Archive for the ‘Jalan-jalan’ Category

 

Tidak terasa hampir satu bulan

Menjelajahi enam kota

Surabaya, Sidoarja, Mojokerto,

Jombang, Kediri, Blitar, Malang, Pasuruan

 

Waktu berjalan cepat

Menikmati panen tebu, jagung dan nanas

Melewati kampung kursus Bahasa Inggris

Melihat kerumunan santri di sore hari

 

Kini semua kembali ke Dharmahusada

Tempat jiwa dan raga ini istirahat

Setelah melepas semua penat

Meniti hari-hari bersama

 

Selamat tinggal Dharmahusada

Banyak cerita indah diantara kita

Seindah masa depan yang akan tiba

Masa-masa penuh penantian panjang

Dharmahusada, Kedung Pengkol, Surabaya

Pukul 09.33 WIB

Musim dingin yang kering

 

Advertisements

Jangan disangka, dibalik masyarakat yang diam mereka mengekspresikan sikap lewat tulisan tangan yang ditulis penuh perasaan, sebuah perlawanan tanpa senjata.

Saat melewati kota Pasuruan saya memperhatikan pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan.

Meski apa yang saya temui hanya sekilas dan tidak ada dokumentasi foto. Namun, pesan yang di sampaikan masyarakat dalam bentuk tulisan tangan selalu saya ingat.

Pesan pertama saya temui dari pantat truk, isinya sebagai berikut:

“Jadilah Perintis Bukan Pewaris”

Saya terdiam membacanya, truk berjalan cukup lama di depan bis yang saya kendarai.

Tidak lama kemudian saya melewati rumah pinggir jalan yang menyerupai rumah kosong bercat hitam dengan tulisan tangan memakai kapur dengan huruf yang ditulis besar-besar.

“Jagalah Tanah Kita, Sebelum Semua Tanah Menjadi Ibukota,”

 

Pagi yang dingin, 4 Agustus 2018, Pukul 07:09

Pesan yang disampaikan anak muda Indonesia di Hari Kemerdekaan ke-73 ini beraneka ragam. Jika dulu Indonesia berjuang melawan penjajah dari pelbagai negara, sekarang kita harus bersatu mengusir penjajah yang tidak kita sadari.

Berikut saya lampirkan dalam video beberapa kaos hasil kreasi anak muda Indonesia dari Malang Jawa Timur.

Di outlet lain, tidak jauh dari kaos buatan anak muda Indonesia, ada merek brand luar negeri yang menampilkan pesan-pesan khas anak kekinian.

Warna-warni kaos ini bisa untuk anda pakai atau kirim sebagai hadiah. Harganyapun beda-beda sesuai dengan kualitas bahan.

Kreasi anak muda sekarang tidak terbatas, baik laki-laki maupun perempuan bisa mandiri, membuat sablon dan menjahit dengan tenaga asli Indonesia dan bersaing dengan kaos impor. Ini baru produksi kaos, mungkin masih banyak kreasi unik lainnya di bulan Agustus ini.

 

Universitas Brawijaya Malang, 2 Agustus 2018 Pukul 19:48

Sore ini kami pulang menyusuri jalan di sepanjang Ketintang timur menuju pusat perbelanjaan Royal yang bersebrangan dengan Rumkital TNI Angkatan Laut Marsekal Dr. Ramelan dengan naik becak.

Suasana sore itu sangat menyenangkan. Bunga bermekaran dan udara sore yang segar membuat saya senang menikmati kota Surabaya yang menurut Bung Karno dijuluki sebagai dapur nasionalisme.20180801_160432-1

Kampus Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengingatkan saya akan sahabat Arien Tri Widiastuti yang sekarang tinggal di Belanda. Dulu kita sekantor dan dia sering bercerita tentang tokoh sastra terkemuka yang merupakan dosennya yaitu Pak Budi Darma.

Musim kemarau membuat bunga-bunga yang berada di sekitar kampus kering berguguran, belum lagi ruas jalan yang dilewati kendaraan pribadi terlihat sangat ramai. Saya melewatinya dari belakang. Dari Fakultas Teknik Informatika, Fakultas Ekonomi, Pusat Bahasa dan Fakultas Ekonomi Sosial Budaya.

Sepertinya kampus UNESA tertata dengan baik. Depannya ada deretan unit usaha menyerupai koperasi mahasiswa. Namun di pinggir jalan arah Royal usaha masyarakat juga banyak diminati mahasiswa seperti tempat fotokopi, warung makan, bakso dan lain sebagainya.

20180801_160818-1

Tidak terasa kami sampai di Pusat Belanja Royal. Kami berjalan jauh untuk dari perempatan ke dekat pintu keluar pusat belanja. Seperti minggu lalu, di Surabaya harus hati-hati menyebrang karena jalannya sangat padat.

Kami menunggu bis ke arah Bungur Asih. Tidak lama kemudian ada Bis Damri datang dari arah Tanjung Perak. Kami naik bis Damri yang nyaman dan membayar Rp.6000 ke terminal Bungur Asih untuk selanjutnya menuju ke Plaosan Blimbingsari Malang.

Plaosan, Blimbingsari Malang
Pukul 20:13

Bila kau lihat pemuda yang lebih kaya
Cintamupun segera berpindah kepadanya

Hari minggu kemarin kami naik bis AKAS jurusan Malang-Surabaya yang berlaju kencang tanpa macet. Di perjalanan ada seorang perempuan menyanyi lagu “Cinta Hampa” dengan merdu dan mendayu.

Saya mengambil video dari samping,karena posisi duduk yang sulit. Jadi gambarnya seadanya.

Berikut video dan liriknya

Cinta Hampa

Dipopulerkan oleh D’llyod

Ibarat air di daun keladi
Walaupun tergenang tetapi
Tak meninggalkan bekas
Pabila tersentuh
Dahannya bergoyang
Airpun tertumpah tercurah
Habis tak tinggal lagi

Begitu juga cintamu padaku
Cinta hanya separuh hati
Kau lepas kembali
Nanti di suatu masa
Kau juga akan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa
Karena cinta

Bila kau lihat pemuda yang lebih kaya
Cintamupun segera berpindah kepadanya

Tapi biarlah kau cari yang lain
Kan kau buat sebagai korban
Cinta palsu hampa
Nanti di suatu masa
Kau juga kan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa karena cinta

Sore tadi kami berjalan-jalan sore menyusuri perumahan kampung, pematang sawah, dan kebun jagung. Tujuannya selain untuk berolahraga, kami ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir (sarean).

Jarak dari rumah keluarga besar kami di Dusun Banggle, Kanigoro Blitar lumayan jauh, ada sekitar kurang lebih dua kilo meter. Kami berjalan enam orang, saya, mas arif dan empat orang keponakan.

Kurang lebih 50 menit kami berjalan, cuaca sore itu sangat cerah dengan udara segar. Meskipun bulan ini bukan musim penghujan, namun semua tanaman di perkebunan tumbuh subur dan saatnya musim berbuah.

