Archive for the ‘Seni’ Category

Wandra Banyuwangi

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

Advertisements

Lihatlah airmataku
Ya Tuhan Yang Maha Pengasih
Bercerita tentang duka
Dan kehancuran

Setiap tetes mengandung arti
Dari derita yang menekan
Telah lama daku mencoba
Namun tak mampu jua

Tuhan tolong hapuskan airmataku
Tiada satu dapat melakukannya
Dari derita ini
Dari dalamnya dosa
Hanya Engkau yang kuasa
Menghapuskan setiap tetes airmata
Menghapuskan setiap tetes airmata

Lihatlah airmataku
Berderai penuh kesedihan
Kucoba tuk menghentikannya
Namun tak mampu jua

Hari ini aku mau mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda buat generasi muda yang ada di sekitarku saja. Bukan saudara,  tapi orang – orang yang pernah bertemu dalam berbagai suasana.

Aku suka sama lagu Superman Is Dead (SID) yang berduet dengan Iwan Fals. Berjudul Bangunlah Putra Putri Pertiwi. Semoga kita terus semangat membangun negeri tercinta,  dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan video ini. Harap maklum masih amatiran videonya hehehehe….

28 Oktober 2018

07.48 WIB

Bangunlah Putra Putri Pertiwi

Oooh…oooh….oooh………
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Kejam nadimu tak kan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramu

Angin gerimis
Mengelus merah putihku
yang berkibar

Mengelus merah putihmu
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putih pun suci berkharisma

Pulau-pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu

Reff:
Terbanglah garudaku
Singirkan kutu-kutu di sayapmu
Oooh…ooh
Berkibarlah benderaku
Singkirkan kutuk di tiangmu

Hai jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu
Oooh….oooh….ooh…

Mentari pagi sudah membubung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi

Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi, esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut

….

Bila Harimu Penuh Warna

Posted: October 25, 2018 by Eva in Inspirasi, Seni
Tags: ,

Melihat bunga warna warni ini sangat menyegarkan mata. Meski ini bunga yang berada di pinggir jalan, tapi bunga ini milik orang yang punya rumah.

Aku melewatinya saat berjalan beberapa hari yang lalu menyusuri jalan Madura. Ada beragam warna yang aku suka.

Jadi ingat lagi Armada yang liriknya…

Bayangkan bila harimu penuh warna
Itulah yang saat ini ku rasakan..

Lanjutkan sendirinya lagunya 🎶🎵🎼semoga kita yang menyukai beragam warna terhindar dari kebencian….

25 Oktober 2018

08.05

Era Reformasi Bukan Basa Basi

Oleh : Qasidah Palapa

Era Reformasi bukan basa basi
Era Reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita salah arti

Era Reformasi bukan basa basi
Era Reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita salah arti

Politik Ekonomi
Sering jadi ambisi
Janganlah reformasi
Untuk hajat pribadi

Jangan cuma bicara
Tanpa bukti yang nyata
Siapa yang akan percaya
Tak kan ada yang percaya

Era reformasi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai kita salah arti
Kita salah arti

Politik ekonomi sering jadi ambisi
Janganlah reformasi untuk hajat pribadi

Jangan cuma bicara

Semua orang bisa

Tanpa bukti yang nyata

Siapa yang kan percaya

Tak ka nada yang percaya

Era reformasi bukan basa basi
Era reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita Salah arti

Simak lagunya ya

*) Saya bukan aktivis ’98, saat itu saya masih kelas 3 SMA, jadi ini sekedar mengingatkan saja mohon maaf jika ada yang kurang berkenan

 

Langkah demi langkah
Telah ku telusuri
Masa demi masa
Aku lalui begitu banyak

Segala hinaan yang  kualami

Tanya demi tanya
Semua telah kudaki
Jatuh dan bangun
Tegar kembali

Betapa pedih luka dan derita
Yang telah kujalani
Namun kini penderitaan serta hinaan
Berganti kebahagiaan dan kemuliaan

Air mata menjadi permata
Kebencian menjadi cinta
Bila hidup di dalam dunia
Bak sandiwara

Selamat tinggal kesengsaraan
Selamat tinggal penderitaan
Terimakasih atas pengalaman
Yang kau berikan

Reff:
Namun kini penderitaan serta hinaan
Berganti kebahagiaan dan kemuliaan
Air mata menjadi permata
Kebencian menjadi cinta
Bila hidup di dalam dunia
Bak sandiwara

Selamat tinggal kesengsaraan
Selamat tinggal penderitaan
Terimakasih atas pengalaman
Yang kau berikan

Kini terbukti cinta yang kualami
Bukannya mimpi
Lautan api telah menjadi
Taman surgawi

Desa Jadi Kota (Tembang Sunda)

Posted: October 15, 2018 by Eva in Seni
Tags: , ,

Jauh tinggal di perantauan membuat aku kadang tidak bisa menahan rindu dengan suasana kampung halaman bumi Pasundan Sukabumi.

