Archive for the ‘Inspirasi’ Category

Slogan Pinggir Jalan

Posted: October 27, 2018 by Eva in Ekonomi Bisnis, Inspirasi

Malam ini ada yang masih lembur  atau masih di kantor menunggu deadline kerjaan. Atau masih joged dangdutan menyambut esok hari hahaha…

Jangan lupa ya yang masih kerja, istirahat, ngeteh-ngeteh atau ngopi biar gak ngantuk. Mak Pyar…

Kalau bicara ngopi saya jadi ingat sebuah slogan sederhana di pinggir jalan perbatasan Malang – Blitar. Tulisannya begini.

“Ojo Lali Kerjamu Melupakan Ngopimu” kalau ingat aku suka ketawa aja bacanya..🍵☕🍵☕🍵☕

Advertisements

Memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda esok hari gegap gempita terasa dimana-mana. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan salah satu janji sumpah pemuda yaitu Barbahasa  Satu Bahasa Indonesia.

Jujur saja, kalau sedang semangat dan buru-buru saya sering salah ketik,  dll. Kemudian, terus terang, di era teknologi ini saya sangat kerepotan dengan banyaknya istilah bahasa Inggris terutama bahasa serapan yang dimana antara ucapan dengan tulisan adakalanya kaku.

Tantangan terbesar bahasa Indonesia sekarang ini menurut saya ya itu, menghadang serbuan bahasa asing agar bahasa Indonesia tetap terjaga kualitasnya.

Belum lagi bahasa alay, bahasa instagram, bahasa yang disingkat di wa/sms, dan istilah-istilah kekinian yang dimana tidak semua generasi banyak yang tidak paham bahkan cenderung kurang sopan.

Seperti bokap gue, pembokat, nongki di mana lu, ngehe, typo, dan lain-lain. Terlepas dari itu semua saya juga tidak merasa paling benar dalm hal ini, karena saya juga dalam menulis kadang tidak konsisten dan tidak luput dari kesalahan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda teman-teman semua…

27 Oktober 2018

17.32 WIB

Bila Harimu Penuh Warna

Posted: October 25, 2018 by Eva in Inspirasi, Seni
Tags: ,

Melihat bunga warna warni ini sangat menyegarkan mata. Meski ini bunga yang berada di pinggir jalan, tapi bunga ini milik orang yang punya rumah.

Aku melewatinya saat berjalan beberapa hari yang lalu menyusuri jalan Madura. Ada beragam warna yang aku suka.

Jadi ingat lagi Armada yang liriknya…

Bayangkan bila harimu penuh warna
Itulah yang saat ini ku rasakan..

Lanjutkan sendirinya lagunya 🎶🎵🎼semoga kita yang menyukai beragam warna terhindar dari kebencian….

25 Oktober 2018

08.05

Ketika Matahari Beranjak Naik

Posted: October 24, 2018 by Eva in Inspirasi, Rumah
Tags:

Semangat menyambut hari kamis teman-teman. Saya sangat bahagia tiap hari hujan terus meski sebentar. Tiga hari berturut – turut kemarin hujan memberi kesejukan bagi bumi yang sudah lama kering.

Ketika hati kita bahagia, maka apapun yang ada di depan kita terlihat istimewa. Seperti cahaya matahari yang mulai terbit menyinari pagi yang cerah.

Rencanakanlah hidup anda sebelum direncanakan orang lain. Selamat beraktivitas sahabat semuanya. Semoga rencana kita hari ini berjalan lancar.

Blitar 25 Oktober 2018

Saya melihat mereka menyeberangi kekosongan

Lebih luas dan lebih dalam 

Dari ruang dan waktu

Seluruh keberadaanku

 

Terletak antara hati dan bunga mawar

Nyala api, burung-burung, helai-helai rumput. 

Jauh di bawah kedalam batin mereka

Mencabut daun dari bunga, sayap dari lalat

 

Menghantui hati dengan pisau bedah

Dan mencerai beraikan debu hidup itu dengan lensa

Sebab di kala senja, kilat dan nyamuk di udara

Mereka mengungkapkan misteri alam

 

Menyatakan Aku-lah Ada, meski tetap tanpa nama

(Kathleen Raine, “Exile” dalam The Collected Poems of Kathleen Raine, Hamish Hamilton, 1956)

 

Judul: Anak-anak Mencari Jati Diri

(Telaah Atas Perilaku Anak Sebagai Pengungkap Diri yang Asli)

Judul Asli: Children in Search Of Meaning

Penulis: Violet Madge

Penerbit:  BPK Gunung Mulia, Jakarta

Edisi: I, 1991

 

Pernahkah anda melihat seorang anak bertanya dari mana datangnya air mata atau kenapa mata ibu mengeluarkan air? Bukankah air itu berasal dari akar pohon yang menyerap hujan? Bagaimana seorang sapi bisa melahirkan, dan bagaimana kok ada cicak mati?

Di situlah kita melihat bahwa ada beberapa tahapan dalam pendidikan anak. Dimana buku yang sudah lama terbit ini mendedahkan bahwa perkembangan atau pertumbuhan anak itu dilalui lewat pelbagai macam pertanyaan. Di mana orang tua harus menjawab dengan jujur.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama tentang Penemuan atas Dunia dan Manusia dan Kedua Beberapa refleksi  anak mencari jati diri. Pada bagian pertama terdiri dari tiga bab yaitu pendidikan masa kanak-kanak, pendidikan masa remaja, dan pendalaman pengertian selama Sekolah Dasar.

Tipis Namun Padat Berisi

Buku yang keren namun tipis ini (119 halaman), ini sudah menggebrak dari awal pembaca ketika kita dihadapkan pada beberapa pertanyaan mendasar dari seorang anak ketika mulai belajar bicara, menimpali ketika dinasehati dan melanggar perintah agama ketika diperingatkan orang tua sejak kecil. Tiga tahapan itu ada dalam bagian pertama isi buku ini.

