Archive for the ‘Seni, Film dan Budaya’ Category

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-Mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet DeNeefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

 

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama di adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali, mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan imagining India pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee. Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali, ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain belok-belokan di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-fotoakhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara ke Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya, dan Alex mereka turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampe besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di neka Museum saya mengikuti sesi Migrant dan Refugees bersama Stef vaessen, Sami Shah, Chris raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang A Little Life yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemau Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Empat Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan.Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak saya ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirma 21.40

Advertisements

Ini adalah resensi film pertamaku yang dimuat di media online, http://www.ghiboo.com.

The Iron Lady
Judul Film : The Iron Lady
Sutradara : SuPhylida Lloyd
Pemain : Meryl Streep, Jim Broadbent, Harry Lloyd, Olivia Colman, Alexandra Roach, Anthony Head
Produser : Damian Jones
Rilis : 6 Januari 2012
Make Up : Mark Coulier dan J. Roy Helland

Ghiboo.com – Semua orang tahu, mantan perdana menteri Inggris Margaret Tatcher adalah perempuan tangguh yang menjabat selama tiga periode dari partai konservatif.

Namun, tahukah Anda pengorbanan besar suami dan keluarganya saat beliau menjabat, dan kenapa perempuan yang memiliki nama asli Margareth Hilda Roberts ini selalu mengapa mengenakan mutiara kembar di beberapa penampilannya di depan publik?

Anda akan menemukan jawabannya dalam film The Iron Lady yang diperankan dengan baik oleh Meryl Streep besutan sutradara SuPhylida Llyod.

Diawali dengan kondisi terkini Margaret Tatcher saat ia mendatangani buku biografinya di usianya yang sudah semakin tua, saat itulah ia mulai mengenang beberapa penggal kehidupannya di mulai saat ia masih remaja dan diperankan dengan baik oleh Margaret muda (Alexandra Roach).

Saat itu ia sering mendapat olokan dari teman-temannya karena Margaret muda hanyalah seorang penjaga toko kelontong milik keluarganya. Kenangan terhadap ayahnya digambarkan saat ia merasakan kegembiraan yang luar biasa ketika diterima di Oxford University, kemudian setelah lulus dan bekerja ia bertemu dengan seorang Denis Tatcher muda (Harry Lloyd) seorang pengusaha.

Kehidupan bersama Margaret, Denis dan kedua anaknya hanya ditampilkan sepintas saja karena film ini langsung beranjak ke masa-masa Margaret menjadi anggota parlemen dan menteri pendidikan Inggris.

Masa-masa awal kepemimpinannya menuai banyak kontroversi, namun setelah beberapa kebijakan populernya tentang perdamaian, kesejahteraan dan hidup dalam harmoni yang selalu ia dengungkan merubah semua pandangan rakyat Inggris.

Berbagai keberhasilan Margaret Tatcher di sampaikan dengan baik dalam film ini bahkan sindirannya kepada politisi sekarang yang menurutnya hanya sekedar mencari nama atau pencitraan bukan benar-benar bekerja untuk negara. Dalam hal ini aspek kepemimpinan Margaret Tatcher sangat menonjol meskipun ia dikenal tidak mau kompromi.

Aksen Inggris Meryl Streep menirukan gaya bicara Margaret Tatcher nyaris sempurna, ketegasan dan kelembutan Tatcher diperankan dengan penuh penjiwaan. Acungan jempol yang luar biasa, sepertinya harus diberikan kepada Mark Coulier dan J. Roy Helland yang menjadi make up artis dalam film ini, mereka bisa menampilkan ciri khas Tatcher dengan baik, dalam hal berpakaian, model rambut dan gaya tas tangan yang dijinjingnya.

Dalam film yang berdurasi 105 menit ini, sangat terlihat peranan Denis Tatcher yang selalu mengingatkan Margaret beberapa hal berkaitan dengan kebiasaannya seperti jangan tidur terlalu larut, jangan terlalu banyak minum dan menghibur Tatcher di tengah kesibukannya sebagai perdana menteri. Sosok Denis yang mendukung penuh karir Margaret, juga terlihat saat ia mengundurkan diri setelah 11,5 tahun menjabat .

