Archive for the ‘Politik’ Category

Saat aku menulis refleksi tentang perempuan, korupsi dan karya sastra, aku teringat pertemuanku dengan penulis buku “86” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) waktu itu penulisnya Okky Madasari. Waktu itu aku masih kerja di Kalibata atau di mana ya lupa, atau malah sudah tidak kerja, tapi aku dapatkan undangan peluncuran buku itu di twitter atau di media sosial.

Disitulah aku kenal pertamakali dengan para pembicara, ada Febridiansyah dan sang penulis sendiri, Okky Madasari. Tapi yang mengejutkan ternyata aku disana berjumpa sahabat lama ketika berkantor di majalah Media Internal Pendidikan dulu namanya Ika, Dosen Universitas Paramadina. Di sanalah pembicaraan kita mengalir tentang apa itu korupsi, perempuan dan karya sastra.

Saat ini setahuku Okky adalah anggota Dewan Kesenian Jakarta, akan tetapi setelah judul bukunya yang terakhir terbit, dia lupa apa itu yang namanya 86, dia bahkan sekarang suka jalan-jalan ke luar negeri pakai uang atas nama 86, padahal itu uang yang digelembungkan dari anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menghadiri event-event menulis internasional.

Aku pernah menghadiri event Ubud Writers dan Readers Festival, akan tetapi memang namanya uang rumah tangga itu tidak boleh dipakai untuk jalan-jalan, sehabis itu aku selalu ingin jalan-jalan apalagi jika mendapat uang rapat dari suami di kantor aku, aku melihat bahwa uang rapat itu adalah uang untuk jalan-jalan.

Setelah sekian lama berlalu, aku banyak menulis dan membaca buku terutama buku karya pendiri Partai Rakyat Demokrat (PRD) yaitu Arief Budimaan, bahwa dalam salah satu esainya ia mengatakan bahwa yang merusak pergerakan atau orang-orang yang bergerak dalam kebaikan adalah uang rapat, sedangkan yang menjaganya adalah menahan diri dari segala godaan.

Jadi seperti apa kaitannya antara perempuan, korupsi dan karya sastra adalah bagaimana jika para penulis baik yang berprofesi ibu rumah tangga, freelance atau pun bekerja di lembaga semacam Dewan Kesenian Jakarta itu bergaji besar tapi tidak ada uang-uang rapat.

Dengan demikian, tidak ada lagi uang yang dipakai untuk jalan-jalan, entah itu ke mall atau belanja online seperti yang dilakukan Ibu Iriana Joko Widodo. Jadi jika suami tidak ada uang rapat dan gajinya besar, maka semua istri akan senang, apalagi jika istrinya juga bekerja.

Jakarta, 5 Desember 2017
04.49

Advertisements

Judul Buku: Bumi Manusia
Karya : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Editor : Astuti Ananta Toer
Desain Sampul: Nadia

Sampul Buku-Bumi Manusia

Sampul Buku-Bumi Manusia

Peradaban Awal Manusia Indonesia

Pada saat aku dipenjara di Pulau Buru, aku selalu membayangkan hidup menjadi seorang putri raja Belanda, bernama Minke, ujar Pramoedya pada istrinya yang saat itu sedang hamil tua. Jadi saat Pramoedya menulis cerita Bumi Manusia ini, dia memang sedang mengandung anaknya yang pertama yang mengedit buku itu yaitu Astuti Ananta Toer.

Tuti, kamu harus tahu sampai kapan pun harus tahu aku sangat menyayangkan kenapa penerbit buku ini sekarang gulung tikar karena berselisih dengan penulis ternama dari Majalah Tempo Inisial GM. Kamu harus tahu Tuti, kamu akan lebih besar namanya dibanding dengan dia, yang hanya sekedar kutip sana kutip sini, kamu memiliki semua buku yang aku punya juga semua naskah yang kamu cari keliling dunia.

Akan tetapi Tuti, siapa suruh namamu berganti menjadi nama suamimu sayang? aku lebih senang memanggilmu Astuti PAT daripada Tuti Herawati nama dari suami kamu itu wartawan amplopan.

Aku memang sangat mengerikan Tutui, akan tetapi jika kamu membaca buku ini, aku hanya ingin mengembalikan arwahmu kepada nama besar ayahmu, Aku Pramoedya Ananta Toer.

