Archive for the ‘Ekonomi Bisnis’ Category

Judul : Agenda Ekonomi Kerakyatan
Penulis : Revrisond Baswir
Penerbit: Pustaka Pelajar
Edisi : I, Juli, 1997
Pengantar: Sritua Arief

 

Salah satu tokoh ekonomi yang banyak meneruskan pemikiran Mohammad Hatta di Indonesia adalah Revrisond Baswir. Tenaga Pengajar di UGM ini saya kenal sejak masih di Jogja dan aktif mengkampanyekan  Agenda Ekonomi Kerakyatan.

Ketika  beberapa kali mengikuti diskusi dengan beliau yang menjelaskan tentang “Tiada ekonomi Kerakyatan Tanpa Kedaulatan” dan kita sudah lama mengenal beliau sebagai pengagas anti hutang luar negeri.

Membahas Teori, Kritik dan Strategi Kondisi Ekonomi

Buku ini setting ceritanya sekitar tahun 1997-an dimana saat itu masih banyak terjadi kesenjangan ekonomi dan sosial. Namun meskipun sudah tidak begitu kekinian tidak ada salahnya menjadikan buku ini sebagai rujukan.

Menurut Revrisond, Ramainya perbincangan ekonomi rakyat, dan perekonomian serta istilah-istilah baru dalam dunia ekonomi seolah-olah ada pendekatan ekonomi baru yang ditawarkan. Padahal, dengan menelusuri jika menelusuri pemikiran ekonomi pra kemerdekaan, akan segera diketahui jika istilah tersebut merupakan reinkarnasi saja.

Tiga bab pertama membahas tentang teori, kritik dan strategi pembangunan. Bung Hatta misalnya sudah menulis tentang ekonomi rakyat sejak tahun 1933.  (Ekonomi Rakyat, dalam Hatta (1954), Kumpulan Karangan ( Jilid 3), Balai Buku Indonesia, Jakarta.

Selain istilah kekinian, kritik terhadap target pertumbuhan juga menjadi sorotan Revrisond Baswir. Hingga strategi pembangunan, mengatasi kesenjangan ekonomi dan relasi buruh majikan.

Berbicara mengenai kemampuan rakyat untuk mengendalikan atau mengawasi jalannya perekonomian, berarti berbicara mengenai di tangan siapa kedaulatan berada; di tangan negara atau di tangan rakyat, tanpa kedaulatan rakyat tidak akan ada ekonomi kerakyatan,” halaman 7.

Koperasi dan Demokrasi Ekonomi

Setelah membahas agenda besar di tiga bab di atas, bab keempat ada sembilan sub bab yang membahas  perkembangan koperasi di Indonesia.

Koperasi dan demokrasi ekonomi merupakan dua konsep penting dalam ekonomi Indonesia. Bila demokrasi ekonomi merupakan konsep dasar yang mengungkapkan karakteristik institusional, ekonomi konstitusi Indonesia secara makro, maka koperasi adalah pengejawantahan konsep besar tersebut dalam dataran dataran institusi mikro.

Namun seiring perkembangan waktu sistem koperasi sudah tergerus dan mengalami banyak kemunduran. Terdapat perbedaan mencolok antara cita dan fakta penerapan prinsip usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan dalam penataan kelembagaan koperasi saat ini, maka pada tempatnya bila kita mempertanyakan paham ekonomi yang kita anut.

Selain membahas koperasi ada satu bab menjelaskan tentang Yang Hilang dan Berkembang dalam Tubuh Koperasi, Ekonomi Politik dan Perkembangan Koperasi, Strategi dan mengkaji ulang perkembangan koperasi, Kemandirian dan Kewirausahaan serta Koperasi Unit Desa.

Meredam Amarah Jika Ada Kebijakan yang Tidak Merakyat

Buku yang merupakan kumpulan tulisan ini bagus untuk menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan. Mengembalikan sistem ekonomi kerakyatan, mengurangi korupsi dalam lembaga pemerintah dan LSM platmerah untuk mengurangi kemarahan masyarakat yang sewaktu-waktu bisa meledak jika kesenjangan terabaikan.

Dengan menanggulangi faktor-faktor ekonomi yang memecut kemarahan, rasa marah masyarakat jika ada sedikit saja kebijakan yang tidak memihak pada rakyat seperti faktor alam maupun faktor sulitnya bahan baku baik persoalan sandang, pangan dan papan, semoga segera diobati dengan cara damai.

Perpus Veteran, 19 November 2018

Pukul 09.53

 

 

Advertisements

Ketika pulang dari Taman Wisata Sumberasri Bukit Teletubis, saat pulang perjalanan cukup lancar. Melalui jalan yang lebih halus dibanding ketika berangkat, jarak yang  ditempuh pun lebih cepat.

Setelah melewati Taman Wisata Candi Penataran, yang ramai pengunjung di hari Sabtu ini. Tepatnya sebelum pertigaan, saya melihat ada sebuah warung yang menjual aneka peralatan masak dari anyaman bambu seperti tampah buat menyimpan sayuran, wadah mencuci beras, dan saringan untuk mencuci sayuran atau memeras kelapa parut menjadi santan kelapa. Kalau bahasa Sunda namanya “Ayakan”.

Sudah Lama Ditinggalkan

Cukup lama saya memilih dan mengamatinya aneka peralatan masak tersebut yang sepertinya menumpuk dan jarang dibeli masyarakat karena sudah tergantikan dengan peralatan plastik.

Tidak hanya di sini, di daerah lain juga sebenarnya sama, banyak yang membuat tapi masyarakat sudah jarang menggunakannya.

Selain tiga peralatan itu masih ada barang lainnya dengan bahan dasar yang sama seperti topi bundar dari anyaman bambu, wadah sampah, tempat bumbu, caping, parutan kelapa, cobek dan lain sebagainya. Harganya pun sangat terjangkau.

Di Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya dan daerah Jawa Barat lainnya juga ada yang membuat dan menjual kerajinan seperti ini, namun berbeda nama dan cara membuatnya serta fungsinya.

Semoga kelak peralatan masak dari anyaman bambu ini kembali digemari masyarakat.

Jika teman atau kerabat pulang dari Candi Penataran atau Bukit Teletubis, silahkan mampir  membeli oleh-oleh peralatan masak untuk keperluan memasak di rumah. Bisa di beli di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar dan sekitarnya.

17 November 2018
Pukul 15.25 WIB

 

Ruang baca dimulai dari pintu depan, hingga ke dalam sangat menarik perhatian. Interior tempat duduk, rak buku, poster berisi kutipan-kutipan menarik di tata sedemikian rupa. Terutama ruang baca di bagian tengah, berupa tempat duduk berhadap-hadapan dengan lampu baca di atas. Berjejer aneka warna, dengan kursi sofa empuk.

Pertama kali saya berkunjung ke Perpustakaan Bank Indonesia (BI)  pada bulan Ramadan tahun 2017. Saat itu saya menghadiri peluncuran buku karya Setiadi Sopandi yang menulis tentang tokoh arsitek  terkemuka, Freiderich Silaban.  Freiderich Silaban adalah seorang arsitek yang sangat dekat dengan Ir. Sukarno dan berhasil mengarsiteki beberapa bangunan bersejarah di Indonesia seperti Mesjid Istiqlal, Bank Indonesia, Tugu Monumen Nasional (Monas), Museum Nasional dan gedung lain sebagainya.

Setiadi Sopandi adalah dosen jurusan arsitektur di Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta.  Buku bersampul “Istiqlal” ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Sejak saat itu, saya bertanya kepada pengelola Perpustakaan Bank Indonesia (BI), apakah tempat ini bisa dikunjungi untuk umum atau hanya untuk karyawan atau pegawai BI saja. Dan pihak petugas perpustakaan dengan senang hati menjelaskan jika terbuka untuk umum, dimana bukanya tiap hari Senin-Jum’at Pukul 08.00 – 18.00. Namun saat istirahat tutup antara jam 12.00 – 13.00. Tentu ini di luar dugaan saya.  Sangat senang bisa melihat koleksi lengkap buku, suratkabar, majalah, jurnal, baik yang cetak maupun digital yang sangat lengkap.

Melewati Tiga Lapis Pemeriksaan

20170707_175422

Akan tetapi jika anda hendak berkunjung ke perpustakaan BI, anda harus berpakaian rapi dan tidak boleh mengenakan sandal, celana pendek,  dan tidak diperkenankan membawa  makanan dan minuman di dalam ruangan. Selain itu di BI itu ada beberapa pintu masuk. Ada dari pintu Kebon sirih, ada juga yang dari pintu jalan Budi Kemuliaan. Jika anda naik busway, jalannya lumayan jauh ke arah Kemuliaan, dekat ke pintu masuk.

Namun jika dari pintu Kebon sirih, wah anda berarti salah masuk, karena jalannya memutar jauh. Dimana gedung Perpustakaan BI ada di Menara Sjafruddin Prawiranegara di bagian tengah, jalan beberapa meter dari pintu barat. Letaknya ada di lantai 2, jalan MH.Thamrin No. 2 Jakarta Pusat. Kalau dari stasiun Tanabang lebih dekat, naik bis langsung berhenti di pintu masuk sebelah barat.

Jadi anda lebih baik masuk lewat pintu barat dimana sebelum ke lantai dua harus melewati tiga lapis pemeriksaan. Pertama, petugas keamanan di pintu barat akan mendeteksi bawaan anda, menyerahkan Kartu Tanda Pengenal (KTP) dan memberi tanda pengenal, setelah itu melewati pintu utama gedung Sjafruddin Prawiranegara di cek lagi layaknya masuk ke sebual pusat belanja (mall). Ketat pemeriksaannya.  Setelah dinyatakan aman, ada petugas di sebelah kanan pintu masuk, anda harus menukar tanda pengenal dengan kartu identitas pengunjung (tamu) agar bisa masuk lift di lantai dua. Ribet memang, namun jika anda tidak banyak barang bawaan yang mencurigakan anda akan merasa aman-aman saja.