Karena peranan suaminya yang besar, Denis yang sudah meninggal dunia pada 2003 karena kanker selalu muncul dalam halusinasi Margaret Tatcher saat ini, ketika ia sendiri maupun saat tidur. Anaknya pertamanya Mark menetap di Afrika Selatan, sedangkan Carol tinggal tidak serumah dan sesekali ia datang ke rumahnya saat ini. Sehingga di masa tuanya ia tinggal di rumah sendiri, bersama seorang sekretaris yang mengurusi berbagai kebutuhannya.

Kebahagian dan keharuan mengaduk-aduk perasaan penonton yang menyaksikan film yang dimana Meryl Streep meraih anugerah Golden Globe atas perannya di film ini, Margaret terlihat sedih, namun tetap tegar saat ia merelakan kepergian suaminya yang pergi dengan busana lengkap namun tanpa alas kaki (sepatu).

Film ini sangat menginspirasi terutama bagi perempuan yang bekerja, politisi perempuan atau perempuan pengambil kebijakan, serta bagi kaum laki-laki. Meskipun film ini menuai protes dari penulis biografi Margaret Tatcher dan pemerintah Inggris, tapi film ini bagus ditonton untuk menghabiskan akhir pekan Anda bersama keluarga.

Eva Rohilah

Bisa dibuka juga di

Wisata Kota Tua

Posted: April 28, 2011 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Pada 25-26 Maret 2010, Aku ama teman-teman sekantor mengikuti Rapat Sinkronisasi di hotal Batavia, daerah Kota Tua deket mangga dua, lumayan makanannya enak-enak dan yang lebih asyik lagi saat waktu luang bisa jalan-jalan ke wisata kota tua yang tak jauh dari hotel, bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Mukti, Aku dan Supri

Mukti, Aku dan Supri

Dari arah hotel Batavia, kami bertiga jalan kaki menuju jembatan. kemudian belok kiri Sepanjang perjalanan gedung-gedung menjulang tinggi dengan jendela-jendela yang besar. Jembatan yang kami lewati dibawahnya ada kali besar yang membelah kota tua.

Aku di pinggirjembatan Kali besar

Aku di pinggirjembatan Kali besar

Usai melewati jembatan, kami berjalan menyusuri bangunan-banguna tua yang sudah pada terkelupas cat dan temboknya. Tapi justru disitulah menariknya bangunan ini. Kami pun berfoto bersama. Mas Mukti, aku dan Supri foto bergantian satu sama lain.

Disamping Bangunan zaman Belanda

Disamping Bangunan zaman Belanda

Setelah berjalan melalui lorong- lorong gedung tua, kami akhirnya sampai di kantor gubernur pada zaman dulu yang bersebrangan dengan kantor pos besar. Sebelum kantor pos itu ada sebuah kafe yang lumayan asyik. Kafe itu masih mempertahankan arsitektur lama, tapi dipadukan dengan interior yang modern. Kafe itu namanya Kafe Batavia.

Di depan Kafe Batavia

Di depan Kafe Batavia

Usai dari Kafe Batavia, kami berjalan-jalan di tengah lapangan yang ramai oleh pengunjung. Di sekeliling lapangan banyak diparkir sepeda-sepeda yang disewakan atau biasa disebut ojeg sepeda. Tapi uniknya, sepeda yang disewakan ini diberi topi di depannya yang memberi kesan nyonya dan meneer pada zaman Belanda dulu. Di dalam lapangan banyak orang berboncengan dan berpasang-pasangan, ada juga para remaja yang sedang melukis dan para fotografer mengabadikan momen-momen klasik di wisata kota tua. Senja yang menarik.

Di depan sepeda rias

Di depan sepeda rias

Setelah capek jalan-jalan selama kurang lebih satu jam menikmati kota tua, akhirnya kami kembali ke Hotel Batavia, karena waktu menjelang malam. Meskipun pegel, tapi cukup refreshing jalan-jalan di senja hari. Setelah di hotel kami makan malam dan melanjutkan acara sampai penutupan.