Jakarta, 4 Desember 2017
yang selalu gelisah di sorga dan akhirat melihat kelakuan anakku
PAT
18.05

Judul Buku: Orang-Orang Proyek
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit Pertama: Penerbit Jendela dan Penerbit Matahari
Penerbit Kedua: Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Pertama, Januari 2007

Sindikat Orang-Orang Teraniaya

Sampul-Orang-Orang Proyek

Sampul-Orang-Orang Proyek

Aku membaca buku ini saat makan siang di depan FX Sudirman. Saat itu aku sedang di Perpustakaan Kemendikbud dan ingin makan siang dengan para kuli bangunan yang sedang membangun Mass Rapid Transportation (MRT) dan juga para kuli bangunan yang sedang membangun sarana Gelora Bung Karno (GBK).

Sebenarnya aku ingin membawa buku ini kesana, membaca bersama teman-teman kuli bangunan di GBK depan FX Sudirman, seperti apa rasanya mengerjakan pembangunan Indonesia Hebat dengan menjadikan kami kerja seperti kerja rodi zaman Jepang.

Lalu aku kembali ke Perpustakaan dan ternyata buku Ahmad Tohari Orang-Orang Proyek ini belum aku baca sama sekali. Akan tetapi, apa yang kubaca tidak jauh berbeda dengan apa yang kulihat sekarang. Bedanya, di buku ini tokoh utama Pak Tarya, Kabul, Wati dan para kanca (teman-teman Pak Tarya) sedang membangun jembatan, maka apa yang ku rasa di dalam kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan miris orang-orang proyek ini lebih buruk dibanding kehidupan dan cerita telanovela.

Aku memang tinggal di Pamulang, akan tetapi di kehidupan sehari-hariku ada banyak kuli bangunan, mereka berasal dari keluarga dan tetangga serta para pencari kehidupan. Akan tetapi di kota besar kehidupan mereka digadaikan pada akhir proyek pembuatan. Mereka ingin beli bakso, ingin beli makanan keliling selain makanan rumahan, akan tetapi tidak punya uang, itulah kehidupan orang-orang proyek.

Apalagi di kota besar seperti di Jakarta, mereka mau makan saja susah, harus jauh ke dalam mengambil jatah, sampai lokasi sudah lapar duluan, akan tetapi ya itu semua untuk mencari kehidupan. Akan tetapi di kota besar mereka lebih senang, karena dapat fasilitas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang akan di dapat jika mereka sakit dan meninggal dunia. Ngeri sekali, masa meninggal dunia diasuransikan seperti para pekerja di Jepang yang bunuh diri karena tidak ingin mendapat asuransi.

Pamulang 4 Desember 2017
17.44

Iseng-iseng buka file lama, tulisan lama waktu kuliah di Jogja sejak tahun 1998-2003. Di tulis ulang oleh Mbak Vidia Hapsari, anak tetangga di Pamulang Elok sekolah di MTsN Pamulang.

Masing-masing ada sejarahnya tulisan yang kebanyakan resensi buku ini. Berikut saya ulas seingatnya, kapan dimuat dan berapa honornya juga lupa hehe..

MERETAS ALTERNATIF SOSIALISME DAN AGAMA

Resensi Buku: Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat
Editor: Muhidin M Dahlan
Cetakan: 1 Juli 2000
Penerbit: Kreasi Wacana
Prolog: Muhammad Hatta

Sampul Buku

Sampul Buku

Tema wacana sosialisme religius dan Islam “kiri” kembali jadi perbincangan dalam kajian berbagai seminar maupun diskusi keagamaan. Kajian sosial ekonomi pun ikut mewarnainya dengan semkain merajalelanya kapitalis, sehingga menambah khazanah ilmu sosial menjadi tak pernah kering ataupun menjemukan. Apa yang ditawarkan Giddens dalam The Third way-nya bukanlah jawaban terhadap permasalahan yang ada dalam sistem kapitalisme. Dan mereka hanyalah bagian ‘marketing’ kapitalisme terhadap kehidupan dunia.

Tema itu pulalah yang menjadi sentral of idea dalam buku yang berjudul Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat yang disusun secara gotong royong oleh para penulis yang kebanyakan dari aktivis pergerakan mahasiswa. Lewat telaah sosiohistoris, buku ini berusaha membongkar “secara radikal” tentang segala asumsi teoritis dari opini umum selama ini tentang perspektif ideologi sosialis – marxist atau islamis dengan mempresentasikannya pada analisa yang kongkrit sekarang ini.

