Archive for the ‘Politik’ Category

Resensi Buku
Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat
Karya: Cindy Adams, Edisi Revisi, 2007
Alih bahasa: Syamsu Hadi
Penerbit: Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo Jogjakarta

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata,” Ir. Sukarno 1933.

Buku berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” ini merupakan karya monumental Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno yang memerintah sejak tahun 1945-1966. Buku ini berkisah tentang perjuangannya sejak dia lahir, sekolah, kuliah, menikah, memproklamasikan kemerdekaan, membesarkan anak-anak, mengunjungi pelbagai negara, bertarung melawan pemberontakan komunis dan paham Islam yang kolot, diturunkan dari pemerintahan dan diancam digantung karena antek CIA, hingga masa akhir hayatnya yang sakit cukup lama dan menderita di hari tua hingga ajal menjemput dan menutup mata.

Buku yang ditulis oleh wartawati asal Amerika Serikat Cindy Adams ini sudah beberapa kali terbit dan mengalami revisi, seperti yang dijelaskan Guruh Sukarnoputra dalam kata sambutannya di pembukaan buku ini. Sempat diterbitkan beberapa kali dan diterjemahkan dengan makna yang tidak tepat, membuat keluarga Bung Karno membuat revisi yang terbit pada tahun 2007.

Sebagai wartawati, Cindy Adams menulis dengan baik buku yang terdiri 33 bab ini. Narasi yang disampaikan Cindy Adams, ditulis secara bertutur, sehingga seolah-olah Bung Karno sendiri yang menceritakan dirinya dalam buku yang memiliki tebal 415 halaman ini ditulis pada tahun 1964. Awal mula penulisan buku ini adalah saat itu Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones berkunjung ke istana Bogor dan menyarankan Bung Karno untuk menulis biografi.

Bung Karno akhirnya menyetujui untuk membuat biografi dan bersedia diwawancara oleh Cindy Adams, wartawati Amerika Serikat yang berada di Indonesia bersama suaminya Joey Adams yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara.

Putra Sang Fajar Berbintang Gemini

Sukarno adalah anak dari seorang ibu kelahiran Bali. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai Serimben (biasa disapa Idayu). Idayu, merupakan keturunan bangsawan. Raja Singaraja yang terakhir adalah paman ibunya Bung Karno. Sedangkan sang ayah, berasal dari Blitar, Jawa Timur. Nama lengkapnya Raden Soekemi Sosrodiharjo. Raden Soekemi merupakan gelar kebangsawanan. Dan bapak berasal dari Keturunan Sultan Kediri.

Raden Soekemi-ayah Sukarno-merupakan mantri guru sekolah pribumi dan sempat menjadi asisten peneliti bahasa Van Den Tuuk dan pernah bekerja di Buleleng Singaraja, karena Ibu Sukarno (Idayu) berasal dari keluarga Serimbin.

Raden Soekemi merupakan putera seorang ulama masyhur pada masanya. Keluarga Raden Soekemi merupakan patriot hebat. Nenek dari nenek ayah Sukarno memiliki pejuang pendamping pahlawan besar Diponegoro. Sewaktu Sukarno kecil, Ibunya sering mendengarkan cerita-cerita mengenai kebangsaan dan kepahlawanan. Sukarno bersimpuh di dekat kaki Ibu berjam-jam untuk mendengarkan cerita menarik dari perjuangan melawan penjajahan.

Kepada Cindy Adams, Sukarno terus terang menceritakan kisah cinta orangtuanya di masa muda. “Ibuku tercinta itu pun menceritakan bagaimana Bapak menaklukkan hatinya. Semasa muda Ibu adalah gadis di Pura Hindu Budha yang bertugas membersihkan rumah ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak yang bekerja sebagai guru sekolah rendah gubernemen di Singaraja sering datang ke air mancur di muka pura pulang sekolah. Suatu hari dia melihat Ibu, sering bertegur sapa dan keduanya saling jatuh cinta. (hlm, 25)

Sudah menjadi tradisi, perempuan Bali tidak boleh menikah dengan orang luar. Bukan orang luar dari negara lain, tetapi orang dari pulau lain. Waktu itu sama sekali tidak ada perkawinan campuran antara satu suku dengan suku lain. Kalaupun bencana semacam ini terjadi, pengantin baru itu diasingkan dari rumah orangtuanya sendiri.

Karena ayah Sukarno beragama Islam dan Ibunya seorang Hindu tidak mungkin mereka menikah. Namun, karena saling cinta, mereka akhirnya mendobrak tradisi. Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai akhirnya melakukan kawin lari. Peristiwa ini memang tidak lazim, namun untuk mendapat pengesahan, kedua pengantin di bawa ke depan pengadilan.

Akhirnya pengadilan mengizinkan perkawinan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai meskipun pengadilan menjatuhkan denda kepada sebesar 25 ringgit atau 25 dollar kepada mempelai perempuan dengan menjual perhiasan.

“Karena merasa tidak disenangi di Bali, Bapak kemudian mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk pindah ke Jawa. Bapak di pindah ke Surabaya dan disanalah aku dilahirkan,” ujar Sukarno pada Cindy Adams. Sukarno lahir pada 6 Juni 1901.

Cindy Adams menulis tentang asal usul kenapa, dia mendapat julukan Putra Sang Fajar. “Ketika aku masih bocah kecil, mungkin berumur dua tahun, ibu telah memberkatiku. Dia bangun sebelum matahari terbit dan di dalam kegelapan di beranda rumah kami yang kecil dia duduk tidak bergerak, tanpa melakukan apa-apa dan tanpa bicara, hanya memandang ke arah timur dengan sabar menantikan datangnya fajar.

Ketika aku terbangun dan mendekatinya, dia mengulurkan kedua belah tangannya dan meraih badanku ke dalam pelukannya, lalu pelan-pelan mendekap tubuhku ke dadanya. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan lembut,” ujar Sukarno menerawang masa kecilnya bersama Ibu tercinta.

“Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau, anakku, kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena Ibu melahirkanmu saat fajar menyingsing. Kita orang Jawa memiliki suatu kepercayaan, bahwa seorang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah digariskan sebelumnya. Jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra sang fajar,” (hlm 21)

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal 6 Juni. Aku bernasib sangat baik dengan dilahirkan di bawah bintang Gemini, lambang anak kembar. Dan memang itulah aku yang sebenarnya. Dua sifat yang sangat bertentangan. Aku bisa lemah lembut atau aku bisa rewel; keras bagai baja, atau puitis penuh perasaan. Pribadiku merupakan perpaduan dari pikiran dan emosi.

Aku orang yang suka memaafkan, akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala. Aku menjebloskan musuh-musuh negara ke balik jeruji penjara, namun aku tidak tega membiarkan burung terkurung di balik sangkar.


Berganti Nama Karena Sering Sakit

Raden Soekemi adalah seorang pecinta seni dan pengagum wayang. Sejak lahir, Sukarno diberi nama Kusno. Namun, karena sakit-sakitan, ayahnya mengganti namanya.

“Namaku ketika lahir adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang sakit-sakitan. Aku terkena malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit. Bapak berpikir. ”Namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain agar tidak sakit-sakitan lagi. Bapak adalah pengagum Mahabharata, cerita klasik Hindu zaman dahulu. Aku belum mencapai usia remaja, ketika bapak berkata, “Engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar Mahabharata.” (halaman31).

“Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno-mengikuti cara Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan semua OE ditulis kembali menjadi U. Nama Soekarno sekarang ditulis menjadi Sukarno. Tetapi tidak mudah bagi seseorang untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi dalam hal tanda tangan aku menulis S-O-E,” ungkap Sukarno terus terang tentang penulisan nama yang sampai saat ini masih simpang siur antara Soekarno atau Sukarno.

Karena buku ini sangat tebal, saya tidak akan menceritakan secara mendetail apa saja yang terjadi semasa kecil hingga beranjak dewasa menjadi remaja dan gemar membaca karya filsafat. Namun, jika anda ingin membaca langsung buku ini, ada beberapa bab yang menceritakan bagaimana kisah sedih masa mudanya di Eerste Indianse School, di mojokerto, kemudian pindah ke ke Europheesche Lagere School (ELS), dan melanjutkan ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya dan tinggal di rumas HOS Tjokroaminoto sahabat ayahnya, di buku ini Sukarno memiliki kesan Kota Surabaya sebagai Dapur Nasionalisme.

Di masa remaja, Sukarno melanjutkan kuliah ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH, sejak 1959 menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tinggal di kediaman H. Sanusi, teman dekat HOS Tjokroaminoto. Selama di Bandung, Sukarno melakukan perjalanan ke daerah persawahan di Bandung, disana ia bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen.

Selanjutnya setelah lulus ia berjuang, rajin menulis opini dan mendirikan Partai Nasional Indonesia serta keluar masuk penjara (bui) dari penjara Banceuy, Sukamiskin, proses pengadilan dan satu bab sendiri saat keluar dari penjara (139).

Perempuan dalam Kehidupan Sukarno

Selain peran ibunya Ida Ayu Nyoman Rai yang sangat ia hormati. Sukarno kecil diasuh oleh seorang perempuan bernama Sarinah. Bagi Sukarno, rasa cinta kasih sayang bagai oase yang luas di padang pasir. Ia mampu menyejukkan dan membasahi tanah yang tandus. Menurutnya terlahir sebagai anak orang miskin dan melarat merupakan surat takdir yang harus dijalani. Dalam kemiskinan itulah, ia mendapat kasih sayang cinta yang penuh dari seorang Ibu dan pengasuhnya bernama Sarinah.

Menurut Bung Karno, tidak ada cinta yang lebih baik dari cinta seorang ibu. Namun, ia juga tidak mengesampingkan sosok Sarinah sebagai seorang pengasuh. Sarinah adalah seorang pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Tidak ada hal yang istimewa dari riwayat hidupnya. Ia pun tidak menikah dan tidak memiliki keturunan.

“Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak menikah, dia kami anggap sebagai anggota keluarga. Dia tidur dengan kami, tinggal bersama kami, memakan apa yang kami makan, tetapi dia tidak mendapat gaji sepeserpun. Dialah yang mengajariku mengenal kasih sayang. Sarinah mengajariku untuk mencintai rakyat. Rakjat kecil.

Selagi dia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan dia memberi nasihat, “Karno, di atas segala nya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia,” Sarinah adalah satu nama biasa. Tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. Dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku.” (Halaman 30)

Karena rasa cintanya yang besar pada Sarinah, Sukarno menulis sebuah buku yang terbit pada tahun 1963 berjudul “Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia)” yang ia tulis di Jogjakarta. (Resensi Menyusul). Selain Ibu Idayu dan Sarinah, ada perempuan lain yang juga memiliki pengaruh dalam kehidupan Presiden pertama Indonesia ini.

Bung Karno menjelaskan jika dia menyukai gadis-gadis menarik di sekitarnya, karena aku merasa mereka seperti bunga dan aku suka memandang bunga. Orang bilang, Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan sudut matanya. Itu tidak benar. Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan seluruh bola matanya.

Tetapi ini bukanlah suatu kejahatan. Bahkan Nabi Muhammad SAW, mengagumi kecantikan. Dan sebagai seorang Islam yang saleh, aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. “Tuhan yang dapat menciptakan mahluk cantik seperti kaum perempuan adalah Tuhan yang maha besar dan maha pengasih,” Aku setuju dengan ucapan beliau ini. (hlm 13).

Perempuan pertama yang pernah melaksanakan kawin gantung dengan Sukarno adalah Siti Oetari (16 tahun), putri HOS Tjokroaminoto, pada tahun 1921, dan diajak kuliah di ITB Bandung. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di H. Sanusi dan jatuh cinta pada istri H. Sanusi bernama Inggit Garnasih dan menjelaskan pada Inggit bahwa hubungannya dengan Oetari adalah sebagai adik kakak. Sukarno juga terus terang kepada H.Sanusi bahwa ia mencintai Inggit, setelah itu H. Sanusi menceraikannya.

