Archive for the ‘Pribadi’ Category

Kemarin sore usai melakukan suatu pertemuan membahas tentang teknologi dan perannya dalam menanggulangi bencana alam secara real time baik pencegahan, penanganan hingga pemulihan, sekelompok bapak-bapak berkumpul sambil ngopi-ngopi.

Karena seharian full membahas hal-hal yang serius, sore itu usai acara mereka berkumpul sambil berkelakar melepas penat.

Seorang Bapak berkumis mengajukan pertanyaan senda gurau kepada rekannya yang ada di ruangan, membuat para hadirin dan beberapa orang di sekitarnya ikut berpikir.

“Sekarang ini kebutuhan primer kita sebagai manusia bertambah lho setelah sandang, pangan dan papan, tidak hanya tiga tapi jadi empat, hayoo ada yang tahu apa?

Saya yang mendengar dan teman yang lainpun ikut mengerutkan dahi apa ya? Lalu dengan santai dia bicara sambil berdiri.

“Jawabannya empat kebutuhan primer itu adalah sandang, pangan, papan dan satu lagi yaitu colokan,” ujarnya sambil tertawa, kemudian berdiri dan pergi.

Rupanya Si Bapak itu handphonenya kehabisan batre dan mau mencari colokan.Karena sekarang kalau habis batre orang akan bete dan seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Bahkan bisa membuat khawatir dan gelisah.

Kami yang ada di dalam ruangan pun tertawa, mendengar guyonan segar sore ituĀ šŸ˜†šŸ˜†šŸ˜†šŸ˜†šŸ˜†šŸ˜ŠšŸ˜ŠšŸ˜Š.

20 April 2018, Pukul 17.41

Advertisements

Dari Gank SMP Hingga Anaknya Masuk SMP

– Dalam persahabatan, hindari ingin menang sendiri, hormati dan saling memahami kepentingan mereka, semua sahabat istimewa –

Bulan Maret kemarin aku merasa sangat bahagia. Semenjak jarang aktif di media sosial, aku sekarang lebih merasakan kebahagiaan ketika menjumpai sahabat lama dengan bertatap muka. Ada kegembiraan tersendiri, melepas rindu, peluk cium dengan teman-teman.

Di usia 39 sekarang, menjelang 40 tahun kehadiran seorang teman sangat berarti, disamping tentu saja keluarga dan urusan pekerjaan. Media sosial telah mempertemukan kita dengan teman saat SD, SMP, SMA, kuliah, hingga teman saat di kantor lama.

Nah yang aku ceritakan ini adalah teman SMP. Seperti kebanyakan orang waktu SMP teman-teman punya gank atau grup kan? begitu juga aku. Gankku SMP tiga orang perempuan, Kita dekat sejak tahun 1992, kita memang jarang ketemu, baru pada Maret 2018 kemarin kita berjumpa melepas rindu meskipun tidak semua kumpul.

Ada keharuan, kerinduan yang membuncah saat pertama berjumpa setelah sekian lama. Semalam sepertinya tidak cukup untuk bercerita tentang masa-masa kita terpisah jarak.

Tidak ada banyak hal yang berubah dari teman-teman saat menemuinya, berkenalan dengan suami dan anak-anak teman. Tentu berbeda dengan saat kita remaja dulu. Sekarang sudah ada skala prioritas lain bagi kita semua.

Kedua temanku subur, masing-masing sudah punya anak empat dan lima. Bahkan tahun ini anak-anak mereka masuk SMP, seperti kita dulu, agar bisa mandiri anak-anaknya sekolah sambil tinggal di asrama, ada yang di Batam dan ada yang di Jogja.

Cerita seputar anak ini selalu menggemaskan. Dari seputar mengerjakan PR hingga yang sakit dan harus rawat jalan. Semua menjadi pelajaran. “Menjadi orangtua itu sulit lho, harus hati-hati dalam bicara,” ujar temanku yang sampai jam 10 malam masih membantu anaknya mengerjakan PR Matematika.

Saat kita melakukan video call dengan satu orang teman lagi, ada satu anak teman itu ikutan kepo dan nimbrung, seru. Di saat kita tertawa, dia juga ikut terrtawa.

Suasana tambah seru mengingat masa-masa dulu kita, kebiasaan-kebiasaan buruk saat alay, apakah masih ada atau enggak sampai sekarang juga hal-hal kocak lainnya. Itulah persahabatanku paling lama, meski on/off juga komunikasinya.

Ada dua nilai yang aku pelajari dalam menjalin persahabatan, yaitu cinta dan kasih sayang. Cinta melahirkan ketulusan dan kasih sayang menumbuhkan rasa kepedulian.

Cerita tentang sahabat tidak akan pernah habis, begitu juga seperti orang kebanyakan masih ada cerita seru dari teman SMA, kuliah, organisasi dan rekan kerja, semua memiliki kenangan di hatiku. Semua sahabat istimewa. Meskipun mungkin kesempatan bertemu jarang ada, jadi jarang berjumpa.

5 April 2018, Pukul 14:32

Setiap bangun pagi apa yang kalian lakukan pertamakali setelah aktivitas rutin? Kalau saya selalu tidak sabar mengecek visitor traffic, atau grafik pengunjung. Selalu ada desir bahagia jika ada yang mampir ke blog kita, bahkan dalam sehari saya bisa pantau beberapa kali sampai menjelang tidur.

Meskipun komentar tidak begitu banyak, dilike dan dibaca orang saja saya sudah senang, maklum setelah 11 tahun punya blog baru awal tahun ini diusahakan setiap hari nulis. Dulu semaunya aja selagi sempat, kadang sebulan sekali, dua kali atau tidak update selama berbulan-bulan karena kadang lupa kalau punya blog dan hampir ditutup seperti pernah saya tulis tempo hari.

Jadi setelah memantau traffic pengunjung,dan mendapat tambahan follower, saya baru punya sedikit follower di wordpress reader, (kurang dari 90), semoga bulan April ini jadi tambah semangat upload tulisan.

Ada beberapa tulisan tertunda seperti perpustakaan yang saya kunjungi seperti perpus Jabar, Jateng, Jogja, Banten karena harus mengelompokkan gambar dari kamera yang berserak belum saya namain jadi rada rempong misahin2nya , juga beberapa lokasi wisata seperti DKandang Farm di Pasir Putih, Situ Gunung dan Kota tua.

Screenshot_2018-04-03-18-06-27-1

Begitu juga dengan resensi buku, ada yang sudah saya baca sampai selesai dan saya review tapi saya ragu untuk upload saya agak ragu-ragu karena satu atau dua hal, jadi menunggu momen yang tepat.

Satu hal yang menggembirakan adalah para pembaca di worpress reader yang juga kalau lagi senggang saya suka membaca, blognya keren-keren. Dari yang cerita sekolah, anak kuliah, puisi, galau, perubahan iklim, hutan, travelling, dan beberapa blog review buku yang saya lihat semakin banyak muncul di timeline WP Reader. Saya pun follow beberapa dan mengenal lebih dekat konten blognya.

Sekali lagi terimakasih pengunjung yang sudah mampir ke blog saya yang sederhana ini dan karena sering ngetik dan upload di jalan memakai hp, jadi suka ada salah-salah ketik (typo)…mohon dimaafkan. Semoga kedepan bisa lebih baik lagi.

Selamat datang bulan April, mari kita sambut dengan sukacita.

Slipi, 1 April 2018 Pukul 10.43

Sabtu Bersama Apa

Posted: March 24, 2018 by Eva in Pribadi

Biasanya setiap akhir bulan tiba
aku selalu rindu bertemu Apa
Pulang kampung ke sejenak lari
dari keramaian ibu kota.

Kini setiap sabtu tiba
Aku tidak pernah lagi melihat Apa
Rindu memeluk dan melihat senyumnya
Bercengkrama dan menemaninya nonton bola

Pengobat rindu, selain doa, ada lagu yang syahdu untuk ayahku yang telah tiada.

Pamulang, 24 Maret 2018

Ayah oleh Panbers

Lembut wajahnya terlukis di bingkai
Wajah yang tenang dan sayu
Ku lihat redup syahdu memilu ayahku ayahku

Waktu lampau tetap ku ingat
Untuk ku kenang, untuk ku rasa
Kini hanya wajah bayangan
Terlukis dalam ingatan

Hanyalah ini pelepas rinduku
Untuk ayahku, untuk ayahku
Untuk ayahku, untuk ayahku

ini ada video amatiran, aku gak begitu bisa buat video tapi belajar, mohon maaf jika kurang bagus, video amatir pengobat rindu.

Usai menamatkan Sekolah Dasar di SDN Cisande IV Cibadak Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1992, aku melanjutkan untuk masuk pesantren. Saat itu, aku baru pertama kali menginjak kota Jogjakarta, dimana kakakku Teh Geugeu Syarifah sekolah SMP dan A Iwan kuliah di Universitas Negeri Yogjakarta (UNY).

Di usia yang masih 12 tahun aku sangat kaget ketika aku naik bis Rajawali jurusan Sukabumi Jogjakarta, aku dijemput kakak pertama untuk tinggal sementara di Perumnas Condong Catur sambil menunggu pengumuman masuk SMPN 30 Sardonoharjo Ngaglik Sleman, atau sekarang SMPN 3 Ngaglik.

Pada saat aku ke Jogja, aku masih memakai rok merah dan baju bintik merah, satu-satunya baju terbagus yangĀ  kupunya. Setelah itu, aku dibonceng memakai motor Honda Astrea oleh kakak dari Condong Catur ke Ngaglik Sleman. Aku masih ingat betul, waktu ituĀ  masih imut dan tidak memakai jilbab, lalu mendaftar ke SMPN 30 Sardonohardjo dan mendaftar di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran PPSPA yang beralamat di Jl.Kaliurang KM 12,5 Candi Ngaglik Sleman Jogjakarta.

Aku juga langsung berjumpa dengan KH. Mufid Mas’ud yang saat itu sedang bersantai memakai kaus putih dan sarung putih. Aku sangat senang bisa melihat pondok pesantren yang begitu besar, tidak seperti di kampungku di Sukabumi, dimana saya waktu SD tiap hari jalan kaki lewat galengan (pematang sawah) dan rel kereta api. Akan tetapi, karena kakakku ada 8, kalau hujan, kalau masuk sekolah SD sering digendong Kang Dada, kakak no 3 yang sekarang sudah punya cucu.

Rumah orang tuaku sederhana dengan sembilan anak. Akan tetapi sepeninggal ibuku, kakak pertama menyekolahkan adik-adiknya di Jogja. Sesudah diterima di SMP, kakak menjahit seragam di langganan kakak di Gejayan, seragamnya masih rok pendek dan seragam putih pendek. Lucunya waktu itu belum ada peraturan siswa SMP boleh mengenakan jilbab, baru setelah ada usulan dari Pondok Pesantren ke pihak sekolah, barulah kita semua memakai jilbab (anak pondok) yang di luar pondok dibebaskan, tidak ada kewajiban berjilbab.Waktu itu aku sekolah sepantar dengan keponakanku Trisasi Lestari dia masuk SMP 5 Jogja.

Aku masih ingat betul, waktu keponakanku masih kecil-kecil. Aku dekat dengan semua keponakanku. kakak iparku membekali aku selimut yang berwarna kuning merah garis-garis dan makanan ringan seperti Happy Tos dan perlengkapan untuk aku sekolah lainnya. Kakak-kakakku sangat mencintai aku, setiap bulan aku ditengok sama A Iwan untuk bayar bulanan yang saat itu langsung diberikan kepada Bapak Ndalem oleh Kakakku.

