Archive for the ‘Inspirasi’ Category

Saat aku menulis refleksi tentang perempuan, korupsi dan karya sastra, aku teringat pertemuanku dengan penulis buku “86” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) waktu itu penulisnya Okky Madasari. Waktu itu aku masih kerja di Kalibata atau di mana ya lupa, atau malah sudah tidak kerja, tapi aku dapatkan undangan peluncuran buku itu di twitter atau di media sosial.

Disitulah aku kenal pertamakali dengan para pembicara, ada Febridiansyah dan sang penulis sendiri, Okky Madasari. Tapi yang mengejutkan ternyata aku disana berjumpa sahabat lama ketika berkantor di majalah Media Internal Pendidikan dulu namanya Ika, Dosen Universitas Paramadina. Di sanalah pembicaraan kita mengalir tentang apa itu korupsi, perempuan dan karya sastra.

Saat ini setahuku Okky adalah anggota Dewan Kesenian Jakarta, akan tetapi setelah judul bukunya yang terakhir terbit, dia lupa apa itu yang namanya 86, dia bahkan sekarang suka jalan-jalan ke luar negeri pakai uang atas nama 86, padahal itu uang yang digelembungkan dari anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menghadiri event-event menulis internasional.

Aku pernah menghadiri event Ubud Writers dan Readers Festival, akan tetapi memang namanya uang rumah tangga itu tidak boleh dipakai untuk jalan-jalan, sehabis itu aku selalu ingin jalan-jalan apalagi jika mendapat uang rapat dari suami di kantor aku, aku melihat bahwa uang rapat itu adalah uang untuk jalan-jalan.

Setelah sekian lama berlalu, aku banyak menulis dan membaca buku terutama buku karya pendiri Partai Rakyat Demokrat (PRD) yaitu Arief Budimaan, bahwa dalam salah satu esainya ia mengatakan bahwa yang merusak pergerakan atau orang-orang yang bergerak dalam kebaikan adalah uang rapat, sedangkan yang menjaganya adalah menahan diri dari segala godaan.

Jadi seperti apa kaitannya antara perempuan, korupsi dan karya sastra adalah bagaimana jika para penulis baik yang berprofesi ibu rumah tangga, freelance atau pun bekerja di lembaga semacam Dewan Kesenian Jakarta itu bergaji besar tapi tidak ada uang-uang rapat.

Dengan demikian, tidak ada lagi uang yang dipakai untuk jalan-jalan, entah itu ke mall atau belanja online seperti yang dilakukan Ibu Iriana Joko Widodo. Jadi jika suami tidak ada uang rapat dan gajinya besar, maka semua istri akan senang, apalagi jika istrinya juga bekerja.

Jakarta, 5 Desember 2017
04.49

Advertisements

Judul Buku: Orang-Orang Proyek
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit Pertama: Penerbit Jendela dan Penerbit Matahari
Penerbit Kedua: Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Pertama, Januari 2007

Sindikat Orang-Orang Teraniaya

Sampul-Orang-Orang Proyek

Sampul-Orang-Orang Proyek

Aku membaca buku ini saat makan siang di depan FX Sudirman. Saat itu aku sedang di Perpustakaan Kemendikbud dan ingin makan siang dengan para kuli bangunan yang sedang membangun Mass Rapid Transportation (MRT) dan juga para kuli bangunan yang sedang membangun sarana Gelora Bung Karno (GBK).

Sebenarnya aku ingin membawa buku ini kesana, membaca bersama teman-teman kuli bangunan di GBK depan FX Sudirman, seperti apa rasanya mengerjakan pembangunan Indonesia Hebat dengan menjadikan kami kerja seperti kerja rodi zaman Jepang.

Lalu aku kembali ke Perpustakaan dan ternyata buku Ahmad Tohari Orang-Orang Proyek ini belum aku baca sama sekali. Akan tetapi, apa yang kubaca tidak jauh berbeda dengan apa yang kulihat sekarang. Bedanya, di buku ini tokoh utama Pak Tarya, Kabul, Wati dan para kanca (teman-teman Pak Tarya) sedang membangun jembatan, maka apa yang ku rasa di dalam kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan miris orang-orang proyek ini lebih buruk dibanding kehidupan dan cerita telanovela.

Aku memang tinggal di Pamulang, akan tetapi di kehidupan sehari-hariku ada banyak kuli bangunan, mereka berasal dari keluarga dan tetangga serta para pencari kehidupan. Akan tetapi di kota besar kehidupan mereka digadaikan pada akhir proyek pembuatan. Mereka ingin beli bakso, ingin beli makanan keliling selain makanan rumahan, akan tetapi tidak punya uang, itulah kehidupan orang-orang proyek.

Apalagi di kota besar seperti di Jakarta, mereka mau makan saja susah, harus jauh ke dalam mengambil jatah, sampai lokasi sudah lapar duluan, akan tetapi ya itu semua untuk mencari kehidupan. Akan tetapi di kota besar mereka lebih senang, karena dapat fasilitas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang akan di dapat jika mereka sakit dan meninggal dunia. Ngeri sekali, masa meninggal dunia diasuransikan seperti para pekerja di Jepang yang bunuh diri karena tidak ingin mendapat asuransi.

Pamulang 4 Desember 2017
17.44

Sampul Buku-Rumah Bambu

Sampul Buku-Rumah Bambu

Cerita Sederhana yang Menukik Hati

Jika anda ingin membaca cerita-cerita yang ringan, pendek dan sangat menyentuh perasaan, anda harus membaca Kumpulan Cerpen karya YB.Mangun Wijaya atau akrab biasa disapa Romo Mangun dalam salah satu Kumpulan Cerpennya berjudul “Rumah Bambu” yang diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia (Penerbit KPG).

Buku ini sebenarnya buku lama, saya harap Penerbit berani untuk menerbitkan kembali buku-buku ini untuk generasi di masa yang akan datang yang lebih mencintai kesederhanaan dan hidup bersahaja dibanding dunia anak muda sekarang yang serba digital dan penuh hiruk pikuk belaka.

Ada satu peristiwa dalam hidup Romo Mangun yang di kemudian hari menjadi cerita “legendaris”. Seorang teman menyebut peristiwa itu sebagai tragedi lem kanji. Suatu ketika Romo Mangun menyuruh salah seorang pembantunya membuat lem kanji. Kebetulan Romo sedang membutuhkan banyak lem, sementara ia enggan membelinya di toko. Selain mahal dan bikin boros, memang demikianlah prinsipnya: Jangan mudah membeli sesuatu yang sebenarnya dapat dibuat sendiri. Lem kanji yang dipesan pun jadi.

Celaka, Romo bukannya senang, tetapi malah marah, sebab lem kanji itu terlalu banyak dan mubazir. Sambil marah, Romo mengambil piring, sendok, garam, lalu menyodorkan kepada si pembuat lem kanji itu dan menyuruh memakannya. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, tapi peristiwa itu benar-benar terjadi.

Dari cerita di atas dapat kita simbulkan bahwa kita harus pandai-pandai menilai diri sendiri. Suatu hal atau barang yang menurut kita mahal, belum tentu mahal menurut orang lain. Lebih baik kita membeli sedikit lem kanji daripada memarahi orang yang membuatkan kita lem kanji dengan banyak dan kelelahan agar mendapat upah.

Dalam buku yang terdiri dari 20 Cerita pendek (Cerpen) yang belum pernah di publikasikan ini, semua cerita yang ada dikemas secara artistik dan menggelitik namun cetar membahana. Kita akan di bawa ke dalam cerita bencong yang menyamar menjadi pengamen, hingga cerita-cerita sederhana lainnya yang menyentuh hati dan memekakkkan telinga.

Jadi tunggu apa lagi, datang saja ke Perpus Kementerian Kemendikbud untuk membaca buku ini, jika Penerbit KPG enggan menjualnya kembali, karena royaltinya belum diterima sama Romo Mangun Wijaya.

Jakarta, 4 Desember 2017

Posted: October 13, 2017 by Eva in Humaniora, Inspirasi, Puisi

Just The Way You Are

Jadilah Diri Kamu Apa Adanya
Tidak Pura-Pura Berpunya
Tidak Juga Menjadi Miskin Peminta-Minta

Karakter Orang Adalah
Watak, Watuk dan Wahing
(Watak, Batuk, Bersin)
Sudah dari Sananya
Lewat Pembiasaan, Keluarga dan
Lingkungan Pergaulan
Semua Akan Berubah Menjadi Lebih Baik
Atau Sebaliknya

Jika Kamu Sukses Atau Tidak
Biar Orang Lain yang Bicara

Jakarta
13 Oktober 2017

Ada tiga hal  yang berubah dalam beberapa waktu belakangan, kaitannya dengan usaha dan kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Aku menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi setidaknya untuk berbagi cerita atau sharing bahwa kelestarian alam, lingkungan dan perubahan iklim adalah hal yang selama ini harus terus kita kampanyekan mulai dari dalam diri kita sendiri. Bukan hanya sekedar berkoar-koar.

Pertama yang ini membutuhkan banyak sekali pertimbangan adalah aku berhenti jualan sandal. Sudah sejak kecil, keluarga kami di Sukabumi turun temurun berbisnis sandal. Bahkan aku dan kakakku bisa kuliah di Jogja dan di Sukabumi karena usaha keluarga ini. Sungguh berat aku harus menghentikan bisnis yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Ada rasa nyesek dalam hati ketika ada pesanan dari beberapa teman berkaitan dengan sandal tapi aku tidak bisa memenuhinya.

Alasan utama aku berhenti jualan sandal adalah karena faktor limbah industri kecil kami di kampung yang sulit di daur ulang, ya memang harus dibakar. Awalnya sedikit akan tetapi karena orderan dari berbagai daerah melimpah, makin hari makin banyak. Dari lima orang kakakku laki-laki, empat diantaranya berbisnis ini dan aku sebagai adik sudah sejak SMA membantu berjualan. Hingga akhirnya pada tahun lalu, 2016, aku memberanikan diri mengemukakan alasan, dan semoga kakak-kakakku tidak surut bisnisnya karena alasan ini. Akan tetapi mereka memahami, bahwa bahan dasar industri sandal adalah karet. Dengan segala keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjualan sandal.