Di Banggle, suasana desa sangat terasa meski kami tinggal di pinggir jalan raya. Namun, rumah di sini tidak begitu padat dan rapat. Jarak satu rumah dengan yang lain tidak berdekatan, akan tetapi disini hidup rukun dan damai.

Bahkan, jika anda berjalan jauh ke setiap sudut desa, lebih banyak perkebunan dan sawah daripada rumah tempat tinggal. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa yang lain mulus dan dipergunakan masyarakat dan petani untuk membawa hasil perkebunan, atau untuk mencari dedaunan makanan ternak dan sapi.

Ada yang naik sepeda, ada juga yang naik gerobak motor.Banyak rumah yang di belakangnya memelihara sapi dan kambing, dimana setiap sore para petani laki-laki atau perempuan pulang dari kebun mereka atau memberi makan ternak.

Tidak terasa kami pun sampai di tujuan, tidak lama kemudian kami pulang dan kembali berjalan sambil olahraga sore. Tidak sengaja kami yang berjalan sambil bercanda bersama keponakan melihat matahari yang hampir tenggelam sore itu. Tidak sia-sia kami abadikan.
Jika ingat matahari saya suka ingat usia kita yang juga akan semakin tua dan tenggelam seperti matahari, untuk kemudian, terbit lagi besok pagi dengan semangat baru.

Ada satu lagu yang selalu kuingat yang berkisah tentang Matahari, lagu Iwan Fals yang sangat terkenal.

Mata Hati

Matahari yang berangkat pulang
Tinggal jingga tersisa di jiwa
Bintang-bintang menyimpan kenangan
Kita diam tak bisa bicara

Hanya mata, hanya hati, hanya kamu hanya aku.
Aku di sampingmu, begitu pasti
yang tak kumengerti masih saja terasa sepi

Sudah empat hari saya berada di Surabaya. Tempat yang bersih dan kotanya tertata rapi. Kanan kiri trotoar bersih tapi jarang ada yang jalan kaki. Orang Surabaya lebih senang naik mobil dan kendaraan bermotor untuk jarak dekat dan jarak jauh.

Pada hari minggu saya berjalan kaki dari RSUD Dr. Soetomo ke Delta Mall. Jalan-jalan sore membuat hati ini gembira, udara segar, di iringi gemericik air di dekat lambang kota Surabaya yaitu patung buaya. Di bawahnya mengalir air sungai yang sangat jernih. Betah saya berlama-lama menikmati indahnya Kota Surabaya, melewati monumen kapal selam dan menikmati segala kelebihannya.

Kemarin senin, saya sama Mas Arif berjalan-jalan menunggu senja di jembatan Suramadu. Berangkat habis Ashar yang ditempuh kurang lebih 50 menit dari tempat kami menginap.

Pemandangan sore itu sangat indah. Jembatan Suramadu membentang dari ujung barat ke ujung timur. Akan tetapi saya tidak naik ke atas jembatan, saya lebih senang berada di sebelah kiri jembatan dan mas Arif di sebelah bawah dan kanan jembatan.

Nelayan Kesulitan Mencari Kerang

Saya cukup lama berjalan di sekitar perahu nelayan, mengingatkan saya saat berada di Pantai Karangsong Indramayu Pantai Utara Jawa Barat. Di Karangsong rata-rata nelayan memiliki kapal besar di atas 7 GT. Ada yang 30 GT sampai 60 GT. Namun, nelayan di pantai dekat penyebrangan jembatan Suramadu, adalah nelayan harian yang pergi dalam hitungan jam, atau harian. Sedangkan kapal besar di atas 30 GT berlayar ke sebrang pulau dalam hitungan minggu dan bulan. Biasanya untuk mencari ikan.

Nelayan di sekitar jembatan Suramadu rata-rata adalah nelayan yang memiliki perahu ukuran  antara 7-8 GT. Biasanya perahu mereka mencari kerang, udang dan rajungan. Namun, saat saya berbincang dengan para nelayan yang sedang merapikan jaring nylon yang halus, mereka banyak mengeluh karena sejak dibangun jembatan Suramadu, mereka kesulitan mendapatkan kerang. Bahkan hampir tidak ada, karena harus mencari ke bagian laut dalam ke sebelah selatan jembatan yang tidak ramai kendaraan.

Mereka kini hanya bisa menghasilkan udang dan rajungan, itu saja jika jaringnya tidak rusak terkena sampah lautan yang banyak tersangkut jika ombak pasang.

Meskipun demikian, mereka tetap gembira, berkumpul sore hari membetulkan senar jaring bersama teman-teman sesama nelayan, menunggu waktu yang tepat untuk berlayar. Biasanya di atas jam 12 malam saat laut sepi dari gemuruh kendaraan bermotor, dimana udang dan rajungan naik ke permukaan laut.

Saya juga mengamati ada anak muda yang membawa karung entah mencari apa tapi seperti malu-malu. Dia berjalan sendirian dan sangat hati-hati karena di pinggir pantai banyak aneka hewan bercangkang yang masih hidup maupun yang tinggal cangkangnya saja menyerupai kerang tapi seperti kumbang.

Jika di pantai yang bersih kumbang jalan di pasir terlihat indah, di pantai bawah jembatan Suramadu, kumbang-kumbang kasihan karena mereka harus hidup diantara sampah plastik yang dibuang sembarangan. Saya tidak yakin yang membuang adalah nelayan, tapi entah siapa. Tidak hanya sampah plastik, ada juga sampah kain, sampai sampah celana dalam. Semua bercampur mengganggu keindahan pemandangan memandang indahnya jembatan.

Sampah plastik di pinggir pantai sisi kiri jembatan

Karena banyak sampah, saya pun tidak jadi berlama-lama. Kalau mau kesana harus hati-hati juga kalau memakai sandal, karena banyak cangkang kumbang keras yang nempel di sandal, jadi harus memakai sandal yang barbahan dasar karet keras.

Setelah cukup melihat sisi jembatan dan pantai dari sebelah kiri, saya pun berjalan ke pantai sebelah kanan. Di sana banyak orang tua yang membawa anak bermain di bawah jembatan dan berjalan di pinggir pantai.

Saya pun menemui Mas Arif yang berada di sebelah kanan. Kami naik ke atas sisi kanan untuk mencari spot terbaik, dimana di sana ombaknya sangat besar. Ada gedung petugas yang mengawasi pantai dan banyak penjual makanan.

Namun sayang, lagi-lagi saya kecewa ketika duduk berdiri di atas bebatuan. Tumpukan sampah berkumpul di bibir pantai bawah jembatan sisi kanan.

