Archive for the ‘Rumah’ Category

Ketika pulang dari Taman Wisata Sumberasri Bukit Teletubis, saat pulang perjalanan cukup lancar. Melalui jalan yang lebih halus dibanding ketika berangkat, jarak yang  ditempuh pun lebih cepat.

Setelah melewati Taman Wisata Candi Penataran, yang ramai pengunjung di hari Sabtu ini. Tepatnya sebelum pertigaan, saya melihat ada sebuah warung yang menjual aneka peralatan masak dari anyaman bambu seperti tampah buat menyimpan sayuran, wadah mencuci beras, dan saringan untuk mencuci sayuran atau memeras kelapa parut menjadi santan kelapa. Kalau bahasa Sunda namanya “Ayakan”.

Sudah Lama Ditinggalkan

Cukup lama saya memilih dan mengamatinya aneka peralatan masak tersebut yang sepertinya menumpuk dan jarang dibeli masyarakat karena sudah tergantikan dengan peralatan plastik.

Tidak hanya di sini, di daerah lain juga sebenarnya sama, banyak yang membuat tapi masyarakat sudah jarang menggunakannya.

Selain tiga peralatan itu masih ada barang lainnya dengan bahan dasar yang sama seperti topi bundar dari anyaman bambu, wadah sampah, tempat bumbu, caping, parutan kelapa, cobek dan lain sebagainya. Harganya pun sangat terjangkau.

Di Sukabumi, Bandung, Tasikmalaya dan daerah Jawa Barat lainnya juga ada yang membuat dan menjual kerajinan seperti ini, namun berbeda nama dan cara membuatnya serta fungsinya.

Semoga kelak peralatan masak dari anyaman bambu ini kembali digemari masyarakat.

Jika teman atau kerabat pulang dari Candi Penataran atau Bukit Teletubis, silahkan mampir  membeli oleh-oleh peralatan masak untuk keperluan memasak di rumah. Bisa di beli di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar dan sekitarnya.

17 November 2018
Pukul 15.25 WIB

Advertisements

Hujan Deras, Bumi Basah

Posted: November 9, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah
Tags:

Hari ini apakah di tempat anda turun hujan? Di sini hujan turun sangat deras dan lebat. Awan mendung kehitaman dan suasana mencekam tadi siang.

Bahkan petir pun bersahut-sahutan. Meski deg-degan karena tidak seperti biasanya saya mengabadikan peristiwa turunnya hujan ini.

Saya tidak menyangka, hujan yang biasa saya rindukan tadi agak sedikit mengerikan. Meskipun usai reda saya merasa sangat gembira. Melihat bumi yang basah, dedaunan pohon mangga, jeruk, belimbing di belakang rumah sangat segar, diiringi gemericik hujan.

Kamis, 9 November, 2018

Saat masih kost di daerah guru alif, duren tiga Jakarta Selatan, saya punya banyak cerita menarik. Saat itu saya indekost di tempatnya Sunariyah, teman lama asal Lombok kenal saat dia masih kerja di YLKI.

Kost tempat saya tinggal adalah milik seorang pengacara, namanya lupa, istrinya  cantik dan bekerja. Mereka punya anak tunggal yang lucu, gendut dan menggemaskan. Anaknya masih SD saat itu, yang diasuh oleh Mbak Ratmi yang juga pengelola kost-kostan.

Kami yang tinggal disitu ada beragam suku dan agama. Pekerjaan juga beda-beda. Ada yang bekerja di media, di mangga dua, kontraktor hingga pendeta perempuan.  Seperti biasa kami saling kenal satu sama lain dan saling menyapa dan peduli satu sama lain jika waktu pulang bekerja.

Kamar mandi di sana ada dua, dua-duanya untuk umum. Namun, di sana ada seorang perempuan paruh baya, berambut pendek hitam manis. Baik orangnya dan tegas. Sebut saja namanya Bu Santi, dia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di bilangan Blok M anaknya pun sudah besar. Tapi dia lebih senang tingga di guru alif daripada di rumah sendiri karena sibuk dan sering banyak lembur.

