Archive for the ‘Seni, Film dan Budaya’ Category

Jadi Aku Sebentar Saja – Oleh Judika

Telah lama kau tinggalkanku

Sudah sia-siakan aku

Pergi jauh tinggalkan perih

Tak sedikitpun peduli

 

Seandainya kamu merasakan

Jadi aku sebentar saja

Tak kan sanggup hatimu terima

Sakit ini begitu parah

 

Pergi  jauh  tinggalkan perih

Tak sedikitpun peduli

Seandainya kamu merasakan

Jadi aku sebentar saja

 

Tak kan sanggup hatimu terima

Sakit ini begitu parah

 

Advertisements

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat.
So live a life you will remember.” 

 

Saya mengenal Avicii belum lama setelah dia meninggal di Muscat Oman pada usia 28 tahun April 2018. Penyanyi dan Dj asal Swedia ini dikenal sebagai DJ penyayang keluarga.

Ada dua lagu yang saya suka, pertama berjudul “You Wake Me Up”  bercerita tentang kisah perempuan yang mengurus anak perempuannya tanpa suami dan yang kedua kisah berjudul “The Nights” tentang kisah seorang pemuda yang sangat mencintai ayah kandungnya dan selalu ingat nasehat sang ayah kemanapun dia pergi.

Kini meski Avicii telah meninggal dunia dengan kontroversi, namun namanya dikenang dunia. Meninggalkan pesan yang kuat agar kita harus selalu ingat dan patuh nasehat orangtua.

Berikut liriknya:

The Nights

Hei, tahun yang lebih muda 
Hey, once upon a younger year 

Ketika semua bayangan kita menghilang 
When all our shadows disappeared 

Hewan-hewan di dalam keluar untuk bermain 
The animals inside came out to play 

Hei, ketika berhadapan muka dengan semua ketakutan kita 
Hey, when face to face with all our fears 

Mempelajari pelajaran kita melalui air mata 
Learned our lessons through the tears 

Membuat kenangan yang kami tahu tidak akan pernah memudar
Made memories we knew would never fade

Suatu hari ayah saya — dia memberi tahu saya, 
One day my father—he told me, 

Nak, jangan biarkan itu hilang” 
“Son, don’t let it slip away” 

Dia memeluk saya, saya mendengar dia berkata,
He took me in his arms, I heard him say,

“Ketika kamu bertambah tua 
“When you get older 

Kehidupan liar Anda akan hidup untuk hari yang lebih muda 
Your wild life will live for younger days 

Pikirkan aku jika kamu takut. “
Think of me if ever you’re afraid.”

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat. ” 
So live a life you will remember.” 

Ayah saya mengatakan kepada saya ketika saya masih anak-anak 
My father told me when I was just a child 

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die 

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Ketika awan guntur mulai mengalir turun 
When thunder clouds start pouring down 

Nyalakan api yang tidak bisa mereka keluarkan 
Light a fire they can’t put out 

Ukir nama Anda menjadi bintang yang bersinar 
Carve your name into those shinning stars 

Dia berkata, “Pergilah jauh-jauh di luar pantai. 
He said, “Go venture far beyond the shores. 

Jangan mengabaikan hidupmu ini. 
Don’t forsake this life of yours. 

Saya akan memandu Anda pulang ke mana pun Anda berada. “
I’ll guide you home no matter where you are.”

Suatu hari ayah saya — dia memberi tahu saya, 
One day my father—he told me, 

“Nak, jangan biarkan dia lolos.” 
“Son, don’t let it slip away.” 

Ketika saya masih kecil saya mendengar dia berkata,
When I was just a kid I heard him say,

“Ketika kamu bertambah tua 
“When you get older 

Kehidupan liar Anda akan hidup untuk hari yang lebih muda 
Your wild life will live for younger days 

Pikirkan aku jika kamu takut. “
Think of me if ever you’re afraid.”

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat.
So live a life you will remember.” 

Ayah saya mengatakan kepada saya ketika saya masih anak-anak 
My father told me when I was just a child 

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die 

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Penulis lagu: Ash Pournouri / Gabriel Benjamin / John Feldmann / Jordan Suecof / Nicholas Furlong / Tim Bergling
Lirik The Nights © BMG Rights Management, Tunecore Inc

Berikut videonya

“Rahasia sesungguhnya untuk meningkatkan kreativitas, bukan dengan terobsesi terhadap segala macam alat atau proses, tapi dengan mengerti motivasi kita,”- Scott Barry Kaufman, pengarang Wired to Create

Resensi Buku: What’s Your Creative Type (Semua Orang Kreatif, Anda Termasuk yang Mana?
Penulis: Meta Wagner
Alih bahasa: Adinto F.Susanto, Dinun Wicaksono
Editor : Adinto F Susanto
Penerbit: Grasindo, Jakarta
Edisi: I, Agustus, 2017

Lima Tipe Kreatif Orang di Dunia

Pertama kali saya melihat buku ini, saya penasaran terhadap isinya, apa saja tipe orang-orang kreatif di dunia yang bisa mengubah segala hal yang sulit menjadi sedemikian ringan dan menyenangkan, meskipun dalam posisi sulit.

Buku yang ditulis oleh Meta Wagner, seorang kontributor “The Boston Globe” dan kolumnis untuk “Pop Matters” memiliki perhatian terhadap budaya pop di kalangan anak muda di dunia, khususnya di Amerika Serikat.

Menurut Meta Wagner yang menulis pemikirannya dengan bahasa yang ringkas, padat dan berkualitas ini ada lima tipe orang kreatif di dunia, yaitu Pertama tipe sang primadona, kedunia tipe sang seniman, ketiga tipe sang pembuat perubahan, keempat tipe sang perasa, dan kelima tipe sang aktivis.

Kali ini saya tidak mau panjang lebar membahas buku ini, seperti penjelasan masing-masing tipe orang kreatif yang ada di atas seperti buku sebelumnya, karena buku ini tipis dan bisa didapat di toko buku terdekat dengan harga terjangkau.

Setelah membaca buku ini, anda pembaca, akan lebih kreatif membaca apa yang membuat anda menarik dan menggali potensi kreativitas diri anda apapun yang anda lakukan sekarang dimanapun berada.

Buku ini meski tidak sempurna, namun tidak ada kelemahan yang berarti. Bahkan di bagian kesimpulan ada tulisan panjang yang menjelaskan jika semua orang di dunia adalah orang kreatif.

Selamat membaca

Malang, 3 Agustus 2018

Pesan yang disampaikan anak muda Indonesia di Hari Kemerdekaan ke-73 ini beraneka ragam. Jika dulu Indonesia berjuang melawan penjajah dari pelbagai negara, sekarang kita harus bersatu mengusir penjajah yang tidak kita sadari.

Berikut saya lampirkan dalam video beberapa kaos hasil kreasi anak muda Indonesia dari Malang Jawa Timur.

Di outlet lain, tidak jauh dari kaos buatan anak muda Indonesia, ada merek brand luar negeri yang menampilkan pesan-pesan khas anak kekinian.

Warna-warni kaos ini bisa untuk anda pakai atau kirim sebagai hadiah. Harganyapun beda-beda sesuai dengan kualitas bahan.

Kreasi anak muda sekarang tidak terbatas, baik laki-laki maupun perempuan bisa mandiri, membuat sablon dan menjahit dengan tenaga asli Indonesia dan bersaing dengan kaos impor. Ini baru produksi kaos, mungkin masih banyak kreasi unik lainnya di bulan Agustus ini.

 

Universitas Brawijaya Malang, 2 Agustus 2018 Pukul 19:48

“Tanahku Tak Ku Lupakan, Engkau Kubanggakan”

Selamat datang bulan Agustus. Bulan ini kita akan melewati banyak peristiwa bersejarah yang penuh dengan kegembiraan. Bulan dimana bangsa ini mengalami kejadian penting baik pesta olahraga maupun pesta-pesta lainnya.

Pagi ini saya sangat bergembira, karena sedang berada di kota Surabaya, Kota pahlawan dimana Bung Karno menyatakan bahwa Surabaya adalah Dapur Nasionalisme.

Maka, untuk mengobarkan nasionalisme, saya ingin memutar sebuah video yang memadukan orasi Bung Karno dengan Lagu Ciptaan Ibu Sud berjudul Tanah air yang diakhiri dengan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Lagu ini diaransemen oleh EDM X Gamelan by Alffy Rev Ft Brisia jodi dan Gasita Karawitan.

Berikut videonya

Bila kau lihat pemuda yang lebih kaya
Cintamupun segera berpindah kepadanya

Hari minggu kemarin kami naik bis AKAS jurusan Malang-Surabaya yang berlaju kencang tanpa macet. Di perjalanan ada seorang perempuan menyanyi lagu “Cinta Hampa” dengan merdu dan mendayu.

Saya mengambil video dari samping,karena posisi duduk yang sulit. Jadi gambarnya seadanya.

Berikut video dan liriknya

Cinta Hampa

Dipopulerkan oleh D’llyod

Ibarat air di daun keladi
Walaupun tergenang tetapi
Tak meninggalkan bekas
Pabila tersentuh
Dahannya bergoyang
Airpun tertumpah tercurah
Habis tak tinggal lagi

Begitu juga cintamu padaku
Cinta hanya separuh hati
Kau lepas kembali
Nanti di suatu masa
Kau juga akan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa
Karena cinta

Bila kau lihat pemuda yang lebih kaya
Cintamupun segera berpindah kepadanya

Tapi biarlah kau cari yang lain
Kan kau buat sebagai korban
Cinta palsu hampa
Nanti di suatu masa
Kau juga kan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa karena cinta

“Saya masuk di dalam buku-buku, saya membaca buku banyak sekali, malahan saya berkata, in the world of the mind, I met these great men”  Ir.Sukarno, 2 Februari 1963

Tidak terasa sudah hampir seminggu di Blitar. Berkumpul dengan keluarga Mas Arif. Hari Sabtu kemarin, adalah hari terakhir saya di Banggle Kanigoro, pagi-pagi saya berangkat untuk mendokumentasikan membuat video di tiga tempat dimana saya mengenal sejarah Presiden Sukarno. Meski sudah 12 tahun menikah, saya biasanya berkunjung ke makam Bung Karno saja, baru tahun ini saya komplek terpadu museum dan perpustakaan.

