks.

Dalam struktur yang hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukan pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup.

Akan tetapi, mengapa dalam praktik sosial, perempuan mau mengalah atau dikalahkan? Kesalahan utama yang dilakukan para politisi, peneliti, dan kaum feminis, adalah mereproduksi struktur patriarirkal dengan menekankan wacana ketimpangan jender, perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung, halus, dan sebagainya.
Dengan cara itu sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa untuk kesejahteraan perempuan. Sebaliknya, perempuan malah tersubordinasi secara terus menerus oleh wacana yang dibangun orang-orang yang sangat ingin membantu perempuan sekalipun
***
Buku Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan ini terdiri dari empat bagian, atau sebelas bab. Ditulis dengan saksama oleh dosen Fakultas Sastra UGM yang sangat tertarik pada masalah perempuan sejak mahasiswa. Penulis itu Dr. Irwan Abdullah, seorang feminis kelahiran Aceh Utara 37 tahun yang lalu.

Melalui bukunya tersebut ia berusaha membawa pembaca mengikuti dua arus besar yang melanda dunia ketiga. Dalam ranah sosial, pembicaraan mengenai perempuan telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada saat konsep “jender” digunakan sebagai perspektif. Jender lebih menunjuk kepada relasi dimana kaum lelaki dan perempuan berinteraksi.

Hal tersebut menjadi rumit tatkala perempuan memainkan berbagai peranan sekaligus. Perempuan ideal kemudian menjadi superwoman yang memiliki kapasitas domestik dan diharapkan memiliki kapasitas dalam bidang publik secara sempurna. Posisi laki-laki disini tampak cenderung tidak digugat.
Secara implisit dinyatakan bahwa peran publik merupakan tanda kemerdekaan perempuan, dan peran domestik digugat karena dianggap telah memenjarakan perempuan. Cara-cara seperti ini sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi sosial.

Dalam proses migrasi dari domestik ke publik, perempuan harus mengeluarkan biaya ideologi yang begitu besar. Perempuan tidak hanya harus memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki untuk memenuhi kriteria sebuah pekerjaan, tetapi juga harus cantik dan menawan. Bukankah ini sekaligus pelecehan terhadap perempuan.

Pada bagian lain, arus balik yang terjadi berasal dari realitas ekonomi. Hal ini berawal dari penandaan tubuh perempuan yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif ke arah fungsi ekonomi demi ekspansi kapital. Tubuh dan hasrat digunakan sebagai titik sentral produk yang disebut sebagai ekonomi libido.

Pembahasan soal itu menjadi menarik ketika menyangkut masalah tubuh perempuan dalam iklan dan rimba laki-laki. Stigma ini cukup diimbangi dengan peranan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi.

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Imbangan itu antar lain tampak dari hasil penelitian tentang bagaimana peranan perempuan dalam pasar, pedesaan, dan kerajinan rumah tangga yang lebih menenkankan pada aspek mobilitas dan mengangkat marginalitas profesi seperti bakul (penjaja), tukang jamu. Bahkan juga peranannya dalam home industry.
***

Pesan utama dari penulis adalah bahwa usaha perbaikan kehidupan perempuan bukan usaha memerangi laki-laki tetapi mengubah sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obejek. Perubahan ini akan terjadi apabila bertumpu pada struktur yang menjunjung tinggi sistem nilai dan ideologi yang egaliter.

Kekuatan utama buku ini pada epilog yang merupakan rajutan dari berbagai bab. Masing-masing bagian digarap secara serius karena beberapa bahan dalam buku ini hasil penelitian lapangan serta riset perpustakaan yang dilengkapi dengan data kuantitatif yang cukup akurat.
Disamping itu ada terobosan yang cukup berani untuk melakukan penyegaran, penyusuran, dan penggerusan yang cukup mendalam atas kompilasi wacana yang telah ada, kritikan terhadap kaum feminis, sampai sindiran yang tajam terhadap kaum oportunis.

Sayangnya ada satu kelemahan yang cukup fatal, yaitu tidak seimbang (equal) antara judul buku dengan substansi, yakni dimensi seksisme kurang begitu disentuh secara mendalam. Ulasannya teramat singkat hanya sebatas retorika dan obyektivitas reproduksi dalam kaitannya dengan kekuasaan lelaki.
Hal itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran editor yang kurang memperhatikan grand opinion dan tidak fasih dalam menerapkan gaya penulisan ilmiah sehingga buku ini terkesan kaku meskipun alur penulisannya dari awal hingga akhir menarik.

Akan tetapi, setidaknya, sampul bergambar RA Kartini yang melankonis akan sedikit mengeliminir kelemahan buku ini. Yang jelas, dengan kelebihan dan kekurangannya itu, buku ini telah menambah panjang koleksi buku feminis. Siapapun yang peduli akan nasib, pendidikan, dan masa depan perempuan akan memperoleh manfaat dari buku ini.
(Eva Rohilah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurnalis LPM Sinergi Yogyakarta)
Dimuat di Harian Kompas edisi 28 Mei 2001

JANGAN LUPAKAN TRADISI

Judul: Agama, Negara, dan Penerapan Syaria’ah
Judul Asli: Ad-Din Wa Ad Daulah wa Tathbiq As-Syari’ah Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah (Beirut 1996)
Penulis: Muhammad Abed Al Jabiri
Penerjemah: Ulin Nuha
Penerbit: Fajar Pustaka Bru, Yogyakarta
Cetakan I, September 2001
Tebal: (xxxvi + 201) halaman

Buku Abed Al-Jabiri

Buku Abed Al-Jabiri

MUHAMMAD Abed Al-Jabiri seorang pemikir terkemuka Arab saat ini yang mengangkat berbagai gagasan segar dalam rangka kebangkitan Islam, khususnya di lingkungan negara Arab. Ia punya analisa yang cukup signifikan terhadap masalah yang menyita kaum muslim tentang hubungan negara dan agama.

Masalah itu menjadi mendesak karena kemunculan negara-negara bangsa (nation state) dan berhembusnya semangat sekularisme yang dibawa Barat Modern. Dia mengemukakan pertanyaan apakah Islam itu agama atau negara merupakan pertanyaan palsu karena diajukan oleh kebudayaan Barat dengan segala pengakuan historis yang dilaluinya, bukan cermin realitas kaum Muslim sendiri.

Menurut Al-Jabiri, kalau mau jujur menelaah Al Qur’an dan sejarah Islam, kita akan menemukan fakta bahwa Islam tidak pernah menentukan jenis dan bentuk negara. Rujukan historis maupun praktis tentang kenegaraan Islam hanya ada pada praktik sahabat Nabi SAW, yang menurut dia, itu hanya suatu ijtihad.

Oleh karena itu, sesuai perkembangan zaman, Al-Jabiri dengan tegas mengatakan bahwa demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum Muslim untuk masa kini dan masa depan. Meskipun dia tidak naif dengan mengatakan bahwa para sahabat Nabi SAW telah mempraktikkan demokrasi melalui ajaran syura yang dianggap mempunyai urgensi yang sama dengan demokrasi.

Jika negara itu demokratis, bagaimana dengan penerapan syariah, bagaimana meletakkan syari’ah dalam sebuah negara demokrasi? Al-Jabiri kembali membongkar tradisi dan sejarah secara rasional. Baginya, praktik kenegaraan dan penerapan hukum syariah harus dikaji dan ditelaah secara mendalam. Di sini hukum Islam dianggap sebagai hukum yang hidup (the living law) dan menjiwai setiap aturan tanpa memaksakan simbol sebagai suatu ciri yang otentik.

