Archive for the ‘Lingkungan’ Category

Ada tiga hal  yang berubah dalam beberapa waktu belakangan, kaitannya dengan usaha dan kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Aku menulis ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi setidaknya untuk berbagi cerita atau sharing bahwa kelestarian alam, lingkungan dan perubahan iklim adalah hal yang selama ini harus terus kita kampanyekan mulai dari dalam diri kita sendiri. Bukan hanya sekedar berkoar-koar.

Pertama yang ini membutuhkan banyak sekali pertimbangan adalah aku berhenti jualan sandal. Sudah sejak kecil, keluarga kami di Sukabumi turun temurun berbisnis sandal. Bahkan aku dan kakakku bisa kuliah di Jogja dan di Sukabumi karena usaha keluarga ini. Sungguh berat aku harus menghentikan bisnis yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Ada rasa nyesek dalam hati ketika ada pesanan dari beberapa teman berkaitan dengan sandal tapi aku tidak bisa memenuhinya.

Alasan utama aku berhenti jualan sandal adalah karena faktor limbah industri kecil kami di kampung yang sulit di daur ulang, ya memang harus dibakar. Awalnya sedikit akan tetapi karena orderan dari berbagai daerah melimpah, makin hari makin banyak. Dari lima orang kakakku laki-laki, empat diantaranya berbisnis ini dan aku sebagai adik sudah sejak SMA membantu berjualan. Hingga akhirnya pada tahun lalu, 2016, aku memberanikan diri mengemukakan alasan, dan semoga kakak-kakakku tidak surut bisnisnya karena alasan ini. Akan tetapi mereka memahami, bahwa bahan dasar industri sandal adalah karet. Dengan segala keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjualan sandal.

Kedua, Aku berhenti memakai lipstick. Aku kira ini terobosan besar. Sangat sulit di awal aku melakukan, karena sebelumnya aku termasuk yang suka dandan. Lebih dari 10 warna lipstick aku punya dari berbagai merek, dari yang paling murah sampai yang lumayan. Aku senang berburu warna lipstick kekinian. Tapi sejak September tahun lalu, sepulang aku dari Bali, aku sudah tidak menggunakan lipstick. Berat rasanya aku membuang semua lipstick di ruang kosmetik, aku sangat sayang, tapi aku sadar apa itu bahan dasar lipstick dan kosmetik lainnya, yaitu kelapa sawit. Jika Eka Kurniawan memiliki novel berjudul Cantik itu Luka, maka saya mengibaratkan lipstick itu demikian. Untuk membuat tampak cantik, kita harus merusak lingkungan, kita tidak tahu bagaimana kelapa sawit itu ditanam harus membakar hutan, merusak ekosistem. Begitu juga saat pengolahan dari kelapa sawit menjadi alat kosmetik, banyak para buruh yang diupah murah, sementara lipstick dijual mahal untuk kepentingan pemilik modal. Di balik aneka lipstick yang warna warni, ada beberapa nilai berkaitan dengan lingkungan dan kemanusiaan yang aku pertimbangkan.

Mungkin bagi sebagian orang, langkahku tidak menggunakan lipstik ini dianggap ekstrim atau lebay. Tak apalah untuk melakukan suatu perubahan kita harus siap dibilang beda, dimusuhi atau ditinggalkan teman. Tapi perubahan-perubahan besar berkaitan dengan lingkungan adalah dengan melakukan hal-hal kecil yang menurut kita benar, yang itu mudah-mudahan jika orang membaca tulisan ini akan berbuat demikian, tapi bukan merupakan suatu paksaan.

Ketiga: Hemat air, Energi dan Mulai Menanam. Awal tahun lalu hujan terus mengguyur bumi Pamulang, aku selalu siapkan menadah ember-ember di dapur aku keluarkan. Biasanya airnya aku pakai berwudhu, mandi atau menyiram tanaman. Begitu juga bilasan air cucian piring, tidak aku buang yang sudah tidak ada sabunnya aku siram. Aku sangat hemat menggunakan air, untuk berwudhu secukupnya. Beberapa waktu lalu aku sering dimarahin mas arif karena lupa matikan keran, sehingga air melimpah kemana-mana dan bagiku itu suatu peringatan.

Selain air, aku juga sekarang belajar untuk tidak sering menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, jangan terlalu sering mencuci mobil dan usahakan semaksimal mungkin untuk naik kerta, commuter atau kendaraan daring jika bepergian. Semua aku lakukan dengan penuh kesadaran, begitu juga suami, dalam hal ini kita memiliki banyak kesamaan. Kita berdua kalau akhir pekan lebih banyak di rumah, ngurus tanaman dan istirahat panjang, tidak begitu suka bepergian. Paling banter ke Sukabumi, kalau ada hari-hari besar. Tidak seperti dulu, waktu masih ada orangtua.

Berkaitan dengan kebiasaaan menanam. Awalnya berasal dari sampah rumahtangga yaitu sayuran busuk seperti cabe, tomat, dan lain-lain yang kalau tidak dimasak, sayang aku buang. Aku jemur, lalu aku simpan bijinya dan kumpulkan.

aneka benih

Sudah banyak sebenarnya, aku wadahin rencana mau aku pisahin di kertas aku kasih label nama sayuran dan buah, cuma belum sempat beberapa bulan terakhir aku banyak deadline pekerjaan, sehingga adakalanya aku sabtu minggu tidak pulang.

 

Tapi minggu ini, sudah kembali normal, aku kembali menyiram tanaman, mengumpulkan benih, memasak dan bikin kue kesukaan. Mungkin itu saja, cerita yang aku ingin bagikan kepada teman-teman. Tidak ada maksud untuk gagah-gagahan, tapi ini semua kulakukan karena aku sangat percaya akan adanya hari akhir, atau hari kiamat. Siapa bilang isu perubahan iklim tidak berkaitan dengan hari akhir. Aku percaya akan semua yang diceritakan Al-qur’an bahwa ketika sumber daya alam diambil secara serakah oleh manusia maka gunung meletus sudah terjadi, gempa bumi dan banjir bandang terjadi dimana-mana, itu karena kita tidak peduli lingkungan dan serakah atas semua ciptaan Tuhan.

tomat

Kekayaan alam dikeruk untuk kepentingan pribadi dan pemilik modal, maka orang akan beramai-ramai untuk mengumpulkan uang. Kita tidak ingat seperti apa anak cucu kita di masa depan. Apakah mereka masih bisa makan enak dengan sayuran atau lalapan seperti yang kita makan sekarang? Atau mandi aja sulit karena tidak air, karena airnya habis untuk dijual air kemasan atau mencuci mobil agar kelihatan kinclong.

 

Suatu hari orang akan sadar, ketika ikan terakhir kita makan, ketika tidak adalagi tanah yang bisa ditanam, disitulah orang baru sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Bukan aku tidak butuh uang, tapi setidaknya kita bekerja harus seimbang, terutama dengan memperhatikan aspek lingkungan.

Pejaten 25 September 2017
Pukul 9.40

Advertisements

Sebagai seorang ibu, seringkali kita berbelanja membeli makanan, minuman dan belanja bulanan di toko, pada saat hendak diambil pesanan kita selalu disertakan plastik untuk dibawa. Sadarkah kita bahwa setiap plastik yang diterima secara cuma-cuma jika dikumpulkan menjadi sampah yang sulit untuk diurai. Pemakaian kantong plastik hampir tidak dapat dihindari dikehidupan sehari-hari manusia. Bermacam jenis kantong plastik telah digunakan membawa barang belanjaan dan dipakai untuk berbagai jenis kemasan, termasuk kemasan makanan dan minuman. Plastik telah membuat semuanya menjadi lebih praktis dan sulit tergantikan. Namun tahukah anda bahwa banyak bahaya mengintai dari penggunaan plastik dan limbah plastik?

Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

Menurut GoGreenIndonesia/Everiday’sTidBid dari situs dream indonesia, Berikut Bahaya Kantong Plastik: (more…)

Kenaikan permukaan air laut, pelestarian keanekaragaman hayati dan kemampuan manusia untuk bertindak dan beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim adalah tantangan lingkungan terbesar yang pada tahun ini diangkat menjadi tema Pesta Sains 2015. Melalui berbagai pameran interaktif, diskusi dan pemutaran film, Pesta Sains mengajak publik Indonesia untuk lebih memahami tantangan terbesar yang sedang kita hadapi abad ini.

Mural Bumi Kita

Mural Bumi Kita

Kedutaan Perancis untuk Indonesia dan Institut Francais Indonesia (IFI) membawa berbagai pameran yang dirancang oleh lembaga-lembaga penelitian Prancis (IRD, CNRS, CIRAD dan AFD) ke Indonesia. Selain mereka, beberapa LSM, perusahaan Prancis dan Indonesia yang peduli dan aktif di bidang lingkungan juga turut mendukung penyelenggaraan Pesta Sains tahun ini dengan berbagi program dan pengalaman mereka di bidang ini. Beberapa media seperti KOMPAS yang menggunakan kertas daur ulang, dan lembaga Artha Graha dan sponsor lainnya ikut mendukung acara ini.

Tema perubahan iklim untuk Pesta Sains edisi ke-2 ini dipilih sesuai dengan fokus KTT Iklim PBB/COP21 yang akan berlangsung di Paris dari tanggal 30 November s.d. 11 Desember 2015 yang salah satu poin diantaranya adalah untuk menyepakati kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Karena jika kenaikan temperatur iklim terlalu tinggi, itu berarti permukaan laut juga akan naik dan terjadi bencana alam ekstrem, seperti banjir, hujan deras, gunung meletus dll. Perancis sebagai tuan rumah dalam konferensi yang diikuti oleh 106 negara ini, PBB sebagai lembaga penyelenggara adalah yang membuat inisiasi empat komponen yang harus disepakati oleh negara peserta United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

Bersama Melawan Perubahan Iklim

Bersama Melawan Perubahan Iklim

Kamis malam 26 November 2015, Pesta Sains 2015 di tutup dan sekaligus peluncuran prapeluncuran Konferensi Tingkat Tinggi Iklim “Paris Climate 2015″ atau COP-21. Sebanyak 106 negara akan bergabung dalam pertemuan tersebut untuk membahas isu perubahan iklim yang sedang terjadi, ” ujar Premier Conseiller de ambassadeur de France en Indonesie et Timor Stephane Baumgarth. Stephane menjelaskan, perhelatan internasional tersebut juga diharapkan dapat memberikan kesadaran bagi seluruh pihak di dunia mengenai perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.

“Jika kita tidak serius menangani masalah ini, memang dunia kita tidak akan hilang. Tetapi ini akan sangat menyulitkan kehidupan kita di masa depan,” tukasnya.
Sehubungan dengan peran Indonesia dalam upaya penanganan perubahan iklim, dia berpendapar bahwa Indonesia memiliki tugas yang besar dalam isu tersebut.
Sebagai negara berkembang yang masuk ke dalam “Group of 20” atau G20, Indonesia seharusnya bisa lebih berupaya untuk menegaskan komitmen dan dukungannya terhadap upaya menjaga lingkungan, ujarnya.Selanjutnya, terkait dengan kegiatan Pesta Sains 2015 tersebut ia menjelaskan bahwa tujuan dari acara tersebut ialah untuk memberikan kesadaran kepada kaum muda mengenai bahaya perubahan iklim. Selain itu, yang terpenting ialah kaum muda dapat lebih berkontribusi dalam usaha menjaga lingkungan dengan memulainya dari diri sendiri. Sarwano Kusumaatmaja dari Dewan Perubahan Iklim Indonesia juga memberikan sambutan dan menegaskan jika Presiden Jokowi akan hadir pada perhelatan tersebut. Untuk memeriahkan acara ini hadir juga artis yang juga aktivis lingkungan yaitu Oppie Andarista, Nugie dan Nadine Chandrawinata

Sarwono Kusumaatmaja bersama Oppie Andaresta, Nugie,Nadine Chandrawina di Prapeluncuran COP 21

Sarwono Kusumaatmaja bersama Oppie Andaresta, Nugie,Nadine Chandrawina di Prapeluncuran COP 21

Masing-masing artis itu memiliki kepedulian terhadap lingkungan dengan cara masing-masing. Oppie Andaresta misalnya membuat buku untuk anak-anak tentang lingkungan, Nugie mempraktekkan dan mengkampanyekan hidup sehat dengan naik sepeda kemanapun dia pergi dan mulai memperjuangkan untuk lebih selektif dalam gaya hidup dari mulai apa yang kita makan, mengurangi plastik, dan membeli yang baik. Menggunakan lampu seperlunya dan hemat listrik. Dia juga menyarankan agar kita jangan buang sampah kalau bisa semua bisa didaur dan ulang. Sedangkan Nadine Chandrawinata mengajak masyarakat untuk go Blue, atau peduli laut. Nadine yang memiliki hobi diving ini mengatakan jika saat menyelam ia juga sambil membersihkan laut dari plastik yang menyangkut di terumbu karang yang dikira hewan laut ubur2 sehingga mereka makan. Pada akhirnya menurut Nadine semua akan bermuara ke laut jadi Go Green itu penting tapi jangan lupakan Go Blue pesan mantan putri Indonesia itu semangat.

Lebih bijak dalam mencharge HP

Lebih bijak dalam mencharge HP

Acara ditutup dengan pemukulan kentongan sebagai tanda prapeluncuran Cop 21 dan peserta diskusi diajak keliling ke pameran dan mural tentang kampanye perubahan iklim seperti mengecharge sambil bersepeda, Healthy Charger dan lain sebagainya. Acara yang berlangsung di bentara budaya ini juga ada pameran perubahan iklim di dalam gedung yang menarik untuk dilihat. Berikut saya tampilkan beberapa foto pameran.

Healthy Charger

Healthy Charger

Kebutuhan Listrik Dunia yang Semakin Tinggi

Kebutuhan Listrik Dunia yang Semakin Tinggi

Tidak ada Foto Bagus Untuk Perubahan Iklim

Tidak ada Foto Bagus Untuk Perubahan Iklim

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi perubahan iklim? Mulailah kita peduli lingkungan di mulai dari kita sendiri. Dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti hemat listrik, hemat plastik, bawa kantong belanjaan sendiri jika belanja, menggunakan sepeda atau naik kendaraan umum jika bepergian dan banyak hal lainnya yang bisa kita lakukan untuk bumi.

Kebayoran Lama 27 November 2015
Twitter: @evarhl Instagram: Eva Rohilah

Pada bulan Agustus kemarin, alhamdulillah saya berhasil melunasi rumah cicilan di Pamulang Elok yang seharusnya 10 tahun menjadi 8 tahun. Alangkah bahagianya sekarang ini karena sudah tidak memiliki lagi cicilan tiap bulannya. Meski cicilan sebesar 1.250.000 tapi sekarang ini tanpa ada cicilan sudahterasa ringan. Cara pelunasan kredit rumah gampang kok, saya yang dulu membuka di Bank Tabungan Negara (BTN) BSD bisa melunasi di mana saja, saya melunasi di Bank BTN Pamulang. Saya membawa semua berkas ketika akad kredit dulu ke Bank BTN dan disana diberi bukti tanda pelunasan. Setelah lunas sehari kemudian saya dan mas Arif pergi ke Cikokol untuk mengambil sertifikat Hak Guna Bangunan. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengambil sertifikat HGB diantaranya KTP asli, bukti pelunasan dll. Harus dua kali kesana yang pertama ngasihin berkas yang kedua ngambil sertifikat HGB.

BTN Cikokol

BTN Cikokol

Setelah berkas lengkap di Cikokol, kunjungan kedua kita akan diberi satu bundel surat-surat lengkap rumah termasuk di dalamnya IMB (Izin Membuat Bangunan), sertifikat Hak Guna Bangunan, surat roya dari BTN dan bukti-bukti lainnya. Kalau ke BTN harus pagi2 karena antri, persyaratan kita dilihat lengkap dan jangan lupa bawa KTP asli dan surat berharga lainnya.