Di dalam ruangan Hotel Batavia

Di dalam ruangan Hotel Batavia

Resensi Film: Paris Express

Paris Express

Paris Express

Hari Jum’at yang lalu, aku sama rini nonton film berjudul Paris Express di Pejaten Village Pasar Minggu. Kami nontonnya jam 9 malam. Film berjudul asli LE COURSIER merupakan Film drama hasil produksi Europcorp ini memiliki durasi 99 menit ditulis dan disutradari oleh Herve Renoh, dengan melibatkan beberapa bintang film terkenal seperit Michael Youn, Geraldine Nakache, Jimmy Jean-Louis dan Didier Flamand.

Sam Ketilang oleh ayahnya sendiri

Sam Ketilang oleh ayahnya sendiri

Film ini dimulai dari perjalanan Sam yang sering melanggar rambu lalu lintas demi memenuhi janji dan kepuasan konsumennya dalam “pengiriman barang ekspress” di tempatnya bekerja. Karena kenekatannya ini mengharuskan para pengguna jalan di Paris harus berhati-hati dalam melangkah dan berjalan di sudut kota tersebut. Semua harus waspada akan jasa pengiriman barang ekspress di sana yang kebetulan melintas dengan cepat.
Di sepanjang jalan, baik itu dari multikultural hingga perancang busana Paris, dari Montmartre hingga ke Champs-Elysees, dan dari trotoar hingga galeri mewah digunakan seorang kurir pengiriman barang bernama “Sam” dengan mengendarai skuternya.

Peran antagonis

Peran antagonis

Meski sehebat dan sekeras apapun usaha Sam tidak akan pernah mendapat bonus dari atasannya dan selalu kalah bersaing dari rekannya, tidak dapat menghindar dari ayahnya yang selalu ingin bertemu.
Beprofesi sebagai petugas jasa pengiriman ekspres ternyata menjadi motivasi Sam untuk mendapatkan Nadia, kekasihnya. Bahkan ada beberapa scane di Film ini yang menjadi puncak dimana Sam akhirnya merubah hidupnya secara total saat akan menghadiri pernikahan adiknya.

Bersama Louisa

Bersama Louisa

Saat akan menghadiri acara adiknya tersebut, Sam memiliki satu pengiriman barang lagi dan tanpa ia sadari, pengiriman terakhir ini akan membawanya ke pusat pencurian lukisan berharga. Pengiriman barang yang mengubah hidupnya dari yang normal menjadi penuh adrenalin, peluru dan aksi kejar-kejaran di kota Paris dengan skuternya.

Sekelumit penggalan film Paris Express ini membuat penasaran untuk menikmati asyiknya kisah Sam dalam perjuangan mengantar kiriman maupun mendapatkan Nadia ceweknya, walau sangat sibuk sebagai kurir.

Jaga Selalu Hatimu

Posted: January 20, 2011 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Minggu ini aku suka banget denger lagunya Seventeen, yang Jaga Selalu Hatimu, iseng2 aku cari ada liriknya dan ini aku upload, semoga yang lainnya pada seneng ya…

Jaga Selalu Hatimu By Seventeen

kau jaga selalu hatimu
saat jauh dariku tunggu aku kembali

mencintaimu aku tenang
memilikimu aku ada
di setiap engkau membuka mata

merindukanmu selalu ku rasakan
selalu memelukmu penuh cinta
itu yang selalu aku inginkan

kau mampu membuatku tersenyum
dan kau bisa membuat nafasku lebih berarti

reff:
kau jaga selalu hatimu
saat jauh dariku tunggu aku kembali
ku mencintaimu selalu
menyayangimu sampai akhir menutup mata

kau mampu membuatku tersenyum
dan kau bisa membuat nafasku lebih berarti

repeat reff [2x]

kau, kau jaga selalu hatimu

Ketika Gladiol Bersemi

Posted: May 12, 2008 by Eva in Inspirasi, Seni, Film dan Budaya

Ketika Gladiol Bersemi

 

Setelah serial Cerita di Balik Kisah yang menceritakan Si Kun San, yang disiarkan di DAAI TV setiap jam 7, aku benar-benar menjadi kecanduan lihat drama DAAI TV,  karena pada jam 9 ada siaran  Ketika Gladiol Bersemi (KGB). Sebelumnya aku gak tahu jika pada 2007 drama ini sudah pernah disiarkan. Setelah aku cari di internet, ternyata banyak sekali penggemar serial ini.