Di setiap bab dalam buku ini disertai ringkasan, misalnya tentang anak-anak kecil mencari makna hidup dengan mencari jawaban kedua (second opinion) segala keingintahuan mereka akan gejala alam maupun manusia dengan bertanya kepada sahabat atau saudara untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Banyak pengalaman itu timbul lewat permainan, yang membenarkan pendapat Froebel bahwa: “Permainan itu bukan hal yang remeh , melainkan hal yang sangat penting dan mempunyai arti yang sangat mendalam.

Sedangkan menjelang remaja anak akan banyak, berpikir lebih keras, berfantasi (imaginasi), melihat drama dan tidak henti bertanya tentang bagaimana cara mencari kebebasan. Dimana masa remaja ini saya sepakat dengan Prof. Jeffrey bahwa ” Seperti yang dibuktikan dalam kepandaian anak-anak, akal budi manusia terus mencari makna dalam segala keadaan

Pesan Misterius  Anak yang Tersirat Sejak Embrional

Di balik kegiatan anak dari mulai menggambar, berbicara, mengetik, bermain, mendengarkan musik, menonton film, main game, beribadah, bermain bersama teman, liburan untuk jalan-jalan terdapat suatu maksud yang terdalam untuk mengungkap jati diri dalam kaitannya dengan dunia luar dan orang sekitarnya. Benih pemahaman tentang agama atau Ketuhanan juga tersirat walau masih embrional.

Jadi, melalui pengalaman atas dunia di sekitar mereka dan melalui hubungan antar sesama anak-anak sampai dewasa, tua dan meninggal dunia dapat sampai ke penemuan bahwa dalam pencarian atas jati diri masih terdapat misteri yang tidak dapat dipecahkan kelak dia menjadi apa dan meninggalnya seperti apa.

Makanya seperti apapun anak kita, jangan terlalu mengatur anak.  Biarkan dia menjadi dirinya sendiri, jangan terlalu dibanggakan kelebihan dan kekuranggannya dan juga kita harus menjaga agar meninggal dengan penuh keselamatan.

Kita boleh belajar untuk menghayatinya dengan semakin lebih bermakna, untuk menembusnya dengan semakin ciri-cirnya, namun betapapun dalam kita memasukinya dan mempelajari rahasia-rahasia anak, misteri itu tetap misterius.

Perpustakaan Kabupaten Blitar

8 Oktober, 2018

Pukul 10.14

 

Jangan disangka, dibalik masyarakat yang diam mereka mengekspresikan sikap lewat tulisan tangan yang ditulis penuh perasaan, sebuah perlawanan tanpa senjata.

Saat melewati kota Pasuruan saya memperhatikan pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan.

Meski apa yang saya temui hanya sekilas dan tidak ada dokumentasi foto. Namun, pesan yang di sampaikan masyarakat dalam bentuk tulisan tangan selalu saya ingat.

Pesan pertama saya temui dari pantat truk, isinya sebagai berikut:

“Jadilah Perintis Bukan Pewaris”

Saya terdiam membacanya, truk berjalan cukup lama di depan bis yang saya kendarai.

Tidak lama kemudian saya melewati rumah pinggir jalan yang menyerupai rumah kosong bercat hitam dengan tulisan tangan memakai kapur dengan huruf yang ditulis besar-besar.

“Jagalah Tanah Kita, Sebelum Semua Tanah Menjadi Ibukota,”

 

Pagi yang dingin, 4 Agustus 2018, Pukul 07:09

“Rahasia sesungguhnya untuk meningkatkan kreativitas, bukan dengan terobsesi terhadap segala macam alat atau proses, tapi dengan mengerti motivasi kita,”- Scott Barry Kaufman, pengarang Wired to Create

Resensi Buku: What’s Your Creative Type (Semua Orang Kreatif, Anda Termasuk yang Mana?
Penulis: Meta Wagner
Alih bahasa: Adinto F.Susanto, Dinun Wicaksono
Editor : Adinto F Susanto
Penerbit: Grasindo, Jakarta
Edisi: I, Agustus, 2017

Lima Tipe Kreatif Orang di Dunia

Pertama kali saya melihat buku ini, saya penasaran terhadap isinya, apa saja tipe orang-orang kreatif di dunia yang bisa mengubah segala hal yang sulit menjadi sedemikian ringan dan menyenangkan, meskipun dalam posisi sulit.

Buku yang ditulis oleh Meta Wagner, seorang kontributor “The Boston Globe” dan kolumnis untuk “Pop Matters” memiliki perhatian terhadap budaya pop di kalangan anak muda di dunia, khususnya di Amerika Serikat.

Menurut Meta Wagner yang menulis pemikirannya dengan bahasa yang ringkas, padat dan berkualitas ini ada lima tipe orang kreatif di dunia, yaitu Pertama tipe sang primadona, kedunia tipe sang seniman, ketiga tipe sang pembuat perubahan, keempat tipe sang perasa, dan kelima tipe sang aktivis.

Kali ini saya tidak mau panjang lebar membahas buku ini, seperti penjelasan masing-masing tipe orang kreatif yang ada di atas seperti buku sebelumnya, karena buku ini tipis dan bisa didapat di toko buku terdekat dengan harga terjangkau.

Setelah membaca buku ini, anda pembaca, akan lebih kreatif membaca apa yang membuat anda menarik dan menggali potensi kreativitas diri anda apapun yang anda lakukan sekarang dimanapun berada.

Buku ini meski tidak sempurna, namun tidak ada kelemahan yang berarti. Bahkan di bagian kesimpulan ada tulisan panjang yang menjelaskan jika semua orang di dunia adalah orang kreatif.

Selamat membaca

Malang, 3 Agustus 2018

Pesan yang disampaikan anak muda Indonesia di Hari Kemerdekaan ke-73 ini beraneka ragam. Jika dulu Indonesia berjuang melawan penjajah dari pelbagai negara, sekarang kita harus bersatu mengusir penjajah yang tidak kita sadari.