Kedua, Aku berhenti memakai lipstick. Aku kira ini terobosan besar. Sangat sulit di awal aku melakukan, karena sebelumnya aku termasuk yang suka dandan. Lebih dari 10 warna lipstick aku punya dari berbagai merek, dari yang paling murah sampai yang lumayan. Aku senang berburu warna lipstick kekinian. Tapi sejak September tahun lalu, sepulang aku dari Bali, aku sudah tidak menggunakan lipstick. Berat rasanya aku membuang semua lipstick di ruang kosmetik, aku sangat sayang, tapi aku sadar apa itu bahan dasar lipstick dan kosmetik lainnya, yaitu kelapa sawit. Jika Eka Kurniawan memiliki novel berjudul Cantik itu Luka, maka saya mengibaratkan lipstick itu demikian. Untuk membuat tampak cantik, kita harus merusak lingkungan, kita tidak tahu bagaimana kelapa sawit itu ditanam harus membakar hutan, merusak ekosistem. Begitu juga saat pengolahan dari kelapa sawit menjadi alat kosmetik, banyak para buruh yang diupah murah, sementara lipstick dijual mahal untuk kepentingan pemilik modal. Di balik aneka lipstick yang warna warni, ada beberapa nilai berkaitan dengan lingkungan dan kemanusiaan yang aku pertimbangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, langkahku tidak menggunakan lipstik ini dianggap ekstrim atau lebay. Tak apalah untuk melakukan suatu perubahan kita harus siap dibilang beda, dimusuhi atau ditinggalkan teman. Tapi perubahan-perubahan besar berkaitan dengan lingkungan adalah dengan melakukan hal-hal kecil yang menurut kita benar, yang itu mudah-mudahan jika orang membaca tulisan ini akan berbuat demikian, tapi bukan merupakan suatu paksaan.

Ketiga: Hemat air, Energi dan Mulai Menanam. Awal tahun lalu hujan terus mengguyur bumi Pamulang, aku selalu siapkan menadah ember-ember di dapur aku keluarkan. Biasanya airnya aku pakai berwudhu, mandi atau menyiram tanaman. Begitu juga bilasan air cucian piring, tidak aku buang yang sudah tidak ada sabunnya aku siram. Aku sangat hemat menggunakan air, untuk berwudhu secukupnya. Beberapa waktu lalu aku sering dimarahin mas arif karena lupa matikan keran, sehingga air melimpah kemana-mana dan bagiku itu suatu peringatan.

Selain air, aku juga sekarang belajar untuk tidak sering menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, jangan terlalu sering mencuci mobil dan usahakan semaksimal mungkin untuk naik kerta, commuter atau kendaraan daring jika bepergian. Semua aku lakukan dengan penuh kesadaran, begitu juga suami, dalam hal ini kita memiliki banyak kesamaan. Kita berdua kalau akhir pekan lebih banyak di rumah, ngurus tanaman dan istirahat panjang, tidak begitu suka bepergian. Paling banter ke Sukabumi, kalau ada hari-hari besar. Tidak seperti dulu, waktu masih ada orangtua.

Berkaitan dengan kebiasaaan menanam. Awalnya berasal dari sampah rumahtangga yaitu sayuran busuk seperti cabe, tomat, dan lain-lain yang kalau tidak dimasak, sayang aku buang. Aku jemur, lalu aku simpan bijinya dan kumpulkan.

aneka benih

Sudah banyak sebenarnya, aku wadahin rencana mau aku pisahin di kertas aku kasih label nama sayuran dan buah, cuma belum sempat beberapa bulan terakhir aku banyak deadline pekerjaan, sehingga adakalanya aku sabtu minggu tidak pulang.

 

Tapi minggu ini, sudah kembali normal, aku kembali menyiram tanaman, mengumpulkan benih, memasak dan bikin kue kesukaan. Mungkin itu saja, cerita yang aku ingin bagikan kepada teman-teman. Tidak ada maksud untuk gagah-gagahan, tapi ini semua kulakukan karena aku sangat percaya akan adanya hari akhir, atau hari kiamat. Siapa bilang isu perubahan iklim tidak berkaitan dengan hari akhir. Aku percaya akan semua yang diceritakan Al-qur’an bahwa ketika sumber daya alam diambil secara serakah oleh manusia maka gunung meletus sudah terjadi, gempa bumi dan banjir bandang terjadi dimana-mana, itu karena kita tidak peduli lingkungan dan serakah atas semua ciptaan Tuhan.

tomat

Kekayaan alam dikeruk untuk kepentingan pribadi dan pemilik modal, maka orang akan beramai-ramai untuk mengumpulkan uang. Kita tidak ingat seperti apa anak cucu kita di masa depan. Apakah mereka masih bisa makan enak dengan sayuran atau lalapan seperti yang kita makan sekarang? Atau mandi aja sulit karena tidak air, karena airnya habis untuk dijual air kemasan atau mencuci mobil agar kelihatan kinclong.

 

Suatu hari orang akan sadar, ketika ikan terakhir kita makan, ketika tidak adalagi tanah yang bisa ditanam, disitulah orang baru sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Bukan aku tidak butuh uang, tapi setidaknya kita bekerja harus seimbang, terutama dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Pejaten 25 September 2017
Pukul 9.40

Belakangan ini ada banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan beberapa kegiatan yang kuikuti belakangan, namun entah kenapa untuk memenuhi penulisan terasa sulit mengatur waktu, beberapa hal yang ingin aku tulis adalah, Jurnal untuk Fakultas Tarbiyah, Jurnal untuk STAIN Pekalongan, Pengalaman 5 hari mengikuti event Ubud Writers and Readers Festival di Bali,15 Tahun Supernova, 4 Film pendek Wregas Bhanuteja, Digital Diplomacy CSIS, review buku2 pemikiran filsafat Islam, Materi Tafsir Alquran yang telah kuikuti setiap Rabu di Pusat Studi Alquran Pondok cabe, Resep bikin Puding, Pameran Filantropis, Perkembangan Buku Digital, Pemikiran dan refleksi hari guru nasional, dan Opini Pribadi saya tentang Truth Of Claim.

Semua itu tiap hari membayangi saya ketika bangun tidur, mana yang saya harus tulis terlebih dahulu. Deadline muncul tiap detik dan saya tidak bisa mengendalikan diri. Semua masih dalam tahap baca buku, pengumpulan data dan rangkaian struktur penulisan. Ada majalah dan buku referensi yang hilang membuat saya kalang kabut untuk bisa menuntaskan semua itu, kembali mencari pengganti dan rempong sana sini mencari buku yang hilang, belum lagi telat mengembalikan buku yang dipinjam ke perpustakaan.

Saat saya dihadapkan dengan semua itu, keasyikan di media sosial membuat saya lupa diri akan membaca buku dan tugas kewajiban menulis, dan sibuk mengamati perang medsos yang semakin hari semakin mengerikan. Saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat status tentang hal yang provokatif dan menyakitkan ormas atau organisasi mahasiswa yang sedang ramai dibicarakan. Tidak menulis status bukan berarti tidak peduli, tapi menghindari klaim bahwa saya paling benar. Politik semakin tidak menarik dan kebencian di media sosial mem1buat satu sama lain saling unfriend, unfollow.

Terlepas dari itu semua, saya gembira buku saya kedua sbg ghostwriter terbit dan akan di launching 10 november di Manado dan Jakarta. Sehabis itu jadwal menanti kemungkinan adalah buku tentang Kedaulatan pangan, juga sebagai Ghost Writer. Mungkin awal Desember baru mulai.

Saat saya galau, tiba-tiba seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Hasani Ahmad Said, saat kajian di PSQ menceritakan saat-saat terbaik menulis dan pengalaman dia waktu menyelesaikan studi S3 Doktor Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Dia bercerita tentang kisah beberapa tokoh yang mendisiplinkan diri untuk menulis.

Menurut Pak Hasan, saat paling tepat menulis bagi tiga guru besar UIN bermacam-macam. Pertama Pak Quraish Shihab, dia selalu menyempatkan menulis usai shalat subuh sampai jam 7 pagi, itu rutin dia lakukan, kalau tidak menulis ya membaca.

Lalu kedua adalah Pak Azyumardi Azra, Kapan beliau produktif menulis? Menurut Pak Hasan, Pak Azyumardi selalu berangkat jam 6 ke kantornya sejak beliau jadi dosen, padahal dia mengajar mulai jam 9 atau jam 10, nah saat sampai di kantor sampai tiba waktu mengajar, disitulah dia menulis artikel, opini dan buku.

Lalu Pak Hasan cerita sendiri kesibukannya dia saat menulis disertasi. Dalam waktu setahun dia full waktunya habis di perpustakaan dan kost-kostan, bergelut dengan buku, makan dan tidur. itu saja tidak ada aktifitas lain, selama enam bulan terakhir tambah intensif semakin mencintai buku dan melupakan cinta-cinta yang lain…ahai..”untuk itulah kenapa saya baru menikah setelah lulus menjadi doktor”.

Pengalaman dari ketiga orang guru besar UIN yang diceritakan Pak Hasan, saya catat dan garis dengan stabillo tebal, siapa tahu akan berguna buat saya saat ini atau suatu hari nanti. Mungkin itu yang saya ingin tulis hari ini dan saya berterimakasih kepada Ibu Lilik Umi Kaltsum MA, ibu nyai yang menjadi guru mengaji saat saya di Sunan Pandanaran dulu dan sekarang menjadi ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliaulah yang mengajak saya mengikuti kajian di PSQ setiap rabu dengan materi yang
menarik dan berbagai metode tafsir Alqur’an.

bersama Ibu Nyai Lilik Umi Kaltsum, Guru Ngaji di PPSPA Jogja

Foto Bersama Bu Nyai Lilik Umi Kaltsum di rumah Ning Mainunah

Selain butuh disiplin waktu, tempat yang cozy juga baik untuk menulis, seperti perpustakaan dan rumah, jangan lupa matikan gadget anda saat menulis, jangan terlalu percaya atau copy paste google, menulislah dengan murni pemikiran sendiri, cara anda sendiri, dan jangan lupa sertakan referensi.

Gedung C Lantai 4
Sudirman 8 November 2016
Pulul 14.54

Resensi Buku: 1 Team 1 Goal (Berhenti Menutup diri Mulailah Memberi)
Penulis : Mega Chandra
Editor : Diane Novita
Penerbit : Grasindo 2016

sampul-buku

Sampul buku 1 team 1 Goal

Sekarang ini bukan lagi zamannya “Aku” melainkan “kita”. Membangun kesuksesan di era milenium seperti saat ini membutuhkan kolaborasi yang kuat untuk bahu membahusatu sama lain. Itu sebabnya manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri. Ini karena kita adalah mahluk sosial yang dipastikan membutuhkan orang lain.
Sangat sulit kita hindari apabila kita sangkal jika kita tidak membutuhkan orang lain di sisi kita. Sebagai pria (suami) membutuhkan perempuan sebagai pendamping (istri) begitu pula sebaliknya. Kita sebagai atasan membutuhkan rekan (bawahan), begitu pula sebaliknya karena seorang atasan tidak mungkin disebut atasan tanpa memiliki bawahan.