Setelah naik ke lantai dua, keluar lift akan terlihat di seberang barat dua pintu perpustakaan. Pertama, ruang pintu perpustakaan umum dan kedua ruang pintu perpustakaan riset.  Masukkan nama anda di papan digital dan titipkan barang ke loker. Di sini juga, di ruang koleksi umum tidak ada wifi jadi anda bisa membaca dengan tenang dan puas buku-buku koleksi BI.

Enam Layanan Prima di Ruangan yang  Nyaman dan Warna Warni

Ada beragam buku di perpustakaan BI yang terbaru dan tertata rapi sedemikian rupa. Buku Koleksi umum seperti koleksi bahasa, komputer, psikologi, hukum, fiksi dan non fiksi sastrawan terkemuka dan karya Best seller terkini dan karya lainnya juga ada. Dari karya Seno Gumira Ajidarma sampai Dewi Lestari anda bisa membacanya.

Sedangkan koleksi buku bidang moneter, stabilitas sistem keuangan, dan bidang lain guna meningkatkan kualitas diri dalam mendukung pekerjaan, penelitian, dan pendidikan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan dengan tetap berpedoman kepada pemerintah dan undang – undang yang berlaku, dimana ada enam layanan prima di perpustakaan BI.

Pertama, Koleksi lengkap bidang moneter, stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah, baik cetak maupun online. Kedua, penelusuran melalui website yang friendly acces. Ketiga, PC penelusuran yang berkualitas. Keempat, Lounge area dan ruang baca yang warna warni. Kelima, ruang diskusi, ruang karya ilmiah dan ruang koleksi anak, dan keenam ada fotokopi dan musholla.

kutipan

Ruang baca dimulai dari pintu depan, hingga ke dalam sangat menarik perhatian. Warna-warni tempat duduk, interior rak buku, ada poster berisi kutipan-kutipan menarik di tata dengan menarik sehingga anda betah berlama-lama di ruang baca. Terutama ruang baca di bagian tengah, berupa tempat duduk berhadap-hadapan dengan lampu baca di atasnya. Berjejer penuh warna, dengan kursi sofa empuk, anda akan betah berlama-lama di sini.

Jika anda suka menyendiri membaca, bisa juga mojok di bagian pinggir dimana ada kursi dan meja terbuka untuk satu komputer jinjing dengan pemandangan ke gedung BI. anda bisa melihat indahnya pemandangan di luar gedung. Taman yang luas dan pekerja taman yang rajin juga bisa anda lihat saat anda pulang.

Lomba Resensi dan Hadiah Buat Pengunjung Paling Rajin

Selain anda bisa membaca koleksi buku sesuai yang anda butuhkan, surat kabar, majalah dan jurnal. Anda juga bisa mengunduh aneka jurnal internasional dari seluruh dunia di ruang perpustakaan riset.

Selain itu, ada kegiatan lain yang bisa dilakukan di Perpustakaan BI. Seperti peluncuran buku, lomba resensi buku  yang diadakan dua tahun sekali, workshop, seminar dan beberapa penghargaan buat para pengunjung seperti library awards, book addict of the year, visitor of the year, dan library best friend.

Saya mengira perpustakaan ini dibuat untuk memancing pegawai BI mendatangi perpustakaan yang menurut saya memang sangat sepi karena pengunjungnya sedikit, hanya ada beberapa orang  petugas yang berjaga. Terakhir saya kesana tidak sengaja berjumpa dengan dua orang mahasiswa dari universitas swasta jurusan ekonomi yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Mereka semangat mencari buku referensi untuk tugas kuliah mereka dan pulang menjelang sore.

Jadi jika anda ingin memperdalam tentang sistem ekonomi, sejarah uang,  sistem perbankan di Indonesia, kondisi moneter dan ingin tahu lebih banyak hal terkini seputar inovasi  dunia Perbankan di Indonesia, silahkan mampir ke perpustakaan Bank Indonesia.

Blitar, 7 November 2018

Pukul 17. 51

 

 

 

IMG_7583Saat ini kita melihat tokoh inspirasi biasanya dari orang-orang terkemuka yang berhasil mengubah dunia. Namun, ternyata hari rabu ini saya mendapat inspirasi dari  sosok petani sederhana bernama Marjuni yang berhasil mempermudah pekerjaan menanam padi di sawah dengan hasil temuan yang keren tidak kalah inovatif dengan temuan universitas terkemuka.

Marjuni (44), adalah lelaki kelahiran Blitar yang bertransmigrasi ke daerah Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Belajar dari sekian lama menjadi petani, ayah tiga anak ini menciptakan alat bernama Tabela (Tanam Benih Langsung).

Ide Tabela ini dia rembuk bersama Karyani (47) temannya sesama petani di sawah. Sebelum membuat Tabela, dia mencari cara bagaimana supaya menanam padi bisa cepat dan praktis. Akhirnya terciptalah Tabela.

“Tabela memang dibuat untuk mempermudah pekerjaan petani dalam menanam padi. Ini adalah inovasi dari cara menanam padi dengan sistem tugal ataupun icir,” ujar lelaki berkumis ini.

Biaya Pembuatan Terjangkau

Penggunaan Tabela mirip dengan  memakai bajak, tetapi ditarik mundur. Agar benih yang baru ditanam tidak terinjak dan jarak tanam juga rapi. Ongkos biayanya kata Marjuni untuk menggunakan Tabela adalah sekitar Rp 700.000. Sedangkan jika menggunakan icir/tugal bisa mencapai Rp 4.000.000. Tentu ini sangat membantu para petani di lingkup petani Karangmulya dan petani lain di sekitarnya.

“Sesama petani kami saling berbagi pengetahuan, saya senang karena bisa menularkan cara meimbuat Tabela, sebagian lain ada di modifikasi saya juga tidak keberatan karena dibuat untuk membantu petani menekan ongkos produksi,” ujar Marjani.

Populer Namun Tidak Menuntut Hak Paten

Kini penggunaan Tabela semakin populer di kalangan Petani Tanah Bumbu terutama di Kusan Hulu dan Kusan Hilir. Selain membanggakan  dan bermanfaat, para petani pun semangat menanam padi, apalagi sekarang mulai musim penghujan.

Saat ini kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Selatan yang membina petani di Kasan Hulu coba memfasilitasi agar Tabela buatan Marjuni dipatenkan.

Lalu apa jawabannya? “Kalau saya pribadi, dipatenkan monggo (silahkan) enggak pun enggak apa-apa,” ucapnya. Marjuni berprinsip jika menjadi petani harus saling berbagi ilmu, rasa bangga justru muncul ketika petani lain menggunakannya.

“Mau bikin berapapun monggo, dengan begitu ilmu saya bisa diterapkan dan dikembangkan di mana-mana,” kata lelaki tamatan Sekolah Dasar (SD) yang juga pernah menjadi Juara I Inovasi Tepat Guna Tingkat Kabupaten Tanah Bumbu atas inovasi bahan bakar minyak dari limbah plastik pada tahun 2014.

Harian Kompas Edisi

Rabu 7 November, 2018

Koleksi Umum Perpustakaan Bung Karno

Pukul 11.28

Sudah memasuki bulan November sekarang ini, tidak terasa sudah 3, 5 bulan tinggal di perantauan,  kampung Mas Arif. Blitar terdiri dari dua wilayah, ada kabupaten dan ada kotamadya. Saya tinggal di Kabupaten Blitar, namun jarak dari kabupaten dan kota berdekatan.

Beberapa kali saya mengunjungi makam dan perpustakaan Bung Karno itu posisinya di daerah Kota Blitar, sedangkan perpustakaan kabupaten Blitar itu ada di jalan Veteran, sehingga saya menyebutnya Perpus Veteran.

20181101_093207-1

Pagi ini saya sengaja menyusuri Kota Blitar lewat trotoar jalan dari tempat alat jahit Fanny sampai jalan merdeka. Dimana di sini ada Taman Pecut, di dekat alun-alun kota Blitar.

Di Blitar berbeda dengan daerah seperti daerah pinggiran Jakarta yang dimana semua bahan baku baik sayuran mengoptimalisasikan produksi masyarakat setempat. Hasil pertanian seperti jagung, lombok dan aneka sayuran lainnya adalah hasil petani setempat, bukan merupakan kiriman dari daerah penyangga.

Di sini juga tidak banyak supermarket, ada mall juga sepi. Para pedagang setempat masih ramai membuka toko baik kelontong, toko kain, toko pakaian, industri kerajinan seperti batok kelapa, batik, pandan, anyaman bambu, tembikar bahkan sampai perbankan semua berjalan biasa saja, denyut ekonomi berjalan dengan baik, namun tidak begitu terasa persaingan yang kencang.

Setiap pagi banyak warung makanan buka dan ramai pengunjung, seperti sarapan nasi pecel, gado-gado, bubur bayi, dll. Ada juga para penjual makanan seperti  rempeyek, tahu lontong, dan lain-lain senantiasa ramai setiap hari.

Beberapa kali saya mengunjungi toko bahan kue dan  mengunjungi toko peralatan jahit,  juga toko kain di jalan merdeka membuat saya suka dengan aneka jenis sandang di sini. Hingga tidak terasa waktu pun beranjak siang.

Saya merasakan bahwa Blitar itu baik kota maupun kabupatennya sangat mandiri. Beberapa bahan masakan, ikan yang biasa saya konsumsi dulu pun di sini tidak semua ada, mungkin diproteksi melindungi pengusaha lokal.

Sepertinya ada kebijakan tertentu berkaitan dengan sistem ekonomi, jika tidak salah mungkin saya menyebutnya sistem ekonomi di sini seperti sistem dumping di Jepang. Namun dalam skala lokal.

