Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda esok hari gegap gempita terasa dimana-mana. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan salah satu janji sumpah pemuda yaitu Barbahasa  Satu Bahasa Indonesia.

Jujur saja, kalau sedang semangat dan buru-buru saya sering salah ketik,  dll. Kemudian, terus terang, di era teknologi ini saya sangat kerepotan dengan banyaknya istilah bahasa Inggris terutama bahasa serapan yang dimana antara ucapan dengan tulisan adakalanya kaku.

Tantangan terbesar bahasa Indonesia sekarang ini menurut saya ya itu, menghadang serbuan bahasa asing agar bahasa Indonesia tetap terjaga kualitasnya.

Belum lagi bahasa alay, bahasa instagram, bahasa yang disingkat di wa/sms, dan istilah-istilah kekinian yang dimana tidak semua generasi banyak yang tidak paham bahkan cenderung kurang sopan.

Seperti bokap gue, pembokat, nongki di mana lu, ngehe, typo, dan lain-lain. Terlepas dari itu semua saya juga tidak merasa paling benar dalm hal ini, karena saya juga dalam menulis kadang tidak konsisten dan tidak luput dari kesalahan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda teman-teman semua…

27 Oktober 2018

17.32 WIB

Advertisements

Tangi…tangi…tangi…

(bangun…bangun…bangun) suara itu sampai sekarang masih selalu kuingat ketika masa awal-awal mondok di PP Sunan Pandanaran Jogja.

Perempuan kurus tinggi, berambut panjang berkulit coklat merupakan sosok yang sangat terkenal di komplek putri.

Dia adalah Mbak Maesaroh, santri yang sudah sangat senior tinggal di komplek putri. Dia adalah orang kepercayaan Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud untuk menegakkan tata tertib dan aturan santri putri.

Komplek kami berada di dekat rumah Bapak Ndalem. Jadi kalau nderes mengaji subuh dan sore tinggal jalan sebentar ke dekat rumah Bapak.

Namun, karena santrinya banyak maka ada ritual beragam tentunya sebelum mengaji Al-qur’an dan mempersiapkan sekolah. Di situlah peranan kepala keamanan pondok putri sangat diandalkan. Yaitu membangunkan santri dan mendisiplinkan dalam segala hal baik sarapan pagi, makan siang dan juga sholat sembahyang.

Aku yang masih usia 12 – 15 tahun saat itu selalu takut jika berjumpa Mbak Maesaroh. Jika kita santri di dalam santai dan sibuk sendiri atau bermain dengan santri lain saat ada Mbak Maisaroh semua takut. Bubar…bubar…. geli kalau ingat.

Bagaimanapun juga di komplek putri harus ada perempuan yang berani seperti Mbak Maesaroh yang tanggung jawab penuh atas ketertiban dan kedisipilinan. Dimana para santri Hufadz (Tahfidz 30 juzz) setiap saat ada di komplek putri tahu betul perkembangan tiap komplek.

Ada komplek putri dimana aku tinggal namanya SQL (Sekolah Luar) ada Mts Pandanaran, ada Madrasah Aliyah SPA (MASPA) dan ada Hufadz (Tahfidz 30 juzz) (semoga gak salah tulis). Kita semua sama rasa seperjuangan di Candi jalan Kaliurang.

Kini setelah 26 tahun tahun lewat (1992-2018) saya merasakan manfaat ketika di pondok dulu. Sama halnya kenangan tentang Mbak Maesaroh. Santri perempuan yang tegas dan bersahaja. Saat saya keluar tahun 1995 dia masih memimpin kepala keamanan komplek putri, entah setelah itu siapa penggantinya.

Selamat hari santri buat Mbak Maesaroh dan alumni PPSPA Jogja.

22 Oktober 2018
Pukul 20.00

Meskipun masih memiliki banyak kekurangan dalam proses perekrutan, namun sejauh ini Hamid Muhammad optimis 6.294 CPNS Guru Garis Depan yang sudah dilepas secara simbolis akan bisa menunaikan tugasnya dengan baik.

 

Foto:Koleksi Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah

Dalam pengarahannya, Hamid Muhammad menjelaskan tentang beberapa hal yang harus diperhatikan para guru di daerah penempatan. berkaitan dengan kompetensi guru di sekolah tersebut, kepala sekolah, dan fasilitas sekolah.

Di sisi lain, Hamid juga menyampaikan tiga hal penting terkait proses pembelajaran.

“Pertama, Berkaitan dengan karakter, para GGD harus membekali siswa agar tidak mencontek, memiliki karakter berkaitan dengan kejujuran dan integritas, karakter berkaitan dengan kinerja yaitu disiplin dan pantang menyerah, dan rekatkan betul rasa kebangsaan kita tanpa membedakan suku, ras dan agama.

Kedua, terkait literasi, Kita termasuk bangsa yang kurang suka membaca apalagi menulis. Semaikan bacaan di sekolah dasar.

Dan ketiga berkaitan dengan kurikulum dan efektifitas pembelajaran, ini harus diperhatikan. Di Papua, anak-anak kelas I dan Kelas 2 banyak yang belum bisa membaca dan menulis, ini berat, karena walau tidak bisa membaca dan menulis mereka tidak boleh tidak naik kelas, jadi kawal terus tentang kurikulum,” jelas Hamid.

Tidak muluk-muluk sebenarnya target yang ingin dicapai oleh Kementerian. Berusaha agar pelayanan di daerah 3T meningkat.

“Indikasinya adalah prestasi anak-anak daerah semakin bagus. Kalau banyak anak-anak yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi sampai jenjang SMP, SMA, atau bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, nanti jika mereka bisa sekolah, anak-anak seperti ini yang berada di daerah terpencil inilah yang akan mengentaskan kemiskinan, saya kira itu yang kita inginkan,” ujar Hamid Muhammad.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Drs. Anas M Adam, M.Pd lebih menyoroti tentang upaya menghindari konflik antara PNS GGD dengan guru di daerah penempatan. Anas menekankan agar GGD membaca terlebih dahulu budaya, menyesuaikan diri dengan budaya setempat untuk menghindari konflik.

Kemudian dia juga berharap para peserta GGD jangan melakukan perubahan secara mendadak, akan tetapi lakukanlah perubahan itu secara gradual-pelan-pelan, anak-anaknya, guru-gurunya kemudian baru masyarakatnya. Jangan terlalu berambisi untuk mengubah semuanya karena itu justru akan menyebabkan timbul konflik juga.

“Saya berharap ilmu yang sedikit lebih menonjol yang dimiliki para GGD ini jangan terlalu dipamerkan, jangan merasa paling mampu, jangan pelit ilmu, karena itu akan menimbulkan potensi konflik. Dan saya berpesan, jangan hanya menggerakkan sekolahnya saja, sebaiknya juga memberikan imbas kepada sekolah lainnya di sekitar.” ujar lelaki asal dari Aceh ini sangat hati-hati.

Anas juga menjelaskan perihal lamanya penerbitan Surat Keputusan dan Pemberangkatan GGD. Katanya, permasalahan administrasi yang cukup memusingkan. “Karena kita tidak sendiri, program ini berkaitan dengan instansi-instansi lain, termasuk pemerintah daerah,” katanya.

Tulisan ini dimuat pada tahun 2017, setelah pelepasan PNS Guru Garis Depan

Jangan curiga dengan judul tulisan ini, karena sebenarnya hanya mengutip dari sebuah poster di pinggir jalan.

Jika Anda Bukan Orang Sembarangan, Maka  Jangan Buang Sampah Sembarangan,” Anonim

Hak Cipta foto Begron

 

Sore ini kami pulang menyusuri jalan di sepanjang Ketintang timur menuju pusat perbelanjaan Royal yang bersebrangan dengan Rumkital TNI Angkatan Laut Marsekal Dr. Ramelan dengan naik becak.

Suasana sore itu sangat menyenangkan. Bunga bermekaran dan udara sore yang segar membuat saya senang menikmati kota Surabaya yang menurut Bung Karno dijuluki sebagai dapur nasionalisme.20180801_160432-1

Kampus Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengingatkan saya akan sahabat Arien Tri Widiastuti yang sekarang tinggal di Belanda. Dulu kita sekantor dan dia sering bercerita tentang tokoh sastra terkemuka yang merupakan dosennya yaitu Pak Budi Darma.

Musim kemarau membuat bunga-bunga yang berada di sekitar kampus kering berguguran, belum lagi ruas jalan yang dilewati kendaraan pribadi terlihat sangat ramai. Saya melewatinya dari belakang. Dari Fakultas Teknik Informatika, Fakultas Ekonomi, Pusat Bahasa dan Fakultas Ekonomi Sosial Budaya.

Sepertinya kampus UNESA tertata dengan baik. Depannya ada deretan unit usaha menyerupai koperasi mahasiswa. Namun di pinggir jalan arah Royal usaha masyarakat juga banyak diminati mahasiswa seperti tempat fotokopi, warung makan, bakso dan lain sebagainya.

20180801_160818-1

Tidak terasa kami sampai di Pusat Belanja Royal. Kami berjalan jauh untuk dari perempatan ke dekat pintu keluar pusat belanja. Seperti minggu lalu, di Surabaya harus hati-hati menyebrang karena jalannya sangat padat.

Kami menunggu bis ke arah Bungur Asih. Tidak lama kemudian ada Bis Damri datang dari arah Tanjung Perak. Kami naik bis Damri yang nyaman dan membayar Rp.6000 ke terminal Bungur Asih untuk selanjutnya menuju ke Plaosan Blimbingsari Malang.

Plaosan, Blimbingsari Malang
Pukul 20:13

“Saya masuk di dalam buku-buku, saya membaca buku banyak sekali, malahan saya berkata, in the world of the mind, I met these great men”  Ir.Sukarno, 2 Februari 1963

Tidak terasa sudah hampir seminggu di Blitar. Berkumpul dengan keluarga Mas Arif. Hari Sabtu kemarin, adalah hari terakhir saya di Banggle Kanigoro, pagi-pagi saya berangkat untuk mendokumentasikan membuat video di tiga tempat dimana saya mengenal sejarah Presiden Sukarno. Meski sudah 12 tahun menikah, saya biasanya berkunjung ke makam Bung Karno saja, baru tahun ini saya komplek terpadu museum dan perpustakaan.

Sukarno dan Buku
Sejak muda, Sukarno selain mencintai seni dan menguasai banyak bahasa, Beliau adalah pemimpin yang rajin membaca.Dia sangat menyukai buku, menulis opini, dan berdiskusi banyak hal dengan para pahlawan pendiri negeri ini.

Isi orasi sangat membahana. Membangkitkan semangat juang dan rakyat Indonesia rela berkumpul mendengar pidatonya. Anda akan bisa melihat buku apa yang dibaca oleh Sukarno, serta dalam kurun waktu 1945-2018 sudah berapa orang dan penerbit menulis tentang pemikirannya dari pelbagai sudut pandang.

Beliau juga mendapat gelar Honoris Causa dari pelbagai universitas di Indonesia karena jasanya yang besar kepada republik ini.

Jika generasi anak muda sekarang malas membaca apa yang salah dengan pendidikan di negeri kita. Terlalu sibuk ngurusin hal-hal tidak penting atau terlalu banyak online.Bagaimanapun juga minat baca itu sulit jika tidak dibiasakan (tidak bermaksud menggurui).

Empat Bagian Gedung Museum dan Perpustakaan

Namun, meskipun demikian kita harus belajar dari pendahulu kita dengan menelusuri atau napak tilas jejak mereka seperti Museum Bung Karno yang terpusat satu lokasi dengan perpustakaan proklamator di Kota Blitar.

Selain makam Bung Karno yang terletak di atas Ada empat bagian gedung yang berada menyatu namun berbeda fungsi. Pertama Sebelah air mancur atau gedung memanjang penghubung makam dengan museum utama ada koleksi perpustakaan anak yang nyaman dengan beragam buku bacaan untuk anak-anak. Persisnya dekat gazebo, jika anda membawa anak mampir kesini.

Screenshot_2018-07-31-09-44-42-1

 

Setelah itu bagian kedua ada gedung utama di sebrangnya, yaitu Museum Bung Karno. Di sana ada foto-foto masa kecil Bung Karno, saat perjuangan, proklamasi, masa pembuangan, foto keluarga, kedatangan tamu negara dan lain sebagainya bisa anda lihat di sini.

Video Museum Bung Karno. Bisa di lihat di sini.

Setelah anda melihat ke museum, anda bisa menyebrang ke bagian tiga gedung yaitu perpustakaan proklamator koleksi umum. Di sana terdapat majalah, koran, buku sejarah, buku populer, novel, ekonomi dan lain sebagainya. Ratusan judul buku ada di sini dengan ruang baca yang nyaman.

Barang anda dititipkan di satpam perpustakaan.Anda juga bisa meminjam buku di sini yang terdiri dari dua lantai.Mendaftar jadi anggota bagi warga Blitar, dan mengusulkan buku yang ingin anda baca.

Berikut Video Koleksi Umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar.

Sebenarnya ada dua pilihan. Jika anda orang dari luar kota, anda ingin membaca langsung buku karya Bung Karno dan buku karya orang lain tentang sosok Bung Karno, anda bisa melewati perpustakaan koleksi umum, langsung di lantai dua menyebrang ke gedung bagian keempat yaitu perpustakaan koleksi khusus Bung Karno.

Anda bisa melihat audio visual, dan membaca di tempat. Koleksi khusus Bung Karno di jaga oleh beberapa orang petugas. Setelah mengisi daftar pengunjung, anda bisa melihat koleksi buku yang ada di etalase dan katalog.

Di sini anda hanya bisa membaca di tempat,tidak bisa dibawa pulang maksimal pinjam dua buku. Bagus-bagus koleksinya.

Berikut Video tentang Koleksi khusus Perpustakaan Bung Karno di lantai dua.

Video yang saya buat memakai perangkat gawai biasa dengan menggunakan aplikasi FilmoraGo. Saya menyadari video yang saya buat amatiran, sangat jauh dari sempurna. Harap maklum jika banyak kekurangan di sana sini.

Ketintang, 31 Juli 2018 Pukul 10.11 WIB

Saya cukup lama mengikuti kecendrungan anak-anak Indonesia yang terlahir setelah tahun 2010 ke bawah, kaitannya dengan minat mereka terhadap membaca dan olahraga, untuk menghindari kecanduan mereka terhadap teknologi internet dan permainan (game) online yang ada dalam perangkat lunak (gadget) maupun komputer/laptop.

Meski penelitian saya ini belum sepenuhnya benar karena permasalahan anak di tiap daerah berbeda, namun saya optimis di masa yang akan datang, anak-anak Indonesia akan memiliki minat yang sangat tinggi terhadap dunia membaca atau dunia pustaka karena pendidikan orangtua dan semakin menariknya perpustakaan di setiap wilayah yang ada di Indonesia.

20180724_124350

 

Sejak awal tahun 2018, ada beberapa provinsi yang saya kunjungi seperti Perpustakaan DPR RI, Perpustakaan Jawa Barat, Perpustakaan Jawa Tengah, Grhatama Pustaka Jogjakarta, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta, Perpustaan Provinsi Banten, Perpustakaan Saidjah Adinda Lebak, Perpustakaan Daerah DKI Jakarta di Kuningan, Perpustakaan Kemendikbud, Perpustakaan Kementerian Keuangan, Perpustakaan Kementerian Pertanian, Perpustakaan Kabupaten Sukabumi, Perpustakaan Kota Sukabumi dan Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar.


Anak-anak banyak yang berkunjung ke perpustakaan bersama teman-teman satu kelas atau sepermainan. Ada juga yang diantar oleh ibunya usai dijemput dari sekolah. Beragam cara mereka dilakukan orang tua agar sang anak terhindar dari permainan (game) di gadget yang sudah seperti narkoba, sulit dihentikan.

Ki Hadjar Dewantara pernah melukiskan tentang pentingnya membaca bagi anak-anak. Terutama bila dikaitkan dengan keutamaan pendidikan.

Berkaitan dengan minat olahraga. Keberadaan Lingkungan, orangtua, remaja, dan sanak saudara yang gemar berlari setiap pagi (jogging) sebelum bekerja, atau naik sepeda untuk berangkat ke kantor atau berwiraswasta sudah semakin marak di kota-kota besar. Semoga para orang tua anak-anak Indonesia tidak sekedar suka menonton olahraga, tapi juga suka berolahraga.

Meskipun bagi kalangan petani di desa, berjalan kiloan meter atau bersepeda ke sawah itu sudah lama di lakukan sejak kecil hingga menjelang hari tua.

ol (6)

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang anak muda kekinian yang peduli energi dan lingkungan silahkan klik di sini Anak Muda Peduli Lingkungan dan Energi.

Kita memang tak bisa memaksa anak menjadi seperti yang diinginkan oleh orangtua. Namun, jika kita memberi contoh yang baik, maka dengan sendirinya sang anak bisa menjadikan orangtua sebagai figur panutan, begitu juga sebaliknya.

Maka saya berharap, di masa yang akan datang anak-anak Indonesia akan menorehkan prestasi di berbagai bidang, baik dalam penemuan (inovasi) karena ketekunan maupun dalam prestasi olahraga.

Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar, Jawa Timur, 23 Juli 2018

Pukul 13.17 WIB

Berperawakan tinggi besar, tutur katanya lembut dan sopan. Setiap kata yang diucapkan terucap dari hati yang terdalam. Dengan sabar dia bercerita panjang lebar kiprahnya selama ini di dunia pendidikan. Selama mengajar jadi guru Taman Kanak-Kanak hingga menjadi Kepala TK Asmaul Husna Ranca Ekek Kabupaten Bandung.

Jika selama ini ada slogan “Guru Mulia Karena Karya” sepertinya Dr. Tjitji Wartisah, S.Pd, M.Pd (biasa disapa Cici) sudah memenuhi segala kriteria. Tidak banyak di Indonesia Kepala Taman Kanak-Kanak sudah lulus S3, bergelar Doktor, serta sudah menulis 73 buku yang diterbitkan penerbit ternama di Ibu Kota.

Sangat beralasan kiranya, jika gelar Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional pada tahun 2017 ini berhasil ia sandang. Selain memiliki banyak karya dengan produktivitas yang luar biasa dalam dunia literasi, Cici Wartisah juga memiliki banyak terobosan serta menjadi teladan di sekolah, di lingkungan keluarga, dan masyarakat.

Dididik Orang Tua untuk Jujur dan Kerja Keras

Cici Wartisah adalah perempuan kelahiran Bandung 19 Februari 1971. Ia adalah anak keenam dari delapan bersaudara, pasangan D’Sape’i dan Sumiati. Sejak kecil orangtuanya selalu mendidik, mengasuh, dan menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Mereka selalu mengajarkan kejujuran, kerja keras, itu yang selalu diterapkan. Kini ayah ibuku sudah meninggalkan kami,” ujar Cici panjang lebar. Meskipun demikian, Cici ingin mewariskan didikan orangtua pada ketiga anaknya sekarang.

Istri dari Engkos Kamaludin ini berusaha mengatur keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga di sela kesibukannya. Ia merasa bersyukur memiliki suami yang baik, sangat menyayangi, penuh perhatian, selalu mendukungnya dalam kondisi apa pun. Karena dukungan dan motivasinya saya bisa meraih cita-cita dan berbagai prestasi. Cici memiliki tiga orang anak, dua orang putri dan satu orang putra. Anak saya paling besar bernama Fauziah Nurul Aini, lahir yang kedua bernama Tazkiyah Nur Mujahidah, dan putra bungsu kami bernama Salman Shidiq Al Mujahid.

Rajin Membaca dan Haus Ilmu Pengetahuan

Sebelum mengajar di TK Asmaul Husna Rancaekek sekarang, Cici mengajar di TK Darussalam Bumi Asri Padasuka Cimenyan Bandung. Untuk menunjang kariernya, setiap hari sebelum mengajar, dia rajin membaca buku dan memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang pendidikan anak usia dini. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi terbuka lebar. Pada 2002, Cici melanjutkan kuliah di Universitas Pendidikan Islam Bandung jurusan

Administrasi Pendidikan dan selesai tahun 2007. Motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 terus membara.

“Alhamdulillah saya diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk bisa lanjut kuliah S2 di STKIP Pasundan Cimahi jurusan Pendidikan IPS, walaupun tidak linear, saya bersyukur karena saya lebih mendalami materi dan wawasan sosial sehingga menumbuhkan kepekaan serta kepedulian untuk memajukan masyarakat dan pendidikan di Indonesia,”ujarnya semangat.

Pada tahun 2009 Cici berkesempatan mengikuti Lomba guru Berprestasi jenjang Guru TK meraih juara II Tingkat Nasional. “Keberhasilan di tahun ini sangat membawa berkah, karena saya mendapat hadiah luar biasa, umroh dan beasiswa melanjutkan kuliah S3,” ujarnya senang. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan, program Doktoral dia peroleh dari Universitas Nusantara (UNINUS) jurusan Manajemen Pendidikan.

Menulis 73 Buku dan Aktif di Organisasi

Di usianya yang sudah matang saat ini, bertubi-tubi keberuntungan menghampiri perempuan hitam manis ini. Bahkan pernah meraih “Teacher of the Year” pada tahun 2016 dan memiliki banyak kesempatan berbagi ilmu dengan sesama guru di berbagai pelosok Indonesia.

“Alhamdulillah dari dulu saya hobi menulis dan sering menulis walaupun untuk kalangan terbatas. Akan tetapi tahun 2013 saya diminta oleh Penerbit Erlangga untuk menulis buku-buku Erlangga. Sampai tahun ini sudah cukup banyak buku-buku karya saya yang diterbitkan Erlangga,” ujarnya.

Sampai saat ini ada 73 buku karyanya yang sudah diterbitkan. Beberapa judul seperti empat seri buku berjudul “Hobiku Membaca”, empat jilid buku berjudul “Aktivitas Pendidikan Karakter” dan “Seri 4 Sahabat – Tematik Saintifik usia 4-5 tahun Tema Lingkunganku” (Sesuai Kurikulum 2013 PAUD) dan masih berderet judul buku lainnya.

Cici juga senang berorganisasi, baik organisasi kemasyarakatan, sosial dan juga organisasi profesi. Pernah menjadi Sekretaris Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak (IGTKI-PGRI) di Kabupaten
Bandung dua periode, PKK RW, sekretaris dan PKK Kabupaten Bandung pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung sebagai Bendahara, juga sekretaris II di Forum Doktor. “Aktif di berbagai organisasi merupakan salah satu bentuk kontribusi untuk terlibat pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM),” ujarnya menyampaikan alasan kuat aktif di organisasi.


GE-BOT Membawa Berkah Juara

Selama mengikuti ajang pemilihan Kepala Berprestasi tingkat Nasional pada 2017 ini, dia mempresentasikan Karya nyata hasil pengalamannya berjudul “GE-BOT Kreatif Bermain Belajar Permulaan Berhitung dan Membaca”.

Menurut Cici di hadapan juri, permainan ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Beberapa orang menganggap mengajarkan matematika atau membaca permulaan sangat sulit dilakukan pada anak usia dini. Oleh karena itu media pembelajaran ini dibuat untuk membantu ibu guru dalam belajar.

“Media GE-BOT Kreatif Untuk membaca Dan berhitung yang menyenangkan, merupakan alat peraga edukatif yang murah meriah, mudah  diperoleh dari bahan bekas,” ujar Cici sambil memperlihatkan alat peraga GE-BOT dari olahan limbah. Apa yang disampaikan media GE-BOT ini sudah ia terapkan lama di TK Asmaul Husna Bandung.

Maka saat namanya dipanggil ke depan menjadi juara I Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional, dia merasa sangat gembira, bangga dan haru.

“Saya tidak mengejar keberhasilan untuk pribadi, selama saya menjadi kepala sekolah saya berusaha untuk menjadikan lembaga sekolah yang terbaik, anak didik yang berpotensi, serta memotivasi guru-guru di sekolah untuk selalu menjadi guru yang hebat, serta berani bersaing dengan guru lain,” ungkapnya menutup cerita. (ER)

Rasa kebersamaan dan kedekatan, dirasakan oleh hampir semua Peserta Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pendidikan Masyarakat (DIKMAS) pada 14-20 Agustus 2017 silam. Begitu juga dengan Dwi Asti SPd. PAUD, Guru Taman Kanak-Kanak (TK) Mamba’ul Ulum, Bajubang, Provinsi Jambi. Pengalaman berharga ini mungkin tidak akan terulang sepanjang hidupnya.

Perempuan hitam manis berkaca mata ini tidak menyangka akan menjadi juara III Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional. Penghargaan ini merupakan anugerah yang sangat luar biasa sekaligus amanat yang senantiasa ia emban untuk memberikan yang terbaik dalam segala hal. Ada segurat pesan yang ingin disampaikan kepada sesama peseta. ”Buat para guru seperjuangan agar jangan pernah takut untuk melangkah dan berinovasi serta berkreativitas” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini kalem.


Disiplin Tinggi Anak Petani Karet

Dwi Asti lahir pada 24 Desember 1985 di sebuah desa kecil di Desa Bajubang berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bernama Sunarto sang Ibu Wasiati, bekerja sebagai petani karet dan sekolah hanya sampai tingkat Sekolah Dasar. “Dari kecil saya diajarkan untuk kerja keras, tanggung jawab dan menghargai waktu serta disiplin untuk segala hal,” ujar Asti.

Sebagai anak tengah, Asti kecil terbiasa membantu mengatur keluarga. Saat kelas 6 SD, sang ibu menderita sakit parah cukup lama dan harus dirawat di rumah sakit ditunggui sang Bapak. “Sejak itu urusan rumah tangga dari memasak, mencuci pakaian dan piring, menyapu sampai menggosok baju saya lakukan dengan penuh tanggung jawab, sadar harus menggantikan posisi ibu,” ucapnya.

Ada kenangan yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya berkaitan dengan ketiadaan uang saat ia harus membayar uang Lembar Kerja Siswa (LKS) menjelang ujian sekolah. Asti tidak berani meminta ataupun meminjam kepada kerabat, akhirnya ia memecahkan celengan yang isinya uang koin. “Saya membayar uang Buku LKS itu dengan uang koin ke sekolah. Sedih rasanya,”ujarnya.


Jangan Menilai Sesuatu Dari Uang

Kepahitan dalam hidup telah membentuk kepribadian Asti menjadi sosok yang tangguh. Lulus SMA ia selalu mencari lowongan di koran. Sebelum menjadi guru TK ia pernah bekerja sebagai sales, hingga akhirnya ada kesempatan menjadi guru honorer untuk megikuti pendidikan 6 bulan menjadi pendidik anak usia dini dengan biaya yang tidak terlalu mahal.

Setelah berkonsultasi dengan orangtua dan didorong kecintaannya terhadap anak, Asti mengikut pendidikan itu, dan langsung mengajar sesudahnya. “Akan tetapi saat itu tawaran mengajarnya jauh ada di luar kota, Ibu mengizinkan tetapi dia mengatakan kalau ada tempat yang dekat berapapun gajinya di syukuri saja,” ujar Asti yang membuat ia berpikir panjang.

1522895262970

Dengan beberapa pertimbangan, Asti memutuskan untuk menjadi honor di TK dekat dengan rumahnya dengan harapan dapat memberikan yang terbaik buat lingkungan. “Ibu selalu mengingatkan untuk tidak menilai sesuatu dari uang. Berapapun honor yang di terima di syukuri,” kata Astri.

Selain itu, dalam setiap pekerjaan Asti tidak mau asal-asalan, selalu menginginkan yang terbaik sebisa mungkin bekerja profesional. Asti juga tidak malu belajar dan menanyakan pada guru-guru
senior yang sudah banyak pengalaman mengajar.

“Akhirnya ada jalannya saya kuliah S1 PAUD bea siswa dari Universitas Terbuka Tahun 2008,” ucap Asti girang.

Sebagai guru profesional Asti selalu berpikir positif, sebab profesi guru adalah kemulian apalagi guru Anak Usia Dini. Anak-anak masih bersih Dan suci. Jika Ada waktu luang sempatkan diri untuk selalu haus akan informasi tentag anak usia dini.

Di sela kesibukannya mengajar, Asti suka membaca buku-buku seputar anak usia dini maupun psikologi perkembangan buat inovasi dalam pembelajaran ataupun bagaimana menstimulasi perkembangan anak usia dini yang baik dan benar.

“Karena kita adalah guru kedua mereka setelah ibu mereka dirumah. Samakan persepsi pengajaran di rumah dan di sekolah agar tujuan kita memberikan pondasi karakter melekat pada diri anak sertã konsep-konsep dalam pembelajaran,” ujarnya tegas.

Mengembangkan Kognitif Lewat Permainan Cokabar

Saat ini, Asti sedang kuliah S2 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Sifuddin Jambi. Meraih gelar Master bukan untuk mengejar titel mentereng, namun untuk mengembangkan diri sertã memperluas pengetahuan untuk mewujudkan pendidik yang profesional.

Karya nyata Asti yang dipersentasikan dalam kegiatan Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional kemarin berjudul “Permainan Cokabar Dalam Mengembangkan Kognitif Anak Usia Dini Di Kelompok B1 Tk Mamba’ul Ulum Bajubang”.
Permainan Cokabar adalah singkatan dari permainan Cocok Angka dengan Gambar.

Ide Cokabar adalah terinspirasi dengan coklat cukybar yang rasa nya enak dan disukai oleh banyak kalangan anak-anak hingga dewasa. Diharapkan dengan permainan ini anak-anak juga dapat menyukai permainan ini. “Seperti kita ketahui otak akan dapat menerima sesuatu jika dalam keadaan senang. Dan sejalan dengan prinsip pembelajaran di taman kanak-kanak salah satunya anak bermain seraya belajar atau belajar seraya bermain,” ujar Asti menguatkan alasan.

Latar belakang Asti mengangkat masalah kognitif khususnya tentang lambang bilangan. Sebab banyak anak- anak yang kurang memahami bentuk lambang bilangan dengan angka/ bilangan yang di sebut/ diucapkan oleh anak. Anak – anak hapal untuk berhitung 1-10 tetapi untuk menunjukkan bentuk lambang bilangan abanyak yang kurang memahaminya.

Jangan Sombong dan Menunda Pekerjaan

Berkat Cokabar, Asti meraih juara III Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional. Penghargaan pemenang guru prestasi ini merupakan anugerah yang sangat luar biasa bagi Asti. Sekaligus amanat yang diemban buat senantiasa berusaha memberikan yang terbaik dalam segala hal.

Ajang kompetensi yang bergengsi ini bukan lah sesuatu yang dapat membuat kita menyombongkan diri tetapi juga ajang silaturahmi antar pendidik di seluruh provinsi. Di tempat ini lah kita di ajarkan untuk profesional.” Jangan pernah sombong dengan apa yang telah Allah berikan hari ini, jangan pula menunda pekerjaan. Teruslah berkarya buat negeri tercinta kita menjadi pendidik anak usia dini yang profesional,” pungkas Asti (ER)

Dwi Asti SPd.AUD
Juara III
Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional 2017

Perempuan berkulit putih dan berkacamata itu tidak menyangka, perjuangan mengikuti Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Berprestasi akan berakhir pilu. Meski menorehkan prestasi sebagai juara II Guru Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional, Fransiska S.Pd. AUD tidak akan melupakan bagaimana ujian hidup kepada dirinya tidak berhenti mendera.

Untuk bertanding di tingkat nasional, Siska tidak menyangka akan membutuhkan biaya besar. Ia berusaha membicarakannya dengan Kepala TK. Namun, reaksinya mengecewakan. Pihak sekolah tidak bisa membantu secara finansial, Siska harus berusaha sendiri jika ingin maju. “Saya merasa tidak dihargai dan sangat tidak menyangka ketika Kepala TK dimana saya mengajar justru ingin memotong gaji saya karena tidak masuk kerja selama mengikuti kegiatan guru berprestasi,” ucap Siska.

Pada 14-20 Agustus 2017 Fransiska mengikuti kegiatan Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) PAUD DIKMAS yang diadakan Direktorat Pembinaan GTK PAUD DIKMAS di Jakarta. Selama seminggu ia meninggalkan anak, keluarga dan murid-muridnya di TK Al-Hikmah Kalidoni Palembang, Sumatera Selatan.

Anak Buruh Cuci Pengajar Les Sempoa

Fransiska lahir pada 6 November 1983 di Palembang. Anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Bapak Salik dan Ibu Lenni lahir dari keluarga sangat sederhana. Untuk mencukupi kebutuhan Pak Salik saya bekerja sebagai buruh bangunan dan BU Lenni menjadi buruh cuci di Kalidoni.

Berkat kerja keras orangtua, Siska bersama dua saudaranya berhasil melanjutkan sekolah sampai tingkat SMA. Bahkan, kecerdasan Siska sudah terlihat sejak kecil hingga remaja, terbukti selalu mendapat peringkat bagus dan lolos masuk SMUN 5 Palembang,salah satu SMU Unggulan di kota Palembang.

Namun sayang, karena faktor ekonomi keluarga, istri dari Dian Wahyudi ini tidak bisa melanjutkan kuliah. Setamat SMU dia melamar kerja bekerja menjadi guru di Tk Al-Ikhlas, namun karena jauh dari rumah ia berhenti megajar. Pada tahun 2004 ia melamar kembali menjadi guru di Tk Al-Hikmah 2 dan TKA/TPA Nurdini yang tidak jauh dari ia tinggal. Setelah menjadi guru selama 4 tahun saya memutuskan untuk lanjut kuliah. “Saya ingin menambah ilmu pengetahuan karena memiliki banyak kekurangan, Dikarenakan latar belakang pendidikan saya yang hanya lulusan SMA. Saya pun mulai masuk kuliah S1 PAUD di Universitas Terbuka (UT) pada 2008,” ucap Siska.

Gaji sebagai guru TK dan TPA sangat kecil, apalagi hanya tamatan SMA, ibu dua anak ini merasa tidak akan cukup. “Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mengajar les sempoa dan les privat. Saya juga dapat bantuan dari pemerintah untuk dana kualifikasi S1/D4. Lulus kuliah pada tahun 2012 dengan IPK 3,45,” ujar Siska Gembira.

Menangis Ingat Anak Saat Penjurian

Sejak menikah pada 2011, Siska memiliki dua anak laki-laki lucu, bernama Achmad Fathan Siswahyudi dan Achmad Hilal Ramadhan. Pada tahun 2013 Siska ditugaskan oleh kepala sekolah untuk mengikuti seleksi pemilihan guru berprestasi tingkat kecamatan kalidoni dan saya berhasil meraih juara pertama. Namun saya tidak mau melanjutkan ke tingkat kota Palembang. Hal ini dikarenakan saya baru saja melahirkan anak saya yang pertama.