Sampah plastik di pinggir pantai jembatan Suramadu sisi kanan

Karena waktu menjelang senja telah tiba. Kami pun pulang. Kendaraan umum seperti angkutan kota di Surabaya sangat jarang. Anak-anak kecil sudah pada merokok dan naik motor memenuhi jalan. Sepanjang jalan saya merenung, sebenarnya saya sangat betah tinggal di Surabaya, makanan dan kuliner enak, penginapan banyak pilihan. Dua hal yang disayangkan, selain udara panas, mau menyebrang jalan saja sulit, karena terlalu padatnya kendaraan.

Surabaya, 17 Juli 2018
pukul 17.23

Sabtu Kecewa Bersama Bis Damri

Posted: April 21, 2018 by Eva in Jalan-jalan

Hari ini aku sangat kecewa karena naik bis Damri dari Bandara Soetta ke Lebakbulus bayar dua kali. Ternyata tiket di counter yang ada di bandara gak kepake aku harus beli lagi di atas.

Teman-teman kalau naik Damri mending bayar di atas bis saja. Tadinya aku dah semangat mau menulis sky train dan beberapa hal yang terkini di bandara. Tapi semua buyar sudah.

Sepanjang perjalanan aku gondok dan kecewa. Cukup aku saja deh yang ketipu calo agen bis Damri, penumpang lain jangan.

Lebakbulus 21 April 2018 Pukul 15.38

Jika minggu lalu saya tampilkan foto aneka gaya orang berolahraga. Hari ini saya belajar dengan membuat video masih di lokasi yang sama, yaitu taman di selasar Bintaro Xchange yang selalu penuh dengan orang berolahraga.

Dari mulai jogging, senam, lari, karate, pencak silat, dan lain-lain. Tapi kebanyakan adalah olahraga yang paling ringan yaitu jogging.

Untuk pertamakalinya saya membuat video menggunakaan aplikasi Adobe Premier Clipe, dengan iringan lagu dari AronChupa yang saya ambil dari koleksi album di Winamp.

Silahkan simak ya, mohon maaf masih belajaran.

Mengisi akhir pekan tidak harus berlibur dengan biaya mahal. Jika anda berada di daerah sekitar Ciputat, Pamulang, atau Depok, ada satu tempat yang cocok buat outbound dan menghabiskan akhir pekan anda yaitu D’Kandang Amazing Farm yang berada di Pasir Putih, Sawangan Depok.

Tempat rekreasi sekaligus edukasi bagi anak dan keluarga ini sangat luas. Cuma memang tempatnya jauh tersembunyi di daerah Pasir putih Sawangan. Akses kesana cukup sulit jika dari stasiun kereta, atau pinggir jalan raya.  Lebih baik memang bawa kendaraan sendiri atau darang bersama rombongan.

Biaya masuk pun termasuk terjangkau. Biasanya jika akhir pekan di dekat pintu masuk ada orang senam. Berjalan kemudian melewati beberapa spot yang bagus untuk foto dan ada juga ruang pameran untuk event tertentu.

 

Sebelum jalan lebih jauh ke dalam anda akan menemukan kandang ternak aneka hewan. Dari sapi, kuda dan kambing ada di sini. Posisi kandang ada di sebelah kanan sebelum jembatan.

Di jembatan tengah yang dibuat kreatif dengan hiasan caping di atas
kawat dan aneka pot bunga dari daur ulang sepatu dan wadah lainnya, anda akan senang melihat setiap pengunjung yang melewati jembatan, berhenti sejenak dan naik bagian atas.

Setelah itu anda bisa naik lewat jalan batu agak ke atas anda akan melihat hamparan kebun, bunga dan pepohonan. Semua ditanam dengan beragam cara berkebun yang kekinian.

Hamparan kebun ini juga dipisahkan berdasarkan jenis tanaman yang ditanam. Sehingga anda, anak-anak dan keluarga bisa melihat bagaimana cara berkebun yang baik di sana.

Jadi tidak ada salahnya jika akhir pekan ini ajak anak, keluarga dan tetangga bermain di D’Kandang Amazing Farm.

13 April 2018, Pukul 13:30

Kalau anda berkunjung ke daerah Serang, Rangkasbitung, Lebak dan sekitarnya di Provinsi Banten, jangan lupa membeli oleh-oleh khas yang enak dan bermanfaat, yaitu gula batok/gula batu yang berbentuk bulat lonjong terdiri dari lima butir gula yang diikat jadi satu.

Namanya yaitu gula sarangeuy. Kenapa disebut “sarangeuy” artinya orang menyebutnya gula satu ikatan, tapi ikatan disini disebut satu tangkai seperti ikatan buah anggur atau stroberi orang Sunda menyebutnya sarangeuy.

Oleh-oleh ini bisa diperoleh di tempat-tempat tertentu seperti pusat oleh-oleh dekat wisata atau di pinggir jalan dekat sentra produksi gula warga yang membuat sendiri oleh-oleh  ini.

Gula ini rasanya lebih manis dan enak dibanding gula aren atau gula kelapa yang biasa ada di warung, toko atau suoermarket. Selain industri rumahan, kemasannya pun alami diikat pakai daun. Harganya 75.000 dapat sarangeuy yang berisi lima butir gula, dimana setiap butir bisa dibelah menjadi dua isinya juga padat.

Selain gula oleh-oleh khas Banten lainnya adalah emping dan madu murni. Emping juga ukurannya lebih besar dari emping yang ada dipasaran.

Jadi jangan lupa ya, kalau mampir ke Banten pulangnya beli gula sarangeuy.

10 April 2018, Pukul 11.48

Perkembangan batik di Indonesia, tidak hanya berpusat di Jawa Tenga h, Jogjakarta, Jawa Timur dan Cirebon saja yang terkenal, kini anda pun bisa melirik potensi lokal yang ada di Selatan Jawa Barat yaitu Batik Kenarie, khas batik dari Sukabumi.

Ada beragam motif yang menjadi ciri khas batik Sukabumi, karena memiliki tempat wisata berupa laut di Pasir Putih Ujung Genteng Sukabumi yang terkenal dengan penyu, kemudian wisata alam yang hijau di pegunungan telah menginspirasi pembatik di daerah Sukabumi membuat batik khas.

Disini dijual tiga jenis batik berdadarkan proses pembuatan. Yaitu dengan cara batik printing, batik cap dan batik tulis, dijual dengan harga beragam dan aneka motif.

Motif Binatang

Ada dua jenis motif binatang yang menjadi inspirasi dalam pembuatan batik yaitu motif penyu dan motif ikan.

Motif Penyu

Motif Penyu

Motif Daun

Untuk motif daun, Batik Sukabumi yang merupakan daerah pegunungan yang dingin kaya inspirasi.

Ada motif batik daun rimba selabintana, daun pisang, hingga paralayang. Aneka jenis motif daun ini warnanya bermacam-macam, namun kebanyakan adalah warna-warna yang hijau, pastel, mocca, orange, hingga biru dongker.

Motif Daun Rimba Selabintana

Motif Daun Rimba Selabintana

Selain itu ada juga motif yang abstrak dan aneka motif lainnya yang menarik.