Buku yang merupakan terjemahan dari kumpulan artikel dari Bahasa Arab ini ditulis oleh Abed Al-Jabiri yang dewasa ini pemikiran dan gagasan-gagasannya dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim berkenaan dengan semakin menguatnya wacana post tradisionalisme Islam dan kajian tentang Islam Liberal.
***

TIDAK ada salahnya jika sebelum membaca buku ini akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang sosok Al-Jabiri.
Intelektual Muslim kelahiran Maroko tahun 1936 ini menempati posisi garda depan pemikiran Islam Arab kontemporer, sederajat dengan Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamd Abu Zayd, Bassam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisi, Adonis. Al-Jabiri sering menulis berseri di beberapa harian ternama Timur Tengah, seperti Al-Syarqah Ausath.

Dalam suatu kesempatan pada waktu seminar di Berlin, Jerman, yang diselenggarakan oleh Federich Ebert Stiftung pada tahun 1996, Al-Jabiri bertemu dalam satu forum dengan Abdurrahman Wahid dan Fatima Mernissi yang sama-sama berbicara tentang Civil Society In the Moslem World.

Edisi Cetak Harian Kompas

Edisi Cetak Harian Kompas

Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Naqd al-Aql al’Arabi (Kritik Nalar Arab) yang mejadi perdebatan di kalangan intelektual Muslim karena berbeda dengan “Kritik Nalar Islam” Arkoun. Dalam bahasannya itu, jelas sekali pemikirannya tentang perubahan makna akal tersebut banyak dipengaruhi oleh tokoh filsafat Perancis seperti Jacques Lacan, Althusser, Jacques Derrida, Roland Barthes, dan Michael Foucoult.

Hingga kini tulisan-tulis Al-Jabiri bentuk buku telah mencapai angka belasan. Salah satu kumpulan tulisannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Baso bejudul Post Tradisionalis Islam (LKiS Yogyakarta, 2000) banyak mengulas tentang pejalanan intelektual Al-Jabiri dan relevansi tradisi dalam pemikiran Islam kontemporer.
***

DALAM penuturannya yang cukup lugas lewat buku ini terasa kepeduliannya terhadap tradisi (al turats) cukup kental dan mewarnai uraiannya. Salah satu persoalan krusial saat ini bagi kebangkitan Islam adalah bagaimana menyikapi tradisi dalam kehidupan bernegara dan beragama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Menurut Al-Jabiri ada dua hal penting yang menyertai kekinian, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita, dan kedua adalah tradisi yang mencakup kemanusiaan yang lebih luas seperti pemikiran filsafat dan sains.

Sikap kaum Muslim terhadap tradisi mempunyai corak yang berbeda, ada yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam karena apa yang ada dalam tradisi tersebut dinilai sudah memadai. Seperti ulama konservatif dan mereka yang justru tidak memiliki pengetahuan yang memadai karena dididik oleh tradisi lain yang sudah memadai.

Kedua, mereka yang menganggap bahwa tradisi sama sekali tidak memadai dalam kehidupan modern saat ini, karena itu harus dibuang jauh-jauh. Kelompok ini adalah mereka yang berpikiran sekuler dan liberal ala Barat sehingga menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola Barat.

Kedua sikap tersebut menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang (ekstrem). Oleh karena itu Al-Jabiri mencoba mencari jalan keluar dari dua sikap ekstrem itu dengan tawaran agar kita berusaha bersikap dan berpijak pada tradisi. Namun, tentu bukan dalam kerangka tradisi kita melebur didalamnya dengan segenap gerak dan gelombangnya, tetapi lebih diperlakukan sebagai produk kebudayaan manusia, sebagai produk ilmiah yang senantiasa berkembang.

Dari sini kita belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional. Di Indonesia pemahaman tentang konsep ini sekarang sedang aktual diwacanakan sebagai “post tradisionalisme”.
***

BUKU yang terdiri dari dua bagian ini berusaha memposisikan hubungan agama dan negara dalam rujukan tradisi dan kebangkitan (renaissance). Penerapan syari’ah diulas secara mendetail, mulai salafisme sampai dengan ekstremisme, antara akidah dan syari’ah, juga diusahakan merasionalkan hukum-hukum syari’ah (hlm 168).

Beberapa kritik terhadap Mazhab Syafi’i, dan ajakan untuk menolak hukum (hudud) berdasarkan argumen ketidakjelasan, akan menjadi wacana yang menarik ketika hukum diletakkan dalam posisi agama dan negara, dengan memperhatikan tradisi dan budaya lokal.

Metode telaah kontemporer yang diajukan Al-Jabiri, merupakan sebuah terobosan yang cukup penting dan aktual dengan kondisi tanah air kita. Selama ini banyak orang yang menelaah tradisi untuk mencari sandaran otoritas belaka tanpa menyadari dimensi historis dan ideologis yang melahirkan tradisi itu.

Dalam hal ini sikap terbuka Al-Jabiri terhadap demokrasi dan HAM dengan tanpa sedikit pun merasa terancam dengan kehilangan identitas keislamannya, juga merupakan satu hal yang patut diperhatikan.

Dalam hal tersebut strategi Al-Jabiri untuk mendudukkan pemikiran Barat dan Islam pada mekanisme dan historitasnya masing-masing, adalah sesuatu yang diambil dari semangat Ibn Rusyd dalam menjelaskan hubungan agama dan filsafat. Itu boleh dibilang sebagai merupakan strategi yang cukup menjanjikan.

Terlepas dari sampulnya yang kurang begitu menarik, isi buku ini akan sangat bermanfaat bagi khazanah intelektual Muslim, sebagai wacana alternatif dalam membincangkan kembali agama, negara, dan penerapan hukum (syari’ah) secara proporsional, tanpa melepaskan tradisi, pluralisme, dalam dinamika pergolakan pemikiran Islam kontemporer.

• EVA ROHILAH
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dimuat di Harian Nasional Kompas edisi 22 Maret 2002

Iseng-iseng buka file lama, tulisan lama waktu kuliah di Jogja sejak tahun 1998-2003. Di tulis ulang oleh  Vidia Hapsari, anak tetangga di Pamulang Elok sekolah di MTsN Pamulang.

Masing-masing ada sejarahnya tulisan yang kebanyakan resensi buku ini. Berikut saya ulas seingatnya, kapan dimuat dan berapa honornya juga lupa hehe..

MERETAS ALTERNATIF SOSIALISME DAN AGAMA

Resensi Buku: Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat
Editor: Muhidin M Dahlan
Cetakan: 1 Juli 2000
Penerbit: Kreasi Wacana
Prolog: Muhammad Hatta

Sampul Buku

Sampul Buku

Tema wacana sosialisme religius dan Islam “kiri” kembali jadi perbincangan dalam kajian berbagai seminar maupun diskusi keagamaan. Kajian sosial ekonomi pun ikut mewarnainya dengan semakin merajalelanya kapitalis, sehingga menambah khazanah ilmu sosial menjadi tak pernah kering ataupun menjemukan. Apa yang ditawarkan Giddens dalam The Third way-nya bukanlah jawaban terhadap permasalahan yang ada dalam sistem kapitalisme. Dan mereka hanyalah bagian ‘marketing’ kapitalisme terhadap kehidupan dunia.

Tema itu pulalah yang menjadi sentral of idea dalam buku yang berjudul Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat yang disusun secara gotong royong oleh para penulis yang kebanyakan dari aktivis pergerakan mahasiswa. Lewat telaah sosiohistoris, buku ini berusaha membongkar “secara radikal” tentang segala asumsi teoritis dari opini umum selama ini tentang perspektif ideologi sosialis – marxist atau islamis dengan mempresentasikannya pada analisa yang kongkrit sekarang ini.

Prolog buku ini sangat menarik dengan memuat buah pikiran salah satu dari founding father Drs Moh Hatta (alm) yang pernah dimuat pada harian Daulat Rakyat edisi 30 September 1932. Moh Hatta, memfokuskan pada penyelesaian krisis pada masa itu yang diakibatkan oleh serangan kapitalisme dan Imperialisme barat yang mengakibatkan rakyat kelaparan dan tidak adanya keadilan serta disemangati oleh individualisme yang tinggi sebagai reaksi atas ajaran agama pada waktu itu.

