Archive for the ‘Inspirasi’ Category

Dalam peringatan hari Kartini hari ini tidak banyak yang ingin saya katakan. Karena sekarang ini saya lihat perempuan memiliki banyak peran di berbagai sektor, asal mau saja.

Satu hal yang ingin tekankan disini bagaimana peran perempuan bisa berkarya, sehat sampai lanjut usia. Kenapa ini penting, karena sekarang usia saya menjelang 40, mungkin pembaca masih berusia 25-38 usia-usia produktif untuk berkarya. Di usia yang semakin menua banyak ujian baik itu penyakit, kecelakaan bahkan hingga di tinggal orang tercinta.

Nah disitulah kita sebagai perempuan harus mandiri. Sejak sekarang harus menjaga kesehatan, menghindari stress, berkarya selagi bisa dan yang lebih penting adalah bermanfaat untuk sesama.

Seperti ibu yang ada di foto ini, sudah lanjut usia, namun tetap menganyam pandan untuk membuat tas kerajinan khas dari daun pandan. Di usianya yang kian menua, dia tetap bekerja dengan gembira.
Foto ini dari Mbak Rachmawati Jogja.

Berbahagia di hari tua, saat usia sudah senja. Bahagia di hari tua bukanlah kaya raya menumpuk harta. Berbahagia di hari tua adalah memiliki badan sehat, lebih mencintai keluarga dan hidup bermanfaat bagi sesama.

Cengkareng, 21 April 2018 Pukul 13.32

Advertisements

Jika di belantara ibukota penuh dengan hiruk pikuk dan dituntut serba cepat, di kampungku kehidupan berjalan biasa saja. Semua berjalan santai, tidak ada kemacetan yang berarti. Anak muda juga tidak selalu sibuk dengan gadget, setiap pagi begini banyak diantara mereka justru pergi ke sawah, membantu orangtuanya di sawah menanam, hingga memanen padi.

Perkembangan zaman telah membuat pemuda sekarang tidak seperti orang tua dulu jika ke sawah. Mereka sekarang tidak segan memakai celana jeans digulung, memakai kaos dan bertopi karena cuaca panas. Mereka mengikuti betul semua tahapan menanam padi. Dari mulai menggaru (membajak sawah) memakai kerbau  hingga musim panen seperti gambar di bawah ini.

Usai memanen padi dan dijemur, anak muda lainnya sesama tetangga membantu membawa padi yang sudah kering, memanggulnya di atas pundak kemudian di bawa ke penggilingan padi.

Begitulah kehidupan di bumi Pasundan, gemah, ripah, loh jinawi. Foto diambil tepatnya di desa Landeuh, Bantarkaret Lebak, Sukabumi. Posisinya tidak persis kampung saya, namun jalan sedikit ke arah selatan. Tetangga kampung masih satu desa. Desa ini berada di bawah kaki Gunung Walat, dekat sungai Cimahi.

Meskipun demikian tidak semua pemuda bertani. Sebagian ada yang kerja di home industri sandal, pegawai, wiraswasta, hingga menjadi TKI ke Jakarta dan luar negeri. Sedangkan yang perempuan selain menjadi ibu rumah tangga, sebagian ada mengajar, karyawan pabrik garmen, dan membuka usaha. Semua pekerjaan mulia di mata Tuhan, mari bertebaran mencari rejeki.

Kembali ke pemuda bertopi yang semangat menanam padi, saya jadi teringat beberapa pesan kedaulatan pangan yang sangat kuat seperti dalam buku Max Havelaar, juga sebuah acara bincang televisi tentang pasangan muda yang berhenti bekerja lalu memberdayakan petani dan mengelola sawah di Bantul Jogjakarta.

Semoga semangat pemuda ini menular kepada pemuda lainnya untuk kembali ke desa, menanam padi dan mengelola sawah. Baik itu sawah milik sendiri maupun milik orang tua.

12 April 2018, Pukul 11:20

Ibarat Hukuman Mati

Posted: April 2, 2018 by Eva in Humaniora, Inspirasi
Tags:

Siang ini aku lagi dengarkan radio swasta yang menyiarkan lagu – lagu tahun 2000-an yang diselang-seling dengan obrolan segar yang membuat aku tertawa lebar, merenung hingga terdiam.

Tema yang diangkat penyiar baik obrolan maupun lagu adalah tentang kisah cinta, jomblo, kecewa dan kesepian dikemas dengan santai.

Ada satu ucapan penyiar yang membuat aku galau. Si penyiar bilang kalau “Cinta itu ibarat hukuman mati, kalau enggak ditembak ya digantung,” wah jadi inget masa pacaran dan juga cerita-cerita lucu teman-teman kuliah saat masa-masa PDKT.

Tapi setelah itu kok tiba-tiba aku diam, ingat hukuman mati yang sekarang banyak melanda TKI dan TKW di Arab Saudi yang terancam dihukum mati.

Dalam hati aku berharap semoga di dunia ini tidak ada lagi hukuman mati…

Setiap bangun pagi apa yang kalian lakukan pertamakali setelah aktivitas rutin? Kalau saya selalu tidak sabar mengecek visitor traffic, atau grafik pengunjung. Selalu ada desir bahagia jika ada yang mampir ke blog kita, bahkan dalam sehari saya bisa pantau beberapa kali sampai menjelang tidur.

Meskipun komentar tidak begitu banyak, dilike dan dibaca orang saja saya sudah senang, maklum setelah 11 tahun punya blog baru awal tahun ini diusahakan setiap hari nulis. Dulu semaunya aja selagi sempat, kadang sebulan sekali, dua kali atau tidak update selama berbulan-bulan karena kadang lupa kalau punya blog dan hampir ditutup seperti pernah saya tulis tempo hari.

Jadi setelah memantau traffic pengunjung,dan mendapat tambahan follower, saya baru punya sedikit follower di wordpress reader, (kurang dari 90), semoga bulan April ini jadi tambah semangat upload tulisan.

Ada beberapa tulisan tertunda seperti perpustakaan yang saya kunjungi seperti perpus Jabar, Jateng, Jogja, Banten karena harus mengelompokkan gambar dari kamera yang berserak belum saya namain jadi rada rempong misahin2nya , juga beberapa lokasi wisata seperti DKandang Farm di Pasir Putih, Situ Gunung dan Kota tua.

Screenshot_2018-04-03-18-06-27-1

Begitu juga dengan resensi buku, ada yang sudah saya baca sampai selesai dan saya review tapi saya ragu untuk upload saya agak ragu-ragu karena satu atau dua hal, jadi menunggu momen yang tepat.

Satu hal yang menggembirakan adalah para pembaca di worpress reader yang juga kalau lagi senggang saya suka membaca, blognya keren-keren. Dari yang cerita sekolah, anak kuliah, puisi, galau, perubahan iklim, hutan, travelling, dan beberapa blog review buku yang saya lihat semakin banyak muncul di timeline WP Reader. Saya pun follow beberapa dan mengenal lebih dekat konten blognya.

Sekali lagi terimakasih pengunjung yang sudah mampir ke blog saya yang sederhana ini dan karena sering ngetik dan upload di jalan memakai hp, jadi suka ada salah-salah ketik (typo)…mohon dimaafkan. Semoga kedepan bisa lebih baik lagi.

Selamat datang bulan April, mari kita sambut dengan sukacita.

Slipi, 1 April 2018 Pukul 10.43

Dalam dua tahun ini saya kehilangan dua orang yang dekat dengan saya dikarenakan penyakit kanker yang sangat ganas merenggut nyawa. Mereka dan keluarga enggan disebut nama lengkap, karena satu atau dua hal, jadi saya memakai inisial.

Dari mulai Kanker Usus Besar yang diderita kakak kelas waktu kuliah namanya (MSR) yang meninggal dunia di usia 40 tahun, bekerja sebagai PNS, awalnya tinggal di Cempaka Putih, namun setelah selama 1,5 tahun bergelut dengan kanker usus besar di rawat di Purbalingga.

Kedua, adalah teman SMA waktu Jalan Kapas Semaki, Jogja terkena Kanker Getah Bening,  (NHT), meninggal saat usia 37 th. Saya pernah memuat kisah beliau beberapa waktu lalu di sini.
NHT meninggal karena kanker getah bening, Ibu rumah tangga yang setia mendampingi suaminya yang bekerja di Kemendikbud, tinggal di Depok. Hanya 2,5 bulan menderita penyakit, dia akhirnya dibawa ke Bantul Jogja, di rawat di RS. Sardjito. Sungguh NHT sebaya sama aku saat wafat meninggalkan suami dan kedua anaknya yang masih usia Sekolah Dasar. Kini anaknya dititipkan di rumah mertuanya di Semin Gunung Kidul.


Aneka Pemicu kanker

Mari kita mengenali lebih dekat, beberapa gejala ketiga jenis kanker itu.  Apa yang saya ceritakan mungkin bukan persfektif ilmu kedokteran, karena saya bukan dokter, akan tetapi adalah dari cerita, berbasis pengalaman dan pengamatan keluarga terdekat yang tahu betul, kenapa mereka menderita kanker.

