Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Judul Buku: Bumi Manusia
Karya : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Editor : Astuti Ananta Toer
Desain Sampul: Nadia

Sampul Buku-Bumi Manusia

Sampul Buku-Bumi Manusia

Peradaban Awal Manusia Indonesia

Pada saat aku dipenjara di Pulau Buru, aku selalu membayangkan hidup menjadi seorang putri raja Belanda, bernama Minke, ujar Pramoedya pada istrinya yang saat itu sedang hamil tua. Jadi saat Pramoedya menulis cerita Bumi Manusia ini, dia memang sedang mengandung anaknya yang pertama yang mengedit buku itu yaitu Astuti Ananta Toer.

Tuti, kamu harus tahu sampai kapan pun harus tahu aku sangat menyayangkan kenapa penerbit buku ini sekarang gulung tikar karena berselisih dengan penulis ternama dari Majalah Tempo Inisial GM. Kamu harus tahu Tuti, kamu akan lebih besar namanya dibanding dengan dia, yang hanya sekedar kutip sana kutip sini, kamu memiliki semua buku yang aku punya juga semua naskah yang kamu cari keliling dunia.

Akan tetapi Tuti, siapa suruh namamu berganti menjadi nama suamimu sayang? aku lebih senang memanggilmu Astuti PAT daripada Tuti Herawati nama dari suami kamu itu wartawan amplopan.

Aku memang sangat mengerikan Tutui, akan tetapi jika kamu membaca buku ini, aku hanya ingin mengembalikan arwahmu kepada nama besar ayahmu, Aku Pramoedya Ananta Toer.

Jakarta, 4 Desember 2017
yang selalu gelisah di sorga dan akhirat melihat kelakuan anakku
PAT
18.05

Advertisements

MENGARUNGI PERJALANAN SPIRITUAL-INTELEKTUAL

Judul: Bahkan Malaikat Pun Bertanya
Penulis: Dr Jeffrey Lang
Pengantar: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktoebr 2000
Tebal: (xix + 302) halaman

Buku Jefrey Lang

Buku Jefrey Lang

Buku Bahkan Malaikat pun Bertanya ini berangkat dari keprihatinan penulisnya setelah melihat banyak orang Islam di negerinya menghindari atau bahkan mengingkari agama itu, lantaran tak mampu mendamaikan agama yang mereka warisi dengan pandangan Barat sekuler yang mereka peroleh.
Fenomena yang sesungguhnya melanda nyaris semua negeri muslim ini telah membelah umat Islam ke dalam dua kubu yang berlawanan: mereka membekukan dirinya dalam tradisi lama dan mereka yang mengekor pada peradaban Barat.

Yang pertama memandang pemikiran Islam terdahulu sebagai rujukan ideal, dan yang kedua melihat Barat sebagai puncak peradaban. Yang pertama kaum fundamentalis, sedangkan yang kedua kaum liberal.

Kedua kelompok itu sama “menyesatkan”. Agar tidak terperangkap dalam bahaya itu, lewat buku yang dalam peringkat Amazon.com mendapat bintang lima ini penulis menganjurkan umat Islam senantiasa mengembangkan sikap kritis. Baik dalam memandang realitas faktual yang muncul, maupun dalam memahami pesan-pesan Islam itu sendiri.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu stereotip yang populer di Barat. Disebut stereotip karena, kesan-kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab.

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apapun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila masuk Islam atau naik haji?

Hal seperti itulah yang mengusik Jeffrey Lang, ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk ditukar dengan jubah dan sorban seperti Cat Steven, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga tak pernah mengubah Thank God sebagai pengganti Alhamdulillah.

Menurut mualaf Amerika penulis buku terkenal Struggling to Surrender (telah di Indonesiakan menjadi Pergumulan Menuju Kepasrahan, Serambi, Juni 2002) ini, cara yang paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukan mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik.
Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan, katanya. Bahkan malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan pun bertanya! Mereka “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka Bumi: Apakah Engkau akan jadikan disana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

BUKU ini membawa pembaca mengarungi perjalanan spiritual intelektual dengan mendiskusikan konflik-konflik yang terjadi antara agama dan akal, rintangan-rintangan yang dipasang oleh kaum Muslim sendiri yang menghalangi orang untuk memeluk Islam, ekstremisme dalam komunitas Islam, dan lain-lain.

Bahkan Malaikat Pun Bertanya, memiliki arti umum yang sangat penting, ditulis dengan sangat bagus (orang mungkin tidak mengira bila penulisnnya seorang guru besar matematika), dan merupakan hasil dari kajian yang baik.

Memang buku ini adalah gambaran hidup tentang bagaimana Jeffrey Lang begitu tertarik kepada Islam tanpa terbendung lagi. Namun, buku ini juga menawarkan suatu program yang solid dengan menawarkan alasan yang baik bagi semua orang Amerika lainnya memerlukan kajian rasional yang luas dan mendalam sebelum berserah diri pada Allah.

Perjalanan spiritual Dr Lang menjadi terkesan unik dan menarik ketika ia ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi, ia berhasil menemukan pencerahan baru: no escape from being an american. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya.

Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya. Islam tidak pernah datang dari suatu vakum kultural. Karena itu, maka ditemukanlah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Dan mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Akan tetapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah jatuh pada hambatan besar: mengekor Barat? Memang disamping kaum fundamentalis yang mengekor kebudayaan Arab, kita juga menemukan kaum liberal yang mengekor Barat sebagai puncak peradaban.

Terlepas dari jebak-jebakan itu, Dr Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis pada bab 2 buku ini: “Cara paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukanlah mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik, melainkan justru harus sebaliknya. Komunitas Muslim harus terus mendorong kedua hal itu. Kita cenderung berbuat salah manakala kita tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri”.
***
MEMBACA buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalanan spiritual, bukan saja seorang Muslim Amerika, tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dan Islam aktual.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang persiektif orang non-Muslim tentang Ramadhan. Mereka menilai bahwa puasa merupakan ibadah ritual yang paling keras dalam Islam (hlm 216).
Namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa kekhawatiran dari buku ini, yakni dapat menjerumuskan pembaca non-Muslim pada kesan keliru dan sepihak tentang kaum Muslim. Boleh jadi pemburukan media Barat atas citra kaum Muslim dan agama mereka.

Jeffrey Lang menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli (berdasarkan akal) dan nakli (berdasarkan Al-Qur’an).

Uraian Dr Lang dalam buku ini juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. Bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan serius maupun ringan.

(Eva Rohilah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di harian Kompas edisi………..waktu itu ditelepon sama Pak Dewa Brata Redaktur Pustakaloka yang terbit setiap Senin, honornya saya masih ingat 350.000 sangat besar ukuran saat itu, dari sini pula saya diberi beberapa buku baru dari Penerbit Serambi yang Chief Editornya Pak Qamaruddin SF, setelah saya kerja di Alvabet kita sering bertemu sebagai sesama penerbit dan bersahabat baik dengan beliau.

JUNJUNGLAH TINGGI SISTEM NILAI YANG EGALITER

Judul: Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan
Penulis: Dr Irwan Abdullah
Editor: Ana Samsuri
Penerbit: Tarawang Press Yogyakarta
Cetakan 1 Maret 2001
Tebal: (xvi + 222) halaman

Buku Irwan Abdullah

Buku Irwan Abdullah

Diawali dengan ide dan gagasan RA Kartini leawt buku Habis Gelap terbitlah Terang perjuangan perempuan untuk kesetaraan hak sampai kini terus bergulir. Bahkan, belakangan ini wacana itu menjadi semakin marak, lantaran dalam rentang waktu yang demikian panjang dan lama, perempuan menuju persamaan hak belum juga mencapai klimaks.

Dalam struktur yang hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukan pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup.

Akan tetapi, mengapa dalam praktik sosial, perempuan mau mengalah atau dikalahkan? Kesalahan utama yang dilakukan para politisi, peneliti, dan kaum feminis, adalah mereproduksi struktur patriarirkal dengan menekankan wacana ketimpangan jender, perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung, halus, dan sebagainya.
Dengan cara itu sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa untuk kesejahteraan peremepuan. Sebaliknya, perempuan malah tersubordinasi secara terus menerus oleh wacana yang dibangun orang-orang yang sangat ingin membantu perempuan sekalipun
***
Buku Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan ini terdiri dari empat bagian, atau sebelas bab. Ditulis dengan saksama oleh dosen Fakultas Sastra UGM yang sangat tertarik pada masalah perempuan sejak mahasiswa. Penulis itu Dr. Irwan Abdullah, seorang feminis kelahiran Aceh Utara 37 tahun yang lalu.

Melalui bukunya tersebut ia berusaha membawa pembaca mengikuti dua arus besar yang melanda dunia ketiga. Dalam ranah sosial, pembicaraan mengenai perempuan telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada saat konsep “jender” digunakan sebagai perspektif. Jender lebih menunjuk kepada relasi dimana kaum lelaki dan perempuan berinteraksi.

Hal tersebut menjadi rumit tatkala perempuan memainkan berbagai peranan sekaligus. Perempuan ideal kemudian menjadi superwoman yang memiliki kapasitas domestik dan diharapkan memiliki kapasitas dalam bidang publik secara sempurna. Posisi laki-laki disini tampak cenderung tidak digugat.
Secara implisit dinyatakan bahwa peran publik merupakan tanda kemerdekaan perempuan, dan peran domestik digugat karena dianggap telah memenjarakan perempuan. Cara-cara seperti ini sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi sosial.

Dalam proses migrasi dari domestik ke publik, perempuan harus mengeluarkan biaya ideologi yang begitu besar. Perempuan tidak hanya harus memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki untuk memenuhi kriteria sebuah pekerjaan, tetapi juga harus cantik dan menawan. Bukankah ini sekaligus pelecehan terhadap perempuan.

Pada bagian lain, arus balik yang terjadi berasal dari realitas ekonomi. Hal ini berawal dari penandaan tubuh perempuan yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif ke arah fungsi ekonomi demi ekspansi kapital. Tubuh dan hasrat digunakan sebagai titik sentral produk yang disebut sebagai ekonomi libido.

Pembahasan soal itu menjadi menarik ketika menyangkut masalah tubuh perempuan dalam iklan dan rimba laki-laki. Stigma ini cukup diimbangi dengan peranan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi.

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Imbangan itu antar lain tampak dari hasil penelitian tentang bagaimana peranan perempuan dalam pasar, pedesaan, dan kerajinan rumah tangga yang lebih menenkankan pada aspek mobilitas dan mengankat marginalitas profesi seperti bakul (penjaja), tukang jamu. Bhakan juga peranannya dalam home industry.
***

Pesan utama dari penulis adalah bahwa usaha perbaikan kehidupan perempuan bukan usaha memerangi laki-laki tetapi mengubah sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obejek. Perubahan ini akan terjadi apabila bertumpu pada struktur yang menjunjung tinggi sistem nilai dan ideologi yang egaliter.

Kekuatan utama buku ini pada epilog yang merupakan rajutan dari berbagai bab. Masing-masing bagian digarap secara serius karena beberapa bahan dalam buku ini hasil penelitian lapangan serta riset perpustakaan yang dilengkapi dengan data kuantitatif yang cukup akurat.
Disamping itu ada terobosan yang cukup berani untuk melakukan penyegaran, penyusuran, dan penggerusan yang cukup mendalam atas kompilasi wacana yang telah ada, kritikan terhadap kaum feminis, sampai sindiran yang tajam terhadap kaum oportunis.

Sayangnya ada satu kelemahan yang cukup fatal, yaitu tidak seimbang (equal) antara judul buku dengan substansi, yakni dimensi seksisme kurang begitu disentuh secara mendalam. Ulasannya teramat singkat hanya sebatas retorika dan obyektivitas reproduksi dalam kaitannya dengan kekuasaan lelaki.
Hal itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran editor yang kurang memperhatikan grand opinion dan tidak fasih dalam menerapkan gaya penulisan ilmiah sehingga buku ini terkesan kaku meskipun alur penulisannya dari awal hingga akhir menarik.

Akan tetapi, setidaknya, sampul bergambar RA Kartini yang melankonis akan sedikit mengeliminir kelemahan buku ini. Yang jelas, dengan kelebihan dan kekurangannya itu, buku ini telah menambah panjang koleksi buku feminis. Siapapun yang peduli akan nasib, pendidikan, dan masa depan perempuan akan memperoleh manfaat dari buku ini.
(Eva Rohilah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurnalis LPM Sinergi Yogyakarta)
Dimuat di Harian Kompas edisi

JANGAN LUPAKAN TRADISI

Judul: Agama, Negara, dan Penerapan Syaria’ah
Judul Asli: Ad-Din Wa Ad Daulah wa Tathbiq As-Syari’ah Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah (Beirut 1996)
Penulis: Muhammad Abed Al Jabiri
Penerjemah: Ulin Nuha
Penerbit: Fajar Pustaka Bru, Yogyakarta
Cetakan I, September 2001
Tebal: (xxxvi + 201) halaman

Buku Abed Al-Jabiri

Buku Abed Al-Jabiri

MUHAMMAD Abed Al-Jabiri seorang pemikir terkemuka Arab saat ini yang mengangkat berbagai gagasan segar dalam rangka kebangkitan Islam, khususnya di lingkungan negara Arab. Ia punya analisa yang cukup signifikan terhadap masalah yang menyita kaum muslim tentang hubungan negara dan agama.

Masalah itu menjadi mendesak karena kemunculan negara-negara bangsa (nation state) dan berhembusnya semangat sekularisme yang dibawa Barat Modern. Dia mengemukakan, “pertanyaan apakah Islam itu agama atau negara” merupakan pertanyaan palsu karena diajukan oleh kebudayaan Barat dengan segala pengakuan historis yang dilaluinya, bukan cermin realitas kaum Muslim sendiri.

Menurut Al-Jabiri, kalau mau jujur menelaah Al Qur’an dan sejarah Islam, kita akan menemukan fakta bahwa Islam tidak pernah menentukan jenis dan bentuk negara. Rujukan historis maupun praktis tentang kenegaraan Islam hanya ada pada praktik sahabat Nabi SAW, yang menurut dia, itu hanya suatu ijtihad.
Oleh karena itu, sesuai perkembangan zaman, Al-Jabiri dengan tegas mengatakan bahwa demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum Muslim untuk masa kini dan masa depan. Meskipun dia tidak naif dengan mengatakan bahwa para sahabat Nabi SAW telah mempraktikkan demokrasi melalui ajaran syura yang dianggap mempunyai urgensi yang sama dengan demokrasi.

Jika negara itu demokratis, bagaimana dengan penerapan syariah, bagaimana meletakkan syari’ah dalam sebuah negara demokrasi? Al-Jabiri kembali membongkar tradisi dan sejarah secara rasional. Baginya, praktik kenegaraan dan penerapan hukum syariah harus dikaji dan ditelaah secara mendalam. Di sini hukum Islam dianggap sebagai hukum yang hidup (the living law) dan menjiwai setiap aturan tanpa memaksakan simbol sebagai suatu ciri yang otentik.

Buku yang merupakan terjemahan dari kumpulan artikel dari Bahasa Arab ini ditulis oleh Abed Al-Jabiri yang dewasa ini pemikiran dan gagasan-gagasannya dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim berkenaan dengan semakin menguatnya wacana post tradisionalisme Islam dan kajian tentang Islam Liberal.
***

TIDAK ada salahnya jika sebelum membaca buku ini akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang sosok Al-Jabiri.
Intelektual Muslim kelahiran Maroko tahun 1936 ini menempati posisi garda depan pemikiran Islam Arab kontemporer, sederajat dengan Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamd Abu Zayd, Basam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisi, Adonis. Al-Jabiri sering menulis berseri di beberapa harian ternama Timur Tengah, seperti Al-Syarqah Ausath.

Dalam suatu kesempatan pada waktu seminar di Berlin, Jerman, yang diselenggarakan oleh Federich Ebert Stiftung pada tahun 1996, Al-Jabiri bertemu dalam satu forum dengan Abdurrahman Wahid dan Fatima Mernissi yang sama-sama berbicara tentang Civil Society In the Moslem World.

Edisi Cetak Harian Kompas

Edisi Cetak Harian Kompas

Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Naqd al-Aql al’Arabi (Kritik Nalar Arab) yang mejadi perdebatan di kalangan intelektual Muslim karena berbeda dengan “Kritik Nalar Islam” Arkoun. Dalam bahasannya itu, jelas sekali pemikirannya tentang perubahan makna akal tersebut banyak dipengaruhi oleh tokoh filsafat Perancis seperti Jacques Lacan, Althussder, Jacques Derrida, Roland Barthes, dan Michael Foucoult.
Hingga kini tulisan-tulis Al-Jabiri bentuk buku telah mencapai angka belasan. Salah satu kumpulan tulisannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Baso bejudul Post Tradisionalis Islam (LKiS Yogyakarta, 2000) banyak mengulas tentang pejanlanan intelektual Al-Jabiri dan relevansi tradisi dalam pemikiran Islam kontemporer.
***

DALAM penuturannya yang cukup lugas lewat buku ini terasa kepeduliannya terhadap tradisi (al turats) cukup kental dan mewarnai uraiannya. Salah satu persoalan krusial saat ini bagi kebangkitan Islam adalah bagaimana menyikapi tradisi dalam kehidupan bernegara dan beragama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Menurut Al-Jabiri ada dua hal penting yang menyertai kekinian, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita, dan kedua adalah tradisi yang mencakup kemanusiaan yang lebih luas seperti pemikiran filsafat dan sains.

Sikap kaum Muslim terhadap tradisi mempunyai corak yang berbeda, ada yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam karena apa yang ada dalam tradisi tersebut dinilai sudah memadai. Seperti ulama konservatif dan mereka yang justru tidak memiliki pengetahuan yang memadai karena dididik oleh tradisi lain yang sudah memadai.
Kedua, mereka yang menganggap bahwa tradisi sama sekali tidak memadai dalam kehidupan modern saat ini, karena itu harus dibuang jauh-jauh. Kelompok ini adalah mereka yang berpikiran sekuler dan liberal ala Barat sehingga menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola Barat.

Kedua sikap tersebut menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang (ekstrem). Oleh karena itu Al-Jabiri mencoba mencari jalan keluar dari dua sikap ekstrem itu dengan tawaran agar kita berusaha bersikap dan berpijak pada tradisi. Namun, tentu bukan dalam kerangka tradisi kita melebur didalamnya dengan segenap gerak dan gelombangnya, tetapi lebih diperlakukan sebagai produk kebudayaan manusia, sebagai produk ilmiah yang senantiasa berkembang.

Dari sini kita belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional. Di Indonesia pemahaman tentang konsep ini sekarang sedang aktual diwacanakan sebagai “post tradisionalisme”.
***

BUKU yang terdiri dari dua bagian ini berusaha memposisikan hubungan agama dan negara dalam rujukan tradisi dan kebangkitan (renaissance). Penerapan syari’ah diulas secara mendetail, mulai salafisme sampai dengan ekstremisme, antara akidah dan syari’ah, juga diusahakan merasionalkan hukum-hukum syari’ah (hlm 168).
Beberapa kritik terhadap Mazhab Syafi’i, dan ajakan untuk menolak hukum (hudud) berdasarkan argumen ketidakjelasan, akan menjadi wacana yang menarik ketika hukum diletakkan dalam posisi agama dan negara, dengan memperhatikan tradisi dan budaya lokal.

Metode telaah kontemporer yang diajukan Al-Jabiri, merupakan sebuah terobosan yang cukup penting dan aktual dengan kondisi tanah air kita. Selama ini banyak orang yang menelaah tradisi untuk mencari sandaran otoritas belaka tanpa menyadari dimensi historis dan ideologis yang melahirkan tradisi itu. Dalam hal ini sikap terbuka Al-Jabiri terhadap demokrasi dan HAM dengan tanpa sedikit pun merasa terancam dengan kehilangan identitas keislamannya, juga merupakan satu hal yang patut diperhatikan.

Dalam hal tersebut strategi Al-Jabiri untuk mendudukkan pemikiran Barat dan Islam pada mekanisme dan historitasnya masing-masing, adalah sesuatu yang diambil dari semangat Ibn Rusyd dalam menjelaskan hubungan agama dan filsafat. Itu boleh dibilang sebagai merupakan strategi yang cukup menjanjikan.
Terlepas dari sampulnya yang kurang begitu menarik, isi buku ini akan sangat bermanfaat bagi khazanah intelektual Muslim, sebagai wacana alternatif dalam membincangkan kembali agama, negara, dan penerapan hukum (syari’ah) secara proporsional, tanpa melepaskan tradisi, pluralisme, dalam dinamika pergolakan pemikiran Islam kontemporer.
• EVA ROHILAH
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dimuat di Harian Nasional Kompas edisi 22 Maret 2002

Belakangan ini ada banyak hal yang ingin aku tulis berkaitan dengan beberapa kegiatan yang kuikuti belakangan, namun entah kenapa untuk memenuhi penulisan terasa sulit mengatur waktu, beberapa hal yang ingin aku tulis adalah, Jurnal untuk Fakultas Tarbiyah, Jurnal untuk STAIN Pekalongan, Pengalaman 5 hari mengikuti event Ubud Writers and Readers Festival di Bali,15 Tahun Supernova, 4 Film pendek Wregas Bhanuteja, Digital Diplomacy CSIS, review buku2 pemikiran filsafat Islam, Materi Tafsir Alquran yang telah kuikuti setiap Rabu di Pusat Studi Alquran Pondok cabe, Resep bikin Puding, Pameran Filantropis, Perkembangan Buku Digital, Pemikiran dan refleksi hari guru nasional, dan Opini Pribadi saya tentang Truth Of Claim.

Semua itu tiap hari membayangi saya ketika bangun tidur, mana yang saya harus tulis terlebih dahulu. Deadline muncul tiap detik dan saya tidak bisa mengendalikan diri. Semua masih dalam tahap baca buku, pengumpulan data dan rangkaian struktur penulisan. Ada majalah dan buku referensi yang hilang membuat saya kalang kabut untuk bisa menuntaskan semua itu, kembali mencari pengganti dan rempong sana sini mencari buku yang hilang, belum lagi telat mengembalikan buku yang dipinjam ke perpustakaan.

Saat saya dihadapkan dengan semua itu, keasyikan di media sosial membuat saya lupa diri akan membaca buku dan tugas kewajiban menulis, dan sibuk mengamati perang medsos yang semakin hari semakin mengerikan. Saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat status tentang hal yang provokatif dan menyakitkan ormas atau organisasi mahasiswa yang sedang ramai dibicarakan. Tidak menulis status bukan berarti tidak peduli, tapi menghindari klaim bahwa saya paling benar. Politik semakin tidak menarik dan kebencian di media sosial mem1buat satu sama lain saling unfriend, unfollow.

Terlepas dari itu semua, saya gembira buku saya kedua sbg ghostwriter terbit dan akan di launching 10 november di Manado dan Jakarta. Sehabis itu jadwal menanti kemungkinan adalah buku tentang Kedaulatan pangan, juga sebagai Ghost Writer. Mungkin awal Desember baru mulai.

Saat saya galau, tiba-tiba seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu Dr. Hasani Ahmad Said, saat kajian di PSQ menceritakan saat-saat terbaik menulis dan pengalaman dia waktu menyelesaikan studi S3 Doktor Tafsir Hadits di UIN Syarif Hidayatullah. Dia bercerita tentang kisah beberapa tokoh yang mendisiplinkan diri untuk menulis.