Setelah menjelang siang, saya pun beranjak pulang. Melihat – lihat sebentar taman pecut yang bersebrangan dengan ruang terbuka hijau dimana ada beberapa pohon beringin besar mengitarinya. Angin siang semilir terasa di siang itu, para tukang becak pun banyak berada di sekitar taman. Saya pun segera pulang.

Blitar, 1 November 2018
Pukul 12.34 WIB

Resensi Buku

Judul : Biografi Singkat Mohammad Hatta (1902-1980)

Penulis : Salman Alfarizi

Penerbit: GARASI, Jogjakarta

Edisi : Cetakan II, Juli 2009

Editor: Abdul Qadir Shaleh

Pada suatu ketika B.M Diah diminta oleh Majalah Prisma tentang generasi 1928 seperti Sukarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. Kata Diah :  “Sukarno dan Hatta disekap Belanda, Sjahrir idem dito. Tan Malaka lari.”

Setelah 73 tahun Indonesia merdeka, ada beragam generasi melintasinya. Indonesia tidak melupakan Mohammad Hatta, salah seorang proklamator dan pemimpin bangsa ini yang jujur dan antikorupsi. Memegang teguh prinsip, tegas, terampil organisasi, memiliki intelektualitas tak tertandingkan, dan pemegang paham sosialisme yang setia.

Sosok Mohammad Hatta, sudah lama dikenal sebagai salah satu pendiri bangsa. Wakil presiden yang mendampingi Ir. Sukarno ini dikenal sebagai sosok yang sederhana dan disipin tinggi. Ekonomi Kerakyatan yang diperjuangkan atau disebut sebagai Hattanomics pernah diterapkan di era awal kemerdekaan.

Saya tidak akan menjelaskan bagaimana kiprah sejarah dan perjuangannya sebelum kemerdekaan yang sudah banyak orang paham, namun akan mengulas sisi pribadi dia yang patut di tiru kita sebagai orangtua maupun generasi muda penerus.

Ada banyak buku yang mengulas tentang biografi ekonom terkemuka Indonesia Mohammad Hatta. Ditulis oleh beberapa penulis dan penerbit dengan pendekatan berbeda, semua sama bagusnya. Namun, jika anda ingin membaca singkat, cepat dan padat, tidak ada salahnya anda membaca buku ini.

Yatim Sejak Usia Delapan Tahun

Lelaki yang bertubuh kecil pendek dan berbadan gempal ini lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Ayahnya seorang mursyid, sebuah pemimpin tarekat sufi di Sumatera Barat bernama Haji Mohammad Djamil dan Ibunya Siti Saleha. Mohammad Djamil adalah cucu seorang seorang ulama Minangkabau bernama Syaikh Abdurrahman atau dikenal Syaikh Batuhampar.

Menurut Hamka, nama Mohammad Hatta berasal dari Muhammad Ata yang diambil dari seorang penulis kitab Al-Hikam bernama Muhammad Ibn Abdul Karim Ibn Ata-Ilah Alsukandari. Sedangkan kakek dan nenek dari pihak ibunya adalah pengusaha angkutan pos antara Bukittinggi dan Lubuk Sikaping dengan menggunakan kuda, bernama Ilyas Bagindo Marah dan istrinya Aminah. Hatta memanggil keduanya Pak Gaek dan Mak Gaek.

Pernikahan Mohammad Djamil dengan Saleha melahirkan dua orang anak yaitu Hatta dan Rafi’ah. Ketika berusia delapan tahun, ayahnya mursyid Mohammad Djamil wafat. Ibunya menikah lagi dengan Haji Ning, pengusaha asal Palembang. Dari pernikahan itu, Hatta punya adik  empat orang perempuan.

Kondisi rumah tangga semasa kecil sangat berpengaruh dalam pola hidup Hatta yang terlepas dari pola budaya Minangkabau tradisional yang lazimnya konservatif, ada kalanya cenderung reaksioner. Sama halnya dengan pemuka gerakan nasional sezamannya yang berasal dari Minangkabau seperti Ibrahim Marah Sutan, Rustam Effendi, Abdul Muis, Bahder Johan, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, Hazairin, Syaikh Djamil Djambek dan Syaikh Abdullah Muhammad.

Menikah Dengan Mas Kawin Buku

Terlalu panjang jika saya bercerita proses mahasiswa, menempuh pendidikan ke Belanda, aktif di organisasi dan memproklamasikan kemerdekaan RI. Saya kira nanti anda bisa baca sendiri dari halaman 15-32.

Lebih menarik kita membahas sisi pribadinya. Dimana Muhammad Hatta yang menikah usai Indonesia merdeka. Perempuan yang dinikahi Hatta adalah perempuan biasa yang saat menikah masih belia, bernama Siti Rahmiati Rachim. Mereka bertemu saat usia Rahmi berusia 17 tahun, selisih usianya dengan Mohammad Hatta adalah 24 tahun. Rahmi adalah perempuan kelahiran Bandung 16 Februari 1926. Mereka bertemu saat Sukarno dan Hatta kembali dari pengasingan. Hatta dan Rahmi menikah pada 18 November 1945 di Megamendung Bogor dengan mas kawin sebuah buku berjudul “Alam pikiran Yunani.”

Kecintaan Hatta pada buku sudah ada sejak kecil. Sejak umur lima tahun sudah bisa membaca dan menulis. Hatta punya kebiasaan membaca yang patut diteladani. Membaca buku pelajaran pada malam hari dan membaca buku lain termasuk roman untuk meluaskan cakrawala pengetahuan dibacanya pada sore hari. Selama 11 tahun di Belanda dia membawa 11 peti buku dan pakaian hanya satu koper.

Bagi Hatta, buku hampir seperti sebuah benda sakral. Dalam dunia pergerakan, mungkin Hatta adalah aktivis yang paling banyak menulis. Konon saat mahasiswa di Amsterdam kamarnya penuh sesak dengan buku. Dalam kehidupan sehari-hari, Hatta memiliki waktu khusus untuk belajar. Jauh dari kemewahan dan kegairahan akan perempuan.

Kekasih Hatta adalah buku, buku, dan buku. Karena itu, lahirlah anekdot; istri pertama Hatta sesungguhnya adalah buku, istri kedua Hatta adalah buku dan istri ketiga adalah Rahmi Hatta.

Berbeda dengan Sukarno yang sanggup membakar massa melalui pidato-pidatonya yang memikat. Hatta lebih banyak diam; ia lebih suka menulis. Isi buku-bukunya menggambarkan spektrum dan minat yang luas terhadap ekonomi, sosial dan sastra. Tokoh yang disukai Hatta adalah Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker, penulis Belanda yang pernah menulis Max Havelaar.

Satu ucapan Dekker yang kerap dikutip Hatta, dengan tepat menggambarkan sosok bekas wakil presiden itu adalah onhoorbar groeit de padi, artinya tak terdengar tumbuhlah padi. Hatta adalah padi yang tak terdengar itu.

Kepala Keluarga yang Disiplin dan Penuh Kasih Sayang

Selama mengayuh biduk rumah tangga, Hatta dan Rahmi memiliki tiga anak. Yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah dan Halida Nuriah. Sebagai orang tua, Hatta terkesan pendiam dan kaku. Namun dia sangat berwibawa dan penuh kasih sayang.

Curahan kasih sayang pun terasa unik, karena beliau bukan sosok yang suka memuji, membelai dan menyanjung berkepanjangan.

Namun, menyapa anak-anaknya dengan sopan tanpa memanggil “kamu”. Dia biasa bertanya misalnya “Meutia sudah membaca tulisan ini? Atau “Gemala, dimana letakkan buku tadi?.”

Bahasa Indonesia yang digunakan Hatta adalah Bahasa yang standar. Mungkin ini pula yang menyebabkan nilai Bahasa Indonesia ketiga putrinya 8 dan 9, karena mereka terbiasa mendengar ayahnya menggunakan Bahasa Indonesia standar. (Ini harus dicamkan orangtua dan generasi milenial hehehe).

Menurut anak-anaknya, Hatta adalah sosok ayah yang sangat disiplin selam hidupnya yang dijalani selama puluhan tahun saat sehat. Ketiga anaknya dibesarkan oleh orang tua dengan alam pikiran modern. Meutia Farida, anak tertua dibiarkan memilih jurusan yang disukainya. Hatta justru banyak memberi saran berharga untuk studi antropologinya.

Gemala menjelaskan jika ayahnya bangun pada 04.30 WIB, lalu sembahyang dan berolahraga satu jam. Sesudah mandi dan berpakaian selama 15 menit ia akan sarapan pada pukul 06.30 sembari mendengarkan radio, Hatta akan masuk ruang kerja dan mendengarkan agenda yang dibaca oleh sekretaris pribadi bernama Wangsa Widjaya. Penghargaan Hatta kepada waktu juga terlihat betul dalam menanggapi hidup rencana anak-anaknya.

Wafat Menjelang Matahari Terbenam

Ciri khas Hatta, sanggup menjadi seorang rasional tanpa harus kebarat-baratan. Tokoh yang taat beragama ini berorientasi kerakyatan mengambil teladan dari dunia barat dalam urusan disiplin dan berorganisasi. Di mata sang istri yang selama ini mendampinginya, Rahmi melukiskan sosok suaminya sebagai orang yang teguh prinsip.

“Keteguhan prinsipnya tidak bisa dipatahkan oleh orang-orang terdekatnya sekalipun,”

Kesabaran Hatta dan Rahmi juga terasa saat mereka merasakan kecilnya tunjangan wakil presiden saat itu. Pengabdian Mohammad Hatta kepada bangsa Indonesia sudah terbukti dengan baik. Begitu jujurnya Hatta, saat pensiun dari jabatan wakil presiden, dia pernah mengalami kesulitan membayar listrik rumahnya di jalan Diponegoro (hlm 7). Hal ini dikarenakan sedikitnya tunjangan pensiun wakil presiden (apres) saat itu.