Dari cerita kerabat dan sahabat yang menemani selama almarhum dan almarhumah sakit, ada banyak pemicu kanker ketiga orang tersebut.

Pertama, (MSR) yang terkena Kanker Usus Besar, menurut kakaknya Kai Mei, ada tiga macam penyebab utama MSR terkena kanker usus besar. Pertama adalah makanan yang dikonsumi selama ini, yaitu suka dengan makanan yang penyajiannya cepat, enak. Kedua adalah pola makannya yang tidak teratur. Makan jika pas lapar saja, kadang tidak sarapan, makan siang terlambat. Dan yang ketiga ini mungkin banyak di alami kaum urban di ibukota, yaitu gaya hidup yang tidak teratur, dimana sering lembur dan menghabiskan waktu banyak, untuk nongkrong sampai larut malam.

Menurut Kak Mei, ketiga hal itu menjadi pemicu kenapa adiknya MSR terkena usus besar sampai meninggal dunia. Selama dirawat oleh keluarga, perawatan kanker usus besar ini ekstra hati-hati karena menjalar sampai saluran pembuangan, sehingga badan MSR tergerus kurus dan harus susah payah jika buang air besar.

Kedua, (NHT) Kanker Getah Bening ini ceritanya sangat panjang dan mengharukan. Awalnya, Sigit suaminya bercerita jika saat sisiran, NHT bertanya, kok leherku gatal ya, lalu dia garuk. Makin lama kok setelah digaruk, muncul benjol kecil yang empuk jika diraba, tampak kenyal dan berair. Setelah dirasa mengganggu tidak lama kemudian segera di periksa dan ternyata dia sudah terkena kanker getah bening stadium tiga. Dari situlah, Sigit sekeluarga boyongan dari Depok, pindah ke Jogjakarta dan rutin menjalani perawatan di RS. Sardjito.

Ada banyak pengalaman dari Mas Sigit ketika dia menceritakan pengalaman NHT 2,5 bulan kemotheraphi. Sungguh terharu dan menyesakkan dada, mengingat kita masih sebaya, disertai foto-foto saat masih ada.

“Nggih, bojo kulo niku gejalanipun nggih boten onten, tiba tiba bibar kerikan onten benjolan cilik, trus periksa ke dokter umum. niku menjelang puasa. nur taksih sehat puasa sampai hampir 3 minggu, terus mudik tgl 21 juni. tgl 22 periksa, disuruh operasi, diagnosa penyumbatan kelenjar ludah, trus ambil massa 0,5cc. tgl 5 juli dr hasil PA rs bethesda didiagnosa NHL (LIMPOMA NON HODGKIN). Kami rembukan karna disuruh kemo, saya pindahin rujukan askes/bpjs istri ke Bantul. thp 1 kemo tgl 25 juli, hasil lab dari RS sardjito keluar utk pastikan penyakitnya. thp 2 tgl 15 agustus, tp ngedrop mk dirawat tgl 15 tsb, tgl 16 kemonya, tgl 17 September pulang” ujar Mas Sigit menjelaskan.

Sampai saat meninggalpun, Mas Sigit tidak tahu apa penyebab kanker getah bening. Sebelum sel kanker menyerang, tidak ada gejala apa-apa tiba-tiba muncul, pemicu dari kebiasaan makan juga kecil atau jarang. Namun ada satu hal yang ia katakan dan saya berusaha mengingatnya untuk menjadi pelajaran di masa depan. Berikut saya kutip.

 

Kepada MSR dan NHT  yang sudah meninggalkan kami semua terlebih dahulu, semoga diterima amal ibadahnya di Sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kami memetik hikmah dari semua ini. Menuntun kami agar senantiasa lebih berhati-hati dan bisa mengantisipasi serta menghindari penyakit kanker yang kian merajalela.

Depok, Kamis 29 September 2018
Pukul 14.33

Air, seperti halnya tanah, api dan udara adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Sudah selayaknya kita hemat, jaga, dan lestarikan sepanjang masa.Anugerah yang luar biasa dari yang maha Kuasa.

Ada beberapa beberapa hal yang sering tidak kita sadari tentang kebiasaan kita terhadap air.

Pertama, jika minum air baik air putih, kopi, teh atau susu, sirup dan sejenisnya jangan lupa harus dihabiskan.

Kedua, Jika di suatu acara kita disuguhi air kemasan, jangan lupa juga harus dihabiskan dan botol atau cupnya kita buang. Jangan sampai selesai acara bertebaran botol-botol berisi air baru diminum sedikit atau setengah sudah ditinggalkan begitu saja.

Ketiga, jika kita menyiram tanaman, mandi, mencuci piring atau pakaian, sesudahnya jangan lupa keran dimatikan dengan rapat jangan sampai menetes karena jika lama-lama tetesan air itu akan sia-sia.

Keempat, jangan lupa bawa botol minuman atau thumbler jika bepergian kemanapun anda pergi. Jika kita hemat air dari sekarang berarti kita memberi kehidupan yang lebih baik bagi masa depan anak cucu kita. Jangan sampai mereka tidak bisa mandi atau membeli air dengan harga tinggi karena airnya sudah kita habiskan dari sekarang.

Kelima, jika musim hujan tiba, jangan lupa keluarkan ember-ember yang kita punya, baskom dan lain sebagainya untuk menadah air hujan. Setelah terkumpul bisa buat mandi, wudhu, mencuci, atau menyiram tanaman.

Di negara kita air melimpah, kecuali mungkin di beberapa daerah di Indonesia Timur seperti NTT. Coba lihat saat anda berkunjung ke luar negeri, di beberapa negara banyak toilet yang tidak menyediakan air, harus pakai tissue, begitu juga di Afrika mereka kesulitan air. Jadi bersyukurlah kita tinggal di Indonesia yang memiliki banyak sumber mata air.

Mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan tentang hal-hal sederhana yang mungkin karena satu atau dua hal kita lupa berkaitan dengan air yang ada di sekitar kita. Tidak bermaksud menggurui, hanya sekedar berbagi.

Semoga bermanfaat.

Selamat memperingati hari air sedunia 2018, World Water Day 2018.

Depok, 14.47 WIB

Filosofi Bunga Matahari

Posted: March 15, 2018 by Eva in Inspirasi, Rumah

Suatu hari saya pernah bertemu seorang perempuan yang mengatakan jika prinsip hidupnya ingin seperti bunga matahari.

Apa itu filosofi bunga matahari? Dia mengatakan jika bunga matahari itu bersinar di pagi hari dan merunduk di senja hari.

Setelah saya renungkan dalam-dalam, bagus juga ya. Akan tetapi, satu bulan lalu saya ingin menanam bunga matahari dan saya pun beli di tukang bunga dan di tanam di pot. Saya ingin tahu betul seperti apa bunga matahari. Awalnya beberapa hari bagus, kuning bersinar saya senang memandangnya berlama-lama. Kilaunya yang kuning keemasan membuat hati ini cerah ceria.

Namun tidak lama kemudian, bunga matahari di depan rumah kok layu. Wah saya kecewa, saya mulai mempertanyakan filosofi bunga matahari. Sayang ya, indah kemilau tapi tidak tahan cuaca. Kena panas dan hujan layu lalu mati.

Lantas dalam hati pun saya berpikir, wah ternyata filosofi itu adakalanya perlu dipertanyakan lebih lanjut jangan ditelan mentah-mentah. Saya tidak mau seperti bunga matahari yang gampang layu kena cuaca tidak menentu…

Pamulang, 17.40 WIB

Lelaki Bertongkat Kuning

Posted: March 14, 2018 by Eva in Inspirasi, Puisi

Seorang lelaki tua
Berkacamata dan bertopi hijau
Tampak kelelahan
Duduk di kursi busway

Tangan sebelah kirinya
Memegang tongkat berwarna kuning
Sebuah batu akik biru
Menempel di jari kelingkingnya

Sesekali kepalanya bersandar
di kursi busway berwarna biru
Namun, sekejap kemudian terbangun
Melihat sekitar, terkantuk lalu bangun lagi

Meski alunan lagu di busway
terdengar merdu
Bapak tua ini tetap saja termangu
Tertunduk lesu di tengah bis yang terus melaju

Dua orang perempuan paruh baya, turun dari kereta dengan barang bawaan yang penuh di kanan kirinya.

Setiba di stasiun, salah satu dari mereka membawa barangnya keluar. Karena kereta masih lama tiba di tujuan, kita pun lalu bertegur sapa.

“Bawa apa itu bu, sepertinya kok berat” saya bertanya kepada perempuan berkerudung ungu muda itu. “Biasa mbak oleh-oleh dari kampung,” ujarnya seraya tersenyum.

Lalu Ibu – ibu paruh baya itu menjelaskan jika orangtuanya memberinya banyak oleh-oleh buat di bawa ke Jakarta.

“Ini beras dan kerupuk dari orangtua saya, kalau pulang saya tidak bisa menolak menerima oleh-oleh dari mereka mesti berat, ada 12 kg ini mungkin berasnya,” ujarnya yang baru saja pulang dari Prembun Kebumen.

