Archive for the ‘Lingkungan’ Category

Bunga Bermekaran di Awal September

Posted: September 17, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah

Selamat hari selasa minggu ketiga bulan September. Dimana bulan ini adalah bulan yang sangat membahagiakan bagi kami. Karena memulai kehidupan baru di Kuningan, Kanigoro, Blitar.

Saat hujan turun beberapa waktu yang lalu tanaman bunga di taman depan kecil rumah kontrakan kami di kuncup bermekaran.

Di antara aneka bunga yang tumbuh di taman ini saya sangat menyukai bunga yang berwarna merah dan anek bunga lainnya yang berwarna baby pink atau merah muda dengan daun yang hijau di timpa embun.

Beberapa foto ini aku ambil sore hari saat hujan turun dan saya sangat gembira melihat bunga bermekaran di taman rumah kontrakan kami.

Selain aneka bunga dan dedaunan yang indah mewarnai kehidupan kami sekeluarga saya juga sangat bangga melihat tunas muda tumbuh menjulang di bumi pertiwi.

Kuningan, Kanigoro 18 September 2018

Pukul 05.21

 

Advertisements

Jangan curiga dengan judul tulisan ini, karena sebenarnya hanya mengutip dari sebuah poster di pinggir jalan.

Jika Anda Bukan Orang Sembarangan, Maka  Jangan Buang Sampah Sembarangan,” Anonim

Hak Cipta foto Begron

 

Sebenarnya saya membaca Majalah National Geographic sudah lama, biasanya saya baca di Perpustakaan Kemendikbud Senayan Jakarta. Banyak wawasan baru setiap edisi, namun belum pernah saya ceritakan di blog ini. Baru pada bulan ini saya bikin sedikit review Majalah edisi bulan Juni yang mengangkat tema tentang Bumi Atau Plastik, Ancaman dan Asa Plastik di Indonesia. Namun, kali ini saya membaca ulang di koleksi umum perpustakaan proklamator Bung Karno Blitar.

Saya juga sudah membaca edisi Bulan Juli, namun karena saya sudah merasakan dan melihat bagaimana sampah di pinggir pantai beberapa waktu yang lalu, maka tidak ada salahya atau semoga belum terlambat kita mengantisipasi sejak dini timbunan sampah plastik yang ada di daratan maupan pinggir laut (pantai) bahkan dalam laut.

Konsistensi Tanpa Sampul Plastik

Satu hal yang saya suka dari majalah ini adalah mencopot sampul plastik yang ada di setiap majalah baru. Wah menarik juga ya, dimana hal paling sulit dalam hidup kita adalah konsisten antara tulisan dan perbuatan. Pemberitahuan ini dimuat semacam pengumuman sederhana namun resikonya besar.

Karena apa, jika kita membeli buku atau majalah baru tanpa sampul plastik terkadang kita berpikir bukan buku atau majalah baru karena sudah tidak ada plastiknya 😊. Ya, semoga upaya ini menjadi kepedulian bagi kita semua untuk memperhatikan plastik atau sampah terdekat dalam kehidupan kita.

Ada banyak foto menarik seperti biasa, investigasi majalah ini berkaitan dengan semakin sulitnya kita menghentikan kebiasaan atau ketidakberdayaan terhadap apapun yang kita minum, makan, pakai dan tempat tinggal.

Delapan Juta Ton Plastik Berakhir di Laut dan Spesies Laut Terluka

Di halaman depan sudut kiri ada semacam penekanan kata terhadap jumlah sampah plastik dimana setiap tahun delapan juta ton plastik berakhir di laut. Itu baru yang terlihat di permukaan.

Dari halama 54 sampai halaman 101, laporan utama plastik ini membuat kita berkali-kali mengernyitkan dahi, tertegun, terbelalak melihat foto-foto, dan sedikit lega dengan adanya solusi untuk mengurangi.

Tulisan Laura Parker dan Fotografer Randy Olson dari National Geographic membuka tulisan dengan data statistik yang akurat tentang plastik.

Dia menulis bahwa sudah 150 tahun kita menciptakan materi yang ringan, kuat dan murah. Lebih dari 40% diantaranya hanya digunakan satu kali, Kini matero mukjizat ini membantu jantung berdenyut dan pesawat melesat dan delapan juta ton tiba di laut seperti yang saya tulis di atas.

Narasi yang kuat tentang bahaya plastik dan foto-foto sampah plastik di laut sangat menarik namun tidak asyik. Kenapa dikatakan demikian, karena kebiasaan buruk kita yang membuang barang plastik yang membahayakan biota laut.

20180728_091621
Sebelum Laut Berubah Menjadi Sup Plastik

Pada halaman 60 ditulis jika sampah plastik menewaskan jutaan satwa laut setiap tahun. Diketahui hampir 700 spesies, termasuk yang terancam punah karena dampaknya.Sebagian biota laut cedera dengan gamblang-tercekik jala terbengkalai atau cincin plastik minuman kaleng. Mungkin banyak lagi yang cedera tanpa terlihat.

“Spesies laut segala ukuran, dari zooplankton hingga paus, sekarang makan mikroplastik, serpih yang besarnya tak sampai lima meter,”

Ted Siegler, ahli ekonomi sumber daya daya dari Vermont mengatakan jika ini bukan masalah yang tidak diketahui solusinya.

“Kita tahu cara memungut sampah, cara membuang, cara mendaur ulang. Masalah utamanya adalah soal membangun lembaga dan sistem dan sistem, katanya idealnya sebelum laut berubah menjadi sup plastik encer yang mustahil dibenahi berabad-abad.

20180728_091610

Mendengar kata sup plastik, membuat saya menelan ludah. Membayangkan apa yang tejadi jika kita membiarkan ini berlangsung tanpa kesadaran dan pencegahan yang radikal.

Tutup botol minuman kemanasan dibuat dengan ilustrasi seperti gambar gurita plastik dengan spesies laut yang menghuni tutup botol. Seperti tutup botol minuman ringan dalam perut anak albatros di Midway Atoll, cacing keel yang hidup di tutup botol air minum, dll.

20180728_092521

 

Solusi untuk menghentikan

Pembahasan tentang plastik biodegrable dan Norwegia yang berhasil mendaur ulang 97%, produk yang bisa membantu mengurangi plastik, serta enam hal yang bisa anda dilakukan untuk menguranginya (98-101).

20180728_092658

Produk yang bisa membantu mengurangi limbah plastik juga disampaikan seperti sikat gigi dengan kepala sikat yang bisa diganti, pembungkus makanan berbahan dasar lilin lebah dan kapas, sedotan dari logam yang bisa dipakai ulang, dan cincin pengikat minuman yang dibuat dari kompos limbah pembuatan minuman berkaleng.

Lalu apa saja enam hal itu, pertama tanpa kantong plastik, tanpa sedotan, lupakan botol plastik, hindari kemasan plastik, daur ulang yang bisa, dan jangan buang sampah sembarangan.

Dilema Mengkampayekan Lingkungan Bersih dengan Penetrasi Kapital

Saya sendiri termasuk yang sulit konsisten dengan sampah plastik karena kondisi dan keadaan. Tidak hanya sampah plastik, saya juga gelisah dengan sampah elektronik dan teknologi seperti modem bekas, usb bekas, kaset bekas, baterei bekas, colokan bekas, casing bekas dan komputer dan laptop bekas. Dimana di masa yang akan datang pasti akan semakin menumpuk dan tidak tahu bagaimana cara mengurainya.

20180728_092717

Berbicara isu lingkungan kita juga harus memikirkan nasib industri plastik, pekerja pabrik plastik dan makanan yang dibungkus plastik dll. Menjadi dilematis memang ketika kepedulian lingkungan berlawanan dengan keuntungan kapital dan gaya hidup yang instan dan praktis.

Tapi bagaimanapun kesadaran dan lingkungan dan alam yang bersih itu lebih penting daripada uang banyak kita sakit-sakitan. Karena air yang kita minum tercemar hingga harus minum air kemasan dibungkus plastik, tanah yang kita tanami sudah tereduksi sampah yang tidak terurai, ikan yang kita makan terancam mengandung mikroplastik dan efek lainnya yang menimbulkan penyakit berbahaya dan akan mengancam bumi manusia dan isinya. Maka tidak aneh ya jika orang yang dipenjara atau orang tua kita dulu minum air keran.