Prolog buku ini sangat menarik dengan memuat buah pikiran salah satu dari founding father Drs Moh Hatta (alm) yang pernah dimuat pada harian Daulat Rakyat edisi 30 September 1932. Moh Hatta, memfokuskan pada penyelesaian krisis pada masa itu yang diakibatkan oleh serangan kapitalisme dan Imperialisme barat yang mengakibatkan rakyat kelaparan dan tidak adanya keadilan serta disemangati oleh individualisme yang tinggi sebagai reaksi atas ajaran agama pada waktu itu.

Ide yang ditawarkan sebagai solusi kala itu adalah pergaulan rakyat, yaitu pergaulan hidup kolektivisme berdasar persamaan yang telah lama dianjurkan oleh Nabi Isa sejak lahir, dilanjutkan oleh Umat Islam dalam penganjur kaum buruh pada waktu itu, yaitu Karl Marx sampai Lenin.

Edisi Cetak di KR

Edisi Cetak di KR

Hal ini tentu saja sangat representatif dengan kondisi bangsa saat ini yang sedang dirundung krisis membutuhkan suatu pemecahan yang lebih mendasar dan fundamental. Kebijakan publik yang telah diambil untuk menangani krisis terkesan hanya terpatok pada perspektif ekonomis. Asumsi dasar para pembuat kebijakan, eksekutif dan legislatif serta para pengkritiknya sesungguhnya relatif sama. Perbedaan diantara mereka hanya pada prioritas teknis, anggapan intensitas hubungan antara faktor dan beberapa detail kebijaksanaan.

Secara umum buku ini dibagi dalam tiga tahap pembahasan. Pertama, pembahasan Sosialisme dipanggung ideologi dunia. Ideologi saat ini tidak bisa lagi disebut alternatif, ideologi adalah instrumental.

Alat penjelas yang kaku dan ketat yang dibutuhkan guna mengarahkan pikiran dan tindakan secara efisien. Ketidakminatan masyarakat pada sosialisme bisa kita rujuk dalam bentangan sejarahnya sendiri yang memang cukup variatif. Meretas langkah sosial demokrasi kerakyatan menurut Budi Irawanto, Imam Yudhotomo, dan Ihsan Abdullah Aktivis PRD, merupakan jalan menuju revolusi sejati.

Dengan mempelajari kegagalan kapitalisme di masa lampau, Bonnie Setiawan berusaha menyusuri paradigma alternatif pasca kapitalisme dengan menimbang tradisi kiri, yang diperkuat oleh pernyataan Dadang Juliantara yang mengaplikasikannya dengan ideologi agraria. Melacak jejak sosialisme Religius merupakan pokok pikiran pada bagian kedua, Muhammad Romzy dan Hajriyanto Y Thohari berusaha mendeskripsikan Pseudo Ideologi dan kohorensinya sosialisme dengan agama.

Secara Historis Suhendra menjabarkan secara mendetail tentang peta pergerakan sosio religius Yesus dari Nazareth suatu penghampiran sosiologis, sedangkan Jarot Doso Purwanto aktivis (HMI DIPO) lebih banyak menyoroti lanskap sosialisme religius dalam pusaran sejarah Indonesia.
(Eva Rohilah)

Ini adalah tulisan pertama kali aku dimuat di media “Kedaulatan Rakyat” pada 28 Februari 2001. Harian Lokal di Jogjakarta.

Tulisan berikutnya resensi di Harian Bernas

SULITNYA MERAJUT KEMBALI NASIONALISME YANG TERKOYAK

Judul: Nasionalisme Etnisitas (Pertaruhan sebuah wacana Kebangsaan)
Kata Pengantar: Drs Cornelis Lay MA
Tim Editor: Dr Th Sumartana, Elga Sarapung, Zuly Qodir, Samuel A Bless
Cetakan: 1, Februari 2001
Penerbit: Dian/Interfidel, kompas dan Forum Wacana
Tebal: xvii + 184

Sampul Buku

Sampul Buku

NASIONALISME sekarang ini bagiakan matahari yang redup di jagad khatulistiwa. Sinarnya nyaris habis karena digerogoti oleh primordialisme separatis dan globalisasi etnisitas. Seperti tatapan hampa seorang ibu yang kehilangan anak yang dicintainya. Menemukan kemballi anak yang hilang itu penuh perjuangan dan pengorbanan. Diwarnai ketegangan, dan ketidakpastian. Seperti halnya ketika kita nyaris kehilangan rasa nasionalisme.

