Archive for the ‘Lingkungan’ Category

Hujan Deras, Bumi Basah

Posted: November 9, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah
Tags:

Hari ini apakah di tempat anda turun hujan? Di sini hujan turun sangat deras dan lebat. Awan mendung kehitaman dan suasana mencekam tadi siang.

Bahkan petir pun bersahut-sahutan. Meski deg-degan karena tidak seperti biasanya saya mengabadikan peristiwa turunnya hujan ini.

Saya tidak menyangka, hujan yang biasa saya rindukan tadi agak sedikit mengerikan. Meskipun usai reda saya merasa sangat gembira. Melihat bumi yang basah, dedaunan pohon mangga, jeruk, belimbing di belakang rumah sangat segar, diiringi gemericik hujan.

Kamis, 9 November, 2018

Advertisements

Kegembiraan tiada terkira dialami seluruh petani dan kita semua saat hujan deras turun tiada henti dua hari kemarin.

Selain tidak usah menyiram tanaman, hawa sejuk iklim kita membuat hati ini nyaman, dan tenang.

Esok paginya saat membuka jendela, titik embun menyisakan suasana yang membuat hati ini terpana.

Embun – embun yang menempel di dedaunan pohon jeruk, bunga yang baru saja mengembang, bulir-bulirnya sangat menyegarkan.

Selamat hari rabu teman-teman semua, mari kita mengawali pagi ini dengan semangat bekerja, dan hati gembira.¬†ūüíźūüĆľūüĆł

Rabu, 6 November 2018

Pukul 07.02

Sedikit cerita tentang akhir pekan kemarin, kami mengunjungi salah satu tempat yang menjadi tujuan wisata warga Kanigoro dan sekitarnya, yaitu Pembangkit Jawa Bali, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lodoyo di Dusun Serut, Kecamatan Gogodeso, Kabupaten Kanigoro, kurang lebih setengah jam dari tempat kami tinggal.

Melewati jalur alternatif, kami melewati Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tlogo, almamater Mas Arif. Kami berjalan pelan menyusuri jalan sore itu. Tampak matahari sudah tenggelam meski hari masih jam lima sore.

 

Sesampainya di sana kami melihat bendungan air yang menjadi sumber tenaga listrik di sebelah kiri kanan luas membentang. Airnya tenang, dan aliran dari sungai-sungai sebelah kiri kanan deras kencang sehingga suasana sore itu sangat indah.

Kemarau panjang rupanya tidak mempengaruhi debit air yang ada. Meski di sepanjang perjalanan menuju kesana banyak pohon-pohon tinggi kering dengan daun berguguran, namun kondisi air di sini tetap melimpah dan bisa menjadi andalan untuk menerangi listrik yang ada di Jawa Bali.

Tidak terasa setengah jam lebih kita disana, bagus kan ya pemandangannya.  Banyak orangtua membawa anaknya ke sana. Pasangan muda mudi, remaja, dewasa, hingga lelaki setengah baya banyak berkunjung dan mampir disana sejenak untuk berfoto dan mengabdikan momen istimewa mereka.

Peranan PLTA sangat bergantung pada kondisi debit air yang ada. Mudah-mudahan jika kemarau panjang kelak, air yang ada bisa kita hemat semaksimal mungkin agar bisa menyinari Pulau Jawa dan Bali. Kita juga bersama keluarga harus menghemat penggunaan listrik mulai dari mengurangi main game di gawai, mengurangi nonton televisi dan matikan lampu jika tidak penting.

5 November 2018

Pukul 09.49

Ketika bangun pagi ada banyak hal yang kita lakukan selain aktivitas rutin. Namun kemarin pagi terasa tidak biasa karena saya bisa menyaksikan momen istimewa yaitu menyaksikan fajar menyingsing sebelum matahari terbit.

Sekitar  pukul lima pagi lebih sedikit, cuaca masih agak gelap, semburat fajar berwarna jingga memenuhi langit. Warnanya hampir sama dengan lembayung senja ketika matahari terbenam itu kesan pertama kali saya melihat munculnya fajar pagi  menyambut kehidupan.

Warna orange keemasan sangat indah berpadu dengan langit yang masih gelap dan putihnya awan menjulang di angkasa.

Saya merasa sangat bersyukur bisa melihat fajar pagi, menyambut matahari terbit dan siap menjalani hari-hari yang panjang.

22 Oktober 2018

Pukul 06.38

 

Embun Pagi Sisa Hujan Semalam

Posted: October 21, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah
Tags: ,

 

Semalam saya terjaga tengah malam. Ketika hujan turun deras namun sebentar. Saya langsung keluar rumah dan sangat gembira setelah hampir dua bulan hujan jarang turun.

 

Saat subuh tiba, taman depan rumah bersukacita. Embun pagi hinggap di setiap dedaunan dan kelopak bunga. Pagi ini saya semangat dan gembira.

Selamat hari minggu….

 

“65 % kebahagiaan manusia ditentukan oleh lingkungan alam. Terutama oleh Pertanian dan Peternakan,” Eka Budianta, Budayawan, Kolumnis Trubus.¬†

Pergeseran gaya hidup yang sudah lama ditinggalkan rakyat Indonesia karena banyak yang melakukan urbanisasi ke kota besar menjadi buruh pabrik, pekerja otomotif, atau bekerja  di industri dengan teknologi maju di berbagai bidang  perlahan-lahan tapi pasti mulai mengalami pergeseran meski belum revolusioner.