Menurut Pak Hasan, saat paling tepat menulis bagi tiga guru besar UIN bermacam-macam. Pertama Pak Quraish Shihab, dia selalu menyempatkan menulis usai shalat subuh sampai jam 7 pagi, itu rutin dia lakukan, kalau tidak menulis ya membaca.

Lalu kedua adalah Pak Azyumardi Azra, Kapan beliau produktif menulis? Menurut Pak Hasan, Pak Azyumardi selalu berangkat jam 6 ke kantornya sejak beliau jadi dosen, padahal dia mengajar mulai jam 9 atau jam 10, nah saat sampai di kantor sampai tiba waktu mengajar, disitulah dia menulis artikel, opini dan buku.

Lalu Pak Hasan cerita sendiri kesibukannya dia saat menulis disertasi. Dalam waktu setahun dia full waktunya habis di perpustakaan dan kost-kostan, bergelut dengan buku, makan dan tidur. itu saja tidak ada aktifitas lain, selama enam bulan terakhir tambah intensif semakin mencintai buku dan melupakan cinta-cinta yang lain…ahai..”untuk itulah kenapa saya baru menikah setelah lulus menjadi doktor”.

Pengalaman dari ketiga orang guru besar UIN yang diceritakan Pak Hasan, saya catat dan garis dengan stabillo tebal, siapa tahu akan berguna buat saya saat ini atau suatu hari nanti. Mungkin itu yang saya ingin tulis hari ini dan saya berterimakasih kepada Ibu Lilik Umi Kaltsum MA, ibu nyai yang menjadi guru mengaji saat saya di Sunan Pandanaran dulu dan sekarang menjadi ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliaulah yang mengajak saya mengikuti kajian di PSQ setiap rabu dengan materi yang
menarik dan berbagai metode tafsir Alqur’an.

bersama Ibu Nyai Lilik Umi Kaltsum, Guru Ngaji di PPSPA Jogja

Foto Bersama Bu Nyai Lilik Umi Kaltsum di rumah Ning Mainunah

Selain butuh disiplin waktu, tempat yang cozy juga baik untuk menulis, seperti perpustakaan dan rumah, jangan lupa matikan gadget anda saat menulis, jangan terlalu percaya atau copy paste google, menulislah dengan murni pemikiran sendiri, cara anda sendiri, dan jangan lupa sertakan referensi.

Gedung C Lantai 4
Sudirman 8 November 2016
Pulul 14.54

Akhir pekan kemarin 17 Oktober 2010, aku diundang ke acara nonton bareng Film berjudul “Little Big Master” di Cinemaxx Plaza Semanggi persembahan Celestal Movies. Aku berangkat dari rumah bareng suami, lalu pisah di pasar minggu dan aq naik busway dari Pasar Minggu ke Plaza Semanggi. Sampai Plangi masih pagi jam 9, dan registrasi jam 10-jam 11. Aku bertemu dengan teman-teman dari Kumpulan Emak-emak blogger, ternyata banyak juga blogger dari komunitas lain seperti Kompasiana dan Blog detik. Kami mendapatkan goodie bag cantik dan snack.

Tepat pukul 11 Aku masuk studio dan tayangan film “Little Big Master” pun dimulai. Adegan diawali dialog seorang guru dengan murid yang merasa tertekan masuk di kelas berbakat sebuah Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) elit di Kota Hongkong. Orangtua sang murid tidak terima ketika mengetahui laporan bahwa anaknya tidak bisa dimasukkan kelas berbakat dan menanyakan siapa yang membuat laporan kepadanya, maka direktur sekolah memanggil kepala sekolah TK elit tersebut dan diminta menjelaskan kepada kedua orangtua anak tersebut. Sang Kepala Sekolah, Lui Wai-hung (diperankan oleh Miriam Yeung) menjelaskan apa adanya tentang kondisi muridnya, untuk menghindari sang murid dari stress, sebaiknya anak tersebut dimasukkan ke kelas reguler. Namun kedua orang tua murid yang merupakan orang terpandang dan kaya raya tetap tidak mau terima, sehingga akhirnya hati Direktur pun luluh. Dia lebih mematuhi keinginan orang tua murid untuk tetap memasukkan anak tersebut ke kelas berbakat dan mengabaikan pendapat Kepala Sekolahnya.

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Merasa tidak nyaman, Hung Usai mengajar di TK, Hung mengatakan kepada suaminya Dong (diperankan oleh Louis Koo) memilih mundur dari TK ternama dan berencana melakukan perjalanan pensiun keliling dunia. Dong yang bekerja sebagai perancang di museum pun sedang bermasalah dengan kantornya. Sehingga sisa waktu yang ada diisi Hung dengan berolahraga ke gym dan belajar bahasa asing. Namun, Hung mengerti bahwa kondisi pensiunnya hanyalah cara untuk menjauh dari minatnya yang memudar terhadap pendidikan.

Saat tidak sengaja berolahraga, Hung memperhatikan ada iklan penerimaan di sebuah TK di desa yang mencari kepala sekolah sekaligus pengawas sekolah dalam satu posisi. Jika sekolah tersebut gagal mendapatkan kepala sekolah baru pada waktunya, maka akan ditutup. Hal ini membuat 5 siswa yang tersisa akan kehilangan kesempatan untuk bisa bersekolah. Hung khawatir, masa depan anak-anak tersebut menjadi tidak jelas. Dengan harapan bisa mencarikan sekolah yang lebih baik untuk mereka sebelum tahun ajaran baru tahun depan, Hung memutuskan untuk melamar jabatan sebagai kepala sekolah meski dengan gaji rendah (4.500 Dollar Hongkong) dan menunda perjalanan pensiunannya.

Saat pertama kali Hung mengunjungi kelima anak tersebut, Siu Suet, Ka Ka, Chu Chu serta Kitty dan Jennie, dua bersaudara dari Asia Selatan, mereka menolak keras untuk menerima orang asing. Namun setelah menunjukkan banyak perhatian dan kesabaran, Hung dengan cepat mendapat kepercayaan mereka. Kepolosan mereka yang murni menyentuh Hung serta menyalakan kembali minatnya terhadap pendidikan dan dia mulai tahu cerita di balik mereka satu per satu.

Hung Mengantarkan Anak didiknya ke toilet desa saat hujan deras

Masih banyak hal yang perlu dilakukan selain merencanakan kurikulum, termasuk memperbaiki bangunan tua sekolah tersebut, membersihkan toilet dan menjemput anak-anak ke sekolah. Saat hujan deras dan toilet sekolah meluap, Hung bahkan rela mengantarkan anak-anaknya ke toilet desa. Hung bahkan harus berdiri tegak menentang cemooh dari masyarakat setelah membantu orang tua mereka yang miskin. Namun demikian, dia mampu melewati semua kesulitan dengan semangatnya yang besar dan perlahan jatuh cinta pada tempat tersebut. Dia memutuskan untuk mengelola sekolah tersebut dan mulai mencari siswa baru.

Salah satu yang menarik dan menggores hati dari film ini adalah karakter kuat kelima muridnya. Murid pertama adalah Ho Siu Suet (diperankan oleh Ho Yun-Ying Winnie) Salah satu dari lima murid. Ibu Siu Suet masih menunggu visa di Cina Daratan untuk datang ke Hong Kong. Si kecil Siu Suet tinggal bersama ayahnya yang tua dan sakit-sakitan bekerja sebagai pengumpul besi tua. Dia mengurus pekerjaan rumah pada usia belia. Murid kedua adalah Tam Mei Chu / Chu Chu (diperankan oleh Keira Wang), Chu Chu takut pada hujan badai setelah kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan mobil saat malam badai dan petir menggelegar. Sejak itu Chu Chu diadopsi oleh kerabat jauhnya, Bibi Han.

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Murid ketiga adalah Fu Shun-ying sebagai Lo Ka Ka / Ka Ka (diperankan oleh Fu Shun-ying), Ka Ka adalah gadis yang sangat dewasa walau usianya masih belia. Dia menolak untuk pergi ke sekolah karena harus menjadi penengah pertengkaran kedua orang tuanya. Sedangkan murid ke empat dan kelima adalah Kittie dan Jennie Fahima (diperankan oleh Zaha Fathima & Khan Nayab). Kitty dan Jennie adalah kakak beradik diantara kelima murid. Mereka di bawah tekanan keluarga karena keberatan ayah mereka yang mengabaikan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuannya.Orangtuanya adalah imigran dari Asia Selatan.

Hung Bersama Kelima Muridnya

Hung Bersama Kelima Muridnya

Dengan setulus hati, Hung mengajar kelima muridnya. Dia juga mengajak para orangtuanya terlibat dengan kegiatan sekolah seperti field trip ke sebuah taman di kota Hongkong. Hung pun mulai dikenal oleh masyarakat dengan sebutan kepala sekolah 4.500 Dollar Hongkong. Pada saat bermain di taman tersebut ada dialog yang sangat menarik antara Hung dan salah seorang pengunjung taman yang difabel. Dia mengenal Hung melalui media dan mengatakan salut atas perjuangan Hung dia berkata “Pendidikan terbaik tidak terdapat pada pada perangkat kerasnya, namun ada pada kebaikan hati para pendidiknya,” ujarnya. Pesan dari perkataan pengunjung itu sangat dalam dan menyadarkan saya akan pentingnya kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah.

Bermain Bersama

Bermain Bersama

Waktu terus berlalu dan masa perekrutan siswa baru pun segera dimulai. Di sisi lain, para orang tua dihasut untuk mengeluarkan anak mereka dari sekolah. Hung menerima pemberitahuan terakhir tentang pemecatan dirinya. Namun Hung tidak putus asa, dia bisa mengatasi semuanya dan datang berkunjung ke ruamh muridnya. Hingga akhirnya dia mempersiapkan murid-muridnya untuk menari dan bernyanyi. Niat semula yang hanya mengajar sampai empat bulan pun pupus. Hung ingin merekrut siswa baru. Di sisi lain, Dong sangat mengkhawatirkan kesehatan Hung setelah mengetahui itu bukan pekerjaan sementara.

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Pada saat itu ada ketegangan antara Hung dan suaminya yang saat itu kurang setuju dengan rencana Hung, karena akan membatalkan impian mereka ke luar negeri. Saat ulang tahun ibunya, Hung yang datang terlambat mendapat pesan dari mertuanya bahwa Hung yang menderita penyakit tiroid sudah jarang berkunjung ke dokter yang menanganinya. Dong pun menyadari jika Hung belakangan jarang minum ramuan tradisional yang disiapkannya. Dia khawatir penyakitnya akan kambuh lagi meski sudah diangkat. Namun, Hung tidak pantang menyerah Hung sangat bersemangat mempersiapkan pesta kelulusan dan menyebar brosur dan menunggu pendaftaran siswa baru hingga saat-saat penting dimana ia harus menghadiri acara Dong dan tidak ada satupun murid yang mendaftar, penyakitnya pun kambuh dan ia pun jatuh sakit. Dong pun segera membawa Hung ke rumah sakit dan benar, jika penyakit tiroid yang dideritanya muncul lagi meskipun tumornya sudah diangkat. Berhari-hari Hung dirawat di rumah sakit dan Dong pun menggantikan perannya sebagai guru sekaligus kepala sekolah di TK tersebut.

Pada saat itu juga ada seorang tokoh di Hongkong yang merupakan pencari dana di bidang pendidikan ingin memanfaatkan popularitas Hung untuk kepentingan pribadinya. Beruntung Hung sadar dan tidak silau akan popularitas ia menolak tawaran tokoh tersebut.

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Setelah dirawat di rumah sakit, Hung pun bersiap ke sekolah untuk menemui kelima muridnya. Saat itu sekolah akan ditutup jika Hung tidak bisa mendapatkan siswa baru. Anak-anak putus asa untuk membuat sebuah penampilan terbaik dalam upacara kelulusan sebagai hadiah untuk kepala sekolah mereka tercinta dan sebagai perpisahan untuk semuanya. Mereka menahan tangis selama pentas dan adegan ini sangat mengharukan, Tidak hanya Hung yang terharu, saya liat semua penonton di cinemaxx terdiam dan hampir semua menangis melihat adegan ini.

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Saat itu Hung mengumumkan bahwa satu-satunya siswa yang lulus adalah Lo Ka Ka. Hung dan Ka Ka pun memberikan sambutan yang sangat menyentuh hati. Ka Ka sangat berterimakasih atas kerja keras kepala sekolah selama ini mendidik mereka, Kaka bahkan di masa depan bercita-cita ingin menjadi kepala sekolah seperti Hung, diapun minta izin jika ia ingin tidak lulus dan tetap belajar bersama Hung. Adegan ini merupakan klimaks dari “Little Big Master, sangat luar biasa mengharukan.

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Para orang tua murid yang hadir ikut menangis. Semua orang di desa yang akhirnya datang melihat, sangat tersentuh dan Hung menyadari bahwa kegigihan dan kerja keras serta ketulusan hatinya akhirnya membuahkan hasil. Tk ini tidak ditutup justru mendapatkan murid dan dukungan dari masyarakat luas. “Little Big Master” diangkat dari kisah nyata yang menceritakan tentang upaya nona Lui Lai Hung membangun kembali TK Yuen Kong dari sebuah TK yang suram menjadi TK terkemuka.

“Little Big Master” membuat ulang kisah tentang Hung membangun kembali sebuah TK menjadi kehidupan yang menyenangkan bagi para muridnya. Sebuah kisah kecil dengan tawa dan air mata di kota besar. Ada satu pesan yang disampaikan di akhir film ini “Bahwa dalam hidup kita, pasti akan bertemu seorang guru baik yang akan merubah Hidup Kalian,” ini pesan mengingatkan akan guru-guruku dulu saat SD, SMP dan SMA. Satu persatu mereka hadir dalam ingatanku dan aku pun berkata betapa besar jasa mereka.

Diproduseri Benny Chan,  “Little Big Master” menuai banyak pujian dan meraih sukses besar di Hong Kong serta berhasil meraup pendapatan HK$46,6 juta (sekitar Rp 80 milyar) di Hong Kong box office. Jangan lewatkan kisah menyentuh hati yang dihiasi oleh aksi para bintang cilik yang menggemaskan dan mengharukan dalam “Little Big Master” pada hari minggu, tanggal 25 Oktober jam 20.00 WIB hanya di Celestial Movies. Celestial Movies dapat disaksikan Indovision (CH. 20), K-Vision (CH. 47), MatrixTV (CH. 9), Nexmedia (CH. 508), OkeVision (CH. 19), OrangeTV (CH. 162), Skynindo (CH. 19), Transvision (CH. 112), TopTV (CH. 20), Topass TV (CH. 61), UTV (CH. 691), dan YesTV (CH. 108).

Saya berterimakasih kepada Celestial Movies karena diperkenankan menonton film ini. Sepulang dari Nobar saya langsung pulang ke rumah dan cari kanal Celestial Movies yang kebetulan saya berlangganan Transvision, saya penasaran dengan film-filmnya. Selama ini tidak tahu jika ada film Hongkong berkualitas. I Love HK Movies . Selamat Menyaksikan.

Nonton Bareng Seru

Nonton Bareng Seru

Petualangan Sejati, Sejatinya Guru

Posted: September 30, 2013 by Eva in Buku dan Media, Pendidikan

Ini adalah tulisan resensi buku yang aku tulis enam tahun yang lalu, aku belum simpan di blog, baru sempat sekarang aku save semoga bermanfaat

Resensi buku SOKOLA RIMBA,
INSIST PRESS Jogjakarta
Butet Manurung

Sokola-Rimba sampul bukuuku

Petualangan Sejati, Sejatinya Guru

Ibuk, ado akehlah melawon?
Ee..akeh lagi lolo…apolah pintar?
Adoakeh todo lah tokang molajoko kanti?
(Ibu apa aku sudah pintar, ah aku masih bodoh, eh apa sudah pintar? apa aku nanti bisa mengajar orang?

Itu sebagian pertanyaan yang muncul dari bocah-bocah yang hidup di tengah rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, yang ditujukan kepada Butet Manurung. Butet mengalami banyak kesulitan di awal pendekatannya dengan masyarakat adat yang tinggal di TNBD Jambi itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Di kalangan masyarakat adat, yang biasa disebut orang rimba, ada pendapat “mending bodoh daripada pinter tetapi buat minterin orang”. Butet disangka akan mengubah adat mereka. Mereka pun sangat marah terhadap Butet. Sempat terucap dari tetua adat, “Jangan usik-usik adat kami!”

Pada akhirnya perempuan bernama Saur Marlina Manurung ini mendapat jalan masuk ke masyarakat rimba. Ketika itu ada dua orang rimba yang datang pada Butet minta diajari baca tulis. Dari dua orang itulah, sistem kader yang diterapkan Butet berhasil. Anak rimba yang minta diajari baca tulis semakin banyak. Hingga pada suatu ketika berdirilah sokola rimba alias sekolah rimba.

Model sekolah alternatif seperti sokola rimba tak cuma ada di Jambi. Butet keluar masuk hutan dan menyambangi beberapa suku terbelakang yang tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Makassar, Bulukumba, Flores,Halmahera, Klaten, dan Bantul.

Kerja keras dan keseriusan Butet memberikan pendidikan kepada komunitas-komunitas terpinggirkan dan terbelakang telah menyita perhatian masyarakat pendidikan. Membaca buku Sokola Rimba (Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba) tak ubahnya menyimak catatan harian Butet Manurung. Larik-larik kalimatnya dituturkan secara sederhana. Tidak menjadikan pembaca merasa seperti diceramahi. Melainkan mengajak imajinasi pembaca terbang ke alam rimba belantara di pedalaman Jambi. Banyak kisah pahit-getir menjelajah hutan dan kehidupannya bersama orang rimba (OR) yang disebutnya amat bersahaja.

Adaepisode-episode yang bisa membuat tertawa geli menyimak kisah-kisah orang rimba yang udik, konyol, dan lugu.Adapula penggalan yang bisa membuat decak kagum saat Butet mengungkap tradisi luhur dan sistem sosial orang rimba.

Pada bagian pertama buku ini, Butet menulis tuntas kisah pribadinya: dari menyusup di antara celah dedaunan belantara, akar bahar raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan, hingga ketakutannya hidup di tengah dangau sendirian, seperti tercampak di dunia yang gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka, yang sempat membuatnya menggigil saat gelap menyelimuti malam.
Memang, masih banyak orang yang mau mengajar untuk komunitas terpencil dan terbelakang yang masih tinggal di tengah-tengah hutan. Namun, berbagai rintangan banyak pula yang menyurutkan semangat para guru. Bukan saja karena pola kehidupan mereka masih sangat sederhana sehingga banyak menolak kehadiran orang luar. Tantangan datang dari sulitnyamedan, diperparah lagi risiko yang dihadapi selama berada di tengah hutan, seperti terserang penyakit, dihisap pacet, diterkam harimau dan dipatuk ular.

Menulis, Membaca dan Berhitung
Butet menelusup hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi berawal dari keterlibatannya dalam Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi), sebuah organisasi yang bergerak sebagai fasilitator pendidikan. Aktivis muda progresif yang mengantongi dua ijazah, Antropologi dan Bahasa ini, tugas awalnya hanya sebagai pemberi informasi kepada orang rimba tentang peran penting mereka untuk menjaga hutan secara umum.

Ia mengawali pendekatannya dengan pendidikan, yang diyakini sebagai awal dari segala perubahan sikap. Butet secara tidak sengaja mengawali petualang hidupnya dengan menjadi salah satu pendiri model sekolah nonformal yang diselenggarakan di rimba.

Setelah sekian lama berinteraksi, Butet sadar bahwa orang-orang rimba hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan berhitung untuk berinteraksi dengan orang lain di perkotaan. Mereka tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa hutan perlu bestari. Butet justru harus bia menggali keunggulan orang rimba dan membantu mereka ketika berhadapan dengan persoalan dengan masyarakat luar.

Pergulatan nurani Butet sangat terlihat saat melihat laporan-laporan dan foto-foto kegiatannya dijadikan kunci mengalirnya dana dari lembaga donor penyokong uang operasional. Butet tersiksa. Nuraninya berontak. Ia keluar dari KKI Warsi. Perempuan yang menghabiskan masa kecilnya diLeuven, Belgia ini memilih mengelola sekolah rimbanya tanpa keterlibatan lembaga manapun.

Namun, jangan membayangkan Sokola Rimba Butet adalah sepetak bangunan bertembok beratap layaknya sekolah. Sokola Butet hanya dangau kecil tak berdinding, tak beratap, agar jika tak dibutuhkan lagi bisa segera ditinggalkan. Sokola rimba adalah sekolah nomaden, justru sekolah yang mendatangi murid.

Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet menjawab enteng: pada koordinat 01′ 05’’1 LS – 102′ 30’’ BT, alias lokasi Taman Nasional Jambi. Letak sekolahnya memang tak pasti desa maupun kecamatan.
Di sekolah, Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena yang dia punyai. “Murid” yang tidak kebagian disilakan mengambil ranting dan menggarisi tanah. Suatu ketika saat tiba waktu belajar menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut.

Sulitnya Menjadi Guru

Di bagian kedua, buku ini menawarkan opini yang lebih non-diari kehidupan orang rimba. Butet menggugat pandangan orang luar (non-rimba) yang menganggap orang rimba butuh belas kasihan, yang justru menjadikan orang rimba makin rendah diri.

Butet juga menentang anggapan bahwa orang rimba terbelakang, tak berbudaya. Pengalamannya tinggal bersama orang rimba mencatat kehidupan mereka mandiri dan ramah lingkungan, selama tak ada gangguan dari orang luar.
Sokola Rimba juga menjadi sekolah nonformal yang menurutnya lebih mengakrabkan masyarakat adat, terpencil dan terasing. Sekolah yang bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, namun juga bisa memberikan pilihan-pilihan kepada orang rimba memilih dan sadar akan pilihannya.

Perjuangan tak kenal lelah Butet itu banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Ia menerima banyak penghargaan. Misalnya Man and Biosphere Award 2000 dari LIPI, Woman of the Year bidang pendidikan dari ANTV Jakarta (2004), Heroes of Asia Award kategori konservasi dari Majalah TIME (2004), penghargaan pendidikan untuk anggota masyarakat biasa dari Menteri Pendidikan Nasional, penghargaan perempuan dalam bidang keadilan dari PEKA, dan penghargaan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (2005).

Kisah Butet bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya dia mendirikan sokola rimba. Melainkan juga kitab kearifan tentang hidup berdampingan dengan manusia-manusia terpinggirkan dan terasing.

*EVA ROHILAH. Dimuat di Majalah Guru. Dirjen PMPTK Depdiknas. Edisi-4 November 2007

Nasi Campur Kopi atau Ubi dengan Kelapa

Posted: November 1, 2011 by Eva in Pendidikan

Ni Medelu, S.Pd

Guru SD Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud Sion, Desa Enggohe, Pulau Bukide, Nusa Tabukan, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

“Sekarang anak-anak sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia, dan para orangtua juga saya himbau terus untuk sesekali memakai bahasa Indonesia di rumah, belajar dari anak-anak mereka.”