Sukarno dan Inggit Garnasih menikah pada 24 Maret 1923 dan menemani perjalanan politik, di penjara, diasingkan di Ende Flores, dan dibuang ke Bengkulu. Selama 18 Tahun menikah dengan Inggit, Sukarno tidak punya keturunan, mereka mengangkat anak angkat Ratna Juami (Omi), putri Ny. Murtasih kakaknya Inggit.

Di Bengkulu Ratna Juami sekolah di Rooms-Katholik Vakschool dan bersahabat karib dengan Fatmawati, putri tokoh Muhammadiyah di Bengkulu bernama Hassan Din. Saat itu Fatmawati berusia 15 tahun dan Sukarno mengajar Fatmawati dan Ratna Juami mengaji. Namun, karena intensitas di Pengasingan Bengkulu, lama-lama Sukarno jatuh cinta pada Fatmawati, dan berniat menikahinya.

Sukarno meminta restu pada Inggit untuk menikah dengan Fatmawati, namun Inggit menyatakan dengan tegas bahwa ia menolak dimadu dan memilih bercerai. Sukarno memulangkan Inggit ke Bandung pada 1942. Pada 1 Juni 1943, Sukarno menikah dengan Fatmawati.

Ir. Sukarno berpidato dalam sidang Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengenai dasar negara yang diberi nama Pancasila, 1 Juni 1945. Bersama dengan Ir. Sukarno dan Drs. Muhammad Hatta, Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan

Jepang dan memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dan membacakan teks proklamasi dan diangkat sebagai Presiden RI pertama oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945. Saat hamil Guntur, Fatmawati menjahit bendera merah putih yang nantinya menjadi bendera pusaka. (halaman, 398).

Perjuangan tidak Pernah Usai Meskipun Telah Merdeka Pada 4 Januari 1946, Ibukota negara pindah dari Jakarta ke Jogjakarta. Namun tidak lama kemudian pusat pemerintahan kembali dari Jogjakarta ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan pada Konferensi Meja Bundar (KMB), 28 Desember 1949. Pada 5 Juli 1959, Presiden Sukarno atas nama rakyat Indonesia mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959.

Dengan Fatmawati, Sukarno memiliki lima orang anak, yaitu Guntur, Megawati Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Pernikahan Fatmawati dan Bung Karno kandas pada 1954, ketika Bung Karno ingin menikahi Siti Hartini, perempuan asal Ponorogo. Fatmawati berprinsip tak ingin dimadu dan anti poligami. Dengan Siti Hartini, Bung Karno memiliki dua orang anak yaitu Taufan dan Bayu.

Dalam buku ini tidak diceritakan siapa saja perempuan yang menikah dengan Sukarno setelah Siti Hartini. Namun, dalam gambar di halaman belakang ada foto-foto Sukarno Hartini menjamu acara kenegaraan dalam menerima tamu dari luar negeri. Dan foto-foto anak-anak Fatmawati menghadiri pernikahan anak Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto), yaitu Kartika di Jepang. Mereka terlihat rukun dan guyub meskipun berbeda ibu kandung.

Disamping berkaitan dengan peran perempuan dalam kehidupan Sukarno, ada sepuluh bab lain yang harus anda baca, berkaitan dengan memepertahankan kemerdekaan, dimana masa-masa itu sejarah mencatat banyak peristiwa penting. Seperti ketika Jepang datang, Pendudukan Jepang, Kolaborator atau Pahlawan, Anakku yang Pertama, Harganya Kemerdekaan, Awal dari Akhirnya, Perundingan di Saigon, Diculik, Proklamasi, Revolusi dimulai.

Refleksi atas Sebuah Perjuangan Penuh Cinta

Setelah anda membaca dari awal tentang masa kecil, remaja, mahasiswa dan sejarah merdeka, pemberontakan dari dalam negeri yang dimana saya kira para pembaca sudah kenyang dengan pelajaran sejarah yang selama ini kita pelajari, dari SD-SMP. Jadi tidak usah saya perjelaskan panjang lebar, lebih baik membaca sendiri buku ini dan anda akan banyak membuka mata tentang siapa itu Sukarno, Muhammad Hatta dan para pahlawan yang selama ini berjuang buat tanah air tercinta.

Namun, anda akan terharu membaca bagian akhir. Terutama tiga bab yang menjelaskan tentang masa Masa Mempertahankan Hidup, Masa Perkembangan, dan Sukarno Menjawab. Bagaimana dia selalu gelisah dengan isu Partai Komunis Indonesia, sulit tidur dan tidak bisa lepas dari membaca buku saat ia dilanda kesedihan dan kecintaan pada rakyat Indonesia. Cerita tentang kaus dalam dan piyama kesayangan pemberian para sahabat, membuat kita sadar bahwa Bung Karno di era buku ini ditulis sedang dalam masa kegalauan. Pesan tentang ia dimana ia dikuburkan setelah meninggal, dan beberapa foto kenangan sejarah bersama keluarga dan saat ia sakit ada di halaman belakang.

Kartunis Penolak Bantuan

Dalam buku ini dijelaskan dengan tegas, Bung karno jika biografi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kehidupan pribadinya maupun terhadap rakyat yang dicintainya dan juga masyarakat Internasional. Ia gunakan kesempatan ini antara lain untuk menjawab serangkaian tuduhan yang pernah ditujukan pada media massa nasional dan internasional kepadanya, antara lain sebagai kolaborator Jepang dan komunis serta terlalu sering ke luar negeri.