Ketika Gladiol Bersemi merupakan sebuah drama seri televisi yang ditayangkan stasiun DAAI TV Jakarta. Diangkat dari kisah nyata pengusaha-pengusaha sukses dari keluarga Pak RT Gao yang tinggal di Taiwan. Beruntung saya bisa mengikutinya meski bukan dari awal benar. Karena banyak hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dalam hidup ini.

Keluarga Pak RT Gao awalnya adalah sebuah keluarga petani yang hidup di Danau Rebung, yakni sebuah wilayah gunung bambu yang tandus dan susah ekonominya. Keluarga ini terdiri atas:

Kakek. Ia seorang yang begitu mencintai sastra sehingga berkenan memberikan pendidikan dan pengajaran bagi para tetangganya. Ia pun rajin memberikan petuah-petuah dan nasihat-nasihat bijak kepada cucu-cucunya.

Pak RT Gao. Ia seorang petani yang tekun, ulet, senang berderma dan suka membantu orang lain. Ia rela mengeluarkan hartanya untuk mereka yang memerlukan. Ia cerdas, senang melakukan riset tentang tanaman bunga dan selalu bekerja mulai dinihari dan pulang pada petang hari.

Ibu RT. Ia adalah tipe wanita yang hemat. Tidak suka berfoya-foya. Setiap pengeluaran perlu pertimbangan yang matang. Meski terkadang dianggap terlalu berlebihan, tapi sebenarnya sikap itulah yang justru bisa membuat keluarga Gao bisa eksis. Bisa dibayangkan bila ibu tidak bersikap hemat. Tentu anak-anaknya akan sulit mendapatkan pendidikan yang memadai.

Lokasi syuting drama ini sekarang menjadi daerah kunjungan wisata. Pada saat lagi booming, sekitar Sept-okt 2005, ada beberapa tour lokal yang menyelenggarakan paket wisata menuju titik-titik syuting drama ini di gunung Yang Ming (Yang Ming Shan).

 

Drama ini merupakan drama Daai TV yang paling cepat menyebar hanya dari mulut ke mulut.Ketiga saudaranya yang perempuan akhirnya juga bergabung di Tzu Chi dan salah satunya menjadi relawan di Stasiun Daai TV Taipei. Hingga hari ini, di desanya di Yang Ming-shan, keluarga Gao masih menjadi keluarga yang sangat dihormati, meskipun anak-anaknya sendiri sudah jarang ke sana. Drama ini mengangkat posisi Daai TV di Taiwan ke posisi 3 untuk waktu prime time yang persaingannya sangat ketat.

 

Melihat drama ini aku jadi lebih bersemangat, mengingat aku juga berasal dari keluarga besar. Tidak jarang aku menangis tertawa dan termenung mengingat tingkah mereka. Apalagi usai acara ini selalu ada wawancara dengan para tokoh asli maupun aktris yang berperan.

 

Sangat inspiratif dan menyenangkan

 

Jangan Lupa  Menonton yak…

  

 

Lirik Top

Posted: January 14, 2008 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Biarlah By Nidji

aku sudah berlari
mengejar yang tak pasti
mengejar kamu.. hanya dirimu..

kulantunkan hidupku
kubisikkan cintaku
hanya untukmu.. hanya untukmu…

tapi engkau terus pergi
tapi engkau terus berlari
jadi biarkanlah aku di sini

1.gif
biarlah kurela
melepasmu, meninggalkan aku
berikanlah aku
kekuatan untuk lupakanmu

waktu terus bergulir
sakit tetap mengukir
jalan hidupku.. jalan hidupku..

berikanlah jiwamu
berikanlah cintamu
hanya untukku.. hanya untukku

tetapi engkau terus pergi
tapi engkau terus berlari
jadi biarkanlah aku di sini

kau jauh dariku
kau tetap menjauh dari aku

Arti Sahabat Nidji

tak mudah untuk kita hadapi
perbedaan yang berarti
tak mudah untuk kita lewati
rintangan silih berganti

kau masih berdiri
kita masih di sini
tunjukkan pada dunia
arti sahabat

kau teman sejati
kita teman sejati
hadapilan dunia
genggam tanganku

tak mudah untuk kita sadari
saling mendengarkan hati
tak mudah untuk kita pahami
berbagi rasa di hati

kau adalah..
tempatku membagi kisahku
kau sempurna
jadi bagian hidupku
apapun kekuranganmu

