Archive for the ‘Ekbis dan Wirausaha’ Category

Ada tiga hal  yang berubah dalam beberapa waktu belakangan, kaitannya dengan usaha dan kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Aku menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi setidaknya untuk berbagi cerita atau sharing bahwa kelestarian alam, lingkungan dan perubahan iklim adalah hal yang selama ini harus terus kita kampanyekan mulai dari dalam diri kita sendiri. Bukan hanya sekedar berkoar-koar.

Pertama yang ini membutuhkan banyak sekali pertimbangan adalah aku berhenti jualan sandal. Sudah sejak kecil, keluarga kami di Sukabumi turun temurun berbisnis sandal. Bahkan aku dan kakakku bisa kuliah di Jogja dan di Sukabumi karena usaha keluarga ini. Sungguh berat aku harus menghentikan bisnis yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Ada rasa nyesek dalam hati ketika ada pesanan dari beberapa teman berkaitan dengan sandal tapi aku tidak bisa memenuhinya.

Alasan utama aku berhenti jualan sandal adalah karena faktor limbah industri kecil kami di kampung yang sulit di daur ulang, ya memang harus dibakar. Awalnya sedikit akan tetapi karena orderan dari berbagai daerah melimpah, makin hari makin banyak. Dari lima orang kakakku laki-laki, empat diantaranya berbisnis ini dan aku sebagai adik sudah sejak SMA membantu berjualan. Hingga akhirnya pada tahun lalu, 2016, aku memberanikan diri mengemukakan alasan, dan semoga kakak-kakakku tidak surut bisnisnya karena alasan ini. Akan tetapi mereka memahami, bahwa bahan dasar industri sandal adalah karet. Dengan segala keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjualan sandal.

Kedua, Aku berhenti memakai lipstick. Aku kira ini terobosan besar. Sangat sulit di awal aku melakukan, karena sebelumnya aku termasuk yang suka dandan. Lebih dari 10 warna lipstick aku punya dari berbagai merek, dari yang paling murah sampai yang lumayan. Aku senang berburu warna lipstick kekinian. Tapi sejak September tahun lalu, sepulang aku dari Bali, aku sudah tidak menggunakan lipstick. Berat rasanya aku membuang semua lipstick di ruang kosmetik, aku sangat sayang, tapi aku sadar apa itu bahan dasar lipstick dan kosmetik lainnya, yaitu kelapa sawit. Jika Eka Kurniawan memiliki novel berjudul Cantik itu Luka, maka saya mengibaratkan lipstick itu demikian. Untuk membuat tampak cantik, kita harus merusak lingkungan, kita tidak tahu bagaimana kelapa sawit itu ditanam harus membakar hutan, merusak ekosistem. Begitu juga saat pengolahan dari kelapa sawit menjadi alat kosmetik, banyak para buruh yang diupah murah, sementara lipstick dijual mahal untuk kepentingan pemilik modal. Di balik aneka lipstick yang warna warni, ada beberapa nilai berkaitan dengan lingkungan dan kemanusiaan yang aku pertimbangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, langkahku tidak menggunakan lipstik ini dianggap ekstrim atau lebay. Tak apalah untuk melakukan suatu perubahan kita harus siap dibilang beda, dimusuhi atau ditinggalkan teman. Tapi perubahan-perubahan besar berkaitan dengan lingkungan adalah dengan melakukan hal-hal kecil yang menurut kita benar, yang itu mudah-mudahan jika orang membaca tulisan ini akan berbuat demikian, tapi bukan merupakan suatu paksaan.

Ketiga: Hemat air, Energi dan Mulai Menanam. Awal tahun lalu hujan terus mengguyur bumi Pamulang, aku selalu siapkan menadah ember-ember di dapur aku keluarkan. Biasanya airnya aku pakai berwudhu, mandi atau menyiram tanaman. Begitu juga bilasan air cucian piring, tidak aku buang yang sudah tidak ada sabunnya aku siram. Aku sangat hemat menggunakan air, untuk berwudhu secukupnya. Beberapa waktu lalu aku sering dimarahin mas arif karena lupa matikan keran, sehingga air melimpah kemana-mana dan bagiku itu suatu peringatan.

Selain air, aku juga sekarang belajar untuk tidak sering menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, jangan terlalu sering mencuci mobil dan usahakan semaksimal mungkin untuk naik kerta, commuter atau kendaraan daring jika bepergian. Semua aku lakukan dengan penuh kesadaran, begitu juga suami, dalam hal ini kita memiliki banyak kesamaan. Kita berdua kalau akhir pekan lebih banyak di rumah, ngurus tanaman dan istirahat panjang, tidak begitu suka bepergian. Paling banter ke Sukabumi, kalau ada hari-hari besar. Tidak seperti dulu, waktu masih ada orangtua.

Berkaitan dengan kebiasaaan menanam. Awalnya berasal dari sampah rumahtangga yaitu sayuran busuk seperti cabe, tomat, dan lain-lain yang kalau tidak dimasak, sayang aku buang. Aku jemur, lalu aku simpan bijinya dan kumpulkan.

aneka benih

Sudah banyak sebenarnya, aku wadahin rencana mau aku pisahin di kertas aku kasih label nama sayuran dan buah, cuma belum sempat beberapa bulan terakhir aku banyak deadline pekerjaan, sehingga adakalanya aku sabtu minggu tidak pulang.

 

Tapi minggu ini, sudah kembali normal, aku kembali menyiram tanaman, mengumpulkan benih, memasak dan bikin kue kesukaan. Mungkin itu saja, cerita yang aku ingin bagikan kepada teman-teman. Tidak ada maksud untuk gagah-gagahan, tapi ini semua kulakukan karena aku sangat percaya akan adanya hari akhir, atau hari kiamat. Siapa bilang isu perubahan iklim tidak berkaitan dengan hari akhir. Aku percaya akan semua yang diceritakan Al-qur’an bahwa ketika sumber daya alam diambil secara serakah oleh manusia maka gunung meletus sudah terjadi, gempa bumi dan banjir bandang terjadi dimana-mana, itu karena kita tidak peduli lingkungan dan serakah atas semua ciptaan Tuhan.

tomat

Kekayaan alam dikeruk untuk kepentingan pribadi dan pemilik modal, maka orang akan beramai-ramai untuk mengumpulkan uang. Kita tidak ingat seperti apa anak cucu kita di masa depan. Apakah mereka masih bisa makan enak dengan sayuran atau lalapan seperti yang kita makan sekarang? Atau mandi aja sulit karena tidak air, karena airnya habis untuk dijual air kemasan atau mencuci mobil agar kelihatan kinclong.

 

Suatu hari orang akan sadar, ketika ikan terakhir kita makan, ketika tidak adalagi tanah yang bisa ditanam, disitulah orang baru sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Bukan aku tidak butuh uang, tapi setidaknya kita bekerja harus seimbang, terutama dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Pejaten 25 September 2017
Pukul 9.40

Advertisements

Resensi Buku: 1 Team 1 Goal (Berhenti Menutup diri Mulailah Memberi)
Penulis : Mega Chandra
Editor : Diane Novita
Penerbit : Grasindo 2016

sampul-buku

Sampul buku 1 team 1 Goal

Sekarang ini bukan lagi zamannya “Aku” melainkan “kita”. Membangun kesuksesan di era milenium seperti saat ini membutuhkan kolaborasi yang kuat untuk bahu membahusatu sama lain. Itu sebabnya manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri. Ini karena kita adalah mahluk sosial yang dipastikan membutuhkan orang lain.
Sangat sulit kita hindari apabila kita sangkal jika kita tidak membutuhkan orang lain di sisi kita. Sebagai pria (suami) membutuhkan perempuan sebagai pendamping (istri) begitu pula sebaliknya. Kita sebagai atasan membutuhkan rekan (bawahan), begitu pula sebaliknya karena seorang atasan tidak mungkin disebut atasan tanpa memiliki bawahan.

Semua itu membutuhkan satu tindakan yang kita sebut kolaborasi, teamwork yang kuat. Coba kita bayangkan, pernahkah kita melihat seseorang dapat menguburkan dirinya sendiri ke dalam liang kubur tanpa bantuan orang lain saat dia telah meninggal dunia? Jika kita masih mampu mengingat “MATI” mengapa kita masih sulit berkolaborasi atau bekerjasama dengan orang lain.

Itulah kurang lebih poin yang ingin disampaikan dalam pengantar buku berjudul “1 Team 1 Goal, Berhenti Menutup Diri, Mulailah memberi,” yang ditulis oleh Mega Chandra. Diawali dengan kisah sukses grupp Samsung, Mega Chandra penuh semangat menuliskan pemikiran dan pengalamannya melakukan kerja bersama team work.
Kesigapan Leader dan Peningkatan Kompetensi

Dalam buku yang terdiri dari sembilan bab ini dijelaskan tentang perubahan besar yang terjadi pada dunia bisnis dan perubahan ini sangat sulit untuk diprediksi.Kesigapan leader untuk merespon perubahan yang perlu dilakukan merupakan kompetensi yang sangat dibutuhkan. Kompetensi ini juga harus diimbangi dengan human relation yang handal untuk memimpin tim menghadapi perubahan. Buku ini sangat menggugah dan inspiratif yang menyentuh sanubari niscaya akan mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik dr sebelumnya.

Bab pertama tentang 3i misalnya, Inspire, Influence, Impact menjelaskan dengan gamblang tentang tiga hal penting di atas, bab dua membahas parachute dan peacemaker, bab tiga menjelaskan tentang harmony in excelent, bab empat, mengulas panjang lebar tentang Communication and Cognition,bab lima tentang innitiative and dare, bab enam tentang kehati-hatian dalam bekerja atau berbisnis (Be HSP)(Hati-sikap-perilaku=Humble, Sportive-Positive), bab 7 tentang QC SDM, bab delapan tentang Trust, sekilas dibahas tentang One Man Show, dan bab terakhir tentang Performance, Collaboration, Ownership. People.

Saya tidak akan menjelaskan isi bab secara keseluruhan, nanti anda tidak suprise saat membacanya, dari beberapa bab diatas intinya satu yaitu sukses atau kemenanga tidak bisa dicapai untuk diri sendiri tapi kerja keras tim. Banyak istilah baru yang saya temukan dalam buku ini yang memperkaya wawasan kita untuk terus semangat dalam bekerja.

No Superman but Superteam

Harus kita sadari bahwa tujuan dari berkolaborasi dalam organisasi ataupun perusahaan yang baik adalah untuk tujuan baik, untuk itu semua tim member harus memiliki effort yang sama. Motivasi diri yang dilandasi dengan hati yang humble akan menjadikan kita cahaya seperti lilin, meski cahayanya tidak seterang matahari dia akan selalu ada di saat kita membutuhkan

Buku ini bagus utk motivator dan manajer HRD, para wirausahwan muda yang baru merintis usaha, PNS, aktivis LSM, para politisi, serta para pekerja di seluruh Indonesia agar menjadikan kerja tim sebagai landasan utama jangan mengedepankan egoisme ingin maju atau hebat sendiri.

Harus dipahami bersama betapa pentingnya TEAMWORK (Together-Excelence-Achieving-Moving Forward-Wisdom-Optimism-Raising and Knowledge) sebagai kunci sukses organisasi. Untuk membuat sebuah tim berhasil atau gagal sangat tergantung orang-orang yang ada di dalamnya. Sikap positif merupakan kunci utama untuk membuat sebuah tim sukses. Namun untuk menumbuhkembangkan ini sangatlah sulit, terlebih lagi sifat iri, dengki dan berbagai politik kepentingan maka teamwork akan menemui banyak hambatan.