Ide yang ditawarkan sebagai solusi kala itu adalah pergaulan rakyat, yaitu pergaulan hidup kolektivisme berdasar persamaan yang telah lama dianjurkan oleh Nabi Isa sejak lahir, dilanjutkan oleh Umat Islam dalam penganjur kaum buruh pada waktu itu, yaitu Karl Marx sampai Lenin.

Edisi Cetak di KR

Edisi Cetak di KR

Hal ini tentu saja sangat representatif dengan kondisi bangsa saat ini yang sedang dirundung krisis membutuhkan suatu pemecahan yang lebih mendasar dan fundamental. Kebijakan publik yang telah diambil untuk menangani krisis terkesan hanya terpatok pada perspektif ekonomis. Asumsi dasar para pembuat kebijakan, eksekutif dan legislatif serta para pengkritiknya sesungguhnya relatif sama. Perbedaan diantara mereka hanya pada prioritas teknis, anggapan intensitas hubungan antara faktor dan beberapa detail kebijaksanaan.

Secara umum buku ini dibagi dalam tiga tahap pembahasan. Pertama, pembahasan Sosialisme dipanggung ideologi dunia. Ideologi saat ini tidak bisa lagi disebut alternatif, ideologi adalah instrumental.

Alat penjelas yang kaku dan ketat yang dibutuhkan guna mengarahkan pikiran dan tindakan secara efisien. Ketidakminatan masyarakat pada sosialisme bisa kita rujuk dalam bentangan sejarahnya sendiri yang memang cukup variatif. Meretas langkah sosial demokrasi kerakyatan menurut Budi Irawanto, Imam Yudhotomo, dan Ihsan Abdullah Aktivis PRD, merupakan jalan menuju revolusi sejati.

Dengan mempelajari kegagalan kapitalisme di masa lampau, Bonnie Setiawan berusaha menyusuri paradigma alternatif pasca kapitalisme dengan menimbang tradisi kiri, yang diperkuat oleh pernyataan Dadang Juliantara yang mengaplikasikannya dengan ideologi agraria. Melacak jejak sosialisme Religius merupakan pokok pikiran pada bagian kedua, Muhammad Romzy dan Hajriyanto Y Thohari berusaha mendeskripsikan Pseudo Ideologi dan kohorensinya sosialisme dengan agama.

Secara Historis Suhendra menjabarkan secara mendetail tentang peta pergerakan sosio religius Yesus dari Nazareth suatu penghampiran sosiologis, sedangkan Jarot Doso Purwanto aktivis (HMI DIPO) lebih banyak menyoroti lanskap sosialisme religius dalam pusaran sejarah Indonesia.
(Eva Rohilah)

Ini adalah tulisan pertama kali aku dimuat di media “Kedaulatan Rakyat” pada 28 Februari 2001. Harian Lokal di Jogjakarta.

Tulisan berikutnya resensi di Harian Bernas

SULITNYA MERAJUT KEMBALI NASIONALISME YANG TERKOYAK

Judul: Nasionalisme Etnisitas (Pertaruhan sebuah wacana Kebangsaan)
Kata Pengantar: Drs Cornelis Lay MA
Tim Editor: Dr Th Sumartana, Elga Sarapung, Zuly Qodir, Samuel A Bless
Cetakan: 1, Februari 2001
Penerbit: Dian/Interfidel, kompas dan Forum Wacana
Tebal: xvii + 184

Sampul Buku

Sampul Buku

NASIONALISME sekarang ini bagiakan matahari yang redup di jagad khatulistiwa. Sinarnya nyaris habis karena digerogoti oleh primordialisme separatis dan globalisasi etnisitas. Seperti tatapan hampa seorang ibu yang kehilangan anak yang dicintainya. Menemukan kemballi anak yang hilang itu penuh perjuangan dan pengorbanan. Diwarnai ketegangan, dan ketidakpastian. Seperti halnya ketika kita nyaris kehilangan rasa nasionalisme.

Pergumulan wacana tentang nasionalisme menjadi sangat privat, orang per orang, tidak menyebar ke seluruh level masyarakat, terutama lapisan bawah. Mereka dilupakan karena keangkuhan interes-interes yang mengitari imajinasi dan berfikir kita yang disetir kekuasaan rezim. Mendiskusikan hal-hal pelik apalagi menyangkut soal kenegaraan menjadi sangat mahal, karena penguasaan public sphere sungguh luar biasa dominannya sehingga menjadi riil halangan untuk hidup dengan sikap demokratis.

Dengan semangat menumbuhkan wacana baru di Republik ini, kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi ini mencoba “memotret” sisi lain dari apa yang diperbincangkan di atas tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi ekonomi. Buku “Naionalisme Entisitas” ini menuturkan dan menganalisis proses merajut kembali nasionalisme yang sempat terkoyak dalam beberapa dekade terakhir ini.

Rumitnya jalan demokrasi di era reformasi semakin menambah runyam muka bangsa. Hal ini terlihat dari semakin merajalelanya konflik budaya yang terjadi di negeri seribu satu etnis. Selama ini budaya hampir tidak mempunyai ruang dan manifetasi dalam tekanan doktrin nasionalis kebangsaan yang semu. Ruang manifestasi budaya asli negeri ini terbuka sesudah gerakan reformasi. Namun karena tidak mempunyai mode manifestasi dan ketika sistem yang ada tidak memberi cukup toleransi, munculah beragam konflik dan kerusuhan massal di berbagai daerah.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi forum wacana muda, Kompas dan Interfidei. Suatu terobosan cerdas yang berusaha menggambarkan secara detail tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi. Tiga sudut pandang yang membelah buku ini menjadi tiga bagian.

Edisi Cetak di Harian Bernas

Edisi Cetak di Harian Bernas

Bagian pertama Nasionalisme pertaruhan sebuah definisi yang ditulis oleh PM Laksono. Secara Historis, PM Laksono menggunakan analisa Lombart berangkat dari ruang politik menjadi serat benang budaya yang mempertalikan apa yang dibayangkan nasionalisme masa lalu dan cita-cita bersama dengan studi komparatif nasionalisme di berbagai negara. Penulis berusaha menarik kesimpulan global mengenai problema nasionalisme yang dicekik dan tercekik kekuatan etnisitas dan globalisasi, terkait dengan hal itu, Rocky Gerung menemukan problema disintegrasi atau keretakan pada tiga arena penting yaitu: Kekuasaan politik, penguasaan wilayah, dan identitas kekuasaan. Ia mengandaikan nasionalisme sebagai sebuah ideregulatif dalam filsafat berfikir Kant. Keretakan antara ketiganya akhirnya lahir dalam bentuk “krisis kebangsaan” yang berkepanjangan sampai saat ini.

Bagian kedua: Wacana kebangsaan dan warga negara, di kupas tuntas oleh Faruk HT dan Dede Oetomo, mereka lebih mempertegas kebutuhan psikis obyektif dari sebuah bangsa akan nasionalisme. Perkembangan kontemporer politik juga mempengaruhi perilaku bangsa dalam memahami nasionalisme. Yang menarik pada bagian ini adalah analogi dari sebuah Nasionalisme pada masa orde baru yang bersifat semu. Ibarat peralatan politik. Dapat dibayangkan semacam kotak politik yang dibawa kesana kemari.

Bagaimana wacana NKRI dan Federalisme di pahami tidak secara substantif lebih kepada konstruk personal elit politik saja. Bahkan otonomi daerah sebagai sebuah solusi berjalan tersendat karena perbedaan pendapatan perkapita yang menghambat.