Banyak cerita menarik lainnya seputar buku yang ditulis, perpustakaan pribadi Bung Hatta di Sumatera Barat dan Jogjakarta yang terbengkalai, (halaman, 202-203). Begitu juga dia tidak menyukai Siti Hartini, sehingga selalu menghindar jika ketemu Presiden Sukarno kalau ada Hartini, karena Beliau sangat hormat kepada Ibu Fatmawati. Beliau juga menengok Bung Karno saat dua hari sebelum meninggal dunia, dan kisah menggelora lainnya yang harus anda baca.

Namun, resensi ini harus diakhiri dengan meninggalnya Mohammad Hatta pada 14 maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta,  dan dikuburkan di Tanah Kusir pada 15 Maret 1980 pada usia 77 tahun.

Penyanyi Iwan Fals mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Halida Nuriah mengatakan jika hidup ayahnya sudah diatur Tuhan sedemikian rupa. “Seakan diatur oleh tangan yang lebih kuasa, masa hidupnya bagaikan satu kali putaran matahari. Ayah dilahirkan menjelang fajar menyingsing di kala panggilan sembahyang subuh berkumandang di surau-surau Kota Bukittinggi, dan wafat setelah tenggelamnya matahari, menjelang berakhirnya waktu maghrib…”.

Buku ini bagus dan singkat sesuai judulnya. Namun kelemahannya ada pada sampul yang kurang nyeni, struktur penulisan yang meloncat, ke belakang dulu lalu memulai lagi saat muda. Namun terlepas dari itu semua tidak banyak ejaan yang salah, bahasanya pun mengalir dan nyaman dibaca dari bab mana saja.

Selamat membaca…

Perpustakaan Veteran Blitar, 30 Oktober 2018
Pukul 12.59 WIB

Slogan Pinggir Jalan

Posted: October 27, 2018 by Eva in Ekonomi Bisnis, Inspirasi

Malam ini ada yang masih lembur  atau masih di kantor menunggu deadline kerjaan. Atau masih joged dangdutan menyambut esok hari hahaha…

Jangan lupa ya yang masih kerja, istirahat, ngeteh-ngeteh atau ngopi biar gak ngantuk. Mak Pyar…

Kalau bicara ngopi saya jadi ingat sebuah slogan sederhana di pinggir jalan perbatasan Malang – Blitar. Tulisannya begini.

“Ojo Lali Kerjamu Melupakan Ngopimu” kalau ingat aku suka ketawa aja bacanya..🍵☕🍵☕🍵☕

Era Reformasi Bukan Basa Basi

Oleh : Qasidah Palapa

Era Reformasi bukan basa basi
Era Reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita salah arti

Era Reformasi bukan basa basi
Era Reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita salah arti

Politik Ekonomi
Sering jadi ambisi
Janganlah reformasi
Untuk hajat pribadi

Jangan cuma bicara
Tanpa bukti yang nyata
Siapa yang akan percaya
Tak kan ada yang percaya

Era reformasi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai kita salah arti
Kita salah arti

Politik ekonomi sering jadi ambisi
Janganlah reformasi untuk hajat pribadi

Jangan cuma bicara

Semua orang bisa

Tanpa bukti yang nyata

Siapa yang kan percaya

Tak ka nada yang percaya

Era reformasi bukan basa basi
Era reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita Salah arti

Simak lagunya ya

*) Saya bukan aktivis ’98, saat itu saya masih kelas 3 SMA, jadi ini sekedar mengingatkan saja mohon maaf jika ada yang kurang berkenan

Pada majalah Trubus edisi September 2018, Dwi Andreas Santosa menulis tentang kebijakan pangan di Indonesia dalam dasawarsa tigapuluh tahun terakhir. Dalam artikel berjudul “Demi Padi”.

Andreas Santosa mengupas pertanian dari mulai meningkat produksi padi dan menekan impor serta aneka program seperti subsidi pupuk, perbaikan irigasi dan bantuan lainnya, yang berakibat pada peningkatan tajam sebesar 611 % pada periode 2004-2013.
Dalam hal ini pembangunan infrastruktur ke perbaikan jaringan irigasi, waduk dan pencetakan sawah sangat dirasakan petani.

Mereka yang senang dengan pembangunan infrastruktur buat petani adalah petani swasembada Pajale (Padi, Jagung, Kedelai). Anggaran pertanian yang meningkat dan program “Lumbung Pangan Dunia” yang diharapkan tercapai 2045 yang paradigmanya sama dengan kebijakan negara lainnya yaitu ketahan pangan (food security), atau yang sekarang biasa disebut sebagai kedaulatan pangan (food sovereignty).

Andreas Santoso juga menjelaskan konsep yang diadopsi negara-negara lainnya ketahanan pangan Indonesia diletakkan dalam kerangka perdangan internasional sebagaimana diatur World Trade Organization. Dimana menurut saya semua proses distribusi pangan bagi negara yang kekurangan pangan banyak diatur dalam sistem ekonomi yang dianut IMF-World Bank.

Data Akurat

Selain akuratnya segala hal kebutuhan petani, hasil panen, sistem perdagangan, Andreas Santoso yang merupakan guru besar juga menulis tentang data stagnasi dan turun naik produksi pane, menyangkut luas panen padi di tahun 2017 yang mengalami peningkatan mencapai 15,8 juta hektare, tetapi dari hasil citra satelit hanya 11,3 juta atau selisih 4,5 juta hektare.

Kajian data selama 17 tahun, keputusan impor dan volume beras impor panjang lebar dikupas Andreas Santoso yang menulis tentang padi atau beras tidak sebatas apa yang kita makan namun melalui distribusi yang panjang sampai dengan satgas pangan. Saya juga baru tahu jika pertumbuhan penduduk terus naik 1,49 % pertahun, di tengah stagnasi produksi padi. bahkan sampai margin perdagangan dan pengangkutan juga dikupas dengan data yang sangat lengkap.

Gandum

Hal lain yang cukup mengkhawatirkan adalah jika beras mahal terjadinya pergeseran konsumsi pangan pokok masyarakat Indonesia yang semula aneka pangan di dominasi beras bergeser ke gandum. Indonesia saat ini menjadi importir gandum terbesar di dunia dengan volume 12,5 juta ton pada 2017.

Menurut Andreas Konsumsi aneka olahan gandum justru meningkat dan menjadi pilihan sebagai cadangan bagi rumah tangga. Pasar beras yang relatif baik justru hancur akibat intervensi satgas pangan akibat kebijakan berlandaskan asumsi salah terkait produksi dan pergerakan harga.

Perpustakaan Veteran, 16 Oktober 2018

Pukul 13.51

Saya sudah lama mendengar ada tempat wisata yang namanya Kampung Coklat. Beberapa kali lebaran di Banggle Blitar, saat saya masih di Pamulang pas pulang kampung, saya belum pernah sekalipun mampir, baru seminggu yang lalu, tepatnya hari Minggu 16 September 2018 saya kesana. Kalau Mas Arif sudah beberapa kali kesana acara kantornya.

 

1537863335882

Perjalanan dari rumah Kuningan ke Kampung Coklat ditempuh sekitar 45 menit. Lokasinya berada di Plosorejo, Kademangan Kabupaten Blitar. Kami naik motor menyusuri selatan jalur Blitar dan melewati beberapa daerah yang belum pernah saya lewati. Tidak lama setelah sampai disana, saya langsung masuk dan ramai sekali pengunjung akhir pekan.

Melihat Proses Pembuatan Coklat

Saat memasuki lokasi wisata Kampung Coklat, ada banyak spot menarik seperti ruang pertemuan, anjangsana keakraban untuk menyanyi dan makan, serta rumah joglo yang sangat kental nuansa Jawa dan sarat makna.

2018-09-24 18.54.57

Saya justru tertarik dengan aneka pohon kakao yang ada di tengah-tengah tempat wisata menyatu dengan tempat pengunjung menyantap kudapan, minuman ataupun bersantai.

Tempat duduk dan bangku-bangku banyak tersedia untuk menampung para pengunjung, setelah wara-wiri menyusuri jalan lurus dari pintu depan sampai belakang saya akhirnya beristirahat sambil makan bakso di rumah joglo.

1537863545607

Usai makan saya melihat video dengan durasi sedang menampilkan potensi kakao dan prospek industri coklat yang akan sangat bagus dikembangkan baik sebagai produk rumahan bahkan hingga dibuat industri dalam skala besar.

Video ini sangat lengkap karena ada data tentang peringkat Indonesia sebagai negara ketiga kakao terbesar di dunia. Proses penanaman bibit kakao, proses produksi hingga packaging ada dalam video yang menarik singkat dan padat.

Jika anda kesini jangan lupa ajak anak atau teman serta rombongan melihat bagaimana visi misi kampung coklat dan bagaimana perusahaan ini meniti harapan yang besar untuk memajukan warga kabupaten Blitar dan sekitarnya membudidayakan pohon kakao yang ada di kebun milik petani kakao menjadi industri yang ingin mendunia.

Benih Kakao, Ikan Koi dan Musholla yang Nyaman

1537861413246

Usai melihat video, saya kembali berjalan kali ini ke sebelah barat, atau belok kiri dari ruang anjangsana. Di sana banyak juga yang jualan aneka ikan bakar, sosis dan minuman beragam.

Sepertinya  mainan anak-anak atau tempat berkumpul keluarga yang bawa anak kecil nyaman berlama-lama disini.

Di sini juga anda bisa membeli benih kakao yang dijual dan sudah dikemas di polybag siap tanam. Di belakangnya ada proses pembuatan permen coklat dan aneka kreasi makanan coklat dari kue brownis, stik coklat dll.