Berikut saya lampirkan dalam video beberapa kaos hasil kreasi anak muda Indonesia dari Malang Jawa Timur.

Di outlet lain, tidak jauh dari kaos buatan anak muda Indonesia, ada merek brand luar negeri yang menampilkan pesan-pesan khas anak kekinian.

Warna-warni kaos ini bisa untuk anda pakai atau kirim sebagai hadiah. Harganyapun beda-beda sesuai dengan kualitas bahan.

Kreasi anak muda sekarang tidak terbatas, baik laki-laki maupun perempuan bisa mandiri, membuat sablon dan menjahit dengan tenaga asli Indonesia dan bersaing dengan kaos impor. Ini baru produksi kaos, mungkin masih banyak kreasi unik lainnya di bulan Agustus ini.

 

Universitas Brawijaya Malang, 2 Agustus 2018 Pukul 19:48

“Tanahku Tak Ku Lupakan, Engkau Kubanggakan”

Selamat datang bulan Agustus. Bulan ini kita akan melewati banyak peristiwa bersejarah yang penuh dengan kegembiraan. Bulan dimana bangsa ini mengalami kejadian penting baik pesta olahraga maupun pesta-pesta lainnya.

Pagi ini saya sangat bergembira, karena sedang berada di kota Surabaya, Kota pahlawan dimana Bung Karno menyatakan bahwa Surabaya adalah Dapur Nasionalisme.

Maka, untuk mengobarkan nasionalisme, saya ingin memutar sebuah video yang memadukan orasi Bung Karno dengan Lagu Ciptaan Ibu Sud berjudul Tanah air yang diakhiri dengan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Lagu ini diaransemen oleh EDM X Gamelan by Alffy Rev Ft Brisia jodi dan Gasita Karawitan.

Berikut videonya

Resensi Buku

Judul: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
(Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Lebih Baik)

Penulis: Mark Manson
Penerbit: Grasindo, Jakarta
Editor: Adinto F Susanto
Alih Bahasa: F.Wicakso
Edisi: I, Februari 2018.
Cet 2, Maret 2018

Buku bersampul orange ngejreng ini menarik perhatian saya dan tidak sabar membacanya saat melihat pertama kali. Judulnya yang provokatif ditulis oleh Mark Manson, blogger populer dari Amerika Serikat yang memahat kata dengan semangat yang meluap-luap, mudah dicerna, ringan dan enak dibaca.

Judul asli buku ini adalah The Subtle Art of Not Giving A Fu*k yang diterjemahkan menjadi “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat (Pendekatan yang waras Demi menjalani hidup yang lebih baik) sangat menarik sebagai bacaan ringan bagi anda yang ingin merubah mindset (pemikiran). Terdiri dari Sembilan bab disertai sub bab yang membahas secara mendalam tentang beberapa hal di sekitar kita dari mulai pekerjaan, kebahagiaan, kegagalan, penolakan hingga kematian.

Membahas Eksistensi Diri dengan Gamblang dan To The Point

Dalam buku pengembangan diri yang mewakili generasi yang lahir di era-1980an, Mark Manson seorang  yang memiliki jutaan pembaca menunjukkan pada kita bahwa kunci untuk menjadi orang yang lebih kuat, lebih bahagia adalah dengan mengerjakan segala tantangan dengan lebih baik dan berhenti memaksa diri untuk menjadi “positif” setiap saat. Anda jangan kaget dengan ungkapan memaksa menjadi “positif” disini, akan tetapi menjadi diri kamu sendiri itu lebih baik, daripada tampil memoles diri untuk mendapat pengakuan.

Dimulai dengan kisah kegagalan beberapa tokoh terkemuka yang sering gagal dalam mewujudkan eksistensinya namun tidak pantang menyerah seperti penulis Charles Bukowski, Hiroo Onoda, Dave Mustaine dan lain sebagainya yang mengalami banyak penolakan hingga mereka sukses. Mark Manson mengemasnya dengan narasi yang menarik dan segar.

Selama beberapa tahun belakangan, Mark Manson melalui blognya telah membantu mengoreksi harapan-harapan delusional kita, baik mengenai diri kita sendiri maupun dunia. “Tidak semua orang bisa menjadi luar biasa, ada para pemenang dan pecundang di masyarakat, dan beberapa diantaranya tidak adil dan bukan kesalahan Anda,” ujarnya. Tepat saat kita mampu mengakrabi ketakutan, kegagalan dan ketidak pastian saat kita berhenti melarikan diri dan mengelak, serta mulai menghadapi kenyataan-kenyataan yang menyakitkan-saat itulah kita mulai menemukan keberanian dan kepercayaan diri yang selama ini kita cari dengan sekuat tenaga.

Ia melontarkan alasan bahwa manusia tak sempurna dan terbatas. Ia mengajak kita untuk mengerti batasan-batasan diri dan menerimanya, inilah sumber kekuatan yang paling nyata. Ia menulis pandangannya dengan gamblang dan bahasa yang to the point.


Bukan Sekedar Mencari Kebahagiaan Semu

Dalam tulisan ini setting era digital dan media sosial sangat terasa. Dia dengan santai menceritakan tentang kecemasan masyarakat di era di media sosial. Juga kritiknya terhadap gaya hidup konsumtif yang membuat orang tidak pernah puas.

“Saya meyakini ide ini bertahun-tahun, menghasilkan banyak uang, berkunjung ke lebih banyak negara, memiliki lebih banyak pengalaman, bersama dengan pasangan. Tetapi lebih banyak tidak selalu lebih baik. Faktanya justru kebalikannya yang benar. Sesungguhnya kita sering merasa bahagia dalam situasi berkekurangan,” ujar Mark Manson jujur. (hlm 216).