Tidak cukup satu atau dua hari anda membaca buku bersampul merah ini. Saya sempat berhenti sejenak menghela nafas, merenung, melanjutkan lagi dengan perasaan bercampur aduk. Karena selama ini, saya mengakui, bahwa saya kurang banyak membaca buku sejarah pahlawan, hanya sekilas saja, tidak sampai mendalam sampai urusan yang sangat pribadi pun pendiri Bangsa ini. Bung Karno sangat terbuka dalam beberapa hal, kita semua anak muda dan generasi penerus harus tahu itu, jangan hanya enak-enak saja menikmati buah dari kemerdekaan.

Seperti buku Mahatma Gandhi yang pernah saya tulis sebelumnya di sini, peran Bapak, Ibu, Istri, keluarga dan sahabat memiliki pengaruh yang besar untuk mencetak seorang pemimpin revolusioner. Kita juga bisa merasakan bagaimana, kesedihan Bung Karno setelah menjadi Presiden dan tinggal di Istana, Ibunya tidak mau ikut ke Istana dan memilih tinggal di Blitar. Sehingga, Bung Karno, sering pulang ke Blitar, sungkem dan bersimpuh meminta do’a kepada ibunya agar semua pekerjaannya diberi kelancaran.

Setelah ini saya ingin banyak membaca karya lainnya berkaitan dengan beberapa tokoh yang ada dalam buku ini supaya saya, dan semoga Anda pembaca menjadi orang yang tidak sok tahu sejarah sebenarnya dan ahistoris. Dengan membaca kita akan merasakan bagaimana kegembiraan Sukarno mencintai Marhaen, bahagia memiliki anak, semangat memproklamasikan diri, perceraian, dan kesedihan yang menyayat hati, menghibur diri dengan buku dan tabah menghadapi masa akhir kehidupan

Ada dua kejutan yang saya baca di halaman akhir, yang membuat saya tidak menyesal membaca buku ini dari awal sampai akhir. Pertama yaitu, kebenciannya atas bantuan Amerika Serikat, dia mengatakan dengan tegas. “Go to Hell, American Aid,”. Tanpa ada kelanjutan makna sesudah itu. Kedua, Sebuah karya Karikatur yang ia buat sendiri dan dimuat di halaman belakang buku ini, karyanya bagus dan menarik. Saya tidak menyangka jika Bung Karno adalah seorang Kartunis.

Kelebihan buku ini ada pada penuturan yang gamblang dan menyentuh perasaan. Banyak kejutan, dan kita bisa memahami pemimpin berbintang gemini ini dari berbagai sudut pandang. Namun kelemahannya, buku ini sudah jarang beredar, hanya ada di beberapa tempat tertentu, itu saja tidak bisa dipinjam, hanya bisa ditempat. Sedangkan secara teknis kelemahan fatal ada pada cetakan foto yang nampak buram, padahal fotonya bagus-bagus. Seperti anak-anak Bung Karno ketika kecil, foto kunjungan pemimpin beberapa negara dan foto ketika Beliau sakit terlihat suram.

Namun, diantara ratusan buku yang berkisah tentang orator ulung dan arsitek ini, saya rekomendasikan membaca buku ini. Apalagi jika anda punya banyak waktu luang, tidak kebanyakan online, dan ingin mengetahui biografi pemimpin negeri yang sangat kita cintai ini.

Blitar, 25 Juli 2018, Pukul 18:34

Advertisements

Resensi Buku
Judul : Mahatma Gandhi (Sebuah Autobiografi)
Kisah tentang Eksperimen- eksperimen Saya Terhadap Kebenaran
Penulis : M.K.Gandhi
Judul asli: An Autobiography or The True Story of  My Experiment with Truth
Alih Bahasa : Andi Tenry W
Penyunting : Lilih Prilian Ari Pranowo
Penerbit : Narasi, Jogjakarta
Edisi : I, 2009

“Dunia menghancurkan debu di bawah kakinya, namun pencari kebenaran haruslah merendahkan diri sehingga debu saja akan bisa menghancurkannya.”- Mohandas Karamchand Gandhi, Ashram Sabarmati, 26 November 1925.

Buku bersampul kuning gading ini diawali dengan kata pengantar yang penuh perasaan tentang awal kisah penulis, Mohandas Karamchand Gandhi, seorang advokat dan tokoh pemimpin terkemuka dari India. Gandhi, menyanggupi menulis autobiografi atas permintaan rekan kerjanya. Saat awal menulis, kerusuhan di Bombay pecah sehingga harus berhenti. Sebagian besar dia menuangkan kisah pribadinya saat di penjara di Yeravda.

Sampul Buku

Gelar “Mahatma yang Melukai”

Sempat ada kegamangan dalam diri Gandhi, apakah ia harus menulis atau tidak sebuah autobiografi. Karena ada anggapan bahwa orang yang telah membentuk tingkah laku mereka berdasarkan pengaruh kata-kata Anda, yang dikatakan maupun dituliskan, bisa tertipu? Bukankah lebih baik bagi Anda untuk tidak menulis apapun yang menyerupai sebuah autobiografi, untuk saat ini?”. Argumen ini sangat memengaruhi jiwanya, namun dia memiliki alasan lain kenapa autobiografi penulis ini ada.

“Saya yakin atau bagaimanapun juga membujuk diri saya bahwa kaitan nilai dari semua eksperimen ini pasti memiliki nilai tambah bagi pembaca, eksperimen saya dalam bidang politik sekarang tak hanya diketahui di India, tapi mencapai batas tertentu dari dunia yang “beradab”. Gelar “Mahatma” (orang yang sangat bijaksana dan suci,ed) yang telah mereka sematkan pada saya, memiliki nilai, karenanya, yang lebih rendah. Kerap kali gelar tersebut melukai saya secara mendalam,” ungkapnya jujur.

Gandhi merasakan betul bagaimana dalam hidupnya hampir tidak ada waktu yang menyenangkan untuk dirinya. Ia menarasikan bahwa eksperimennya dalam dunia spiritual hanya diketahui secara pribadi, yang mana dari situlah ia mendapat kekuatan bekerja di dunia perpolitikan.

Menurut Ghandi, jika eksperimen itu sungguh-sungguh spiritual, tak kan ada ruang untuk memuji diri sendiri. “Semakin banyak saya bercermin dan melihat kembali ke masa lalu, semakin jelas saya merasaan keterbatasan saya,” katanya merendah.