Sebenarnya apa yang saya baca di majalah National Geographic kali ini baru sedikit saya sampaikan, lebih baik anda dan keluarga,sahabat, teman kerja atau semua orang membaca majalah ini. Bisa membeli, atau membacanya sambil berkunjung ke perpustakaan.

Koleksi umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar
28 Juli 2018 Pukul 14.50

Sore tadi kami berjalan-jalan sore menyusuri perumahan kampung, pematang sawah, dan kebun jagung. Tujuannya selain untuk berolahraga, kami ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir (sarean).

Jarak dari rumah keluarga besar kami di Dusun Banggle, Kanigoro Blitar lumayan jauh, ada sekitar kurang lebih dua kilo meter. Kami berjalan enam orang, saya, mas arif dan empat orang keponakan.

Kurang lebih 50 menit kami berjalan, cuaca sore itu sangat cerah dengan udara segar. Meskipun bulan ini bukan musim penghujan, namun semua tanaman di perkebunan tumbuh subur dan saatnya musim berbuah.

Di Banggle, suasana desa sangat terasa meski kami tinggal di pinggir jalan raya. Namun, rumah di sini tidak begitu padat dan rapat. Jarak satu rumah dengan yang lain tidak berdekatan, akan tetapi disini hidup rukun dan damai.

Bahkan, jika anda berjalan jauh ke setiap sudut desa, lebih banyak perkebunan dan sawah daripada rumah tempat tinggal. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa yang lain mulus dan dipergunakan masyarakat dan petani untuk membawa hasil perkebunan, atau untuk mencari dedaunan makanan ternak dan sapi.

Ada yang naik sepeda, ada juga yang naik gerobak motor.Banyak rumah yang di belakangnya memelihara sapi dan kambing, dimana setiap sore para petani laki-laki atau perempuan pulang dari kebun mereka atau memberi makan ternak.

Tidak terasa kami pun sampai di tujuan, tidak lama kemudian kami pulang dan kembali berjalan sambil olahraga sore. Tidak sengaja kami yang berjalan sambil bercanda bersama keponakan melihat matahari yang hampir tenggelam sore itu. Tidak sia-sia kami abadikan.
Jika ingat matahari saya suka ingat usia kita yang juga akan semakin tua dan tenggelam seperti matahari, untuk kemudian, terbit lagi besok pagi dengan semangat baru.

Ada satu lagu yang selalu kuingat yang berkisah tentang Matahari, lagu Iwan Fals yang sangat terkenal.

Mata Hati

Matahari yang berangkat pulang
Tinggal jingga tersisa di jiwa
Bintang-bintang menyimpan kenangan
Kita diam tak bisa bicara

Hanya mata, hanya hati, hanya kamu hanya aku.
Aku di sampingmu, begitu pasti
yang tak kumengerti masih saja terasa sepi

Sudah empat hari saya berada di Surabaya. Tempat yang bersih dan kotanya tertata rapi. Kanan kiri trotoar bersih tapi jarang ada yang jalan kaki. Orang Surabaya lebih senang naik mobil dan kendaraan bermotor untuk jarak dekat dan jarak jauh.

Pada hari minggu saya berjalan kaki dari RSUD Dr. Soetomo ke Delta Mall. Jalan-jalan sore membuat hati ini gembira, udara segar, di iringi gemericik air di dekat lambang kota Surabaya yaitu patung buaya. Di bawahnya mengalir air sungai yang sangat jernih. Betah saya berlama-lama menikmati indahnya Kota Surabaya, melewati monumen kapal selam dan menikmati segala kelebihannya.

Kemarin senin, saya sama Mas Arif berjalan-jalan menunggu senja di jembatan Suramadu. Berangkat habis Ashar yang ditempuh kurang lebih 50 menit dari tempat kami menginap.

Pemandangan sore itu sangat indah. Jembatan Suramadu membentang dari ujung barat ke ujung timur. Akan tetapi saya tidak naik ke atas jembatan, saya lebih senang berada di sebelah kiri jembatan dan mas Arif di sebelah bawah dan kanan jembatan.

Nelayan Kesulitan Mencari Kerang

Saya cukup lama berjalan di sekitar perahu nelayan, mengingatkan saya saat berada di Pantai Karangsong Indramayu Pantai Utara Jawa Barat. Di Karangsong rata-rata nelayan memiliki kapal besar di atas 7 GT. Ada yang 30 GT sampai 60 GT. Namun, nelayan di pantai dekat penyebrangan jembatan Suramadu, adalah nelayan harian yang pergi dalam hitungan jam, atau harian. Sedangkan kapal besar di atas 30 GT berlayar ke sebrang pulau dalam hitungan minggu dan bulan. Biasanya untuk mencari ikan.

Nelayan di sekitar jembatan Suramadu rata-rata adalah nelayan yang memiliki perahu ukuran  antara 7-8 GT. Biasanya perahu mereka mencari kerang, udang dan rajungan. Namun, saat saya berbincang dengan para nelayan yang sedang merapikan jaring nylon yang halus, mereka banyak mengeluh karena sejak dibangun jembatan Suramadu, mereka kesulitan mendapatkan kerang. Bahkan hampir tidak ada, karena harus mencari ke bagian laut dalam ke sebelah selatan jembatan yang tidak ramai kendaraan.

Mereka kini hanya bisa menghasilkan udang dan rajungan, itu saja jika jaringnya tidak rusak terkena sampah lautan yang banyak tersangkut jika ombak pasang.

Meskipun demikian, mereka tetap gembira, berkumpul sore hari membetulkan senar jaring bersama teman-teman sesama nelayan, menunggu waktu yang tepat untuk berlayar. Biasanya di atas jam 12 malam saat laut sepi dari gemuruh kendaraan bermotor, dimana udang dan rajungan naik ke permukaan laut.

Saya juga mengamati ada anak muda yang membawa karung entah mencari apa tapi seperti malu-malu. Dia berjalan sendirian dan sangat hati-hati karena di pinggir pantai banyak aneka hewan bercangkang yang masih hidup maupun yang tinggal cangkangnya saja menyerupai kerang tapi seperti kumbang.

Jika di pantai yang bersih kumbang jalan di pasir terlihat indah, di pantai bawah jembatan Suramadu, kumbang-kumbang kasihan karena mereka harus hidup diantara sampah plastik yang dibuang sembarangan. Saya tidak yakin yang membuang adalah nelayan, tapi entah siapa. Tidak hanya sampah plastik, ada juga sampah kain, sampai sampah celana dalam. Semua bercampur mengganggu keindahan pemandangan memandang indahnya jembatan.

Sampah plastik di pinggir pantai sisi kiri jembatan

Karena banyak sampah, saya pun tidak jadi berlama-lama. Kalau mau kesana harus hati-hati juga kalau memakai sandal, karena banyak cangkang kumbang keras yang nempel di sandal, jadi harus memakai sandal yang barbahan dasar karet keras.

Setelah cukup melihat sisi jembatan dan pantai dari sebelah kiri, saya pun berjalan ke pantai sebelah kanan. Di sana banyak orang tua yang membawa anak bermain di bawah jembatan dan berjalan di pinggir pantai.

Saya pun menemui Mas Arif yang berada di sebelah kanan. Kami naik ke atas sisi kanan untuk mencari spot terbaik, dimana di sana ombaknya sangat besar. Ada gedung petugas yang mengawasi pantai dan banyak penjual makanan.

Namun sayang, lagi-lagi saya kecewa ketika duduk berdiri di atas bebatuan. Tumpukan sampah berkumpul di bibir pantai bawah jembatan sisi kanan.

Sampah plastik di pinggir pantai jembatan Suramadu sisi kanan

Karena waktu menjelang senja telah tiba. Kami pun pulang. Kendaraan umum seperti angkutan kota di Surabaya sangat jarang. Anak-anak kecil sudah pada merokok dan naik motor memenuhi jalan. Sepanjang jalan saya merenung, sebenarnya saya sangat betah tinggal di Surabaya, makanan dan kuliner enak, penginapan banyak pilihan. Dua hal yang disayangkan, selain udara panas, mau menyebrang jalan saja sulit, karena terlalu padatnya kendaraan.