Sering kita tidak menyadari bahwa orangtua di rumah, jika masih ada selalu menanti kehadiran kita ke kampung halaman setiap saat. Di usia yang mulai senja, melihat anaknya sehat dan berguna bagi masyarakat tentu menjadi impian bagi setiap orangtua.

Begitu juga dengan doa dan harapan yang selalu ia doakan semoga anaknya di rantau selalu selamat dan terhindar dari marabahaya.

Begitu kita pulang anak-anaknya, maka apapun yang dia punya entah hasil bumi atau makanan yang ia bikin sendiri atau beli akan di bawakan untuk anak tercinta. Seperti halnya Ibu paruh baya ini yang membawa beras dan kerupuk.

Meski orangtua saya sudah tiada, saya selalu terharu kalau melihat kebaikan dan kasih sayang orangtua pada anaknya. Bagaimanapun cinta kasih orangtua adalah cinta kasih sepanjang hayat.

Saya jadi ingat ada nasehat bijak dari Master Cheng Yen yang suka saya lihat di DAAI TV.

“Ada dua hal yang tidak bisa ditunda, yaitu berbakti pada orang tua dan berbuat kebajikan,” Master Cheng Yen

“Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.”


- Ali Bin Abi-Thalib –

 

 

Kalimat itu menjadi pegangan Edy Fajar Prasetyo, dalam mencintai buku. Bagi anak kelima pasangan Tupon Amat Iksan dan Ratna Nirmala Ningsih, buku adalah Jendela Dunia. Dengan membaca buku kita bisa melanglang buana kemanapun kita suka. Tidak berlebihan jika kutipan Ali bin Abi Thalib membuat kita menyadari bahwa meluangkan membaca buku dengan rileks dan santai akan membawa kita pada kebahagiaan dan membuka wawasan.

Namun di era sekarang ini, Edy menyadari di tengah maraknya gadget dan perangkat gawai atau smarthphone di mana-mana, kecendrungan orang membaca buku kian menurun. Masyarakat lebih senang membaca berita dari media online atau berita hoax sehingga mudah terprovokasi.  Indonesia memiliki tingkat yang rendah dalam kemampuan membaca buku dibanding negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Thailand dan Singapura, hal ini tentu memprihatinkan.

Salah satu cara untuk meningkatkan minat literasi atau kemampuan membaca buku yang dilakukan pemerintah adalah menggalakkan pendirian Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di berbagai wilayah Indonesia, termasuk mencari siapa pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas) Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2017 yang berlangsung di Bengkulu, 9-15 Juli 2017 lalu. Tahun ini yang terpilih menjadi juara adalah Edy Fajar Prasetyo CHc, CHt dari TBM Serambi Tangerang Selatan.

Memadukan Taman Bacaan Masyarakat dan Lingkungan Hijau

Konsep yang digagas TBM Serambi sangat unik dan keren. Bagaimana tidak, saat ini pemerintah sedang mengkampanyekan tentang lingkungan yang hijau dan mengantisipasi perubahan iklim. Dimana-mana masyarakat sedang berolahraga dan berkebun, mengurangi bahan dasar kelapasawit untuk minyak dan kosmetika dan minyak goreng dan pola hidup go green. Edy pun tidak mau kalah, setelah menyelesaikan kuliah di jurusan Agribisnis di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Eddy mendirikan TBM Serambi dengan memadukan hobi membaca dengan kepedulian terhadap Lingkungan Hidup.

Lahir dikeluarga yang sederhana mengajarkan Edy banyak hal bahwa “melakukan yang terbaik” dalam aspek apapun menjadi kunci kita bisa bangkit dan merubah keadaan yang ada.  “Nilai tersirat itu saya sering temukan dari aktivitas Bapak sebagai buruh swasta dan ibu sebagai ibu rumah tangga yang selalu tulus ikhlas dalam berikhtiar,” ujarnya bangga pada didikan orangtuanya.

Begitu juga dalam mengelola TBM Serambi yang berlokasi di pamulang Tangerang selatan yang nota bene cukup dekat dengan teritorial yang maju, karena kondisi masyarakat yang heterogen dan dekat dengan atmosfer akademisi. Namun hal ini tidak selaras dengan beberapa kondisi yang ditemui pada generasi belia dan muda kita yang mengalami krisis figur. Banyak dari generasi muda saat ini yang belum memiliki arah dan tujuan, padahal ini menjadi krusial karena apabila mereka tidak memilikinya maka tidak ada gairah untuk mengalami setiap dinamika kehidupan yang mereka hadapi.

Oleh karenanya TBM Serambi memfasilitas melalui penyediaan berbagai buku buku pengembangan diri sejak usia dini untuk mampu memberi stimulan bagi para pembacanya dalam menemukan pilihan terbaik dari segi cita cita, impian, harapan dan niat mulia lainnya. Lalu Edy menginisiasi upaya kolaboratif dengan para profesional untuk berbagi “inspirasi” kepada masyarakat.

Edy menyadari jika Kota Tangerang Selatan adalah kota yang padat penduduk, bahkan menduduki peringkat ke 10 kota terpadat di Indonesia. Hal ini menjadi masalah besar karena akan menghasilkan sampah yang banyak. “Saya berpikir keras bagaimana agar sampah dapat dijadikan potensi lokal yang bermanfaat bagi hidup manusia,” ujarnya sambil menerawang.

Setiap sampah yang distimulano oleh Edy dan teman-teman untuk dapat dipilah dari rumah tangga #GPS “Gerakan Pilah Sampah” kemudian dapat didayagunakan dan diperanjang usia pakainya dengan cara recycle dan upcycle. Maka melalui Inovasi Participatory Rural Appraisal dengan menggunakan media buku-buku tentang keterampilan mendaur ulang sampah plastik, pengelola mengajak warga memanfaatkan sampah plastik ini menjadi barang yang berguna.“Tujuannya untuk membantu merangsang minat para ibu kepada buku dengan merujuk kepada buku yang dapat dipraktekkan langsung, yaitu mengolah sampah non organik, juga dimaksudkan untuk dapat memberdayakan,” ujar lelaki berkacamata yang hobi traveling ini menegaskan.

Strategi Pengelolaan TBM  Berkelanjutan Berlandaskan Participatory Rural Appraisal (PRA)

Melalui Inovasi Participatory Rural Appraisal pengelola TBM Serambi, merubah paradigma negatif dari sampah menjadi hal yang lebih memiliki value yakni “SAMPAH” berarti Selalu Akan Mudah apabila Ada Harapan.

Berdasarkan pengalaman yang ia miliki selama ini mengelola TBM, lelaki kelahiran Jakarta 17 September 1992 ini membuat Karya Nyata berjudul “Inovasi Strategi Pengelolaan TBM Berkelanjutan Berlandaskan Participatory Rural Appraisal (PRA) Untuk Mewujudkan Masyarakat Gemar Membaca Yang Pandai, Piawai Dan Persona” di Bengkulu 9-15 Juli 2017.

Karyanya ini memikat juri karena konsep TBM Serambi termasuk baru,  ecogreen dan sangat layak untuk diterapkan di daerah lain dalam rangka menghadapi perubahan iklim global. Apa yang diperoleh Edy adalah pencapaian yang selama ini banyak diusahakan para pengelola TBM di seluruh Indonesia.

Ikhlas dalam Berikhtiar

Selain mengelola TBM Serambi, Edy memang memiliki kemampuan lain yang tidak kalah membanggakan. Edy yang sejak kecil bercita-cita menjadi pengusaha ini juga seorang penulis buku “Kami Berani Beda” (Young Social entrepreneur Indonesia)danConsultant (Green Social Creative Entrepreneurship). Meskipun memiliki banyak aktivitas dan kegiatan TBM, Edy tetap bersahaja dan rendah hati. “Menjadi juara I sungguh di luar ekspektasi, saya sangat berterimakasih pada semua pihak yang telah membantu saya selama ini,” ujarnya penuh syukur.

Lelaki yang memiki prinsip hidup “Sebaik baik insan adalah yang paling bermanfaat” kedepan ia memiliki banyak rencana jangka panjang yang ingin dilaksanakan di usianya yang masih muda. Namun apa pun yang dilakukannya dia selalu ingat yang diajarkan orangtuanya. “Saya ingin seperti kedua orangtua saya yang selalu tulus ikhlas dalam berikhtiar,” ungkapnya sepenuh hati. (ER)

Edy Fajar Prasetyo CHc, CHt, Juara I Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) pada Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas)  Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2017

NB:
Mulai hari ini dan seterusnya ada dua kategori baru yaitu, Perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Serambi milik Edy Fajar Prasetyo adalah tulisan pertama berkaitan dengan Taman Bacaan.

Jakarta, 28 Februari 2018
Pukul 09.13

Sampul Buku-Rumah Bambu

Sampul Buku-Rumah Bambu

Cerita Sederhana yang Menukik Hati

Jika anda ingin membaca cerita-cerita yang ringan, pendek dan sangat menyentuh perasaan, anda harus membaca Kumpulan Cerpen karya YB.Mangun Wijaya atau akrab biasa disapa Romo Mangun dalam salah satu Kumpulan Cerpennya berjudul “Rumah Bambu” yang diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia (Penerbit KPG).