Ni Medelu

Ni Medelu

Bagaimana rasanya bertugas mengajar di pulau kecil di tengah laut luas yang bergelombang besar? Tanyakan saja kepada Ni Medelu, S.Pd. Perempuan itu sudah 14 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru di Pulau Bukide, nun jauh di lepas pantai utara Provinsi Sulawesi Utara, di tubir Samudera Pasifik, di perbatasan utara wilayah Indonesia. Saat ini ia mengajar di Sekolah Dasar (SD) Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Sion, Desa Enggohe, Pulau Bukide, Kecamatan Nusa Tabukan, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Jangankan ke ibukota provinsi, Manado, untuk mencapai ibukota kabupaten saja, Tahuna, ia harus naik perahu seharian melayari laut yang kadang bergelombang tinggi. Kecamatan Nusa Tabukan merupakan pemekaran dari Kecamatan Tabukan utara. Pemekaran ini terjadi oleh karena Wilayah Nusa Tabukan berada pada gugusan pulau kecil yang terpisah dari daratan Kecamatan Tabukan Utara di Pulau Sangihe.
Desa Tertinggal

Desa Enggohe, Bukide, didiami oleh 150-an kepala keluarga dengan total penduduk sekitar 484 jiwa. Pekerjaan mereka adalah sebagai nelayan tradisional dan petani. Enggohe adalah sebuah kampung nelayan dan petani yang tertinggal dengan mayoritas masyarakatnya yang tidak berpendidikan. Di sana kaum laki-laki berjuang melawan ganasnya ombak lautan dan menepis dinginnya angin malam untuk mencari ikan. Para istri kemudian menjualnya ke Tahuna, dengan menumpang perahu.
Penduduk Enggohe umumnya belum menganggap penting pendidikan. Karena itu, mereka lebih suka kalau anak-anaknya tidak sekolah dan membantu orang tuanya mencari ikan atau bertani. Itulah sebabnya, banyak penduduk Enggohe yang tidak bersekolah. Tercatat baru ada seorang sarjana di desa ini, yang berhasil mencapai sekolah tinggi berkat dorongan para gurunya.

Sebelum mengajar di SD GMIST Sion Enggohe, Ni Medelu mendapat tugas mengajar di SD GMIST Nipa, Kampung Nusa, di Kecamatan Tabukan Utara sejak ia ditugaskan pertamakali jadi pegawai negeri pada tahun 1997. Namun, seiring adanya pemekaran, Pada tahun 2000, Ni Medelu berpindah tugas untuk mengajar SD GMIST Sion Enggohe.

Ni Medelu lahir di Mawira, Kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Sangihe, 5 Agustus 1971. Ia adalah seorang yang kidal, dan karena tidak jamak, ia pernah dipersoalkan ketika masuk sekolah, karena menulis dengan tangan kiri. Nama Ni Medelu sendiri memiliki arti. Nama marga Medelu dalam bahasa Sangihe berarti guntur yang menggelegar. Tapi, tak seperti namanya yang terkesan garang, Ni Medelu ternyata memiliki kepribadian yang lembut, santun, dan ramah. Cocok untuk seorang pendidik.

Setamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Tahuna, Ni Medelu mendaftar di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Manado, karena ia bercita-cita menjadi guru. Ni Medelu kemudian meneruskan pendidikannya sampai meraih gelar sarjana pendidikan di Universitas Terbuka.
Sekolah Sederhana

Ketika pertama kali datang ke Nusa Tabukan, ia menemukan sekolahnya amat sederhana. Gurunya hanya satu merangkap kepala sekolah. Ni Medelu juga merasakan kesulitan berkomunikasi karena bahasa daerahnya berbeda, dan jarang yang menguasai bahasa Indonesia.
Ia masih ingat, betapa susahnya mengajar Bahasa Indonesia pada masa-masa awal ia bertugas. “Perlu penerjemah ke bahasa daerah setempat, karena saya sendiri tak paham bahasa daerah mereka,” tutur Ni Medelu. Berkat ketekunan dan kesabarannya, Ni Medelu kemudian mengajak masyarakat setempat untuk membiasakan diri berbahasa Indonesia. Lama-lama, bahasa Indonesia makin populer.

“Sekarang anak-anak sudah fasih menggunakan bahasa Indonesia, dan orangtua juga saya himbau terus untuk sesekali memakai bahasa Indonesia di rumah, belajar dari anak-anak mereka,” kata Ni Medelu. Selain itu, Ni Medelu juga berhasil memotivasi para orang tua agar mau menyekolahkan anak-anaknya. Ni Medelu sendiri tidak terlalu mewajibkan anak-anak didiknya untuk mengenakan pakaian seragam lengkap dengan sepatunya, ke sekolah. Sebab, mencari pakaian seragam dan sepatu juga bukan perkara gampang di sana.

Musibah alam sempat menguji Ni Medelu. Pada 21 Januari 2001, sekolahnya terkena longsor. Akibat hujan yang terus menerus, terjadi longsor. Tanah longsor itu menjebolkan dinding sekolah sehingga rata dengan tanah. Semua sarana dan prasarana sekolah tertimbun dan hancur berantakan. Terpaksa, sekolah dipindah ke balai desa dan gedung gereja. “Beberapa bulan kemudian karena balai desa dipakai, kami terpaksa pindah ke SMPN I Nusa Tabukan,” tutur Ni Medelu.
Cukup lama, Ni Medelu dan anak didiknya meminjam gedung SMPN I Nusa Tabukan, karena baru pada 2006 ada bantuan mendirikan sekolah baru. Setelah bangunan baru selesai didirikan, barulah Ni Medelu memboyong anak-anak didiknya ke gedung sekolah baru itu. Karena bangunan baru hanya terdiri dari tiga kelas, maka waktu belajar dibagi. Kelas 1 sampai kelas tiga masuk pagi, dan sisanya masuk sore.
Tambahan Guru Honorer

Bersamaan dengan kembalinya ia bersama murid-muridnya ke sekolah baru, saat itu pula ada tambahan tenaga guru honorer. Guru honorer itu adalah Pdt. A. Kahiking, S.Th. Meski dibayar murah, sang pendeta dengan tekun membantu Ni Medelu memberikan pendidikan kepada para siswa.
Seiring berlalunya waktu, SD GMIST Sion Enggohe pun terus berkembang. Saat ini, ada 63 orang murid di sekolah itu, dengan jumlah pengajar ada lima orang guru, terdiri dari empat orang PNS (Pegawai Negeri SIpil), dan satu tenaga honorer, serta seorang sukarelawan tenaga pengajar dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang dikelola oleh Anies Baswedan.

Sejalan dengan perkembangan zaman, pola pikir masyarakat tentang pendidikan pun turut berkembang. Ini ditunjukkan dengan perhatian dan kepedulian masyarakat Enggohe yang mulai mementingkan pendidikan anak-anaknya. Perhatian komite sekolah terhadap perkembangan sekolah pun makin besar, terlihat dari selalu hadirnya mereka dalam rapat-rapat sekolah.

Adapun masalah yang sering timbul adalah ketika guru harus mengurus administrasi sekolah, termasuk mengambil gaji, atau mengikuti pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan di ibukota kabupaten, Tahuna, atau di tempat lain luar wilayah pulau. “Artinya, kita harus meninggalkan tugas mengajar satu dua hari, karena perjalanannya saja bisa seharian, dan tidak setiap jam ada perahu untuk pulang ke pulau,” tutur Ni Medelu. “Kalau ketinggalan perahu, kita harus menyewa perahu khusus harganya Rp 150.000 hingga Rp 200.000, tapi kalau menunggu perahu yang biasa melayani angkutan harian, ya harus menunggu keesokan harinya, artinya harus bermalam,” papar Ni Medelu.
Makan Nasi Saja atau Ubi

Sebenarnya, pernah ada bantuan dari pemerintah bagi masyarakat Desa Enggohe berupa satu unit perahu dengan mesinnya, untuk dipergunakan masyarakat bepergian ke pulau lain. Tapi sekarang sudah rusak akibat hantaman badai dan gelombang, dan tak ada dana untuk memperbaikinya. Akibatnya, sekarang masyarakat yang hendak menyebrang ke wilayah daratan utama, untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok terpaksa bergantung pada perahu dari pulau lain.
Jika sedang terjadi musim gelombang tinggi, dan angin kencang, tak ada perahu yang berani berlayar. Kapal yang biasa mengirim barang-barang kebutuhan pokok pun tak berani datang. Akibatnya, penduduk kadang kekurangan bahan makanan. “Kalau kami masih ada persediaan beras, kami biasa makan nasi saja disiram dengan kopi,” tutur Ni Medelu. “Kalau tidak, kami makan singkong yang dicampur dengan kelapa parut,” ia menambahkan, sambil tersenyum.

Selain itu, hambatan utama dalam pelaksanaan tugas pendidikan di Enggahe adalah ketiadaan listrik. Ni Medelu dan penduduk Enggohe terpaksa masih mengandalkan lampu minyak sebagai penerangan. Setiap malam Ni Medelu ditemani oleh lampu botol dan pelita yang temaram. Jika ada angin kencang, mereka pun harus bergelap-gelapan karena tak ada lampu minyak yang mampu bertahan dari terpaan angin kencang. “Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan pada malam hari terbengkalai. Pekerjaan pun semakin menumpuk, apabila esoknya cuaca tidak berubah,” tutur Ni Medelu.

Sarana komunikasi pun jadi persoalan lain. Satu-satunya alat komunikasi yang menjadi andalan Ni Medelu adalah telepon seluler (ponsel). Tapi sinyalnya muncul tenggelam. Dan, jika batereynya habis, tentu tak bisa diisi ulang karena tak ada listrik. “Untuk mengisi baterenya, kalau datang hari pasar mesti ke pasar, atau menitipkan kepada yang berangkat. Cara yang lain adalah datang kepada yang punya generator,” kata Ni Medelu.
Ni Medelu berharap pemerintah mau memperhatikan kondisi masyarakatnya, dengan membantu membangun infrastruktur yang dibutuhkan. Listrik dan sarana transportasi adalah yang dianggap paling penting, agar kehidupan ekonomi dan pendidikan masyarakatnya berkembang.

Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Marcelina Wamburye
Guru Daerah Khusus Berdedikasi dari Papua Barat

Melawan Kawin Piara Mengajak Bersekolah

“Saya sedih ketika harus pergi ke kota kabupaten untuk mengambil gaji, sehingga harus meninggalkan murid-murid beberapa hari. Akibatnya, kelas kosong, karena tak ada yang mengajar.”

Marcelina Wamburye

Marcelina Wamburye

Nun jauh di pedalaman Papua Barat, di tengah kesunyian belantara, ada seorang pendidik yang tekun menjalankan tugasnya mencerdaskan anak bangsa. Dia adalah Marcelina Wamburye, guru yang mengajar di Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Paulus, di Desa Fruata, Distrik Fafurwar, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Wanita kelahiran Maprima, 23 Juni 1968, itu sudah 14 tahun mengabdikan hidupnya bagi pendidikan anak-anak Desa Fruata.

Teluk Bintuni mempunyai kekayaan alam yang melimpah mulai dari hasil hutan di permukaan tanah, hingga bahan tambang di bawahnya. Bahan tambang yang paling banyak ditemukan adalah gas alam cair (LNG), batu bara, dan mika. Sumber daya alam lainnya terdapat di perairan lautnya yang kaya ikan dan udang. Potensi alam yang besar itu ditunjang oleh letak geografisnya yang strategis, sehingga Kabupaten Teluk Bintuni sangat mungkin menjadi pusat pengembangan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah kepala burung Pulau Papua.

Namun sangat disayangkan, sumber daya alam yang berlimpah itu tidak didukung oleh sumber daya manusia yang bermutu. Selain itu, infrastruktur juga sangat minim. Permukiman-permukiman penduduk yang terpencar-pencar akhirnya menjadi desa-desa yang terisolir karena tak ada prasarana jalan yang memadai yang menjadi penghubung di antara mereka.

Begitulah kondisi Desa Fruata yang juga merupakan desa terpencil dan terisolir di papua Barat. Marcelina Wamburye, terpaksa harus hidup dengan segala keterasingannya dari peradaban yang ingar bingar di perkotaan. SD YPPK Santo Paulus tempat ia mengajar, yang terletak di Desa Fruata, berjarak puluhan kilometer jauhnya dari ibukota Kabupaten Teluk Bintuni, Distrik Bintuni.

Berjalan Kaki ke Pantai

Marcelina Womburye terpaksa harus berjalan kaki berhari-hari menuju Distrik Bintuni untuk mengambil gajinya, atau untuk mengirimkan laporan kepada Dinas Pendidikan Teluk Bintuni. Itu hanya untuk mencapai pantai saja sebelum perjalanan kemudian dilanjutkan dengan perahu. Satu-satunya angkutan yang beroperasi di sana adalah ojek motor, yang biasa mengantar hingga pantai. Ongkosnya sekali jalan Rp 500.000. Marcelina sendiri biasanya pergi dengan berjalan kaki dan terpaksa harus menginap di perjalanan.

Kesulitan transportasi ini tak hanya menghambat masalah pekerjaan, tapi juga akses untuk mendapatkan sumber makanan dan kebutuhan pokok lain. “Memang jarang sekali ada kesempatan ke kota, jadi kita makan seadanya saja, dengan memanfaatkan hasil kebun,” tutur Marcelina. Meskipun demikian, ibu tiga anak ini tidak pernah putus asa dalam menyampaikan ilmu kepada anak didiknya, karena menurut dia, menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil.

“Cita- cita menjadi guru ditanamkan sang ibu sejak saya berusia 12 tahun,” kenang Marcelina. Marcelina bertutur, ketika ayahnya meninggal, ibunya kemudian menjadi tulang punggung. Sang ibu mencari uang dengan membuat minyak kelowan, minyak gosok yang biasa digunakan untuk pijat dan penghangat badan. Marcelina sendiri bertugas menjualnya.

Walaupun kondisi saat itu sulit, tetapi sang Ibu mengharuskan Marcelina dan adik untuk berangkat ke sekolah. Ibunya selalu mengajarkan pada anak-anaknya untuk selalu menjaga semangat mereka dalam kondisi sesulit apapun. Kehidupan Marcelina saat itu sungguh sulit, tetapi ibunya selalu membuat dia semangat dengan mengajarkannya agar menemukan kebahagian di hari depan.

Sang Ibu jualah yang menanamkan pesan kepada Marcelina agar bersekolah dengan baik supaya bisa menjadi seorang guru dan menjadi pembimbing buat adik-adiknya kelak. Pesan dari sang Ibu sangat membekas dan menimbulkan tekad pada Marcelina untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang guru. “Kenangan dan nilai-nilai yang diajarkan ibu pada masa kecil itu sampai sekarang tidak akan bisa dilupakan,” kata Marcelina.

Sekolah Pendidikan Guru

Demi cita-cita menjadi guru itu, usai menamatkan Sekolah Menengah Pertama, Marcelina Womburye kemudian melanjutkan ke Sekolah PendidikanGuru (SPG), dan lulus pada tahun 1990. Selang tiga tahun setelah lulus, Marcelina berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi guru setelah diangkat menjadi PNS. Ia ditempatkan pertama kali di sebuah SD di daerah Tembuni selama tiga tahun. Setelah itu pada Agustus 1997 ia dipindahkan ke SD YPPK Santo Paulus, di Desa Fruata, sampai sekarang.

Marcelina berkisah bahwa pada saat pertama kali bertugas di Desa Fruata, minat warga untuk menyekolahkan putera-puterinya sangat rendah. Kala itu, di sana masih banyak penduduk yang melakukan adat kawin piara, yakni menikahkan anak-anak mereka sejak kecil, sehingga anak-anak itu tak sempat bersekolah. Marcelina berusaha mengubah adat itu, dan mengajak para orang tua agar menyekolahkan anak-anaknya.

Perlahan-lahan Marcelina mengubah tradisi kuno itu, dan akhirnya mulai banyak anak di sana yang menjadi murid-muridnya. Hal yang membuatnya bangga, juga ketika anak-anak itu ada yang melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat SMA, sehingga banyak yang kini sudah menjadi pegawai negeri. “Bila sedang turun ke kota Kabupaten saya sering menjumpai anak didik saya yang sekarang sudah bekerja di berbagai instansi di Disttrik Bintuni,” ungkap Marcelina, gembira.

Saat ini Marcelina mengajar kelas satu dan kelas dua untuk semua mata pelajaran di SD YPPK St. Paulus. Dengan segala keterbatasan, ia bersama teman-teman lainnya sesama guru, bahu membahu mendidik para murid. “Saat ini ada enam kelas di sekolah kami, terdiri dari 150 murid,” ungkap Marcelina. “Untuk mengelola enam kelas, kami hanya memiliki empat guru, tentu saja kami kekurangan guru tapi beginilah kondisinya,” ia melanjutkan.

Kondisi bangunan sekolah pun sudah banyak yang mengalami kerusakan. “Saat ini Ada enam ruangan yang sebenarnya baru direhab pada 2005, tapi kontraktornya kurang bagus, sehinnga sudah rusak lagi,” kata Marcelina. Kekurangan guru dan kondisi gedung yang kurang memadai ini tentu berpengaruh terhadap kualitas pengajaran di sekolah. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya alat-alat penunjang seperti buku-buku pelajaran.

“Ada kalanya kita tidak punya buku pedoman. Dulu, kita biasa beli sendiri dengan uang kita sendiri, sebelum ada dana BOS,” kata Marcelina. “Memang, dari Dinas Pendidikan diberi, tetapi mereka mengatakan tidak ada dana untuk biaya transportasi untuk dikirim ke daerah kami,” Marcelina menambahkan.

Suka Duka Mengajar

Mengajar dengan segala keterbatasan ini tidak mengendorkan semangat Marcelina Womburye untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak didiknya. Banyak suka duka yang dialaminya selama mengajar dengan fasilitas seadanya itu. “Sukanya, saya bertemu dengan anak-anak sehingga saya bisa terhibur, apalagi jika mereka bisa naik kelas. Itu menjadi suatu kebanggaan bahwa saya berhasil,” papar Marcelina. “Dukanya, jika ada dari mereka yang tidak naik kelas. Saya jadi turut sedih karena berarti saya belum berhasil,” tambahnya.

Dan yang pasti, yang membuat Marcelina bangga dan bahagia menjadi guru adalah jika ada anak didiknya yang berhasil mengukir prestasi dan menghasilkan karya. Misalnya, ketika murid-muridnya meraih penghargaan dari bupati atas prestasinya membuat karya-karya kerajinan.

Dan kesedihan lainnya terjadi, ketika Marcelina dan rekan-rekan guru yang lain harus pergi, misalnya untuk mengambil gaji ke kota kabupaten, sehingga harus meninggalkan murid-muridnya beberapa hari. Akibatnya, kelasnya kosong, karena tak ada yang mengajar.

Semangat Marcelina Wamburye untuk melanjutkan pengabdiannya di pedalaman makin menggelora setelah kini ia meraih penghargaan sebagai guru berdedikasi, mewakili Papua Barat. Marcelina berharap, agar Kementerian Pendidikan Nasional bisa memperhatikan lebih banyak guru lagi yang sedang berjibaku membangun pendidikan di pedalaman. Sebab, ia yakin begitu banyak para pendidik yang rela mengabdi untuk Ibu Pertiwi dengan menjadi pengajar di sekolah-sekolah darurat nun jauh di kawasan terpencil di pedalaman pulau-pulau Indonesia.

Eva Rohilah

Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Ahasferos Djaha

Guru Berdedikasi dari daerah khusus Nusa Tenggara Timur

Iuran Untuk Ongkos Mengambil Gaji

Ahasferos Djaha

Ahasferos Djaha

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan sering turun kabut, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak ke sekolah.”

Sorot mata Ahasferos Djaha terlihat tajam dan memandang jauh ke depan. Di usianya yang menjelang senja terlihat garis-garis kerut di dahinya. Namun lelaki kelahiran Alor 12 April 1962 ini, masih tampak gesit dan bersemangat. Wajahnya tempak berseri-seri menunjukkan rasa senangnya berkumpul bersama para guru berdedikasi lainnya dari berbagai daerah khusus dan terpencil, mengikuti serangkaian kegiatan yang dihelat Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dalam menyambut hari ulang tahun Kemerdekaan RI, pertengahan Agustus 2011.

Ahasferos Djaha mengaku senang karena selama ini ia hanya bisa melihat para tokoh bangsa ini lewat layar televisi saja, namun akhirnya ia bisa menjumpainya langsung di Jakarta. “Saya ternyata bisa berjumpa langsung dengan Bapak Menteri Pendidikan Nasional dan Ibu Negara Ibu Ani Yudhoyono,” ujar Djaha. “Bagi saya ini benar-benar seperti mukjizat. Suatu kebanggaan bagi saya bisa terbang ke Jakarta dari kampung saya,” ia melanjutkan.

Mengajar di Puncak Gunung

Ahasferos Djaha adalah seorang guru di Sekolah Dasar (SD) Inpres Awaalah, Kecamatan Alor Barat, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Alor yang terletak di bagian timur laut NTT terdiri dari tiga pulau besar dan enam pulau kecil yang tanahnya, rata-rata berupa pegunungan dan perbukitan kering yang tandus. Kabupaten ini berbatasan dengan pulau-pulau Maluku di sebelah timur, di sebelah barat dengan selat Lomblen Lembata, di sebelah utara dengan Laut Flores, dan di sebelah selatan dengan Selat Ombay dan Timor Leste.

Djaha yang memang lahir dan besar di Desa Awaalah, sudah 27 tahun mengajar di kampungnya itu. Ia pun tak pernah berniat beranjak dari desanya yang sebenarnya terletak nun jauh di atas gunung, terpencil dari keramaian kota. Ketika pertama kali bertugas sebagai pengajar, menurut Djaha, sekolahnya tak ubahnya seperti kondisi sekolah di pedalaman lainnya. SD Inpres Awaalah lebih mirip sekolah darurat tanpa fasilitas memadai. Jumlah tenaga pengajar, sarana dan prasarana belajar, buku-buku pelajaran, semuanya serba minim.

Kondisi kehidupan masyarakat pun amat sulit. Jangankan listrik, prasarana jalan pun masih berupa jalan tanah, yang tak bisa dilewati kendaraan, bahkan air bersih pun susah didapat. “Di desa kami tidak ada sumber air tanah. Kami hanya mengandalkan air hujan yang ditampung,” kata Djaha.
Di Desa Awaalah ada 12 Sekolah Dasar, tersebar dari pinggir laut sampai puncak gunung. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai masih bisa menggali tanah untuk mendapatkan air bersih meski rasanya sedikit asin. “Tapi, kami yang tinggal di gunung, tak bisa menggali tanah karena air tak ada,” tutur Djaha. Begitu sulitnya mendapatkan air, sampai-sampai masyarakat yang tinggal di sana jarang mandi. “Banyak murid datang ke sekolah tidak mandi, tapi hanya cuci muka saja,” kata Djaha sambil terkekeh.

Ahasferos Djaha bertutur, masyarakat desanya biasa mendapatkan air bersih dengan cara menampung air hujan menggunakan bilah-bilah bambu yang mengalirkannya ke bak penampung. Air di sana merupakan barang langka dan mahal. Jika harus membeli air, ongkosnya cukup besar karena harus membayar tukang ojek untuk mencari orang yang menjual air.