Godaan gaji besar, gaya hidup hedonisme bertabur kemilau berlian dan nikmatnya jalan-jalan, senang-senang sepertinya masih akan lama untuk disadarkan. Entah jika Tuhan sudah memperingatkan  sesudah bencana beruntun yang menimpa ribuan korban gempa tsunami di Lombok, Sulawesi Tengah dan Jawa Timur beberapa  waktu terakhir.

Namun, saya percaya jika selama ini kembali ke desa, atau berkebun ditanah seadanya,  tidak hanya milik kaum petani di kampung. Masyarakat korban perkotaan juga sudah banyak yang menerapkan gaya hidup hijau, baik hijau di rumah, hijau pengelolaan sampah dan hijau alamiah dengan gaya hidup yang sederhana.

Dalam opini tetap seputar agribisnis yang berjudul “Hijau Tangguh” yang ditulis oleh Eka Budianta, masyarakat di Indonesia dan juga dunia menulis tentang perkembangan pesat luar biasa bisnis hijau.

Di mulai dengan konferensi Kota Hijau di Warsawa Polandia, Pak Eka menulis dengan semangat perkembangan terkini industri hijau seperti terapi hortikultur, chemo garden, forest bathing, dan aneka agrowisata.

Bangunan Hijau

Semalam saya melihat ada upaya membangun rumah bambu bagi korban bencana gempa tsunami itu membuat saya tertarik membaca tulisan Trubus edisi Oktober 2018 ini. Eka Budianta menjelaskan jika di Jepang dan Singapura berdiri konstruksi rumah sakit dengan tanaman di dinding, kebun dan ikan-ikan parit di atapnya.

Lomba kebersihan di galakkan, biopori hidroponik, daur ulang dan gaya hidup hijau menyeruak ke seantero nusantara. kampung hijau dan disiplin, rajin dan semangat sukses di Malang dan Surabaya.

Meningkatnya Indeks Bahagia

Pada 2017 kemarin Indonesia, menduduki peringkat ke-81 dari 155 negara. Ada 10 aspek kehidupan essensial yang diperhitungkan. Mulai dari kesehatan, penghasilan, harmonis keluarga, hubungan sosial, kondisi rumah dan lingkungan, bahkan ketersediaan waktu luang.

Peningkatan produksi dan konsumsi buah dan sayur di pelosok negeri sangat berpengaruh untuk meningkatkan indeks bahagia orang Indonesia. Kata Pak Eka di Sangeh bali ada program forest bathing, dimana disana ada hutan pala yang menjadikan udara memiliki kandungan positif bagi tubuh manusia.

Untuk lengkapnya beli majalah Trubus ya biar puas, bisa belajar berkebun dan menerapkan gaya hidup hijau. Selamat membaca dan terimakasih Pak Eka Budianta.

Perpustakaan Veteran, 16 Oktober 2018

Pukul 14.39

 

Selamat Akhir Pekan

Posted: October 12, 2018 by Eva in Lingkungan
Tags:

Tidak terasa sudah memasuki bulan kedua tinggal di Jawa Timur. Banyak sudah ilmu yang kupelajari dan mulai memahami sosiologi kultural orang Jawa.

Banyak tradisi baru yang harus aku sesuaikan dengan kebiasaanku dan tradisi setempat yang memiliki banyak perbedaan frontal. Dimana aku dididik orangtuaku untuk berani jika itu benar, sementara orang Jawa itu penuh unggah ungguh, hati-hati kalau bicara, dan jangan terlalu blak-blakan membuat saya harus berpikir beberapa kali jika ingin melakukan suatu hal takut menyinggung hati warga setempat.

Akan tetapi terlepas dari semua itu, aku tetap menjadi diri aku sendiri dengan segala kelemahan yang aku miliki dan senang berkeliling menyusuri daerah-daerah yang selama ini tidak aku temui di Sukabumi, Jogjakarta atau Pamulang.

Masyarakat di sini beraneka profesi. Dari petani, profesional hingga TNI. Kalau sore biasanya aku suka melihat kebun jagung, kebun cabe, dan aneka kebun lainnya di sekitar daerah Papungan di pinggir sungai yang ada di dekat kami tinggal.

Berikut aku videokan beberapa gambar yang aku temui di sini. Biasanya sabtu minggu banyak waktu berkumpul dengan keluarga. Selamat berakhir pekan teman-teman. Kangen kalian semua.

Blitar, 13 Oktober 2018

Pukul 06.56

Kemarau panjang cukup lama membuat suhu bumi naik dan tanaman layu, tidak berbuah dan stok bahan bakar menipis karena tambangnya sudah terlalu dalam dan sering digali.

Setelah gempa tsunami, kemarin ada gunung meletus, banjir dan kebakaran di pasar dan terakhir kebakaran di sebuah hutan di Boyolali.

Bumi yang semakin tua, bencana bertubi-tubi, digali-gali sumber energi, dan sekarang sangat kering disana-sini, isinya terlalu berat karena kebanyakan manusia dan segala barang bawaannya, sampah dan lain-lain membuat kita harus banyak waspada, hemat energi, tidak usah banyak wara wiri.

