Archive for the ‘Jalan-jalan’ Category

Selama saya tinggal di Pondok Petir, Depok, berbatasan dengan Pamulang, belum sekalipun saya main ke Kabupaten Lebak. Padahal tempat tinggal saya  dekat Tangerang Selatan, termasuk dekat. Baru pada bulan Februari lalu saya berkunjung ke  Kabupaten Lebak, naik KRL (Commuter) dari Sudimara ke Stasiun Rangkas Bitung. Saya berangkat pagi-pagi sekali  dan ternyata memang  jauh sekali perjalanan dari Sudimara ke Rangkas Bitung lebih dari satu jam perjalanan.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika anda bersama keluarga mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah di Provinsi Banten yang terkenal dengan penduduk aslinya Suku Baduy. Saya pun tidak menyesal berkunjung ke tempat ini, karena selain tempatnya mudah dijangkau (tidak jauh dari stasiun), datang ke sini juga anda (bebeunangan, bahasa Sunda-ed) artinya dapat banyak.

Kenapa dikatakan demikian, karena ada tiga tempat yang  anda bisa kunjungan yang terpusat di satu lokasi. Sehingga anda betah berlama-lama di sini. Pertama, mengunjungi perpustakaan Saidjah Adinda, setelah membaca koleksi buku, kemudian menonton film sejarah, kedua, berkunjung ke Museum Multatuli yang baru saja diresmikan dan sebelum pulang anda bisa mengunjungi cara pembuatan batik lebak yang berada persis di belakang museum, proses produksi, penjahitan sampai penjualan. Tidak ada salahnya, tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata anda bersama teman, kerabat, atau keluarga, baik yang berada di Jakarta ataupun pinggiran ibukota.

Perpustakaan Saidjah Adinda

Moda transportasi untuk menempuh ke tiga lokasi ini lokasi  bisa naik apa saja. Dari jalan kaki, naik ojek, hingga angkutan kota. Para pengemudi beragam angkutan disana sudah hapal. Bilang saja nama lokasi yang berada di dekat alun-alun, persisnya di Jl.Alun-alun Timur No.6 Rangkas Bitung, Lebak.

Pertama yang saya kunjungi adalah Perpustakaan Saidjah Adinda. Desain arsitektur perpustakaan ini unik, dengan deretan buku yang beragam. Ada ratusan koleksi buku milik perpustakaan Saidjah Adinda ini, dari sejarah, agama, politik, pertanian, sosial, dan buku bacaan anak-anak.

Berikut beberapa koleksi buku Perpus Saidjah Adinda. Pak Ali Rahmat, meminjami saya buku  bersampul kuning berjudul Max Havelaar.  Dan saya pun membacanya meski tidak sampai selesai.

Saat saya berkunjung, koleksi majalah dan koran yang berada di lantai dua ramai dengan anak-anak yang masih usia SD yang bergiliran juga sambil bermain. Sedangkan koleksi buku dewasa tampak sepi, karena sedang jam kerja sehingga hanya ada beberapa petugas yang merupakan pegawai dan anak muda.

Usai makan siang, perpustakaan mengumumkan ada pemutaran film Max Havelaar, di ruang audiovisual. Saya pun berkunjung kesana, dimana studionya dibuat dari rangkaian bambu. Anak-anak SMA nampak sudah memenuhi studio, dan film pun sudah diputar. Dari film itulah saya mengenal siapa itu Saidjah Adinda yang menjadi nama perpustakaan. Sangat mengerikan tokoh Saidjah dalam film ini, dimana ia seorang perempuan anak petani yang mengenakan caping namun ditendang dengan kasar oleh kolonial dan menjalin cinta tidak sampai dengan Adinda. Lebih jelasnya tentang siapa itu Saidjah Adinda, anda bisa klik link di bawah ini. Saidjah Adinda

Film yang berdurasi cukup lama ini menarik untuk ditonton. Selain mengenalkan sejarah bagaimana Kawedanaan Lebak di zaman kolonial, anda akan lebih paham

Museum Multatuli

 

Setelah melihat koleksi buku, majalah, surat kabar, serta menonton film di Audiovisual, saya berjalan sedikit ke gedung sebelah kanan dimana di situ ada Museum Multatuli. Karena sudah menonton filmnya saya jadi tahu sedikit tentang siapa itu Multatuli, kaitannya dan Max Havelaar, dan alasannya kenapa diabadikan sebagai museum. Museum ini menyerupai rumah tua bercat putih tulang kombinasi kuning gading.

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada Januari hingga Maret 1856. Berdasarkan pengalamannya di daerah tersebut, dia menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar yang pertama kali diterbitkan pada 1860.

Dengan Max Havelaar, Multatuli ingin membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Ide-ide itu menginspirasi tokoh-tokoh pendiri bangsa, seperti Soekarno, untuk memerdekakan Indonesia.

Sebagai karya monumental,  novel Max Havelaar, Kabupaten Lebak memutuskan untuk menjadikan bekas kantornya  dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an sebagai museum. Menurut Ubaidillah, Museum Multatuli ini direhab dan didesain ulang oleh arsitek dari IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia).

Sejak anda masuk di pintu depan anda akan tertegun dengan karya seni baik foto maupun karya seni lainnya, tentang eksistensi manusia. Sejarah kopi dan pertanian, puisi rendra, serta tokoh-tokoh pahlawan dari Lebak dan nasional. Hening dan senyap anda selama mengunjungi beberapa bagian museum yang dilengkapi dengan pidato tiada henti selama anda mengitarinya.

Tidak begitu besar memang isi dari museum ini, akan tetapi anek koleksi, foto, peta, alur sejarah sampai dengan karya Multatuli sangat lengkap dan padat. Sehingga anda tidak usah berlama-lama di dalam anda bisa larut dalam sejarah zaman kolonial. Jika anda perhatikan betul, akan banyak ilmu dan sejarah yang saya sendiri tidak tahu awalnya nama-nama tokoh antikolonial.

Usai mencermati dan mengambil gambar, saya keluar museum dengan wawasan baru dan banyak hal tentang museum Multatuli. Banyak spot-spot menarik di dalam musem dan luar museum, tapi tidak saya cantumkan disini, biar nanti anda berkunjung kesana saja hehehe…

 Sentra Batik Lebak

Hari sudah beranjak sore, jam tiga saya keluar dari museum. Berjumpa dengan Pak Ubaidillah di pintu belakang saat saya mau ke sentra batik Lebak yang persis berada di belakang Museum. Kita ngobrol sebentar dan sempat ambil gambar. Tidak lama kemudian saya melanjutkan perjalanan ke sentra batik Lebak. Sentra batik ini sangat luas dan terbuka.

Tiga orang anak muda sedang melakukan proses membatik. Ada yang mencap, ada juga dua orang yang mendampinginya. Beberapa batik yang sudah selesai digarap dijemur hingga kering. Setelah itu di sebelah barat ada lelaki setengah baya yang sedang menjahit batik lebak, berupa konveksi yang terhubung dengan pemasaran.

Di bagian depan sentra batik, ada toko yang menjual batik yang sudah jadi. Ada yang dalam bentuk pakaian maupun kain siap jahit. Unik dan bagus corak motif batik Lebak saya perhatikan warnanya cerah. Berikut beberapa koleksinya.

Usai dari Sentra batik, saya lapar dan berencana kembali ke Stasiun Rangkas Bitung untuk melanjutkan perjalanan nanti malam ke Serang. Cukup puas sudah dari pagi hingga sore saya mengitari tiga tempat ini, ada banyak kesan yang mendalam dan wawasan  baru di luar yang saya ketahui selama ini.

Seusai dari sentra batik, wah anak-anak pulang sekolah ramai sekali berkumpul di Museum Multatuli. Ada yang bercengkrama, ada juga yang berselfie ria. Di selasar museum ada juga sekelompok anak muda, sepertinya dari Jakarta sedang berdiskusi serius membentuk lingkaran.

Jadi tunggu apalagi, ini kan hari Jum’at,  besok akhir pekan tidak ada salahnya anda berkunjung ke tiga lokasi ini untuk berwisata sambil menambah wawasan,   sambil jalan-jalan atau menghabiskan akhir pekan.