Air biasanya dijajakan oleh penjualnya menggunakan mobil tangki, melewati jalan-jalan yang bisa dilalui mobil. Karena itu, penduduk di atas bukit harus mencarinya ke lembah, karena mobil tangki tak bisa naik hingga ke tempat mereka. Djaha pun kerap menggunakan ojek mencari mobil tangki air sambil membawa jerigen. Setiap jerigen air berisi 10 liter, harganya Rp 10.000. Bukan main mahalnya.

Ketiadaan prasarana jalan juga menyebabkan komunikasi dan hubungan antar daerah sangat sulit. Djaha sendiri terpaksa harus menempuh perjalanan dua atau tiga hari untuk mengambil gajinya ke Kalabahi, Ibukota kabupaten Alor Barat. Namun, belakangan, pengambilan gaji biasa dilakukan oleh bendahara sekolah dengan ongkos hasil patungan para guru.

Tiap guru dipungut iuran Rp 10.000 untuk ongkos mengambil gaji, yang turun setiap tanggal 7 tiap bulannya. Jarak Desa Awaalah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Alor, di kota Kalabahi, sekitar 60 km. Satu-satunya alat transpor adalah ojek sepeda motor. “Kalau tak ada ojek terpaksa jalan kaki, dan menginap di perjalanan, apalagi pada musim hujan,” tutur Djaha.

Sekolah Hampir Mati

Meskipun kondisi kehidupan di desanya yang juga jadi tempatnya mengabdi sangat memprihatinkan, Ahasferos Djaha tidak pernah menyerah. Ia tak berniat beranjak setapak pun meninggalkan desanya. Ia ingin terlibat langsung membangun pendidikan di kampungnya, mencerdaskan anak-anak desa yang kelak akan meneruskan membangun daerahnya. Masih segar dalam ingatan Djaha ketika pertama kali ia menjadi guru pada Agustus 1984. Kala itu sekolahnya seperti hidup tidak, mati tak hendak. Gurunya cuma satu, dan murid-muridnya sudah jarang masuk sekolah.

Djaha lalu berupaya menghidupkan sekolah itu, dan mengajak masyarakat bersama-sama memelihara dan menjaga sekolah. Secara bertahap, sekolah itu pun mulai berdenyut kembali. Gurunya, yang semua hanya ia sendiri bersama kepala sekolah, kini sudah bertambah jadi tujuh orang. Jumlah muridnya pun terus naik. sekarang, malah sudah sangat banyak yakni 222 orang, dan jumlah gurunya makin terasa sedikit, sehingga tidak seimbang.

Guru SD Inpres Awaalah hanya ada tujuh orang, plus beberapa guru tambahan yang direkrut dari anggota masyarakat yang bisa mengajar. “Kalau kekurangan guru, maka kami pakai juga warga yang tamatan SMA tapi yang punya kemampuan mengajar. Kami kontrak mereka dengan dibiayai dana BOS,” tutur Djaha.

SD Inpres Awaalah tidak seperti SD kebanyakan yang mewajibkan siswanya masuk tepat pukul 07.00. Murid di SD ini masuk sekolah pukul 08.00. “Kami memberi toleransi waktu, karena letak rumah para murid itu jauh dari sekolah, sehingga anak-anak butuh waktu untuk mencapainya dengan berjalan kaki,” tutur Djaha. Tidak hanya jarak dan medan perjalanan yang menghambat proses belajar tepat waktu. Menurut Djaha, kondisi cuaca juga mempengaruhi jam masuk sekolah.

“Di tempat kami, pada musim hujan, biasanya Desember sampai Februari, murid-murid baru bisa masuk sekolah pukul 09.00,” kata Djaha. Penyebabnya, pada musim hujan itu jalanan becek, dan anak-anak kerap terlambat sampai di sekolah. Selain itu, sering turun kabut dan udara sangat dingin, sehingga menyulitkan perjalanan anak-anak.

Kelengkapan fasilitas sekolah pun amat minim. Karena kurangnya fasilitas pendukung dalam proses belajar mengajar, kata Djaha, membuat para guru sulit menyampaikan materi pelajaran. “Meskipun guru sudah membuat metode pengajaran banyak atau multimetode, tapi tidak didukung oleh sarana belajar yang semestinya seperti buku, dan alat-alat peraga,” kata Djaha. Toh, menurut Djaha, proses belajar selalu diarahkan bagaimana mambuat murid bisa belajar dengan bersemangat.

Aktif dalam Keagamaan

Meskipun tidak didukung fasilitas yang memadai di SD Inpres Awaalah, namun Ahasferos Djaha bersama guru yang lain tidak pantang menyerah. Apalagi sebagai putra asli kelahiran Awaalah Djaha memiliki harapan yang tinggi agar anak-anak didiknya menjadi orang yang berhasil, dan mengangkat kesejahteraan desanya. Sejak awal bertugas di sekolahnya, Djaha diberi kesempatan untuk menempati rumah yang dibangunnya bersama masyarakat setempat tidak jauh dari tempatnya mengajar.

Djaha sendiri memiliki hubungan baik dengan masyarakat setempat dan menjaga toleransi antar umat beragama. Bahkan sebagai pendidik yang dituakan, Djaha terlibat aktif dalam berbagai kegiatan gereja. “Masyarakat senang karena saya bukan urus sekolah saja, tapi juga mengurus gereja,” kata Djaha. “Tolerasi agama di tempat kami sangat bagus. Keluarga Islam banyak, sehingga kalau tiba hari Lebaran atau Idul Fitri, kami semua masyarakat Awaalah menyatu merayakannya,” tutur Djaha. Begitu juga ketika Natal tiba, kata Djaha, orang Islam juga ikut membantu acara perayaan di gereja.
Di SD Inpres Awaalah sendiri, murid yang beragama Islam ada sekitar 90 orang. Mereka dilayani oleh guru agama Islam juga dalam pelajaran agama.

Terlibatnya Djaha dalam kegiatan kerohanian berawal dari tidak adanya pendeta yang mau rutin naik ke atas gunung untuk melayani jemaah. Akhirnya, dialah yang memimpin acara-acara keagamaan, dengan memperbaiki gereja kecil. Bagi Djaha aktif di gereja adalah seni dalam hidup. “Saya harus bisa membimbing masyarakat kami, karena masyarakat berharap ada yang bisa mebimbing,” kata lulusan Program D-2 di sebuah perguruan tinggi swasta di Kalabahi dan kemudian melanjutkan ke Universitas Terbuka itu.

Menurut Ahasferos Djaha, masyarakat pedalaman seperti warga Dewa Awaalah menilai guru itu sebagai tetua yang biasa memberi petuah sehingga cukup dihormati. Karena itu, Djaha merasa mendapat tuntutan moral untuk tampil memimbing masyarakat termasuk dalam kehidupan beragama. Namun, sebagai pendidik ia pun tak melupakan tugas pokoknya menyelanggarakan pendidikan untuk masa depan anak-anak desanya.

Eva Rohilah

Menghidupkan Sekolah Sekarat Bersama Warga

Posted: October 26, 2011 by Eva in Pendidikan

Asoyadi
Guru Berdedikasi dari daerah khusus Kalimantan Barat

Menghidupkan Sekolah Sekarat Bersama Warga

“Saya banyak berutang budi kepada penduduk, karena saya kerap menginap di rumah mereka dalam perjalanan. Kalau saya menginap, mereka sering saya buat repot karena harus menyediakan tempat tidur dan memberi saya makan.”
—–
Asoyadi terpana begitu menginjakkan kakinya di Ibukota Jakarta. Lelaki penyandang gelar sarjana pendidikan yang biasa dipanggil Asoy ini seolah seperti berada dalam mimpi. Ia berdecak kagum melihat gedung-gedung tinggi menjulang ke angkasa, melihat jalanan lebar mulus beraspal, dan kendaraan yang berjejal di hampir semua ruas jalanan Jakarta.

Asoyadi adalah guru sekolah dasar (SD) di daerah terpencil nun jauh di sana, di Kalimantan. Tepatnya, ia adalah pengajar di SD Negeri 25 Panit Semaro, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Ia diundang ke Jakarta pertengahan Agustus lalu, sebagai Guru Berdedikasi Daerah Khusus tingkat nasional tahun 2011 mewakili Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Bersama guru-guru berprestasi lainnya dari seluruh Indonesia, Asoy diundang menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara. Selanjutnya, ia juga mengikuti serangkaian acara yang digelar Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas).

Asoyadi yang juga baru pertama kali naik pesawat –yang menerbangkannya ke Jakarta, tak henti-hentinya berkomentar kagum melihat pembangunan kota Jakarta yang seperti jauh tanah ke langit dengan pembangunan di daerahnya. “Saya takjub dengan Jakarta. Jalannya bertingkat-tingkat dan meliuk-liuk, gedungnya bagus-bagus,” ujarnya. “Di tempat saya mengajar di Kuala Behe, untuk mencapai jalan raya saja harus ditempuh berjam-jam jalan kaki melalui jalan kecil,” Asoyadi menambahkan.

Selama di Jakarta, Asoyadi tak menyembunyikan rasa senangnya bisa bertemu dengan sesama pengajar dari seluruh Indonesia. Mereka bersama-sama mengiktui kegiatan yang digelar oleh Subdit Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar (PTK) Dikdas Ditjen Pendidikan Dasar, Kemdiknas.

Asoyadi lahir di Desa Sekendal, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, pada 25 Maret 1975 itu. Asoy memang layak terpilih sebagai Guru Berdedikasi. Ia bukan hanya telah mengabdi selama 14 tahun tanpa noda, namun pengabdian itu pun terasa amat bermakna karena ia melaksanakan tugasnya sebagai pengajar di daerah terpencil di pedalaman, dengan berbagai kesulitannya.

Empat belas tahun lalu, Asoy lulus program Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Tak lama setelah lulus, ia berhasil menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan ditempatkan di SDN 25 Panit Semaro, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak. Asoyadi sendiri merasa tak begitu asing dengan kondisi perdesaan di pedalaman. Karena itu, ia rela saja meski ditugaskan mengajar jauh di pedalaman. Putra pasangan petani, Simplisianus Ganti dan Yustina Junah yang merupakan orang Dayak asli itu, pun segera pamit kepada keluarganya untuk mulai menjalankan tugasnya. Kala itu, Asoy berusia 22 tahun, dan ia membawa istrinya, Nurdiana Fitri, turut serta ke tempatnya mengajar.

Terpencil dan Terisolir
Kabupaten Landak adalah salah satu daerah tingkat dua di Provinsi Kalimantan Barat yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Pontianak pada tahun 1999. Ibu kota kabupaten ini terletak di Ngabang. Luas wilayah Kabupaten Landak mencapai 9.909,10 km² terbagi dalam 10 kecamatan dengan 174 desa. Lokasi antara satu desa dengan desa lainnya terpencar-pencar dengan jarak yang jauh, dan belum terhubung satu sama lain dengan sarana jalan yang memadai. Yang ada, sebagian besar merupakan jalan setapak atau jalan kecil yang belum berbatu, sehingga susah dilalui kendaraan pada musim hujan.

Landak berasal dari Bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata Lan dan Dak, yang berarti tanah orang Dayak. Mayoritas penduduk aslinya memang dari etnis Dayak dengan segala kekhasan budaya dan adat istiadatnya. Bahkan di sana masih ada peninggalan rumah Panjang/Betang yang merupakan warisan kebudayaan nenek moyang suku Dayak.

Asoyadi bertutur, dari desa kelahirannya ia terpaksa harus menempuh medan berat ke tempat tugasnya. Ia harus berjalan kaki berjam-jam lamanya dari ujung jalan raya terakhir, sebelum sampai di Desa Panit Semaro, tempat sekolahnya berada.

Selain itu, sesampainya di tempat tugas, Asoyadi juga dihadapkan pada kondisi sekolah yang nyaris sekarat. Kala itu, waktu pertama kali ia datang di sana tahun 1997, sekolah yang menjadi tempat bertugasnya sudah hampir tutup. Gurunya yang cuma seorang, jarang datang, dan akibatnya banyak muridnya yang juga enggan bersekolah atau pindah ke sekolah lain. Kepala sekolahnya tak berdaya. Ia saja sudah kewalahan mengajar sendirian.

“Begitu saya bertugas, saya langsung berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk membujuk lagi murid-murid agar mau kembali lagi bersekolah,” tutur Asoyadi. Asoy lalu menggelar rapat dengan para orang tua murid, agar membujuk anak-anaknya kembali sekolah. “Kemudian saya minta bantuan mereka agar memperbaiki rumah dinas guru, serta merawat bangunan sekolah yang sudah nyaris rusak karena tak terawat,” kenang Asoy lagi. Masyarakat pun ternyata mau bekerja bergotong royong merawat sekolah.

Animo warga untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Meskipun pada saat itu, SDN 25 Panit Semaro hanya menerima murid di kelas 4 saja. Warga di sana pun turut berpartisipasi memelihara bangunan sekolah. Mereka bersama-sama membersihkan sekolah dari sampah dan rumput-rumput liar.

Susah Mengambil Gaji

Gaji pertama yang diterima Asoyadi ketika itu hanyalah Rp 102.800. Sungguh kecil jika melihat beratnya tantangan yang harus dihadapi Asoy. Namun sambutan masyarakat dan antusias anak-anak untuk bersekolah kembali membuat semangat Asoy makin membara untuk terus mengajar di sana. ”Saya katakan bahwa saya harus betah. Sebab saya dibutuhkan warga, dan warga sangat baik menerima saya,” kata Asoy.

Padahal, perjuangan dan kehidupan Asoyadi sangat berat. Ketika akan mengambil gaji bulanan, misalnya, ia harus pergi ke Ngabang, ibukota Kabupaten Landak. Perjalanan dari desa tempatnya mengajar menuju Ngabang harus ditempuh seharian. Ia antara lain harus menuju kota kecamatan Meranti dulu yang memakan waktu empat jam dengan berjalan kaki. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan satu jam menuju kota kecamatan Menyuke, baru setelah itu menuju Ngabang. Jika hujan deras, ia terpaksa menginap di rumah penduduk di perjalanan.

“Saya banyak berutang budi kepada penduduk, karena saya harus menginap di rumah mereka dalam perjalanan,” kata Asoy. “Kalau saya menginap, mereka sering saya buat repot karena harus menyediakan tempat tidur dan memberi saya makan,” tutur Asoy. Seringkali Asoy membuat jalan bersama masyarakat menembus semak-semak agar bisa dilewati. Pada tahun 2009, kata Asoy, baru ada ojek motor yang bisa dibayar untuk mengambil gaji ke Ngabang, dengan waktu tempuh 5 jam. Tapi kalau hujan, terpaksa motor pun ditinggal di rumah penduduk karena jalanan jeblok.

Perjuangan yang ditempuh murid-muridnya pun tak kalah berat. Setiap hari mereka harus pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, menempuh perjalanan berat melewati jalan-jalan setapak dari rumahnya masing-masing. Kalau musim hujan, mereka harus basah kuyup dengan kaki belepotan lumpur. Banyak dari mereka yang tidak memakai sepatu, kecuali pada hari Senin ketika mereka diwajibkan mengenakan sepatu karena harus mengikuti upacara bendera. Pada hari lainnya, jangankan sepatu, sandal pun mereka tak memakainya.

Berbeda dengan sekolah di kota, di SDN 25 Panit Semaro setiap harinya jam pelajaran dimulai pukul 07.30, kecuali hari Senin yang sama dengan di kota yakni pukul 07.00 karena ada upacara bendera. Toleransi setengah jam ini, menurut Asoy, diberikan karena jarak kampung tempat tinggal murid-murid cukup jauh dan mereka harus berjalan kaki menempuh medan berat ke sekolahnya. Selain itu, banyak anak-anak yang harus bekerja dulu membantu orang tuanya di rumah.
Kegiatan belajar mengajar di SDN 25 Panit Semaro dijalankan dengan fasilitas yang tentu saja serba terbatas. Meskipun dengan sarana dan prasarana minim, namun hasilnya lumayan memuaskan. Menurut Asoyadi, sejak tahun 1999 sampai sekarang SDN 25 Panit Semaro meluluskan 100% siswa-siswanya setiap ujian akhir nasional.

Asoyadi

Asoyadi

Susah Berkomunikasi

Karena berada di daerah terpencil, nun jauh di pedalaman, komunikasi merupakan kendala utama bagi pengembangan SDN 25 Panit Semaro. Informasi kebijakan dari Dinas pendidikan provinsi atau kabupaten, biasanya terlambat sampai. “Kami harus menempuh perjalanan lama menuju kabupaten, hanya untuk mendapatkan informasi kalau ada pengumuman penting,” tutur Asoy.

Asoy dan teman-teman guru lainnya memang punya ponsel alias telepon seluler, tapi nyaris tak berfungsi karena lemahnya sinyal. Kalau mau pakai ponsel, kata Asoy, terpaksa harus cari daerah yang sinyalnya bagus. “Kadang kalau mau mengecek ada SMS masuk saja, harus berjalan kaki selama 15 menit mencari tempat terbuka untuk mencari sinyal yang bagus,” tutur Asoy.

Selain persoalan tugas, Asoy juga menghadapi masalah berat lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Ketersediaan air bersih dan belum adanya aliran listrik merupakan persoalan yang sangat merepotkan. Masyarakat di sana biasa menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk mandi, mencuci maupun minum dan memasak. Tak ada fasilitas MCK (mandi cuci kakus) di sana. Satu-satunya fasilitas kakus atau WC hanyalah di rumah dinas guru, dan itu pun tak terurus karena susah memperoleh air bersihnya.

Kalau mengalami sakit lebih repot lagi. Di tempat Asoy bertugas sama sekali tak ada puskesmas, tenaga medis, apalagi dokter. Masyarakat biasa pergi ke dukun kalau sakit. Asoy pun terpaksa memanfaatkan jasa dukun, termasuk ketika menolong istrinya melahirkan dua puteranya. Toh, rasa kebersamaan masyarakat sangat tinggi, sehingga kalau ada yang sakit mereka ramai-ramai menolong. Asoy pun pernah ditandu warga ketika menderita sakit untuk dibawa ke dukun. Tak ayal lagi, Asoy merasa begitu betah dan merasa damai tinggal bersama masyarakat desa yang begitu baik, meski berada nun jauh di tempat terisolasi.

Pemerintah menyadari segala kesulitan yang dialami guru yang bertugas di daerah terpencil. Karena itu, pemerintah telah memberikan insentif berupa tunjangan khusus. Asoy pun menyatakan terimakasih. Ia kini menerima tunjangan khusus Rp 1,3 juta sebulan yang dirapel dan diberikan setahun sekali. Di luar itu, Asoy juga menerima tunjangan Rp 100.000 per bulan dari pemerintah provinsi dan Rp 150.000 per bulan dari pemerintah kabupaten.

Asoy menyatakan terimakasihnya atas tunjangan-tunjangan itu karena telah membuatnya bersemangat mengabdi di daerah terpencil. Asoy merasa begitu terharu ketika terpilih menjadi Guru Sekolah Dasar Berdedikasi untuk kategori Daerah Khusus dari Provinsi Kalbar.

Menurut Asoy, dedikasinya yang tinggi tak terlepas dari dorongan masyarakat Panit Semaro, yang telah memberinya semangat dan membuatnya bertahan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. ”Saya sangat berutang budi kepada masyarakat. Penghargaan ini bukan hanya untuk saya tapi juga untuk mereka,” kata Asoy dengan mata berkaca-kaca. Ia berterimakasih kepada pemerintah, dan juga kepada masyarakat yang telah menerima dirinya dan membantu melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, dengan baik.

Eva Rohilah

Menyadarkan Artikulasi Siswa Tuna Rungu dan Mencari Ridha Allah
Dua puluh dua tahun menjadi tenaga pengajar bagi anak yang mengalami kebutuhan khusus di Yayasan Santi Rama Jakarta Selatan adalah perjalanan panjang Daliman Spd. Pria kelahiran Sidoharjo Sragen 45 tahun silam itu sudah banyak merasakan pahit manisnya menjadi guru di sekolah luar biasa khusus untuk anak-anak tuna rungu.

Menjadi guru bukanlah cita-cita awal dari Bapak dua anak ini. Latar belakang sekolah pertanian membuat dirinya harus bekerja keras menyesuaikan kemampuan dengan metode pembelajaran di Sekolah luar biasa yang memiliki kekhususan. “Setelah lulus Sekolah Menengah Pertanian (SMT) saya menganggur selama setahun, saya pergi ke Lampung mencari pekerjaan, akhirnya pada tahun 1985 saya masuk Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Negeri Surakarta. Saat itu saya masih buta sama sekali apa itu SPGPLB. Seiring proses dan berjalannya waktu saya memahami dan mengerti tentang SPGPLB, naluri seorang guru di jiwa saya mulai ditimpa kesabaran dan ketelatenan untuk mendidik anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus, niat saya makin bulat untuk menjadi guru kebutuhan khusus hingga lulus tahun 1987,” Ujar lelaki berkumis ini panjang lebar.

siswa santi rama sedang belajar

siswa santi rama sedang belajar

Saat masih kuliah Daliman punya alasan sendiri kenapa memilih tuna rungu sebagai salah satu pilihan hidupnya. “Saat itu masih semester pertama ada observasi ke sekolah-sekolah ada jurusan tuna netra, tuna rungu, tuna daksa dan tuna grahita. Saya melihat tuna rungu tidak ada masalah secara fisik, dan itu yang selalu saya tekankan pada murid saya, bahwa tuna rungu sama dengan anak normal lainnya, hanya mengalami kekurangan dalam mendengar saja, sehingga saya memilih mengajar siswa tuna rungu,” ungkap dalam mengutarakan alasannya.

Setelah lulus SPGLB Daliman pergi ke Jakarta untuk melamar pekerjaan sebagai guru di Yayasan Santi Rama yang berada di daerah Fatmawati Jakarta Selatan. Pada Agustus 1988 Daliman diterima menjadi guru di Santi Rama dan pada 1992 diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Daliman mendapat dukungan penuh dari keluarga untuk mengajar di Santi Rama, meskipun dia harus memberikan penyadaran pada anak-anaknya bahwa pekerjaannya sebagai guru sekolah Luar Biasa (SLB-B) adalah pekerjaan mulia.

“Saya katakan begini pada anak-anak saya, Orang lain nanti akan bertanya apa pekerjaan Bapak kalian? Saya tekankan kepada anak-anak saya agar jangan malu mengakui bahwa pekerjaan bapaknya adalah mengajar di sekolah luar biasa. Saya jelaskan bahwa pekerjaan menjadi guru SLB itu adalah pekerjaan mulia, pekerjaan yang tidak perlu ditutup –tutupi atau malu karena siapa lagi yang akan memperhatikan anak-anak yang tidak sempurna kalau bukan kita. Setelah diberi penjelasan demikian kini anak-anak tidak malu lagi mengakui jika bapaknya mengajar di SLB,” Ucap Daliman gembira.

Pak Daliman di ruang Kepala Sekolah SDLB Santi Rama

Pak Daliman di ruang Kepala Sekolah SDLB Santi Rama

Dukungan keluarga dan para guru di sekolah dan yayasan membuat Daliman bersemangat dalam mengajar. Setelah beberapa tahun mengabdi menjadi guru SLB-B di Santi Rama, ia melanjutkan pendidikan sampai jenjang S-1. Pada tahun 1998, Daliman masuk Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Fakultas Keguruan jurusan PLB, dan lulus pada 2001 dengan lulusan terbaik.
Peningkatan Kejelasan Bicara melalui Penyadaran Artikulasi

Melaksanakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh adalah modal utama Daliman menjadi yang terbaik. Itu juga yang dilakukan oleh suami dari Sri Murtanti ini dalam mengikuti pemilihan guru berprestasi dan berdedikasi yang diselenggarakan oleh Departemen pendidikan Nasional pada Bulan Agustus 2010.