Setelah berkas dari BTN lengkap, maka berkas tersebut saya bawa ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Depok di Grand Depok City. Sempat muter-muter cari alamat BPN Kota Depok, karena kita gak tahu ternyata jauh banget harus 1,5 jam dari Pamulang lewat jalan Sawangan, tepatnya di komplek perkantoran kota Depok deket kolam renang dan pemadam kebakaran.

Kantor BPN Kota Depok

Kantor BPN Kota Depok

Sebelum datang ke BPN Depok saya riset di internet cara-cara ngurus sertifikat rumah sendiri dan ternyata kebijakan baru ada layanan sabtu minggu. Pada saat itu hari sabtu, kita berangkat jam setengah 10 ternyata sampai sana sudah setengah 12 dan harus kembali lagi besok minggu, kita melakukan pendaftaran dan mengisi form pengecekan berkas. Di koperasi BPN ada 3 macam map yaitu pendaftaran, pengecekan, roya dan peningkatan hak mapnya beda2 warnanya dan persayaratannya juga beda2, dan ketika saya tanya ke petugas saya harus ngisi form pendaftaran dan roya. Jika anda bingung, tanya saja persyaratannya sama petugas atau penjaga koperasi. Syarat untuk roya dan pengecekan itu beda-beda, tapi rata2 semua syaratnya sudah ada di berkas yang dikasih sama bank. Hari sabtu itu saya harus mengisi map untuk roya dan dimasukkan hari minggu.

Beberapa tahapan mengurus sertifikat

Beberapa tahapan mengurus sertifikat

Hari minggu saya datang lebih pagi, namun petugas di BPN Depok sepi hanya ada beberapa petugas saja, saya pun menyerahkan berkas dan mereka bilang dokumen roya akan jadi dalam seminggu. Jadi saya patuh saja dan membayar sejumlah dana untuk administrasi. Setelah itu tak lama pulang. Seminggu kemudian, saya kembali ke BPN dan berkas roya saya sudah selesai, lalu saya mengisi berkas di map pengecekan, setelah di cek ada biaya administrasi lagi tapi sedikit sih termasuk murah lah. Setelah tahap pengecekan selesai saya mengisi berkas peningkatan hak. Saya mengurus sertifikat peningkatan Hak Guna Bangunan (HGB) menjadi Sertifikat Hak Milik. Berikut saya lampirkan persyaratannya.

Berkas dan Persyaratan yang Harus disiapkan

Berkas dan Persyaratan yang Harus disiapkan

Berikut-berikutnya saya tidak pernah lagi datang hari minggu ke BPN Depok, saya lebih senang sabtu karena petugas lengkap dan seminggu kemudian setelah saya melengkapi berkas peningkatan hak, saya harus membayar lagi biaya administrasi dan jadilah sertifikat hak milik kita (SHM). Jadi alhamdulillah meskipun kita bekerja, hari sabtu dan minggu kita bisa ngurus sertifikat sendiri dengan biaya murah. Sementara itu jika kita ngurus ke notaris biayanya bisa mencapai Rp.2.500.000.

Saya bersyukur sekali dan mungkin ini adalah salah satu revolusi mental dalam bidang pertanahan. Terimakasih BPN Depok

Kebayoran Lama 7 Oktober 2015
Pukul 17:12

Raden Saleh Inspirasi Cinta Satwa

Posted: September 20, 2014 by Eva in Lingkungan

Hubungan manusia dengan satwa seringkali menjadi kisah yang menarik untuk ditelisik. Sejarah Taman Margasatwa Ragunan yang pada awalnya merupakan koleksi hewan milik Raden Saleh saat masih di Taman Margasatwa Cikini dan inspirasi kecintaannya terhadap satwa dibahas tuntas dalam diskusi rutin Sahabat Ragunan yang bertajuk “Raden Saleh Pelopor Taman Margasatwa” di Teater Schmutzer Taman Margasatwa Ragunan pada 19 Agustus 2014. Hadir sebagai narasumber adalah Dayan D.Layuk Allo alumni Institut teknologi Bandung yang merupakan pemerhati sejarah Raden Saleh dengan moderator Eka Budianta dari Sahabat Ragunan. Acara yang berlangsung mulai pukul sepuluh pagi ini diawali dengan pemutaran dua buah film yang dibawa oleh Hermawan Rianto berjudul Kearifan Budaya Indonesia dan Incredible Journey.

Pembicara Diskusi Rutin sahabat Ragunan

Moderator dan Pembicara Diskusi Rutin sahabat Ragunan

Sebagai pembuka, moderator Eka Budianta menjelaskan sekilas tentang sejarah Raden Saleh. Perjalanan Hidup Raden Saleh yang memiliki banyak jasa dalam berbagai bidang baik saat masih di Semarang hingga kepergiannya ke Eropa, lalu menetap di Bogor dijelaskan secara singkat.Beberapa peran Raden Saleh dan karya-karya juga dijelaskan Eka Budianta yang sangat berguna bagi peserta diskusi sebagai pengantar.

Setelah pemaparan dari moderator, sampailah pada acara inti yaitu penyampaian materi tentang Raden Saleh sebagai pelopor taman margasatwa oleh Dayan D Layuk Allo. Dayan membuka diskusi dengan menjelaskan tentang kehidupan pribadi Raden Saleh yang memiliki nama asli Syarief Bustaman memiliki tanah yang luas, hal ini tidak lepas dari peranan istrinya Constancia Winckelhaagen seorang janda kaya.

Peserta Diskusi semangat

Peserta Diskusi semangat

Di lahan yang luas di Batavia, Pada tahun 1858 Raden Saleh dan istrinya sudah memiliki puri yang sangat megah. Di samping puri itu ada lahan 10 hektar untuk kebun raya dan koleksi satwa yang pada tahun 1864 Planten en Dierentuin.

Itulah yang kelak menjadi Keboen Binatang Tjikini mulai 1949 hingga 1964. Setelah satwa dipindah ke Ragunan, kebun itu dibangun menjadi Taman Ismail Marzuki.
Dalam slidenya Dayan sangat rinci menggambarkan tentang posisi lahan milik Raden Saleh serta kemegahan puri yang sangat indah dengan aliran sungai ciliwung yang melewatinya.

Dayan mengatakan, inspirasi puri itu didapat ketika mukim di Eropa, antara 1829 hingga 1852, serta kunjungan berikutnya di tahun 1878. Setiap istana selalu dibangun di tepi sungai yang indah.
Dalam sejarahnya sebagai maestro pelukis, menurut Dayan, Raden Saleh memiliki beberapa mentor yaitu Prof. C.G.C. Reinwardt dan A.A.J.Payen sebagai mentor dan sahabat. Pada tahun 1844 Raden Saleh melakukan perjalanan ke Dresden Jerman dimana kunjungan tersebut menjadi sumber inspirasi kemanusiaannya. Disana ia bertemu dengan F.Serre dan istrinya. Kedua orang itu memiliki peran yang sangat besar selama Raden Saleh di Jerman. Disana ia membuat mesjid biru yang aksen kacanya sangat bagus dan ia gambar dan ketika kembali ke Indonesia ia membuat aksen kaca serupa di kediamannya.

Raden Saleh juga terinspirasi oleh para inspirator dunia seperti H.C.Andersen Ernst II, Adipati Sachsen-Coburg dan Gotha, selain itu para sahabat: pelukis, pematung, ilmuwan,komposer, penulis, filsuf, ekolog,dan lain-lain.

Setelah ke Jerman, Raden Saleh juga mengunjungi Paris Prancis yang dikatakan Dayan sebagai sumber inspirasi hiruk pikuk seni. Disana, Raden Saleh bertemu dengan Henri Martin seorang pengusaha sirkus yang punya tiga ekor singa. Berhari-hari Raden Saleh menekuni anatomi singa itu sebagai lukisannya. Raden Saleh bahkan rela melukis wajah Henri Martin secara gratis agar ia diijinkan menjadikan harimau-harimau milik Henri Martin itu menjadi obyek lukisnya.