Mencari momen – momen berharga saat di kampungku yang sudah tidak sehijau dulu membuat aku melamun, setelah hampir tiap hari dengar lagu Jawa Timuran, kini aku memutar lagu degung, dan tembang sunda untuk mengobati kerinduan.

Yang nyanyi anak kecil suaranya bagus tapi gak tahu namanya, hanya ada nama penyanyi aslinya. Semoga berkenan. Ceuk urang Sunda mah keur sono ka lembur ceunah euy urang teh hehehe….

Desa jadi Kota – Kustian

Tah di dinya baheulamah
Saur emak saur bapak
Aya kebon cikur
Aya kebon sawah
Susukana heurang
Tempat urang
Kokojayan arulin
Jeung babaturan

Tuh di ditu baheulamah
Saur emak saur bapak
Gunung meuni hejo
Hantap meuni waas
Meuni waas
Rea sasatoan
Tempat paniisan urang
Arulin jeung babaturan

Ayeunamah beda jeung baheula
Rupa desa tos geus robahna jadi kota
Na kamana kebon sawah
Nu ngeplak mapaes endah
Na kamana ci susukan
Nu heurang cai ngagenclang
Na kamana gunung leuweung
Nu subur ku tatangkalan
Jeung kamana sasatoan nu
Reang teba- tebaan

Na kamana
Kiwari tinggal carita

Lirik Lagu
Siapa sangka menjadi begini
Siapa duga kita kan berpisah
Tak Percaya biarpun kenyataan
Yang pastinya ku kan kehilanganmu

Kita sebungbung
Tapi tak bersama
Kita bercinta tapi tidak sekata

Tunggu setahun hilang
Sekerlip mata
Lautan kasih
Disapa kemarau

Kukuderita kau kau berpulang
Diriku menangis engkau tertawa
Kau-kau aku sayang
kukukusingkirkan
Siksa aku selamanya

Kuku tak menduga
Kau kau telah berubah
Dalam diam kau menolak cintaku

Aku sadar siapalah diri ini
Bagaikan titik di sisimu

Dan kau merasa nyaman
Ku tak disenangi
Kusapu air mata
Tanda perpisahan

IMG-20170628-WA0006

Bukan Aku Tak Cinta – Saleem Iklim

Posted: October 15, 2018 by Eva in Seni

 

Selamat Jalan Saleem Iklim…

Iseng dengerin lagu siang ini, kangen masa-masa di Batavia. Aku amati beberapa foto yang ada selama di sana.

Lirik lagunya rancak dan lucu,

dengerin ya…

Cikini ke Gondangdia

Cikini ke Gondangdia
Ku jadi begini gara-gara dia
Cikampek Tasikmalaya
Hatiku capek bila kau tak setia

Jakarta ke Jayapura
Jangan cinta kalau  pura-pura
Madura sampai Papua
Jangan kira ku tak  bisa mendua

Walau kau hanya tukang ojek
Tak Pernah absen meski hujan dan becek
Walau kau hanya supir bajaj
Hatiku senang tiap kali kau belai

Percuma kau jadi pilot
Makin tinggi cintamu makin melorot
Apalagi kau jadi nahkoda
Jarang pulang karena kepincut janda

Biarpun sederhana asalkan kau setia

Aku pun akan selalu cinta

Percuma banyak harta

Di luar kau mendua

Jangan kira aku diam saja

 

 

 

 

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat.
So live a life you will remember.” 

 

Saya mengenal Avicii belum lama setelah dia meninggal di Muscat Oman pada usia 28 tahun April 2018. Penyanyi dan Dj asal Swedia ini dikenal sebagai DJ penyayang keluarga.