Surabaya, 17 Juli 2018
pukul 17.23

Selamat Hari Bumi 2018

Posted: April 22, 2018 by Eva in Lingkungan
Tags: ,

Setelah kemarin Hari Kartini, maka hari ini 22 April 2018 diperingati sebagai Hari Bumi. Saya merasakan
bahwa pada saat ini usia bumi makin tua dan semakin tergerus oleh banyak bencana alam.

Ada banyak sebab, entah karena ulah manusia atau memang sudah kehendak alam. Tidak banyak selebrasi yang saya lakukan kecuali suatu niatan untuk senantiasa menjaga bumi lebih baik lagi, merawatnya dan mencintai bumi seperti menyayangi diri kita sendiri.

22 April 2018, Pukul 15:25

Pagi tadi cuaca cerah dan matahari pagi menyinari ibukota. Udara pun terasa segar. Namun menjelang siang hujan sangat deras mengguyur Jakarta.

Kurang lebih beginilah potret yang saya ambil dari salah satu sudut Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Hujan sempat berhenti sebentar, namun setelah itu kembali turun membasahi bumi.

Foto diambil saat jam menunjukkan angka 13.40. Suasana pagi yang semula cerah pun menjadi basah. Lalu lalang kendaraan berkurang dan orang yang bekerja pun tidak banyak yang keluar. Bahkan para pengendara motor dan pejalan kaki banyak yang menepi berteduh.

Hujan adalah karunia ilahi, membasahi bumi yang kering. Kita bersyukur masih ada hujan, asal jangan sampai banjir saja. Di belahan dunia lain, hujan termasuk jarang turun. Bahkan, ada orang yang hanya bisa mandi jika turun hujan.

Jakarta, 19 April 2018, Pukul 15.34

Sejak membeli pohon jeruk limo setahun yang lalu, pohon ini baru berbuah dua kali tahun 2017. Sejak awal tahun Januari hingga sekarang, hampir tiap saat saya siram dan saya perhatikan kok lama sekali tidak berbuah.

Sampai akhirnya pertengahan Maret lalu saya lihat sudah berbuah meski masih sangat kecil. Awalnya hanya ada tiga buah jeruk limo di bagian kiri pohon, setelah saya perhatikan ternyata di belakang bagian kanan dan bawah juga ada beberapa buah.

Awal April ini buah jeruk limo tambah besar, hijau gemuk menggemaskan, sudah tidak sabar untuk melihatnya matang agar bisa segera dipetik

Saya sangat menyukai jeruk limo, karena biasanya saya peras buat pelengkap makan soto ayam bening.

pelengkap soto

pelengkap soto

Jadi tunggu apalagi yuuk kita menanam di lahan sempit.  Menanam apa saja yang sekiranya bermanfaat bagi kita makan sehari-hari. Kita bisa menikmati  segarnya soto ayam bening dengan perasan jeruk limo, atau bisa juga jeruk nipis, disamping makanan pelengkap lainnya seperti tempe goreng, perkedel, sate ati dan kerupuk. Resep ada disini, silahkan klik Resep Akhir Pekan.

Soto Ayam Bening

Soto Ayam Bening

Makan soto ayam bening panas-panas enak banget. Awalnya saya biasa beli, namun karena suka banget akhirnya masak sendiri, dan sensasinya lebih nikmat, karena suwiran ayam dan pelengkapnya bisa kita tambah sendiri. Dijamin enak dan kemringet habis makannya dan bisa nambah lho.

Mengisi akhir pekan tidak harus berlibur dengan biaya mahal. Jika anda berada di daerah sekitar Ciputat, Pamulang, atau Depok, ada satu tempat yang cocok buat outbound dan menghabiskan akhir pekan anda yaitu D’Kandang Amazing Farm yang berada di Pasir Putih, Sawangan Depok.

Tempat rekreasi sekaligus edukasi bagi anak dan keluarga ini sangat luas. Cuma memang tempatnya jauh tersembunyi di daerah Pasir putih Sawangan. Akses kesana cukup sulit jika dari stasiun kereta, atau pinggir jalan raya.  Lebih baik memang bawa kendaraan sendiri atau darang bersama rombongan.

Biaya masuk pun termasuk terjangkau. Biasanya jika akhir pekan di dekat pintu masuk ada orang senam. Berjalan kemudian melewati beberapa spot yang bagus untuk foto dan ada juga ruang pameran untuk event tertentu.

 

Sebelum jalan lebih jauh ke dalam anda akan menemukan kandang ternak aneka hewan. Dari sapi, kuda dan kambing ada di sini. Posisi kandang ada di sebelah kanan sebelum jembatan.

Di jembatan tengah yang dibuat kreatif dengan hiasan caping di atas
kawat dan aneka pot bunga dari daur ulang sepatu dan wadah lainnya, anda akan senang melihat setiap pengunjung yang melewati jembatan, berhenti sejenak dan naik bagian atas.

Setelah itu anda bisa naik lewat jalan batu agak ke atas anda akan melihat hamparan kebun, bunga dan pepohonan. Semua ditanam dengan beragam cara berkebun yang kekinian.

Hamparan kebun ini juga dipisahkan berdasarkan jenis tanaman yang ditanam. Sehingga anda, anak-anak dan keluarga bisa melihat bagaimana cara berkebun yang baik di sana.

Jadi tidak ada salahnya jika akhir pekan ini ajak anak, keluarga dan tetangga bermain di D’Kandang Amazing Farm.

13 April 2018, Pukul 13:30

Jika di belantara ibukota penuh dengan hiruk pikuk dan dituntut serba cepat, di kampungku kehidupan berjalan biasa saja. Semua berjalan santai, tidak ada kemacetan yang berarti. Anak muda juga tidak selalu sibuk dengan gadget, setiap pagi begini banyak diantara mereka justru pergi ke sawah, membantu orangtuanya di sawah menanam, hingga memanen padi.

Perkembangan zaman telah membuat pemuda sekarang tidak seperti orang tua dulu jika ke sawah. Mereka sekarang tidak segan memakai celana jeans digulung, memakai kaos dan bertopi karena cuaca panas. Mereka mengikuti betul semua tahapan menanam padi. Dari mulai menggaru (membajak sawah) memakai kerbau  hingga musim panen seperti gambar di bawah ini.

Usai memanen padi dan dijemur, anak muda lainnya sesama tetangga membantu membawa padi yang sudah kering, memanggulnya di atas pundak kemudian di bawa ke penggilingan padi.

Begitulah kehidupan di bumi Pasundan, gemah, ripah, loh jinawi. Foto diambil tepatnya di desa Landeuh, Bantarkaret Lebak, Sukabumi. Posisinya tidak persis kampung saya, namun jalan sedikit ke arah selatan. Tetangga kampung masih satu desa. Desa ini berada di bawah kaki Gunung Walat, dekat sungai Cimahi.

Meskipun demikian tidak semua pemuda bertani. Sebagian ada yang kerja di home industri sandal, pegawai, wiraswasta, hingga menjadi TKI ke Jakarta dan luar negeri. Sedangkan yang perempuan selain menjadi ibu rumah tangga, sebagian ada mengajar, karyawan pabrik garmen, dan membuka usaha. Semua pekerjaan mulia di mata Tuhan, mari bertebaran mencari rejeki.

Kembali ke pemuda bertopi yang semangat menanam padi, saya jadi teringat beberapa pesan kedaulatan pangan yang sangat kuat seperti dalam buku Max Havelaar, juga sebuah acara bincang televisi tentang pasangan muda yang berhenti bekerja lalu memberdayakan petani dan mengelola sawah di Bantul Jogjakarta.

Semoga semangat pemuda ini menular kepada pemuda lainnya untuk kembali ke desa, menanam padi dan mengelola sawah. Baik itu sawah milik sendiri maupun milik orang tua.

12 April 2018, Pukul 11:20

Tidak terasa sudah hari senin lagi di minggu kedua  Bulan April. Hati ini gembira ketika bangun melihat tanaman di depan rumah.

Minggu lalu ketika meninggalkan rumah selama lima hari, saat pulang tanaman kering dan layu, waah sedih banget karena gak ada yang menyiram.