Sukarno dan Buku
Sejak muda, Sukarno selain mencintai seni dan menguasai banyak bahasa, Beliau adalah pemimpin yang rajin membaca.Dia sangat menyukai buku, menulis opini, dan berdiskusi banyak hal dengan para pahlawan pendiri negeri ini.

Isi orasi sangat membahana. Membangkitkan semangat juang dan rakyat Indonesia rela berkumpul mendengar pidatonya. Anda akan bisa melihat buku apa yang dibaca oleh Sukarno, serta dalam kurun waktu 1945-2018 sudah berapa orang dan penerbit menulis tentang pemikirannya dari pelbagai sudut pandang.

Beliau juga mendapat gelar Honoris Causa dari pelbagai universitas di Indonesia karena jasanya yang besar kepada republik ini.

Jika generasi anak muda sekarang malas membaca apa yang salah dengan pendidikan di negeri kita. Terlalu sibuk ngurusin hal-hal tidak penting atau terlalu banyak online.Bagaimanapun juga minat baca itu sulit jika tidak dibiasakan (tidak bermaksud menggurui).

Empat Bagian Gedung Museum dan Perpustakaan

Namun, meskipun demikian kita harus belajar dari pendahulu kita dengan menelusuri atau napak tilas jejak mereka seperti Museum Bung Karno yang terpusat satu lokasi dengan perpustakaan proklamator di Kota Blitar.

Selain makam Bung Karno yang terletak di atas Ada empat bagian gedung yang berada menyatu namun berbeda fungsi. Pertama Sebelah air mancur atau gedung memanjang penghubung makam dengan museum utama ada koleksi perpustakaan anak yang nyaman dengan beragam buku bacaan untuk anak-anak. Persisnya dekat gazebo, jika anda membawa anak mampir kesini.

Screenshot_2018-07-31-09-44-42-1

 

Setelah itu bagian kedua ada gedung utama di sebrangnya, yaitu Museum Bung Karno. Di sana ada foto-foto masa kecil Bung Karno, saat perjuangan, proklamasi, masa pembuangan, foto keluarga, kedatangan tamu negara dan lain sebagainya bisa anda lihat di sini.

Video Museum Bung Karno. Bisa di lihat di sini.

Setelah anda melihat ke museum, anda bisa menyebrang ke bagian tiga gedung yaitu perpustakaan proklamator koleksi umum. Di sana terdapat majalah, koran, buku sejarah, buku populer, novel, ekonomi dan lain sebagainya. Ratusan judul buku ada di sini dengan ruang baca yang nyaman.

Barang anda dititipkan di satpam perpustakaan.Anda juga bisa meminjam buku di sini yang terdiri dari dua lantai.Mendaftar jadi anggota bagi warga Blitar, dan mengusulkan buku yang ingin anda baca.

Berikut Video Koleksi Umum Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar.

Sebenarnya ada dua pilihan. Jika anda orang dari luar kota, anda ingin membaca langsung buku karya Bung Karno dan buku karya orang lain tentang sosok Bung Karno, anda bisa melewati perpustakaan koleksi umum, langsung di lantai dua menyebrang ke gedung bagian keempat yaitu perpustakaan koleksi khusus Bung Karno.

Anda bisa melihat audio visual, dan membaca di tempat. Koleksi khusus Bung Karno di jaga oleh beberapa orang petugas. Setelah mengisi daftar pengunjung, anda bisa melihat koleksi buku yang ada di etalase dan katalog.

Di sini anda hanya bisa membaca di tempat,tidak bisa dibawa pulang maksimal pinjam dua buku. Bagus-bagus koleksinya.

Berikut Video tentang Koleksi khusus Perpustakaan Bung Karno di lantai dua.

Video yang saya buat memakai perangkat gawai biasa dengan menggunakan aplikasi FilmoraGo. Saya menyadari video yang saya buat amatiran, sangat jauh dari sempurna. Harap maklum jika banyak kekurangan di sana sini.

Ketintang, 31 Juli 2018 Pukul 10.11 WIB

Resensi Buku
Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat
Karya: Cindy Adams, Edisi Revisi, 2007
Alih bahasa: Syamsu Hadi
Penerbit: Yayasan Bung Karno dan Penerbit Media Pressindo Jogjakarta

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata,” Ir. Sukarno 1933.

Buku berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” ini merupakan karya monumental Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno yang memerintah sejak tahun 1945-1966. Buku ini berkisah tentang perjuangannya sejak dia lahir, sekolah, kuliah, menikah, memproklamasikan kemerdekaan, membesarkan anak-anak, mengunjungi pelbagai negara, bertarung melawan pemberontakan komunis dan paham Islam yang kolot, diturunkan dari pemerintahan dan diancam digantung karena antek CIA, hingga masa akhir hayatnya yang sakit cukup lama dan menderita di hari tua hingga ajal menjemput dan menutup mata.

Buku yang ditulis oleh wartawati asal Amerika Serikat Cindy Adams ini sudah beberapa kali terbit dan mengalami revisi, seperti yang dijelaskan Guruh Sukarnoputra dalam kata sambutannya di pembukaan buku ini. Sempat diterbitkan beberapa kali dan diterjemahkan dengan makna yang tidak tepat, membuat keluarga Bung Karno membuat revisi yang terbit pada tahun 2007.

Sebagai wartawati, Cindy Adams menulis dengan baik buku yang terdiri 33 bab ini. Narasi yang disampaikan Cindy Adams, ditulis secara bertutur, sehingga seolah-olah Bung Karno sendiri yang menceritakan dirinya dalam buku yang memiliki tebal 415 halaman ini ditulis pada tahun 1964. Awal mula penulisan buku ini adalah saat itu Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones berkunjung ke istana Bogor dan menyarankan Bung Karno untuk menulis biografi.

Bung Karno akhirnya menyetujui untuk membuat biografi dan bersedia diwawancara oleh Cindy Adams, wartawati Amerika Serikat yang berada di Indonesia bersama suaminya Joey Adams yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara.

Putra Sang Fajar Berbintang Gemini

Sukarno adalah anak dari seorang ibu kelahiran Bali. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai Serimben (biasa disapa Idayu). Idayu, merupakan keturunan bangsawan. Raja Singaraja yang terakhir adalah paman ibunya Bung Karno. Sedangkan sang ayah, berasal dari Blitar, Jawa Timur. Nama lengkapnya Raden Soekemi Sosrodiharjo. Raden Soekemi merupakan gelar kebangsawanan. Dan bapak berasal dari Keturunan Sultan Kediri.

Raden Soekemi-ayah Sukarno-merupakan mantri guru sekolah pribumi dan sempat menjadi asisten peneliti bahasa Van Den Tuuk dan pernah bekerja di Buleleng Singaraja, karena Ibu Sukarno (Idayu) berasal dari keluarga Serimbin.

Raden Soekemi merupakan putera seorang ulama masyhur pada masanya. Keluarga Raden Soekemi merupakan patriot hebat. Nenek dari nenek ayah Sukarno memiliki pejuang pendamping pahlawan besar Diponegoro. Sewaktu Sukarno kecil, Ibunya sering mendengarkan cerita-cerita mengenai kebangsaan dan kepahlawanan. Sukarno bersimpuh di dekat kaki Ibu berjam-jam untuk mendengarkan cerita menarik dari perjuangan melawan penjajahan.

Kepada Cindy Adams, Sukarno terus terang menceritakan kisah cinta orangtuanya di masa muda. “Ibuku tercinta itu pun menceritakan bagaimana Bapak menaklukkan hatinya. Semasa muda Ibu adalah gadis di Pura Hindu Budha yang bertugas membersihkan rumah ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak yang bekerja sebagai guru sekolah rendah gubernemen di Singaraja sering datang ke air mancur di muka pura pulang sekolah. Suatu hari dia melihat Ibu, sering bertegur sapa dan keduanya saling jatuh cinta. (hlm, 25)

Sudah menjadi tradisi, perempuan Bali tidak boleh menikah dengan orang luar. Bukan orang luar dari negara lain, tetapi orang dari pulau lain. Waktu itu sama sekali tidak ada perkawinan campuran antara satu suku dengan suku lain. Kalaupun bencana semacam ini terjadi, pengantin baru itu diasingkan dari rumah orangtuanya sendiri.

Karena ayah Sukarno beragama Islam dan Ibunya seorang Hindu tidak mungkin mereka menikah. Namun, karena saling cinta, mereka akhirnya mendobrak tradisi. Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai akhirnya melakukan kawin lari. Peristiwa ini memang tidak lazim, namun untuk mendapat pengesahan, kedua pengantin di bawa ke depan pengadilan.

Akhirnya pengadilan mengizinkan perkawinan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai meskipun pengadilan menjatuhkan denda kepada sebesar 25 ringgit atau 25 dollar kepada mempelai perempuan dengan menjual perhiasan.

“Karena merasa tidak disenangi di Bali, Bapak kemudian mengajukan permohonan kepada Departemen Pengajaran untuk pindah ke Jawa. Bapak di pindah ke Surabaya dan disanalah aku dilahirkan,” ujar Sukarno pada Cindy Adams. Sukarno lahir pada 6 Juni 1901.

Cindy Adams menulis tentang asal usul kenapa, dia mendapat julukan Putra Sang Fajar. “Ketika aku masih bocah kecil, mungkin berumur dua tahun, ibu telah memberkatiku. Dia bangun sebelum matahari terbit dan di dalam kegelapan di beranda rumah kami yang kecil dia duduk tidak bergerak, tanpa melakukan apa-apa dan tanpa bicara, hanya memandang ke arah timur dengan sabar menantikan datangnya fajar.

Ketika aku terbangun dan mendekatinya, dia mengulurkan kedua belah tangannya dan meraih badanku ke dalam pelukannya, lalu pelan-pelan mendekap tubuhku ke dadanya. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan lembut,” ujar Sukarno menerawang masa kecilnya bersama Ibu tercinta.

“Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau, anakku, kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena Ibu melahirkanmu saat fajar menyingsing. Kita orang Jawa memiliki suatu kepercayaan, bahwa seorang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah digariskan sebelumnya. Jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra sang fajar,” (hlm 21)

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal 6 Juni. Aku bernasib sangat baik dengan dilahirkan di bawah bintang Gemini, lambang anak kembar. Dan memang itulah aku yang sebenarnya. Dua sifat yang sangat bertentangan. Aku bisa lemah lembut atau aku bisa rewel; keras bagai baja, atau puitis penuh perasaan. Pribadiku merupakan perpaduan dari pikiran dan emosi.

