Archive for the ‘Perempuan’ Category

(Kisah dan Sejarah Jilbab selama 25 tahun (Periode 1992-2017) )

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis kisah dan pengamatanku tentang fenomena jilbab dari sejak aku pertama kali mengenakan tahun 1992 saat di SMPN Sardonohardjo dan mondok di Pesantren Sunan Pandanaran hingga saat ini 2017, aku mengenakan hijab untuk bekerja atau OOTD.

Kerudung Era 90an

Pada awal tahun 1990an, gaya hidup belum semeriah sekarang. Era orde baru, meski penuh dengan sejarah kelam tentang korupsi dan nepotisme, tapi masa-masa itu kaum muslim di Indonesia di mana aku tinggal tidak banyak gaya, tampil seadanya dengan jilbab sederhana. Waktu di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Sejak dahulu model penutup kepala (kerudung), jilbab atau hijab mengalami banyak perubahan. Ibuku adalah seorang pedagang yang suka memakai kerudung langsungan model brokat lama atau selendang disampirkan. Pada saat periode aku kecil 1979-1980an orang Indonesia belum begitu rapat menutup kepala, ala kadarnya saja tradisional yang penting sopan. Anak-anak usia sekolah seperti SD-SMP juga jarang mengenakan jilbab kecuali sekolah yang berbasiskan ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Pada tahun 1992 lulus SD aku melanjutkan ke SMP 30 Ngaglik, Sardonoharjo Sleman dan mondok di PP Sunan Pandanaran, nyantri kepada Kyai Mufid Mas’ud. Waktu itu aku datang ke pondok diantar kakak pertama dan di tengok A Iwan setiap bulan. Kadang di PPSPA aku nakal curi-curi kesempatan kabur dari kobong jalan naik colt Kaliurang berhenti di depan Mirota Kampus kemudian naik bis pemuda ke rumah kakak di Condongcatur.

Saat SMP ini cara pake jilbabku, begitu juga ketika bermain sesama santri PPSPA. Jilbab segi empat biasa yang bisa kubeli di pasar dengan aneka warna, kalau di dalam kita pake sarung dan tidak berkerudung, atau  jilbab langsungan. Waktu itu di asrama SQL (khusus Sekolah Luar) dimana anak2 pandanaran yang sekolah di luar MTS dan MASPA. Temanku di SMP hanya anak pondok saja yang berhijab yang lain tidak ada.  Kala itu periode 1992-1995.

Pada 1996 aku masuk SMU Muhammadiyah II dimana waktu itu semua murid perempuan berjilbab. Aku masuk sekolah ini karena aku gagal di terima di SMA 7 tadinya kakakku menyarankan aku masuk SMA negeri dan lanjut mondok di Krapyak. Tapi takdir mengatakan lain, NEM ku kurang dua digit sehingga aku gagal masuk SMA negeri unggulan di Jogja.

Jilbab saat SMA

Saat SMA aku berkenalan dengan banyak teman ada yang asli Jogja, ada juga yang dari luar kota seperti Kalimantan, Riau, Kuningan dan daerah lainnnya, aku masuk kelas IPA I Muha. Ada dua orang teman searah yang sering berangkat dan pulang bareng ke sekolah yaitu Veny Setyaningrum dan Nida Nadia.Veny bawa motor sendiri dari rumahnya Jambu Sari aku suka berangkat bareng, sedangkan Nida tinggal di Timoho bersama kakaknya yang kuliah di UII ada 3 orang.

Bersama Veny dan Nida aku banyak menghabiskan waktu berangkat dan pulang sekolah. Di kelas aku bukan termasuk anak pintar, aku sering nakal dan bolosan bersama Dyank Aflahah main radio Geronimo atau ke Malioboro Mall. Sedangkan Nida adalah anak yang pendiam dan sopan, orang Sunda banget yang halus bertutur kata, rapi berpenampilan dan tekun belajar.

Sama Veny Sebelum Balik ke Jambusari Jogja

Sedangkan Veny itu anak manja, orangtuanya dosen UII dan sudah lama tinggal di Jogja, ayahnya asli Kulonprogo dan ibunya Makassar. Aku sering banyak jalan sama veny kadang hunting jilbab di beberapa toko baju muslim, jilbabnya bagus-bagus, namun pernah juga kita beli jilbab meteran.

Jilbab meteran ini kita beli biasanya di Jalan Solo ada sebuah toko bernama Bombay Textil dekat Toserba Gardena, sebrang Galeria Mall. Bahan untuk jilbab di sana cakep-cakep, ada aneka warna kebanyakan berbahan tipis seperti sutra India, tapi harganya terjangkau. Kita berdua senang dan beli beberapa warna lalu kita jahit pinggirannya.

Jilbab meteran aku pakai di depan tugu

Kalau tidak sama Veny aku kadang cari jilbab sendiri di toko bahan cari bahan yang ringan dan motif tidak pasaran. Hal ini berlanjut hingga kuliah, aku sering mix match pakaian dengan jilbab meteran atau jilbab biasa yang aku beli di pasar berbahan katun segi empat

Jilbab Era Awal Tahun 2000-an.

Saat awal kuliah orang yang suka menjaga penampilan, tampil modis dan lipstikan. Akan tetapi setelah aku aktif di organisasi aku berubah total tidak suka dandan dan tidak peduli penampilan. Kampus putih IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga merubah cara pandangku tentang gaya hidup dan kesederhanaan. Aku senang melihat mahasiswa UIN yang tampil sederhana, kaosan, sandal jepitan dan tidak mengutamakan penanmpilan. Akan tetapi mereka kritis dan sangat pintar dalam pemikiran. Terlihat saat berdiskusi dalam aneka bidang baik sosial filsafat atau keagamaan. Saat itu aku lebih senang beli buku daripada pakaian.

 

Pada tahun 2002 aku ketemu mas Arif dan berkenalan dan bertemu dengan temann-temannya di pergerakan. Aku juga ikut dengan orang-orang NGO di Jogja.Aku aktif di Solidaritas Perempuan Kinasih dan Mas arif saat itu merintis usaha kaos bersama Mas Yusrol di Laron oblonk. Saat wisuda tahun 2003 aku dibelikan jilbab hijau yang sampai sekarang masih terawat dengan baik.

Jilbab hadiah wisuda terakhir aku pakai ke Perpus Depdikbud Juli 2017, sudah 14 tahun usia jilbab

Di LSM aku belajar banyak tentang isu pangan dan perubahan iklim, aku waktu itu kenalan dengan mba Farida, Mbak Tini sastra dan Rini YA. Ada sekitar dua tahun aku aktif di SP Kinasih mengelola buletin dan berkenalan dengan mas Kus Indarto seorang illustrator komik dari ISI, waktu itu kantor SP di lantai 2 Gedung AJI Gejayan.

Ini jilbab ketika di LSM

Usai lulus aku kerja di Kebayoran Lama tapi tidak lama, hanya periode Desember – Mei 2004. Aku tidak kuat di Jakarta dan kembali ke Jogja, Mas Arif waktu itu sudah pindah ke Malang. Namun aku kembali lagi ke Jakarta dan bekerja di Cililitan, waktu itu aku tinggal di guru alif satu kost sama Sunariyah. Di samping bekerja aku juga berjualan sandal buka lapak di Senayan sebrang hotel Mulia berangkat jam 4 subuh, suka sendirian atau kadang juga ditemani Nana adiknya Sunar.

Sunariyah, teman pertamakali di Jakarta, bertemu sejak masih di YLKI

Bersama Sunariyah teman pertama di Jakarta berteman sejak di YLKI

Ini jilbab ketiika aku awal kerja di Jakarta

Pada November 2004 aku ditawari kerja merintis penerbitan Pustaka Alvabet bersama bang Ahmad Zaky dan Pak Baedhowi. Waktu sudah ada Lika, Pak Pri dan Mas fahmi. Bang Zaky sebagai Direktur dan aku Redaktur Pelaksana.

