Archive for the ‘Seni, Film dan Budaya’ Category

Perkembangan batik di Indonesia, tidak hanya berpusat di Jawa Tenga h, Jogjakarta, Jawa Timur dan Cirebon saja yang terkenal, kini anda pun bisa melirik potensi lokal yang ada di Selatan Jawa Barat yaitu Batik Kenarie, khas batik dari Sukabumi.

Ada beragam motif yang menjadi ciri khas batik Sukabumi, karena memiliki tempat wisata berupa laut di Pasir Putih Ujung Genteng Sukabumi yang terkenal dengan penyu, kemudian wisata alam yang hijau di pegunungan telah menginspirasi pembatik di daerah Sukabumi membuat batik khas.

Disini dijual tiga jenis batik berdadarkan proses pembuatan. Yaitu dengan cara batik printing, batik cap dan batik tulis, dijual dengan harga beragam dan aneka motif.

Motif Binatang

Ada dua jenis motif binatang yang menjadi inspirasi dalam pembuatan batik yaitu motif penyu dan motif ikan.

Motif Penyu

Motif Penyu

Motif Daun

Untuk motif daun, Batik Sukabumi yang merupakan daerah pegunungan yang dingin kaya inspirasi.

Ada motif batik daun rimba selabintana, daun pisang, hingga paralayang. Aneka jenis motif daun ini warnanya bermacam-macam, namun kebanyakan adalah warna-warna yang hijau, pastel, mocca, orange, hingga biru dongker.

Motif Daun Rimba Selabintana

Motif Daun Rimba Selabintana

Selain itu ada juga motif yang abstrak dan aneka motif lainnya yang menarik.

Jika anda ingin lebih tahu secara mendalam aneka jenis Batik Sukabumi, datang saja ke sentra Batik Kenarie di jl. Kenari no 2 Sukabumi, anda bisa memilih beragam motif yang anda inginkan dari harga yang paling murah yaitu mulai  Rp.70.000, Rp.99.000, Rp.125.000, Rp.210.000, Rp.400.000 hingga Rp.1.600.000 juga ada, yaitu jenis batik tulis.
Aneka motif dan corak batik Sukabumi

Gambar di sebelah kanan atas no 2 dari kanan yang bergaris kuning dan hitam adalah batik corak daun pisang dan aneka motif lainnya yang menarik hati. Silahkan dipilih.

Jadi jika anda sedang berwisata ke Sukabumi, ada tugas kantor, atau lewat,  jangan lupa pulangnya mampir ke Batik Kenarie Sukabumi ya…

4 April 2018
Pukul 12.33

Advertisements

Selama saya tinggal di Pondok Petir, Depok, berbatasan dengan Pamulang, belum sekalipun saya main ke Kabupaten Lebak. Padahal tempat tinggal saya  dekat Tangerang Selatan, termasuk dekat. Baru pada bulan Februari lalu saya berkunjung ke  Kabupaten Lebak, naik KRL (Commuter) dari Sudimara ke Stasiun Rangkas Bitung. Saya berangkat pagi-pagi sekali  dan ternyata memang  jauh sekali perjalanan dari Sudimara ke Rangkas Bitung lebih dari satu jam perjalanan.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika anda bersama keluarga mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah di Provinsi Banten yang terkenal dengan penduduk aslinya Suku Baduy. Saya pun tidak menyesal berkunjung ke tempat ini, karena selain tempatnya mudah dijangkau (tidak jauh dari stasiun), datang ke sini juga anda (bebeunangan, bahasa Sunda-ed) artinya dapat banyak.

Kenapa dikatakan demikian, karena ada tiga tempat yang  anda bisa kunjungan yang terpusat di satu lokasi. Sehingga anda betah berlama-lama di sini. Pertama, mengunjungi perpustakaan Saidjah Adinda, setelah membaca koleksi buku, kemudian menonton film sejarah, kedua, berkunjung ke Museum Multatuli yang baru saja diresmikan dan sebelum pulang anda bisa mengunjungi cara pembuatan batik lebak yang berada persis di belakang museum, proses produksi, penjahitan sampai penjualan. Tidak ada salahnya, tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata anda bersama teman, kerabat, atau keluarga, baik yang berada di Jakarta ataupun pinggiran ibukota.

Perpustakaan Saidjah Adinda

Moda transportasi untuk menempuh ke tiga lokasi ini lokasi  bisa naik apa saja. Dari jalan kaki, naik ojek, hingga angkutan kota. Para pengemudi beragam angkutan disana sudah hapal. Bilang saja nama lokasi yang berada di dekat alun-alun, persisnya di Jl.Alun-alun Timur No.6 Rangkas Bitung, Lebak.

Pertama yang saya kunjungi adalah Perpustakaan Saidjah Adinda. Desain arsitektur perpustakaan ini unik, dengan deretan buku yang beragam. Ada ratusan koleksi buku milik perpustakaan Saidjah Adinda ini, dari sejarah, agama, politik, pertanian, sosial, dan buku bacaan anak-anak.

Berikut beberapa koleksi buku Perpus Saidjah Adinda. Pak Ali Rahmat, meminjami saya buku  bersampul kuning berjudul Max Havelaar.  Dan saya pun membacanya meski tidak sampai selesai.

Saat saya berkunjung, koleksi majalah dan koran yang berada di lantai dua ramai dengan anak-anak yang masih usia SD yang bergiliran juga sambil bermain. Sedangkan koleksi buku dewasa tampak sepi, karena sedang jam kerja sehingga hanya ada beberapa petugas yang merupakan pegawai dan anak muda.

Usai makan siang, perpustakaan mengumumkan ada pemutaran film Max Havelaar, di ruang audiovisual. Saya pun berkunjung kesana, dimana studionya dibuat dari rangkaian bambu. Anak-anak SMA nampak sudah memenuhi studio, dan film pun sudah diputar. Dari film itulah saya mengenal siapa itu Saidjah Adinda yang menjadi nama perpustakaan. Sangat mengerikan tokoh Saidjah dalam film ini, dimana ia seorang perempuan anak petani yang mengenakan caping namun ditendang dengan kasar oleh kolonial dan menjalin cinta tidak sampai dengan Adinda. Lebih jelasnya tentang siapa itu Saidjah Adinda, anda bisa klik link di bawah ini. Saidjah Adinda

Film yang berdurasi cukup lama ini menarik untuk ditonton. Selain mengenalkan sejarah bagaimana Kawedanaan Lebak di zaman kolonial, anda akan lebih paham

Museum Multatuli

 

Setelah melihat koleksi buku, majalah, surat kabar, serta menonton film di Audiovisual, saya berjalan sedikit ke gedung sebelah kanan dimana di situ ada Museum Multatuli. Karena sudah menonton filmnya saya jadi tahu sedikit tentang siapa itu Multatuli, kaitannya dan Max Havelaar, dan alasannya kenapa diabadikan sebagai museum. Museum ini menyerupai rumah tua bercat putih tulang kombinasi kuning gading.

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada Januari hingga Maret 1856. Berdasarkan pengalamannya di daerah tersebut, dia menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar yang pertama kali diterbitkan pada 1860.

Dengan Max Havelaar, Multatuli ingin membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Ide-ide itu menginspirasi tokoh-tokoh pendiri bangsa, seperti Soekarno, untuk memerdekakan Indonesia.

Sebagai karya monumental,  novel Max Havelaar, Kabupaten Lebak memutuskan untuk menjadikan bekas kantornya  dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an sebagai museum. Menurut Ubaidillah, Museum Multatuli ini direhab dan didesain ulang oleh arsitek dari IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia).

Sejak anda masuk di pintu depan anda akan tertegun dengan karya seni baik foto maupun karya seni lainnya, tentang eksistensi manusia. Sejarah kopi dan pertanian, puisi rendra, serta tokoh-tokoh pahlawan dari Lebak dan nasional. Hening dan senyap anda selama mengunjungi beberapa bagian museum yang dilengkapi dengan pidato tiada henti selama anda mengitarinya.

Tidak begitu besar memang isi dari museum ini, akan tetapi anek koleksi, foto, peta, alur sejarah sampai dengan karya Multatuli sangat lengkap dan padat. Sehingga anda tidak usah berlama-lama di dalam anda bisa larut dalam sejarah zaman kolonial. Jika anda perhatikan betul, akan banyak ilmu dan sejarah yang saya sendiri tidak tahu awalnya nama-nama tokoh antikolonial.

Usai mencermati dan mengambil gambar, saya keluar museum dengan wawasan baru dan banyak hal tentang museum Multatuli. Banyak spot-spot menarik di dalam musem dan luar museum, tapi tidak saya cantumkan disini, biar nanti anda berkunjung kesana saja hehehe…

 Sentra Batik Lebak

Hari sudah beranjak sore, jam tiga saya keluar dari museum. Berjumpa dengan Pak Ubaidillah di pintu belakang saat saya mau ke sentra batik Lebak yang persis berada di belakang Museum. Kita ngobrol sebentar dan sempat ambil gambar. Tidak lama kemudian saya melanjutkan perjalanan ke sentra batik Lebak. Sentra batik ini sangat luas dan terbuka.