Buku ini sebenarnya buku lama, saya harap Penerbit berani untuk menerbitkan kembali buku-buku ini untuk generasi di masa yang akan datang yang lebih mencintai kesederhanaan dan hidup bersahaja dibanding dunia anak muda sekarang yang serba digital dan penuh hiruk pikuk belaka.

Ada satu peristiwa dalam hidup Romo Mangun yang di kemudian hari menjadi cerita “legendaris”. Seorang teman menyebut peristiwa itu sebagai tragedi lem kanji. Suatu ketika Romo Mangun menyuruh salah seorang pembantunya membuat lem kanji. Kebetulan Romo sedang membutuhkan banyak lem, sementara ia enggan membelinya di toko. Selain mahal dan bikin boros, memang demikianlah prinsipnya: Jangan mudah membeli sesuatu yang sebenarnya dapat dibuat sendiri. Lem kanji yang dipesan pun jadi.

Celaka, Romo bukannya senang, tetapi malah marah, sebab lem kanji itu terlalu banyak dan mubazir. Sambil marah, Romo mengambil piring, sendok, garam, lalu menyodorkan kepada si pembuat lem kanji itu dan menyuruh memakannya. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, tapi peristiwa itu benar-benar terjadi.

Selain itu ada juga cerita tentang pesawat tempur dan helikopter milik TNI angkatan Udara yang sudah lapuk dan bulukan, tapi berusaha diterbangkan oleh pilot yang masih belajar, tepatnya di halaman 97 yang berjudul tentang Pilot. Tapi yang terjadi sekarang memang Alutsista Kementerian Pertahanan dan semua TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara sudah pada lapuk dan hanya ada sedikit anggaran membeli Alutsista seperti Sukhoi, yang baru saja diberi mahal malah dipakai orang Rusia yang tidak tahu ilmu kedirgantaraan.

Dari cerita di atas dapat kita simbulkan bahwa kita harus pandai-pandai menilai diri sendiri. Suatu hal atau barang yang menurut kita mahal, belum tentu mahal menurut orang lain. Lebih baik kita membeli sedikit lem kanji daripada memarahi orang yang membuatkan kita lem kanji dengan banyak dan kelelahan agar mendapat upah.

Dalam buku yang terdiri dari 20 Cerita pendek (Cerpen) yang belum pernah di publikasikan ini, semua cerita yang ada dikemas secara artistik dan menggelitik namun cetar membahana. Kita akan di bawa ke dalam cerita bencong yang menyamar menjadi pengamen, hingga cerita-cerita sederhana lainnya yang menyentuh hati dan memekakkkan telinga.

Jadi tunggu apa lagi, datang saja ke Perpus Kementerian Kemendikbud untuk membaca buku ini, jika Penerbit KPG enggan menjualnya kembali, karena royaltinya belum diterima sama Romo Mangun Wijaya.

Jakarta, 4 Desember 2017

Posted: October 13, 2017 by Eva in Humaniora, Inspirasi, Puisi

Just The Way You Are

Jadilah Diri Kamu Apa Adanya
Tidak Pura-Pura Berpunya
Tidak Juga Menjadi Miskin Peminta-Minta

Karakter Orang Adalah
Watak, Watuk dan Wahing
(Watak, Batuk, Bersin)
Sudah dari Sananya
Lewat Pembiasaan, Keluarga dan
Lingkungan Pergaulan
Semua Akan Berubah Menjadi Lebih Baik
Atau Sebaliknya

Jika Kamu Sukses Atau Tidak
Biar Orang Lain yang Bicara

Jakarta
13 Oktober 2017

Ada tiga hal  yang berubah dalam beberapa waktu belakangan, kaitannya dengan usaha dan kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Aku menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi setidaknya untuk berbagi cerita atau sharing bahwa kelestarian alam, lingkungan dan perubahan iklim adalah hal yang selama ini harus terus kita kampanyekan mulai dari dalam diri kita sendiri. Bukan hanya sekedar berkoar-koar.

Pertama yang ini membutuhkan banyak sekali pertimbangan adalah aku berhenti jualan sandal. Sudah sejak kecil, keluarga kami di Sukabumi turun temurun berbisnis sandal. Bahkan aku dan kakakku bisa kuliah di Jogja dan di Sukabumi karena usaha keluarga ini. Sungguh berat aku harus menghentikan bisnis yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Ada rasa nyesek dalam hati ketika ada pesanan dari beberapa teman berkaitan dengan sandal tapi aku tidak bisa memenuhinya.

Alasan utama aku berhenti jualan sandal adalah karena faktor limbah industri kecil kami di kampung yang sulit di daur ulang, ya memang harus dibakar. Awalnya sedikit akan tetapi karena orderan dari berbagai daerah melimpah, makin hari makin banyak. Dari lima orang kakakku laki-laki, empat diantaranya berbisnis ini dan aku sebagai adik sudah sejak SMA membantu berjualan. Hingga akhirnya pada tahun lalu, 2016, aku memberanikan diri mengemukakan alasan, dan semoga kakak-kakakku tidak surut bisnisnya karena alasan ini. Akan tetapi mereka memahami, bahwa bahan dasar industri sandal adalah karet. Dengan segala keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjualan sandal.

Kedua, Aku berhenti memakai lipstick. Aku kira ini terobosan besar. Sangat sulit di awal aku melakukan, karena sebelumnya aku termasuk yang suka dandan. Lebih dari 10 warna lipstick aku punya dari berbagai merek, dari yang paling murah sampai yang lumayan. Aku senang berburu warna lipstick kekinian. Tapi sejak September tahun lalu, sepulang aku dari Bali, aku sudah tidak menggunakan lipstick. Berat rasanya aku membuang semua lipstick di ruang kosmetik, aku sangat sayang, tapi aku sadar apa itu bahan dasar lipstick dan kosmetik lainnya, yaitu kelapa sawit. Jika Eka Kurniawan memiliki novel berjudul Cantik itu Luka, maka saya mengibaratkan lipstick itu demikian. Untuk membuat tampak cantik, kita harus merusak lingkungan, kita tidak tahu bagaimana kelapa sawit itu ditanam harus membakar hutan, merusak ekosistem. Begitu juga saat pengolahan dari kelapa sawit menjadi alat kosmetik, banyak para buruh yang diupah murah, sementara lipstick dijual mahal untuk kepentingan pemilik modal. Di balik aneka lipstick yang warna warni, ada beberapa nilai berkaitan dengan lingkungan dan kemanusiaan yang aku pertimbangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, langkahku tidak menggunakan lipstik ini dianggap ekstrim atau lebay. Tak apalah untuk melakukan suatu perubahan kita harus siap dibilang beda, dimusuhi atau ditinggalkan teman. Tapi perubahan-perubahan besar berkaitan dengan lingkungan adalah dengan melakukan hal-hal kecil yang menurut kita benar, yang itu mudah-mudahan jika orang membaca tulisan ini akan berbuat demikian, tapi bukan merupakan suatu paksaan.

Ketiga: Hemat air, Energi dan Mulai Menanam. Awal tahun lalu hujan terus mengguyur bumi Pamulang, aku selalu siapkan menadah ember-ember di dapur aku keluarkan. Biasanya airnya aku pakai berwudhu, mandi atau menyiram tanaman. Begitu juga bilasan air cucian piring, tidak aku buang yang sudah tidak ada sabunnya aku siram. Aku sangat hemat menggunakan air, untuk berwudhu secukupnya. Beberapa waktu lalu aku sering dimarahin mas arif karena lupa matikan keran, sehingga air melimpah kemana-mana dan bagiku itu suatu peringatan.

Selain air, aku juga sekarang belajar untuk tidak sering menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, jangan terlalu sering mencuci mobil dan usahakan semaksimal mungkin untuk naik kereta, commuter atau kendaraan daring jika bepergian. Semua aku lakukan dengan penuh kesadaran, begitu juga suami, dalam hal ini kita memiliki banyak kesamaan. Kita berdua kalau akhir pekan lebih banyak di rumah, ngurus tanaman dan istirahat panjang, tidak begitu suka bepergian. Paling banter ke Sukabumi, kalau ada hari-hari besar. Tidak seperti dulu, waktu masih ada orangtua.

Berkaitan dengan kebiasaaan menanam. Awalnya berasal dari sampah rumahtangga yaitu sayuran busuk seperti cabe, tomat, dan lain-lain yang kalau tidak dimasak, sayang aku buang. Aku jemur, lalu aku simpan bijinya dan kumpulkan.

aneka benih

Sudah banyak sebenarnya, aku wadahin rencana mau aku pisahin di kertas aku kasih label nama sayuran dan buah, cuma belum sempat beberapa bulan terakhir aku banyak deadline pekerjaan, sehingga adakalanya aku sabtu minggu tidak pulang.