Ada dua lagu yang saya suka, pertama berjudul “You Wake Me Up”  bercerita tentang kisah perempuan yang mengurus anak perempuannya tanpa suami dan yang kedua kisah berjudul “The Nights” tentang kisah seorang pemuda yang sangat mencintai ayah kandungnya dan selalu ingat nasehat sang ayah kemanapun dia pergi.

Kini meski Avicii telah meninggal dunia dengan kontroversi, namun namanya dikenang dunia. Meninggalkan pesan yang kuat agar kita harus selalu ingat dan patuh nasehat orangtua.

Berikut liriknya:

The Nights

Hei, tahun yang lebih muda 
Hey, once upon a younger year 

Ketika semua bayangan kita menghilang 
When all our shadows disappeared 

Hewan-hewan di dalam keluar untuk bermain 
The animals inside came out to play 

Hei, ketika berhadapan muka dengan semua ketakutan kita 
Hey, when face to face with all our fears 

Mempelajari pelajaran kita melalui air mata 
Learned our lessons through the tears 

Membuat kenangan yang kami tahu tidak akan pernah memudar
Made memories we knew would never fade

Suatu hari ayah saya — dia memberi tahu saya, 
One day my father—he told me, 

Nak, jangan biarkan itu hilang” 
“Son, don’t let it slip away” 

Dia memeluk saya, saya mendengar dia berkata,
He took me in his arms, I heard him say,

“Ketika kamu bertambah tua 
“When you get older 

Kehidupan liar Anda akan hidup untuk hari yang lebih muda 
Your wild life will live for younger days 

Pikirkan aku jika kamu takut. “
Think of me if ever you’re afraid.”

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat. ” 
So live a life you will remember.” 

Ayah saya mengatakan kepada saya ketika saya masih anak-anak 
My father told me when I was just a child 

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die 

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Ketika awan guntur mulai mengalir turun 
When thunder clouds start pouring down 

Nyalakan api yang tidak bisa mereka keluarkan 
Light a fire they can’t put out 

Ukir nama Anda menjadi bintang yang bersinar 
Carve your name into those shinning stars 

Dia berkata, “Pergilah jauh-jauh di luar pantai. 
He said, “Go venture far beyond the shores. 

Jangan mengabaikan hidupmu ini. 
Don’t forsake this life of yours. 

Saya akan memandu Anda pulang ke mana pun Anda berada. “
I’ll guide you home no matter where you are.”

Suatu hari ayah saya — dia memberi tahu saya, 
One day my father—he told me, 

“Nak, jangan biarkan dia lolos.” 
“Son, don’t let it slip away.” 

Ketika saya masih kecil saya mendengar dia berkata,
When I was just a kid I heard him say,

“Ketika kamu bertambah tua 
“When you get older 

Kehidupan liar Anda akan hidup untuk hari yang lebih muda 
Your wild life will live for younger days 

Pikirkan aku jika kamu takut. “
Think of me if ever you’re afraid.”

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat.
So live a life you will remember.” 

Ayah saya mengatakan kepada saya ketika saya masih anak-anak 
My father told me when I was just a child 

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die 

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Penulis lagu: Ash Pournouri / Gabriel Benjamin / John Feldmann / Jordan Suecof / Nicholas Furlong / Tim Bergling
Lirik The Nights © BMG Rights Management, Tunecore Inc

Berikut videonya

Jerawat Hilang dan Awet Muda

Posted: August 6, 2018 by Eva in Seni
Tags: ,

“Jerawat guede (sangat besar) pun bisa hilang lho, dan saya sekarang terlihat awet muda,” ujarnya sambil tertawa

Siang itu cuaca tidak begitu panas. Saya mengantri di sebuah studio  foto dan mencetak foto digital yang berada di sebuah ruko di pusat kota.

Di depan saya ada dua orang yang antri. Satu perempuan muda dan satu lagi lelaki setengah baya yang datang lengkap dengan dasi dan jas.

Sambil menunggu giliran saya berfoto, tiba-tiba pria berambut ikal itu keluar dari ruang pemotretan. Dia terlihat bahagia dan tersenyum gembira.

Sebelum saya masuk ke ruang foto, pria itu keluar sambil memegang jas yang digantung di hanger itu sabar menunggu proses pencetakan.

Sambil berkelakar dia pun bercerita “Sekarang itu ya mbak, selesai di foto jerawat guede (besar sekali) yang ada di pipi kita bisa hilang, begitu juga kerutan wajah, saya senang lihat hasilnya, saya jadi kelihatan awet muda,” ujarnya tertawa….