Apa bedanya neraka dengan musibah kekeringan dan kebakaran yang menyala-nyala. Harusnya kita selalu awas akan setiap pertanda.

Resensi Buku

Judul: 200 Ide Kreatif Seputar Rumah

Penyusun: Hotman Siahaan dan Rahma Yulianti

Penerbit: Pustaka Rumah, Jakarta

Edisi: Oktober, 2007

Saya membeli buku ini saat awal-awal pernikahan sekitar tahun 2007-2008. Sudah cukup lama, namun selalu saya simpan dan hanya beberapa saja saya praktikkan. Namun, sekarang ini setelah saya pindah ke Blitar dan tidak ada pekerjaan yang membuat saya dikejar-kejar deadline saya merasa buku ini sangat berguna di saat saya punya banyak waktu mengurus rumah dari hal terkecil seperti menghilangkan noda bekas teh di gelas hingga menyiram tanaman dari sisa air teh atau air bekas mencuci piring.

Karena pada dasarnya kita ingin mengembalikan apa yang berasal dari alam kembali ke alam dengan cara yang paling sederhana, yaitu hemat sumber daya alam, mengurangi pemborosan dan makan-makan yang tidak penting, serta hemat energi, sudah sejatinya jadi kesadaran bagi kita kaum perempuan.

11 Bab yang Padat Membahas permasalahan rumah dari hulu ke hilir

Buku ini ukurannya kecil seperti buku saku yang terdiri dari sebelas bab. Dari mulai memelihara tanaman, menyiasati permasalahan pada dinding, membersihkan lantai, menanggulangi kebocoran pada atap, menangani permasalahan di dapur, merawat furniture, mengatasi masalah di kamar mandi, memanfaatkan barang bekas, membersihkan perabot rumah, mengharumkan ruangan dan mengusir hewan pengganggu.

Dari kesebelas bab itu ada beberapa diantaranya sangat mudah dilakukan, akan tetapi ada juga yang sulit. Yang mudah misalnya bubuk kopi untuk menghilangkan bau cat, sedangkan yang susah kita harus mencari asam sitrat untuk menghilangkan karat.

Namun, jika anda baca satu persatu, maka sebenarnya kita bisa membersihkan rumah kita dengan mempraktekkan apa yang ada dalam buku ini. Beberapa hal yang pernah saya praktekkan ada manfaat kulit bawang merah dan bawang putih untuk kesuburan tanaman yang ada di halaman 28.

Selain itu manfaat soda untuk untuk menghapus noda membandel pada blender plastik maupun aneka tupperware sangat membantu saya selama ini.

Air Panas Ditambah Soda Kue untuk Menghilangkan Noda Membandel Pada Wadah Plastik

Untuk mengharumkan dapur agar wangi habis masak juga pernah saya coba dengan merebus jeruk lemon dan cengkeh memakai segelas air, alhamdulillah segar dapurku dan wangi cengkihnya segeer banget, jadi betah masak.

Memanfaatkan Limbah Rumah Tangga 

Seperti yang pernah saya tulis di disini sebelumnya tentang penyelesaian masalah sampah dari yang paling sulit diolah yaitu karet di buat tong sampah, kantong plastik kecil buat brongsong buah dan sampah kertas serta dedaunan di bakar.

Air Rebusan Daging Agar Tanaman Subur

Maka dengan membaca buku ini  kita bisa meminimalisir sampah dapur atau limbah rumah tangga. Sebelumnya saya juga pernah membuat sisa sayuran saya rebus jadi pupuk cair, ada juga yang di blender, tapi kok boros gas dan listrik. Jadi akhirnya saya hentikan, jadinya ya saya praktikkan  semampu saya aja yang sekiranya hemat energi.

Buku ini menurut saya sangat berguna, karena membuat hidup anda menjadi lebih berarti, penuh makna dan berusaha untuk menerapkan pola hidup yang sehat.

Kelemahannya buku ini menurut saya ada pada tata cara yang ada kalanya kurang jelas atau seadanya. Misalnya soda itu segimana ukurannya, terus yang berkaitan dengan bocor dan cat itu saya enggak begitu bisa praktek karena menyangkut urusan atap rumah biasanya tukang, sehingga kita ada kalanya kesulitan.

Tanaman Setelah Disiram Air Rebusan Daging

Saya rekomendasikan buat anda ibu rumah tangga atau perempuan bekerja, wajib punya buku ini. Cocok juga buat hadiah pernikahan atau anniversary pasangan hidup anda.

Perpustakaan Veteran, Blitar

25 September 2018

Pukul 13.25

Sudah satu bulan lebih satu minggu saya boyongan pindah rumah ke kampung suami di Blitar. Meski sudah lama, membongkar kardus pindahan dan menata ruangan, syukuran, dan aneka kegiatan lainnya membuat saya betah lama-lama di rumah dan jarang keluar rumah kecuali ada keperluan mendesak.

Rumah Pinggir Kali

Tempat tinggal dimana saya ngontrak sekarang sebelumnya adalah milik seorang Tionghoa dimana terletak di komplek perumahan paling ujung yang berbatasan dengan sungai dan persawahan namun ditutup tembok jadi tidak terlihat langsung.