Pamulang, 10.05 WIB

Minggu lalu saya melakukan perjalanan singkat ke Semarang, Temanggung, Magelang, Jogjakarta dari hari Rabu sampai hari Sabtu.

Sangat menyenangkan perjalanan kali ini meski tidak bisa nyantai karena menyesuaikan jadwal kepulangan seperti sesuai tiket yang kubeli di tiket.com

Saya dijemput suaminya keponakan dan  menginap di rumahnya. Untuk pertamakalinya saya mengunjungi Semarang yang ternyata kotanya klasik banget ya, di dekat stasiun banyak bangunan tua dan kafe-kafe asyik tapi unik ala-ala zaman kolonial Belanda. Saya juga sempat berfoto di Simpang Lima.

Usai dari Semarang, sore hari saya melanjutkan perjalanan ke Temanggung dengan naik patas Ramayana yang bisnya nyaman, dingin diiringi musik-musik dangdut kekinian dari Rhoma Irama hingga Via Vallen.

Saya naik dari terminal Sukun dan berhenti di Secang untuk kemudian dijemput teman dan melanjutkan ke Temanggung saat hari menjelang malam.

Saya sangat senang karena pas mau pulang dioleh-olehi batik Magelang warna orange. Dulu saya pernah punya diberi sama teman kuliah batik Papua sama-sama warna orange. Kalau batik Papua motifnya Cendrawasih, saya bikin sarimbit sama mas arif sedangkan batik Magelang motifnya kecil-kecil ada awan, bangunan dan merapi.

Pagi hari dari Temanggung saya dibonceng naik motor menyusuri sawah nan indah. Asyik banget suasana pedesaan di pinggiran kota ini membuat perjalanan Temanggung Magelang hanya bisa ditempuh tidak sampai satu jam. Saya diantar ke terminal Magelang untuk lanjut naik Ramayana lagi tujuan Jombor Sleman Jogjakarta.

Perjalanan Magelang Jogja juga asyik, lewat Ambarawa, dan daerah lainnya tapi saya tidak hapal namanya.Tapi udaranya dingin sehingga saya tertidur sesampai di Jombor untuk lanjut ke Condong Catur, ke Panti Rapih dan rumah kakak ke-8 di Bantul.

Sebelum pulang, kakak ipar menghadiahi saya batik Jogja kombinasi warna ungu, pink fanta dan abu tua dengan ciri khasnya motif parang dan campuran motif klasik lainnya. Saya dulu pernah punya batik warna sejenis  saya bikin rok tapi sobek waktu naik motor di Bali.

Kini ada gantinya, rencana batik jogja mau dibikin rok juga yang ungu pink fanta abu dan batik Magelang  rencana mau bikin casual. Wah saya senang dengan oleh-oleh batik ini karena sekarang hampir tiap daerah ada batik, perkembangan batik sangat pesat.

Terimakasih sahabat dan kerabat yang telah memberiku oleh-oleh batik. Semoga rejekinya ditambah. Sangat bermanfaat buat saya.

Pamulang 15 Maret 12.30 2018

Hampir tiga tahun ini kami tiap hari beraktivitas menggunakan motor untuk bekerja. Parkir di Stasiun Sudimara lanjut naik KRL ke tempat bekerja, namun mulai awal tahun 2018 ini sesekali saya naik busway.Dulu jika pulang tidak bareng suami saya kadang naik angkot, tapi sering ngetem lama dan akhirnya naik ojek daring.

Resiko tidak bisa naik motor itu repot, kadang kalau tidak bisa diantar adakalanya kalau bepergian jarak dekat naik sepeda, atau naik ke opang lama di Pamulang Elok, namanya Bang Amir opang asli pondok petir, kalau tidak bisa kadang Bang Jadu. Mereka mudah dihubungi dan merupakan orang Betawi asli. Rumahnya tidak jauh dari komplek perumahan kami.

Namun siang itu kamis, 8 Februari saya kebetulan habis ada acara di daerah Palmerah arah Slipi, tiba-tiba saya kok malas ya naik KRL atau busway, saya kangen naik bis kuning Koantas Bima 102 jurusan Tanabang-Ciputat.

Biasanya di perempatan Slipi banyak bis yang ngetem tapi sore ini tidak, saya menunggu ada sekitar 10 menit langsung bisnya jalan. Saya sudah cukup lama tidak naik bis 102 terakhir kapan ya mungkin 1 tahun lalu lebih karena malas sekali lewat jalur Pondok Indah Radio Dalam karena macet sekali, lebih nyaman pakai commuter.

Namun seraya merenung entah kenapa saya sangat menikmati naik bis 102 yang isinya lumayan penuh. Baru naik fly over dekat Senayan saya dihibur pengamen remaja menyanyikan dua lagu, satu lagu ciptaan sendiri dan yang kedua lagi Franky Sahilatua yang asyik sekali ku dengar di tengah gemuruh mesin bis.

“Hangatnya matahari
Membakar tapak kaki
Siang itu disebuah terminal
Yang tak rapi. Wajah pejalan kaki
Kusut mengutuk hari
Jari jari kekar kondektur
Genit goda kaki

Wah sayang lagu mereka berhenti padahal saya masih menikmati.
Perlahan tapi pasti bis berjalan tanpa hambatan hanya macet sedikit depan Senayan City arah Taman Puring. Tiba-tiba naik seorang Bapak-bapak memakai kacamata berbaju hitam dan bertopi memetik gitar dengan syahdu. Wah saya merasa senang sekali dengan lagu-lagu lawas yang ia nyanyikan seperti lagu-lag Panbers dll salahsatunya liriknya begini…

“Demi engkau dan si buah hati aku rela begini….

Wah Bapak ini saya lihat sangat pintar bernyanyi dengan penuh perasaan sehingga semua penumpang diam, hingga akhirnya dia turun sebelum masuk jalan radio dalam.

Sekian lama perjalanan lancar, bis 102 tersendat di depan Plaza Pondok Indah sehingga harus memotong jalur lewat RSPI hujan deras mengguyur sampai halte busway Lebak Bulus.

Memasuki jalan Cirendeu bis bocor, waduh penumpang banyak yang pindah termasuk saya yang geser dua kursi ke belakang. Sampai di pool terakhir Pasar Ciputat hujan deras tiada henti karena kosong saya ngobrol sama kondektur yang cerita bahwa setorannya turun 50% lebih dari sehari 700 rb skg jd 300 rb karena sekarang ada busway jurusan Ciputat Sudirman dan kendaraan online di mana-mana. Dia berkata bahwa pengaruh dua jenis kendaraan itu sangat besar bagi kelangsungan armadanya sehingga sekarang armada 102 dikurangi.

Dia juga cerita kalau bis – bis kopaja dan Koantas lainnya sekarang sepi karena banyak kendaraan gratis seperti bis tingkat dan busway yang tidak lewat jalur. Bis P 19 juga kata kondektur tadi dulu setorannya paling besar sehari bisa 1.500.000 akan tetapi sekarang turus drastis di bawah 500 ribu.

Kemajuan teknologi dan kenyamanan berkendara sangat berpengaruh pada para pengusaha armada dan para sopir kondektur yang sekian lama hidup di ibukota. Sulit dicari solusi karena bagaimanapun harus ada yang menjadi korban dan dikorbankan.

Akan tetapi Bapak kondektur ini sangat tegar menghadapi apa yang dialaminya sehari-hari. Ia bercerita tiada beban. Badannya kekal dan kulitnya legam, rambutnya yang ikal dan sorot matanya yang tajam menggambarkan ketabahannya menghadapi bisnya yang bocor, sepinya penumpang bertarung dengan macet dan hujan sepanjang perjalanan Slipi – Ciputat. Saya membayar tarif 4000 rupiah.

Usai bercerita panjang lebar tentang setoran bis, dan terminal yang dibakar kami sampai di tujuan akhir. Ada tiga orang penumpang yang turun bersama saya, kami semua berlarian mencari tempat berteduh. Air menggenang membasahi sepatuku masuk sampai ke dalam sela-sela kaki, selokan mampet dan sayapun meloncat ke pinggir toko cari tempat berteduh menunggu angkot ke Reni Jaya jurusan Reni.