Tiga orang anak muda sedang melakukan proses membatik. Ada yang mencap, ada juga dua orang yang mendampinginya. Beberapa batik yang sudah selesai digarap dijemur hingga kering. Setelah itu di sebelah barat ada lelaki setengah baya yang sedang menjahit batik lebak, berupa konveksi yang terhubung dengan pemasaran.

Di bagian depan sentra batik, ada toko yang menjual batik yang sudah jadi. Ada yang dalam bentuk pakaian maupun kain siap jahit. Unik dan bagus corak motif batik Lebak saya perhatikan warnanya cerah. Berikut beberapa koleksinya.

Usai dari Sentra batik, saya lapar dan berencana kembali ke Stasiun Rangkas Bitung untuk melanjutkan perjalanan nanti malam ke Serang. Cukup puas sudah dari pagi hingga sore saya mengitari tiga tempat ini, ada banyak kesan yang mendalam dan wawasan  baru di luar yang saya ketahui selama ini.

Seusai dari sentra batik, wah anak-anak pulang sekolah ramai sekali berkumpul di Museum Multatuli. Ada yang bercengkrama, ada juga yang berselfie ria. Di selasar museum ada juga sekelompok anak muda, sepertinya dari Jakarta sedang berdiskusi serius membentuk lingkaran.

Jadi tunggu apalagi, ini kan hari Jum’at,  besok akhir pekan tidak ada salahnya anda berkunjung ke tiga lokasi ini untuk berwisata sambil menambah wawasan,   sambil jalan-jalan atau menghabiskan akhir pekan.

Pamulang, 10.05 WIB

Minggu lalu saya melakukan perjalanan singkat ke Semarang, Temanggung, Magelang, Jogjakarta dari hari Rabu sampai hari Sabtu.

Sangat menyenangkan perjalanan kali ini meski tidak bisa nyantai karena menyesuaikan jadwal kepulangan seperti sesuai tiket yang kubeli di tiket.com

Saya dijemput suaminya keponakan dan  menginap di rumahnya. Untuk pertamakalinya saya mengunjungi Semarang yang ternyata kotanya klasik banget ya, di dekat stasiun banyak bangunan tua dan kafe-kafe asyik tapi unik ala-ala zaman kolonial Belanda. Saya juga sempat berfoto di Simpang Lima.

Usai dari Semarang, sore hari saya melanjutkan perjalanan ke Temanggung dengan naik patas Ramayana yang bisnya nyaman, dingin diiringi musik-musik dangdut kekinian dari Rhoma Irama hingga Via Vallen.

Saya naik dari terminal Sukun dan berhenti di Secang untuk kemudian dijemput teman dan melanjutkan ke Temanggung saat hari menjelang malam.

Saya sangat senang karena pas mau pulang dioleh-olehi batik Magelang warna orange. Dulu saya pernah punya diberi sama teman kuliah batik Papua sama-sama warna orange. Kalau batik Papua motifnya Cendrawasih, saya bikin sarimbit sama mas arif sedangkan batik Magelang motifnya kecil-kecil ada awan, bangunan dan merapi.

Pagi hari dari Temanggung saya dibonceng naik motor menyusuri sawah nan indah. Asyik banget suasana pedesaan di pinggiran kota ini membuat perjalanan Temanggung Magelang hanya bisa ditempuh tidak sampai satu jam. Saya diantar ke terminal Magelang untuk lanjut naik Ramayana lagi tujuan Jombor Sleman Jogjakarta.

Perjalanan Magelang Jogja juga asyik, lewat Ambarawa, dan daerah lainnya tapi saya tidak hapal namanya.Tapi udaranya dingin sehingga saya tertidur sesampai di Jombor untuk lanjut ke Condong Catur, ke Panti Rapih dan rumah kakak ke-8 di Bantul.

Sebelum pulang, kakak ipar menghadiahi saya batik Jogja kombinasi warna ungu, pink fanta dan abu tua dengan ciri khasnya motif parang dan campuran motif klasik lainnya. Saya dulu pernah punya batik warna sejenis  saya bikin rok tapi sobek waktu naik motor di Bali.

Kini ada gantinya, rencana batik jogja mau dibikin rok juga yang ungu pink fanta abu dan batik Magelang  rencana mau bikin casual. Wah saya senang dengan oleh-oleh batik ini karena sekarang hampir tiap daerah ada batik, perkembangan batik sangat pesat.

Terimakasih sahabat dan kerabat yang telah memberiku oleh-oleh batik. Semoga rejekinya ditambah. Sangat bermanfaat buat saya.

Pamulang 15 Maret 12.30 2018

Seperti debu, tajam menerpa mata
Aku tersentak dari lamunan
ketika kubuka tirai jendela
Seperti angin, lembut menyusup jiwa
Aku terpejam, kuhirup nafas dalam
di gerbang kotaku, Yogyakarta
Hari ini aku pulang, hari ini aku datang
bawa rindu, bawa haru, bawa harap-harap cemas
Masihkah debu jalanan menyapa gerak langkahku?
Masihkah suara cemara mengiringi nyanyianku?
Seperti bintang diam menunggu fajar
Aku berfikir untuk membangunkanmu
Di sini aku ditempa, di sini aku dibesarkan
Semangatku, keyakinanku, keberadaanku pun terbentuk
Masih aku pelihara kerinduanku yang dalam
Setiap sudutmu menyimpan derapku, Yogyakarta
Setiap sudutmu menyimpan langkahku, Yogyakarta

Untuk pertamakalinya saya mengikuti event yang saya inginkan sejak lama yaitu Ubud “Writers and Readers Festival (UWRF)”. Sejak digelar pertamakali 13 tahun yang lalu, pada tahun 2016 ini mengambil tema “Tat Tvam Asi” menurut filsafat Hindu, ungkapan dalam bahasa sanksekerta itu yang artinya Kita semua satu, atau ‘Aku adalah engkau, engkau adalah aku’ atau bisa juga bermakna “itu adalah diri-mu”. Acara ini berlangsung dibuka pada 26-30 oktober 2016 di Museum Antonio Blanco. Namun saya tidak ikut malam pembukaan, saya baru datang malam jam 11 karena pesawat Lion Air jurusan Jakarta Denpasar mengalami delay 1,5 jam.

Tapi tidak ada masalah, pada pembukaan acara di pagi hari pertama 27 Oktober 2016 yang dibuka dengan tarian selamat datang oleh para penari tradisional Bali, Janet Deneefe pemrakarsa sekaligus direktur utama acara ini mengungkapkan keragaman dan kemajemukan seharusnya tak menjadi faktor pemecah, tapi menjadi harmoni yang menyatukan. “Kami ingin merefleksikan isu yang tak hanya tentang diri kita, tapi juga menyangkut 7,4 Milyar penduduk bumi,” ujar Janet.

Janet Deneefe dan Anastasia Lin

Berikut saya ceritakan kegiatan di Ubud Writers and Readers Festival selama empat hari.

Hari pertama Kamis 27 November 2016

Tampil sebagai pembicara utama adalah Seno Gumira Ajidarma dalam pembukaannya di Museum Neka Ubud Bali. Ia mengatakan Tat Twam Asi merupakan warisan dari masa lalu. Namun dengan pendekatan yang baru kita akan membuatnya kembali relevan. Dalam kesempatan terpisah di Indus cafe, pegiat lingkungan dan penulis dari Pakistan Mahjabeen Abidi-Habib mengatakan jika Islam juga mengajarkan perikemanusiaan. Selain itu Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap sesama. Selanjutnya Anastasia Lin berbicara tentang hak asasi manusia, keadilan dan seni di China.

Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma

Selanjutnya saya mengikuti sesi Eka Kurniawan dan Desi Anwar yang membahas tentang karya monumentalnya “Cantik itu Luka “ dengan tema besar “Beauty is a wound”, sementara itu Nanisa ikut sesi penulis Korea Utara yang membahas tentang “Undercover in North Korea”. Sebenarnya banyak event menarik di tempat lain, tapi saya mengikuti yang di Neka Café seperti “The View from Here” bersama Janet Steele, Voranai Vanijaka, Desi Anwar dan Amanda Lee Koe.

Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Desi Anwar

Desi Anwar

Siang hari saya ishoma di markas volunteer, di beberapa kafe memang tidak ada tempat khusus untuk ibadah orang muslim, jadi yang paling nyaman ya di lantai 2 markas Volunteer. Setelah makan siang saya mengikuti sesi “Paradise Revisited” bersama I Wayan Juniarta, Made Suar-Timuhun, Ni Made Purnamasari, Rio Helmy, dan Russel Darniery di Taman Baca. Sore harinya, saya mengikuti sesi “Origin Stories” bersama Kirsti Melville, Sami Shah, Eka Kurniawan, Damon Young dan penulis asal Kalimantan Sidik Nugroho. Acara yang berlangsung seru ini ditutup pukul 17.00 WITA.

Sidik Nugroho

Sidik Nugroho

Saya dan Nanisa terpisah sejak siang dan janjian pulang bersama naik motor dari Sanggingan ke Peliatan yang berjarak 7 km dengan naik sepeda motor.