Semua itu membutuhkan satu tindakan yang kita sebut kolaborasi, teamwork yang kuat. Coba kita bayangkan, pernahkah kita melihat seseorang dapat menguburkan dirinya sendiri ke dalam liang kubur tanpa bantuan orang lain saat dia telah meninggal dunia? Jika kita masih mampu mengingat “MATI” mengapa kita masih sulit berkolaborasi atau bekerjasama dengan orang lain.

Itulah kurang lebih poin yang ingin disampaikan dalam pengantar buku berjudul “1 Team 1 Goal, Berhenti Menutup Diri, Mulailah memberi,” yang ditulis oleh Mega Chandra. Diawali dengan kisah sukses grupp Samsung, Mega Chandra penuh semangat menuliskan pemikiran dan pengalamannya melakukan kerja bersama team work.
Kesigapan Leader dan Peningkatan Kompetensi

Dalam buku yang terdiri dari sembilan bab ini dijelaskan tentang perubahan besar yang terjadi pada dunia bisnis dan perubahan ini sangat sulit untuk diprediksi.Kesigapan leader untuk merespon perubahan yang perlu dilakukan merupakan kompetensi yang sangat dibutuhkan. Kompetensi ini juga harus diimbangi dengan human relation yang handal untuk memimpin tim menghadapi perubahan. Buku ini sangat menggugah dan inspiratif yang menyentuh sanubari niscaya akan mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik dr sebelumnya.

Bab pertama tentang 3i misalnya, Inspire, Influence, Impact menjelaskan dengan gamblang tentang tiga hal penting di atas, bab dua membahas parachute dan peacemaker, bab tiga menjelaskan tentang harmony in excelent, bab empat, mengulas panjang lebar tentang Communication and Cognition,bab lima tentang innitiative and dare, bab enam tentang kehati-hatian dalam bekerja atau berbisnis (Be HSP)(Hati-sikap-perilaku=Humble, Sportive-Positive), bab 7 tentang QC SDM, bab delapan tentang Trust, sekilas dibahas tentang One Man Show, dan bab terakhir tentang Performance, Collaboration, Ownership. People.

Saya tidak akan menjelaskan isi bab secara keseluruhan, nanti anda tidak suprise saat membacanya, dari beberapa bab diatas intinya satu yaitu sukses atau kemenanga tidak bisa dicapai untuk diri sendiri tapi kerja keras tim. Banyak istilah baru yang saya temukan dalam buku ini yang memperkaya wawasan kita untuk terus semangat dalam bekerja.

No Superman but Superteam

Harus kita sadari bahwa tujuan dari berkolaborasi dalam organisasi ataupun perusahaan yang baik adalah untuk tujuan baik, untuk itu semua tim member harus memiliki effort yang sama. Motivasi diri yang dilandasi dengan hati yang humble akan menjadikan kita cahaya seperti lilin, meski cahayanya tidak seterang matahari dia akan selalu ada di saat kita membutuhkan

Buku ini bagus utk motivator dan manajer HRD, para wirausahwan muda yang baru merintis usaha, PNS, aktivis LSM, para politisi, serta para pekerja di seluruh Indonesia agar menjadikan kerja tim sebagai landasan utama jangan mengedepankan egoisme ingin maju atau hebat sendiri.

Harus dipahami bersama betapa pentingnya TEAMWORK (Together-Excelence-Achieving-Moving Forward-Wisdom-Optimism-Raising and Knowledge) sebagai kunci sukses organisasi. Untuk membuat sebuah tim berhasil atau gagal sangat tergantung orang-orang yang ada di dalamnya. Sikap positif merupakan kunci utama untuk membuat sebuah tim sukses. Namun untuk menumbuhkembangkan ini sangatlah sulit, terlebih lagi sifat iri, dengki dan berbagai politik kepentingan maka teamwork akan menemui banyak hambatan.

Eva Rohilah
Pengamat Buku dan Film tinggal di Depok

Resensi Buku
Judul : Setegar Ebony
(Catatan Hati Seorang Istri yang dikhianati Suami)
Penulis : Asih Karina
Editor : Iqbal Dawami
Proofrader : Arif Syarwani
Penerbit : Penerbit Alvabet
Edisi : I, November 2015
Harga : 59.800

Sudah hampir seminggu aku dikirimi buku penerbit buku Alvabet untuk meresensi dua buah buku, tapi belum juga aku sentuh karena rutinitas kantor yang banyak deadline menjelang akhir tahun membuatku tak sempat membaca buku. Akhir pekan ini aku pun dengan sepenuh hati membacanya dan aku kaget luar biasa. Buku yang dikirim alvabet bagus banget, kisah nyata dari seorang penulis di Malang, Asih Karina tentang cerita pribadinya yang mengalami kegagalan rumah tangga dan pengalaman pilunya ketika dikhianati suami. Buku ini kulahap dalam tiga jam dan akupun nangis bombay terharu….

Sampul Buku Setegar Ebony

Sampul Buku Setegar Ebony

Begitu banyak pernikahan hancur, sebelum semua yang diimpikan terwujud. Banyak pengkhianatan justru datang dari orang tercinta. Tak heran imajinasi pernikahan sebagai gerbang kehidupan penuh kebahagiaan dan keindahan dalam gelora cinta dan kasih sayang, dalam sekejap sirna begitu saja. Tetapi apakah kebahagiaan lenyap bersamaan dengan bubarnya pernikahan?

Cerita berawal dari kisah asmara yang meluap-luap menjelang pernikahan dengan setting cerita di daerah Malang Jawa Timur. Asih karina atau biasa dipanggil Karin, menabung lama untuk mempersiapkan pesta pernikahan yang bersahaja, baju pengantin, hantaran dan souvenir serta undangan pun telah disiapkan menjelang hari yang paling ditunggu semua wanita. Usai menikah bulan madu ke Bali pun dijalani Karin dan suaminya Ardhan.

Usai bulan madu, Karin pun tinggal di rumah mertua. Masa-masa yang berat karena harus ia jalani meninggalkan ibunya seorang single parent. Setiap hari dia mengantar kerja suami dan suaminya pun rajin sms, layaknya pengantin baru. Penuh kemesraan, perhatian dan pelukan kasih sayang. Hingga bebeberapa waktu kemudian Karin melakukan test pack dan dia pun dinyatakan positif hamil. Kegembiraan ini disambut bahagia oleh pasangan suami istri. Karin pun jaga kesehatan dan suaminya tambah rajin bekerja.

Namun, apa yang dinyana. Di saat kandungan menginjak enam bulan dan semakin besar. Sang suami Ardhan jarang pulang dan seringkali Karin menunggu sms yang tanpa balas. Berulangkali di Phpin dan tak ada kepastian hingga akhirnya sang suami pulang dan berkata terus terang, jika dirinya jauh hari sebelum menikah dengan Karin sudah punya istri dan anak. Bagai petir di siang bolong, Karin mendengar semua ini dan dia tidak terima. Ia masih berharap jika suaminya akan kembali padanya dan meninggalkan perempuan yang sudah dinikahinya. Ardhan minya cerai dan berjanji tidak akan memilih Karin maupun Kadek, istri pertamanya. Meskipun Ardhan berjanji akan membiayai persalinan Karin, namun Karin sudah terlanjur kecewa dan hampir putus asa. Untung saja ibunya banyak memberinya nasehat dan menguatkannya agar ia bisa tabah menghadapi cobaan.

Setegar Ebony adalah sekeping mozaik kehidupan. Lebih dari sebuah karya sastra, curahan hati, atau sebuah proyeksi kemarahan hati yang luka. Kisah ini adalah sebuah perenungan. Tergolong ke dalam jajaran karangan semi autobiografis lainnya. Ia tidak berangkat dari kegamangan wanita yang terombang-ambing pilihan kehidupan seperti Novel The Bell jar, karya Sylvia Plath ataupun The Awakening karya Kate Chopin. Cerita ini menggaris bawahi lara sebagai sebuah titik awal perjalanan panjang tokoh utama. Pembaca akan diajak berselancar memahami relung hati seorang wanita sederhana dengan mimpi sederhana.

Sebagaimana laiknya karangan semi autobiografis, sudut pandang “aku” menjadi sebuah titik yang menjadikan cerita bergulir dengan indah. Penulis mampu dengan jujur dan gamblang menuturkan desah resah, risau galau, hingga cenung renung yang semuanya merupakan sebuah proses panjang bangkit dari kejatuhan. Setiap untaian kisah adalah ratusan mozaik kecil yang menyatu dalam jalinan kisah yang utuh dalam alur maju mundur yang unik.
Selain itu, cerita ini dewasa dan mampu mendewasakan pembaca. Tokoh utama, Karin dalam buku ini mengajak kita untuk menjerit bersama dalam perih tak terperi yang membuat siapapun tak hendak melanjutkan hidup. Namun dalam kehendak ilahi, ia memilih kembali mengadukan semua yang terjadi. Karena itu penulis mampu mencapai suatu nilai religius tertinggi yaitu keikhlasan.

Setegar Ebony ditulis dengan gaya bertutur penulis yang cenderung puitis, ilustratif dan cerdas juga diwarnai oleh sentuhan humor pribadi penulis. Sebuah gaya bahasa yang membuat kita ingin membaca cerita ini hingga akhir.