Dayan menunjukkan kecintaan Raden Saleh pada satwa melelui lukisan seekor kuda mati dan wajah sangat sedih dari pemiliknya. Sebuah lukisan lagi, tentang seorang budak bernama Androkles, yang mencabuti duri dari kaki singa. Lukisan itu menjadi logo sebuah majalah filantropi yang terbit di Jerman pada 1844.
Di Paris Raden Saleh membeli sebuah rumah tidak jauh dari pusat kota untuk melukis dan menyimpan koleksi lukisannya. Selain Paris, Raden Saleh juga mengunjungi London zoo, dalam tayangan slide, tampak lukisan Raden Saleh tentang Harimau dan London zoo terlihat sangat indah dan mempesona.

Raden Saleh Syarif Bustaman

Raden Saleh Syarif Bustaman

Sekembali ke Tanah Air, Raden Saleh banyak membantu museum pusat dan mendirikan kebun binatang di cikini yang kini berkembang menjadi Taman Margasatwa Ragunan. Selain itu ia juga membuat taman di Semarang dan merancang kebun kabupaten Majalengka.

Dayan mengakhiri pemaparannya tentang inspirasi Raden Saleh dalam melukis adalah inspirasi cinta. Setelah Raden Saleh menikah lagi dengan Raden Ayu Danudirjo, putri dari ajudan Pangeran Diponegoro. Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880 di Bogor. Saat pemakamannya diiringi oleh 2000 orang penduduk dari berbagai ras dan golongan.

Pada akhir acara, Sahabat Ragunan menghadirkan pematung lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, Drs. Dunadi yang akan membuat patung Raden Saleh di Taman Margasatwa Ragunan. Dia menjelaskan tahapan pembuatan patung yang saat ini sudah sampai pengecoran. Sebelum acara ditutup moderator membuka forum tanya jawab dan acara ditutup dengan makan siang.

buklet

buklet

Eva Rohilah
Pecinta buku tinggal di Depok, Twitter @evarhl
Tulisan ini dimuat di Booklet Sahabat Ragunan yang dibagikan pada peringatan Ulang Tahun 150 Tahun TM Ragunan

Tanaman di Rumahku

Posted: March 7, 2012 by Eva in Lingkungan, Rumah

Saat pertamakali menempati rumah di Pamulang pada akhir tahun 2007 saya membawa beberapa tanaman yang saya dapat dari beli di penjual tanaman maupun dikasih teman. Tanaman yang pertama yang saya tampilkan kali ini adalah aglonema hijau dengan bercak kuning yang tumbuh dengan subur di atas pot. Tanaman ini saya beli seharga Rp.40.000 dari penjual tanaman di Cawang, sebelahnya Carrefour Cawang. Masih inget perjuangan membawa tanaman ini ke kostku di Kalibata aku harus membawanya jalan kaki dari pertigaan rel menuju kostku dulu.

Agalaonema army

Agalaonema army

Pada saat yang bersamaan saya juga membeli Palem Kuning (Chrysalidocarpus lutescens) yang sebelumnya saya tanam di pot, namun saat depan rumah di buat karpot, akhirnya saya pindahkan ke atas tanah di depan teras.

Palem Kuning (Chrysalidocarpus lutescens)

Palem Kuning (Chrysalidocarpus lutescens)

Awalnya memang hanya punya dua tanaman itu, namun sekarang aglaonema hijau army sudah berkembang biak menjadi satu pot lagi jadi ada dua pot. Tanaman berikutnya adalah Aglaonema red peacok yang dapat minta dari sunariah waktu dia masih tinggal dekat kontrakanku di Ciputat pada tahun 2008. Sekarang aglaonema merah ini sudah beranak dua pot, saya senang dengan tanaman ini karena mengingatkanku akan persahabatan dengan Sunar temanku yang baik sejak awal-awal saya menginjak Jakarta pada tahun 2004.

Aglaonema Red Peacok

Aglaonema Red Peacok

Setelah aglonema dan palem, beberapa waktu yang lalu saya cari tanaman ke daerah cinangka sawangan ke arah parung. Di sana saya menemukan pohon jeruk purut yang daunnya bisa dipake buat masak sayuran. Dulu pohon jeruk ini pendek dan daunnya lebat, namun sejak dipindah, dan kekurangan sinar matahari pohon jeruk ini jadi kurang subur dan sering terkena lalat, tapi sekarang sudah mulai berdaun lagi.

Pohon jeruk purut

Pohon jeruk purut

Bersamaan dengan pohon jeruk mas arif sama saya membeli pohon mangga apel dan pohon kelengkeng. Namun, pohon mangga apel ini pertumbuhannya lambat sekali, sehingga kami harus memberinya pupuk berulang kali agar tumbuh subur dan cepat berbuah.

Mangga Apel ((Mangifera Indica)

Mangga Apel ((Mangifera Indica)

Tanaman berikutnya yang baru kubeli saat membuat karpot baru adalah Anggrek. Aku beli anggrek ini di jalan menuju ragunan saat itu beli sama tanaman untuk anti nyamuk yang bunganya berwarna merah. Namun, tidak bertahan lama yang bunga anti nyamuk, tinggal tanaman anggrek yang tumbuh bagus dan sering kusiram pake air beras. Anggrek ini aku beli Rp.50.000

Anggrek

Anggrek

Selain anggrek ada juga tanaman gantung lainnya ada sekitar empat tanamana gantung tapi saya tidak tahu nama-namanya, saya beli di depan Bank Mandiri Pamulang lumayan murah harganya sekitar 10.000-15.000.

Tanaman Gantung

Tanaman Gantung

Sementara itu berdekatan dengan pohon jeruk dan palem, ada juga pohon beringin yang sudah cukup rimbun. Beringin ini saya dapat dari mama winda dan Pak iyo tetangga kontrakan di Cirendeu, saat saya masih kerja di Pustaka Alvabet.

Beringin (Ficus Benjamina)

Beringin (Ficus Benjamina)

Sementara itu untuk membuat bubur saya suka pake daun pandan, karena suka minta terus sama tetangga, akhirnya saya menanam sendiri daun padan di samping pohon jeruk. Awalnya pandan ini cuma kecil saja, tapi sekarang sudah berdaun banyak dan subur

Pandan

Pandan

Pada tahun 2011, mas Arif tertarik dengan pohon pucuk merah yang sekarang banyak di tanam di pinggir jalan ataupun di depan rumah sebagai hiasan pemanis rumah, akhirnya kita pun beli dua pohon pucuk merah Syzygium oleana)namun satu pohon menjadi mati dan kering saat ditinggal mudik ke Blitar dan Sukabumi lebaran Juli 2011. Jadi sekarang ini tinggal satu pohon saja.

Bunga Pucuk Merah

Bunga Pucuk Merah

Dan yang terakhir dibeli adalah pohon sawo belanda, pohon ini ditanam sebagai ganti pohon ceri yang ditebang biar terang.

Sawo Belanda

Sawo Belanda

Energi Alternatif, Malah Bikin Pusing?

Posted: January 22, 2008 by Eva in Lingkungan

Energi Alternatif, Malah Bikin Pusing?
Oleh Silvia Iskandar

Hampir tiap hari kita melihat berita melambungnya harga minyak goreng curah di berbagai media massa. Bagaimana tidak, sejak awal April lalu, harga normal minyak goreng curah yang biasanya hanya sekitar 5000 sampai 6000 rupiah, sekarang di beberapa daerah sudah menembus 10,000 rupiah. Dua kali lipat! Padahal kita tahu pengguna minyak goreng curah sebagian besar adalah rakyat menengah ke bawah, dan padahal kita pun tahu Indonesia adalah pengekspor CPO kedua terbesar di dunia setelah Malaysia. Sungguh suatu paradoks yang menggelikan.