Jilbab kain meteran bersejarah aku pakai di acara pameran Buku Pustaka Alvabet

Selama di Alvabet, semua naskah yang akan diterbitkan harus mendapat persetujuan Dewan Redaksi dan Pemegang Saham. Waktu itu ada 5 orang  Pak Bae, HBS, SRP, TAA dan IAF. Aku banyak mengenal mereka selama periode 2004-2007. Garis hidupku berjalan linear, skripsiku tentang Fazlur Rahman dan aku bekerja bersama para penerus pemikiran Neo Modernisne itu. Entah kebetulan atau tidak bagiku ini sangat berguna saat ini juga di masa yang akan datang.

Pada 2007 aku pindah kerja ke Kalibata. Saat itu kantorku menjadi mitra Kemendikbud. Aku sering rapat di Senayan dan liputan ke daerah juga acara-acara Kependidikan.Waktu itu aku suka mengenakan jilbab minimalis dengan ditarik ke belakang terasa simpel dan elegan. Dulu aku suka model ini karena praktis dan simpel sehingga terkesan stylish. Sampai sekarang kebanyakan orang Indonesia mengenakan model jilbab seperti ini.

Di Acara Rembug Nasional Pendidikan era Pak Nuh

Pada 2009 aku berhenti kerja dari Kalibata dan aktif kembali di SP sebagai Dewan Pengawas Komunitas. Inilah penyesalaanku terbesar aku sakit parah sepulang kongres SP di Jakarta,  hingga baru sembuh pada 2010 dan aku kembali bekerja di Kalibata. Aku juga merintis usaha online Gerai Amira, di sana aku jualan sandal, kaos nama, jilbab dan baju muslim.

Sama ketiga kakak pengrajin sandal

ini jilbabku saat jualan online.

Jilbab Langsungan

Booming Pashmina dan Shawl Pada 2010

Pada  periode 2010-2012 aku suka memakai jilbab pashmina yang simpel dengan aneka warna menarik. Biasanya aku beli di Thamrin city dengan harga murah 100 ribu dapat tiga kadang empat. Biasanya aku beli di lantai 5 Thamcit setiap senin dan kamis atau pasar Tasik istilah pengunjung.Kadang aku beli juga di Pamulang square atau Point Square, namun harganya selisih di atas dikit dari jilbab Thamcit.Sesekali beli online juga di Saqina.com.

Pashmina Ceruty Thamcit

Saat lebaran memakai jilbab Saqina

Pada tahun itu juga aku kembali bekerja kali  ini di Empang tiga Pejaten Timur. Namun tidak lama aku sakit typus dan akhirnya tergoda lagi merintis usaha. Aku buka toko jersey di Pamulang. Awalnya laris hingga akhirnya sepi dan bangkrut. Aku berhenti buka toko setelah Apa meninggal dan kembali bekerja di Kebayoran lama pada Maret 2015.

Saat Kerja di Kebayoran Lama

Aneka Shawl dan Pashmina suka aku kenakan, saat itu aku bekerja sebagai Ghost Writer. Aku suka juga jilbab berbahan kaos tipis agar mudah dibentuk dan jilbab tipis pashmina ringan bermotif.

Pada awal tahun 2014 mulai banyak jilbab berbahan jersey besar yang sepadan dengan gamis, ukurannya besar dan panjang menjuntai.Fenomena ini berkembang setelah banyak orang berumroh.Aku sempat beli untuk pengajian, dan sempat jualan dan dikirim ke Arab Saudi.

Pada Mei 2016 aku berhenti kerja, aku memilih menjadi ghost writer dan cari klien sendiri atau tim marketing. Selama 1, 5 tahun aku riset di daerah atau berlama -lama di perpustakaan, tapi lebih sering di rumah Pamulang dan lebih sering pulang ke Sukabumi. Aku juga sempat sakit cukup lama waktu hingga aku mengundurkan diri dari pengurus pengajian.

Pulang ke Sukabumi Stasiun Cibadak

Saat off ngantor aku sering memakai gamis katun dan jilbab jersey yang aku jahit di Bu Hardyanto tetangga  depan rumah Pamulang elok, aku suka jahitannya rapi rendanya juga menyesuaikan. Aku berburu gamis katun lucu, ada yang jahit ada juga diskonan dan kadang dikirim juga dari kakak ipar mas arif Mbak  Lilik dari Malang.

Jilbab karya Bu Hardyanto

Pada 2016 aku lupa bulan apa, aku memutuskan untuk berganti model dari pashmina, atau segiempat tarik belakang,  ke model jilbab segi empat yang menutup dada. Aku lupa awalnya kenapa, tiba-tiba pas acara formal aku memakai jilbab segi empat dan seterusnya. Kata Mas Arif jilbab yang kupakai sekarang lebih sopan dari sebelumnya pashmina yang kata dia bentuknya tidak beraturan, disilang sana sini (uwel-uwelan) dan memakai bross besar kadang menurut dia kurang berkenan.

Aku membuka koleksi lama, untung masih ada.Beberapa koleksi jilbab segi empat aneka warna berbahan chiffon (sifon), ceruti dan voile. Ada juga jilbab Turki oleh-oleh haji dari kakak ipar mbak Atik dan jilbab berbahan hycon dari mbak Lilik, masih kusimpan dengan baik.

Jilbab Turki Oleh-oleh Haji

Tidak lama kemudian pada Mei 2016 mulai beredar jilbab licin yang harganya lumayan.Waktu itu aku dikasih Arien saat main ke kantor Kalibata. Aku suka warna merah dan hitam, aku pakai di acara Ubud Writers dan Readers Festival Oktober 2016 di Ubud, Bali.

Jilbab merah penuh kisah

Di Ubud Gianyar Bali

Ada banyak bahan dasar jilbab dari mulai sifon (chiffon), hycon, voile, sutra, spandek, ceruty, higet, rayon, PE (poly ethilene), TC atau Tetoron cotton, kaos, rajut, jersey, katun, kashmir, dan polyster. Belakangan ada juga bahan mulberry silk, katun (cotton tyrex), voal, dan poycrepe.

Belakangan jilbab segi empat satin yang berbahan printing menjadi model kekinian dan dijual dengan harga menjulang.

Aneka Warna Jilbab (HL)

Aku juga bernah menjual jilbab segi empat yang ada bordir pinggiran dan jilbab langsungan bermonte dulu pesan di mbak Iim Azizah Kakak ipar Semarang, sampai sekarang jilbabnya suka aku kenakan. Pernah pula pesan jilbab Padang saat Dewi Nofrita pulang ke kampung halaman di Bukit Tinggi.

Jilbab coklat bordir dari Mbak IIm Semarang

Jilbab coklat bordir dari Mbak Iim Azizah Semarang

Gencarnya Promo Jilbab di Instagram (IG)

Sejak instagram booming pada 2014 hingga  tahun sekarang,  fashion muslim dan hijab berkibar di IG. Aneka hijab di jual dengan harga beragam dari 30 ribuan sampe 280 ribu beredar di di kalangan toko online di IG yang diendorse selebgram.

Ada satu akun yang sering aku jadi rujukan di IG namanya @heavin_lights. Jilbabnya keren dengan warna dan motif kekinian. Model andalannya adalah Mega Iskanti humas Wardah yang sangat elegan mengenakan aneka hijab, baik pashmina, segi empat maupun syar’i.

Koleksi Jilbab HL Motif

Akan tetapi aku kalau pesan tidak  pernah kebagian karena akun itu kebanyakan milik ratusan reseller padahal aku cuma beli satu saja. Dari akun ini aku menemukan banyak model dan warna jilbab kekinian terutama warna pastel yang sebelumnya tidak aku kenal seperti dusty pink, mocca cappucino, green avocado, peach, baby pink dll.