Dalam hidup ini kita hanya punya kepedulian dalam jumlah yang terbatas. Makanya harus bijaksana dalam menentukan kepedulian anda. ‘Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal, tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting,” tulis Manson halaman 6.

Kelebihan buku ini ada pada penerjemah yang sangat fasih menggunakan istilah-istilah populer kekinian, sehingga menciptakan perbincangan yang dibungkus dengan cerita yang menghibur serta humor yang cadas. Kelemahannya menurut saya ada pada setting cerita yang sangat Amerika terutama tentang gaya hidup yang sangat kebarat-baratan.

Jangan Baca Buku ini Jika Anda Seorang Pemalas

Akan tetapi jika anda seorang pemalas, sering menghabiskan waktu percuma tanpa arah yang jelas, dengan berkumpul bersama teman-teman, atau sibuk mencela dan mencibir keadaan, maka sebaiknya anda jangan membaca buku ini. Apalagi jika anda orang yang sok sibuk kesana kemari, berkumpul bersama orang-orang yang tidak jelas, pamer ini itu, padahal anda sebenarnya tidak punya pekerjaan, maka jangan harap anda akan senang membaca buku ini.

Karena buku ini ditulis hanya untuk anda yang ingin memiliki banyak waktu untuk berkreasi, mengemas kesulitan dengan solusi cerdas, dan orang-orang yang optimis, dimana di setiap kesukaran, atau masalah ada yang bisa kita lakukan. Seperti menyalakan lilin dalam kegelapan, atau berwirausaha daripada menjadi pengangguran, meski untungnya tidak seberapa, akan tetapi kita tidak duduk diam dan termangu. Maka orang-orang yang ingin menjadi kreatif itu pasti akan senang membaca buku Mark Manson ini.

Meskipun demikian buku ini merupakan tamparan di wajah kita semua untuk mulai menjalani kehidupan yang lebih memuaskan dan apa adanya. Orang tua, anak millennial hingga anak post-millenial pasti suka gaya menulis Manson. Sehingga tidak ada salahnya jika buku ini menjadi buku terlaris versi beberapa media di Amerika Serikat dan cetak ulang dalam bulan kedua di Indonesia.

22 Juli 2018, 10.39

Dalam peringatan hari Kartini hari ini tidak banyak yang ingin saya katakan. Karena sekarang ini saya lihat perempuan memiliki banyak peran di berbagai sektor, asal mau saja.

Satu hal yang ingin tekankan disini bagaimana peran perempuan bisa berkarya, sehat sampai lanjut usia. Kenapa ini penting, karena sekarang usia saya menjelang 40, mungkin pembaca masih berusia 25-38 usia-usia produktif untuk berkarya. Di usia yang semakin menua banyak ujian baik itu penyakit, kecelakaan bahkan hingga di tinggal orang tercinta.

Nah disitulah kita sebagai perempuan harus mandiri. Sejak sekarang harus menjaga kesehatan, menghindari stress, berkarya selagi bisa dan yang lebih penting adalah bermanfaat untuk sesama.

Seperti ibu yang ada di foto ini, sudah lanjut usia, namun tetap menganyam pandan untuk membuat tas kerajinan khas dari daun pandan. Di usianya yang kian menua, dia tetap bekerja dengan gembira.
Foto ini dari Mbak Rachmawati Jogja.

Berbahagia di hari tua, saat usia sudah senja. Bahagia di hari tua bukanlah kaya raya menumpuk harta. Berbahagia di hari tua adalah memiliki badan sehat, lebih mencintai keluarga dan hidup bermanfaat bagi sesama.

Cengkareng, 21 April 2018 Pukul 13.32

Jika di belantara ibukota penuh dengan hiruk pikuk dan dituntut serba cepat, di kampungku kehidupan berjalan biasa saja. Semua berjalan santai, tidak ada kemacetan yang berarti. Anak muda juga tidak selalu sibuk dengan gadget, setiap pagi begini banyak diantara mereka justru pergi ke sawah, membantu orangtuanya di sawah menanam, hingga memanen padi.

Perkembangan zaman telah membuat pemuda sekarang tidak seperti orang tua dulu jika ke sawah. Mereka sekarang tidak segan memakai celana jeans digulung, memakai kaos dan bertopi karena cuaca panas. Mereka mengikuti betul semua tahapan menanam padi. Dari mulai menggaru (membajak sawah) memakai kerbau  hingga musim panen seperti gambar di bawah ini.

Usai memanen padi dan dijemur, anak muda lainnya sesama tetangga membantu membawa padi yang sudah kering, memanggulnya di atas pundak kemudian di bawa ke penggilingan padi.

Begitulah kehidupan di bumi Pasundan, gemah, ripah, loh jinawi. Foto diambil tepatnya di desa Landeuh, Bantarkaret Lebak, Sukabumi. Posisinya tidak persis kampung saya, namun jalan sedikit ke arah selatan. Tetangga kampung masih satu desa. Desa ini berada di bawah kaki Gunung Walat, dekat sungai Cimahi.

Meskipun demikian tidak semua pemuda bertani. Sebagian ada yang kerja di home industri sandal, pegawai, wiraswasta, hingga menjadi TKI ke Jakarta dan luar negeri. Sedangkan yang perempuan selain menjadi ibu rumah tangga, sebagian ada mengajar, karyawan pabrik garmen, dan membuka usaha. Semua pekerjaan mulia di mata Tuhan, mari bertebaran mencari rejeki.

Kembali ke pemuda bertopi yang semangat menanam padi, saya jadi teringat beberapa pesan kedaulatan pangan yang sangat kuat seperti dalam buku Max Havelaar, juga sebuah acara bincang televisi tentang pasangan muda yang berhenti bekerja lalu memberdayakan petani dan mengelola sawah di Bantul Jogjakarta.

Semoga semangat pemuda ini menular kepada pemuda lainnya untuk kembali ke desa, menanam padi dan mengelola sawah. Baik itu sawah milik sendiri maupun milik orang tua.