“Sebenarnya sudah lama saya ditawari untuk ikut pemilihan guru berdedikasi, tapi saya belum siap dan baru tahun ini saya siap dan saya katakan pada kepala sekolah untuk mengikuti dan membuat karya ilmiah. Saya mengikuti ajang berdedikasi dan berprestasi ini dari tingkat Suku Dinas (Sudin) Jakarta Selatan, tingkat provinsi DKI Jakarta dan akhirnya lolos menjadi yang terbaik di tingkat nasional, alhamdulilah, kebetulan tahun ini DKI Jakarta tidak ada guru yang menjadi juara I di tingkat TK, SD, SMP, maupun SMA, hanya di pendidikan luar biasa (PLB)” ujar Daliman bersyukur.

Salah satu keunggulan yang dimiliki Daliman sehingga menjadi juara I guru berdedikasi untuk PLB adalah Karya ilmiah yang merupakan hasil observasinya sejak lama. Karya itu berjudul “Peningkatan Kejelasan Bicara Melalui Penyadaran Artikulasi dan suprasegmental kelas V SDLB Tuna Rungu Santi Rama Jakarta Selatan,” Dalam penyusunan karya ilmiah ini Daliman tidak mengalami kesulitan karena dia menulis apa yang dikerjakannya sehari-hari.

“Sebenarnya ini adalah pekerjaan rutin, karena kendala para tuna rungu adalah di bicara, karena tidak berfungsinya indera pendengaran otomatis ya tuna wicara, karena ada tahapan dalam bicara ada prawicara, tahap pembentukan, perbaikan, dan tahap kelancaran. Kenapa saya ambil kelas V karena pada kelas V itu semua fonem, vocal dan konsonan seharusnya sudah terbentuk, tapi mengapa anak masih seperti itu, pengucapannya masih kurang jelas dan lain-lain, sehingga saya harus mencermati hal itu dan saya menyadari bahwa kekurang jelasan bicara itu bukan harus dibentuk atau diperbaiki lagi, tapi harus disadarkan artikulasinya,”ujar Daliman menceritakan karya ilmiahnya.

Sementara itu, ia juga menjelaskan jika suprasegmental dalam hal ini tidak hanya meliputi aspek artikulasi saja, akan tetapi juga intonasi, jeda, dan irama. “Orang tuna rungu kan bahasanya monoton, dia tidak bisa membedakan kalimat tanya dengan kalimat perintah, padahal itu kan berbeda. Karena tuna rungu tidak bisa mendengar maka kalau tidak bisa membedakan juga maka mereka harus disadarkan dengan memberi jeda, lengkung frase, penekanan kalimat tanya atau kalimat perintah misalnya ditandai dengan garis bawah,” ujarnya semangat.

Karya ilmiah yang dibuat olehnya telah menarik perhatian juri sehingga ia menjadi juara I Guru berdedikasi tingkat pendidikan luar biasa tingkat nasional serta mendapat kesempatan bertemu presiden, menteri pendidikan nasional dan mengikuti upacara 17 Agustus di Istana Merdeka. Meskipun ia sudah lama menetap di Jakarta, tapi mendapat kesempatan ketemu presiden dan wawancara langsung dengan Ibu Ani Yudhoyono merupakan kesempatan emas bagi pria yang menetap di Depok ini.

Tidak hanya bertemu dengan orang-orang penting negeri ini dan rekan sesama guru berprestasi dan berdedikasi dari seluruh Indonesia. Daliman juga mendapat penghargaan berupa uang. “Jika dikumpulkan dari tingkat Sudin sejak saya mengikuti ajang berprestasi dan berdedikasi, hadiah yang diperoleh dari berbagai instansi seperti Sudin Jakarta Selatan, Sudin DKI Jkarta, Bank BRI, Bank Mandiri, dan pemerintah, Alhamdulilah kurang lebih totalnya sekitar Rp.30.000.000., pertama-tama uang itu saya zakatkan sesuai kewajiban kita sebagai orang muslim, kemudian rencana sisanya sebagai tanda syukur kepada Allah SWT saya tabung untuk naik haji,” ujar lelaki tinggi besar ini yakin akan pilihannya.

Mensyukuri setiap detik yang diberikan oleh Allah SWT sudah menjadi kebiasaan sehari-sehari dalam hidup Daliman. Selama 22 tahun mengajar di SLB, keberkahan dalam hidup selalu menghinggapinya. Ia pernah menjadi ketua Gugus Depan 06-007 Rama tahun 1995-1998, kemudian pernah juga menjadi tim penyusunan naskah EBTANAS,UN, UASBN yang diselenggarakan Puspendik, Balitbang, Kementrian Pendidikan Nasional, wakil kepala SMPLB/SMALB tahun 2003-2007, dan saat ini menjabat sebagai wakil kepala SDLB tahun 2007 sampai sekarang.

Daliman menyadari bahwa apa yang diperolehnya tidak lepas dari Ridha Allah SWT, doa kedua orang tua dan teman-teman. Dalam kehidupan bermasyarakat ayah dari Damar Ihsan Zhafari dan Hanifah Mufidati ini juga pernah menjadi ketua RT 09/Rw.14 di kediamannya di Puri Bojong Lestari Bojonggede Bogor serta sampai saat ini aktif di Mushola Al-Hidayah. “Saya mensyukuri apapun yang diberikan Allah SWT dan itu semua saya lakukan untuk mencari Ridho-nya,” ujar putra dari Tarjowiryatmo dan Ginah ini seraya tersenyum. (Eva Rohilah)

Mencoba mengajar

Posted: July 18, 2010 by Eva in Pendidikan

Anak-anak baca doa dulu ya sebelum ngaji

Aku sedang mengajar ngaji

Tidak terasa sudah 8 bulan tidak menulis di Blog ini, dan selama itu pula aku mencoba belajar menerapkan ilmu yang aku punya di bangku kuliah, yaitu menjadi guru, tapi guru yang kumaksud bukan guru sekolah formal, tapi mengajar anak-anak mengaji habis magrib di komplek perumahan Pamulang Elok. Awalnya sih Bunda Yuli yang minta, karena Bu Toha yang biasa ngajar ngaji sibuk. Sempat ragu juga mau terima karena aku gak pede ama kompetensi aku, dan kayaknya kok gak merasa belum pantas dengan akhlak dan cara berpakaian aku yang belum sempurna secara syari’at apalagi kalau di rumah. Tapi setelah aku diskusikan ama mas Arif akhirnya aku terima juga tawaran itu dan aku coba mengajar ngaji dengan segala kemampuan yang aku miliki.  Jadwal mengajarku tiap hari adalah dari pulul 18.30 s.d 19.30.WIB.

Sedang mengantri wudhu

Sedang Mengantri Wudhu

Aku mulai menyusun silabus dan kurikulum untuk setiap hari mengajar, dari hari senin sampai Jum’at karena Sabtu dan Minggu mengaji libur. Ada beragam materi seperti Fiqih,Akhlak, Tajwid, Tarikh, Tauhid, dan Tafsir Hadits.Aku mulai cari bahan di internet dan literatur buku2 sekolah di tempatnya Winda, anaknya mama winda tetangga kontrakan di Ciputat. Ternyata jadi guru ngaji cukup menyenangkan, meski aku harus belajar exstra  memahami psikologi anak dan sabar menghadapi kemauan anak yang terkadang mood-moodan. Aku jadi teringat waktu aku kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Kalijaga, aku diajari beragam mata kuliah dan metodologi mengajar, dan saat inilah aku mempraktekkan. Karena sejak 2003 aku jadi wartawan dan biasa bekerja meliput berita pendidikan, ternyata menjadi guru itu tidak mudah.

Ke Ragunan bersama murid-murid

Ke Ragunan bersama murid-murid

Murid-muridku cuma sedikit sebenarnya, 10 orang saja, mereka adalah anak-anak tetanggaku yang baik di Pamulang elok, anak2  yang lugu,polos,cerdas dan calon pemimpin masa depan. Murid-muridku urut abjad adalah sbb: 1.Airin, 2Anya 3.Augie, 4.Fatih, 5.Fikri, 6. Illina, 7. Sekar, 8.Putri, 9.Vidia, 10.Wina. Selama delapan bulan mengajar banyak suka duka yang kudapat. Ada kepuasan tersendiri jika aku sudah bercerita kisah-kisah nabi atau faedah ibadah lainnya, mereka senang dan mengangguk angguk, tapi ada dukanya juga kadang kalau materi yang aku sampaikan tidak sampai sasaran dan hanya sepintas lalu. Kadang suka bingung juga kalau aku masih di perjalanan, anak-anak sudah siap di rumah aku terlambat sampai rumah karena macet. Yang menarik adalah kalau usai mereka tartil atau mengaji dan membaca materi, menjelang pulang mereka suka minta tebak-tebakan, cerita, menulis di depan, hafalan atau mendengarkan musik seperti waka-waka dan lain sebagainya. Lucu banget deh tingkah laku mereka.

Aku, mas Arif dan murid-murid ngajiku di ragunan pas jalan-jalan

Aku, mas Arif dan murid-murid ngajiku

Aku juga harus mengatur jadwal dengan  Gerai Amira, jam 5 udah harus tutup, karena aku harus persiapan mengajar, supaya seimbang antara kebutuhan lahir dan Bathin. Menjelang puasa ini aku juga harus siap-siap membuat rapor buat mereka karena tgl 9 Agustus adalah hari terakhir mengaji jadi harus ada Imtihan kalau mengikuti cara sekolah madrasah diniyah dimana aku dulu sekolah di sukabumi. Aku menyayangi murid-muridku, mereka adalah generasi penerus masa depan, sejak dini harus diterapkan moral yang baik dan akhlak yang mulia agar berguna bagi bangsa dan negara. Meskipun aku merasa belum begitu banyak ilmu yang aku berikan pada mereka karena keterbatasan aku , tapi hanya itulah kemampuan yang bisa aku berikan pada murid-muridku. Pamulang,Minggu 18 Juli 2010, pukul 22.16 Eva

Belajar Seperti Menonton Sinetron

Posted: December 13, 2007 by Eva in Pendidikan

Juara I Guru Berprestasi Tingkat SD 2007: Sri Rahayu

Belajar Seperti Menonton Sinetron

Sri Rahayu memanfaatkan multimedia sebagai media pembelajaran. Menjadikan belajar Ilmu Pengetahuan Alam tidak membosankan. Prestasi anak didik meningkat tajam.

Sebentuk senyum tiada henti mengembang dari bibir Sri Rahayu. Ketika itu, perempuan berperawakan tinggi dan berkulit kuning langsat itu diumumkan sebagai guru berprestasi tingkat nasional untuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Dengan mengenakan jilbab putih dan seragam biru dongker, ia pun bersalaman dengan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dengan bangga.

Modal utama yang menjadikan Yayuk, nama sapaannya, terpilih menjadi guru berprestasi adalah karena karya ilmiah yang dibuatnya dinilai sangat bagus dan inovatif. Karya ilmiah yang berjudul Pembelajaran Tata Surya Menggunakan Multimedia di SD itu telah mencuri hati para juri di tingkat nasional.

Padahal, menurut perempuan kelahiran Magelang 10 Januari 1969 itu, ide menulis karya ilmiah itu sangat sedehana. Gagasannya lahir setelah ia memperhatikan kebiasaan anak-anaknya menyaksikan iklan atau sinetron di televisi.

Penayangan iklan dan sinetron yang diulang-ulang membuat kedua anaknya cepat hafal dan secara reflek akan terus mengingatnya. Tanpa pikir panjang, Yayuk langsung menuliskan konsep pembelajaran tentang tata surya dalam bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diajarkan sehari-hari.

“Pada awalnya menyusun karya ilmiah ini memang sulit karena banyak kendala,” katanya. Namun, ia sangat yakin dengan langkah yang ia tempuh. Setelah konsep matang, ia lantas mendiskusikannya dengan suami untuk mempersiapkan segala perangkat yang akan ia gunakan.

Gayung pun bersambut. Didukung kemahiran suaminya menggunakan komputer, rencana pun berjalan mulus seperti melaju di atas jalan tol. “Saya membuat skenario dan suami saya merancang perangkat multimedia dalam bentuk compact disk (CD),” katanya.

Ia ingin agar pelajaran tata surya yang diajarkannya menarik para murid seperti mereka menonton sinetron. “Bahkan sampai hafal soundtrack lagunya,” ujar Yayuk sambil tertawa.

Yayuk lalu menunjukkan hasil karyanya pada GURU ketika ditemui di Hotel Sheraton Media, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dengan sigap, ia mengeluarkan laptop paling gres telah menggunakan piranti Windows Vista. Sejenak ia memperlihatkan karya ilmiahnya tanpa bermaksud menggurui.

Presentasi singkat Yayuk kepada GURU cukup ringkas, tajam, dan jelas. Begitu juga yang ia lakukan di hadapan dewan juri ketika berkompetisi dengan ratusan guru se-Indonesia. Dalam presentasi yang dilakukan pada pemilihan guru berprestasi tingkat nasional itulah karyanya membawa Yayuk menjadi juara I untuk tingkat SD.

Yayuk sendiri telah menerapkan metoda itu di sekolahnya. “Hasilnya memuaskan,” ujar ibu dua putri itu. Buktinya terlihat dari nilai IPA untuk mata pelajaran Tata Surya yang diperoleh ke-35 siswanya. Hasilnya jauh berbeda dibanding ketika ia masih menggunakan metode sebelumnya.

Pada saat evaluasi siswa, dengan metode ceramah, dari 35 siswa, 25 di antaranya mendapat nilai IPA di atas 7. Sisanya mendapat nilai di bawah 7.

Setelah pembelajaran melalui multimedia hasilnya melonjak tajam. Rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 81,0. Sebanyak 32 anak mendapat nilai di atas 7. Artinya, hanya 3 anak yang mendapat nilai di bawah 7. “Luar biasa sangat menggembirakan hasilnya,” katanya. Karena itu, ia mendiskusikan juga karyanya itu di Kelompok Kerja Guru.

Selain penggunaan multimedia saat belajar, Yayuk juga membuat CD Tata Surya yang bisa dimiliki setiap siswa. Dengan CD yang dicetaknya, siswa bisa belajar kapan saja di rumah. Selain hemat waktu, cara itu juga dinilai efektif. “Penggunaan CD pembelajaran dapat memudahkan siswa untuk mengulang-ngulang pembelajaran baik di sekolah maupun rumah,” ujarnya.

Tapi, Yayuk tak hanya mengandalkan efektivitas penggunaan CD. Ia juga menerapkan metode simulasi saat mengajar Tata Surya. Ia berpendapat, simulasi pada pembelajaran tata surya dapat digunakan untuk melatih siswa bekerja sama dalam kelompok.

“Selain itu, saat penggunaan simulasi siswa juga belajar untuk bertoleransi antar sesama,” ia menambahkan. Dengan adanya toleransi dan rasa kebersamaan, Yayuk berharap materi Tata Surya dan mata pelajaran IPA menjadi lebih menyenangkan.

“Jika karya ilmiah saya ini diterima oleh guru-guru lain, saya ingin memotivasi mereka untuk berkarya,” katanya. Ia juga mengajak para guru untuk menjadikan IPA sebagai mata pelajaran yang menarik dan mencerdaskan anak didik.

Yayuk adalah guru SD 2 Yayasan Pupuk Kaltim (YPK), Bontang, Kalimantan Timur.
Sebelum mengajar di sana, Yayuk mengajar mata pelajaran Biologi di SMA Sulaiman Sleman, DIY. Ketika itu, ia tak menduga nasib akan membawanya menjadi guru SD.

Soalnya, ketika ia melamar pekerjaan, skripsinya tertunda karena masalah biaya. Keadaan itu kian parah karena dosennya pergi ke luar negeri. Selain itu, ia terlambat menerima surat pengumuman yang menyatakan ia diterima untuk mengikuti tes selanjutnya. “Tapi alhamdulilah saya masih bisa mengikuti tes dan lolos,” ujar perempuan yang dulu bercita-cita menjadi dokter itu. .

Akhirnya, pada 1996, sarjana lulusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta itu berangkat ke Bontang. Pada awal mengajar, Yayuk langsung ditempatkan sebagai guru kelas 4 SD. Saat itu ia juga harus mengajar Matematika, IPA dan IPS.

Namun, tugas itu tidak berlangsung lama. Kepala sekolahnya kemudian menempatkan Yayuk menjadi guru mata pelajaran IPA. Tanpa terasa, pekerjaan itu telah dijalaninya selama sebelas tahun. Ia telah melewati pelbagai macam kenangan pahit dan manis mengabdi untuk pendidikan di Pulau Borneo, yang jauh dari tanah kelahirannya.

Yayuk memang bukan guru biasa. Ia telah mengukir beragam penghargaaan dan prestasi baik di tingkat lokal maupun nasional. Prestasi itu, antara lain, Juara I Laga Prestasi di TVRI Samarinda, Juara II Lomba Bidang Studi IPA, pemenang perunggu kategori Multimedia YPK Bontang, Peringkat II Guru Berprestasi Bontang 2006, serta Juara I Guru Berprestasi Bontang 2007.

Bagi perempuan yang berasal dari keluarga petani di Magelang itu, menjadi guru adalah ibadah. Penggemar olah raga bols volley itu memang mempunyai prinsip bahwa apapun yang ia lakukan adalah ibadah. Karena itu, setelah melakukan kerja keras sejak tingkat kabupaten hingga meraih prestasi terbaik di tingkat nasional, tidak banyak yang diinginkan Yayuk.

Ia akan memanfaatkan sebaik-baiknya hadiah berupa uang tunai dan laptop dari Depdiknas. Bahkan, sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah tiada tara yang telah diberikan Tuhan padanya, Yayuk ingin segera berziarah ke tanah suci.

Sebenarnya, keinginan untuk menunaikan ibadah haji itu sudah lama ia idam-idamkan. Namun, niatnya itu selalu tertunda karena tabungannya tak kunjung mencukupi. Karena itu, ia menilai saat ini sebagai kesempatan emas baginya untuk segera melaksanakan cita-citanya itu. “Saya ingin memenuhi panggilan Allah, mengunjungi-Nya di rumah Allah, saya ingin naik haji,” ujar pembaca serial novel Harry Potter itu berseri-seri.

EVA ROHILAH

SERTIFIKASI ITU MENGEMBAN MISI KENABIAN

Posted: December 13, 2007 by Eva in Pendidikan

SERTIFIKASI ITU MENGEMBAN MISI KENABIAN
wawancara Giri Suryatmana

Ia sosok yang humanis. Dibalik sikapnya yang ramah dan penyabar, selera humornya juga tinggi. Dialah Ir. Giri Suryatmana, Sekretaris Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Sesditjen PMPTK) Depdiknas. Siapa yang menyangka jika lulusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) ini akan bergulat dengat pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi salah satu instrumen penting dalam dunia pendidikan.

Meskipun demikian, bagi ayah dua putri ini, dunia guru bukanlah hal yang baru. Sang ayah yang berdarah Sunda, Atmo Suryatma adalah seorang guru bahkan salah seorang pendiri Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), sedangkan ibunya yang berdarah Jawa, Retno, juga seorang guru lulusan Normal School, sekolah keguruan zaman Belanda yang dalam perkembangannya berubah menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Bagi lelaki kelahiran Bandung 30 September 1955 ini, sertifikasi guru harus diawasi betul pelaksanaannya mengingat proses ini sangat penting bagi masa depan tenaga pendidik dan sifatnya yang berkelanjutan. Disela-sela kesibukan dan jadwal kerjanya yang padat, lelaki yang memiliki hobi beternak ikan ini berbicara panjang lebar kepada Eva Rohilah dari Majalah GURU tentang sertifikasi guru dan rencana strategis percepatan peningkatan mutu di daerah terpencil.

Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan terkini pelaksanaan sertifikasi?

Secara normatif kan sudah jelas target sertifikasi saat ini 200.450 guru, 20.000 di antaranya adalah guru yang masuk daftar tahun 2006. Sebanyak 180.450 guru didaftar pada tahun 2007. Sampai saat sekarang dari laporan yang kami terima dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang menyelenggarakan tes hasil penilaian portofolio itu tingkat kelulusannya di bawah 50%. Nah, dari situ nanti akan tercipta proses yang luar biasa dan ada satu kata kunci yang bisa kita pelajari dari proses uji sertifikasi ini, yaitu proses penertiban penugasan guru, terlepas dari alasan merepotkan guru dan lain sebagainya.

Dalam sertifikasi itu disebutkan guru minimum mengajar 24 jam seminggu. Setelah disertifikasi banyak guru yang ketahuan hanya mengajar enam jam, delapan jam dan lain sebagainya. Berarti selama ini penugasan guru di negeri kita ini tidak efisien.

Dimana letak tidak efisiennya?

Begini, perbandingan jumlah guru dengan murid di negara kita dibanding dengan perbandingan jumlah guru di ASEAN sangatlah jauh, guru di Indonesia ini tergolong mewah. Karena satu guru perbandingannya 14 siswa, bandingkan dengan Malaysia 1:25, Korea Selatan 1:30 siswa. Akan tetapi permasalahannya distribusi yang tidak sempurna, guru di Indonesia terpusat di kota, sedangkan di daerah terpencil itu kekurangan, hampir 70% kekurangan guru.

Jadi memang ada ketimpangan antara distribusi guru di pusat dan daerah, kenapa bisa demikian?

Iya, memang timpang. Mungkin selama ini manajemen Human Resource Development (HRD) penataan guru itu tidak tertata dengan bagus, mungkin ya dulu mohon maaf sebelum ada Ditjen PMPTK, dana untuk guru besarnya hanya 3% APBN. Kalau sekarang anggaran guru sudah naik menjadi sekitar 17%. Seandainya dana pendidikan naik menjadi 20% APBN, maka hampir 50% dana itu untuk guru.

Berapa dana yang dibutuhkan jika 2,7 juta guru sudah bersertifikat?

Jika 2,7 juta guru sudah bersertifikat kita butuh dana antara Rp 52-53 triliun untuk memberi tunjangan di luar gaji. Gaji PNS dan gaji tunjangan sekitar Rp 45 triliun. Jadi layaklah kalau memang nanti jika anggaran pendidikan itu 20% dari APBN, maka minimal setengah dari dana tersebut seharusnya untuk guru. Sehingga, melalui proses sertifikasi ini sekaligus sedang menata ulang ketidakseimbangan distribusi, ketidakefektifan jam mengajar dan lain sebagainya. Sulit sekali mengikuti standar 24 jam karena banyak yang terpusat di kota.

Bisa dipertegas lagi, apa sebenarnya filosofi pelaksanaan sertifikasi?