Aku punya satu jilbab dari HL berwarna abu, nama jilbabnya Selena Grey berbahan mulberry silk.
Satu warna coklat, hijau atau pink saja skg turunannya bisa memiliki 4 sampai lima warna gradasi dari yang paling tua sampai paling muda dan warna soft (lembut).Meski tidak pernah antrian, aku  dapat mengakalinya dengan menscreenshot dan mencari warna serupa di toko langganan.Beberapa aku dapat harganyapun murah dan tidak pakai ongkir.

Warna mocca capucino, atau Peach Makuta dan warna abu-abu serta warna lembut saat ini menjadi incaran setelah grey dan dusty pink, green mint dan pastel purple. Di IG HL warna ini laris manis dan jadi rebutan setiap upload.yang pesen sampai antri seharian.

Warna Pastel Purple

Toko online HL yang sangat

Selain itu aku mengkritisi para artis yang menjual jilbab printing dengan harga tinggi seperti merk Mandja dan Ashanty,menurutku itu tidak bagus untuk persaingan dunia hijab. Jangan jadikan bisnis ini terlalu berlebihan mengeruk keuntungan.

Aku follow akun @kain_printing yang menjual harga jilbab printing aneka bahan. Di situ dia jual dengan harga 90 rb sampai 110 ribuan silahkan buka jika penasaran. Di sini anda bia tahu modal jilbab printing artis kenamaan, dari biaya produksi 90 ribuan, para artis tenar  menjualnya hingga di atas 200 ribuan, karena ditambahi merk kenamaan…wah…

Akan tetapi fenomena jilbab printing ini tidak tahu sampai kapan,yang jelas aku lihat responnya rame di awal sepi belakangan padahal banyak outlet tersebar.

Sekarang orang berpikir dua kali  untuk beli jilbab mahal, karena sudah menjauh dari tujuan awal menutup aurat. Sebenarnya sah-sah saja itu dilakukan utk meramaikan dunia fashion hijab kekinian asal jangan terlalu berlebihan.

Saat kerja untuk acara 17 Agustus tahun ini di KC

Belum lama ini aku dapat jilbab oleh-oleh dari luar negeri saat Elin kuliah di Australia, berwarna biru dan abu, motifnya lucu ada yang motif aneka garis dan kubus ada yang sangat aku suka, yaitu motif speda, setahuku ini jarang yang punya. Kakakku di Bantul sekarang berjilbab lebar, dia lungsurkan juga banyak banget aneka warna jilbab segi empat yang biasa dia pakai sebagai PNS, yaitu jilbab sifon dan jilbab batik sutra, aku senang dan kegirangan bisa mix match buat aku kerja.

Saat acara pemuda milenial berdamai dengan sesama dan lingkungan, pake jilbab batik sutra dari teh geugeu

Mungkin itu saja pengamatan dan pengalamanku tentang dunia hijab. Foto yang aku tampilkan hanya menggambarkan variasi dan perkembangan  model berjilbab tidak bermaksud pamer,hanya menjelaskan perkembangan model, tapi terserah juga jika ada yg berpendapat demikian.

Jilbab Paling Sering kupakai warna baby pink

Sebenarnya masih banyak cerita tentang pernik pelengkap hijab seperti  ciput, atau inner serta bross yang menjadi pemanis hijab.Waktu masih pake pashmina aku suka mengkombinasikan dengan kalung etnik dulu suka koleksi dan titip Mas Arif saat dinas luar kota. Tapi sekarang sudah jarang aku kenakan.

Berkaitan dengan bross aku suka beli secara kebetulan di penjual keliling yang lewat, saat bazaar atau belakangan beli di kakak ipar Teh Neng A Iwan.Murah meriah harganya 15.000an. Dua minggu lalu aru saja menemukan bross cantik dari limbah plastik kresek kreasi ibu-ibu upcycle Depok. Wah ini keren sekali bagaimana pun sekarang era sustainability, mengolah sampah plastik menjadi bros cantik itu sangat keren.

Ini Bross Cantik dari Daur Ulang Kantong Kresek Plastik

Cerita selanjutnya tentang dunia hijab, jilbab, kerudung atau apalah yang aku pakai dan pernik lainnya. Saat menulis cerita ini di kereta jurusan Tanabang – Pasar Minggu baru, aku sedang memakai jilbab motif bunga kecil dengan bross dari limbah plastik kresek dan kaos orange untuk bekerja. Aku menyadari dalam hal berpakaian aku adalah orang tidak konsisten, kapan hari bisa berubah santun dan sopan, tapi juga adakalanya juga urakan ya seadanya aja, sebenarnya tidak terlalu mengikuti mode juga, aku lebih memilih kenyamanan dalam berbusana dan berjilbab.

Selain IG untuk mixmatch kadang aku suka memperhatikan gaya hijab para commuter sepanjang perjalanan Sudimara-Pasar Minggu Baru. Banyak inspirasi, apalagi jika duduk di gerbong perempuan itu seru dan menyenangkan.

Entah apa yang terjadi di masa depan dan entah model apa lagi hijab yang akan diminati dan kekinian.Terakhir aku lihat muncul jilbab brintik dan  jilbab printing motif bendera di status wa sebuah toko hijab langganan, setelah itu entah apa lagi.

Jilbab Kondangan Kekinian

Kita tunggu saja…Sebentar lagi sudah mau sampai kantor tempat aku bekerja, cukup mungkin ceritaku ini, mohon maaf jika tidak berkenan.Semoga bisa di sambung lagi  kapan-kapan.

Stasiun Tebet 12 Oktober 2017 pukul 08.48

Advertisements

MENGARUNGI PERJALANAN SPIRITUAL-INTELEKTUAL

Judul: Bahkan Malaikat Pun Bertanya
Penulis: Dr Jeffrey Lang
Pengantar: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan Pertama: Oktoebr 2000
Tebal: (xix + 302) halaman

Buku Jefrey Lang

Buku Jefrey Lang

Buku Bahkan Malaikat pun Bertanya ini berangkat dari keprihatinan penulisnya setelah melihat banyak orang Islam di negerinya menghindari atau bahkan mengingkari agama itu, lantaran tak mampu mendamaikan agama yang mereka warisi dengan pandangan Barat sekuler yang mereka peroleh.
Fenomena yang sesungguhnya melanda nyaris semua negeri muslim ini telah membelah umat Islam ke dalam dua kubu yang berlawanan: mereka membekukan dirinya dalam tradisi lama dan mereka yang mengekor pada peradaban Barat.

Yang pertama memandang pemikiran Islam terdahulu sebagai rujukan ideal, dan yang kedua melihat Barat sebagai puncak peradaban. Yang pertama kaum fundamentalis, sedangkan yang kedua kaum liberal.

Kedua kelompok itu sama “menyesatkan”. Agar tidak terperangkap dalam bahaya itu, lewat buku yang dalam peringkat Amazon.com mendapat bintang lima ini penulis menganjurkan umat Islam senantiasa mengembangkan sikap kritis. Baik dalam memandang realitas faktual yang muncul, maupun dalam memahami pesan-pesan Islam itu sendiri.

Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu stereotip yang populer di Barat. Disebut stereotip karena, kesan-kesan itu terus bertahan walaupun “survei membuktikan” bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab.

Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apapun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila masuk Islam atau naik haji?

Hal seperti itulah yang mengusik Jeffrey Lang, ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan tidak mengganti namanya, seperti Cassius Clay yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk ditukar dengan jubah dan sorban seperti Cat Steven, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga tak pernah mengubah Thank God sebagai pengganti Alhamdulillah.

Menurut mualaf Amerika penulis buku terkenal Struggling to Surrender (telah di Indonesiakan menjadi Pergumulan Menuju Kepasrahan, Serambi, Juni 2002) ini, cara yang paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukan mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik.
Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan, katanya. Bahkan malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan pun bertanya! Mereka “berani” mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka Bumi: Apakah Engkau akan jadikan disana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

BUKU ini membawa pembaca mengarungi perjalanan spiritual intelektual dengan mendiskusikan konflik-konflik yang terjadi antara agama dan akal, rintangan-rintangan yang dipasang oleh kaum Muslim sendiri yang menghalangi orang untuk memeluk Islam, ekstremisme dalam komunitas Islam, dan lain-lain.