Aku orang yang suka memaafkan, akan tetapi aku pun seorang yang keras kepala. Aku menjebloskan musuh-musuh negara ke balik jeruji penjara, namun aku tidak tega membiarkan burung terkurung di balik sangkar.


Berganti Nama Karena Sering Sakit

Raden Soekemi adalah seorang pecinta seni dan pengagum wayang. Sejak lahir, Sukarno diberi nama Kusno. Namun, karena sakit-sakitan, ayahnya mengganti namanya.

“Namaku ketika lahir adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang sakit-sakitan. Aku terkena malaria, disentri, semua penyakit dan setiap penyakit. Bapak berpikir. ”Namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain agar tidak sakit-sakitan lagi. Bapak adalah pengagum Mahabharata, cerita klasik Hindu zaman dahulu. Aku belum mencapai usia remaja, ketika bapak berkata, “Engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah seorang pahlawan terbesar Mahabharata.” (halaman31).

“Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno-mengikuti cara Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan semua OE ditulis kembali menjadi U. Nama Soekarno sekarang ditulis menjadi Sukarno. Tetapi tidak mudah bagi seseorang untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun, jadi dalam hal tanda tangan aku menulis S-O-E,” ungkap Sukarno terus terang tentang penulisan nama yang sampai saat ini masih simpang siur antara Soekarno atau Sukarno.

Karena buku ini sangat tebal, saya tidak akan menceritakan secara mendetail apa saja yang terjadi semasa kecil hingga beranjak dewasa menjadi remaja dan gemar membaca karya filsafat. Namun, jika anda ingin membaca langsung buku ini, ada beberapa bab yang menceritakan bagaimana kisah sedih masa mudanya di Eerste Indianse School, di mojokerto, kemudian pindah ke ke Europheesche Lagere School (ELS), dan melanjutkan ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya dan tinggal di rumas HOS Tjokroaminoto sahabat ayahnya, di buku ini Sukarno memiliki kesan Kota Surabaya sebagai Dapur Nasionalisme.

Di masa remaja, Sukarno melanjutkan kuliah ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH, sejak 1959 menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tinggal di kediaman H. Sanusi, teman dekat HOS Tjokroaminoto. Selama di Bandung, Sukarno melakukan perjalanan ke daerah persawahan di Bandung, disana ia bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen.

Selanjutnya setelah lulus ia berjuang, rajin menulis opini dan mendirikan Partai Nasional Indonesia serta keluar masuk penjara (bui) dari penjara Banceuy, Sukamiskin, proses pengadilan dan satu bab sendiri saat keluar dari penjara (139).

Perempuan dalam Kehidupan Sukarno

Selain peran ibunya Ida Ayu Nyoman Rai yang sangat ia hormati. Sukarno kecil diasuh oleh seorang perempuan bernama Sarinah. Bagi Sukarno, rasa cinta kasih sayang bagai oase yang luas di padang pasir. Ia mampu menyejukkan dan membasahi tanah yang tandus. Menurutnya terlahir sebagai anak orang miskin dan melarat merupakan surat takdir yang harus dijalani. Dalam kemiskinan itulah, ia mendapat kasih sayang cinta yang penuh dari seorang Ibu dan pengasuhnya bernama Sarinah.

Menurut Bung Karno, tidak ada cinta yang lebih baik dari cinta seorang ibu. Namun, ia juga tidak mengesampingkan sosok Sarinah sebagai seorang pengasuh. Sarinah adalah seorang pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Tidak ada hal yang istimewa dari riwayat hidupnya. Ia pun tidak menikah dan tidak memiliki keturunan.

“Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak menikah, dia kami anggap sebagai anggota keluarga. Dia tidur dengan kami, tinggal bersama kami, memakan apa yang kami makan, tetapi dia tidak mendapat gaji sepeserpun. Dialah yang mengajariku mengenal kasih sayang. Sarinah mengajariku untuk mencintai rakyat. Rakjat kecil.

Selagi dia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan dia memberi nasihat, “Karno, di atas segala nya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia,” Sarinah adalah satu nama biasa. Tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. Dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku.” (Halaman 30)

Karena rasa cintanya yang besar pada Sarinah, Sukarno menulis sebuah buku yang terbit pada tahun 1963 berjudul “Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia)” yang ia tulis di Jogjakarta. (Resensi Menyusul). Selain Ibu Idayu dan Sarinah, ada perempuan lain yang juga memiliki pengaruh dalam kehidupan Presiden pertama Indonesia ini.

Bung Karno menjelaskan jika dia menyukai gadis-gadis menarik di sekitarnya, karena aku merasa mereka seperti bunga dan aku suka memandang bunga. Orang bilang, Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan sudut matanya. Itu tidak benar. Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan seluruh bola matanya.

Tetapi ini bukanlah suatu kejahatan. Bahkan Nabi Muhammad SAW, mengagumi kecantikan. Dan sebagai seorang Islam yang saleh, aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. “Tuhan yang dapat menciptakan mahluk cantik seperti kaum perempuan adalah Tuhan yang maha besar dan maha pengasih,” Aku setuju dengan ucapan beliau ini. (hlm 13).

Perempuan pertama yang pernah melaksanakan kawin gantung dengan Sukarno adalah Siti Oetari (16 tahun), putri HOS Tjokroaminoto, pada tahun 1921, dan diajak kuliah di ITB Bandung. Saat di Bandung, Sukarno tinggal di H. Sanusi dan jatuh cinta pada istri H. Sanusi bernama Inggit Garnasih dan menjelaskan pada Inggit bahwa hubungannya dengan Oetari adalah sebagai adik kakak. Sukarno juga terus terang kepada H.Sanusi bahwa ia mencintai Inggit, setelah itu H. Sanusi menceraikannya.

Sukarno dan Inggit Garnasih menikah pada 24 Maret 1923 dan menemani perjalanan politik, di penjara, diasingkan di Ende Flores, dan dibuang ke Bengkulu. Selama 18 Tahun menikah dengan Inggit, Sukarno tidak punya keturunan, mereka mengangkat anak angkat Ratna Juami (Omi), putri Ny. Murtasih kakaknya Inggit.

Di Bengkulu Ratna Juami sekolah di Rooms-Katholik Vakschool dan bersahabat karib dengan Fatmawati, putri tokoh Muhammadiyah di Bengkulu bernama Hassan Din. Saat itu Fatmawati berusia 15 tahun dan Sukarno mengajar Fatmawati dan Ratna Juami mengaji. Namun, karena intensitas di Pengasingan Bengkulu, lama-lama Sukarno jatuh cinta pada Fatmawati, dan berniat menikahinya.

Sukarno meminta restu pada Inggit untuk menikah dengan Fatmawati, namun Inggit menyatakan dengan tegas bahwa ia menolak dimadu dan memilih bercerai. Sukarno memulangkan Inggit ke Bandung pada 1942. Pada 1 Juni 1943, Sukarno menikah dengan Fatmawati.

Ir. Sukarno berpidato dalam sidang Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengenai dasar negara yang diberi nama Pancasila, 1 Juni 1945. Bersama dengan Ir. Sukarno dan Drs. Muhammad Hatta, Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan

Jepang dan memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dan membacakan teks proklamasi dan diangkat sebagai Presiden RI pertama oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945. Saat hamil Guntur, Fatmawati menjahit bendera merah putih yang nantinya menjadi bendera pusaka. (halaman, 398).

Perjuangan tidak Pernah Usai Meskipun Telah Merdeka Pada 4 Januari 1946, Ibukota negara pindah dari Jakarta ke Jogjakarta. Namun tidak lama kemudian pusat pemerintahan kembali dari Jogjakarta ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan pada Konferensi Meja Bundar (KMB), 28 Desember 1949. Pada 5 Juli 1959, Presiden Sukarno atas nama rakyat Indonesia mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959.

Dengan Fatmawati, Sukarno memiliki lima orang anak, yaitu Guntur, Megawati Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Pernikahan Fatmawati dan Bung Karno kandas pada 1954, ketika Bung Karno ingin menikahi Siti Hartini, perempuan asal Ponorogo. Fatmawati berprinsip tak ingin dimadu dan anti poligami. Dengan Siti Hartini, Bung Karno memiliki dua orang anak yaitu Taufan dan Bayu.

Dalam buku ini tidak diceritakan siapa saja perempuan yang menikah dengan Sukarno setelah Siti Hartini. Namun, dalam gambar di halaman belakang ada foto-foto Sukarno Hartini menjamu acara kenegaraan dalam menerima tamu dari luar negeri. Dan foto-foto anak-anak Fatmawati menghadiri pernikahan anak Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto), yaitu Kartika di Jepang. Mereka terlihat rukun dan guyub meskipun berbeda ibu kandung.

Disamping berkaitan dengan peran perempuan dalam kehidupan Sukarno, ada sepuluh bab lain yang harus anda baca, berkaitan dengan memepertahankan kemerdekaan, dimana masa-masa itu sejarah mencatat banyak peristiwa penting. Seperti ketika Jepang datang, Pendudukan Jepang, Kolaborator atau Pahlawan, Anakku yang Pertama, Harganya Kemerdekaan, Awal dari Akhirnya, Perundingan di Saigon, Diculik, Proklamasi, Revolusi dimulai.

Refleksi atas Sebuah Perjuangan Penuh Cinta

Setelah anda membaca dari awal tentang masa kecil, remaja, mahasiswa dan sejarah merdeka, pemberontakan dari dalam negeri yang dimana saya kira para pembaca sudah kenyang dengan pelajaran sejarah yang selama ini kita pelajari, dari SD-SMP. Jadi tidak usah saya perjelaskan panjang lebar, lebih baik membaca sendiri buku ini dan anda akan banyak membuka mata tentang siapa itu Sukarno, Muhammad Hatta dan para pahlawan yang selama ini berjuang buat tanah air tercinta.

Namun, anda akan terharu membaca bagian akhir. Terutama tiga bab yang menjelaskan tentang masa Masa Mempertahankan Hidup, Masa Perkembangan, dan Sukarno Menjawab. Bagaimana dia selalu gelisah dengan isu Partai Komunis Indonesia, sulit tidur dan tidak bisa lepas dari membaca buku saat ia dilanda kesedihan dan kecintaan pada rakyat Indonesia. Cerita tentang kaus dalam dan piyama kesayangan pemberian para sahabat, membuat kita sadar bahwa Bung Karno di era buku ini ditulis sedang dalam masa kegalauan. Pesan tentang ia dimana ia dikuburkan setelah meninggal, dan beberapa foto kenangan sejarah bersama keluarga dan saat ia sakit ada di halaman belakang.