Pada tahun ini, Siska mengikuti lagi ajang pemilihan Guru TK Berprestasi. Setelah lulus di tingkat kecamatan untuk lanjut ke tingkat Kota, bermodalkan laptop pinjaman dari yayasan ia gunakan sampai ke tingkat nasional. Sekuat tenaga ia memberikan yang terbaik bagi dan mempersiapkan materi sebagus mungkin.

Ada momen yang membuat Siska tidak kuat menahan air mata. “Saat tes wawancara saya sempat menangis di depan juri dikarenakan teringat kedua anak saya. Karena pengorbanan yang paling besar mengikuti seleksi lomba guru berprestasi bukan hanya sekedar materi tapi juga kehilangan waktu bersama anak-anak saya. Karena sebelumnya saya tidak pernah meninggalkan kedua anak saya dalam waktu yang cukup lama,” ucapnya sendu. Di tingkat Kota Palembang ia berhasil menjadi juara I, berhadiah ibadah Umroh yang ia berikan kepada ayahanda tercinta.

Meski sudah menang, Siska masih mendapat cibiran dari rekannya bekerja. “Mereka mengatakan kalau saya menang hanya karena kebetulan saja. Namun saya tidak berkecil hati, saya tetap memberikan yang terbaik, hasilnya tidak sia-sia hingga berhasil mendapatkan juara pertama kembali di tingkat provinsi,” ungkapnya terus terang.

Inovasi Ulat Bulu Meningkatkan Kemampuan Bahasa

Mendapatkan predikat guru berprestasi menjadi beban cukup berat bagi Siska. Karena dia harus memberi contoh teladan baik dalam sikap dan perilaku saya bagi anak murid, rekan guru, wali murid dan masyarakat.

Untuk mengikuti pemilihan guru berprestasi ini Sisja menulis karya nyata yang merupakan inovasi dari hasil pemikiran dan pengalaman selama ini berjudul “Upaya Meningkatkan Kemampuan
Bahasa Melalui Membaca Menggunakan Permainan Kata Dan Si Ulat Bulu Pada Anak Kelompok B1 Tk Al-Hikmah 2 Kalidoni Palembang”.
Tentu ada argumen kuat mengapa ia mengangkat judul ini? Menurut Siska, fenomena yang terjadi di lapangan bahwa banyak SD yang mengajukan persyaratan atau tes masuk dengan menggunakan konsep akademik terutama tes “membaca dan menulis”. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan strategi pengembangan yang sesuai dengan karakteristik anak Taman Kanak-kanak dan pengembangannya harus tetap berpijak pada prinsip-prinsip dasar yang hakiki. Di mana pendidikan sebagai wahana untuk mengembangkan berbagai kemampuan praskolastik yang lebih subtansial.

Pemilihan model pembelajaran permainan kata dan si Ulat Bulu dapat menjadikan sebuah alternatif dalam pengembangan kemampuan membaca. Permainan kartu kata dan si Ulat Bulu memberikan suatu situasi belajar yang santai dan informal, bebas dari ketegangan dan kecemasan. Anak-anak dengan aktif dilibatkan dan dituntut untuk memberikan tanggapan dan membuat keputusan.

Harapan saya prestasi ini jangan sampai membuat saya merasa puas. Karena perjuangan tidak hanya sebatas meraih predikat sebagai guru berprestasi, tetapi masih banyak yang perlu diperjuangkan. “Rencana saya ke depan saya harus menambah wawasan saya tentang pendidikan Anak Usia Dini sehingga bisa membuat pembelajaran yang lebih inovatif lagi. Saya juga harus mendorong pengembangan guru-guru menjadi guru yang profesional bukan hanya sekedar pengakuan tetapi realita,” pungkasnya optimis. (ER)

Fransiska S.Pd.AUD adalah Juara II Guru TK Berprestasi tingkat Nasional 2017

Penampilannya sangat sederhana, sorot matanya redup dan cenderung pendiam. Tak banyak yang ia katakan selain mengucap syukur tak terhingga pada Allah SWT, saat namanya dipanggil sebagai juara I Guru Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional. Perasaan haru dan gembira bercampur menjadi satu, wajahnya seketika merah merona saat namanya dipanggil sebagai juara I Guru Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 18 Agustus 2017 di Jakarta.

Tidak terbersit sedikitpun dalam hati Susi Sugianti, perempuan kelahiran Subang 1 Februari 1982 ini akan terpilih menjadi juara. Karya Nyata yang dipersentasikanpun terbilang sederhana, tentang kreativitas menggambar bagi anak TK. Akan tetapi siapa sangka justru karya yang sederhana itu, mudah dicerna siswa dan Nci (biasa Susi dipanggil) berhasil mempertahankan karyanya dengan gigih dan seksama di hadapan para juru yang merupakan akademisi mumpuni di Pendidikan Anak Usia Dini.

Sangat Terpengaruh Sosok Ibu
Tatapan mata sendu, senantiasa terpancar dari perempuan bertubuh mungil ini. Sejak kecil Susi terbiasa hidup menderita. Lahir dari keluarga broken home dan memiliki ayah seorang penjudi ulung, membentuk jiwa Susi menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting.

Edy Sumartoyo sudah lama menginginkan anak laki-laki. Bagi Edy, anak perempuan tidak bisa berbuat apa-apa, membuat Susi terlecut hatinya untuk bekerja keras membanggakan kedua orangtua. Kelembutan hati sang ibu, Encem Sukaesih sangat mempengaruhi kepribadian dirinya untuk senantiasa sabar dan hidup welas asih dengan sesama.

“Setiap hari mamah bekerja keras mencari nafkah sambil berjualan, tapi yang nyesek jualannya itu minuman keras. Sering saya ketakutan ketika harus membantu melayani orang mabuk. Hati berontak, menjerit tapi tidak bisa berbuat apa – apa,” ujarnya lirih sambil menahan perasaan. Selain membantu jualan minuman keras, Susi juga menceritakan kisahnya sejak usia enam tahun berjualan es mambo keliling membantu orang tua.

Pada tahun 2005 Susi mendaftar di D2 Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak di Sekolah Tingi Agama Islam Sabili. Ibunya sangat bahagia ketika melihat dirinya kuliah. Harapan yang sering diungkap ibu Encem Sukaesih adalah ingin melihat Susi wisuda dan menikah. Namun semua tidak sesuai rencana. “Beliau meninggal dalam pelukan saya usai wisuda, itu pengalaman terpahit dalam hidup saya ”ucap perempuan bertubuh mungil ini tak kuasa menahan air mata.

Sepeninggal sang ibu, Susi tidak larut dalam duka. Dia memiliki motivasi belajar tinggi, rajin membaca dan mencintai ilmu pengetahuan. Tidak hanya berhenti meraih gelar sampai Diploma II, pada ahun 2008 untuk meningkatkan dan mengembangkan diri, Susi melanjutkan kuliah S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Terbuka.

Hijrah Ke Nusa Tenggara Timur
Setelah menikah, pada 17 Juli 2009 Susi hijrah ikut suami yang bertugas di daerah terpencil yaitu Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Walaupun tinggal satu wilayah tapi mereka berdua tidak tinggal bersama. Jarak dari kota Soe ke tempat tugas suaminya kurang lebih dua jam di tempuh memakai ojeg motor. “Suami pulang satu pekan sekali. Kalau musim hujan tidak pulang karena harus melewati tiga sungai,” ujar perempuan berhijab ini menjelaskan.

Naluri sebagai guru tidak bisa tergantikan dengan apapun. Di kota Soe Susi dipertemukan dengan pengurus Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang mengeloala PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). “Saya pun mulai mengajar di PAUD Aisyiyah dengan honor 50.000 perbulan. Suami merasa kasian. Setiap hari selain menjadi guru saya juga harus berperan ganda menjadi petugas kebersihan,” ujar perempuan yang pintar menari ini seraya tersenyum simpul.

Pada November 2009, Susi mendapat informasi dari suaminya ada satu formasi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil untuk guru TK. “Suami sangat mendukung saya untuk daftar. Saya menolak dengan alasan tidak jauh dari keluarga. Saya tidak ingin berjauhan, suami tetap menyarankan, akhirnya saya ikut daftar. Alhamdulillah saya lulus tes CPNS memakai ijazah D2,” ungkapnya mengingat awal diterima menjadi PNS.
Menjadi Juara Berkat Menggambar Bebas

Selama enam tahun mengajar di TK Pembina Kota Kupang, sudah banyak asam garam yang dirasakan guru yang pandai menari ini dalam mendidik murid-muridnya, hingga akhirnya Susi berani mengikuti ajang kompetisi Guru Berprestasi. Peran suami memiliki andil besar dalam ajang kali ini, karena harus berbagi peran, mengurus ketiga buah hatinya yang ditinggalkan.

Selama ini Susi merasa belum bisa berbuat banyak dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini. “Kepercayaan dari rekan guru, kepala sekolah dan para orangtualah yang meyakinkan saya bahwa saya layak menjadi guru berprestasi. Dan ini memotivasi saya untuk ikut lomba guru berprestasi dengan harapan dapat meningkatkan kinerja, disiplin, dedikasi dan loyalitas saya,” ujarnya semangat.

Dalam ajang prestisius ini, Susi memaparkan Karya Nyata berjudul “Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Menggambar Bebas Pada Anak,” judulnya memang sederhana, akan tetapi Susi memiliki pendekatan metodologi yang menarik dan menyenangkan anak didik.

“Judul ini diangkat ketika saya melihat kondisi di kelas banyak anak – anak yang tidak minat dalam menggambar padahal berdasarkan teori banyak sekali manfaat menggambar bagi perkembangan anak,” ujarnya rendah hati sambil menunjukkan para siswanya menggambar bebas.

Dalam pemaparannya Susi menegaskan jika anak dilatih berkreasi menggambar bebas, mereka akan terbiasa melatih kelancaran, mengemukakan gagasan, kelenturan untuk mengemukakan alternatif pemecahan masalah, orisinalitas dalam menghasilkan pemikiran, elaborasi dalam gagasan dan keuletan. Temuan yang ditemukan Susi Sugianti, membuat tercengang para juri, sehingga akhirnya menjadi yang terbaik dari seluruh perwakilan provinsi yang ada di Indonesia.

“Menjadi suatu kebanggaan bagi saya bisa menjadi juara 1 guru berprestasi tingkat nasional. Ini menjadi sebuah momen yang sangat luar biasa. Banyak airmata yang harus di keluarkan. Saya berjuang meyakinkan pihak Dinas Pendidikan Kota Kupang, bahwa di tingkat nasional ada lomba berprestasi untuk jenjang guru TK,” ujar perempuan yang suka membaca buku agama dan motivasi ini seraya tersenyum gembira. (ER)

Susi Sugianti adalah
Juara I Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional 2017

 

 

 

Perempuan manis ini akrab dipanggil Novie oleh teman-temannya, berpenampilan ceria dan apa adanya. Sederet prestasi pernah diraih Novie, di bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas), meskipun dia memiliki latar belakang sarjana Pendidikan Agama Islam, tapi tidak menghalanginya untuk terus memajukan PAUD-DIKMAS.

Pada tahun 2009 Novie menyelesaikan pendidikan S1 jurusan pendiidikan Agama Islam di Universitas Islam As-Syafi’iyah, selepas itu dia mengajar di Taman Kanak-Kanak.

Pada tahun 2011, Novie mulai serius mengabdi di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Tamansari Persada Kota Bekasi. Di PKBM Tamansari Persada Novie Jayanti Norma Sari mendapat kesempatan untuk selalu menambah ilmu, dan mengembangkan karya. Di bawah pimpinan yayasan Agus Basuki Yanuar dan Revita Tantri Yanuar yang selalu memberikan dukungan penuh atas semakin berkembang dan bermutunya para pendidik di PKBM Tamansari Persada, Novie juga belajar banyak berbagai ilmu terkait dengan pedidikan dari ilmu mengenai metode pembelajaran, cara mengenal karakter anak didik sampai adminstrasi guru dan berbagai ilmu lainnya. Hal ini membuat dirinya semakin berusaha untuk menjadi guru yang profesional.

Tahun 2017, enam tahun setelah Novie jatuh bangun menjadi tutor di PKBM Tamansari ini ia berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Ia menjadi juara I tutor Paket B dengan judul karya ilmiah.

“Pembelajaran Tematik Melalui Kegiatan Pasar Rakyat untuk Meningkatkan Kecakapan Hidup Warga Belajar Paket B di PKBM Tamansari Persada,”Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas) Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 8-15 Juli2017 di Bengkulu dan berhasil mengharumkan nama Kota Bekasi Jawa Barat.
Bakat Awal Novi mulai terlihat sejak SMA, perempuan kelahiran Jakarta 24 november 1987 ini sudah sejak SMA terinspirasi untuk pembelajaran yang menyenangkan agar saya tidak bosan untuk belajar.

“Alangkah menyenangkan sekali jika pembelajaran itu dilakukan dengan metode yang bervariasi. Berangkat dari keinginkan tersebut, saya begitu termotivasi untuk menjadi pendidik yang mampu mendidik dengan berbagai metode yang menyenangkan. Saat saya menempuh jenjang kuliah, saya semakin menyukai dunia pendidikan. Tertawa dan dapat berbagi ilmu dengan anak-anak membuat saya sangat bahagia,” ujarnya seraya tersenyum.

Menggagas Pelajaran yang menyenangkan dan Kearifan Lokal

Apa yang diangankan semasa SMA kini bisa di aplikasikan di PKBM Tamansari Persada. Novie menyadari betul, jika pada saat ini, perkembangan Kota Bekasi sangat pesat, banyak sekali berjamur pasar-pasar modern dan semakin tergerusnya pasar tradisional. Di PKBM Tamansari Persada, kami hadir dengan program yakni Pasar Rakyat dimana siswa belajar mengenal lebih dekat tentang kondisi daerahnya.

Melaui Pasar Rakyat Novie mengharapakan siswa mampu mengenal berbagai barang olahan tradisional baik dari makanan, minuman dan berbagai hal lainnya. Dalam pelaksanaannya Pasar rakyat menggunakan strategi pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu.

“Oleh karena itu, guru harus merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual yang menjadikan proses pembelajaran lebih efektif,” ujar anak dari pasangan Suparmin (wirausaha) dan Sutini yang bekerja sebagai guru PAUD di RW 09 Cipinang Melayu.

Satu hal yang yang menjadi masalah saat ini tidak hanya di Bekasi, di kota-kota lainnya adalah Fenomena di masyarakat saat ini, menyatakan bahwa lulusan yang baik adalah lulusan yang memiliki kecakapan akademik dengan nilai terbaik. Konsep bahwa hasil dari belajar hanyalah cukup dengan mengejar nilai akademik sudah tertanam di pemikiran warga belajar kami, padahal kenyataannya dalam kehidupan di masyarakat nantinya, begitu banyak berbagai kecakapan yang harus dicapai.

Menurut Novie Pembelajaran tematik mengarah pada pengembangan kurikulum pendidikan yang menekankan pada kecakapan hidup dan bekerja. Kecakapan hidup akan memiliki makna yang luas apabila pengalaman-pengalaman belajar yang dirancang memberikan dampak positif bagi peserta didik dalam memecahkan problematika kehidupannya. Pembelajaran tematik menyiapkan peserta didik dalam mengatasi problematika hidup dan kehidupan yang dihadapi secara proaktif dan reaktif guna menemukan solusi dari permasalahan.

Pembelajaran tematik dapat saling terkait dengan konsep pembelajaran berbasis kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi melalui cerita dari mulut ke mulut.

Ingin Memberikan Kontribusi Pada Dunia Pendidikan dan Bermanfaat Buat Orang-orang disekitar

Penelitian dan materi yang dilakukan Novie sungguh menggembirakan dan memberikan manfaat bagi perkembangan PKBM Tamansari Persada. Setelah metode ini diterapkan peningkatan kreativitas pendidik melalui kegiatan Pasar Rakyat dalam pembelajaran tematik berbasis kearifan lokal merupakan karya nyata yang telah dilaksanakan di PKBM Tamansari Persada. “Metode ini memberikan pengaruh bagi pendidik guna menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan,” ujar perempuan yang punya hobi membaca dan berkebun ini.

Sehingga sangat beralasan kiranya juri memilih Novie menjadijuara I tutor paket B padaApresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas) Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2017 yang berlangsung di Bengkulu. Pada saat terpilih mengikuti lomba tingkat nasional yang akan dilaksanakan di Bengkulu. “Awalnya saya ragu untuk melanjutkan perjuangan ke nasional. Ada rasa khawatir akan mengecewakan dan tidak dapat memberikan yang terbaik. Namun berkat dukungan keluarga dan teman- teman serta orang-orang di sekitar saya, akhirnya saya bersemangat lagi,” ujarnya mengenang masa-masa perjuangannya.

Novie sangat berharap para tutor paket B di beberapa daerah di Indonesia, bisa rekomendasikan kepada semua pelaku pendidikan pada jenjang pendidikan kesetaraan paket B untuk bisa diterapkan di PKBM masing-masing. Kepada orang tua, hendaknya mampu memberikan kerjasama dan memotivasi anak agar tetap semangat berkarya.