Namun, sekarang sudah kembali normal. Tanaman kembali segar, tumbuh kembali bahkan ada yang berbuah dan berbunga.Seperti jeruk limo dan belimbing wuluh yang berbuah lagi serta bunga kamboja yang kuncup di senin pagi ini.

Bunga kamboja ini aku bawa dari Cikampek dikasih Om Sugeng saat kami berdua silaturahmi ke rumah saudara di Cikampek Karawang. Dulu pas pertama kali dibawa bunga ini tampak kerdil dan tidak memiliki daun. Namun tidak menyangka dalam hitungan lima bulan kini bisa mekar dan kuncup sempurna.

Selamat hari senin dari bunga kamboja..

9 April 2018, Pukul 08.55

Seperti biasa saat senja hari
Aku menyiram tanaman di depan rumah
Dan aku temukan pohon belimbing wuluh
Sudah tumbuh tunas baru

Wah senang sekali melihatnya
Mengingat pohon itu sering berbuah
Lebat dan subur
Kini makin kokoh dan berkembang

Pamulang 30 Maret 2018
Pukul 18.30

Air, seperti halnya tanah, api dan udara adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Sudah selayaknya kita hemat, jaga, dan lestarikan sepanjang masa.Anugerah yang luar biasa dari yang maha Kuasa.

Ada beberapa beberapa hal yang sering tidak kita sadari tentang kebiasaan kita terhadap air.

Pertama, jika minum air baik air putih, kopi, teh atau susu, sirup dan sejenisnya jangan lupa harus dihabiskan.

Kedua, Jika di suatu acara kita disuguhi air kemasan, jangan lupa juga harus dihabiskan dan botol atau cupnya kita buang. Jangan sampai selesai acara bertebaran botol-botol berisi air baru diminum sedikit atau setengah sudah ditinggalkan begitu saja.

Ketiga, jika kita menyiram tanaman, mandi, mencuci piring atau pakaian, sesudahnya jangan lupa keran dimatikan dengan rapat jangan sampai menetes karena jika lama-lama tetesan air itu akan sia-sia.

Keempat, jangan lupa bawa botol minuman atau thumbler jika bepergian kemanapun anda pergi. Jika kita hemat air dari sekarang berarti kita memberi kehidupan yang lebih baik bagi masa depan anak cucu kita. Jangan sampai mereka tidak bisa mandi atau membeli air dengan harga tinggi karena airnya sudah kita habiskan dari sekarang.

Kelima, jika musim hujan tiba, jangan lupa keluarkan ember-ember yang kita punya, baskom dan lain sebagainya untuk menadah air hujan. Setelah terkumpul bisa buat mandi, wudhu, mencuci, atau menyiram tanaman.

Di negara kita air melimpah, kecuali mungkin di beberapa daerah di Indonesia Timur seperti NTT. Coba lihat saat anda berkunjung ke luar negeri, di beberapa negara banyak toilet yang tidak menyediakan air, harus pakai tissue, begitu juga di Afrika mereka kesulitan air. Jadi bersyukurlah kita tinggal di Indonesia yang memiliki banyak sumber mata air.

Mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan tentang hal-hal sederhana yang mungkin karena satu atau dua hal kita lupa berkaitan dengan air yang ada di sekitar kita. Tidak bermaksud menggurui, hanya sekedar berbagi.

Semoga bermanfaat.

Selamat memperingati hari air sedunia 2018, World Water Day 2018.

Depok, 14.47 WIB

 

Dalam beberapa waktu terakhir saya mengamati anak-anak muda, terutama generasi millenial sekarang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar, terutama sampah. Baik dalam keseharian maupun dalam beberapa acara formal.

Pernah suatu hari saya mengikuti acara pemuda dimana tidak ada air minum kemasan dan snack dus-dusan. Anak-anak muda itu bawa tumbler sendiri dan snack ringan juga tersedia di depan registrasi namun tidak tidak banyak, mereka fokus pada acara yang saat itu membahas tentang peranan anak muda berdamai dengan manusia dan alam.

Tidak semua memang peserta dan pembicara anak millenial, ada juga beberapa orang peserta termasuk panitia adalah orang-orang yang sudah dewasa dan dia terlihat lebih memahami isu-isu terkait sampah di pegunungan karena merupakan kegiatan rutinnya bersama komunitas pendaki gunung.

Selain itu ada juga seorang perempuan aktivis lingkungan yang membahas tentang sampah plastik di pantai yang menjadi kegelisahan nelayan dan aktivis lingkungan. Karena selain sering di makan oleh organisme laut, acapkali ditemukan kandungan merkuri dan plastik pada ikan yang akan berbahaya dan bisa mengakibatkan kanker jika di makan.

Gerakan membawa tumbler ini massif juga sekarang digunakan oleh anak muda di warung kopi. Beberapa warung kopi memberi diskon khusus buat yang membawa tumbler seperti di Anomali Cafe misalnya, meski tidak membuat kartu member seperti warung kopi terkemuka lainnya tapi kebijakannya hampir sama, bisa isi ulang jika habis dan promo setiap ulang tahun atau event. Ini juga merupakan strategi meraih pelanggan.

Belum lama ini juga saya mengamati inovasi anak-anak muda yang berhasil mengelola sampah secara individu. Beragam inovasi mereka, ada yang membeli sampah, sampai dengan batako dari sampah plastik yang ditemukan anak MTs (Generasi Post-Millenial/ gen z*). Beberapa kreasi drum bekas bisa dikreasikan jadi kursi unik di kafe, tutup botol Aqua jadi pin atau aneka kresek warna warni jd bross dan lain sebagainya.

Tentu ini kabar gembira bagi masa depan generasi anak-anak Indonesia yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar dan keberlanjutan (sustainability) bumi. Di luar negeri saya sering melihat di siaran televisi DW Indonesia aneka cara pengelolaan sampah yang sangat modern dan berteknologi tinggi dan Yayasan Bunda Tzu Ci yang juga memiliki jaringan relawan yang luas dalam mendaur ulang sampah.

Anak Muda dan Tantangan Energi

Masih dalam acara yang sama, ada seorang gamers anak muda yang memang kerjanya membuat games dan mengikuti aneka lomba games. Di sinilah kekhawatiran saya sebagai emak-emak yang gelisah dengan ketergantungan anak sekarang terhadap permainan games di gadget.

Saya melihat sendiri bagaimana sekarang setiap orang memiliki gadget tidak hanya satu. Selain main games, juga aktif di media sosial. Saat mulai bekerja, hp menyala, laptop menyala, powerbank di cas kali sekian ratus juta pengguna. Itu adalah rutinitas hampir sebagian besar rakyat Indonesia yang sebagian besar sudah terhubung dengan internet (data pengguna akurat terus berubah). Terbayang kan, bagaimana energi listrik tersedot setiap harinya oleh kita sebagai konsumen. Apalagi era sekarang hampir setiap rumah tersambung wifi.

Pasti banyak yang bete kan, jika saat update status atau menulis di blog, listrik mati. Itulah ketergantungan kita terhadap energi sangat tinggi. Bagi anak milenial dan post milenial tidak begitu merasakan dampaknya, karena bisa lari ke kafe atau tempat lainnya tapi bagi kita emak-emak ini, tidak hanya listrik mati yang bikin bete, tapi tagihan listrik juga naik kalau kita tidak hemat.

Meskipun demikian, saya juga mengamati anak-anak muda sekarang dengan segala kreatifitas yang dimiliki sudah banyak yang memikirkan bagaimana membuat energi terbarukan. Maski inovasi mereka tidak semasif pengolahan sampah lingkungan dan masih belum teruji secara profesio nal tapi semangat inovasi ke arah sana sudah ada. Acapkali temuannya justru mengejutkan.

Energi terbarukan selama ini dianggap menjadi solusi dalam rangka energi berkeadilan, disamping penghematan tentu saja. Namun, biaya untuk energi terbarukan itu sangat  mahal dan butuh keberanian untuk melakukan terobosan.