Eva Rohilah
Pengamat Buku dan Film tinggal di Depok

Judul : Inilah Saatnya Bisnis Kafe Anak Muda
Penulis : Ajeng Wind dan Sabirin Wardhana
Penerbit: Grasindo
ISBN : 9786023752447

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

Investasi menjadi sebuah kata yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan anak muda. Jika dulu seseorang berpikir untuk berbisnis ketika memasuki usia dewasa, saat ini keinginan berbisnis sudah muncul pada remaja-remaja unyu. Investasi merupakan salah satu contoh terjun ke dunia bisnis dengan keuntungan yang cukup menggiurkan. Siapapun bisa berhasil di bisnis ini asalkan tahu caranya. Investasi di bidang kafe ini sangat menggoda karena tren anak sekarang yang suku dengan wifi gratisan dan mengadakan kumpul atau nongkrong bareng. Buku yang ditulis full color ini sangat menarik perhatian karena berisi cara membuat kafe dengan praktis.

Tradisi adanya kafe berasal dari negara-negara Asia, terutama Timur Tengah. Dalam sejarah tercatat bahwa di Mekkah sekitar abad ke-16 banyak berdiri kafe yang digunakan untuk minum kopi dan membicarakan banyak hal termasuk politik negeri tersebut. Tahun 1530, kafe pertama didirikan di Damaskus. Setelah itu menjamurlah kafe di negeri nabi musa tersebut. pada 1600-an kafe masuk Istanbul Turki yang pada saat itu memiliki Konstantinopel sebagai gerbang perdagangan dengan dunia barat.

Setelah menguak sejarah, buku yang terdiri dari dua belas bab ini menjelaskan secara terperinci tentang konsep kafe yang akan dikelola. Dari mulai modal bangunan, menu, sampai konsep untung rugi. semua dikupas tuntas. Ada bab tersendiri tentang bagaimana cara menemukan konsep yang unik dan jitu, persiapan memulai usaha, hingga jangan pusing dengan mikir modal.

Membaca buku ini saya jadi ingat dua kafe yang konsepnya saya suka, Kafe Filosopi Kopi di daerah Blok M dan satu lagi tempat nongkrong di Walnut Cafe Sarinah. Dua-duanya asyik dan betah berlama-lama disana. Kumpul teman maupun bersenda gurau.

Kembali ke buku ini, yang menarik adalah ada hitung-hitungan dalam menentukan harga jual minuman atau makanan di kafe. Pada bab Tips menentukan harga jual, disini ditegaskan bahwa ada tips tertentu yaitu laba minimal dua kali lipat harga pokok, jika lebih maka makin benefit. Hitung-hitungan diulas secara lengkap dari halaman 170 sampai 220. Di jamin setelah membaca buku ini anda bisa memperkirakan berapa modal yang harus dikeluarkan untuk membuka sebuah kafe.
Pada akhir tulisan, penulis memberi gambaran kepada pembaca agar jangan ragu untuk membuka usaha kafe. Dia memberi beberapa tips diantaranya bisnis harus terukur, unik dan menarik, berbisnislah dari sekarang, Jadikan hobimu menjadi bisnismu, lakukan dengan senang, modal semangat sangat penting, buktikan kecintaanmu dan stay fokus, serta yakinlah dapat mencapai target.

Jika anda ingin memulai bisnis kafe, buku ini wajib anda pegang buat referensi agar lebih siap membangun usaha yang menjadi passion kita. Selamat mencoba.

Eva Rohilah
Writerpreneur, pengamat buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Awal tahun baru ini ada beberapa buku menarik yang harus saya baca dan resensi. Ada buku yang dibeli mas Arif, ada juga yang dikirim sama penerbit. Salah satunya adalah buku yang dikirim adik kelas ku di Sinergi Jogja Chusniyatul Munawaroh yang kerja di Mizan. Buku bagus bersampul merah bata itu adalah karya Rhenald Kasali, seorang guru besar UI yang memiliki lembaga bernama Rumah Perubahan yang konsen tentang Peningkatan Sumber Daya Manusia dan mencetak pemimpin masa depan yang melakuan perubahan.

Sampul Buku Change Leadership Non-Infinito

Sampul Buku Change Leadership Non-Infinito

Melakukan perubahan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak risiko yang harus dibayar. Berbahaya, bahkan tidak jarang mengancam jiwa. Namun tetap, betapapun besarnya biaya perubahan, dunia tidak pernah sepi dari tokoh-tokoh pembawa perubahan. Dalam buku ini Rhenald Kasali begitu gamblang memnggambarkan tentang sosok pemimpin perubahan. Pemimpin perubahan (change leader) baginya adalah pemimpin yang bisa memperbaiki hidup kita, bangsa kita dan keturunan kita. Bukan yang hanya menggunakan jabatannya untuk mengimpresi, pamer kekuasaan, apalagi mewariskan kerusakan. Seorang Change Leader, kata Rhenald tidak pernah takut akan banyak risiko. (more…)

Resensi Buku
Judul: Money Talking
(Para Pakar Internasional Bicara tentang Uang dan Cara Meraihnya)
Penulis: Zaenudin HM
Penerbit: Change
Edisi: I, November 2015
ISBN: 978-602-372-051-4

Menyebut nama Napoleon Hill, rasanya sulit melepaskannya dari predikat “Bapak Kesuksesan dan Kemakmuran”. Ya, dia memang berhasil merumuskan secara detail konkret dan aplikatif prinsip-prinsip kesuksesan hidup, khususnya dalam keuangan dan ekonomi. Semua itu diperolehnya secara ilmiah dari riset panjang (selama lebih dari 20 tahun) dengan mewawancarao tokoh-tokoh besar yang sukses dalam hidup mereka.

Sampul Buku Money Talking

Sampul Buku Money Talking


Dari kehidupan orang-orang besar inilah Napoleon mendapat pemahaman tentang rahasia kesuksesan hidup, dan mencatat serta menganalisanya ke dalam banyak tulisan. Selain membagikannya ke banyak orang lewat ceramah dan pidato, Napoleon menuliskannya ke dalam sejumlah buku. Alasan utama mengapa Napoleon menulis buku tentang bagaimana cara mendapatkan uang adalah karena fakta bahwa berjuta-juta orang dilumpuhkan oleh rasa takut pada kemiskinan.
Napoleon Hill adalah salahsatu tokoh yang dimuat dalam buku ini. Masih banyak tokoh lain yang juga sukses menghasilkan uang dan menjadi konglomerat. Para pakar itu antara lain Jack Canfiield, Brian Tracy, Joe Vitale, Richard Templar, John C Maxwell, Robert T.Kiyosaki, T Harv Eker, Zig Ziglar, dan Anthony Robbins. Semua tokoh itu diulas dalam sepuluh bab di dalam buku ini.

Buku karya Zaenudin HM ini adalah buku kedua yang saya resensi. Buku sebelumnya berjudul “Rahasia Hidup 30 Orang Sehat” https://evarohilah.wordpress.com/2014/09/23/kiat-hidup-sehat-dan-bugar-hingga-lanjut-usia/. Saya cermati penulis mempunyai konsen yang berbeda tidak hanya kesehatan namun juga ekonomi dan bahkan para pemimpin dunia, tapi ada kesamaan dimana Zaenudin HM menulis tentang beberapa tokoh yang berhasil di bidangnya.
Beberapa tokoh orang kaya di dunia barangkali anda pernah mendengar atau mengenal mereka yang saya sebutkan di atas. Tidak diragukan lagi, pemikiran mereka tentang kekayaan dan kemakmuran telah teruji dan terbukti. Mereka juga terbilang sebagai orang-orang sukses dalam pekerjaan dan karier.

Bicara tentang kesuksesan dan kekayaan, mereka memiliki kapasitas dan otoritas yang tinggi. Tak heran jika orang-orang terus berburu dan mempelajari pemikiran para pakar itu lewat buku-buku bestseller mereka yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Pertanyaan besarnya: Apa inti dari ajaran atau pemikiran mereka. Tentu beragam, namun berorientasi pada pengembangan diri. Nah buku ini fokus memuat rumusan-rumusan pemikiran mereka tentang uang dan bagaimana cara meraihnya. Lewat buku ini anda mendapatkan rumusan praktis, sistematis dan aplikatif. Sehingga anda tidak perlu menghabiskan waktu yang lama serta menguras tenaga ekstra guna memahami seluruh isi pemikiran mereka.
Menarik dalam buku ini karena ada kutipan-kutipan cerdas dari para tokoh tersebut yang di kasih tanda. Sehingga kita mudah memahami pemikiran mereka. Seperti kutipan Jack Canfield yang mengatakan bahwa “untuk meraih kesuksesan, terutama mendapatkan uang, orang harus berbuat atau bertindak”.

Kutipan lain yang menarik adalah dari Joe Vita yang mengatakan bahwa “Sekarang adalah waktu yang Tepat Untuk Menciptakan Masa Depan,”. Kemudian ada juga kutipan dari T Harv Eker yang mengatakan bahwa “Orang-orang kaya tidak fokus pada masalah. Mereka fokus pada tujuan mereka.
Buku ini sangat bagus sebagai referensi anda yang berbisnis dan memiliki cita-cita yang kuat bagaimana seni mencari uang. Di tulis dengan bahasa ringan menjadikan anda dan kutipan-kutipan yang diblok membuat anda betah membaca buku ini berlama-lama. Bagi Anda yang ingin cepat kaya dan memutar otak bagaimana caranya mengelola uang. Buku ini wajib Anda baca.

Eva Rohilah
Writerpreneur, Pengamat Buku
Tinggal di Depok

Usai datang ke acara launching babarafi di Fatmawati saya diundang mbak Nilam di acara launching bukunya tentang womanpreneur di @america, Pacific Place SCBD. Acara itu dilaksanakan hari jum’at jam dua siang. Aku sengaja izin ke kantor untuk menghadiri acara yang menurutku menarik, karena yang dilaunching adalah E-Book bukan buku cetak kayak biasanya. Para pembicara juga keren ada Novita Tandri Owner Tumble Tots, Yulia Astuti Owner Moz5 Salon, dan Ninan Moran Owner Go Girl. Acara dibuka oleh perwakilan dari duta besar Amerika.

para pembicara

Narasumber

Acara yang dimulai tepat waktu ini diawali dengan sambutan dari Nilam sari yang menceritakan tentang tentang ide awal menulis buku, sekilas tentang kebab babarafi dan memeperkenalkan nara sumber yang merupakan teman-teman dekatnya sesama womenpreneur. Tidak lama kemudian diskusi dilanjut oleh MC. Para narasumber bicara bergiliran, yang pertama adalah Nina Moran yang menceritakan suka dukanya menjadi womenpreneur. Dia pernah terjebak pada tagihan pajak sampai miliaran, kemudian ibu Yulia yang memiliki anak dengan kelainan tapi sabar mengurus salon muslimah yang tersebar di berbagai provinsi. Dan yang terakhir dan bersemangat adalah Novita Tandri. Perempuan sexy ini menceritakan suka dukanya mengelola Tumble Tots hingga pengalamannya mengisi acara parenting di radio Sonora. Setelah para narasumber menyampaikan materi dan tanya jawab, barulah Nilamsari tampil kedepan dan menceritakan pengalamannya menjadi womanpreneur.