Sebenarnya kita ingin meneguhkan kembali peran guru. Jika kita cermati, profesi guru itu emang agak unik dan berbeda dengan profesi lain yang sangat teknis seperti akuntan, misalnya. Di luar profesinya sebagai pendidik, guru itu mengemban misi kenabian atau misi kerasulan (profetis), dia itu kan pembimbing umat. Bayangkanlah anak Taman Kanak-kanak (TK) yang masih belum tahu apa-apa jadi pintar, itu kan berkat guru yang melakukan fungsi rasul, pembimbing umat. Jadi bagi guru yang sudah bersertifikat itu, harus tercermin adanya ruh profetis.

Maksudnya guru yang bersertifikasi mengemban misi kenabian?
Iya, karena para guru mengemban amanah umat, dan terus menerus seorang guru harus mencerdaskan generasi baru, sampai melahirkan generasi cerdas yang bisa mengelola alam dan menciptakan masa depan. Makanya dulu proses untuk menjadi guru itu tidaklah mudah. Karena harus melewati berbagai macam ujian.

Mengapa sertifikasi telat pelaksanaannya?

Alasan utamanya, ya payung hukum. Pada 2006, kami menyiapkan kira-kira 20.000 guru mengikuti sertifikasi. Dananya disiapkan sekitar Rp 350 miliar. Rencananya, sertifikasi dilaksanakan November 2006 sampai Maret 2007. Tapi peraturan pemerintah yang mengatur tentang guru belum ada. Maka disiasatilah lewat peraturan menteri.

Setiap kebijakan pemerintah itu terkait dengan perundangan lain. Sertifikasi berkaitan dengan aturan otonomi daerah, perimbangan keuangan pusat dan daerah, Ada tunjangan profesional, tunjangan fungsional dan tunjangan lainnya. Jadi perlu disinkronkan dengan aturan lain.

Lalu pembagiannya menjadi seperti apa?
Akhirnya dari draft yang sudah lolos itu, tunjangan fungsional untuk guru yang sudah PNS itu menjadi kewenangan daerah melalui DAU (Dana Alokasi Umum), sedangkan tunjangan fungsional guru non PNS (swasta) itu menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Akan tetapi jika tiap daerah punya kebijakan sendiri, berapa besarnya insentif guru terserah daerah.

Setelah sertifikasi bergulir, bagaimana reaksi para guru?
Ada reaksi beragam dari guru. Yang positif, guru semakin meningkatkan kompetensi. Selama ini kompetensi guru tidak pernah diukur. Seharusnya setiap dua tahun diperbaharui kayak SIM. Tapi PGRI inginnya sertifikat berlaku seumur hidup.

Dari hasil penilaian portofolio ditemukan kecurangan di beberapa rayon, apakah sudah ada evaluasi?

Ya, secara otomatis sudah ada mekanismenya. Bagi yang sudah melakukan kecurangan itu sudah mati kutu atau bunuh diri. Kita sudah menginstruksikan pada LPTK dan dinas agar menyisir. Yang paling penting sebetulnya, memberikan kesadaran sertifikasi itu bukan mengejar sertifikat, tapi mencari peran yang lebih luhur yaitu mengemban misi profetis.

Bagaimana dengan minimnya sosialisasi, karena di beberapa daerah banyak yang belum tahu, sepertinya peran dinas itu belum maksimal?

Sebetulnya kami cukup lelah dengan proses sosialisasi yang berjenjang dari dinas. Kadangkala hasil rapat koordinasi ditinggal saja di hotel. Jangankan begitu ya, kami minta data guru saja dinas pendidikan kabupaten kota tidak banyak yang eager (tertarik) untuk melaporkan.

Bisa dijelaskan tidak pemilahan fungsi peran Dirjen PMPTK dengan Dirjen Pendidikan Tinggi dalam pelaksanaan sertifikasi?

PMPTK lebih pada memfasilitasi. Mulai dari data gurunya, dimana tempatnya, sampai menggerakkan para guru mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan bahan. Sedangkan yang menguji dan mensertifikasi itu Dikti. Ibarat hajatan pernikahan, PMPTK itu tuan rumah, Dikti, dalam hal ini LPTK sebagai amil yang mengesahkan. Di manapun, tuan rumah pasti paling sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau amil datang aja pas hari-H nya.

Bagaimana peranan KSG, sepertinya kurang maksimal, bahkan pelaksanaan diklat belum terlaksana juga?
Jadi begini, saat ini masih dalam proses pendataan di bawah komando Nurzaman, Kepala Subdit Program Direktorat Profesi Pendidik. Sekarang ini kami kerja keras terus siang malam.
Apa evaluasi pelaksanaan sertifikasi tahap awal?

Ada dua evaluasi yang pertama masalah sosialisasi dan yang kedua itu masalah penentuan ranking atau urutan siapa yang duluan siapa yang belakangan. Misalnya, dalam satu Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) ada 100 orang, selama 10 tahun kan hanya bisa sepuluh tiap tahun, harus ada urutannya. Siapa yang rela menunggu 10 tahun?

Strateginya seperti apa?

Cara yang akan kita lakukan adalah dengan memberikan kesadaran, menggetarkan musyawarah guru. Kami biarkan guru dengan kelompok guru menjadi kelompok kerja yang profesional. Ada segitiga antara kelompok guru, kepala sekolah, dan pengawas. Ke depan, fungsi dinas pendidikan hanya pemberi fasilitas. Kami akan giatkan 80.000 kelompok kerja guru. Mulai 2007, kami meluncurkan ICT Learning Centre untuk mempermudah sosialisasi.

Bukankah ICT hanya dijangkau masyarakat kota, bagaimana dengan daerah terpencil?

Oh tidak, ini justru di daerah terpencil dulu. Kami punya program namanya Percepatan Peningkatan Mutu di Daerah Terpencil.” Seiring dengan adanya bantuan untuk guru di daerah terpencil, kami siapkan juga sumber belajarnya. DPR sudah setuju.

Untuk melatih mereka yang di daerah terpencil agar mampu mengoperasikan ICT dan perangkatnya kami kerjasama dengan kementerian negara pembangunan percepatan daerah tertinggal.

Petualangan Sejati Sejatinya Guru

Posted: November 21, 2007 by Eva in Pendidikan

 

Penulis : Butet Manurung

Judul    : Sokola Rimba (Petualangan Belajar Bersama Orang Rimba)

Penerbit : Insist Press, Yogyakarta

Edisi : I, Juni 2007

Tebal : 250 halaman

Harga : Rp 38.000

ISBN : 979-3457-83-x

PETUALANGAN SEJATI SEJATINYA GURU

sokola-rimba.jpg

Ibuk, ado akehlah melawon?

Ee..akeh lagi lolo…apolah pintar?

Ado akeh todo lah tokang molajoko kanti?

(Ibu apa aku sudah pintar, ah aku masih bodoh, eh apa sudah pintar? apa aku nanti bisa mengajar orang?

Itu sebagian pertanyaan yang muncul dari bocah-bocah yang hidup di tengah rimba Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, yang ditujukan kepada Butet Manurung. Butet mengalami banyak kesulitan di awal pendekatannya dengan masyarakat adat yang tinggal di TNBD Jambi itu untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Di kalangan masyarakat adat, yang biasa disebut orang rimba, ada pendapat “mending bodoh daripada pinter tetapi buat minterin orang”. Butet disangka akan mengubah adat mereka. Mereka pun sangat marah terhadap Butet. Sempat terucap dari tetua adat, “Jangan usik-usik adat kami!”

Pada akhirnya perempuan bernama Saur Marlina Manurung ini mendapat jalan masuk ke masyarakat rimba. Ketika itu ada dua orang rimba yang datang pada Butet minta diajari baca tulis. Dari dua orang itulah, sistem kader yang diterapkan Butet berhasil. Anak rimba yang minta diajari baca tulis semakin banyak. Hingga pada suatu ketika berdirilah sokola rimba alias sekolah rimba.

Model sekolah alternatif seperti sokola rimba tak cuma ada di Jambi. Butet keluar masuk hutan dan menyambangi beberapa suku terbelakang yang tersebar di berbagai daerah seperti Aceh, Makassar, Bulukumba, Flores, Halmahera, Klaten, dan Bantul.

Kerja keras dan keseriusan Butet memberikan pendidikan kepada komunitas-komunitas terpinggirkan dan terbelakang telah menyita perhatian masyarakat pendidikan. Membaca buku Sokola Rimba (Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba) tak ubahnya menyimak catatan harian Butet Manurung. Larik-larik kalimatnya dituturkan secara sederhana. Tidak menjadikan pembaca merasa seperti diceramahi. Melainkan mengajak imajinasi pembaca terbang ke alam rimba belantara di pedalaman Jambi. Banyak kisah pahit-getir menjelajah hutan dan kehidupannya bersama orang rimba (OR) yang disebutnya amat bersahaja.

Ada episode-episode yang bisa membuat tertawa geli menyimak kisah-kisah orang rimba yang udik, konyol, dan lugu. Ada pula penggalan yang bisa membuat decak kagum saat Butet mengungkap tradisi luhur dan sistem sosial orang rimba.

Pada bagian pertama buku ini, Butet menulis tuntas kisah pribadinya: dari menyusup di antara celah dedaunan belantara, akar bahar raksasa, selapisan tanah yang mengendap selama berabad-abad, dan pohon jangkung sialang (madu) yang disucikan, hingga ketakutannya hidup di tengah dangau sendirian, seperti tercampak di dunia yang gaib, rahasia, dan sekaligus menjadi ruang sengketa terbuka, yang sempat membuatnya menggigil saat gelap menyelimuti malam.

Memang, masih banyak orang yang mau mengajar untuk komunitas terpencil dan terbelakang yang masih tinggal di tengah-tengah hutan. Namun, berbagai rintangan banyak pula yang menyurutkan semangat para guru. Bukan saja karena pola kehidupan mereka masih sangat sederhana sehingga banyak menolak kehadiran orang luar. Tantangan datang dari sulitnya medan, diperparah lagi risiko yang dihadapi selama berada di tengah hutan, seperti terserang penyakit, dihisap pacet, diterkam harimau dan dipatuk ular.

Menulis, Membaca dan Berhitung

Butet menelusup hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi berawal dari keterlibatannya dalam Komunitas Konservasi Indonesia Warsi (KKI Warsi), sebuah organisasi yang bergerak sebagai fasilitator pendidikan. Aktivis muda progresif yang mengantongi dua ijazah, Antropologi dan Bahasa ini, tugas awalnya hanya sebagai pemberi informasi kepada orang rimba tentang peran penting mereka untuk menjaga hutan secara umum.

Ia mengawali pendekatannya dengan pendidikan, yang diyakini sebagai awal dari segala perubahan sikap. Butet secara tidak sengaja mengawali petualang hidupnya dengan menjadi salah satu pendiri model sekolah nonformal yang diselenggarakan di rimba.

Setelah sekian lama berinteraksi, Butet sadar bahwa orang-orang rimba hanya butuh sekelumit pengetahuan tentang baca, tulis, dan berhitung untuk berinteraksi dengan orang lain di perkotaan. Mereka tak perlu diceramahi bagaimana menjaga hutan. Mereka tak perlu diajarkan ilmu konservasi yang njlimet hanya untuk memahami kenapa hutan perlu bestari. Butet justru harus bia menggali keunggulan orang rimba dan membantu mereka ketika berhadapan dengan persoalan dengan masyarakat luar.

Pergulatan nurani Butet sangat terlihat saat melihat laporan-laporan dan foto-foto kegiatannya dijadikan kunci mengalirnya dana dari lembaga donor penyokong uang operasional. Butet tersiksa. Nuraninya berontak. Ia keluar dari KKI Warsi. Perempuan yang menghabiskan masa kecilnya di Leuven, Belgia ini memilih mengelola sekolah rimbanya tanpa keterlibatan lembaga manapun.

Namun, jangan membayangkan Sokola Rimba Butet adalah sepetak bangunan bertembok beratap layaknya sekolah. Sokola Butet hanya dangau kecil tak berdinding, tak beratap, agar jika tak dibutuhkan lagi bisa segera ditinggalkan. Sokola rimba adalah sekolah nomaden, justru sekolah yang mendatangi murid.

Maka jika ditanya, di manakah alamat Sokola Rimba itu, maka Butet menjawab enteng: pada koordinat 01′ 05’’1 LS – 102′ 30’’ BT, alias lokasi Taman Nasional Jambi. Letak sekolahnya memang tak pasti desa maupun kecamatan.

Di sekolah, Butet membagikan buku tulis bergaris, pensil, dan pena yang dia punyai. “Murid” yang tidak kebagian disilakan mengambil ranting dan menggarisi tanah. Suatu ketika saat tiba waktu belajar menggambar, seorang murid menangkap seekor kijang kecil. Binatang lucu itu ditidurkan di atas kertas dan mulailah sang murid menggambar ruas-ruas tubuh kijang tersebut.

Sulitnya Menjadi Guru

bersama-anak2.jpg

Di bagian kedua, buku ini menawarkan opini yang lebih non-diari kehidupan orang rimba. Butet menggugat pandangan orang luar (non-rimba) yang menganggap orang rimba butuh belas kasihan, yang justru menjadikan orang rimba makin rendah diri.

Butet juga menentang anggapan bahwa orang rimba terbelakang, tak berbudaya. Pengalamannya tinggal bersama orang rimba mencatat kehidupan mereka mandiri dan ramah lingkungan, selama tak ada gangguan dari orang luar.

Sokola Rimba juga menjadi sekolah nonformal yang menurutnya lebih mengakrabkan masyarakat adat, terpencil dan terasing. Sekolah yang bukan hanya bisa baca-tulis-hitung, namun juga bisa memberikan pilihan-pilihan kepada orang rimba memilih dan sadar akan pilihannya.

Perjuangan tak kenal lelah Butet itu banyak mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Ia menerima banyak penghargaan. Misalnya Man and Biosphere Award 2000 dari LIPI, Woman of the Year bidang pendidikan dari ANTV Jakarta (2004), Heroes of Asia Award kategori konservasi dari Majalah TIME (2004), penghargaan pendidikan untuk anggota masyarakat biasa dari Menteri Pendidikan Nasional, penghargaan perempuan dalam bidang keadilan dari PEKA, dan penghargaan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (2005).

Kisah Butet bukan hanya catatan tentang etnografi rimba dan upaya dia mendirikan sokola rimba. Melainkan juga kitab kearifan tentang hidup berdampingan dengan manusia-manusia terpinggirkan dan terasing.

EVA ROHILAH

Dimuat di Majalah Guru edisi-4 November 2007

Ketika Musim Sertifikasi Tiba

Posted: November 21, 2007 by Eva in Pendidikan

KETIKA MUSIM SERTIFIKASI TELAH TIBA

Setelah menunggu satu tahun delapan bulan, sejak Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diterbitkan, akhirnya pemerintah menggunakan Peraturan Mendiknas No 18/2007 sebagai landasan hukum pelaksanaan sertifikasi untuk guru dalam jabatan. Mulai September 2007, sebanyak 200.450 guru akan disertifikasi. Mereka terdiri dari 20.000 guru yang sudah di daftarkan pada tahun 2006 dan 180.450 guru yang didaftar pada tahun 2007.

WAJAH Alidin (40) berseri-seri. Ia adalah salah satu dari 478 guru yang lulus uji sertifikasi kuota 2006 yang diadakan oleh Universitas Negeri Makassar. Artinya, sebentar lagi, guru SD Negeri III Mangkura Makassar itu akan meraih sertifikat pendidik, sekaligus menyandang predikat guru profesional.

Pada Oktober 2007 Alidin menerima tunjangan profesi sebesar sekali gaji pokok. Sebagai seorang sarjana dengan masa kerja pegawai negeri sipil lebih dari 12 tahun, gaji pokoknya sekira Rp 1,5 juta. “Ya, lumayan tambahan rezeki buat menambah kebutuhan rumah tangga serta pendidikan anak-anak,” ujar ayah dari dua anak ini dengan wajah sumringah.

Alidin adalah satu di antara sekian banyak guru yang beruntung mengikuti sertifikasi gelombang awal tahun ini. Sebaliknya, beberapa guru SD yang baru saja melihat papan pengumuman di Lantai III Gedung Rektorat UNM, lesu darah. Mereka, di antaranya, adalah Rahim (guru SDN Sudirman Makassar) dan Ruslan (guru SMPN 12 Makassar). Status kelulusan mereka masih tertunda. Pada lajur nama mereka tertera kode DPG, singkatan dari Diklat Pendidikan Guru. Itu berarti, untuk meraih sertifikat pendidik dan tunjangan profesi mereka harus lebih dulu ikut pendidikan dan latihan dari asesor UNM.


Di lain pihak, yang terpaksa menunda kegembiraan adalah guru-guru yang pada nama mereka tertera kode verifikasi. Namun, mereka ini lebih beruntung karena berkas portofolio cuma butuh penyesuaian karena beberapa lembar berkas ternyata belum sempat dilegalisasi oleh atasan atau pengawas.

Yang paling sedih adalah yang diberi keterangan tidak lulus karena total skornya kurang dari rentang nilai 850—1.500 yang dipersyaratkan. Penyebabnya, macam-macam. Bisa saja yang bersangkutan melampirkan bukti palsu atau hasil plagiat. “Ini soal martabat profesi guru. Jangan main-main,” kata Eko Hadi Pujiono, Ketua Pelaksana Sertifikasi Universitas Negeri Makassar.

OPTIMALISASI DAN FUNGSI KONTROL

Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Tujuannya untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran, meningkatkan profesionalisme guru, serta mengangkat harkat dan martabat guru. Proses sertifikasi dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah.

Mengingat pelaksanaan sertifikasi merupakan kerja nasional yang melibatkan banyak pihak, jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan sertifikasi bergulir, Depdiknas mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kepmendiknas) Nomor 056/P/2007 tentang pembentukan Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG). KSG bertugas merumuskan standardisasi proses dan hasil sertifikasi guru, serta melaksanakan harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan sertifikasi guru.

Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) dr. Fasli Jalal, PhD, menjelaskan keanggotaan KSG melibatkan unsur Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti), PMPTK, wakil dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), universitas eks IKIP dan Departemen Agama.

“Konsorsium menjadi governing board untuk mengawasi, mengontrol, dan melakukan pembuatan kebijakan agar proses sertifikasi berjalan dengan baik, transparan, akuntabel dan cost efficient,” ungkap Fasli pada acara koordinasi penyelenggaraan sertifikasi guru dalam jabatan, beberapa waktu lalu.

Aktivitas KSG lainnya adalah melakukan koordinasi antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dengan Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten/Kota, dan LPTK dengan KSG. KSG juga melaksanakan monitoring dan evaluasi serta merumuskan rekomendasi dalam rangka pengendalian proses dan hasil sertifikasi guru. LPTK induk ditetapkan di Jakarta, Malang, Solo dan Jogjakjarta.

Tahun ini, sebanyak 200.450 guru kelas dan guru mata pelajaran untuk semua jenjang pendidikan baik PNS dan non PNS mengikuti sertifikasi. “Mereka terdiri dari 20.000 guru yang sudah didaftarkan pada tahun 2006 dan 180.450 guru yang didaftar pada tahun 2007,” Fasli menjelaskan. Kuota peserta dari berbagai kabupaten/kota ditetapkan sejak awal tahun dan telah dilakukan sosialisasi tatacara uji sertifikasi.

Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 menyatakan sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio. Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. “Semua guru yang sudah ditetapkan dalam kuota, mengumpulkan data-data dirinya dalam portofolio, termasuk semua dokumen yang berhubungan dengan kualifikasinya, pengalaman,pendidikan,dan pelatihan,” kata Fasli.

Lebih lanjut, Fasli menjelaskan terdapat 10 komponen portofolio yang meliputi (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi dibidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

PENILAIAN PORTOFOLIO

Sebulan setelah pelaksanaan sertifikasi berjalan, Fasli Jalal dan Direktur Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Muchlas Samani melakukan jumpa pers mengenai hasil penilaian dokumen portofolio sertifikasi guru, di Gerai Informasi Depdiknas. Penilaian tahap pertama ini diperuntukkan bagi peserta uji sertifikasi guru tahun 2006 dengan jumlah kuota 20.000 guru.

Sebanyak 31 rayon induk perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan, telah menyelesaikan penilaian tahap pertama dokumen portofolio peserta sertifikasi. Penilaian tahap pertama ini diperuntukkan bagi peserta sertifikasi guru tahun 2006 dengan jumlah kuota 20.000 guru. Sampai dengan batas akhir penerimaan dokumen portofolio tahun 2006, jumlah dokumen yang telah masuk ke perguruan tinggi menurut daftar peserta dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota adalah 18.864 dari 20.000 kuota tahun 2006. Sisanya belum dikirim ke perguruan tinggi.

“Kepada mereka yang sudah lulus, tunjangan profesi akan langsung dibayar mulai Oktober 2007. Kemudian bagi yang sedang melakukan perbaikan akan kita minta untuk memperbaiki portofolionya dan bagi yang mengikuti diklat akan kita undang untuk mengikuti diklat bersama dengan teman yang kita uji sertifikasi dengan kuota tahun 2007,” ujar Fasli menegaskan.

Sementara itu, Muchlas Samani, yang juga bertindak sebagai ketua tim sertifikasi menjelaskan jika perguruan tinggi telah menyelesaikan penilaian dan menyerahkan hasilnya kepada KSG pada tanggal 25 September 2007. Masih banyaknya dokumen portofolio yang belum dikirim disebabkan adanya penggantian peserta oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota karena peserta yang telah ditetapkan tersebut sudah tidak menjadi guru (pensiun, alih tugas ke pengawas, struktural) dan banyak guru yang terlambat mengirim portofolio ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Hasil penilaian dokumen portofolio yang diterima dari 31 rayon induk perguruan tinggi, 8.484 dinyatakan lulus (48,94%). Sisanya, lebih dari 7.500 mengikuti diklat profesi guru, dan ratusan lainnya melengkapi portofolio.

Sementara itu, peserta lain yang belum diputuskan hasil penilaiannya oleh perguruan tinggi dikarenakan beberapa hal yaitu: peserta tercatat dalam daftar peserta dari kabupaten/kota tetapi dokumen portofolio tidak ada/tidak dikirim, peserta tidak ada nilainya dan sedang konfirmasi dengan perguruan tinggi, dokumen portofolio guru agama, dokumen dikembalikan karena tidak lengkap atau hanya berisi kumpulan fotokopi dokumen, dokumen perlu klarifikasi ijasah, dan dokumen diragukan ada indikasi kecurangan.

Perguruan tinggi telah menyampaikan hasil penilaian portofolio tahap pertama ini kepada Ditjen Dikti, Ditjen PMPTK, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setelah menerima laporan hasil penilaian portofolio dari perguruan tinggi, menginformasikan hasil penilaian tersebut kepada guru yang bersangkutan. Disamping itu, guru dapat langsung melihat hasil penilaian portofolio dari perguruan tinggi melalui website www.sertifikasiguru.org.

Guru yang dinyatakan lulus akan mendapat sertifikat pendidik yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi, dan nomor registrasi guru yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional melalui Ditjen PMPTK. Sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru sedang dalam proses penyelesaian.

Guru yang telah dinyatakan lulus sebelum bulan Oktober 2007, memiliki sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru, serta memenuhi beban kerja mengajar 24 jam per minggu akan mendapatkan tunjangan profesi terhitung mulai Oktober 2007.