Sebagai sebuah autobiografi, buku ini sangat bagus untuk dibaca dengan sepenuh hati. Meskipun sangat tebal, namun buku yang terdiri dari lima bab ini setiap bab dipaparkan dengan singkat dan lugas. Setiap tutur katanya halus dan sangat hati-hati. Dia menjabarkan beberapa istilah dengan halus seperti kata eksperimen untuk pengalaman, atau kebutuhan jasmani untuk kebutuhan seksual.

Anak Pemalu yang mengawali karir sebagai pengacara

Di awal bab satu, Gandhi menceritakan asal usul keluarganya yang berasal dari Kasta Bania, yang merupakan keluarga pedagang. Namun selama tiga generasi, mulai dari kakek hingga ayahnya menjadi perdana menteri di beberapa negara bagian Kathiawad. Sang ayah, Karamchand Gandhi atau Kaba Ghandi adalah anggota Dewan Rajasthnik.

Kaba Ghandi menikah empat kali berturut-turut setiap kali kehilangan istri karena meninggal dunia. Beliau memiliki dua orang putri dari pernikahan pertama dan kedua. Istri terakhir beliau, Pulitbai, memberinya seorang putri dan tiga orang putra. Ghandi adalah anak ketiga atau yang paling muda.

Ayahnya Kaba Ghandi adalah seorang penyayang dalam marganya, pecinta kebenaran, pemberani dan murah hati, namun pemarah. Ibunya, Pulitbai adalah sosok yang sangat religius. Tak pernah berpikir untuk makan sebelum melakukan sembahyang harian. Dia selalu melakukan Chaturmas (Ikrar untuk berpuasa dan semi puasa selama empat bulan musim penghujan).

“Ibu saya memiliki pengetahuan yang amat luas, beliau sangat memahami segala masalah negara, dan para wanita di dewan sangat mengagumi kecerdasannya,” tuturnya di bab awal. Dari pasangan inilah Ghandi lahir di Porbandar atau dikenal Sudamapuri pada 2 Oktober 1869.

Masa kecil Ghandi termasuk anak yang biasa saja dan sempat pindah sekolah mengikuti tugas ayahnya. Namun, sejak kecil dia termasuk sosok yang pemalu. “Saya sedemikian pemalu dan menghindari semua teman. Buku-buku dan pelajaran adalah teman sejati saya. Saya selalu berlari jika pulang, karena saya tak berani berbicara dengan siapapun. Saya bahkan khawatir kalau-kalau ada orang yang menertawakan saya,” tuturnya di halaman 7.

Sebagai seorang anak bungsu, Ghandi tidak dapat tunduk pada ayahanda. Dia terpaksa menikah muda. Cerita tentang pernikahan dini terasa pilu. Dengan terus terang dia sebenarnya sangat tidak ingin menceritakan bab ini.

“Saya sangat tidak berharap menulis bab ini, karena harus menelan pil pahit selama menulis. Akan tetapi jika saya pemuja kebenaran, saya tak bisa melakukannya. Adalah tugas yang menyakitkan untuk menuliskan tentang pernikahan waktu usia saya tiga belas tahun,” halaman 10.

Pada bab-bab berikutnya cerita Ghandi kian menarik bergulir indah. Setiap tutur katanya acapkali membuat kita berdebar, bahkan berdegup kencang. Kisah cintanya terhadap sang istri yang lugu, Kasturbai. Ikrar setia pasangan muda ini terasa indah yang dituturkan dengan bagus pada bab IV bagian I berjudul “Memerankan Peran Suami”.

“Jika saya harus sanggup bersetia pada istri, maka ia juga harus sanggup bersedia pada saya, pemikiran itu membuat saya menjadi seorang suami pencemburu, jelas saya tidak punya alasan untuk mencurigai kesetiaan istri saya, namun rasa cemburu tidak menunggu datangnya alasan,” ucap Gandhi.

Kecemburuan ini berlanjut saat Gandhi muda melanjutkan studi di Inggris. Sejak muda dia terlatih menjadi vegetarian. Bahkan terpilih menjadi Komite Eksekutif Perkumpulan Vegetarian.

Kesulitan praktik sebagai seorang pengacara, menarik untuk di simak di bagian XXV tentang ketidak berdayaannya mempelajari hukum. Ghandi telah mempelajari hukum, tapi tidak belajar bagaimana cara mempraktikkan hukum.

“Saya telah membaca dengan penuh minat “legal maxims” (peribahasa-peribahasa hukum, ed), tetapi tidak tahu bagaimana cara mengaplikasikannya dalam profesi saya. “Sic utere tuo ut alienum non laedas” (memanfaatkan kekayaanmu sebaik mungkin agar tidak mengganggu milik orang lain, ed),’ hlm 116.

Mantra Sebuah Buku dan Pengalaman di Penjara

Meskipun sempat mengalami hambatan dalam mempelajari ilmu hukum. Pada bab-bab berikutnya cerita semakin menarik karena berhasil menangani beberapa klien dan mengunjungi Afrika Selatan. Pada bagian empat, pada bab yang berjudul “Mantra Sebuah Buku” Ghandi menjelaskan tentang beberapa hal yang harus dilakukan dan dihindari dalam bekerja. Tidak hanya bekerja sebagai pengacara tapi juga dalam bekerja sosial.

Konsistensinya sebagai seorang pengabdi kebenaran betul-betul di uji dalam keseharian. “Sekarang saya sadar jika seorang pekerja sosial tidak boleh mengucapkan pernyataan yang belum ia pastikan terlebih dahulu. Di atas semua itu, seorang pengabdi kebenaran harus melatih kehati-hatian yang besar. Selain mengkritisi beberapa media asing dan India, sebuah buku juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam hidup Ghandi.