Ada yang bilang kita tinggal di Kuningan “Riverside”. Ini Kuningan Kanigoro Blitar ya bukan kuningan Jakarta atau Kuningan yang dekat Cirebon (guyon-guyon jika ada yang bertanya) takutnya salah paham jika keliru mengingat daerah Kuningan ternyata ada kemiripan nama.

Meski jauh dari mana-mana namun yang membuat saya betah di sini adalah cara pengelolaan sampah yang seminimal mungkin bisa dikurangi terutama saya yang habis pindahan tentu banyak barang baik itu kertas, pakaian atau benda lainnya yang harus dibuang. Tempat sampah disini juga terbuat dari bahan daur ulang bekas ban motor atau mobil.

1537837193659-1

Ketika awal datang saya sangat senang dengan adanya tiga kamar di belakang dan halaman belakang yang luas dimana di dalamnya ada pohon mangga, jeruk nipis, belimbing dan pandan.¬† Sebenarnya saya belanja suka bawa tas belanjaan sendiri tapi kalau ada bakul “ethek” (tukang sayur keliling) disini semua diwadahib plastik kecil-kecil, kata mas arif jangan dibuang karena plastik bekas itu bisa buat brongsong (bungkus) buah mangga.

Dan sisanya sampah kertas bekas, nota-nota, tiket, struk belanja, buku bekas, koran bekas hingga daun-daun kering yang mengotori halaman depan dan belakang serta ranting di bakar di tempat pembakaran sampah di belakang rumah.

Jadi betah di rumah dan malas kemana-mana, karena waktu sehari tidak cukup tahu-tahu sudah maghrib dan masih banyak pekerjaan rumah tangga belum seleasai hingga kadang lupa mengetik dan setor tulisan.

Kuningan, Kanigoro 25 September 2018

 

Bunga Bermekaran di Awal September

Posted: September 17, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah

Selamat hari selasa minggu ketiga bulan September. Dimana bulan ini adalah bulan yang sangat membahagiakan bagi kami. Karena memulai kehidupan baru di Kuningan, Kanigoro, Blitar.

Saat hujan turun beberapa waktu yang lalu tanaman bunga di taman depan kecil rumah kontrakan kami  kuncup bermekaran.

Di antara aneka bunga yang tumbuh di taman ini saya sangat menyukai bunga yang berwarna merah dan  bunga lainnya yang berwarna merah muda dengan daun yang hijau di timpa embun.

Beberapa foto ini aku ambil sore hari saat hujan turun awal September lalu dan saya sangat gembira melihat bunga bermekaran.

Selain aneka bunga dan dedaunan yang indah mewarnai kehidupan kami sekeluarga saya juga sangat bangga melihat tunas muda tumbuh menjulang di bumi pertiwi.

Kuningan, Kanigoro 18 September 2018

Pukul 05.21

 

Jangan curiga dengan judul tulisan ini, karena sebenarnya hanya mengutip dari sebuah poster di pinggir jalan.

Jika Anda Bukan Orang Sembarangan, Maka¬†¬†Jangan Buang Sampah Sembarangan,” Anonim

Hak Cipta foto Begron

 

Sebenarnya saya membaca Majalah National Geographic sudah lama, biasanya saya baca di Perpustakaan Kemendikbud Senayan Jakarta. Banyak wawasan baru setiap edisi, namun belum pernah saya ceritakan di blog ini. Baru pada bulan ini saya bikin sedikit review Majalah edisi bulan Juni yang mengangkat tema tentang Bumi Atau Plastik, Ancaman dan Asa Plastik di Indonesia. Namun, kali ini saya membaca ulang di koleksi umum perpustakaan proklamator Bung Karno Blitar.

Saya juga sudah membaca edisi Bulan Juli, namun karena saya sudah merasakan dan melihat bagaimana sampah di pinggir pantai beberapa waktu yang lalu, maka tidak ada salahya atau semoga belum terlambat kita mengantisipasi sejak dini timbunan sampah plastik yang ada di daratan maupan pinggir laut (pantai) bahkan dalam laut.

Konsistensi Tanpa Sampul Plastik

Satu hal yang saya suka dari majalah ini adalah mencopot sampul plastik yang ada di setiap majalah baru. Wah menarik juga ya, dimana hal paling sulit dalam hidup kita adalah konsisten antara tulisan dan perbuatan. Pemberitahuan ini dimuat semacam pengumuman sederhana namun resikonya besar.

Karena apa, jika kita membeli buku atau majalah baru tanpa sampul plastik terkadang kita berpikir bukan buku atau majalah baru karena sudah tidak ada plastiknya ūüėä. Ya, semoga upaya ini menjadi kepedulian bagi kita semua untuk memperhatikan plastik atau sampah terdekat dalam kehidupan kita.

Ada banyak foto menarik seperti biasa, investigasi majalah ini berkaitan dengan semakin sulitnya kita menghentikan kebiasaan atau ketidakberdayaan terhadap apapun yang kita minum, makan, pakai dan tempat tinggal.

Delapan Juta Ton Plastik Berakhir di Laut dan Spesies Laut Terluka

Di halaman depan sudut kiri ada semacam penekanan kata terhadap jumlah sampah plastik dimana setiap tahun delapan juta ton plastik berakhir di laut. Itu baru yang terlihat di permukaan.