1524051719366

Asramaku berada di sebelah selatan dekat deretan kamar mandi, namanya SQL (Sekolah Luar). Kami semua adalah santri yang sekolah di luar (Madrasah Tsanawiyah Sunan Pandanaran MTSPA) dan Madrasah Aliyah Sunan Pandanaran (MASPA). Tapi kata teman-teman sistem SQL sekarang sudah tidak ada. Karena sekarang PPSPA santrinya sudah 3.500 dari seluruh Indonesia yang kebanyakan adalah anak dan saudara alumni PPSPA sejak pertama kali didirikan pada tahun 1975.

Aku tidak tahu banyak sejarah Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud, karena beliau termasuk orang yang tidak banyak bicara, namun sangat tegas tapi sering bercanda. Seperti namanya, Mufid adalah orang yang memberi manfaat dan Mas’ud adalah orang yang selalu bahagia dan membahagiakan orang lain. Kalau di komplek putri kami mengaji setelah Subuh sampai sebelum berangkat sekolah, maka di komplek putra biasanya sore hari. Karena, aku waktu itu masih Juzz Amma dan Bin-Nadhor, maka saya sering nderes (Membaca Al-Qur’an) Kepada Ibu Ndalem Ibu Nyai.

Hj.Jauharoh Munawwir yang sangat tegas dan suaranya besar, dia selalu memakai mukena kalau nderes, semua takut sama Ibu Ndalem, biasanya dia memimpin Nderes berdua bersama anaknya Mbak Nah (Hj. Ninik Afifah).

Waktu mondok di Pandanaran aku bertemu dengan santri dari dari berbagai kota. Ada yang dari Cirebon, Indramayu, Jakarta, Klaten, Magelang, Pati (Ida Fitria Enha) dan lain sebagainya. Di situ kita juga belajar aneka bahasa daerah. Satu hal yang kuingat selama mondok di Pandanaran adalah kesederhanaan dalam makanan. Di mana makannya sayur nangka (jangan gori), sayur kol (jangan kol) dan kerupuk. Akan tetapi temanku Mbak Ika Nurazizah dari Magelang, kakak kelas di SMP selalu dibuatkan kering kentang sama kacang dan kalau dijenguk ibunya aku sering minta hehehe. Kalau aku karena tidak punya Ibu, begitupun ayahku (Apa) yang sudah tua tidak pernah menjenguk aku di pondok selama tiga tahun, jadi jarang dikirimi aneka makanan.

Kakakku Condong Catur juga jarang menengok, karena yang sering menjenguk dan mengantarku kebutuhan bulanan seperti susu dan Indomie, bulanan dan uang saku SMP adalah Kakak ke enam, Iwan Setiawan (A Iwan). Waktu itu, dia masih kuliah di Fakultas Ekonomi UNY.

Aku tidur di ranjang besi yang agak lebar, warnanya krem. Bagian atas diisi dua orang dan bagian bawah di isi dua orang. Pertama kali datang aku seranjang sama Mbak Siti Munawaroh, anak MAN I Jogja, dibawahnya ada Farikhatul Udkhiyah (Eka) dari Indramayu. Waktu ada Mbak Ika datang, saat itu aku pindah ranjang, selain sama mbak Ika, aku dekat juga sama mbak Tintin Nunani dari Cirebon.

Aku juga satu SMP sama si kembar Umi Haniin, Umi Haniatin, Farikhatul Udkhiyah (Eka), Lina Dwi Arfiastuti, Muchtar Hidayat, Eko Ariyanto, M.Nadjib, Muhammad Huda, Nuril, Rahmat dan masih banyak lainnya.

Satu asrama kita bergabung ada yang dari SMPN 30 Sardonoharjo, ada yang dari SMPN 8, ada yang dari MAN I, MAN Pakem, Universitas Gadjahmada, mereka harus menyesuaikan dengan jadwal pondok, seperti Kak Neny yang sekarang di Bandung, Kak Wahyunah yang sekarang di Bintaro, Kak Irma dan Kak Fauziyah. Semua santri-santrinya bahagia, seperti ketika saya mengikuti Haul ke 11 di Pondok Pesantren milik KH. Subhan Baalawi.

Kita semua alumni PPSPA yang di Jakarta Bogor Depok dan Bekasi memiliki Forum Silaturahmi Alumni Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Di Pondok Petir, justru aku ketemu dengan Kak Eni yang rumahnya tidak jauh dari rumahku di Pamulang Elok. Begitu juga, saya baru tahu bahwa yang memiliki Pondok Pesantren An-Nahdlah adalah Ibu Lia Zahiroh adalah alumni PPSPA istrinya Bapak Asrorun Niā€™am. Dimana saat ini, anak pertama kakak kelas saya waktu di UIN UIN Sunan Kalijaga adalah Cak Shohib Sifatar yang bernama Arina (Kakak Arin) mondok di An-Nahdlah Pondok Petir.

Banyak hal tak terduga dalam hidupku dimana aku berjumpa dengan alumni Pondok PPSPA waktu di Kaliurang Jogjakarta, justru setelah 26 tahun aku meninggalkan Pandanaran. Aku berjumpa dengan Bu Nyai Lilik Ummu Kaltsum yang dulu suka menggantikan Ibu Ndalem. Bu Nyai Lilik sekarang memiliki Pondok Tahfidz Alqur’an di Parung Bogor bersama Gus Mustofa.

Ada banyak kenangan indah selama tiga tahun mondok. Kami semua dididik untuk terbiasa disiplin dan prihatin. Disiplin karena harus cepat-cepatan mandi (bare), setelah itu cepat-cepatan antri nderes mengaji di mesjid yang ada di komplek putri dan habis itu kita jam 7 sudah harus masuk sekolah. Aku termasuk yang malas bersama Mbak Ika dan Mbak Tintin, biasanya kita antri paling belakang karena memang ingin selalu bersama bertiga kemana-mana. Tapi kini mereka justru sukses, Mbak Tintin berwirausaha dan Mbak Ika bekerja jadi PNS di Pemda Magelang sesuai lulusannya Administrasi Negara UGM.

Ada banyak filosofi yang kuat ketika nyantri di pesantren. Kenapa kita harus prihatin dan makan seadanya. Karena supaya kita tidak dimanja makan enak. Semua santri jika saat mudanya susah, maka ketika mendapat ujian di hari tua menjadi orang tidak punya, maka dia tidak merasa aneh. Begitu juga dengan hafalan Al-qurā€™an, jangan sampai lupa dan harus selalu membaca Al-qurā€™an habis Shalat lima waktu, atau kalau bisa satu juzz sehari, jangan hanya saat Bulan Ramadan saja, tapi harus setiap hari. Berikutnya adalah harus mandiri, jangan harap santri menjadi PNS atau berharap banyak pada pemerintah, lebih baik mandiri atau punya Pondok Pesantren sendiri seperti Mas Lukman Kakak kelas, seangkatan sama Mbak Ika yang memiliki Pondok Pesantren di Tebet, Bu Nyai Lilik, Kyai Khusnul di Pondok Cabe, KH. Subhan Baalawi di Pondok Rajeg Cibinong dan lain sebagainya.

Satu hal lagi yang selalu kuingat amanat Bapak Ndalem KH. Mufid Masā€™ud, yaitu jika kita sudah menghembuskan nafas terakhir, atau kalau kita meninggal dunia, kita tidak boleh menerima karangan bunga dari siapapun.

Ibu Ndalem Hj.Jauharoh Munawir wafat pada April 1998 dan Bapak Ndalem wafat pada 2 April 2007. Semoga beliau berdua senantiasa mendapat maghfurlah dari Allah SWT dan semua santrinya bisa mengamalkan amanat atau pesan beliau berdua dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini penerus Bapak Ndalem KH. Mufid masā€™ud adalah KH. Muā€™tashim Billah dan KH. Masykur Muhammad serta ke-delapan anak-anak lainnya yang tidak mau disebutkan namanya karena pendidikan Hj. Jauharoh yang tidak ingin anak-anaknya mengemban amanat berat sebagai anak Kyai. Sepertinya itu saja yang ingin aku tulis sekarang, mohon maaf jika ada teman satu asrama tidak tersebut namanya.

Jakarta, 9 januari 2018 Pukul 13.55

(Kisah dan Sejarah memakai Jilbab selama 25 tahun (Periode 1992-2017) )

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis kisah dan pengamatanku tentang fenomena jilbab dari sejak aku pertama kali mengenakan tahun 1992 saat di SMPN Sardonohardjo dan mondok di Pesantren Sunan Pandanaran hingga saat ini 2017, aku mengenakan hijab untuk bekerja atau OOTD.

Kerudung Era 90an

Pada awal tahun 1990an, gaya hidup belum semeriah sekarang. Era orde baru, meski penuh dengan sejarah kelam tentang korupsi dan nepotisme, tapi masa-masa itu kaum muslim di Indonesia di mana aku tinggal tidak banyak gaya, tampil seadanya dengan jilbab sederhana. Waktu di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Sejak dahulu model penutup kepala (kerudung), jilbab atau hijab mengalami banyak perubahan. Ibuku adalah seorang pedagang yang suka memakai kerudung langsungan model brokat lama atau selendang disampirkan. Pada saat periode aku kecil 1979-1980an orang Indonesia belum begitu rapat menutup kepala, ala kadarnya saja tradisional yang penting sopan. Anak-anak usia sekolah seperti SD-SMP juga jarang mengenakan jilbab kecuali sekolah yang berbasiskan Ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Pada tahun 1992 lulus SD aku melanjutkan ke SMP 30 Ngaglik, Sardonoharjo Sleman dan mondok di PP Sunan Pandanaran, nyantri kepada KH. Mufid Mas’ud. Waktu itu aku datang ke pondok diantar kakak pertama dan di tengok A Iwan setiap bulan. Kadang di PPSPA aku nakal curi-curi kesempatan kabur dari kobong jalan naik colt Kaliurang berhenti di depan Mirota Kampus kemudian naik bis pemuda ke rumah kakak di Condongcatur.

Saat SMP

Saat SMP

Saat SMP ini cara pake jilbabku, begitu juga ketika bermain sesama santri PPSPA. Jilbab segi empat biasa yang bisa kubeli di pasar dengan aneka warna, kalau di dalam kita pake sarung dan tidak berkerudung, atauĀ  jilbab langsungan. Waktu itu di asrama SQL (khusus Sekolah Luar) dimana anak-anak pandanaran yang sekolah di luar MTS dan MASPA. Temanku di SMP hanya anak pondok saja yang berhijab yang lain tidak ada.Ā  Kala itu periode 1992-1995.

Pada 1996 aku masuk SMU Muhammadiyah II dimana waktu itu semua murid perempuan berjilbab. Aku masuk sekolah ini karena aku gagal di terima di SMA 7 tadinya kakakku menyarankan aku masuk SMA negeri dan lanjut mondok di Krapyak. Tapi takdir mengatakan lain, NEM ku kurang dua digit sehingga aku gagal masuk SMA negeri unggulan di Jogja.

Saat SMA

Saat SMA

Saat SMA aku berkenalan dengan banyak teman ada yang asli Jogja, ada juga yang dari luar kota seperti Kalimantan, Riau, Kuningan dan daerah lainnnya, aku masuk kelas IPA I Muha. Ada dua orang teman searah yang sering berangkat dan pulang bareng ke sekolah yaitu Veny Setyaningrum dan Nida Nadia.Veny bawa motor sendiri dari rumahnya Jambu Sari aku suka berangkat bareng, sedangkan Nida tinggal di Timoho bersama kakaknya yang kuliah di UII ada 3 orang.

Bersama Veny dan Nida aku banyak menghabiskan waktu berangkat dan pulang sekolah. Di kelas aku bukan termasuk anak pintar, aku sering nakal dan bolosan bersama Dian Aflahah main ke radio Geronimo atau ke Malioboro Mall. Sejak SMA aku suka beli jilbab meteran, awalnya diajak Veny tapi sering juga sendirian.