12 April 2018, Pukul 11:20

Ibarat Hukuman Mati

Posted: April 2, 2018 by Eva in Humaniora, Inspirasi
Tags:

Siang ini aku lagi dengarkan radio swasta yang menyiarkan lagu – lagu tahun 2000-an yang diselang-seling dengan obrolan segar yang membuat aku tertawa lebar, merenung hingga terdiam.

Tema yang diangkat penyiar baik obrolan maupun lagu adalah tentang kisah cinta, jomblo, kecewa dan kesepian dikemas dengan santai.

Ada satu ucapan penyiar yang membuat aku galau. Si penyiar bilang kalau “Cinta itu ibarat hukuman mati, kalau enggak ditembak ya digantung,” wah jadi inget masa pacaran dan juga cerita-cerita lucu teman-teman kuliah saat masa-masa PDKT.

Tapi setelah itu kok tiba-tiba aku diam, ingat hukuman mati yang sekarang banyak melanda TKI dan TKW di Arab Saudi yang terancam dihukum mati.

Dalam hati aku berharap semoga di dunia ini tidak ada lagi hukuman mati…

Setiap bangun pagi apa yang kalian lakukan pertamakali setelah aktivitas rutin? Kalau saya selalu tidak sabar mengecek visitor traffic, atau grafik pengunjung. Selalu ada desir bahagia jika ada yang mampir ke blog kita, bahkan dalam sehari saya bisa pantau beberapa kali sampai menjelang tidur.

Meskipun komentar tidak begitu banyak, disuka dan dibaca orang saja saya sudah senang, maklum setelah 11 tahun punya blog baru awal tahun ini diusahakan setiap hari menulis. Dulu semaunya aja selagi sempat, kadang sebulan sekali, dua kali atau tidak menulis selama berbulan-bulan karena terkadang lupa kalau saya punya blog dan hampir ditutup seperti pernah saya tulis tempo hari.

Jadi setelah memantau traffic pengunjung,dan mendapat tambahan pengikut follower, saya baru punya sedikit pengikut di wordpress reader, (kurang dari 90), semoga bulan April ini jadi tambah semangat mengunggah (upload) tulisan.

Ada beberapa tulisan tertunda seperti perpustakaan yang saya kunjungi seperti Perpustakaan dan Arsip  di Jawa Barat,  Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Banten karena harus mengelompokkan gambar dari kamera yang berserak belum saya namain jadi rada agak repot (rempong) misahi-misahinnya, juga beberapa lokasi wisata seperti DKandang Farm di Pasir Putih, Danau dan bumi perkemahan Situ Gunung serta Kota tua.

Screenshot_2018-04-03-18-06-27-1

Begitu juga dengan resensi buku, ada yang sudah saya baca sampai selesai dan sudah di resensi tapi saya ragu untuk mengupload (mengunggah) tulisan, karena  agak ragu-ragu karena satu atau dua hal, jadi menunggu momen yang tepat.

Satu hal yang menggembirakan adalah para pembaca di wordpress reader yang juga saya suka membaca tulisan mereka kala senggang, blognya keren-keren. Dari yang cerita sekolah, anak kuliah, puisi, galau, perubahan iklim, hutan, jalan-jalan, dan beberapa blog resensi buku yang saya lihat semakin banyak muncul di timeline wordpressreader. Saya pun follow beberapa dan mengenal lebih dekat tulisan  (konten) blog mereka.

Sekali lagi terimakasih pengunjung yang sudah mampir ke blog saya yang sederhana ini dan karena sering ngetik dan upload di jalan memakai hp, jadi suka ada salah-salah ketik (typo)…mohon dimaafkan. Semoga kedepan bisa lebih baik lagi.

Selamat datang bulan April, mari kita sambut dengan sukacita.

Slipi, 1 April 2018 Pukul 10.43

Dalam dua tahun ini saya kehilangan dua orang yang dekat dengan saya dikarenakan penyakit kanker yang sangat ganas merenggut nyawa. Mereka dan keluarga enggan disebut nama lengkap, karena satu atau dua hal, jadi saya memakai inisial.

Dari mulai Kanker Usus Besar yang diderita kakak kelas waktu kuliah namanya (MSR) yang meninggal dunia di usia 40 tahun, bekerja sebagai PNS, awalnya tinggal di Cempaka Putih, namun setelah selama 1,5 tahun bergelut dengan kanker usus besar di rawat di Purbalingga.

Kedua, adalah teman SMA waktu Jalan Kapas Semaki, Jogja terkena Kanker Getah Bening,  (NHT), meninggal saat usia 37 th. Saya pernah memuat kisah beliau beberapa waktu lalu di sini.
NHT meninggal karena kanker getah bening, Ibu rumah tangga yang setia mendampingi suaminya yang bekerja di Kemendikbud, tinggal di Depok. Hanya 2,5 bulan menderita penyakit, dia akhirnya dibawa ke Bantul Jogja, di rawat di RS. Sardjito. Sungguh NHT sebaya sama aku saat wafat meninggalkan suami dan kedua anaknya yang masih usia Sekolah Dasar. Kini anaknya dititipkan di rumah mertuanya di Semin Gunung Kidul.


Aneka Pemicu kanker

Mari kita mengenali lebih dekat, beberapa gejala ketiga jenis kanker itu.  Apa yang saya ceritakan mungkin bukan persfektif ilmu kedokteran, karena saya bukan dokter, akan tetapi adalah dari cerita, berbasis pengalaman dan pengamatan keluarga terdekat yang tahu betul, kenapa mereka menderita kanker.

Dari cerita kerabat dan sahabat yang menemani selama almarhum dan almarhumah sakit, ada banyak pemicu kanker ketiga orang tersebut.