Dalam Nasionalisme dalam globalisasi ekonomi pada bagian ketiga, lebih menekankan pada perilaku “meniru” yang menjadi image di Indonesia. Bentuk peniruan yang punya akibat serius adalah apa yang disebut sebagai bangsa yang konsumtif atas barang-barang asing yang menyumbangkan kemajuan bagi negara lain di atas harga yang mesti dibayar sendiri.

Peresensi Eva Rohilah
Mahasiswa Fak Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dimuat di Harian Bernas 13 Mei 2001

Belakangan ini ada banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan beberapa kegiatan yang kuikuti belakangan, namun entah kenapa untuk memenuhi penulisan terasa sulit mengatur waktu, beberapa hal yang ingin aku tulis adalah, Jurnal untuk Fakultas Tarbiyah, Jurnal untuk STAIN Pekalongan, Pengalaman 5 hari mengikuti event Ubud Writers and Readers Festival di Bali,15 Tahun Supernova, 4 Film pendek Wregas Bhanuteja, Digital Diplomacy CSIS, Review buku-buku pemikiran filsafat Islam, Materi Tafsir Alquran yang telah kuikuti setiap Rabu di Pusat Studi Alquran Pondok cabe, Resep bikin Puding, Villa murah dan wisata favorit di Ubud, Pameran Filantropis, Perkembangan Buku Digital, Pemikiran dan refleksi hari guru nasional, dan Opini Pribadi saya tentang Truth Of Claim.

Semua itu tiap hari membayangi saya ketika bangun tidur, mana yang saya harus tulis terlebih dahulu. Deadline muncul tiap detik dan saya tidak bisa mengendalikan diri. Semua masih dalam tahap baca buku, pengumpulan data dan rangkaian struktur penulisan. Ada majalah dan buku referensi yang hilang membuat saya kalang kabut untuk bisa menuntaskan semua itu, kembali mencari pengganti dan rempong sana sini mencari buku yang hilang, belum lagi telat mengembalikan buku yang dipinjam ke perpustakaan.

Saat saya dihadapkan dengan semua itu, keasyikan di media sosial membuat saya lupa diri akan membaca buku dan tugas kewajiban menulis, dan sibuk mengamati perang media sosial yang semakin hari semakin mengerikan. Saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat status tentang hal yang provokatif dan menyakitkan ormas atau organisasi mahasiswa yang sedang ramai dibicarakan. Tidak menulis status bukan berarti tidak peduli, tapi menghindari klaim bahwa saya paling benar. Politik semakin tidak menarik dan kebencian di media sosial membuat satu sama lain saling unfriend, unfollow.

Terlepas dari itu semua, saya gembira buku saya kedua sebagai ghostwriter terbit dan akan di launching 10 november di Manado dan Jakarta. Sehabis itu jadwal menanti kemungkinan adalah buku tentang Kedaulatan pangan, juga sebagai Ghost Writer. Mungkin awal Desember baru mulai.

Saat saya galau, tiba-tiba seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Hasani Ahmad Said, saat kajian di PSQ menceritakan saat-saat terbaik menulis dan pengalaman dia waktu menyelesaikan studi S3 Doktor Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Dia bercerita tentang kisah beberapa tokoh yang mendisiplinkan diri untuk menulis.

Menurut Pak Hasan, saat paling tepat menulis bagi tiga guru besar UIN bermacam-macam. Pertama Pak Quraish Shihab, dia selalu menyempatkan menulis usai shalat subuh sampai jam 7 pagi, itu rutin dia lakukan, kalau tidak menulis ya membaca.

Lalu kedua adalah Pak Azyumardi Azra, Kapan beliau produktif menulis? Menurut Pak Hasan, Pak Azyumardi selalu berangkat jam 6 ke kantornya sejak beliau jadi dosen, padahal dia mengajar mulai jam 9 atau jam 10, nah saat sampai di kantor sampai tiba waktu mengajar, disitulah dia menulis artikel, opini dan buku.

Lalu Pak Hasan cerita sendiri kesibukannya dia saat menulis disertasi. Dalam waktu setahun dia full waktunya habis di perpustakaan dan kost-kostan, bergelut dengan buku, makan dan tidur. itu saja tidak ada aktifitas lain, selama enam bulan terakhir tambah intensif semakin mencintai buku dan melupakan cinta-cinta yang lain…ahai..”untuk itulah kenapa saya baru menikah setelah lulus menjadi doktor,” ujar Pak Hasani Ahmad Said

Pengalaman dari ketiga orang guru besar UIN yang diceritakan Pak Hasan, saya catat dan garis dengan stabillo tebal, siapa tahu akan berguna buat saya saat ini atau suatu hari nanti. Mungkin itu yang saya ingin tulis hari ini dan saya berterimakasih kepada Ibu Lilik Umi Kaltsum MA, ibu nyai yang menjadi guru mengaji saat saya di Sunan Pandanaran dulu dan sekarang menjadi ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliaulah yang mengajak saya mengikuti kajian di PSQ setiap rabu dengan materi yang
menarik dan berbagai metode tafsir Alqur’an.

bersama Ibu Nyai Lilik Umi Kaltsum, Guru Ngaji di PPSPA Jogja

Foto Bersama Bu Nyai Lilik Umi Kaltsum.

Selain butuh disiplin waktu, tempat yang nyaman juga baik untuk menulis, seperti perpustakaan dan rumah, jangan lupa matikan gadget anda saat menulis, jangan terlalu percaya atau copy paste google, menulislah dengan murni pemikiran sendiri, cara anda sendiri, dan jangan lupa sertakan referensi.

Gedung C Lantai 4
Sudirman 8 November 2016
Pulul 14.54

Resensi Buku
Judul: Papua Antara Uang dan Kewenangan
Penulis: Lukas Enembe
Penyunting: Arif Rahman, Moksen Sirsfefa, Ma’ruf Muttaqien
Penerbit: RM Books Jakarta
Harga: Rp. 60.0000
ISBN: 9786027936546

sampul-buku-papua

Jalan Terjal Membangun Papua
(Perlawanan Halus Lukas Enembe Terhadap Kebijakan Pusat, dari Mulai Otonomi Khusus Hingga PON 2020)

Provinsi Papua memiliki sejarah panjang dalam dinamika politik di Indonesia. Belum banyak karya atau buah pemikiran dalam bentuk buku tentang bagaimana yang pahit manis membangun provinsi yang berada di Ujung Timur Indonesia ini. Baru kali ini Gubernur yang sekarang Lukas Enembe, menuliskan tentang bagaimana perjalanannya membangun Peradaban di Papua dengan aneka macam sumber saya alam dan energi yang dimiliki, konflik yang terus mewarnai dan upaya peningkatan SDM di Provinsi penghasil emas ini.

Memahami Papua Melewati Politik Kasih

Dalam bagian awal buku ini, Lukas Enembe menulis dengan penuh semangat bahwa, Papua layaknya seekor cendrawasih yang menawan mata-mata yang melihatnya, dengan keberanekaragaman warna dan segala keindahannya. Kecantikan dan Kekayaan inilah yang mendatangkan decak kagum bagi siapapun yang melihatnya, tetapi juga mendatangkan bencanan bagi yang ingin merampas kekayaannya.

Menurut Lukas Enembe, tantangan terbesarnya dalam membangun Papua adalah memutuskan rentetan sejarah yang telah melukai hati dan menyengsarakan rakyat Papua. Trauma masa lalu berupa pemberlakuan kebijakan Papua sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) telah meninggalkan trauma psikologis yang mendalam.
Kemarahan atas pembunuhan politik, pengambilan paksa terhadap hak adat, dan juga kesengsaraan orang asli Papua membuat sebagian orang Papua menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mereka mengangkat senjata melawan pemerintah pusat, walaupun DOM telah dicabut dari Papua, namun sampai hari ini persoalan OPM belum tuntas, Seharusnya pemerintah pusat tidak menunda-nunda proses komunikasi konstruktif untuk memutus rantai kekerasan di Papua.

Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di Papua, sebelum menjadi gubernur banyak yang meragukan kemampuannya. Sudah bukan rahasia lagi, bagaimana label terhadap orang pegunungan yang melekat pada Lukas Enembe banyak orang beranggapan tak memiliki kemampuan menjadi pemimpin, label inilah yang ingin saya patahkan. “Gejolak batin saya pada saat maju menjadi gubernur adalah keinginan membuat Papua bangkit dari keterpurukannya, tekad tersebut hanya bisa terjadi jika masyarakat Papua menghilangkan dikotomi antara masyarakat pesisir dengan masyarakat pegunungan, dan masyarakat pendatang dengan masyarakat asli,” (hal 17).

Untuk itu strategi politik yang dilakukan Lukas Enembe adalah dengan menerpkan politik kasih. Bagi Lukas Enembe, politik yang diletakkan pada kepentingan sesaat hanya akan melahirkan sifat oportunis dan keserakahan. Wajah politik ini hanya akan melahirkan orang-orang yang rakus akan kepentingan dunia. Lukas Enembe ingin meletakkan kembali esensi dan nilai-nilai kristiani di dalam perpolitikan di Papua. Baginya Politik adalah jalan penuh kasih dengan tanpa lawan tetapi dengan merangkul kawan demi kesejahteraan rakyat Papua. Dia menyebutnya dengan politik kasih.

Setiap Bab berisi pelbagai Isu Strategis

Buku yang terisi dari 10 bab ini sangat padat. Setiap babnya berisi beberapa isu strategis yang selama selalu menjadi sorotan di Papua. Seperti bab tersendiri tentang otonomi khusus dan pembangunan Papua, Perubahan Pendekatan Pembangunan, Geliat Ekonomi Papua, Gerbang Mas Hasrat Papua, serta satu bab tersendiri tentang magnet Papua bernama Freeport. Dalam bab Freeport ini Lukas menyoroti tentang kontrak karya, renegoisasi kontrak, 17 tuntutan rakyat Papua, dan Smelter yang hilang.

Sekilas memang tidak ada ungkapan atau sesuatu yang aneh dalam buku ini jika anda membacanya. Akan tetapi jika anda lebih mendalam membacanya dan menyerapi setiap ungkapan hati yang diungkapkan Lukas Enembe, ada semacam kegelisahan dan perlawanan halus dari putra daerah ini terhadap beberapa kebijakan pusat, bukan perlawanan tajam tapi lebih kepada kritik dan masukan agar pemerintah lebih mendengar suara hati rakyat Papua dari otonomi khusus sampai kesiapan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional XX . Diakui Lukas Enembe, saat ini perhatian pemerintah sangat besar dan tinggi terhadap Papua pembangunan di mana-mana, namun jika anda membaca buku ini anda akan tahu betul apa sebenarnya yang diinginkan rakyat Papua.

Inilah buku yang merupakan kumpulan pemikiran dan isi hari Lukas Enembe, ditulis dengan gaya tutur sederhana dan reflektif, yang tak bermaksud berlebihan. Buku ini berusaha menjelaskan jejak pemikiran Lukas Enembe setitik demi setitik, dengan tujuan untuk mensejahterakan rakyat Papua.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok

Judul : Inilah Saatnya Bisnis Kafe Anak Muda
Penulis : Ajeng Wind dan Sabirin Wardhana
Penerbit: Grasindo
ISBN : 9786023752447

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

Investasi menjadi sebuah kata yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan anak muda. Jika dulu seseorang berpikir untuk berbisnis ketika memasuki usia dewasa, saat ini keinginan berbisnis sudah muncul pada remaja-remaja unyu. Investasi merupakan salah satu contoh terjun ke dunia bisnis dengan keuntungan yang cukup menggiurkan. Siapapun bisa berhasil di bisnis ini asalkan tahu caranya. Investasi di bidang kafe ini sangat menggoda karena tren anak sekarang yang suku dengan wifi gratisan dan mengadakan kumpul atau nongkrong bareng. Buku yang ditulis full color ini sangat menarik perhatian karena berisi cara membuat kafe dengan praktis.

Tradisi adanya kafe berasal dari negara-negara Asia, terutama Timur Tengah. Dalam sejarah tercatat bahwa di Mekkah sekitar abad ke-16 banyak berdiri kafe yang digunakan untuk minum kopi dan membicarakan banyak hal termasuk politik negeri tersebut. Tahun 1530, kafe pertama didirikan di Damaskus. Setelah itu menjamurlah kafe di negeri Nabi Musa tersebut. pada 1600-an kafe masuk Istanbul Turki yang pada saat itu memiliki Konstantinopel sebagai gerbang perdagangan dengan dunia barat.

Setelah menguak sejarah, buku yang terdiri dari dua belas bab ini menjelaskan secara terperinci tentang konsep kafe yang akan dikelola. Dari mulai modal bangunan, menu, sampai konsep untung rugi. semua dikupas tuntas. Ada bab tersendiri tentang bagaimana cara menemukan konsep yang unik dan jitu, persiapan memulai usaha, hingga jangan pusing dengan mikir modal.

Membaca buku ini saya jadi ingat dua kafe yang konsepnya saya suka, Kafe Filosopi Kopi di daerah Blok M dan satu lagi tempat nongkrong di Walnut Cafe Sarinah. Dua-duanya asyik dan betah berlama-lama disana. Kumpul teman maupun bersenda gurau.

Kembali ke buku ini, yang menarik adalah ada hitung-hitungan dalam menentukan harga jual minuman atau makanan di kafe. Pada bab Tips menentukan harga jual, disini ditegaskan bahwa ada tips tertentu yaitu laba minimal dua kali lipat harga pokok, jika lebih maka makin benefit. Hitung-hitungan diulas secara lengkap dari halaman 170 sampai 220. Di jamin setelah membaca buku ini anda bisa memperkirakan berapa modal yang harus dikeluarkan untuk membuka sebuah kafe.
Pada akhir tulisan, penulis memberi gambaran kepada pembaca agar jangan ragu untuk membuka usaha kafe. Dia memberi beberapa tips diantaranya bisnis harus terukur, unik dan menarik, berbisnislah dari sekarang, Jadikan hobimu menjadi bisnismu, lakukan dengan senang, modal semangat sangat penting, buktikan kecintaanmu dan stay fokus, serta yakinlah dapat mencapai target.

Jika anda ingin memulai bisnis kafe, buku ini wajib anda pegang buat referensi agar lebih siap membangun usaha yang menjadi passion kita. Selamat mencoba.

Eva Rohilah
Writerpreneur, pengamat buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Resensi Buku
Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Editor : Eka Saputra dan Nurjannah Intan
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Maret 2016
ISBN : 978-602-291-143-2
Harga: Rp.69.000

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Barangkali diantara kita pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara di luar negeri dan menemukan ciri khas negara itu dari mulai tempat wisatanya, tata kotanya bersih atau tidak, penginapan yang nyaman dan murah, akses transportasi yang layak dan tentu saja ciri khas kuliner kota di negara tersebut. Namun ketika kita menemukan hal-hal baru di negara tersebut, ada sekeping hati yang yang merindukan suasana tanah air kita Indonesia tentang segala sesuatunya yang sulit kita temukan di negeri orang.

Dari Kota terbersih Sampai Kota Terjorok

Buku yang merupakan kisah perjalanan Pandji Pragiwaksono keliling dunia melakukan Stand up komedi “Mesake Bangsaku World Tour” (MBWT) ini sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan bahasa yang ringan dan kocak seperti kita lihat Pandji berstand-up komedi yang sering kita lihat di TV atau Youtube. Bedanya ini dalam bentuk buku. Negara yang dikunjungi Pandji mulai April 2014 sampai April 2015 yaitu Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Goldcoast, Hongkong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.
Pandji memang tokoh anak muda yang luar biasa, berkat kepintarannya dia berhasil melakukan perjalanan ke 25 kota dan 10 negara untuk melakukan stand up komedi MBWT dan bertemu warga Indonesia di luar negeri yang rindu akan Indonesia, untuk melakukannya tentu butuh biaya besar, tapi berkat sponsor Garuda Indonesia, Telkomsel dan Bank Mandiri semua mimpi Pandji terlaksana meskipun di beberapa kota tertentu harus menginap bukan di hotel tapi di kedutaan dan apartemen milik orang Indonesia.