Jilbab meteran ini kita beli biasanya di Jalan Solo ada sebuah toko bernama Bombay Textil dekat Toserba Gardena, sebrang Galeria Mall. Bahan untuk jilbab di sana cakep-cakep, ada aneka warna kebanyakan berbahan tipis seperti sutra India, tapi harganya terjangkau. Kita berdua senang dan beli beberapa warna lalu kita jahit pinggirannya.

Kalau tidak sama Veny aku kadang cari jilbab sendiri di toko bahan cari bahan yang ringan dan motif tidak pasaran. Hal ini berlanjut hingga kuliah, aku sering menyesuaikan pakaian dengan jilbab meteran atau jilbab biasa yang aku beli di pasar berbahan katun segi empat.

Jilbab Era Awal Tahun 2000-an

Saat awal kuliah aku termasuk orang yang suka menjaga penampilan, tampil modis dan lipstikan. Akan tetapi setelah aku aktif di organisasi aku berubah total tidak suka dandan dan tidak peduli penampilan. Kampus putih IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga merubah cara pandangku tentang gaya hidup dan kesederhanaan.

Aku senang melihat mahasiswa UIN yang tampil sederhana. Ada sebagian kecil pada masa itu yang sandal jepitan dan tidak mengutamakan penampilan. Namun banyak juga yang rapi, bersepatu dan berpenampilan sopan.

Akan tetapi mereka kritis dan sangat pintar dalam pemikiran. Terlihat saat berdiskusi dalam aneka bidang baik sosial filsafat atau keagamaan. Saat itu aku lebih senang beli buku daripada pakaian.

Pada tahun 2002 aku ketemu mas Arif,Ā  berkenalan dan bertemu dengan teman-temannya di pergerakan. Aku juga ikut dengan orang-orang LSM di Jogjakarta. Aku aktif di Solidaritas Perempuan Kinasih dan Mas arif saat itu merintis usaha kaos bersama Mas Yusron Hana’i di Laron oblonk. Saat wisuda tahun 2003 aku dibelikan jilbab hijau yang sampai sekarang masih terawat dengan baik.

Di LSM aku belajar banyak tentang isu pangan dan perubahan iklim, waktu itu kenalan dengan mba Farida, Mbak Tini sastra dan Rini Yuni Astuti. Ada sekitar dua tahun aku aktif di SP Kinasih mengelola buletin dan berkenalan dengan mas Kuss Indarto seorang illustrator komik dari Indtitut Seni Indonesia (ISI) Jogja.

Usai lulus aku kerja di Kebayoran Lama tapi tidak lama, hanya periode Desember – Mei 2004. Aku tidak kuat kerja di Jakarta dan kembali ke Jogjakarta. Mas Arif waktu itu sudah pindah ke Malang.

Pada November 2004 aku ditawari kerja merintis penerbitan Pustaka Alvabet bersama Bang Ahmad Zaky dan Pak Baedhowi. Waktu sudah ada Muslikah Kurniawati, Pak Priyanto dan Mas Fahmi. Bang Zaky sebagai Direktur dan aku Redaktur Pelaksana.

Jilbab kain meteran bersejarah aku pakai di acara pameran buku Pustaka Alvabet

Selama di Pustaka Alvabet, semua naskah yang akan diterbitkan harus mendapat persetujuan Dewan Redaksi dan Pemegang Saham. Waktu itu ada lima orang Dewan Redaksi yaitu Pak Ahmad Baedhowi, HBS, SRP, TAA dan IAF. Aku banyak mengenal mereka selama periode 2004-2007. Garis hidupku berjalan linear, skripsiku tentang Fazlur Rahman dan aku bekerja bersama para penerus pemikiran Neo Modernisne itu. Entah kebetulan atau tidak bagiku ini sangat berguna saat ini juga di masa yang akan datang.

Pada 2007 aku pindah kerja ke Kalibata. Saat itu kantorku menjadi mitra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aku sering rapat di Senayan dan liputan ke daerah juga liputan acara-acara Kependidikan.Waktu itu aku suka mengenakan jilbab minimalis dengan ditarik ke belakang terasa simpel dan elegan. Dulu aku suka model ini karena praktis dan simpel sehingga terkesan stylish. Sampai sekarang kebanyakan orang Indonesia mengenakan model jilbab seperti ini.

Di Acara Rembug Nasional Pendidikan era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh

Pada 2009 aku berhenti kerja dari Kalibata dan aktif kembali di Solidarits Perempuan (SP) sebagai Dewan Pengawas Komunitas (DPK). Inilah penyesalanku terbesar bekerja di LSM aku sakit parah sepulang kongres SP di Jakarta, karena terlalu lelah memimpin sidang, cukup lama aku sakit hingga baru sembuh pada 2012 dan aku kembali bekerja di Kalibata. Aku juga merintis usaha online Gerai Amira, di sana aku jualan sandal, kaos nama, jilbab dan baju muslim.

Meledaknya Pashmina dan Shawl Pada 2010

PadaĀ  periode 2010-2012 aku suka memakai jilbab pashmina yang simpel dengan aneka warna menarik. Biasanya aku beli di Thamrin city dengan harga murah 100 ribu dapat tiga kadang empat. Biasanya aku beli di lantai lima Thamcit setiap senin dan kamis atau saat ada pasar Tasik istilah pengunjung. Kadang aku beli juga di Pamulang square atau Point Square,Ā namun harganya selisih di atas dikit dari jilbab Thamcit. Sesekali beli online juga di Saqina.com.

Pashmina Ceruty Thamcit

Pada tahun itu juga aku kembali bekerja kaliĀ  ini di Empang tiga Pejaten Timur. Namun tidak lama aku sakit typus dan akhirnya tergoda lagi merintis usaha. Aku buka toko jersey di Pamulang. Awalnya laris hingga akhirnya sepi dan bangkrut. Aku berhenti buka toko setelah Apa meninggal dan kembali bekerja di Kebayoran lama pada Maret 2015.

Aneka Shawl dan Pashmina suka aku kenakan.Ā Aku suka juga jilbab berbahan tyrex tipis agar mudah dibentuk dan jilbab tipis pashmina ringan bermotif.

Pada awal tahun 2014 mulai banyak jilbab berbahan jersey besar yang sepadan dengan gamis, ukurannya besar dan panjang menjuntai.Fenomena ini berkembang setelah banyak orang berumroh. Aku sempat beli untuk pengajian, dan sempat jualan dan dikirim ke Arab Saudi.

Aku suka juga kalau di rumah memakai jilbab langsungan jersey yang dijahit di Bu Hardyanto tetanggaĀ  depan rumah Pamulang elok, aku suka jahitannya rapi rendanya juga menyesuaikan. Aku berburu gamis katun lucu,kadang dijahit, adakalanyaĀ  Ā juga beli yang biasa dan kadang dikirim kakak Bantul dan Kakak ipar Malang.

Jilbab karya Bu Hardyanto

Pada 2016 aku lupa bulan apa, aku memutuskan untuk berganti model dari pashmina, atau segiempat tarik belakang,Ā  ke model jilbab segi empat yang menutup dada. Aku lupa awalnya kenapa, tiba-tiba pas acara formal aku memakai jilbab segi empat dan seterusnya. Kata Mas Arif jilbab yang kupakai sekarang lebih sopan dari sebelumnya pashmina yang kata dia bentuknya tidak beraturan, disilang sana sini (uwel-uwelan) dan memakai bross besar kadang menurut dia kurang berkenan.

Aku membuka koleksi lama, untung masih ada. Beberapa koleksi jilbab segi empat aneka warna berbahan chiffon (sifon), ceruti dan voile. Ada juga jilbab Turki oleh-oleh haji dari kakak ipar mbak Atik dan jilbab berbahan hycon dari mbak Lilik, masih kusimpan dengan baik.

Tidak lama kemudian pada Mei 2016 mulai beredar jilbab licin yang harganya lumayan.Waktu itu aku dikasih Arien saat main ke kantor Kalibata. Aku suka warna merah dan hitam, aku pakai di acara Ubud Writers dan Readers Festival Oktober 2016 di Ubud, Bali.

Jilbab merah penuh kisah

Di Ubud Gianyar Bali

Ada banyak bahan dasar jilbab dari mulai sifon (chiffon), hycon, voile, sutra, spandek, ceruty, higet, rayon, PE (poly ethilene), TC atau Tetoron cotton, kaos, rajut, jersey, katun, kashmir, dan polyster. Belakangan ada juga bahan mulberry silk, katun (cotton tyrex), voal, dan poycrepe.

Belakangan jilbab segi empat satin yang berbahan printing menjadi model kekinian dan dijual dengan harga menjulang.

Aneka Warna Jilbab koleksi heaven lights

Aku juga bernah menjual jilbab segi empat yang ada bordir pinggiran dan jilbab langsungan bermonte dulu pesan dari Ā Semarang, sampai sekarang jilbabnya suka aku kenakan. Pernah pula pesan jilbab Padang saat teman kuliah di Tarbiyah Jogja, Dewi Nofrita pulang ke kampung halaman di Bukit Tinggi.

Gencarnya Promo Jilbab di Instagram (IG)

Sejak instagram meledak pada 2014 hinggaĀ  sekarang,Ā  fashion muslim dan hijab berkibar di IG. Aneka hijab di jual dengan harga beragam dari 30 ribuan sampe 280 ribu beredar diĀ  kalangan toko online di IG yang mendapat pujian (endorsement) selebriti instagram (selebgram).

Ada satu akun yang sering aku jadi rujukan di IG namanya @heavin_lights. Jilbabnya keren dengan warna dan motif kekinian. Model andalannya adalah Mega Iskanti humas Wardah yang sangat elegan mengenakan aneka model hijab, baik pashmina, segi empat maupun syar’i.

Koleksi Jilbab Heaven Lights Motif

Akan tetapiĀ  kalau aku pesan tidakĀ  pernah kebagian karena akun itu kebanyakan milik ratusan reseller padahal aku cuma beli satu saja. Dari akun ini aku menemukan banyak model dan warna jilbab kekinian terutama warna pastel yang sebelumnya tidak aku kenal seperti dusty pink, mocca cappucino, green avocado, peach, baby pink dll.
Satu warna coklat, hijau atau pink saja sekarang turunannya bisa memiliki 4 sampai lima warna gradasi dari yang paling tua sampai paling muda dan warna soft (lembut). Meski tidak pernah antrian, akuĀ  dapat mengakalinya dengan menscreenshot dan mencari warna serupa di toko langganan. Beberapa aku dapat harganyapun murah dan tidak memakai ongkos kirim.

Warna mocca capucino, dan warna abu-abu (grey) serta warna lembut saat ini menjadi incaran setelah abu-abu, dusty pink, green mint dan pastel purple. Di IG HL warna ini laris manis dan jadi rebutan setiap upload yang pesen sampai antri seharian.

Warna Pastel Purple

Toko online HL yang sangat laris

Selain itu aku mengkritisi para artis yang menjual jilbab printing dengan harga tinggi seperti merk Mandja dan Ashanty, menurutku itu tidak bagus untuk persaingan dunia hijab. Jangan jadikan bisnis ini terlalu berlebihan mengeruk keuntungan.

Aku follow akun @kain_printing yang menjual harga jilbab printing aneka bahan. Di situ dia jual dengan harga 90 rb sampai 110 ribuan silahkan buka jika penasaran. Di sini anda bisa tahu modal jilbab printing artis kenamaan, dari biaya produksi 90 ribuan, para artis tenarĀ  menjualnya hingga di atas 200 ribuan, karena ditambahi merk kenamaan…wah…

Akan tetapi fenomena jilbab printing ini tidak tahu sampai kapan,yang jelas aku lihat responnya ramai di awal namun sepi belakangan padahal banyak outlet tersebar.

Sekarang orang berpikir dua kaliĀ  untuk beli jilbab mahal, karena sudah menjauh dari tujuan awal menutup aurat. Sebenarnya sah-sah saja itu dilakukan utk meramaikan dunia fashion hijab kekinian asal jangan terlalu berlebihan.