Kartunis Penolak Bantuan

Dalam buku ini dijelaskan dengan tegas, Bung karno jika biografi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap kehidupan pribadinya maupun terhadap rakyat yang dicintainya dan juga masyarakat Internasional. Ia gunakan kesempatan ini antara lain untuk menjawab serangkaian tuduhan yang pernah ditujukan pada media massa nasional dan internasional kepadanya, antara lain sebagai kolaborator Jepang dan komunis serta terlalu sering ke luar negeri.

Tidak cukup satu atau dua hari anda membaca buku bersampul merah ini. Saya sempat berhenti sejenak menghela nafas, merenung, melanjutkan lagi dengan perasaan bercampur aduk. Karena selama ini, saya mengakui, bahwa saya kurang banyak membaca buku sejarah pahlawan, hanya sekilas saja, tidak sampai mendalam sampai urusan yang sangat pribadi pun pendiri Bangsa ini. Bung Karno sangat terbuka dalam beberapa hal, kita semua anak muda dan generasi penerus harus tahu itu, jangan hanya enak-enak saja menikmati buah dari kemerdekaan.

Seperti buku Mahatma Gandhi yang pernah saya tulis sebelumnya di sini, peran Bapak, Ibu, Istri, keluarga dan sahabat memiliki pengaruh yang besar untuk mencetak seorang pemimpin revolusioner. Kita juga bisa merasakan bagaimana, kesedihan Bung Karno setelah menjadi Presiden dan tinggal di Istana, Ibunya tidak mau ikut ke Istana dan memilih tinggal di Blitar. Sehingga, Bung Karno, sering pulang ke Blitar, sungkem dan bersimpuh meminta do’a kepada ibunya agar semua pekerjaannya diberi kelancaran.

Setelah ini saya ingin banyak membaca karya lainnya berkaitan dengan beberapa tokoh yang ada dalam buku ini supaya saya, dan semoga Anda pembaca menjadi orang yang tidak sok tahu sejarah sebenarnya dan ahistoris. Dengan membaca kita akan merasakan bagaimana kegembiraan Sukarno mencintai Marhaen, bahagia memiliki anak, semangat memproklamasikan diri, perceraian, dan kesedihan yang menyayat hati, menghibur diri dengan buku dan tabah menghadapi masa akhir kehidupan

Ada dua kejutan yang saya baca di halaman akhir, yang membuat saya tidak menyesal membaca buku ini dari awal sampai akhir. Pertama yaitu, kebenciannya atas bantuan Amerika Serikat, dia mengatakan dengan tegas. “Go to Hell, American Aid,”. Tanpa ada kelanjutan makna sesudah itu. Kedua, Sebuah karya Karikatur yang ia buat sendiri dan dimuat di halaman belakang buku ini, karyanya bagus dan menarik. Saya tidak menyangka jika Bung Karno adalah seorang Kartunis.

Kelebihan buku ini ada pada penuturan yang gamblang dan menyentuh perasaan. Banyak kejutan, dan kita bisa memahami pemimpin berbintang gemini ini dari berbagai sudut pandang. Namun kelemahannya, buku ini sudah jarang beredar, hanya ada di beberapa tempat tertentu, itu saja tidak bisa dipinjam, hanya bisa ditempat. Sedangkan secara teknis kelemahan fatal ada pada cetakan foto yang nampak buram, padahal fotonya bagus-bagus. Seperti anak-anak Bung Karno ketika kecil, foto kunjungan pemimpin beberapa negara dan foto ketika Beliau sakit terlihat suram.

Namun, diantara ratusan buku yang berkisah tentang orator ulung dan arsitek ini, saya rekomendasikan membaca buku ini. Apalagi jika anda punya banyak waktu luang, tidak kebanyakan online, dan ingin mengetahui biografi pemimpin negeri yang sangat kita cintai ini.

Blitar, 25 Juli 2018, Pukul 18:34

Perkembangan batik di Indonesia, tidak hanya berpusat di Jawa Tenga h, Jogjakarta, Jawa Timur dan Cirebon saja yang terkenal, kini anda pun bisa melirik potensi lokal yang ada di Selatan Jawa Barat yaitu Batik Kenarie, khas batik dari Sukabumi.

Ada beragam motif yang menjadi ciri khas batik Sukabumi, karena memiliki tempat wisata berupa laut di Pasir Putih Ujung Genteng Sukabumi yang terkenal dengan penyu, kemudian wisata alam yang hijau di pegunungan telah menginspirasi pembatik di daerah Sukabumi membuat batik khas.

Disini dijual tiga jenis batik berdadarkan proses pembuatan. Yaitu dengan cara batik printing, batik cap dan batik tulis, dijual dengan harga beragam dan aneka motif.

Motif Binatang

Ada dua jenis motif binatang yang menjadi inspirasi dalam pembuatan batik yaitu motif penyu dan motif ikan.

Motif Penyu

Motif Penyu

Motif Daun

Untuk motif daun, Batik Sukabumi yang merupakan daerah pegunungan yang dingin kaya inspirasi.

Ada motif batik daun rimba selabintana, daun pisang, hingga paralayang. Aneka jenis motif daun ini warnanya bermacam-macam, namun kebanyakan adalah warna-warna yang hijau, pastel, mocca, orange, hingga biru dongker.

Motif Daun Rimba Selabintana

Motif Daun Rimba Selabintana

Selain itu ada juga motif yang abstrak dan aneka motif lainnya yang menarik.

Jika anda ingin lebih tahu secara mendalam aneka jenis Batik Sukabumi, datang saja ke sentra Batik Kenarie di jl. Kenari no 2 Sukabumi, anda bisa memilih beragam motif yang anda inginkan dari harga yang paling murah yaitu mulai  Rp.70.000, Rp.99.000, Rp.125.000, Rp.210.000, Rp.400.000 hingga Rp.1.600.000 juga ada, yaitu jenis batik tulis.
Aneka motif dan corak batik Sukabumi

Gambar di sebelah kanan atas no 2 dari kanan yang bergaris kuning dan hitam adalah batik corak daun pisang dan aneka motif lainnya yang menarik hati. Silahkan dipilih.

Jadi jika anda sedang berwisata ke Sukabumi, ada tugas kantor, atau lewat,  jangan lupa pulangnya mampir ke Batik Kenarie Sukabumi ya…

4 April 2018
Pukul 12.33

Selama saya tinggal di Pondok Petir, Depok, berbatasan dengan Pamulang, belum sekalipun saya main ke Kabupaten Lebak. Padahal tempat tinggal saya  dekat Tangerang Selatan, termasuk dekat. Baru pada bulan Februari lalu saya berkunjung ke  Kabupaten Lebak, naik KRL (Commuter) dari Sudimara ke Stasiun Rangkas Bitung. Saya berangkat pagi-pagi sekali  dan ternyata memang  jauh sekali perjalanan dari Sudimara ke Rangkas Bitung lebih dari satu jam perjalanan.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika anda bersama keluarga mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah di Provinsi Banten yang terkenal dengan penduduk aslinya Suku Baduy. Saya pun tidak menyesal berkunjung ke tempat ini, karena selain tempatnya mudah dijangkau (tidak jauh dari stasiun), datang ke sini juga anda (bebeunangan, bahasa Sunda-ed) artinya dapat banyak.

Kenapa dikatakan demikian, karena ada tiga tempat yang  anda bisa kunjungan yang terpusat di satu lokasi. Sehingga anda betah berlama-lama di sini. Pertama, mengunjungi perpustakaan Saidjah Adinda, setelah membaca koleksi buku, kemudian menonton film sejarah, kedua, berkunjung ke Museum Multatuli yang baru saja diresmikan dan sebelum pulang anda bisa mengunjungi cara pembuatan batik lebak yang berada persis di belakang museum, proses produksi, penjahitan sampai penjualan. Tidak ada salahnya, tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata anda bersama teman, kerabat, atau keluarga, baik yang berada di Jakarta ataupun pinggiran ibukota.

Perpustakaan Saidjah Adinda

Moda transportasi untuk menempuh ke tiga lokasi ini lokasi  bisa naik apa saja. Dari jalan kaki, naik ojek, hingga angkutan kota. Para pengemudi beragam angkutan disana sudah hapal. Bilang saja nama lokasi yang berada di dekat alun-alun, persisnya di Jl.Alun-alun Timur No.6 Rangkas Bitung, Lebak.

Pertama yang saya kunjungi adalah Perpustakaan Saidjah Adinda. Desain arsitektur perpustakaan ini unik, dengan deretan buku yang beragam. Ada ratusan koleksi buku milik perpustakaan Saidjah Adinda ini, dari sejarah, agama, politik, pertanian, sosial, dan buku bacaan anak-anak.

Berikut beberapa koleksi buku Perpus Saidjah Adinda. Pak Ali Rahmat, meminjami saya buku  bersampul kuning berjudul Max Havelaar.  Dan saya pun membacanya meski tidak sampai selesai.

Saat saya berkunjung, koleksi majalah dan koran yang berada di lantai dua ramai dengan anak-anak yang masih usia SD yang bergiliran juga sambil bermain. Sedangkan koleksi buku dewasa tampak sepi, karena sedang jam kerja sehingga hanya ada beberapa petugas yang merupakan pegawai dan anak muda.

Usai makan siang, perpustakaan mengumumkan ada pemutaran film Max Havelaar, di ruang audiovisual. Saya pun berkunjung kesana, dimana studionya dibuat dari rangkaian bambu. Anak-anak SMA nampak sudah memenuhi studio, dan film pun sudah diputar. Dari film itulah saya mengenal siapa itu Saidjah Adinda yang menjadi nama perpustakaan. Sangat mengerikan tokoh Saidjah dalam film ini, dimana ia seorang perempuan anak petani yang mengenakan caping namun ditendang dengan kasar oleh kolonial dan menjalin cinta tidak sampai dengan Adinda. Lebih jelasnya tentang siapa itu Saidjah Adinda, anda bisa klik link di bawah ini. Saidjah Adinda

Film yang berdurasi cukup lama ini menarik untuk ditonton. Selain mengenalkan sejarah bagaimana Kawedanaan Lebak di zaman kolonial, anda akan lebih paham

Museum Multatuli

 

Setelah melihat koleksi buku, majalah, surat kabar, serta menonton film di Audiovisual, saya berjalan sedikit ke gedung sebelah kanan dimana di situ ada Museum Multatuli. Karena sudah menonton filmnya saya jadi tahu sedikit tentang siapa itu Multatuli, kaitannya dan Max Havelaar, dan alasannya kenapa diabadikan sebagai museum. Museum ini menyerupai rumah tua bercat putih tulang kombinasi kuning gading.