Bahkan Malaikat Pun Bertanya, memiliki arti umum yang sangat penting, ditulis dengan sangat bagus (orang mungkin tidak mengira bila penulisnnya seorang guru besar matematika), dan merupakan hasil dari kajian yang baik.

Memang buku ini adalah gambaran hidup tentang bagaimana Jeffrey Lang begitu tertarik kepada Islam tanpa terbendung lagi. Namun, buku ini juga menawarkan suatu program yang solid dengan menawarkan alasan yang baik bagi semua orang Amerika lainnya memerlukan kajian rasional yang luas dan mendalam sebelum berserah diri pada Allah.

Perjalanan spiritual Dr Lang menjadi terkesan unik dan menarik ketika ia ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi, ia berhasil menemukan pencerahan baru: no escape from being an american. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya.

Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya. Islam tidak pernah datang dari suatu vakum kultural. Karena itu, maka ditemukanlah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Dan mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?

Akan tetapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah jatuh pada hambatan besar: mengekor Barat? Memang disamping kaum fundamentalis yang mengekor kebudayaan Arab, kita juga menemukan kaum liberal yang mengekor Barat sebagai puncak peradaban.

Terlepas dari jebak-jebakan itu, Dr Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis pada bab 2 buku ini: “Cara paling efektif untuk menghadapi bahaya itu bukanlah mencegah timbulnya pertanyaan atau kritik, melainkan justru harus sebaliknya. Komunitas Muslim harus terus mendorong kedua hal itu. Kita cenderung berbuat salah manakala kita tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri”.
***
MEMBACA buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalanan spiritual, bukan saja seorang Muslim Amerika, tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dan Islam aktual.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang persiektif orang non-Muslim tentang Ramadhan. Mereka menilai bahwa puasa merupakan ibadah ritual yang paling keras dalam Islam (hlm 216).
Namun perlu diperhatikan, bahwa ada beberapa kekhawatiran dari buku ini, yakni dapat menjerumuskan pembaca non-Muslim pada kesan keliru dan sepihak tentang kaum Muslim. Boleh jadi pemburukan media Barat atas citra kaum Muslim dan agama mereka.

Jeffrey Lang menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli (berdasarkan akal) dan nakli (berdasarkan Al-Qur’an).

Uraian Dr Lang dalam buku ini juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. Bisa dibaca oleh siapa saja dan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan serius maupun ringan.

(Eva Rohilah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di harian Kompas edisi………..waktu itu ditelepon sama Pak Dewa Brata Redaktur Pustakaloka yang terbit setiap Senin, honornya saya masih ingat 350.000 sangat besar ukuran saat itu, dari sini pula saya diberi beberapa buku baru dari Penerbit Serambi yang Chief Editornya Pak Qamaruddin SF, setelah saya kerja di Alvabet kita sering bertemu sebagai sesama penerbit dan bersahabat baik dengan beliau.

JUNJUNGLAH TINGGI SISTEM NILAI YANG EGALITER

Judul: Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan
Penulis: Dr Irwan Abdullah
Editor: Ana Samsuri
Penerbit: Tarawang Press Yogyakarta
Cetakan 1 Maret 2001
Tebal: (xvi + 222) halaman

Buku Irwan Abdullah

Buku Irwan Abdullah

Diawali dengan ide dan gagasan RA Kartini leawt buku Habis Gelap terbitlah Terang perjuangan perempuan untuk kesetaraan hak sampai kini terus bergulir. Bahkan, belakangan ini wacana itu menjadi semakin marak, lantaran dalam rentang waktu yang demikian panjang dan lama, perempuan menuju persamaan hak belum juga mencapai klimaks.

Dalam struktur yang hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukan pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup.

Akan tetapi, mengapa dalam praktik sosial, perempuan mau mengalah atau dikalahkan? Kesalahan utama yang dilakukan para politisi, peneliti, dan kaum feminis, adalah mereproduksi struktur patriarirkal dengan menekankan wacana ketimpangan jender, perempuan sebagai makhluk yang lemah, tergantung, halus, dan sebagainya.
Dengan cara itu sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa untuk kesejahteraan peremepuan. Sebaliknya, perempuan malah tersubordinasi secara terus menerus oleh wacana yang dibangun orang-orang yang sangat ingin membantu perempuan sekalipun
***
Buku Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan ini terdiri dari empat bagian, atau sebelas bab. Ditulis dengan saksama oleh dosen Fakultas Sastra UGM yang sangat tertarik pada masalah perempuan sejak mahasiswa. Penulis itu Dr. Irwan Abdullah, seorang feminis kelahiran Aceh Utara 37 tahun yang lalu.

Melalui bukunya tersebut ia berusaha membawa pembaca mengikuti dua arus besar yang melanda dunia ketiga. Dalam ranah sosial, pembicaraan mengenai perempuan telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan pada saat konsep “jender” digunakan sebagai perspektif. Jender lebih menunjuk kepada relasi dimana kaum lelaki dan perempuan berinteraksi.

Hal tersebut menjadi rumit tatkala perempuan memainkan berbagai peranan sekaligus. Perempuan ideal kemudian menjadi superwoman yang memiliki kapasitas domestik dan diharapkan memiliki kapasitas dalam bidang publik secara sempurna. Posisi laki-laki disini tampak cenderung tidak digugat.
Secara implisit dinyatakan bahwa peran publik merupakan tanda kemerdekaan perempuan, dan peran domestik digugat karena dianggap telah memenjarakan perempuan. Cara-cara seperti ini sesungguhnya ikut mereproduksi realitas tentang stratifikasi sosial.

Dalam proses migrasi dari domestik ke publik, perempuan harus mengeluarkan biaya ideologi yang begitu besar. Perempuan tidak hanya harus memiliki kualitas yang sama dengan laki-laki untuk memenuhi kriteria sebuah pekerjaan, tetapi juga harus cantik dan menawan. Bukankah ini sekaligus pelecehan terhadap perempuan.

Pada bagian lain, arus balik yang terjadi berasal dari realitas ekonomi. Hal ini berawal dari penandaan tubuh perempuan yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif ke arah fungsi ekonomi demi ekspansi kapital. Tubuh dan hasrat digunakan sebagai titik sentral produk yang disebut sebagai ekonomi libido.

Pembahasan soal itu menjadi menarik ketika menyangkut masalah tubuh perempuan dalam iklan dan rimba laki-laki. Stigma ini cukup diimbangi dengan peranan perempuan dalam berbagai sektor ekonomi.

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Resensi Edisi Cetak di Harian Kompas

Imbangan itu antar lain tampak dari hasil penelitian tentang bagaimana peranan perempuan dalam pasar, pedesaan, dan kerajinan rumah tangga yang lebih menenkankan pada aspek mobilitas dan mengankat marginalitas profesi seperti bakul (penjaja), tukang jamu. Bhakan juga peranannya dalam home industry.
***

Pesan utama dari penulis adalah bahwa usaha perbaikan kehidupan perempuan bukan usaha memerangi laki-laki tetapi mengubah sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obejek. Perubahan ini akan terjadi apabila bertumpu pada struktur yang menjunjung tinggi sistem nilai dan ideologi yang egaliter.

Kekuatan utama buku ini pada epilog yang merupakan rajutan dari berbagai bab. Masing-masing bagian digarap secara serius karena beberapa bahan dalam buku ini hasil penelitian lapangan serta riset perpustakaan yang dilengkapi dengan data kuantitatif yang cukup akurat.
Disamping itu ada terobosan yang cukup berani untuk melakukan penyegaran, penyusuran, dan penggerusan yang cukup mendalam atas kompilasi wacana yang telah ada, kritikan terhadap kaum feminis, sampai sindiran yang tajam terhadap kaum oportunis.