Membawa tujuh orang rombongan tentu bukan hal yang mudah, tapi rombongan Pandji kompak dalam melaksanakan misi besarnya yaitu menghibur rakyat Indonesia di luar negeri. Nah di sela-sela kunjungan tersebut ada banyak cerita yang kocak dan konyol dikisahkan Pandji yang membuat anda tertawa ngakak.

Misalnya tentang kebiasaan buang air besar di beberapa negara yang tidak menyediakan air untuk membersihkannya dan harus pake tissu toilet, hampir di semua negara dan ini tentu saja sangat menggelikan, meskipun ada di beberapa negara seperti Berlin yg menyediakan air, dan untuk megantisipasinya Pandji menyarankan untuk selalu membawa botol Aqua kosong ukuran dua liter agar memudahkannya.
Permasalahan toilet ini penting dan justru di bahas Pandji di awal buku, dia melihat kebersihan suatu negara bisa dilihat dari kebersihan toiletnya. Dari beberapa negara yang dikunjunginya dia berkesimpulan bahwa kota terjorok adalah kota Guangzhouw China dan Kota terbersih adalah kota Tokyo Jepang.

Tentu ini sangat beralasan, Ghuang Zhow misalnya saat di Hotel Pandji menemukan kamar mandi laki dan perempuan tidak dipisah tapi di campur, di dalam toilet juga kotor dan jorok, padahal itu toilet hotel gmn toilet umum ya, bahkan di jalanan pun di trotoar dia menemukan kotoran manusia, ini sangat menjijikkan, berbeda dgn Jepang yang sangat mengutamakan kebersihan, toilet umum di Jepang sudah sangat modern bahkan banyak tombol yang sulit dimengerti, namun demikian betah berlama-lama karena nyaman dan wangi.

Kuliner, Penginapan murah, Kenyamanan Transportasi

Pandji sangat terperinci dan menjelaskan detail kota yang dikunjunginya, kelebihan dan kelemahan setiap kota diungkap secara gamblang. Contohnya kuliner enak di setiap kota seperti sea food enak di Sidney, keju dan roti yang enak dan murah di Amsterdam, kuliner enak di Hongkong dan beberapa makanan khas Indonesia di Amsterdam, Berlin, Camden Lock, word culinery di London, dan negara lainnya yang bisa menjadi rujukan anda jika berkunjung ke luar negeri.

Oh ya selain tempat kuliner, tempat belanja favorit dan toko mainan serta toko musik juga ada beberapa yang dikupas di buku ini.

Jika Singapura tempat menginapnya mahal anda akan diberi tahu di mana menginap yang murah, begitu juga di tempat lain anda akan terkaget kaget dengan mahalnya penginapan di Eropa sehingga anda harus menyiapkan uang lebih.

Juga alternatif penginapan murah lainnya. Satu hal yang juga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saya selama ini adalah penggunaan transportasi massal di luar negeri, hampir di setiap kota dia menceritakan kenyamanan transportasi seperti trem di london, kereta cepat di Jepang dan China, bis bis yang nyaman di kota Meulbourne yang sejuk dan menjadi kota ternyaman di dunia, Tube di London, dan juga kegalakan dan mahalnya sopir taxi di Sydney Australia.

Indonesia, Rich country Poor Management

Dari beberapa negara yang dikunjungi, seringkali Pandji bertemu orang bule dan menanyakan tentang kesannya terhadap Indonesia, dan Pandji menemukan jawabanya dari orang Spanyol yang mengatakan bahwa

“Indonesia is the Rich Country, Poor Management” dan Pandji mengakui memang benar Indonesia, Indonesia negara kaya tapi miskin manajemen pengelolaan.

Meskipun demikian, setelah mengunjungi beberapa kota dan negara di atas, Pandji menemukan kebebasan dan kebahagiaan tiada tara di Indonesia dibandingkan di negara lain. Dua rasa itu Bebas dan Bahagia tidak ditemukan Pandji di negara lain, makanya nasionalisme Pandji teruji dalam hal kecintaannya terhadap Indonesia.

Menurut Pandji Indonesia harus belajar banyak dari kota London dalam menjaga keragaman. Di London warga dunia dari berbagai negara hidup damai dan teratur.

Ada satu kalimat Pandji yang saya garis bawahi dalam buku ini yaitu pendapatnya tentang keragaman, Hasil studi Wayra di Inggris tentang riset keragaman. Riset atas 240 perusahaan start-up di London, menyatakan 82,5 persen responden setuju bahwa keragaman membawa pemikiran baru dan menumbuhkan kultur inovasi. Sebanyak 97,1 % menyatakan bersedia bekerjasama dalam tim yang beragam. Jadi bukan hanya warga London itu yang beragam tapi juga bersedia bekerjasama dalam perbedaan.

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

“Kita sering disuapi jargon Bhinneka Tunggal Ika, tapi pada kenyataannya kita belum benar-benar bisa bekerjasama dalam perbedaan. Bahkan belum bisa menghargai perbedaan apalagi perbedaan pendapat,” (halaman 143).

Saya senang dengan kutipan ini dan menjadi bahan perenungan dalam setiap pergaulan kita di era media sosial sekarang ini.
Rencana “Menemukan Indonesia” ini juga ada dalam bentuk film yang akan diputar pada 30 Maret 2016 mendatang, sebenarnya saya masih ingin menceritakan banyak tentang isi buku ini tapi akan sangat panjang, dan saya sarankan untuk mengetahui lebih banyak tentang kisah Pandji dan buku ini, saya rekomendasikan Anda untuk membacanya.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Awal tahun baru ini ada beberapa buku menarik yang harus saya baca dan resensi. Ada buku yang dibeli mas Arif, ada juga yang dikirim sama penerbit. Salah satunya adalah buku yang dikirim adik kelas ku di Sinergi Jogja Chusniyatul Munawaroh yang kerja di Mizan. Buku bagus bersampul merah bata itu adalah karya Rhenald Kasali, seorang guru besar UI yang memiliki lembaga bernama Rumah Perubahan yang konsen tentang Peningkatan Sumber Daya Manusia dan mencetak pemimpin masa depan yang melakuan perubahan.

Sampul Buku Change Leadership Non-Infinito

Sampul Buku Change Leadership Non-Infinito

Melakukan perubahan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak risiko yang harus dibayar. Berbahaya, bahkan tidak jarang mengancam jiwa. Namun tetap, betapapun besarnya biaya perubahan, dunia tidak pernah sepi dari tokoh-tokoh pembawa perubahan. Dalam buku ini Rhenald Kasali begitu gamblang memnggambarkan tentang sosok pemimpin perubahan. Pemimpin perubahan (change leader) baginya adalah pemimpin yang bisa memperbaiki hidup kita, bangsa kita dan keturunan kita. Bukan yang hanya menggunakan jabatannya untuk mengimpresi, pamer kekuasaan, apalagi mewariskan kerusakan. Seorang Change Leader, kata Rhenald tidak pernah takut akan banyak risiko. (more…)

Resensi Buku
Judul: Money Talking
(Para Pakar Internasional Bicara tentang Uang dan Cara Meraihnya)
Penulis: Zaenudin HM
Penerbit: Change
Edisi: I, November 2015
ISBN: 978-602-372-051-4

Menyebut nama Napoleon Hill, rasanya sulit melepaskannya dari predikat “Bapak Kesuksesan dan Kemakmuran”. Ya, dia memang berhasil merumuskan secara detail konkret dan aplikatif prinsip-prinsip kesuksesan hidup, khususnya dalam keuangan dan ekonomi. Semua itu diperolehnya secara ilmiah dari riset panjang (selama lebih dari 20 tahun) dengan mewawancarai tokoh-tokoh besar yang sukses dalam hidup mereka.