Meskipun penulis menawarkan tragedi sebagai sebuah refleksi katarsis, humor yang terselip disana-sini sebagai sentuhan karakter penulis menjadikan cerita ini sebuah perenungan unik akan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan luka melalui tawa. Cerita ini benar-benar terlahir dari hati penuh cinta dan dipersembahkan dengan penuh cinta.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana ending cerita, saat Karin melahirkan tanpa didampingi suami dan kesedihan yang tiada akhir. Saya persilakan pembaca membaca buku ini untuk mengetahui apakah happy ending atau tidak. Karena banyak hikmah yang dapat saya petik dari buku atau novel ini untuk membangun kehidupan rumah tangga dengan atau tanpa suami. Selamat membaca

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok Jawa Barat

http://www.evarohilah.wordpress.com

Resensi Buku
Judul: Hidup Seimbang Hidup Bahagia
Penulis: Akhirudin DC, MA
Penyelaras bahasa: Fajar Kurnianto
Genre: Pengembangan Diri
Cetakan: I, September 2015
Ukuran: 13 x 20 cm
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-71503-4-8

Jarang ada buku motivasi yang membahas keseharian yang paling dekat dalam hidup kita yaitu tentang keseimbangan hidup, namun Sang motivator Akhirudin DC menjelaskannya secara mendetail dan gamblang disertai contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menjalani kehidupan, manusia membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan akan menghasilkan kemampuan diri, suatu kekuatan yang sangat diperlukan untuk bertanggung jawab penuh atas pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, sosial, dan spiritual. Dengan memiliki keseimbangan, seseorang dapat selalu siap dan berdaya penuh untuk melayani semua urusan kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Keseimbangan inilah sarana untuk menggapai kebahagiaan dalam hidup.

Sampul Buku

Sampul Buku

Melalui buku ini, sang penulis, seorang trainer muda berbakat dalam bidang motivasi dan pengembangan diri, memandu pembaca untuk menemukan cara menggapai keseimbangan dengan bekerja tanpa mengabaikan aspek-aspek kehidupan yang seringkali dipertentangkan, seperti kehidupan pribadi, keluarga, spiritual, dan sosial. Buku ini dapat membantu Anda untuk memotivasi diri, meningkatkan manajemen diri, dan meningkatkan kualitas hidup melalui prinsip keharmonisan

Dr. Ir. H. Haikal Hassan, S.Kom, MM, CHt, MNLP, pengasuh Program Khazanah Trans7, dan seorang master trainer mengatakan dalam endorsementnya “Hidup Seimbang Hidup Bahagia adalah sebuah refleksi diri, dan karena itu buku ini sangat enak dibaca. Tidak berlebihan kiranya ia mengatakan demikian, karena penuturannya yang mudah dipahami Buku ini akan mengajak pembaca untuk menapaki kesimbangan hidup dan menjaga ikatan spiritual lebih kuat. Memprovokasi siapa saja untuk hidup lebih baik.

Buku ini ringan dan enak dibaca. Terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama tentang Balance Life=Beautiful Life, bagian kedua The Law Of Balance berisi tentang pengertian secara mendasar apa itu keseimbangan, berbagai implikasi makna keseimbangan dalam kehidupan manusia seperti keseimbangan antara ilmu dan amal, keseimbangan antara rasa takut dan harapan, keseimbangan dalam menjalankan ajaran agama dan keseimbangan dalam Alam semesta.

Di Muat di Majalah Monitor Daily (Monday) Edisi November 2015

Di Muat di Majalah Monitor Daily (Monday) Edisi November 2015

Salah satu yang dibahas dalam bagian dua adalah keseimbangan dalam diri manusia sebagai mahluk individu dan sosial, keseimbangan hidup dan kerja juga keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Selain itu diungkapkan juga hubungan antara keseimbangan kehidupan kerja dan produktivitas.
Saya mengenal penulisnya Akhirudin sejak masih mahasiswa dan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan dikenal sebagai sosok yang rajin dan ulet juga pintar berorganisasi. Menurut Akhirudin, dalam kesimpulannya salah satu sifat atau karakteristik idela manusia adalah mahluk yang selalu ingin memperbaiki dan mengembangkan potensi dengan berbagai macam cara, diantaranya dengan munculnya berbagai macam pemikiran atau ideologi-ideologi yang semua itu berusaha untuk mengubah kehidupan ini menjadi lebih baik. Namun terkadang pemikiran-pemikiran atau ideologi tersebut hanya melihat dari satu sisi tanpa melihat sisi lain.

Sikap seimbang memiliki beberapa makna yang sejalan dengan sikap pertengahan, atau tawazun. Sedangkan menurut Islam konsep keseimbangan dapat diartikan sebagai sikap adil yang tidak berat sebelah dalam segala hal, menempatkan sesuatu pada posisinya dan secara proporsional. Keadilan tersebut dapat bersifat hubungan manusia dengan Allah (habl min Allah) dan hubungan manusia dengan sesama manusia (habl min an-naas) yang juga mencakup di dalamnya hubungan manusia dengan alam semesta.

Setelah membaca buku ini, pembaca akan selalu optimis dalam mencapai kebahagiaan dan dalam menghadapi kehidupan dengan mengenali diri sendiri, termasuk lingkungan yang selama ini kita anggap kurang peduli. Penulis yang juga merupakan Direktur AD Consulting berpengalaman memberikan training di berbagai Perusahaan Nasional dan Internasional, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), instansi pemerintah pusat dan daerah dengan spesialis dalam pembentukan karakter pribadi dan budaya perusahaan.
Buku ringan dan tipis ini wajib anda miliki sebagai panduan sehari-hari hidup Anda. Selamat membaca!

Eva Rohilah
Pecinta buku tinggal di Depok
Blog: http://www.evarohilah.wordpress.com

Merangkai Makna di Usia 36

Posted: May 3, 2015 by Eva in Inspirasi, Jalan-jalan, Pribadi

Pada ulang tahunku yang ke-36, 2 Mei 2015 kemarin. Aku tidak merayakan makan-makan dengan suami aku seperti tahun-tahun sebelumnya. Kebetulan tahun ini aku merayakannya di Indramayu, berkenaan dengan tugasku yang sedang melakukan riset tentang perikanan tangkap dan Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra. Sungguh istimewa aku memaknai ulangtahunku kali ini karena banyak rencana kedepan yang akan aku laksanakan bersama mas Arif.

Seminggu ini aku melakukan riset untuk penulisan buku tentang koperasi di Pantai Karangsong Indramayu. Sejak hari Rabu, aku udah berkunjung ke muara dan tempat pelelangan ikan Karangsong.

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

.

Potensi ikan di TPI Karangsong memang luar biasa, bertonton dengan aneka jenis ikan seperti tongkol, tenggiri, kakap merah, ikan cunang, ikan manyung, ikan patin, ikan kembung dan lain-lain. Omzet perhari bisa sampai 1 milyar lebih.

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

Hari Jumat, tepatnya 1 Mei 2015 aku jalan-jalan ke Pasar Mambo dan pendopo Kabupaten Indramayu sama pak Mamat, Sopir KPL Mina Sumitra, kota Indramayu memang tidak begitu besar, jadi kita mengitarinya cepat saja, keliling sebentar sebelum jadwal wawancara.

di Pasar Mambo

di Pasar Mambo

Setalah ke Pasar Mambo, saya mampir di Pendopo Kabupaten Indramayu, lumayan bagus pendoponya dan saya sempat berfoto2 di sana.

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Pada hari sabtunya 2 Mei 2015, saya kembali ke TPI Karangsong untuk kemudian wawancara di Koperasi KPL Mina Sumitra, di hari ulang tahunku ini aku pagi2 di telfon mas Arif saat itu aku di pusat perbekalan, mendapat ucapan selamat dari veni dan Mbak Ika. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku gak mau terekspose dengan facebook atau twitter ttg hari lahirku, cukup orang-orang terdekatku aja yang tahu bagiku udah sudah cukup. Menjelang makan siang aku disuguhi makanan khas Indramayu Gombyang Pindang Ikan Manyung.

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Usai wawancara, aku pulang ke D’ Nisa Guest House di Pasar Baru deket Sport Centre. Selama 5 hari menginap di sini cukup nyaman, tempat tidurnya enak dan pegawainya juga ramah-ramah. Kamar mandinya juga bersih.

di penginapan D'Nisa Indramayu

di penginapan D’Nisa Indramayu

Sore aku istirahat dan mencoba merangkum apa saja yang bisa aku tulis seharian di Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra. Habis Ashar, Eka atau Farikhatul Udkhiyah temenku waktu SMP di Sunan Pandanaran Telepon dan mengabari kalau dia mau mengajak aku jalan-jalan keliling Indramayu. Dia datang habis Isya bersama suami dan anaknya, akhirnya kita keliling Indramayu dan makan di Sport Centre. Alhamdulilah aku seneng dapat berbagi cerita dan sampai akhirnya aku pulang ke Guest House lagi hari sudah malam.

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Aku bersyukur di hari ulangtahunku yang ke-36 ini terasa penuh makna. Setiap langkah dan usaha aku yakin bahwa harus hidup ikhlas dan konsisten dalam bekerja. Agar di hari-hari ulangtahunku di masa yang akan datang, akan lebih bermakna. Terimakasih aku ucapkan buat teman2 dekat dan terutama suamiku yang selalu support aku dalam kondisi apapun.

Terkadang aku masih serasa bermimpi jika Apa, ayah yang kucintai meninggalkan aku untuk selamanya. Ada rasa rindu dan haru di relung hatiku yang paling dalam mengingat kenanganku bersama beliau sepanjang usiaku. Yang selalu kuingat ayahku adalah seorang imam mesjid dan peternak ikan yang gigih. Kedisiplinannya melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah belum ada satupun yang mengalahkannya. Sebagai imam masjid dan Khatib Sholat Jumat, kehidupan ayahku sepenuhnya diabdikan untuk agama yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Apa sedang menulis Khutbah

Apa sedang menulis Khutbah

Nama lengkap ayahku Mualim Udin Jaenudin, lahir pada tanggal 3 Maret 1933, usianya saat meninggal 82 tahun. Usia panjang yang telah dia habiskan dengan penuh makna dengan membesarkan kesembilan anaknya. Sebagai anak bungsu, aku hanya sebentar mengalami kebersamaan bersama Apa yaitu waktu Sekolah Dasar. Setelah SMP hingga kuliah, aku lama di Jogja bersama kakakku dan jarang ketemu Apa. Tapi kenanganku yang sebentar sangat berkesan, menurut aq ayahku adalah orang yang paling sufi, nyaris tidak mempedulikan kehidupan duniawi, kesibukan sehari-hari adalah ibadah dan membaca Qur’an. Rutinitas sehari-hari selain ke mesjid adalah ngurus kolam ikan, bila menjelang idul fitri tiba di kampungku belum ada satupun yang berani mengganti imam shalat Iedul fitri, sepanjang usiaku Apa selalu menjadi imam besar Shalat Iedul fitri dan antrian orang yang ingin kambing atau sapi kurbannya di sembelih pada lebaran Iedul Adha.