Seperti biasa angkot cukup lama lewat, hingga sekitar 12 menit kemudian datang dan ngetem di pengkolan (belokan) langsung penuh seperti biasa. Saya pun berjalan menuju ke angkot Reni dan akhirnya angkot pun berjalan. Selang berapa meter ke depan tiba-tiba ada penumpang bucis (bahasa sunda), (basah kuyup) lelaki setengah baya masuk tergesa membawa bungkusan besar hitam.

Dia mencegat agak ke tengah karena hujan, namun karena berhenti mendadak, sebuah mobil mewah di belakang langsung membunyikan klakson, Bapak itu setengah berteriak mengumpat “Orang kaya, gak sabaran,” ujarnya sambil menoleh ke belakang dan merapikan bawaan. Dia terlihat menahan geram, kami di dalam angkot pun berisik mendengar bunyi klakson.

Tidak lama kemudian, mobil itu menyalip dari sebelah kanan lalu melaju kencang. Kami semua penumpang dalam angkot Reni yang sudah ringkih dan karatan disana-sini hanya terpaku diam… hening. Tidak lama kemudian angkot Reni pun melaju perlahan dengan suara mesinnya yang khas, menderu, membelah hujan….

Pondok Petir, Minggu 11 Februari 2018

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet Deneefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers Festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali. Ia mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7 km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan “Imagining India” pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada aplikasi waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee . Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke Tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali. Ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain beulok-beulokan (kotor-kotoran) di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-foto akhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara di Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya Jack, serta Alex mereka semua turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampai besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di Neka Museum saya mengikuti sesi “Migrant “dan “Refugees” bersama Stef Vaessen, Sami Shah, Chris Raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang “A Little Life” yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemu Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Lima Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan. Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak aku ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbagai bangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket Bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan ke Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirman 21.40

Resensi Buku
Judul : Menemukan Indonesia
Penulis : Pandji Pragiwaksono
Editor : Eka Saputra dan Nurjannah Intan
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Maret 2016
ISBN : 978-602-291-143-2
Harga: Rp.69.000

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Sampul Buku Menemukan Indonesia

Barangkali diantara kita pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara di luar negeri dan menemukan ciri khas negara itu dari mulai tempat wisatanya, tata kotanya bersih atau tidak, penginapan yang nyaman dan murah, akses transportasi yang layak dan tentu saja ciri khas kuliner kota di negara tersebut. Namun ketika kita menemukan hal-hal baru di negara tersebut, ada sekeping hati yang yang merindukan suasana tanah air kita Indonesia tentang segala sesuatunya yang sulit kita temukan di negeri orang.

Dari Kota terbersih Sampai Kota Terjorok

Buku yang merupakan kisah perjalanan Pandji Pragiwaksono keliling dunia melakukan Stand up komedi “Mesake Bangsaku World Tour” (MBWT) ini sangat menarik untuk dibaca, karena ditulis dengan bahasa yang ringan dan kocak seperti kita lihat Pandji berstand-up komedi yang sering kita lihat di TV atau Youtube. Bedanya ini dalam bentuk buku. Negara yang dikunjungi Pandji mulai April 2014 sampai April 2015 yaitu Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Goldcoast, Hongkong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.
Pandji memang tokoh anak muda yang luar biasa, berkat kepintarannya dia berhasil melakukan perjalanan ke 25 kota dan 10 negara untuk melakukan stand up komedi MBWT dan bertemu warga Indonesia di luar negeri yang rindu akan Indonesia, untuk melakukannya tentu butuh biaya besar, tapi berkat sponsor Garuda Indonesia, Telkomsel dan Bank Mandiri semua mimpi Pandji terlaksana meskipun di beberapa kota tertentu harus menginap bukan di hotel tapi di kedutaan dan apartemen milik orang Indonesia.

Membawa tujuh orang rombongan tentu bukan hal yang mudah, tapi rombongan Pandji kompak dalam melaksanakan misi besarnya yaitu menghibur rakyat Indonesia di luar negeri. Nah di sela-sela kunjungan tersebut ada banyak cerita yang kocak dan konyol dikisahkan Pandji yang membuat anda tertawa ngakak.

Misalnya tentang kebiasaan buang air besar di beberapa negara yang tidak menyediakan air untuk membersihkannya dan harus pake tissu toilet, hampir di semua negara dan ini tentu saja sangat menggelikan, meskipun ada di beberapa negara seperti Berlin yg menyediakan air, dan untuk megantisipasinya Pandji menyarankan untuk selalu membawa botol Aqua kosong ukuran dua liter agar memudahkannya.
Permasalahan toilet ini penting dan justru di bahas Pandji di awal buku, dia melihat kebersihan suatu negara bisa dilihat dari kebersihan toiletnya. Dari beberapa negara yang dikunjunginya dia berkesimpulan bahwa kota terjorok adalah kota Guangzhouw China dan Kota terbersih adalah kota Tokyo Jepang.

Tentu ini sangat beralasan, Ghuang Zhow misalnya saat di Hotel Pandji menemukan kamar mandi laki dan perempuan tidak dipisah tapi di campur, di dalam toilet juga kotor dan jorok, padahal itu toilet hotel gmn toilet umum ya, bahkan di jalanan pun di trotoar dia menemukan kotoran manusia, ini sangat menjijikkan, berbeda dgn Jepang yang sangat mengutamakan kebersihan, toilet umum di Jepang sudah sangat modern bahkan banyak tombol yang sulit dimengerti, namun demikian betah berlama-lama karena nyaman dan wangi.

Kuliner, Penginapan murah, Kenyamanan Transportasi

Pandji sangat terperinci dan menjelaskan detail kota yang dikunjunginya, kelebihan dan kelemahan setiap kota diungkap secara gamblang. Contohnya kuliner enak di setiap kota seperti sea food enak di Sidney, keju dan roti yang enak dan murah di Amsterdam, kuliner enak di Hongkong dan beberapa makanan khas Indonesia di Amsterdam, Berlin, Camden Lock, word culinery di London, dan negara lainnya yang bisa menjadi rujukan anda jika berkunjung ke luar negeri.

Oh ya selain tempat kuliner, tempat belanja favorit dan toko mainan serta toko musik juga ada beberapa yang dikupas di buku ini.

Jika Singapura tempat menginapnya mahal anda akan diberi tahu di mana menginap yang murah, begitu juga di tempat lain anda akan terkaget kaget dengan mahalnya penginapan di Eropa sehingga anda harus menyiapkan uang lebih.

Juga alternatif penginapan murah lainnya. Satu hal yang juga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saya selama ini adalah penggunaan transportasi massal di luar negeri, hampir di setiap kota dia menceritakan kenyamanan transportasi seperti trem di london, kereta cepat di Jepang dan China, bis bis yang nyaman di kota Meulbourne yang sejuk dan menjadi kota ternyaman di dunia, Tube di London, dan juga kegalakan dan mahalnya sopir taxi di Sydney Australia.

Indonesia, Rich country Poor Management

Dari beberapa negara yang dikunjungi, seringkali Pandji bertemu orang bule dan menanyakan tentang kesannya terhadap Indonesia, dan Pandji menemukan jawabanya dari orang Spanyol yang mengatakan bahwa

“Indonesia is the Rich Country, Poor Management” dan Pandji mengakui memang benar Indonesia, Indonesia negara kaya tapi miskin manajemen pengelolaan.

Meskipun demikian, setelah mengunjungi beberapa kota dan negara di atas, Pandji menemukan kebebasan dan kebahagiaan tiada tara di Indonesia dibandingkan di negara lain. Dua rasa itu Bebas dan Bahagia tidak ditemukan Pandji di negara lain, makanya nasionalisme Pandji teruji dalam hal kecintaannya terhadap Indonesia.

Menurut Pandji Indonesia harus belajar banyak dari kota London dalam menjaga keragaman. Di London warga dunia dari berbagai negara hidup damai dan teratur.