Nilamsari, Owner Kebab Babarafi

Nilamsari, Owner Kebab Babarafi

Pada saat diskusi ada yang menarik dari para narasumber, yaitu tentang jatuh bangun mereka membangun perusahaan. Peran orang terdekat seperti keluarga, suami, anak-anak, kakak dan lain sebagainya diceritakan secara mendalam oleh para womenpreneur. Ini adalah momen yang luar biasa, kedua narasumber yaitu Nina Moran dan Yulia sampai menitikkan air mata. Meskipun mereka tegar dan kokoh hati mereka terenyuh mengingat jasa besar orang-orang terdekat yang mendorong perusahaannya. Ada momen yang menarik saat Nilamsari mendiskusikan bukunya dan ditemani Hendy Setiono,sang suami yang selalu mendukungnya. Pak Hendy mengecup mesra Ibu Nilam di hadapan hadirin, ini momen sangat priceless menurut saya, saya teringat suami saya mas Arif yang juga selalu mendukung segala macam usaha saya selama ini. Momen sekejap ini mengharukan, untung saya abadikan.

Nilamsari tertawa bahagia Habis dikecup Hendy Setiono

Nilamsari tertawa bahagia Habis dikecup Hendy Setiono

Usai diskusi tentang buku tibalah saat tanya jawab dan launching buku Womenpreneur. Acara yang dipandu MC ini berlangsung meriah karena para peserta launching buku juga antusias dan memberikan pertanyaan menarik berdasarkan pengalaman masing2 merintis usaha.

Launching Buku Womanpreneur karya Nilamsari

Launching Buku Womanpreneur karya Nilamsari

Selesai acara saya sempatin foto bareng penulis. Para peserta diskusi juga disuguhi black kebab yang enak banget. Selamat buat mbak Nilamsari. Semoga bukunya berguna buat para perempuan yang merintis usaha di Indonesia.

Bersama teman-teman

Bersama teman-teman

Bagi anda pecinta makanan kebab dan makanan timur tengah lainnya yang sudah banyak menjamur di Indonesia. Ada yang baru lho dari Kebab Baba Rafi yaitu Container Kebab. Ide unik konsep jualan kebab Babarafi yang didirikan oleh Hendy Setiono ini memang cukup menarik dan unik menu-menunya pun menarik. Dalam launching Container Kebab yang dilaksanakan di Jl. Fatmawati no 33 Pondoklabu, Kebab Babarafi mengundang blogger dan tamu undangan yang berlangsung seru dan meriah. Undangan disarankan memakai dresscode hitam kuning.

Container Kebab

Container Kebab

Acara yang dimulai jam empat ini dimulai dengan pendaftaran para blogger. Saat masuk peserta mendapat suguhan nasi kebuli dan air mineral. Enaak banget nasinya sudah tercampur dengan menu Indonesia jadi gak terasa begitu timur tengah karena ada sayuran dan campuran lainnya. Para blogger juga mendapat suguhan black ice cream yang yummi banget. Semua menu itu diambil di container kebab yang tersedia di depan.

Nasi Kebuli

Nasi Kebuli

Black Ice Cream

Black Ice Cream

Setelah menyantap menu pembuka, tak lama kemudian acara dimulai. Sambutan pun dimulai. Sambutan pertama dari pendiri kebab babarafi yaitu Pak Hendy Setiono, Marketing sekaligus istri pak Hendy yaitu Nilamsari dan Mr. Steven dari Frenchise kebab babarafi Internasional.

Sambutan-Sambutan

Sambutan-Sambutan

Setelah sambutan acara dilanjutkan dengan wawancara singkat. Dalam sesi tanya jawab itu para blogger menggali lebih dalam tentang konsep container kebab Babarafi , seperti kenapa warnanya hitam kuning, kalau kata pak Hendy sih biar eye catching dan konsep container kebab dengan mengusung stop eat share ini, mengikuti perkembangan terkini anak muda sekarang dimana kalau makan itu di foto kemudian di share ke teman-temannya. Sedangkan dalam sambutannya Ibu Nilam yang cantik dan baik banget ini menjelaskan bahwa konsep black kebab ini menggunakan bamboo charcoal yang bisa mendetox tubuh dan tentu lebih sehat. Menu yang lain yang dilaunching dalam kesempatan ini ada nasi kebuli, milky ice cream, dan black Ice Cream. Di jamin enak dan para undangan dipersilahkan mencicip menu baru tersebut sepuasnya.

Black Kebab

Black Kebab

Fresh Milk

Fresh Milk

Black Ice Cream

Black Ice Cream

Setelah memperkenalkan produk baru. Acara selanjutnya adalah peresmian Container Kebab Babarafi dengan mengadakan gunting pita oleh Pak Hendy, Ibu Nilamsari dan Mr. Steven.

Pengguntingan Pita

Pengguntingan Pita

Setelah pengguntingan pita dan pelepasan balon ke udara, acara belum selesai. Masih banyak lomba diantaranya adalah makan kebab tercepat dan lomba selfie. Acara yang dipandu oleh MC ini berlangsung rame, meriah dan penuh canda tawa. Aku gak ikut lomba makan kebab karena udah kenyang, aku hanya ikut lomba selfie dan tidak menang. Tapi alhamdulilah aku seneng banget dapat kesempatan datang ke acara ini.

Lomba Selfie

Lomba Selfie

Menjelang sore acara pun ditutup dengan pembacaan doa dan foto bersama dengan para blogger, pemilik kebab babarafi dan semua panitia. Alhamdulilah acara berlangsung lancar. Para pemenang lomba makan kebab dan selfie mendapat voucher menarik dari kebab babarafi dan banyak dari Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB) yang menjadi juara lomba kereen deh. Silahkan jika anda ingin mencoba menu baru dari container Kebab Babarafi, kunjungi daja di jl.RS. Fatmawati no 33 arah ke pondoklabu. Coba aneka macam menu baru dengan harga terjangkau.

Foto Bersama

Foto Bersama

Dan yang lebih menarik dari kebab babarafi ini adalah pemiliknya pasangan suami istri pak Hendy dan Ibu Nilamsari orangnya baik banget dan humble. Saya sangat terkesan sambutan mereka kepada para undangan dengan sepenuh hati, meskipun mereka sudah memiliki 1200 outlet di seluruh Indonesia dan beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, China, Srilanka, Singapura, Brunei dan Belanda dan menjadi Th Worlds Biggest Kebab Chain. Pengunjung pun dipersilahkan menyicip aneka menu baru, dan pulang dengan kenyang. Belum lagi ketika pulang juga disediakan goodie bag menarik. Terimakasih banyak dan semoga kebab babarafi makin berjaya.

Oh ya bagi anda yang mau mencoba makan kebab dan aneka menu lainnya di container kebab babarafi, kedai buka 25 jam, jadi kalau anda kelaparan tengah malam pun bisa datang atau pesen melalui Go-Food lewat aplikasi Go jek. Jadi tunggu apalagi ayoo pesan kebabnya dan selamat menikmati menu baru yang lebih sehat. Stopeatshare….

Kebayoran Lama

Selasa, 8 Desember 2015

Resensi Buku:

Judul : Penyelesaian Ganti Kerugian Negara/Daerah Melalui Tuntutan Perbendaharaan Dan Tuntutan Ganti Rugi
Editor : Eva Rohilah, Lina M.Komarudin
Tebal : 486 Halaman
Cetakan : I, 2015
ISBN : 978-602-7936-43-0
Harga : Rp.80.000
Penerbit : RM Books Jakarta

Sampul Buku

Sampul Buku

Penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi yang dibahas didalam buku ini, merupakan best practice yang dilaksanakan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gorontalo. Penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan perbendaharaan sebagaimana yang diatur didalam Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara Penyelesaian Ganti Kerugian Negara Terhadap Bendahara, dan untuk penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan ganti rugi sebagaimana yang diatur didalam Peraturan Bupati Gorontalo Nomor 54 Tahun 2009 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara, dan Peraturan Bupati Gorontalo Nomor 29 Tahun 2012 tentang Hukum Acara MP-TGR.

Buku ini ditulis dengan baik oleh Yusran Lapananda, banyaknya daerah-daerah ingin mengetahui pelaksanaan atas penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan ganti rugi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Gorontalo melalui sidang MP-TGR. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya daerah-daerah baik pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota yang telah berkunjung “studi banding” ke Kabupaten Gorontalo untuk mempelajari pelaksanaan penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan ganti rugi. Salah satu alasan daerah-daerah belajar tentang penyelesaian kerugian negara/daerah melalui tuntutan ganti rugi, adalah pada proses persidangan tuntutan ganti rugi yang dilakukan oleh MP-TGR (Majelis Pertimbangan-Tuntutan Ganti Rugi).

Penyelesaian ganti kerugian Negara/Daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara merupakan amanat UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Setiap pejabat negara dan pegawai negeri bukan bendahara yang melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya baik langsung atau tidak langsung yang merugikan keuangan negara diwajibkan mengganti kerugian dimaksud. Di dalam pelaksanaannya, tuntutan ganti rugi sampai dengan tindaklanjutnya seringkali mengalami kendala dalam penyelesaian ganti kerugian
Negara/Daerah sehingga berakibat pada belum optimalnya pengembalian/pemulihan ganti kerugian Negara/Daerah yang telah ditetapkan.
Inilah buku yang menyajikan sekelumit penyelesaian ganti kerugian negara/daerah sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah dan ketentuan lebih lanjut dengan peraturan daerah dan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Penulis buku ini, yang merupakan Kepala Dinas, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) berusaha untuk berbagi pengalaman seputar penyelesaian ganti keuangan negara/daerah di Kabupaten Gorontalo.

Resensi di Majalah

Resensi di Majalah

Dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan, Pemerintah Kabupaten Gorontalo telah menerbitkan Peraturan Bupati Gorontalo Nomor 54 Tahun 2009 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara. Peraturan Bupati ini, merupakan dasar hukum Pemerintah Kabupaten Gorontalo dalam memproses penyelesaian ganti kerugian Negara/daerah terhadap pegawai negari bukan bendahara atau melakukan tuntutan ganti rugi melalui MP-TGR (Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi).

Buku ini layak dibaca dan menjadi pedoman bagi pemerintah daerah (provinsi/kabupaten/kota) khususnya bagi para anggota TPKN/D (Tim Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah) dan MP-TGR (Majelis Pertimbangan Tuntutan Ganti Rugi), serta pihak lainnya, para pengelola keuangan daerah masing-masing pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, pejabat pembuat komitmen, pejabat penatausahaan keuangan, pejabat pelaksana teknis kegiatan dan terutama bendahara dan para pihak yang berkepentingan di dalam menyelesaikan kerugian negara/daerah.

Eva Rohilah
Pecinta buku, tinggal di Depok

Resensi ini dimuat di Majalah Prestise Volume 20 Tahun 2015

Senin kemarin setelah liburan lebaran usai aku menyempatkan diri main ke Gramedia Pondok Indah untuk membeli buku yang sudah lama ingin aku beli yaitu buku berjudul Chairul Tanjung Si Anak Singkong karya Tjahja Gunawan Diredja.