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa adalah orang yang ikhlas luar biasa. Setelah ditinggal oleh ibuku (Emak Halimah) 30 tahun yang lalu, dia seorang sosok yang mandiri, dia selalu mencuci dan menyetrika bajunya sendiri, setrikaan yang dikerjakan pun sangat rapi dan setrikaan anak-anaknya gak pernah kepake. Ditinggal jauh oleh anak-anaknya merantau ke Jogja dia tidak pernah mengeluh dan terus berusaha. Selama ini ayahku juga jarang sakit, meskipun dia pernah dirawat beberapa tahun yang lalu karena pusing berputar. Ayahku juga seorang perokok berat, dan pernah dirontgen kalau paru-parunya udah kotor oleh asap rokok, tapi ayahku gak pernah mau berhenti merokok.

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Gigi ayahku sudah habis dan semuanya sudah ganti gigi palsu. Ayahku juga kalau makan gak mau yang asal-asalan, dia maunya makan enak kayak daging dan ikan. Kami sebagai anak-anaknya berusaha memenuhinya. Aku menyadari betul setelah aku menikah aku jarang pulang ke Sukabumi, itulah yang aku sesali sekarang. Aku pulang kadang sebulan sekali, setelah Apa meninggal aku berasa sangat menyesal kenapa aku gak sering pulang dan lebih banyak memperhatikan Apa.

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Sekitar tahun 2013, apa mengeluh karena tidak bisa baca Alqur’an. Rupanya apa kena Katarak. Kami anak-anaknya menabung bersama untuk melakukan operasi katarak agar Apa dia bisa membaca Al-Qur’an. Karena setiap habis sholat dan Bulan Puasa ayahku tidak bisa lepas dari Al-Qu’an, kalau Ramadhan dia seminggu sekali Khatam Alqur’an. Setelah uang terkumpul, Apa malah tidak mau operasi katarak karena takut sakit dan sayang uangnya, tentu kami anak-anaknya kecewa, tapi itu pilihannya sehingga operasi katarakpun gagal digelar. Tidak lama setelah tidak jadi operasi, aku ditelfon kakaku di Sukabumi, bahwa Apa kena Herpes zoster (nama lain: shingles atau cacar ular cacar api). Cacar ini umum mengenai lansia, akupun pulang ke Sukabumi dan apa dirawat selama hampir dua minggu di Rumah Sakit Bunut Sukabumi.

Apa Kena Herpes Zoster

Apa Kena Herpes Zoster

Setelah sakit herpes, Apa semakin terpuruk dan kelihatan tak berdaya. Dia sering mengeluh sakit kepala yang tidak tertahankan. Aku pun mulai lebih sering pulang ke Sukabumi dan prihatin dengan kondisi apa. Setelah hampir setahun kena Herpes ayahku dirawat sama kakak-kakakku di Sukabumi. Rupanya sakit herpes yang dulu kena syaraf dan akibatnya apa sudah menjadi pelupa. Setelah melewati rawat jalan, berangsur-angsur apa mulai pulih dan keliatan kembali sehat.

Apa setelah sembuh dari Herpes Zoster

Apa setelah sembuh dari Herpes Zoster

.

Karena sering sakit-sakitan dan usia mulai senja Apa sering terbaring di tempat tidur dan hanya bisa pasrah. Tidak bisa ke mesjid dan tidak bisa membaca Al-Qur’an. Kami anak-anaknya pun merasa sedih melihat kondisi ini. Saya pun berusaha membesarkan hatinya dan berniat membuat kartu BPJS buat jaga-jaga.

Foto terakhir untuk BPJS

Foto terakhir untuk BPJS

Enam bulan berselang sejak kesembuhan dari Herpes zoster, ayahku sesak napas dan gak bisa makan. Kami sekeluarga kumpul dan bermusyawarah bagaimana baiknya demi kesembuhan apa. Ternyata setelah diperiksa dokter di RS Kartika Sukabumi, Apa mengalami pembengkakan jantung dan lambung, juga paru2. Akhirnya dirawatlah di RS Kartika selama dua hari. Tidak lama setelah dirawat, kurang lebih satu bulan, Apa meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Aku ditelfon kakakku jam setengah 3 malam dan langsung ke Sukabumi sama mas Arif, sampai rumah, Apa sudah dikafani dan dibacain yasin sama sanak keluarga. Apa meninggal pada 25 Januari 2015.

Di Pusara Ayahku

Di Pusara Ayahku

Selama tujuh hari, kami melaksanakan Tahlil dan Yasiin. Kesembilan anak berkumpul kecuali Teh Idah, kami semua berduka dan merasa sangat kehilangan.

Apa dan Emak

Apa dan Emak

Dengan meninggalnya Apa, kami sembilan bersaudara sudah tidak punya lagi ayah dan ibu.

kami yang berduka

kami yang berduka

Pada awal Maret, kami menggelar acara 40 hari di Mesjid Assyarifiyah Bantarkaret Sukabumi Jawa barat di tempat ayahku menjadi imam masjid dan mengaji. Alhamdulilah yang datang banyak, kami mencetak Yaasin dan bagikan paket makanan, diiringi ceramah. Kami pun berdoa semoga amal ibadah Apa diterima Allah SWT. Tiga hal yang saya ingat dari almarhum adalah Hidup itu harus Ikhlas, banyak beribadah dan jangan lupa mengaji. Selamat jalan Apa…Kami anak-anakmu, menantu, cucu dan cicit sangat mencintaimu.

Peringatan 40 hari

Peringatan 40 hari

Makna Kebahagiaan Sejati

Posted: March 22, 2012 by Eva in Inspirasi

Pagi ini aku membaca di twitter tulisan menarik dari twitter @Andrie Wongso

Makna Kebahagiaan Sejati
Penulis : Tim AndrieWongso
Kamis, 22 Maret 2012

Kebahagiaan Sejati

Kebahagiaan Sejati

Suatu hari seorang wanita tua berusia 92 tahun masuk ke sebuah panti jompo. Meski sudah tua, perawakannya masih terlihat tegap. Penampilannya pun rapi dan modis. Rambutnya tertata sangat rapi. Karena suaminya yang sudah dinikahinya selama 70 tahun baru-baru ini meninggal dunia, mau tak mau wanita ini harus pindah ke “rumah” barunya.

Setelah berjam-jam menunggu dengan sabar di lobi panti jompo itu, wanita tua itu tetap tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya sudah siap. Begitu wanita tua itu mengarahkan alat pembantu berjalannya menuju lift, si perawat menggambarkan kamar kecilnya secara detail, termasuk kain tirai yang tergantung di jendelanya.

“Aku sangat menyukainya,” kata wanita tua itu dengan antusiasme seorang anak berusia delapan tahun yang baru saja dihadiahi seekor hewan peliharaan.

“Ibu kan belum melihatnya… bersabarlah.”

“Tidak ada bedanya,” jawab wanita tua itu. “Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Suka tidaknya aku dengan kamarku tidak ditentukan dari bagaimana pengaturan perabotannya, tapi lebih ke bagaimana aku mengatur pikiranku sendiri. Aku sudah putuskan untuk menyukainya. Itulah keputusan yang aku ambil setiap pagi begitu aku terbangun dari tidur.

Aku punya pilihan. Aku bisa saja menghabiskan hari-hariku di ranjang dengan menceritakan kesulitan yang kumiliki dengan anggota tubuhku yang tidak lagi berfungsi dengan baik. Atau, aku bangkita dari ranjang dan bersyukur atas anggota tubuhku yang masih berfungsi dengan baik. Tiap hari adalah berkah. Selama mataku terbuka, aku akan berfokus pada hari baru dan semua kenangan bahagia yang aku telah simpan, hanya untuk masa hidupku seperti saat ini.”

Sahabat yang Luar Biasa,

Usia tua itu dapat diibaratkan sebagai sebuah rekening di bank. Kita akan menarik dari apa yang telah kita tabung di masa-masa produktif kita. Karena itu, alangkah baiknya jika kita sejak sekarang menabung sebanyak-banyaknya momen kebahagiaan di rekening bank memori kita.

Ada beberapa sederhana agar kita bisa bahagia. Pertama, bebaskan hati kita dari rasa benci. Kedua, bebaskan pikiran kita dari rasa cemas. Ketiga, hiduplah sederhana dengan hidup berkecukupan sesuai dengan kebutuhan kita. Keempat, jangan pernah berhenti memberi. Kelima, jangan berharap yang muluk-muluk dan bersikap realistis.

Bagus banget ya pesannya, semoga kita menjadi manusia yang bisa menikmati kebahagiaan sejati

Semangat 2012

Posted: January 19, 2012 by Eva in Inspirasi

Alhamdulilah, tahun 2012 ini kami menyambutnya dengan penuh suka cita. Beberapa target yang ingin di capai di tahun 2011 ada beberapa yang terpenuhi dan ada juga yang tidak. Aku bersyukur kepada Allah SWT atas segala karunia yang diberikannya kepada kami sekeluarga. Pada tanggal 2 Januari Mas Arif ulang tahun dan aku beri kado istimewa di hari ulangtahunnya, seneng deh lihat belahan jiwaku bahagia. Kemudian di akhir tahun 2011 yang mengejutkan adalah Amira Sport yang luar biasa perkembangannya sampai2 mas Arif kewalahan harus kerja siang malam.

Pada 15 Januari 2012 kami juga merayakan syukuran kecil-kecilan atas ulang tahun pernikahan kami yang keenam dan bertepatan dengan arisan bapak-bapak. Kami membuat nasi kuning dan malamnya makan pepes dan ayam kelapa. Alhamdulilah acara lancar dan kami bahagia sekali dengan apa yang sudah kami terima saat ini. Saya juga mau belajar motor karena tahun ini kita beli motor scoopy warna putih coklat supaya saya bisa mandiri dan tidak tergantung pada suami. Saya juga pindak dokter ke dokter Mely di Sarana Husada, berdasarkan saran Atun dan Amak yang sudah berhasil hamil dan punya keturunan, semoga tahun ini kami berhasil yaa Amiien.

Oh ya, saya juga memperbaharui profil dan indeks di blog ini agar lebih update, ganti profil di Fb dan mulai mengurangi twitter. Satu hal yang saya menjadi pelajaran saya di usia yang ke-33 ini adalah mungkin beberapa waktu yang lalu saya pernah sombong, mungkin tidak saya sadari, mohon di maafkan ya teman dan saudaraku semua, sekarang ini saya sangat tidak suka dengan sifat sombong dan ingin menjadi pribadi yang lebih sederhana dan apa adanya.