Hari kedua 28 Oktober 2016

Semangat membuncah di hari kedua, saya datang agak terlambat ke acara yang sudah saya tandain dari kemarin yaitu membahas tentang film dengan tema besar “Camera Obscura” di Indus Café bersama Slamet Rahardjo, Djenar Maesa Ayu, Wregas Bhanuteja dan Joko Anwar. Tema ini menarik karena Slamet Rahardjo sebagai moderator memandu acara ini dengan sangat menarik dan kocak, setiap pembicara juga menampilkan pengalaman terbaik dalan dunia film.

Diskusi Camera Obscura

Diskusi Camera Obscura

Kemunculan Wregas Bhanuteja sebagai sutradara muda menjadi daya tarik sendiri, bahkan rencananya saya akan menulis secara terpisah 4 film pendek Wregas Bhanuteja di blog ini yang diputar di hari keempat. Salah satunya adalah film “Prenjak” yang mendapat piala Citra di FFI 2016 sebagai film pendek terbaik.

Siangnya saya kembali ke Neka Museum membahas tentang “Surviving Slavery” Sandra Waworuntu dan Janet Steele sampai pukul 13.00 yang dilanjutkan dengan “Imagining India” pukul 13.15-14.15 bersama Ashwini Devare, Amit Chauduri dll.

Menyimak acara

Menyimak acara

Menjelang sore tema tentang My Indonesia bersama Seno Gumira Ajidarma dan Rio Helmy dari pukul 16.00-17.00. Isu-isu terkini dibahas dari kasus Munir dll. Tapi saya tidak sampai selesai karena harus siap-siap menuju ke Bentara Budaya Bali mengikuti 15 Tahun Supernova bersama Dewi Lestari, yang akan dimulai jam 18.00 WITA, jadi saya sama Nanisa pulang dulu istirahat sebentar, mandi dan capcus ke Bentara Budaya yang berjarak kurang lebih tujuh km naik motor. Untung ada aplikasi waze, saya pegang Hp dan Nanisa yang setir di depan. Pas di jalan km 5 ada tragedi ban bocor, kaget juga kita berdua untung bisa segera diatasi, berhenti sekitar 20 menit.

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Dewi Lestari dalam 15 Tahun Supernova

Sesampainya di Bentara Budaya acara belum mulai tapi sudah penuh, menarik sekali kesempatan mendengar pemaparan langsung dari Dee . Acara dimulai dengan film pendek perjalanan 15 tahun Supernova. Banyak catatan dan ilmu yang saya serap disini, tentang pencarian intelektual Dee saat menulis novelnya dimana dia mendalami semua agama, tokoh-tokoh dalam novel, proses editing, stag saat kehabisan ide dan bagaimana dia juga seringkali stress saat menulis, juga peran suaminya Reza Gunawan yang seorang teraphis.

Hari ketiga 29 Oktober 2016,

Hari ini mulai agak kelelahan. Hanya mengikuti beberapa event dan banyak beristirahat ngopi-ngopi. Begitu juga Nanisa, kita hari itu jalan-jalan ke Tegalalang terrace, persawahan yang indah di Ubud Bali. Ada kejadian lucu habis foto-foto Nanisa pengen turun ke sawah, dia excited maklum dia dokter orang kota, lah saya ini orang kampung Sukabumi, banyak sawah dan sering main di galengan, ngapain beulok-beulokan (kotor-kotoran) di sawah, Nanisa ketawa.

Tegalalang Terrace Ubud

Tegalalang Terrace Ubud

Usai foto-foto akhirnya kita pulang cari rujak di daerah apa ya lupa agak jauh tapi gak enak ampuun deh aku bête banget hari ketiga. Nah setelah makan rujak barulah kami ke lokasi acara di Sanggingan.

Habis acara itu, aku pengen santai dan lebih menikmati suasana tenang di belakang taman baca, ketemu sama teman-teman baru dan tiduran, istirahat sambil selonjoran. Setelah itu menjelang sore Nanisa bawa teman- baru ada Ruth Venner dan suaminya Jack, serta Alex mereka semua turis Australia, lalu kita ngobrol ngarol ngidul sampai hari gelap dan ada petir bersahutan lalu kita pulang dan kehujanan di jalan.

Sampai penginapan aku pusing, pengen pulang dan minta mas Arif majukan jadwal pulang, aku gelisah kangen rumah dan kepala berat meriang. Nanisa pulang kasih obat lalu aku tidur nyenyak dan sarankan agar bertahan sampai besok penutupan. Rupanya obat cukup mujarab, aku bangun pagi segar badan dan siap menghadapi hari keempat.

Hari Keempat 30 Oktober 2016, saya berangkat dengan semangat, karena acara di hari terakhir ini keren-keren semua. Pagi di Neka Museum saya mengikuti sesi “Migrant “dan “Refugees” bersama Stef Vaessen, Sami Shah, Chris Raja, Githa Hariharan dan Gillian Slovo. Siangnya diskusi menarik bersama penulis ternama Jepang Hanya Yanagihara tentang “A Little Life” yang dipandu Kirsti Melville.

Di Sanggingan Taman Baca

Di Sanggingan Taman Baca

Habis makan siang, temanya lebih hidup karena kita membahas tentang rumah. Apa itu filosofi rumah dan maknanya buat kita. Pembicara tema rumah ini adalah Michael Vatikiotis, Githa Hariharan, Reggie Baay, Dimas Indiana Senja dan Stan Grant. Aku suka sekali tema ini, disini saya ketemu Dimas Senja yang merupakan penulis asal Jogja, juga penerjemah yang cantik, alumni Atmajaya Jogja.

Siangnya dari jam 14.00 sampai jam 15.30 saya sama Nanisa menonton lima film peendek karya sineas muda Wregas Bhanuteja yaitu Senyawa, Lembusura, Lemantun, The Floating Chopin dan Prenjak. Usai onton film kita ditraktir makan sama Ruth Venner dan Jack suaminya di restoran Kalimantan, habis itu saya sama Nanisa pulang untuk persiapan penutupan.

Empat Film Wregas Bhanuteja

Lima Film Wregas Bhanuteja

Malam senin perpisahan dimulai ada drumband, atraksi seni tradisional serta hiphop rame banget, tapi aku lebih suka duduk di belakang saja menikmati dari jauh karena tidak begitu suka keriuhan. Banyak pesan penting UWRF 2016 kali ini, masih banyak event lain yang tidak aku ikuti seperti short course dan launching buku karena tempat yang berjauhan. Pesannya sampai karena kita dari berbagai bangsa berbaur menjadi satu dalam keragaman.

Senin sore setelah jalan-jalan ke Sukawati beli oleh-oleh, kita makan rujak dulu, Nanisa senang banget yang pera-pera hahaha, rujak Bali samping Sukawati deket Bank BNI.

img_20161031_113445

Rujak Bali Bu Jero

Lalu kita jalan ke Jungle Fish, Villa Vajra dan Air Terjun, sorenya kami pulang dari Liang House dijemput sama Pak Rudi. Maka kita pamit ke Bu Kadek yang baik hati semoga bisa ketemu lagi lain hari. Oh ya maaf hampir sebulan dari event baru sempat tulis ceritanya. Semoga bermanfaat dan berguna. Terimakasih Nanisa, Pak Rudi, Bu Kadek, Panitia UWRF khususnya Mbak Eka, dan semua relawan acara.

Keluarga Liang House

Keluarga Liang House

FX Sudirman 21.40

Meskipun saya sudah menikah hampir 10 tahun tapi saya suka nonton stand-up comedy seperti Raditya Dika, Pandji, Uus dan lain-lain yang biasanya ngangkat tema jomblo kocak abis. Saya follow twitter dan instagram Radit dan Pandji dan suka tertawa sendiri bacanya, follower mereka ribuan. Nah, yang gencar di promoin belakangan ini adalah Film mereka berjudul “Single”.Selama ini saya cuma liat promonya tapi belum sempat nontonnya baru sempat kemarin di Pondok Indah Mall.

Saya nonton jam 14.30 di PIM I antrian lumayan mengular. Karena waktu itu ada tiga film laris yaitu “Star Wars”, “Single”, dan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Sebelumnya saya sempatkan beli makanan dan camilan agar gak lapar nanti. Tepat pukul 14.30 studio 4 sudah dibuka.

Poster Single

Poster Single

Cerita berawal dari kisah tiga orang anak kos yaitu Ebi (Raditya Dika), Wawan (Pandji Pragiwaksono), dan Victor (Babe Cabelita) yang takut sama hantu. Mereka bertiga naik mobilnya Ebi yang hendak janjian di ITC Cempaka Mas dengan cewek bernama Vina (Elvira Devinamira) teman SMAnya dulu. Vina yang sudah lama menunggu Ebi terlihat cantik dan Ebi pun cerita jika dulu sering makan bareng saat SMA. Ebi yang berharap dapat sinyal cinta dari Vina, sangat kecewa karena ternyata Vina mengajaknya ketemu untuk memberi undangan pernikahan.