Dari halama 54 sampai halaman 101, laporan utama plastik ini membuat kita berkali-kali mengernyitkan dahi, tertegun, terbelalak melihat foto-foto, dan sedikit lega dengan adanya solusi untuk mengurangi.

Tulisan Laura Parker dan Fotografer Randy Olson dari National Geographic membuka tulisan dengan data statistik yang akurat tentang plastik.

Dia menulis bahwa sudah 150 tahun kita menciptakan materi yang ringan, kuat dan murah. Lebih dari 40% diantaranya hanya digunakan satu kali, Kini matero mukjizat ini membantu jantung berdenyut dan pesawat melesat dan delapan juta ton tiba di laut seperti yang saya tulis di atas.

Narasi yang kuat tentang bahaya plastik dan foto-foto sampah plastik di laut sangat menarik namun tidak asyik. Kenapa dikatakan demikian, karena kebiasaan buruk kita yang membuang barang plastik yang membahayakan biota laut.

20180728_091621
Sebelum Laut Berubah Menjadi Sup Plastik

Pada halaman 60 ditulis jika sampah plastik menewaskan jutaan satwa laut setiap tahun. Diketahui hampir 700 spesies, termasuk yang terancam punah karena dampaknya.Sebagian biota laut cedera dengan gamblang-tercekik jala terbengkalai atau cincin plastik minuman kaleng. Mungkin banyak lagi yang cedera tanpa terlihat.

“Spesies laut segala ukuran, dari zooplankton hingga paus, sekarang makan mikroplastik, serpih yang besarnya tak sampai lima meter,”

Ted Siegler, ahli ekonomi sumber daya daya dari Vermont mengatakan jika ini bukan masalah yang tidak diketahui solusinya.

“Kita tahu cara memungut sampah, cara membuang, cara mendaur ulang. Masalah utamanya adalah soal membangun lembaga dan sistem dan sistem, katanya idealnya sebelum laut berubah menjadi sup plastik encer yang mustahil dibenahi berabad-abad.

20180728_091610

Mendengar kata sup plastik, membuat saya menelan ludah. Membayangkan apa yang tejadi jika kita membiarkan ini berlangsung tanpa kesadaran dan pencegahan yang radikal.

Tutup botol minuman kemanasan dibuat dengan ilustrasi seperti gambar gurita plastik dengan spesies laut yang menghuni tutup botol. Seperti tutup botol minuman ringan dalam perut anak albatros di Midway Atoll, cacing keel yang hidup di tutup botol air minum, dll.

20180728_092521

 

Solusi untuk menghentikan

Pembahasan tentang plastik biodegrable dan Norwegia yang berhasil mendaur ulang 97%, produk yang bisa membantu mengurangi plastik, serta enam hal yang bisa anda dilakukan untuk menguranginya (98-101).

20180728_092658

Produk yang bisa membantu mengurangi limbah plastik juga disampaikan seperti sikat gigi dengan kepala sikat yang bisa diganti, pembungkus makanan berbahan dasar lilin lebah dan kapas, sedotan dari logam yang bisa dipakai ulang, dan cincin pengikat minuman yang dibuat dari kompos limbah pembuatan minuman berkaleng.

Lalu apa saja enam hal itu, pertama tanpa kantong plastik, tanpa sedotan, lupakan botol plastik, hindari kemasan plastik, daur ulang yang bisa, dan jangan buang sampah sembarangan.

Dilema Mengkampayekan Lingkungan Bersih dengan Penetrasi Kapital

Saya sendiri termasuk yang sulit konsisten dengan sampah plastik karena kondisi dan keadaan. Tidak hanya sampah plastik, saya juga gelisah dengan sampah elektronik dan teknologi seperti modem bekas, usb bekas, kaset bekas, baterei bekas, colokan bekas, casing bekas dan komputer dan laptop bekas. Dimana di masa yang akan datang pasti akan semakin menumpuk dan tidak tahu bagaimana cara mengurainya.

20180728_092717

Berbicara isu lingkungan kita juga harus memikirkan nasib industri plastik, pekerja pabrik plastik dan makanan yang dibungkus plastik dll. Menjadi dilematis memang ketika kepedulian lingkungan berlawanan dengan keuntungan kapital dan gaya hidup yang instan dan praktis.

Tapi bagaimanapun kesadaran dan lingkungan dan alam yang bersih itu lebih penting daripada uang banyak kita sakit-sakitan. Karena air yang kita minum tercemar hingga harus minum air kemasan dibungkus plastik, tanah yang kita tanami sudah tereduksi sampah yang tidak terurai, ikan yang kita makan terancam mengandung mikroplastik dan efek lainnya yang menimbulkan penyakit berbahaya dan akan mengancam bumi manusia dan isinya. Maka tidak aneh ya jika orang yang dipenjara atau orang tua kita dulu minum air keran.

Sebenarnya apa yang saya baca di majalah National Geographic kali ini baru sedikit saya sampaikan, lebih baik anda dan keluarga,sahabat, teman kerja atau semua orang membaca majalah ini. Bisa membeli, atau membacanya sambil berkunjung ke perpustakaan.