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada Januari hingga Maret 1856. Berdasarkan pengalamannya di daerah tersebut, dia menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar yang pertama kali diterbitkan pada 1860.

Dengan Max Havelaar, Multatuli ingin membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Ide-ide itu menginspirasi tokoh-tokoh pendiri bangsa, seperti Soekarno, untuk memerdekakan Indonesia.

Sebagai karya monumental,  novel Max Havelaar, Kabupaten Lebak memutuskan untuk menjadikan bekas kantornya  dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an sebagai museum. Menurut Ubaidillah, Museum Multatuli ini direhab dan didesain ulang oleh arsitek dari IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia).

Sejak anda masuk di pintu depan anda akan tertegun dengan karya seni baik foto maupun karya seni lainnya, tentang eksistensi manusia. Sejarah kopi dan pertanian, puisi rendra, serta tokoh-tokoh pahlawan dari Lebak dan nasional. Hening dan senyap anda selama mengunjungi beberapa bagian museum yang dilengkapi dengan pidato tiada henti selama anda mengitarinya.

Tidak begitu besar memang isi dari museum ini, akan tetapi anek koleksi, foto, peta, alur sejarah sampai dengan karya Multatuli sangat lengkap dan padat. Sehingga anda tidak usah berlama-lama di dalam anda bisa larut dalam sejarah zaman kolonial. Jika anda perhatikan betul, akan banyak ilmu dan sejarah yang saya sendiri tidak tahu awalnya nama-nama tokoh antikolonial.

Usai mencermati dan mengambil gambar, saya keluar museum dengan wawasan baru dan banyak hal tentang museum Multatuli. Banyak spot-spot menarik di dalam musem dan luar museum, tapi tidak saya cantumkan disini, biar nanti anda berkunjung kesana saja hehehe…

 Sentra Batik Lebak

Hari sudah beranjak sore, jam tiga saya keluar dari museum. Berjumpa dengan Pak Ubaidillah di pintu belakang saat saya mau ke sentra batik Lebak yang persis berada di belakang Museum. Kita ngobrol sebentar dan sempat ambil gambar. Tidak lama kemudian saya melanjutkan perjalanan ke sentra batik Lebak. Sentra batik ini sangat luas dan terbuka.

Tiga orang anak muda sedang melakukan proses membatik. Ada yang mencap, ada juga dua orang yang mendampinginya. Beberapa batik yang sudah selesai digarap dijemur hingga kering. Setelah itu di sebelah barat ada lelaki setengah baya yang sedang menjahit batik lebak, berupa konveksi yang terhubung dengan pemasaran.

Di bagian depan sentra batik, ada toko yang menjual batik yang sudah jadi. Ada yang dalam bentuk pakaian maupun kain siap jahit. Unik dan bagus corak motif batik Lebak saya perhatikan warnanya cerah. Berikut beberapa koleksinya.

Usai dari Sentra batik, saya lapar dan berencana kembali ke Stasiun Rangkas Bitung untuk melanjutkan perjalanan nanti malam ke Serang. Cukup puas sudah dari pagi hingga sore saya mengitari tiga tempat ini, ada banyak kesan yang mendalam dan wawasan  baru di luar yang saya ketahui selama ini.

Seusai dari sentra batik, wah anak-anak pulang sekolah ramai sekali berkumpul di Museum Multatuli. Ada yang bercengkrama, ada juga yang berselfie ria. Di selasar museum ada juga sekelompok anak muda, sepertinya dari Jakarta sedang berdiskusi serius membentuk lingkaran.

Jadi tunggu apalagi, ini kan hari Jum’at,  besok akhir pekan tidak ada salahnya anda berkunjung ke tiga lokasi ini untuk berwisata sambil menambah wawasan,   sambil jalan-jalan atau menghabiskan akhir pekan.

Pamulang, 10.05 WIB

Minggu lalu saya melakukan perjalanan singkat ke Semarang, Temanggung, Magelang, Jogjakarta dari hari Rabu sampai hari Sabtu.

Sangat menyenangkan perjalanan kali ini meski tidak bisa nyantai karena menyesuaikan jadwal kepulangan seperti sesuai tiket yang kubeli di tiket.com

Saya dijemput suaminya keponakan dan  menginap di rumahnya. Untuk pertamakalinya saya mengunjungi Semarang yang ternyata kotanya klasik banget ya, di dekat stasiun banyak bangunan tua dan kafe-kafe asyik tapi unik ala-ala zaman kolonial Belanda. Saya juga sempat berfoto di Simpang Lima.

Usai dari Semarang, sore hari saya melanjutkan perjalanan ke Temanggung dengan naik patas Ramayana yang bisnya nyaman, dingin diiringi musik-musik dangdut kekinian dari Rhoma Irama hingga Via Vallen.

Saya naik dari terminal Sukun dan berhenti di Secang untuk kemudian dijemput teman dan melanjutkan ke Temanggung saat hari menjelang malam.

Saya sangat senang karena pas mau pulang dioleh-olehi batik Magelang warna orange. Dulu saya pernah punya diberi sama teman kuliah batik Papua sama-sama warna orange. Kalau batik Papua motifnya Cendrawasih, saya bikin sarimbit sama mas arif sedangkan batik Magelang motifnya kecil-kecil ada awan, bangunan dan merapi.

Pagi hari dari Temanggung saya dibonceng naik motor menyusuri sawah nan indah. Asyik banget suasana pedesaan di pinggiran kota ini membuat perjalanan Temanggung Magelang hanya bisa ditempuh tidak sampai satu jam. Saya diantar ke terminal Magelang untuk lanjut naik Ramayana lagi tujuan Jombor Sleman Jogjakarta.

Perjalanan Magelang Jogja juga asyik, lewat Ambarawa, dan daerah lainnya tapi saya tidak hapal namanya.Tapi udaranya dingin sehingga saya tertidur sesampai di Jombor untuk lanjut ke Condong Catur, ke Panti Rapih dan rumah kakak ke-8 di Bantul.

Sebelum pulang, kakak ipar menghadiahi saya batik Jogja kombinasi warna ungu, pink fanta dan abu tua dengan ciri khasnya motif parang dan campuran motif klasik lainnya. Saya dulu pernah punya batik warna sejenis  saya bikin rok tapi sobek waktu naik motor di Bali.

Kini ada gantinya, rencana batik jogja mau dibikin rok juga yang ungu pink fanta abu dan batik Magelang  rencana mau bikin casual. Wah saya senang dengan oleh-oleh batik ini karena sekarang hampir tiap daerah ada batik, perkembangan batik sangat pesat.

Terimakasih sahabat dan kerabat yang telah memberiku oleh-oleh batik. Semoga rejekinya ditambah. Sangat bermanfaat buat saya.

Pamulang 15 Maret 12.30 2018

Seperti debu, tajam menerpa mata
Aku tersentak dari lamunan
ketika kubuka tirai jendela
Seperti angin, lembut menyusup jiwa
Aku terpejam, kuhirup nafas dalam
di gerbang kotaku, Yogyakarta
Hari ini aku pulang, hari ini aku datang
bawa rindu, bawa haru, bawa harap-harap cemas
Masihkah debu jalanan menyapa gerak langkahku?
Masihkah suara cemara mengiringi nyanyianku?
Seperti bintang diam menunggu fajar
Aku berfikir untuk membangunkanmu
Di sini aku ditempa, di sini aku dibesarkan
Semangatku, keyakinanku, keberadaanku pun terbentuk
Masih aku pelihara kerinduanku yang dalam
Setiap sudutmu menyimpan derapku, Yogyakarta
Setiap sudutmu menyimpan langkahku, Yogyakarta

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet Deneefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers Festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali. Ia mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7 km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan “Imagining India” pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada aplikasi waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee . Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke Tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali. Ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain beulok-beulokan (kotor-kotoran) di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-foto akhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara di Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya Jack, serta Alex mereka semua turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampai besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di Neka Museum saya mengikuti sesi “Migrant “dan “Refugees” bersama Stef Vaessen, Sami Shah, Chris Raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang “A Little Life” yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemu Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Lima Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan. Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak aku ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbagai bangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket Bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan ke Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirman 21.40

Meskipun saya sudah menikah hampir 10 tahun tapi saya suka nonton stand-up comedy seperti Raditya Dika, Pandji, Uus dan lain-lain yang biasanya ngangkat tema jomblo kocak abis. Saya follow twitter dan instagram Radit dan Pandji dan suka tertawa sendiri bacanya, follower mereka ribuan. Nah, yang gencar di promoin belakangan ini adalah Film mereka berjudul “Single”.Selama ini saya cuma liat promonya tapi belum sempat nontonnya baru sempat kemarin di Pondok Indah Mall.

Saya nonton jam 14.30 di PIM I antrian lumayan mengular. Karena waktu itu ada tiga film laris yaitu “Star Wars”, “Single”, dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Sebelumnya saya sempatkan beli makanan dan camilan agar gak lapar nanti. Tepat pukul 14.30 studio 4 sudah dibuka.

Poster Single

Poster Single

Cerita berawal dari kisah tiga orang anak kos yaitu Ebi (Raditya Dika), Wawan (Pandji Pragiwaksono), dan Victor (Babe Cabelita) yang takut sama hantu. Mereka bertiga naik mobilnya Ebi yang hendak janjian di ITC Cempaka Mas dengan cewek bernama Vina (Elvira Devinamira) teman SMAnya dulu. Vina yang sudah lama menunggu Ebi terlihat cantik dan Ebi pun cerita jika dulu sering makan bareng saat SMA. Ebi yang berharap dapat sinyal cinta dari Vina, sangat kecewa karena ternyata Vina mengajaknya ketemu untuk memberi undangan pernikahan.