Ini terjadi karena para produsen di Indonesia, yang bersama-sama dengan Malaysia menyumbang 90% CPO (Crude Palm Oil, bahan dasar minyak goreng) dunia tergiur dengan harga yang ditawarkan pasar dunia. Harga CPO dunia melambung akibat permintaan Cina dan India yang terus meningkat sementara panen tahun lalu menurun karena kemarau yang berkepanjangan. Akibatnya, produsen CPO dalam negeri lebih senang menjual CPO ke luar negeri demi meraup untung daripada memenuhi kebutuhan domestik.

Di tengah-tengah gencarnya usaha pemerintah menggalakkan CPO sebagai biofuel dan biodiesel , tiba-tiba saja kita disadarkan kalau manusia tidak hanya butuh bensin tapi juga makan. Memang penyebab utama ricuhnya pasar minyak goreng kali ini bukan diakibatkan oleh besarnya jumlah CPO yang disisihkan untuk produksi energi alternatif, namun boleh jadi ini merupakan peringatan alam kepada kita.

Para ilmuwan selain menawarkan dunia dengan pilihan baru dalam dunia energi, di lain pihak mereka juga mengkhawatirkan efek samping yang mungkin timbul dari eksploitasi yang lepas kontrol ataupun faktor alam yang tidak terduga. Sama seperti CPO, jagung dan gandum-ganduman yang merupakan bahan dasar untuk membuat bioethanol juga bisa mengalami nasib yang sama. Tidak mustahil akan timbul bencana kelaparan di tengah-tengah melimpahnya panen hasil pertanian akibat kerakusan manusia sendiri.

Masih belum tuntas pemerintah mengatasi masalah CPO, berita tentang ketidaksetujuan masyarakat akan niat pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Semenanjung Muria, Kudus pun menjadi topik hangat. Demo masyarakat sekitar bahkan didukung oleh Bupati Kudus sendiri yang khawatir akan malapetaka massal yang mungkin terjadi.

Memang kalau mengingat tarif listrik yang terus-menerus naik seiring dengan meningkatnya harga minyak dunia (padahal sering “byar-pet”), atau tidak meratanya distribusi listrik sampai ke pelosok-pelosok desa, sekilas nuklir merupakan solusi yang terbaik. Namun masalahnya, sanggupkan bangsa Indonesia, yang kerap menjatuhkan kapal terbang dan menenggelamkan kapal laut memenuhi standar keamanan industri nuklir yang sangat tinggi? Apakah para pegawai PLTN akan melakukan perawatan mesin dengan cermat dan teliti? Sedangkan Swedia dan Jerman saja berniat menghentikan ketergantungan mereka pada energi nuklir?

Saya rasa keuntungan dan resiko pada setiap kebijakan energi alternatif perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. Sebagai negara berkembang, mungkin kita harus menahan diri agar tidak bermimpi terlalu jauh untuk bisa menikmati kemajuan sains. Karena kalau tidak mawas diri, bisa-bisa kita hanya jadi korban globalisasi dan utopia energi alternatif.

Mobil Tanpa Polusi Bukan Lagi Impian

Posted: January 15, 2008 by Eva in Lingkungan


Mobil Tanpa Polusi Bukan Impian

Sumber: chem-is-try.org
DENGAN demikian, mobil tanpa polusi bukan lagi mobil yang hanya berada dalam tahap penelitian atau uji coba, tetapi segera akan dijual secara massal. Dan, untuk sementara, penggunaan fuel cell itu dikhususkan pada mobil Mercedes Benz A-Class, yang akan diberi nama F-Cell. Dan, bahan bakar yang digunakan adalah hidrogen.

Keputusan DaimlerChrysler itu dianggap sebagai satu langkah ke masa depan, mengingat F-Cell adalah benar-benar mobil yang bebas polusi. Di samping mobil itu bebas gas buang (emisi), dalam keadaan berjalan pun mobil itu tidak mengeluarkan suara (bising).

Secara sederhana bisa dikatakan, Mercedes Benz A-Class F-Cell itu menggabungkan hidrogen yang dibawa dalam tangki bahan bakarnya dengan oksigen yang diperoleh dari udara di dalam fuel cell untuk menghasilkan listrik. Dan, listrik yang dihasilkan itu digunakan untuk menggerakkan motor listrik.

Mercedes Benz A-Class F-Cell mempunyai daya jelajah 145 kilometer dalam satu kali pengisian hidrogen. Motor listriknya berdaya (berkekuatan) 87 PK (paardekracht, tenaga kuda), dan kecepatan maksimum yang bisa dicapainya 140 kilometer per jam. Akselerasi dari 0 sampai 100 kilometer per jam dicapai dalam 16 detik.

Beberapa mobil fuel cell lain, yang masih dalam tahap uji coba, juga melengkapi mobilnya dengan dinamo ampere yang berfungsi mengisi baterai atau aki saat mobil digerakkan oleh listrik yang diperoleh dari hidrogen. Saat persediaan hidrogen habis, listrik yang ada di baterai atau aki itu akan menggerakkan mesin listrik. Dengan demikian, daya jelajah mobil bisa mencapai lebih dari 300 kilometer. Kurang lebih setara dengan mobil yang menggunakan bahan bakar bensin atau solar.

FUEL cell terdiri dari dua lempeng elektroda yang mengapit elektrolit. Oksigen dilewatkan pada satu sisi elektroda, sedangkan hidrogen dilewatkan pada sisi elektroda lainnya sehingga menghasilkan listrik, air, dan panas.

Cara kerjanya, hidrogen disalurkan melalui katalisator anoda. Oksigen (yang diperoleh dari udara) memasuki katalisator katoda. Didorong oleh katalisator, atom hidrogen membelah menjadi proton dan elektron yang mengambil jalur terpisah di dalam katoda. Proton melintas melalui elektrolit. Elektron-elektron menciptakan aliran yang terpisah, yang dapat dimanfaatkan sebelum elektron-elektron itu kembali ke katoda untuk bergabung dengan hidrogen dan oksigen, dan membentuk molekul air.

Sistem fuel cell mencakup fuel reformer yang dapat memanfaatkan hidrogen dari semua jenis hidrokarbon, seperti gas alam, methanol, atau bahkan gas/bensin. Mengingat fuel cell bekerja secara kimia dan bukan pembakaran seperti mesin konvensional, maka emisinya pun sangat rendah bila dibandingkan dengan mesin konvensional yang paling bersih sekalipun.

Penggunaan fuel cell sebagai penghasil listrik sudah dikembangkan sejak lama. Saat ini lebih dari 200 sistem fuel cell dipasang di berbagai bagian dunia, antara lain di rumah sakit, rumah perawatan, hotel, perkantoran, sekolah, bandar udara, dan penyedia tenaga listrik. Namun, memang penggunaannya pada sebuah mobil itu masih merupakan sesuatu hal yang baru.

Menampung hidrogen untuk digunakan pada mobil tidaklah mudah. Saat ini, hidrogen dibawa di dalam tabung bertekanan tinggi, yang mampu menahan tekanan sampai 10.000 pounds per square inch (psi) atau 700 atmosfer. Membawa-bawa tabung dengan tekanan sebesar itu, sama seperti membawa-bawa sebuah bom, tentunya diperlukan pengamanan yang khusus. Jika tabung itu sampai meledak, bisa dibayangkan apa yang terjadi.

Tampaknya DaimlerChrysler berhasil mengatasi persoalan yang dibawa oleh tabung penyimpan hidrogen tersebut. Seandainya belum, tentu DaimlerChrysler tidak akan memproduksinya secara massal.

Aktivitas Matahari Meningkat Seabad Terakhir

Posted: January 15, 2008 by Eva in Lingkungan
Aktivitas Matahari Meningkat Seabad Terakhir

Sumber: LiveScience.com
Dimuat: Kompas Cyber Media

Energi yang dihasilkan Matahari meningkat secara signifikan sepanjang abad ke-20. Tren hasil pengukuran ini dilaporkan tim peneliti internasional yang dipimpin Ilya Usoskin dari Observatorium Geofisika Sodankyla di Universitas Oulu, Finlandia.Banyak penelitian yang berusaha menguak apakah terjadi tren peningkatan aktivitas sunspot dan lidah api di permukaan Matahari. Namun, sejauh ini masih sedikit bukit-bukti yang menguatkan terjadinya tern peningkatan tersebut. Salah satu usaha dilakukan Badan Antariksa Jepang (JAXA) dengan mengirim satelit pemantau SolarB dua hari yang lalu.