Tidak lama setelah kubeli buku itu langsung kubaca, tapi tidak dari awal, aku langsung melihat bagian tentang kehidupan dia bersama keluarganya dan pandangan dia tentang ibunya, karena menurutku bagian itu paling penting.

Dalam bagian yang menceritakan tentang istri dan anak-anaknya, Chairul Tanjung menceritakan tentang istrinya Anita yang merupakan orang Jawa adik kelasnya di FKG UI. Latar belakang Anita diuraikan sekilas lalu tentang kelahiran anak pertamanya Putri Indah Sari dimana ia seringkali memasang popok buat anaknya di sela-sela kesibukannya sebagai pengusaha.

Lalu kisah ibunya yang menjual kain halusnya untuk biaya kuliah serta bagaimana ia menemani ibunya pergi haji. Ibunya yang bernama Halimah adalah orang Cibadak Sukabumi, sama kaya kampungku membuatku senang.

Saat berhaji, Mien Uno mengatakan jika Chairul sangat menyayangi ibunya dan menemani sang ibu melaksanakan rangkaian demi rangkaian haji dengan penuh kasih sayang layaknya seorang kekasih.

Sampul buku CT

Sampul buku CT

Baru setelah selesai membaca bagian itu aku mulai membacanya dari awal, dimulai dari bisnisnya sejak mahasiswa dengan bisnis fotokopi hingga alat-alat kedokteran gigi untuk praktikum di laluinya dengan kerja keras. Lalu pernah juga bisnis jual beli mobil hingga bisnis sandal sepatu dan sumpit, banyak sekali pengalaman CT merintis usaha.

Dari sini saya banyak belajar dan semakin termotivasi untuk merintis usaha apalagi saat ini saya juga sudah tiga bulan membuka usaha di Amira Sport.Dengan penuh semangat saya membaca sepak terjang CT dari nol sampai akhirnya membentuk para grup dan kini menjadi CT Corpora, dengan bank mega, trans tv dan trans 7 dan saat ini menguasai saham 40% Carrefour, saya melihat banyak suka duka yang dialami dan kegigihannya serta dilandasi oleh dasar agama yang bagus membuat usahanya terus berkembang. Kegiatan lainnya selain berbisnis juga aktif di organisasi seperti PBSI dan MUI, CT juga menceritakan pengalamannya saling berbagi dengan sesama orang yang tidak mampu dengan CT Foundation dan lainnya. Bahkan acara orang pinggiran dan Jika Aku menjadi merupakan program yang diangkat sesuai idealisme dan pengalamannya.

Hanya dalam waktu sehari buku ini aku baca, semakin memotivasiku untuk terus bekera dan berwirausaha, banyak nilai positif yang aku dapat dari buku ini dan membuat pikiranku terbuka tentang keberanian dalam berwirausaha, mencari modal dan memiliki banyak jaringan.

18 Kebiasan Buruk Mengelola Keuangan

Posted: February 23, 2012 by Eva in Ekbis dan Wirausaha

18 Kebiasan Buruk yang Membuat Anda Susah Kaya

Angga Aliya – detikFinance

Jakarta – Uang sering membuat orang pusing dari waktu ke waktu. Beberapa orang berusaha melakukan hal yang bisa membuat uang semakin berharga, namun beberapa orang justru malah membiarkan uangnya hilang begitu saja. Salah satunya adalah dengan melakukan beberapa hal tidak menguntungkan, seperti pemborosan dan tidak pernah menabung atau berinvestasi. Hal-hal percuma seperti ini yang membuat orang tidak sadar kalau kekayaannya akan lenyap dalam waktu singkat.

Berikut ini beberapa hal yang harus anda hindari atau berhenti lakukan jika sudah terjadi, karena bisa mengancam kesehatan finansial anda, seperti dikutip dari freefrombroke. com, Kamis (15/2/2012).

1. Tidak punya anggaran

Tidak punya anggaran sama sekali bisa berbahaya bagi kondisi finansial anda. Jangan sampai anda memutuskan untuk “pakai saja dulu uangnya, baru nanti kita hitung di akhir bulan.”

2. Tidak punya gambaran untuk pengeluaran bulanan

Belum punya catatan anggaran, setidaknya anda harus punya perkiraaan biaya pengeluaran per bulan. Gambaran dan catatan pengeluaran itu perlu karena akan ada beberapa biaya yang sering tanpa sadar anda keluarkan.

3. Tidak punya investasi yang menghasilkan

Anda bisa mengucapkan selamat tinggal kepada kondisi finansial anda karena akan segera mati jika tidak punya satu pun investasi yang menguntungkan, minimal yang bisa menghasilkan uang meski hanya sedikit. Jangan pakai internet hanya untuk belanja online, tapi juga cari informasi mengenai instrumen investasi, dan berinvestasilah!

4. Tidak menyadari perkembangan ekonomi terkini

Meski mereka mendewakan uang (untuk dihambur-hamburkan), orang yang boros tidak akan tahu mengenai perkembangan ekonomi terakhir. Eropa krisis, oh? Indonesia masuk investment grade, apa itu? Barulah setelah uangnya habis, mereka sadar bahwa kelakuannya sia-sia.

5. Tidak menikmati karirnya tapi diam saja

Jika anda tidak suka dengan karir yang anda jalani, jangan diam saja, masih banyak pilihan karir di luar sana yang siap anda garap. Jika diteruskan, selain tidak produktif juga tidak membuat anda nyaman dalam mencari uang.

6. Tidak punya prioritas dalam finansial

Tentu saja, hal pertama yang dia lihat akan dia beli untuk orang-orang yang suka boros. Mereka tidak punya prioritas dalam hidupnya, bahkan untuk menabung sekalipun.

7. Sering ganti-ganti mobil

Membeli mobil, baik itu kredit atau tunai sebaiknya dilakukan dengan rencana jangka panjang. Jangan sampai, anda cuma membeli mobil dengan perkiraan kalau anda bosan tinggal beli lagi. Jangan biarkan perasaan gengsi anda menang dalam posisi seperti ini. Tak usah sombong karena tidak bagus secara finansial.

8. Tidak merawat barang

Orang yang boros tidak hanya karena sering menghamburkan uang, tidak menghargai barang yang dibeli pakai uang termasuk pemborosan. Bahkan, orang yang malas merawat barang biasanya tidak mau memperbaiki sesuatu jika rusak, tapi memilih untuk beli yang baru. Itulah kenapa biasanya mereka punya mobil baru, komputer baru, handphone baru.

9. Membeli TV layar datar berukuran raksasa

Semua orang pasti ingin tv raksasa di rumah supaya bisa merasa punya bioskop pribadi. Tapi, kalau anda berpikir jernih, uangnya bisa dipakai untuk keperluan lain. Tak perlu memaksakan diri sampai mencicil segala. Memangnya tidak ada layar datar yang berukuran lebih kecil? Dan bukankah tv tabung juga masih tersedia? Atau anda merasa ketinggalan jaman dengan tv model lama?

10. Langganan TV Kabel Premium

Siapa yang tidak suka dengan acara-acara HBO atau Fox? Sah-sah saja jika anda ingin berlangganan channel tersebut, tapi jangan sampai anda ingin berlangganan seluruh channel yang disediakan oleh operator kabel. Bahkan, mereka akan memaksa anda berlangganan secara paket karena lebih murah, padahal tidak. Akui saja, tidak mungkin semua channel lainnya anda tonton juga setiap hari. Alangkah sayangnya jika anda menghabiskan Rp 1 juta sebulan hanya untuk tv berlangganan.

11. TV di setiap ruangan

Setelah punya tv raksasa dan TV berlangganan yang cukup mahal, anda masih ingin menikmati semua salurannya di setiap ruangan, maka anda memutuskan membeli TV untuk disimpan di tiap sudut rumah. Anda pasti senang menonton TV sampai tidak rela untuk ketinggalan setiap acaranya.

12. Sering makan di luar

Selain tidak sehat bagi tubuh, sering makan di luar juga membahayakan kesehatan finansial anda. Jangan sampai anda terbiasa disajikan makanan oleh orang lain padahal anda atau istri anda bisa menyiakan sendiri, dengan harga yang lebih murah.

13. Berganti-ganti ponsel

Sudah jelas, sering berganti-ganti ponsel (apalagi mengejar tren model terbaru) adalah pemborosan nomor wahid. Jika dipikir baik-baik, harga produk elektronik yang sudah dibeli tidak pernah naik, berbeda dengan rumah atau tanah. Nilai barang yang anda beli akan berkurang seiring waktu. Anda akan sangat rugi kalau mencicil ponsel, begitu lunas, nilai sebenarnya sudah jauh berkurang dari harga awal. Biasanya, orang-orang seperti ini selalu mengaku tidak rugi karena mendapat kepuasan dari gonta-ganti ponsel.

14. Tidak pernah berolahraga

Apa hubungannya berolahraga dengan kondisi keuangan? Banyak. Tubuh yang sehat adalah aset yang harus dijaga baik-baik. Semakin anda sehat, semakin banyak kesempatan mencari uang. Jika anda sakit-sakitan, selain susah mencari uang juga anda harus mengeluarkan uang banyak untuk biaya perawatan.

15. Sering belanja baru bermerek terkenal

Pakaian terbaru dengan merek terkenal selalu menjadi musuh finansial anda. Jangan sampai tergoda dan terjebak untuk membelinya kecuali anda benar-benar butuh. Anda butuh merek? Mungkin saja, untuk mereka yang ingin dipandang oleh orang lain. Sesuaikan merek dengan kebutuhan.

16. Banyak beli hadiah untuk hari raya

Pernah dengar cerita orang yang terjerat utang kartu kredit hanya gara-gara lebaran kemarin terlalu banyak membeli barang untuk dibagi-bagi keluarga dan tetangga di kampung? Berbagi itu indah dan menghubungkan tali silaturahmi, tapi bukan berarti anda harus berkorban begitu banyak bukan?

17. Upgrade komputer setiap tahun

Orang yang boros senang mengganti-ganti komponen komputer sesering bayi mengganti popok. Mereka selalu punya alasan untuk membeli komponen baru setiap beberapa bulan sekali. Ya anda betul, komputernya bahkan tidak dipakai untuk membantu pekerjaan.

18. Punya banyak gadget

Punya banyak alat-alat elektronik (gadget) yang terkadang dengan fungsi yang sama. Ingin dengar musik, punya iPod atau MP3 player. Ingin main game, punya iPod Touch atau Sony Playstation Portable (PSP). Ingin berselancar di internet, punya iPad atau Samsung Galaxy Tab. Ingin baca buku, punya Kindle atau Kobo eReader. Kalau dipikir-pikir, semua fungsi tersebut bisa ditemukan di satu ponsel pintar saja.

Kesimpulan:

Kebiasan-kebiasaan seperti ini merupakan kabar buruk bagi kondisi finansial anda. Jika setelah membaca ini anda menemukan poin yang ternyata pernah anda lakukan, evaluasi kembali dan lakukan perubahan positif dalam hidup anda.