Terimakasih buat suamiku dan keluargaku yang telah menemaniku sehingga aku bisa menyongsong 2012 dengan penuh semangat.

Salam,

Kisah hidup dan kegagalan pendiri HONDA

Posted: November 17, 2009 by Eva in Inspirasi

Perhatikan dan amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada kendaraan bermerek Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merek kendaran HONDA ini memang selalu menyesaki padatnya lalu lintas. Karena itu barangkali memang layak disebut sebagai raj jalanan.

siapakah sebenarnya HONDA…? sang pembuat merek tersebut adalah Soichiro Honda

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis
Honda — Soichiro Honda — selalu diliputi kegagalan saat menjalanikehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia itu. Dia bahkan tidak pernah bisa menyandang gelar insinyur. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus bermimpi dan bermimpi. Dan, impian itu akhirnya terjelma dengan bekal ketekunan dan kerja keras. ”Nilaiku
jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya di sekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur Soichiro, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap lever.

Kecintaannya kepada mesin, jelas diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di kawasan inilah dia lahir. Kala sering bermain di bengkel, ayahnya selalu memberi catut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906 ini dapat berdiam diri berjam-jam. Tak seperti kawan sebayanya kala itu yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain penuh suka cita. Dia memang menunjukan keunikan sejak awal. Seperti misalnya kegiatan nekad yang dipilihnya pada usia 8 tahun, dengan bersepeda sejauh 10 mil. Itu dilakukan hanya karena ingin menyaksikan pesawat terbang.

Bersepada memang menjadi salah satu hobinya kala kanak-kanak. Dan buahnya, ketika 12 tahun, Soichiro Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampai saat itu, di benaknya belum muncul impian menjadi usahawan otomotif. Karena dia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya selalu rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke kota, untuk bekerja di Hart Shokai Company. Bossnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja di situ, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya kian membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya tak jarang hingga larut malam, dan terkadang sampai subuh. Yang menarik, walau terus kerja lembur otak jeniusnya tetap kreatif.

Kejeniusannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari
mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik untuk kepentingan meredam
goncangan. Menyadari ini, Soichiro punya gagasan untuk menggantikan
ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamny laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia.

Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang
pertama. Setelah menciptakan ruji. Lalu Honda pun ingin melepaskan
diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu dia
berpikir, spesialis apa yang dipilih ? Otaknya tertuju kepada
pembuatan ring piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada
1938. Lalu, ditawarkannya karya itu ke sejumlah pabrikan otomotif.
Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak
memenuhi standar. Ring Piston buatannya tidak lentur, dan tidak laku
dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan
menyesalkan dirinya keluar dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat
kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian,
kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi,
soal ring pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari
jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.

Siang hari, setelah pulang kuliah, dia langsung ke bengkel
mempraktekkan pengetahuan yang baru diperoleh. Tetapi, setelah dua
tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang
mengikuti kuliah. ”Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak
diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang
hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang diusia mudanya
gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia jelaskan kuliahnya bukan
mencari ijazah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap
penghinaan. Tapi dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir
segalanya. Berkat kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima
pihak Toyota yang langsung memberikan kontrak. Ini membawa Honda
berniat mendirikan pabrik. Impiannya untuk mendirikan pabrik mesinpun
serasa kian dekat di pelupuk mata.

Tetapi malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap
perang, tidak memberikan dana kepada masyarakat. Bukan Honda kalau
menghadapi kegagalan lalu menyerah pasrah. Dia lalu nekad
mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik.
Namun lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya
terbakar, bahkan hingga dua kali kejadian itu menimpanya.

Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan
karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang
dibuang oleh kapal Amerika Serikat, untuk digunakan sebagai bahan
mendirikan pabrik. Penderitaan sepertinya belum akan selesai. Tanpa
diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga
diputuskan menjual pabrik ring pinstonnya ke Toyota. Setelah itu,
Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan
bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai
Honda tidak dapat menjual mobilnya akibat krisis moneter itu. Padahal
dia ingin menjual mobil itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.

Dalam keadaan terdesak, ia lalu kembali bermain-main dengan
sepeda pancalnya. Karena memang nafasnya selalu berbau rekayasa
mesin, dia pun memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka,
sepeda motor– cikal bakal lahirnya mobil Honda — itu diminati oleh
para tetangga. Jadilah dia memproduksi sepeda bermotor itu. Para
tetangga dan kerabatnya berbondong-bondong memesan, sehingga Honda
kehabisan stok. Lalu Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak
itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut
mobilnya, menjadi raja jalanan dunia, termasuk Indonesia.

Semasa hidup Honda selalu menyatakan, jangan dulu melihat
keberhasilanya dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah
kegagalan-kegagalan yang dialaminya. ”ORANG MELIHAT KESUKSESAN SAYA HANYA SATU PERSEN. TAPI, MEREKA TIDAK MELIHAT 99 PERSEN KEGAGALAN SAYA,” tuturnya. Ia memberikan petuah, ”KETIKA ANDA MENGALAMI KEGAGALAN, MAKA SEGERALAH MULAI KEMBALI BERMIMPI. DAN MIMPIKANLAH MIMPI BARU.” Jelas kisah Honda ini merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal dari keluarga miskin

Pemuda-Pemuda Luar Biasa yang Merubah Dunia

Posted: April 20, 2009 by Eva in Inspirasi

Larry Page dan Sergey Brin

time-cover-google

Menemukan Google pada tahun 1998 ketika mereka baru berusia 24 tahun. Mulai di dalam garasi yang menjadi “kantor” pertama mereka, dua orang ini mengilhami ribuan anak muda untuk mencari uang online. Larry dan Sergey kemudian menciptakan perusahaan senilai satu multi milyar dollar yang mengguncangkan Internet

Mark Zuckerberg

fb

Mark Zuckerberg, mahasiswa universitas Harvard yang menemukan Facebook sebagai satu platform jaringan sosial bagi remaja di perguruan tinggi ketika dia baru berusia 19 tahun. Facebook kini merupakan situs web jaringan sosial terbesar kedua setelah MySpace. Facebook terus tumbuh hari demi hari, dengan jutaan pengguna baru yang terus mendaftar setiap bulan!

Steve Chen dan Chad Hurley

stevenchenchadhurleyyt

Para pencipta dari situs web “berbagi video online”, YouTube. Mereka mendirikan YouTube pada 2005 ketika Chad berusia 28 tahun dan Steve 27 tahun. YouTube kemudian diakuisisi oleh Google dengan nilai $1.65 milyar.

Jerry Yang dan David Filo

jerryyangdavidfiloyahoo

Di tahun 1995 kedua orang ini menemukan Yahoo!, mesin pencari yang merupakan saingan terdekat Google. Jerry berusia 26 tahun dan David Filo 28 tahun ketika mereka menciptakan Yahoo! Kedua orang ini sekarang mungkin lagi hangat-hangatnya dibicarakan orang-orang, setelah Microsoft meluncurkan tawaran senilai US$44.6 milyar untuk mengambil alih Yahoo!

Matt Mullenweg

mattmullenwegblog

Matt Mullenweg baru berusia 19 tahun ketika ia menciptakan platform blogging yang kini dipakai dimana-mana. Ia mendirikan platform blogging WordPress pada tahun 2005, dan sejak itu blogosphere pun mulai berevolusi. Orang-orang mulai berpindah dari MovableType dan platform lainnya ke WordPress, karena platform baru ini memang mudah dipakai dan selalu diperbaharui dan terus meningkat.

Tom Anderson

tomandersonmyspace

Menciptakan jaringan sosial #1 di dunia dengan lebih dari 100 juta pengguna, Tom Anderson mendirikan MySpace di tahun 2004 ketika ia baru berusia 23 tahun. Dia mungkin tidak sekaya Mark Zuckerberg, tapi ia tercatat sebagai pendiri dari jaringan sosial yang dipakai paling luas di Internet.

Joe Hewitt & Blake Ross

joehewittblakerossmozila

Pada tahun 2003, Blake Ross mendirikan Mozilla ketika dia baru berusia 19 tahun. Sejak itu, Mozilla tumbuh sangat pesat, menggoda pengguna Internet untuk memakai penjelajah Firefox Mozilla mereka sendiri, yang terbukti memang lebih mudah dioperasikan dibandingkan kebanyakan aplikasi penjelajah web lainnya.

Pierre Omidyar

pierreomidyarebay

Pada tahun 1995 ketika ia baru berusia 28 tahun, Pierre Omidyar mendirikan eBay, lelangan online sedunia. Sejak itu, banyak orang-orang menghargai penemuannya, sehingga mendorong eBay menjadi platform dunia

 

Modal Uang Bukan segalanya


Tak sedikit orang yang kalau ditanya kenapa tidak tertarik memulai
bisnis sendiri, jawabannya selalu ‘tidak punya modal uang untuk
memulai’. Demikian juga, kalau ada orang atau kawan yang sukses
membangun bisnisnya, cenderung mengatakan ‘ ya terang saja dia sukses
karena dia punya modal uang yang cukup. Yang terang saja bapaknya dia
kan anu, mertuanya begini begini… dan sebagainya”. Pendeknya, banyak
yang mengidap keyakinan bahwa modal uang adalah segalanya dalam
kesuksesan membangun bisnis. Kunci suksesnya sangat ditentukan pada
besarnya kepemilikan modal uang ini.

 

Sesungguhnya kalau kita tanya ke pengusaha sukses yang benar-benar
sukses – bukan pengusaha karbitan — modal uang itu memang penting,
namun bukan segala-galanya. Modal bukan satu-satunya penentu sukses.
Bahkan, dalam kenyataanya tak sedikit pengusaha yang sukses mesti
tanpa dukungan modal yang cukup. Kenapa? Karena, bagi mereka, yang
terpenting dalam bisnis adalah membangun nama baik dan trust ( di
hadapan mitra bisnis, konsumen, supplier, mitra pemodal, dll). Sudah
banyak bukti, banyak orang yang sebenarnya tidak punya uang modal,
tapi karena punya keahlian pada suatu bidang dan ia dipercaya oleh
orang alias ada orang lain yg trust kepadanya sehingga kemudian
menawari modal untuk memulai usaha. Jadi bukannya meminta, malah
ditawari modal.