Ada satu kalimat Pandji yang saya garis bawahi dalam buku ini yaitu pendapatnya tentang keragaman, Hasil studi Wayra di Inggris tentang riset keragaman. Riset atas 240 perusahaan start-up di London, menyatakan 82,5 persen responden setuju bahwa keragaman membawa pemikiran baru dan menumbuhkan kultur inovasi. Sebanyak 97,1 % menyatakan bersedia bekerjasama dalam tim yang beragam. Jadi bukan hanya warga London itu yang beragam tapi juga bersedia bekerjasama dalam perbedaan.

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

Bersama Pandji di Launching Buku Plaza Senayan

“Kita sering disuapi jargon Bhinneka Tunggal Ika, tapi pada kenyataannya kita belum benar-benar bisa bekerjasama dalam perbedaan. Bahkan belum bisa menghargai perbedaan apalagi perbedaan pendapat,” (halaman 143).

Saya senang dengan kutipan ini dan menjadi bahan perenungan dalam setiap pergaulan kita di era media sosial sekarang ini.
Rencana “Menemukan Indonesia” ini juga ada dalam bentuk film yang akan diputar pada 30 Maret 2016 mendatang, sebenarnya saya masih ingin menceritakan banyak tentang isi buku ini tapi akan sangat panjang, dan saya sarankan untuk mengetahui lebih banyak tentang kisah Pandji dan buku ini, saya rekomendasikan Anda untuk membacanya.

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok
http://www.evarohilah.com

Judul : Inilah Saatnya Bisnis Kafe Anak Muda

Penulis : Ajeng Wind dan Sabirin Wardhana

Penerbit: Grasindo

ISBN : 9786023752447

Investasi menjadi sebuah kata yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan anak muda. Jika dulu seseorang berpikir untuk berbisnis ketika memasuki usia dewasa, saat ini keinginan berbisnis sudah muncul pada remaja-remaja unyu. Investasi merupakan salah satu contoh terjun ke dunia bisnis dengan keuntungan yang cukup menggiurkan. Siapapun bisa berhasil di bisnis ini asalkan tahu caranya. Investasi di bidang kafe ini sangat menggoda karena tren anak sekarang yang suku dengan wifi gratisan dan mengadakan kumpul atau nongkrong bareng. Buku yang ditulis full color ini sangat menarik perhatian karena berisi cara membuat kafe dengan praktis.

Sampul Buku

Sampul Buku

Tradisi adanya kafe berasal dari negara-negara Asia, terutama Timur Tengah. Dalam sejarah tercatat bahwa di Mekkah sekitar abad ke-16 banyak berdiri kafe yang digunakan untuk minum kopi dan membicarakan banyak hal termasuk politik negeri tersebut. Tahun 1530, kafe pertama didirikan di Damaskus. (more…)

Sebenarnya sudah lama aku memakai produk EIGER sejak tahun 2000, waktu masih kuliah di Jogja. Waktu itu aku masih pacaran ama mas Arif suka jalan-jalan cari penutup muka, tas, dompet dan jaket di beberapa toko Eiger yang ada di Jogja. Kami memang tidak begitu suka naik gunung seperti kebanyakan pecinta EIGER lainnya, tapi suka aja ama produk2nya.

Eiger Adventure

Eiger Adventure

Setelah beberapa tahun berselang kami menikah dan tinggal di Jakarta, banyak juga saya temui produk sejenis EIGER dan tak kalah bagusnya. Saya pun mulai melirik produk lain terutama jaket karena saya lihat di dekat tempat tinggal saya di Pamulang gak ada toko EIGER yang besar dan lengkap. Yang saya suka adalah koleksi EIGER di Mall Citra Grand Cibubur waktu aku jalan2 kesana ke tempat ponakan, lengkap bagus dan besar. Mas Arif sempat beli sandal disana udah sekitar setahun lalu dan sekarang masih awet.Saya juga sempat lihat acara Kick Andy yang menampilkan pendiri EIGER dan saya sangat suka sekali ternyata produk EIGER adalah asli bikinan dalam negeri dan sudah merambah ke mancanegara.

Asli Buatan Anak Negeri

Asli Buatan Anak Negeri

Seminggu yang lalu pulang dari Sukabumi, aku ditunjukkin mas Arif pusat EIGER di Bogor, tepatnya di jalan Siliwangi, di depan Mall Lippo deket di Pusat Kota Bogor, kalau dari Tajur lurus aja nanti ada di kiri jalan. Wah tempatnya besar dan baguus, aku suka banget berlama-lama disitu dan milih aneka macam produk. Penjaganya juga ramah-ramah dan pilihan barangnya lengkap.

Eiger Store Bogor

Eiger Store Bogor

Setelah keliling kesana kemari tujuan utamanya cari jaket, tapi kok yang lain juga menarik akhirnya kita beli tiga item. Jaket, kaos sama tas punggung buat aku kerja. Karena selama ini pake tas kulit cewek setelah kucoba kurang besar. Karena aku bawa makan siang dan perlengkapan lain jadi butuh tas yang cukup besar. Alhamdulilah dibeliin mas Arif wah senengnya. Total tiga item itu semua 850.000, lumayan lah tapi puas banget bagus-bagus barangnya.

Produk EIGER yang kubeli

Produk EIGER yang kubeli

Mulai minggu kemarin aku tiap masuk kerja pake tas EIGER ini, enak banget di pakenya dan nyaman. Kena hujan juga gak tembus. Warnanya Orange ngejreng banget kalau ada di kegelapan nyala. Semoga lain kali bisa beli produk EIGER lainnya. Semoga ada toko EIGER di Pamulang atau BSD yang cukup besar jadi gak usah jauh-jauh ke Bogor.
Aku Bangga Pake produk EIGER, produk asli Indonesia. Kualitas bagus dan dipakenya nyaman dan elegan.

Tas Eiger Gendong yang Kupake Sekarang

Tas Eiger Gendong yang Kupake Sekarang

Hari ini ada Quote bagus dari EIGER di Fans pagenya
Hanya bila pohon terakhir telah tumbang ditebang;
hanya bila air sungai terakhir telah tercemar;
hanya bila ikan terakhir telah ditangkap;
barulah manusia sadar bahwa uang di tangan tidak dapat dimakan

Cintai Alam Kita

Cintai Alam Kita

Maju Terus EIGER Indonesia.Saya tunggu produk2 baru berikutnya. Semoga makin berkembang dan jaya.

Jakarta, 17 November 2015

Setelah hampir tiga bulan sibuk dengan aktifitas kantor, akhirnya aku sempat juga nulis tentang jalan-jalan ketika lebaran kemarin ke Blitar dan Sukabumi di Mudik Lebaran 2015 atau 1436 H. Kami (aku sama mas arif) berangkat berangkat mudik ke Blitar naik kereta hari kamis 16 Juli 2015. Baru kali ini juga kita berangkat maleman takbir dan gak keburu sholat ied. Jauh-jauh hari kami memesan tiket tiga bulan yang lalu dan dapatnya pas maleman Takbir tapi gak papalah dari pada gak dapat tiket. Karena saking sulitnya dapat tiket, saya sama mas Arif duduk beda gerbong hehehe…

Sesampainya di Blitar kami dijemput sama Nanda dan Mbak Lilik dan langsung ke rumah keluarga besar kami di Banggle Kanigoro. Karena sudah suasana lebaran, kami cuma istirahat sebentar dan langsung silaturahmi dengan tetangga di sana, sorenya langsung ke makam.

Di depan rumah Banggle

Di depan rumah Banggle

Setelah keliling ke rumah tetangga, kami bercengkrama dengan saudara yang lama tidak ketemu. Esok harinya kita keliling ke saudara dari pihak almarhum mertua Moehjiddin dan Umi Sulaimah juga mengunjungi saudara kakak ipar, mertua ipar, kakak dan adik kandung mas Arif. Ada tiga mobil rombongan keluarga besar kami secara bergiliran mengunjungi berbagai tempat. Kami juga mengunjungi nenek dan para orang tua yang sudah lanjut usia. Selama dua hari berturut-turut kita berkeliling silaturahmi, tidak lupa juga mengunjungi cucu yang baru lahir. Sepulang dari sana kita kuliner makan bakso di kota Blitar.

