Archive for the ‘Puisi’ Category

Catatan Biru yang Hilang

Posted: April 24, 2018 by Eva in Puisi

Adakah yang lebih menyakitkan
Mengambil Sesuatu yang Berharga
Dari orang yang tidak punya

Jika semua hal diukur dari status dan jabatan
Dimanakah Letak Rasa Kemanusiaan

25 April 2018 Pukul 01:04

Advertisements

Ibarat Daun

Posted: April 6, 2018 by Eva in Puisi

Ucapan ibarat daun
Sekalinya jatuh ke tanah
Tidak bisa lagi kembali ke tangkai
Akan terbawa angin…

Apalagi jika ucapan yang menyakitkan
Akan terus mengendap dalam hati
Meski sudah tidak terdengar lagi
Mengiris kalbu jika teringat…

6 April 2018, Pukul 16:03

Sudah sejak hari minggu
Kita terpisah ruang dan waktu
Ada sejumput rindu
Yang tersimpan di dadaku

Waktu terasa lambat berlalu
Masih ada dua hari lagi menunggumu
Kupandangi sebuah foto darimu
Sebagai rasa pelepas rindu…

3 April 2018
Pukul 09.55

Semalam aku bikin puisi
Karena rasa gundah hati
Mungkin tidak begitu berarti
Tapi aku menulisnya hati-hati

Hari ini senin pagi
Aku membuka mata menyambut mentari
Meski sempat ada tragedi
Tapi akhirnya aku bisa menahan diri

Aku menemuimu di Manggarai tadi pagi
Sudah lama tidak bersua kembali
Turun dari kereta setengah berlari
Aku memelukmu dengan sepenuh hati

Tidak terasa perjumpaan sekejap ini
Membuatku seperti tersiram kembali
Akan kenangan bersama tempo hari
Semoga suatu hari, kita bisa bertemu kembali

Jakarta, 26 Maret 2018
Pukul 14.39

Foto menanti kereta datang.

Aku menemuimu pagi itu
Gadis belia yang masih TK
Lincah gemulai tersenyum ceria
Sesekali bergelayut manja

Acha, kulitmu putih seperti ibumu
Matamu sipit seperti ayahmu
Namun bukan itu yang aku suka darimu
Aku justru suka gaya rambutmu

Rambutmu dikuncir dua
Saat kita berjalan bersama
Rambutmu bergoyang mengikuti irama
Senangnya aku melihatmu berdendang ria

Entah kapan aku bisa menemuimu lagi Acha
Mungkin kelak jika kamu dewasa
Jadilah gadis yang berbakti ya Nak…
Seperti harapan ayah bundamu yang masih muda

Puisi  buat Azcha Arivya Myiesha di Serang

Kehilangan

Posted: March 21, 2018 by Eva in Puisi
Tags: ,

 

Ibarat awan di langit angkasa
Satu persatu perlahan mengembara
Kadang timbul, kadang tidak ada
Itulah dirimu yang enggan menyapa

Ada rasa bersalah dari hati yang terdalam
Meski rasa ini kusimpan dalam-dalam
Semoga tidak menjadi api dalam sekam
dan kamu pun tak menyimpan dendam

Biarlah kamu pergi bersama awan-awan itu
Seperti saat dulu kamu belum bersamaku
Saat-saat masa aku berjibaku
Dengan segenap rasa sakit yang menderaku

Aku tahu aku tak pernah meninggalkanmu
Tapi jika kamu ingin meninggalkanku itu
Adalah hakmu, pilihan hidupmu
Aku pun tidak akan mengganggu

Biarlah aku disini dengan sejenak menepi
Mengamatimu dari jauh sambil menyendiri
Maafkan aku sepenuh hati
Biarlah aku tenggelam bersama puisi

Puisi untukmu Sahabat
Jakarta, 21 Maret 2018

Lelaki Bertongkat Kuning

Posted: March 14, 2018 by Eva in Inspirasi, Puisi

Seorang lelaki tua
Berkacamata dan bertopi hijau
Tampak kelelahan
Duduk di kursi busway

Tangan sebelah kirinya
Memegang tongkat berwarna kuning
Sebuah batu akik biru
Menempel di jari kelingkingnya

Sesekali kepalanya bersandar
di kursi busway berwarna biru
Namun, sekejap kemudian terbangun
Melihat sekitar, terkantuk lalu bangun lagi

Meski alunan lagu di busway
terdengar merdu
Bapak tua ini tetap saja termangu
Tertunduk lesu di tengah bis yang terus melaju

Pagi di Gambasan

Posted: March 8, 2018 by Eva in Artikel, Puisi

Dinginnya pagi menahanku
Untuk beranjak dari tidur malamku
Membuka mata aku pun termangu
Memandang indahnya ciptaanmu…

Aku menunggu matahari terbit
Dari balik pintu yang berderit
Indahnya merapi di balik bukit
Seperti rinduku yang usai dijahit

Gambasan, 9 Maret 2017

Diam

Posted: February 23, 2018 by Eva in Puisi

Perawakannya gempal dan beruban

Menyetir dengan fokus ke depan

Melaju kencang menerobos jalanan

Usai turun hujan

 

Mikrolet hijau ini berebut jalan

Dengan truk dan beragam kendaraan

Lampu berkilauan di sepanjang jalan

Kian lama kian benderang

 

Aku duduk di kursi depan

Melihat kiri kanan

Akan tetapi Bapak sopir mikrolet ini

Tetap diam sampai tujuan

 

Tak sepatah katapun terucap

Kecuali lokasi tujuan penumpang

Baginya diam adalah pilihan

Bisa jadi diam adalah perlawanan

 

Kebon Nanas-Serpong

23 Februari 2018

Pukul 21.06

Berpikir Positif

Posted: November 6, 2017 by Eva in Agama dan Spiritualitas, Puisi

Berpikir Positif

Akan Percuma Segala Kebaikan
Jika ada Sedikit Saja Dalam Hati Kita
Rasa Benci.