Dengan metode yang berbeda, tim peneliti internasional yang dipimpin Usoskin mempelajari meteorit yang jauh ke permukaan Bumi selama 240 tahun terakhir. Dengan menganalisis kandungan Titanium-44, salah satu isotopnya yang bersifat radioaktif, tim menemukan peningkatan radioaktivitas Matahari selama abad ke-20.

Meski demikian, dalam beberapa dekade terakhir, aktivitas Matahari stabil pada level tertentu. Aktivitas Matahari berkisar pada level lebih tinggi dari level tertinggi yang pernah dicapai dalam catatan data historis.

Pada penelitian sebelumnya, para peneliti mengukur tren aktivitas Matahari dengan mempelajari lingkaran garis pertumbuhan pohon dan lapisan es di Greenland dan Antartika. Padahal, proses perubahan ini tidak hanya dipengaruhi aktivitas Matahari namun juga proses di permukaan Bumi.

Sedangkan, pada penelitian terakhir, isotop yang diukur tidak terpengaruh kondisi di Bumi. Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Astronomy & Astrophysics Letters ini merupakan bukti terjadinya peningkatan aktivitas Matahari dalam 100 tahun terakhir.

matahari.jpg

Pemanasan global

Pengaruh Matahari pada perubahan cuaca telah dipelajari dengan baik. Namun, sampai sekarang para ahli masih memperdebatkan pengaruh perubahan aktivitas Matahari dengan perubahan iklim Bumi.

“Selama beberapa dekade terakhir, aktivitas matahari tidak meningkat meski stabil pada level yang tinggi. Namun iklim di Bumi masih memperlihatkan kecenderungan berupa kenaikan suhu,” kata Usoskin. NASA mencatat kenaikan suhu permukaan Bumi berkisar 0,2 derajat Celcius dalam setiap dekade pada 30 tahun terakhir.

Tim peneliti dari Institut Studi Antariksa Goddard milik NASA juga menyatakan bahwa suhu Bumi saat ini sudah dalam kisaran satu derajat Celcius lebih tinggi dari perkiraan kenaikan suhu dalam satu juta tahun. Laporan tersebut dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.

Kalaupun aktivitas Matahari berpengaruh, Usoskin yakin terdapat faktor lain yang dominan. Sampai sekarang, peningkatan kegiatan industri yang memicu kadar gas rumah kaca ditunduh sebagai pemicu naiknya suhu Bumi.


Biofuel Solution or Disaster

Posted: December 5, 2007 by Eva in Lingkungan

Biofuel adalah hasil pemanfaatan energi biomassa yang dikonversi menjadi bahan bakar. Biofuel ada banyak macemnya: bioethanol, biodiesel, dan biogas.

Bioethanol dihasilkan dari tumbuhan yang berkadar hidrokarbon tinggi atau tumbuhan berbahan gula dan pati, misalnya tebu, ubi jalar, singkong, jagung, dan masih banyak lagi, yang pasti bukan dari lolipop… apalagi dari gulali yang bentuknya orang naik sepedah…

Untuk menghasilkan bioethanol, biomassa tumbuhan harus difermentasi dulu dengan dibantu oleh mikroorganisme tertentu sehingga dihasilkan ethanol.

Bioethanol dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar motor bensin. Bahan bakar ini bisa digunakan dengan kadar 100%, atau bisa dicampur dengan bensin, yang biasa disebut gasohol (kodenya E-XX atau BE-XX, misalnya E-10 untuk campuran bensin dengan kadar ethanol 10%).

Pada campuran dengan bensin, bioethanol mampu meningkatkan nilai oktan bensin. Jadi kalo mobil kamu minum gasohol E-10, maka efisiensi kerjanya akan lebih baik dibanding kalo minum bensin biasa. Pleus…. emisi gas buangnya otomatis lebih kecil 10%…

Sedangkan biodiesel dihasilkan dari minyak nabati seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak jarak-pagar, dan lain-lain. Biodiesel juga dapat dihasilkan dari lemak hewan dan minyak jelantah. Yang pasti minyak nyongnyong mah ga bisa… Minyak di muka kamu yang baru bangun tidur juga kayanya ga bisa.

Kalo bioethanol dipake buat ngeganti bensin, biodiesel dipake buat ngeganti solar, alias bahan bakar motor diesel.

Salah satu biodiesel yang sudah disosialisasikan di Indonesia adalah biosolar keluaran Pertamina. Katanya nih, untuk mendapatkan biosolar, diperlukan campuran minyak solar dengan minyak nabati yang sudah diproses transesterifikasi menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) [nyontek dari brosur Pertamina Biosolar sisa Bioekspo kemaren].

Anak gaul Bandung vs anak ilmiah
X: Eh, lu tau ‘fame’ ga?
Y: Tau lah… Fame Station yang di Jalan Sersan Bajuri itu kan?
X: Bukan… Fatty Acid Methyl Ester.
(garing ah… :p)

Dari banyak manfaat yang digembar-gemborkan oleh orang-orang, sebenernya cuman ada dua manfaat utama biofuel, yaitu sifatnya yang biodegradale dan kemampuannya memperpanjang umur mesin dengan cara peningkatan efisiensi kerja motor.
*ini hasil diskusi dengan Sawung*
“Dia tidak ramah lingkungan…” — Sawung

Setuju, Wung….!

Bullshit kalo biofuel dibilang ramah lingkungan. Pada kenyataannya, untuk mendapatkan berkilo-kilo liter biofuel setiap hari, dibutuhkan ratusan ribu hektar lahan pertanian. Artinya mau tidak mau hutan yang tersisa di Indonesia harus dibabat demi tercukupinya jumlah kebutuhan tersebut.

Atau hutan bisa tetap dibiarkan lestari, tetapi kebutuhan pangan masyarakat terancam. Silahkan pilih yang mana…

Jika pilihan pertama yang dipilih, coba pikirkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menunggu sampai tumbuhan siap dipanen untuk kemudian diolah. Sedangkan kebutuhan bahan bakar motor jumlahnya sangat tinggi setiap harinya.

Maka, mau tidak mau lahan pertanian hasil pembabatan hutan harus dibuat dengan ukuran ekstra luas, dengan siklus panen yang berbeda-beda agar biomassa bisa dipanen setiap hari.

Coba bayangkennnn…. berapa kerugian ekologis yang harus ditanggung oleh bangsa ini. Bukannya pelit dan perhitungan, tapi hal ini benar-benar harus diperhitungkan. Berapa jumlah oksigen yang suplainya berkurang…. lahan resapan air yang hilang…. habitat satwa serta satwa yang punah…. kesuburan tanah yang terganggu….. debit air sungai yang berkurang…. Apakah hal-hal ini tidak pernah terpikirkan?

Tapi kan biofuel bisa terbakar secara bersih alias biodegradable, tanpa emisi bo…..!

Eh jeng…. emangnya situ yakin kita mampu pake bioethanol 100%? Kalo ekeu sih tidak yakin akan hal itu…. Ketika iyey menggunakan gasohol E-10, artinya yey hanya mengurangi dampak emisi sebesar 10% saja. Selama bensin di Indonesia tetep ada timbalnya, mobil yey tetep aja berkontribusi atas udara kotor di Indonesia (walopun hanya 90%)…

Sekarang kita itung-itungan….
Jika bioethanol benar-benar mensubstitusi 10% konsumsi bensin (sebagai gasohol E-10)
– Impor MBTE sebagai octane enhancer berkurang sebesar US $23,14 juta/tahun
– Impor premium berkurang sebesar US $1,350 milyar/tahun (2,25 juta kL, dengan asumsi harga bensin US $0,6/liter)
– Total pengurangan impor = US $1,373 milyar/tahun
(BPPT, 2006)

Harga bioethanol derajat bahan bakar sekarang di pasaran Rp 5000,-/liter, dan harga gasohol E-10 Rp 4.550,-/liter (Rp 50,- perak lebih mahal dari premium biasa yang disubsidi). Lalu siapa yang akan menanggung Rp 50,-nya? Produsen atau pemerintah?