Pupusnya Harapan ini membuat sohib dekatnya Wawan dan Victor kasihan sama Ebi, maka mereka pun mengajak Ebi main ke sebuah klub yang hingar bingar. Pandjii yang punya cewek sering bantuin masak ibunya dan Victor yang dijodohkan orangtuanya terlihat kompak masuk klub, seru banget di klub ini, penampilan Victor yang memakai batik ke klub membuat penonton di studio tertawa. Saat itu Ebi mendekati Laras (Pevita Pearce) dan kekonyolan pun terjadi saat Ebi mematuhi nasihat wawan untuk mentraktir Laras dan Ebi menelpon laras jam dua malam.

Usai gagal dengan dua cewek, Ebi tidak sengaja ketemu dengan cewek cantik bernama Angel (Annisa Rawles) yang seorang mahasiswa kedokteran yang kos di tempat kos bareng sama Ebi dkk. Disinilah cerita seru dimulai. Usaha Ebi menarik perhatian Angel maksimal, dari mulai kirim surat hingga perhatian lainnya. Namun sayang, Angel banyak yang ngasih perhatian termasuk Joe (Chandra Liow), Joe ini super protektif pada Angel dan mengancam Ebi agar menghindari Angel. Berbagai cara dan tipu muslihat, Joe berusaha menjauhkan Angel dari Ebi. Ebi dan Joe pun berebut perhatian Angel hingga mengikuti ke acara Ebi dan keluarga di Bali persiapan pernikahan Alva (Frederik Alexander). Namun Ebi tak putus semangat, ia terus menerus menaruh harapan besar pada Angel. Termasuk diajak skydiving, Ebi pun mau meskipun dia tidak tahu olahraga apa dan harus kena muntahan Victor saking gugupnya terjun di skydiving untuk mengikuti kemauan Angel.

Saya bersama poster "Single"

Saya bersama poster “Single”

Ketika di Bali itulah persahabatan antara wawan, Victor dan Ebi kacau, karena diam2 Wawan dan victor kirim surat tanpa sepengetahuan Ebi dan Ebi marah begitu juga Angel karena Ebi merobek surat dari ibunya yang Alzheimer Ibu Marjan. Kesedihan dan nasib sial Ebi seakan bertubi2, dia juga tak bisa membayar kos, hingga harus pindah kos, maklum Ebi masih jobless dan melamar kesana kemari. Sisipan Ebi yang suka stand-up comedy juga ditampilkan disini.

Puncaknya saat pernikahan Alva, Ebi yang pernah berjanji akan membawa cewek di pernikahan Alva terlihat bingung saat ditanya ibunya tentang Angel yang dibawanya ke Bali. Bisakah Ebi mendapatkan Angel? Bisakah Ebi menyingkirkan Joe, saingannya? Satu hal yang Ebi akan segera sadari, yaitu petuangannya melepaskan status single membuat dia menjadi tahu lagi apa yang dia butuhkan dalam hidupnya, bukan sekadar memenuhi apa yang dia inginkan. Dalam epilog yang dikemas dalam stand up comedy, Ebi mengatakan lebih baik single atau Pacaran namun dipaksakan? Para penonton pun mengambil hikmah dari pengalaman ini tentang petualangan mencari pasangan.

Film ini bener2 kocak, penampilan Wawan dan Victor sebagai peran pendukung sangat maksimal dan membuat penonton tertawa sepanjang film berlangsung. Rugi deh kalau gak nonton hehehe…selamat nonton yaaa

Eva Rohilah
Pengamat Film dan Buku
tinggal di Depok

Akhir pekan kemarin 17 Oktober 2015, aku diundang ke acara nonton bareng Film berjudul “Little Big Master” di Cinemaxx Plaza Semanggi persembahan Celestal Movies. Aku berangkat dari rumah bareng suami, lalu pisah di Pasar minggu dan aku naik busway dari Pasar Minggu ke Plaza Semanggi. Sampai Plangi masih pagi jam 9, dan registrasi jam 10-jam 11. Aku bertemu dengan teman-teman dari Kumpulan Emak-emak blogger, ternyata banyak juga blogger dari komunitas lain seperti Kompasiana dan Blog detik. Kami mendapatkan goodie bag cantik dan snack.

Tepat pukul 11 Aku masuk studio dan tayangan film “Little Big Master” pun dimulai. Adegan diawali dialog seorang guru dengan murid yang merasa tertekan masuk di kelas berbakat sebuah Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) elit di Kota Hongkong. Orangtua sang murid tidak terima ketika mengetahui laporan bahwa anaknya tidak bisa dimasukkan kelas berbakat dan menanyakan siapa yang membuat laporan kepadanya, maka direktur sekolah memanggil kepala sekolah TK elit tersebut dan diminta menjelaskan kepada kedua orangtua anak tersebut. Sang Kepala Sekolah, Lui Wai-hung (diperankan oleh Miriam Yeung) menjelaskan apa adanya tentang kondisi muridnya, untuk menghindari sang murid dari stress, sebaiknya anak tersebut dimasukkan ke kelas reguler. Namun kedua orang tua murid yang merupakan orang terpandang dan kaya raya tetap tidak mau terima, sehingga akhirnya hati Direktur pun luluh. Dia lebih mematuhi keinginan orang tua murid untuk tetap memasukkan anak tersebut ke kelas berbakat dan mengabaikan pendapat Kepala Sekolahnya.

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Merasa tidak nyaman, Hung Usai mengajar di TK, Hung mengatakan kepada suaminya Dong (diperankan oleh Louis Koo) memilih mundur dari TK ternama dan berencana melakukan perjalanan pensiun keliling dunia. Dong yang bekerja sebagai perancang di museum pun sedang bermasalah dengan kantornya. Sehingga sisa waktu yang ada diisi Hung dengan berolahraga ke gym dan belajar bahasa asing. Namun, Hung mengerti bahwa kondisi pensiunnya hanyalah cara untuk menjauh dari minatnya yang memudar terhadap pendidikan.

Saat tidak sengaja berolahraga, Hung memperhatikan ada iklan penerimaan di sebuah TK di desa yang mencari kepala sekolah sekaligus pengawas sekolah dalam satu posisi. Jika sekolah tersebut gagal mendapatkan kepala sekolah baru pada waktunya, maka akan ditutup. Hal ini membuat 5 siswa yang tersisa akan kehilangan kesempatan untuk bisa bersekolah. Hung khawatir, masa depan anak-anak tersebut menjadi tidak jelas. Dengan harapan bisa mencarikan sekolah yang lebih baik untuk mereka sebelum tahun ajaran baru tahun depan, Hung memutuskan untuk melamar jabatan sebagai kepala sekolah meski dengan gaji rendah (4.500 Dollar Hongkong) dan menunda perjalanan pensiunannya.

Saat pertama kali Hung mengunjungi kelima anak tersebut, Siu Suet, Ka Ka, Chu Chu serta Kitty dan Jennie, dua bersaudara dari Asia Selatan, mereka menolak keras untuk menerima orang asing. Namun setelah menunjukkan banyak perhatian dan kesabaran, Hung dengan cepat mendapat kepercayaan mereka. Kepolosan mereka yang murni menyentuh Hung serta menyalakan kembali minatnya terhadap pendidikan dan dia mulai tahu cerita di balik mereka satu per satu.

Hung Mengantarkan Anak didiknya ke toilet desa saat hujan deras

Masih banyak hal yang perlu dilakukan selain merencanakan kurikulum, termasuk memperbaiki bangunan tua sekolah tersebut, membersihkan toilet dan menjemput anak-anak ke sekolah. Saat hujan deras dan toilet sekolah meluap, Hung bahkan rela mengantarkan anak-anaknya ke toilet desa. Hung bahkan harus berdiri tegak menentang cemooh dari masyarakat setelah membantu orang tua mereka yang miskin. Namun demikian, dia mampu melewati semua kesulitan dengan semangatnya yang besar dan perlahan jatuh cinta pada tempat tersebut. Dia memutuskan untuk mengelola sekolah tersebut dan mulai mencari siswa baru.

Salah satu yang menarik dan menggores hati dari film ini adalah karakter kuat kelima muridnya. Murid pertama adalah Ho Siu Suet (diperankan oleh Ho Yun-Ying Winnie) Salah satu dari lima murid. Ibu Siu Suet masih menunggu visa di Cina Daratan untuk datang ke Hong Kong. Si kecil Siu Suet tinggal bersama ayahnya yang tua dan sakit-sakitan bekerja sebagai pengumpul besi tua. Dia mengurus pekerjaan rumah pada usia belia. Murid kedua adalah Tam Mei Chu / Chu Chu (diperankan oleh Keira Wang), Chu Chu takut pada hujan badai setelah kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan mobil saat malam badai dan petir menggelegar. Sejak itu Chu Chu diadopsi oleh kerabat jauhnya, Bibi Han.

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Murid ketiga adalah Fu Shun-ying sebagai Lo Ka Ka / Ka Ka (diperankan oleh Fu Shun-ying), Ka Ka adalah gadis yang sangat dewasa walau usianya masih belia. Dia menolak untuk pergi ke sekolah karena harus menjadi penengah pertengkaran kedua orang tuanya. Sedangkan murid ke empat dan kelima adalah Kittie dan Jennie Fahima (diperankan oleh Zaha Fathima & Khan Nayab). Kitty dan Jennie adalah kakak beradik diantara kelima murid. Mereka di bawah tekanan keluarga karena keberatan ayah mereka yang mengabaikan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuannya.Orangtuanya adalah imigran dari Asia Selatan.

Hung Bersama Kelima Muridnya

Hung Bersama Kelima Muridnya

Dengan setulus hati, Hung mengajar kelima muridnya. Dia juga mengajak para orangtuanya terlibat dengan kegiatan sekolah seperti field trip ke sebuah taman di kota Hongkong. Hung pun mulai dikenal oleh masyarakat dengan sebutan kepala sekolah 4.500 Dollar Hongkong. Pada saat bermain di taman tersebut ada dialog yang sangat menarik antara Hung dan salah seorang pengunjung taman yang difabel. Dia mengenal Hung melalui media dan mengatakan salut atas perjuangan Hung dia berkata “Pendidikan terbaik tidak terdapat pada pada perangkat kerasnya, namun ada pada kebaikan hati para pendidiknya,” ujarnya. Pesan dari perkataan pengunjung itu sangat dalam dan menyadarkan saya akan pentingnya kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah.