Usai melewati arena permainan saya gagal fokus sama aneka ikan yang dibuat di kolam tengah untuk kesehatan dan ikan koi yang sangat indah mengitari musholla. Jika berkaitan dengan ikan koi saya selalu ingat almarhum ayahku Apa yang juga pernah beternak ikan koi selang-seling dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mujair, ikan mas, dll.

Cukup lama saya memperhatikan ikan koi warna – warni yang indah dengan gemericik air. Betah rasanya berada di sini dan tidak terasa saya harus menemui Mas Arif yang lagi makan.

Minum coklat Hangat dan Nikmatnya Coklat Oroginal

1537863278698

Setelah selesai menemui berbagai spot menarik di Kampung Coklat, jangan lupa memesan minuman coklat hangat yang tersedia menyerupai kafe kekinian. Enak banget dan harganya pun terjangkau.

Setelah minum anda bisa ambil gambar atau foto diri di berbagai spot menarik di  sini. Usai ambil gambar, tidak ada salahnya melihat aneka panganan dari coklat serta souvenir kaos dan lain sebagainya. Di tengah banyak orang mengantri membeli oleh-oleh buat di bawa pulang.

Namun saya tidak membeli di dalam karena terlalu ramai. Saya memilih belanja di luar ada semacam koperasi atau toko khusus aneka olahan yang berasal dari kakao dan dikemas menjadi aneka jenis makanan dan minuman coklat.

1537861452787

Akhirnya saya membeli dua macam saja, mengingat kita hanya tinggal berdua, yaitu coklat rasa original seharga 82.000 dan minuman coklat siap seduh seharga 12.000 isi empat.

Setelah saya coba di rumah rasanya enak banget tidak kalah dengan coklat asal Belgia (lebay gak sih hehehe…)

1537790739812

Usai belanja, akhirnya kita pulang dan saya sangat senang dan gembira karena di Blitar ada tempat wisata yang keren, kekinian dan favorit warga berlibur.

Jadi jika anda berada di sekitaran Blitar, Kediri, Tulungagung, Mojokerto dan Malang tidak ada salahnya berkunjung kesini. Mari kita hargai hasil jerih payah petani kakao atau para pemudi dan pekerja  yang berkebun kakao di Blorok Plosorejo, agar coklat yang di produksinya diminati masyarakat secara luas.

Perpustakaan Veteran 25 September 2018

Pukul 15.30

 

Pesan yang disampaikan anak muda Indonesia di Hari Kemerdekaan ke-73 ini beraneka ragam. Jika dulu Indonesia berjuang melawan penjajah dari pelbagai negara, sekarang kita harus bersatu mengusir penjajah yang tidak kita sadari.

Berikut saya lampirkan dalam video beberapa kaos hasil kreasi anak muda Indonesia dari Malang Jawa Timur.

Di outlet lain, tidak jauh dari kaos buatan anak muda Indonesia, ada merek brand luar negeri yang menampilkan pesan-pesan khas anak kekinian.

Warna-warni kaos ini bisa untuk anda pakai atau kirim sebagai hadiah. Harganyapun beda-beda sesuai dengan kualitas bahan.

Kreasi anak muda sekarang tidak terbatas, baik laki-laki maupun perempuan bisa mandiri, membuat sablon dan menjahit dengan tenaga asli Indonesia dan bersaing dengan kaos impor. Ini baru produksi kaos, mungkin masih banyak kreasi unik lainnya di bulan Agustus ini.

 

Universitas Brawijaya Malang, 2 Agustus 2018 Pukul 19:48

Sudah Lima tahun terakhir ini kami sering sekali menjahitkan baju di tukang jahit langganan di Pamulang. Dari mulai seragam kerja suami, baju kerja aku kayak batik, celana dan blazer, juga aku jahit disana. Nama penjahitnya adalah Ferdy Tailor alamatnya di sebrang dr.wiwi reni jaya pamulang .

Orangnya baik dan kalau membuat pesananan jahitan selalu rapi dan bisa diandalkan. Sebetulnya dia adalah langganan mas arif sebelumnya, dari mulai phd sampai batik dikerjakannya dengan baik dan rapi.

Namun, karena pelanggannya banyak, kalau kesana anda harus antri sekitar 1-2 minggu dan harus janjian dulu saat mengantarkan atau saat diambil. Pelanggan penjahit Mas Ferdy beragam dari orang kantoran, seragam, sampai dengan pemilik butik di Jakarta Selatan.

Berikut beberapa contoh batik hasil karya Mas Ferdy.

Batik Sasirangan

Batik Sasirangan

Batik Madura

Batik Madura

seragam kerja

seragam kerja

Truntum Padi Batik Jogja

Truntum Padi Batik Jogja

Perkembangan batik di Indonesia, tidak hanya berpusat di Jawa Tenga h, Jogjakarta, Jawa Timur dan Cirebon saja yang terkenal, kini anda pun bisa melirik potensi lokal yang ada di Selatan Jawa Barat yaitu Batik Kenarie, khas batik dari Sukabumi.

Ada beragam motif yang menjadi ciri khas batik Sukabumi, karena memiliki tempat wisata berupa laut di Pasir Putih Ujung Genteng Sukabumi yang terkenal dengan penyu, kemudian wisata alam yang hijau di pegunungan telah menginspirasi pembatik di daerah Sukabumi membuat batik khas.

Disini dijual tiga jenis batik berdadarkan proses pembuatan. Yaitu dengan cara batik printing, batik cap dan batik tulis, dijual dengan harga beragam dan aneka motif.

Motif Binatang

Ada dua jenis motif binatang yang menjadi inspirasi dalam pembuatan batik yaitu motif penyu dan motif ikan.

Motif Penyu

Motif Penyu

Motif Daun

Untuk motif daun, Batik Sukabumi yang merupakan daerah pegunungan yang dingin kaya inspirasi.

Ada motif batik daun rimba selabintana, daun pisang, hingga paralayang. Aneka jenis motif daun ini warnanya bermacam-macam, namun kebanyakan adalah warna-warna yang hijau, pastel, mocca, orange, hingga biru dongker.

Motif Daun Rimba Selabintana

Motif Daun Rimba Selabintana

Selain itu ada juga motif yang abstrak dan aneka motif lainnya yang menarik.

Jika anda ingin lebih tahu secara mendalam aneka jenis Batik Sukabumi, datang saja ke sentra Batik Kenarie di jl. Kenari no 2 Sukabumi, anda bisa memilih beragam motif yang anda inginkan dari harga yang paling murah yaitu mulai  Rp.70.000, Rp.99.000, Rp.125.000, Rp.210.000, Rp.400.000 hingga Rp.1.600.000 juga ada, yaitu jenis batik tulis.
Aneka motif dan corak batik Sukabumi

Gambar di sebelah kanan atas no 2 dari kanan yang bergaris kuning dan hitam adalah batik corak daun pisang dan aneka motif lainnya yang menarik hati. Silahkan dipilih.

Jadi jika anda sedang berwisata ke Sukabumi, ada tugas kantor, atau lewat,  jangan lupa pulangnya mampir ke Batik Kenarie Sukabumi ya…

4 April 2018
Pukul 12.33

Gencarnya promo perjalanan (travelling) baik dari dalam negeri maupun luar negeri, memberi keuntungan sendiri bagi para pengrajin industri kecil di beberapa pelosok daerah.

Para pelaku industri kecil membuat aneka souvenir yang beragam dan memiliki ciri khas tersendiri yang tidak ada di daerah atau negara lain.

Salah satu yang menarik saya belakangan adalah para pedagang souvenir yang langka tapi unik dan cantik.
Keterbatasan suatu daerah untuk membuat bahan baku kerajinan tangan (cinderamata) atau souvenir tidak membuat mereka kehabisan akal.

Contohnya adalah souvenir lukisan dari kulit pohon yang berasal dari Pulau Fiji, suatu Pulau kecil dekat Selandia Baru.

Waktu melihat pertama kali wah keren ya, melukis di kulit pohon tanpa mblobor (tak beraturan) atau tinta yang tembus acak-acakan mengingat kulit pohon itu sangat tipis dan rapuh.

Selama ini di beberapa daerah melimpah ruah bahan dasar untuk melukis.Dari mulai kain, kanvas, kulit diolah sedemikian rupa, namun Pulau Fiji yang terpencil ini justru lebih kreatif, membuat lukisan dari kulit pohon, terkesan artistik namun sangat unik, jarang ada yang punya.

Ternyata kreasi cenderamata berbahan dasar kulit pohon ini tidak hanya ada di Pulau Fiji, kini Papua pun memiliki kreasi dengan bahan dasar sama.

Bedanya di Papua, kulit pohon dibuat untuk membuat tas tangan atau sejenis dompet yang natural. Tanpa cat dan polesan, hanya ada sedikit bordir komputer benang bertuliskan dan berlogo Papua.

Cendramata ini tampak cantik dan alami jika dipakai untuk sehari-hari atau belanja. Lengkap dengan beberapa wadah yang diresleting yang bisa menyimpan kartu, uang, hingga smartphone. Ringkas, masuk semua.

Ketika melihat dua souvenir berbahan kulit pohon ini saya sungguh penasaran seperti apa ya proses pembuatannya. Mengingat, proses pengambilan kulit pohon itu rumit, belum setelah itu proses produksi yang tentu dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

Saya salut sama kreativitas tanpa batas para pengrajin kulit pohon baik di Pulau Fiji maupun Papua, atau mungkin di daerah lainnya. Meskipun ada kelemahan dimana kedua barang itu tidak boleh kena basah dan hujan, karena akan mengkerut bahkan rusak, semoga bahan dasarnya tidak merusak pohon atau lingkungan.

Adakalanya kreativitas muncul justru saat kita dalam kondisi serba terbatas. Terimakasih buat yang sudah memberiku oleh-oleh lukisan dari Pulau Fiji dan Dompet dari Papua. Tabik….