Saat kerja untuk acara 17 Agustus tahun ini di KC

Belum lama ini aku dapat jilbab oleh-oleh dari luar negeri saat Elin kuliah di Australia, berwarna biru dan abu, dan peach, motifnya lucu ada yang motif aneka garis dan kubus ada yang sangat aku suka, yaitu motif sepeda, setahuku ini jarang yang punya. Kakakku di Bantul sekarang berjilbab lebar, dia lungsurkan juga banyak banget aneka warna jilbab segi empat yang biasa dia pakai sebagai PNS, yaitu jilbab sifon dan jilbab batik sutra.

Mungkin itu saja pengamatan dan pengalamanku tentang dunia hijab. Foto yang aku tampilkan hanya menggambarkan variasi dan perkembanganĀ  model berjilbab tidak bermaksud pamer, hanya menjelaskan perkembangan model, tapi terserah juga jika ada yg berpendapat demikian.

Jilbab Paling Sering kupakai warna baby pink

Sebenarnya masih banyak cerita tentang pernik pelengkap hijab sepertiĀ  ciput, atau inner serta bross yang menjadi pemanis hijab.Waktu masih memakai pashmina aku suka mengkombinasikan dengan kalung etnik, dulu suka koleksi dan dibeliin Mas Arif saat dinas luar kota. Tapi sekarang sudah jarang aku kenakan.

Berkaitan dengan bross aku suka beli secara kebetulan di penjual keliling yang lewat, saat bazaar atau belakangan beli di kakak ipar Teh Neng A Iwan. Murah meriah harganya Rp.15.000 Dua minggu lalu baru saja menemukan bross cantik dari limbah plastik kresek kreasi ibu-ibu upcycle Depok. Wah ini keren sekali bagaimana pun sekarang era sustainability, mengolah sampah plastik menjadi bros cantik itu sangat keren.

Cerita selanjutnya tentang dunia hijab, jilbab, kerudung atau apalah yang aku pakai dan pernik lainnya. Saat menulis cerita ini di kereta jurusan Tanabang – Pasar Minggu baru. Aku menyadari dalam hal berpakaian aku adalah orang tidak konsisten, kapan hari bisa berubah santun dan sopan, tapi juga adakalanya juga urakan ya seadanya aja, sebenarnya tidak terlalu mengikuti mode juga, aku lebih memilih kenyamanan dalam berbusana dan berjilbab.

Selain IG untuk mixmatch kadang aku suka memperhatikan gaya hijab para penumpang kereta commuter sepanjang perjalanan Sudimara-Pasar Minggu Baru. Banyak inspirasi, apalagi jika duduk di gerbong perempuan itu seru dan menyenangkan.

Entah apa yang terjadi di masa depan dan entah model apa lagi hijab yang akan diminati dan kekinian.Terakhir aku lihat muncul jilbab brintik danĀ  jilbab printing motif bendera di status whatssapp (WA) sebuah toko hijab langganan, setelah itu entah apa lagi.

Sebentar lagi sudah mau sampai kantor tempat aku bekerja, cukup mungkin ceritaku ini, mohon maaf jika tidak berkenan.Semoga bisa di sambung lagiĀ  kapan-kapan.

Stasiun Tebet 12 Oktober 2017 pukul 08.48

Sejak Maret 2017, Saya hampir tidak pernah menulis di blog. Sangat malas dan tidak semangat. Bulan Juli sampai September sempat non aktif, karena ada sesuatu berdasarkan tracking dan menghilang sejenak dari google agar namanya tak muncul.

Kadang saya berpikir, saya terlalu show up atau pamer di blog, jadi adakalanya malu dan geli baca tulisan yang sudah lama, jadi lebih baik ditutup aja blog ini, kadang berpikir demikian.

Seiring berjalannya waktu dan kerjaannya menumpuk saya larut dalam rutinitas. Beberapa hari yang lalu, saya buka website detik.com dan ada tulisan tentang Filantropis Bill Gates yang baru-baru ini rajin ngeblog review buku….ya ampuun seneng banget bacanya. Secara saya sejak lama review buku di blog ini, tapi saya tidak pernah peduli ada yang baca atau tidak, tapi bagiku ini sangat menyenangkan.

Keponakanku Auliani Ekasari Putri dari Jogja juga tanya kok bibi blognya tidak aktif, akhirnya kemarin saya aktifin lagi.

Apa yang saya geluti sejak lama sekarang sudah banyak dilakukan orang. Saya salut dan sangat respek pada orang yang suka membaca atau pegiat literasi, meskipun kadang saya sendiri merasakan tidak semua orang suka membaca. Bahkan ada yang mengatakan saya terlalu teksbook dan kebanyakan teori, lebih baik banyak berbuat tidak usah terlalu lama baca buku, kata sebagian orang, yah bagiku itu adalah pilihan-pilihan kita dalam melakukan suatu kegiatan.

Salam Literasi Bersama Guru Berprestasi

Bagi saya membaca saat ini adalah suatu yang mahal. Duduk, meluangkan waktu dan menelisik lembar demi lembar itu sangat menyenangkan. Di tengah kerjaan yang menumpuk. Dengan membaca kita dilatih untuk berempati dan peduli dengan apa yang diceritakan penulis. Nah, itulah kekuatan literasi. Olah rasa, olah jiwa dengan bacaan. Dari situ kita akan merasakan suatu kepuasaan tersendiri dengan apa yang disampaikan penulis, setting cerita dan terbawa suasana. Apalagi jika bukunya bagus kita review supaya orang juga tahu apa yang kita baca mereka rajin membaca dan membeli buku yang kita punya.

Beberapa waktu yang lalu, dalam kurun waktuĀ  terakhir saya rajin mengunjungi Perpus Kemendikbud, Perpus UIN Jakarta, Perpus Kemenkes, Perpusnas, FKM UI dan terakhir Perpustakaan Bank Indonesia. Saya suka berlama-lama di perpustakaan, karena tuntutan pekerjaan, setelah lama di lapangan untuk liputan dan bahan penulisan, biasanya saya mencari referensi di perpus. Tapi saya lebih suka perpus yang ga ada wifinya jadi kita tenang bisa membaca sampai selesai. Nanti kapan-kapan saya akan cerita pengalaman selama 1,5 tahun mengunjungi aneka perpustakaan, ini seru dan mengasyikkan meskipun saya harus mengakhirinya karena harus ngantor lagi beberapa bulan belakangan.

di Perpustakaan Kemendikbud

Saat ini gerakan literasi sudah mulai menyeruak di berbagai lini, lingkungan sekolah misalnya, setelah berdoa diharapkan setiap murid membaca selama 10 menit buku cerita, itu yang diajarkan para guru untuk melatih murid agar senantiasa gemar membaca. Semoga kedepan orang akan semakin banyak membaca dan tentu saja, biasanya orang bisa menulis karena suka membaca. Jangan larut dengan hal-hal yang praktis luangkan waktu untuk menulis dan membaca.

di Perpustakaan Bank Indonesia

Pepatah mengatakan jika Sahabat terbaik adalah buku, ya buku bisa kita bawa saat susah senang dan melanglang buana kemanapun si penulis membawa cerita. Mencintai buku adalah mencintai ilmu pengetahuan, semakin banyak membaca semakin kita merasa bodoh. Disitulah kita menjadi tidak mudah terpengaruh dengan berita online dan berita hoaks yang bertebaran. Dengan membaca kita juga punya second opinion, referensi dan rujukan. Apalagi saya suka menstabilo kutipan yang memotivasi atau kata-kata bijak yang menyentuh hati. Bagi saya itu ibarat kita menemukan berlian di tengah pusaran padang pasir.

kutipan-kutipan seperti ini yang kusuka

Maka mari kita rajin membaca, menulis apa saja, menulis puisi, cerpen atau menulis di blog, atau opini selagi sempat. Jangan menulis status kebencian atau sikap nyinyir yang justru membuat orang tidak nyaman. Barbaik sangka sama orang, dan tidak menyimpan rasa dendam, maka hati kita menjadi lapang. Kita menulis, bekerja apapun yang kita lakukan diniati ibadah, tidak mengharap pujian manusia, karena yang berhak menilai diri kita adalah Tuhan. Salam Literasi.

Salam Literasi

Berikut saya tulis link yang membuat saya termotivasi untuk menulis di blog lagi, tidak jadi menutupnya.

Pejaten 7 September 2017

Salam Literasi

https://inet.detik.com/cyberlife/d-3629030/ternyata-ini-hobi-bill-gates-yang-membuatnya-pintar

Ternyata Ini Hobi Bill Gates yang Membuatnya Pintar

Fino Yurio Kristo – detikInet
Share 0 Tweet 0 Share 0 1 komentar
Bill Gates (Foto: Internet)

Jakarta – Bill Gates mengaku sudah kecanduan membaca sejak kecil. Itu adalah salah satu kunci kepintaran dan kesuksesan pendiri Microsoft tersebut. Tak sekadar membaca, ia bahkan juga sempat menulis beberapa review buku di blognya, Gates Notes.

Berikut wawancara singkat dengan Bill Gates yang menceritakan soal kecanduannya membaca, dikutip detikINET dari New York Times.

Seperti apa peran membaca dalam hidup Anda?

Membaca adalah salah satu cara utama bagiku untuk belajar dan telah kulakukan sejak masa kanak-kanak. Belakangan ini, aku memang mengunjungi tempat-tempat menarik, bertemu dengan para ilmuwan, dan menyaksikan banyak kuliah online. Tapi membaca masih tetap menjadi cara utama bagiku mempelajari hal-hal baru dan menguji pemahamanku.

Bill Gates

Apa yang membuat Anda memutuskan menulis review buku di blog?

Aku selalu suka membaca dan belajar, jadi kupikir akan bagus jika orang membaca sebuah review buku dan juga merasa terdorong untuk membaca dan membagikan apa yang mereka pikirkan dengan teman-temannya.

Salah satu alasan utama aku memulai blog memang adalah untuk membagikan pemikiranku soal apa yang kubaca. Jadi menyenangkan melihat orang menulis reaksi dan rekomendasi mereka di kolom komentar.

Bagaimana Anda memilih buku yang akan dibaca?

Melinda dan aku kadang saling bertukar buku yang kami suka. Aku juga mendapatkan rekomendasi dari teman. Setelah menyelesaikan buku yang bagus, aku sering mencoba menemukan buku lain karya penulis yang sama atau buku yang mirip tentang subyek yang sama.

Buku apa yang sering Anda rekomendasikan?

Aku membaca buku The Better Angels of Our Nature karya Stephen Pinker beberapa tahun lalu dan setelahnya langsung aku menemui Stephen untuk bicara padanya. Aku review buku itu di Gates Notes karena aku ingin orang lain membacanya, menyukainya dan belajar darinya seperti halnya diriku. Ini mungkin buku favoritku dan yang paling sering kurekomendasikan.

Apakah Anda juga membaca novel?

Aku memang tidak membaca banyak fiksi tapi pernah terkejut karena merasa sangat suka dengan novel berjudul The Rosie Project karya Graeme Simsion. Melinda yang pertama membacanya dan kadang membacanya dengan suara keras. Akhirnya, aku memutuskan untuk juga membacanya.

Aku mulai membaca novel itu pada jam 11 malam dan keterusan sampai jam 3 dini hari. Novel itu sangat lucu dan juga menunjukkan banyak empati bagi orang yang berjuang di berbagai situasi sosial.