Sejauh pengamatan saya bertemu pengusaha sukses dari perlbagai
kalangan, pebisnis yang punya pola pikir ‘modal uang adalah segalanya’
justru kemampuan untuk survive-nya lebih lemah dari yang lebih
mengedepankan kerja keras dan membangun trust. Lihatlah bisnis
anak-anak pejabat atau anak politisi yang biasanya hanya punya masa
jaya ketika orang tua atau patronnya masih berjaya di politik atau
pemerintahan. Ketika orang tuanya masih berjaya di panggung politik
atau pemerintahan, si anak mudah cari modal. Bisa minta si A, Si B,
menekan sana-sini, bahkan kalaupun pinjam kredit ke bank juga lebih
dimudahkan. Namun ketika orang tua atau patronnya lengser, ia menjadi
kehilangan separoh lebih daya saingnya (competitiveness) sehingga
bisnisnya pun makin memudar. Saya kira banyak sekali contoh seperti
itu, bahkan mungkin sangat dekat dengan lingkungan Bapak/Ibu sekalian
atau mungkin malah kawan Bapak/ibu sendiri.

 

Sebaliknya, saya punya beberapa relasi baik pengusaha yang modalnya
hanya beberapa juta atau ratus ribu rupiah, namun bisa sukses karena
pandai membangun trust dan mengedepankan kerja keras/tekun. Ada
kenalan saya pengusaha, namanyaPak Rudy Suardana. Kalau orang
Kalimantan Timur rasanya pasti akan kenal orang ini karena beliau
adalah main dealer untuk Suzuki di seluruh propinsi Kaltim, baik untuk
motor maupun mobil. Beliau juga pengembang (developer) yang membangun
Sudirman Square di Balikpapan, Kariangau Trade Center, Perumahan Bumi
Nirwana Asri, Sentra Samarinda Seberang, dll. Samekarindo Group
biasanya orang Kaltim tahu. Nah, beliau waktu memulai usaha modalnya
hanya dipercaya orang. Ada kawannya dealer di Surabaya yang meminta
dia menjualkan motor Suzuki ke relasi-relasi dia. Jadi polanya ia
membawa dagangan, dititipin oleh kawannya itu. Dia tak pakai modal.
Ini bisa terjadi karena kawannya itu sudah trust ke Pak Rudy sehingga
berani menitipkan dagangannya untuk dijualkann Pak Rudy. Dari situlah
ia kemudian berkembang menjdi pengusaha besar, padahal masa kecilnya
dibesarkan di panti asuhan. Ia tak hanya di otomotif namun juga properti.

Ada relasi saya lagi, namanya Bu Winita Kusnandar, beliau adalah
konsultan hukum bisnis terkemuka Jakarta yang perusahannya (Kusnandar
& Co) termasuk dalam Indonesian 10 Largest Law Firm di Indonesia.
Beliau sekarang juga punya bisnis pendidikan dan properti. Jangan
pikir ketika dulu memulai usaha dia punya modal banyak uang. Dia dulu
juga karyawan di perusahaan konsultan hukum pada umumnya yang kemudian
ditawarin oleh seorang konglomerat yang menjadi kliennya untuk buka
law firm sendiri. Jadi konglomerat yang jadi klien itu tahu reputasi
Bu Winita dan kemudian menawari ‘kenapa nggak buka law firm sendiri
saja?” sembari menawari pinjaman modal uang untuk sewa kantor di Jl
Rasuna Said. Dari situ Bu Winita pun sukses membangun law firmnya dan
kini bisnisnya sudah merambah ke properti, sekolahan, hotel, konsultan
manajemen dan keuangan, furnitur, dll.

 

Disini pesannya, modal uang bukan segalannya. Dalam membangun bisnis
yang lebih penting adalah memupuk nama baik dan trust. Anda boleh saja
bangkrut dan kehabisan modal, tapi percayalah, Anda masih bisa bangkit
bermodalkan nama baik dan trust orang lain kepada Anda. Saya kira
sangat banyak contoh akan hal ini. Bagi yang ingin melihat lebih dalam
bagaimana orang2 bermodal terbatas bisa sukses menjadi pengusaha
besar, silahkan baca buku ’10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS

 

DARI 0′, disusun Sudarmadi dan diterbitkan Gramedia. Di dalamnya juga
diulas ada kisah Pak Rudy Suardana dan Buku Winita Kusnandar yang
sempat saya singgung tadi.

Salam hormat dan semoga sukses untuk Bapak/Ibu sekeluarga. Amiin..

Empat nilai luhur Cao San Chun Hui

Posted: May 27, 2008 by Eva in Inspirasi

Empat nilai luhur Cao San Chun Hui

Sampai dengan serial ke-28 aku semakin penasaran dengan kisah lanjutan Ketika Gladiol Bersemi. (Cao San Cun Hui), terutama saat Kisah cinta bagaimana Dong Lang bertemu dengan pasangannya lewat perjodohan. Geli banget deh waktu Dong lang di jodohkan ama A Xue dan orang tuanya, pada gadis yang sama.

Dong Lang yang pendiam adalah tipe pekerja yang ulet. Lelaki jarang bicara ini terlihat kaku dan hanya memikirkan bagaimana membuat keramik yang bagus. Ide ini membuat istri Dong Lang membuka usaha keramik di depan rumah Ming Zhong.Pada awalnya sepi, tapi setelah ada pembeli dari Jepang yang menguasai tentang keramik membeli keramik buatannya, adik Dong Lang Gao Ming Shan memiliki ide untuk membuat galeri bernama Jian Tai. Galeri ini berada dalam rute wisata kunjungan turis dari Jepang ke Taiwan. Ketekunan Dong Lang yang mewarisi sifat ayahnya adsalah nilai pertama yang menurut saya bagus disampaikan pada pemirsa.

 

Lama kelamaan, galeri ini ramai dan memiliki banyak pekerja. Gao Ming Shan sebagai direktur memiliki insting bisnis yang kuat. Selain sebagai direktur di Jian Tai, ia juga melanjutkan proyek property milik keluarga. Ming Shan sangat sibuk, sehingga menginjak usia diatas 30 tahun ia belum memikirkan jodoh.

Hingga suatu hari ia ketemu Wen Xin Hua seorang perempuan cantik modern yang memiliki kemampuan bahasa Inggris bagus menarik perhatiannya. Kisah cinta mereka berdua sangat lucu dan alamiah. Ketegasan sikap Xin Hua sangat disukai ming shan, begitu pula saat Ming Shan memperhatikan ibunya yang lagi sakit di rumah sakit dengan penuh perhatian membuat hati Xin Hua luluh.

Tak lama mereka pun menikah, dengan menikahnya Xin Hua Pak RT dan Bu RT Gao tinggal di rumah Ming Shan yang megah. Ming shan sengaja melarang orang tuanya tinggal di rumahnya agar tidak kembali ke gunung. Meskipun sudah mapan, orang tua Ming Shan sangat hemat terutama ibunya. Usai menikah Xin Hua sempat serba salah menyesuaikan dengan keluarga Gao. Tidak boleh membuang kertas dan plastik, tidak menyalakan penghangat ruangan, dan  jangan terlalu sering beli baju baru adalah tiga sikap mulia bu RT Gao yang melekat di benak menantu.

 

Hemat adalah nilai kedua dari drama ini. Seringkali mereka anak2 keluarga Gao memuji ibunya yang hemat, jika tidak hemat tidak mungkin mereka bisa sekolah dan sukses seperti skg ini. Demi membahagiakan mertua seringkali para menantunya berbohong menyebutkan harga aslinya.

 

“Seringkali kalau kita ke gunung sesama ipar saling mengingatkan tentang baju baru yang kita pakai, kita simpan dulu waktu pulang baru kita pakai,” ujar tokoh  Xin Hua asli pada guest room seraya tertawa.  Pernikahan Xin Hua dan Ming Shan yang sangat sibuk membuat Xin Hua banyak menyesuaikan diri dengan suaminya. Disinilah saling pengertian suami istri dimulai. Saya salut atas pengertian Xin Hua yang periksa ke dokter hanya ditemani kakak ipar saat periksa hamil, begitu juga sangat mengharukan ketika ming shan yang kaku dan tidak bisa dansa meminta Xin Hua berdansa dengan romantis.

 

Rukun dengan Pasangan adalah nilai ketiga dari drama ini. Aku berusaha untuk tidak emosi dengan suamiku yang juga sepertinya mulai menyenangi serial ini. Selain rukun, aku juga berusaha untuk berlapang dada. Empat nilai seperti tekun, hemat, rukun dengan pasangan dan berlapang dada merupakan kunci sukses dalam kehidupan keluarga Gao.

Karena ada film ini, aku jadi semangat menjalani hari-hariku terutama kalo udah pengen shopping, please hemat deh dan jangan sering ganti baju hehe3x, selain itu aku juga selalu ingin pulang cepat sampai di rumah, karena aku gak boleh ketinggalan satu episode pun. Setiap jam 9 teng aku udah siap nongkrong sambil nyemil nonton DAAI TV.  

 

 

Ketika Gladiol Bersemi

Posted: May 12, 2008 by Eva in Inspirasi, Seni, Film dan Budaya

Ketika Gladiol Bersemi

 

Setelah serial Cerita di Balik Kisah yang menceritakan Si Kun San, yang disiarkan di DAAI TV setiap jam 7, aku benar-benar menjadi kecanduan lihat drama DAAI TV,  karena pada jam 9 ada siaran  Ketika Gladiol Bersemi (KGB). Sebelumnya aku gak tahu jika pada 2007 drama ini sudah pernah disiarkan. Setelah aku cari di internet, ternyata banyak sekali penggemar serial ini.

Ketika Gladiol Bersemi merupakan sebuah drama seri televisi yang ditayangkan stasiun DAAI TV Jakarta. Diangkat dari kisah nyata pengusaha-pengusaha sukses dari keluarga Pak RT Gao yang tinggal di Taiwan. Beruntung saya bisa mengikutinya meski bukan dari awal benar. Karena banyak hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dalam hidup ini.

Keluarga Pak RT Gao awalnya adalah sebuah keluarga petani yang hidup di Danau Rebung, yakni sebuah wilayah gunung bambu yang tandus dan susah ekonominya. Keluarga ini terdiri atas:

Kakek. Ia seorang yang begitu mencintai sastra sehingga berkenan memberikan pendidikan dan pengajaran bagi para tetangganya. Ia pun rajin memberikan petuah-petuah dan nasihat-nasihat bijak kepada cucu-cucunya.