Keluarga besar Moehjiddin

Keluarga besar Moehjiddin

Esok harinya kita wisata ke laut yaitu ke pantai Tambakrejo yang melewati gunung dan bukit di sebelah selatan kota Blitar.

Pantai Tambak

Pantai Tambak

Hari ketiga adalah reuni keluarga besar di daerah yang lumayan jauh dari kota Blitar. Reuni keluarga ini rutin tiap tahun diadakan dari keluarga adiknya almarhum mertua Moehjiddin. Senang sekali kumpul keluarga besar meski banyak yang gak saling kenal tapi acaranya guyub dan makanannya enak.

Pulang Reuni Keluarga Besar Trah almarhum Moehjiddin

Pulang Reuni Keluarga Besar Trah almarhum Moehjiddin

Sepulang dari reuni keluarga, malamnya kami langsung ke Malang ke rumahnya Mbak Lilik di Plaosan. Sempat jenguk saudara yang terkena musibah dan silaturahmi dengan tetangga di Pamulang Elok. Selama di Malang kami wisata kuliner rujak dan bakso bakar enaak banget.

Bakso Bakar Malang

Bakso Bakar Malang

Setelah sehari di Malang kami langsung pulang lagi ke Pamulang lewat stasiun Malang. Sesampainya di Pamulang kita cuma istirahat sehari dan besoknya langsung jalan-jalan ke kampung aku di Bantarkaret Sukabumi Jawa Barat. Kami mengajak keponakan main ke Salabintana.

Main di Selabintana

Main di Selabintana

Sungguh refreshing bener nih setelah capek mudik ke Blitar, hawa sejuk daerah Selabintana benar-benar membuat kami semakin fresh. Setelah jalan-jalan dan main bola di rumput hijau, kami pun pulang dan makan bakso di goyang lidah. Anak-anak, ponakan kami Aldi, Raihan, Najmi, Dani dan Sulthon pun gembira menyanyi sepanjang jalan.
Lebaran kali ini sungguh menyenangkan, alhamdulillah. Hari minggu sore tanggal 26 Juli kami kembali lagi ke Jakarta untuk kemudian menyambut kerja di esok hari…

Selamat Hari Raya Iedul Fitri terimakasih keluarga Blitar dan Sukabumi sampai ketemu tahun depan jika ada umur.

Salam

Arif dan Eva

Merangkai Makna di Usia 36

Posted: May 3, 2015 by Eva in Inspirasi, Jalan-jalan, Pribadi

Pada ulang tahunku yang ke-36, 2 Mei 2015 kemarin. Aku tidak merayakan makan-makan dengan suami aku seperti tahun-tahun sebelumnya. Kebetulan tahun ini aku merayakannya di Indramayu, berkenaan dengan tugasku yang sedang melakukan riset tentang perikanan tangkap dan Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra. Sungguh istimewa aku memaknai ulangtahunku kali ini karena banyak rencana kedepan yang akan aku laksanakan bersama mas Arif.

Seminggu ini aku melakukan riset untuk penulisan buku tentang koperasi di Pantai Karangsong Indramayu. Sejak hari Rabu, aku udah berkunjung ke muara dan tempat pelelangan ikan Karangsong.

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

.

Potensi ikan di TPI Karangsong memang luar biasa, bertonton dengan aneka jenis ikan seperti tongkol, tenggiri, kakap merah, ikan cunang, ikan manyung, ikan patin, ikan kembung dan lain-lain. Omzet perhari bisa sampai 1 milyar lebih.

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

Hari Jumat, tepatnya 1 Mei 2015 aku jalan-jalan ke Pasar Mambo dan pendopo Kabupaten Indramayu sama pak Mamat, Sopir KPL Mina Sumitra, kota Indramayu memang tidak begitu besar, jadi kita mengitarinya cepat saja, keliling sebentar sebelum jadwal wawancara.

di Pasar Mambo

di Pasar Mambo

Setalah ke Pasar Mambo, saya mampir di Pendopo Kabupaten Indramayu, lumayan bagus pendoponya dan saya sempat berfoto-foto di sana.

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Pada hari sabtunya 2 Mei 2015, aku kembali ke TPI Karangsong untuk kemudian wawancara di Koperasi KPL Mina Sumitra, di hari ulang tahunku ini aku pagi2 di telfon mas Arif saat itu aku di pusat perbekalan, mendapat ucapan selamat dari Veni dan Mbak Ika. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku gak mau terekspose dengan facebook atau twitter ttg hari lahirku, cukup orang-orang terdekatku aja yang tahu bagiku udah sudah cukup. Menjelang makan siang aku disuguhi makanan khas Indramayu Gombyang Pindang Ikan Manyung.

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Usai wawancara, aku pulang ke D’ Nisa Guest House di Pasar Baru deket Sport Centre. Selama 5 hari menginap di sini cukup nyaman, tempat tidurnya enak dan pegawainya juga ramah-ramah. Kamar mandinya juga bersih.

di penginapan D'Nisa Indramayu

di penginapan D’Nisa Indramayu

Sore aku istirahat dan mencoba merangkum apa saja yang bisa aku tulis seharian di Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra. Habis Ashar, Eka atau Farikhatul Udkhiyah temenku waktu SMP di Sunan Pandanaran Telepon dan mengabari kalau dia mau mengajak aku jalan-jalan keliling Indramayu. Dia datang habis Isya bersama suami dan anaknya, akhirnya kita keliling Indramayu dan makan di Sport Centre. Alhamdulilah aku seneng dapat berbagi cerita dan sampai akhirnya aku pulang ke Guest House lagi hari sudah malam.

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Aku bersyukur di hari ulangtahunku yang ke-36 ini terasa penuh makna. Setiap langkah dan usaha aku yakin bahwa harus hidup ikhlas dan konsisten dalam bekerja. Agar di hari-hari ulangtahunku di masa yang akan datang, akan lebih bermakna. Terimakasih aku ucapkan buat teman-teman dekat, keluarga dan terutama suamiku yang selalu support aku dalam kondisi apapun.

Mulai awal Maret ini, aku kembali kerja. Tapi kantorku sekarang daerah Kebayoran Lama. Karena menghindari macet, saya dan mas arif naik kereta api atau lebih tepatnya commuterline dari stasiun Sudimara Ciputat.

Stasiun Sudimara

Stasiun Sudimara

Jarak dari stasiun Sudimara ke Palmerah kurang lebih adalah setengah jam, melewati jurang mangu, pondok kranji, kebayoran dan sampai di Palmerah.

Stasiun Palmerah

Stasiun Palmerah

Ada banyak cerita selama perjalanan naik kereta Sudimara-Palmerah. Di mulai dari yang berdesak-desakan, sampai kehilangan bross. Awalnya aku naik kereta campur dengan laki-laki, tapi setelah perjalanan kesini aku risi jika berdesak-desakan, maka akhirnya aku lebih memilih naik di gerbong wanita, lebih aman rasanya.

Biasanya kalau dari Sudimara itu penumpangnya penuuh banget, tapi kadang aku beruntung juga dapat tempat duduk. Kalau arah pulang juga demikian, saya lebih baik naik CL ke tanabang dulu biar dpt tempat duduk dan naik dari tanabang CL yang ke sudimara atau Serpong.

Ada banyak suka dukanya naik kereta, kadang seneng, kadang pegel karena berdesak-desakan. Tapi bagaimanapun juga CL adalah moda transportasi yang paling cepat dan bebas macet…

Kerajinan Pisau dan Golok Cibatu Sukabumi

Posted: March 10, 2015 by Eva in Jalan-jalan

Kota dan Kabupaten Sukabumi tidak hanya terkenal karena adanya tempat wisata yang indah seperti pantai pelabuhan ratu dan pangrango serta udaranya yang sejuk. Kota Sukabumi juga memiliki banyak kerajinan dan home industri yang tersebar di berbagai wilayah. Salah satu yang terkenal di Indonesia adalah kerajinan pisau, golok dan samurai.