Jika anda ingin membaca website pribadi Bill Gates, silahkan kunjungi http://www.gatesnotes.com

Pada bulan Agustus kemarin, alhamdulillah saya berhasil melunasi rumah cicilan di Pamulang Elok yang seharusnya 10 tahun menjadi 8 tahun. Alangkah bahagianya sekarang ini karena sudah tidak memiliki lagi cicilan tiap bulannya. Meski cicilan sebesar 1.250.000 tapi sekarang ini tanpa ada cicilan sudahterasa ringan. Cara pelunasan kredit rumah gampang kok, saya yang dulu membuka di Bank Tabungan Negara (BTN) BSD bisa melunasi di mana saja, saya melunasi di Bank BTN Pamulang. Saya membawa semua berkas ketika akad kredit dulu ke Bank BTN dan disana diberi bukti tanda pelunasan. Setelah lunas sehari kemudian saya dan mas Arif pergi ke Cikokol untuk mengambil sertifikat Hak Guna Bangunan. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengambil sertifikat HGB diantaranya KTP asli, bukti pelunasan dll. Harus dua kali kesana yang pertama ngasihin berkas yang kedua ngambil sertifikat HGB.

BTN Cikokol

BTN Cikokol

Setelah berkas lengkap di Cikokol, kunjungan kedua kita akan diberi satu bundel surat-surat lengkap rumah termasuk di dalamnya IMB (Izin Membuat Bangunan), sertifikat Hak Guna Bangunan, surat roya dari BTN dan bukti-bukti lainnya. Kalau ke BTN harus pagi2 karena antri, persyaratan kita dilihat lengkap dan jangan lupa bawa KTP asli dan surat berharga lainnya.

Setelah berkas dari BTN lengkap, maka berkas tersebut saya bawa ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Depok di Grand Depok City. Sempat muter-muter cari alamat BPN Kota Depok, karena kita gak tahu ternyata jauh banget harus 1,5 jam dari Pamulang lewat jalan Sawangan, tepatnya di komplek perkantoran kota Depok deket kolam renang dan pemadam kebakaran.

Kantor BPN Kota Depok

Kantor BPN Kota Depok

Sebelum datang ke BPN Depok saya riset di internet cara-cara ngurus sertifikat rumah sendiri dan ternyata kebijakan baru ada layanan sabtu minggu. Pada saat itu hari sabtu, kita berangkat jam setengah 10 ternyata sampai sana sudah setengah 12 dan harus kembali lagi besok minggu, kita melakukan pendaftaran dan mengisi form pengecekan berkas. Di koperasi BPN ada 3 macam map yaitu pendaftaran, pengecekan, roya dan peningkatan hak mapnya beda2 warnanya dan persayaratannya juga beda2, dan ketika saya tanya ke petugas saya harus ngisi form pendaftaran dan roya. Jika anda bingung, tanya saja persyaratannya sama petugas atau penjaga koperasi. Syarat untuk roya dan pengecekan itu beda-beda, tapi rata2 semua syaratnya sudah ada di berkas yang dikasih sama bank. Hari sabtu itu saya harus mengisi map untuk roya dan dimasukkan hari minggu.

Beberapa tahapan mengurus sertifikat

Beberapa tahapan mengurus sertifikat

Hari minggu saya datang lebih pagi, namun petugas di BPN Depok sepi hanya ada beberapa petugas saja, saya pun menyerahkan berkas dan mereka bilang dokumen roya akan jadi dalam seminggu. Jadi saya patuh saja dan membayar sejumlah dana untuk administrasi. Setelah itu tak lama pulang. Seminggu kemudian, saya kembali ke BPN dan berkas roya saya sudah selesai, lalu saya mengisi berkas di map pengecekan, setelah di cek ada biaya administrasi lagi tapi sedikit sih termasuk murah lah. Setelah tahap pengecekan selesai saya mengisi berkas peningkatan hak. Saya mengurus sertifikat peningkatan Hak Guna Bangunan (HGB) menjadi Sertifikat Hak Milik. Berikut saya lampirkan persyaratannya.

Berkas dan Persyaratan yang Harus disiapkan

Berkas dan Persyaratan yang Harus disiapkan

Berikut-berikutnya saya tidak pernah lagi datang hari minggu ke BPN Depok, saya lebih senang sabtu karena petugas lengkap dan seminggu kemudian setelah saya melengkapi berkas peningkatan hak, saya harus membayar lagi biaya administrasi dan jadilah sertifikat hak milik kita (SHM). Jadi alhamdulillah meskipun kita bekerja, hari sabtu dan minggu kita bisa ngurus sertifikat sendiri dengan biaya murah. Sementara itu jika kita ngurus ke notaris biayanya bisa mencapai Rp.2.500.000.

Saya bersyukur sekali dan mungkin ini adalah salah satu revolusi mental dalam bidang pertanahan. Terimakasih BPN Depok

Kebayoran Lama 7 Oktober 2015
Pukul 17:12

Setelah hampir tiga bulan sibuk dengan aktifitas kantor, akhirnya aku sempat juga nulis tentang jalan-jalan ketika lebaran kemarin ke Blitar dan Sukabumi di Mudik Lebaran 2015 atau 1436 H. Kami (aku sama mas arif) berangkat berangkat mudik ke Blitar naik kereta hari kamis 16 Juli 2015. Baru kali ini juga kita berangkat maleman takbir dan gak keburu sholat ied. Jauh-jauh hari kami memesan tiket tiga bulan yang lalu dan dapatnya pas maleman Takbir tapi gak papalah dari pada gak dapat tiket. Karena saking sulitnya dapat tiket, saya sama mas Arif duduk beda gerbong hehehe…

Sesampainya di Blitar kami dijemput sama Nanda dan Mbak Lilik dan langsung ke rumah keluarga besar kami di Banggle Kanigoro. Karena sudah suasana lebaran, kami cuma istirahat sebentar dan langsung silaturahmi dengan tetangga di sana, sorenya langsung ke makam.

Di depan rumah Banggle

Di depan rumah Banggle

Setelah keliling ke rumah tetangga, kami bercengkrama dengan saudara yang lama tidak ketemu. Esok harinya kita keliling ke saudara dari pihak almarhum mertua Moehjiddin dan Umi Sulaimah juga mengunjungi saudara kakak ipar, mertua ipar, kakak dan adik kandung mas Arif. Ada tiga mobil rombongan keluarga besar kami secara bergiliran mengunjungi berbagai tempat. Kami juga mengunjungi nenek dan para orang tua yang sudah lanjut usia. Selama dua hari berturut-turut kita berkeliling silaturahmi, tidak lupa juga mengunjungi cucu yang baru lahir. Sepulang dari sana kita kuliner makan bakso di kota Blitar.

Keluarga besar Moehjiddin

Keluarga besar Moehjiddin

Esok harinya kita wisata ke laut yaitu ke pantai Tambakrejo yang melewati gunung dan bukit di sebelah selatan kota Blitar.

Pantai Tambak

Pantai Tambak

Hari ketiga adalah reuni keluarga besar di daerah yang lumayan jauh dari kota Blitar. Reuni keluarga ini rutin tiap tahun diadakan dari keluarga adiknya almarhum mertua Moehjiddin. Senang sekali kumpul keluarga besar meski banyak yang gak saling kenal tapi acaranya guyub dan makanannya enak.

Pulang Reuni Keluarga Besar Trah almarhum Moehjiddin

Pulang Reuni Keluarga Besar Trah almarhum Moehjiddin

Sepulang dari reuni keluarga, malamnya kami langsung ke Malang ke rumahnya Mbak Lilik di Plaosan. Sempat jenguk saudara yang terkena musibah dan silaturahmi dengan tetangga di Pamulang Elok. Selama di Malang kami wisata kuliner rujak dan bakso bakar enaak banget.

Bakso Bakar Malang

Bakso Bakar Malang

Setelah sehari di Malang kami langsung pulang lagi ke Pamulang lewat stasiun Malang. Sesampainya di Pamulang kita cuma istirahat sehari dan besoknya langsung jalan-jalan ke kampung aku di Bantarkaret Sukabumi Jawa Barat. Kami mengajak keponakan main ke Salabintana.

Main di Selabintana

Main di Selabintana

Sungguh refreshing bener nih setelah capek mudik ke Blitar, hawa sejuk daerah Selabintana benar-benar membuat kami semakin fresh. Setelah jalan-jalan dan main bola di rumput hijau, kami pun pulang dan makan bakso di goyang lidah. Anak-anak, ponakan kami Aldi, Raihan, Najmi, Dani dan Sulthon pun gembira menyanyi sepanjang jalan.
Lebaran kali ini sungguh menyenangkan, alhamdulillah. Hari minggu sore tanggal 26 Juli kami kembali lagi ke Jakarta untuk kemudian menyambut kerja di esok hari…

Selamat Hari Raya Iedul Fitri terimakasih keluarga Blitar dan Sukabumi sampai ketemu tahun depan jika ada umur.

Salam

Arif dan Eva

Merangkai Makna di Usia 36

Posted: May 3, 2015 by Eva in Inspirasi, Jalan-jalan, Pribadi

Pada ulang tahunku yang ke-36, 2 Mei 2015 kemarin. Aku tidak merayakan makan-makan dengan suami aku seperti tahun-tahun sebelumnya. Kebetulan tahun ini aku merayakannya di Indramayu, berkenaan dengan tugasku yang sedang melakukan riset tentang perikanan tangkap dan Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra. Sungguh istimewa aku memaknai ulangtahunku kali ini karena banyak rencana kedepan yang akan aku laksanakan bersama mas Arif.

Seminggu ini aku melakukan riset untuk penulisan buku tentang koperasi di Pantai Karangsong Indramayu. Sejak hari Rabu, aku udah berkunjung ke muara dan tempat pelelangan ikan Karangsong.

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

Aku Lagi Kerja di pesisir Pantai Karangsong

.

Potensi ikan di TPI Karangsong memang luar biasa, bertonton dengan aneka jenis ikan seperti tongkol, tenggiri, kakap merah, ikan cunang, ikan manyung, ikan patin, ikan kembung dan lain-lain. Omzet perhari bisa sampai 1 milyar lebih.

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

aku diatas kapal yang baru turun dari berlayar

Hari Jumat, tepatnya 1 Mei 2015 aku jalan-jalan ke Pasar Mambo dan pendopo Kabupaten Indramayu sama pak Mamat, Sopir KPL Mina Sumitra, kota Indramayu memang tidak begitu besar, jadi kita mengitarinya cepat saja, keliling sebentar sebelum jadwal wawancara.

di Pasar Mambo

di Pasar Mambo

Setalah ke Pasar Mambo, saya mampir di Pendopo Kabupaten Indramayu, lumayan bagus pendoponya dan saya sempat berfoto-foto di sana.

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Di Depan Pendopo Kab.Indramayu

Pada hari sabtunya 2 Mei 2015, aku kembali ke TPI Karangsong untuk kemudian wawancara di Koperasi KPL Mina Sumitra, di hari ulang tahunku ini aku pagi2 di telfon mas Arif saat itu aku di pusat perbekalan, mendapat ucapan selamat dari Veni dan Mbak Ika. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku gak mau terekspose dengan facebook atau twitter ttg hari lahirku, cukup orang-orang terdekatku aja yang tahu bagiku udah sudah cukup. Menjelang makan siang aku disuguhi makanan khas Indramayu Gombyang Pindang Ikan Manyung.

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Gombyang Kepala Ikan Manyung

Usai wawancara, aku pulang ke D’ Nisa Guest House di Pasar Baru deket Sport Centre. Selama 5 hari menginap di sini cukup nyaman, tempat tidurnya enak dan pegawainya juga ramah-ramah. Kamar mandinya juga bersih.

di penginapan D'Nisa Indramayu

di penginapan D’Nisa Indramayu

Sore aku istirahat dan mencoba merangkum apa saja yang bisa aku tulis seharian di Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra. Habis Ashar, Eka atau Farikhatul Udkhiyah temenku waktu SMP di Sunan Pandanaran Telepon dan mengabari kalau dia mau mengajak aku jalan-jalan keliling Indramayu. Dia datang habis Isya bersama suami dan anaknya, akhirnya kita keliling Indramayu dan makan di Sport Centre. Alhamdulilah aku seneng dapat berbagi cerita dan sampai akhirnya aku pulang ke Guest House lagi hari sudah malam.