Koleksi umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar
28 Juli 2018 Pukul 14.50

Sore tadi kami berjalan-jalan sore menyusuri perumahan kampung, pematang sawah, dan kebun jagung. Tujuannya selain untuk berolahraga, kami ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir (sarean).

Jarak dari rumah keluarga besar kami di Dusun Banggle, Kanigoro Blitar lumayan jauh, ada sekitar kurang lebih dua kilo meter. Kami berjalan enam orang, saya, mas arif dan empat orang keponakan.

Kurang lebih 50 menit kami berjalan, cuaca sore itu sangat cerah dengan udara segar. Meskipun bulan ini bukan musim penghujan, namun semua tanaman di perkebunan tumbuh subur dan saatnya musim berbuah.

Di Banggle, suasana desa sangat terasa meski kami tinggal di pinggir jalan raya. Namun, rumah di sini tidak begitu padat dan rapat. Jarak satu rumah dengan yang lain tidak berdekatan, akan tetapi disini hidup rukun dan damai.

Bahkan, jika anda berjalan jauh ke setiap sudut desa, lebih banyak perkebunan dan sawah daripada rumah tempat tinggal. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa yang lain mulus dan dipergunakan masyarakat dan petani untuk membawa hasil perkebunan, atau untuk mencari dedaunan makanan ternak dan sapi.

Ada yang naik sepeda, ada juga yang naik gerobak motor.Banyak rumah yang di belakangnya memelihara sapi dan kambing, dimana setiap sore para petani laki-laki atau perempuan pulang dari kebun mereka atau memberi makan ternak.

Tidak terasa kami pun sampai di tujuan, tidak lama kemudian kami pulang dan kembali berjalan sambil olahraga sore. Tidak sengaja kami yang berjalan sambil bercanda bersama keponakan melihat matahari yang hampir tenggelam sore itu. Tidak sia-sia kami abadikan.
Jika ingat matahari saya suka ingat usia kita yang juga akan semakin tua dan tenggelam seperti matahari, untuk kemudian, terbit lagi besok pagi dengan semangat baru.

Ada satu lagu yang selalu kuingat yang berkisah tentang Matahari, lagu Iwan Fals yang sangat terkenal.

Mata Hati

Matahari yang berangkat pulang
Tinggal jingga tersisa di jiwa
Bintang-bintang menyimpan kenangan
Kita diam tak bisa bicara

Hanya mata, hanya hati, hanya kamu hanya aku.
Aku di sampingmu, begitu pasti
yang tak kumengerti masih saja terasa sepi

Sudah empat hari saya berada di Surabaya. Tempat yang bersih dan kotanya tertata rapi. Kanan kiri trotoar bersih tapi jarang ada yang jalan kaki. Orang Surabaya lebih senang naik mobil dan kendaraan bermotor untuk jarak dekat dan jarak jauh.

Pada hari minggu saya berjalan kaki dari RSUD Dr. Soetomo ke Delta Mall. Jalan-jalan sore membuat hati ini gembira, udara segar, di iringi gemericik air di dekat lambang kota Surabaya yaitu patung buaya. Di bawahnya mengalir air sungai yang sangat jernih. Betah saya berlama-lama menikmati indahnya Kota Surabaya, melewati monumen kapal selam dan menikmati segala kelebihannya.

Kemarin senin, saya sama Mas Arif berjalan-jalan menunggu senja di jembatan Suramadu. Berangkat habis Ashar yang ditempuh kurang lebih 50 menit dari tempat kami menginap.

Pemandangan sore itu sangat indah. Jembatan Suramadu membentang dari ujung barat ke ujung timur. Akan tetapi saya tidak naik ke atas jembatan, saya lebih senang berada di sebelah kiri jembatan dan mas Arif di sebelah bawah dan kanan jembatan.

Nelayan Kesulitan Mencari Kerang

Saya cukup lama berjalan di sekitar perahu nelayan, mengingatkan saya saat berada di Pantai Karangsong Indramayu Pantai Utara Jawa Barat. Di Karangsong rata-rata nelayan memiliki kapal besar di atas 7 GT. Ada yang 30 GT sampai 60 GT. Namun, nelayan di pantai dekat penyebrangan jembatan Suramadu, adalah nelayan harian yang pergi dalam hitungan jam, atau harian. Sedangkan kapal besar di atas 30 GT berlayar ke sebrang pulau dalam hitungan minggu dan bulan. Biasanya untuk mencari ikan.

Nelayan di sekitar jembatan Suramadu rata-rata adalah nelayan yang memiliki perahu ukuran  antara 7-8 GT. Biasanya perahu mereka mencari kerang, udang dan rajungan. Namun, saat saya berbincang dengan para nelayan yang sedang merapikan jaring nylon yang halus, mereka banyak mengeluh karena sejak dibangun jembatan Suramadu, mereka kesulitan mendapatkan kerang. Bahkan hampir tidak ada, karena harus mencari ke bagian laut dalam ke sebelah selatan jembatan yang tidak ramai kendaraan.

Mereka kini hanya bisa menghasilkan udang dan rajungan, itu saja jika jaringnya tidak rusak terkena sampah lautan yang banyak tersangkut jika ombak pasang.