Sayangnya ada satu kelemahan yang cukup fatal, yaitu tidak seimbang (equal) antara judul buku dengan substansi, yakni dimensi seksisme kurang begitu disentuh secara mendalam. Ulasannya teramat singkat hanya sebatas retorika dan obyektivitas reproduksi dalam kaitannya dengan kekuasaan lelaki.
Hal itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran editor yang kurang memperhatikan grand opinion dan tidak fasih dalam menerapkan gaya penulisan ilmiah sehingga buku ini terkesan kaku meskipun alur penulisannya dari awal hingga akhir menarik.

Akan tetapi, setidaknya, sampul bergambar RA Kartini yang melankonis akan sedikit mengeliminir kelemahan buku ini. Yang jelas, dengan kelebihan dan kekurangannya itu, buku ini telah menambah panjang koleksi buku feminis. Siapapun yang peduli akan nasib, pendidikan, dan masa depan perempuan akan memperoleh manfaat dari buku ini.
(Eva Rohilah mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurnalis LPM Sinergi Yogyakarta)
Dimuat di Harian Kompas edisi

JANGAN LUPAKAN TRADISI

Judul: Agama, Negara, dan Penerapan Syaria’ah
Judul Asli: Ad-Din Wa Ad Daulah wa Tathbiq As-Syari’ah Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyah (Beirut 1996)
Penulis: Muhammad Abed Al Jabiri
Penerjemah: Ulin Nuha
Penerbit: Fajar Pustaka Bru, Yogyakarta
Cetakan I, September 2001
Tebal: (xxxvi + 201) halaman

Buku Abed Al-Jabiri

Buku Abed Al-Jabiri

MUHAMMAD Abed Al-Jabiri seorang pemikir terkemuka Arab saat ini yang mengangkat berbagai gagasan segar dalam rangka kebangkitan Islam, khususnya di lingkungan negara Arab. Ia punya analisa yang cukup signifikan terhadap masalah yang menyita kaum muslim tentang hubungan negara dan agama.

Masalah itu menjadi mendesak karena kemunculan negara-negara bangsa (nation state) dan berhembusnya semangat sekularisme yang dibawa Barat Modern. Dia mengemukakan, “pertanyaan apakah Islam itu agama atau negara” merupakan pertanyaan palsu karena diajukan oleh kebudayaan Barat dengan segala pengakuan historis yang dilaluinya, bukan cermin realitas kaum Muslim sendiri.

Menurut Al-Jabiri, kalau mau jujur menelaah Al Qur’an dan sejarah Islam, kita akan menemukan fakta bahwa Islam tidak pernah menentukan jenis dan bentuk negara. Rujukan historis maupun praktis tentang kenegaraan Islam hanya ada pada praktik sahabat Nabi SAW, yang menurut dia, itu hanya suatu ijtihad.
Oleh karena itu, sesuai perkembangan zaman, Al-Jabiri dengan tegas mengatakan bahwa demokrasi merupakan sesuatu yang niscaya bagi kaum Muslim untuk masa kini dan masa depan. Meskipun dia tidak naif dengan mengatakan bahwa para sahabat Nabi SAW telah mempraktikkan demokrasi melalui ajaran syura yang dianggap mempunyai urgensi yang sama dengan demokrasi.

Jika negara itu demokratis, bagaimana dengan penerapan syariah, bagaimana meletakkan syari’ah dalam sebuah negara demokrasi? Al-Jabiri kembali membongkar tradisi dan sejarah secara rasional. Baginya, praktik kenegaraan dan penerapan hukum syariah harus dikaji dan ditelaah secara mendalam. Di sini hukum Islam dianggap sebagai hukum yang hidup (the living law) dan menjiwai setiap aturan tanpa memaksakan simbol sebagai suatu ciri yang otentik.

Buku yang merupakan terjemahan dari kumpulan artikel dari Bahasa Arab ini ditulis oleh Abed Al-Jabiri yang dewasa ini pemikiran dan gagasan-gagasannya dibicarakan oleh kalangan intelektual Muslim berkenaan dengan semakin menguatnya wacana post tradisionalisme Islam dan kajian tentang Islam Liberal.
***

TIDAK ada salahnya jika sebelum membaca buku ini akan diperkenalkan terlebih dahulu tentang sosok Al-Jabiri.
Intelektual Muslim kelahiran Maroko tahun 1936 ini menempati posisi garda depan pemikiran Islam Arab kontemporer, sederajat dengan Muhammad Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Hamd Abu Zayd, Basam Tibi, Muhammad Imarah, Fatima Mernisi, Adonis. Al-Jabiri sering menulis berseri di beberapa harian ternama Timur Tengah, seperti Al-Syarqah Ausath.

Dalam suatu kesempatan pada waktu seminar di Berlin, Jerman, yang diselenggarakan oleh Federich Ebert Stiftung pada tahun 1996, Al-Jabiri bertemu dalam satu forum dengan Abdurrahman Wahid dan Fatima Mernissi yang sama-sama berbicara tentang Civil Society In the Moslem World.

Edisi Cetak Harian Kompas

Edisi Cetak Harian Kompas

Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Naqd al-Aql al’Arabi (Kritik Nalar Arab) yang mejadi perdebatan di kalangan intelektual Muslim karena berbeda dengan “Kritik Nalar Islam” Arkoun. Dalam bahasannya itu, jelas sekali pemikirannya tentang perubahan makna akal tersebut banyak dipengaruhi oleh tokoh filsafat Perancis seperti Jacques Lacan, Althussder, Jacques Derrida, Roland Barthes, dan Michael Foucoult.
Hingga kini tulisan-tulis Al-Jabiri bentuk buku telah mencapai angka belasan. Salah satu kumpulan tulisannya di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Baso bejudul Post Tradisionalis Islam (LKiS Yogyakarta, 2000) banyak mengulas tentang pejanlanan intelektual Al-Jabiri dan relevansi tradisi dalam pemikiran Islam kontemporer.
***

DALAM penuturannya yang cukup lugas lewat buku ini terasa kepeduliannya terhadap tradisi (al turats) cukup kental dan mewarnai uraiannya. Salah satu persoalan krusial saat ini bagi kebangkitan Islam adalah bagaimana menyikapi tradisi dalam kehidupan bernegara dan beragama yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Menurut Al-Jabiri ada dua hal penting yang menyertai kekinian, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita, dan kedua adalah tradisi yang mencakup kemanusiaan yang lebih luas seperti pemikiran filsafat dan sains.

Sikap kaum Muslim terhadap tradisi mempunyai corak yang berbeda, ada yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam karena apa yang ada dalam tradisi tersebut dinilai sudah memadai. Seperti ulama konservatif dan mereka yang justru tidak memiliki pengetahuan yang memadai karena dididik oleh tradisi lain yang sudah memadai.
Kedua, mereka yang menganggap bahwa tradisi sama sekali tidak memadai dalam kehidupan modern saat ini, karena itu harus dibuang jauh-jauh. Kelompok ini adalah mereka yang berpikiran sekuler dan liberal ala Barat sehingga menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola Barat.

Kedua sikap tersebut menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang (ekstrem). Oleh karena itu Al-Jabiri mencoba mencari jalan keluar dari dua sikap ekstrem itu dengan tawaran agar kita berusaha bersikap dan berpijak pada tradisi. Namun, tentu bukan dalam kerangka tradisi kita melebur didalamnya dengan segenap gerak dan gelombangnya, tetapi lebih diperlakukan sebagai produk kebudayaan manusia, sebagai produk ilmiah yang senantiasa berkembang.

Dari sini kita belajar berpijak pada tradisi kita sendiri secara sadar, kritis, dan rasional. Di Indonesia pemahaman tentang konsep ini sekarang sedang aktual diwacanakan sebagai “post tradisionalisme”.
***

BUKU yang terdiri dari dua bagian ini berusaha memposisikan hubungan agama dan negara dalam rujukan tradisi dan kebangkitan (renaissance). Penerapan syari’ah diulas secara mendetail, mulai salafisme sampai dengan ekstremisme, antara akidah dan syari’ah, juga diusahakan merasionalkan hukum-hukum syari’ah (hlm 168).
Beberapa kritik terhadap Mazhab Syafi’i, dan ajakan untuk menolak hukum (hudud) berdasarkan argumen ketidakjelasan, akan menjadi wacana yang menarik ketika hukum diletakkan dalam posisi agama dan negara, dengan memperhatikan tradisi dan budaya lokal.