Dokumen yang harus disiapkan guru untuk mendapatkan tunjangan profesi adalah SK kenaikan pangkat terakhir dan SK kenaikan gaji berkala yang telah dilegalisasi oleh kepala sekolah (bagi guru PNS), SK inpassing jabatan fungsional guru bukan PNS yang dilegalisasi oleh kepala sekolah dan yayasan (bagi guru bukan PNS), surat keterangan beban kerja guru mengajar dari kepala sekolah pada satuan pendidikan dimana guru tersebut menjadi guru tetap serta fotokopi nomor rekening bank/pos.

Jika guru mengajar lebih dari satu sekolah, masing-masing sekolah membuat surat keterangan yang akan digunakan sebagai data pendukung bagi kepala sekolah pada satuan pendidikan dimana guru tersebut menjadi guru tetap yang akan membuat surat keterangan beban kerja. Pembayaran tunjangan profesi dapat dibatalkan apabila ditemukan bukti bahwa guru yang bersangkutan memalsukan data dokumen yang dipersyaratkan dalam pemberian tunjangan dan sertifikat pendidik yang bersangkutan dinyatakan batal.

Guru yang diputuskan untuk melengkapi portofolio, segera melengkapinya dan diserahkan kembali ke perguruan tinggi yang bersangkutan paling lambat 2 minggu setelah diumumkan. Bagi guru yang dinyatakan belum lulus dan harus mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) profesi guru, segera mempersiapkan diri untuk mengikuti diklat tersebut yang rencana akan dimulai pada November 2007. Perguruan tinggi akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota untuk penjadwalan dan pelaksanaan diklat profesi guru tersebut.

Sesuai Undang-Undang Nomor 14 tentang Guru dan Dosen bahwa pelaksanaan sertifikasi guru menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Oleh karena itu, perlu dukungan dana dari pemerintah kabupaten/kota melalui dinas pendidikan kabupaten/kota dan pemerintah provinsi melalui dinas pendidikan provinsi untuk dapat membantu pendanaan bagi guru yang mengikuti diklat profesi guru tersebut berupa dana transportasi dan uang harian peserta selama mengikuti diklat profesi guru.

Adapun tempat dan waktu pelaksanaan diklat profesi guru akan ditentukan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan setelah berkoordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota dan dinas pendidikan provinsi. “Sekarang ini LPTK mulai melakukan penilaian tahap kedua yaitu angkatan tahun 2007 dan mempersiapkan diklat profesi yang kita harapkan akan dimulai pada bulan November, sehingga pada bulan Desember semuanya sudah selesai 31 Rayon dari Aceh sampai ke Jayapura,” ungkap Muchlas Samani menambahkan

proses-sertifikasi-di-rayon15lptkuniversitasnegerimalang.jpg

FILOSOFI SERTIFIKASI

Beragam reaksi muncul dari guru, asesor, LPTK dan juga pengamat pendidikan tentang pelaksanaan tahap pertama sertifikasi ini. Masalah sosialisasi, kecurangan, minimnya pemahaman dalam penyusunan portofolio, dan urutan siapa yang duluan disertifikasi menjadi evaluasi bagi KSG dalam pelaksanaan sertifikasi tahap berikutnya.

Rendahnya angka kelulusan dalam penilaian portofolio semakin membuktikan bahwa dengan adanya sertifikasi, semakin ketahuan sejauh mana sebenarnya kemampuan para guru dan ada yang harus dibenahi berkaitan dengan penertiban tugas guru.

Berdasar laporan LPTK penyelenggara penilaian portofolio, tingkat kelulusannya di bawah 50%. Karena banyak yang tak lulus, nantinya akan ada proses penertiban penugasan guru. “Syarat memperoleh sertifikasi di antaranya mengajar minimum 24 jam seminggu. Setelah disertifikasi banyak guru yang hanya mengajar enam jam, delapan jam. Berarti selama ini penugasan guru di negeri kita ini tidak efisien,” ujar Giri Suryatmana, Sekretaris Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan.

Selain itu, menurut lelaki kelahiran Bandung 30 September 1955 ini, masalah sosialisasi dan urutan siapa yang duluan disertifikasi adalah dua aspek yang banyak dibahas dalam evaluasi pelaksanaan sertifikasi “Ada dua evaluasi, pertama masalah sosialisasi, dan yang kedua masalah penentuan ranking atau urutan siapa yang duluan siapa yang belakangan,” ungkapnya singkat.

Berkaitan dengan sosialiasasi Fasli Jalal menjelaskan bahwa perlu dorongan berbagai pihak untuk melakukan sosialiasasi. “Perlu kita jelaskan benar, bahwa pengiriman surat kepada kepala dinas untuk sosialisasi itu memang tidak cukup, maka tahun depan itu kita akan membuat iklan di koran-koran daerah di samping iklan di koran-koran nasional. Di samping itu kita juga membuat website sertifikasi guru, ada juga website PMPTK (www.pmptk.net),” ujarnya penuh semangat.

Berkaitan dengan kecurangan yang ditemui di beberapa rayon, menurut Muchlas Samani, memang ada beberapa kecurangan seperti yang terjadi di UNM Makassar namun jumlahnya tidak signifikan.

“Tingkat kecurangan memang ada, namun sangat rendah. Saat ini LPTK yang bersangkutan sedang menelusurinya. Indikasinya nanti kita panggil orangnya untuk di klarifikasi. Misalnya begini ada dua karyatulis yang nampaknya mirip, kita kan tidak bisa bilang kalau guru itu plagiat, maka kita panggil dua-duanya apakah dia plagiat atau bukan,” tegas lelaki berkacamata itu singkat .

Sejatinya, menurut Giri Suryatmana, beberapa kecurangan dan beberapa kecurigaan terhadap pelaksanaan sertifikasi itu tidak akan terjadi jika para guru menyadari akan filosofi pelaksanaan sertifikasi. Para guru harus menyadari betul perannya sebagai pendidik yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Bagi yang sudah melakukan kecurangan itu sudah mati kutu atau bunuh diri. Yang paling penting sebetulnya, memberikan kesadaran sertifikasi itu bukan mengejar sertifikat saja, tapi mencari peran yang lebih luhur yaitu mengemban misi profetis. Filosofi sertifikasi itu sebenarnya ingin meneguhkan kembali peran guru. Karena para guru mengemban amanah umat mencerdaskan generasi bangsa” ujar Giri tegas.

Sertifikasi guru memang merupakan kerja besar nasional. Besar dan ruwetnya pekerjaan terbayang dari jumlah 2,7 juta guru TK-SMA yang harus disertifikasi. Konsekuensinya, butuh tenaga penilai, yaitu ribuan orang asesor dengan kualifikasi dosen yang ditunjuk oleh satuan LPTK. “Tahun ini saja butuh 4.010 asesor,” kata E Nurzaman, Kepala Subdit Program Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Depdiknas.

Menurut Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, program sertifikasi guru harus tuntas tahun 2015. Keputusan untuk menyertifikasi guru, kata Mendiknas, sudah dipuji oleh Bank Dunia sebagai langkah luar biasa di dunia. “Sertifikasi semua guru dalam jabatan di Indonesia merupakan kebijakan reformasi terbesar di dunia dalam peningkatan kualitas guru,” ujar Bambang Sudibyo bangga.

EVA ROHILAH

Dimuat di Majalah Guru Edisi-4 November 2007

Guru Berprestasi

Posted: September 10, 2007 by Eva in Pendidikan

guru-edit.jpg

PAHLAWAN DENGAN PENGHARGAAN

Dibalik penghargaan keteladanan pendidikan dari Depdiknas, tersimpan sekelumit kisah dan keringat perjuangan yang tiada henti. Kategori berprestasi dan berdedikasi tak gampang diraih, terlebih mempertahankannya.

Mengenakan setelan berwarna biru dongker, wajah Sri Rahayu, 38 tahun, terlihat sumringah. Kegembiraannya tidak bisa ia sembunyikan dari bola matanya yang berbinar, saat mendengar ia menjadi Juara I Guru SD Berprestasi Tingkat Nasional. Guru matapelajaran IPA kelas 5 SD Negeri Yayasan Pupuk Kaltim (YPK), Bontang, Kalimantan Timur, ini tak kuasa menahan haru.

”Puji syukur Alhamdulillah. Saya tidak menyangka terpilih,” ujar Yayuk, begitu ia biasa disapa, dengan mata berkaca. Kaharuan Yayuk itu lantaran, perjalanan menuju tangga juara sangatlah panjang. Ia mesti bersaing dengan ribuan guru dari tingkat kabupaten, provinsi hingga berlaga di Jakarta.

Masih terbayang di benak Yayuk, kali pertama datang ke Jakarta. Ia tidak berharap banyak bisa menjadi yang terbaik. Ia hanya mengikuti segala prosedur yang ada dan setiap pembicaraan yang disampaikan nara sumber. Boleh dibilang ia datang ya sekadar menghadiri acara Penghargaan Guru Berprestasi, Guru Pendidikan Luar Biasa, Guru SD di Daerah Khusus/Terpencil Berdedikasi 2007 yang diselenggarakan Direktorat Profesi Pendidik, Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) di Hotel Sheraton Media Jakarta, 12 Agustus lalu.

”Ada 2,7 juta guru di Indonesia, 1,6 juta di antaranya guru negeri. Mereka ini punya potensi sangat besar untuk mencerdaskan 51 juta anak bangsa yang berada dalam usia belajar. Di sini ada 231 guru berprestasi dan berdedikasi. Kita harus mencari cara menyampaikan ilmu yang diperoleh di sini pada guru lainnya yang tidak ikut acara ini,” kata Fasli Jalal, PhD, Dirjen PMPTK dalam sambutannya.

PENILAIAN KETAT

Selama sepekan, 231 guru, yang terdiri dari 132 guru berprestasi, 66 guru dari daerah khusus dan 33 guru pendidikan luar biasa (PLB) mengikuti serangkaian kegiatan. Para guru berprestasi menjalani penilian ketat. Dari tes tertulis hingga wawancara dihadapan dewan juri. Tim juri seleksi SD hingga SMA diketuai Prof. Dr. Gatot Suradji. Anggotanya dari kalangan akademisi, dan widyaiswara dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK). Penilian guru TK Berprestasi melibatkan juri dari Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Seluruh Indonesia (IGTKI)

Sedangkan guru berdedikasi dari PLB dan guru di daerah khusus tidak melalui proses seleksi.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap guru harus melewati tes tertulis dan wawancara yang diajukan oleh tim juri.,” ujar Dra. Dian Mahsuna Mpd, Kasubdit Penghargaan dan Perlindungan (Harlindung) Direktorat Profesi Pendidik tegas.

Juri tak hanya memelototi portofolio para guru. Melainkan juga menguji empat uji kompetensi yang mesti dimiliki guru. Yakni kompetensi pribadi, pedagodik, profesional, dan kompetensi sosial. Setiap guru berprestasi juga diwajibkan membuat karya ilmiah. Karya itu harus ide orisinal guru dalam mengembangkan metodologi pembelajaran dan berupa terobosan pemikiran sesuai bidang studi.

BERTEMU PRESIDEN

Penerima penghargaan guru berprestasi dan berdedikasi, juga kepala sekolah dan pengawas sekolah berprestasi dan berdedikasi, diumumkan di Gedung Depdiknas pada 16 Agustus, sehari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Ke-62 RI. Depdiknas juga memberikan penghargaan keteladanan untuk dosen dan mahasiswa. (Lihat: Ini Dia Para Teladan).

“Para pemenang lomba keteladaan merupakan tokoh panutan yang dapat menjadi teladan dan dapat membudayakan kebutuhan berprestasi di kalangan masyarakat,” kata Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menandaskan.

Para peraih penghargaan mendapatkan uang tunai dan komputer jinjing alias laptop. Semua guru yang sampai seleksi nasional mendapatkan hadiah tabungan senilai Rp 5 juta dari Bank Mandiri. Hadiah uang bagi Juara I hingga Juara III guru berprestasi TK-SMA berturut-tururt menerima Rp 15 juta, Rp 13,5 juta, dan Rp 11,5 juta. Semua finalis mendapat hadiah Rp 10 juta.

Sedangkan semua guru berdedikasi membawa pulang Rp 10 juta dari Ditjen PMPTK, dipotong pajak. ”Para guru di daerah khusus mendapat tambahan hadiah uang dari para istri menteri Kabinet Pembangunan sebesar Rp 4 juta, tanpa dipotong pajak,” Dian Mahsuna menambahkan.

Para teladan ini juga diundang Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri upacara Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945 di Istana Merdeka. Tentu saja, kesempatan bertemu Presiden dan Ibu Negara menjadi hal sangat istimewa bagi para guru dan kepala sekolah. Mereka yang berasal dari desa atau pulau terpencil seperti mimpi bisa berhadapan langsung dengan presiden. Datang ke Jakarta saja tak pernah terbayangkan.

”Saya baru pertama kali naik pesawat dan pertama kali ke Jakarta. Saya pinjam uang Rp 2.500.000 untuk datang ke sini. Rasanya seperti mimpi. Banyak yang akan saya ceritakan pada murid-murid saya,” ujar Stefnus Nuban, 25 tahun, guru kelas 1 SD Negeri Nenonaheun, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

EVA ROHILAH

INI DIA PARA TELADAN

Juara I Keteladanan Pendidikan 2007
1. Kepala Sekolah Berprestasi:
TK : Endang Supadminingsih, SP, MP, (TK Unggulan Al-Ya’lu, Malang)
SD : Drs Pipip Rosida (SDN Sukadamai 3 Bogor)
SMP : Drs Sunarto MPd (SMPN 2 Boyolali)
SMA : Drs I Nyoman Darta (SMAN 1 Singaraja)

2. Pengawas Sekolah Berprestasi
TK : Drs Jaelani, MPd (Dinas Dikbud Lamongan)
SMP : Drs Ramlyd, MSi (Dinas Diknas Kendari)
SMA/SMK: Maksimum Bounde (Dinas Diknas Kendari)
PLB : Drs Mudjiyono (Dinas Dikbud Wilayah Kedu, Jawa Tengah)

3. Guru Berprestasi:
TK : Misrayeti, A.Ma (TK Islam Raudlatul Jannah, Payakumbuh)
SD : Sri Rahayu, SPd (SD 2 Yayasan Pupuk Kaltim, Bontang)
SMP : Drs R. Marsudi Nugroho (SMPN 8 Kediri)
SMA : Saptono Nugrohadi (SMAN 3 Salatiga)

4. Perwakilan Guru Daerah Terpencil: Husaeni, A.Ma Pd. (SDN Jambu Baru I Barito Kuala) dan Zainab Hi Habib, A.Ma.Pd (SD Inpres Goeng, Halmahera Tengah)
Perwakilan Guru Luar Biasa Berdedikasi: Ansyari, SE (SLB AB Bukesra Banda Aceh)

5. Dosen Berprestasi: Adrian Bayu Sukmono, Ph.D (ITB Bandung)

6. Mahasiswa Berprestasi: Danang Ambar Prabowo (IPB Bogor)

7. Lomba Sekolah Sehat :
a. TK : TK Islam Fathia, Cibeureum, Sukabumi
b. SD : SDN N Tanjung Sekar 1, Lowok Waru, Malang
c. SMP: SMPN 103, Jakarta Timur
d. SMA: MAN 3, Malang

9. Lomba Website: SMKN 2 Jogjakarta

10. Lomba Penelitian Ilmiah Remaja SMP
a. Bidang IPA: Imdad Mahafta Virya, Hestitytriani Anisa, Nadya Fardani (SMPN 5 Jogjakarta)
b. Bidang IPS : Ratna Gumilang; Valina Khairin (SMPN I Gresik)
c. Bidang Teknologi: Nur Amin; M.Nirwan (SMPN Muhamadiyah 3 Jogjakarta)

11. Lomba Penelitian Ilmiah Remaja SMA
Vina Vania Suhartawan (SMPN 2 Jayapura, Papua)

12. Lomba Karya Jurnalistik 2007:
a. Artikel : Surjanto Budiwalujo (Guru SMK YP-1 Madiun)
b. Berita : Willy Masaharu dari Harian Suara Pembaruan
c. Feature : Adhitya Ramadhan
d. Tajuk Rencana: Harian Kedaulatan Rakyat
e. Karikatur : Dwi Argo Susanto

Pendidikan di China

Posted: August 22, 2007 by Eva in Pendidikan

GURU BERKUALITAS NEGERI PANDA

Sistem pendidikan China lebih terbuka. Guru diklasifikasi berdasarkan kualitas. Siswa bebas mengevaluasi kualitas guru secara objektif. Guru dapat tambahan tunjangan kesejahteraan 10 persen dari gaji pokok.

Ungkapan “carilah ilmu hingga ke negeri China” memiliki makna tersendiri bagi Drs Zaenal Mutaqin, MSi. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini benar-benar terbang ke Beijing, China, 9-21 Juli lalu.

Keberangkatan Zaenal ke “negeri Tirai Bambu” itu juga dalam rangka menimba ilmu pendidikan. Ia bersama rombongan dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) dan beberapa pejabat dari dinas pendidikan kabupaten/kota, mengikuti workshop peningkatan kompetensi guru,

“Rasanya seperti mimpi berangkat ke Beijing,” katanya. Sesama kepala dinas pendidikan yang dikirim ke Beijing adalah kepala dinas pendidikan Lombok Barat, Gorontalo, Tanah Datar, dan Merauke. Workshop pendidikan itu juga diikuti negara lain, yakni Kamboja, Laos, Mongolia, Papua Nugini, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

China yang punya luas daratan 9,6 juta km2 ini memang pendidikannya lebih maju dibandingkan Indonesia. “Mereka lebih fokus dalam menangani pendidikan. Saya kira kita harus punya komitmen dan bisa konsisten agar bisa memajukan pendidikan di Indonesia,” ujar Zaenal Mutaqin.

UU Sisdiknas-nya China mewajibkan anak umur 6 tahun mengikuti pendidikan dasar, tanpa dipungut biaya sekolah. SD di sana berlangsung 6 tahun. Mata pelajaran utamanya, antara lain, bahasa dan kesusastraan China, matematika, ilmu pasti, bahasa asing, pendidikan moral, musik, olahraga dan jasmani.

Jumlah SD di negeri Panda ini mencapai 400.000 dengan murid hingga 120 juta anak. APK SD di sana mencapai 98%. Sedangkan jumlah SMP dan SMA kurang lebih 60.000 dan 30.000, plus 3.000 perguruan tinggi.

Satu hal yang menarik bagi Zaenal berkaitan dengan tenaga pendidik adalah relasi guru dan murid yang berjalan demokratis. “Ciri khas pendidikan di Beijing adalah adanya klasifikasi guru, mulai dari guru paripurna sampai guru yang tidak qualified. Siswa juga bebas mengevaluasi guru secara objektif. Dua hal yang masih tabu di negara kita,” ujar Zaenal salut.

Guru juga mendapat tempat istimewa di Beijing. Gaji guru di sana berkisar 3.000–5.000 yuan per bulan. Dalam kurs 1 yuan= Rp 1.200, guru di China menerima rata-rata senilai Rp 3,6 juta–Rp 6 juta/bulan. Selain gaji pokok, guru juga menerima tunjangan kesejahteraan sebesar 10% dari gaji pokok. Sistem penggajian buat guru ini lebih tinggi 10% daripada pegawai biasa.

Penghasilan itu sudah memadai. Sehingga, hampir tidak pernah terdengar guru harus “ngojek” atau kepala sekolah mencari uang tambahan dari jual-beli seragam dan buku. Ketika pensiun pun, setiap guru berhak mendapatkan 100% gaji pokok per bulannya.

Zaenal menilai, pemerintah RRC menyadari pentingnya peran guru untuk memajukan bangsanya. Tak heran bila kemajuan RRC kini menjadi buah bibir di dunia. “Kemajuan China tentu tak bisa dilepaskan dari peran guru di sana,” katanya.

Kunjungan ke Beijing menjadikan Zaenal bertekad memajukan kualitas guru di Sukabumi. Langkah awalnya adalah mendongkrak tingkat kesejahteraannya. “China memulai memberi insentif kepada guru lebihdulu dari Indonesia, sedangkan kita baru mulai. Saya akan melaksanakan pemerataan guru di Sukabumi lewat pemberian insentif bagi guru yang ditempatkan di daerah terpencil,” kata Zaenal.

EVA ROHILAH (Sukabumi)

Pendidikan di Selandia Baru

Posted: August 22, 2007 by Eva in Pendidikan

college-di-new-zaeland-1.jpgcollege-di-new-zaeland-1.jpgMajalah Forum Tenaga Pendidik
Edisi Agustus 2007

MENIMBA ILMU DI NEGERI KIWI

Kali pertama Indonesia mengikuti pertemuan kepala sekolah tingkat dunia di Auckland, Selandia Baru. Wawasan dan kepemimpinan sangat ketinggalan dibandingkan dengan negara lain. Perlu lebih sering ikut forum internasional.

“Betapa kita sangat jauh ketinggalan di banding negara-negara seperti Uganda, Srilanka, dan beberapa negara lainnya di Afrika Selatan,” kata Drs Asyikin, Kepala SMA Negeri 70 Jakarta, mengomentari keikutsertaannya pada International Confederation of Principals (ICP) di Auckland, Selandia Baru, pada 2-5 April 2007 lalu.

Asyikin merasa beruntung menjadi satu di antara 20 kepala rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang mengikuti Konfederasi Internasional Kepala Sekolah itu. “Pertemuan kepala sekolah yang menyerupai konvensi tingkat dunia memiliki manfaat luar biasa bagi kami, terutama untuk mengukur kemampuan dan kualitas SDM,” ujar pria kelahiran Kuningan, 14 April 1951 ini kepada Forum Tendik, saat ditemui di kantornya, awal Agustus lalu.

Konferensi kali ini diikuti 1700 orang kepala sekolah dari 30 negara. Konferensi diisi berbagai pembicara utama berkelas internasional dari negara-negara maju dan berkembang. Agenda yang dibahas di antaranya standar SBI, manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, dan pengembangan sumber daya manusia.

Ajang bergengsi itu menjadai wahana berbagi pengalaman dan wawasan kepala sekolah dari lima benua membagi pengalaman satu sama lain. ”Pertemuan ini sangat bermanfaat dalam rangka persiapan menuju sekolah bertaraf internasional,” ucap Jasman Luasin, Kepala SMA Negeri 2 Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Direktorat Tenaga Pendidikan Ditjen PMPTK sendiri berharap kehadiran para kepala sekolah di forum internasional itu bisa menjadi media pengembangan wacana kepemimpinan kepala sekolah pada tataran internasional. Juga untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan hasil-hasil penelitian terkini terkait dengan usaha peningkatan mutu pendidikan.

Selain itu, Direktorat Tendik berharap ICP bisa untuk mengukur tingkat kesiapan kepala sekolah Indonesia, menghadapi persaingan global di bidang pendidikan, serta bisa membandingkan dan mengetahui posisi antara strategi pembangunan sekolah-sekolah di negara maju dengan kondisi pendidikan di Indonesia.

KOMUNIKASI DAN KURANG GAUL

Hal yang menyolok dalam pertemuan itu adalah: delegasi Indonesia yang kurang bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Padahal, setiap dialog, pemaparan, rapat pleno dan konvensi, semuanya menggunakan bahasa Inggris. Minimnya kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris ini membuat delegasi Indonesia tidak banyak bicara.

”Kita juga jarang mengikuti forum-forum internasional seperti itu. Akhirnya jadi kurang gaul. Saya yang kebetulan sering mendapat kesempatan ke luar negeri, merasa terpukul,” ujar Asyikin.