Salah seorang teman bernama Tuan West (Gandhi memanggilnya), memberinya sebuah buku untuk dibaca sepanjang perjalanan di kereta yang ia katakan jika membaca buku ini, Gandhi pasti menyukainya. Judul buku itu adalah “Unto The Last” Karya Ruskin. Saat itu ia sedang berada di Afrika Selatan.

Buku ini sangat bagus, menurut Ghandi, buku itu berhasil merubah hidupnya. “ Buku ini mencengkeram saya, Johannes-Durban merupakan perjalanan selama dua puluh empat jam. Kereta itu sampai di sana pada malam hari. Saya tidak bisa tidur malam itu. Saya memutuskan untuk mengubah hidup saya menurut konsep ini,” halaman 432.

Bagi Gandhi ini merupakan buku Ruskin pertama yang ia baca. Selama masa pendidikan ia praktis tidak membaca apapun selain buku-buku teks. Bagaimanapun Gandhi menyadari jika dia mengalami kerugian karena pembatasan yang dipaksakan ini. Gandhi pun menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Gujarat, memberinya judul Sarvodaya (kesejahteraan untuk semua).

Selain pengalamannya bergulat dengan buku, pada bab lain, Gandhi juga menceritakan tentang pengalamannya di penjara pada tahun 1908, ditulis pada bab bejudul Satyagraha Domestik. Gandhi melihat beberapa peraturan yang harus dipatuhi para tahanan juga seharusnya secara sukarela dipatuhi oleh seorang “Brahmachari”, yaitu orang yang berniat melaksanakan pengendalian diri.

Peraturan-peraturan itu, contohnya adalah peraturan yang mengharuskan makanan terakhir dihabiskan sebelum matahari tenggelam. Baik tahanan India maupun tahanan India maupun Afrika tidak boleh minum kopi dan lain sebagainya.

Perkembangan politik di India banyak di kupas di bab V. Dari mulai Shantiniketan, Para Penumpang kelas tiga, Kumbha Mela,, Lakshman Jhula, Pendirian Ashram, Ketiga Gubernur Baik Hati, Hasrat untuk bersatu, Navajivan dan Young India, khilafat Lawan perlindungan Sapi, Kongres Amritsar, Kampanye Perekrutan, Dialog yang mengandung pelajaran dan lain sebagainya.

Saya tidak akan banyak menyoroti permasalahan politik di India. Karena pembahasannya saya sangat panjang, sehingga membacanyapun agak sedikit sukar karena kurang paham sejarah dan bahasa gujarat yang beraneka macam membuat saya harus membolak balik buku dan mencari makna. Bagi yang mengikuti sejarah India, tentu menarik karena permasalahan masa itu sangat pelik. Dari wabah hitam, kemiskinan petani, hingga pegawai kontrak.

Resolusi mengenai persatuan Hindu Muslim, penghapusan kaum paria dan khadi juga diajukan ke dalam kongres ini, semenjak menjadi amggota Kongres yang beragama Hindu telah menerima tanggung jawab untuk melepaskan agama Hindu dari kutukan kaum paria, dan Kongres telah menetapkan ikatan hubungan yang nyata dengan “kerangka” India melalui Khadi. Pemilihan tidak bekerjasama demi khilafat sendiri merupakan sebuah usaha praktis yang hebat yang dilakukan oleh Kongres untuk mewujudkan persatuan Hindu-Muslim.

Gandhi menguasai beragam agama di luar Hindu, yaitu Islam dan Kristen. Secara terbuka dia menulis dengan sederhana, beberapa ajaran agama yang ia pelajari, termasuk Al-Qur’an dan Bible (injil).

“Saya membeli Qur’an terjemahan Sale dan mulai membacanya. Saya juga mendapatkan buku-buku tentang Islam lainnya. Saya berkomunikasi dengan kawan-kawan Nasrani di Inggris, salah satunya Edward Maitland dan berkorespondensi dengannya. Ia mengirimkan saya “The Perfect Way” dan “The New Interpretation of Bible” (Penafsiran Baru dari Injil),” tulis Gandhi dalam autobiografinya.

Selain itu Gandhi atau ada juga orang yang memanggilnya Bapu, menyukai karya-karya Tolstoy seperti “The Kingdom of God is Within You”. Juga beberapa buku lokal India seperti Panchikaran, Maniratmala, Mumuksu Prakaran dan Yogavasistha.

Empat Ajaran Utama M.K Gandhi

Dalam pembahasannya berkaitan dengan perjuangan Gandhi selama ini, setiap upaya perjuangan yang dilakukan, ada upaya yang sangat kuat dari Gandhi untuk membela penduduk India dari kemiskinan.
Dalam setiap rangkaian kehidupannya, Gandhi sebagai tokoh perdamaian dikenal dengan empat prinsip perdamaian. Yakni pertama, Bramkhacharya (mengendalikan hasrat seksual), Satyagraha (Kekuatan kebenaran dan cinta), Swadeshi (memenuhi kebutuhan sendiri) dan Ahimsa (tanpa kekerasan terhadap semua mahluk).

Satu hal yang menjadi ciri khas Gandhi adalah empatinya merasakan penderitaan rakyat. Meskipun menangani kasus-kasus besar di beberapa negara, namun kemana-mana ia lebih senang berjalan kaki dan naik kereta kelas ekonomi sejak kuliah di Inggris dan menjadi pemimpin berpengaruh di India. Begitu juga dalam berpakaian, dia memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki para pemimpin lain di dunia. Wujud kesederhanannya sangat terpatri di dalam benak rakyat India.

Menurut Gandhi, Kebenaran hanya akan diikuti oleh perwujudan Ahimsa sepenuhnya. Untuk bisa melihat universalitas dan penyebarluasan Roh Kebenaran secara langsung, maka seseorang harus bisa mencintai mahluk terjahat sebagaimana ia mencintai dirinya. Dan orang yang mencita-citakan hal itu tak sanggup menghindar dari perjuangan dalam hidup.