Dikutip dari detik.com http://finance. detik.com/ read/2012/ 02/17/071558/ 1844709/

479/

 

Modal Uang Bukan segalanya


Tak sedikit orang yang kalau ditanya kenapa tidak tertarik memulai
bisnis sendiri, jawabannya selalu ‘tidak punya modal uang untuk
memulai’. Demikian juga, kalau ada orang atau kawan yang sukses
membangun bisnisnya, cenderung mengatakan ‘ ya terang saja dia sukses
karena dia punya modal uang yang cukup. Yang terang saja bapaknya dia
kan anu, mertuanya begini begini… dan sebagainya”. Pendeknya, banyak
yang mengidap keyakinan bahwa modal uang adalah segalanya dalam
kesuksesan membangun bisnis. Kunci suksesnya sangat ditentukan pada
besarnya kepemilikan modal uang ini.

 

Sesungguhnya kalau kita tanya ke pengusaha sukses yang benar-benar
sukses – bukan pengusaha karbitan — modal uang itu memang penting,
namun bukan segala-galanya. Modal bukan satu-satunya penentu sukses.
Bahkan, dalam kenyataanya tak sedikit pengusaha yang sukses mesti
tanpa dukungan modal yang cukup. Kenapa? Karena, bagi mereka, yang
terpenting dalam bisnis adalah membangun nama baik dan trust ( di
hadapan mitra bisnis, konsumen, supplier, mitra pemodal, dll). Sudah
banyak bukti, banyak orang yang sebenarnya tidak punya uang modal,
tapi karena punya keahlian pada suatu bidang dan ia dipercaya oleh
orang alias ada orang lain yg trust kepadanya sehingga kemudian
menawari modal untuk memulai usaha. Jadi bukannya meminta, malah
ditawari modal.

Sejauh pengamatan saya bertemu pengusaha sukses dari perlbagai
kalangan, pebisnis yang punya pola pikir ‘modal uang adalah segalanya’
justru kemampuan untuk survive-nya lebih lemah dari yang lebih
mengedepankan kerja keras dan membangun trust. Lihatlah bisnis
anak-anak pejabat atau anak politisi yang biasanya hanya punya masa
jaya ketika orang tua atau patronnya masih berjaya di politik atau
pemerintahan. Ketika orang tuanya masih berjaya di panggung politik
atau pemerintahan, si anak mudah cari modal. Bisa minta si A, Si B,
menekan sana-sini, bahkan kalaupun pinjam kredit ke bank juga lebih
dimudahkan. Namun ketika orang tua atau patronnya lengser, ia menjadi
kehilangan separoh lebih daya saingnya (competitiveness) sehingga
bisnisnya pun makin memudar. Saya kira banyak sekali contoh seperti
itu, bahkan mungkin sangat dekat dengan lingkungan Bapak/Ibu sekalian
atau mungkin malah kawan Bapak/ibu sendiri.

 

Sebaliknya, saya punya beberapa relasi baik pengusaha yang modalnya
hanya beberapa juta atau ratus ribu rupiah, namun bisa sukses karena
pandai membangun trust dan mengedepankan kerja keras/tekun. Ada
kenalan saya pengusaha, namanyaPak Rudy Suardana. Kalau orang
Kalimantan Timur rasanya pasti akan kenal orang ini karena beliau
adalah main dealer untuk Suzuki di seluruh propinsi Kaltim, baik untuk
motor maupun mobil. Beliau juga pengembang (developer) yang membangun
Sudirman Square di Balikpapan, Kariangau Trade Center, Perumahan Bumi
Nirwana Asri, Sentra Samarinda Seberang, dll. Samekarindo Group
biasanya orang Kaltim tahu. Nah, beliau waktu memulai usaha modalnya
hanya dipercaya orang. Ada kawannya dealer di Surabaya yang meminta
dia menjualkan motor Suzuki ke relasi-relasi dia. Jadi polanya ia
membawa dagangan, dititipin oleh kawannya itu. Dia tak pakai modal.
Ini bisa terjadi karena kawannya itu sudah trust ke Pak Rudy sehingga
berani menitipkan dagangannya untuk dijualkann Pak Rudy. Dari situlah
ia kemudian berkembang menjdi pengusaha besar, padahal masa kecilnya
dibesarkan di panti asuhan. Ia tak hanya di otomotif namun juga properti.

Ada relasi saya lagi, namanya Bu Winita Kusnandar, beliau adalah
konsultan hukum bisnis terkemuka Jakarta yang perusahannya (Kusnandar
& Co) termasuk dalam Indonesian 10 Largest Law Firm di Indonesia.
Beliau sekarang juga punya bisnis pendidikan dan properti. Jangan
pikir ketika dulu memulai usaha dia punya modal banyak uang. Dia dulu
juga karyawan di perusahaan konsultan hukum pada umumnya yang kemudian
ditawarin oleh seorang konglomerat yang menjadi kliennya untuk buka
law firm sendiri. Jadi konglomerat yang jadi klien itu tahu reputasi
Bu Winita dan kemudian menawari ‘kenapa nggak buka law firm sendiri
saja?” sembari menawari pinjaman modal uang untuk sewa kantor di Jl
Rasuna Said. Dari situ Bu Winita pun sukses membangun law firmnya dan
kini bisnisnya sudah merambah ke properti, sekolahan, hotel, konsultan
manajemen dan keuangan, furnitur, dll.

 

Disini pesannya, modal uang bukan segalannya. Dalam membangun bisnis
yang lebih penting adalah memupuk nama baik dan trust. Anda boleh saja
bangkrut dan kehabisan modal, tapi percayalah, Anda masih bisa bangkit
bermodalkan nama baik dan trust orang lain kepada Anda. Saya kira
sangat banyak contoh akan hal ini. Bagi yang ingin melihat lebih dalam
bagaimana orang2 bermodal terbatas bisa sukses menjadi pengusaha
besar, silahkan baca buku ’10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS

 

DARI 0′, disusun Sudarmadi dan diterbitkan Gramedia. Di dalamnya juga
diulas ada kisah Pak Rudy Suardana dan Buku Winita Kusnandar yang
sempat saya singgung tadi.

Salam hormat dan semoga sukses untuk Bapak/Ibu sekeluarga. Amiin..

Sayap Baru si Golden Boy

Posted: November 1, 2007 by Eva in Ekbis dan Wirausaha, Inspirasi

para-group.jpg

TEMPO Edisi. 35/XXXVI/22 – 28 Oktober 2007

Ekonomi dan Bisnis

TEMPO Edisi. 35/XXXVI/22 – 28 Oktober 2007

Ekonomi dan Bisnis

Sayap Baru Si Golden Boy

Setelah menguasai bisnis keuangan dan media, Para Group milik Chairul Tanjung
mulai terjun ke penerbangan, perkebunan, gaya hidup, dan hiburan. Modal siapa di balik ekspansi agresif itu?

PADA mulanya Chairul Tanjung hanya seorang dokter gigi lulus an Universitas
Indonesia yang banting setir menjadi pengusaha sepatu. Ia bukan saudagar kesohor, bukan pula anak konglomerat ternama.

Namanya baru mencuat tatkala ia memiliki Bank Mega pada 1996. Ketika konglomerat bertumbang an dihantam krisis pada 1998, garis tangan Chairul
berubah. Bisnis anak Jakarta ini justru menjulang. Sekarang pria 45 tahun itu menjadi buah bibir di kalangan pengusaha nasional.

Sayap bisnisnya berkembang cepat. Ia bukan lagi cuma memiliki Bank Mega, Bandung
Super Mall, serta Trans TV dan Trans-7, melainkan sudah lebih luas. Ia merambah bisnis jasa keuangan, media dan gaya hidup, properti, perkebunan, energi, serta pertambangan. Chairul sangat agresif dan giat mencari peluang baru, menurut Ishadi, bekas orang pemerintah yang kini Direktur Utama Trans TV.

trans-tv.jpg

Belum lama ini, Chairul ”menjelma” menjadi distributor produk-produk retail
bergengsi di Indonesia. Chairul telah mengakuisisi PT Mahagaya Perdana, distributor merek terkenal seperti Mango, Prada, Escada, Gucci, Hugo Boss, Alfred Dunhill, dan Ettiene Aig ner. Ia akan menantang Mitra Adi Perkasa yang selama ini menjadi penguasa bisnis itu.
gucci.jpg
Ia juga masuk ke bisnis makanan-minuman dengan membeli lisensi kafe ternama
Coffee Bean dan es krim berkelas Baskin-Robbins. ”Dalam setahun banyak sekali perusahaan diakuisisi,” kata seorang karyawan divisi jasa ke uangan grup itu yang mengaku heran dengan pesatnya bisnis bosnya.

Sekarang grup ini sedang menggodok rencana baru prestisius: melebarkan sayap dan
menjadi pemain kunci di kawasan Asia. Pada tahap awal, nama induk usaha Grup Para akan diubah jadi Chairul Tanjung Corporation (CT Corp.) agar lebih mudah dikenal. Tahun depan nama baru itu kabarnya diluncurkan.

Bersamaan dengan perubahan nama, beberapa proyek raksasa dimatangkan jajaran
petinggi kelompok bisnis ini. Di antaranya membangun maskapai pener bangan, perkebunan seluas 500 ribu hektare, energi listrik, pertambangan, serta pusat hiburan terbesar di Indonesia timur.

Untuk bisnis penerbangan, menurut Chaeral Tanjung, salah satu petinggi di
kelompok bisnis ini, pihaknya sedang mempersiapkan keuangan, operasionalisasi, sumber daya manusia, dan keamanannya.

”Pokoknya, kami tak akan tampil seperti maskapai sekarang,” kata adik Chairul
tersebut. Maksudnya, ia tak mau hadir sebagai maskapai yang banyak masalah seperti banyak maskapai sekarang ini.

Dengan bendera Trans-Air, mereka membidik segmen khusus, yakni kelas eksekutif.
Tarifnya dipatok dua kali lipat lebih mahal dari harga tiket Garuda Indonesia. Misalnya, tiket Garuda Rp 1 juta, maka Trans-Air akan mematok harga Rp 2 juta. ”Itu sesuai dengan layanan berkelas Concorde yang akan ditawarkan,” kata sumber di Grup Para. ”Slogannya, kalau terbang tidak naik Trans-Air, tidak keren gitu deh.”

Di Makassar, Chairul sedang membangun proyek hiburan terpadu. Kawasan wisata
bernama Trans Studio Resort Makassar senilai Rp 1 triliun dibangun di lahan seluas 12,7 hektare. Di proyek ini, ia bekerja sama dengan Grup Kalla. Mereka akan menampilkan berbagai atraksi permainan ala Disneyland.

disneyland.jpg

Bukan cuma di Makassar, Chairul mulai menjamah kawasan lain di Sulawesi hingga
Kalimantan. Di sana ia mengejar mimpi besar menjadi pemain baru perkebunan—seperti Sinar Mas atau Raja Garuda Mas. Targetnya menguasai 500 ribu hektare dengan investasi tri liunan rupiah. Ia pernah berasumsi, untuk lahan seluas 200 ribu hektare saja, diperlukan dana Rp 5 triliun.

Di belahan bumi Sumatera dan Jawa Barat, bekerja sama dengan PT Pertami na, dua
tahun lalu ia berniat membangun tiga pembangkit listrik tenaga panas bumi senilai US$ 1,5 miliar. Sayangnya, sampai sejauh ini kontrak kerja sama itu belum jelas tindak lanjutnya. ”Itu tak batal, tapi masih dijajaki,” kata Ishadi.