“Kepada pihak sekolah, sekiranya dapat menfasilitasi media, dan alat penunjang pembelajaran yang dibutuhkan sehingga kendala yang dihadapi dapat teratasi dan warga belajar dapat belajar dengan maksimal” ungkap perempuan berjilbab ini penuh harap.

Meskipun menjadi juara bukan tujuan, tapi satu hal yang sangat diinginkan Novie dengan penelitian dan karya ilmiah yang dibuatnya adalah ingin hidup bermanfaat bagi orang sekitar, “Anugerah terindah dan pengalaman yang luar biasa yang takkan terlupakan seumur hidup saya. Dan hal ini juga merupakan amanah besar dari Allah pada saya untuk dapat lebih berkarya, memberikan kontribusi pada dunia pendidikan dan bermanfaat buat orang-orang disekitar,” pungkas Novie khidmat. (ER)

Novie Jayanti Normasari adalah juara I Tutor Paket B
pada Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidkan Masyarakat (Dikmas) Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2017

Usai menamatkan Sekolah Dasar di SDN Cisande IV Cibadak Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1992, aku melanjutkan untuk masuk pesantren. Saat itu, aku baru pertama kali menginjak kota Jogjakarta, dimana kakakku Teh Geugeu Syarifah sekolah SMP dan A Iwan kuliah di Universitas Negeri Yogjakarta (UNY).

Di usia yang masih 12 tahun aku sangat kaget ketika aku naik bis Rajawali jurusan Sukabumi Jogjakarta, aku dijemput kakak pertama untuk tinggal sementara di Perumnas Condong Catur sambil menunggu pengumuman masuk SMPN 30 Sardonoharjo Ngaglik Sleman, atau sekarang SMPN 3 Ngaglik.

Pada saat aku ke Jogja, aku masih memakai rok merah dan baju bintik merah, satu-satunya baju terbagus yang  kupunya. Setelah itu, aku dibonceng memakai motor Honda Astrea oleh kakak dari Condong Catur ke Ngaglik Sleman. Aku masih ingat betul, waktu itu  masih imut dan tidak memakai jilbab, lalu mendaftar ke SMPN 30 Sardonohardjo dan mendaftar di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran PPSPA yang beralamat di Jl.Kaliurang KM 12,5 Candi Ngaglik Sleman Jogjakarta.

Aku juga langsung berjumpa dengan KH. Mufid Mas’ud yang saat itu sedang bersantai memakai kaus putih dan sarung putih. Aku sangat senang bisa melihat pondok pesantren yang begitu besar, tidak seperti di kampungku di Sukabumi, dimana saya waktu SD tiap hari jalan kaki lewat galengan (pematang sawah) dan rel kereta api. Akan tetapi, karena kakakku ada 8, kalau hujan, kalau masuk sekolah SD sering digendong Kang Dada, kakak no 3 yang sekarang sudah punya cucu.

Rumah orang tuaku sederhana dengan sembilan anak. Akan tetapi sepeninggal ibuku, kakak pertama menyekolahkan adik-adiknya di Jogja. Sesudah diterima di SMP, kakak menjahit seragam di langganan kakak di Gejayan, seragamnya masih rok pendek dan seragam putih pendek. Lucunya waktu itu belum ada peraturan siswa SMP boleh mengenakan jilbab, baru setelah ada usulan dari Pondok Pesantren ke pihak sekolah, barulah kita semua memakai jilbab (anak pondok) yang di luar pondok dibebaskan, tidak ada kewajiban berjilbab.Waktu itu aku sekolah sepantar dengan keponakanku Trisasi Lestari dia masuk SMP 5 Jogja.

Aku masih ingat betul, waktu keponakanku masih kecil-kecil. Aku dekat dengan semua keponakanku. kakak iparku membekali aku selimut yang berwarna kuning merah garis-garis dan makanan ringan seperti Happy Tos dan perlengkapan untuk aku sekolah lainnya. Kakak-kakakku sangat mencintai aku, setiap bulan aku ditengok sama A Iwan untuk bayar bulanan yang saat itu langsung diberikan kepada Bapak Ndalem oleh Kakakku.

Asramaku berada di sebelah selatan dekat deretan kamar mandi, namanya SQL (Sekolah Luar). Kami semua adalah santri yang sekolah di luar (Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran MTSPA) dan Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran (MASPA). Tapi kata teman-teman sistem SQL sekarang sudah tidak ada. Karena sekarang PPSPA santrinya sudah 3.500 dari seluruh Indonesia yang kebanyakan adalah anak dan saudara alumni PPSPA sejak pertama kali didirikan pada tahun 1975.

Aku tidak tahu banyak sejarah Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud, karena beliau termasuk orang yang tidak banyak bicara, namun sangat tegas tapi sering bercanda. Seperti namanya, Mufid adalah orang yang memberi manfaat dan Mas’ud adalah orang yang selalu bahagia dan membahagiakan orang lain. Kalau di komplek putri kami mengaji setelah Subuh sampai sebelum berangkat sekolah, maka di komplek putra biasanya sore hari. Karena, aku waktu itu masih Juzz Amma dan Bin-Nadhor, maka saya sering nderes (Membaca Al-Qur’an) Kepada Ibu Ndalem Ibu Nyai.

Hj.Jauharoh Munawwir yang sangat tegas dan suaranya besar, dia selalu memakai mukena kalau nderes, semua takut sama Ibu Ndalem, biasanya dia memimpin Nderes berdua bersama anaknya Mbak Nah (Hj. Ninik Afifah).

Waktu mondok di Pandanaran aku bertemu dengan santri dari dari berbagai kota. Ada yang dari Cirebon, Indramayu, Jakarta, Klaten, Magelang, Pati (Ida Fitria Enha) dan lain sebagainya. Di situ kita juga belajar aneka bahasa daerah. Satu hal yang kuingat selama mondok di Pandanaran adalah kesederhanaan dalam makanan. Di mana makannya sayur nangka (jangan gori), sayur kol (jangan kol) dan kerupuk. Akan tetapi temanku Mbak Ika Nurazizah dari Magelang, kakak kelas di SMP selalu dibuatkan kering kentang sama kacang dan kalau dijenguk ibunya aku sering minta hehehe. Kalau aku karena tidak punya Ibu, begitupun ayahku (Apa) yang sudah tua tidak pernah menjenguk aku di pondok selama tiga tahun, jadi jarang dikirimi aneka makanan.

Kakakku Condong Catur juga jarang menengok, karena yang sering menjenguk dan mengantarku kebutuhan bulanan seperti susu dan Indomie, bulanan dan uang saku SMP adalah Kakak ke enam, Iwan Setiawan (A Iwan). Waktu itu, dia masih kuliah di Fakultas Ekonomi UNY.

Aku tidur di ranjang besi yang agak lebar, warnanya krem. Bagian atas diisi dua orang dan bagian bawah di isi dua orang. Pertama kali datang aku seranjang sama Mbak Siti Munawaroh, anak MAN I Jogja, dibawahnya ada Farikhatul Udkhiyah (Eka) dari Indramayu. Waktu ada Mbak Ika datang, saat itu aku pindah ranjang, selain sama mbak Ika, aku dekat juga sama mbak Tintin Nunani dari Cirebon.

Aku juga satu SMP sama si kembar Umi Haniin, Umi Haniatin, Farikhatul Udkhiyah (Eka), Lina Dwi Arfiastuti, Muchtar Hidayat, Eko Ariyanto, M.Nadjib, Muhammad Huda, Nuril, Rahmat dan masih banyak lainnya.

Satu asrama kita bergabung ada yang dari SMPN 30 Sardonoharjo, ada yang dari SMPN 8, ada yang dari MAN I, MAN Pakem, Universitas Gadjahmada, mereka harus menyesuaikan dengan jadwal pondok, seperti Kak Neny yang sekarang di Bandung, Kak Wahyunah yang sekarang di Bintaro, Kak Irma dan Kak Fauziyah. Semua santri-santrinya bahagia, seperti ketika saya mengikuti Haul ke 11 di Pondok Pesantren milik KH. Subhan Baalawi.

Kita semua alumni PPSPA yang di Jakarta Bogor Depok dan Bekasi memiliki Forum Silaturahmi Alumni Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Di Pondok Petir, justru aku ketemu dengan Kak Eni yang rumahnya tidak jauh dari rumahku di Pamulang Elok. Begitu juga, saya baru tahu bahwa yang memiliki Pondok Pesantren An-Nahdlah adalah Ibu Lia Zahiroh adalah alumni PPSPA istrinya Bapak Asrorun Ni’am. Dimana saat ini, anak pertama kakak kelas saya waktu di UIN UIN Sunan Kalijaga adalah Cak Shohib Sifatar yang bernama Arina (Kakak Arin) mondok di An-Nahdlah Pondok Petir.

Banyak hal tak terduga dalam hidupku dimana aku berjumpa dengan alumni Pondok PPSPA waktu di Kaliurang Jogjakarta, justru setelah 26 tahun aku meninggalkan Pandanaran. Aku berjumpa dengan Bu Nyai Lilik Ummu Kaltsum yang dulu suka menggantikan Ibu Ndalem. Bu Nyai Lilik sekarang memiliki Pondok Tahfidz Alqur’an di Parung Bogor bersama Gus Mustofa.

Ada banyak kenangan indah selama tiga tahun mondok. Kami semua dididik untuk terbiasa disiplin dan prihatin. Disiplin karena harus cepat-cepatan mandi (bare), setelah itu cepat-cepatan antri nderes mengaji di mesjid yang ada di komplek putri dan habis itu kita jam 7 sudah harus masuk sekolah. Aku termasuk yang malas bersama Mbak Ika dan Mbak Tintin, biasanya kita antri paling belakang karena memang ingin selalu bersama bertiga kemana-mana. Tapi kini mereka justru sukses, Mbak Tintin berwirausaha dan Mbak Ika bekerja jadi PNS di Pemda Magelang sesuai lulusannya Administrasi Negara UGM.

Ada banyak filosofi yang kuat ketika nyantri di pesantren. Kenapa kita harus prihatin dan makan seadanya. Karena supaya kita tidak dimanja makan enak. Semua santri jika saat mudanya susah, maka ketika mendapat ujian di hari tua menjadi orang tidak punya, maka dia tidak merasa aneh. Begitu juga dengan hafalan Al-qur’an, jangan sampai lupa dan harus selalu membaca Al-qur’an habis Shalat lima waktu, atau kalau bisa satu juzz sehari, jangan hanya saat Bulan Ramadan saja, tapi harus setiap hari. Berikutnya adalah harus mandiri, jangan harap santri menjadi PNS atau berharap banyak pada pemerintah, lebih baik mandiri atau punya Pondok Pesantren sendiri seperti Mas Lukman Kakak kelas, seangkatan sama Mbak Ika yang memiliki Pondok Pesantren di Tebet, Bu Nyai Lilik, Kyai Khusnul di Pondok Cabe, KH. Subhan Baalawi di Pondok Rajeg Cibinong dan lain sebagainya.

Satu hal lagi yang selalu kuingat amanat Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud, yaitu jika kita sudah menghembuskan nafas terakhir, atau kalau kita meninggal dunia, kita tidak boleh menerima karangan bunga dari siapapun.

Ibu Ndalem Hj.Jauharoh Munawir wafat pada April 1998 dan Bapak Ndalem wafat pada 2 April 2007. Semoga beliau berdua senantiasa mendapat maghfurlah dari Allah SWT dan semua santrinya bisa mengamalkan amanat atau pesan beliau berdua dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini penerus Bapak Ndalem KH. Mufid mas’ud adalah KH. Mu’tashim Billah dan KH. Masykur Muhammad serta ke-delapan anak-anak lainnya yang tidak mau disebutkan namanya karena pendidikan Hj. Jauharoh yang tidak ingin anak-anaknya mengemban amanat berat sebagai anak Kyai. Sepertinya itu saja yang ingin aku tulis sekarang, mohon maaf jika ada teman satu asrama tidak tersebut namanya.

Jakarta, 9 januari 2018 Pukul 13.55

MENGARUNGI PERJALANAN SPIRITUAL-INTELEKTUAL

Judul: Bahkan Malaikat Pun Bertanya
Penulis: Dr Jeffrey Lang
Pengantar: Jalaluddin Rahmat
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktober 2000
Tebal: (xix + 302) halaman

Buku Jefrey Lang

Buku Jefrey Lang

Buku Bahkan Malaikat pun Bertanya ini berangkat dari keprihatinan penulisnya setelah melihat banyak orang Islam di negerinya menghindari atau bahkan mengingkari agama itu, lantaran tak mampu mendamaikan agama yang mereka warisi dengan pandangan Barat sekuler yang mereka peroleh.
Fenomena yang sesungguhnya melanda nyaris semua negeri muslim ini telah membelah umat Islam ke dalam dua kubu yang berlawanan: mereka membekukan dirinya dalam tradisi lama dan mereka yang mengekor pada peradaban Barat.

Yang pertama memandang pemikiran Islam terdahulu sebagai rujukan ideal, dan yang kedua melihat Barat sebagai puncak peradaban. Yang pertama kaum fundamentalis, sedangkan yang kedua kaum liberal.

Kedua kelompok itu sama “menyesatkan”. Agar tidak terperangkap dalam bahaya itu, lewat buku yang dalam peringkat Amazon.com mendapat bintang lima ini penulis menganjurkan umat Islam senantiasa mengembangkan sikap kritis. Baik dalam memandang realitas faktual yang muncul, maupun dalam memahami pesan-pesan Islam itu sendiri.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu stereotip yang populer di Barat. Disebut stereotip karena, kesan-kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab.

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apapun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila masuk Islam atau naik haji?

Hal seperti itulah yang mengusik Jeffrey Lang, ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk ditukar dengan jubah dan sorban seperti Cat Steven, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga tak pernah mengubah Thank God sebagai pengganti Alhamdulillah.

Menurut mualaf Amerika penulis buku terkenal Struggling to Surrender (telah di Indonesiakan menjadi Pergumulan Menuju Kepasrahan, Serambi, Juni 2002) ini, cara yang paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukan mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik.
Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan, katanya. Bahkan malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan pun bertanya! Mereka “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka Bumi: Apakah Engkau akan jadikan disana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

BUKU ini membawa pembaca mengarungi perjalanan spiritual intelektual dengan mendiskusikan konflik-konflik yang terjadi antara agama dan akal, rintangan-rintangan yang dipasang oleh kaum Muslim sendiri yang menghalangi orang untuk memeluk Islam, ekstremisme dalam komunitas Islam, dan lain-lain.

Bahkan Malaikat Pun Bertanya, memiliki arti umum yang sangat penting, ditulis dengan sangat bagus (orang mungkin tidak mengira bila penulisnya seorang guru besar matematika), dan merupakan hasil dari kajian yang baik.

Memang buku ini adalah gambaran hidup tentang bagaimana Jeffrey Lang begitu tertarik kepada Islam tanpa terbendung lagi. Namun, buku ini juga menawarkan suatu program yang solid dengan menawarkan alasan yang baik bagi semua orang Amerika lainnya memerlukan kajian rasional yang luas dan mendalam sebelum berserah diri pada Allah.

Perjalanan spiritual Dr. Lang menjadi terkesan unik dan menarik ketika ia ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi, ia berhasil menemukan pencerahan baru: no escape from being an american. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya.

Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya. Islam tidak pernah datang dari suatu vakum kultural. Karena itu, maka ditemukanlah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Dan mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Akan tetapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah jatuh pada hambatan besar: mengekor Barat? Memang disamping kaum fundamentalis yang mengekor kebudayaan Arab, kita juga menemukan kaum liberal yang mengekor Barat sebagai puncak peradaban.

Terlepas dari jebak-jebakan itu, Dr Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis pada bab 2 buku ini: “Cara paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukanlah mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik, melainkan justru harus sebaliknya. Komunitas Muslim harus terus mendorong kedua hal itu. Kita cenderung berbuat salah manakala kita tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri”.
***
MEMBACA buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalanan spiritual, bukan saja seorang Muslim Amerika, tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dan Islam aktual.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang perspektif orang non-Muslim tentang Ramadhan. Mereka menilai bahwa puasa merupakan ibadah ritual yang paling keras dalam Islam (hlm 216).
Namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa kekhawatiran dari buku ini, yakni dapat menjerumuskan pembaca non-Muslim pada kesan keliru dan sepihak tentang kaum Muslim. Boleh jadi pemburukan media Barat atas citra kaum Muslim dan agama mereka.

Jeffrey Lang menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli (berdasarkan akal) dan nakli (berdasarkan Al-Qur’an).

Uraian Dr Lang dalam buku ini juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. Bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan serius maupun ringan.

(Eva Rohilah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di harian Kompas edisi 11 Maret 2001, waktu itu ditelepon sama Pak Dewa Brata Redaktur Pustakaloka yang terbit setiap Senin, honornya saya masih ingat 350.000 sangat besar ukuran saat itu, dari sini pula saya diberi beberapa buku baru dari Penerbit Serambi yang Chief Editornya Pak Qamaruddin SF, setelah saya kerja di Alvabet kita sering bertemu sebagai sesama penerbit dan bersahabat baik dengan beliau.