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Bersama Eka, temen di SMPN 30 Sardonoharjo Jogja

Aku bersyukur di hari ulangtahunku yang ke-36 ini terasa penuh makna. Setiap langkah dan usaha aku yakin bahwa harus hidup ikhlas dan konsisten dalam bekerja. Agar di hari-hari ulangtahunku di masa yang akan datang, akan lebih bermakna. Terimakasih aku ucapkan buat teman-teman dekat, keluarga dan terutama suamiku yang selalu support aku dalam kondisi apapun.

Terkadang aku masih serasa bermimpi jika Apa, ayah yang kucintai meninggalkan aku untuk selamanya. Ada rasa rindu dan haru di relung hatiku yang paling dalam mengingat kenanganku bersama beliau sepanjang usiaku. Yang selalu kuingat ayahku adalah seorang imam mesjid dan peternak ikan yang gigih. Kedisiplinannya melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah belum ada satupun yang mengalahkannya. Sebagai imam masjid dan Khatib Sholat Jumat, kehidupan ayahku sepenuhnya diabdikan untuk agama yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Apa sedang menulis Khutbah

Apa sedang menulis Khutbah

Nama lengkap ayahku Mualim Udin Jaenudin, lahir pada tanggal 3 Maret 1933, usianya saat meninggal 82 tahun. Usia panjang yang telah dia habiskan dengan penuh makna dengan membesarkan kesembilan anaknya. Sebagai anak bungsu, aku hanya sebentar mengalami kebersamaan bersama Apa yaitu waktu Sekolah Dasar. Setelah SMP hingga kuliah, aku lama di Jogja bersama kakakku dan jarang ketemu Apa. Tapi kenanganku yang sebentar sangat berkesan, menurut aq ayahku adalah orang yang paling sufi, nyaris tidak mempedulikan kehidupan duniawi, kesibukan sehari-hari adalah ibadah dan membaca Qur’an. Rutinitas sehari-hari selain ke mesjid adalah ngurus kolam ikan, bila menjelang idul fitri tiba di kampungku belum ada satupun yang berani mengganti imam shalat Iedul fitri, sepanjang usiaku Apa selalu menjadi imam besar Shalat Iedul fitri dan antrian orang yang ingin kambing atau sapi kurbannya di sembelih pada lebaran Iedul Adha.

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa dan Keluarga di Makam Emak

Apa adalah orang yang ikhlas luar biasa. Setelah ditinggal oleh ibuku (Emak Halimah) 30 tahun yang lalu, dia seorang sosok yang mandiri, dia selalu mencuci dan menyetrika bajunya sendiri, setrikaan yang dikerjakan pun sangat rapi dan setrikaan anak-anaknya gak pernah kepake. Ditinggal jauh oleh anak-anaknya merantau ke Jogja dia tidak pernah mengeluh dan terus berusaha. Selama ini ayahku juga jarang sakit, meskipun dia pernah dirawat beberapa tahun yang lalu karena pusing berputar. Ayahku juga seorang perokok berat, dan pernah dirontgen kalau paru-parunya udah kotor oleh asap rokok, tapi ayahku gak pernah mau berhenti merokok.

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Ayahku masih sehat, ketika pernikahan Novi

Gigi ayahku sudah habis dan semuanya sudah ganti gigi palsu. Ayahku juga kalau makan gak mau yang asal-asalan, dia maunya makan enak kayak daging dan ikan. Kami sebagai anak-anaknya berusaha memenuhinya. Aku menyadari betul setelah aku menikah aku jarang pulang ke Sukabumi, itulah yang aku sesali sekarang. Aku pulang kadang sebulan sekali, setelah Apa meninggal aku berasa sangat menyesal kenapa aku gak sering pulang dan lebih banyak memperhatikan Apa.

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Aku menengok Apa sebulan Sekali ke Sukabumi

Sekitar tahun 2013, apa mengeluh karena tidak bisa baca Alqur’an. Rupanya apa kena Katarak. Kami anak-anaknya menabung bersama untuk melakukan operasi katarak agar Apa dia bisa membaca Al-Qur’an. Karena setiap habis sholat dan Bulan Puasa ayahku tidak bisa lepas dari Al-Qu’an, kalau Ramadhan dia seminggu sekali Khatam Alqur’an. Setelah uang terkumpul, Apa malah tidak mau operasi katarak karena takut sakit dan sayang uangnya, tentu kami anak-anaknya kecewa, tapi itu pilihannya sehingga operasi katarakpun gagal digelar. Tidak lama setelah tidak jadi operasi, aku ditelfon kakaku di Sukabumi, bahwa Apa kena Herpes zoster (nama lain: shingles atau cacar ular cacar api). Cacar ini umum mengenai lansia, akupun pulang ke Sukabumi dan apa dirawat selama hampir dua minggu di Rumah Sakit Bunut Sukabumi.

Apa Kena Herpes Zoster

Apa Kena Herpes Zoster

Setelah sakit herpes, Apa semakin terpuruk dan kelihatan tak berdaya. Dia sering mengeluh sakit kepala yang tidak tertahankan. Aku pun mulai lebih sering pulang ke Sukabumi dan prihatin dengan kondisi apa. Setelah hampir setahun kena Herpes ayahku dirawat sama kakak-kakakku di Sukabumi. Rupanya sakit herpes yang dulu kena syaraf dan akibatnya apa sudah menjadi pelupa. Setelah melewati rawat jalan, berangsur-angsur apa mulai pulih dan keliatan kembali sehat.

Apa setelah sembuh dari Herpes Zoster

Apa setelah sembuh dari Herpes Zoster

.

Karena sering sakit-sakitan dan usia mulai senja Apa sering terbaring di tempat tidur dan hanya bisa pasrah. Tidak bisa ke mesjid dan tidak bisa membaca Al-Qur’an. Kami anak-anaknya pun merasa sedih melihat kondisi ini. Saya pun berusaha membesarkan hatinya dan berniat membuat kartu BPJS buat jaga-jaga.

Foto terakhir untuk BPJS

Foto terakhir untuk BPJS

Enam bulan berselang sejak kesembuhan dari Herpes zoster, ayahku sesak napas dan gak bisa makan. Kami sekeluarga kumpul dan bermusyawarah bagaimana baiknya demi kesembuhan apa. Ternyata setelah diperiksa dokter di RS Kartika Sukabumi, Apa mengalami pembengkakan jantung dan lambung, juga paru2. Akhirnya dirawatlah di RS Kartika selama dua hari. Tidak lama setelah dirawat, kurang lebih satu bulan, Apa meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Aku ditelfon kakakku jam setengah 3 malam dan langsung ke Sukabumi sama mas Arif, sampai rumah, Apa sudah dikafani dan dibacain yasin sama sanak keluarga. Apa meninggal pada 25 Januari 2015.

Di Pusara Ayahku

Di Pusara Ayahku

Selama tujuh hari, kami melaksanakan Tahlil dan Yasiin. Kesembilan anak berkumpul kecuali Teh Idah, kami semua berduka dan merasa sangat kehilangan.

Apa dan Emak

Apa dan Emak

Dengan meninggalnya Apa, kami sembilan bersaudara sudah tidak punya lagi ayah dan ibu.

kami yang berduka

kami yang berduka

Pada awal Maret, kami menggelar acara 40 hari di Mesjid Assyarifiyah Bantarkaret Sukabumi Jawa barat di tempat ayahku menjadi imam masjid dan mengaji. Alhamdulilah yang datang banyak, kami mencetak Yaasin dan bagikan paket makanan, diiringi ceramah. Kami pun berdoa semoga amal ibadah Apa diterima Allah SWT. Tiga hal yang saya ingat dari almarhum adalah Hidup itu harus Ikhlas, banyak beribadah dan jangan lupa mengaji. Selamat jalan Apa…Kami anak-anakmu, menantu, cucu dan cicit sangat mencintaimu.

Peringatan 40 hari

Peringatan 40 hari

Mulai awal Maret ini, aku kembali kerja. Tapi kantorku sekarang daerah Kebayoran Lama. Karena menghindari macet, saya dan mas arif naik kereta api atau lebih tepatnya commuterline dari stasiun Sudimara Ciputat.

Stasiun Sudimara

Stasiun Sudimara

Jarak dari stasiun Sudimara ke Palmerah kurang lebih adalah setengah jam, melewati jurang mangu, pondok kranji, kebayoran dan sampai di Palmerah.

Stasiun Palmerah

Stasiun Palmerah

Ada banyak cerita selama perjalanan naik kereta Sudimara-Palmerah. Di mulai dari yang berdesak-desakan, sampai kehilangan bross. Awalnya aku naik kereta campur dengan laki-laki, tapi setelah perjalanan kesini aku risi jika berdesak-desakan, maka akhirnya aku lebih memilih naik di gerbong wanita, lebih aman rasanya.

Biasanya kalau dari Sudimara itu penumpangnya penuuh banget, tapi kadang aku beruntung juga dapat tempat duduk. Kalau arah pulang juga demikian, saya lebih baik naik CL ke tanabang dulu biar dpt tempat duduk dan naik dari tanabang CL yang ke sudimara atau Serpong.

Ada banyak suka dukanya naik kereta, kadang seneng, kadang pegel karena berdesak-desakan. Tapi bagaimanapun juga CL adalah moda transportasi yang paling cepat dan bebas macet…

Januari Bulan Penuh Berkah

Posted: January 19, 2014 by Eva in Artikel, Pribadi, Rumah

Sudah hampir empat bulan tidak menulis di blog, sejak akhir September. Ada rasa kangen yang sangat untuk bisa menulis kembali, tetapi rutinitas telah membuatku malas untuk menulis. Bulan ini adalah bulan Januari dimana pada bulan ini mas arif ulang tahun pada dua Januari dan ulang tahun pernikahan kami yang kedelapan pada 15 Januari 2014.

Ulang tahun ke-38 2 Januari 2014

Ulang tahun ke-38 2 Januari 2014

Pada tanggal 15 Januari ini ulang tahun pernikahan kami ke-8, tidak ada perayaan istimewa, kami mensyukurinya dengan berdoa, semoga kami berdua tambah sehat, kekal abadi sampai maut memisahkan. Kami melakukan jalan-jalan ke Bogor awal bulan kemarin dan beli sepatu, aku sepatu pesta dan mas arif sepatu kerja di House of Donatello di Tajur Bogor.

IMG01452-20130706-1353

Cuma disayangkan usahaku di Amira Sport sepi banget, tapi alhamdulillah masih ada rejeki karena mas arif bekerja, sedikit banyak aku syukuri. Bulan ini Aku juga mencoba kebugaran dengan ngegym di Arhath Center Pondok Petir. Aku dibelikan sepatu reebok warna putih dan hitam mas arif di Athletics Foot Point Square agar aku rajin berolahraga.

Senengnya bisa ngegym

Hadiah Ulang Tahun

Posted: July 5, 2013 by Eva in Jalan-jalan, Pribadi

Sebenarnya aku pengen nulis di blog ini bulan Mei, tapi karena kesibukan dan berbagai hal akhirnya aku baru bisa nulisnya sekarang. Alhamdulillah di ulang tahunku bulan Mei kemarin aku mendapatkan banyak pelajaran dan diberi kesempatan jalan-jalan ke Cirebon dalam rangka walimatul ursy Ipit putra mang dudin.

Pada tanggal dua Mei malam aku dapat hadiah dari mas Arif sepeda wim cycle, gantiin sepedaku yang udah lama banget. Aku seneng banget karena mendapati sepeda ini sepulang dari toko pada malam harinya. Alhamdulillah dengan sepeda baru ini aku lebih sering olahraga dan sering kupakai untuk belanja kebutuhan dapur kalau pagi hari.