Ayat ayat Cinta–Rossa

Desir pasir di padang tandus
Segersang pemikiran hati
Terkisah ku di antara cinta yang ruhwi
Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekadar cinta
Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan

ayat2-cinta.jpg

Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak mungkin ku cegah
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu
Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud

Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung Kupertaruhkan
Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak mungkin ku cegah
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu
Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud

Lelaki Cadangan T2

kutuliskan sebuah cerita cinta segitiga
dimana akulah yg jadi peran utama
aku tak dapat membohongi segala rasa
aku mencintai dia dan dirinya

nanti pukul satu dia menemui aku
maka jangan kamu pasang wajah yg cemburu
nanti bila dia datang menemui aku
maka cepat-cepat kamu ngumpet dulu

reff:
dan aku sudah pernah bilang
pacarku bukan cuma kamu saja
ku mempunyai dua hati
yg tlah siap untuk ditinggali

kan aku sudah pernah bilang
janganlah kamu terlalu sayang
dan bila nanti kau menghilang
ku masih punya lelaki cadangan

Peterpan – Hari Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi

pagi biar kusendiri
jangan kau mendekat
wahai matahari
dingin hati yang bersedih
tak begitu tenang
mulai terabaikan

hari yang cerah untuk jiwa yang sepi
begitu terang untuk cinta yang mati
ah… ku coba bertahan dan tak bisa

kubu langit kelabuku
tak begitu luas
seperti memudar
kini tak terulang lagi
di hari yang cerah
dia telah pergi

hari yang cerah untuk jiwa yang sepi
ahh… ku coba bertahan dan tak bisa
ahh… mencoba melawan ku lepas
hari yang cerah untuk jiwa yang sepi…
begitu terang untuk jiwa yang mati

ahh… kucoba bertahan dah tak bisa
ahh… mencoba melawan ku lepas
semua telah hilang ….
semua telah ….

Ari Lasso feat. Bunga Citra Lestari – Aku Dan Dirimu

tiba saatnya kita saling bicara
tentang perasaan yang kian menyiksa
tentang rindu yang menggebu
tentang cinta yang tak terungkap

sudah terlalu lama kita berdiam
tenggelam dalam gelisah yang tak teredam
memenuhi mimpi-mimpimu malam kita

reff:
duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah
perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu
dan kini hanya ada aku dan dirimu
sesaat di keabadian

jika sang waktu kita hentikan
dan segala mimpi-mimpi jadi kenyataan
meleburkan semua batas
antara kau dan aku, kita

repeat reff


Ungu – Cinta Dalam Hati

mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa di cintai
tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
dengan hidupmu, dengan hidupmu

telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
bahagia untukku, bahagia untukku

reff:
ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja

repeat reff

The Rock feat. Ahmad Dhani – Kamu Kamulah Surgaku

tahukah kamu kuciumimu
di saat terlelap
tahukah kamu kudekap kamu
saat kamu bermimpi

tahukah kamu ya cuma kamu
pemilik hatiku
tahukah kamu hatiku ini
adalah hatimu

tahukah kamu di setiap tidurku
ku kagumi wajahmu
nanti kau kan tahu
nanti kau dengar bahwa aku begitu

reff:
kamu, kamu adalah surga yang ada
dalam hidupku dalam kenyataanku
kamu, aku adalah penghuni surga
ucapkan salam pada hidup dan mati

tahukah kamu saat kamu menangis
adalah air mata ku yang jatuh berlinang
tahukah kamu saat kamu tersakiti
adalah aku yang pertama terluka

tahukah kamu ya cuma aku
yang punya cinta untukmu
tahukah kamu ya cuma aku
yang rela mati untukmu

repeat reff

Outing gives Potter passages new meaning

NEW YORK – With author J.K. Rowling’s revelation that master wizard Albus Dumbledore is gay, some passages about the Hogwarts headmaster and rival wizard Gellert Grindelwald have taken on a new and clearer meaning.