Jika saya dan teman – teman lain gantian menggunakan kamar mandi, tidak dengan Bu Santi. Dia selalu memakai kamar mandi yang sebelah barat, sampai teman-teman kost yang lain sungkan memakainya.

Tidak ada masalah sebenarnya dengan kamar mandi, karena jam kerja kami berbeda. Di sana saya senang punya banyak teman dengan aneka watak berbeda, dimana saya waktu itu kerja di Ciputat naik bis 57, lanjut P20 dan naik angkot D2 ke Plaza Mas Ciputat. Beberapa teman kost lain yang bekerja di daerah Kota, menggunakan kereta api dari stasiun Kalibata.

 

Waktu itu tahun 2004, ya sama bulan November. Berarti sekitar 14 tahun yang lalu kenangan terhadap Bu Santi dan kebiasaan teman – teman kost lain masih melekat dengan cerita lucu dan sebagainya.

Satu hal yang saya ingat dari Bu Santi itu kebiasaannya setelah mandi itu selalu menyikat sampai bersih gayung yang sudah dipakainya.  Dia sangat ekstrim terhadap kebersihan kamar mandi. Jika ingat kadang aku suka tertawa geli sampai segitunya ya, dia sangat bersih memelihara peralatan mandinya. 

Ini menjadi pelajaran berarti buat saya. Jadi sekarang, setiap lihat gayung di kamar mandi, saya selalu ingat Bu Santi hahaha….. Begitu juga masa-masa indah di gang guru alif duren tiga.  Itulah sedikit kisah lucu di selatan Jakarta.

Koleksi Umum Perpustakaan Bung Karno,

6 November 2018

Pukul 10.25

 

Kegembiraan tiada terkira dialami seluruh petani dan kita semua saat hujan deras turun tiada henti dua hari kemarin.

Selain tidak usah menyiram tanaman, hawa sejuk iklim kita membuat hati ini nyaman, dan tenang.

Esok paginya saat membuka jendela, titik embun menyisakan suasana yang membuat hati ini terpana.

Embun – embun yang menempel di dedaunan pohon jeruk, bunga yang baru saja mengembang, bulir-bulirnya sangat menyegarkan.

Selamat hari rabu teman-teman semua, mari kita mengawali pagi ini dengan semangat bekerja, dan hati gembira. 💐🌼🌸

Rabu, 6 November 2018

Pukul 07.02

Selamat pagi ibu-ibu yang suka masak. Apakah pernah lupa matiin kompor karena sesuatu hal saat anda memasak atau memepes, merebus sayuran atau ikan. Lantas peralatan masak anda hangus atau gosong.

Jika anda pernah mengalaminya jangan khawatir, lakukan langkah berikut ini dengan kalem saja jangan panik.

Pertama rebus air hangat, masukkan dalam alat rumah tangga yang gosong, lalu masukkan cuka secukupnya. Rendam cukup lama berhari-hari, saya sudah pernah 4 hari. Diamkan amati biar perlahan – lahan ngelupas gosongnya berarti panci atau wajan anda masih bisa dipakai. Sikat pake sendok kecil bagian hitamnya sedikit-sedikit hingga menghilang.

20181031_135659

Jika sudah mengelupas gosongnya bisa anda cuci bersih memakai sabun pelan-pelan sampai bersih benar. Wajan ataupun panci bersih kembali.

Akan tetapi jika memang tidak bisa, berarti gosongnya parah panci atau wajan anda tidak bisa diselamatkan.

Selamat masak ya ibu-ibu jangan terlalu besar apinya jika memasak atau menggoreng, hemat gas dan jangan ditinggal pergi jika sedang memasak.

Salam

31 Oktober 2018
Pukul 07.56

Bulan Bersinar di Pagi Hari

Posted: October 26, 2018 by Eva in Rumah
Tags:

Apakah anda pernah merasa aneh, ketika bangun pagi melihat ke langit sebelum fajar dan matahari terbit di sebelah timur, anda menengok ke bumi bagian barat masih ada bulan bersinar terang.

Itulah yang kurasakan pagi ini. Pukul 04.50 atau jam lima kurang sepuluh, di belahan bumi bagian barat masih ada bulan yang bersinar terang dan sempurna. Di tengah langit biru, abu-abu dan semburat lembayung. Sungguh saya takjub dengan anugerah Yang Maha Kuasa.