6 Agustus 2018, Pukul 18:18

“Tanahku Tak Ku Lupakan, Engkau Kubanggakan”

Selamat datang bulan Agustus. Bulan ini kita akan melewati banyak peristiwa bersejarah yang penuh dengan kegembiraan. Bulan dimana bangsa ini mengalami kejadian penting baik pesta olahraga maupun pesta-pesta lainnya.

Pagi ini saya sangat bergembira, karena sedang berada di kota Surabaya, Kota pahlawan dimana Bung Karno menyatakan bahwa Surabaya adalah Dapur Nasionalisme.

Maka, untuk mengobarkan nasionalisme, saya ingin memutar sebuah video yang memadukan orasi Bung Karno dengan Lagu Ciptaan Ibu Sud berjudul Tanah air yang diakhiri dengan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Lagu ini diaransemen oleh EDM X Gamelan by Alffy Rev Ft Brisia jodi dan Gasita Karawitan.

Berikut videonya

Saya membaca berita meninggalnya kartunis GM Sudarta saat berlangsungnya kualifikasi Piala Dunia. Saya sangat terkejut, mengingat beberapa waktu yang lalu saya mendatangi pameran kartun GM Sudarta di Bentara Budaya tentang perjalanan almarhum berkarya selama 50 tahun di harian Kompas, menampilkan sosok Om Pasikom dengan beragam karakter yang menggelitik.

Waktu itu, ada tiga orang pembahas karya-karya GM Sudarta, yaitu Trias Kuncahyono, Seno Gumira Aji Darma, Romo Mudji Sutrisno dan dipandu oleh Putu Fajar Arcana. Diskusi berlangsung serius dalam beragam perspektif, Pak Trias Kuncahyono membahas dalam kebiasaan GM Sudarta yang sering mengganti tema menjelang deadline, Seno Gumira Ajidarma membahas sejarah kartun dari sisi historis dan filosofis, sedangkan Romo Mudji melengkapinya dalam sisi etika.

Diskusi berlangsung seru, dan saya pun bertanya tentang beberapa kartun yang menyulut kontroversi di pelbagai media dunia, batasan berekspresi, hingga kurang dihargainya eksistensi hasil karya kartunis belakangan ini.

Saya masih ingat, dia menulis dalam tulisan yang dipigura sangat besar, tentang pergulatannya selama 50 tahun bersama Om Pasikom. Om Pasikom adalah teman diskusi, bertukar pikiran, pemberi nasehat, juga teman bercanda yang mengasyikkan. Sangat disayangkan, saat acara berlangsung, almarhum tidak bisa datang karena alasan kesehatan. Namun, beberapa karya maestronya mengitari sepanjang dinding gedung Bentara Budaya tempat terjadinya diskusi.

Meskipun GM Sudarta tidak hadir, namun tulisan di pigura itu saya simpan. Dia selalu menganggap bahwa yang membuat dia betah menjadi kartunis adalah bisa “mati ketawa cara indonesia”. Dia juga selalu ingat nasehat Pak Jakob Oetama berikut ini.

Acara yang dihadiri banyak pecinta kartun ini berlangsung meriah dan semarak. Para pembicara dan peserta diskusi semangat untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Seno Gumira Ajidarma panjang lebar menjelaskan tentang historis dan batasan-batasan yang sakral dan profan dalam membuat karikatur.

Acara ditutup dengan jawaban yang memuaskan dan peserta diskusi pulang dengan gembira. Termasuk saya yang mengitari karya-karya GM Sudarta yang tersebar mengelilingi Bentara Budaya sore itu. Berikut foto-foto karikatur yang saya abadikan. Semoga, segala amal baik, kritik Om Pasikom yang telah 51 tahun berkarya mendapat Pahala dari Sang Maha Pencipta.

Tadi pagi saya  naik bis Damri dari terminal Lebak Bulus ke arah Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Berangkat dari habis Shubuh sampai di terminal Damri Pukul 05.40 WIB.

Pagi-pagi penumpang bis Damri ramai. Menurut Supir bis, bis baru berangkat jam 06.00 WIB. Tiba-tiba saat menunggu bis jalan, datang seorang perempuan setengah baya menyanyikan lagu “Hargai Aku” yang dipopulerkan Armada.