JUNJUNGLAH TINGGI SISTEM NILAI YANG EGALITER

Judul: Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan
Penulis: Dr. Irwan Abdullah
Editor: Ana Samsuri
Penerbit: Tarawang Press Yogyakarta
Cetakan 1 Maret 2001
Tebal: (xvi + 222) halaman

Buku Irwan Abdullah

Buku Irwan Abdullah

Diawali dengan ide dan gagasan RA Kartini lewat buku Habis Gelap terbitlah Terang perjuangan perempuan untuk kesetaraan hak sampai kini terus bergulir. Bahkan, belakangan ini wacana itu menjadi semakin marak, lantaran dalam rentang waktu yang demikian panjang dan lama, perempuan menuju persamaan hak belum juga mencapai klimaks.

Dalam struktur yang hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukan pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup.

Akan tetapi, mengapa dalam praktik sosial, perempuan mau mengalah atau dikalahkan? Kesalahan utama yang dilakukan para politisi, peneliti, dan kaum feminis, adalah mereproduksi struktur patriarirkal dengan menekankan wacana ketimpangan jender, perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung, halus, dan sebagainya.
Dengan cara itu sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa untuk kesejahteraan perempuan. Sebaliknya, perempuan malah tersubordinasi secara terus menerus oleh wacana yang dibangun orang-orang yang sangat ingin membantu perempuan sekalipun
***
Buku Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan ini terdiri dari empat bagian, atau sebelas bab. Ditulis dengan saksama oleh dosen Fakultas Sastra UGM yang sangat tertarik pada masalah perempuan sejak mahasiswa. Penulis itu Dr. Irwan Abdullah, seorang feminis kelahiran Aceh Utara 37 tahun yang lalu.

Melalui bukunya tersebut ia berusaha membawa pembaca mengikuti dua arus besar yang melanda dunia ketiga. Dalam ranah sosial, pembicaraan mengenai perempuan telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada saat konsep “jender” digunakan sebagai perspektif. Jender lebih menunjuk kepada relasi dimana kaum lelaki dan perempuan berinteraksi.

Hal tersebut menjadi rumit tatkala perempuan memainkan berbagai peranan sekaligus. Perempuan ideal kemudian menjadi superwoman yang memiliki kapasitas domestik dan diharapkan memiliki kapasitas dalam bidang publik secara sempurna. Posisi laki-laki disini tampak cenderung tidak digugat.
Secara implisit dinyatakan bahwa peran publik merupakan tanda kemerdekaan perempuan, dan peran domestik digugat karena dianggap telah memenjarakan perempuan. Cara-cara seperti ini sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi sosial.

Dalam proses migrasi dari domestik ke publik, perempuan harus mengeluarkan biaya ideologi yang begitu besar. Perempuan tidak hanya harus memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki untuk memenuhi kriteria sebuah pekerjaan, tetapi juga harus cantik dan menawan. Bukankah ini sekaligus pelecehan terhadap perempuan.

Pada bagian lain, arus balik yang terjadi berasal dari realitas ekonomi. Hal ini berawal dari penandaan tubuh perempuan yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif ke arah fungsi ekonomi demi ekspansi kapital. Tubuh dan hasrat digunakan sebagai titik sentral produk yang disebut sebagai ekonomi libido.

Pembahasan soal itu menjadi menarik ketika menyangkut masalah tubuh perempuan dalam iklan dan rimba laki-laki. Stigma ini cukup diimbangi dengan peranan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi.

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Imbangan itu antar lain tampak dari hasil penelitian tentang bagaimana peranan perempuan dalam pasar, pedesaan, dan kerajinan rumah tangga yang lebih menenkankan pada aspek mobilitas dan mengangkat marginalitas profesi seperti bakul (penjaja), tukang jamu. Bahkan juga peranannya dalam home industry.
***

Pesan utama dari penulis adalah bahwa usaha perbaikan kehidupan perempuan bukan usaha memerangi laki-laki tetapi mengubah sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obejek. Perubahan ini akan terjadi apabila bertumpu pada struktur yang menjunjung tinggi sistem nilai dan ideologi yang egaliter.

Kekuatan utama buku ini pada epilog yang merupakan rajutan dari berbagai bab. Masing-masing bagian digarap secara serius karena beberapa bahan dalam buku ini hasil penelitian lapangan serta riset perpustakaan yang dilengkapi dengan data kuantitatif yang cukup akurat.
Disamping itu ada terobosan yang cukup berani untuk melakukan penyegaran, penyusuran, dan penggerusan yang cukup mendalam atas kompilasi wacana yang telah ada, kritikan terhadap kaum feminis, sampai sindiran yang tajam terhadap kaum oportunis.

Sayangnya ada satu kelemahan yang cukup fatal, yaitu tidak seimbang (equal) antara judul buku dengan substansi, yakni dimensi seksisme kurang begitu disentuh secara mendalam. Ulasannya teramat singkat hanya sebatas retorika dan obyektivitas reproduksi dalam kaitannya dengan kekuasaan lelaki.
Hal itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran editor yang kurang memperhatikan grand opinion dan tidak fasih dalam menerapkan gaya penulisan ilmiah sehingga buku ini terkesan kaku meskipun alur penulisannya dari awal hingga akhir menarik.

Akan tetapi, setidaknya, sampul bergambar RA Kartini yang melankonis akan sedikit mengeliminir kelemahan buku ini. Yang jelas, dengan kelebihan dan kekurangannya itu, buku ini telah menambah panjang koleksi buku feminis. Siapapun yang peduli akan nasib, pendidikan, dan masa depan perempuan akan memperoleh manfaat dari buku ini.
(Eva Rohilah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurnalis LPM Sinergi Yogyakarta)
Dimuat di Harian Kompas edisi 28 Mei 2001

JANGAN LUPAKAN TRADISI

Judul: Agama, Negara, dan Penerapan Syaria’ah
Judul Asli: Ad-Din Wa Ad Daulah wa Tathbiq As-Syari’ah Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah (Beirut 1996)
Penulis: Muhammad Abed Al Jabiri
Penerjemah: Ulin Nuha
Penerbit: Fajar Pustaka Bru, Yogyakarta
Cetakan I, September 2001
Tebal: (xxxvi + 201) halaman

Buku Abed Al-Jabiri

Buku Abed Al-Jabiri

MUHAMMAD Abed Al-Jabiri seorang pemikir terkemuka Arab saat ini yang mengangkat berbagai gagasan segar dalam rangka kebangkitan Islam, khususnya di lingkungan negara Arab. Ia punya analisa yang cukup signifikan terhadap masalah yang menyita kaum muslim tentang hubungan negara dan agama.

Masalah itu menjadi mendesak karena kemunculan negara-negara bangsa (nation state) dan berhembusnya semangat sekularisme yang dibawa Barat Modern. Dia mengemukakan pertanyaan apakah Islam itu agama atau negara merupakan pertanyaan palsu karena diajukan oleh kebudayaan Barat dengan segala pengakuan historis yang dilaluinya, bukan cermin realitas kaum Muslim sendiri.

Menurut Al-Jabiri, kalau mau jujur menelaah Al Qur’an dan sejarah Islam, kita akan menemukan fakta bahwa Islam tidak pernah menentukan jenis dan bentuk negara. Rujukan historis maupun praktis tentang kenegaraan Islam hanya ada pada praktik sahabat Nabi SAW, yang menurut dia, itu hanya suatu ijtihad.

Oleh karena itu, sesuai perkembangan zaman, Al-Jabiri dengan tegas mengatakan bahwa demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum Muslim untuk masa kini dan masa depan. Meskipun dia tidak naif dengan mengatakan bahwa para sahabat Nabi SAW telah mempraktikkan demokrasi melalui ajaran syura yang dianggap mempunyai urgensi yang sama dengan demokrasi.

Jika negara itu demokratis, bagaimana dengan penerapan syariah, bagaimana meletakkan syari’ah dalam sebuah negara demokrasi? Al-Jabiri kembali membongkar tradisi dan sejarah secara rasional. Baginya, praktik kenegaraan dan penerapan hukum syariah harus dikaji dan ditelaah secara mendalam. Di sini hukum Islam dianggap sebagai hukum yang hidup (the living law) dan menjiwai setiap aturan tanpa memaksakan simbol sebagai suatu ciri yang otentik.

Buku yang merupakan terjemahan dari kumpulan artikel dari Bahasa Arab ini ditulis oleh Abed Al-Jabiri yang dewasa ini pemikiran dan gagasan-gagasannya dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim berkenaan dengan semakin menguatnya wacana post tradisionalisme Islam dan kajian tentang Islam Liberal.
***

TIDAK ada salahnya jika sebelum membaca buku ini akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang sosok Al-Jabiri.
Intelektual Muslim kelahiran Maroko tahun 1936 ini menempati posisi garda depan pemikiran Islam Arab kontemporer, sederajat dengan Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamd Abu Zayd, Bassam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisi, Adonis. Al-Jabiri sering menulis berseri di beberapa harian ternama Timur Tengah, seperti Al-Syarqah Ausath.

Dalam suatu kesempatan pada waktu seminar di Berlin, Jerman, yang diselenggarakan oleh Federich Ebert Stiftung pada tahun 1996, Al-Jabiri bertemu dalam satu forum dengan Abdurrahman Wahid dan Fatima Mernissi yang sama-sama berbicara tentang Civil Society In the Moslem World.

Edisi Cetak Harian Kompas

Edisi Cetak Harian Kompas

Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Naqd al-Aql al’Arabi (Kritik Nalar Arab) yang mejadi perdebatan di kalangan intelektual Muslim karena berbeda dengan “Kritik Nalar Islam” Arkoun. Dalam bahasannya itu, jelas sekali pemikirannya tentang perubahan makna akal tersebut banyak dipengaruhi oleh tokoh filsafat Perancis seperti Jacques Lacan, Althusser, Jacques Derrida, Roland Barthes, dan Michael Foucoult.

Hingga kini tulisan-tulis Al-Jabiri bentuk buku telah mencapai angka belasan. Salah satu kumpulan tulisannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Baso bejudul Post Tradisionalis Islam (LKiS Yogyakarta, 2000) banyak mengulas tentang pejalanan intelektual Al-Jabiri dan relevansi tradisi dalam pemikiran Islam kontemporer.
***

DALAM penuturannya yang cukup lugas lewat buku ini terasa kepeduliannya terhadap tradisi (al turats) cukup kental dan mewarnai uraiannya. Salah satu persoalan krusial saat ini bagi kebangkitan Islam adalah bagaimana menyikapi tradisi dalam kehidupan bernegara dan beragama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Menurut Al-Jabiri ada dua hal penting yang menyertai kekinian, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita, dan kedua adalah tradisi yang mencakup kemanusiaan yang lebih luas seperti pemikiran filsafat dan sains.

Sikap kaum Muslim terhadap tradisi mempunyai corak yang berbeda, ada yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam karena apa yang ada dalam tradisi tersebut dinilai sudah memadai. Seperti ulama konservatif dan mereka yang justru tidak memiliki pengetahuan yang memadai karena dididik oleh tradisi lain yang sudah memadai.

Kedua, mereka yang menganggap bahwa tradisi sama sekali tidak memadai dalam kehidupan modern saat ini, karena itu harus dibuang jauh-jauh. Kelompok ini adalah mereka yang berpikiran sekuler dan liberal ala Barat sehingga menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola Barat.

Kedua sikap tersebut menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang (ekstrem). Oleh karena itu Al-Jabiri mencoba mencari jalan keluar dari dua sikap ekstrem itu dengan tawaran agar kita berusaha bersikap dan berpijak pada tradisi. Namun, tentu bukan dalam kerangka tradisi kita melebur didalamnya dengan segenap gerak dan gelombangnya, tetapi lebih diperlakukan sebagai produk kebudayaan manusia, sebagai produk ilmiah yang senantiasa berkembang.

Dari sini kita belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional. Di Indonesia pemahaman tentang konsep ini sekarang sedang aktual diwacanakan sebagai “post tradisionalisme”.
***

BUKU yang terdiri dari dua bagian ini berusaha memposisikan hubungan agama dan negara dalam rujukan tradisi dan kebangkitan (renaissance). Penerapan syari’ah diulas secara mendetail, mulai salafisme sampai dengan ekstremisme, antara akidah dan syari’ah, juga diusahakan merasionalkan hukum-hukum syari’ah (hlm 168).

Beberapa kritik terhadap Mazhab Syafi’i, dan ajakan untuk menolak hukum (hudud) berdasarkan argumen ketidakjelasan, akan menjadi wacana yang menarik ketika hukum diletakkan dalam posisi agama dan negara, dengan memperhatikan tradisi dan budaya lokal.

Metode telaah kontemporer yang diajukan Al-Jabiri, merupakan sebuah terobosan yang cukup penting dan aktual dengan kondisi tanah air kita. Selama ini banyak orang yang menelaah tradisi untuk mencari sandaran otoritas belaka tanpa menyadari dimensi historis dan ideologis yang melahirkan tradisi itu.

Dalam hal ini sikap terbuka Al-Jabiri terhadap demokrasi dan HAM dengan tanpa sedikit pun merasa terancam dengan kehilangan identitas keislamannya, juga merupakan satu hal yang patut diperhatikan.

Dalam hal tersebut strategi Al-Jabiri untuk mendudukkan pemikiran Barat dan Islam pada mekanisme dan historitasnya masing-masing, adalah sesuatu yang diambil dari semangat Ibn Rusyd dalam menjelaskan hubungan agama dan filsafat. Itu boleh dibilang sebagai merupakan strategi yang cukup menjanjikan.

Terlepas dari sampulnya yang kurang begitu menarik, isi buku ini akan sangat bermanfaat bagi khazanah intelektual Muslim, sebagai wacana alternatif dalam membincangkan kembali agama, negara, dan penerapan hukum (syari’ah) secara proporsional, tanpa melepaskan tradisi, pluralisme, dalam dinamika pergolakan pemikiran Islam kontemporer.

• EVA ROHILAH
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dimuat di Harian Nasional Kompas edisi 22 Maret 2002

Belakangan ini ada banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan beberapa kegiatan yang kuikuti belakangan, namun entah kenapa untuk memenuhi penulisan terasa sulit mengatur waktu, beberapa hal yang ingin aku tulis adalah, Jurnal untuk Fakultas Tarbiyah, Jurnal untuk STAIN Pekalongan, Pengalaman 5 hari mengikuti event Ubud Writers and Readers Festival di Bali,15 Tahun Supernova, 4 Film pendek Wregas Bhanuteja, Digital Diplomacy CSIS, Review buku-buku pemikiran filsafat Islam, Materi Tafsir Alquran yang telah kuikuti setiap Rabu di Pusat Studi Alquran Pondok cabe, Resep bikin Puding, Villa murah dan wisata favorit di Ubud, Pameran Filantropis, Perkembangan Buku Digital, Pemikiran dan refleksi hari guru nasional, dan Opini Pribadi saya tentang Truth Of Claim.

Semua itu tiap hari membayangi saya ketika bangun tidur, mana yang saya harus tulis terlebih dahulu. Deadline muncul tiap detik dan saya tidak bisa mengendalikan diri. Semua masih dalam tahap baca buku, pengumpulan data dan rangkaian struktur penulisan. Ada majalah dan buku referensi yang hilang membuat saya kalang kabut untuk bisa menuntaskan semua itu, kembali mencari pengganti dan rempong sana sini mencari buku yang hilang, belum lagi telat mengembalikan buku yang dipinjam ke perpustakaan.

Saat saya dihadapkan dengan semua itu, keasyikan di media sosial membuat saya lupa diri akan membaca buku dan tugas kewajiban menulis, dan sibuk mengamati perang media sosial yang semakin hari semakin mengerikan. Saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat status tentang hal yang provokatif dan menyakitkan ormas atau organisasi mahasiswa yang sedang ramai dibicarakan. Tidak menulis status bukan berarti tidak peduli, tapi menghindari klaim bahwa saya paling benar. Politik semakin tidak menarik dan kebencian di media sosial membuat satu sama lain saling unfriend, unfollow.

Terlepas dari itu semua, saya gembira buku saya kedua sebagai ghostwriter terbit dan akan di launching 10 november di Manado dan Jakarta. Sehabis itu jadwal menanti kemungkinan adalah buku tentang Kedaulatan pangan, juga sebagai Ghost Writer. Mungkin awal Desember baru mulai.

Saat saya galau, tiba-tiba seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Hasani Ahmad Said, saat kajian di PSQ menceritakan saat-saat terbaik menulis dan pengalaman dia waktu menyelesaikan studi S3 Doktor Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Dia bercerita tentang kisah beberapa tokoh yang mendisiplinkan diri untuk menulis.

Menurut Pak Hasan, saat paling tepat menulis bagi tiga guru besar UIN bermacam-macam. Pertama Pak Quraish Shihab, dia selalu menyempatkan menulis usai shalat subuh sampai jam 7 pagi, itu rutin dia lakukan, kalau tidak menulis ya membaca.

Lalu kedua adalah Pak Azyumardi Azra, Kapan beliau produktif menulis? Menurut Pak Hasan, Pak Azyumardi selalu berangkat jam 6 ke kantornya sejak beliau jadi dosen, padahal dia mengajar mulai jam 9 atau jam 10, nah saat sampai di kantor sampai tiba waktu mengajar, disitulah dia menulis artikel, opini dan buku.