Pupusnya Harapan ini membuat sohib dekatnya Wawan dan Victor kasihan sama Ebi, maka mereka pun mengajak Ebi main ke sebuah klub yang hingar bingar. Pandjii yang punya cewek sering bantuin masak ibunya dan Victor yang dijodohkan orangtuanya terlihat kompak masuk klub, seru banget di klub ini, penampilan Victor yang memakai batik ke klub membuat penonton di studio tertawa. Saat itu Ebi mendekati Laras (Pevita Pearce) dan kekonyolan pun terjadi saat Ebi mematuhi nasihat wawan untuk mentraktir Laras dan Ebi menelpon laras jam dua malam.

Usai gagal dengan dua cewek, Ebi tidak sengaja ketemu dengan cewek cantik bernama Angel (Annisa Rawles) yang seorang mahasiswa kedokteran yang kos di tempat kos bareng sama Ebi dkk. Disinilah cerita seru dimulai. Usaha Ebi menarik perhatian Angel maksimal, dari mulai kirim surat hingga perhatian lainnya. Namun sayang, Angel banyak yang ngasih perhatian termasuk Joe (Chandra Liow), Joe ini super protektif pada Angel dan mengancam Ebi agar menghindari Angel. Berbagai cara dan tipu muslihat, Joe berusaha menjauhkan Angel dari Ebi. Ebi dan Joe pun berebut perhatian Angel hingga mengikuti ke acara Ebi dan keluarga di Bali persiapan pernikahan Alva (Frederik Alexander). Namun Ebi tak putus semangat, ia terus menerus menaruh harapan besar pada Angel. Termasuk diajak skydiving, Ebi pun mau meskipun dia tidak tahu olahraga apa dan harus kena muntahan Victor saking gugupnya terjun di skydiving untuk mengikuti kemauan Angel.

Saya bersama poster "Single"

Saya bersama poster “Single”

Ketika di Bali itulah persahabatan antara wawan, Victor dan Ebi kacau, karena diam2 Wawan dan victor kirim surat tanpa sepengetahuan Ebi dan Ebi marah begitu juga Angel karena Ebi merobek surat dari ibunya yang Alzheimer Ibu Marjan. Kesedihan dan nasib sial Ebi seakan bertubi2, dia juga tak bisa membayar kos, hingga harus pindah kos, maklum Ebi masih jobless dan melamar kesana kemari. Sisipan Ebi yang suka stand-up comedy juga ditampilkan disini.

Puncaknya saat pernikahan Alva, Ebi yang pernah berjanji akan membawa cewek di pernikahan Alva terlihat bingung saat ditanya ibunya tentang Angel yang dibawanya ke Bali. Bisakah Ebi mendapatkan Angel? Bisakah Ebi menyingkirkan Joe, saingannya? Satu hal yang Ebi akan segera sadari, yaitu petuangannya melepaskan status single membuat dia menjadi tahu lagi apa yang dia butuhkan dalam hidupnya, bukan sekadar memenuhi apa yang dia inginkan. Dalam epilog yang dikemas dalam stand up comedy, Ebi mengatakan lebih baik single atau Pacaran namun dipaksakan? Para penonton pun mengambil hikmah dari pengalaman ini tentang petualangan mencari pasangan.

Film ini bener2 kocak, penampilan Wawan dan Victor sebagai peran pendukung sangat maksimal dan membuat penonton tertawa sepanjang film berlangsung. Rugi deh kalau gak nonton hehehe…selamat nonton yaaa

Eva Rohilah
Pengamat Film dan Buku
tinggal di Depok

Akhir pekan kemarin 17 Oktober 2015, aku diundang ke acara nonton bareng Film berjudul “Little Big Master” di Cinemaxx Plaza Semanggi persembahan Celestal Movies. Aku berangkat dari rumah bareng suami, lalu pisah di Pasar minggu dan aku naik busway dari Pasar Minggu ke Plaza Semanggi. Sampai Plangi masih pagi jam 9, dan registrasi jam 10-jam 11. Aku bertemu dengan teman-teman dari Kumpulan Emak-emak blogger, ternyata banyak juga blogger dari komunitas lain seperti Kompasiana dan Blog detik. Kami mendapatkan goodie bag cantik dan snack.

Tepat pukul 11 Aku masuk studio dan tayangan film “Little Big Master” pun dimulai. Adegan diawali dialog seorang guru dengan murid yang merasa tertekan masuk di kelas berbakat sebuah Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) elit di Kota Hongkong. Orangtua sang murid tidak terima ketika mengetahui laporan bahwa anaknya tidak bisa dimasukkan kelas berbakat dan menanyakan siapa yang membuat laporan kepadanya, maka direktur sekolah memanggil kepala sekolah TK elit tersebut dan diminta menjelaskan kepada kedua orangtua anak tersebut. Sang Kepala Sekolah, Lui Wai-hung (diperankan oleh Miriam Yeung) menjelaskan apa adanya tentang kondisi muridnya, untuk menghindari sang murid dari stress, sebaiknya anak tersebut dimasukkan ke kelas reguler. Namun kedua orang tua murid yang merupakan orang terpandang dan kaya raya tetap tidak mau terima, sehingga akhirnya hati Direktur pun luluh. Dia lebih mematuhi keinginan orang tua murid untuk tetap memasukkan anak tersebut ke kelas berbakat dan mengabaikan pendapat Kepala Sekolahnya.

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Hung dan Dong akan melakukan perjalanan ke luar negeri

Merasa tidak nyaman, Hung Usai mengajar di TK, Hung mengatakan kepada suaminya Dong (diperankan oleh Louis Koo) memilih mundur dari TK ternama dan berencana melakukan perjalanan pensiun keliling dunia. Dong yang bekerja sebagai perancang di museum pun sedang bermasalah dengan kantornya. Sehingga sisa waktu yang ada diisi Hung dengan berolahraga ke gym dan belajar bahasa asing. Namun, Hung mengerti bahwa kondisi pensiunnya hanyalah cara untuk menjauh dari minatnya yang memudar terhadap pendidikan.

Saat tidak sengaja berolahraga, Hung memperhatikan ada iklan penerimaan di sebuah TK di desa yang mencari kepala sekolah sekaligus pengawas sekolah dalam satu posisi. Jika sekolah tersebut gagal mendapatkan kepala sekolah baru pada waktunya, maka akan ditutup. Hal ini membuat 5 siswa yang tersisa akan kehilangan kesempatan untuk bisa bersekolah. Hung khawatir, masa depan anak-anak tersebut menjadi tidak jelas. Dengan harapan bisa mencarikan sekolah yang lebih baik untuk mereka sebelum tahun ajaran baru tahun depan, Hung memutuskan untuk melamar jabatan sebagai kepala sekolah meski dengan gaji rendah (4.500 Dollar Hongkong) dan menunda perjalanan pensiunannya.

Saat pertama kali Hung mengunjungi kelima anak tersebut, Siu Suet, Ka Ka, Chu Chu serta Kitty dan Jennie, dua bersaudara dari Asia Selatan, mereka menolak keras untuk menerima orang asing. Namun setelah menunjukkan banyak perhatian dan kesabaran, Hung dengan cepat mendapat kepercayaan mereka. Kepolosan mereka yang murni menyentuh Hung serta menyalakan kembali minatnya terhadap pendidikan dan dia mulai tahu cerita di balik mereka satu per satu.

Hung Mengantarkan Anak didiknya ke toilet desa saat hujan deras

Masih banyak hal yang perlu dilakukan selain merencanakan kurikulum, termasuk memperbaiki bangunan tua sekolah tersebut, membersihkan toilet dan menjemput anak-anak ke sekolah. Saat hujan deras dan toilet sekolah meluap, Hung bahkan rela mengantarkan anak-anaknya ke toilet desa. Hung bahkan harus berdiri tegak menentang cemooh dari masyarakat setelah membantu orang tua mereka yang miskin. Namun demikian, dia mampu melewati semua kesulitan dengan semangatnya yang besar dan perlahan jatuh cinta pada tempat tersebut. Dia memutuskan untuk mengelola sekolah tersebut dan mulai mencari siswa baru.

Salah satu yang menarik dan menggores hati dari film ini adalah karakter kuat kelima muridnya. Murid pertama adalah Ho Siu Suet (diperankan oleh Ho Yun-Ying Winnie) Salah satu dari lima murid. Ibu Siu Suet masih menunggu visa di Cina Daratan untuk datang ke Hong Kong. Si kecil Siu Suet tinggal bersama ayahnya yang tua dan sakit-sakitan bekerja sebagai pengumpul besi tua. Dia mengurus pekerjaan rumah pada usia belia. Murid kedua adalah Tam Mei Chu / Chu Chu (diperankan oleh Keira Wang), Chu Chu takut pada hujan badai setelah kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan mobil saat malam badai dan petir menggelegar. Sejak itu Chu Chu diadopsi oleh kerabat jauhnya, Bibi Han.