 

Tapi minggu ini, sudah kembali normal, aku kembali menyiram tanaman, mengumpulkan benih, memasak dan bikin kue kesukaan. Mungkin itu saja, cerita yang aku ingin bagikan kepada teman-teman. Tidak ada maksud untuk gagah-gagahan, tapi ini semua kulakukan karena aku sangat percaya akan adanya hari akhir, atau hari kiamat. Siapa bilang isu perubahan iklim tidak berkaitan dengan hari akhir. Aku percaya akan semua yang diceritakan Al-qur’an bahwa ketika sumber daya alam diambil secara serakah oleh manusia maka gunung meletus sudah terjadi, gempa bumi dan banjir bandang terjadi dimana-mana, itu karena kita tidak peduli lingkungan dan serakah atas semua ciptaan Tuhan.

tomat

Kekayaan alam dikeruk untuk kepentingan pribadi dan pemilik modal, maka orang akan beramai-ramai untuk mengumpulkan uang. Kita tidak ingat seperti apa anak cucu kita di masa depan. Apakah mereka masih bisa makan enak dengan sayuran atau lalapan seperti yang kita makan sekarang? Atau mandi aja sulit karena tidak air, karena airnya habis untuk dijual air kemasan atau mencuci mobil agar kelihatan kinclong.

 

Suatu hari orang akan sadar, ketika ikan terakhir kita makan, ketika tidak adalagi tanah yang bisa ditanam, disitulah orang baru sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Bukan aku tidak butuh uang, tapi setidaknya kita bekerja harus seimbang, terutama dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Pejaten 25 September 2017
Pukul 9.40

Belakangan ini ada banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan beberapa kegiatan yang kuikuti belakangan, namun entah kenapa untuk memenuhi penulisan terasa sulit mengatur waktu, beberapa hal yang ingin aku tulis adalah, Jurnal untuk Fakultas Tarbiyah, Jurnal untuk STAIN Pekalongan, Pengalaman 5 hari mengikuti event Ubud Writers and Readers Festival di Bali,15 Tahun Supernova, 4 Film pendek Wregas Bhanuteja, Digital Diplomacy CSIS, Review buku-buku pemikiran filsafat Islam, Materi Tafsir Alquran yang telah kuikuti setiap Rabu di Pusat Studi Alquran Pondok cabe, Resep bikin Puding, Villa murah dan wisata favorit di Ubud, Pameran Filantropis, Perkembangan Buku Digital, Pemikiran dan refleksi hari guru nasional, dan Opini Pribadi saya tentang Truth Of Claim.

Semua itu tiap hari membayangi saya ketika bangun tidur, mana yang saya harus tulis terlebih dahulu. Deadline muncul tiap detik dan saya tidak bisa mengendalikan diri. Semua masih dalam tahap baca buku, pengumpulan data dan rangkaian struktur penulisan. Ada majalah dan buku referensi yang hilang membuat saya kalang kabut untuk bisa menuntaskan semua itu, kembali mencari pengganti dan rempong sana sini mencari buku yang hilang, belum lagi telat mengembalikan buku yang dipinjam ke perpustakaan.

Saat saya dihadapkan dengan semua itu, keasyikan di media sosial membuat saya lupa diri akan membaca buku dan tugas kewajiban menulis, dan sibuk mengamati perang media sosial yang semakin hari semakin mengerikan. Saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat status tentang hal yang provokatif dan menyakitkan ormas atau organisasi mahasiswa yang sedang ramai dibicarakan. Tidak menulis status bukan berarti tidak peduli, tapi menghindari klaim bahwa saya paling benar. Politik semakin tidak menarik dan kebencian di media sosial membuat satu sama lain saling unfriend, unfollow.

Terlepas dari itu semua, saya gembira buku saya kedua sebagai ghostwriter terbit dan akan di launching 10 november di Manado dan Jakarta. Sehabis itu jadwal menanti kemungkinan adalah buku tentang Kedaulatan pangan, juga sebagai Ghost Writer. Mungkin awal Desember baru mulai.

Saat saya galau, tiba-tiba seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Hasani Ahmad Said, saat kajian di PSQ menceritakan saat-saat terbaik menulis dan pengalaman dia waktu menyelesaikan studi S3 Doktor Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Dia bercerita tentang kisah beberapa tokoh yang mendisiplinkan diri untuk menulis.

Menurut Pak Hasan, saat paling tepat menulis bagi tiga guru besar UIN bermacam-macam. Pertama Pak Quraish Shihab, dia selalu menyempatkan menulis usai shalat subuh sampai jam 7 pagi, itu rutin dia lakukan, kalau tidak menulis ya membaca.

Lalu kedua adalah Pak Azyumardi Azra, Kapan beliau produktif menulis? Menurut Pak Hasan, Pak Azyumardi selalu berangkat jam 6 ke kantornya sejak beliau jadi dosen, padahal dia mengajar mulai jam 9 atau jam 10, nah saat sampai di kantor sampai tiba waktu mengajar, disitulah dia menulis artikel, opini dan buku.

Lalu Pak Hasan cerita sendiri kesibukannya dia saat menulis disertasi. Dalam waktu setahun dia full waktunya habis di perpustakaan dan kost-kostan, bergelut dengan buku, makan dan tidur. itu saja tidak ada aktifitas lain, selama enam bulan terakhir tambah intensif semakin mencintai buku dan melupakan cinta-cinta yang lain…ahai..”untuk itulah kenapa saya baru menikah setelah lulus menjadi doktor,” ujar Pak Hasani Ahmad Said

Pengalaman dari ketiga orang guru besar UIN yang diceritakan Pak Hasan, saya catat dan garis dengan stabillo tebal, siapa tahu akan berguna buat saya saat ini atau suatu hari nanti. Mungkin itu yang saya ingin tulis hari ini dan saya berterimakasih kepada Ibu Lilik Umi Kaltsum MA, ibu nyai yang menjadi guru mengaji saat saya di Sunan Pandanaran dulu dan sekarang menjadi ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliaulah yang mengajak saya mengikuti kajian di PSQ setiap rabu dengan materi yang
menarik dan berbagai metode tafsir Alqur’an.

bersama Ibu Nyai Lilik Umi Kaltsum, Guru Ngaji di PPSPA Jogja

Foto Bersama Bu Nyai Lilik Umi Kaltsum.

Selain butuh disiplin waktu, tempat yang nyaman juga baik untuk menulis, seperti perpustakaan dan rumah, jangan lupa matikan gadget anda saat menulis, jangan terlalu percaya atau copy paste google, menulislah dengan murni pemikiran sendiri, cara anda sendiri, dan jangan lupa sertakan referensi.

Gedung C Lantai 4
Sudirman 8 November 2016
Pulul 14.54

Resensi Buku: 1 Team 1 Goal (Berhenti Menutup diri Mulailah Memberi)
Penulis : Mega Chandra
Editor : Diane Novita
Penerbit : Grasindo 2016

sampul-buku

Sampul buku 1 team 1 Goal

Sekarang ini bukan lagi zamannya “Aku” melainkan “kita”. Membangun kesuksesan di era milenium seperti saat ini membutuhkan kolaborasi yang kuat untuk bahu membahusatu sama lain. Itu sebabnya manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri. Ini karena kita adalah mahluk sosial yang dipastikan membutuhkan orang lain.
Sangat sulit kita hindari apabila kita sangkal jika kita tidak membutuhkan orang lain di sisi kita. Sebagai pria (suami) membutuhkan perempuan sebagai pendamping (istri) begitu pula sebaliknya. Kita sebagai atasan membutuhkan rekan (bawahan), begitu pula sebaliknya karena seorang atasan tidak mungkin disebut atasan tanpa memiliki bawahan.

Semua itu membutuhkan satu tindakan yang kita sebut kolaborasi, teamwork yang kuat. Coba kita bayangkan, pernahkah kita melihat seseorang dapat menguburkan dirinya sendiri ke dalam liang kubur tanpa bantuan orang lain saat dia telah meninggal dunia? Jika kita masih mampu mengingat “MATI” mengapa kita masih sulit berkolaborasi atau bekerjasama dengan orang lain.

Itulah kurang lebih poin yang ingin disampaikan dalam pengantar buku berjudul “1 Team 1 Goal, Berhenti Menutup Diri, Mulailah memberi,” yang ditulis oleh Mega Chandra. Diawali dengan kisah sukses grupp Samsung, Mega Chandra penuh semangat menuliskan pemikiran dan pengalamannya melakukan kerja bersama team work.
Kesigapan Leader dan Peningkatan Kompetensi

Dalam buku yang terdiri dari sembilan bab ini dijelaskan tentang perubahan besar yang terjadi pada dunia bisnis dan perubahan ini sangat sulit untuk diprediksi.Kesigapan leader untuk merespon perubahan yang perlu dilakukan merupakan kompetensi yang sangat dibutuhkan. Kompetensi ini juga harus diimbangi dengan human relation yang handal untuk memimpin tim menghadapi perubahan. Buku ini sangat menggugah dan inspiratif yang menyentuh sanubari niscaya akan mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik dr sebelumnya.