Siapa mesin uang di balik investasi raksasa Chairul? Banyak mata melirik pada
kedekatannya dengan Anthoni Salim, pemilik Grup Salim yang kesohor itu. Apalagi Chairul memang bekerja sama dengan Grup Salim di sejumlah bisnis, misalnya di perusahaan investasi Singapura, Asia Medic, yang mereka akuisisi tahun lalu.

Chairul memang kelihatan bersama Anthoni Salim ketika bertemu dengan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan visi Indonesia 2030, Maret lalu. Adakah dana Anthoni yang dikelola Chairul selama ini?

Ketika soal sumber dana ekspansi ini dikonfirmasikan kepada Chairul, ia tegas
membantahnya. Ia menampik keras sebutan operator Grup Salim. ”Saya bisa berhasil karena kerja keras,” kata Chairul dalam sebuah wawancara dengan Tempo beberapa waktu lalu.

Namun seorang eksekutif Grup Para menyebutkan bahwa Salim sesungguhnya memiliki
belasan persen saham Bank Mega. Itu terjadi saat bank ini menawarkan saham perdana tujuh tahun lalu. Tapi peran Salim dalam pengembangan Para ditolak mentah-mentah oleh Ishadi dan Direktur Utama Bank Mega Yungki Setiawan. Menurut mereka, Chairul mudah mendapatkan dana karena bisnisnya berkembang baik.

Ada saja institusi keuangan dunia yang menawarkan dana kepada Grup Para, seperti
Citigroup dan JP Morgan. ”Chairul dikenal sebagai golden boy atau anak emas,” kata Ishadi. ”Di Singapura saja ia gampang cari dana murah.”

Siapa pun penyokong dana grup ini, yang jelas bisnisnya sudah menggurita. Saking
banyaknya aset, menurut Ishadi, Grup Para perlu mengkonsolidasi diri dalam tiga fokus bisnis. Pertama, jasa keuangan, dinaungi oleh Mega Global Finance. Itu mencakup Bank Mega, Bank Syariah Mega, Mega Capital, Mega Insu rance, Mega Life, dan Para Financing.

Kedua, bidang media, gaya hidup, dan hiburan, yang dipayungi Trans Corpora. Ini
meliputi Trans TV, Trans-7, Trans Lifestyle, Mahagaya, PT Bara Bali, serta properti seperti Bandung Super Mall dan Batam Indah Investindo. Sedangkan ketiga, CT Global Resources, yang membawahkan perkebunan, energi, dan pertambangan.

Ekspansi usaha ini ditujukan untuk menciptakan sinergi positif. Itu sudah
terbukti di Bank Mega, yang sukses mendongkrak pertumbuhan bisnis secara signifikan. Bank ini sepuluh tahun lalu cuma bank kecil beraset ratusan miliar rupiah, tapi sekarang sudah beraset Rp 30 triliun.

Program sinergi juga dijalankan di Bank Mega. Dengan Mega Life dan Mega Capital,
misalnya, ia
menciptakan produk investasi berbiaya murah, tapi menarik karena berasuransi.
Melalui Trans TV,
Bank Mega membombardir pemirsa dengan iklan tabungan berhadiah. Sedangkan dengan
Mahagaya dan
Coffee Bean, mereka memberikan diskon khusus bagi pemilik kartu kredit Bank
Mega.

Bahkan bukan cuma dengan sesama anak usaha mereka bermitra. Dengan grup besar
lain pun Grup Para
menjalin kerja sama. Misalnya dengan Sinar Mas di Mega Life, dengan Gramedia di
Trans-7, atau
dengan Grup Kalla di Trans-Makassar, juga dengan Grup Salim ”Sekarang ini memang
eranya bersinergi
jika tak mau tenggelam,” kata Yungki.

Dengan sinergi itu pula Chairul memasang target tinggi bagi semua anak usaha.
Bank Mega, kata
Yungki, sudah ditargetkan naik peringkat dari posisi ke-12 saat ini menjadi 5
bank teratas
nasional sepuluh tahun lagi. Artinya, dengan memperhitungkan sejarah pertumbuhan
10-20 persen,
total asetnya diperkirakan menyentuh Rp 200 triliun dalam satu dekade mendatang.

Melihat ambisi besarnya, menurut eksekutif Grup Para, Chairul yang juga Ketua
Yayasan Forum
Indonesia ini sangat mungkin mewujudkan mimpinya pada 2030, yaitu CT Corp. masuk
30 perusahaan
Indonesia di daftar 500 perusahaan besar dunia versi majalah Fortune. ”Jika
sudah berniat, ia
bertekad mewujudkannya,” kata eksekutif ini.

Asalkan itu dicapai lewat proses bisnis yang sehat, jauh dari kolusi ala Orde
Baru, pasti banyak
orang ikut bangga.

Heri Susanto

Setelah menguasai bisnis keuangan dan media, Para Group milik Chairul Tanjung
mulai terjun ke
penerbangan, perkebunan, gaya hidup, dan hiburan. Modal siapa di balik ekspansi
agresif itu?

PADA mulanya Chairul Tanjung hanya seorang dokter gigi lulus an Universitas
Indonesia yang banting
setir menjadi pengusaha sepatu. Ia bukan saudagar kesohor, bukan pula anak
konglomerat ternama.
Namanya baru mencuat tatkala ia memiliki Bank Mega pada 1996.

Ketika konglomerat bertumbang an dihantam krisis pada 1998, garis tangan Chairul
berubah. Bisnis
anak Jakarta ini justru menjulang. Sekarang pria 45 tahun itu menjadi buah bibir
di kalangan
pengusaha nasional.

Sayap bisnisnya berkembang cepat. Ia bukan lagi cuma memiliki Bank Mega, Bandung
Super Mall, serta
Trans TV dan Trans-7, melainkan sudah lebih luas. Ia merambah bisnis jasa
keuangan, media dan gaya
hidup, properti, perkebunan, energi, serta pertambangan. Chairul sangat agresif
dan giat mencari
peluang baru, menurut Ishadi, bekas orang pemerintah yang kini Direktur Utama
Trans TV.

Belum lama ini, Chairul ”menjelma” menjadi distributor produk-produk retail
bergengsi di
Indonesia. Chairul telah mengakuisisi PT Mahagaya Perdana, distributor merek
terkenal seperti
Mango, Prada, Escada, Gucci, Hugo Boss, Alfred Dunhill, dan Ettiene Aig ner. Ia
akan menantang
Mitra Adi Perkasa yang selama ini menjadi penguasa bisnis itu.

Ia juga masuk ke bisnis makanan-minuman dengan membeli lisensi kafe ternama
Coffee Bean dan es
krim berkelas Baskin-Robbins. ”Dalam setahun banyak sekali perusahaan
diakuisisi,” kata seorang
karyawan divisi jasa ke uangan grup itu yang mengaku heran dengan pesatnya
bisnis bosnya.

Sekarang grup ini sedang menggodok rencana baru prestisius: melebarkan sayap dan
menjadi pemain
kunci di kawasan Asia. Pada tahap awal, nama induk usaha Grup Para akan diubah
jadi Chairul
Tanjung Corporation (CT Corp.) agar lebih mudah dikenal. Tahun depan nama baru
itu kabarnya
diluncurkan.

Bersamaan dengan perubahan nama, beberapa proyek raksasa dimatangkan jajaran
petinggi kelompok
bisnis ini. Di antaranya membangun maskapai pener bangan, perkebunan seluas 500
ribu hektare,
energi listrik, pertambangan, serta pusat hiburan terbesar di Indonesia timur.

Untuk bisnis penerbangan, menurut Chaeral Tanjung, salah satu petinggi di
kelompok bisnis ini,
pihaknya sedang mempersiapkan keuangan, operasionalisasi, sumber daya manusia,
dan keamanannya.
”Pokoknya, kami tak akan tampil seperti maskapai sekarang,” kata adik Chairul
tersebut. Maksudnya,
ia tak mau hadir sebagai maskapai yang banyak masalah seperti banyak maskapai
sekarang ini.

Dengan bendera Trans-Air, mereka membidik segmen khusus, yakni kelas eksekutif.
Tarifnya dipatok
dua kali lipat lebih mahal dari harga tiket Garuda Indonesia. Misalnya, tiket
Garuda Rp 1 juta,
maka Trans-Air akan mematok harga Rp 2 juta. ”Itu sesuai dengan layanan berkelas
Concorde yang
akan ditawarkan,” kata sumber di Grup Para. ”Slogannya, kalau terbang tidak naik
Trans-Air, tidak
keren gitu deh.”

Di Makassar, Chairul sedang membangun proyek hiburan terpadu. Kawasan wisata
bernama Trans Studio
Resort Makassar senilai Rp 1 triliun dibangun di lahan seluas 12,7 hektare. Di
proyek ini, ia
bekerja sama dengan Grup Kalla. Mereka akan menampilkan berbagai atraksi
permainan ala Disneyland.

Bukan cuma di Makassar, Chairul mulai menjamah kawasan lain di Sulawesi hingga
Kalimantan. Di sana
ia mengejar mimpi besar menjadi pemain baru perkebunan—seperti Sinar Mas atau
Raja Garuda Mas.
Targetnya menguasai 500 ribu hektare dengan investasi tri liunan rupiah. Ia
pernah berasumsi,
untuk lahan seluas 200 ribu hektare saja, diperlukan dana Rp 5 triliun.

Di belahan bumi Sumatera dan Jawa Barat, bekerja sama dengan PT Pertami na, dua
tahun lalu ia
berniat membangun tiga pembangkit listrik tenaga panas bumi senilai US$ 1,5
miliar. Sayangnya,
sampai sejauh ini kontrak kerja sama itu belum jelas tindak lanjutnya. ”Itu tak
batal, tapi masih
dijajaki,” kata Ishadi.

Siapa mesin uang di balik investasi raksasa Chairul? Banyak mata melirik pada
kedekatannya dengan
Anthoni Salim, pemilik Grup Salim yang kesohor itu. Apalagi Chairul memang
bekerja sama dengan
Grup Salim di sejumlah bisnis, misalnya di perusahaan investasi Singapura, Asia
Medic, yang mereka
akuisisi tahun lalu.

Chairul memang kelihatan bersama Anthoni Salim ketika bertemu dengan Presiden
Susilo Bambang
Yudhoyono saat menyampaikan visi Indonesia 2030, Maret lalu. Adakah dana Anthoni
yang dikelola
Chairul selama ini?

Ketika soal sumber dana ekspansi ini dikonfirmasikan kepada Chairul, ia tegas
membantahnya. Ia
menampik keras sebutan operator Grup Salim. ”Saya bisa berhasil karena kerja
keras,” kata Chairul
dalam sebuah wawancara dengan Tempo beberapa waktu lalu.

Namun seorang eksekutif Grup Para menyebutkan bahwa Salim sesungguhnya memiliki
belasan persen
saham Bank Mega. Itu terjadi saat bank ini menawarkan saham perdana tujuh tahun
lalu. Tapi peran
Salim dalam pengembangan Para ditolak mentah-mentah oleh Ishadi dan Direktur
Utama Bank Mega
Yungki Setiawan. Menurut mereka, Chairul mudah mendapatkan dana karena bisnisnya
berkembang baik.
Ada saja institusi keuangan dunia yang menawarkan dana kepada Grup Para, seperti
Citigroup dan JP
Morgan. ”Chairul dikenal sebagai golden boy atau anak emas,” kata Ishadi. ”Di
Singapura saja ia
gampang cari dana murah.”