Pamulang 27 Maret 2018
Pukul 17:21

Minggu lalu saya melakukan perjalanan singkat ke Semarang, Temanggung, Magelang, Jogjakarta dari hari Rabu sampai hari Sabtu.

Sangat menyenangkan perjalanan kali ini meski tidak bisa nyantai karena menyesuaikan jadwal kepulangan seperti sesuai tiket yang kubeli di tiket.com

Saya dijemput suaminya keponakan dan  menginap di rumahnya. Untuk pertamakalinya saya mengunjungi Semarang yang ternyata kotanya klasik banget ya, di dekat stasiun banyak bangunan tua dan kafe-kafe asyik tapi unik ala-ala zaman kolonial Belanda. Saya juga sempat berfoto di Simpang Lima.

Usai dari Semarang, sore hari saya melanjutkan perjalanan ke Temanggung dengan naik patas Ramayana yang bisnya nyaman, dingin diiringi musik-musik dangdut kekinian dari Rhoma Irama hingga Via Vallen.

Saya naik dari terminal Sukun dan berhenti di Secang untuk kemudian dijemput teman dan melanjutkan ke Temanggung saat hari menjelang malam.

Saya sangat senang karena pas mau pulang dioleh-olehi batik Magelang warna orange. Dulu saya pernah punya diberi sama teman kuliah batik Papua sama-sama warna orange. Kalau batik Papua motifnya Cendrawasih, saya bikin sarimbit sama mas arif sedangkan batik Magelang motifnya kecil-kecil ada awan, bangunan dan merapi.

Pagi hari dari Temanggung saya dibonceng naik motor menyusuri sawah nan indah. Asyik banget suasana pedesaan di pinggiran kota ini membuat perjalanan Temanggung Magelang hanya bisa ditempuh tidak sampai satu jam. Saya diantar ke terminal Magelang untuk lanjut naik Ramayana lagi tujuan Jombor Sleman Jogjakarta.

Perjalanan Magelang Jogja juga asyik, lewat Ambarawa, dan daerah lainnya tapi saya tidak hapal namanya.Tapi udaranya dingin sehingga saya tertidur sesampai di Jombor untuk lanjut ke Condong Catur, ke Panti Rapih dan rumah kakak ke-8 di Bantul.

Sebelum pulang, kakak ipar menghadiahi saya batik Jogja kombinasi warna ungu, pink fanta dan abu tua dengan ciri khasnya motif parang dan campuran motif klasik lainnya. Saya dulu pernah punya batik warna sejenis  saya bikin rok tapi sobek waktu naik motor di Bali.

Kini ada gantinya, rencana batik jogja mau dibikin rok juga yang ungu pink fanta abu dan batik Magelang  rencana mau bikin casual. Wah saya senang dengan oleh-oleh batik ini karena sekarang hampir tiap daerah ada batik, perkembangan batik sangat pesat.

Terimakasih sahabat dan kerabat yang telah memberiku oleh-oleh batik. Semoga rejekinya ditambah. Sangat bermanfaat buat saya.

Pamulang 15 Maret 12.30 2018

Resensi Buku
Judul: Jack Ma, Sisi-Sisi Tak terduga Godfather Bisnis China
(Biografi resmi karya asisten sekaligus sahabatnya)
Penulis: Chen Wei
Penerbit: Noura Publishing, Jakarta
Edisi: Cet ke-2, Mei 2017
Penerjemah Nadiah Abdidin, Inez Kriya Janitra

 

“Faktor kunci dari membual adalah memiliki pendengar-pendengar yang baik. Tidak peduli seberapapun hebatnya pemikiran manusia, Tuhan akan menggelengkan kepala dan tersenyum begitu mendengarnya. Jadi, membual tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya pemikiran Anda. Yang terpenting, Anda bahagia,”-Chen Wei, penulis.

Dikemas Secara Jenaka

Ketika membaca pengantar buku berjudul “Jack Ma, Sisi-Sisi Tak terduga Godfather Bisnis China.” (Biografi resmi karya asisten sekaligus sahabatnya) ini saya tertawa, terus terang sang penulis buku ini Chen Wei memiliki selera humor yang baik dalam menulis.

Kekuatan membual memang tidak dibatasi, kebebasan berimajinasi tidak disekat oleh ruang dan waktu. Sederhana saja sebenarnya, cara Chen Wei dalam menuliskan kisah tentang sahabatnya Jack Ma yang menjadi sosok berpengaruh dalam industri digital di China. “Menulis seperti membual,” ungkapnya renyah.

Menurut Chen Wei, hanya ada dua jenis manusia yang bahagia di dunia ini. Pertama, manusia-manusia yang suka membual, dan yang kedua manusia-manusia yang senang mendengarkan.
Manusia yang tidak membual tentu orang yang sengsara, meski dia memiliki prestasi-prestasi hebat seperti Michael Angelo. Manusia yang mampu membual tetapi tidak suka membual juga sengsara, seperti Arthur Schopenhauer.

Menjadi seorang asisten menurut Chen Wei adalah seorang profesi istimewa. Apalagi asisten Jack Ma yang betul-betul merangkak dari nol bersama-sama. Asisten-asisten berbeda juga memiliki dunia berbeda-beda. Para asisten di jenjang kepemimpinan menteri merupakan kader level kementerian, sementara asisten bagi selebritis layaknya pengasuh bayi seumur hidup mereka.

“Namun saya sama sekali bukan seperti itu, saya telah mengenal Zhang Jizhong dan Jack Ma selama lebih dari 10 tahun lebih dan telah menjadi asisten mereka berdua secara bergantian. Setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pekerjaan utama saya, saya tidak bisa memberikan satu jawaban yang pasti, entah dalam hubungannya dengan Mr.Zhang jizhang maupun dengan Jack Ma,” ungkap Jack Ma terus terang.

Terlambat Ibarat Seorang Merampok Bank

Chen Wei membuka cerita perkenalannya dengan Jack Ma saat bertemu di kelas Bahasa Inggris pada awal Tahun 1992. Menurut Chen Wei, sebagai seorang murid, Jack Ma adalah orang yang sangat disiplin dalam mengajar les Bahasa Inggris dibanding pengajar lainnya. Ia selalu tepat waktu dan jarang terlambat saat mengajar.

Chen Wei masih ingat betul bagaimana ucapan Jack Ma saat datang ke kelas. Dengan lugas Chen Wei menjelaskan ucapan Jack Ma.
“Topik kita hari ini adalah tentang keterlambatan. Saya pribadi paling benci keterlambatan, karena menunjukkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Keterlambatan menunjukkan ibarat membunuh seseorang untuk merampok bank,” ujar Jack Ma yang melekat di dalam pikiran Chen Wei saat mengenalnya pertama kali.

Selain itu ciri khas Jack Ma dalam mengajar Bahasa Inggris memiliki metodologi mengajar yang unik dan cara tersendiri. Dia tidak terpaku pada teks apalagi tata bahasa atau frasa kalimat.

Setelah membahas sejarah pertemuan pertama dengan Jack Ma, bab berikutnya mengalir dengan cepat dari mulai Bab dua berjudul tentang Jack Ma Merambah Internet, bab tiga tentang Jack Ma dan Jang Jizhong, bab Empat, Ali Baba Saya Datang, Bab lima tentang Orang-orang Ali yang Sibuk, bab 6 tentang Minat dan Filosofi, bab 7 tentang Tai Chi Jack Ma, bab 8 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Budaya Ali, bab 9 tentang Jack Ma dan Budaya Ali yang berbeda, bab 10, Jack Ma dan para selebritas, bab 11, Bepergian dengan Jack Ma, bab 12 dari Pensiun hingga menjadi Perusahaan Publik, dan diakhiri oleh Penutup berjudul Orang Ali yang Paling Tidak berambisi.

Meskipun sangat padat dengan 12 bab, namun dijamin ada tidak akan kelelahan membaca buku ini. Tidak sampai sehari, mungkin dalam hitungan 3-5 jam anda akan melahap buku bersampul putih dan merah ini.

Sarat Makna Filosofis

Meskipun Ali Baba merupakan perusahaan berbasis teknologi, tapi apa yang ditulis Chen Wei tentang Jack Ma dan perusahaan itu sarat nilai-nilai filosofis. Beberapa kejutan tentang Jack Ma akan anda temukan dalam perspektif Chen Wei sebagai orang terdekat.

Diakui Chen Wei, Sejak tahun 1995 Jack Ma merambah internet memulai bisnis pertama, banyak yang sudah familiar dengan kisah-kisah perintisan usahanya. Namun, saya terkesan dengan sesuatu yang berbeda selama prosesnya mendirikan China Pages. Sosok Jack Ma di mata Chen Wei sangat luar biasa, dia memiliki banyak pendapat yang ia samakan dengan referensi dalam menggambarkan kerja keras Jack Ma dari Schopenhauer, Freiderich Wilhelm Nietzsche hingga Socrates.

“Setiap pemikir hebat lebih takut dipahami daripada salah dimengerti. Salah dimengerti barangkali akan melukai harga dirinya, tetapi dipahami akan melukai hati dan simpatinya,” Friedrich Nietszche, kutip Chen Wei dalam bab dua.

“Perjalanan bisnis Jack Ma sangat sering melebihi ekspektasi saya waktu mengambil pekerjaan ini,” ujar Chen Wei kagum. Falsafah China juga di paparkan penulis dengan baik tentang perkembangan tahap demi tahap perusahaan milik Jack Ma. Berikut saya kutip.

“Pohon Besar besar yang terengkuh oleh kedua lengan tumbuh dari sepucuk tunas”

“Menara Setinggi sembilan lantai menjulang dari Gundukan Tanah Kecil”

“Perjalanan sejumlah seribu bermula dari satu langkah”

Begitu juga ketika menggambarkan beberapa hambatan bisnis Jack Ma, Chen Wei mengutip filosof Jerman. “Manusia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tetapi dia tidak bisa mengatur atas apa yang dia inginkan,” Schopenhauer.