Metode telaah kontemporer yang diajukan Al-Jabiri, merupakan sebuah terobosan yang cukup penting dan aktual dengan kondisi tanah air kita. Selama ini banyak orang yang menelaah tradisi untuk mencari sandaran otoritas belaka tanpa menyadari dimensi historis dan ideologis yang melahirkan tradisi itu. Dalam hal ini sikap terbuka Al-Jabiri terhadap demokrasi dan HAM dengan tanpa sedikit pun merasa terancam dengan kehilangan identitas keislamannya, juga merupakan satu hal yang patut diperhatikan.

Dalam hal tersebut strategi Al-Jabiri untuk mendudukkan pemikiran Barat dan Islam pada mekanisme dan historitasnya masing-masing, adalah sesuatu yang diambil dari semangat Ibn Rusyd dalam menjelaskan hubungan agama dan filsafat. Itu boleh dibilang sebagai merupakan strategi yang cukup menjanjikan.
Terlepas dari sampulnya yang kurang begitu menarik, isi buku ini akan sangat bermanfaat bagi khazanah intelektual Muslim, sebagai wacana alternatif dalam membincangkan kembali agama, negara, dan penerapan hukum (syari’ah) secara proporsional, tanpa melepaskan tradisi, pluralisme, dalam dinamika pergolakan pemikiran Islam kontemporer.
• EVA ROHILAH
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Dimuat di Harian Nasional Kompas edisi 22 Maret 2002

Resensi Buku
Judul : Setegar Ebony
(Catatan Hati Seorang Istri yang dikhianati Suami)
Penulis : Asih Karina
Editor : Iqbal Dawami
Proofrader : Arif Syarwani
Penerbit : Penerbit Alvabet
Edisi : I, November 2015
Harga : 59.800

Sudah hampir seminggu aku dikirimi buku penerbit buku Alvabet untuk meresensi dua buah buku, tapi belum juga aku sentuh karena rutinitas kantor yang banyak deadline menjelang akhir tahun membuatku tak sempat membaca buku. Akhir pekan ini aku pun dengan sepenuh hati membacanya dan aku kaget luar biasa. Buku yang dikirim alvabet bagus banget, kisah nyata dari seorang penulis di Malang, Asih Karina tentang cerita pribadinya yang mengalami kegagalan rumah tangga dan pengalaman pilunya ketika dikhianati suami. Buku ini kulahap dalam tiga jam dan akupun nangis bombay terharu….

Sampul Buku Setegar Ebony

Sampul Buku Setegar Ebony

Begitu banyak pernikahan hancur, sebelum semua yang diimpikan terwujud. Banyak pengkhianatan justru datang dari orang tercinta. Tak heran imajinasi pernikahan sebagai gerbang kehidupan penuh kebahagiaan dan keindahan dalam gelora cinta dan kasih sayang, dalam sekejap sirna begitu saja. Tetapi apakah kebahagiaan lenyap bersamaan dengan bubarnya pernikahan?

Cerita berawal dari kisah asmara yang meluap-luap menjelang pernikahan dengan setting cerita di daerah Malang Jawa Timur. Asih karina atau biasa dipanggil Karin, menabung lama untuk mempersiapkan pesta pernikahan yang bersahaja, baju pengantin, hantaran dan souvenir serta undangan pun telah disiapkan menjelang hari yang paling ditunggu semua wanita. Usai menikah bulan madu ke Bali pun dijalani Karin dan suaminya Ardhan.

Usai bulan madu, Karin pun tinggal di rumah mertua. Masa-masa yang berat karena harus ia jalani meninggalkan ibunya seorang single parent. Setiap hari dia mengantar kerja suami dan suaminya pun rajin sms, layaknya pengantin baru. Penuh kemesraan, perhatian dan pelukan kasih sayang. Hingga bebeberapa waktu kemudian Karin melakukan test pack dan dia pun dinyatakan positif hamil. Kegembiraan ini disambut bahagia oleh pasangan suami istri. Karin pun jaga kesehatan dan suaminya tambah rajin bekerja.

Namun, apa yang dinyana. Di saat kandungan menginjak enam bulan dan semakin besar. Sang suami Ardhan jarang pulang dan seringkali Karin menunggu sms yang tanpa balas. Berulangkali di Phpin dan tak ada kepastian hingga akhirnya sang suami pulang dan berkata terus terang, jika dirinya jauh hari sebelum menikah dengan Karin sudah punya istri dan anak. Bagai petir di siang bolong, Karin mendengar semua ini dan dia tidak terima. Ia masih berharap jika suaminya akan kembali padanya dan meninggalkan perempuan yang sudah dinikahinya. Ardhan minya cerai dan berjanji tidak akan memilih Karin maupun Kadek, istri pertamanya. Meskipun Ardhan berjanji akan membiayai persalinan Karin, namun Karin sudah terlanjur kecewa dan hampir putus asa. Untung saja ibunya banyak memberinya nasehat dan menguatkannya agar ia bisa tabah menghadapi cobaan.

Setegar Ebony adalah sekeping mozaik kehidupan. Lebih dari sebuah karya sastra, curahan hati, atau sebuah proyeksi kemarahan hati yang luka. Kisah ini adalah sebuah perenungan. Tergolong ke dalam jajaran karangan semi autobiografis lainnya. Ia tidak berangkat dari kegamangan wanita yang terombang-ambing pilihan kehidupan seperti Novel The Bell jar, karya Sylvia Plath ataupun The Awakening karya Kate Chopin. Cerita ini menggaris bawahi lara sebagai sebuah titik awal perjalanan panjang tokoh utama. Pembaca akan diajak berselancar memahami relung hati seorang wanita sederhana dengan mimpi sederhana.

Sebagaimana laiknya karangan semi autobiografis, sudut pandang “aku” menjadi sebuah titik yang menjadikan cerita bergulir dengan indah. Penulis mampu dengan jujur dan gamblang menuturkan desah resah, risau galau, hingga cenung renung yang semuanya merupakan sebuah proses panjang bangkit dari kejatuhan. Setiap untaian kisah adalah ratusan mozaik kecil yang menyatu dalam jalinan kisah yang utuh dalam alur maju mundur yang unik.
Selain itu, cerita ini dewasa dan mampu mendewasakan pembaca. Tokoh utama, Karin dalam buku ini mengajak kita untuk menjerit bersama dalam perih tak terperi yang membuat siapapun tak hendak melanjutkan hidup. Namun dalam kehendak ilahi, ia memilih kembali mengadukan semua yang terjadi. Karena itu penulis mampu mencapai suatu nilai religius tertinggi yaitu keikhlasan.

Setegar Ebony ditulis dengan gaya bertutur penulis yang cenderung puitis, ilustratif dan cerdas juga diwarnai oleh sentuhan humor pribadi penulis. Sebuah gaya bahasa yang membuat kita ingin membaca cerita ini hingga akhir.

Meskipun penulis menawarkan tragedi sebagai sebuah refleksi katarsis, humor yang terselip disana-sini sebagai sentuhan karakter penulis menjadikan cerita ini sebuah perenungan unik akan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan luka melalui tawa. Cerita ini benar-benar terlahir dari hati penuh cinta dan dipersembahkan dengan penuh cinta.