Jika Kita Membenci Sesama
Berarti Kita Telah Membenci
Terhadap Siapa Yang Menciptakan
Kita

Tuhan Menciptakan Kita Sedemikian Rupa
Sangat Sempurna Dengan Segala Kelebihan dan Kekurangan
Lalu Kenapa Kita Membenci Sesama Mahluk Ciptaan Tuhan
Apa Yang Kamu Inginkan

Kita Tidak Bisa membuat orang lain menjadi seperti
yang kita inginkan
Karena Tuhan Menciptakan
Setiap Manusia Memiliki Keunikan
Semoga Kita Selalu Bekerjasama dalam Kebaikan
Saling peduli dan tolong menolong.

Benih Kebencian adalah Merasa Diri Paling Benar
(Truth Claim). Hal ini telah memicu kecurigaan dan prasangka buruk
pada orang lain. Kita Semua Harus Sadar
Bahwa Kebenaran yang Mutlak Adalah Milik Tuhan.

Mari Tebarkan Rasa Cinta dan
Berpikir Positif Terhadap Sesama.

Renungan Menjelang Deadline
Pamulang 6 november 2017
Pukul 20.53

Posted: October 13, 2017 by Eva in Humaniora, Inspirasi, Puisi

Just The Way You Are

Jadilah Diri Kamu Apa Adanya
Tidak Pura-Pura Berpunya
Tidak Juga Menjadi Miskin Peminta-Minta

Karakter Orang Adalah
Watak, Watuk dan Wahing
(Watak, Batuk, Bersin)
Sudah dari Sananya
Lewat Pembiasaan, Keluarga dan
Lingkungan Pergaulan
Semua Akan Berubah Menjadi Lebih Baik
Atau Sebaliknya

Jika Kamu Sukses Atau Tidak
Biar Orang Lain yang Bicara

Jakarta
13 Oktober 2017

Ketika Adzan Ashar Berkumandang

Posted: September 14, 2017 by Eva in Puisi

Ketika Adzan Ashar Berkumandang

Ada Banyak Momen Bersejarah
Ketika Adzan Ashar Berkumandang
Saat Aku di Rumah Sakit di Sukabumi
Pada Tahun 2009
Aku Tersadar Setelah Sakit Berbulan-bulan
Aku Seperti Terbangun dari Mimpi Panjang
Saat Aku Membuka Mata, Siuman
Saat itulah Berkumandang Adzan Ashar.

Beberapa waktu berlalu
Aku Berdebat dengan Orang Terdekat
Sangat Panjang tentang Silaturahmi, Etika Bertetangga
Dan juga Adab dalam pergaulan
Menyangkut Semua Kebiasaan dan Tata Krama
Dalam kehidupan Kemasyarakatan, Dikupas juga Habis-habisan
Semua selesai dan berdamai setelah Adzan Ashar Berkumandang

Sejak semalam aku dibantai habis-habisan
Berkaitan dengan Kinerja dan Kompetensiku di Perusahaan
Aku Senang Mendapat Masukan, Meski sangat menyakitkan
Seminggu Belakangan, Aku memang kerja kurang fokus
Berturut-turut dapat berita duka dari sahabat, kerabat dan teman
Dalam Seminggu Meninggal tiga orang, karena Kanker,
Jantung dan Darah Tinggi..

Aku sangat Ketakutan dan Sulit Membayangkan, Sampai Akhirnya Aku Sadar…
Pada Akhirnya Kita Semua Akan Berjuang dan Meninggal Sendirian
Suami, Anak, Harta, Sahabat Semua Akan Kita Tinggalkan
Aku Baru Sadar Bahwa Kita Jangan Terlalu Mencintai Berlebihan
Di usiaku sekarang 38 Tahun, Aku Sudah Harus Banyak Memikirkan
Bagaimana Cara Aku Menghadap Tuhan.

 

Kesedihanku Akan Kehilangan dan Juga Masalah Pekerjaan Berakhir Hari ini
Dengan Satu Kesadaran Bahwa Apa yang Kita Miliki
Semua adalah Milik Tuhan
Aku Berusaha Menghilangkan Ego dan Keinginan
Yang Kadang-Kadang Muncul dari Bawah Alam Sadar
Seketika Menjadi Terang Benderang
Entah Selamanya atau Sesaat, Mungkin Aku Akan Menghindari
Bertemu Teman-teman, sahabat atau kerabat
Entah Sampai Kapan Adakalanya Aku Hanya Ingin Sendirian
Berkumpul dengan Pasangan Atau Orang-orang Terdekat Saja
Bukan Sombong Atau Apalah Tapi Memang Sedang Menghindar dari Kegaduhan
Aku juga Baru Menyadari, Semua Kelemahan dan Kekurangan
Yang Aku Miliki, Saat Hati ini Berbisik Pelan…
Bahwa Aku sekarang Harus Banyak Diam
Tidak Usah terlalu banyak Mengungkapkan
Teruslah Bekerja Keras dan Berprasangka Baik Sama Orang
Mempersiapkan Masa Depan dan Juga Akhir Kehidupan
Saat Aku Menyadari Semuanya
Saat itulah Adzan Ashar Berkumandang…

Pejaten 14 September 2017
Pukul 15.40 WIB