Kedekatan Chen Wei tidak hanya dengan Jack Ma sebagai atasan, tapi juga dengan istrinya Zhang Ying. Saya suka kalau membaca biografi tokoh siapapun itu berkaitan dengan kehidupan keluarga terdekat seperti pasangan dan kedua orang tua. Chen Wei menggambarkan Zhang Ying sebagai separuh jiwa Jack Ma, teman berbagi ranjang atau istilah dia itu “separuh tempat tidur” yang kita miliki merupakan hal yang penting dalam hidup.
Ketika mengibaratkan hidup sebagai suami istri, Chen Wei membuat saya tertawa sejenak. Karena dia menggambarkan hubungan seorang suami dengan istrinya setengah bercanda tapi penuh makna.

“Jika Anda mendapatkan seorang istri yang baik, maka anda akan bahagia, Jika anda mendapatkan istri yang buruk, maka anda akan menjadi filsuf,” Socrates.

Bukan Elang, Tapi Bakteri yang Terbang

Buku ini sangat bagus bukan hanya bagi anda yang berprofesi sebagai asisten ataupun bagi anda yang memiliki toko online atau hendak merintisnya. Tapi bagi siapa saja yang ingin belajar bahwa merintis usaha itu harus jatuh bangun dan penuh hambatan, meskipun setelah melewati semuanya berjalan lapang.

Saya memang tidak akan mengupas bisnis secara mendetail, karena pastilah sudah banyak orang mengupasnya. Akan tetapi saya berusaha mencatat beberapa sisi humanisme Chen Wei dalam menggambarkan sosok Jack Ma dengan segala kedekatan dan bualan-bualan yang kocak.

Chen Wei menggambarkan pekerjaan yang ia lakukan selama ini mendampingi Jack Ma,  membesarkan Ali Baba dengan semua jaringannya  ia lakukan sepenuh hati.

“Ada sejenis bakteri yang ingin terbang, tetapi tidak memiliki sayap. Karena itu dia menginvasi telur-telur katak. Akibat invasi bakteri itu, seluruh kecebong yang menetas bertransformasi menjadi katak lumpuh hingga dapat dengan mudah di makan elang. Akhirnya bakteri bisa merasakan indahnya terbang seperti yang selama ini ia impikan. Saya bukan seekor elang, saya adalah bakteri yang sedang terbang,” tuturnya lugas.

Buku ini ringan dan enak dibaca meskipun menurut saya kertas cetakannya terlalu tipis, sehingga bagi yang membacanya hati-hati kalau melipat atau kena hujan. Sampulnya yang putih bagus seperti isinya. Saya menutup resensi buku ini dengan satu bualan yang membuat pembaca apalagi anak muda semangat untuk belajar, bekerja dan berusaha.

“Kehidupan terasa gelap, kecuali ada semangat. Semangat terasa buta kecuali ada pengetahuan, pengetahuan hanyalah kesia-siaan kecuali ada pekerjaan,”Chen Wei.

Pondok Petir pukul 19.49

Ada tiga hal  yang berubah dalam beberapa waktu belakangan, kaitannya dengan usaha dan kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Aku menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi setidaknya untuk berbagi cerita atau sharing bahwa kelestarian alam, lingkungan dan perubahan iklim adalah hal yang selama ini harus terus kita kampanyekan mulai dari dalam diri kita sendiri. Bukan hanya sekedar berkoar-koar.

Pertama yang ini membutuhkan banyak sekali pertimbangan adalah aku berhenti jualan sandal. Sudah sejak kecil, keluarga kami di Sukabumi turun temurun berbisnis sandal. Bahkan aku dan kakakku bisa kuliah di Jogja dan di Sukabumi karena usaha keluarga ini. Sungguh berat aku harus menghentikan bisnis yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Ada rasa nyesek dalam hati ketika ada pesanan dari beberapa teman berkaitan dengan sandal tapi aku tidak bisa memenuhinya.

Alasan utama aku berhenti jualan sandal adalah karena faktor limbah industri kecil kami di kampung yang sulit di daur ulang, ya memang harus dibakar. Awalnya sedikit akan tetapi karena orderan dari berbagai daerah melimpah, makin hari makin banyak. Dari lima orang kakakku laki-laki, empat diantaranya berbisnis ini dan aku sebagai adik sudah sejak SMA membantu berjualan. Hingga akhirnya pada tahun lalu, 2016, aku memberanikan diri mengemukakan alasan, dan semoga kakak-kakakku tidak surut bisnisnya karena alasan ini. Akan tetapi mereka memahami, bahwa bahan dasar industri sandal adalah karet. Dengan segala keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjualan sandal.

Kedua, Aku berhenti memakai lipstick. Aku kira ini terobosan besar. Sangat sulit di awal aku melakukan, karena sebelumnya aku termasuk yang suka dandan. Lebih dari 10 warna lipstick aku punya dari berbagai merek, dari yang paling murah sampai yang lumayan. Aku senang berburu warna lipstick kekinian. Tapi sejak September tahun lalu, sepulang aku dari Bali, aku sudah tidak menggunakan lipstick. Berat rasanya aku membuang semua lipstick di ruang kosmetik, aku sangat sayang, tapi aku sadar apa itu bahan dasar lipstick dan kosmetik lainnya, yaitu kelapa sawit. Jika Eka Kurniawan memiliki novel berjudul Cantik itu Luka, maka saya mengibaratkan lipstick itu demikian. Untuk membuat tampak cantik, kita harus merusak lingkungan, kita tidak tahu bagaimana kelapa sawit itu ditanam harus membakar hutan, merusak ekosistem. Begitu juga saat pengolahan dari kelapa sawit menjadi alat kosmetik, banyak para buruh yang diupah murah, sementara lipstick dijual mahal untuk kepentingan pemilik modal. Di balik aneka lipstick yang warna warni, ada beberapa nilai berkaitan dengan lingkungan dan kemanusiaan yang aku pertimbangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, langkahku tidak menggunakan lipstik ini dianggap ekstrim atau lebay. Tak apalah untuk melakukan suatu perubahan kita harus siap dibilang beda, dimusuhi atau ditinggalkan teman. Tapi perubahan-perubahan besar berkaitan dengan lingkungan adalah dengan melakukan hal-hal kecil yang menurut kita benar, yang itu mudah-mudahan jika orang membaca tulisan ini akan berbuat demikian, tapi bukan merupakan suatu paksaan.

Ketiga: Hemat air, Energi dan Mulai Menanam. Awal tahun lalu hujan terus mengguyur bumi Pamulang, aku selalu siapkan menadah ember-ember di dapur aku keluarkan. Biasanya airnya aku pakai berwudhu, mandi atau menyiram tanaman. Begitu juga bilasan air cucian piring, tidak aku buang yang sudah tidak ada sabunnya aku siram. Aku sangat hemat menggunakan air, untuk berwudhu secukupnya. Beberapa waktu lalu aku sering dimarahin mas arif karena lupa matikan keran, sehingga air melimpah kemana-mana dan bagiku itu suatu peringatan.

Selain air, aku juga sekarang belajar untuk tidak sering menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, jangan terlalu sering mencuci mobil dan usahakan semaksimal mungkin untuk naik kereta, commuter atau kendaraan daring jika bepergian. Semua aku lakukan dengan penuh kesadaran, begitu juga suami, dalam hal ini kita memiliki banyak kesamaan. Kita berdua kalau akhir pekan lebih banyak di rumah, ngurus tanaman dan istirahat panjang, tidak begitu suka bepergian. Paling banter ke Sukabumi, kalau ada hari-hari besar. Tidak seperti dulu, waktu masih ada orangtua.

Berkaitan dengan kebiasaaan menanam. Awalnya berasal dari sampah rumahtangga yaitu sayuran busuk seperti cabe, tomat, dan lain-lain yang kalau tidak dimasak, sayang aku buang. Aku jemur, lalu aku simpan bijinya dan kumpulkan.

aneka benih

Sudah banyak sebenarnya, aku wadahin rencana mau aku pisahin di kertas aku kasih label nama sayuran dan buah, cuma belum sempat beberapa bulan terakhir aku banyak deadline pekerjaan, sehingga adakalanya aku sabtu minggu tidak pulang.

 

Tapi minggu ini, sudah kembali normal, aku kembali menyiram tanaman, mengumpulkan benih, memasak dan bikin kue kesukaan. Mungkin itu saja, cerita yang aku ingin bagikan kepada teman-teman. Tidak ada maksud untuk gagah-gagahan, tapi ini semua kulakukan karena aku sangat percaya akan adanya hari akhir, atau hari kiamat. Siapa bilang isu perubahan iklim tidak berkaitan dengan hari akhir. Aku percaya akan semua yang diceritakan Al-qur’an bahwa ketika sumber daya alam diambil secara serakah oleh manusia maka gunung meletus sudah terjadi, gempa bumi dan banjir bandang terjadi dimana-mana, itu karena kita tidak peduli lingkungan dan serakah atas semua ciptaan Tuhan.

tomat

Kekayaan alam dikeruk untuk kepentingan pribadi dan pemilik modal, maka orang akan beramai-ramai untuk mengumpulkan uang. Kita tidak ingat seperti apa anak cucu kita di masa depan. Apakah mereka masih bisa makan enak dengan sayuran atau lalapan seperti yang kita makan sekarang? Atau mandi aja sulit karena tidak air, karena airnya habis untuk dijual air kemasan atau mencuci mobil agar kelihatan kinclong.