Saya tidak akan menceritakan bagaimana ending cerita, saat Karin melahirkan tanpa didampingi suami dan kesedihan yang tiada akhir. Saya persilakan pembaca membaca buku ini untuk mengetahui apakah happy ending atau tidak. Karena banyak hikmah yang dapat saya petik dari buku atau novel ini untuk membangun kehidupan rumah tangga dengan atau tanpa suami. Selamat membaca

Eva Rohilah
Pengamat Buku tinggal di Depok Jawa Barat

http://www.evarohilah.wordpress.com

Resensi Buku

Judul : Rumah Seribu Malaikat
(Memoar Inspiratif tentang Satu keluarga Bersahaja yang membesarkan Puluhan Anak Angkat)
Penulis : Yuli Badawi dan Hermawan Aksan
Penerbit : Hikmah, Mizan Publika
Cetakan : I, Oktober 2010
Harga : 68.000

Sampul Buku RSM

Mencintai dan Menguji Ketulusan Hati Memelihara Anak

Aku dapat rekomendasi buku ini dari Nida, temanku SMA. Setelah itu aku cari ke toko buku di gramedia tenyata buku ini sudah habis. Lalu aku telfon toni, temanku yang sekarang kerja di Penerbit Mizan dan ternyata bukunya lagi cetak ulang, aku harus menunggu baru seminggu kemudian buku ini sampe di tanganku lewat pos.

Buku yang bersampul hijau kekuningan ini adalah kisah Yuli Badawi seorang perempuan bersahaja yang sudah memiliki empat orang anak, namun seringkali diberi amanat untuk memelihara anak angkat yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki anak namun mereka tidak sanggup memeliharanya. Ada berbagai sebab kenapa anak tersebut tidak diinginkan orangtuanya, diantaranya adalah kedua orangtua anak tersebut tidak mampu secara ekonomi, ada juga yang termasuk anak haram yang tidak dikehendaki keluarganya, ada anak korban perkosaan, anak jalanan, dan anak yang dititipkan begitu saja di dukun bayi sehingga kondisi kesehatannya tidak terjaga.

Cerita ini dimulai dari kisah salah satu anak angkat Yuli Badawi yang bernama Azzam. Azzam anak laki-laki yang imut ini diangkat Yuli sebagai anak dari seorang dukun bayi yang ia kenal dengan baik. Sebelum menerima Azzam, Yuli pernah menolak lima kali anak yang ditawarkan untuk dipelihara olehnya. Saat menerima Azzam, suami Yuli Badawi sedang berada di tanah suci menunaikan ibadah haji. Lewat saluran telefon Yuli menghubungi suaminya dan mengizinkan. Keempat anak Yuli juga setuju untuk memelihara Azzam.

Yuli bukanlah orang berada, dia seorang PNS di sebuah SMA dan suaminya seorang pegawai swasta. Namun, tidak hanya berhenti sampai Azzam, hati Yuli semakin tersentuh ketika melihat anak-anak yang terlantar yang tidak dikehendaki oleh orangtuanya, hingga akhirnya memelihara Dimas, baqir, Saina, Putri, Daffa, Fakhrurozi, Ghozi, Naurah, Andika, Santi, Aisyah, Risma, dan masih banyak anak lagi sehingga berjumlah 16 anak.
Dalam buku setebal 421 halaman ini, Yuli bertutur tentang sejarah masing-masing anak yang diangkatnya. Dari sekian anak yang diangkatnya, tidak semua berjalan mulus, ada anak yang diambil kembali oleh orangtuanya, ada juga anak yang dipelihara oleh saudara Yuli sendiri karena ingin memeliharanya.

Tentu saja, kerepotan mengurus rumah tangga 16 anak menjadi seni tersendiri bagi Yuli, ia ceritakan dengan mendetail termasuk bagaimana para khadimah yaitu orang terpercaya yang membantu mengelola rumah tangga. Merekalah pasukan garda depan yang paling bersiaga kalau anak-anak membutuhkan sesuatu, terutama kalau Yuli dan Badawi sedang tidak di rumah. Cerita tentang Khadimah ini ia tulis dalam bab tersendiri, dimana ia menceritakan bahwa mereka ada yang betah ada juga yang tidak mengasuh anak-anak.

Selain itu, ada juga kisah bagaimana mereka pindah rumah dari satu rumah ke rumah lain dari yang kecil hingga besar, serta pertolongan orang-orang dermawan yang dengan senang hati membantu Yuli dan Badawi. Dari mulai sahabat dekatnya, tukang sayur, hingga orang membantu membangun rumahnya. Banyak hikmah yang dapat diambil Yuli ketika ia menceritakan suka dukanya memelihara enam belas anak.

Perkembangan psikologi anak yang ia rawat, juga tergambar jelas dan ia deskripsikan secara gamblang, sehingga bagi orang yang belum mempunyai anak buku ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi agar kita lebih mencintas dan harus ikhlas sepenuh hati. Sebagai orang tua Yuli juga tidak membedakan mana anak angkat dan mana anak kandungnya, sehingga ia dengan hati lapang menerima keberadaan anak yang ia pelihara dengan setulus hati.

Buku ini wajib dibaca oleh para orang tua maupun calon ibu yang ingin mengetahui bagaiamana merawat anak dengan baik dan mencintai anak sebagaimana adanya. Sangat Inspiratif.

Silaturahmi dengan Rektor UMJ Masyitoh Chusnan

Posted: February 22, 2012 by Eva in Perempuan

Pada hari Rabu, 15 Februari 2012, saya ada kesempatan untuk bersilaturahmi dengan rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. Dr.Hj. Masyitoh Chusnan. Sebelum datang ke kantornya saya agak sedikit lapar dan mampir ke kantin UMJ di dekat ruang rekrotat memesan mie yamin dan es teh manis. Gak nyangka, saya baru sekali ini makan mie yamin dan ternyata enak banget jadi pengen lagi :). Mie seharga enam ribu ini kecap dan mericanya sangat terasa, sehingga aku langsung melahapnya.

Mie Yamin

Mie Yamin

Karena waktu masih setengah dua, saya ada waktu untuk jalan-jalan ke pasca sarjana yang tidak jauh berada dari sebelah kiri kantin dengan jalan yang agak sedikit naik. Saya masuk ke ruang informasi dan melihat-lihat serta menanyakan program s-2 untuk pendidikan islam dan komunikasi, harganya cukup murah dan terjangkau, sayangnya saya disarankan oleh dokter saya untuk tidak melanjutkan kuliah saya, jadi saya pun mengurungkan niat saya untuk bertanya lebih mendalam.

Setelah pukul dua kurang sedikit saya baru melangkahkan kaki ke ruang rektorat, rupanya Bu Masyitoh baru selesai rapat dan saya harus menunggu terlebih dahulu. Sama sekretarisnya saya dipersilahkan untuk makan siang, tapi saya menolaknya karena baru saya makan mie yamin. Setelah menunggu selama kurang lebih 10 menit saya dipanggil ke ruang rektorat dan saya pun mengobrol dengannya.

Banyak hal yang di ceritakan berkaitan dengan sepak terjang Aisyiah dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Namun justru menurut saya, yang paling menarik adalah di akhir cerita saat Bu Masyitoh menceritakan pengalaman pribadinya dan rahasia sukses sebagai perempuan yang menjadi pucuk pimpinan sebuah universitas selama dua periode dan mendidik anak-anaknya hingga sukses. Ia banyak menceritakan dukungan suaminya yang telah melatih dia untuk senantiasa mandiri dan membantu tugas-tugasnya sebagai rektor sekaligus pengurus PP Aisyiah. Dari mulai ia mendampingi suaminya yang pernah menjadi dirjen di depsos hingga usahanya untuk bisa menyetir sendiri mobilnya agar ia bisa aktif ke mana-mana. Kuncinya kata Bu Masyitoh dalam membina karir dan rumah tangga adalah saling mendukung dan saling pengertian. Bersilaturahmi dan berdiskusi dengannya sangat menarik, banyak wawasan yang saya dapatkan dan semangat ibu tiga anak ini. Alhamdulilah saya diberi kesempatan dan mudah-mudahan suatu waktu bisa bertemu lagi.