* * *

Jadi kamu jangan percaya 100% kalo ada opini “biofuel ramah lingkungan”. Biofuel hanya membantu kita dalam hal pengadaan bahan bakar alternatif, tapi tetap tidak bisa memberikan solusi perbaikan kualitas lingkungan secara signifikan.

Orang-orang heboh membicarakannya bukan karena kritis terhadap lingkungan, tapi karena kritis memikirkan bagaimana nasib kendaraannya di masa yang akan datang.

Semuanya antroposentris, namun berkedok ekosentris.

Sebenarnya solusi terpenting dalam mempertahankan bahan bakar minyak bukanlah dengan memproduksi biofuel, tetapi dengan merubah gaya hidup kita yang suka menghambur-hamburkan menjadi sedikit hemat akan bahan bakar.

Selama kegiatan jalan kaki, naik sepeda, atau naik angkot dianggap sebagai tradisi kampungan dan miskin, bangsa ini akan terus dihantui oleh harga BBM yang makin lama makin mahal saja.

Ada sanggahan?

diambil dari

Menangguk laba dari gas rumah kaca

Posted: December 4, 2007 by Eva in Lingkungan

Hampir semua pihak, mulai kelompok musik The Rolling Stones hingga pemerintah Indonesia berusaha untuk menekan laju emisi karbon ke udara. Bangkitnya sebuah kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, atau upaya menghapus dosa?


LIMA abad yang lalu, Martin Luther dan kaum reformis sezamannya pernah mengutuk kebijakan gereja Katolik, di mana seseorang bisa memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya di masa lalu dengan membayar sejumlah uang. Praktik penghapusan dosa tersebut mungkin bisa menjadi analogi sekaligus simplifikasi yang pas untuk menjelaskan rumitnya perdagangan karbon, istilah yang menggaung beberapa tahun belakangan ini.

Melalui perdagangan karbon, negara-negara industri—sebagai penyumbang terbesar emisi gas karbon dioksida, biang kerok pemanasan global—bisa membayar suatu negara berkembang yang mampu mengupayakan pengurangan emisi karbon. Dengan begitu, ’dosa-dosa lingkungan’ negara tersebut dianggap tidak ada atau berkurang.

Perdagangan karbon dilahirkan melalui perjalanan yang amat panjang. Adalah laporan para ilmuwan pada 1990 tentang Perubahan Iklim yang telah memukul lonceng tanda bahaya bagi kehidupan umat manusia, dan mendesak agar dibentuk suatu kesepakatan global untuk mengatasi perubahan iklim. Dua tahun kemudian, disepakatilah konvensi PBB tentang perubahan iklim (United Nations Frameworks Convention on Climate Change atau UNFCCC) yang tujuan pokoknya menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) pada tingkat yang aman dan tidak mengganggu iklim global.

Berbagai paktapun diteken setelahnya. Yang terpenting adalah pertemuan di Kyoto, Jepang, pada 1997. Perjanjian yang dikenal dengan Protokol Kyoto itu mewajibkan negara-negara industri untuk mengurangi emisi GRK—salah satunya karbon dioksida—sebanyak 5,2% di bawah kadar yang mereka lepas pada tahun 1990 dalam kurun waktu lima tahun (mulai 2008-2012, yang disebut sebagai periode komitmen pertama). Protokol ini mulai mengikat secara hukum setelah Rusia meratifikasi pada 16 November 2004 sebagai negara ke-55. Hal ini sesuai kesepakatan, bahwa protokol mulai berlaku jika telah diratifikasi minimal 55 negara. Saat ini, sedikitnya 140 negara sudah menandatangani.

Protokol Kyoto menawarkan tiga mekanisme fleksibel untuk membantu negara-negara industri menekan laju emisi GRK: Implementasi Bersama (joint implementation/JI), Perdagangan Emisi Internasional (international emission trading/IET) dan Mekanisme Pembangunan Bersih (clean development mechanism atau CDM). CDM digagas karena begitu sulit memaksa negara-negara tersebut mengurangi emisi karbonnya, akibat begitu besarnya ketergantungan mereka pada konsumsi bahan bakar minyak. Sampai sekarang, Amerika Serikat saja masih menolak Protokol Kyoto. Dari tiga mekanisme fleksibel tersebut, hanya CDM yang melibatkan negara-negara berkembang. Dan, melalui CDM inilah tata cara perdagangan karbon dunia diatur.

Alhasil, karbon kini menjadi komoditas bisnis dadakan; FIFA, federasi sepak bola dunia, membeli beberapa kredit karbon sehubungan pelaksanaan Piala Dunia 2006 lalu. Kelompok musik kenamaan The Rolling Stones dan beberapa band lain membelinya sebagai kompensasi emisi GRK yang mereka buang dalam tur-tur mereka. Sementara Paramount, studio film Hollywood, juga membeli kredit karbon atas setiap emisi yang mereka keluarkan selama proses pembuatan film kontroversial tentang pemanasan global, An Inconvenient Truth (2006).

Bank Dunia tercatat sebagai pembeli kredit karbon paling royal: nilai transaksi pada 2005 diestimasi mencapai 10 miliar dolar. Bagi beberapa ”pemain”, jual-beli karbon memang perkara citra. Sampai saat ini, kebanyakan pembeli karbon adalah firma yang relatif beremisi rendah, seperti bank-bank, yang berharap bisa menggaet klien yang memiliki visi lingkungan. Namun bagi pemain lain, bisnis karbon adalah business as usual yang menggiurkan.

Hitung-hitungan bisnisnya relatif sederhana. Setiap upaya penurunan emisi yang setara dengan satu ton karbon (tCO2e) akan diganjar satu CER (certified emission reduction). Sertifikat yang mirip surat berharga ini dikeluarkan oleh Badan Eksekutif CDM di bawah UNFCCC. Negara industri yang sudah meratifikasi Protokol Kyoto (disebut dengan kelompok Annex-1), atau lembaga nonpemerintah manapun yang merasacarbontrade.jpg

berkepentingan, bisa membeli CER ini dari proyek-proyek CDM di negara berkembang (non-Annex-1) yang tidak diwajibkan untuk mengurangi emisi.

Layaknya komoditas dagang, harga CER bisa bervariasi, tergantung kesepakatan pihak-pihak yang bertransaksi. Tapi, secara rerata, harga satu CER berkisar 5-15 dolar AS. Jadi, jika suatu proyek CDM berhasil memproyeksikan pengurangan emisi sebesar 1 juta ton CO2e dalam setahun, pendapatan kasar yang diperoleh proyek tersebut satu tahunnya sekitar 10 juta dolar AS (jika diambil harga tengah 10 juta dolar) dari penjualan CER.

Perlu diketahui, istilah ”reduksi emisi karbon” tidak serta-merta berarti pengurangan kadar karbon yang sudah ada saat ini di udara, tetapi merupakan upaya menekan bertambahnya emisi GRK akibat penggunaan bahan bakar fosil. Jadi, angka-angka tersebut pada dasarnya adalah jumlah karbon yang diemisikan jika tanpa proyek CDM.

Di satu sisi, solusi ini terkesan menyederhanakan masalah dan kental dengan unsur ketidakadilan: negara industri bebas mengotori atmosfer selama mampu membeli CER sebagai kompensasinya. Tapi di sisi lain, bisnis karbon membuka berbagai peluang: membangkitkan perekonomian negara dunia ketiga sekaligus menciptakan kondisi lingkungan yang relatif lebih baik. ”Ide besarnya adalah memberikan nilai moneter pada usaha perbaikan lingkungan. Selama ini, konservasi lingkungan dianggap sebagai cost, liabilitas. Tapi dengan adanya CDM, pengelolaan lingkungan juga berarti aset berharga,” kata Agus P. Sari, Direktur Regional Asia Tenggara EcoSecurities, salah satu pemain besar perdagangan karbon yang bermarkas di Oxford, Inggris.