Lalu Pak Hasan cerita sendiri kesibukannya dia saat menulis disertasi. Dalam waktu setahun dia full waktunya habis di perpustakaan dan kost-kostan, bergelut dengan buku, makan dan tidur. itu saja tidak ada aktifitas lain, selama enam bulan terakhir tambah intensif semakin mencintai buku dan melupakan cinta-cinta yang lain…ahai..”untuk itulah kenapa saya baru menikah setelah lulus menjadi doktor,” ujar Pak Hasani Ahmad Said

Pengalaman dari ketiga orang guru besar UIN yang diceritakan Pak Hasan, saya catat dan garis dengan stabillo tebal, siapa tahu akan berguna buat saya saat ini atau suatu hari nanti. Mungkin itu yang saya ingin tulis hari ini dan saya berterimakasih kepada Ibu Lilik Umi Kaltsum MA, ibu nyai yang menjadi guru mengaji saat saya di Sunan Pandanaran dulu dan sekarang menjadi ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliaulah yang mengajak saya mengikuti kajian di PSQ setiap rabu dengan materi yang
menarik dan berbagai metode tafsir Alqur’an.

bersama Ibu Nyai Lilik Umi Kaltsum, Guru Ngaji di PPSPA Jogja

Foto Bersama Bu Nyai Lilik Umi Kaltsum.

Selain butuh disiplin waktu, tempat yang nyaman juga baik untuk menulis, seperti perpustakaan dan rumah, jangan lupa matikan gadget anda saat menulis, jangan terlalu percaya atau copy paste google, menulislah dengan murni pemikiran sendiri, cara anda sendiri, dan jangan lupa sertakan referensi.

Gedung C Lantai 4
Sudirman 8 November 2016
Pulul 14.54

Akhir pekan kemarin 17 Oktober 2015, aku diundang ke acara nonton bareng Film berjudul “Little Big Master” di Cinemaxx Plaza Semanggi persembahan Celestal Movies. Aku berangkat dari rumah bareng suami, lalu pisah di Pasar minggu dan aku naik busway dari Pasar Minggu ke Plaza Semanggi. Sampai Plangi masih pagi jam 9, dan registrasi jam 10-jam 11. Aku bertemu dengan teman-teman dari Kumpulan Emak-emak blogger, ternyata banyak juga blogger dari komunitas lain seperti Kompasiana dan Blog detik. Kami mendapatkan goodie bag cantik dan snack.

Tepat pukul 11 Aku masuk studio dan tayangan film “Little Big Master” pun dimulai. Adegan diawali dialog seorang guru dengan murid yang merasa tertekan masuk di kelas berbakat sebuah Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) elit di Kota Hongkong. Orangtua sang murid tidak terima ketika mengetahui laporan bahwa anaknya tidak bisa dimasukkan kelas berbakat dan menanyakan siapa yang membuat laporan kepadanya, maka direktur sekolah memanggil kepala sekolah TK elit tersebut dan diminta menjelaskan kepada kedua orangtua anak tersebut. Sang Kepala Sekolah, Lui Wai-hung (diperankan oleh Miriam Yeung) menjelaskan apa adanya tentang kondisi muridnya, untuk menghindari sang murid dari stress, sebaiknya anak tersebut dimasukkan ke kelas reguler. Namun kedua orang tua murid yang merupakan orang terpandang dan kaya raya tetap tidak mau terima, sehingga akhirnya hati Direktur pun luluh. Dia lebih mematuhi keinginan orang tua murid untuk tetap memasukkan anak tersebut ke kelas berbakat dan mengabaikan pendapat Kepala Sekolahnya.

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Merasa tidak nyaman, Hung Usai mengajar di TK, Hung mengatakan kepada suaminya Dong (diperankan oleh Louis Koo) memilih mundur dari TK ternama dan berencana melakukan perjalanan pensiun keliling dunia. Dong yang bekerja sebagai perancang di museum pun sedang bermasalah dengan kantornya. Sehingga sisa waktu yang ada diisi Hung dengan berolahraga ke gym dan belajar bahasa asing. Namun, Hung mengerti bahwa kondisi pensiunnya hanyalah cara untuk menjauh dari minatnya yang memudar terhadap pendidikan.

Saat tidak sengaja berolahraga, Hung memperhatikan ada iklan penerimaan di sebuah TK di desa yang mencari kepala sekolah sekaligus pengawas sekolah dalam satu posisi. Jika sekolah tersebut gagal mendapatkan kepala sekolah baru pada waktunya, maka akan ditutup. Hal ini membuat 5 siswa yang tersisa akan kehilangan kesempatan untuk bisa bersekolah. Hung khawatir, masa depan anak-anak tersebut menjadi tidak jelas. Dengan harapan bisa mencarikan sekolah yang lebih baik untuk mereka sebelum tahun ajaran baru tahun depan, Hung memutuskan untuk melamar jabatan sebagai kepala sekolah meski dengan gaji rendah (4.500 Dollar Hongkong) dan menunda perjalanan pensiunannya.

Saat pertama kali Hung mengunjungi kelima anak tersebut, Siu Suet, Ka Ka, Chu Chu serta Kitty dan Jennie, dua bersaudara dari Asia Selatan, mereka menolak keras untuk menerima orang asing. Namun setelah menunjukkan banyak perhatian dan kesabaran, Hung dengan cepat mendapat kepercayaan mereka. Kepolosan mereka yang murni menyentuh Hung serta menyalakan kembali minatnya terhadap pendidikan dan dia mulai tahu cerita di balik mereka satu per satu.

Hung Mengantarkan Anak didiknya ke toilet desa saat hujan deras

Masih banyak hal yang perlu dilakukan selain merencanakan kurikulum, termasuk memperbaiki bangunan tua sekolah tersebut, membersihkan toilet dan menjemput anak-anak ke sekolah. Saat hujan deras dan toilet sekolah meluap, Hung bahkan rela mengantarkan anak-anaknya ke toilet desa. Hung bahkan harus berdiri tegak menentang cemooh dari masyarakat setelah membantu orang tua mereka yang miskin. Namun demikian, dia mampu melewati semua kesulitan dengan semangatnya yang besar dan perlahan jatuh cinta pada tempat tersebut. Dia memutuskan untuk mengelola sekolah tersebut dan mulai mencari siswa baru.

Salah satu yang menarik dan menggores hati dari film ini adalah karakter kuat kelima muridnya. Murid pertama adalah Ho Siu Suet (diperankan oleh Ho Yun-Ying Winnie) Salah satu dari lima murid. Ibu Siu Suet masih menunggu visa di Cina Daratan untuk datang ke Hong Kong. Si kecil Siu Suet tinggal bersama ayahnya yang tua dan sakit-sakitan bekerja sebagai pengumpul besi tua. Dia mengurus pekerjaan rumah pada usia belia. Murid kedua adalah Tam Mei Chu / Chu Chu (diperankan oleh Keira Wang), Chu Chu takut pada hujan badai setelah kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan mobil saat malam badai dan petir menggelegar. Sejak itu Chu Chu diadopsi oleh kerabat jauhnya, Bibi Han.

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Murid ketiga adalah Fu Shun-ying sebagai Lo Ka Ka / Ka Ka (diperankan oleh Fu Shun-ying), Ka Ka adalah gadis yang sangat dewasa walau usianya masih belia. Dia menolak untuk pergi ke sekolah karena harus menjadi penengah pertengkaran kedua orang tuanya. Sedangkan murid ke empat dan kelima adalah Kittie dan Jennie Fahima (diperankan oleh Zaha Fathima & Khan Nayab). Kitty dan Jennie adalah kakak beradik diantara kelima murid. Mereka di bawah tekanan keluarga karena keberatan ayah mereka yang mengabaikan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuannya.Orangtuanya adalah imigran dari Asia Selatan.

Hung Bersama Kelima Muridnya

Hung Bersama Kelima Muridnya

Dengan setulus hati, Hung mengajar kelima muridnya. Dia juga mengajak para orangtuanya terlibat dengan kegiatan sekolah seperti field trip ke sebuah taman di kota Hongkong. Hung pun mulai dikenal oleh masyarakat dengan sebutan kepala sekolah 4.500 Dollar Hongkong. Pada saat bermain di taman tersebut ada dialog yang sangat menarik antara Hung dan salah seorang pengunjung taman yang difabel. Dia mengenal Hung melalui media dan mengatakan salut atas perjuangan Hung dia berkata “Pendidikan terbaik tidak terdapat pada pada perangkat kerasnya, namun ada pada kebaikan hati para pendidiknya,” ujarnya. Pesan dari perkataan pengunjung itu sangat dalam dan menyadarkan saya akan pentingnya kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah.

Bermain Bersama

Bermain Bersama

Waktu terus berlalu dan masa perekrutan siswa baru pun segera dimulai. Di sisi lain, para orang tua dihasut untuk mengeluarkan anak mereka dari sekolah. Hung menerima pemberitahuan terakhir tentang pemecatan dirinya. Namun Hung tidak putus asa, dia bisa mengatasi semuanya dan datang berkunjung ke rumah muridnya. Hingga akhirnya dia mempersiapkan murid-muridnya untuk menari dan bernyanyi. Niat semula yang hanya mengajar sampai empat bulan pun pupus. Hung ingin merekrut siswa baru. Di sisi lain, Dong sangat mengkhawatirkan kesehatan Hung setelah mengetahui itu bukan pekerjaan sementara.

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Pada saat itu ada ketegangan antara Hung dan suaminya yang saat itu kurang setuju dengan rencana Hung, karena akan membatalkan impian mereka ke luar negeri. Saat ulang tahun ibunya, Hung yang datang terlambat mendapat pesan dari mertuanya bahwa Hung yang menderita penyakit tiroid sudah jarang berkunjung ke dokter yang menanganinya. Dong pun menyadari jika Hung belakangan jarang minum ramuan tradisional yang disiapkannya. Dia khawatir penyakitnya akan kambuh lagi meski sudah diangkat. Namun, Hung tidak pantang menyerah Hung sangat bersemangat mempersiapkan pesta kelulusan dan menyebar brosur dan menunggu pendaftaran siswa baru hingga saat-saat penting dimana ia harus menghadiri acara Dong dan tidak ada satupun murid yang mendaftar, penyakitnya pun kambuh dan ia pun jatuh sakit. Dong pun segera membawa Hung ke rumah sakit dan benar, jika penyakit tiroid yang dideritanya muncul lagi meskipun tumornya sudah diangkat. Berhari-hari Hung dirawat di rumah sakit dan Dong pun menggantikan perannya sebagai guru sekaligus kepala sekolah di TK tersebut.

Pada saat itu juga ada seorang tokoh di Hongkong yang merupakan pencari dana di bidang pendidikan ingin memanfaatkan popularitas Hung untuk kepentingan pribadinya. Beruntung Hung sadar dan tidak silau akan popularitas ia menolak tawaran tokoh tersebut.

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Setelah dirawat di rumah sakit, Hung pun bersiap ke sekolah untuk menemui kelima muridnya. Saat itu sekolah akan ditutup jika Hung tidak bisa mendapatkan siswa baru. Anak-anak putus asa untuk membuat sebuah penampilan terbaik dalam upacara kelulusan sebagai hadiah untuk kepala sekolah mereka tercinta dan sebagai perpisahan untuk semuanya. Mereka menahan tangis selama pentas dan adegan ini sangat mengharukan, Tidak hanya Hung yang terharu, saya liat semua penonton di cinemaxx terdiam dan hampir semua menangis melihat adegan ini.

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Saat itu Hung mengumumkan bahwa satu-satunya siswa yang lulus adalah Lo Ka Ka. Hung dan Ka Ka pun memberikan sambutan yang sangat menyentuh hati. Ka Ka sangat berterimakasih atas kerja keras kepala sekolah selama ini mendidik mereka, Kaka bahkan di masa depan bercita-cita ingin menjadi kepala sekolah seperti Hung, diapun minta izin jika ia ingin tidak lulus dan tetap belajar bersama Hung. Adegan ini merupakan klimaks dari “Little Big Master, sangat luar biasa mengharukan.

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Para orang tua murid yang hadir ikut menangis. Semua orang di desa yang akhirnya datang melihat, sangat tersentuh dan Hung menyadari bahwa kegigihan dan kerja keras serta ketulusan hatinya akhirnya membuahkan hasil. Tk ini tidak ditutup justru mendapatkan murid dan dukungan dari masyarakat luas. “Little Big Master” diangkat dari kisah nyata yang menceritakan tentang upaya nona Lui Lai Hung membangun kembali TK Yuen Kong dari sebuah TK yang suram menjadi TK terkemuka.

“Little Big Master” membuat ulang kisah tentang Hung membangun kembali sebuah TK menjadi kehidupan yang menyenangkan bagi para muridnya. Sebuah kisah kecil dengan tawa dan air mata di kota besar. Ada satu pesan yang disampaikan di akhir film ini “Bahwa dalam hidup kita, pasti akan bertemu seorang guru baik yang akan merubah Hidup Kalian,” ini pesan mengingatkan akan guru-guruku dulu saat SD, SMP dan SMA. Satu persatu mereka hadir dalam ingatanku dan aku pun berkata betapa besar jasa mereka.

Diproduseri Benny Chan,  “Little Big Master” menuai banyak pujian dan meraih sukses besar di Hong Kong serta berhasil meraup pendapatan HK$46,6 juta (sekitar Rp 80 milyar) di Hong Kong box office. Jangan lewatkan kisah menyentuh hati yang dihiasi oleh aksi para bintang cilik yang menggemaskan dan mengharukan dalam “Little Big Master” pada hari minggu, tanggal 25 Oktober jam 20.00 WIB hanya di Celestial Movies. Celestial Movies dapat disaksikan Indovision (CH. 20), K-Vision (CH. 47), MatrixTV (CH. 9), Nexmedia (CH. 508), OkeVision (CH. 19), OrangeTV (CH. 162), Skynindo (CH. 19), Transvision (CH. 112), TopTV (CH. 20), Topass TV (CH. 61), UTV (CH. 691), dan YesTV (CH. 108).

Saya berterimakasih kepada Celestial Movies karena diperkenankan menonton film ini. Sepulang dari Nobar saya langsung pulang ke rumah dan cari kanal Celestial Movies yang kebetulan saya berlangganan Transvision, saya penasaran dengan film-filmnya. Selama ini tidak tahu jika ada film Hongkong berkualitas. I Love HK Movies . Selamat Menyaksikan.

Nonton Bareng Seru

Nonton Bareng Seru

Petualangan Sejati, Sejatinya Guru

Posted: September 30, 2013 by Eva in Buku dan Media, Pendidikan

Ini adalah tulisan resensi buku yang aku tulis enam tahun yang lalu, aku belum simpan di blog, baru sempat sekarang aku save semoga bermanfaat

Resensi buku SOKOLA RIMBA,
INSIST PRESS Jogjakarta
Butet Manurung

Sokola-Rimba sampul bukuuku

Petualangan Sejati, Sejatinya Guru

Ibuk, ado akehlah melawon?
Ee..akeh lagi lolo…apolah pintar?
Adoakeh todo lah tokang molajoko kanti?
(Ibu apa aku sudah pintar, ah aku masih bodoh, eh apa sudah pintar? apa aku nanti bisa mengajar orang?

Itu sebagian pertanyaan yang muncul dari bocah-bocah yang hidup di tengah rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, yang ditujukan kepada Butet Manurung. Butet mengalami banyak kesulitan di awal pendekatannya dengan masyarakat adat yang tinggal di TNBD Jambi itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Di kalangan masyarakat adat, yang biasa disebut orang rimba, ada pendapat “mending bodoh daripada pinter tetapi buat minterin orang”. Butet disangka akan mengubah adat mereka. Mereka pun sangat marah terhadap Butet. Sempat terucap dari tetua adat, “Jangan usik-usik adat kami!”

Pada akhirnya perempuan bernama Saur Marlina Manurung ini mendapat jalan masuk ke masyarakat rimba. Ketika itu ada dua orang rimba yang datang pada Butet minta diajari baca tulis. Dari dua orang itulah, sistem kader yang diterapkan Butet berhasil. Anak rimba yang minta diajari baca tulis semakin banyak. Hingga pada suatu ketika berdirilah sokola rimba alias sekolah rimba.

Model sekolah alternatif seperti sokola rimba tak cuma ada di Jambi. Butet keluar masuk hutan dan menyambangi beberapa suku terbelakang yang tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Makassar, Bulukumba, Flores,Halmahera, Klaten, dan Bantul.

Kerja keras dan keseriusan Butet memberikan pendidikan kepada komunitas-komunitas terpinggirkan dan terbelakang telah menyita perhatian masyarakat pendidikan. Membaca buku Sokola Rimba (Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba) tak ubahnya menyimak catatan harian Butet Manurung. Larik-larik kalimatnya dituturkan secara sederhana. Tidak menjadikan pembaca merasa seperti diceramahi. Melainkan mengajak imajinasi pembaca terbang ke alam rimba belantara di pedalaman Jambi. Banyak kisah pahit-getir menjelajah hutan dan kehidupannya bersama orang rimba (OR) yang disebutnya amat bersahaja.

Adaepisode-episode yang bisa membuat tertawa geli menyimak kisah-kisah orang rimba yang udik, konyol, dan lugu.Adapula penggalan yang bisa membuat decak kagum saat Butet mengungkap tradisi luhur dan sistem sosial orang rimba.