Meskipun demikian, mereka tetap gembira, berkumpul sore hari membetulkan senar jaring bersama teman-teman sesama nelayan, menunggu waktu yang tepat untuk berlayar. Biasanya di atas jam 12 malam saat laut sepi dari gemuruh kendaraan bermotor, dimana udang dan rajungan naik ke permukaan laut.

Saya juga mengamati ada anak muda yang membawa karung entah mencari apa tapi seperti malu-malu. Dia berjalan sendirian dan sangat hati-hati karena di pinggir pantai banyak aneka hewan bercangkang yang masih hidup maupun yang tinggal cangkangnya saja menyerupai kerang tapi seperti kumbang.

Jika di pantai yang bersih kumbang jalan di pasir terlihat indah, di pantai bawah jembatan Suramadu, kumbang-kumbang kasihan karena mereka harus hidup diantara sampah plastik yang dibuang sembarangan. Saya tidak yakin yang membuang adalah nelayan, tapi entah siapa. Tidak hanya sampah plastik, ada juga sampah kain, sampai sampah celana dalam. Semua bercampur mengganggu keindahan pemandangan memandang indahnya jembatan.

Sampah plastik di pinggir pantai sisi kiri jembatan

Karena banyak sampah, saya pun tidak jadi berlama-lama. Kalau mau kesana harus hati-hati juga kalau memakai sandal, karena banyak cangkang kumbang keras yang nempel di sandal, jadi harus memakai sandal yang barbahan dasar karet keras.

Setelah cukup melihat sisi jembatan dan pantai dari sebelah kiri, saya pun berjalan ke pantai sebelah kanan. Di sana banyak orang tua yang membawa anak bermain di bawah jembatan dan berjalan di pinggir pantai.

Saya pun menemui Mas Arif yang berada di sebelah kanan. Kami naik ke atas sisi kanan untuk mencari spot terbaik, dimana di sana ombaknya sangat besar. Ada gedung petugas yang mengawasi pantai dan banyak penjual makanan.

Namun sayang, lagi-lagi saya kecewa ketika duduk berdiri di atas bebatuan. Tumpukan sampah berkumpul di bibir pantai bawah jembatan sisi kanan.

Sampah plastik di pinggir pantai jembatan Suramadu sisi kanan

Karena waktu menjelang senja telah tiba. Kami pun pulang. Kendaraan umum seperti angkutan kota di Surabaya sangat jarang. Anak-anak kecil sudah pada merokok dan naik motor memenuhi jalan. Sepanjang jalan saya merenung, sebenarnya saya sangat betah tinggal di Surabaya, makanan dan kuliner enak, penginapan banyak pilihan. Dua hal yang disayangkan, selain udara panas, mau menyebrang jalan saja sulit, karena terlalu padatnya kendaraan.

Surabaya, 17 Juli 2018
pukul 17.23

Selamat Hari Bumi 2018

Posted: April 22, 2018 by Eva in Lingkungan
Tags: ,

Setelah kemarin Hari Kartini, maka hari ini 22 April 2018 diperingati sebagai Hari Bumi. Saya merasakan
bahwa pada saat ini usia bumi makin tua dan semakin tergerus oleh banyak bencana alam.

Ada banyak sebab, entah karena ulah manusia atau memang sudah kehendak alam. Tidak banyak selebrasi yang saya lakukan kecuali suatu niatan untuk senantiasa menjaga bumi lebih baik lagi, merawatnya dan mencintai bumi seperti menyayangi diri kita sendiri.

22 April 2018, Pukul 15:25

Pagi tadi cuaca cerah dan matahari pagi menyinari ibukota. Udara pun terasa segar. Namun menjelang siang hujan sangat deras mengguyur Jakarta.

Kurang lebih beginilah potret yang saya ambil dari salah satu sudut Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Hujan sempat berhenti sebentar, namun setelah itu kembali turun membasahi bumi.

Foto diambil saat jam menunjukkan angka 13.40. Suasana pagi yang semula cerah pun menjadi basah. Lalu lalang kendaraan berkurang dan orang yang bekerja pun tidak banyak yang keluar. Bahkan para pengendara motor dan pejalan kaki banyak yang menepi berteduh.

Hujan adalah karunia ilahi, membasahi bumi yang kering. Kita bersyukur masih ada hujan, asal jangan sampai banjir saja. Di belahan dunia lain, hujan termasuk jarang turun. Bahkan, ada orang yang hanya bisa mandi jika turun hujan.

Jakarta, 19 April 2018, Pukul 15.34

Sejak membeli pohon jeruk limo setahun yang lalu, pohon ini baru berbuah dua kali tahun 2017. Sejak awal tahun Januari hingga sekarang, hampir tiap saat saya siram dan saya perhatikan kok lama sekali tidak berbuah.

Sampai akhirnya pertengahan Maret lalu saya lihat sudah berbuah meski masih sangat kecil. Awalnya hanya ada tiga buah jeruk limo di bagian kiri pohon, setelah saya perhatikan ternyata di belakang bagian kanan dan bawah juga ada beberapa buah.