Bermain Bersama

Bermain Bersama

Waktu terus berlalu dan masa perekrutan siswa baru pun segera dimulai. Di sisi lain, para orang tua dihasut untuk mengeluarkan anak mereka dari sekolah. Hung menerima pemberitahuan terakhir tentang pemecatan dirinya. Namun Hung tidak putus asa, dia bisa mengatasi semuanya dan datang berkunjung ke rumah muridnya. Hingga akhirnya dia mempersiapkan murid-muridnya untuk menari dan bernyanyi. Niat semula yang hanya mengajar sampai empat bulan pun pupus. Hung ingin merekrut siswa baru. Di sisi lain, Dong sangat mengkhawatirkan kesehatan Hung setelah mengetahui itu bukan pekerjaan sementara.

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Pada saat itu ada ketegangan antara Hung dan suaminya yang saat itu kurang setuju dengan rencana Hung, karena akan membatalkan impian mereka ke luar negeri. Saat ulang tahun ibunya, Hung yang datang terlambat mendapat pesan dari mertuanya bahwa Hung yang menderita penyakit tiroid sudah jarang berkunjung ke dokter yang menanganinya. Dong pun menyadari jika Hung belakangan jarang minum ramuan tradisional yang disiapkannya. Dia khawatir penyakitnya akan kambuh lagi meski sudah diangkat. Namun, Hung tidak pantang menyerah Hung sangat bersemangat mempersiapkan pesta kelulusan dan menyebar brosur dan menunggu pendaftaran siswa baru hingga saat-saat penting dimana ia harus menghadiri acara Dong dan tidak ada satupun murid yang mendaftar, penyakitnya pun kambuh dan ia pun jatuh sakit. Dong pun segera membawa Hung ke rumah sakit dan benar, jika penyakit tiroid yang dideritanya muncul lagi meskipun tumornya sudah diangkat. Berhari-hari Hung dirawat di rumah sakit dan Dong pun menggantikan perannya sebagai guru sekaligus kepala sekolah di TK tersebut.

Pada saat itu juga ada seorang tokoh di Hongkong yang merupakan pencari dana di bidang pendidikan ingin memanfaatkan popularitas Hung untuk kepentingan pribadinya. Beruntung Hung sadar dan tidak silau akan popularitas ia menolak tawaran tokoh tersebut.

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Setelah dirawat di rumah sakit, Hung pun bersiap ke sekolah untuk menemui kelima muridnya. Saat itu sekolah akan ditutup jika Hung tidak bisa mendapatkan siswa baru. Anak-anak putus asa untuk membuat sebuah penampilan terbaik dalam upacara kelulusan sebagai hadiah untuk kepala sekolah mereka tercinta dan sebagai perpisahan untuk semuanya. Mereka menahan tangis selama pentas dan adegan ini sangat mengharukan, Tidak hanya Hung yang terharu, saya liat semua penonton di cinemaxx terdiam dan hampir semua menangis melihat adegan ini.

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Saat itu Hung mengumumkan bahwa satu-satunya siswa yang lulus adalah Lo Ka Ka. Hung dan Ka Ka pun memberikan sambutan yang sangat menyentuh hati. Ka Ka sangat berterimakasih atas kerja keras kepala sekolah selama ini mendidik mereka, Kaka bahkan di masa depan bercita-cita ingin menjadi kepala sekolah seperti Hung, diapun minta izin jika ia ingin tidak lulus dan tetap belajar bersama Hung. Adegan ini merupakan klimaks dari “Little Big Master, sangat luar biasa mengharukan.

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Para orang tua murid yang hadir ikut menangis. Semua orang di desa yang akhirnya datang melihat, sangat tersentuh dan Hung menyadari bahwa kegigihan dan kerja keras serta ketulusan hatinya akhirnya membuahkan hasil. Tk ini tidak ditutup justru mendapatkan murid dan dukungan dari masyarakat luas. “Little Big Master” diangkat dari kisah nyata yang menceritakan tentang upaya nona Lui Lai Hung membangun kembali TK Yuen Kong dari sebuah TK yang suram menjadi TK terkemuka.

“Little Big Master” membuat ulang kisah tentang Hung membangun kembali sebuah TK menjadi kehidupan yang menyenangkan bagi para muridnya. Sebuah kisah kecil dengan tawa dan air mata di kota besar. Ada satu pesan yang disampaikan di akhir film ini “Bahwa dalam hidup kita, pasti akan bertemu seorang guru baik yang akan merubah Hidup Kalian,” ini pesan mengingatkan akan guru-guruku dulu saat SD, SMP dan SMA. Satu persatu mereka hadir dalam ingatanku dan aku pun berkata betapa besar jasa mereka.

Diproduseri Benny Chan,  “Little Big Master” menuai banyak pujian dan meraih sukses besar di Hong Kong serta berhasil meraup pendapatan HK$46,6 juta (sekitar Rp 80 milyar) di Hong Kong box office. Jangan lewatkan kisah menyentuh hati yang dihiasi oleh aksi para bintang cilik yang menggemaskan dan mengharukan dalam “Little Big Master” pada hari minggu, tanggal 25 Oktober jam 20.00 WIB hanya di Celestial Movies. Celestial Movies dapat disaksikan Indovision (CH. 20), K-Vision (CH. 47), MatrixTV (CH. 9), Nexmedia (CH. 508), OkeVision (CH. 19), OrangeTV (CH. 162), Skynindo (CH. 19), Transvision (CH. 112), TopTV (CH. 20), Topass TV (CH. 61), UTV (CH. 691), dan YesTV (CH. 108).

Saya berterimakasih kepada Celestial Movies karena diperkenankan menonton film ini. Sepulang dari Nobar saya langsung pulang ke rumah dan cari kanal Celestial Movies yang kebetulan saya berlangganan Transvision, saya penasaran dengan film-filmnya. Selama ini tidak tahu jika ada film Hongkong berkualitas. I Love HK Movies . Selamat Menyaksikan.

Nonton Bareng Seru

Nonton Bareng Seru

Ini adalah resensi film pertamaku yang dimuat di media online, http://www.ghiboo.com.

The Iron Lady
Judul Film : The Iron Lady
Sutradara : SuPhylida Lloyd
Pemain : Meryl Streep, Jim Broadbent, Harry Lloyd, Olivia Colman, Alexandra Roach, Anthony Head
Produser : Damian Jones
Rilis : 6 Januari 2012
Make Up : Mark Coulier dan J. Roy Helland

Ghiboo.com – Semua orang tahu, mantan perdana menteri Inggris Margaret Tatcher adalah perempuan tangguh yang menjabat selama tiga periode dari partai konservatif.

Namun, tahukah Anda pengorbanan besar suami dan keluarganya saat beliau menjabat, dan kenapa perempuan yang memiliki nama asli Margareth Hilda Roberts ini selalu mengapa mengenakan mutiara kembar di beberapa penampilannya di depan publik?

Anda akan menemukan jawabannya dalam film The Iron Lady yang diperankan dengan baik oleh Meryl Streep besutan sutradara SuPhylida Llyod.

Diawali dengan kondisi terkini Margaret Tatcher saat ia mendatangani buku biografinya di usianya yang sudah semakin tua, saat itulah ia mulai mengenang beberapa penggal kehidupannya di mulai saat ia masih remaja dan diperankan dengan baik oleh Margaret muda (Alexandra Roach).

Saat itu ia sering mendapat olokan dari teman-temannya karena Margaret muda hanyalah seorang penjaga toko kelontong milik keluarganya. Kenangan terhadap ayahnya digambarkan saat ia merasakan kegembiraan yang luar biasa ketika diterima di Oxford University, kemudian setelah lulus dan bekerja ia bertemu dengan seorang Denis Tatcher muda (Harry Lloyd) seorang pengusaha.

Kehidupan bersama Margaret, Denis dan kedua anaknya hanya ditampilkan sepintas saja karena film ini langsung beranjak ke masa-masa Margaret menjadi anggota parlemen dan menteri pendidikan Inggris.

Masa-masa awal kepemimpinannya menuai banyak kontroversi, namun setelah beberapa kebijakan populernya tentang perdamaian, kesejahteraan dan hidup dalam harmoni yang selalu ia dengungkan merubah semua pandangan rakyat Inggris.

Berbagai keberhasilan Margaret Tatcher di sampaikan dengan baik dalam film ini bahkan sindirannya kepada politisi sekarang yang menurutnya hanya sekedar mencari nama atau pencitraan bukan benar-benar bekerja untuk negara. Dalam hal ini aspek kepemimpinan Margaret Tatcher sangat menonjol meskipun ia dikenal tidak mau kompromi.

Aksen Inggris Meryl Streep menirukan gaya bicara Margaret Tatcher nyaris sempurna, ketegasan dan kelembutan Tatcher diperankan dengan penuh penjiwaan. Acungan jempol yang luar biasa, sepertinya harus diberikan kepada Mark Coulier dan J. Roy Helland yang menjadi make up artis dalam film ini, mereka bisa menampilkan ciri khas Tatcher dengan baik, dalam hal berpakaian, model rambut dan gaya tas tangan yang dijinjingnya.

Dalam film yang berdurasi 105 menit ini, sangat terlihat peranan Denis Tatcher yang selalu mengingatkan Margaret beberapa hal berkaitan dengan kebiasaannya seperti jangan tidur terlalu larut, jangan terlalu banyak minum dan menghibur Tatcher di tengah kesibukannya sebagai perdana menteri. Sosok Denis yang mendukung penuh karir Margaret, juga terlihat saat ia mengundurkan diri setelah 11,5 tahun menjabat .

Karena peranan suaminya yang besar, Denis yang sudah meninggal dunia pada 2003 karena kanker selalu muncul dalam halusinasi Margaret Tatcher saat ini, ketika ia sendiri maupun saat tidur. Anaknya pertamanya Mark menetap di Afrika Selatan, sedangkan Carol tinggal tidak serumah dan sesekali ia datang ke rumahnya saat ini. Sehingga di masa tuanya ia tinggal di rumah sendiri, bersama seorang sekretaris yang mengurusi berbagai kebutuhannya.

Kebahagian dan keharuan mengaduk-aduk perasaan penonton yang menyaksikan film yang dimana Meryl Streep meraih anugerah Golden Globe atas perannya di film ini, Margaret terlihat sedih, namun tetap tegar saat ia merelakan kepergian suaminya yang pergi dengan busana lengkap namun tanpa alas kaki (sepatu).