Sepeda

Sepeda Hadiah Ulang Tahun

Kemudian seminggu sesudah itu, aku jalan- jalan ke Cirebon, berangkat dari Jakarta Jum’at pagi. Siangnya mas Arif jumatan di Simpang Jomin dan kita makan siang di rumah makan Pring Sewu, lumayan enak meskipun harganya sedikit mahal. Usai makan di belakang restoran ternyata ada pantai, maka kita pun foto-foto dulu menikmati indahnya pantai utara.

pinggir pantai

dan Mas Arif pun berfoto diantara batu karang
mas arif pantai

Usai makan, saya pun dapat suprise party dari pring sewu yaitu sebuah lagu ulang tahun yang dinyanyikan dengan iringan angklung oleh satu grup musik yang khusus menyangi bagi yang ulang tahun.
Berfoto di depan Pring Sewu

Selanjutnya saya melanjutkan perjalanan ke Cirebon, sekitar jam setengah lima sampai di rumahnya teh Iva Sapuroh, istrihat dan makan sebentar disana untuk kemudian malamnya menginap di hotel Langensari Cirebon. Paginya kami berangkat ke rumah mempelai putri di arah perbatasan Kuningan dan lumayan jauh. Di sana ketemu keluarga besar Sukabumi.

Tapi sayang gak ada foto-fotonya, siang jam duaan kita pulang lagi ke Jakarta lewat tol, sampe rumah magrib deh alhamdulillah perjalanannya lancar. Sebagai tanda syukur atas karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT atas pertambahan usiaku, aku menggelar pengajian bulanan dan pesen empat macam kue. Kue Srikaya ama bu zuhri, kue lumpur ama ibu hardi, sisanya kue risol dan kue pastel aku pesen ke bu rizal.

Alhamdulillah, Aku bersyukur karena Allah memberi rezeki lebih dan semoga Allah senantiasa memperpanjang usiaku dan memberi kami rezeki yang berkah.

Jalan-jalan ke Puncak Pass Bogor

Posted: April 10, 2013 by Eva in Jalan-jalan, Pribadi

Sudah lama rasanya pengen jalan – jalan dan keluar sejenak dari rutinitas usaha sehari-hari, namun karena kesibukan yang tiada akhir saya dan mas Arif sangat jarang pergi ke luar kota, paling dua bulan sekali pergi ke Sukabumi.

Kebetulan pada hari Senin, 1 April 2013 ada Tante Titin Mufidah, adiknya mas Arif berkunjung ke rumah. Dia baru saja selesai ujian bahasa Belanda di kedutaan besar Belanda di Kuningan Jakarta dan berhasil lulus dengan nilai memuaskan.

Tepatnya pada hari rabu, 3 April 2013, kami bertiga berencana pergi ke Puncak untuk melepas lelah dan refreshing dari kepenatan. Pagi-pagi saya masak buat bekal di sana nanti, kami pun berangkat pukul 10 melewati jalur parung, Bogor, Tol Jagorawi dan jalan puncak.

Sepanjang perjalanan kami melewati aneka pemandangan dan alhamdulillah sampai lokasi tujuan, tepatnya di puncak pass perjalanan lancar tanpa ada hambatan. Sayangnya sampai lokasi turun hujan dan berkabut sehingga foto-foto yang kami dapat kurang bagus.

di Puncak Pass yang berkabut

di Puncak Pass yang berkabut

Meskipun demikian kami menikmati suasana puncak yang dingin, disertai penjaja kue gemblong dan beberapa pengunjung lain yang banyak berfoto di puncak pass, kami pun tak mau ketinggalan momen untuk foto-foto.

Mas Arif sama Tante Titin

Mas Arif sama Tante Titin

Setelah selesai foto-foto di puncak pass, tiba-tiba hujan turun deras, dan kami pun kembali masuk ke mobil dan turun ke tujuan berikutnya yaitu masjid Attaawun, sepanjang perjalanan, kebun teh sangat hijau dan indah seperti karpet terbentang.

Hamparan kebun teh

Sesampainya di Mesjid Attaawuun, kami berencana mau sholat dzuhur, tak di sangka mesjid ini baguus banget viewnya. Bangunannya dan pemandangan di sekitarnya juga bagus, di pintu masuk sebelah barat ada aliran sungai alami yang di kelilingi pojon-pohon seperti lukisan. Pemandangan ke atas maupun ke samping.

Aliran Sungai depan Mesjid

Aliran Sungai depan Mesjid

Kami sholat secara bergantian, selesai sholat kami keliling mesjid, dan ternyata ada jalan tembus di atas bangunan mesjid ini yang langsung tembus ke kebun teh, tanpa alas kaki, kami bertiga mendaki ke daerah dimana kebun teh berada, dan lumayan jauh sampai ngos-ngosan.

Mas Arif di Kebun Teh

Seger banget deh ternyata di sela-sela kebun teh tersebut, mas Arif, saya, dan tante titin juga ikut foto-foto karena pemandangannya bagus Tante Titin di Kebun teh

Setelah naik sedikit ke atas, kami kecapaian dan akhirnya turun, karena jalannya licin lumayan curam juga kembali menuju mesjid At-taawuun.

Berdua di Kebun teh

Setelah selesai foto-foto, kami lapar dan segera menuju ke mobil untuk segera membuka bekal, kami berhenti sejenak di kebun teh dan menyantap makan siang, namun tidak lama karena kata mas arif itu pas turunan, sehingga kami melanjutkan makan di jalan dan berhenti di depan villa milik MK.

Setelah makan, kami kembali pulang dan perjalanan pulang lebih lancar dan tidak macet. Namun sepanjang perjalanan kami terjebak hujan, untung mas arif bawa mobilnya pelan-pelan jadi kami selamat sampai kembali di rumah sekitar jam setengah enam. Alhamdulillah seneng banget jalan-jalan kali ini fresh banget dengan udara puncak, dan besok harinya sudah mulai kembali dengan kesibukan di Amira Sport

Sekedar Berbagi Kebahagiaan

Posted: February 14, 2012 by Eva in Pribadi

~danā€¦kebahagiaan akan berlipat ganda
jika dibagi dengan orang lain~
(Paulo Coelho dalam novel ā€œDi Tepi Sungai Piedra)”

Belakangan aku merasa ada yang rese ama blog aku jadi aku ganti nama saja dari bintanglaut, menjadi evarohilah.wordpress.com dan berharap orang tersebut tidak membuka blog aku lagi. Sesungguhnya aku menulis blog ini bukan ajang untuk menyombongkan diri, tapi hanya sekedar berbagi kebahagiaan dan kesedihan yang aku alami, sejak 2007 aku menulis blog ini memang tidak banyak orang tahu, karena aku bukanlah siapa-siapa, aku hanya perempuan biasa yang suka menulis itu saja.

Keinginanku untuk menulis di blog juga tidak rutin, sesempatnya ada waktu saja kalau sedang tidak ada pekerjaan, bukan semua hal aku tulis di sini, yang ringan-ringan dan menulisnya juga kalau sedang mood. Bahkan pada saat aku sakit tahun 2008 pernah setahun lebih aku tidak menulis blog. Jadi sesuai dengan ucapan Paulo Coelho kalau kebahagiaan itu akan berlipat ganda jika di bagi dengan orang lain.

Kalau kita berbahagia sendiri, maka tidak banyak yang akan kita dapat. Kebahagiaan berbeda dengan kesedihan. Kesedihan jika dibagikan (berbagi kesedihan), maka kesedihan itu akan berkurang. Akan tetapi kebahagiaan jika dibagikan (berbagi kebahagiaan), maka kebahagiaan itu akan bertambah. Kebahagiaan kalau dibagikan akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa.

Jadi mohon maaf jika ada yang mengatakan bahwa blog saya kesannya sombong, ya terserah itu pendapat subjektif pembaca, ada kalanya orang yang mengatakan bahwa orang lain sombong bisa juga itu dia iri, semoga kita semua terhindar dari sikap iri hati, sombong, dan tinggi hati. Semoga kita senantiasa tawadhu, karena apa yang kita miliki hanya milik Allah SWT.

Januari in Berry

Posted: January 27, 2012 by Eva in Pribadi

Hari kemarin, Kamis 26 Januari 2012, Aku berangkat kerja dengan suasana ceria. Karena hampir semua baju yang kukenakan warnanya pink fanta, atau berry. Belakangan aku suka sekali dengan warna ini, beberapa barang yang kupakai dan kubeli kebanyakan adalah warna itu.

Pagi-pagi semangat sebelum kerja

Pagi-pagi semangat sebelum kerja

Beberapa barang yang kubeli berwarna pink fanta, diantaranya yaitu pada tahun 2009, pertama kali saya punya baju warna berry saat saya beli bersama dengan jilbabnya di toko Cinta Damai Point Square, Baju ini sering saya pakai saat jalan-jalan ke luar maupun saat pergi bekerja.

Depan monas

Depan Monumen Nasional

Selain pergi ke Monas, saya juga memakai baju warna Berry ini ke Arena Pekan Raya Jakarta Pada tahun 2010. Meskipun pada saat pergi kesana saya kehilangan blackberry pertama, tapi alhamdulilah itu menjadi pelajaran berharga buat saya, agar lebih berhati-hati dalam menjaga barang.

Pameran Komputer PRJ

Pameran Komputer PRJ

Pada tahun ini juga saya membeli tupperware warna berry bersamaan dengan tasnya untuk di bawa kalau mau pergi jalan-jalan atau ke kantor bawa makanan. Tapi, karena di kantor di masakan, perlengkapan makan ini sekarang jarang dipake, kadang-kadang di bawa mas Arif ke kantor kalau dia berangkat buru-buru dan gak sempat makan di rumah

Tupperware Berry

Tupperware Berry

Aku juga punya baju berwarna berry pemberian dari temanku Anick HT saat ia jalan-jalan ke India. Baju itu agak jarang aku pake, tapi belakangan setelah aku punya daleman jilbab warna serupa aku mulai memadu madankannya.

Mampir di Toko Online Saqina.com

Mampir di Toko Online Saqina.com

Setelah baju, jilbab dan perlengkapan lainnya, pada awal Januari 2012, aku beli sepatu malindi crocs warna berry yang sudah lama kuincar. Pengen beli udah lama cuma baru punya duit kemarin itu untuk jatah sepatu crocs. Sekarang tiap hari selalu kupakai kalau bekerja, lebih ringan dan nyaman.

Sepatu Crocs Malindi Berry

Sepatu Crocs Malindi Berry

Suamiku sepertinya memperhatikan warna kesukaanku, suatu hari dia memberiku jaket dari Amira sport berwarna berry milik klub Juventus, aku suka banget deh, meskipun aku kurang menyukai klubnya.

Juventus Depan

Juventus Depan

Juventus Belakang

Juventus Belakang

Pada saat pulang ke Sukabumi, aku juga minta bross peniti warna pink fanta, yang dibuat oleh salah satu PKBM di Bekasi. Najmi yang mengkoleksi bross ini dan aku minta dua warna, warna ini dan orange.

Bross Peniti

Bross Peniti

Oh ya, aku juga punya tempat kosmetik warna berry polkadot yang aku beli di toko Elizabeth, Blok M Plazza. Aku suka sekali dengan tas ini karena selain multi fungsional, harganya juga terjangkau. Sekarang kalau aku pergi jauh selalu kubawa tas ini

Tas Kosmetik

Tas Kosmetik

Hikmah Enam Tahun Pernikahan

Posted: January 26, 2012 by Eva in Pribadi

15 Januari 2012 adalah ulang tahun pernikahan kami yang keenam, tentu anniversary kami ini sangat berkesan karena kami sangat bersyukur bisa melewati enam tahun dalam kondisi senang maupun susah. Banyak pengalaman yang telah kami lalui selama enam tahun perjalanan pernikahan kami, saling memahami sifat satu sama lain, menyelami kebersamaan dan saling pengertian juga kebahagian meniti hari- hari bersama.