Awal April ini buah jeruk limo tambah besar, hijau gemuk menggemaskan, sudah tidak sabar untuk melihatnya matang agar bisa segera dipetik

Saya sangat menyukai jeruk limo, karena biasanya saya peras buat pelengkap makan soto ayam bening.

pelengkap soto

pelengkap soto

Jadi tunggu apalagi yuuk kita menanam di lahan sempit.  Menanam apa saja yang sekiranya bermanfaat bagi kita makan sehari-hari. Kita bisa menikmati  segarnya soto ayam bening dengan perasan jeruk limo, atau bisa juga jeruk nipis, disamping makanan pelengkap lainnya seperti tempe goreng, perkedel, sate ati dan kerupuk. Resep ada disini, silahkan klik Resep Akhir Pekan.

Soto Ayam Bening

Soto Ayam Bening

Makan soto ayam bening panas-panas enak banget. Awalnya saya biasa beli, namun karena suka banget akhirnya masak sendiri, dan sensasinya lebih nikmat, karena suwiran ayam dan pelengkapnya bisa kita tambah sendiri. Dijamin enak dan kemringet habis makannya dan bisa nambah lho.

Mengisi akhir pekan tidak harus berlibur dengan biaya mahal. Jika anda berada di daerah sekitar Ciputat, Pamulang, atau Depok, ada satu tempat yang cocok buat outbound dan menghabiskan akhir pekan anda yaitu D’Kandang Amazing Farm yang berada di Pasir Putih, Sawangan Depok.

Tempat rekreasi sekaligus edukasi bagi anak dan keluarga ini sangat luas. Cuma memang tempatnya jauh tersembunyi di daerah Pasir putih Sawangan. Akses kesana cukup sulit jika dari stasiun kereta, atau pinggir jalan raya.  Lebih baik memang bawa kendaraan sendiri atau darang bersama rombongan.

Biaya masuk pun termasuk terjangkau. Biasanya jika akhir pekan di dekat pintu masuk ada orang senam. Berjalan kemudian melewati beberapa spot yang bagus untuk foto dan ada juga ruang pameran untuk event tertentu.

 

Sebelum jalan lebih jauh ke dalam anda akan menemukan kandang ternak aneka hewan. Dari sapi, kuda dan kambing ada di sini. Posisi kandang ada di sebelah kanan sebelum jembatan.

Di jembatan tengah yang dibuat kreatif dengan hiasan caping di atas
kawat dan aneka pot bunga dari daur ulang sepatu dan wadah lainnya, anda akan senang melihat setiap pengunjung yang melewati jembatan, berhenti sejenak dan naik bagian atas.

Setelah itu anda bisa naik lewat jalan batu agak ke atas anda akan melihat hamparan kebun, bunga dan pepohonan. Semua ditanam dengan beragam cara berkebun yang kekinian.

Hamparan kebun ini juga dipisahkan berdasarkan jenis tanaman yang ditanam. Sehingga anda, anak-anak dan keluarga bisa melihat bagaimana cara berkebun yang baik di sana.

Jadi tidak ada salahnya jika akhir pekan ini ajak anak, keluarga dan tetangga bermain di D’Kandang Amazing Farm.

13 April 2018, Pukul 13:30

Jika di belantara ibukota penuh dengan hiruk pikuk dan dituntut serba cepat, di kampungku kehidupan berjalan biasa saja. Semua berjalan santai, tidak ada kemacetan yang berarti. Anak muda juga tidak selalu sibuk dengan gadget, setiap pagi begini banyak diantara mereka justru pergi ke sawah, membantu orangtuanya di sawah menanam, hingga memanen padi.

Perkembangan zaman telah membuat pemuda sekarang tidak seperti orang tua dulu jika ke sawah. Mereka sekarang tidak segan memakai celana jeans digulung, memakai kaos dan bertopi karena cuaca panas. Mereka mengikuti betul semua tahapan menanam padi. Dari mulai menggaru (membajak sawah) memakai kerbau  hingga musim panen seperti gambar di bawah ini.

Usai memanen padi dan dijemur, anak muda lainnya sesama tetangga membantu membawa padi yang sudah kering, memanggulnya di atas pundak kemudian di bawa ke penggilingan padi.

Begitulah kehidupan di bumi Pasundan, gemah, ripah, loh jinawi. Foto diambil tepatnya di desa Landeuh, Bantarkaret Lebak, Sukabumi. Posisinya tidak persis kampung saya, namun jalan sedikit ke arah selatan. Tetangga kampung masih satu desa. Desa ini berada di bawah kaki Gunung Walat, dekat sungai Cimahi.

Meskipun demikian tidak semua pemuda bertani. Sebagian ada yang kerja di home industri sandal, pegawai, wiraswasta, hingga menjadi TKI ke Jakarta dan luar negeri. Sedangkan yang perempuan selain menjadi ibu rumah tangga, sebagian ada mengajar, karyawan pabrik garmen, dan membuka usaha. Semua pekerjaan mulia di mata Tuhan, mari bertebaran mencari rejeki.

Kembali ke pemuda bertopi yang semangat menanam padi, saya jadi teringat beberapa pesan kedaulatan pangan yang sangat kuat seperti dalam buku Max Havelaar, juga sebuah acara bincang televisi tentang pasangan muda yang berhenti bekerja lalu memberdayakan petani dan mengelola sawah di Bantul Jogjakarta.

Semoga semangat pemuda ini menular kepada pemuda lainnya untuk kembali ke desa, menanam padi dan mengelola sawah. Baik itu sawah milik sendiri maupun milik orang tua.

12 April 2018, Pukul 11:20