Saya tidak menyangka jika bisa melihat sinar bulan di pagi hari  dan mengabadikannya. Terburu – buru saya pun menutup gawai dan masuk ke dalam rumah.

Jum’at 26 Oktober 2018

Pukul 07.01

Kompor gas yang saya miliki sudah lama, sekitar 12 tahun. Sudah lama saya sering bermasalah dengan karat dan lemak yang menempel sulit dihilangkan. Tidak seperti kompor model baru yang bahan dasarnya bening dan mudah dilap, kompor ini warnanya hitam pekat.

Dulu suka saya sikat, cuma kadang sakit sampai pegel apalagi kalau nyentuh ujung-ujungnya jeruji yang buat nyala api. Nah, belum lama ini saya menemukan cara cepat menghilangkan karat.

Rebus air secukupnya hingga mendidih, lalu anda masukkan asam sitrat. Rendam  tatakan jeruji itu sekitar 3 – 5 jam. Diamkan cukup lama. Setelah itu sikat pelan-pelan pakai sikat gigi bekas. hingga karat yang membandel mengelupas. Jangan pakai sabun ya…

Nah jika sudah bersih, lalu jemur di panas matahari dan coba lihat. Karatnya bisa hilang tidak? Selamat mencoba ya, semoga bermanfaat terutama buat ibu-ibu yang suka memasak..

Kanigoro, 25 Oktober 2018

Pukul 18.16 WIB

Ketika Matahari Beranjak Naik

Posted: October 24, 2018 by Eva in Inspirasi, Rumah
Tags:

Semangat menyambut hari kamis teman-teman. Saya sangat bahagia tiap hari hujan terus meski sebentar. Tiga hari berturut – turut kemarin hujan memberi kesejukan bagi bumi yang sudah lama kering.

Ketika hati kita bahagia, maka apapun yang ada di depan kita terlihat istimewa. Seperti cahaya matahari yang mulai terbit menyinari pagi yang cerah.

Rencanakanlah hidup anda sebelum direncanakan orang lain. Selamat beraktivitas sahabat semuanya. Semoga rencana kita hari ini berjalan lancar.

Blitar 25 Oktober 2018

 

Jika anda memiliki barang yang mudah pecah atau retak karena tidak sengaja terjatuh atau karena air suhu tinggi saat dipakai merebus, maka anda jangan langsung membuang atau tidak memakainya lagi keramik atau tembikar itu.

Karena selain barang yang terbuat dari tanah liat itu rapuh dan  memiliki nilai seni tradisional pembuatnya, barang tersebut juga sangat bermanfaat.

Contohnya tembikar retak dibawah ini karena kepanasan usai menampung air panas saat menggodok daun. Cukup lama didiamkan, beberapa waktu yang lalu saya mengoleskan putih telur di dalam dan diluar. Setelah itu saya jemur.

Namun, tidak puas dengan putih telur. Saya mencoba dengan satu cara lain agar  tembikar ini benar-benar rekat dan menyatu, sehingga besok bisa dipakai lagi. Hari ini saya mencoba mengoleskan agar-agar dan cuka untuk memperbaiki keretakan tembikar.

Pertama-tama ambil satu bungkus agar-agar. Lalu campur dengan tiga sendok cuka. Lalu aduk-aduk hingga membuat satu adonan. Lalu oles-oles ke dalam tembikar yang pecah atau retak.

Jika sudah dioles, langkah berikutnya adalah jemur dalam cuaca panas atau terik matahari hingga mengering.

Silahkan mencoba ya, jaga perabotan anda dengan baik dan hati-hati menyimpan peralatan rumah tangga.
23 Oktober 2018

Ketika bangun pagi ada banyak hal yang kita lakukan selain aktivitas rutin. Namun kemarin pagi terasa tidak biasa karena saya bisa menyaksikan momen istimewa yaitu menyaksikan fajar menyingsing sebelum matahari terbit.