Pak RT Gao. Ia seorang petani yang tekun, ulet, senang berderma dan suka membantu orang lain. Ia rela mengeluarkan hartanya untuk mereka yang memerlukan. Ia cerdas, senang melakukan riset tentang tanaman bunga dan selalu bekerja mulai dinihari dan pulang pada petang hari.

Ibu RT. Ia adalah tipe wanita yang hemat. Tidak suka berfoya-foya. Setiap pengeluaran perlu pertimbangan yang matang. Meski terkadang dianggap terlalu berlebihan, tapi sebenarnya sikap itulah yang justru bisa membuat keluarga Gao bisa eksis. Bisa dibayangkan bila ibu tidak bersikap hemat. Tentu anak-anaknya akan sulit mendapatkan pendidikan yang memadai.

Lokasi syuting drama ini sekarang menjadi daerah kunjungan wisata. Pada saat lagi booming, sekitar Sept-okt 2005, ada beberapa tour lokal yang menyelenggarakan paket wisata menuju titik-titik syuting drama ini di gunung Yang Ming (Yang Ming Shan).

 

Drama ini merupakan drama Daai TV yang paling cepat menyebar hanya dari mulut ke mulut.Ketiga saudaranya yang perempuan akhirnya juga bergabung di Tzu Chi dan salah satunya menjadi relawan di Stasiun Daai TV Taipei. Hingga hari ini, di desanya di Yang Ming-shan, keluarga Gao masih menjadi keluarga yang sangat dihormati, meskipun anak-anaknya sendiri sudah jarang ke sana. Drama ini mengangkat posisi Daai TV di Taiwan ke posisi 3 untuk waktu prime time yang persaingannya sangat ketat.

 

Melihat drama ini aku jadi lebih bersemangat, mengingat aku juga berasal dari keluarga besar. Tidak jarang aku menangis tertawa dan termenung mengingat tingkah mereka. Apalagi usai acara ini selalu ada wawancara dengan para tokoh asli maupun aktris yang berperan.

 

Sangat inspiratif dan menyenangkan

 

Jangan Lupa  Menonton yak…

  

 

Belajar dari Kun San

Posted: April 28, 2008 by Eva in Inspirasi

Tadi malam sejak jam 7 aku istirahat setelah seharian capek banget syukuran rumah. Enggak sengaja aku melihat siaran DAAI TV yang ada di channel 15. Sebenarnya aku udah lama memperhatikan siaran TV yang menurut aku sangat mendidik. TV milik yayasan Budha Tzu chi ini beritanya memang beda. Tayangan pendidikan, lingkungan dan pengentasan kemiskinan sepertinya menjadi tema unggulan yang dikemas secara cerdas.

Pada awalnya memang agak membosankan,tapi jika lama-lama di cermati, maka apa yang disampaikan sangat berguna bagi kehidupan kita sehari-hari. Yayasan yang sukses melakukan recycle sampah terbesar di Taiwan ini menampilkan juga beberapa tokoh lingkungan yang dekat di hari rakyat. Pengolahan sampah dan upaya konservasi disampaikan dengan contoh yang menarik.

Selain itu ada juga kata-kata bijak yang disampaikan secara berkala pada pemirsa. Namun bukan itu yang membuat aku tertarik.  Aku suka dengan kisah inspiratif yang diambil dari kisah nyata. Acara yang disiarkan jam 11 malam ini sangat bagus. Seperti yang aku lihat tadi malam.

Aku agak lupa juduknya tapi yang jelas kisah nya begini:

Seorang bocah SD bernama Kun San setiap harinya bekerja dengan keras membantu orang tuanya di rumah. Ayahnya seorang penjudi dan ibunya berjualan dari tanaman hasil bercocok tanam. Kun San anak yang cerdas. Memiliki seorang kakak dan dua adik, dia anak kedua dari empat bersaudara. Saat sekolah SD ia terkadang lupa tidak mengerjakan pekerjaan rumah karena sibuk membantu orang tuanya. dia juga tidak bisa pergi berdarmawisata dengan teman-temannya ke sebuah pantai terkenal di Taiwan karena tidak punya uang. meski sedih Ibu Kun San selalu menasehari anaknya dengan mengatakan bahwa semua pantai itu sama.

Jelang lulus SD Kunsan lulus dengan nilai baik dan menyerahkan ijazah SDnya kepada sang ayah. Tapi ayahnya cuek aja dan segera menyuruh Kun San bekerja di perusahaan pakan ternak. meski masih bocah ia pekerja keras. Tiap hari ia naik sepeda dengan riang, terkadang dia ketemu dengan teman2 sekolahnya yang melanjutkan ke SMP. Dia tidak iri, dia sangat memahami kondisi dan tidak pernah sekalipun ia mengeluh.

Bertahun-tahun ia bekerja di perusahaan pakan ternak meskipun gajinya kecil. setiap ia gajian diserahkan semua pada ibunya. Saat makan siang ia selalu mendapat jatah makan siang yang selalu ia bawa ke rumahnya dan ia makan bersama ibunya.

Pendidikan orang tua yang diberikan ibunya sangat terpatri di jiwa bocah lugu ini. selang beberapa tahun kemudian ia pindah kerja mencari kerja yang lebih besar. ya, semalam baru sampai itu aja ceritanya, besok aku lanjutin.

Banyak pelajaran yang membuat  aku menangis dan berlinang air mata saat melihat jalan hidup Kun San, aku merasa bahwa aku kurang bersyukur dengan apa yang sudah aku raih selama ini seringkali mengeluh dan cepat bosan akan pekerjaan. Padahal seharusnya aku tidak demikian. Kun San yang pantang menyerah senantiasa menjalani hidup ini dengan senyuman, dengan sederhana.

Aku harus banyak belajar dari Kun San.   

 

Apabila anda Sakit Hati

Posted: March 4, 2008 by Eva in Inspirasi

Apabila anda sakit hati

Jangan bertanya bagaimana rasanya sakit hati. Jangan pula bertanya
siapa yang membuat hati terasa pedih, perih, dan nyeri. Sulit diungkapkan,
tapi sangat jelas menyayat dada bagian dalam. Sakit hati adalah sakit dari
segala sakit. Mungkin Anda pernah mengalaminya.

Sakit hati tidak selalu disebabkan oleh putus cinta, tetapi bisa juga
disebabkan oleh perbedaan pendapat atau pertentangan dengan teman
atau anggota keluarga. Namun, sakit hati hampir sama rasanya dengan putus
cinta, demikian juga dampaknya.

Siapa pun Anda, pasti ingin dicintai, mencintai, dipercayai, dan
mempercayai orang lain. Tetapi, ketika sakit hati tiba, sulit bagi
Anda untuk kembali memaafkan dan mempercayai orang yang melakukannya.
Bahkan Anda mungkin merasa sulit untuk membuka hati dan perasaan kepada
orang lain yang tidak tahu apa-apa.

Ini adalah dilema yang harus dihadapi. Terserah Anda, memilih untuk
berjalan sendiri atau melanjutkan hubungan setelah apa yang terjadi.
Satu hal yang pasti, hidup akan terus berjalan dengan atau tanpa sakit
hati.

Berdasarkan pengalaman beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa
belajar untuk membuka kembali hati, perasaan cinta dan rasa percaya kepada
orang-orang yang pernah menyakiti atau orang lain yang, suatu saat
nanti, akan menyakiti Anda, merupakan hal yang penting. Kenapa?

Karena cepat atau lambat, setiap orang akan menyakiti dan disakiti
hatinya.
Oleh sebab itu, akan lebih baik apabila Anda menyadari bahwa tidak
ada satu orang pun di dunia ini yang luput dari sakit hati, termasuk Anda.

Anggaplah sakit hati sebagai hal biasa.
Tanpa bermaksud mengurangi rasa percaya kepada orang-orang yang Anda
cintai, ada baiknya Anda menyadari bahwa siapa pun dia, teman biasa,
sahabat, pacar atau keluarga dan sebaik apa pun dia, suatu saat nanti
akan menjadi orang yang menyakiti Anda – walaupun mungkin tidak disengaja.

Oleh sebab itu, ada baiknya apabila Anda menganggap bahwa mereka
tidak serius dengan ucapannya. Anda bisa menganggapnya angin lalu atau bisa
mengatakan kepada diri bahwa perbuatan mereka sebenarnya tidak
ditujukan kepada Anda. Cuek saja, jangan dimasukkan ke hati.

Belajar untuk bertanggung jawab dan menghargai orang lain juga sangat
penting. Coba bertanya pada diri, apa yang tidak dinginkan dalam
hubungan Anda, apa yang bisa membuat Anda sakit hati, dan apa yang Anda ingin
orang lain lakukan. Buatlah daftarnya dan coba utarakan hal itu kepada
orang-orang di sekitar Anda.

Apabila Anda sakit hati lagi, ada baiknya mengingat cara mengatasi
sakit hati terdahulu. Tetapi mencoba keluar dari masalah dan melupakannya
dengan cepat, akan sangat membantu. Apabila perlu, hang out bersama
teman-teman dan alihkan perhatian kepada pekerjaan atau olah raga.

Anda juga perlu mengetahui bahwa kata kunci untuk menyelamatkan diri
dari sakit hati adalah bukan percaya kepada orang lain tetapi percaya
kepada diri sendiri dan perasaan Anda. Ingatlah bahwa tidak ada jaminan
orang lain tidak akan menyakiti perasaan Anda.

Berusahalah menjadi orang baik, sopan, bijak, peduli kepada orang
lain dan dapat dipercaya. Untuk menjadi itu semua, tentu saja Anda harus dapat
mempercayai diri sendiri agar Anda merasa bebas berbuat dan menentukan
hubungan.

Berkomunikasi secara efektif dan lugas sangat penting. Ungkapkan
perasaan Anda, apa yang disukai dan apa yang dibenci. Hal itu sangat membantu
orang lain mengerti Anda dan berusaha untuk tidak melakukan tindakan
yang mungkin bisa menyakiti hati Anda.

Belajar mempercayai opini sendiri mengenai diri, tindakan dan
perbuatan Anda adalah lebih penting dari mempercayai opini orang lain. Bisa
jadi Anda justru bertambah sakit hati dengan opini mereka. Belajarlah untuk
percaya dan hargai diri Anda sendiri.

Hal paling utama yang harus Anda lakukan adalah belajar memaafkan kesalahan
orang lain karena memaafkan adalah hal paling baik dalam sebuah hubungan.