Pertama, (MSR) yang terkena Kanker Usus Besar, menurut kakaknya Kai Mei, ada tiga macam penyebab utama MSR terkena kanker usus besar. Pertama adalah makanan yang dikonsumi selama ini, yaitu suka dengan makanan yang penyajiannya cepat, enak. Kedua adalah pola makannya yang tidak teratur. Makan jika pas lapar saja, kadang tidak sarapan, makan siang terlambat. Dan yang ketiga ini mungkin banyak di alami kaum urban di ibukota, yaitu gaya hidup yang tidak teratur, dimana sering lembur dan menghabiskan waktu banyak, untuk nongkrong sampai larut malam.

Menurut Kak Mei, ketiga hal itu menjadi pemicu kenapa adiknya MSR terkena usus besar sampai meninggal dunia. Selama dirawat oleh keluarga, perawatan kanker usus besar ini ekstra hati-hati karena menjalar sampai saluran pembuangan, sehingga badan MSR tergerus kurus dan harus susah payah jika buang air besar.

Kedua, (NHT) Kanker Getah Bening ini ceritanya sangat panjang dan mengharukan. Awalnya, Sigit suaminya bercerita jika saat sisiran, NHT bertanya, kok leherku gatal ya, lalu dia garuk. Makin lama kok setelah digaruk, muncul benjol kecil yang empuk jika diraba, tampak kenyal dan berair. Setelah dirasa mengganggu tidak lama kemudian segera di periksa dan ternyata dia sudah terkena kanker getah bening stadium tiga. Dari situlah, Sigit sekeluarga boyongan dari Depok, pindah ke Jogjakarta dan rutin menjalani perawatan di RS. Sardjito.

Ada banyak pengalaman dari Mas Sigit ketika dia menceritakan pengalaman NHT 2,5 bulan kemotheraphi. Sungguh terharu dan menyesakkan dada, mengingat kita masih sebaya, disertai foto-foto saat masih ada.

“Nggih, bojo kulo niku gejalanipun nggih boten onten, tiba tiba bibar kerikan onten benjolan cilik, trus periksa ke dokter umum. niku menjelang puasa. nur taksih sehat puasa sampai hampir 3 minggu, terus mudik tgl 21 juni. tgl 22 periksa, disuruh operasi, diagnosa penyumbatan kelenjar ludah, trus ambil massa 0,5cc. tgl 5 juli dr hasil PA rs bethesda didiagnosa NHL (LIMPOMA NON HODGKIN). Kami rembukan karna disuruh kemo, saya pindahin rujukan askes/bpjs istri ke Bantul. thp 1 kemo tgl 25 juli, hasil lab dari RS sardjito keluar utk pastikan penyakitnya. thp 2 tgl 15 agustus, tp ngedrop mk dirawat tgl 15 tsb, tgl 16 kemonya, tgl 17 September pulang” ujar Mas Sigit menjelaskan.

Sampai saat meninggalpun, Mas Sigit tidak tahu apa penyebab kanker getah bening. Sebelum sel kanker menyerang, tidak ada gejala apa-apa tiba-tiba muncul, pemicu dari kebiasaan makan juga kecil atau jarang. Namun ada satu hal yang ia katakan dan saya berusaha mengingatnya untuk menjadi pelajaran di masa depan. Berikut saya kutip.

 

Kepada MSR dan NHT  yang sudah meninggalkan kami semua terlebih dahulu, semoga diterima amal ibadahnya di Sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kami memetik hikmah dari semua ini. Menuntun kami agar senantiasa lebih berhati-hati dan bisa mengantisipasi serta menghindari penyakit kanker yang kian merajalela.

Depok, Kamis 29 September 2018
Pukul 14.33

Air, seperti halnya tanah, api dan udara adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Sudah selayaknya kita hemat, jaga, dan lestarikan sepanjang masa.Anugerah yang luar biasa dari yang maha Kuasa.

Ada beberapa beberapa hal yang sering tidak kita sadari tentang kebiasaan kita terhadap air.

Pertama, jika minum air baik air putih, kopi, teh atau susu, sirup dan sejenisnya jangan lupa harus dihabiskan.

Kedua, Jika di suatu acara kita disuguhi air kemasan, jangan lupa juga harus dihabiskan dan botol atau cupnya kita buang. Jangan sampai selesai acara bertebaran botol-botol berisi air baru diminum sedikit atau setengah sudah ditinggalkan begitu saja.

Ketiga, jika kita menyiram tanaman, mandi, mencuci piring atau pakaian, sesudahnya jangan lupa keran dimatikan dengan rapat jangan sampai menetes karena jika lama-lama tetesan air itu akan sia-sia.

Keempat, jangan lupa bawa botol minuman atau thumbler jika bepergian kemanapun anda pergi. Jika kita hemat air dari sekarang berarti kita memberi kehidupan yang lebih baik bagi masa depan anak cucu kita. Jangan sampai mereka tidak bisa mandi atau membeli air dengan harga tinggi karena airnya sudah kita habiskan dari sekarang.

Kelima, jika musim hujan tiba, jangan lupa keluarkan ember-ember yang kita punya, baskom dan lain sebagainya untuk menadah air hujan. Setelah terkumpul bisa buat mandi, wudhu, mencuci, atau menyiram tanaman.

Di negara kita air melimpah, kecuali mungkin di beberapa daerah di Indonesia Timur seperti NTT. Coba lihat saat anda berkunjung ke luar negeri, di beberapa negara banyak toilet yang tidak menyediakan air, harus pakai tissue, begitu juga di Afrika mereka kesulitan air. Jadi bersyukurlah kita tinggal di Indonesia yang memiliki banyak sumber mata air.

Mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan tentang hal-hal sederhana yang mungkin karena satu atau dua hal kita lupa berkaitan dengan air yang ada di sekitar kita. Tidak bermaksud menggurui, hanya sekedar berbagi.

Semoga bermanfaat.

Selamat memperingati hari air sedunia 2018, World Water Day 2018.