Jika anda berkunjung ke Sukabumi anda tidak kesulitan menemukan daerah yang namanya Cibatu. Karena jalan raya Sukabumi hanya satu-satunya jalan yang menghubungkan antara bogor dan Sukabumi, maka keluar tol jagorawi terus aja lurus ke daerah Cibatu berada tepatnya setelah Cibadak atau sebelum Cisaat. Setelah rumah sakit Betha Medika anda akan menemukan daerah Cibatu dimana disebelah kiri atau kanan jalan banyak toko kerajinan pisau, golok, samurai dan pedang.

Kerajinan Golok Cibatu

Kerajinan Golok Cibatu

Toko-toko golok dan pisau berjejer di sepanjang jalan daerah Cibatu, di kiri dan kanan jalan. Kalau Anda dari arah Jakarta, saya sarankan beli yang kanan jalan, jadi memang harus nyebrang tapi memang mobil harus parkir dulu, nah disini masalahnya cari tempat parkir sulit karena banyak angkot tapi cobalah cari di antara toko-toko itu pasti ada tempat parkir bagi yang mau berbelanja kerajinan senjata tajam.

Bagi yang menggunakan kendaraan umum dari Jakarta bisa naik Parung Indah dari Lebakbulus langsung berhenti di Cibatu, atau naik Agra Mas ke terminal Baranang siang lanjut naik colt Bogor-Sukabumi berhenti di depan toko Cibatu. Alternatif lainnya adalah naik Kereta Pangrango dari Stasiun Paledang Bogor berhenti di Stasiun Cisaat dan kemudian naik ojek atau naik angkot D07 ke Cibatu.

Nah sesampainya disana, silahkan mampir ke berbagai toko karena banyak toko berjejeran menjual barang serupa senjata tajam. Harganya beragam dari mulai yang paling murah sampai dengan paling mahal. Untuk Golok harga bervariasi ada yang 90.000, 100.000, 150.000 tergantung modelnya, Bahkan sampai 1000.000 lebih untuk pedang dan samurai.

Golok

Golok

Senjata yang tak kalah banyaknya dibanding golok adalah pedang dan samurai. Menurut para penjual pedang dan samurai para pembeli pedang dan samurai kebanyakan adalah yang dari luar Sukabumi. Ada yang dari Kalimantan Sulawesi, Sumatera dan lain sebagainya. Para pembeli juga beragam dari kalangan militer, polisi, sampai orang biasa.

Samurai dan Penjualnya

Samurai dan Penjualnya

Untuk para pendaki gunung atau pemuda serta ibu-ibu yang suka memotong sayuran ada juga beragam pisau dapur dan pisau belati. Harganya mulai dari 35.000 keatas dan terdiri dari aneka macam bentuk yang menarik dan artistik. Kalau ketajamannya jangan diragukan lagi, pasti tajam banget daah.

Belati

Belati

Jadi bagi Anda yang berminat membeli senjata tajam untuk keperluan sehari-hari atau sekedar koleksi kerajinan Pisau, Golok dan Samurai, kerajinan Cibatu layak untuk dikunjungi. Namun jangan lupa, setelah anda membeli barang pilihan Anda dan berencana di bawa ke Jakarta atau ke rumah Anda mintalah surat atau nota transaksi kepada petugas toko untuk menghindari pemeriksaan polisi atau ada razia di jalan.

Selamat berbelanja….

Hadiah Ulang Tahun

Posted: July 5, 2013 by Eva in Jalan-jalan, Pribadi

Sebenarnya aku pengen nulis di blog ini bulan Mei, tapi karena kesibukan dan berbagai hal akhirnya aku baru bisa nulisnya sekarang. Alhamdulillah di ulang tahunku bulan Mei kemarin aku mendapatkan banyak pelajaran dan diberi kesempatan jalan-jalan ke Cirebon dalam rangka walimatul ursy Ipit putra mang dudin.

Pada tanggal dua Mei malam aku dapat hadiah dari mas Arif sepeda wim cycle, gantiin sepedaku yang udah lama banget. Aku seneng banget karena mendapati sepeda ini sepulang dari toko pada malam harinya. Alhamdulillah dengan sepeda baru ini aku lebih sering olahraga dan sering kupakai untuk belanja kebutuhan dapur kalau pagi hari.

Sepeda

Sepeda Hadiah Ulang Tahun

Kemudian seminggu sesudah itu, aku jalan- jalan ke Cirebon, berangkat dari Jakarta Jum’at pagi. Siangnya mas Arif jumatan di Simpang Jomin dan kita makan siang di rumah makan Pring Sewu, lumayan enak meskipun harganya sedikit mahal. Usai makan di belakang restoran ternyata ada pantai, maka kita pun foto-foto dulu menikmati indahnya pantai utara.

pinggir pantai

dan Mas Arif pun berfoto diantara batu karang
mas arif pantai

Usai makan, saya pun dapat suprise party dari pring sewu yaitu sebuah lagu ulang tahun yang dinyanyikan dengan iringan angklung oleh satu grup musik yang khusus menyangi bagi yang ulang tahun.
Berfoto di depan Pring Sewu

Selanjutnya saya melanjutkan perjalanan ke Cirebon, sekitar jam setengah lima sampai di rumahnya teh Iva Sapuroh, istrihat dan makan sebentar disana untuk kemudian malamnya menginap di hotel Langensari Cirebon. Paginya kami berangkat ke rumah mempelai putri di arah perbatasan Kuningan dan lumayan jauh. Di sana ketemu keluarga besar Sukabumi.

Tapi sayang gak ada foto-fotonya, siang jam duaan kita pulang lagi ke Jakarta lewat tol, sampe rumah magrib deh alhamdulillah perjalanannya lancar. Sebagai tanda syukur atas karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT atas pertambahan usiaku, aku menggelar pengajian bulanan dan pesen empat macam kue. Kue Srikaya ama bu zuhri, kue lumpur ama ibu hardi, sisanya kue risol dan kue pastel aku pesen ke bu rizal.

Alhamdulillah, Aku bersyukur karena Allah memberi rezeki lebih dan semoga Allah senantiasa memperpanjang usiaku dan memberi kami rezeki yang berkah.

Jalan-jalan ke Puncak Pass Bogor

Posted: April 10, 2013 by Eva in Jalan-jalan, Pribadi

Sudah lama rasanya pengen jalan – jalan dan keluar sejenak dari rutinitas usaha sehari-hari, namun karena kesibukan yang tiada akhir saya dan mas Arif sangat jarang pergi ke luar kota, paling dua bulan sekali pergi ke Sukabumi.

Kebetulan pada hari Senin, 1 April 2013 ada Tante Titin Mufidah, adiknya mas Arif berkunjung ke rumah. Dia baru saja selesai ujian bahasa Belanda di kedutaan besar Belanda di Kuningan Jakarta dan berhasil lulus dengan nilai memuaskan.

Tepatnya pada hari rabu, 3 April 2013, kami bertiga berencana pergi ke Puncak untuk melepas lelah dan refreshing dari kepenatan. Pagi-pagi saya masak buat bekal di sana nanti, kami pun berangkat pukul 10 melewati jalur parung, Bogor, Tol Jagorawi dan jalan puncak.

Sepanjang perjalanan kami melewati aneka pemandangan dan alhamdulillah sampai lokasi tujuan, tepatnya di puncak pass perjalanan lancar tanpa ada hambatan. Sayangnya sampai lokasi turun hujan dan berkabut sehingga foto-foto yang kami dapat kurang bagus.

di Puncak Pass yang berkabut

di Puncak Pass yang berkabut

Meskipun demikian kami menikmati suasana puncak yang dingin, disertai penjaja kue gemblong dan beberapa pengunjung lain yang banyak berfoto di puncak pass, kami pun tak mau ketinggalan momen untuk foto-foto.

Mas Arif sama Tante Titin

Mas Arif sama Tante Titin

Setelah selesai foto-foto di puncak pass, tiba-tiba hujan turun deras, dan kami pun kembali masuk ke mobil dan turun ke tujuan berikutnya yaitu masjid Attaawun, sepanjang perjalanan, kebun teh sangat hijau dan indah seperti karpet terbentang.