Sampul Buku Money Talking

Sampul Buku Money Talking

Dari kehidupan orang-orang besar inilah Napoleon mendapat pemahaman tentang rahasia kesuksesan hidup, dan mencatat serta menganalisanya ke dalam banyak tulisan. Selain membagikannya ke banyak orang lewat ceramah dan pidato, Napoleon menuliskannya ke dalam sejumlah buku. Alasan utama mengapa Napoleon menulis buku tentang bagaimana cara mendapatkan uang adalah karena fakta bahwa berjuta-juta orang dilumpuhkan oleh rasa takut pada kemiskinan.
Napoleon Hill adalah salahsatu tokoh yang dimuat dalam buku ini. Masih banyak tokoh lain yang juga sukses menghasilkan uang dan menjadi konglomerat. Para pakar itu antara lain Jack Canfiield, Brian Tracy, Joe Vitale, Richard Templar, John C Maxwell, Robert T.Kiyosaki, T Harv Eker, Zig Ziglar, dan Anthony Robbins. Semua tokoh itu diulas dalam sepuluh bab di dalam buku ini.

Buku karya Zaenudin HM ini adalah buku kedua yang saya resensi. Buku sebelumnya berjudul “Rahasia Hidup 30 Orang Sehat” https://evarohilah.wordpress.com/2014/09/23/kiat-hidup-sehat-dan-bugar-hingga-lanjut-usia/. Saya cermati penulis mempunyai konsen yang berbeda tidak hanya kesehatan namun juga ekonomi dan bahkan para pemimpin dunia, tapi ada kesamaan dimana Zaenudin HM menulis tentang beberapa tokoh yang berhasil di bidangnya.
Beberapa tokoh orang kaya di dunia barangkali anda pernah mendengar atau mengenal mereka yang saya sebutkan di atas. Tidak diragukan lagi, pemikiran mereka tentang kekayaan dan kemakmuran telah teruji dan terbukti. Mereka juga terbilang sebagai orang-orang sukses dalam pekerjaan dan karier.

Bicara tentang kesuksesan dan kekayaan, mereka memiliki kapasitas dan otoritas yang tinggi. Tak heran jika orang-orang terus berburu dan mempelajari pemikiran para pakar itu lewat buku-buku bestseller mereka yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Pertanyaan besarnya: Apa inti dari ajaran atau pemikiran mereka. Tentu beragam, namun berorientasi pada pengembangan diri. Nah buku ini fokus memuat rumusan-rumusan pemikiran mereka tentang uang dan bagaimana cara meraihnya. Lewat buku ini anda mendapatkan rumusan praktis, sistematis dan aplikatif. Sehingga anda tidak perlu menghabiskan waktu yang lama serta menguras tenaga ekstra guna memahami seluruh isi pemikiran mereka.
Menarik dalam buku ini karena ada kutipan-kutipan cerdas dari para tokoh tersebut yang di kasih tanda. Sehingga kita mudah memahami pemikiran mereka. Seperti kutipan Jack Canfield yang mengatakan bahwa “untuk meraih kesuksesan, terutama mendapatkan uang, orang harus berbuat atau bertindak”.

Kutipan lain yang menarik adalah dari Joe Vita yang mengatakan bahwa “Sekarang adalah waktu yang Tepat Untuk Menciptakan Masa Depan,”. Kemudian ada juga kutipan dari T Harv Eker yang mengatakan bahwa “Orang-orang kaya tidak fokus pada masalah. Mereka fokus pada tujuan mereka.
Buku ini sangat bagus sebagai referensi anda yang berbisnis dan memiliki cita-cita yang kuat bagaimana seni mencari uang. Di tulis dengan bahasa ringan menjadikan anda dan kutipan-kutipan yang diblok membuat anda betah membaca buku ini berlama-lama. Bagi Anda yang ingin cepat kaya dan memutar otak bagaimana caranya mengelola uang. Buku ini wajib Anda baca.

Eva Rohilah
Writerpreneur, Pengamat Buku
Tinggal di Depok

Resensi Buku
Judul : Setegar Ebony
(Catatan Hati Seorang Istri yang Dikhianati Suami)
Penulis : Asih Karina
Editor : Iqbal Dawami
Proofrader : Arif Syarwani
Penerbit : Penerbit Alvabet
Edisi : I, November 2015
Harga : 59.800

Sudah hampir seminggu aku dikirimi buku penerbit buku Alvabet untuk meresensi dua buah buku, tapi belum juga aku sentuh karena rutinitas kantor yang banyak deadline menjelang akhir tahun membuatku tak sempat membaca buku. Akhir pekan ini aku pun dengan sepenuh hati membacanya dan aku kaget luar biasa. Buku yang dikirim Alvabet bagus banget, kisah nyata dari seorang penulis di Malang, Asih Karina tentang cerita pribadinya yang mengalami kegagalan rumah tangga dan pengalaman pilunya ketika dikhianati suami. Buku ini kulahap habis dalam tiga jam dan akupun nangis bombay terharu….

Sampul Buku Setegar Ebony

Sampul Buku Setegar Ebony

Begitu banyak pernikahan hancur, sebelum semua yang diimpikan terwujud. Banyak pengkhianatan justru datang dari orang tercinta. Tak heran imajinasi pernikahan sebagai gerbang kehidupan penuh kebahagiaan dan keindahan dalam gelora cinta dan kasih sayang, dalam sekejap sirna begitu saja. Tetapi apakah kebahagiaan lenyap bersamaan dengan bubarnya pernikahan?

Cerita berawal dari kisah asmara yang meluap-luap menjelang pernikahan dengan setting cerita di daerah Malang Jawa Timur. Asih karina atau biasa dipanggil Karin, menabung lama untuk mempersiapkan pesta pernikahan yang bersahaja, baju pengantin, hantaran dan souvenir serta undangan pun telah disiapkan menjelang hari yang paling ditunggu semua wanita. Usai menikah bulan madu ke Bali pun dijalani Karin dan suaminya Ardhan.

Usai bulan madu, Karin pun tinggal di rumah mertua. Masa-masa yang berat karena harus ia jalani meninggalkan ibunya seorang single parent. Setiap hari dia mengantar kerja suami dan suaminya pun rajin sms, layaknya pengantin baru. Penuh kemesraan, perhatian dan pelukan kasih sayang. Hingga bebeberapa waktu kemudian Karin melakukan test pack dan dia pun dinyatakan positif hamil. Kegembiraan ini disambut bahagia oleh pasangan suami istri. Karin pun jaga kesehatan dan suaminya tambah rajin bekerja.

Namun, apa yang dinyana. Di saat kandungan menginjak enam bulan dan semakin besar. Sang suami Ardhan jarang pulang dan seringkali Karin menunggu sms yang tanpa balas. Berulangkali di Phpin dan tak ada kepastian hingga akhirnya sang suami pulang dan berkata terus terang, jika dirinya jauh hari sebelum menikah dengan Karin sudah punya istri dan anak. Bagai petir di siang bolong, Karin mendengar semua ini dan dia tidak terima. Ia masih berharap jika suaminya akan kembali padanya dan meninggalkan perempuan yang sudah dinikahinya. Ardhan minta cerai dan berjanji tidak akan memilih Karin maupun Kadek, istri pertamanya. Meskipun Ardhan berjanji akan membiayai persalinan Karin, namun Karin sudah terlanjur kecewa dan hampir putus asa. Untung saja ibunya banyak memberinya nasehat dan menguatkannya agar ia bisa tabah menghadapi cobaan.