Pada bagian pertama buku ini, Butet menulis tuntas kisah pribadinya: dari menyusup di antara celah dedaunan belantara, akar bahar raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan, hingga ketakutannya hidup di tengah dangau sendirian, seperti tercampak di dunia yang gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka, yang sempat membuatnya menggigil saat gelap menyelimuti malam.
Memang, masih banyak orang yang mau mengajar untuk komunitas terpencil dan terbelakang yang masih tinggal di tengah-tengah hutan. Namun, berbagai rintangan banyak pula yang menyurutkan semangat para guru. Bukan saja karena pola kehidupan mereka masih sangat sederhana sehingga banyak menolak kehadiran orang luar. Tantangan datang dari sulitnyamedan, diperparah lagi risiko yang dihadapi selama berada di tengah hutan, seperti terserang penyakit, dihisap pacet, diterkam harimau dan dipatuk ular.

Menulis, Membaca dan Berhitung
Butet menelusup hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi berawal dari keterlibatannya dalam Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi), sebuah organisasi yang bergerak sebagai fasilitator pendidikan. Aktivis muda progresif yang mengantongi dua ijazah, Antropologi dan Bahasa ini, tugas awalnya hanya sebagai pemberi informasi kepada orang rimba tentang peran penting mereka untuk menjaga hutan secara umum.

Ia mengawali pendekatannya dengan pendidikan, yang diyakini sebagai awal dari segala perubahan sikap. Butet secara tidak sengaja mengawali petualang hidupnya dengan menjadi salah satu pendiri model sekolah nonformal yang diselenggarakan di rimba.

Setelah sekian lama berinteraksi, Butet sadar bahwa orang-orang rimba hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan berhitung untuk berinteraksi dengan orang lain di perkotaan. Mereka tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa hutan perlu bestari. Butet justru harus bia menggali keunggulan orang rimba dan membantu mereka ketika berhadapan dengan persoalan dengan masyarakat luar.

Pergulatan nurani Butet sangat terlihat saat melihat laporan-laporan dan foto-foto kegiatannya dijadikan kunci mengalirnya dana dari lembaga donor penyokong uang operasional. Butet tersiksa. Nuraninya berontak. Ia keluar dari KKI Warsi. Perempuan yang menghabiskan masa kecilnya diLeuven, Belgia ini memilih mengelola sekolah rimbanya tanpa keterlibatan lembaga manapun.

Namun, jangan membayangkan Sokola Rimba Butet adalah sepetak bangunan bertembok beratap layaknya sekolah. Sokola Butet hanya dangau kecil tak berdinding, tak beratap, agar jika tak dibutuhkan lagi bisa segera ditinggalkan. Sokola rimba adalah sekolah nomaden, justru sekolah yang mendatangi murid.

Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet menjawab enteng: pada koordinat 01′ 05’’1 LS – 102′ 30’’ BT, alias lokasi Taman Nasional Jambi. Letak sekolahnya memang tak pasti desa maupun kecamatan.
Di sekolah, Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena yang dia punyai. “Murid” yang tidak kebagian disilakan mengambil ranting dan menggarisi tanah. Suatu ketika saat tiba waktu belajar menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut.

Sulitnya Menjadi Guru

Di bagian kedua, buku ini menawarkan opini yang lebih non-diari kehidupan orang rimba. Butet menggugat pandangan orang luar (non-rimba) yang menganggap orang rimba butuh belas kasihan, yang justru menjadikan orang rimba makin rendah diri.

Butet juga menentang anggapan bahwa orang rimba terbelakang, tak berbudaya. Pengalamannya tinggal bersama orang rimba mencatat kehidupan mereka mandiri dan ramah lingkungan, selama tak ada gangguan dari orang luar.
Sokola Rimba juga menjadi sekolah nonformal yang menurutnya lebih mengakrabkan masyarakat adat, terpencil dan terasing. Sekolah yang bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, namun juga bisa memberikan pilihan-pilihan kepada orang rimba memilih dan sadar akan pilihannya.

Perjuangan tak kenal lelah Butet itu banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Ia menerima banyak penghargaan. Misalnya Man and Biosphere Award 2000 dari LIPI, Woman of the Year bidang pendidikan dari ANTV Jakarta (2004), Heroes of Asia Award kategori konservasi dari Majalah TIME (2004), penghargaan pendidikan untuk anggota masyarakat biasa dari Menteri Pendidikan Nasional, penghargaan perempuan dalam bidang keadilan dari PEKA, dan penghargaan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (2005).

Kisah Butet bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya dia mendirikan sokola rimba. Melainkan juga kitab kearifan tentang hidup berdampingan dengan manusia-manusia terpinggirkan dan terasing.

*EVA ROHILAH. Dimuat di Majalah Guru. Dirjen PMPTK Depdiknas. Edisi-4 November 2007

Nasi Campur Kopi atau Ubi dengan Kelapa

Posted: November 1, 2011 by Eva in Pendidikan

Ni Medelu, S.Pd

Guru SD Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud Sion, Desa Enggohe, Pulau Bukide, Nusa Tabukan, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

“Sekarang anak-anak sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia, dan para orangtua juga saya himbau terus untuk sesekali memakai bahasa Indonesia di rumah, belajar dari anak-anak mereka.”

Ni Medelu

Ni Medelu

Bagaimana rasanya bertugas mengajar di pulau kecil di tengah laut luas yang bergelombang besar? Tanyakan saja kepada Ni Medelu, S.Pd. Perempuan itu sudah 14 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru di Pulau Bukide, nun jauh di lepas pantai utara Provinsi Sulawesi Utara, di tubir Samudera Pasifik, di perbatasan utara wilayah Indonesia. Saat ini ia mengajar di Sekolah Dasar (SD) Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Sion, Desa Enggohe, Pulau Bukide, Kecamatan Nusa Tabukan, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Jangankan ke ibukota provinsi, Manado, untuk mencapai ibukota kabupaten saja, Tahuna, ia harus naik perahu seharian melayari laut yang kadang bergelombang tinggi. Kecamatan Nusa Tabukan merupakan pemekaran dari Kecamatan Tabukan utara. Pemekaran ini terjadi oleh karena Wilayah Nusa Tabukan berada pada gugusan pulau kecil yang terpisah dari daratan Kecamatan Tabukan Utara di Pulau Sangihe.
Desa Tertinggal

Desa Enggohe, Bukide, didiami oleh 150-an kepala keluarga dengan total penduduk sekitar 484 jiwa. Pekerjaan mereka adalah sebagai nelayan tradisional dan petani. Enggohe adalah sebuah kampung nelayan dan petani yang tertinggal dengan mayoritas masyarakatnya yang tidak berpendidikan. Di sana kaum laki-laki berjuang melawan ganasnya ombak lautan dan menepis dinginnya angin malam untuk mencari ikan. Para istri kemudian menjualnya ke Tahuna, dengan menumpang perahu.
Penduduk Enggohe umumnya belum menganggap penting pendidikan. Karena itu, mereka lebih suka kalau anak-anaknya tidak sekolah dan membantu orang tuanya mencari ikan atau bertani. Itulah sebabnya, banyak penduduk Enggohe yang tidak bersekolah. Tercatat baru ada seorang sarjana di desa ini, yang berhasil mencapai sekolah tinggi berkat dorongan para gurunya.

Sebelum mengajar di SD GMIST Sion Enggohe, Ni Medelu mendapat tugas mengajar di SD GMIST Nipa, Kampung Nusa, di Kecamatan Tabukan Utara sejak ia ditugaskan pertamakali jadi pegawai negeri pada tahun 1997. Namun, seiring adanya pemekaran, Pada tahun 2000, Ni Medelu berpindah tugas untuk mengajar SD GMIST Sion Enggohe.

Ni Medelu lahir di Mawira, Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe, 5 Agustus 1971. Ia adalah seorang yang kidal, dan karena tidak jamak, ia pernah dipersoalkan ketika masuk sekolah, karena menulis dengan tangan kiri. Nama Ni Medelu sendiri memiliki arti. Nama marga Medelu dalam bahasa Sangihe berarti guntur yang menggelegar. Tapi, tak seperti namanya yang terkesan garang, Ni Medelu ternyata memiliki kepribadian yang lembut, santun, dan ramah. Cocok untuk seorang pendidik.

Setamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Tahuna, Ni Medelu mendaftar di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Manado, karena ia bercita-cita menjadi guru. Ni Medelu kemudian meneruskan pendidikannya sampai meraih gelar sarjana pendidikan di Universitas Terbuka.
Sekolah Sederhana

Ketika pertama kali datang ke Nusa Tabukan, ia menemukan sekolahnya amat sederhana. Gurunya hanya satu merangkap kepala sekolah. Ni Medelu juga merasakan kesulitan berkomunikasi karena bahasa daerahnya berbeda, dan jarang yang menguasai bahasa Indonesia.
Ia masih ingat, betapa susahnya mengajar Bahasa Indonesia pada masa-masa awal ia bertugas. “Perlu penerjemah ke bahasa daerah setempat, karena saya sendiri tak paham bahasa daerah mereka,” tutur Ni Medelu. Berkat ketekunan dan kesabarannya, Ni Medelu kemudian mengajak masyarakat setempat untuk membiasakan diri berbahasa Indonesia. Lama-lama, bahasa Indonesia makin populer.

“Sekarang anak-anak sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia, dan orangtua juga saya himbau terus untuk sesekali memakai bahasa Indonesia di rumah, belajar dari anak-anak mereka,” kata Ni Medelu. Selain itu, Ni Medelu juga berhasil memotivasi para orang tua agar mau menyekolahkan anak-anaknya. Ni Medelu sendiri tidak terlalu mewajibkan anak-anak didiknya untuk mengenakan pakaian seragam lengkap dengan sepatunya, ke sekolah. Sebab, mencari pakaian seragam dan sepatu juga bukan perkara gampang di sana.

Musibah alam sempat menguji Ni Medelu. Pada 21 Januari 2001, sekolahnya terkena longsor. Akibat hujan yang terus menerus, terjadi longsor. Tanah longsor itu menjebolkan dinding sekolah sehingga rata dengan tanah. Semua sarana dan prasarana sekolah tertimbun dan hancur berantakan. Terpaksa, sekolah dipindah ke balai desa dan gedung gereja. “Beberapa bulan kemudian karena balai desa dipakai, kami terpaksa pindah ke SMPN I Nusa Tabukan,” tutur Ni Medelu.
Cukup lama, Ni Medelu dan anak didiknya meminjam gedung SMPN I Nusa Tabukan, karena baru pada 2006 ada bantuan mendirikan sekolah baru. Setelah bangunan baru selesai didirikan, barulah Ni Medelu memboyong anak-anak didiknya ke gedung sekolah baru itu. Karena bangunan baru hanya terdiri dari tiga kelas, maka waktu belajar dibagi. Kelas 1 sampai kelas tiga masuk pagi, dan sisanya masuk sore.
Tambahan Guru Honorer

Bersamaan dengan kembalinya ia bersama murid-muridnya ke sekolah baru, saat itu pula ada tambahan tenaga guru honorer. Guru honorer itu adalah Pdt. A. Kahiking, S.Th. Meski dibayar murah, sang pendeta dengan tekun membantu Ni Medelu memberikan pendidikan kepada para siswa.
Seiring berlalunya waktu, SD GMIST Sion Enggohe pun terus berkembang. Saat ini, ada 63 orang murid di sekolah itu, dengan jumlah pengajar ada lima orang guru, terdiri dari empat orang PNS (Pegawai Negeri SIpil), dan satu tenaga honorer, serta seorang sukarelawan tenaga pengajar dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang dikelola oleh Anies Baswedan.

Sejalan dengan perkembangan zaman, pola pikir masyarakat tentang pendidikan pun turut berkembang. Ini ditunjukkan dengan perhatian dan kepedulian masyarakat Enggohe yang mulai mementingkan pendidikan anak-anaknya. Perhatian komite sekolah terhadap perkembangan sekolah pun makin besar, terlihat dari selalu hadirnya mereka dalam rapat-rapat sekolah.

Adapun masalah yang sering timbul adalah ketika guru harus mengurus administrasi sekolah, termasuk mengambil gaji, atau mengikuti pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan di ibukota kabupaten, Tahuna, atau di tempat lain luar wilayah pulau. “Artinya, kita harus meninggalkan tugas mengajar satu dua hari, karena perjalanannya saja bisa seharian, dan tidak setiap jam ada perahu untuk pulang ke pulau,” tutur Ni Medelu. “Kalau ketinggalan perahu, kita harus menyewa perahu khusus harganya Rp 150.000 hingga Rp 200.000, tapi kalau menunggu perahu yang biasa melayani angkutan harian, ya harus menunggu keesokan harinya, artinya harus bermalam,” papar Ni Medelu.
Makan Nasi Saja atau Ubi

Sebenarnya, pernah ada bantuan dari pemerintah bagi masyarakat Desa Enggohe berupa satu unit perahu dengan mesinnya, untuk dipergunakan masyarakat bepergian ke pulau lain. Tapi sekarang sudah rusak akibat hantaman badai dan gelombang, dan tak ada dana untuk memperbaikinya. Akibatnya, sekarang masyarakat yang hendak menyebrang ke wilayah daratan utama, untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok terpaksa bergantung pada perahu dari pulau lain.
Jika sedang terjadi musim gelombang tinggi, dan angin kencang, tak ada perahu yang berani berlayar. Kapal yang biasa mengirim barang-barang kebutuhan pokok pun tak berani datang. Akibatnya, penduduk kadang kekurangan bahan makanan. “Kalau kami masih ada persediaan beras, kami biasa makan nasi saja disiram dengan kopi,” tutur Ni Medelu. “Kalau tidak, kami makan singkong yang dicampur dengan kelapa parut,” ia menambahkan, sambil tersenyum.

Selain itu, hambatan utama dalam pelaksanaan tugas pendidikan di Enggahe adalah ketiadaan listrik. Ni Medelu dan penduduk Enggohe terpaksa masih mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan. Setiap malam Ni Medelu ditemani oleh lampu botol dan pelita yang temaram. Jika ada angin kencang, mereka pun harus bergelap-gelapan karena tak ada lampu minyak yang mampu bertahan dari terpaan angin kencang. “Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan pada malam hari terbengkalai. Pekerjaan pun semakin menumpuk, apabila esoknya cuaca tidak berubah,” tutur Ni Medelu.

Sarana komunikasi pun jadi persoalan lain. Satu-satunya alat komunikasi yang menjadi andalan Ni Medelu adalah telepon seluler (ponsel). Tapi sinyalnya muncul tenggelam. Dan, jika batereynya habis, tentu tak bisa diisi ulang karena tak ada listrik. “Untuk mengisi baterenya, kalau datang hari pasar mesti ke pasar, atau menitipkan kepada yang berangkat. Cara yang lain adalah datang kepada yang punya generator,” kata Ni Medelu.
Ni Medelu berharap pemerintah mau memperhatikan kondisi masyarakatnya, dengan membantu membangun infrastruktur yang dibutuhkan. Listrik dan sarana transportasi adalah yang dianggap paling penting, agar kehidupan ekonomi dan pendidikan masyarakatnya berkembang.

Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Marcelina Wamburye
Guru Daerah Khusus Berdedikasi dari Papua Barat

Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

“Saya sedih ketika harus pergi ke kota kabupaten untuk mengambil gaji, sehingga harus meninggalkan murid-murid beberapa hari. Akibatnya, kelas kosong, karena tak ada yang mengajar.”

Marcelina Wamburye

Marcelina Wamburye

Nun jauh di pedalaman Papua Barat, di tengah kesunyian belantara, ada seorang pendidik yang tekun menjalankan tugasnya mencerdaskan anak bangsa. Dia adalah Marcelina Wamburye, guru yang mengajar di Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Paulus, di Desa Fruata, Distrik Fafurwar, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Wanita kelahiran Maprima, 23 Juni 1968, itu sudah 14 tahun mengabdikan hidupnya bagi pendidikan anak-anak Desa Fruata.

Teluk Bintuni mempunyai kekayaan alam yang melimpah mulai dari hasil hutan di permukaan tanah, hingga bahan tambang di bawahnya. Bahan tambang yang paling banyak ditemukan adalah gas alam cair (LNG), batu bara, dan mika. Sumber daya alam lainnya terdapat di perairan lautnya yang kaya ikan dan udang. Potensi alam yang besar itu ditunjang oleh letak geografisnya yang strategis, sehingga Kabupaten Teluk Bintuni sangat mungkin menjadi pusat pengembangan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah kepala burung Pulau Papua.

Namun sangat disayangkan, sumber daya alam yang berlimpah itu tidak didukung oleh sumber daya manusia yang bermutu. Selain itu, infrastruktur juga sangat minim. Permukiman-permukiman penduduk yang terpencar-pencar akhirnya menjadi desa-desa yang terisolir karena tak ada prasarana jalan yang memadai yang menjadi penghubung di antara mereka.

Begitulah kondisi Desa Fruata yang juga merupakan desa terpencil dan terisolir di papua Barat. Marcelina Wamburye, terpaksa harus hidup dengan segala keterasingannya dari peradaban yang ingar bingar di perkotaan. SD YPPK Santo Paulus tempat ia mengajar, yang terletak di Desa Fruata, berjarak puluhan kilometer jauhnya dari ibukota Kabupaten Teluk Bintuni, Distrik Bintuni.