Jika anda ingin lebih tahu secara mendalam aneka jenis Batik Sukabumi, datang saja ke sentra Batik Kenarie di jl. Kenari no 2 Sukabumi, anda bisa memilih beragam motif yang anda inginkan dari harga yang paling murah yaitu mulai  Rp.70.000, Rp.99.000, Rp.125.000, Rp.210.000, Rp.400.000 hingga Rp.1.600.000 juga ada, yaitu jenis batik tulis.
Aneka motif dan corak batik Sukabumi

Gambar di sebelah kanan atas no 2 dari kanan yang bergaris kuning dan hitam adalah batik corak daun pisang dan aneka motif lainnya yang menarik hati. Silahkan dipilih.

Jadi jika anda sedang berwisata ke Sukabumi, ada tugas kantor, atau lewat,  jangan lupa pulangnya mampir ke Batik Kenarie Sukabumi ya…

4 April 2018
Pukul 12.33

Seorang ibu-ibu berbadan gemuk membawa seorang anaknya mengamen di bis Mulya jurusan Serang-Kalideres.Tiga lagunya asyik-asyik dan enak di dengar.

Berikut lagu pertama

Rindu Berat oleh Camelia Malik

Kau suka ku cinta
jadinya sama-sama
Kau rindu ku kangen
jadinya satu sama

Kalo sudah begini, sayang
berpisah ku tak kuat
Jangankan satu minggu, sayang
Sehari ku rindu beraaat

Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Kau cinta kau suka

Kau dan aku sama-sama sudah dewasa
Wajar saja kalo kita sudah menyinta

Aku mau walaupun hidup seadanya
Asal cinta tak kan pernah terbagi dua
Dirimu diriku bagaikan kancing dan baju
Kemana bersama bagai Romie da Juli

Kau suka ku cinta
jadinya sama-sama
Kau rindu ku kangen
jadinya satu sama

Kalo sudah begini, sayang
berpisah ku tak kuat
Jangankan satu minggu, sayang
Sehari ku rindu beraaat

[Reff:]
Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Lagu Kedua

Wulan Merindu
By: Cici Paramida

Sunyi Sepi Malam Tanpa Sinar Bulan
Sesepi Diriku Sendiri Dalam Penantian
Tak Tahan Rasanya Gelora Di Jiwa
Ingin Segera Bertemu

Duhai Kekasihku Duhai Pujaanku
Aku Rindu Kepadamu
Sekian Lamanya Kumemendam Rasa
Tak Tertahan Lagi Rasa Gundah Di Dalam Dada

Teringat Dirimu Terbayang Kau Selalu
Setiap Malam-malamku
Datanglah Sayangku Hadirlah Kasihku
Wulan Ini Merindumu

Betapa Indahnya Dunia Terasa
Bila Kau Ada Di Sisiku
Alangkah Syahdunya Seakan Terasa
Bagaikan Ku Di Alam Surga

Bawalah Diriku Oh Sayang
Kuingin Selalu Bersamamu
Tak Sanggup Lagi Diri Ini
Berpisah Denganmu Kasih

Cintaku Sayangku Kasihku
Kuserahkan Hanya Kepadamu
Semoga Tuhan Merestui
Bahagia Selamanya

Lagu ketiga

Iming-Iming oleh Rita Sugiarto

Haa..haaaa…
Haaa haaaa…
Bulan yang engkau janjikan
Bintang malam kau tawarkan
Yang ada hanya celakaaa…
Karena hati.. kau sakiti..

Ku..rang apakah..
ya.. aku ini..
baik sudah cantik juga sudah
Di matamu

Musim hujan kepanasan
Musim panas kehujanan
Pantaslah saja diriku
Selalu dalam keresahan

Kau janji janji..
Kau tawar tawar..
Kau janjikan kau tawarkan cinta
Iming-iming saja

Cinta siapa..
Rindu siapa..
Kalau cinta milik orang lain
Ya percuma saja
Biarlah.. diriku..
sendiri.. sendiri saja..

Musim hujan kepanasan
Musim panas kehujanan
…..

Cukup sampai disitu Ibu itu mempersembahkan lagu, dia turun di Balaraja.

Lumayan lama dia menyanyi diiringi hujan deras di luar sana.
Saya sempat videokan, coba simak ya..

Selama saya tinggal di Pondok Petir, Depok, berbatasan dengan Pamulang, belum sekalipun saya main ke Kabupaten Lebak. Padahal tempat tinggal saya  dekat Tangerang Selatan, termasuk dekat. Baru pada bulan Februari lalu saya berkunjung ke  Kabupaten Lebak, naik KRL (Commuter) dari Sudimara ke Stasiun Rangkas Bitung. Saya berangkat pagi-pagi sekali  dan ternyata memang  jauh sekali perjalanan dari Sudimara ke Rangkas Bitung lebih dari satu jam perjalanan.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika anda bersama keluarga mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah di Provinsi Banten yang terkenal dengan penduduk aslinya Suku Baduy. Saya pun tidak menyesal berkunjung ke tempat ini, karena selain tempatnya mudah dijangkau (tidak jauh dari stasiun), datang ke sini juga anda (bebeunangan, bahasa Sunda-ed) artinya dapat banyak.

Kenapa dikatakan demikian, karena ada tiga tempat yang  anda bisa kunjungan yang terpusat di satu lokasi. Sehingga anda betah berlama-lama di sini. Pertama, mengunjungi perpustakaan Saidjah Adinda, setelah membaca koleksi buku, kemudian menonton film sejarah, kedua, berkunjung ke Museum Multatuli yang baru saja diresmikan dan sebelum pulang anda bisa mengunjungi cara pembuatan batik lebak yang berada persis di belakang museum, proses produksi, penjahitan sampai penjualan. Tidak ada salahnya, tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata anda bersama teman, kerabat, atau keluarga, baik yang berada di Jakarta ataupun pinggiran ibukota.

Perpustakaan Saidjah Adinda

Moda transportasi untuk menempuh ke tiga lokasi ini lokasi  bisa naik apa saja. Dari jalan kaki, naik ojek, hingga angkutan kota. Para pengemudi beragam angkutan disana sudah hapal. Bilang saja nama lokasi yang berada di dekat alun-alun, persisnya di Jl.Alun-alun Timur No.6 Rangkas Bitung, Lebak.

Pertama yang saya kunjungi adalah Perpustakaan Saidjah Adinda. Desain arsitektur perpustakaan ini unik, dengan deretan buku yang beragam. Ada ratusan koleksi buku milik perpustakaan Saidjah Adinda ini, dari sejarah, agama, politik, pertanian, sosial, dan buku bacaan anak-anak.

Berikut beberapa koleksi buku Perpus Saidjah Adinda. Pak Ali Rahmat, meminjami saya buku  bersampul kuning berjudul Max Havelaar.  Dan saya pun membacanya meski tidak sampai selesai.