Keadilan energi dalam penerangan listrik di Jawa dan luar Jawa yang menjadi sorotan selama ini juga sudah lama menjadi bahasan baik oleh NGO maupun pemerintahan. Namun, saya baru tahu ternyata beberapa pelosok Indonesia Timur yang masih gelap itu karena pemasangan infrastruktur energi listrik di daerah tersebut berbiaya tinggi (high cost) tidak seimbang antara biaya pemasangan dengan penduduk di daerah tersebut yang jauh berpencar dimana yang akan pasang rumah mungkin hanya 20 orang atau kurang (misalnya), padahal biaya pasang dari gardu listrik ke rumah tersebut mahal karena jaraknya sangat jauh.

Jadi ingatlah, ketika kita semua, orang tua, dan anak muda, ketika kita sedang asyik berselancar di dunia maya, hemat-hematlah  energi listrik. Biar listrik di negara kita tidak tersedot di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan saja, tapi juga bagian Indonesia lainnya yang masih gelap gulita.

Tulisan ini hanyalah pengamatan pribadi saja, tentu masih banyak ya anak muda lainnya juga yang justru kurang peduli, baik terhadap lingkungan ataupun energi,  tentu itu di luar pengamatan saya.

Namun ada satu hal yang menarik dari kecendrungan anak muda sekarang dalam melakukan perubahan terkait dengan lingkungan dan energi ini banyak diantaranya adalah independent. Mereka enggan dikaitkan dengan kepentingan politik tertentu.

Buat peneliti, akademisi, anak millenial dan post- millenial yang memiliki kecerdasan dan daya inovasi tinggi semoga terus berkarya dan membuat terobosan baru dalam mewujudkan keadilan energi  bagi kita semua.

Pondok Petir, 6 Maret 2018
Pukul 12.24

*) Ket:Generasi Post- Millenial / generasi Z? biasa disebut juga dengan iGenCentennials atau Plurals, adalah generasi yang lahir setelah generasi Y (Generasi Millennial). Kebanyakan anak-anak yang lahir setelah tahun 2000 kebawah.

Ada tiga hal  yang berubah dalam beberapa waktu belakangan, kaitannya dengan usaha dan kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Aku menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi setidaknya untuk berbagi cerita atau sharing bahwa kelestarian alam, lingkungan dan perubahan iklim adalah hal yang selama ini harus terus kita kampanyekan mulai dari dalam diri kita sendiri. Bukan hanya sekedar berkoar-koar.

Pertama yang ini membutuhkan banyak sekali pertimbangan adalah aku berhenti jualan sandal. Sudah sejak kecil, keluarga kami di Sukabumi turun temurun berbisnis sandal. Bahkan aku dan kakakku bisa kuliah di Jogja dan di Sukabumi karena usaha keluarga ini. Sungguh berat aku harus menghentikan bisnis yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Ada rasa nyesek dalam hati ketika ada pesanan dari beberapa teman berkaitan dengan sandal tapi aku tidak bisa memenuhinya.

Alasan utama aku berhenti jualan sandal adalah karena faktor limbah industri kecil kami di kampung yang sulit di daur ulang, ya memang harus dibakar. Awalnya sedikit akan tetapi karena orderan dari berbagai daerah melimpah, makin hari makin banyak. Dari lima orang kakakku laki-laki, empat diantaranya berbisnis ini dan aku sebagai adik sudah sejak SMA membantu berjualan. Hingga akhirnya pada tahun lalu, 2016, aku memberanikan diri mengemukakan alasan, dan semoga kakak-kakakku tidak surut bisnisnya karena alasan ini. Akan tetapi mereka memahami, bahwa bahan dasar industri sandal adalah karet. Dengan segala keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjualan sandal.

Kedua, Aku berhenti memakai lipstick. Aku kira ini terobosan besar. Sangat sulit di awal aku melakukan, karena sebelumnya aku termasuk yang suka dandan. Lebih dari 10 warna lipstick aku punya dari berbagai merek, dari yang paling murah sampai yang lumayan. Aku senang berburu warna lipstick kekinian. Tapi sejak September tahun lalu, sepulang aku dari Bali, aku sudah tidak menggunakan lipstick. Berat rasanya aku membuang semua lipstick di ruang kosmetik, aku sangat sayang, tapi aku sadar apa itu bahan dasar lipstick dan kosmetik lainnya, yaitu kelapa sawit. Jika Eka Kurniawan memiliki novel berjudul Cantik itu Luka, maka saya mengibaratkan lipstick itu demikian. Untuk membuat tampak cantik, kita harus merusak lingkungan, kita tidak tahu bagaimana kelapa sawit itu ditanam harus membakar hutan, merusak ekosistem. Begitu juga saat pengolahan dari kelapa sawit menjadi alat kosmetik, banyak para buruh yang diupah murah, sementara lipstick dijual mahal untuk kepentingan pemilik modal. Di balik aneka lipstick yang warna warni, ada beberapa nilai berkaitan dengan lingkungan dan kemanusiaan yang aku pertimbangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, langkahku tidak menggunakan lipstik ini dianggap ekstrim atau lebay. Tak apalah untuk melakukan suatu perubahan kita harus siap dibilang beda, dimusuhi atau ditinggalkan teman. Tapi perubahan-perubahan besar berkaitan dengan lingkungan adalah dengan melakukan hal-hal kecil yang menurut kita benar, yang itu mudah-mudahan jika orang membaca tulisan ini akan berbuat demikian, tapi bukan merupakan suatu paksaan.

Ketiga: Hemat air, Energi dan Mulai Menanam. Awal tahun lalu hujan terus mengguyur bumi Pamulang, aku selalu siapkan menadah ember-ember di dapur aku keluarkan. Biasanya airnya aku pakai berwudhu, mandi atau menyiram tanaman. Begitu juga bilasan air cucian piring, tidak aku buang yang sudah tidak ada sabunnya aku siram. Aku sangat hemat menggunakan air, untuk berwudhu secukupnya. Beberapa waktu lalu aku sering dimarahin mas arif karena lupa matikan keran, sehingga air melimpah kemana-mana dan bagiku itu suatu peringatan.

Selain air, aku juga sekarang belajar untuk tidak sering menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, jangan terlalu sering mencuci mobil dan usahakan semaksimal mungkin untuk naik kereta, commuter atau kendaraan daring jika bepergian. Semua aku lakukan dengan penuh kesadaran, begitu juga suami, dalam hal ini kita memiliki banyak kesamaan. Kita berdua kalau akhir pekan lebih banyak di rumah, ngurus tanaman dan istirahat panjang, tidak begitu suka bepergian. Paling banter ke Sukabumi, kalau ada hari-hari besar. Tidak seperti dulu, waktu masih ada orangtua.

Berkaitan dengan kebiasaaan menanam. Awalnya berasal dari sampah rumahtangga yaitu sayuran busuk seperti cabe, tomat, dan lain-lain yang kalau tidak dimasak, sayang aku buang. Aku jemur, lalu aku simpan bijinya dan kumpulkan.

aneka benih

Sudah banyak sebenarnya, aku wadahin rencana mau aku pisahin di kertas aku kasih label nama sayuran dan buah, cuma belum sempat beberapa bulan terakhir aku banyak deadline pekerjaan, sehingga adakalanya aku sabtu minggu tidak pulang.

 

Tapi minggu ini, sudah kembali normal, aku kembali menyiram tanaman, mengumpulkan benih, memasak dan bikin kue kesukaan. Mungkin itu saja, cerita yang aku ingin bagikan kepada teman-teman. Tidak ada maksud untuk gagah-gagahan, tapi ini semua kulakukan karena aku sangat percaya akan adanya hari akhir, atau hari kiamat. Siapa bilang isu perubahan iklim tidak berkaitan dengan hari akhir. Aku percaya akan semua yang diceritakan Al-qur’an bahwa ketika sumber daya alam diambil secara serakah oleh manusia maka gunung meletus sudah terjadi, gempa bumi dan banjir bandang terjadi dimana-mana, itu karena kita tidak peduli lingkungan dan serakah atas semua ciptaan Tuhan.

tomat

Kekayaan alam dikeruk untuk kepentingan pribadi dan pemilik modal, maka orang akan beramai-ramai untuk mengumpulkan uang. Kita tidak ingat seperti apa anak cucu kita di masa depan. Apakah mereka masih bisa makan enak dengan sayuran atau lalapan seperti yang kita makan sekarang? Atau mandi aja sulit karena tidak air, karena airnya habis untuk dijual air kemasan atau mencuci mobil agar kelihatan kinclong.