“ Itulah sebabnya pengabdian saya kepada kebenaran telah telah menarik saya ke bidang politik; dan saya bisa berkata tanpa ragu, tapi dalam segala kerendahan hati, bahwa mereka yang mengatakan jika agama tak ada hubungannya dengan politik tak tahu apa arti agama,” tulis Gandhi mengejutkan saya di bab penutup.

Perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dilakukannya hingga akhir hayat. Dengan satir dia menulis. “ Biarlah ratusan orang macam saya ini mati, namun biarkan kebenaran menang, janganlah kita mengurangi standar kebenaran bahkan sehelai rambut pun dalam menilai mahluk fana yang berdosa ini,” pungkasnya.

Teladan Gandhi memang sangat fenomenal, luar biasa. Banyak sekali buku yang membahas tentang sosok dia.

Bahkan, seorang sejarawan Amerika Serikat, Stanley Wolpert, menulis buku yang ia pelajari dari autobiografi M.K.Ghandi ini berjudul Gandhi’s Passion The Life an Legacy of Mahatma Gandhi yang diterbitkan oleh Penerbit Raja Grafindo Jakarta dengan judul “Mahatma Gandhi Sang Penakluk Kekerasan,” yang terbit pada tahun 2002 disertai dengan kisah yang tragis di akhir hidupnya.

Buku autobiografi ini memang sudah sulit dicari. Saya menemukannya tidak sengaja di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten. Di Perpustakaan ini ada beberapa biografi tokoh dari Hitler, Bung Karno, hingga Jack Ma. Mungkin bisa didapati juga di perpustakaan atau di toko buku.

Jakarta, 27 Februari 2017
Pukul 15.31

Iseng-iseng buka file lama, tulisan lama waktu kuliah di Jogja sejak tahun 1998-2003. Di tulis ulang oleh  Vidia Hapsari, anak tetangga di Pamulang Elok sekolah di MTsN Pamulang.

Masing-masing ada sejarahnya tulisan yang kebanyakan resensi buku ini. Berikut saya ulas seingatnya, kapan dimuat dan berapa honornya juga lupa hehe..

MERETAS ALTERNATIF SOSIALISME DAN AGAMA

Resensi Buku: Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat
Editor: Muhidin M Dahlan
Cetakan: 1 Juli 2000
Penerbit: Kreasi Wacana
Prolog: Muhammad Hatta

Sampul Buku

Sampul Buku

Tema wacana sosialisme religius dan Islam “kiri” kembali jadi perbincangan dalam kajian berbagai seminar maupun diskusi keagamaan. Kajian sosial ekonomi pun ikut mewarnainya dengan semakin merajalelanya kapitalis, sehingga menambah khazanah ilmu sosial menjadi tak pernah kering ataupun menjemukan. Apa yang ditawarkan Giddens dalam The Third way-nya bukanlah jawaban terhadap permasalahan yang ada dalam sistem kapitalisme. Dan mereka hanyalah bagian ‘marketing’ kapitalisme terhadap kehidupan dunia.

Tema itu pulalah yang menjadi sentral of idea dalam buku yang berjudul Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat yang disusun secara gotong royong oleh para penulis yang kebanyakan dari aktivis pergerakan mahasiswa. Lewat telaah sosiohistoris, buku ini berusaha membongkar “secara radikal” tentang segala asumsi teoritis dari opini umum selama ini tentang perspektif ideologi sosialis – marxist atau islamis dengan mempresentasikannya pada analisa yang kongkrit sekarang ini.

Prolog buku ini sangat menarik dengan memuat buah pikiran salah satu dari founding father Drs Moh Hatta (alm) yang pernah dimuat pada harian Daulat Rakyat edisi 30 September 1932. Moh Hatta, memfokuskan pada penyelesaian krisis pada masa itu yang diakibatkan oleh serangan kapitalisme dan Imperialisme barat yang mengakibatkan rakyat kelaparan dan tidak adanya keadilan serta disemangati oleh individualisme yang tinggi sebagai reaksi atas ajaran agama pada waktu itu.

Ide yang ditawarkan sebagai solusi kala itu adalah pergaulan rakyat, yaitu pergaulan hidup kolektivisme berdasar persamaan yang telah lama dianjurkan oleh Nabi Isa sejak lahir, dilanjutkan oleh Umat Islam dalam penganjur kaum buruh pada waktu itu, yaitu Karl Marx sampai Lenin.

Edisi Cetak di KR

Edisi Cetak di KR

Hal ini tentu saja sangat representatif dengan kondisi bangsa saat ini yang sedang dirundung krisis membutuhkan suatu pemecahan yang lebih mendasar dan fundamental. Kebijakan publik yang telah diambil untuk menangani krisis terkesan hanya terpatok pada perspektif ekonomis. Asumsi dasar para pembuat kebijakan, eksekutif dan legislatif serta para pengkritiknya sesungguhnya relatif sama. Perbedaan diantara mereka hanya pada prioritas teknis, anggapan intensitas hubungan antara faktor dan beberapa detail kebijaksanaan.

Secara umum buku ini dibagi dalam tiga tahap pembahasan. Pertama, pembahasan Sosialisme dipanggung ideologi dunia. Ideologi saat ini tidak bisa lagi disebut alternatif, ideologi adalah instrumental.

Alat penjelas yang kaku dan ketat yang dibutuhkan guna mengarahkan pikiran dan tindakan secara efisien. Ketidakminatan masyarakat pada sosialisme bisa kita rujuk dalam bentangan sejarahnya sendiri yang memang cukup variatif. Meretas langkah sosial demokrasi kerakyatan menurut Budi Irawanto, Imam Yudhotomo, dan Ihsan Abdullah Aktivis PRD, merupakan jalan menuju revolusi sejati.

Dengan mempelajari kegagalan kapitalisme di masa lampau, Bonnie Setiawan berusaha menyusuri paradigma alternatif pasca kapitalisme dengan menimbang tradisi kiri, yang diperkuat oleh pernyataan Dadang Juliantara yang mengaplikasikannya dengan ideologi agraria. Melacak jejak sosialisme Religius merupakan pokok pikiran pada bagian kedua, Muhammad Romzy dan Hajriyanto Y Thohari berusaha mendeskripsikan Pseudo Ideologi dan kohorensinya sosialisme dengan agama.