Bab pertama tentang 3i misalnya, Inspire, Influence, Impact menjelaskan dengan gamblang tentang tiga hal penting di atas, bab dua membahas parachute dan peacemaker, bab tiga menjelaskan tentang harmony in excelent, bab empat, mengulas panjang lebar tentang Communication and Cognition,bab lima tentang innitiative and dare, bab enam tentang kehati-hatian dalam bekerja atau berbisnis (Be HSP)(Hati-sikap-perilaku=Humble, Sportive-Positive), bab 7 tentang QC SDM, bab delapan tentang Trust, sekilas dibahas tentang One Man Show, dan bab terakhir tentang Performance, Collaboration, Ownership. People.

Saya tidak akan menjelaskan isi bab secara keseluruhan, nanti anda tidak suprise saat membacanya, dari beberapa bab diatas intinya satu yaitu sukses atau kemenanga tidak bisa dicapai untuk diri sendiri tapi kerja keras tim. Banyak istilah baru yang saya temukan dalam buku ini yang memperkaya wawasan kita untuk terus semangat dalam bekerja.

No Superman but Superteam

Harus kita sadari bahwa tujuan dari berkolaborasi dalam organisasi ataupun perusahaan yang baik adalah untuk tujuan baik, untuk itu semua tim member harus memiliki effort yang sama. Motivasi diri yang dilandasi dengan hati yang humble akan menjadikan kita cahaya seperti lilin, meski cahayanya tidak seterang matahari dia akan selalu ada di saat kita membutuhkan

Buku ini bagus utk motivator dan manajer HRD, para wirausahwan muda yang baru merintis usaha, PNS, aktivis LSM, para politisi, serta para pekerja di seluruh Indonesia agar menjadikan kerja tim sebagai landasan utama jangan mengedepankan egoisme ingin maju atau hebat sendiri.

Harus dipahami bersama betapa pentingnya TEAMWORK (Together-Excelence-Achieving-Moving Forward-Wisdom-Optimism-Raising and Knowledge) sebagai kunci sukses organisasi. Untuk membuat sebuah tim berhasil atau gagal sangat tergantung orang-orang yang ada di dalamnya. Sikap positif merupakan kunci utama untuk membuat sebuah tim sukses. Namun untuk menumbuhkembangkan ini sangatlah sulit, terlebih lagi sifat iri, dengki dan berbagai politik kepentingan maka teamwork akan menemui banyak hambatan.

Eva Rohilah
Pengamat Buku dan Film tinggal di Depok

Resensi Buku
Judul : Setegar Ebony
(Catatan Hati Seorang Istri yang Dikhianati Suami)
Penulis : Asih Karina
Editor : Iqbal Dawami
Proofrader : Arif Syarwani
Penerbit : Penerbit Alvabet
Edisi : I, November 2015
Harga : 59.800

Sudah hampir seminggu aku dikirimi buku penerbit buku Alvabet untuk meresensi dua buah buku, tapi belum juga aku sentuh karena rutinitas kantor yang banyak deadline menjelang akhir tahun membuatku tak sempat membaca buku. Akhir pekan ini aku pun dengan sepenuh hati membacanya dan aku kaget luar biasa. Buku yang dikirim Alvabet bagus banget, kisah nyata dari seorang penulis di Malang, Asih Karina tentang cerita pribadinya yang mengalami kegagalan rumah tangga dan pengalaman pilunya ketika dikhianati suami. Buku ini kulahap habis dalam tiga jam dan akupun nangis bombay terharu….

Sampul Buku Setegar Ebony

Sampul Buku Setegar Ebony

Begitu banyak pernikahan hancur, sebelum semua yang diimpikan terwujud. Banyak pengkhianatan justru datang dari orang tercinta. Tak heran imajinasi pernikahan sebagai gerbang kehidupan penuh kebahagiaan dan keindahan dalam gelora cinta dan kasih sayang, dalam sekejap sirna begitu saja. Tetapi apakah kebahagiaan lenyap bersamaan dengan bubarnya pernikahan?

Cerita berawal dari kisah asmara yang meluap-luap menjelang pernikahan dengan setting cerita di daerah Malang Jawa Timur. Asih karina atau biasa dipanggil Karin, menabung lama untuk mempersiapkan pesta pernikahan yang bersahaja, baju pengantin, hantaran dan souvenir serta undangan pun telah disiapkan menjelang hari yang paling ditunggu semua wanita. Usai menikah bulan madu ke Bali pun dijalani Karin dan suaminya Ardhan.

Usai bulan madu, Karin pun tinggal di rumah mertua. Masa-masa yang berat karena harus ia jalani meninggalkan ibunya seorang single parent. Setiap hari dia mengantar kerja suami dan suaminya pun rajin sms, layaknya pengantin baru. Penuh kemesraan, perhatian dan pelukan kasih sayang. Hingga bebeberapa waktu kemudian Karin melakukan test pack dan dia pun dinyatakan positif hamil. Kegembiraan ini disambut bahagia oleh pasangan suami istri. Karin pun jaga kesehatan dan suaminya tambah rajin bekerja.

Namun, apa yang dinyana. Di saat kandungan menginjak enam bulan dan semakin besar. Sang suami Ardhan jarang pulang dan seringkali Karin menunggu sms yang tanpa balas. Berulangkali di Phpin dan tak ada kepastian hingga akhirnya sang suami pulang dan berkata terus terang, jika dirinya jauh hari sebelum menikah dengan Karin sudah punya istri dan anak. Bagai petir di siang bolong, Karin mendengar semua ini dan dia tidak terima. Ia masih berharap jika suaminya akan kembali padanya dan meninggalkan perempuan yang sudah dinikahinya. Ardhan minta cerai dan berjanji tidak akan memilih Karin maupun Kadek, istri pertamanya. Meskipun Ardhan berjanji akan membiayai persalinan Karin, namun Karin sudah terlanjur kecewa dan hampir putus asa. Untung saja ibunya banyak memberinya nasehat dan menguatkannya agar ia bisa tabah menghadapi cobaan.

Setegar Ebony adalah sekeping mozaik kehidupan. Lebih dari sebuah karya sastra, curahan hati, atau sebuah proyeksi kemarahan hati yang luka. Kisah ini adalah sebuah perenungan. Tergolong ke dalam jajaran karangan semi autobiografis lainnya. Ia tidak berangkat dari kegamangan wanita yang terombang-ambing pilihan kehidupan seperti Novel “The Bell jar’, karya Sylvia Plath ataupun “The Awakening” karya Kate Chopin. Cerita ini menggaris bawahi lara sebagai sebuah titik awal perjalanan panjang tokoh utama. Pembaca akan diajak berselancar memahami relung hati seorang wanita sederhana dengan mimpi sederhana.

Sebagaimana laiknya karangan semi autobiografis, sudut pandang “aku” menjadi sebuah titik yang menjadikan cerita bergulir dengan indah. Penulis mampu dengan jujur dan gamblang menuturkan desah resah, risau galau, hingga cenung renung yang semuanya merupakan sebuah proses panjang bangkit dari kejatuhan. Setiap untaian kisah adalah ratusan mozaik kecil yang menyatu dalam jalinan kisah yang utuh dalam alur maju mundur yang unik.
Selain itu, cerita ini dewasa dan mampu mendewasakan pembaca. Tokoh utama, Karin dalam buku ini mengajak kita untuk menjerit bersama dalam perih tak terperi yang membuat siapapun tak hendak melanjutkan hidup. Namun dalam kehendak ilahi, ia memilih kembali mengadukan semua yang terjadi. Karena itu penulis mampu mencapai suatu nilai religius tertinggi yaitu keikhlasan.

Setegar Ebony ditulis dengan gaya bertutur penulis yang cenderung puitis, ilustratif dan cerdas juga diwarnai oleh sentuhan humor pribadi penulis. Sebuah gaya bahasa yang membuat kita ingin membaca cerita ini hingga akhir.

Meskipun penulis menawarkan tragedi sebagai sebuah refleksi katarsis, humor yang terselip disana-sini sebagai sentuhan karakter penulis menjadikan cerita ini sebuah perenungan unik akan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan luka melalui tawa. Cerita ini benar-benar terlahir dari hati penuh cinta dan dipersembahkan dengan penuh cinta.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana ending cerita, saat Karin melahirkan tanpa didampingi suami dan kesedihan yang tiada akhir. Saya persilakan pembaca membaca buku ini untuk mengetahui apakah happy ending atau tidak. Karena banyak hikmah yang dapat saya petik dari buku atau novel ini untuk membangun kehidupan rumah tangga dengan atau tanpa suami. Selamat membaca.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok Jawa Barat

http://www.evarohilah.wordpress.com

Resensi Buku
Judul: Hidup Seimbang Hidup Bahagia
Penulis: Akhirudin DC, MA
Penyelaras bahasa: Fajar Kurnianto
Genre: Pengembangan Diri
Cetakan: I, September 2015
Ukuran: 13 x 20 cm
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-71503-4-8

Jarang ada buku motivasi yang membahas keseharian yang paling dekat dalam hidup kita yaitu tentang keseimbangan hidup, namun Sang motivator Akhirudin DC menjelaskannya secara mendetail dan gamblang disertai contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menjalani kehidupan, manusia membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan akan menghasilkan kemampuan diri, suatu kekuatan yang sangat diperlukan untuk bertanggung jawab penuh atas pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, sosial, dan spiritual. Dengan memiliki keseimbangan, seseorang dapat selalu siap dan berdaya penuh untuk melayani semua urusan kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Keseimbangan inilah sarana untuk menggapai kebahagiaan dalam hidup.