 

Suatu hari orang akan sadar, ketika ikan terakhir kita makan, ketika tidak adalagi tanah yang bisa ditanam, disitulah orang baru sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Bukan aku tidak butuh uang, tapi setidaknya kita bekerja harus seimbang, terutama dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Pejaten 25 September 2017
Pukul 9.40

Resensi Buku: 1 Team 1 Goal (Berhenti Menutup diri Mulailah Memberi)
Penulis : Mega Chandra
Editor : Diane Novita
Penerbit : Grasindo 2016

sampul-buku

Sampul buku 1 team 1 Goal

Sekarang ini bukan lagi zamannya “Aku” melainkan “kita”. Membangun kesuksesan di era milenium seperti saat ini membutuhkan kolaborasi yang kuat untuk bahu membahusatu sama lain. Itu sebabnya manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri. Ini karena kita adalah mahluk sosial yang dipastikan membutuhkan orang lain.
Sangat sulit kita hindari apabila kita sangkal jika kita tidak membutuhkan orang lain di sisi kita. Sebagai pria (suami) membutuhkan perempuan sebagai pendamping (istri) begitu pula sebaliknya. Kita sebagai atasan membutuhkan rekan (bawahan), begitu pula sebaliknya karena seorang atasan tidak mungkin disebut atasan tanpa memiliki bawahan.

Semua itu membutuhkan satu tindakan yang kita sebut kolaborasi, teamwork yang kuat. Coba kita bayangkan, pernahkah kita melihat seseorang dapat menguburkan dirinya sendiri ke dalam liang kubur tanpa bantuan orang lain saat dia telah meninggal dunia? Jika kita masih mampu mengingat “MATI” mengapa kita masih sulit berkolaborasi atau bekerjasama dengan orang lain.

Itulah kurang lebih poin yang ingin disampaikan dalam pengantar buku berjudul “1 Team 1 Goal, Berhenti Menutup Diri, Mulailah memberi,” yang ditulis oleh Mega Chandra. Diawali dengan kisah sukses grupp Samsung, Mega Chandra penuh semangat menuliskan pemikiran dan pengalamannya melakukan kerja bersama team work.
Kesigapan Leader dan Peningkatan Kompetensi

Dalam buku yang terdiri dari sembilan bab ini dijelaskan tentang perubahan besar yang terjadi pada dunia bisnis dan perubahan ini sangat sulit untuk diprediksi.Kesigapan leader untuk merespon perubahan yang perlu dilakukan merupakan kompetensi yang sangat dibutuhkan. Kompetensi ini juga harus diimbangi dengan human relation yang handal untuk memimpin tim menghadapi perubahan. Buku ini sangat menggugah dan inspiratif yang menyentuh sanubari niscaya akan mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik dr sebelumnya.

Bab pertama tentang 3i misalnya, Inspire, Influence, Impact menjelaskan dengan gamblang tentang tiga hal penting di atas, bab dua membahas parachute dan peacemaker, bab tiga menjelaskan tentang harmony in excelent, bab empat, mengulas panjang lebar tentang Communication and Cognition,bab lima tentang innitiative and dare, bab enam tentang kehati-hatian dalam bekerja atau berbisnis (Be HSP)(Hati-sikap-perilaku=Humble, Sportive-Positive), bab 7 tentang QC SDM, bab delapan tentang Trust, sekilas dibahas tentang One Man Show, dan bab terakhir tentang Performance, Collaboration, Ownership. People.

Saya tidak akan menjelaskan isi bab secara keseluruhan, nanti anda tidak suprise saat membacanya, dari beberapa bab diatas intinya satu yaitu sukses atau kemenanga tidak bisa dicapai untuk diri sendiri tapi kerja keras tim. Banyak istilah baru yang saya temukan dalam buku ini yang memperkaya wawasan kita untuk terus semangat dalam bekerja.

No Superman but Superteam

Harus kita sadari bahwa tujuan dari berkolaborasi dalam organisasi ataupun perusahaan yang baik adalah untuk tujuan baik, untuk itu semua tim member harus memiliki effort yang sama. Motivasi diri yang dilandasi dengan hati yang humble akan menjadikan kita cahaya seperti lilin, meski cahayanya tidak seterang matahari dia akan selalu ada di saat kita membutuhkan

Buku ini bagus utk motivator dan manajer HRD, para wirausahwan muda yang baru merintis usaha, PNS, aktivis LSM, para politisi, serta para pekerja di seluruh Indonesia agar menjadikan kerja tim sebagai landasan utama jangan mengedepankan egoisme ingin maju atau hebat sendiri.

Harus dipahami bersama betapa pentingnya TEAMWORK (Together-Excelence-Achieving-Moving Forward-Wisdom-Optimism-Raising and Knowledge) sebagai kunci sukses organisasi. Untuk membuat sebuah tim berhasil atau gagal sangat tergantung orang-orang yang ada di dalamnya. Sikap positif merupakan kunci utama untuk membuat sebuah tim sukses. Namun untuk menumbuhkembangkan ini sangatlah sulit, terlebih lagi sifat iri, dengki dan berbagai politik kepentingan maka teamwork akan menemui banyak hambatan.

Eva Rohilah
Pengamat Buku dan Film tinggal di Depok

Judul : Inilah Saatnya Bisnis Kafe Anak Muda
Penulis : Ajeng Wind dan Sabirin Wardhana
Penerbit: Grasindo
ISBN : 9786023752447

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

sampul-saatnya-berbisnis-kafe

Investasi menjadi sebuah kata yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan anak muda. Jika dulu seseorang berpikir untuk berbisnis ketika memasuki usia dewasa, saat ini keinginan berbisnis sudah muncul pada remaja-remaja unyu. Investasi merupakan salah satu contoh terjun ke dunia bisnis dengan keuntungan yang cukup menggiurkan. Siapapun bisa berhasil di bisnis ini asalkan tahu caranya. Investasi di bidang kafe ini sangat menggoda karena tren anak sekarang yang suku dengan wifi gratisan dan mengadakan kumpul atau nongkrong bareng. Buku yang ditulis full color ini sangat menarik perhatian karena berisi cara membuat kafe dengan praktis.

Tradisi adanya kafe berasal dari negara-negara Asia, terutama Timur Tengah. Dalam sejarah tercatat bahwa di Mekkah sekitar abad ke-16 banyak berdiri kafe yang digunakan untuk minum kopi dan membicarakan banyak hal termasuk politik negeri tersebut. Tahun 1530, kafe pertama didirikan di Damaskus. Setelah itu menjamurlah kafe di negeri Nabi Musa tersebut. pada 1600-an kafe masuk Istanbul Turki yang pada saat itu memiliki Konstantinopel sebagai gerbang perdagangan dengan dunia barat.

Setelah menguak sejarah, buku yang terdiri dari dua belas bab ini menjelaskan secara terperinci tentang konsep kafe yang akan dikelola. Dari mulai modal bangunan, menu, sampai konsep untung rugi. semua dikupas tuntas. Ada bab tersendiri tentang bagaimana cara menemukan konsep yang unik dan jitu, persiapan memulai usaha, hingga jangan pusing dengan mikir modal.

Membaca buku ini saya jadi ingat dua kafe yang konsepnya saya suka, Kafe Filosopi Kopi di daerah Blok M dan satu lagi tempat nongkrong di Walnut Cafe Sarinah. Dua-duanya asyik dan betah berlama-lama disana. Kumpul teman maupun bersenda gurau.

Kembali ke buku ini, yang menarik adalah ada hitung-hitungan dalam menentukan harga jual minuman atau makanan di kafe. Pada bab Tips menentukan harga jual, disini ditegaskan bahwa ada tips tertentu yaitu laba minimal dua kali lipat harga pokok, jika lebih maka makin benefit. Hitung-hitungan diulas secara lengkap dari halaman 170 sampai 220. Di jamin setelah membaca buku ini anda bisa memperkirakan berapa modal yang harus dikeluarkan untuk membuka sebuah kafe.
Pada akhir tulisan, penulis memberi gambaran kepada pembaca agar jangan ragu untuk membuka usaha kafe. Dia memberi beberapa tips diantaranya bisnis harus terukur, unik dan menarik, berbisnislah dari sekarang, Jadikan hobimu menjadi bisnismu, lakukan dengan senang, modal semangat sangat penting, buktikan kecintaanmu dan stay fokus, serta yakinlah dapat mencapai target.

Jika anda ingin memulai bisnis kafe, buku ini wajib anda pegang buat referensi agar lebih siap membangun usaha yang menjadi passion kita. Selamat mencoba.

Eva Rohilah
Writerpreneur, pengamat buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Awal tahun baru ini ada beberapa buku menarik yang harus saya baca dan resensi. Ada buku yang dibeli mas Arif, ada juga yang dikirim sama penerbit. Salah satunya adalah buku yang dikirim adik kelas ku di Sinergi Jogja Chusniyatul Munawaroh yang kerja di Mizan. Buku bagus bersampul merah bata itu adalah karya Rhenald Kasali, seorang guru besar UI yang memiliki lembaga bernama Rumah Perubahan yang konsen tentang Peningkatan Sumber Daya Manusia dan mencetak pemimpin masa depan yang melakuan perubahan.

Sampul Buku Change Leadership Non-Infinito

Sampul Buku Change Leadership Non-Infinito

Melakukan perubahan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak risiko yang harus dibayar. Berbahaya, bahkan tidak jarang mengancam jiwa. Namun tetap, betapapun besarnya biaya perubahan, dunia tidak pernah sepi dari tokoh-tokoh pembawa perubahan. Dalam buku ini Rhenald Kasali begitu gamblang memnggambarkan tentang sosok pemimpin perubahan. Pemimpin perubahan (change leader) baginya adalah pemimpin yang bisa memperbaiki hidup kita, bangsa kita dan keturunan kita. Bukan yang hanya menggunakan jabatannya untuk mengimpresi, pamer kekuasaan, apalagi mewariskan kerusakan. Seorang Change Leader, kata Rhenald tidak pernah takut akan banyak risiko. (more…)