Sekitar  pukul lima pagi lebih sedikit, cuaca masih agak gelap, semburat fajar berwarna jingga memenuhi langit. Warnanya hampir sama dengan lembayung senja ketika matahari terbenam itu kesan pertama kali saya melihat munculnya fajar pagi  menyambut kehidupan.

Warna orange keemasan sangat indah berpadu dengan langit yang masih gelap dan putihnya awan menjulang di angkasa.

Saya merasa sangat bersyukur bisa melihat fajar pagi, menyambut matahari terbit dan siap menjalani hari-hari yang panjang.

22 Oktober 2018

Pukul 06.38

 

Embun Pagi Sisa Hujan Semalam

Posted: October 21, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah
Tags: ,

 

Semalam saya terjaga tengah malam. Ketika hujan turun deras namun sebentar. Saya langsung keluar rumah dan sangat gembira setelah hampir dua bulan hujan jarang turun.

 

Saat subuh tiba, taman depan rumah bersukacita. Embun pagi hinggap di setiap dedaunan dan kelopak bunga. Pagi ini saya semangat dan gembira.

Selamat hari minggu….

 

Bunga Kamboja Merekah Manja di Hari Kamis

Posted: September 26, 2018 by Eva in Rumah
Tags:

Minggu ini sangat melelahkan, saya capek banget dari kemarin mengurus ini itu berkaitan dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya.

Tahu-tahu sudah hari kamis saja, aduh kok cepat banget ya besok sudah Jum’at dan akhir pekan pun akan datang.

Mari kita sambut hari kamis ini dengan semangat, ke depan ada banyak tulisan yang akan saya upload, tapi masih dalam proses perencanaan. Semoga bisa terlaksana sesuai jadwal.

Selamat hari kamis yang sahabat WP yang manis. Aku kirim bunga kamboja yang merekah manja di pagi yang ceria ini…

27 September 2018 Pukul 06.05

Bulan Merah Jambu

Posted: September 25, 2018 by Eva in Pribadi, Rumah
Tags:

20180925_191113-1

Malam ini saya tidak sengaja memperhatikan rembulan yang terlihat bulat sempurna di sebelah timur rumah di atas langit malam yang dingin tanpa gemintang.

Sudah hampir dua minggu tidak turun hujan membuat saya kangen dengan nuansa dingin rintik hujan di sore hari atau hujan pagi – pagi yang membuat kita tarik selimut dan malas bekerja

Meskipun demikian suasana di kampung Mas Arif lebih syahdu  malam ini. Kebetulan saya di rumah sendiri.

Saya pun mendengarkan lagu “Tak Bisa ke Lain Hati” yang dinyanyikan Kla Project terdengar mengalun dari USB yang terhubung dengan televisi.

25 September 2018, pukul 19.44

Resensi Buku

Judul: 200 Ide Kreatif Seputar Rumah

Penyusun: Hotman Siahaan dan Rahma Yulianti

Penerbit: Pustaka Rumah, Jakarta

Edisi: Oktober, 2007

Saya membeli buku ini saat awal-awal pernikahan sekitar tahun 2007-2008. Sudah cukup lama, namun selalu saya simpan dan hanya beberapa saja saya praktikkan. Namun, sekarang ini setelah saya pindah ke Blitar dan tidak ada pekerjaan yang membuat saya dikejar-kejar deadline saya merasa buku ini sangat berguna di saat saya punya banyak waktu mengurus rumah dari hal terkecil seperti menghilangkan noda bekas teh di gelas hingga menyiram tanaman dari sisa air teh atau air bekas mencuci piring.

Karena pada dasarnya kita ingin mengembalikan apa yang berasal dari alam kembali ke alam dengan cara yang paling sederhana, yaitu hemat sumber daya alam, mengurangi pemborosan dan makan-makan yang tidak penting, serta hemat energi, sudah sejatinya jadi kesadaran bagi kita kaum perempuan.

11 Bab yang Padat Membahas permasalahan rumah dari hulu ke hilir

Buku ini ukurannya kecil seperti buku saku yang terdiri dari sebelas bab. Dari mulai memelihara tanaman, menyiasati permasalahan pada dinding, membersihkan lantai, menanggulangi kebocoran pada atap, menangani permasalahan di dapur, merawat furniture, mengatasi masalah di kamar mandi, memanfaatkan barang bekas, membersihkan perabot rumah, mengharumkan ruangan dan mengusir hewan pengganggu.