Siapa pun penyokong dana grup ini, yang jelas bisnisnya sudah menggurita. Saking
banyaknya aset,
menurut Ishadi, Grup Para perlu mengkonsolidasi diri dalam tiga fokus bisnis.
Pertama, jasa
keuangan, dinaungi oleh Mega Global Finance. Itu mencakup Bank Mega, Bank
Syariah Mega, Mega
Capital, Mega Insu rance, Mega Life, dan Para Financing.

Kedua, bidang media, gaya hidup, dan hiburan, yang dipayungi Trans Corpora. Ini
meliputi Trans TV,
Trans-7, Trans Lifestyle, Mahagaya, PT Bara Bali, serta properti seperti Bandung
Super Mall dan
Batam Indah Investindo. Sedangkan ketiga, CT Global Resources, yang membawahkan
perkebunan,
energi, dan pertambangan.

Ekspansi usaha ini ditujukan untuk menciptakan sinergi positif. Itu sudah
terbukti di Bank Mega,
yang sukses mendongkrak pertumbuhan bisnis secara signifikan. Bank ini sepuluh
tahun lalu cuma
bank kecil beraset ratusan miliar rupiah, tapi sekarang sudah beraset Rp 30
triliun.

Program sinergi juga dijalankan di Bank Mega. Dengan Mega Life dan Mega Capital,
misalnya, ia
menciptakan produk investasi berbiaya murah, tapi menarik karena berasuransi.
Melalui Trans TV,
Bank Mega membombardir pemirsa dengan iklan tabungan berhadiah. Sedangkan dengan
Mahagaya dan
Coffee Bean, mereka memberikan diskon khusus bagi pemilik kartu kredit Bank
Mega.

bank-mega.jpg

Bahkan bukan cuma dengan sesama anak usaha mereka bermitra. Dengan grup besar
lain pun Grup Para
menjalin kerja sama. Misalnya dengan Sinar Mas di Mega Life, dengan Gramedia di
Trans-7, atau
dengan Grup Kalla di Trans-Makassar, juga dengan Grup Salim ”Sekarang ini memang
eranya bersinergi
jika tak mau tenggelam,” kata Yungki.

Dengan sinergi itu pula Chairul memasang target tinggi bagi semua anak usaha.
Bank Mega, kata
Yungki, sudah ditargetkan naik peringkat dari posisi ke-12 saat ini menjadi 5
bank teratas
nasional sepuluh tahun lagi. Artinya, dengan memperhitungkan sejarah pertumbuhan
10-20 persen,
total asetnya diperkirakan menyentuh Rp 200 triliun dalam satu dekade mendatang.

Melihat ambisi besarnya, menurut eksekutif Grup Para, Chairul yang juga Ketua
Yayasan Forum
Indonesia ini sangat mungkin mewujudkan mimpinya pada 2030, yaitu CT Corp. masuk
30 perusahaan
Indonesia di daftar 500 perusahaan besar dunia versi majalah Fortune. ”Jika
sudah berniat, ia
bertekad mewujudkannya,” kata eksekutif ini.

Asalkan itu dicapai lewat proses bisnis yang sehat, jauh dari kolusi ala Orde
Baru, pasti banyak
orang ikut bangga.

Heri Susanto

Dunia Dongeng Tanaman Hias

Posted: October 28, 2007 by Eva in Ekbis dan Wirausaha

Hari ini Kompas Menulis tiga artikel Tentang Anthurium

Aku simpan agar berguna

Dunia Dongeng Tanaman Hias

Ilham Khoiri

Mengikuti perkembangan tanaman hias beberapa tahun belakangan seperti memasuki dunia dongeng. Tren berganti-ganti dan orang-orang berduit tak segan mengeluarkan uang miliaran rupiah demi memburu tanaman primadona. Masyarakat umum pun ikut-ikutan menginvestasikan uang yang pas-pasan demi mimpi meraup untung besar. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Masyarakat di Tanah Air sedang terjangkiti demam tanaman hias. Cobalah berkunjung ke Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sejak memasuki kawasan Jaten, yang berbatasan dengan Kota Solo, kita langsung menghirup aroma anturium, tanaman yang jadi tren tahun 2007 ini. Ratusan kebun tanaman hias memenuhi kiri-kanan jalan raya.

Tiba di kawasan Karangpandan, Tawangmangu, dan Ngargoyoso, kebun bunga makin berjubel di mana-mana. Penduduk membangun kotak-kotak di depan rumah sebagai semacam “etalase” untuk memajang tanaman. Baliho-baliho besar dipasang dengan mengusung jargon: “Selamat datang di Kabupaten Anturium”.

Bupati Karanganyar Rina Iriani Sri Ratnaningsih memang mencanangkan kabupaten itu sebagai “Kabupaten Anturium” dan meminta masyarakat di 17 kecamatan untuk menanam berbagai jenis anturium. Kini, ada 1.000 petani, ratusan nursery dan green house yang membiakkan tanaman ini. “Saya mendorong mereka agar fokus pada tanaman hias. Di sini, kalau tidak memiliki anturium, orang tidak merasa jadi orang Karanganyar,” ujarnya.

Tren anturium juga merasuki wilayah lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, dan meluas lagi sampai Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Papua. Pameran, kontes, dan media hobi kerap menampilkan tanaman ini sebagai primadona. Selain jenmanii, jenis lain juga banyak dicari, seperti black beauty, hokeri, gelombang cinta, dan garuda.

gelombang-cinta.jpg

Yang sangat fenomenal, tentulah rekor harga yang gila-gilaan. Awal tahun 2006, indukan anturium jenmanii masih berharga Rp 1.000.000 per pot. Tapi, baru-baru ini, satu pohon anturium jenis jenmanii hasil silangan baru di Kudus, Jawa Tengah, dikabarkan mencapai harga Rp 1,25 miliar. Biji-biji jenmanii yang baru dipanen pun laku Rp 250.000 per buah.

Meski tak seheboh anturium, aglaonema juga sempat booming beberapa tahun lalu. Saat itu, masyarakat juga getol memburu berbagai jenis tanaman dengan daun berbintik-bintik ini, terutama jenis pride sumatera, hot lady, dan widuri. Tren memuncak saat aglaonema harlequin hasil silangan Greg Hambali terjual seharga Rp 660 juta pada lelang terbatas pertengahan tahun 2006.

anthurium-jenmani-jaipong.jpg

Sebelum itu, adenium-lah yang jadi raja tanaman hias. Sejak tahun 2002, masyarakat menguber berbagai jenis adenium dengan bunga berwarna-warni, seperti crimson star, arabicum, dan herry potter. Tahun 2005, tanaman asal Afrika ini pernah mencapai rekor harga sekitar Rp 100 juta.

Begitulah, tren tanaman hias berubah begitu cepat, dengan siklus sekitar dua tahunan. Harga tanaman bisa melonjak tinggi, tetapi juga gampang jatuh. “Fenomena harga yang gila-gilaan hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara lain, seperti Taiwan, Thailand, Hongkong, dan Amerika, masyarakat membeli tanaman dengan harga wajar,” kata Pemimpin Redaksi Majalah Trubus Onny Untung.

Goreng-gorengan?

Kenapa bisnis tanaman hias diwarnai harga yang gila-gilaan? Menurut Ketua Florikultura Indonesia Iwan Hendrayanta, situasi itu terjadi karena stok tanaman hias tertentu memang yang terbatas, padahal kebutuhan pasar tinggi. Tetapi, itu juga bisa dipengaruhi spekulasi para pemain baru yang terjun dalam bisnis ini.

Biasanya satu jenis tanaman yang potensial dimatangkan dulu di kalangan penyilang atau pemilik tanaman indukan. Sebelum dilempar ke pasar, tanaman itu diperkenalkan dulu dalam pameran, kontes, atau brosur. Tanaman yang memperoleh sambutan bagus lantas dipublikasikan media, seperti Trubus atau Flona.

bibit Anthurium

“Kalau sudah diulas media, biasanya orang-orang langsung penasaran, mencari-cari, dan tumbuhlah pasar. Ketika pasar bertambah dan stok terbatas, otomatis harga terdongkrak,” kata Iwan.

Saat harga naik, bisnis tanaman itu menjanjikan untung besar. Masuklah kalangan berduit atau konglomerat yang ingin untung cepat. Mereka berinvestasi dengan menanamkan modal besar. Dalam kondisi seperti itu, harga tanaman bisa melejit sampai taraf “tak masuk akal”.

Bursa tanaman tambah panas ketika para pemain berlomba mendatangkan jenis-jenis baru dari luar negeri, terutama Thailand, Filipina, dan Taiwan. Apalagi, kemudian bermunculan orang yang ikut-ikutan atau kolektor yang membeli demi gengsi. Hauwlie, pemilik Gracia Nursery di Karanganyar, mengungkapkan, banyak pemain di bisnis ikan, burung, atau pengusaha bus dan rokok yang terjun ke tanaman hias.

“Tidak benar pengusaha Karanganyar sengaja menggoreng-goreng harga anturium. Harga melonjak karena ada sejumlah pengusaha pendatang baru yang berspekulasi menawarkan harga tinggi,” kata Didik Setiawan, pemilik Nursery dan Gardening Deni di Karanganyar.

Menurut Chandra Gunawan Hendarto, pemilik Godongijo Nursery di Sawangan, Depok, orang berduit berani berinvestasi ke tanaman hias karena melihat sektor riil ekonomi masih lesu. Saat bersamaan, bunga deposito di bank yang sekitar 8-9 persen per tahun dinilai terlalu minim, sedangkan permainan saham dianggap kurang menarik karena turun-naik.

“Orang yang punya duit lalu melirik bisnis tanaman hias yang sedang menggairahkan. Jadilah bisnis ini makin ramai saja, banyak orang yang semrintil-ngintil,” kata Chandra, yang memopulerkan adenium sejak tahun 1999.

Pencurian

Ketika jadi komoditas bernilai tinggi, tanaman hias lantas jadi incaran banyak orang, termasuk pencuri. Sejak heboh anturium jenmanii yang mahal, banyak pemilik nursery mengaku kebobolan. Sayangnya, kasus kriminal itu sulit ditangani kepolisian karena belum ada identifikasi khusus untuk tanaman hias.

“Saya sudah pernah empat kali kecurian tanaman anturium. Nilainya bisa ratusan juta rupiah,” kata Jefri, penggemar tanaman hias asal Cipanas, Puncak.

Puncak

Mengantisipasi situasi ini, pemilik tanaman hias mau tak mau harus mengeluarkan biaya tinggi demi menciptakan keamanan berlapis. Jangan heran jika kebun-kebun anturium di Karanganyar dikerangkeng pagar besi, dikawal sejumlah satpam 24 jam, dipasangi alarm, kamera CCTV, sampai dijaga anjing galak.

anthurium-jenmanii-cobra.jpg

“Demi menjaga anturium, bahkan ada orang yang memboyong tanaman itu dalam kamar untuk diajak tidur bersama,” kata Ketua Koperasi Pinasti Karanganyar M Zamzami Ali.