 

Suatu hari orang akan sadar, ketika ikan terakhir kita makan, ketika tidak adalagi tanah yang bisa ditanam, disitulah orang baru sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Bukan aku tidak butuh uang, tapi setidaknya kita bekerja harus seimbang, terutama dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Pejaten 25 September 2017
Pukul 9.40

Sebagai seorang ibu, seringkali kita berbelanja membeli makanan, minuman dan belanja bulanan di toko, pada saat hendak diambil pesanan kita selalu disertakan plastik untuk dibawa. Sadarkah kita bahwa setiap plastik yang diterima secara cuma-cuma jika dikumpulkan menjadi sampah yang sulit untuk diurai. Pemakaian kantong plastik hampir tidak dapat dihindari dikehidupan sehari-hari manusia. Bermacam jenis kantong plastik telah digunakan membawa barang belanjaan dan dipakai untuk berbagai jenis kemasan, termasuk kemasan makanan dan minuman. Plastik telah membuat semuanya menjadi lebih praktis dan sulit tergantikan. Namun tahukah anda bahwa banyak bahaya mengintai dari penggunaan plastik dan limbah plastik?

Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

Menurut GoGreenIndonesia/Everiday’sTidBid dari situs dream indonesia, Berikut Bahaya Kantong Plastik: (more…)

Kenaikan permukaan air laut, pelestarian keanekaragaman hayati dan kemampuan manusia untuk bertindak dan beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim adalah tantangan lingkungan terbesar yang pada tahun ini diangkat menjadi tema Pesta Sains 2015. Melalui berbagai pameran interaktif, diskusi dan pemutaran film, Pesta Sains mengajak publik Indonesia untuk lebih memahami tantangan terbesar yang sedang kita hadapi abad ini.

Mural Bumi Kita

Mural Bumi Kita

Kedutaan Perancis untuk Indonesia dan Institut Francais Indonesia (IFI) membawa berbagai pameran yang dirancang oleh lembaga-lembaga penelitian Prancis (IRD, CNRS, CIRAD dan AFD) ke Indonesia. Selain mereka, beberapa LSM, perusahaan Prancis dan Indonesia yang peduli dan aktif di bidang lingkungan juga turut mendukung penyelenggaraan Pesta Sains tahun ini dengan berbagi program dan pengalaman mereka di bidang ini. Beberapa media seperti KOMPAS yang menggunakan kertas daur ulang, dan lembaga Artha Graha dan sponsor lainnya ikut mendukung acara ini.

Tema perubahan iklim untuk Pesta Sains edisi ke-2 ini dipilih sesuai dengan fokus KTT Iklim PBB/COP21 yang akan berlangsung di Paris dari tanggal 30 November s.d. 11 Desember 2015 yang salah satu poin diantaranya adalah untuk menyepakati kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Karena jika kenaikan temperatur iklim terlalu tinggi, itu berarti permukaan laut juga akan naik dan terjadi bencana alam ekstrem, seperti banjir, hujan deras, gunung meletus dll. Perancis sebagai tuan rumah dalam konferensi yang diikuti oleh 106 negara ini, PBB sebagai lembaga penyelenggara adalah yang membuat inisiasi empat komponen yang harus disepakati oleh negara peserta United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

Bersama Melawan Perubahan Iklim

Bersama Melawan Perubahan Iklim

Kamis malam 26 November 2015, Pesta Sains 2015 di tutup dan sekaligus peluncuran prapeluncuran Konferensi Tingkat Tinggi Iklim “Paris Climate 2015″ atau COP-21. Sebanyak 106 negara akan bergabung dalam pertemuan tersebut untuk membahas isu perubahan iklim yang sedang terjadi, ” ujar Premier Conseiller de ambassadeur de France en Indonesie et Timor Stephane Baumgarth. Stephane menjelaskan, perhelatan internasional tersebut juga diharapkan dapat memberikan kesadaran bagi seluruh pihak di dunia mengenai perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.

“Jika kita tidak serius menangani masalah ini, memang dunia kita tidak akan hilang. Tetapi ini akan sangat menyulitkan kehidupan kita di masa depan,” tukasnya.
Sehubungan dengan peran Indonesia dalam upaya penanganan perubahan iklim, dia berpendapar bahwa Indonesia memiliki tugas yang besar dalam isu tersebut.
Sebagai negara berkembang yang masuk ke dalam “Group of 20” atau G20, Indonesia seharusnya bisa lebih berupaya untuk menegaskan komitmen dan dukungannya terhadap upaya menjaga lingkungan, ujarnya.Selanjutnya, terkait dengan kegiatan Pesta Sains 2015 tersebut ia menjelaskan bahwa tujuan dari acara tersebut ialah untuk memberikan kesadaran kepada kaum muda mengenai bahaya perubahan iklim. Selain itu, yang terpenting ialah kaum muda dapat lebih berkontribusi dalam usaha menjaga lingkungan dengan memulainya dari diri sendiri. Sarwano Kusumaatmaja dari Dewan Perubahan Iklim Indonesia juga memberikan sambutan dan menegaskan jika Presiden Jokowi akan hadir pada perhelatan tersebut. Untuk memeriahkan acara ini hadir juga artis yang juga aktivis lingkungan yaitu Oppie Andarista, Nugie dan Nadine Chandrawinata

Sarwono Kusumaatmaja bersama Oppie Andaresta, Nugie,Nadine Chandrawina di Prapeluncuran COP 21

Sarwono Kusumaatmaja bersama Oppie Andaresta, Nugie,Nadine Chandrawina di Prapeluncuran COP 21

Masing-masing artis itu memiliki kepedulian terhadap lingkungan dengan cara masing-masing. Oppie Andaresta misalnya membuat buku untuk anak-anak tentang lingkungan, Nugie mempraktekkan dan mengkampanyekan hidup sehat dengan naik sepeda kemanapun dia pergi dan mulai memperjuangkan untuk lebih selektif dalam gaya hidup dari mulai apa yang kita makan, mengurangi plastik, dan membeli yang baik. Menggunakan lampu seperlunya dan hemat listrik. Dia juga menyarankan agar kita jangan buang sampah kalau bisa semua bisa didaur dan ulang. Sedangkan Nadine Chandrawinata mengajak masyarakat untuk go Blue, atau peduli laut. Nadine yang memiliki hobi diving ini mengatakan jika saat menyelam ia juga sambil membersihkan laut dari plastik yang menyangkut di terumbu karang yang dikira hewan laut ubur2 sehingga mereka makan. Pada akhirnya menurut Nadine semua akan bermuara ke laut jadi Go Green itu penting tapi jangan lupakan Go Blue pesan mantan putri Indonesia itu semangat.

Lebih bijak dalam mencharge HP

Lebih bijak dalam mencharge HP

Acara ditutup dengan pemukulan kentongan sebagai tanda prapeluncuran Cop 21 dan peserta diskusi diajak keliling ke pameran dan mural tentang kampanye perubahan iklim seperti mengecharge sambil bersepeda, Healthy Charger dan lain sebagainya. Acara yang berlangsung di bentara budaya ini juga ada pameran perubahan iklim di dalam gedung yang menarik untuk dilihat. Berikut saya tampilkan beberapa foto pameran.

Healthy Charger

Healthy Charger

Kebutuhan Listrik Dunia yang Semakin Tinggi

Kebutuhan Listrik Dunia yang Semakin Tinggi

Tidak ada Foto Bagus Untuk Perubahan Iklim

Tidak ada Foto Bagus Untuk Perubahan Iklim

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi perubahan iklim? Mulailah kita peduli lingkungan di mulai dari kita sendiri. Dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti hemat listrik, hemat plastik, bawa kantong belanjaan sendiri jika belanja, menggunakan sepeda atau naik kendaraan umum jika bepergian dan banyak hal lainnya yang bisa kita lakukan untuk bumi.