Saat saya berkunjung, koleksi majalah dan koran yang berada di lantai dua ramai dengan anak-anak yang masih usia SD yang bergiliran juga sambil bermain. Sedangkan koleksi buku dewasa tampak sepi, karena sedang jam kerja sehingga hanya ada beberapa petugas yang merupakan pegawai dan anak muda.

Usai makan siang, perpustakaan mengumumkan ada pemutaran film Max Havelaar, di ruang audiovisual. Saya pun berkunjung kesana, dimana studionya dibuat dari rangkaian bambu. Anak-anak SMA nampak sudah memenuhi studio, dan film pun sudah diputar. Dari film itulah saya mengenal siapa itu Saidjah Adinda yang menjadi nama perpustakaan. Sangat mengerikan tokoh Saidjah dalam film ini, dimana ia seorang perempuan anak petani yang mengenakan caping namun ditendang dengan kasar oleh kolonial dan menjalin cinta tidak sampai dengan Adinda. Lebih jelasnya tentang siapa itu Saidjah Adinda, anda bisa klik link di bawah ini. Saidjah Adinda

Film yang berdurasi cukup lama ini menarik untuk ditonton. Selain mengenalkan sejarah bagaimana Kawedanaan Lebak di zaman kolonial, anda akan lebih paham

Museum Multatuli

 

Setelah melihat koleksi buku, majalah, surat kabar, serta menonton film di Audiovisual, saya berjalan sedikit ke gedung sebelah kanan dimana di situ ada Museum Multatuli. Karena sudah menonton filmnya saya jadi tahu sedikit tentang siapa itu Multatuli, kaitannya dan Max Havelaar, dan alasannya kenapa diabadikan sebagai museum. Museum ini menyerupai rumah tua bercat putih tulang kombinasi kuning gading.

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada Januari hingga Maret 1856. Berdasarkan pengalamannya di daerah tersebut, dia menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar yang pertama kali diterbitkan pada 1860.

Dengan Max Havelaar, Multatuli ingin membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Ide-ide itu menginspirasi tokoh-tokoh pendiri bangsa, seperti Soekarno, untuk memerdekakan Indonesia.

Sebagai karya monumental,  novel Max Havelaar, Kabupaten Lebak memutuskan untuk menjadikan bekas kantornya  dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an sebagai museum. Menurut Ubaidillah, Museum Multatuli ini direhab dan didesain ulang oleh arsitek dari IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia).

Sejak anda masuk di pintu depan anda akan tertegun dengan karya seni baik foto maupun karya seni lainnya, tentang eksistensi manusia. Sejarah kopi dan pertanian, puisi rendra, serta tokoh-tokoh pahlawan dari Lebak dan nasional. Hening dan senyap anda selama mengunjungi beberapa bagian museum yang dilengkapi dengan pidato tiada henti selama anda mengitarinya.

Tidak begitu besar memang isi dari museum ini, akan tetapi anek koleksi, foto, peta, alur sejarah sampai dengan karya Multatuli sangat lengkap dan padat. Sehingga anda tidak usah berlama-lama di dalam anda bisa larut dalam sejarah zaman kolonial. Jika anda perhatikan betul, akan banyak ilmu dan sejarah yang saya sendiri tidak tahu awalnya nama-nama tokoh antikolonial.

Usai mencermati dan mengambil gambar, saya keluar museum dengan wawasan baru dan banyak hal tentang museum Multatuli. Banyak spot-spot menarik di dalam musem dan luar museum, tapi tidak saya cantumkan disini, biar nanti anda berkunjung kesana saja hehehe…

 Sentra Batik Lebak

Hari sudah beranjak sore, jam tiga saya keluar dari museum. Berjumpa dengan Pak Ubaidillah di pintu belakang saat saya mau ke sentra batik Lebak yang persis berada di belakang Museum. Kita ngobrol sebentar dan sempat ambil gambar. Tidak lama kemudian saya melanjutkan perjalanan ke sentra batik Lebak. Sentra batik ini sangat luas dan terbuka.

Tiga orang anak muda sedang melakukan proses membatik. Ada yang mencap, ada juga dua orang yang mendampinginya. Beberapa batik yang sudah selesai digarap dijemur hingga kering. Setelah itu di sebelah barat ada lelaki setengah baya yang sedang menjahit batik lebak, berupa konveksi yang terhubung dengan pemasaran.

Di bagian depan sentra batik, ada toko yang menjual batik yang sudah jadi. Ada yang dalam bentuk pakaian maupun kain siap jahit. Unik dan bagus corak motif batik Lebak saya perhatikan warnanya cerah. Berikut beberapa koleksinya.

Usai dari Sentra batik, saya lapar dan berencana kembali ke Stasiun Rangkas Bitung untuk melanjutkan perjalanan nanti malam ke Serang. Cukup puas sudah dari pagi hingga sore saya mengitari tiga tempat ini, ada banyak kesan yang mendalam dan wawasan  baru di luar yang saya ketahui selama ini.

Seusai dari sentra batik, wah anak-anak pulang sekolah ramai sekali berkumpul di Museum Multatuli. Ada yang bercengkrama, ada juga yang berselfie ria. Di selasar museum ada juga sekelompok anak muda, sepertinya dari Jakarta sedang berdiskusi serius membentuk lingkaran.

Jadi tunggu apalagi, ini kan hari Jum’at,  besok akhir pekan tidak ada salahnya anda berkunjung ke tiga lokasi ini untuk berwisata sambil menambah wawasan,   sambil jalan-jalan atau menghabiskan akhir pekan.

Pamulang, 10.05 WIB

Minggu lalu saya melakukan perjalanan singkat ke Semarang, Temanggung, Magelang, Jogjakarta dari hari Rabu sampai hari Sabtu.

Sangat menyenangkan perjalanan kali ini meski tidak bisa nyantai karena menyesuaikan jadwal kepulangan seperti sesuai tiket yang kubeli di tiket.com

Saya dijemput suaminya keponakan dan  menginap di rumahnya. Untuk pertamakalinya saya mengunjungi Semarang yang ternyata kotanya klasik banget ya, di dekat stasiun banyak bangunan tua dan kafe-kafe asyik tapi unik ala-ala zaman kolonial Belanda. Saya juga sempat berfoto di Simpang Lima.

Usai dari Semarang, sore hari saya melanjutkan perjalanan ke Temanggung dengan naik patas Ramayana yang bisnya nyaman, dingin diiringi musik-musik dangdut kekinian dari Rhoma Irama hingga Via Vallen.

Saya naik dari terminal Sukun dan berhenti di Secang untuk kemudian dijemput teman dan melanjutkan ke Temanggung saat hari menjelang malam.

Saya sangat senang karena pas mau pulang dioleh-olehi batik Magelang warna orange. Dulu saya pernah punya diberi sama teman kuliah batik Papua sama-sama warna orange. Kalau batik Papua motifnya Cendrawasih, saya bikin sarimbit sama mas arif sedangkan batik Magelang motifnya kecil-kecil ada awan, bangunan dan merapi.