Berjalan Kaki ke Pantai

Marcelina Womburye terpaksa harus berjalan kaki berhari-hari menuju Distrik Bintuni untuk mengambil gajinya, atau untuk mengirimkan laporan kepada Dinas Pendidikan Teluk Bintuni. Itu hanya untuk mencapai pantai saja sebelum perjalanan kemudian dilanjutkan dengan perahu. Satu-satunya angkutan yang beroperasi di sana adalah ojek motor, yang biasa mengantar hingga pantai. Ongkosnya sekali jalan Rp 500.000. Marcelina sendiri biasanya pergi dengan berjalan kaki dan terpaksa harus menginap di perjalanan.

Kesulitan transportasi ini tak hanya menghambat masalah pekerjaan, tapi juga akses untuk mendapatkan sumber makanan dan kebutuhan pokok lain. “Memang jarang sekali ada kesempatan ke kota, jadi kita makan seadanya saja, dengan memanfaatkan hasil kebun,” tutur Marcelina. Meskipun demikian, ibu tiga anak ini tidak pernah putus asa dalam menyampaikan ilmu kepada anak didiknya, karena menurut dia, menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil.

“Cita- cita menjadi guru ditanamkan sang ibu sejak saya berusia 12 tahun,” kenang Marcelina. Marcelina bertutur, ketika ayahnya meninggal, ibunya kemudian menjadi tulang punggung. Sang ibu mencari uang dengan membuat minyak kelowan, minyak gosok yang biasa digunakan untuk pijat dan penghangat badan. Marcelina sendiri bertugas menjualnya.

Walaupun kondisi saat itu sulit, tetapi sang Ibu mengharuskan Marcelina dan adik untuk berangkat ke sekolah. Ibunya selalu mengajarkan pada anak-anaknya untuk selalu menjaga semangat mereka dalam kondisi sesulit apapun. Kehidupan Marcelina saat itu sungguh sulit, tetapi ibunya selalu membuat dia semangat dengan mengajarkannya agar menemukan kebahagian di hari depan.

Sang Ibu jualah yang menanamkan pesan kepada Marcelina agar bersekolah dengan baik supaya bisa menjadi seorang guru dan menjadi pembimbing buat adik-adiknya kelak. Pesan dari sang Ibu sangat membekas dan menimbulkan tekad pada Marcelina untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang guru. “Kenangan dan nilai-nilai yang diajarkan ibu pada masa kecil itu sampai sekarang tidak akan bisa dilupakan,” kata Marcelina.

Sekolah Pendidikan Guru

Demi cita-cita menjadi guru itu, usai menamatkan Sekolah Menengah Pertama, Marcelina Womburye kemudian melanjutkan ke Sekolah PendidikanGuru (SPG), dan lulus pada tahun 1990. Selang tiga tahun setelah lulus, Marcelina berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi guru setelah diangkat menjadi PNS. Ia ditempatkan pertama kali di sebuah SD di daerah Tembuni selama tiga tahun. Setelah itu pada Agustus 1997 ia dipindahkan ke SD YPPK Santo Paulus, di Desa Fruata, sampai sekarang.

Marcelina berkisah bahwa pada saat pertama kali bertugas di Desa Fruata, minat warga untuk menyekolahkan putera-puterinya sangat rendah. Kala itu, di sana masih banyak penduduk yang melakukan adat kawin piara, yakni menikahkan anak-anak mereka sejak kecil, sehingga anak-anak itu tak sempat bersekolah. Marcelina berusaha mengubah adat itu, dan mengajak para orang tua agar menyekolahkan anak-anaknya.

Perlahan-lahan Marcelina mengubah tradisi kuno itu, dan akhirnya mulai banyak anak di sana yang menjadi murid-muridnya. Hal yang membuatnya bangga, juga ketika anak-anak itu ada yang melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat SMA, sehingga banyak yang kini sudah menjadi pegawai negeri. “Bila sedang turun ke kota Kabupaten saya sering menjumpai anak didik saya yang sekarang sudah bekerja di berbagai instansi di Disttrik Bintuni,” ungkap Marcelina, gembira.

Saat ini Marcelina mengajar kelas satu dan kelas dua untuk semua mata pelajaran di SD YPPK St. Paulus. Dengan segala keterbatasan, ia bersama teman-teman lainnya sesama guru, bahu membahu mendidik para murid. “Saat ini ada enam kelas di sekolah kami, terdiri dari 150 murid,” ungkap Marcelina. “Untuk mengelola enam kelas, kami hanya memiliki empat guru, tentu saja kami kekurangan guru tapi beginilah kondisinya,” ia melanjutkan.

Kondisi bangunan sekolah pun sudah banyak yang mengalami kerusakan. “Saat ini Ada enam ruangan yang sebenarnya baru direhab pada 2005, tapi kontraktornya kurang bagus, sehinnga sudah rusak lagi,” kata Marcelina. Kekurangan guru dan kondisi gedung yang kurang memadai ini tentu berpengaruh terhadap kualitas pengajaran di sekolah. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya alat-alat penunjang seperti buku-buku pelajaran.

“Ada kalanya kita tidak punya buku pedoman. Dulu, kita biasa beli sendiri dengan uang kita sendiri, sebelum ada dana BOS,” kata Marcelina. “Memang, dari Dinas Pendidikan diberi, tetapi mereka mengatakan tidak ada dana untuk biaya transportasi untuk dikirim ke daerah kami,” Marcelina menambahkan.

Suka Duka Mengajar

Mengajar dengan segala keterbatasan ini tidak mengendorkan semangat Marcelina Womburye untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak didiknya. Banyak suka duka yang dialaminya selama mengajar dengan fasilitas seadanya itu. “Sukanya, saya bertemu dengan anak-anak sehingga saya bisa terhibur, apalagi jika mereka bisa naik kelas. Itu menjadi suatu kebanggaan bahwa saya berhasil,” papar Marcelina. “Dukanya, jika ada dari mereka yang tidak naik kelas. Saya jadi turut sedih karena berarti saya belum berhasil,” tambahnya.

Dan yang pasti, yang membuat Marcelina bangga dan bahagia menjadi guru adalah jika ada anak didiknya yang berhasil mengukir prestasi dan menghasilkan karya. Misalnya, ketika murid-muridnya meraih penghargaan dari bupati atas prestasinya membuat karya-karya kerajinan.

Dan kesedihan lainnya terjadi, ketika Marcelina dan rekan-rekan guru yang lain harus pergi, misalnya untuk mengambil gaji ke kota kabupaten, sehingga harus meninggalkan murid-muridnya beberapa hari. Akibatnya, kelasnya kosong, karena tak ada yang mengajar.

Semangat Marcelina Wamburye untuk melanjutkan pengabdiannya di pedalaman makin menggelora setelah kini ia meraih penghargaan sebagai guru berdedikasi, mewakili Papua Barat. Marcelina berharap, agar Kementerian Pendidikan Nasional bisa memperhatikan lebih banyak guru lagi yang sedang berjibaku membangun pendidikan di pedalaman. Sebab, ia yakin begitu banyak para pendidik yang rela mengabdi untuk Ibu Pertiwi dengan menjadi pengajar di sekolah-sekolah darurat nun jauh di kawasan terpencil di pedalaman pulau-pulau Indonesia.

Eva Rohilah

Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Ahasferos Djaha

Guru Berdedikasi dari daerah khusus Nusa Tenggara Timur

Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Ahasferos Djaha

Ahasferos Djaha

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan sering turun kabut, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak ke sekolah.”

Sorot mata Ahasferos Djaha terlihat tajam dan memandang jauh ke depan. Di usianya yang menjelang senja terlihat garis-garis kerut di dahinya. Namun lelaki kelahiran Alor 12 April 1962 ini, masih tampak gesit dan bersemangat. Wajahnya tempak berseri-seri menunjukkan rasa senangnya berkumpul bersama para guru berdedikasi lainnya dari berbagai daerah khusus dan terpencil, mengikuti serangkaian kegiatan yang dihelat Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dalam menyambut hari ulang tahun Kemerdekaan RI, pertengahan Agustus 2011.

Ahasferos Djaha mengaku senang karena selama ini ia hanya bisa melihat para tokoh bangsa ini lewat layar televisi saja, namun akhirnya ia bisa menjumpainya langsung di Jakarta. “Saya ternyata bisa berjumpa langsung dengan Bapak Menteri Pendidikan Nasional dan Ibu Negara Ibu Ani Yudhoyono,” ujar Djaha. “Bagi saya ini benar-benar seperti mukjizat. Suatu kebanggaan bagi saya bisa terbang ke Jakarta dari kampung saya,” ia melanjutkan.

Mengajar di Puncak Gunung

Ahasferos Djaha adalah seorang guru di Sekolah Dasar (SD) Inpres Awaalah, Kecamatan Alor Barat, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Alor yang terletak di bagian timur laut NTT terdiri dari tiga pulau besar dan enam pulau kecil yang tanahnya, rata-rata berupa pegunungan dan perbukitan kering yang tandus. Kabupaten ini berbatasan dengan pulau-pulau Maluku di sebelah timur, di sebelah barat dengan selat Lomblen Lembata, di sebelah utara dengan Laut Flores, dan di sebelah selatan dengan Selat Ombay dan Timor Leste.

Djaha yang memang lahir dan besar di Desa Awaalah, sudah 27 tahun mengajar di kampungnya itu. Ia pun tak pernah berniat beranjak dari desanya yang sebenarnya terletak nun jauh di atas gunung, terpencil dari keramaian kota. Ketika pertama kali bertugas sebagai pengajar, menurut Djaha, sekolahnya tak ubahnya seperti kondisi sekolah di pedalaman lainnya. SD Inpres Awaalah lebih mirip sekolah darurat tanpa fasilitas memadai. Jumlah tenaga pengajar, sarana dan prasarana belajar, buku-buku pelajaran, semuanya serba minim.

Kondisi kehidupan masyarakat pun amat sulit. Jangankan listrik, prasarana jalan pun masih berupa jalan tanah, yang tak bisa dilewati kendaraan, bahkan air bersih pun susah didapat. “Di desa kami tidak ada sumber air tanah. Kami hanya mengandalkan air hujan yang ditampung,” kata Djaha.
Di Desa Awaalah ada 12 Sekolah Dasar, tersebar dari pinggir laut sampai puncak gunung. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai masih bisa menggali tanah untuk mendapatkan air bersih meski rasanya sedikit asin. “Tapi, kami yang tinggal di gunung, tak bisa menggali tanah karena air tak ada,” tutur Djaha. Begitu sulitnya mendapatkan air, sampai-sampai masyarakat yang tinggal di sana jarang mandi. “Banyak murid datang ke sekolah tidak mandi, tapi hanya cuci muka saja,” kata Djaha sambil terkekeh.

Ahasferos Djaha bertutur, masyarakat desanya biasa mendapatkan air bersih dengan cara menampung air hujan menggunakan bilah-bilah bambu yang mengalirkannya ke bak penampung. Air di sana merupakan barang langka dan mahal. Jika harus membeli air, ongkosnya cukup besar karena harus membayar tukang ojek untuk mencari orang yang menjual air.

Air biasanya dijajakan oleh penjualnya menggunakan mobil tangki, melewati jalan-jalan yang bisa dilalui mobil. Karena itu, penduduk di atas bukit harus mencarinya ke lembah, karena mobil tangki tak bisa naik hingga ke tempat mereka. Djaha pun kerap menggunakan ojek mencari mobil tangki air sambil membawa jerigen. Setiap jerigen air berisi 10 liter, harganya Rp 10.000. Bukan main mahalnya.

Ketiadaan prasarana jalan juga menyebabkan komunikasi dan hubungan antar daerah sangat sulit. Djaha sendiri terpaksa harus menempuh perjalanan dua atau tiga hari untuk mengambil gajinya ke Kalabahi, Ibukota kabupaten Alor Barat. Namun, belakangan, pengambilan gaji biasa dilakukan oleh bendahara sekolah dengan ongkos hasil patungan para guru.

Tiap guru dipungut iuran Rp 10.000 untuk ongkos mengambil gaji, yang turun setiap tanggal 7 tiap bulannya. Jarak Desa Awaalah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Alor, di kota Kalabahi, sekitar 60 km. Satu-satunya alat transpor adalah ojek sepeda motor. “Kalau tak ada ojek terpaksa jalan kaki, dan menginap di perjalanan, apalagi pada musim hujan,” tutur Djaha.

Sekolah Hampir Mati

Meskipun kondisi kehidupan di desanya yang juga jadi tempatnya mengabdi sangat memprihatinkan, Ahasferos Djaha tidak pernah menyerah. Ia tak berniat beranjak setapak pun meninggalkan desanya. Ia ingin terlibat langsung membangun pendidikan di kampungnya, mencerdaskan anak-anak desa yang kelak akan meneruskan membangun daerahnya. Masih segar dalam ingatan Djaha ketika pertama kali ia menjadi guru pada Agustus 1984. Kala itu sekolahnya seperti hidup tidak, mati tak hendak. Gurunya cuma satu, dan murid-muridnya sudah jarang masuk sekolah.

Djaha lalu berupaya menghidupkan sekolah itu, dan mengajak masyarakat bersama-sama memelihara dan menjaga sekolah. Secara bertahap, sekolah itu pun mulai berdenyut kembali. Gurunya, yang semua hanya ia sendiri bersama kepala sekolah, kini sudah bertambah jadi tujuh orang. Jumlah muridnya pun terus naik. sekarang, malah sudah sangat banyak yakni 222 orang, dan jumlah gurunya makin terasa sedikit, sehingga tidak seimbang.

Guru SD Inpres Awaalah hanya ada tujuh orang, plus beberapa guru tambahan yang direkrut dari anggota masyarakat yang bisa mengajar. “Kalau kekurangan guru, maka kami pakai juga warga yang tamatan SMA tapi yang punya kemampuan mengajar. Kami kontrak mereka dengan dibiayai dana BOS,” tutur Djaha.

SD Inpres Awaalah tidak seperti SD kebanyakan yang mewajibkan siswanya masuk tepat pukul 07.00. Murid di SD ini masuk sekolah pukul 08.00. “Kami memberi toleransi waktu, karena letak rumah para murid itu jauh dari sekolah, sehingga anak-anak butuh waktu untuk mencapainya dengan berjalan kaki,” tutur Djaha. Tidak hanya jarak dan medan perjalanan yang menghambat proses belajar tepat waktu. Menurut Djaha, kondisi cuaca juga mempengaruhi jam masuk sekolah.

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00,” kata Djaha. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan anak-anak kerap terlambat sampai di sekolah. Selain itu, sering turun kabut dan udara sangat dingin, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak.

Kelengkapan fasilitas sekolah pun amat minim. Karena kurangnya fasilitas pendukung dalam proses belajar mengajar, kata Djaha, membuat para guru sulit menyampaikan materi pelajaran. “Meskipun guru sudah membuat metode pengajaran banyak atau multimetode, tapi tidak didukung oleh sarana belajar yang semestinya seperti buku, dan alat-alat peraga,” kata Djaha. Toh, menurut Djaha, proses belajar selalu diarahkan bagaimana mambuat murid bisa belajar dengan bersemangat.

Aktif dalam Keagamaan

Meskipun tidak didukung fasilitas yang memadai di SD Inpres Awaalah, namun Ahasferos Djaha bersama guru yang lain tidak pantang menyerah. Apalagi sebagai putra asli kelahiran Awaalah Djaha memiliki harapan yang tinggi agar anak-anak didiknya menjadi orang yang berhasil, dan mengangkat kesejahteraan desanya. Sejak awal bertugas di sekolahnya, Djaha diberi kesempatan untuk menempati rumah yang dibangunnya bersama masyarakat setempat tidak jauh dari tempatnya mengajar.

Djaha sendiri memiliki hubungan baik dengan masyarakat setempat dan menjaga toleransi antar umat beragama. Bahkan sebagai pendidik yang dituakan, Djaha terlibat aktif dalam berbagai kegiatan gereja. “Masyarakat senang karena saya bukan urus sekolah saja, tapi juga mengurus gereja,” kata Djaha. “Tolerasi agama di tempat kami sangat bagus. Keluarga Islam banyak, sehingga kalau tiba hari Lebaran atau Idul Fitri, kami semua masyarakat Awaalah menyatu merayakannya,” tutur Djaha. Begitu juga ketika Natal tiba, kata Djaha, orang Islam juga ikut membantu acara perayaan di gereja.
Di SD Inpres Awaalah sendiri, murid yang beragama Islam ada sekitar 90 orang. Mereka dilayani oleh guru agama Islam juga dalam pelajaran agama.

Terlibatnya Djaha dalam kegiatan kerohanian berawal dari tidak adanya pendeta yang mau rutin naik ke atas gunung untuk melayani jemaah. Akhirnya, dialah yang memimpin acara-acara keagamaan, dengan memperbaiki gereja kecil. Bagi Djaha aktif di gereja adalah seni dalam hidup. “Saya harus bisa membimbing masyarakat kami, karena masyarakat berharap ada yang bisa mebimbing,” kata lulusan Program D-2 di sebuah perguruan tinggi swasta di Kalabahi dan kemudian melanjutkan ke Universitas Terbuka itu.

Menurut Ahasferos Djaha, masyarakat pedalaman seperti warga Dewa Awaalah menilai guru itu sebagai tetua yang biasa memberi petuah sehingga cukup dihormati. Karena itu, Djaha merasa mendapat tuntutan moral untuk tampil memimbing masyarakat termasuk dalam kehidupan beragama. Namun, sebagai pendidik ia pun tak melupakan tugas pokoknya menyelanggarakan pendidikan untuk masa depan anak-anak desanya.

Eva Rohilah