SETELAH meratifikasi Protokol Kyoto melalui Undang-undang Nomor 17 tahun 2004, Indonesia membuka peluang ikut serta dalam arus perdagangan karbon. Sebagai fasilitator dan koordinator CDM di tingkat nasional, pemerintah membentuk Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Komnas MPB) di bawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup pada Juli 2005. Di setiap negara, komisi semacam juga ada dengan sebutan DNA (designated national authority).

”Setiap proyek CDM harus diverifikasi dan divalidasi oleh DNA di masing-masing negara,” ucap Prasetyadi Utomo dari Sekretariat Komnas MPB. Menurut pengakuannya, Komnas MPB sama sekali tidak menarik pungutan apapun dari proses verifikasi. Hal ini dibenarkan oleh Agus selaku pengembang proyek. ”Memang cukup ganjil, tapi begitulah kenyataannya,” ujarnya dengan nada seloroh.

Berdasarkan Kajian Strategis Nasional sektor Kehutanan dan Energi (KSNKE) yang dilakukan pada tahun 2001-2002, Indonesia memiliki potensi pengurangan emisi GRK sekitar 23-24 juta ton CO2e per tahun. Jika dikonversi ke nilai CER, potensinya menjadi 230 juta dolar AS dalam setahun (sekitar 2,3 triliun rupiah). Bukan jumlah yang kecil.

Khusus sektor kehutanan (nonenergi), catatan KSNKE menyebut ada sekitar 15 juta hektare lahan di seluruh daerah di Indonesia yang bisa diajukan untuk proyek CDM. Mengetahui fakta ini, akhir-akhir ini banyak pemerintah daerah yang mempromosikan hutan di daerahnya untuk dijadikan proyek CDM. Padahal, masalahnya ternyata tidak sesederhana itu.

“Potensi kebocoran (leakage) hutan Indonesia cukup besar,” kata Alue Dohong, penggiat lingkungan dari Wetlands International Indonesia Program. Dalam skema CDM, leakage tidak diperkenankan. Leakage, papar Alue, bisa disebabkan oleh belum mapannya tata kelola hutan, masih tingginya insiden kebakaran hutan, maraknya pembalakan liar, dan inkonsistensi kebijakan penataan ruang. “Belum jelasnya metode penentuan batas wilayah dan kriteria hutan yang memenuhi syarat juga menjadi batu sandungan untuk mengembangkan hutan kita sebagai proyek CDM,” imbuh Alue.

Hutan yang diperkenankan, misalnya, adalah hutan ”buatan” manusia (dengan pembenihan, penanaman, dan sebagainya) pada lahan yang belum pernah menjadi hutan sedikitnya 50 tahun ke belakang. ”Teknis penghitungan reduksi emisi karbon oleh hutan juga sulit, mengingat daya ikat karbon setiap pohon dalam suatu hutan heterogen berbeda-beda,” jelas Deddy Hadriyanto, pakar kehutanan dari Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur. Kawasan mangrove justru lebih berpeluang dari sisi teknis.

Karenanya, hingga saat ini belum ada proyek CDM berbasis hutan dari Indonesia yang berhasil disetujui. Amat kontras dengan sektor energi alternatif yang lebih ”seksi”. Kabar terakhir, delapan proyek sudah teregistrasi di Badan Eksekutif CDM. Hampir semuanya berbasis energi.

Chevron Geothermal Indonesia (CGI), melalui proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi Darajat Unit III adalah yang terakhir mendapat persetujuan, Desember tahun lalu, dengan kapasitas pembangkit sebesar 110 megawatt. Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara dengan kandungan panas bumi amat besar, bahkan yang terbesar di dunia atau 40 persen dari cadangan panas bumi dunia. Menurut riset yang dilakukan oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, di seluruh kepulauan Indonesia sedikitnya ada 244 titik yang merupakan sumber panas bumi potensial, dengan kapasitas pembangkit sebesar 29.000 megawatt. Namun, hingga saat ini, jumlah total yang tereksplorasi hanya sekitar 1.000 megawatt, alias baru sekira lima persen. Sebagai perbandingan betapa efisiennya tenaga geotermal, 1.000 megawatt ekivalen geotermal untuk 30 tahun setara dengan 465 juta barel minyak bumi.

efekrumahkaca.jpg

Menurut data CGI, emisi karbon dioksida dari pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya sekitar sepersepuluh dari emisi yang diembuskan oleh pembangkit konvensional seperti batu bara, dan seperenam dari bahan bakar disel dan minyak. Selisih jumlah emisi inilah yang bisa dijadikan kredit karbon untuk diperjualbelikan.

Namun, bukan berarti sumber energi ini tidak memiliki kelemahan. Halangan utama eksplorasi panas bumi terletak pada besarnya biaya investasi, terutama jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Komoditas ini juga tidak dapat diekspor seperti halnya minyak bumi. Selain itu, berbeda dengan minyak dan batu bara, mobilitas panas bumi juga rendah, tidak dapat berpindah-pindah dengan leluasa. Karena itu, pemanfaatannya mesti langsung dari sumber eksplorasi.

Proyek lain yang cukup menarik adalah pemanfaatan limbah hewan yang dilakukan oleh peternakan PT Indotirta Suaka Bulan di Riau dan Lampung Bekri Biogas. Suaka Bulan mengelola kotoran dari peternakan babi seluas 1.700 hektare di Pulau Bulan, Riau. Dengan teknik pencerna anaerobik (anaerobic digester), gas metana (CH4, salah satu GRK) yang ditangkap bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar. Rata-rata, setiap tahunnya instalasi biogas ini diperkirakan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 166.000 ribu ton CO2e.

Mirip dengan Suaka Bulan, Lampung Bekri menggunakan reaktor anaerobik bawah tanah tertutup (CIGAR) untuk menangkap gas metana dari kotoran sapi. Komposisi biogas yang diperoleh melalui proyek berskala kecil ini adalah 65% metana dan 35% CO2, dengan rata-rata reduksi emisi 18.826 ton CO2e per tahun. Produk kompor pun bisa dimanfaatkan untuk proyek CDM. Tetapi bukan sembarang kompor, tentunya. Alat masak yang diproduksi oleh PT Petromat Agrotech yang berkongsi dengan Klimaschutz e.V. dari Jerman ini menggunakan tenaga matahari sebagai sumber panasnya. Dengan begitu, penggunaan minyak tanah atau gas elpiji yang menghasilkan polusi karbon bisa ditekan. ”Kompor ini merupakan bagian dari usaha memperbaiki lingkungan, karena itu kami amat mendukungnya,” ucap Rudi Wahyudi dari Petromat Agrotech.

Berdiameter sekitar satu meter, bentuk kompor surya ini relatif sederhana, mirip sebuah parabola yang bagian permukaan cekungnya dilapisi bahan cermin yang bisa memantulkan cahaya. Dengan bentuk parabola, cahaya bisa dipantulkan terpusat ke sebuah penyangga wadah masak, sehingga menghasilkan panas yang cukup untuk memasak berbagai jenis makanan, mulai nasi goreng hingga sayur sup. Menurut rencana, akhir Februari, sekitar 1.000 unit kompor surya ini akan diserahkan secara cuma-cuma kepada para nelayan di Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam.

Saat ini ada dua proyek lagi dari Indonesia yang masih mengantre untuk disetujui oleh Badan Eksekutif CDM. Bukan tidak mungkin jumlahnya akan terus bertambah. Hingga saat ini, beberapa proposal proyek juga terus diterima oleh Komnas MPB.

Kabar baik? Belum tentu. Yang perlu didesak adalah komitmen setiap pihak untuk melestarikan lingkungan, tidak peduli apakah ada atau tidak ada keuntungan finansial di belakangnya. Apalagi sekadar upaya menghapus dosa, seperti yang dikhawatirkan Martin Luther terhadap gereja Katolik lima abad silam. *Oleh Firman Firdaus, Artikel ini sudah dimuat dalam National Geographic Indonesia edisi Maret 2007.