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Hung Memberi Penjelasan Kepada Chu Chu Agar Dia Tidak Takut Terhadap Petir

Murid ketiga adalah Fu Shun-ying sebagai Lo Ka Ka / Ka Ka (diperankan oleh Fu Shun-ying), Ka Ka adalah gadis yang sangat dewasa walau usianya masih belia. Dia menolak untuk pergi ke sekolah karena harus menjadi penengah pertengkaran kedua orang tuanya. Sedangkan murid ke empat dan kelima adalah Kittie dan Jennie Fahima (diperankan oleh Zaha Fathima & Khan Nayab). Kitty dan Jennie adalah kakak beradik diantara kelima murid. Mereka di bawah tekanan keluarga karena keberatan ayah mereka yang mengabaikan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuannya.Orangtuanya adalah imigran dari Asia Selatan.

Hung Bersama Kelima Muridnya

Hung Bersama Kelima Muridnya

Dengan setulus hati, Hung mengajar kelima muridnya. Dia juga mengajak para orangtuanya terlibat dengan kegiatan sekolah seperti field trip ke sebuah taman di kota Hongkong. Hung pun mulai dikenal oleh masyarakat dengan sebutan kepala sekolah 4.500 Dollar Hongkong. Pada saat bermain di taman tersebut ada dialog yang sangat menarik antara Hung dan salah seorang pengunjung taman yang difabel. Dia mengenal Hung melalui media dan mengatakan salut atas perjuangan Hung dia berkata “Pendidikan terbaik tidak terdapat pada pada perangkat kerasnya, namun ada pada kebaikan hati para pendidiknya,” ujarnya. Pesan dari perkataan pengunjung itu sangat dalam dan menyadarkan saya akan pentingnya kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah.

Bermain Bersama

Bermain Bersama

Waktu terus berlalu dan masa perekrutan siswa baru pun segera dimulai. Di sisi lain, para orang tua dihasut untuk mengeluarkan anak mereka dari sekolah. Hung menerima pemberitahuan terakhir tentang pemecatan dirinya. Namun Hung tidak putus asa, dia bisa mengatasi semuanya dan datang berkunjung ke rumah muridnya. Hingga akhirnya dia mempersiapkan murid-muridnya untuk menari dan bernyanyi. Niat semula yang hanya mengajar sampai empat bulan pun pupus. Hung ingin merekrut siswa baru. Di sisi lain, Dong sangat mengkhawatirkan kesehatan Hung setelah mengetahui itu bukan pekerjaan sementara.

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Hung Bersama Muridnya Latihan Mempersiapkan Pesta Kelulusan

Pada saat itu ada ketegangan antara Hung dan suaminya yang saat itu kurang setuju dengan rencana Hung, karena akan membatalkan impian mereka ke luar negeri. Saat ulang tahun ibunya, Hung yang datang terlambat mendapat pesan dari mertuanya bahwa Hung yang menderita penyakit tiroid sudah jarang berkunjung ke dokter yang menanganinya. Dong pun menyadari jika Hung belakangan jarang minum ramuan tradisional yang disiapkannya. Dia khawatir penyakitnya akan kambuh lagi meski sudah diangkat. Namun, Hung tidak pantang menyerah Hung sangat bersemangat mempersiapkan pesta kelulusan dan menyebar brosur dan menunggu pendaftaran siswa baru hingga saat-saat penting dimana ia harus menghadiri acara Dong dan tidak ada satupun murid yang mendaftar, penyakitnya pun kambuh dan ia pun jatuh sakit. Dong pun segera membawa Hung ke rumah sakit dan benar, jika penyakit tiroid yang dideritanya muncul lagi meskipun tumornya sudah diangkat. Berhari-hari Hung dirawat di rumah sakit dan Dong pun menggantikan perannya sebagai guru sekaligus kepala sekolah di TK tersebut.

Pada saat itu juga ada seorang tokoh di Hongkong yang merupakan pencari dana di bidang pendidikan ingin memanfaatkan popularitas Hung untuk kepentingan pribadinya. Beruntung Hung sadar dan tidak silau akan popularitas ia menolak tawaran tokoh tersebut.

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Dong Mengantikan Peran Sementara Hung Menjadi Kepala Sekolah

Setelah dirawat di rumah sakit, Hung pun bersiap ke sekolah untuk menemui kelima muridnya. Saat itu sekolah akan ditutup jika Hung tidak bisa mendapatkan siswa baru. Anak-anak putus asa untuk membuat sebuah penampilan terbaik dalam upacara kelulusan sebagai hadiah untuk kepala sekolah mereka tercinta dan sebagai perpisahan untuk semuanya. Mereka menahan tangis selama pentas dan adegan ini sangat mengharukan, Tidak hanya Hung yang terharu, saya liat semua penonton di cinemaxx terdiam dan hampir semua menangis melihat adegan ini.

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Hung yang Baru Pulang dari Rumahsakit Terharu Melihat Penampilan Terbaik murid-muridnya di Pesta Kelulusan

Saat itu Hung mengumumkan bahwa satu-satunya siswa yang lulus adalah Lo Ka Ka. Hung dan Ka Ka pun memberikan sambutan yang sangat menyentuh hati. Ka Ka sangat berterimakasih atas kerja keras kepala sekolah selama ini mendidik mereka, Kaka bahkan di masa depan bercita-cita ingin menjadi kepala sekolah seperti Hung, diapun minta izin jika ia ingin tidak lulus dan tetap belajar bersama Hung. Adegan ini merupakan klimaks dari “Little Big Master, sangat luar biasa mengharukan.

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Lo Ka Ka Menangis Meminta izin agar ia tidak diluluskan Kepada Hung

Para orang tua murid yang hadir ikut menangis. Semua orang di desa yang akhirnya datang melihat, sangat tersentuh dan Hung menyadari bahwa kegigihan dan kerja keras serta ketulusan hatinya akhirnya membuahkan hasil. Tk ini tidak ditutup justru mendapatkan murid dan dukungan dari masyarakat luas. “Little Big Master” diangkat dari kisah nyata yang menceritakan tentang upaya nona Lui Lai Hung membangun kembali TK Yuen Kong dari sebuah TK yang suram menjadi TK terkemuka.

“Little Big Master” membuat ulang kisah tentang Hung membangun kembali sebuah TK menjadi kehidupan yang menyenangkan bagi para muridnya. Sebuah kisah kecil dengan tawa dan air mata di kota besar. Ada satu pesan yang disampaikan di akhir film ini “Bahwa dalam hidup kita, pasti akan bertemu seorang guru baik yang akan merubah Hidup Kalian,” ini pesan mengingatkan akan guru-guruku dulu saat SD, SMP dan SMA. Satu persatu mereka hadir dalam ingatanku dan aku pun berkata betapa besar jasa mereka.

Diproduseri Benny Chan,  “Little Big Master” menuai banyak pujian dan meraih sukses besar di Hong Kong serta berhasil meraup pendapatan HK$46,6 juta (sekitar Rp 80 milyar) di Hong Kong box office. Jangan lewatkan kisah menyentuh hati yang dihiasi oleh aksi para bintang cilik yang menggemaskan dan mengharukan dalam “Little Big Master” pada hari minggu, tanggal 25 Oktober jam 20.00 WIB hanya di Celestial Movies. Celestial Movies dapat disaksikan Indovision (CH. 20), K-Vision (CH. 47), MatrixTV (CH. 9), Nexmedia (CH. 508), OkeVision (CH. 19), OrangeTV (CH. 162), Skynindo (CH. 19), Transvision (CH. 112), TopTV (CH. 20), Topass TV (CH. 61), UTV (CH. 691), dan YesTV (CH. 108).

Saya berterimakasih kepada Celestial Movies karena diperkenankan menonton film ini. Sepulang dari Nobar saya langsung pulang ke rumah dan cari kanal Celestial Movies yang kebetulan saya berlangganan Transvision, saya penasaran dengan film-filmnya. Selama ini tidak tahu jika ada film Hongkong berkualitas. I Love HK Movies . Selamat Menyaksikan.

Nonton Bareng Seru

Nonton Bareng Seru

Ini adalah resensi film pertamaku yang dimuat di media online, http://www.ghiboo.com.

The Iron Lady
Judul Film : The Iron Lady
Sutradara : SuPhylida Lloyd
Pemain : Meryl Streep, Jim Broadbent, Harry Lloyd, Olivia Colman, Alexandra Roach, Anthony Head
Produser : Damian Jones
Rilis : 6 Januari 2012
Make Up : Mark Coulier dan J. Roy Helland

Ghiboo.com – Semua orang tahu, mantan perdana menteri Inggris Margaret Tatcher adalah perempuan tangguh yang menjabat selama tiga periode dari partai konservatif.

Namun, tahukah Anda pengorbanan besar suami dan keluarganya saat beliau menjabat, dan kenapa perempuan yang memiliki nama asli Margareth Hilda Roberts ini selalu mengapa mengenakan mutiara kembar di beberapa penampilannya di depan publik?

Anda akan menemukan jawabannya dalam film The Iron Lady yang diperankan dengan baik oleh Meryl Streep besutan sutradara SuPhylida Llyod.

Diawali dengan kondisi terkini Margaret Tatcher saat ia mendatangani buku biografinya di usianya yang sudah semakin tua, saat itulah ia mulai mengenang beberapa penggal kehidupannya di mulai saat ia masih remaja dan diperankan dengan baik oleh Margaret muda (Alexandra Roach).