The British author stunned her fans at Carnegie Hall on Friday night when she answered one young reader’s question about Dumbledore by saying that he was gay and had been in love with Grindelwald, whom he had defeated years ago in a bitter fight.

dumbledore.jpg

‘”You cannot imagine how his ideas caught me, Harry, inflamed me,'” Dumbledore says in “Harry Potter and the Deathly Hallows,” the seventh and final book in Rowling’s record-breaking fantasy series.

The news brought gasps, then applause at Carnegie Hall, the last stop on Rowling’s brief U.S. tour, and set off thousands of e-mails on Potter fan Web sites around the world. Some were dismayed, others indifferent, but most were supportive.“Jo Rowling calling any Harry Potter character gay would make wonderful strides in tolerance toward homosexuality,” Melissa Anelli, webmaster of the fan site http://www.the-leaky-cauldron.org, told The Associated Press. “By dubbing someone so respected, so talented and so kind, as someone who just happens to be also homosexual, she’s reinforcing the idea that a person’s gayness is not something of which they should be ashamed.”

“‘DUMBLEDORE IS GAY’ is quite a headline to stumble upon on a Friday evening, and it’s certainly not what I expected,” added Potter fan Patrick Ross, of Rutherford, N.J. “(But) a gay character in the most popular series in the world is a big step for Jo Rowling and for gay rights.”

J.K.Rowling

 Gellert Grindelwald was a dark wizard of great power, who terrorized people much in the same way Harry’s nemesis, Lord Voldemort, was to do a generation later. Readers hear of him in the first book, “Harry Potter and the Sorcerer’s Stone,” in a reference to how Dumbledore defeated him. In “Deathly Hallows,” readers learn they once had been best friends.“Neither Dumbledore nor Grindelwald ever seems to have referred to this brief boyhood friendship in later life,'” Rowling writes. “However, there can be no doubt that Dumbledore delayed, for some five years of turmoil, fatalities, and disappearances, his attack upon Gellert Grindelwald. Was it lingering affection for the man or fear of exposure as his once best friend that caused Dumbledore to hesitate?”As a young man, Dumbledore, brilliant and powerful, had been forced to return home to look after his mentally ill younger sister and younger brother. It was a task he admits to Harry that he resented, because it derailed the bright future he had been looking forward to.

Then Grindelwald, described by Rowling as “golden-haired, merry-faced,” arrived after having been expelled from his own school. Grindelwald’s aunt, Bathilda Bagshot, says of their meeting: “The boys took to each other at once.” In a letter to Grindelwald, Dumbledore discusses their plans for gaining wizard dominance: “‘(I)f you had not been expelled we would never have met.'”

harry-potter.jpgPotter readers had speculated about Dumbledore, noting that he has no close relationship with women and a mysterious, troubled past.“Falling in love can blind us to an extent,” Rowling said Friday of Dumbledore’s feelings about Grindelwald, adding that Dumbledore was “horribly, terribly let down.”Dumbledore’s love, she observed, was his “great tragedy.”

Kuning

Posted: September 10, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

tas-and-sepatu-ed.jpgAkhir-akhir ini aku suka sekali warna kuning gara2 aku nemuin sepatu kuning di Blok M Plaza, terus aku nyari tas warna serupa di ITC Cempaka Mas.

Jadi sekarang tas ama sepatu inilah yang menemani hari-hariku kerja dan jalan2 kemanapun aku pergi. Siapa yang suka warna kuning silahkan deh bergabung hehehehe

Adenium Indah

Posted: August 29, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

adeniumkecil.jpgBunga Adenium indah banget, aku jadi ingat bunga Adenium yang dikasih kakakku dari Bantul, apakah sudah berbunga. Aku menitipkannya pada mama winda dan yang menyirami pak Iyo di Cirendeu.

Lukisan Picasso

Posted: August 28, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Pablo PicassoEntah apa yang aku rasakan kok tiba2 kalo ingat pameran lukisan atau jalan-jalan ke galeri lukiksan aku selalu teringat Pablo Picasso. Saat ini kan lagi deadline lho gak lagi jalan2 ke tempat seni tapi kok aku ingat Picasso. Aku suka banget lukisan ini…

Di sudut Jembatan Plangi

Posted: August 28, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

NyebrangJembatan
Plaza Semanggi 15 Agustus 2007

Malam kian pekat, saat aku keluar dari Gedung Bank Mandiri di daerah Gatot Subroto.
Habis liputan aku berjalan lumayan jauh menuju jembata Plaza Semanggi depannya Komdak. Mungkin ini adalah pemandangan yang biasa di Jakarta, namun malam itu bagi aku tidak biasa.