Selain kelemahan soal komunikasi dan kurang pengalaman internasional, Asyikin menilai secara makro kondisi pendidikan Indonesia tidak jauh tertinggal dibanding negara-negara yang hadir. Misalnya soal kurikulum menyongsong abad 21. ”Dalam beberapa hal kurikulum negara-negara lain hampir sama dengan di sini. Kita punya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memberikan kebebasan secara konsep, filosofis dan teori,” kata Asyikin.

Bedanya, sejumlah negara mengembangkan kurikulum secara bottom-up. Sebelum kurikulum disahkan, sudah terlebih dahulu dipaparkan kepada murid, orangtua, masyarakat dan dunia usaha. Sehingga suara dari mereka bisa diserap. Setelah konsep kurikulum jadi, pemerintah mengadakan polling untuk menanyakan apakah kurikulum sudah sesuai dengan kebutuhan. “Polling menjaring kembali suara para ahli. Baru kemudian menjadi sebuah kurikulum,” ungkap Asyikin.

Selain kurikulum, pembekalan di bidang teknologi informasi, komunikasi, dan komputer dalam belajar, paradigma belajar-mengajar, organisasi pembelajar (learning organization) dan kemitraan antar sekolah (sister school) adalah empat poin penting yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut. “Saya sampaikan apa yang diperoleh di Selandia Baru ini pada Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS),” kata Asyikin yang juga Ketua MKKS Jakarta Selatan.

Asyikin berharap di kesempatan mendatang, setiap provinsi bisa mendapat giliran mengikutsertakan wakilnya di ICP. Mengingat biaya yang tinggi, kepala sekolah terpilih bisa meminta bantuan kepada pemerintah provinsi. ”Saya juga berharap Direktorat Tenaga Kependidikan mendorong dinas pendidikan dan kepala sekolah terbaik mendaftar jadi anggota ICP,” katanya.

Pasalnya, dengan menjadi anggota ICP, mereka mendapat semua informasi perkembangan pendidikan di dunia. Beda halnya bila datang hanya sebagai peninjau. ”Informasi terbaru memang khusus untuk anggota,” katanya.

EVA ROHILAH

BOKS 1

SEJUTA PERAK JADI ANGGOTA

International Confederation of Principals (ICP) adalah organisasi independen yang menghimpun 40 negara dari lima benua. Saat ini ada 135.000 anggota kepala sekolah dari seluruh dunia yang menjadi anggota tetap. Konvensi ICP diadakan dua tahun sekali.

ICP diadakan kali pertama di Jenewa, Swiss pada 1993. Berturut-turut kemudian diadakan di Sidney, Australia (1995), Boston, Amerika Serikat (1997), Helsinki Finlandia (1999), Gyeong-ju, Korea (2001), Edinburgh, Skotlandia (2003), dan Cape Town, Afrika Selatan (2005). Pertemuan ke-9 ditetapkan diselenggarakan di Singapura, pada 2009 mendatang.

Untuk menjadi anggota ICP sangat mudah. Setiap anggota hanya dipungut iuran 60 poundsterling per tahun atau hanya sekira satu juta perak. Tidak mahal untuk ukuran keanggotaan organisasi bergengsi tingkat dunia. ICP beralamat di 68 Martin St, Heidelberg, Victoria 3084, Australia. Presiden ICP dijabat Kate Griffin dari Inggris. Bagi yang tertarik, silakan klik di http://www.icponline.org.

EVA ROHILAH

BOKS2:

BEBAS BERHENTI DAPAT DIPLOMA

SELANDIA Baru adalah negeri di selatan Australia yang berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik. Negeri seluas 268.000 kilometer persegi ini kurang lebih sama luasnya dengan wilayah Inggris dan Jepang. Atau hampir dua kali luas Pulau Jawa.

Dalam bahasa Maori, Selandia Baru disebut Aotearoa yang berarti ”tanah awan putih yang panjang”. ”Negeri Kiwi” ini masih memiliki hamparan tanah pertanian yang luas, padang pasir vulkanik, pegunungan yang tertutup salju, sertai pantai dengan air laut membiru. Terasa lapang untuk warga Selandia Baru yang cuma 4 juta jiwa.

Sistem pendidikan di sana boleh dibilang unik. Wajib belajar hanya sampai jenjang SMP. Ketika memasuki jenjang pendidikan SMA, warganya dibebaskan untuk “berhenti setiap saat”. Sehingga di sana, wajar terjadi siswa baru kelas I SMA, tiba-tiba berhenti sekolah dan mengalihkan kursus. Ada juga yang begitu kelas II SMA, keluar dan langsung mengikuti program diploma, tidak masalah.

Mereka yang “meloncat-meloncat” ini biasa disebut traders. Dengan kursus singkat seseorang dinyatakan memiliki kemampuan tertentu. Mereka bisa bekerja berdasar keterampilan atau keilmuan tertentu.

Lembaga pendidikan bagi anak-anak balita banyak berkembang dengan ciri khas budaya dan kebutuhan yang beragam. Kebanyakan anak mengikuti pendidikan dasar (primary school) pada usia 5 tahun dan pindah ke sekolah lanjutan pertama (intermediate school) pada usia 11 tahun. Sekolah menengah (secondary school) diikuti anak usia 13 tahun-17 tahun. Hampir semua sekolah menengah adalah sekolah negeri. Namun ada sejumlah sekolah memiliki corak filosofi atau keagamaan.

EVA ROHILAH

IKHLAS MENJAGA FITRAH ANAK

Posted: July 25, 2007 by Eva in Pendidikan

IKHLAS MENJAGA FITRAH ANAK
Pena Pendidikan Edisi Khusus Anak

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Peran orangtua sangat berpengaruh dalam mengubah anak menjadi berwarna merah, hitam dan kelabu. Agama memiliki tuntunan yang kaya tentang pendidikan anak usia dini sesuai ajaran kitab suci.

BANYAK istilah sering digunakan dalam menggambarkan kasih sayang orangtua terhadap anak. “Anak permata Bunda, belahan jiwa, si jantung hati, dan buah hati mama”. Sebutan itu mencerminkan betapa anak adalah segalanya. Sebagai buah hati ia mampu menjadi daya pengikat yang kokoh dan perekat yang kuat dalam jalinan kasih sayang dan hubungan harmonis rumah tangga.

Mendidik anak sejak dini menjadi suatu kewajiban orangtua sejak dari kandungan hingga beranjak dewasa. Islam, misalnya, mengajarkan pentingnya pendidikan anak sejak ia berada dalam kandungan ibunya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Quran: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau, anak yang ada dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat. Karena itu terimalah nazar itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi maha Mengetahui.”(Quran Surat Ali Imran: 38)

Ayat di atas menegaskan bahwa sejak bayi dalam kandungan, seorang ibu senantiasa mendidik bayinya dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT. Kandungan ayat itu klop dengan riset ilmiah ilmu kedokteran, yang menyatakan sejak kandungan berusia 7 minggu, embrio yang ada dalam rahim untuk pertamakalinya saraf dan otot bekerja. Bersamaan dengan itu, embrio mempunyai reflek dan bergerak spontan. Akhir minggu ke-7 ini otak bayi akan terbentuk lengkap.

Saat pembentukan otak dalam kandungan, seorang ibu selain harus mengonsumsi makanan yang mengandung gizi dan asupan vitamin yang bagus, disarankan juga sang Bapak membaca ayat Al Quran dengan cara diperdengarkan langsung ke perut istrinya yang sedang hamil. Dengan cara ini anak akan merasakan kedamaian dan perhatian terutama nilai-nilai agama dari orangtuanya.

KEWAJIBAN ORANGTUA

Setelah mengalami masa usia sembilan bulan dalam kandungan, bayi akan lahir ke dunia dengan segala anugerah yang diberikan Allah SWT. Ibarat kertas polos yang kosong, setiap bayi yang dilahirkan adalah fitrah atau suci. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi,” (Hadits Riwayat Bukhari).

Hadits ini adalah dalil yang kuat tentang pentingnya orang tua memberikan pendidikan bagi anak. Kelahiran bayi merupakan anugerah Allah SWT, oleh karena itu kelahiran bayi yang dinanti-nantikan baik laki-laki maupun perempuan harus disambut dengan penuh syukur.

Setelah bayi lahir, orangtua harus mengazaninya agar si anak kelak selalu mendengar perintah-Nya dan mendengar hal-hal baik dari lingkungan sekitarnya. Selain itu, ada empat hal yang diwajibkan orang tua kepada anaknya saat 7 hari usia bayi. Yaitu memberi nama yang baik, melakukan aqiqah, mencukur rambut dan memberi sedekah pada orang miskin paling kurang perak seberat rambut itu.

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang cukup, makanan bergizi dan imunisasi juga sangat penting dalam menjaga pertumbuhan anak agar menjadi generasi yang sehat baik jasmani maupun rohani. Pada saat usia dua tahun anak menunjukkan emosi yang labil dan sukar mengendalikan diri. Ia mudah mengenal identitas dan merasa dirinya penting dan ingin terlihat menonjol. Ia menghendaki apa-apa yang diinginkannya segera dituruti dan mengharapkan perhatian lebih.

Pada masa usia 3-5 tahun sebaiknya orangtua memberi keteladanan pada anak dan menyarankan anak untuk memiliki lingkungan baru seperti kelompok bermain, Taman Asuh dan sejenisnya. Lingkungan baru ini agak berbeda dengan lingkungan rumah yang selama ini anak jalani.

”Al Quran menyebutkan cita-cita Nabi dan Rasul untuk memperoleh anak yang saleh sebagai pewaris dan penerus usahanya. Al Quran juga menyebutkan tanggung jawab ibu dan bapak untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya sejak dini dengan baik, supaya kelak di kemudian hari jangan menjadi anak yang sengsara dan lemah baik fisik maupun jiwanya,” ujar Dr. K.H. Sahal Mahfudh, Ketua Majelis Ulama Indonesia dalam sambutan buku berjudul Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Pandangan Islam.

Apa yang disampaikan Dr. K.H. Sahal Mahfudh semakin mempertegas pentingnya pendidikan anak usia dini untuk bergabung dengan kelompok bermain dan melalui fase sosialisasi. Yakni fase di mana anak-anak mulai kenal teman, guru dan lain-lain di luar hubungannya sebagai anggota keluarga. Ia mulai kenal berbagai peraturan yang harus ditaati. Pada masa ini sifat keakuan mulai berkurang perasaan emosional lebih kecil dibanding dengan sebelumnya.

Pada masa ini juga daya intelektualitas mulai berkembang. Daya fantasi, sifat ingin tahu, dan sifat meniru menjadi lebih menonjol. Dalam hubungan ini yang perlu diupayakan adalah: Pertama memberikan Kebebasan yang terbatas dalam arti memberikan tuntunan, bimbingan, nasihat dan pengendalian.

Selanjutnya yang kedua adalah mengadakan komunikasi timbal balik, Ketiga, melatih mereka bertanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan, Keempat, mengadakan kegiatan bersama seperti shalat berjamaah. Kelima jangan terlalu memanjakan dan mengekangnya dengan memberikan materi yang berlebihan. Keenam memberikan perhatian, pendidikan kedisiplinan dan akhlakul karimah, serta pendidikan bagaimana menjadi mandiri.

Itulah beberapa usaha yang harus dilakukan orangtua dalam merawat, mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Diharapkan jika hal ini dilakukan dengan ikhlas akan memberi kebahagiaan dan kesejahteraan bagi anak. Anak yang sejahtera adalah penerus kesejahteraan orangtuanya dan merupakan kekayaan bangsanya. Anak idaman adalaha nak yang qurrata a’yun alias penyenang hati dan penyejuk mata.

PENDEKATAN IMAN DAN KASIH

Dalam ajaran Kristiani, perhatian terhadap pendidikan anak usia dini juga besar. Sebagaimana tersebut dalam Efesus 6:4 yang menyatakan: ”…Kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Pendidikan iman oleh orangtua diberikan pada anak dengan membiasakan mereka menghayati nilai-nilai iman kristiani di lingkungan keluarga lewat suasana yang indah dan menggembirakan, iklim persaudaraan dan cinta kasih. Selain itu orang tuabertanggung jawab mengajar anak-anak berdoa dan menuntun mereka sebagai citra Allah melalui kesaksian hidup sesuai dengan Injil.

Kesadaran dalam penanaman dan pemeliharaan iman menjadi pokok perhatian dalam pelayanan pastoral gereja. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa pembinaan iman anak merupakan tugas utama gereja, selain orangtua dan masyrakat (Lumen Gentium 11). Dewasa ini setiap paroki di Indonesia telah menyelenggarakan Pendidikan Bina Iman Anak (BIA)

Tugas dan tanggungjawab pendidikan anak usia dini dalam iman Katholik diselenggarakan oleh keluarga, penanggung jawab (bidang pewartaan dan pendalaman iman di tingkat keuskupan dan paroki, dan pendamping Bina Iman Anak dengan tujuan membantu keluarga Katholik agar sadar akan pentingya pendidikan iman anak sejak usia dini dan mampu memberikan iman kepada anak-anaknya sesuai ajaran Yesus Kristus.

Beberapa hal yang dilakukan gereja adalah
– Merencanakan kaderisasi tim pendamping melalui pelatihan secara berkala dan berjenjang.
– Menyiapkan materi pelatihan bagi para pendamping iman anak
– Menyusun materi Bina Iman Anak (BIA) dan metode pendampingan yang cocok dengan kebutuhan, minat minat dan daya serap anak.
– Menyusun alat peraga atau alat permainan edukatif (APE) secara kreatif. Dan disesuaikan dengan keadaan setempat.
– Bekerjasama dengan dewan paroki, pengurus stasi, orangtua, guru PAUD dan lembaga-lembaga yang peduli akan PAUD dalam mendidik anak secara kristiani.

EVA ROHILAH

SUMMERHILL YANG MERDEKA DAN CERDAS
Infosocieta, Depsos RI edisi hari Anak

Judul Buku : SUMMERHILL SCHOOL (Pendidikan alternatif yang Membebaskan)
Penulis : A.S. Neill
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Cetakan I, Juni 2007
Tebal : 356 Halaman
Harga : Rp 45.000
ISBN : 978-9791275-00-2

Carilah sekolah yang cocok dengan anak-anak, bukannya anak-anak yang harus cocok dengan sekolah. Summerhill menjadi sekolah bebas sejak 1921. Anak bebas menentukan pelajaran yang ia sukai. Bebas tumbuh dan berkembang.

“Pada dasarnya tidak ada anak yang jahat. Yang ada adalah para orangtua bermasalah, guru-guru bermasalah, dan sekolah-sekolah bermasalah yang semuanya melahirkan anak-anak bermasalah.” Itulah kesan Robert Gottlieb, Executive Vice-President di sebuah agen bakat yang besar dan kepala departemen sastra, mengomentari sosok Alexander Sutherland Neill.

Neill tak lain adalah pendiri sekolah Summerhill, tempat Robert Gottlieb menghabiskan sebagian masa sekolahnya pada 1960 hingga 1962. Ungkapan Gottlieb mengenai sekolahnya itu ditulis pada 1990, sebagai pengantar buku kecil karya Neill ini yang diterbitkan di Inggris pada 1992.

Sekolah Summerhill yang didirikan Neill di Leiston Suffolk, sekitar 160 km dari London, Inggris, pada 1921, memang bukan sekolah sebagaimana lazimnya sekolah. Loh? Melalui sekolahnya, Neill menggulirkan gagasan membebaskan murid-muridnya menentukan apa yang mereka mau. Ketertiban, arahan, anjuran, pengajaran moral, dan pengajaran agama, Neill singkirkan.

“Kami dianggap berani dengan ide ini, padahal tak dibutuhkan keberanian apa pun,” ujar Neill. Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan penuh bahwa anak-anak adalah makhluk yang baik dan bukan makhluk jahat. “Kami meyakini sepenuh hati,” tambah Neill.

Mengatasi Anak Bermasalah

Pemikiran-pemikiran Neill membangun Summerhill dibukukan dalam Summerhill School, A New View of Childhood yang disunting dengan bagus oleh Albert Lamb. Edisi perdana buku aslinya terjual lebih dari 4 juta eksemplar. Seperti apakah Summerhill itu?

Pertama, anak-anak bebas memilih pelajaran yang mereka ikuti. Bahkan bagi anak yang baru masuk ke sekolah ini mereka bebas bermain sepanjang waktu, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun, sesuka mereka. Jadwal pelajaran tetap ada, tetapi hanya ditentukan untuk para guru. Fasilitas di sana komplit: kolam renang, bengkel kerja, laboratorium, ruang kesenian, teater, alat musik, perpustakaan bahkan sampai ladang.

Bagi Neill, pelajaran bukanlah sesuatu yang penting. Aktivitas belajar tidaklah sepenting kepribadian dan karakter. Jack, salah satu siswanya, tidak lulus dalam seleksi masuk perguruan tinggi karena dia membenci buku. Tetapi ketidaktahuannya tentang pelajaran tidak menghalangi hidupnya. Jack tumbuh menjadi seorang yang sangat percaya diri.

Di mata Neill, menjejalkan pelajaran pada anak sama saja memaksakan pekerjaan yang tidak menyenangkan buat anak. Neill tak menyangkal, banyak anak bermasalah di Summerhill. Mereka berkali-kali dikeluarkan dari sekolah sebelum masuk Summerhill. Banyak murid dengan pribadi penuh kebencian dan pemberontakan.

Neill sadar betul seorang anak tumbuh dengan egonya. Tapi ia yakin, ego yang dipelihara dengan baik, akan memiliki apa yang disebut kebaikan. Sebaliknya ego yang dikekang hanya menghasilkan kejahatan. Anak-anak yang dianggap jahat sejatinya ia sedang berusaha mencari kebahagiaan. Rumah dan sekolah seringkali menjadi sumber ketidakbahagiaan dan sikap antisosial.

Ia sangat memahami, butuh waktu bagi anak untuk menjadi diri sendiri setelah begitu tertekan oleh sekolah konvensional. Panjang pendek masa penyembuhan ini tergantung pada seberapa besar kebencian yang ”ditanamkan” sekolah merasuk ke pikiran para murid.

Kebahagiaan yang tak mereka rasakan sejak kanak-kanak hanya akan membuka celah bagi kebahagiaan palsu yang didapat dari kegiatan merusak, mencuri, atau menghajar orang. Kejahatan dan hukuman tidak akan pernah mengatasi kejahatan dan kenakalan anak. Di Summerhill, siswa-siswanya boleh mangkir dari pelajaran-pelajaran jika ia tidak suka.

Manajemen Swakelola

Namun, Summmerhill bukan sembarang sekolah bebas. Dengan menentukan pelajaran yang murid sukai, justru mampu mengubah anak yang semula penakut menjadi pemberani dan teguh pendirian. Jika ada anak yang ketahuan mencuri, ia hanya diminta mengembalikan apa yang sudah diambilnya. Hukumannya pun ditentukan murid-murid sendiri.

Sekolah ini memang dikelola bersama oleh guru dan siswanya. Swakelola istilah mereka. Dari hukuman, mereka sadar mencuri itu merugikan. “Mereka adalah para realis cilik. Mereka tidak akan mengatakan bahwa Tuhan akan menghukum pencuri,” ujar Neill. Sepekan sekali mereka menggelar rapat bersama untuk membahas semua kejadian dalam keseharian mereka. Hukuman, ketidaksetujuan, dan ide dibahas secara demokratis. Guru tidak campur tangan. Semuanya diselesaikan sendiri oleh anak-anak.

Pada bagian kebebasan beragama, Neill mengungkapkan pengalaman pribadinya. Menurut Neill, para psikolog menyatakan bahwa pengalaman hidup masa kecil kita menentukan kehidupan kita selanjutnya. Neill sependapat dengan psikolog itu saat menyaksikan kematian Clunie, adiknya tersayang, pada usia tiga puluh empat tahun. Semasa hidupnya Clunie selalu bersikukuh dan tak mau berkompromi menyangkut Ateisme yang ia anut.

Di matanya agama adalah takhayul dan omong kosong yang kejam. Namun pada akhir hayatnya ia banyak memanjatkan doa yang selalu dipelajarinya saat kecil. Bagi Neill, kejadian ini meneguhkan bukti bahwa perasaan pada anak-anak akan hidup sepanjang umur.

Summerhill pun menjadi surga pendidikan. Mereka menelurkan banyak alumni sukses secara psikologis, ekonomis, akademis, sosiokultural, politis. Mereka menjadi insinyur, dokter, dosen, pemusik, pengusaha, mekanis, koki, dan segala macam profesi, yang berpikiran maju dan terbuka, jujur, tekun, optimis, dan bahagia. Summerhill telah dan terus melahirkan insan-insan yang berjuang membangun peradaban dunia yang lebih manusiawi dan damai.

Satu di antaranya adalah Robert Gottlieb yang menulis pengantar buku ini. Saat di Summerhill (1960-1962), dia tidak berminat belajar baca-tulis. Hingga usia sebelas tahun ia tak mau belajar baca-tulis. “Summerhill adalah sebuah cara hidup. Hidup bersama orang lain dalam sebuah masyarakat dan mengekspresikan diri dengan segenap kecintaan kita pada kasih sayang, ilmu pengetahuan dan karya,” katanya dalam buku itu. Tak segan-segan ia merekomendasikan pada kerabat, juga anaknya agar masuk Summerhill.

Neil, penulis buku ini dan pendiri Summerhill, sudah meninggal pada 22 September 1973 di Aldeburgh, Suffolk. Pria kelahiran Angus, Skotlandia bergelar MA bidang Bahasa dan Sastra Inggris dari Universitas Edinburgh ini sepanjang hayatnya banyak berceramah di mana-mana dan sudah menulis 21 buku semasa menjadi Kepala Sekolah Summerhill. Summerhill hingga saat buku ini ditulis pada 1990, dipimpin Zoe Readhead, sejak 1985.

Model pengelolaan Summerhill itu, banyak dikembangkan di banyak sekolah alternatif di sejumlah negara, khususnya Amerika Serikat. Tak ada salahnya Indonesia mengadopsi metodologi dan pengelolaan sekolah bebas. Setidaknya, banyak murid yang putus asa dan tertekan dengan beban belajar di sekolah merasakan suasana lain. Sangat tidak masuk akal melihat anak-anak putus asa karena tak punya biaya. Di lain daerah, ada siswa memilih mengakhiri hidup dengan cara meregang nyawa karena gagal Ujian Nasional. Sejumlah kalangan menilai sekolah di Indonesia tak ubahnya penjara. Orangtua sendiri berlomba-lomba memenjarakan anaknya ke sekolah.

Buku ini menyadarkan kita bahwa mempelajari dan mengetahui standar-standar pendidikan mutlak diperlukan. Kualitas terjemahan buku ini lumayan bagus, meskipun ada beberapa kata yang kurang pas penempatannya. Didukung sampul atraktif, buku ini wajib dibaca praktisi pendidikan terutama mereka yang terlibat langsung pengelolaan manajemen berbasis sekolah, penyusunan kurikulum, tenaga pendidik (guru), kepala sekolah, dosen, pemerhati pendidikan, dan tentu saja para orangtua yang menginginkan anaknya menjadi cerdas, percaya diri dengan cara yang merdeka.

EVA ROHILAH