Hamparan kebun teh

Sesampainya di Mesjid Attaawuun, kami berencana mau sholat dzuhur, tak di sangka mesjid ini baguus banget viewnya. Bangunannya dan pemandangan di sekitarnya juga bagus, di pintu masuk sebelah barat ada aliran sungai alami yang di kelilingi pojon-pohon seperti lukisan. Pemandangan ke atas maupun ke samping.

Aliran Sungai depan Mesjid

Aliran Sungai depan Mesjid

Kami sholat secara bergantian, selesai sholat kami keliling mesjid, dan ternyata ada jalan tembus di atas bangunan mesjid ini yang langsung tembus ke kebun teh, tanpa alas kaki, kami bertiga mendaki ke daerah dimana kebun teh berada, dan lumayan jauh sampai ngos-ngosan.

Mas Arif di Kebun Teh

Seger banget deh ternyata di sela-sela kebun teh tersebut, mas Arif, saya, dan tante titin juga ikut foto-foto karena pemandangannya bagus Tante Titin di Kebun teh

Setelah naik sedikit ke atas, kami kecapaian dan akhirnya turun, karena jalannya licin lumayan curam juga kembali menuju mesjid At-taawuun.

Berdua di Kebun teh

Setelah selesai foto-foto, kami lapar dan segera menuju ke mobil untuk segera membuka bekal, kami berhenti sejenak di kebun teh dan menyantap makan siang, namun tidak lama karena kata mas arif itu pas turunan, sehingga kami melanjutkan makan di jalan dan berhenti di depan villa milik MK.

Setelah makan, kami kembali pulang dan perjalanan pulang lebih lancar dan tidak macet. Namun sepanjang perjalanan kami terjebak hujan, untung mas arif bawa mobilnya pelan-pelan jadi kami selamat sampai kembali di rumah sekitar jam setengah enam. Alhamdulillah seneng banget jalan-jalan kali ini fresh banget dengan udara puncak, dan besok harinya sudah mulai kembali dengan kesibukan di Amira Sport

Jalan-jalan ke Hotel Horison Bandung

Posted: February 22, 2012 by Eva in Jalan-jalan

Pada hari Kamis 16 Februari 2012 saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke Bandung acara kantor, tepatnya saya menginap di Hotel Horison Bandung. Berangkat dari Gedung Anugerah Kalibata pukul 14.00 siang. Perjalanan ke Bandung kali ini naik travel Xtrans yang kantornya di Gedung Anugerah Pancoran. Harga tiket Jakarta Bandung cukup terjangkau yaitu Rp.70.000,. Ada lima penumpang di dalam travel, kami pun melalui jalan Gatot Subroto kemudian terus berjalan hingga melewati tol Cipularang.

Tidak seperti biasanya, travel Jakarta-Bandung singgah di rest area, tapi kali ini supirnya ngebut ditambah cuaca hujan yang sangat deras. Saya duduk di jok paling belakang karena kosong sehingga lebih leluasa. Supir Xtrans tidak berhenti di rest area, sehingga saya harus nahan pipis sepanjang perjalanan setibanya keluar dari tol pasteur. Hujan lebat dan banjir membuat Bandung sore itu macet. Saya naik taxi Blue Bird dari keluar tol pasteur menuju hotel Horison di Jl. Pelajar Pejuang ’45 no. 121, Buah Batu, Bandung.

Sesampainya di Hotel saya langsung nyari toilet dan check in. Karena lama di perjalanan saya ada waktu dari jam 5 sampai jam 7 untuk beristirahat sebelum acara di mulai. Seperti hotel pada umumnya, kamar hotelnya juga nyaman. Ada dua buah tempat tidur dan sepasang kursi serta televisi sambil tiduran saya melihat berita dan membaringkan tubuh saya menghilangkan penat.

Setelah kegiatan selesai, Jumat sore jam 3 saya pulang kembali ke Jakarta. Tapi pulangngya tidak lewat Jakarta, melainkan berhenti di Brasco fatmawati karena lebih dekat ke Pamulang rumah saya. Tadinya saya mau mengejar travel jam 3 tapi gak keburu, sehingga saya naik travel yang jam 5, sehingga pukul 16.00 saya sudah tiba di Travel Cipaganti Buah Batu. Sebelum pulang saya sempatkan diri berfoto di depan Hotel Horison

Dari hotel saya naik Taxi dan cukup mahal juga bayarnya karena jaraknya dekat tapi bayarnya 40.000,-. Tidak jauh dari Hotel saya singgah di outlet Kartika Sari, wah ternyata gede sekali outletnya dan makanannya juga lengkap. Saya memesan bolen pisang keju dan kripik jamur pesenan mas Arif.

Setelah belanja oleh-oleh, saya langsung menuju shettle travel Cipaganti di Buah Batu. Sesampainya di sana tiba-tiba badan saya kurang begitu sehat saya ke warung beli air mineral dan tiba-tiba saya muntah. Wah saya panik dan menghubungi mas Arif, dia menyarankan supaya saya pulang besok saja, tapi saya sudah terlanjur beli tiket dan dengan segala daya upaya saya bertahan hingga kendaraan yang membawa saya datang. Sekitar pukul 17.05 kendaraan yang datang adalah bis, karena kata petugas travel besok dari Jakarta akan membawa rombongan ke Bandung, sehingga tidak seperti biasanya sore ini naik bis ke Jakarta tujuan Brasco fatmawati. Karena naik bis, biaya pun lebih murah hanya Rp.60.000.

Sesampainya di Cipaganti waktu udah menunjukkan pukul 20.00 lebih, cuaca hujan deras juga. Saya mencari Taxi Ekspress untuk bisa segera sampai rumah. Saya sudah tidak sabar ingin segera sampai rumah, kangen ama mas Arif dan kangen ama rumahku yang kutinggal dua hari. Taxi dari Fatmawati ke Pamulang Elok Rp.55.000. Alhamdulilah sekitar pukul 21.30 saya sampai di rumah dengan selamat dan langsung istirahat.

Es Goyobod Bumbu Desa Memang Juara

Posted: November 27, 2011 by Eva in Jalan-jalan

Beberapa waktu yang lalu aku sama Etik efrina, adik kelasku HMI sudah lama gak ketemu seringnya hanya lewat twitter atau fesbuk saja dan BBM. Setelah lama janjian gak jadi jadi akhirnya kita berdua untuk janjian makan di RM.Bumbu Desa Lebak bulus.

Bumbu Desa Lebak Bulus

Bumbu Desa Lebak Bulus

Menunya saat itu adalah pesmol gurame, sayur tahu toge, sambal dan es kopyor Bandung. Sebenarnya makanan disitu biasa-biasa aja, cuma es kopyornya, yaitu es goyobod memang juara banget.

Pesmol gurame

Pesmol gurame

Setelah ngobrol kesana kemari, dan cerita tentang beberapa hal, akhirnya aku pulang, alhamdulilah lega juga setelah tidak ketemu 8 tahun.

Makan Bersama

Makan Bersama

Jalan-jalan ke Lombok

Posted: August 2, 2011 by Eva in Jalan-jalan, Pribadi

Pada pertengahan Juli 2011, saya punya kesempatan untuk jalan-jalan ke Pulau Lombok. Sebuah pulau indah yang berada di dekat pulau Bali. Saya berangkat dari Jakarta pukul 11.40 dan sampai di lombok pukul 13.30, karena di Lombok sudah masuk WITA. Saya tiba di Bandara Selaparang

tiba di Selaparang

tiba di Selaparang

Selain jalan-jalan, salah satu kegiatan saya yang lain adalah mengikuti ajang jambore PTK PAUDNI yang dipusatkan di LPMP dan Asrama haji dan penutupannya di Universitas Mataram.

di depan LPMP

di depan LPMP

Puncak acara yang berlangsung selama lima hari ini adalah pengumuman para juara pendidik dan tenaga kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini non formal informal di Universitas Mataram. Pada malam yang sangat menentukan ini banyak juara baru yang terpilih dan dihibur oleh banyak artis seperti Hughes, Udin Sedunia dan lain-lain.

malam penutupan

malam penutupan

Usai acara selesai saya jalan-jalan ke pantai Senggigi, pantai yang ada di sebelah barat Lombok. Pantainya sangat indah dan banyak turis yang berkunjung kesana. Perjalanan saya ke Senggigi dari Mataram adalah kurang lebih setengah jam. Makanan di Lombok enak-enak dan murah serta melimpah.