Kebayoran Lama 27 November 2015
Twitter: @evarhl Instagram: Eva Rohilah

Pada bulan Agustus kemarin, alhamdulillah saya berhasil melunasi rumah cicilan di Pamulang Elok yang seharusnya 10 tahun menjadi 8 tahun. Alangkah bahagianya sekarang ini karena sudah tidak memiliki lagi cicilan tiap bulannya. Meski cicilan sebesar 1.250.000 tapi sekarang ini tanpa ada cicilan sudahterasa ringan. Cara pelunasan kredit rumah gampang kok, saya yang dulu membuka di Bank Tabungan Negara (BTN) BSD bisa melunasi di mana saja, saya melunasi di Bank BTN Pamulang. Saya membawa semua berkas ketika akad kredit dulu ke Bank BTN dan disana diberi bukti tanda pelunasan. Setelah lunas sehari kemudian saya dan mas Arif pergi ke Cikokol untuk mengambil sertifikat Hak Guna Bangunan. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengambil sertifikat HGB diantaranya KTP asli, bukti pelunasan dll. Harus dua kali kesana yang pertama ngasihin berkas yang kedua ngambil sertifikat HGB.

BTN Cikokol

BTN Cikokol

Setelah berkas lengkap di Cikokol, kunjungan kedua kita akan diberi satu bundel surat-surat lengkap rumah termasuk di dalamnya IMB (Izin Membuat Bangunan), sertifikat Hak Guna Bangunan, surat roya dari BTN dan bukti-bukti lainnya. Kalau ke BTN harus pagi2 karena antri, persyaratan kita dilihat lengkap dan jangan lupa bawa KTP asli dan surat berharga lainnya.

Setelah berkas dari BTN lengkap, maka berkas tersebut saya bawa ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Depok di Grand Depok City. Sempat muter-muter cari alamat BPN Kota Depok, karena kita gak tahu ternyata jauh banget harus 1,5 jam dari Pamulang lewat jalan Sawangan, tepatnya di komplek perkantoran kota Depok deket kolam renang dan pemadam kebakaran.

Kantor BPN Kota Depok

Kantor BPN Kota Depok

Sebelum datang ke BPN Depok saya riset di internet cara-cara ngurus sertifikat rumah sendiri dan ternyata kebijakan baru ada layanan sabtu minggu. Pada saat itu hari sabtu, kita berangkat jam setengah 10 ternyata sampai sana sudah setengah 12 dan harus kembali lagi besok minggu, kita melakukan pendaftaran dan mengisi form pengecekan berkas. Di koperasi BPN ada 3 macam map yaitu pendaftaran, pengecekan, roya dan peningkatan hak mapnya beda2 warnanya dan persayaratannya juga beda2, dan ketika saya tanya ke petugas saya harus ngisi form pendaftaran dan roya. Jika anda bingung, tanya saja persyaratannya sama petugas atau penjaga koperasi. Syarat untuk roya dan pengecekan itu beda-beda, tapi rata2 semua syaratnya sudah ada di berkas yang dikasih sama bank. Hari sabtu itu saya harus mengisi map untuk roya dan dimasukkan hari minggu.

Beberapa tahapan mengurus sertifikat

Beberapa tahapan mengurus sertifikat

Hari minggu saya datang lebih pagi, namun petugas di BPN Depok sepi hanya ada beberapa petugas saja, saya pun menyerahkan berkas dan mereka bilang dokumen roya akan jadi dalam seminggu. Jadi saya patuh saja dan membayar sejumlah dana untuk administrasi. Setelah itu tak lama pulang. Seminggu kemudian, saya kembali ke BPN dan berkas roya saya sudah selesai, lalu saya mengisi berkas di map pengecekan, setelah di cek ada biaya administrasi lagi tapi sedikit sih termasuk murah lah. Setelah tahap pengecekan selesai saya mengisi berkas peningkatan hak. Saya mengurus sertifikat peningkatan Hak Guna Bangunan (HGB) menjadi Sertifikat Hak Milik. Berikut saya lampirkan persyaratannya.

Berkas dan Persyaratan yang Harus disiapkan

Berkas dan Persyaratan yang Harus disiapkan

Berikut-berikutnya saya tidak pernah lagi datang hari minggu ke BPN Depok, saya lebih senang sabtu karena petugas lengkap dan seminggu kemudian setelah saya melengkapi berkas peningkatan hak, saya harus membayar lagi biaya administrasi dan jadilah sertifikat hak milik kita (SHM). Jadi alhamdulillah meskipun kita bekerja, hari sabtu dan minggu kita bisa ngurus sertifikat sendiri dengan biaya murah. Sementara itu jika kita ngurus ke notaris biayanya bisa mencapai Rp.2.500.000.

Saya bersyukur sekali dan mungkin ini adalah salah satu revolusi mental dalam bidang pertanahan. Terimakasih BPN Depok

Kebayoran Lama 7 Oktober 2015
Pukul 17:12

Raden Saleh Inspirasi Cinta Satwa

Posted: September 20, 2014 by Eva in Lingkungan

Hubungan manusia dengan satwa seringkali menjadi kisah yang menarik untuk ditelisik. Sejarah Taman Margasatwa Ragunan yangii pada awalnya merupakan koleksi hewan milik Raden Saleh saat masih di Taman Margasatwa Cikini dan inspirasi kecintaannya terhadap satwa dibahas tuntas dalam diskusi rutin Sahabat Ragunan yang bertajuk “Raden Saleh Pelopor Taman Margasatwa” di Teater Schmutzer Taman Margasatwa Ragunan pada 19 Agustus 2014.

Hadir sebagai narasumber adalah Dayan D.Layuk Allo alumni Institut Teknologi Bandung yang merupakan pemerhati sejarah Raden Saleh dengan moderator Eka Budianta dari Sahabat Ragunan. Acara yang berlangsung mulai pukul sepuluh pagi ini diawali dengan pemutaran dua buah film yang dibawa oleh Hermawan Rianto berjudul Kearifan Budaya Indonesia dan “Incredible Journey.”

Pembicara Diskusi Rutin sahabat Ragunan

Moderator dan Pembicara Diskusi Rutin sahabat Ragunan

Sebagai pembuka, moderator Eka Budianta menjelaskan sekilas tentang sejarah Raden Saleh. Perjalanan Hidup Raden Saleh yang memiliki banyak jasa dalam berbagai bidang baik saat masih di Semarang hingga kepergiannya ke Eropa, lalu menetap di Bogor dijelaskan secara singkat. Beberapa peran Raden Saleh dan karya-karya juga dijelaskan Eka Budianta yang sangat berguna bagi peserta diskusi sebagai pengantar.

Setelah pemaparan dari moderator, sampailah pada acara inti yaitu penyampaian materi tentang Raden Saleh sebagai pelopor taman margasatwa oleh Dayan D Layuk Allo. Dayan membuka diskusi dengan menjelaskan tentang kehidupan pribadi Raden Saleh yang memiliki nama asli Syarief Bustaman memiliki tanah yang luas, hal ini tidak lepas dari peranan istrinya Constancia Winckelhaagen seorang janda kaya.

Peserta Diskusi semangat

Peserta Diskusi semangat

Di lahan yang luas di Batavia, Pada tahun 1858 Raden Saleh dan istrinya sudah memiliki puri yang sangat megah. Di samping puri itu ada lahan 10 hektar untuk kebun raya dan koleksi satwa yang pada tahun 1864 Planten en Dierentuin.

Itulah yang kelak menjadi Keboen Binatang Tjikini mulai 1949 hingga 1964. Setelah satwa dipindah ke Ragunan, kebun itu dibangun menjadi Taman Ismail Marzuki.
Dalam slidenya Dayan sangat rinci menggambarkan tentang posisi lahan milik Raden Saleh serta kemegahan puri yang sangat indah dengan aliran sungai ciliwung yang melewatinya.

Dayan mengatakan, inspirasi puri itu didapat ketika mukim di Eropa, antara 1829 hingga 1852, serta kunjungan berikutnya di tahun 1878. Setiap istana selalu dibangun di tepi sungai yang indah.