Dari kesebelas bab itu ada beberapa diantaranya sangat mudah dilakukan, akan tetapi ada juga yang sulit. Yang mudah misalnya bubuk kopi untuk menghilangkan bau cat, sedangkan yang susah kita harus mencari asam sitrat untuk menghilangkan karat.

Namun, jika anda baca satu persatu, maka sebenarnya kita bisa membersihkan rumah kita dengan mempraktekkan apa yang ada dalam buku ini. Beberapa hal yang pernah saya praktekkan ada manfaat kulit bawang merah dan bawang putih untuk kesuburan tanaman yang ada di halaman 28.

Selain itu manfaat soda untuk untuk menghapus noda membandel pada blender plastik maupun aneka tupperware sangat membantu saya selama ini.

Air Panas Ditambah Soda Kue untuk Menghilangkan Noda Membandel Pada Wadah Plastik

Untuk mengharumkan dapur agar wangi habis masak juga pernah saya coba dengan merebus jeruk lemon dan cengkeh memakai segelas air, alhamdulillah segar dapurku dan wangi cengkihnya segeer banget, jadi betah masak.

Memanfaatkan Limbah Rumah Tangga 

Seperti yang pernah saya tulis di disini sebelumnya tentang penyelesaian masalah sampah dari yang paling sulit diolah yaitu karet di buat tong sampah, kantong plastik kecil buat brongsong buah dan sampah kertas serta dedaunan di bakar.

Air Rebusan Daging Agar Tanaman Subur

Maka dengan membaca buku ini  kita bisa meminimalisir sampah dapur atau limbah rumah tangga. Sebelumnya saya juga pernah membuat sisa sayuran saya rebus jadi pupuk cair, ada juga yang di blender, tapi kok boros gas dan listrik. Jadi akhirnya saya hentikan, jadinya ya saya praktikkan  semampu saya aja yang sekiranya hemat energi.

Buku ini menurut saya sangat berguna, karena membuat hidup anda menjadi lebih berarti, penuh makna dan berusaha untuk menerapkan pola hidup yang sehat.

Kelemahannya buku ini menurut saya ada pada tata cara yang ada kalanya kurang jelas atau seadanya. Misalnya soda itu segimana ukurannya, terus yang berkaitan dengan bocor dan cat itu saya enggak begitu bisa praktek karena menyangkut urusan atap rumah biasanya tukang, sehingga kita ada kalanya kesulitan.

Tanaman Setelah Disiram Air Rebusan Daging

Saya rekomendasikan buat anda ibu rumah tangga atau perempuan bekerja, wajib punya buku ini. Cocok juga buat hadiah pernikahan atau anniversary pasangan hidup anda.

Perpustakaan Veteran, Blitar

25 September 2018

Pukul 13.25

Bunga Bermekaran di Awal September

Posted: September 17, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah

Selamat hari selasa minggu ketiga bulan September. Dimana bulan ini adalah bulan yang sangat membahagiakan bagi kami. Karena memulai kehidupan baru di Kuningan, Kanigoro, Blitar.

Saat hujan turun beberapa waktu yang lalu tanaman bunga di taman depan kecil rumah kontrakan kami  kuncup bermekaran.

Di antara aneka bunga yang tumbuh di taman ini saya sangat menyukai bunga yang berwarna merah dan  bunga lainnya yang berwarna merah muda dengan daun yang hijau di timpa embun.

Beberapa foto ini aku ambil sore hari saat hujan turun awal September lalu dan saya sangat gembira melihat bunga bermekaran.

Selain aneka bunga dan dedaunan yang indah mewarnai kehidupan kami sekeluarga saya juga sangat bangga melihat tunas muda tumbuh menjulang di bumi pertiwi.

Kuningan, Kanigoro 18 September 2018

Pukul 05.21

 

Sore tadi kami berjalan-jalan sore menyusuri perumahan kampung, pematang sawah, dan kebun jagung. Tujuannya selain untuk berolahraga, kami ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir (sarean).