Pagi hari dari Temanggung saya dibonceng naik motor menyusuri sawah nan indah. Asyik banget suasana pedesaan di pinggiran kota ini membuat perjalanan Temanggung Magelang hanya bisa ditempuh tidak sampai satu jam. Saya diantar ke terminal Magelang untuk lanjut naik Ramayana lagi tujuan Jombor Sleman Jogjakarta.

Perjalanan Magelang Jogja juga asyik, lewat Ambarawa, dan daerah lainnya tapi saya tidak hapal namanya.Tapi udaranya dingin sehingga saya tertidur sesampai di Jombor untuk lanjut ke Condong Catur, ke Panti Rapih dan rumah kakak ke-8 di Bantul.

Sebelum pulang, kakak ipar menghadiahi saya batik Jogja kombinasi warna ungu, pink fanta dan abu tua dengan ciri khasnya motif parang dan campuran motif klasik lainnya. Saya dulu pernah punya batik warna sejenis  saya bikin rok tapi sobek waktu naik motor di Bali.

Kini ada gantinya, rencana batik jogja mau dibikin rok juga yang ungu pink fanta abu dan batik Magelang  rencana mau bikin casual. Wah saya senang dengan oleh-oleh batik ini karena sekarang hampir tiap daerah ada batik, perkembangan batik sangat pesat.

Terimakasih sahabat dan kerabat yang telah memberiku oleh-oleh batik. Semoga rejekinya ditambah. Sangat bermanfaat buat saya.

Pamulang 15 Maret 12.30 2018

Hampir tiga tahun ini kami tiap hari beraktivitas menggunakan motor untuk bekerja. Parkir di Stasiun Sudimara lanjut naik KRL ke tempat bekerja, namun mulai awal tahun 2018 ini sesekali saya naik busway.Dulu jika pulang tidak bareng suami saya kadang naik angkot, tapi sering ngetem lama dan akhirnya naik ojek daring.

Resiko tidak bisa naik motor itu repot, kadang kalau tidak bisa diantar adakalanya kalau bepergian jarak dekat naik sepeda, atau naik ke opang lama di Pamulang Elok, namanya Bang Amir opang asli pondok petir, kalau tidak bisa kadang Bang Jadu. Mereka mudah dihubungi dan merupakan orang Betawi asli. Rumahnya tidak jauh dari komplek perumahan kami.

Namun siang itu kamis, 8 Februari saya kebetulan habis ada acara di daerah Palmerah arah Slipi, tiba-tiba saya kok malas ya naik KRL atau busway, saya kangen naik bis kuning Koantas Bima 102 jurusan Tanabang-Ciputat.

Biasanya di perempatan Slipi banyak bis yang ngetem tapi sore ini tidak, saya menunggu ada sekitar 10 menit langsung bisnya jalan. Saya sudah cukup lama tidak naik bis 102 terakhir kapan ya mungkin 1 tahun lalu lebih karena malas sekali lewat jalur Pondok Indah Radio Dalam karena macet sekali, lebih nyaman pakai commuter.

Namun seraya merenung entah kenapa saya sangat menikmati naik bis 102 yang isinya lumayan penuh. Baru naik fly over dekat Senayan saya dihibur pengamen remaja menyanyikan dua lagu, satu lagu ciptaan sendiri dan yang kedua lagi Franky Sahilatua yang asyik sekali ku dengar di tengah gemuruh mesin bis.

“Hangatnya matahari
Membakar tapak kaki
Siang itu disebuah terminal
Yang tak rapi. Wajah pejalan kaki
Kusut mengutuk hari
Jari jari kekar kondektur
Genit goda kaki

Wah sayang lagu mereka berhenti padahal saya masih menikmati.
Perlahan tapi pasti bis berjalan tanpa hambatan hanya macet sedikit depan Senayan City arah Taman Puring. Tiba-tiba naik seorang Bapak-bapak memakai kacamata berbaju hitam dan bertopi memetik gitar dengan syahdu. Wah saya merasa senang sekali dengan lagu-lagu lawas yang ia nyanyikan seperti lagu-lag Panbers dll salahsatunya liriknya begini…

“Demi engkau dan si buah hati aku rela begini….

Wah Bapak ini saya lihat sangat pintar bernyanyi dengan penuh perasaan sehingga semua penumpang diam, hingga akhirnya dia turun sebelum masuk jalan radio dalam.

Sekian lama perjalanan lancar, bis 102 tersendat di depan Plaza Pondok Indah sehingga harus memotong jalur lewat RSPI hujan deras mengguyur sampai halte busway Lebak Bulus.

Memasuki jalan Cirendeu bis bocor, waduh penumpang banyak yang pindah termasuk saya yang geser dua kursi ke belakang. Sampai di pool terakhir Pasar Ciputat hujan deras tiada henti karena kosong saya ngobrol sama kondektur yang cerita bahwa setorannya turun 50% lebih dari sehari 700 rb skg jd 300 rb karena sekarang ada busway jurusan Ciputat Sudirman dan kendaraan online di mana-mana. Dia berkata bahwa pengaruh dua jenis kendaraan itu sangat besar bagi kelangsungan armadanya sehingga sekarang armada 102 dikurangi.

Dia juga cerita kalau bis – bis kopaja dan Koantas lainnya sekarang sepi karena banyak kendaraan gratis seperti bis tingkat dan busway yang tidak lewat jalur. Bis P 19 juga kata kondektur tadi dulu setorannya paling besar sehari bisa 1.500.000 akan tetapi sekarang turus drastis di bawah 500 ribu.

Kemajuan teknologi dan kenyamanan berkendara sangat berpengaruh pada para pengusaha armada dan para sopir kondektur yang sekian lama hidup di ibukota. Sulit dicari solusi karena bagaimanapun harus ada yang menjadi korban dan dikorbankan.

Akan tetapi Bapak kondektur ini sangat tegar menghadapi apa yang dialaminya sehari-hari. Ia bercerita tiada beban. Badannya kekal dan kulitnya legam, rambutnya yang ikal dan sorot matanya yang tajam menggambarkan ketabahannya menghadapi bisnya yang bocor, sepinya penumpang bertarung dengan macet dan hujan sepanjang perjalanan Slipi – Ciputat. Saya membayar tarif 4000 rupiah.

Usai bercerita panjang lebar tentang setoran bis, dan terminal yang dibakar kami sampai di tujuan akhir. Ada tiga orang penumpang yang turun bersama saya, kami semua berlarian mencari tempat berteduh. Air menggenang membasahi sepatuku masuk sampai ke dalam sela-sela kaki, selokan mampet dan sayapun meloncat ke pinggir toko cari tempat berteduh menunggu angkot ke Reni Jaya jurusan Reni.

Seperti biasa angkot cukup lama lewat, hingga sekitar 12 menit kemudian datang dan ngetem di pengkolan (belokan) langsung penuh seperti biasa. Saya pun berjalan menuju ke angkot Reni dan akhirnya angkot pun berjalan. Selang berapa meter ke depan tiba-tiba ada penumpang bucis (bahasa sunda), (basah kuyup) lelaki setengah baya masuk tergesa membawa bungkusan besar hitam.