Dalam sejarahnya sebagai maestro pelukis, menurut Dayan, Raden Saleh memiliki beberapa mentor yaitu Prof. C.G.C. Reinwardt dan A.A.J.Payen sebagai mentor dan sahabat. Pada tahun 1844 Raden Saleh melakukan perjalanan ke Dresden Jerman dimana kunjungan tersebut menjadi sumber inspirasi kemanusiaannya. Disana ia bertemu dengan F.Serre dan istrinya. Kedua orang itu memiliki peran yang sangat besar selama Raden Saleh di Jerman. Disana ia membuat mesjid biru yang aksen kacanya sangat bagus dan ia gambar dan ketika kembali ke Indonesia ia membuat aksen kaca serupa di kediamannya.

Raden Saleh juga terinspirasi oleh para inspirator dunia seperti H.C.Andersen Ernst II, Adipati Sachsen-Coburg dan Gotha, selain itu para sahabat: pelukis, pematung, ilmuwan,komposer, penulis, filsuf, ekolog,dan lain-lain.

Setelah ke Jerman, Raden Saleh juga mengunjungi Paris Prancis yang dikatakan Dayan sebagai sumber inspirasi hiruk pikuk seni. Disana, Raden Saleh bertemu dengan Henri Martin seorang pengusaha sirkus yang punya tiga ekor singa. Berhari-hari Raden Saleh menekuni anatomi singa itu sebagai lukisannya. Raden Saleh bahkan rela melukis wajah Henri Martin secara gratis agar ia diijinkan menjadikan harimau-harimau milik Henri Martin itu menjadi obyek lukisnya.

Dayan menunjukkan kecintaan Raden Saleh pada satwa melelui lukisan seekor kuda mati dan wajah sangat sedih dari pemiliknya. Sebuah lukisan lagi, tentang seorang budak bernama Androkles, yang mencabuti duri dari kaki singa. Lukisan itu menjadi logo sebuah majalah filantropi yang terbit di Jerman pada 1844.
Di Paris Raden Saleh membeli sebuah rumah tidak jauh dari pusat kota untuk melukis dan menyimpan koleksi lukisannya. Selain Paris, Raden Saleh juga mengunjungi London zoo, dalam tayangan slide, tampak lukisan Raden Saleh tentang Harimau dan London zoo terlihat sangat indah dan mempesona.

Raden Saleh Syarif Bustaman

Raden Saleh Syarif Bustaman

Sekembali ke Tanah Air, Raden Saleh banyak membantu museum pusat dan mendirikan kebun binatang di cikini yang kini berkembang menjadi Taman Margasatwa Ragunan. Selain itu ia juga membuat taman di Semarang dan merancang kebun kabupaten Majalengka.

Dayan mengakhiri pemaparannya tentang inspirasi Raden Saleh dalam melukis adalah inspirasi cinta. Setelah Raden Saleh menikah lagi dengan Raden Ayu Danudirjo, putri dari ajudan Pangeran Diponegoro. Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880 di Bogor. Saat pemakamannya diiringi oleh 2000 orang penduduk dari berbagai ras dan golongan.

Pada akhir acara, Sahabat Ragunan menghadirkan pematung lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, Drs. Dunadi yang akan membuat patung Raden Saleh di Taman Margasatwa Ragunan. Dia menjelaskan tahapan pembuatan patung yang saat ini sudah sampai pengecoran. Sebelum acara ditutup moderator membuka forum tanya jawab dan acara ditutup dengan makan siang.

buklet

booklet

 

 

 

 

 

 

 


Tulisan ini dimuat di Booklet Sahabat Ragunan yang dibagikan pada Peringatan Ulang Tahun 150 Tahun TM Ragunan

 

Tanaman di Rumahku

Posted: March 7, 2012 by Eva in Lingkungan, Rumah

Saat pertamakali menempati rumah di Pamulang pada akhir tahun 2007 saya membawa beberapa tanaman yang saya dapat dari beli di penjual tanaman maupun dikasih teman. Tanaman yang pertama yang saya tampilkan kali ini adalah aglonema hijau dengan bercak kuning yang tumbuh dengan subur di atas pot. Tanaman ini saya beli seharga Rp.40.000 dari penjual tanaman di Cawang, sebelahnya Carrefour Cawang. Masih inget perjuangan membawa tanaman ini ke kostku di Kalibata aku harus membawanya jalan kaki dari pertigaan rel menuju kostku dulu.

Agalaonema army

Agalaonema army

Pada saat yang bersamaan saya juga membeli Palem Kuning (Chrysalidocarpus lutescens) yang sebelumnya saya tanam di pot, namun saat depan rumah di buat karpot, akhirnya saya pindahkan ke atas tanah di depan teras.

Palem Kuning (Chrysalidocarpus lutescens)

Palem Kuning (Chrysalidocarpus lutescens)

Awalnya memang hanya punya dua tanaman itu, namun sekarang aglaonema hijau army sudah berkembang biak menjadi satu pot lagi jadi ada dua pot. Tanaman berikutnya adalah Aglaonema red peacok yang dapat minta dari sunariah waktu dia masih tinggal dekat kontrakanku di Ciputat pada tahun 2008. Sekarang aglaonema merah ini sudah beranak dua pot, saya senang dengan tanaman ini karena mengingatkanku akan persahabatan dengan Sunar temanku yang baik sejak awal-awal saya menginjak Jakarta pada tahun 2004.

Aglaonema Red Peacok

Aglaonema Red Peacok

Setelah aglonema dan palem, beberapa waktu yang lalu saya cari tanaman ke daerah cinangka sawangan ke arah parung. Di sana saya menemukan pohon jeruk purut yang daunnya bisa dipake buat masak sayuran. Dulu pohon jeruk ini pendek dan daunnya lebat, namun sejak dipindah, dan kekurangan sinar matahari pohon jeruk ini jadi kurang subur dan sering terkena lalat, tapi sekarang sudah mulai berdaun lagi.

Pohon jeruk purut

Pohon jeruk purut

Bersamaan dengan pohon jeruk mas arif sama saya membeli pohon mangga apel dan pohon kelengkeng. Namun, pohon mangga apel ini pertumbuhannya lambat sekali, sehingga kami harus memberinya pupuk berulang kali agar tumbuh subur dan cepat berbuah.

Mangga Apel ((Mangifera Indica)

Mangga Apel ((Mangifera Indica)

Tanaman berikutnya yang baru kubeli saat membuat karpot baru adalah Anggrek. Aku beli anggrek ini di jalan menuju ragunan saat itu beli sama tanaman untuk anti nyamuk yang bunganya berwarna merah. Namun, tidak bertahan lama yang bunga anti nyamuk, tinggal tanaman anggrek yang tumbuh bagus dan sering kusiram pake air beras. Anggrek ini aku beli Rp.50.000

Anggrek

Anggrek

Selain anggrek ada juga tanaman gantung lainnya ada sekitar empat tanamana gantung tapi saya tidak tahu nama-namanya, saya beli di depan Bank Mandiri Pamulang lumayan murah harganya sekitar 10.000-15.000.

Tanaman Gantung

Tanaman Gantung

Sementara itu berdekatan dengan pohon jeruk dan palem, ada juga pohon beringin yang sudah cukup rimbun. Beringin ini saya dapat dari mama winda dan Pak iyo tetangga kontrakan di Cirendeu, saat saya masih kerja di Pustaka Alvabet.

Beringin (Ficus Benjamina)

Beringin (Ficus Benjamina)

Sementara itu untuk membuat bubur saya suka pake daun pandan, karena suka minta terus sama tetangga, akhirnya saya menanam sendiri daun padan di samping pohon jeruk. Awalnya pandan ini cuma kecil saja, tapi sekarang sudah berdaun banyak dan subur

Pandan

Pandan

Pada tahun 2011, mas Arif tertarik dengan pohon pucuk merah yang sekarang banyak di tanam di pinggir jalan ataupun di depan rumah sebagai hiasan pemanis rumah, akhirnya kita pun beli dua pohon pucuk merah Syzygium oleana)namun satu pohon menjadi mati dan kering saat ditinggal mudik ke Blitar dan Sukabumi lebaran Juli 2011. Jadi sekarang ini tinggal satu pohon saja.

Bunga Pucuk Merah

Bunga Pucuk Merah

Dan yang terakhir dibeli adalah pohon sawo belanda, pohon ini ditanam sebagai ganti pohon ceri yang ditebang biar terang.

Sawo Belanda

Sawo Belanda