Film ini sangat menginspirasi terutama bagi perempuan yang bekerja, politisi perempuan atau perempuan pengambil kebijakan, serta bagi kaum laki-laki. Meskipun film ini menuai protes dari penulis biografi Margaret Tatcher dan pemerintah Inggris, tapi film ini bagus ditonton untuk menghabiskan akhir pekan Anda bersama keluarga.

Eva Rohilah

Bisa dibuka juga di

Wisata Kota Tua

Posted: April 28, 2011 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Pada 25-26 Maret 2010, Aku ama teman-teman sekantor mengikuti Rapat Sinkronisasi di hotal Batavia, daerah Kota Tua deket mangga dua, lumayan makanannya enak-enak dan yang lebih asyik lagi saat waktu luang bisa jalan-jalan ke wisata kota tua yang tak jauh dari hotel, bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Mukti, Aku dan Supri

Mukti, Aku dan Supri

Dari arah hotel Batavia, kami bertiga jalan kaki menuju jembatan. kemudian belok kiri Sepanjang perjalanan gedung-gedung menjulang tinggi dengan jendela-jendela yang besar. Jembatan yang kami lewati dibawahnya ada kali besar yang membelah kota tua.

Aku di pinggirjembatan Kali besar

Aku di pinggirjembatan Kali besar

Usai melewati jembatan, kami berjalan menyusuri bangunan-banguna tua yang sudah pada terkelupas cat dan temboknya. Tapi justru disitulah menariknya bangunan ini. Kami pun berfoto bersama. Mas Mukti, aku dan Supri foto bergantian satu sama lain.

Disamping Bangunan zaman Belanda

Disamping Bangunan zaman Belanda

Setelah berjalan melalui lorong- lorong gedung tua, kami akhirnya sampai di kantor gubernur pada zaman dulu yang bersebrangan dengan kantor pos besar. Sebelum kantor pos itu ada sebuah kafe yang lumayan asyik. Kafe itu masih mempertahankan arsitektur lama, tapi dipadukan dengan interior yang modern. Kafe itu namanya Kafe Batavia.

Di depan Kafe Batavia

Di depan Kafe Batavia

Usai dari Kafe Batavia, kami berjalan-jalan di tengah lapangan yang ramai oleh pengunjung. Di sekeliling lapangan banyak diparkir sepeda-sepeda yang disewakan atau biasa disebut ojeg sepeda. Tapi uniknya, sepeda yang disewakan ini diberi topi di depannya yang memberi kesan nyonya dan meneer pada zaman Belanda dulu. Di dalam lapangan banyak orang berboncengan dan berpasang-pasangan, ada juga para remaja yang sedang melukis dan para fotografer mengabadikan momen-momen klasik di wisata kota tua. Senja yang menarik.

Di depan sepeda rias

Di depan sepeda rias

Setelah capek jalan-jalan selama kurang lebih satu jam menikmati kota tua, akhirnya kami kembali ke Hotel Batavia, karena waktu menjelang malam. Meskipun pegel, tapi cukup refreshing jalan-jalan di senja hari. Setelah di hotel kami makan malam dan melanjutkan acara sampai penutupan.

Di dalam ruangan Hotel Batavia

Di dalam ruangan Hotel Batavia

Resensi Film: Paris Express

Paris Express

Paris Express

Hari Jum’at yang lalu, aku sama Rini Yuni Astuti nonton film berjudul Paris Express di Pejaten Village Pasar Minggu. Kami nontonnya jam 9 malam. Film berjudul asli LE COURSIER merupakan Film drama hasil produksi Europcorp ini memiliki durasi 99 menit ditulis dan disutradari oleh Herve Renoh, dengan melibatkan beberapa bintang film terkenal seperit Michael Youn, Geraldine Nakache, Jimmy Jean-Louis dan Didier Flamand.

Sam Ketilang oleh ayahnya sendiri

Sam Ketilang oleh ayahnya sendiri

Film ini dimulai dari perjalanan Sam yang sering melanggar rambu lalu lintas demi memenuhi janji dan kepuasan konsumennya dalam “pengiriman barang ekspress” di tempatnya bekerja. Karena kenekatannya ini mengharuskan para pengguna jalan di Paris harus berhati-hati dalam melangkah dan berjalan di sudut kota tersebut. Semua harus waspada akan jasa pengiriman barang ekspress di sana yang kebetulan melintas dengan cepat.
Di sepanjang jalan, baik itu dari multikultural hingga perancang busana Paris, dari Montmartre hingga ke Champs-Elysees, dan dari trotoar hingga galeri mewah digunakan seorang kurir pengiriman barang bernama “Sam” dengan mengendarai skuternya.

Peran antagonis

Peran antagonis

Meski sehebat dan sekeras apapun usaha Sam tidak akan pernah mendapat bonus dari atasannya dan selalu kalah bersaing dari rekannya, tidak dapat menghindar dari ayahnya yang selalu ingin bertemu.
Beprofesi sebagai petugas jasa pengiriman ekspres ternyata menjadi motivasi Sam untuk mendapatkan Nadia, kekasihnya. Bahkan ada beberapa scane di Film ini yang menjadi puncak dimana Sam akhirnya merubah hidupnya secara total saat akan menghadiri pernikahan adiknya.

Bersama Louisa

Bersama Louisa

Saat akan menghadiri acara adiknya tersebut, Sam memiliki satu pengiriman barang lagi dan tanpa ia sadari, pengiriman terakhir ini akan membawanya ke pusat pencurian lukisan berharga. Pengiriman barang yang mengubah hidupnya dari yang normal menjadi penuh adrenalin, peluru dan aksi kejar-kejaran di kota Paris dengan skuternya.

Sekelumit penggalan film Paris Express ini membuat penasaran untuk menikmati asyiknya kisah Sam dalam perjuangan mengantar kiriman maupun mendapatkan Nadia ceweknya, walau sangat sibuk sebagai kurir.

Jaga Selalu Hatimu

Posted: January 20, 2011 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Minggu ini aku suka banget denger lagunya Seventeen, yang Jaga Selalu Hatimu, iseng2 aku cari ada liriknya dan ini aku upload, semoga yang lainnya pada seneng ya…

Jaga Selalu Hatimu By Seventeen

kau jaga selalu hatimu
saat jauh dariku tunggu aku kembali

mencintaimu aku tenang
memilikimu aku ada
di setiap engkau membuka mata

merindukanmu selalu ku rasakan
selalu memelukmu penuh cinta
itu yang selalu aku inginkan

kau mampu membuatku tersenyum
dan kau bisa membuat nafasku lebih berarti

reff:
kau jaga selalu hatimu
saat jauh dariku tunggu aku kembali
ku mencintaimu selalu
menyayangimu sampai akhir menutup mata

kau mampu membuatku tersenyum
dan kau bisa membuat nafasku lebih berarti

repeat reff [2x]

kau, kau jaga selalu hatimu

Ketika Gladiol Bersemi

Posted: May 12, 2008 by Eva in Inspirasi, Seni, Film dan Budaya

Ketika Gladiol Bersemi

 

Setelah serial Cerita di Balik Kisah yang menceritakan Si Kun San, yang disiarkan di DAAI TV setiap jam 7, aku benar-benar menjadi kecanduan lihat drama DAAI TV,  karena pada jam 9 ada siaran  Ketika Gladiol Bersemi (KGB). Sebelumnya aku gak tahu jika pada 2007 drama ini sudah pernah disiarkan. Setelah aku cari di internet, ternyata banyak sekali penggemar serial ini.

Ketika Gladiol Bersemi merupakan sebuah drama seri televisi yang ditayangkan stasiun DAAI TV Jakarta. Diangkat dari kisah nyata pengusaha-pengusaha sukses dari keluarga Pak RT Gao yang tinggal di Taiwan. Beruntung saya bisa mengikutinya meski bukan dari awal benar. Karena banyak hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dalam hidup ini.

Keluarga Pak RT Gao awalnya adalah sebuah keluarga petani yang hidup di Danau Rebung, yakni sebuah wilayah gunung bambu yang tandus dan susah ekonominya. Keluarga ini terdiri atas:

Kakek. Ia seorang yang begitu mencintai sastra sehingga berkenan memberikan pendidikan dan pengajaran bagi para tetangganya. Ia pun rajin memberikan petuah-petuah dan nasihat-nasihat bijak kepada cucu-cucunya.

Pak RT Gao. Ia seorang petani yang tekun, ulet, senang berderma dan suka membantu orang lain. Ia rela mengeluarkan hartanya untuk mereka yang memerlukan. Ia cerdas, senang melakukan riset tentang tanaman bunga dan selalu bekerja mulai dinihari dan pulang pada petang hari.

Ibu RT. Ia adalah tipe wanita yang hemat. Tidak suka berfoya-foya. Setiap pengeluaran perlu pertimbangan yang matang. Meski terkadang dianggap terlalu berlebihan, tapi sebenarnya sikap itulah yang justru bisa membuat keluarga Gao bisa eksis. Bisa dibayangkan bila ibu tidak bersikap hemat. Tentu anak-anaknya akan sulit mendapatkan pendidikan yang memadai.

Lokasi syuting drama ini sekarang menjadi daerah kunjungan wisata. Pada saat lagi meledak di pasaran  sekitar September – Oktober  2005, ada beberapa tour lokal yang menyelenggarakan paket wisata menuju titik-titik syuting drama ini di gunung Yang Ming (Yang Ming Shan).

 

Drama ini merupakan drama Daai TV yang paling cepat menyebar hanya dari mulut ke mulut.Ketiga saudaranya yang perempuan akhirnya juga bergabung di Tzu Chi dan salah satunya menjadi relawan di Stasiun Daai TV Taipei. Hingga hari ini, di desanya di Yang Ming-shan, keluarga Gao masih menjadi keluarga yang sangat dihormati, meskipun anak-anaknya sendiri sudah jarang ke sana. Drama ini mengangkat posisi Daai TV di Taiwan ke posisi 3 untuk waktu prime time yang persaingannya sangat ketat.

 

Melihat drama ini aku jadi lebih bersemangat, mengingat aku juga berasal dari keluarga besar. Tidak jarang aku menangis tertawa dan termenung mengingat tingkah mereka. Apalagi usai acara ini selalu ada wawancara dengan para tokoh asli maupun aktris yang berperan.

 

Sangat inspiratif dan menyenangkan

 

Jangan Lupa  Menonton ya