Saya merekam tidak dari awal, karena HP rendah batrenya. Baru di bait kedua saya rekam sampai selesai. Silahkan simak, mohon maaf kepotong ya..

“Hargai Aku” Penyanyi : Armada

Seringkali kau merendahkanku
Melihat dengan sebelah matamu
Aku bukan siapa-siapa

Selalu saja kau anggap ku lemah
Merasa hebat dengan yang kau punya
Kau sombongkan itu semua

Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku

Sering kali (sering kali) kau merendahkanku (kau merendahkanku)
Melihat dengan sebelah matamu
Aku bukan siapa-siapa

Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku

Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku
Sebelum kau nilai… siapa diriku

Aaron Ashab dan Hidup Sesuka Hati

Posted: April 22, 2018 by Eva in Artikel, Seni
Tags: ,

Sebenarnya saya sudah lama mendengar lagu ini dari winamp. Lagunya rancak menyenangkan dengan iringan musik ceria seperti isi lagu.

Sambil menunggu akhir pekan habis tidak ada salahnya anda mendengarkan lagu karya penyanyi muda Aaron Ashab ini dengan santai dan hati gembira.

Cocok buat kamu yang cuek dan tidak begitu peduli atau memperhatikan pendapat orang lain hehehe…😅😊

Silahkan buka lagu ini di website youtube.com ya, judulnya Aaron Ashab “Sesuka Hati”.

 

Pertama kali mendengar lagu ini dikabari kemarin saat sore hari. Wah langsung senang dan baper mendengarkan lagu ini. Liriknya sangat menyanjung perempuan.

Setelah sukses dengan debut pertama yang meledak di pasaran berjudul “Surat Cinta untuk Starla” Virgoun kembali menggebrak musik Indonesia dengan lagu “Bukti”. Ungkapan kejujuran seorang laki-laki, dalam hal ini Virgoun tentunya kepada pasangan yang telah banyak mengubah hidupnya dan melembutkan keras ego dirinya.

Lirik lagu “Bukti” sangat mendalam. Penuh penghayatan. Virgoun pintar membuat hati perempuan meleleh dan tersanjung mendengar lagu ini. Saat saya mendengarkan lagu ini yang mengunduh sudah 130 juta lebih. Mungkin sebagian dari pembaca sudah ada yang tahu, tapi bagi yang belum simak dan suka dengan lagu-lagu Virgoun, silahkan simak ya…

Katakan Sejujurnya

Posted: April 2, 2018 by Eva in Seni
Tags: ,

Perjalanan kemarin sore usai akhir pekan panjang ini perjalanan lancar, dari arah Ciawi ada seorang pengamen  lelaki setengah baya naik bis Parung Indah. Dia  menyanyikan lagu “Katakan Sejujurnya” ciptaan Rinto Harahap yang dipopulerkan oleh Christine Pandjaitan.

Meski saat merekam di awal kamera belum on, namun lagu yang dinyanyikan sangat jelas dan enak didengar.

Berikut saya tulis liriknya:

Kalau dulu kita tak bertemu
Takkan pernah ku rasakan artinya rindu
Kalau dulu kita tak kenal
Takkan pernah ku rasakan jatuh cinta
Kau berikan aku cinta dan semua yang terindah
Namun hanya sehari saja

Katakanlah.. katakan sejujurnya..
Apa mungkin kita bersatu
Kalau tak mungkin lagi hujan menyatukan hati kita
Untuk apa kau dan aku bersatu
Kalau tak mungkin lagi kita bercerita tentang cinta
Biarkanlah ku pergi jauh

Kalau memang hatimu tak sayang
Mengapa dulu kau kirim surat padaku
Sampul biru bertulis namaku
Serasa terbang seluruh jiwa ragaku
Namun apa yang terjadi kau hancurkan semua mimpi
Yang menyakitkan hati ini

Katakanlah.. katakan sejujurnya..
Apa mungkin kita bersatu
Kalau tak mungkin lagi hujan menyatukan hati kita
Untuk apa kau dan aku bersatu
Kalau tak mungkin lagi kita bercerita tentang cinta
Biarkanlah ku pergi jauh..

Gencarnya promo perjalanan (travelling) baik dari dalam negeri maupun luar negeri, memberi keuntungan sendiri bagi para pengrajin industri kecil di beberapa pelosok daerah.