Cerita Akhir Harry Potter

Posted: August 10, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Dear all,
Penasaran dengan isi buku Harry Potter yang baru?Ini ada resensinya.
Selamat membaca

Harry Potter and the Deathly Hallows Plot Summary

Beginning of book

The book begins at the home of Lucius Malfoy, with Snape and a Ministry official, Yaxley, informing Lord Voldemort of the date Harry Potter intends to leave the Dursley’s house. Voldemort borrows Lucius wand, because his own is ineffective against Harry. Voldemort plans to kill Harry when he is moved to a new safe place, which has to happen when he turns seventeen and his safety with the Dursleys expires.
Harry, on the night he is to leave the Dursleys, reads an obituary of Albus Dumbledore, written by Dumbledore’s friend Elphias “Dogbreath” Doge. Harry learns about Dumbledore’s family including his brother Aberforth and sister Ariana, and he regrets not having asked Dumbledore more about his past.

Middle of book
After a month of spying on the Ministry of Magic, the trio attempt to infiltrate it to retrieve the Horcrux from Dolores Umbridge. They discover the Ministry of Magic has changed considerably; Muggle-born wizards and witches are being rounded up openly for questioning. The trio eventually locate Umbridge and take the Horcrux, knocking her out in the process. They free a number of Muggle-born wizards and witches, and encourage them to leave the country. However, the trio’s hiding place at 12 Grimmauld Place is discovered and they are forced to flee to the countryside, moving from place to place, never staying anywhere too long.
After several months of this, they overhear a conversation revealing that the Ministry only possesses a replica of Gryffindor’s sword; the original’s location is unknown. Harry questions the portrait of Phineas Black, and discovers that Dumbledore used the sword to destroy a Horcrux, the Gaunts’ ring. Harry suggests attempting to locate the real sword, but Ron objects, feeling that this is a pointless quest. After an argument with Harry, he leaves the group. Harry and Hermione are greatly saddened, but decide to go to Godric’s Hollow on the off-chance that Dumbledore left the sword there for them there.

The Deathly Hallows themselves
At Lovegood’s home, Harry, Ron, and Hermione are told an old wizard story about three brothers who bested Death, and each had received a magical item for it, the three Deathly Hallows – an unbeatable wand (called the Elder Wand), a stone which could bring back the dead (the Resurrection Stone), and an Invisibility Cloak that never failed with age. Harry believes that his own cloak is that Invisibility Cloak, and is very excited, but soon discovers that Lovegood has betrayed them to the Ministry; Luna, his daughter, has been taken captive and he believes that giving them Harry Potter would cause them to free her. The trio barely escape from the wizards sent to fetch them, but Harry is emboldened and believes that they need to collect all the Deathly Hallows, these artifacts given by Death, to defeat Voldemort.

End of book
At Hogsmeade, Harry and friends are cornered by Death Eaters and saved by Aberforth Dumbledore. Aberforth opens a secret passageway to Hogwarts, where Neville Longbottom greets them. Harry alerts the Heads of Houses at Hogwarts to Voldemort’s imminent arrival and evacuation measures are implemented to ensure the younger students’ safety, with the older ones able to stay and fight. After saving Draco Malfoy’s life, Harry finds Ravenclaw’s diadem in the Room of Requirement. Draco Malfoy and Crabbe and Goyle are also in there after the diadem.

Epilogue
In the story’s epilogue, taking place 19 years after the Battle of Hogwarts, Harry and Ginny Weasley are married and have three children named James, Albus Severus, and Lily. Ron and Hermione are also married and have two children named Rose and Hugo. Draco Malfoy has a wife (unnamed) and a child named Scorpius. Lupin and Tonks’ orphan son Teddy is apparently in love with Victoire, Bill and Fleur’s daughter. They all meet at King’s Cross, about to send their children to Hogwarts at the beginning of term. Neville Longbottom has become the Herbology Professor at Hogwarts. The Sorting Hat has survived, or has been repaired or replaced. It is revealed that Harry’s scar has not hurt since the Dark Lord’s defeat, and there the story ends.