Sampul Buku

Sampul Buku

Melalui buku ini, sang penulis, seorang trainer muda berbakat dalam bidang motivasi dan pengembangan diri, memandu pembaca untuk menemukan cara menggapai keseimbangan dengan bekerja tanpa mengabaikan aspek-aspek kehidupan yang seringkali dipertentangkan, seperti kehidupan pribadi, keluarga, spiritual, dan sosial. Buku ini dapat membantu Anda untuk memotivasi diri, meningkatkan manajemen diri, dan meningkatkan kualitas hidup melalui prinsip keharmonisan

Dr. Ir. H. Haikal Hassan, S.Kom, MM, CHt, MNLP, pengasuh Program Khazanah Trans7, dan seorang master trainer mengatakan dalam endorsementnya “Hidup Seimbang Hidup Bahagia adalah sebuah refleksi diri, dan karena itu buku ini sangat enak dibaca. Tidak berlebihan kiranya ia mengatakan demikian, karena penuturannya yang mudah dipahami Buku ini akan mengajak pembaca untuk menapaki kesimbangan hidup dan menjaga ikatan spiritual lebih kuat. Memprovokasi siapa saja untuk hidup lebih baik.

Buku ini ringan dan enak dibaca. Terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama tentang Balance Life=Beautiful Life, bagian kedua The Law Of Balance berisi tentang pengertian secara mendasar apa itu keseimbangan, berbagai implikasi makna keseimbangan dalam kehidupan manusia seperti keseimbangan antara ilmu dan amal, keseimbangan antara rasa takut dan harapan, keseimbangan dalam menjalankan ajaran agama dan keseimbangan dalam Alam semesta.

Di Muat di Majalah Monitor Daily (Monday) Edisi November 2015

Di Muat di Majalah Monitor Daily (Monday) Edisi November 2015

Salah satu yang dibahas dalam bagian dua adalah keseimbangan dalam diri manusia sebagai mahluk individu dan sosial, keseimbangan hidup dan kerja juga keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Selain itu diungkapkan juga hubungan antara keseimbangan kehidupan kerja dan produktivitas.
Saya mengenal penulisnya Akhirudin sejak masih mahasiswa dan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan dikenal sebagai sosok yang rajin dan ulet juga pintar berorganisasi. Menurut Akhirudin, dalam kesimpulannya salah satu sifat atau karakteristik idela manusia adalah mahluk yang selalu ingin memperbaiki dan mengembangkan potensi dengan berbagai macam cara, diantaranya dengan munculnya berbagai macam pemikiran atau ideologi-ideologi yang semua itu berusaha untuk mengubah kehidupan ini menjadi lebih baik. Namun terkadang pemikiran-pemikiran atau ideologi tersebut hanya melihat dari satu sisi tanpa melihat sisi lain.

Sikap seimbang memiliki beberapa makna yang sejalan dengan sikap pertengahan, atau tawazun. Sedangkan menurut Islam konsep keseimbangan dapat diartikan sebagai sikap adil yang tidak berat sebelah dalam segala hal, menempatkan sesuatu pada posisinya dan secara proporsional. Keadilan tersebut dapat bersifat hubungan manusia dengan Allah (habl min Allah) dan hubungan manusia dengan sesama manusia (habl min an-naas) yang juga mencakup di dalamnya hubungan manusia dengan alam semesta.

Setelah membaca buku ini, pembaca akan selalu optimis dalam mencapai kebahagiaan dan dalam menghadapi kehidupan dengan mengenali diri sendiri, termasuk lingkungan yang selama ini kita anggap kurang peduli. Penulis yang juga merupakan Direktur AD Consulting berpengalaman memberikan training di berbagai Perusahaan Nasional dan Internasional, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), instansi pemerintah pusat dan daerah dengan spesialis dalam pembentukan karakter pribadi dan budaya perusahaan.
Buku ringan dan tipis ini wajib anda miliki sebagai panduan sehari-hari hidup Anda. Selamat membaca!

Eva Rohilah
Pecinta buku tinggal di Depok
Blog: http://www.evarohilah.wordpress.com

Merangkai Makna di Usia 36

Posted: May 3, 2015 by Eva in Inspirasi, Jalan-jalan, Pribadi

Pada ulang tahunku yang ke-36, 2 Mei 2015 kemarin. Aku tidak merayakan makan-makan dengan suami aku seperti tahun-tahun sebelumnya. Kebetulan tahun ini aku merayakannya di Indramayu, berkenaan dengan tugasku yang sedang melakukan riset tentang perikanan tangkap dan Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra. Sungguh istimewa aku memaknai ulangtahunku kali ini karena banyak rencana kedepan yang akan aku laksanakan bersama mas Arif.

Seminggu ini aku melakukan riset untuk penulisan buku tentang koperasi di Pantai Karangsong Indramayu. Sejak hari Rabu, aku udah berkunjung ke muara dan tempat pelelangan ikan Karangsong.

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

.

Potensi ikan di TPI Karangsong memang luar biasa, bertonton dengan aneka jenis ikan seperti tongkol, tenggiri, kakap merah, ikan cunang, ikan manyung, ikan patin, ikan kembung dan lain-lain. Omzet perhari bisa sampai 1 milyar lebih.

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

Hari Jumat, tepatnya 1 Mei 2015 aku jalan-jalan ke Pasar Mambo dan pendopo Kabupaten Indramayu sama pak Mamat, Sopir KPL Mina Sumitra, kota Indramayu memang tidak begitu besar, jadi kita mengitarinya cepat saja, keliling sebentar sebelum jadwal wawancara.

di Pasar Mambo

di Pasar Mambo

Setalah ke Pasar Mambo, saya mampir di Pendopo Kabupaten Indramayu, lumayan bagus pendoponya dan saya sempat berfoto-foto di sana.

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Pada hari sabtunya 2 Mei 2015, aku kembali ke TPI Karangsong untuk kemudian wawancara di Koperasi KPL Mina Sumitra, di hari ulang tahunku ini aku pagi2 di telfon mas Arif saat itu aku di pusat perbekalan, mendapat ucapan selamat dari Veni dan Mbak Ika. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku gak mau terekspose dengan facebook atau twitter ttg hari lahirku, cukup orang-orang terdekatku aja yang tahu bagiku udah sudah cukup. Menjelang makan siang aku disuguhi makanan khas Indramayu Gombyang Pindang Ikan Manyung.

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Usai wawancara, aku pulang ke D’ Nisa Guest House di Pasar Baru deket Sport Centre. Selama 5 hari menginap di sini cukup nyaman, tempat tidurnya enak dan pegawainya juga ramah-ramah. Kamar mandinya juga bersih.

di penginapan D'Nisa Indramayu

di penginapan D’Nisa Indramayu

Sore aku istirahat dan mencoba merangkum apa saja yang bisa aku tulis seharian di Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra. Habis Ashar, Eka atau Farikhatul Udkhiyah temenku waktu SMP di Sunan Pandanaran Telepon dan mengabari kalau dia mau mengajak aku jalan-jalan keliling Indramayu. Dia datang habis Isya bersama suami dan anaknya, akhirnya kita keliling Indramayu dan makan di Sport Centre. Alhamdulilah aku seneng dapat berbagi cerita dan sampai akhirnya aku pulang ke Guest House lagi hari sudah malam.

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Aku bersyukur di hari ulangtahunku yang ke-36 ini terasa penuh makna. Setiap langkah dan usaha aku yakin bahwa harus hidup ikhlas dan konsisten dalam bekerja. Agar di hari-hari ulangtahunku di masa yang akan datang, akan lebih bermakna. Terimakasih aku ucapkan buat teman-teman dekat, keluarga dan terutama suamiku yang selalu support aku dalam kondisi apapun.

Terkadang aku masih serasa bermimpi jika Apa, ayah yang kucintai meninggalkan aku untuk selamanya. Ada rasa rindu dan haru di relung hatiku yang paling dalam mengingat kenanganku bersama beliau sepanjang usiaku. Yang selalu kuingat ayahku adalah seorang imam mesjid dan peternak ikan yang gigih. Kedisiplinannya melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah belum ada satupun yang mengalahkannya. Sebagai imam masjid dan Khatib Sholat Jumat, kehidupan ayahku sepenuhnya diabdikan untuk agama yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Apa sedang menulis Khutbah

Apa sedang menulis Khutbah

Nama lengkap ayahku Mualim Udin Jaenudin, lahir pada tanggal 3 Maret 1933, usianya saat meninggal 82 tahun. Usia panjang yang telah dia habiskan dengan penuh makna dengan membesarkan kesembilan anaknya. Sebagai anak bungsu, aku hanya sebentar mengalami kebersamaan bersama Apa yaitu waktu Sekolah Dasar. Setelah SMP hingga kuliah, aku lama di Jogja bersama kakakku dan jarang ketemu Apa. Tapi kenanganku yang sebentar sangat berkesan, menurut aq ayahku adalah orang yang paling sufi, nyaris tidak mempedulikan kehidupan duniawi, kesibukan sehari-hari adalah ibadah dan membaca Qur’an. Rutinitas sehari-hari selain ke mesjid adalah ngurus kolam ikan, bila menjelang idul fitri tiba di kampungku belum ada satupun yang berani mengganti imam shalat Iedul fitri, sepanjang usiaku Apa selalu menjadi imam besar Shalat Iedul fitri dan antrian orang yang ingin kambing atau sapi kurbannya di sembelih pada lebaran Iedul Adha.