Depok, 14.47 WIB

Filosofi Bunga Matahari

Posted: March 15, 2018 by Eva in Inspirasi, Rumah

Suatu hari saya pernah bertemu seorang perempuan yang mengatakan jika prinsip hidupnya ingin seperti bunga matahari.

Apa itu filosofi bunga matahari? Dia mengatakan jika bunga matahari itu bersinar di pagi hari dan merunduk di senja hari.

Setelah saya renungkan dalam-dalam, bagus juga ya. Akan tetapi, satu bulan lalu saya ingin menanam bunga matahari dan saya pun beli di tukang bunga dan di tanam di pot. Saya ingin tahu betul seperti apa bunga matahari. Awalnya beberapa hari bagus, kuning bersinar saya senang memandangnya berlama-lama. Kilaunya yang kuning keemasan membuat hati ini cerah ceria.

Namun tidak lama kemudian, bunga matahari di depan rumah kok layu. Wah saya kecewa, saya mulai mempertanyakan filosofi bunga matahari. Sayang ya, indah kemilau tapi tidak tahan cuaca. Kena panas dan hujan layu lalu mati.

Lantas dalam hati pun saya berpikir, wah ternyata filosofi itu adakalanya perlu dipertanyakan lebih lanjut jangan ditelan mentah-mentah. Saya tidak mau seperti bunga matahari yang gampang layu kena cuaca tidak menentu…

Pamulang, 17.40 WIB

Lelaki Bertongkat Kuning

Posted: March 14, 2018 by Eva in Inspirasi, Puisi

Seorang lelaki tua
Berkacamata dan bertopi hijau
Tampak kelelahan
Duduk di kursi busway

Tangan sebelah kirinya
Memegang tongkat berwarna kuning
Sebuah batu akik biru
Menempel di jari kelingkingnya

Sesekali kepalanya bersandar
di kursi busway berwarna biru
Namun, sekejap kemudian terbangun
Melihat sekitar, terkantuk lalu bangun lagi

Meski alunan lagu di busway
terdengar merdu
Bapak tua ini tetap saja termangu
Tertunduk lesu di tengah bis yang terus melaju

Dua orang perempuan paruh baya, turun dari kereta dengan barang bawaan yang penuh di kanan kirinya.

Setiba di stasiun, salah satu dari mereka membawa barangnya keluar. Karena kereta masih lama tiba di tujuan, kita pun lalu bertegur sapa.

“Bawa apa itu bu, sepertinya kok berat” saya bertanya kepada perempuan berkerudung ungu muda itu. “Biasa mbak oleh-oleh dari kampung,” ujarnya seraya tersenyum.

Lalu Ibu – ibu paruh baya itu menjelaskan jika orangtuanya memberinya banyak oleh-oleh buat di bawa ke Jakarta.

“Ini beras dan kerupuk dari orangtua saya, kalau pulang saya tidak bisa menolak menerima oleh-oleh dari mereka mesti berat, ada 12 kg ini mungkin berasnya,” ujarnya yang baru saja pulang dari Prembun Kebumen.

Sering kita tidak menyadari bahwa orangtua di rumah, jika masih ada selalu menanti kehadiran kita ke kampung halaman setiap saat. Di usia yang mulai senja, melihat anaknya sehat dan berguna bagi masyarakat tentu menjadi impian bagi setiap orangtua.

Begitu juga dengan doa dan harapan yang selalu ia doakan semoga anaknya di rantau selalu selamat dan terhindar dari marabahaya.

Begitu kita pulang anak-anaknya, maka apapun yang dia punya entah hasil bumi atau makanan yang ia bikin sendiri atau beli akan di bawakan untuk anak tercinta. Seperti halnya Ibu paruh baya ini yang membawa beras dan kerupuk.

Meski orangtua saya sudah tiada, saya selalu terharu kalau melihat kebaikan dan kasih sayang orangtua pada anaknya. Bagaimanapun cinta kasih orangtua adalah cinta kasih sepanjang hayat.

Saya jadi ingat ada nasehat bijak dari Master Cheng Yen yang suka saya lihat di DAAI TV.

“Ada dua hal yang tidak bisa ditunda, yaitu berbakti pada orang tua dan berbuat kebajikan,” Master Cheng Yen

“Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.”


- Ali Bin Abi-Thalib –

 

 

Kalimat itu menjadi pegangan Edy Fajar Prasetyo, dalam mencintai buku. Bagi anak kelima pasangan Tupon Amat Iksan dan Ratna Nirmala Ningsih, buku adalah Jendela Dunia. Dengan membaca buku kita bisa melanglang buana kemanapun kita suka. Tidak berlebihan jika kutipan Ali bin Abi Thalib membuat kita menyadari bahwa meluangkan membaca buku dengan rileks dan santai akan membawa kita pada kebahagiaan dan membuka wawasan.

Namun di era sekarang ini, Edy menyadari di tengah maraknya gadget dan perangkat gawai atau smarthphone di mana-mana, kecendrungan orang membaca buku kian menurun. Masyarakat lebih senang membaca berita dari media online atau berita hoax sehingga mudah terprovokasi.  Indonesia memiliki tingkat yang rendah dalam kemampuan membaca buku dibanding negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Thailand dan Singapura, hal ini tentu memprihatinkan.

Salah satu cara untuk meningkatkan minat literasi atau kemampuan membaca buku yang dilakukan pemerintah adalah menggalakkan pendirian Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di berbagai wilayah Indonesia, termasuk mencari siapa pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas) Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2017 yang berlangsung di Bengkulu, 9-15 Juli 2017 lalu. Tahun ini yang terpilih menjadi juara adalah Edy Fajar Prasetyo CHc, CHt dari TBM Serambi Tangerang Selatan.