Dia mencegat agak ke tengah karena hujan, namun karena berhenti mendadak, sebuah mobil mewah di belakang langsung membunyikan klakson, Bapak itu setengah berteriak mengumpat “Orang kaya, gak sabaran,” ujarnya sambil menoleh ke belakang dan merapikan bawaan. Dia terlihat menahan geram, kami di dalam angkot pun berisik mendengar bunyi klakson.

Tidak lama kemudian, mobil itu menyalip dari sebelah kanan lalu melaju kencang. Kami semua penumpang dalam angkot Reni yang sudah ringkih dan karatan disana-sini hanya terpaku diam… hening. Tidak lama kemudian angkot Reni pun melaju perlahan dengan suara mesinnya yang khas, menderu, membelah hujan….

Pondok Petir, Minggu 11 Februari 2018

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet Deneefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers Festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali. Ia mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7 km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan “Imagining India” pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada aplikasi waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee . Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke Tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali. Ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain beulok-beulokan (kotor-kotoran) di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-foto akhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara di Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya Jack, serta Alex mereka semua turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampai besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di Neka Museum saya mengikuti sesi “Migrant “dan “Refugees” bersama Stef Vaessen, Sami Shah, Chris Raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang “A Little Life” yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemu Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Lima Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan. Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak aku ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbagai bangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket Bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan ke Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirman 21.40

Resensi Buku
Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Editor : Eka Saputra dan Nurjannah Intan
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Maret 2016
ISBN : 978-602-291-143-2
Harga: Rp.69.000

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Barangkali diantara kita pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara di luar negeri dan menemukan ciri khas negara itu dari mulai tempat wisatanya, tata kotanya bersih atau tidak, penginapan yang nyaman dan murah, akses transportasi yang layak dan tentu saja ciri khas kuliner kota di negara tersebut. Namun ketika kita menemukan hal-hal baru di negara tersebut, ada sekeping hati yang yang merindukan suasana tanah air kita Indonesia tentang segala sesuatunya yang sulit kita temukan di negeri orang.

Dari Kota terbersih Sampai Kota Terjorok

Buku yang merupakan kisah perjalanan Pandji Pragiwaksono keliling dunia melakukan Stand up komedi “Mesake Bangsaku World Tour” (MBWT) ini sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan bahasa yang ringan dan kocak seperti kita lihat Pandji berstand-up komedi yang sering kita lihat di TV atau Youtube. Bedanya ini dalam bentuk buku. Negara yang dikunjungi Pandji mulai April 2014 sampai April 2015 yaitu Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Goldcoast, Hongkong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.
Pandji memang tokoh anak muda yang luar biasa, berkat kepintarannya dia berhasil melakukan perjalanan ke 25 kota dan 10 negara untuk melakukan stand up komedi MBWT dan bertemu warga Indonesia di luar negeri yang rindu akan Indonesia, untuk melakukannya tentu butuh biaya besar, tapi berkat sponsor Garuda Indonesia, Telkomsel dan Bank Mandiri semua mimpi Pandji terlaksana meskipun di beberapa kota tertentu harus menginap bukan di hotel tapi di kedutaan dan apartemen milik orang Indonesia.

Membawa tujuh orang rombongan tentu bukan hal yang mudah, tapi rombongan Pandji kompak dalam melaksanakan misi besarnya yaitu menghibur rakyat Indonesia di luar negeri. Nah di sela-sela kunjungan tersebut ada banyak cerita yang kocak dan konyol dikisahkan Pandji yang membuat anda tertawa ngakak.

Misalnya tentang kebiasaan buang air besar di beberapa negara yang tidak menyediakan air untuk membersihkannya dan harus pake tissu toilet, hampir di semua negara dan ini tentu saja sangat menggelikan, meskipun ada di beberapa negara seperti Berlin yg menyediakan air, dan untuk megantisipasinya Pandji menyarankan untuk selalu membawa botol Aqua kosong ukuran dua liter agar memudahkannya.
Permasalahan toilet ini penting dan justru di bahas Pandji di awal buku, dia melihat kebersihan suatu negara bisa dilihat dari kebersihan toiletnya. Dari beberapa negara yang dikunjunginya dia berkesimpulan bahwa kota terjorok adalah kota Guangzhouw China dan Kota terbersih adalah kota Tokyo Jepang.

Tentu ini sangat beralasan, Ghuang Zhow misalnya saat di Hotel Pandji menemukan kamar mandi laki dan perempuan tidak dipisah tapi di campur, di dalam toilet juga kotor dan jorok, padahal itu toilet hotel gmn toilet umum ya, bahkan di jalanan pun di trotoar dia menemukan kotoran manusia, ini sangat menjijikkan, berbeda dgn Jepang yang sangat mengutamakan kebersihan, toilet umum di Jepang sudah sangat modern bahkan banyak tombol yang sulit dimengerti, namun demikian betah berlama-lama karena nyaman dan wangi.

Kuliner, Penginapan murah, Kenyamanan Transportasi

Pandji sangat terperinci dan menjelaskan detail kota yang dikunjunginya, kelebihan dan kelemahan setiap kota diungkap secara gamblang. Contohnya kuliner enak di setiap kota seperti sea food enak di Sidney, keju dan roti yang enak dan murah di Amsterdam, kuliner enak di Hongkong dan beberapa makanan khas Indonesia di Amsterdam, Berlin, Camden Lock, word culinery di London, dan negara lainnya yang bisa menjadi rujukan anda jika berkunjung ke luar negeri.

Oh ya selain tempat kuliner, tempat belanja favorit dan toko mainan serta toko musik juga ada beberapa yang dikupas di buku ini.

Jika Singapura tempat menginapnya mahal anda akan diberi tahu di mana menginap yang murah, begitu juga di tempat lain anda akan terkaget kaget dengan mahalnya penginapan di Eropa sehingga anda harus menyiapkan uang lebih.

Juga alternatif penginapan murah lainnya. Satu hal yang juga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saya selama ini adalah penggunaan transportasi massal di luar negeri, hampir di setiap kota dia menceritakan kenyamanan transportasi seperti trem di london, kereta cepat di Jepang dan China, bis bis yang nyaman di kota Meulbourne yang sejuk dan menjadi kota ternyaman di dunia, Tube di London, dan juga kegalakan dan mahalnya sopir taxi di Sydney Australia.

Indonesia, Rich country Poor Management

Dari beberapa negara yang dikunjungi, seringkali Pandji bertemu orang bule dan menanyakan tentang kesannya terhadap Indonesia, dan Pandji menemukan jawabanya dari orang Spanyol yang mengatakan bahwa

“Indonesia is the Rich Country, Poor Management” dan Pandji mengakui memang benar Indonesia, Indonesia negara kaya tapi miskin manajemen pengelolaan.