Setegar Ebony adalah sekeping mozaik kehidupan. Lebih dari sebuah karya sastra, curahan hati, atau sebuah proyeksi kemarahan hati yang luka. Kisah ini adalah sebuah perenungan. Tergolong ke dalam jajaran karangan semi autobiografis lainnya. Ia tidak berangkat dari kegamangan wanita yang terombang-ambing pilihan kehidupan seperti Novel “The Bell jar’, karya Sylvia Plath ataupun “The Awakening” karya Kate Chopin. Cerita ini menggaris bawahi lara sebagai sebuah titik awal perjalanan panjang tokoh utama. Pembaca akan diajak berselancar memahami relung hati seorang wanita sederhana dengan mimpi sederhana.

Sebagaimana laiknya karangan semi autobiografis, sudut pandang “aku” menjadi sebuah titik yang menjadikan cerita bergulir dengan indah. Penulis mampu dengan jujur dan gamblang menuturkan desah resah, risau galau, hingga cenung renung yang semuanya merupakan sebuah proses panjang bangkit dari kejatuhan. Setiap untaian kisah adalah ratusan mozaik kecil yang menyatu dalam jalinan kisah yang utuh dalam alur maju mundur yang unik.
Selain itu, cerita ini dewasa dan mampu mendewasakan pembaca. Tokoh utama, Karin dalam buku ini mengajak kita untuk menjerit bersama dalam perih tak terperi yang membuat siapapun tak hendak melanjutkan hidup. Namun dalam kehendak ilahi, ia memilih kembali mengadukan semua yang terjadi. Karena itu penulis mampu mencapai suatu nilai religius tertinggi yaitu keikhlasan.

Setegar Ebony ditulis dengan gaya bertutur penulis yang cenderung puitis, ilustratif dan cerdas juga diwarnai oleh sentuhan humor pribadi penulis. Sebuah gaya bahasa yang membuat kita ingin membaca cerita ini hingga akhir.

Meskipun penulis menawarkan tragedi sebagai sebuah refleksi katarsis, humor yang terselip disana-sini sebagai sentuhan karakter penulis menjadikan cerita ini sebuah perenungan unik akan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan luka melalui tawa. Cerita ini benar-benar terlahir dari hati penuh cinta dan dipersembahkan dengan penuh cinta.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana ending cerita, saat Karin melahirkan tanpa didampingi suami dan kesedihan yang tiada akhir. Saya persilakan pembaca membaca buku ini untuk mengetahui apakah happy ending atau tidak. Karena banyak hikmah yang dapat saya petik dari buku atau novel ini untuk membangun kehidupan rumah tangga dengan atau tanpa suami. Selamat membaca.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok Jawa Barat

http://www.evarohilah.wordpress.com

Resensi Buku

Judul : The Innovators (Kisah Para Peretas, Genius, Maniak yang Melahirkan Revolusi Digital)
Penulis : Walter Isaacson
Penerbit : Bentang Pustaka, Jogjakarta
Penerjemah : Reni Indardini
Penyunting : Eka Saputra dan Nurjanah Intan
Edisi : September 2015
Harga : 120.000

Sampul Buku

Sampul Buku

Ketika anda pertamakali membaca buku ini anda akan disuguhkan diagram tabel lengkap awal sejarah terciptanya mesin komputer dari jaman pertama kali ada ide sampai dengan perkembangan terkini industri teknologi komputer terkini. Buku ini luar biasa lengkap bagai kamus berjalan. Walter Isaacson bukan sekedar menganalisis perangkat keras dan perangkat lunak yang menghasilkan revolusi digital, melainkan juga menelaah para perempuan dan laki-laki yang menelurkan ide-ide di balik aneka gawai. Isaacson membeberkan kisah keangkuhan dan idealisme, keserakahan dan pengorbanan serta kompleksitas hakiki di balik pengembangan teknologi yang sekilas terkesan sederhana. Pemaparan buku ini lugas dan terang benderang. Isaacson mahir mengurai benang kusut memori dan dokumentasi untuk kemudian dia rajut kembali menjadi suatu cerita yang indah dan menarik untuk dibaca. Buku ini memotret teknologi beserta ruang yang mewadahinya.

Di mulai dari kisah Ada Lovelace yang sudah meninggal 150 tahun lalu yang menulis surat penuh rasa bangga betapa tepat intuisinya mengenal alat kalkulasi yang kelak menjadi komputer serbaguna. Mesin indah yang tidak hanya memanipulasi musik mengolah kata-kata dan mengombinasikan berbagai simbol dengan ragam tak terbatas.
Mesin semacam itu muncul pada 1950-an dan sepanjang tiga puluh tahun berikutnya, lahir dua inovasi historis yang melahirkan perubahan revolusioner dalam hidup kita: microchip yang memungkinkan pembuatan komputer kecil untuk digunakan di rumah sebagai barang pribadi serta jaringan berbasis paket switching yang memungkinkan penyambungan komputer tersebut ke jejaring web.

Penyatuan antara PC dan internet lantas memekarkan kreativitas digital, aktivitas berbagai konten, pembentukan komunitas, dan jejaring sosial secara besar-besaran. Temuan tersebut mewujudkan – meminjam istilah Ada Lovelace sebagai sains yang puitis jalinan indah antara kreativitas dan teknologi, tak ubahnya anyaman dari mesin tenun Jackuard.

Buku ini terdiri dari 12 bab yang membahas komputer dan internet dari hulu ke hilir. Dari mulai pencetus awal yaitu Ada, Countess Of Lovelace di bab 1, bab 2 tentang penemu komputer, bab 3 tentang pemrograman, bab 4 membahas Transistor dan bab 5 tentang microchip. Penemu video game dan internet di kupas tuntas di bab 7 dan 8, sedangkan bab 9 dan 10 membahas tentang personal komputer dan perangkat lunak. Memasuki bab 10 dan 11 ada akan diajak mengulik sejarah daring dan world wide web dan sinopsis buku ini di bab 12.

Sederet nama tokoh sang inovator yang banyak tidak diketahui namanya oleh khalayak banyak diungkap di sini dari mulai Ada, Countess of Lovelace pada tahun 1843, Vannevar Bush, Alan Turing, john Von Neumann, Grace Hopper, Robert Noyce, JCR Liclider, Paul Baran, Ken Kesey, Ted Nelson, Stewart Brand, Larry Roberts, Alan Kay, Paul Allen dan Bill Gates pendiri Microsoft, Steve Jobs memperkenalkan Apple dan Macintosh, Linus Torvalds perilis Linux, Tim Barners Lee penemu world wide web (www), Larry Page dan Sergey Brin meluncurkan Google, Ev Wulliams memunculkan Blogger hingga Jimmy Wales penemu wikipedia pada 2011.

Komputer dan internet tergolong temuan penting pada zaman kita. Namun hanya segelintir orang yang mengetahui siapa pencipta keduanya. Kebanyakan inovasi di era digital adalah hasil kolaborasi banyak orang hebat yang terlibat di dalamnya, sebagian panjang akal dan segelintir diantaranya sangat genius.

Buku ini memaparkan kisah para pendiri (pionir), peretas, penemu (inovator), dan wirausahawan dalam revolusi digital di dunia. Siapa saja mereka, bagaimana cara berpikirnya, dan apa latar belakang kreativitasnya yang menakjubkan. Buku ini juga menarasikan cara mereka berkolaborasi dan apa sebabnya kerjasama tim justru membuat mereka semakin kreatif. Wajib di baca bagi anda yang ingin melek tentang dunia teknologi yang sekarang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia kita. Juga bagi para pelaku industri kreatif di era start-up dan aplikasi ini yang melahirkan entrepreneur-entrepreneur andal di bidang teknologi komputer dan komunikasi.