Saat itu ia sering mendapat olokan dari teman-temannya karena Margaret muda hanyalah seorang penjaga toko kelontong milik keluarganya. Kenangan terhadap ayahnya digambarkan saat ia merasakan kegembiraan yang luar biasa ketika diterima di Oxford University, kemudian setelah lulus dan bekerja ia bertemu dengan seorang Denis Tatcher muda (Harry Lloyd) seorang pengusaha.

Kehidupan bersama Margaret, Denis dan kedua anaknya hanya ditampilkan sepintas saja karena film ini langsung beranjak ke masa-masa Margaret menjadi anggota parlemen dan menteri pendidikan Inggris.

Masa-masa awal kepemimpinannya menuai banyak kontroversi, namun setelah beberapa kebijakan populernya tentang perdamaian, kesejahteraan dan hidup dalam harmoni yang selalu ia dengungkan merubah semua pandangan rakyat Inggris.

Berbagai keberhasilan Margaret Tatcher di sampaikan dengan baik dalam film ini bahkan sindirannya kepada politisi sekarang yang menurutnya hanya sekedar mencari nama atau pencitraan bukan benar-benar bekerja untuk negara. Dalam hal ini aspek kepemimpinan Margaret Tatcher sangat menonjol meskipun ia dikenal tidak mau kompromi.

Aksen Inggris Meryl Streep menirukan gaya bicara Margaret Tatcher nyaris sempurna, ketegasan dan kelembutan Tatcher diperankan dengan penuh penjiwaan. Acungan jempol yang luar biasa, sepertinya harus diberikan kepada Mark Coulier dan J. Roy Helland yang menjadi make up artis dalam film ini, mereka bisa menampilkan ciri khas Tatcher dengan baik, dalam hal berpakaian, model rambut dan gaya tas tangan yang dijinjingnya.

Dalam film yang berdurasi 105 menit ini, sangat terlihat peranan Denis Tatcher yang selalu mengingatkan Margaret beberapa hal berkaitan dengan kebiasaannya seperti jangan tidur terlalu larut, jangan terlalu banyak minum dan menghibur Tatcher di tengah kesibukannya sebagai perdana menteri. Sosok Denis yang mendukung penuh karir Margaret, juga terlihat saat ia mengundurkan diri setelah 11,5 tahun menjabat .

Karena peranan suaminya yang besar, Denis yang sudah meninggal dunia pada 2003 karena kanker selalu muncul dalam halusinasi Margaret Tatcher saat ini, ketika ia sendiri maupun saat tidur. Anaknya pertamanya Mark menetap di Afrika Selatan, sedangkan Carol tinggal tidak serumah dan sesekali ia datang ke rumahnya saat ini. Sehingga di masa tuanya ia tinggal di rumah sendiri, bersama seorang sekretaris yang mengurusi berbagai kebutuhannya.

Kebahagian dan keharuan mengaduk-aduk perasaan penonton yang menyaksikan film yang dimana Meryl Streep meraih anugerah Golden Globe atas perannya di film ini, Margaret terlihat sedih, namun tetap tegar saat ia merelakan kepergian suaminya yang pergi dengan busana lengkap namun tanpa alas kaki (sepatu).

Film ini sangat menginspirasi terutama bagi perempuan yang bekerja, politisi perempuan atau perempuan pengambil kebijakan, serta bagi kaum laki-laki. Meskipun film ini menuai protes dari penulis biografi Margaret Tatcher dan pemerintah Inggris, tapi film ini bagus ditonton untuk menghabiskan akhir pekan Anda bersama keluarga.

Eva Rohilah

Bisa dibuka juga di

Wisata Kota Tua

Posted: April 28, 2011 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Pada 25-26 Maret 2010, Aku ama teman-teman sekantor mengikuti Rapat Sinkronisasi di hotal Batavia, daerah Kota Tua deket mangga dua, lumayan makanannya enak-enak dan yang lebih asyik lagi saat waktu luang bisa jalan-jalan ke wisata kota tua yang tak jauh dari hotel, bisa dijangkau dengan jalan kaki.

Mukti, Aku dan Supri

Mukti, Aku dan Supri

Dari arah hotel Batavia, kami bertiga jalan kaki menuju jembatan. kemudian belok kiri Sepanjang perjalanan gedung-gedung menjulang tinggi dengan jendela-jendela yang besar. Jembatan yang kami lewati dibawahnya ada kali besar yang membelah kota tua.

Aku di pinggirjembatan Kali besar

Aku di pinggirjembatan Kali besar

Usai melewati jembatan, kami berjalan menyusuri bangunan-banguna tua yang sudah pada terkelupas cat dan temboknya. Tapi justru disitulah menariknya bangunan ini. Kami pun berfoto bersama. Mas Mukti, aku dan Supri foto bergantian satu sama lain.

Disamping Bangunan zaman Belanda

Disamping Bangunan zaman Belanda

Setelah berjalan melalui lorong- lorong gedung tua, kami akhirnya sampai di kantor gubernur pada zaman dulu yang bersebrangan dengan kantor pos besar. Sebelum kantor pos itu ada sebuah kafe yang lumayan asyik. Kafe itu masih mempertahankan arsitektur lama, tapi dipadukan dengan interior yang modern. Kafe itu namanya Kafe Batavia.

Di depan Kafe Batavia

Di depan Kafe Batavia

Usai dari Kafe Batavia, kami berjalan-jalan di tengah lapangan yang ramai oleh pengunjung. Di sekeliling lapangan banyak diparkir sepeda-sepeda yang disewakan atau biasa disebut ojeg sepeda. Tapi uniknya, sepeda yang disewakan ini diberi topi di depannya yang memberi kesan nyonya dan meneer pada zaman Belanda dulu. Di dalam lapangan banyak orang berboncengan dan berpasang-pasangan, ada juga para remaja yang sedang melukis dan para fotografer mengabadikan momen-momen klasik di wisata kota tua. Senja yang menarik.

Di depan sepeda rias

Di depan sepeda rias

Setelah capek jalan-jalan selama kurang lebih satu jam menikmati kota tua, akhirnya kami kembali ke Hotel Batavia, karena waktu menjelang malam. Meskipun pegel, tapi cukup refreshing jalan-jalan di senja hari. Setelah di hotel kami makan malam dan melanjutkan acara sampai penutupan.

Di dalam ruangan Hotel Batavia

Di dalam ruangan Hotel Batavia

Resensi Film: Paris Express

Paris Express

Paris Express

Hari Jum’at yang lalu, aku sama Rini Yuni Astuti nonton film berjudul Paris Express di Pejaten Village Pasar Minggu. Kami nontonnya jam 9 malam. Film berjudul asli LE COURSIER merupakan Film drama hasil produksi Europcorp ini memiliki durasi 99 menit ditulis dan disutradari oleh Herve Renoh, dengan melibatkan beberapa bintang film terkenal seperit Michael Youn, Geraldine Nakache, Jimmy Jean-Louis dan Didier Flamand.

Sam Ketilang oleh ayahnya sendiri

Sam Ketilang oleh ayahnya sendiri

Film ini dimulai dari perjalanan Sam yang sering melanggar rambu lalu lintas demi memenuhi janji dan kepuasan konsumennya dalam “pengiriman barang ekspress” di tempatnya bekerja. Karena kenekatannya ini mengharuskan para pengguna jalan di Paris harus berhati-hati dalam melangkah dan berjalan di sudut kota tersebut. Semua harus waspada akan jasa pengiriman barang ekspress di sana yang kebetulan melintas dengan cepat.
Di sepanjang jalan, baik itu dari multikultural hingga perancang busana Paris, dari Montmartre hingga ke Champs-Elysees, dan dari trotoar hingga galeri mewah digunakan seorang kurir pengiriman barang bernama “Sam” dengan mengendarai skuternya.

Peran antagonis

Peran antagonis

Meski sehebat dan sekeras apapun usaha Sam tidak akan pernah mendapat bonus dari atasannya dan selalu kalah bersaing dari rekannya, tidak dapat menghindar dari ayahnya yang selalu ingin bertemu.
Beprofesi sebagai petugas jasa pengiriman ekspres ternyata menjadi motivasi Sam untuk mendapatkan Nadia, kekasihnya. Bahkan ada beberapa scane di Film ini yang menjadi puncak dimana Sam akhirnya merubah hidupnya secara total saat akan menghadiri pernikahan adiknya.

Bersama Louisa

Bersama Louisa

Saat akan menghadiri acara adiknya tersebut, Sam memiliki satu pengiriman barang lagi dan tanpa ia sadari, pengiriman terakhir ini akan membawanya ke pusat pencurian lukisan berharga. Pengiriman barang yang mengubah hidupnya dari yang normal menjadi penuh adrenalin, peluru dan aksi kejar-kejaran di kota Paris dengan skuternya.

Sekelumit penggalan film Paris Express ini membuat penasaran untuk menikmati asyiknya kisah Sam dalam perjuangan mengantar kiriman maupun mendapatkan Nadia ceweknya, walau sangat sibuk sebagai kurir.