Meskipun demikian, setelah mengunjungi beberapa kota dan negara di atas, Pandji menemukan kebebasan dan kebahagiaan tiada tara di Indonesia dibandingkan di negara lain. Dua rasa itu Bebas dan Bahagia tidak ditemukan Pandji di negara lain, makanya nasionalisme Pandji teruji dalam hal kecintaannya terhadap Indonesia.

Menurut Pandji Indonesia harus belajar banyak dari kota London dalam menjaga keragaman. Di London warga dunia dari berbagai negara hidup damai dan teratur.

Ada satu kalimat Pandji yang saya garis bawahi dalam buku ini yaitu pendapatnya tentang keragaman, Hasil studi Wayra di Inggris tentang riset keragaman. Riset atas 240 perusahaan start-up di London, menyatakan 82,5 persen responden setuju bahwa keragaman membawa pemikiran baru dan menumbuhkan kultur inovasi. Sebanyak 97,1 % menyatakan bersedia bekerjasama dalam tim yang beragam. Jadi bukan hanya warga London itu yang beragam tapi juga bersedia bekerjasama dalam perbedaan.

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

“Kita sering disuapi jargon Bhinneka Tunggal Ika, tapi pada kenyataannya kita belum benar-benar bisa bekerjasama dalam perbedaan. Bahkan belum bisa menghargai perbedaan apalagi perbedaan pendapat,” (halaman 143).

Saya senang dengan kutipan ini dan menjadi bahan perenungan dalam setiap pergaulan kita di era media sosial sekarang ini.
Rencana “Menemukan Indonesia” ini juga ada dalam bentuk film yang akan diputar pada 30 Maret 2016 mendatang, sebenarnya saya masih ingin menceritakan banyak tentang isi buku ini tapi akan sangat panjang, dan saya sarankan untuk mengetahui lebih banyak tentang kisah Pandji dan buku ini, saya rekomendasikan Anda untuk membacanya.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Judul : Inilah Saatnya Bisnis Kafe Anak Muda

Penulis : Ajeng Wind dan Sabirin Wardhana

Penerbit: Grasindo

ISBN : 9786023752447

Investasi menjadi sebuah kata yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan anak muda. Jika dulu seseorang berpikir untuk berbisnis ketika memasuki usia dewasa, saat ini keinginan berbisnis sudah muncul pada remaja-remaja unyu. Investasi merupakan salah satu contoh terjun ke dunia bisnis dengan keuntungan yang cukup menggiurkan. Siapapun bisa berhasil di bisnis ini asalkan tahu caranya. Investasi di bidang kafe ini sangat menggoda karena tren anak sekarang yang suku dengan wifi gratisan dan mengadakan kumpul atau nongkrong bareng. Buku yang ditulis full color ini sangat menarik perhatian karena berisi cara membuat kafe dengan praktis.

Sampul Buku

Sampul Buku

Tradisi adanya kafe berasal dari negara-negara Asia, terutama Timur Tengah. Dalam sejarah tercatat bahwa di Mekkah sekitar abad ke-16 banyak berdiri kafe yang digunakan untuk minum kopi dan membicarakan banyak hal termasuk politik negeri tersebut. Tahun 1530, kafe pertama didirikan di Damaskus. (more…)

Sebenarnya sudah lama aku memakai produk EIGER sejak tahun 2000, waktu masih kuliah di Jogja. Waktu itu aku masih pacaran ama mas Arif suka jalan-jalan cari penutup muka, tas, dompet dan jaket di beberapa toko Eiger yang ada di Jogja. Kami memang tidak begitu suka naik gunung seperti kebanyakan pecinta EIGER lainnya, tapi suka aja ama produk2nya.

Eiger Adventure

Eiger Adventure

Setelah beberapa tahun berselang kami menikah dan tinggal di Jakarta, banyak juga saya temui produk sejenis EIGER dan tak kalah bagusnya. Saya pun mulai melirik produk lain terutama jaket karena saya lihat di dekat tempat tinggal saya di Pamulang gak ada toko EIGER yang besar dan lengkap. Yang saya suka adalah koleksi EIGER di Mall Citra Grand Cibubur waktu aku jalan2 kesana ke tempat ponakan, lengkap bagus dan besar. Mas Arif sempat beli sandal disana udah sekitar setahun lalu dan sekarang masih awet.Saya juga sempat lihat acara Kick Andy yang menampilkan pendiri EIGER dan saya sangat suka sekali ternyata produk EIGER adalah asli bikinan dalam negeri dan sudah merambah ke mancanegara.

Asli Buatan Anak Negeri

Asli Buatan Anak Negeri

Seminggu yang lalu pulang dari Sukabumi, aku ditunjukkin mas Arif pusat EIGER di Bogor, tepatnya di jalan Siliwangi, di depan Mall Lippo deket di Pusat Kota Bogor, kalau dari Tajur lurus aja nanti ada di kiri jalan. Wah tempatnya besar dan baguus, aku suka banget berlama-lama disitu dan milih aneka macam produk. Penjaganya juga ramah-ramah dan pilihan barangnya lengkap.

Eiger Store Bogor

Eiger Store Bogor

Setelah keliling kesana kemari tujuan utamanya cari jaket, tapi kok yang lain juga menarik akhirnya kita beli tiga item. Jaket, kaos sama tas punggung buat aku kerja. Karena selama ini pake tas kulit cewek setelah kucoba kurang besar. Karena aku bawa makan siang dan perlengkapan lain jadi butuh tas yang cukup besar. Alhamdulilah dibeliin mas Arif wah senengnya. Total tiga item itu semua 850.000, lumayan lah tapi puas banget bagus-bagus barangnya.

Produk EIGER yang kubeli

Produk EIGER yang kubeli

Mulai minggu kemarin aku tiap masuk kerja pake tas EIGER ini, enak banget di pakenya dan nyaman. Kena hujan juga gak tembus. Warnanya Orange ngejreng banget kalau ada di kegelapan nyala. Semoga lain kali bisa beli produk EIGER lainnya. Semoga ada toko EIGER di Pamulang atau BSD yang cukup besar jadi gak usah jauh-jauh ke Bogor.
Aku Bangga Pake produk EIGER, produk asli Indonesia. Kualitas bagus dan dipakenya nyaman dan elegan.

Tas Eiger Gendong yang Kupake Sekarang

Tas Eiger Gendong yang Kupake Sekarang

Hari ini ada Quote bagus dari EIGER di Fans pagenya
Hanya bila pohon terakhir telah tumbang ditebang;
hanya bila air sungai terakhir telah tercemar;
hanya bila ikan terakhir telah ditangkap;
barulah manusia sadar bahwa uang di tangan tidak dapat dimakan

Cintai Alam Kita

Cintai Alam Kita

Maju Terus EIGER Indonesia.Saya tunggu produk2 baru berikutnya. Semoga makin berkembang dan jaya.

Jakarta, 17 November 2015