Pergumulan wacana tentang nasionalisme menjadi sangat privat, orang per orang, tidak menyebar ke seluruh level masyarakat, terutama lapisan bawah. Mereka dilupakan karena keangkuhan interes-interes yang mengitari imajinasi dan berfikir kita yang disetir kekuasaan rezim. Mendiskusikan hal-hal pelik apalagi menyangkut soal kenegaraan menjadi sangat mahal, karena penguasaan public sphere sungguh luar biasa dominannya sehingga menjadi riil halangan untuk hidup dengan sikap demokratis.

Dengan semangat menumbuhkan wacana baru di Republik ini, kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi ini mencoba “memotret” sisi lain dari apa yang diperbincangkan di atas tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi ekonomi. Buku “Naionalisme Entisitas” ini menuturkan dan menganalisis proses merajut kembali nasionalisme yang sempat terkoyak dalam beberapa dekade terakhir ini.

Rumitnya jalan demokrasi di era reformasi semakin menambah runyam muka bangsa. Hal ini terlihat dari semakin merajalelanya konflik budaya yang terjadi di negeri seribu satu etnis. Selama ini budaya hampir tidak mempunyai ruang dan manifetasi dalam tekanan doktrin nasionalis kebangsaan yang semu. Ruang manifestasi budaya asli negeri ini terbuka sesudah gerakan reformasi. Namun karena tidak mempunyai mode manifestasi dan ketika sistem yang ada tidak memberi cukup toleransi, munculah beragam konflik dan kerusuhan massal di berbagai daerah.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang diracik dari hasil diskusi forum wacana muda, Kompas dan Interfidei. Suatu terobosan cerdas yang berusaha menggambarkan secara detail tentang nasionalisme, imajinasi bangsa dan globalisasi. Tiga sudut pandang yang membelah buku ini menjadi tiga bagian.

Edisi Cetak di Harian Bernas

Edisi Cetak di Harian Bernas

Bagian pertama Nasionalisme pertaruhan sebuah definisi yang ditulis oleh LPM Lakson. Secara Historis, PM Laksono menggunakan analisa Lombart berangkat dari ruang politik menjadi serat benang budaya yang mempertalikan apa yang dibayangkan nasionalisme masa lalu dan cita-cita bersama dengan studi komparatif nasionalisme di berbagai negara. Penulis berusaha menarik kesimpulan global mengenai problema nasionalisme yang dicekik dan tercekik kekuatan etnisitas dan globalisasi, terkait dengan hal itu, Rocky Gerung menemukan problema disintegrasi atau keretakan pada tiga arena penting yaitu: Kekuasaan politik, penguasaan wilayah, dan identitas kekuasaan. Ia mengandaikan nasionalisme sebagai sebuah ideregulatif dalam filsafat berfikir Kant. Keretakan antara ketiganya akhirnya lahir dalam bentuk “krisis kebangsaan” yang berkepanjangan sampai saat ini.

Bagian kedua: Wacana kebangsaan dan warga negara, di kupas tuntas oleh Faruk HT dan Dede Oetomo, mereka lebih mempertegas kebutuhan psikis obyektif dari sebuah bangsa akan nasionalisme. Perkembangan kontemporer politik juga mempengaruhi perilaku bangsa dalam memahami nasionalisme. Yang menarik pada bagian ini adalah analogi dari sebuah Nasionalisme pada masa orde baru yang bersifat semu. Ibarat peralatan politik. Dapat dibayangkan semacam kotak politik yang dibawa kesana kemari.

Bagaimana wacana NKRI dan Federalisme di pahami tidak secara substantif lebih kepada konstruk personal elit politik saja. Bahkan otonomi daerah sebagai sebuah solusi berjalan tersendat karena perbedaan pendapatan perkapita yang menghambat.

Dalam Nasionalisme dalam globalisasi ekonomi pada bagian ketiga, lebih menekankan pada perilaku “meniru” yang menjadi image di Indonesia. Bentuk peniruan yang punya akibat serius adalah apa yang disebut sebagai bangsa yang konsumtif atas barang-barang asing yang menyumbangkan kemajuan bagi negara lain di atas harga yang mesti dibayar sendiri.

Peresensi Eva Rohilah
Mahasiswa Fak Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dimuat di Harian Bernas 13 Mei 2001