Jaga Selalu Hatimu

Posted: January 20, 2011 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Minggu ini aku suka banget denger lagunya Seventeen, yang Jaga Selalu Hatimu, iseng2 aku cari ada liriknya dan ini aku upload, semoga yang lainnya pada seneng ya…

Jaga Selalu Hatimu By Seventeen

kau jaga selalu hatimu
saat jauh dariku tunggu aku kembali

mencintaimu aku tenang
memilikimu aku ada
di setiap engkau membuka mata

merindukanmu selalu ku rasakan
selalu memelukmu penuh cinta
itu yang selalu aku inginkan

kau mampu membuatku tersenyum
dan kau bisa membuat nafasku lebih berarti

reff:
kau jaga selalu hatimu
saat jauh dariku tunggu aku kembali
ku mencintaimu selalu
menyayangimu sampai akhir menutup mata

kau mampu membuatku tersenyum
dan kau bisa membuat nafasku lebih berarti

repeat reff [2x]

kau, kau jaga selalu hatimu

Ketika Gladiol Bersemi

Posted: May 12, 2008 by Eva in Inspirasi, Seni, Film dan Budaya

Ketika Gladiol Bersemi

 

Setelah serial Cerita di Balik Kisah yang menceritakan Si Kun San, yang disiarkan di DAAI TV setiap jam 7, aku benar-benar menjadi kecanduan lihat drama DAAI TV,  karena pada jam 9 ada siaran  Ketika Gladiol Bersemi (KGB). Sebelumnya aku gak tahu jika pada 2007 drama ini sudah pernah disiarkan. Setelah aku cari di internet, ternyata banyak sekali penggemar serial ini.

Ketika Gladiol Bersemi merupakan sebuah drama seri televisi yang ditayangkan stasiun DAAI TV Jakarta. Diangkat dari kisah nyata pengusaha-pengusaha sukses dari keluarga Pak RT Gao yang tinggal di Taiwan. Beruntung saya bisa mengikutinya meski bukan dari awal benar. Karena banyak hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dalam hidup ini.

Keluarga Pak RT Gao awalnya adalah sebuah keluarga petani yang hidup di Danau Rebung, yakni sebuah wilayah gunung bambu yang tandus dan susah ekonominya. Keluarga ini terdiri atas:

Kakek. Ia seorang yang begitu mencintai sastra sehingga berkenan memberikan pendidikan dan pengajaran bagi para tetangganya. Ia pun rajin memberikan petuah-petuah dan nasihat-nasihat bijak kepada cucu-cucunya.

Pak RT Gao. Ia seorang petani yang tekun, ulet, senang berderma dan suka membantu orang lain. Ia rela mengeluarkan hartanya untuk mereka yang memerlukan. Ia cerdas, senang melakukan riset tentang tanaman bunga dan selalu bekerja mulai dinihari dan pulang pada petang hari.

Ibu RT. Ia adalah tipe wanita yang hemat. Tidak suka berfoya-foya. Setiap pengeluaran perlu pertimbangan yang matang. Meski terkadang dianggap terlalu berlebihan, tapi sebenarnya sikap itulah yang justru bisa membuat keluarga Gao bisa eksis. Bisa dibayangkan bila ibu tidak bersikap hemat. Tentu anak-anaknya akan sulit mendapatkan pendidikan yang memadai.

Lokasi syuting drama ini sekarang menjadi daerah kunjungan wisata. Pada saat lagi meledak di pasaran  sekitar September – Oktober  2005, ada beberapa tour lokal yang menyelenggarakan paket wisata menuju titik-titik syuting drama ini di gunung Yang Ming (Yang Ming Shan).

 

Drama ini merupakan drama Daai TV yang paling cepat menyebar hanya dari mulut ke mulut.Ketiga saudaranya yang perempuan akhirnya juga bergabung di Tzu Chi dan salah satunya menjadi relawan di Stasiun Daai TV Taipei. Hingga hari ini, di desanya di Yang Ming-shan, keluarga Gao masih menjadi keluarga yang sangat dihormati, meskipun anak-anaknya sendiri sudah jarang ke sana. Drama ini mengangkat posisi Daai TV di Taiwan ke posisi 3 untuk waktu prime time yang persaingannya sangat ketat.

 

Melihat drama ini aku jadi lebih bersemangat, mengingat aku juga berasal dari keluarga besar. Tidak jarang aku menangis tertawa dan termenung mengingat tingkah mereka. Apalagi usai acara ini selalu ada wawancara dengan para tokoh asli maupun aktris yang berperan.

 

Sangat inspiratif dan menyenangkan

 

Jangan Lupa  Menonton ya

  

Lirik Top

Posted: January 14, 2008 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Biarlah By Nidji

aku sudah berlari
mengejar yang tak pasti
mengejar kamu.. hanya dirimu..

kulantunkan hidupku
kubisikkan cintaku
hanya untukmu.. hanya untukmu…

tapi engkau terus pergi
tapi engkau terus berlari
jadi biarkanlah aku di sini

1.gif
biarlah kurela
melepasmu, meninggalkan aku
berikanlah aku
kekuatan untuk lupakanmu

waktu terus bergulir
sakit tetap mengukir
jalan hidupku.. jalan hidupku..

berikanlah jiwamu
berikanlah cintamu
hanya untukku.. hanya untukku

tetapi engkau terus pergi
tapi engkau terus berlari
jadi biarkanlah aku di sini

kau jauh dariku
kau tetap menjauh dari aku

Arti Sahabat Nidji

tak mudah untuk kita hadapi
perbedaan yang berarti
tak mudah untuk kita lewati
rintangan silih berganti

kau masih berdiri
kita masih di sini
tunjukkan pada dunia
arti sahabat

kau teman sejati
kita teman sejati
hadapilan dunia
genggam tanganku

tak mudah untuk kita sadari
saling mendengarkan hati
tak mudah untuk kita pahami
berbagi rasa di hati

kau adalah..
tempatku membagi kisahku
kau sempurna
jadi bagian hidupku
apapun kekuranganmu

Ayat ayat Cinta–Rossa

Desir pasir di padang tandus
Segersang pemikiran hati
Terkisah ku di antara cinta yang ruhwi
Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekadar cinta
Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan

ayat2-cinta.jpg

Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak mungkin ku cegah
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu
Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud

Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung Kupertaruhkan
Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak mungkin ku cegah
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu
Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud

Lelaki Cadangan T2

kutuliskan sebuah cerita cinta segitiga
dimana akulah yg jadi peran utama
aku tak dapat membohongi segala rasa
aku mencintai dia dan dirinya

nanti pukul satu dia menemui aku
maka jangan kamu pasang wajah yg cemburu
nanti bila dia datang menemui aku
maka cepat-cepat kamu ngumpet dulu

reff:
dan aku sudah pernah bilang
pacarku bukan cuma kamu saja
ku mempunyai dua hati
yg tlah siap untuk ditinggali

kan aku sudah pernah bilang
janganlah kamu terlalu sayang
dan bila nanti kau menghilang
ku masih punya lelaki cadangan

Peterpan – Hari Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi

pagi biar kusendiri
jangan kau mendekat
wahai matahari
dingin hati yang bersedih
tak begitu tenang
mulai terabaikan

hari yang cerah untuk jiwa yang sepi
begitu terang untuk cinta yang mati
ah… ku coba bertahan dan tak bisa

kubu langit kelabuku
tak begitu luas
seperti memudar
kini tak terulang lagi
di hari yang cerah
dia telah pergi

hari yang cerah untuk jiwa yang sepi
ahh… ku coba bertahan dan tak bisa
ahh… mencoba melawan ku lepas
hari yang cerah untuk jiwa yang sepi…
begitu terang untuk jiwa yang mati

ahh… kucoba bertahan dah tak bisa
ahh… mencoba melawan ku lepas
semua telah hilang ….
semua telah ….

Ari Lasso feat. Bunga Citra Lestari – Aku Dan Dirimu

tiba saatnya kita saling bicara
tentang perasaan yang kian menyiksa
tentang rindu yang menggebu
tentang cinta yang tak terungkap

sudah terlalu lama kita berdiam
tenggelam dalam gelisah yang tak teredam
memenuhi mimpi-mimpimu malam kita

reff:
duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah
perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu
dan kini hanya ada aku dan dirimu
sesaat di keabadian

jika sang waktu kita hentikan
dan segala mimpi-mimpi jadi kenyataan
meleburkan semua batas
antara kau dan aku, kita

repeat reff


Ungu – Cinta Dalam Hati

mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa di cintai
tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
dengan hidupmu, dengan hidupmu

telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
bahagia untukku, bahagia untukku

reff:
ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja

repeat reff

The Rock feat. Ahmad Dhani – Kamu Kamulah Surgaku

tahukah kamu kuciumimu
di saat terlelap
tahukah kamu kudekap kamu
saat kamu bermimpi

tahukah kamu ya cuma kamu
pemilik hatiku
tahukah kamu hatiku ini
adalah hatimu

tahukah kamu di setiap tidurku
ku kagumi wajahmu
nanti kau kan tahu
nanti kau dengar bahwa aku begitu

reff:
kamu, kamu adalah surga yang ada
dalam hidupku dalam kenyataanku
kamu, aku adalah penghuni surga
ucapkan salam pada hidup dan mati

tahukah kamu saat kamu menangis
adalah air mata ku yang jatuh berlinang
tahukah kamu saat kamu tersakiti
adalah aku yang pertama terluka

tahukah kamu ya cuma aku
yang punya cinta untukmu
tahukah kamu ya cuma aku
yang rela mati untukmu

repeat reff

Outing gives Potter passages new meaning

NEW YORK – With author J.K. Rowling’s revelation that master wizard Albus Dumbledore is gay, some passages about the Hogwarts headmaster and rival wizard Gellert Grindelwald have taken on a new and clearer meaning.