Jarak dari rumah keluarga besar kami di Dusun Banggle, Kanigoro Blitar lumayan jauh, ada sekitar kurang lebih dua kilo meter. Kami berjalan enam orang, saya, mas arif dan empat orang keponakan.

Kurang lebih 50 menit kami berjalan, cuaca sore itu sangat cerah dengan udara segar. Meskipun bulan ini bukan musim penghujan, namun semua tanaman di perkebunan tumbuh subur dan saatnya musim berbuah.

Di Banggle, suasana desa sangat terasa meski kami tinggal di pinggir jalan raya. Namun, rumah di sini tidak begitu padat dan rapat. Jarak satu rumah dengan yang lain tidak berdekatan, akan tetapi disini hidup rukun dan damai.

Bahkan, jika anda berjalan jauh ke setiap sudut desa, lebih banyak perkebunan dan sawah daripada rumah tempat tinggal. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa yang lain mulus dan dipergunakan masyarakat dan petani untuk membawa hasil perkebunan, atau untuk mencari dedaunan makanan ternak dan sapi.

Ada yang naik sepeda, ada juga yang naik gerobak motor.Banyak rumah yang di belakangnya memelihara sapi dan kambing, dimana setiap sore para petani laki-laki atau perempuan pulang dari kebun mereka atau memberi makan ternak.

Tidak terasa kami pun sampai di tujuan, tidak lama kemudian kami pulang dan kembali berjalan sambil olahraga sore. Tidak sengaja kami yang berjalan sambil bercanda bersama keponakan melihat matahari yang hampir tenggelam sore itu. Tidak sia-sia kami abadikan.
Jika ingat matahari saya suka ingat usia kita yang juga akan semakin tua dan tenggelam seperti matahari, untuk kemudian, terbit lagi besok pagi dengan semangat baru.

Ada satu lagu yang selalu kuingat yang berkisah tentang Matahari, lagu Iwan Fals yang sangat terkenal.

Mata Hati

Matahari yang berangkat pulang
Tinggal jingga tersisa di jiwa
Bintang-bintang menyimpan kenangan
Kita diam tak bisa bicara

Hanya mata, hanya hati, hanya kamu hanya aku.
Aku di sampingmu, begitu pasti
yang tak kumengerti masih saja terasa sepi

Saya pernah mendengar tapi lupa siapa yang mengatakan jika di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa kita hindari, yaitu pertama kematian dan yang kedua kemajuan teknologi.

Orang boleh sepakat atau tidak dengan ungkapan itu, adalah hak bagi siapa saja yang hidup di era sekarang ini. Merasakan imbas atau tidak efek positif dan negatif dari teknologi ini.

Meskipun beberapa belakangan ini saya mengamati banyak sekali aplikasi terbaru untuk memudahkan orang agar efektif dan efisien. Seperti aplikasi kesehatan yang pernah saya ulas, dan beberapa aplikasi bidang lainnya yang akan menyusul saya justru sedang rindu dengan benda-benda retro yang dulu sering dipakai saat perkembangan teknologi belum semassif sekarang.

Sejak tahun lalu saya tiap pagi mendengarkan radio dari tape merk china yang saya beli di toko elektronik. Jadi saya tiap pagi nyalain tape dan radio lewat colokan listrik buat streaming. Kemudian saya membeli kaset-kaset lama di Ciputat ada sebuah toko kaset dan cd yang menyediakan kaset para penyanyi zaman dulu hingga para penyanyi era tahun 2000-an. Bahkan ada juga kaset dari tetangga yang sudah hendak membuang koleksi kaset lamanya.

Untuk Mencari Keseimbangan

Dua minggu lalu saya menservis DVD, dan alhamdulilah masih bisa. Sehingga saya pun membuka koleksi dvd lama yang saya wadahin di tas kecil khusus dvd beresleting.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika kita memelihara barang retro seperti tape recorder dan DVD jadul. Mencoba memutar lagu yang masih enak di dengar membuat kita senang. Begitu juga ketika membersihkan dari debu dan merawatnya agar bisa dipakai.