Memadukan Taman Bacaan Masyarakat dan Lingkungan Hijau

Konsep yang digagas TBM Serambi sangat unik dan keren. Bagaimana tidak, saat ini pemerintah sedang mengkampanyekan tentang lingkungan yang hijau dan mengantisipasi perubahan iklim. Dimana-mana masyarakat sedang berolahraga dan berkebun, mengurangi bahan dasar kelapasawit untuk minyak dan kosmetika dan minyak goreng dan pola hidup go green. Edy pun tidak mau kalah, setelah menyelesaikan kuliah di jurusan Agribisnis di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Eddy mendirikan TBM Serambi dengan memadukan hobi membaca dengan kepedulian terhadap Lingkungan Hidup.

Lahir dikeluarga yang sederhana mengajarkan Edy banyak hal bahwa “melakukan yang terbaik” dalam aspek apapun menjadi kunci kita bisa bangkit dan merubah keadaan yang ada.  “Nilai tersirat itu saya sering temukan dari aktivitas Bapak sebagai buruh swasta dan ibu sebagai ibu rumah tangga yang selalu tulus ikhlas dalam berikhtiar,” ujarnya bangga pada didikan orangtuanya.

Begitu juga dalam mengelola TBM Serambi yang berlokasi di pamulang Tangerang selatan yang nota bene cukup dekat dengan teritorial yang maju, karena kondisi masyarakat yang heterogen dan dekat dengan atmosfer akademisi. Namun hal ini tidak selaras dengan beberapa kondisi yang ditemui pada generasi belia dan muda kita yang mengalami krisis figur. Banyak dari generasi muda saat ini yang belum memiliki arah dan tujuan, padahal ini menjadi krusial karena apabila mereka tidak memilikinya maka tidak ada gairah untuk mengalami setiap dinamika kehidupan yang mereka hadapi.

Oleh karenanya TBM Serambi memfasilitas melalui penyediaan berbagai buku buku pengembangan diri sejak usia dini untuk mampu memberi stimulan bagi para pembacanya dalam menemukan pilihan terbaik dari segi cita cita, impian, harapan dan niat mulia lainnya. Lalu Edy menginisiasi upaya kolaboratif dengan para profesional untuk berbagi “inspirasi” kepada masyarakat.

Edy menyadari jika Kota Tangerang Selatan adalah kota yang padat penduduk, bahkan menduduki peringkat ke 10 kota terpadat di Indonesia. Hal ini menjadi masalah besar karena akan menghasilkan sampah yang banyak. “Saya berpikir keras bagaimana agar sampah dapat dijadikan potensi lokal yang bermanfaat bagi hidup manusia,” ujarnya sambil menerawang.

Setiap sampah yang distimulano oleh Edy dan teman-teman untuk dapat dipilah dari rumah tangga #GPS “Gerakan Pilah Sampah” kemudian dapat didayagunakan dan diperanjang usia pakainya dengan cara recycle dan upcycle. Maka melalui Inovasi Participatory Rural Appraisal dengan menggunakan media buku-buku tentang keterampilan mendaur ulang sampah plastik, pengelola mengajak warga memanfaatkan sampah plastik ini menjadi barang yang berguna.“Tujuannya untuk membantu merangsang minat para ibu kepada buku dengan merujuk kepada buku yang dapat dipraktekkan langsung, yaitu mengolah sampah non organik, juga dimaksudkan untuk dapat memberdayakan,” ujar lelaki berkacamata yang hobi traveling ini menegaskan.

Strategi Pengelolaan TBM  Berkelanjutan Berlandaskan Participatory Rural Appraisal (PRA)

Melalui Inovasi Participatory Rural Appraisal pengelola TBM Serambi, merubah paradigma negatif dari sampah menjadi hal yang lebih memiliki value yakni “SAMPAH” berarti Selalu Akan Mudah apabila Ada Harapan.

Berdasarkan pengalaman yang ia miliki selama ini mengelola TBM, lelaki kelahiran Jakarta 17 September 1992 ini membuat Karya Nyata berjudul “Inovasi Strategi Pengelolaan TBM Berkelanjutan Berlandaskan Participatory Rural Appraisal (PRA) Untuk Mewujudkan Masyarakat Gemar Membaca Yang Pandai, Piawai Dan Persona” di Bengkulu 9-15 Juli 2017.

Karyanya ini memikat juri karena konsep TBM Serambi termasuk baru,  ecogreen dan sangat layak untuk diterapkan di daerah lain dalam rangka menghadapi perubahan iklim global. Apa yang diperoleh Edy adalah pencapaian yang selama ini banyak diusahakan para pengelola TBM di seluruh Indonesia.

Ikhlas dalam Berikhtiar

Selain mengelola TBM Serambi, Edy memang memiliki kemampuan lain yang tidak kalah membanggakan. Edy yang sejak kecil bercita-cita menjadi pengusaha ini juga seorang penulis buku “Kami Berani Beda” (Young Social entrepreneur Indonesia)danConsultant (Green Social Creative Entrepreneurship). Meskipun memiliki banyak aktivitas dan kegiatan TBM, Edy tetap bersahaja dan rendah hati. “Menjadi juara I sungguh di luar ekspektasi, saya sangat berterimakasih pada semua pihak yang telah membantu saya selama ini,” ujarnya penuh syukur.

Lelaki yang memiki prinsip hidup “Sebaik baik insan adalah yang paling bermanfaat” kedepan ia memiliki banyak rencana jangka panjang yang ingin dilaksanakan di usianya yang masih muda. Namun apa pun yang dilakukannya dia selalu ingat yang diajarkan orangtuanya. “Saya ingin seperti kedua orangtua saya yang selalu tulus ikhlas dalam berikhtiar,” ungkapnya sepenuh hati. (ER)

Edy Fajar Prasetyo CHc, CHt, Juara I Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) pada Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas)  Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2017

NB:
Mulai hari ini dan seterusnya ada dua kategori baru yaitu, Perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Serambi milik Edy Fajar Prasetyo adalah tulisan pertama berkaitan dengan Taman Bacaan.

Jakarta, 28 Februari 2018
Pukul 09.13