The British author stunned her fans at Carnegie Hall on Friday night when she answered one young reader’s question about Dumbledore by saying that he was gay and had been in love with Grindelwald, whom he had defeated years ago in a bitter fight.

dumbledore.jpg

‘”You cannot imagine how his ideas caught me, Harry, inflamed me,'” Dumbledore says in “Harry Potter and the Deathly Hallows,” the seventh and final book in Rowling’s record-breaking fantasy series.

The news brought gasps, then applause at Carnegie Hall, the last stop on Rowling’s brief U.S. tour, and set off thousands of e-mails on Potter fan Web sites around the world. Some were dismayed, others indifferent, but most were supportive.“Jo Rowling calling any Harry Potter character gay would make wonderful strides in tolerance toward homosexuality,” Melissa Anelli, webmaster of the fan site http://www.the-leaky-cauldron.org, told The Associated Press. “By dubbing someone so respected, so talented and so kind, as someone who just happens to be also homosexual, she’s reinforcing the idea that a person’s gayness is not something of which they should be ashamed.”

“‘DUMBLEDORE IS GAY’ is quite a headline to stumble upon on a Friday evening, and it’s certainly not what I expected,” added Potter fan Patrick Ross, of Rutherford, N.J. “(But) a gay character in the most popular series in the world is a big step for Jo Rowling and for gay rights.”

J.K.Rowling

 Gellert Grindelwald was a dark wizard of great power, who terrorized people much in the same way Harry’s nemesis, Lord Voldemort, was to do a generation later. Readers hear of him in the first book, “Harry Potter and the Sorcerer’s Stone,” in a reference to how Dumbledore defeated him. In “Deathly Hallows,” readers learn they once had been best friends.“Neither Dumbledore nor Grindelwald ever seems to have referred to this brief boyhood friendship in later life,'” Rowling writes. “However, there can be no doubt that Dumbledore delayed, for some five years of turmoil, fatalities, and disappearances, his attack upon Gellert Grindelwald. Was it lingering affection for the man or fear of exposure as his once best friend that caused Dumbledore to hesitate?”As a young man, Dumbledore, brilliant and powerful, had been forced to return home to look after his mentally ill younger sister and younger brother. It was a task he admits to Harry that he resented, because it derailed the bright future he had been looking forward to.

Then Grindelwald, described by Rowling as “golden-haired, merry-faced,” arrived after having been expelled from his own school. Grindelwald’s aunt, Bathilda Bagshot, says of their meeting: “The boys took to each other at once.” In a letter to Grindelwald, Dumbledore discusses their plans for gaining wizard dominance: “‘(I)f you had not been expelled we would never have met.'”

harry-potter.jpgPotter readers had speculated about Dumbledore, noting that he has no close relationship with women and a mysterious, troubled past.“Falling in love can blind us to an extent,” Rowling said Friday of Dumbledore’s feelings about Grindelwald, adding that Dumbledore was “horribly, terribly let down.”Dumbledore’s love, she observed, was his “great tragedy.”

Kuning

Posted: September 10, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

tas-and-sepatu-ed.jpgAkhir-akhir ini aku suka sekali warna kuning gara2 aku nemuin sepatu kuning di Blok M Plaza, terus aku nyari tas warna serupa di ITC Cempaka Mas.

Jadi sekarang tas ama sepatu inilah yang menemani hari-hariku kerja dan jalan2 kemanapun aku pergi. Siapa yang suka warna kuning silahkan deh bergabung hehehehe

Adenium Indah

Posted: August 29, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

adeniumkecil.jpgBunga Adenium indah banget, aku jadi ingat bunga Adenium yang dikasih kakakku dari Bantul, apakah sudah berbunga. Aku menitipkannya pada mama winda dan yang menyirami pak Iyo di Cirendeu.

Lukisan Picasso

Posted: August 28, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Pablo PicassoEntah apa yang aku rasakan kok tiba2 kalo ingat pameran lukisan atau jalan-jalan ke galeri lukiksan aku selalu teringat Pablo Picasso. Saat ini kan lagi deadline lho gak lagi jalan2 ke tempat seni tapi kok aku ingat Picasso. Aku suka banget lukisan ini…

Di sudut Jembatan Plangi

Posted: August 28, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

NyebrangJembatan
Plaza Semanggi 15 Agustus 2007

Malam kian pekat, saat aku keluar dari Gedung Bank Mandiri di daerah Gatot Subroto.
Habis liputan aku berjalan lumayan jauh menuju jembata Plaza Semanggi depannya Komdak. Mungkin ini adalah pemandangan yang biasa di Jakarta, namun malam itu bagi aku tidak biasa.

Cerita Akhir Harry Potter

Posted: August 10, 2007 by Eva in Seni, Film dan Budaya

Dear all,
Penasaran dengan isi buku Harry Potter yang baru?Ini ada resensinya.
Selamat membaca

Harry Potter and the Deathly Hallows Plot Summary

Beginning of book

The book begins at the home of Lucius Malfoy, with Snape and a Ministry official, Yaxley, informing Lord Voldemort of the date Harry Potter intends to leave the Dursley’s house. Voldemort borrows Lucius wand, because his own is ineffective against Harry. Voldemort plans to kill Harry when he is moved to a new safe place, which has to happen when he turns seventeen and his safety with the Dursleys expires.
Harry, on the night he is to leave the Dursleys, reads an obituary of Albus Dumbledore, written by Dumbledore’s friend Elphias “Dogbreath” Doge. Harry learns about Dumbledore’s family including his brother Aberforth and sister Ariana, and he regrets not having asked Dumbledore more about his past.

Middle of book
After a month of spying on the Ministry of Magic, the trio attempt to infiltrate it to retrieve the Horcrux from Dolores Umbridge. They discover the Ministry of Magic has changed considerably; Muggle-born wizards and witches are being rounded up openly for questioning. The trio eventually locate Umbridge and take the Horcrux, knocking her out in the process. They free a number of Muggle-born wizards and witches, and encourage them to leave the country. However, the trio’s hiding place at 12 Grimmauld Place is discovered and they are forced to flee to the countryside, moving from place to place, never staying anywhere too long.
After several months of this, they overhear a conversation revealing that the Ministry only possesses a replica of Gryffindor’s sword; the original’s location is unknown. Harry questions the portrait of Phineas Black, and discovers that Dumbledore used the sword to destroy a Horcrux, the Gaunts’ ring. Harry suggests attempting to locate the real sword, but Ron objects, feeling that this is a pointless quest. After an argument with Harry, he leaves the group. Harry and Hermione are greatly saddened, but decide to go to Godric’s Hollow on the off-chance that Dumbledore left the sword there for them there.

The Deathly Hallows themselves
At Lovegood’s home, Harry, Ron, and Hermione are told an old wizard story about three brothers who bested Death, and each had received a magical item for it, the three Deathly Hallows – an unbeatable wand (called the Elder Wand), a stone which could bring back the dead (the Resurrection Stone), and an Invisibility Cloak that never failed with age. Harry believes that his own cloak is that Invisibility Cloak, and is very excited, but soon discovers that Lovegood has betrayed them to the Ministry; Luna, his daughter, has been taken captive and he believes that giving them Harry Potter would cause them to free her. The trio barely escape from the wizards sent to fetch them, but Harry is emboldened and believes that they need to collect all the Deathly Hallows, these artifacts given by Death, to defeat Voldemort.

End of book
At Hogsmeade, Harry and friends are cornered by Death Eaters and saved by Aberforth Dumbledore. Aberforth opens a secret passageway to Hogwarts, where Neville Longbottom greets them. Harry alerts the Heads of Houses at Hogwarts to Voldemort’s imminent arrival and evacuation measures are implemented to ensure the younger students’ safety, with the older ones able to stay and fight. After saving Draco Malfoy’s life, Harry finds Ravenclaw’s diadem in the Room of Requirement. Draco Malfoy and Crabbe and Goyle are also in there after the diadem.

Epilogue
In the story’s epilogue, taking place 19 years after the Battle of Hogwarts, Harry and Ginny Weasley are married and have three children named James, Albus Severus, and Lily. Ron and Hermione are also married and have two children named Rose and Hugo. Draco Malfoy has a wife (unnamed) and a child named Scorpius. Lupin and Tonks’ orphan son Teddy is apparently in love with Victoire, Bill and Fleur’s daughter. They all meet at King’s Cross, about to send their children to Hogwarts at the beginning of term. Neville Longbottom has become the Herbology Professor at Hogwarts. The Sorting Hat has survived, or has been repaired or replaced. It is revealed that Harry’s scar has not hurt since the Dark Lord’s defeat, and there the story ends.