Hal yang saya lakukan ini bukan upaya menghindari kemajuan teknologi permusikan seperti winamp, Spotify, jooks, atau aplikasi lainnya yang sekarang sedang mekar bersemi di bumi Indonesia atau seluruh dunia.

Namun apa yang saya lakukan adalah untuk menjaga keseimbangan, agar tidak terlalu terbawa arus kemajuan teknologi, meskipun godaan terberat adalah inkonsistensi. Ada kalanya saya sangat menyukai yang jadul dan retro namun adakalanya saya juga tidak sabar dengan tuntutan untuk hidup efektif dan efisien. Dimana disitulah kelebihan teknologi yang memudahkan.

Jadi sebenarnya mungkin fleksibel saja dalam menghadapi kehidupan di dunia yang seperti dilipat ini. Saya masih menggunakan beberapa aplikasi teknologi, bahkan mungkin beberapa waktu ke depan akan menulis aplikasi dalam penanggulangan bencana dan geospasial.yang memudahkan dan bermanfaat bagi korban bencana dan pengungsi.

Namun di sisi lain saya juga tidak melupakan barang-barang retro yang saya koleksi dan akan mencari bahkan mengkoleksi benda retro lainnya untuk mengingat dan mengenang masa-masa dulu sebelum dunia bergerak cepat seperti sekarang.

20 April 2018 Pukul 15.07

Ada kalanya kita tidak memperhatikan hal-hal kecil di sekitar kita yang sebenarnya itu sangat penting untuk kesehatan.

Seperti kebiasaan mencuci piring yang hampir tiap hari kita lakukan. Namun adakalanya karena rutinitas yang berulang menjadi kebiasaan kita tidak memperhatikan apakah sudah saatnya busa atau spon/sabur pencuci piring itu diganti.

Muncul sebuah pertanyaan, secara normal berapa kali harus diganti, dalam hitungan minggu atau bulan busa/spon pencuci piring diganti baru? atau seingatnya saja saat melihat sudah usang dan tidak nyaman dipakai.

Beberapa waktu lalu di sebuah siaran radio saya mendengar seorang penyiar mengatakan bahwa harusnya busa atau spon pencuci piring diganti setiap tiga minggu sekali karena disitu adalah daerah yang basah, rawan dan tempat bersarangnya bakteri.

Jadi jika sudah lewat tiga minggu maka bakteri sisa-sisa mencuci piring akan berkembang biak dan akan mengubah fungsi busa atau spon yang tadinya membersihkan piring tapi akan menjadi tersebarnya bakteri.

Pendapat tadi baru dari seorang penyiar radio, mungkin ada pendapat yang berbeda dari teman lain?

17 April 2018, 09.26

Secangkir Teh dan Silaturahmi

Posted: April 15, 2018 by Eva in Rumah
Tags: ,

Minggu pagi ini saya dikagetkan dengan kedatangan seorang tamu yang mengetuk pintu saat kami bersantai.

Sudah lama hampir dua tahun lalu tidak berjumpa dengan sang tamu dan hari ini hadir bersama keluarga dan anaknya dua.

Saya menyeduh teh panas dan perbincangan pun mengalir deras
Silaturahmi pun terjalin kembali.

15 April 2018, Pukul 11.23

Tidak terasa sudah hari senin lagi di minggu kedua  Bulan April. Hati ini gembira ketika bangun melihat tanaman di depan rumah.

Minggu lalu ketika meninggalkan rumah selama lima hari, saat pulang tanaman kering dan layu, waah sedih banget karena gak ada yang menyiram.

Namun, sekarang sudah kembali normal. Tanaman kembali segar, tumbuh kembali bahkan ada yang berbuah dan berbunga.Seperti jeruk limo dan belimbing wuluh yang berbuah lagi serta bunga kamboja yang kuncup di senin pagi ini.

Bunga kamboja ini aku bawa dari Cikampek dikasih Om Sugeng saat kami berdua silaturahmi ke rumah saudara di Cikampek Karawang. Dulu pas pertama kali dibawa bunga ini tampak kerdil dan tidak memiliki daun. Namun tidak menyangka dalam hitungan lima bulan kini bisa mekar dan kuncup sempurna.

Selamat hari senin dari bunga kamboja..

9 April 2018, Pukul 08.55