Kalau mengingat sejarah, kami menikah di Sukabumi pada 15 Januari 2006, Pada saat itu dilaksanakan pesta yang sederhana dengan tamu yang merupakan teman dekat dan kerabat keluarga. Saya senang juga karena makanan saat resepsi cukup dan banyak tamu teman kantor dan teman mas arif datang dari Jakarta. Saat itu aku masih kerja di Pustaka Alvabet di Ciputat. Sebelum kami tinggal di rumah petak di Cirendeu, kami sempat ngekos dulu nunggu rumah petak jadi di bangun wah bulan-bulan pertama pernikahan kami melaluinya dengan banyak perjuangan.

pernikahan kami  15 Januari 2006

pernikahan kami 15 Januari 2006

Berikut aku kutip dari twitter Salman Aristo

Enam itu Angka kecil, Tanda muda. Bahwa Pemahamanku tentangmu masih belum penuh, maaf untuk itu (enam)

Pada tahun 2007, adalah setahun pertama, kami menikah. Pada Maret 2007, saya pindah kerja ke Reka Gagas Cipta di Kalibata, saat itu kami tinggal di komplek POLRI di lantai 2 rumah pensiunan polisi. Pada tahun ini juga kami mencari rumah dan menemukan komplek perumahan dengan harga terjangkau di Pamulang Elok, Depok. Tahun ini juga mas Arif mulai bekerja di Investor Daily. Suatu Keberkahan bagi kami bisa memiliki rumah setelah pada tahun ini. Kami merenovasinya pada Desember 2007 dan menempatinya bertepatan dengan ulang tahun mas Arif yang ke 32 Pada 2 Januri 2008. Sayang pada tahun ini aku menderita adenomiosis dan harus menjalani terapi agar mempunyai keturunan.

Enam itu arah, Menujuk angka-angka yang lebih lama. Sama denganku ingin menjaga dan mempertahankan kita (Enam)

Pada tahun 2008, adalah ujian terberatku di tahun kedua pernikahan. Aku sakit pada Juni 2008 tidak lama setelah aku berhenti dari pekerjaanku. Saat itulah aku merasakan cinta dan perhatian yang luar biasa dari suamiku. Aku hampir setahun sakit dan di rawat di Sukabumi, mas Arif mengunjungiku setiap minggunya, dan sebetulnya saat itulah aku merasakan kekuatan cinta yang luar biasa yang kami alami berdua. Masa-masa paling sulit seumur hidupku. Jika ingat kejadian ini aku suka menangis mengingat betapa besarnya perhatian suamiku sama aku dan aku semakin mencintainya dalam kondisi apapun. Tahun ini adalah tahun cobaan sekaligus tahun anugerah terbesar yang banyak mengubah hidupku

Enam itu genap. Memang. Sampai tahun berapa pun kita bersama, itu genap buatku (Enam)

Pada tahun ketiga, tahun 2009 aku kembali bangkit dari rasa sakitku dan tetap kontrol ke doktor setiap bulannya. Aku kembali bekerja di kantor lama dan meninggalkan rumah kami di Pamulang. Kami tinggal ngontrak di Kalibata agar dekat dengan kantor dan seminggu sekali pulang ke Pamulang. Saat itu juga aku mulai mencoba berbisnis meskipun kecil-kecilan. Perlahan tapi pasti kami bangkit dari segala keterpurukan yang kami alami di tahun 2008. Namun, tidak berlangsung lama, akhir 2009 saya berhenti bekerja dan total mengurus usaha.

Kami berdua di Kubah Emas pada 2009

Kami berdua di Kubah Emas pada 2009

Enam itu sesudah lima. Itu jelas sejelas keinginanku untuk tumbuh denganmu di tahun berikutnya. (Enam)

Pada tahun keempat, tahun 2010 saya total mengelola bisnis online di http://www.gerai-amira.com dan FB Gerai Amira. Saya keluar dari pekerjaan dan mencoba dunia usaha dengan menjadi guru ngaji untuk anak-anak di komplek Pamulang Elok. Suatu kebahagiaan tersendiri saat aku mulai usaha dengan modal yang aku ambil dari uang asuransi. Banyak customerku dari seluruh pelosok nusantara, dan saat itu media Facebook sangat efektif untuk jualan. Omzetku tiap bulannya naik dan alhamdulilah meskipun saya tidak bekerja saya merasa bahagia karena mendapat uang dari hasil bisnis dan malamnya bisa mengamalkan ilmu saya di kuliah dulu, menjadi guru agama, atau mengajar ngaji. Mas Arif juga mendukung kegiatanku dan dia senang aku mengajar ngaji, siangnya bisnis online. Suatu keberkahan hidup yang tiada tara.

Kami dan murid ngaji di Ragunan

Kami dan murid ngaji di Ragunan

Enam itu, bisa dibagi dua. Tiga. Tiga. Tapi buatku sulit ternyata. Sebab 6 tahun denganmu, itu utuh. (Enam)

Pada tahun kelima, tahun 2011 saya mulai bosan berbisnis dan akhirnya saya menyanggupi untuk menerima tawaran pekerjaan di kantor lama. Kalau dihitung-hitung sejak 2007, aku sudah tiga kali keluar masuk kantor. Tapi hubunganku baik dengan teman-teman kantor lama. Aku menerima tawaranku untuk bekerja lagi dengan catatan hanya tiga hari saja, karena aku masih mengurusi usahaku meskipun tidak seramai 2010. Pada tahun ini juga aku semakin menyadari jika dunia itu berputar. Mas Arif mulai mengambil alih usaha bisnis online, dia menggarap Amira Sport mulai Agustus 2011 usai lebaran. Alhamdulilah hasilnya sangat kami rasakan dan banyak perubahan yang kami alami dalam kondisi ekonomi kami. Pada tahun ini juga kami kembali berobat ke dokter maupun alternatif agar kami segera memiliki keturunan.

Enam itu, setengah lusin katanya. Saat ini buatku enam tahun denganmu melompati ukuran apapun. (Enam)

Pada tahun keenam, tahun 2012 kami menyambutnya dengan penuh suka cita. Awal tahun kami periksa ke dokter kandungan dan alhamdulilah aku bersih dari kista maupun adenomiosis. Tahun ini kami ingin segera punya momongan, bagus juga katanya punya anak di tahun naga air. Saya seperti biasa bekerja di MCC tiga kali seminggu, kali ini menjadi lebih semangat dan berusaha lebih disiplin. Oh ya alhamdulilah saya sudah bisa naik motor tahun ini, Saya berusaha tidur lebih cepat agar bangun pagi dan bisa masak sebelum bekerja, serta berangkat ke kantor lebih awal, di hari jumat sampai senin saya banyak di rumah mengurus usaha. Sebagai tanda syukur kami buat nasi kuning atas syukuran anniversary ke enam kami, semoga berkah dan langgeng selamanya. Amiin.

Semoga di tahun keenam ini kami bisa segera mendapat momongan, selalu bersama dalam suka dan duka, diberi kelancaran dalam setiap rencana dan rezeki yang berkah, serta di tahun-tahun berikutnya bisa menuliskan lagi kisah anniversary kami.

Salam,

Eva Rohilah dan Arif Syarwani

Kami Berdua Suka Bola

Kami Berdua Suka Bola

Jalan-jalan ke Lombok

Posted: August 2, 2011 by Eva in Jalan-jalan, Pribadi

Pada pertengahan Juli 2011, saya punya kesempatan untuk jalan-jalan ke Pulau Lombok. Sebuah pulau indah yang berada di dekat pulau Bali. Saya berangkat dari Jakarta pukul 11.40 dan sampai di lombok pukul 13.30, karena di Lombok sudah masuk WITA. Saya tiba di Bandara Selaparang

tiba di Selaparang

tiba di Selaparang

Selain jalan-jalan, salah satu kegiatan saya yang lain adalah mengikuti ajang jambore PTK PAUDNI yang dipusatkan di LPMP dan Asrama haji dan penutupannya di Universitas Mataram.

di depan LPMP

di depan LPMP

Puncak acara yang berlangsung selama lima hari ini adalah pengumuman para juara pendidik dan tenaga kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini non formal informal di Universitas Mataram. Pada malam yang sangat menentukan ini banyak juara baru yang terpilih dan dihibur oleh banyak artis seperti Hughes, Udin Sedunia dan lain-lain.

malam penutupan

malam penutupan

Usai acara selesai saya jalan-jalan ke pantai Senggigi, pantai yang ada di sebelah barat Lombok. Pantainya sangat indah dan banyak turis yang berkunjung kesana. Perjalanan saya ke Senggigi dari Mataram adalah kurang lebih setengah jam. Makanan di Lombok enak-enak dan murah serta melimpah.

Pantai Senggigi

Pantai Senggigi

Dalam perjalanan ke Senggigi ini saya ditemani mbak Yuni, temen dari SP Kinasih yang sudah dengan senang hati meluangkan waktunya menyusuri pantai Senggigi. Pengalaman di Lombok ini adalah pengalaman yang sangat berkesan dan saya sangat berharap suatu hari bisa kesini lagi bareng mas Arif.

Liburan ke Taman Wisata Matahari

Posted: March 24, 2011 by Eva in Jalan-jalan, Pribadi

Bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, pada 5 Maret 2011, kami di lingkungan komplek Pamulang Elok mengadakan Family Gathering dengan melakukan kunjungan ke Taman Wisata Matahari di Cilember Bogor. Kami bangun subuh karena jam 6 harus kumpul dan berangkat di pintu gerbang.

di bis

Naek bis kumpul jam 6

Karena macet dijalan, terutama di pintu tol jagorawi dan arah ke puncak, kita yang seharusnya nyampe jam 9, sampai taman matahari jam 10. Akhirnya kami turun dari bis dan berfoto dulu sama anak-anak.

foto dulu

Sebagian rombongan foto dulu

Sampe tempat lokasi hujan deras melanda, wah para tetangga lainnya yang gak bawa payung, kehujanan dan sibuk mencari tempat berlindung, akhirnya kita pun melanjutkan menuju lokasi berkumpulnya kelompok pamulang elok dengan suasana hujan gerimis, padahal lokasinya jauuuuuh banget. Sampai di lokasi sekitar jam 12 siang kita makan dulu menunya ayam bakar.

makan siang dulu di saung

makan siang dulu di saung

Usai makan siang, kita keliling naik berbagai wahana seperti air terjun, berenang, mobil safari, flying fox dan lain-lain aku sama mas arif naik wahana air dan mobil dafari

Kita naik wahana air

Kita naik wahana air

Oh ya disana juga banyak aneka jenis ikan yang dipelihara dengan baik. Kalau anda ke taman matahari ini siap-siap aja bawa baju ganti ya, jangan lupa. Karena pasti akan berbasah-basahan, apalagi kalau kena hujan jangan lupa bawa payung. Lebih menyenangkan lagi kalau bawa anak-anak, wah seru…

aneka macam ikan

Aneka Macam ikan

Setelah selesai naik wahana air, kita naik mobil safari keliling taman matahari, wah luas banget deh, tiap wahana disini bayarnya juga terjangkau. Habis itu kita pulang makan bakso dan beli oleh-oleh bunga kering. Puas banget main disana, kapan-kapan pengen bawa keluarga besar main lagi ke taman wisata matahari. Kami sangat terkesan dengan tempatnya yang sangaaaaaaaaaaaaaaat luas dan wahananya yang banyak dan tiketnya terjangkau. Jadi kalo liburan main ke taman matahari aja ya, jangan lupa bawa payung, baju ganti, jajanan dan uang yang banyak heueheue

menikmati liburan di wahana air

menikmati liburan di wahana air