Tidur bersama tanaman? Ah, benar-benar mirip dunia dongeng saja! (sonya hellen sinombor/ frans sartono)

 Artikel-2

Untung dan Buntung Saling Bersambung
Ninuk Mardiana Pambudy

anthurium-crenatum.jpg


“Kami baru kehilangan dua anturium. Satu dicuri dari halaman belakang yang pagarnya tingginya tiga meter, satu lagi di teras yang lebih kecil. Yang satu ‘Anthurium plowmanii’ atau Gelombang Cinta, satunya lagi ‘Anthurium jemanii’ ‘Kol’. Yang dicuri dari kantor juga dua pohon.”
Itulah pengalaman Susilo Hadi Arifin dan istrinya, Nurhayati, pengajar di Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Anturium kesayangan mereka itu dibeli pada tahun 2001 saat belum populer dan ketika dicuri panjang daunnya sudah sekitar 50 sentimeter. Bila dibandingkan dengan anturium yang kerap muncul di pameran, tanaman dengan ukuran tersebut dapat mencapai harga lebih Rp 20 juta.
Anturium yang saat ini berada pada puncak kejayaannya membuat banyak orang tergiur memiliki tanaman ini, meskipun dengan cara mencuri. Susilo juga kecurian ratusan pot aglaonema dari laboratorium tanaman di IPB saat tanaman itu sedang jaya-jayanya dua tahun lalu.
Cerita tentang tanaman hias saat ini seperti dongeng. Harganya bisa semahal satu mobil Mercedes seri S. Kalau dibelikan rumah, bisa dapat lima-enam buah dengan luas tanah 180-an meter di pinggiran Jakarta. Bagaimana bisa menjelaskan satu tanaman hias daun anturium yang harganya Rp 600 juta bahkan Rp 1,2 miliar per buah? Harga ratusan juta rupiah juga pernah diraih adenium.

jutawan.jpg
“Sebetulnya agak berlebihan kalau harganya sampai semahal itu karena tanaman adalah sesuatu yang terbarukan, bisa dibiakkan. Menyilangkan anturium, adenium, atau aglaonema, misalnya, relatif tidak terlalu sulit,” kata Prof Dr Ir Susilo yang Ketua Departemen Arsitektur Lanskap IPB dan penulis buku pertamanan dan tanaman hias.
Ada beberapa faktor yang membuat suatu jenis tanaman menjadi buruan dan harganya sangat tinggi. Kelangkaan adalah faktor terpenting selain tanaman itu dianggap “baru” dan pasti harus menarik dilihat.
“Umumnya yang memiliki tanaman dengan sifat tersebut adalah komunitas kolektor tanaman. Kadang mereka melelang di antara mereka sendiri,” kata Dr Ir Nurhayati, salah seorang penyusun standar kompetensi kerja nasional untuk tanaman hias krisan dan aglaonema.
Selain komunitas, Himma Zakia dari Salsabiila Nursery di Cipanas, Jawa Barat, dan Susilo berpendapat, media massa juga ikut mengipasi konsumen dengan info apa yang sedang populer saat ini.
Peran komunitas pencinta tanaman ini cukup penting karena mereka selalu mencari tanaman baru. Untuk itu, mereka menyilang sendiri, bertukar di antara mereka, atau ke petani karena tanaman yang unik dapat muncul dari mana saja ketika terjadi mutasi.
Di sisi lain, ada pemulia (breeder) yang bekerja sama dengan pembibit (nursery) untuk menghasilkan tanaman-tanaman jenis baru. “Jadi, ada yang klop antara penawaran dan permintaan,” kata Susilo.
Untung dan buntung
Untung dan buntung bisa sambung-menyambung dalam bisnis tanaman hias. Mereka yang buntung, selain karena tanamannya dicuri, juga karena latah ikut-ikutan bisnis ini sementara tidak paham berapa lama tanaman itu tetap populer.
“Waktu palem raja untuk lanskap sedang di puncak, permintaannya tinggi sementara pasokan terbatas. Akhirnya para desainer lanskap pindah ke palem ekor tupai dan palem putri. Harga palem raja jatuh. Banyak petani yang telanjur tanam palem raja akhirnya rugi,” papar Ir Lita Herlinawati, yang bekerja di perusahaan lanskap di Kabupaten Bogor.
Himma Zakia, yang memproduksi tanaman hias pot, tanaman lanskap, dan tanaman hias daun, mengaku ikut kecipratan rezeki dari populernya anturium. Dia mendatangkan sebagian tanaman hias daun-termasuk anturium-dari Thailand. Di sana anturium tidak terlalu menjadi perhatian. Perusahaan pembibitan umumnya melayani permintaan dari Indonesia.
“Di pasar Chatuchak, Bangkok, isinya orang Indonesia. Ada yang dari Medan, Solo, sampai Jawa Timur. Mereka rebutan anturium, sampai ada yang bela-belain nginep di kebun supaya enggak keduluan yang lain,” kata Himma.
Begitu menggiurkannya rupiah yang dapat dipanen dari tanaman hias sampai-sampai ada yang menjual rumah dan mobil, bahkan utang dari bank, untuk ikut menangguk rezeki “sesaat”. Menurut Himma, tidak selalu mereka yang kini berbisnis anturium punya kebun bahkan tanaman. Para penggembira ini cukup bermodal jaringan pasar. Mereka akan menghubungkan penjual dan pembeli dengan mengambil keuntungan di antara keduanya.
“Popularitas anturium sudah berlangsung tiga tahun, mudah-mudahan masih bertahan lama karena pembiakannya tidak bisa dengan setek. Yang bagus dengan biji, itu pun harus yang matang; atau kultur jaringan yang cukup rumit mencari media tumbuhnya. Kalau anturium segera surut, jangan-jangan banyak yang ‘miring’ karena telanjur investasi besar-besaran,” kata Himma.

kaya-dari-tanaman.jpg

Semakin semaraknya bisnis tanaman hias, menurut Nurhayati, bagus-bagus saja karena menambah keragaman tanaman hias di sini. Lagi pula, tiap tanaman memiliki penggemar fanatik yang tidak akan begitu saja mengalihkan cintanya ke tanaman lain sehingga petani tetap akan mempunyai pasar.
Membuat meledak
Pemulia tanaman ikut berperan sebab bila hasil tangkaran mereka sukses di pasar sudah pasti bukan hanya nama, tetapi keuntungan ekonomi pun menjadi imbalan. Tak mengherankan bila kebun bibit bermodal kuat bersedia membiayai pemulia mereka melakukan eksplorasi ke hutan mencari tanaman yang berpotensi ekonomi untuk kemudian disilangkan dengan jenis yang sudah dikenal sebelumnya.
“Pasti tanamannya mesti menarik dan unik. Biasanya dari jenis yang memiliki banyak varian, seperti pada aglaonema, adenium, atau euforbia yang katanya membawa rezeki hingga harganya stabil meski tidak spektakuler,” kata Susilo.

anth-hookeri-oval.jpg
Uniknya, tanaman yang menjadi buruan itu dari jenis yang sudah lama dikenal. Anturium sudah menjadi tanaman hias sejak lebih 40 tahun lalu, adenium atau ada juga yang menyebut sebagai kamboja jepang, euforbia, dan aglaonema juga bukan tanaman baru. Tanaman-tanaman ini dijadikan baru melalui persilangan.
Lalu, bagaimana menciptakan tanaman yang akan menjadi populer?
Yang jelas, hal itu belum dapat dilakukan petani tanaman hias. “Mereka bisa membudidayakan, tetapi tidak cukup pengetahuan dan jaringan pasarnya,” kata Susilo.
Jadi, penentu memang kebun bibit berskala besar, komunitas kolektor tanaman, dan media massa. Adapun petani dan kebun bibit berskala kecil mengekor.
Dan, kabar-kabar pun berembus mengantisipasi perkembangan berikut. “Katanya yang berikut adalah bromelia (nanas-nanasan), tetapi kok belum juga muncul. Maunya sih anturium bertahan lebih lama karena memberi rezeki petani dan pencinta tanaman hias,” kata Himma.

Artikel-3

Dari Masa ke Masa
Setelah Anturium, Apa Lagi?

Masyarakat Indonesia punya selera yang unik menyangkut soal tanaman hias. Mula-mula, banyak orang menggandrungi tanaman yang memiliki bunga indah, lalu bergeser pada pepohonan pelindung untuk taman. Belakangan, masyarakat menyukai bunga dalam pot yang bisa dipelihara dalam rumah. Adalah bunga nusa indah yang dikenal menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia tahun 1970-an. Saat itu, hampir tidak ada halaman rumah, kantor, hotel, dan toko di kota-kota yang tidak memajang tanaman yang kerap disebut cangkok emas atau daun putri itu. Bunganya yang merah cerah atau putih bersih dianggap melambangkan kesejahteraan pemiliknya. Memasuki tahun 1980-an, selera masyarakat beralih pada bunga bugenvil atau kembang kertas. Meski sempat tersebar mitos tanaman ini beraura panas sehingga menyulitkan kehidupan keluarga yang memeliharanya, bugenvil tetap memikat banyak kalangan. Tanaman dengan bunga warna-warni ini banyak ditanam di pinggir jalan atau pekarangan rumah.

bugenvile.jpgSaat program pembangunan gencar dilakukan di Indonesia pada era tahun 1990-an, berkembang jenis tanaman hias untuk lanskap atau taman terbuka, terutama jenis palem-paleman. Palem yang terkenal adalah palem botol, palem raja, dan ekor tupai. Saat itu, jenis tanaman ini berharga mahal. “Harga palem ekor tupai dewasa bisa mencapai Rp 7 juta. Harga tersebut sudah sangat tinggi zaman itu. Buah palem juga laris di pasaran yang dibeli orang untuk ditanam sendiri,” kata Matius Alberto Mujadi (38), landscaper asal Depok, Jawa Barat. Tak hanya palem, tahun 1990-an juga diwarnai tren tanaman peneduh, seperti kamboja dan cemara udang dengan bentuk semi bonsai. Saat tren, banyak orang yang berburu bonggol cemara udang langsung dari hutan. Banyak pedagang melirik bisnis tanaman cantik ini.

Adenium Bunga

Tahun 2000-an, tren tanaman hias makin cepat berganti. Berawal dari adenium, aglaonema, lantas belakangan terjadi demam anturium. Di sela-sela tiga tren besar itu, masih sempat muncul lagi beberapa tanaman lain, seperti euforbia, philodendron, pachypodium, dan sansiviera. Masing-masing tanaman memiliki keunggulan sendiri-sendiri.

Aglonema

Meskipun demam anturium masih terus berlangsung, kini orang sudah bertanya-tanya, tanaman apa lagi yang bakal naik daun? Diam-diam, sebagian orang sekarang mulai memborong senthe atau kajar-kajar, tanaman talas besar yang banyak tumbuh di pekarangan rumah di Jawa. Diperkirakan, tanaman besar ini bakal makin digemari. Tapi, sebenarnya semuanya masih gelap. Para kolektor, pengusaha, pedagang, dan petani tanaman hanya bisa menduga, tanaman yang bakal jadi tren tentulah yang punya sifat-sifat mirip anturium, adenium, dan aglaonema. Tanaman itu mesti menarik sehingga potensial untuk digandrungi banyak orang. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, stoknya harus cukup.

Anthurium Colonicum

“Tanaman bisa jadi tren kalau gampang dipelihara dan mudah diperbanyak, tetapi biar orang tidak cepat bosan, perbanyakan itu hendaknya menghasilkan variasi baru yang segar, seperti terjadi pada adenium dan anturium,” kata Handry Chuhaery (40), pemilik Han Garden di Serpong, Tangerang. (iam)