Pemeriksaan Kesehatan Pra Nikah

Posted: July 28, 2009 by Eva in Perempuan

Dimuat di majalah Anggun No.7/II/Agustus 2009

Pernikahan merupakan suatu peristiwa kehidupan yang membahagiakan. Begitu indah dan istimewanya pernikahan bagi calon mempelai, sehingga peristiwa tersebut akan dipersiapkan secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu, sangat dianjurkan kepada calon mempelai untuk memasukkan kegiatan pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan (Medical Check Up Pra Nikah) ke dalam rangkaian persiapan pernikahan. Di kalangan masyarakat Indonesia, pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan belum biasa dilakukan. Menelusuri riwayat kesehatan keluarga, terutama keluarga calon pasangan masih dianggap hal yang tabu. Selain itu, adanya rasa takut dari calon mempelai akan adanya pembatalan pernikahan seandainya dari pemeriksaan ditemukan penyakit atau kelainan tertentu.

Dahulu pemeriksaan check up kesehatan pra nikah dapat menyinggung perasaan besan atau calon mertua, dianggap sebuah pemborosan karena memerlukan biaya lumayan besar, juga dikhawatirkan akan mengganggu kelancaran acara pernikahan apabila hasil check kesehatan menunjukkan adanya kelainan yang cukup serius pada kesehatannya.

Namun demikian, saat ini di masyarakat kita mulai terdapat kecenderungan bahwa persiapan kesehatan sebelum menikah dimasukkan dalam agenda rangkaian acara pernikahan, sehingga check up pra nikah  menjadi sebuah kebutuhan baru. Menjatuhkan pilihan hidup “jangan seperti membeli kucing dalam karung”,  artinya jangan sampai memilih pasangan hidup namun tidak mengetahui kondisi kesehatan pasangannya. Padahal apabila diketahui sebelumnya masih ada waktu untuk melakukan proses penyembuhan sebelum prosesi pernikahan itu digelar.

(more…)

 

Sampul Buku  Kaum Perempuan dan Ketidak adilan Sosial

Judul: Kaum perempuan dan Ketidakadilan Sosial
Judul asli: Woman and Social Injustice
Penulis: Mahatma Gandhi
Alih Bahasa: Siti farida
Penyunting: Kamdani
Penerbit: Pustaka Pelajar Yogyakarta, Cetakan I, Juni 2002
Tebal: xxi+ 443 halaman + indeks

DI dalam sejarah, tidak ada seorang pemimpin yang memiliki pengikut sedemikian besar dalam masa hidupnya, baik di negerinya sendiri maupun di seluruh dunia, seperti Mahatma Gandhi. Dan, tak ada seorang pria yang bisa membangkitkan pengabdian dengan segenap ketulusan hati bagi kaum perempuan, selain Gandhi.

Alasan dari semua ini tidaklah sulit dicari. Gandhi memiliki kapasitas diteladani atas kesediaannya untuk menjadikan dirinya sebagai alas kaki bagi orang lain, terutama bagi orang-orang yang tengah berada dalam ketertindasan dan ketidakberdayaan.

Selain dikenal sebagai Bapak Anti Kekerasan (ahimsa), Gandhi adalah pejuang paling gigih yang membela kaum perempuan. Tak ada seorang pria pun yang pengabdiannya untuk menjunjung martabat perempuan sebesar Gandhi. Gandhilah yang mendudukkan kaum perempuan India sejajar, bahkan lebih tinggi, dari kaum pria. Kata-kata Gandhi selalu bertenaga, didengar, dan dilaksanakan pengikutnya, karena ia selalu menjadi implementator pertama dari apa yang dikhotbahkan. Ia selalu memulai pembaruan dari dalam dirinya dan keluarganya sendiri.

Dalam konteks pembaruan dan penegakan kebenaran, Gandhi menjadi pengkritik yang keras dan tanpa ampun bagi dirinya sendiri, yaitu pada saat dia menyadari dirinya menjadi “pemilik budak” (ini adalah sebutan Gandhi yang ditujukan kepada dirinya sendiri). Maka sikap beliau terhadap istrinya menjadi berubah, dan dengan perubahan tersebut, beliau memulai karya dan perjuangan bagi emansipasi kaum perempuan secara keseluruhan.

***

GANDHI selalu berbicara tanpa mengenal takut menentang sistem yang memaksakan status janda, purdah, persembahan gadis-gadis pada kuil-kuil, perbudakan ekonomi, dan perkawinan terhadap kaum perempuan.

“Pria dan perempuan statusnya sama”. Saya tidak akan pernah berkompromi dalam hal hak-hak perempuan. Dalam pandangan saya, kaum perempuan seharusnya bekerja di bawah undang-undang yang melegitimasi kelemahan kaum perempuan secara tidak sah, tetapi tidak diperlakukan kepada kaum pria. Saya harus memperlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan berpijak pada kesetaraan yang sempurna. “Berpikir bahwa smriti (ajaran yang berisi aturan-aturan tak tertulis) mengandung teks-teks yang membolehkan seorang pria untuk tidak menghormati dan menghargai kemerdekaan kaum perempuan sebagai mana kemerdekaannya sendiri dan menghormatinya sebagai ibu bangsa, ini adalah sesuatu yang memalukan”. Perkataan yang dihubungkan dengan manu, yaitu bahwa “bagi kaum perempuan tidak ada kemerdekaan”, bagi saya (Gandhi) bukanlah kata-kata suci”.

Ungkapan-ungkapan di atas tak lain adalah beberapa cuplikan kalimat dari tulisan-tulisan Gandhi atas nama kepentingan kaum perempuan yang tertindas.

***

PADA saat ini, persoalan kekerasan versus antikekerasan adalah sesuatu yang sangat penting. Pesan Gandhi adalah seruan yang nyaring bagi orang-orang yang meyakini antikekerasan sebagai jalan lintas yang paling cepat dan dekat untuk menuju ke surga, untuk mengerahkan kekuatan di sisinya.

Ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan Gandhi atas nama kepentingan kaum perempuan telah membangkitkan perasaan tanggung jawab bagi setiap pencinta kemanusiaan dan bahkan orang konservatif yang paling keras sekalipun. Karya-karya Gandhi sangat penting maknanya, terutama bagi kaum perempuan, karena semuanya menyentuh setiap aspek kehidupan mereka dan bisa berfungsi sebagai petunjuk yang tepat bagi kaum perempuan pada saat-saat sulit dan tertekan.

Yang terpenting, karya-karya Gandhi itu menyerukan kepada kaum perempuan akan kewajibannya-melahirkan dan mengabdi-bagi kemajuan kaum perempuan sendiri, bangsa, dan kemanusiaan secara luas. Semangat inilah yang harus ada bagi setiap perempuan yang membaca buku ini. Kita ada untuk mengambil keputusan zaman baru.

Buku ini merupakan terjemahan dari tulisan-tulisan Gandhi yang dipublikasikan di media massa India. Dalam buku ini, Gandhi mengungkapkan pikiran-pikirannya di sekitar kaum perempuan (kedudukan, peran, dan jasa) dan kelemahan alam budaya partiarkal. Dalam konteks sekarang, gagasan-gagasan Gandhi yang revolusioner perlu dikaji kembali dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan bahasa yang provokatif, buku ini secara lugas mampu mendedahkan berbagai macam persoalan perempuan. Dari mulai pendewaan yang salah terhadap kaum perempuan (hlm 55) sampai dengan cobaan berat bagi kaum perempuan (hlm 423). Semuanya diracik dalam suatu tulisan yang padat dan singkat, dan langsung menukik pada inti persoalan.

Meskipun dengan setting sosial India, apa yang ditulis dalam buku ini bisa juga terjadi di Indonesia, sehingga buku ini cukup representatif untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan (komparasi) untuk menganalisa permasalahan jender dan dinamika gerakan perempuan. Tidak menutup kemungkinan buku ini dijadikan sebagai sumber sekunder dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan posisi perempuan dalam perjuangannya untuk menuntut perubahan atau mengeliminir ideologi patriarki yang selama ini merasuk dalam berbagai dimensi kehidupan.

Kompas Minggu, 22 Desember 2002