Pantai Senggigi

Pantai Senggigi

Dalam perjalanan ke Senggigi ini saya ditemani mbak Yuni, temen dari SP Kinasih yang sudah dengan senang hati meluangkan waktunya menyusuri pantai Senggigi. Pengalaman di Lombok ini adalah pengalaman yang sangat berkesan dan saya sangat berharap suatu hari bisa kesini lagi bareng mas Arif.

Menginap di Cipayung Puncak

Posted: May 3, 2011 by Eva in Jalan-jalan

Ini untuk kesekian kalinya aku diminta untuk datang ke acara kantor di Grand Jaya Raya Cipayung Puncak Bogor. Hotel atau resort ini memang asyik untuk dijadikan sebagai tempat pertemuan ataupun untuk menginap selama beberapa hari. Sayangnya saat ini hotel ini sudah tidak sedingin dulu lagi.

Hotel ini juga punya kenangan, dulu aku pernah terlambat datang ke acara hotel ini karena nonton final champion. Aku dimarahin ama boss hua huahua…. Hotel ini mengingatkanku juga akan teman kantorku yang baek Jeng Ayin yang sekarang di Jember. Tahun 2008 kami menginap juga di hotel ini.

Nah, pas nginep lagi di kamar ini adalah kali ketiga, kami menginap, kebetulan sedang ada final Copa Del Rey antara Real Madrid Vs Barcelona, dan yang menjadi juaranya adalah Real Madrid.

Di kamar 1502, di lantai dua, aku banyak bercerita dengan Direktur QITEP P4TK Bahasa Ibu Felicia, seru banget. Ternyata dia adalah temannya Ibu Melani dan Pak Eka Budianta, dia cerita banyak juga tentang UI. Menyenangkan sekali bisa menginap di Cipayung, sejenak lari dari keramaian ibukota

Aku dan Felicia

Aku dan Felicia

Liburan ke Taman Wisata Matahari

Posted: March 24, 2011 by Eva in Jalan-jalan, Pribadi

Bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, pada 5 Maret 2011, kami di lingkungan komplek Pamulang Elok mengadakan Family Gathering dengan melakukan kunjungan ke Taman Wisata Matahari di Cilember Bogor. Kami bangun subuh karena jam 6 harus kumpul dan berangkat di pintu gerbang.

di bis

Naek bis kumpul jam 6

Karena macet dijalan, terutama di pintu tol jagorawi dan arah ke puncak, kita yang seharusnya nyampe jam 9, sampai taman matahari jam 10. Akhirnya kami turun dari bis dan berfoto dulu sama anak-anak.

foto dulu

Sebagian rombongan foto dulu

Sampe tempat lokasi hujan deras melanda, wah para tetangga lainnya yang gak bawa payung, kehujanan dan sibuk mencari tempat berlindung, akhirnya kita pun melanjutkan menuju lokasi berkumpulnya kelompok pamulang elok dengan suasana hujan gerimis, padahal lokasinya jauuuuuh banget. Sampai di lokasi sekitar jam 12 siang kita makan dulu menunya ayam bakar.

makan siang dulu di saung

makan siang dulu di saung

Usai makan siang, kita keliling naik berbagai wahana seperti air terjun, berenang, mobil safari, flying fox dan lain-lain aku sama mas arif naik wahana air dan mobil dafari

Kita naik wahana air

Kita naik wahana air

Oh ya disana juga banyak aneka jenis ikan yang dipelihara dengan baik. Kalau anda ke taman matahari ini siap-siap aja bawa baju ganti ya, jangan lupa. Karena pasti akan berbasah-basahan, apalagi kalau kena hujan jangan lupa bawa payung. Lebih menyenangkan lagi kalau bawa anak-anak, wah seru…

aneka macam ikan

Aneka Macam ikan

Setelah selesai naik wahana air, kita naik mobil safari keliling taman matahari, wah luas banget deh, tiap wahana disini bayarnya juga terjangkau. Habis itu kita pulang makan bakso dan beli oleh-oleh bunga kering. Puas banget main disana, kapan-kapan pengen bawa keluarga besar main lagi ke taman wisata matahari. Kami sangat terkesan dengan tempatnya yang sangaaaaaaaaaaaaaaat luas dan wahananya yang banyak dan tiketnya terjangkau. Jadi kalo liburan main ke taman matahari aja ya, jangan lupa bawa payung, baju ganti, jajanan dan uang yang banyak heueheue

menikmati liburan di wahana air

menikmati liburan di wahana air

Jalan-jalan…

Posted: February 8, 2011 by Eva in Jalan-jalan

Alhamdulilah, sudah bulan Februari tak terasa dah sebulan ni gak nulis di blog, padahal banyak momen-momen penting di bulan Januari yang aku lewati bersama dengan suamiku. Dari mulai periksa ke dokter kandungan sampai jalan-jalan. Pertengahan Januari aku periksa ke rumah sakit fatmawati dan tiap akhir pekan aku jalan terus ke beberapa mall favoritku, seperti Gandaria City, Pejaten Village dan Pondok Indah Mall II.

Gandaria city

Gandaria city


Belakangan sejak ikut nonton bareng piala AFF di Gandara City, aku jadi tertarik dengan mall itu. Emang tempatnya lumayan jauh dari tempatku tapi gak tahu ya pengen aja kesana, tempat makannya itu lho pilihannya enak. Ada burger king juga disana dan eat & eat, tempat makan favorit yang direkonmendasiin ama @bondanwinarno di twitter.
Pejaten Village (Penvil)

Pejaten Village (Penvil)


Setelah Gandaria City, aku jalan-jalan ketemuan ama rini di Pejaten Village Pasar Minggu. Kayaknya sering banget ke mall ini, terutama pulang kerja, karena lokasinya yang strategis deket kantor. Nah, biasanya kesini nonton atau makan –makan aja sambil nongkrong. Biasanya kalau ke Pejaten Village aku ama rini, kayak minggu lalu. Disini tempat makan yang enak, namanya Kemiri.
Pondok-indah-mall-2

Pondok-indah-mall-2


Nah yang ketiga ini, Pondok Indah Mall II, tapi ini mall terlalu rame dan aku kesini Cuma jalan aja jarang makan ataupun beli sesuatu, karena aku jarang kesini Cuma sekedar ke service center BB atau ke XL Center, dan gak tahu tempat yang enak hehehe.
Point Square Lebak Bulus

Point Square Lebak Bulus


Ada lagi mall yang lebih sering aku kunjungi namanya Point Square Lebak Bulus, Pusat Grosir Cililitan dan Pamulang Square. Kalau itu biasanya untuk belanja keperluan sehari-hari pas ke giantnya atau cari-cari baju, tempat makannya juga murah meriah dan enak-enak, terjangkaulah pokoknya.
Pamulang Square

Pamulang Square

Jadi buat yang mau jalan2 siapa tahu tulisanku berguna,
Met jalan-jalan ya, silahkan pilih mall favorit Anda…

Berikut aku copas alamat beberapa mall diatas
Gandaria City
Alamat
Jl. KH. M. Syafii Hadzami No.8, Kebayoran Lama Jakarta Selatan
Pejaten Village
Jl. Warung Jati Barat No. 39, Pejaten, Jakarta Selatan. Telepon: (021) 7814910
Pondok Indah Mall II
Jl. Metro Pondok Indah Blok III-B Jakarta Selatan
Point Square Lebak Bulus
Jl. R.A. Kartini No. 1, Lebak Bulus Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

Tips Mudik Aman dan Nyaman

Posted: October 1, 2007 by Eva in Jalan-jalan

mudik.jpg (more…)