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa adalah orang yang ikhlas luar biasa. Setelah ditinggal oleh ibuku (Emak Halimah) 30 tahun yang lalu, dia seorang sosok yang mandiri, dia selalu mencuci dan menyetrika bajunya sendiri, setrikaan yang dikerjakan pun sangat rapi dan setrikaan anak-anaknya gak pernah kepake. Ditinggal jauh oleh anak-anaknya merantau ke Jogja dia tidak pernah mengeluh dan terus berusaha. Selama ini ayahku juga jarang sakit, meskipun dia pernah dirawat beberapa tahun yang lalu karena pusing berputar. Ayahku juga seorang perokok berat, dan pernah dirontgen kalau paru-parunya udah kotor oleh asap rokok, tapi ayahku gak pernah mau berhenti merokok.

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Gigi ayahku sudah habis dan semuanya sudah ganti gigi palsu. Ayahku juga kalau makan gak mau yang asal-asalan, dia maunya makan enak kayak daging dan ikan. Kami sebagai anak-anaknya berusaha memenuhinya. Aku menyadari betul setelah aku menikah aku jarang pulang ke Sukabumi, itulah yang aku sesali sekarang. Aku pulang kadang sebulan sekali, setelah Apa meninggal aku berasa sangat menyesal kenapa aku gak sering pulang dan lebih banyak memperhatikan Apa.

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Sekitar tahun 2013, apa mengeluh karena tidak bisa baca Alqur’an. Rupanya apa kena Katarak. Kami anak-anaknya menabung bersama untuk melakukan operasi katarak agar Apa dia bisa membaca Al-Qur’an. Karena setiap habis sholat dan Bulan Puasa ayahku tidak bisa lepas dari Al-Qu’an, kalau Ramadhan dia seminggu sekali Khatam Alqur’an. Setelah uang terkumpul, Apa malah tidak mau operasi katarak karena takut sakit dan sayang uangnya, tentu kami anak-anaknya kecewa, tapi itu pilihannya sehingga operasi katarakpun gagal digelar. Tidak lama setelah tidak jadi operasi, aku ditelfon kakaku di Sukabumi, bahwa Apa kena Herpes zoster (nama lain: shingles atau cacar ular cacar api). Cacar ini umum mengenai lansia, akupun pulang ke Sukabumi dan apa dirawat selama hampir dua minggu di Rumah Sakit Bunut Sukabumi.

Apa Kena Herpes Zoster

Apa Kena Herpes Zoster

Setelah sakit herpes, Apa semakin terpuruk dan kelihatan tak berdaya. Dia sering mengeluh sakit kepala yang tidak tertahankan. Aku pun mulai lebih sering pulang ke Sukabumi dan prihatin dengan kondisi apa. Setelah hampir setahun kena Herpes ayahku dirawat sama kakak-kakakku di Sukabumi. Rupanya sakit herpes yang dulu kena syaraf dan akibatnya apa sudah menjadi pelupa. Setelah melewati rawat jalan, berangsur-angsur apa mulai pulih dan keliatan kembali sehat.

Apa setelah sembuh dari Herpes Zoster

Apa setelah sembuh dari Herpes Zoster

.

Karena sering sakit-sakitan dan usia mulai senja Apa sering terbaring di tempat tidur dan hanya bisa pasrah. Tidak bisa ke mesjid dan tidak bisa membaca Al-Qur’an. Kami anak-anaknya pun merasa sedih melihat kondisi ini. Saya pun berusaha membesarkan hatinya dan berniat membuat kartu BPJS buat jaga-jaga.

Foto terakhir untuk BPJS

Foto terakhir untuk BPJS

Enam bulan berselang sejak kesembuhan dari Herpes zoster, ayahku sesak napas dan gak bisa makan. Kami sekeluarga kumpul dan bermusyawarah bagaimana baiknya demi kesembuhan apa. Ternyata setelah diperiksa dokter di RS Kartika Sukabumi, Apa mengalami pembengkakan jantung dan lambung, juga paru2. Akhirnya dirawatlah di RS Kartika selama dua hari. Tidak lama setelah dirawat, kurang lebih satu bulan, Apa meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Aku ditelfon kakakku jam setengah 3 malam dan langsung ke Sukabumi sama mas Arif, sampai rumah, Apa sudah dikafani dan dibacain yasin sama sanak keluarga. Apa meninggal pada 25 Januari 2015.

Di Pusara Ayahku

Di Pusara Ayahku

Selama tujuh hari, kami melaksanakan Tahlil dan Yasiin. Kesembilan anak berkumpul kecuali Teh Idah, kami semua berduka dan merasa sangat kehilangan.

Apa dan Emak

Apa dan Emak

Dengan meninggalnya Apa, kami sembilan bersaudara sudah tidak punya lagi ayah dan ibu.

kami yang berduka

kami yang berduka

Pada awal Maret, kami menggelar acara 40 hari di Mesjid Assyarifiyah Bantarkaret Sukabumi Jawa barat di tempat ayahku menjadi imam masjid dan mengaji. Alhamdulilah yang datang banyak, kami mencetak Yaasin dan bagikan paket makanan, diiringi ceramah. Kami pun berdoa semoga amal ibadah Apa diterima Allah SWT. Tiga hal yang saya ingat dari almarhum adalah Hidup itu harus Ikhlas, banyak beribadah dan jangan lupa mengaji. Selamat jalan Apa…Kami anak-anakmu, menantu, cucu dan cicit sangat mencintaimu.

Peringatan 40 hari

Peringatan 40 hari

Makna Kebahagiaan Sejati

Posted: March 22, 2012 by Eva in Inspirasi

Pagi ini aku membaca di twitter tulisan menarik dari twitter @Andrie Wongso

Makna Kebahagiaan Sejati
Penulis : Tim AndrieWongso
Kamis, 22 Maret 2012

Kebahagiaan Sejati

Kebahagiaan Sejati

Suatu hari seorang wanita tua berusia 92 tahun masuk ke sebuah panti jompo. Meski sudah tua, perawakannya masih terlihat tegap. Penampilannya pun rapi dan modis. Rambutnya tertata sangat rapi. Karena suaminya yang sudah dinikahinya selama 70 tahun baru-baru ini meninggal dunia, mau tak mau wanita ini harus pindah ke “rumah” barunya.

Setelah berjam-jam menunggu dengan sabar di lobi panti jompo itu, wanita tua itu tetap tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya sudah siap. Begitu wanita tua itu mengarahkan alat pembantu berjalannya menuju lift, si perawat menggambarkan kamar kecilnya secara detail, termasuk kain tirai yang tergantung di jendelanya.

“Aku sangat menyukainya,” kata wanita tua itu dengan antusiasme seorang anak berusia delapan tahun yang baru saja dihadiahi seekor hewan peliharaan.

“Ibu kan belum melihatnya… bersabarlah.”

“Tidak ada bedanya,” jawab wanita tua itu. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Suka tidaknya aku dengan kamarku tidak ditentukan dari bagaimana pengaturan perabotannya, tapi lebih ke bagaimana aku mengatur pikiranku sendiri. Aku sudah putuskan untuk menyukainya. Itulah keputusan yang aku ambil setiap pagi begitu aku terbangun dari tidur.

Aku punya pilihan. Aku bisa saja menghabiskan hari-hariku di ranjang dengan menceritakan kesulitan yang kumiliki dengan anggota tubuhku yang tidak lagi berfungsi dengan baik. Atau, aku bangkita dari ranjang dan bersyukur atas anggota tubuhku yang masih berfungsi dengan baik. Tiap hari adalah berkah. Selama mataku terbuka, aku akan berfokus pada hari baru dan semua kenangan bahagia yang aku telah simpan, hanya untuk masa hidupku seperti saat ini.”

Sahabat yang Luar Biasa,

Usia tua itu dapat diibaratkan sebagai sebuah rekening di bank. Kita akan menarik dari apa yang telah kita tabung di masa-masa produktif kita. Karena itu, alangkah baiknya jika kita sejak sekarang menabung sebanyak-banyaknya momen kebahagiaan di rekening bank memori kita.

Ada beberapa sederhana agar kita bisa bahagia. Pertama, bebaskan hati kita dari rasa benci. Kedua, bebaskan pikiran kita dari rasa cemas. Ketiga, hiduplah sederhana dengan hidup berkecukupan sesuai dengan kebutuhan kita. Keempat, jangan pernah berhenti memberi. Kelima, jangan berharap yang muluk-muluk dan bersikap realistis.

Bagus banget ya pesannya, semoga kita menjadi manusia yang bisa menikmati kebahagiaan sejati