Secara Historis Suhendra menjabarkan secara mendetail tentang peta pergerakan sosio religius Yesus dari Nazareth suatu penghampiran sosiologis, sedangkan Jarot Doso Purwanto aktivis (HMI DIPO) lebih banyak menyoroti lanskap sosialisme religius dalam pusaran sejarah Indonesia.
(Eva Rohilah)

Ini adalah tulisan pertama kali aku dimuat di media “Kedaulatan Rakyat” pada 28 Februari 2001. Harian Lokal di Jogjakarta.

Tulisan berikutnya resensi di Harian Bernas

SULITNYA MERAJUT KEMBALI NASIONALISME YANG TERKOYAK

Judul: Nasionalisme Etnisitas (Pertaruhan sebuah wacana Kebangsaan)
Kata Pengantar: Drs Cornelis Lay MA
Tim Editor: Dr Th Sumartana, Elga Sarapung, Zuly Qodir, Samuel A Bless
Cetakan: 1, Februari 2001
Penerbit: Dian/Interfidel, kompas dan Forum Wacana
Tebal: xvii + 184

Sampul Buku

Sampul Buku

NASIONALISME sekarang ini bagiakan matahari yang redup di jagad khatulistiwa. Sinarnya nyaris habis karena digerogoti oleh primordialisme separatis dan globalisasi etnisitas. Seperti tatapan hampa seorang ibu yang kehilangan anak yang dicintainya. Menemukan kemballi anak yang hilang itu penuh perjuangan dan pengorbanan. Diwarnai ketegangan, dan ketidakpastian. Seperti halnya ketika kita nyaris kehilangan rasa nasionalisme.

Pergumulan wacana tentang nasionalisme menjadi sangat privat, orang per orang, tidak menyebar ke seluruh level masyarakat, terutama lapisan bawah. Mereka dilupakan karena keangkuhan interes-interes yang mengitari imajinasi dan berfikir kita yang disetir kekuasaan rezim. Mendiskusikan hal-hal pelik apalagi menyangkut soal kenegaraan menjadi sangat mahal, karena penguasaan public sphere sungguh luar biasa dominannya sehingga menjadi riil halangan untuk hidup dengan sikap demokratis.

Dengan semangat menumbuhkan wacana baru di Republik ini, kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi ini mencoba “memotret” sisi lain dari apa yang diperbincangkan di atas tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi ekonomi. Buku “Naionalisme Entisitas” ini menuturkan dan menganalisis proses merajut kembali nasionalisme yang sempat terkoyak dalam beberapa dekade terakhir ini.

Rumitnya jalan demokrasi di era reformasi semakin menambah runyam muka bangsa. Hal ini terlihat dari semakin merajalelanya konflik budaya yang terjadi di negeri seribu satu etnis. Selama ini budaya hampir tidak mempunyai ruang dan manifetasi dalam tekanan doktrin nasionalis kebangsaan yang semu. Ruang manifestasi budaya asli negeri ini terbuka sesudah gerakan reformasi. Namun karena tidak mempunyai mode manifestasi dan ketika sistem yang ada tidak memberi cukup toleransi, munculah beragam konflik dan kerusuhan massal di berbagai daerah.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi forum wacana muda, Kompas dan Interfidei. Suatu terobosan cerdas yang berusaha menggambarkan secara detail tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi. Tiga sudut pandang yang membelah buku ini menjadi tiga bagian.

Edisi Cetak di Harian Bernas

Edisi Cetak di Harian Bernas

Bagian pertama Nasionalisme pertaruhan sebuah definisi yang ditulis oleh PM Laksono. Secara Historis, PM Laksono menggunakan analisa Lombart berangkat dari ruang politik menjadi serat benang budaya yang mempertalikan apa yang dibayangkan nasionalisme masa lalu dan cita-cita bersama dengan studi komparatif nasionalisme di berbagai negara. Penulis berusaha menarik kesimpulan global mengenai problema nasionalisme yang dicekik dan tercekik kekuatan etnisitas dan globalisasi, terkait dengan hal itu, Rocky Gerung menemukan problema disintegrasi atau keretakan pada tiga arena penting yaitu: Kekuasaan politik, penguasaan wilayah, dan identitas kekuasaan. Ia mengandaikan nasionalisme sebagai sebuah ideregulatif dalam filsafat berfikir Kant. Keretakan antara ketiganya akhirnya lahir dalam bentuk “krisis kebangsaan” yang berkepanjangan sampai saat ini.

Bagian kedua: Wacana kebangsaan dan warga negara, di kupas tuntas oleh Faruk HT dan Dede Oetomo, mereka lebih mempertegas kebutuhan psikis obyektif dari sebuah bangsa akan nasionalisme. Perkembangan kontemporer politik juga mempengaruhi perilaku bangsa dalam memahami nasionalisme. Yang menarik pada bagian ini adalah analogi dari sebuah Nasionalisme pada masa orde baru yang bersifat semu. Ibarat peralatan politik. Dapat dibayangkan semacam kotak politik yang dibawa kesana kemari.

Bagaimana wacana NKRI dan Federalisme di pahami tidak secara substantif lebih kepada konstruk personal elit politik saja. Bahkan otonomi daerah sebagai sebuah solusi berjalan tersendat karena perbedaan pendapatan perkapita yang menghambat.

Dalam Nasionalisme dalam globalisasi ekonomi pada bagian ketiga, lebih menekankan pada perilaku “meniru” yang menjadi image di Indonesia. Bentuk peniruan yang punya akibat serius adalah apa yang disebut sebagai bangsa yang konsumtif atas barang-barang asing yang menyumbangkan kemajuan bagi negara lain di atas harga yang mesti dibayar sendiri.

Peresensi Eva Rohilah
Mahasiswa Fak Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dimuat di Harian Bernas 13 Mei 2001