Para pelaku industri kecil membuat aneka souvenir yang beragam dan memiliki ciri khas tersendiri yang tidak ada di daerah atau negara lain.

Salah satu yang menarik saya belakangan adalah para pedagang souvenir yang langka tapi unik dan cantik.
Keterbatasan suatu daerah untuk membuat bahan baku kerajinan tangan (cinderamata) atau souvenir tidak membuat mereka kehabisan akal.

Contohnya adalah souvenir lukisan dari kulit pohon yang berasal dari Pulau Fiji, suatu Pulau kecil dekat Selandia Baru.

Waktu melihat pertama kali wah keren ya, melukis di kulit pohon tanpa mblobor (tak beraturan) atau tinta yang tembus acak-acakan mengingat kulit pohon itu sangat tipis dan rapuh.

Selama ini di beberapa daerah melimpah ruah bahan dasar untuk melukis.Dari mulai kain, kanvas, kulit diolah sedemikian rupa, namun Pulau Fiji yang terpencil ini justru lebih kreatif, membuat lukisan dari kulit pohon, terkesan artistik namun sangat unik, jarang ada yang punya.

Ternyata kreasi cenderamata berbahan dasar kulit pohon ini tidak hanya ada di Pulau Fiji, kini Papua pun memiliki kreasi dengan bahan dasar sama.

Bedanya di Papua, kulit pohon dibuat untuk membuat tas tangan atau sejenis dompet yang natural. Tanpa cat dan polesan, hanya ada sedikit bordir komputer benang bertuliskan dan berlogo Papua.

Cendramata ini tampak cantik dan alami jika dipakai untuk sehari-hari atau belanja. Lengkap dengan beberapa wadah yang diresleting yang bisa menyimpan kartu, uang, hingga smartphone. Ringkas, masuk semua.

Ketika melihat dua souvenir berbahan kulit pohon ini saya sungguh penasaran seperti apa ya proses pembuatannya. Mengingat, proses pengambilan kulit pohon itu rumit, belum setelah itu proses produksi yang tentu dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

Saya salut sama kreativitas tanpa batas para pengrajin kulit pohon baik di Pulau Fiji maupun Papua, atau mungkin di daerah lainnya. Meskipun ada kelemahan dimana kedua barang itu tidak boleh kena basah dan hujan, karena akan mengkerut bahkan rusak, semoga bahan dasarnya tidak merusak pohon atau lingkungan.

Adakalanya kreativitas muncul justru saat kita dalam kondisi serba terbatas. Terimakasih buat yang sudah memberiku oleh-oleh lukisan dari Pulau Fiji dan Dompet dari Papua. Tabik….

Pamulang 27 Maret 2018
Pukul 17:21

Seorang ibu-ibu berbadan gemuk membawa seorang anaknya mengamen di bis Mulya jurusan Serang-Kalideres.Tiga lagunya asyik-asyik dan enak di dengar.

Berikut lagu pertama

Rindu Berat oleh Camelia Malik

Kau suka ku cinta
jadinya sama-sama
Kau rindu ku kangen
jadinya satu sama

Kalo sudah begini, sayang
berpisah ku tak kuat
Jangankan satu minggu, sayang
Sehari ku rindu beraaat

Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Kau cinta kau suka

Kau dan aku sama-sama sudah dewasa
Wajar saja kalo kita sudah menyinta

Aku mau walaupun hidup seadanya
Asal cinta tak kan pernah terbagi dua
Dirimu diriku bagaikan kancing dan baju
Kemana bersama bagai Romie da Juli

Kau suka ku cinta
jadinya sama-sama
Kau rindu ku kangen
jadinya satu sama

Kalo sudah begini, sayang
berpisah ku tak kuat
Jangankan satu minggu, sayang
Sehari ku rindu beraaat

[Reff:]
Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Lagu Kedua

Wulan Merindu
By: Cici Paramida

Sunyi Sepi Malam Tanpa Sinar Bulan
Sesepi Diriku Sendiri Dalam Penantian
Tak Tahan Rasanya Gelora Di Jiwa
Ingin Segera Bertemu

Duhai Kekasihku Duhai Pujaanku
Aku Rindu Kepadamu
Sekian Lamanya Kumemendam Rasa
Tak Tertahan Lagi Rasa Gundah Di Dalam Dada

Teringat Dirimu Terbayang Kau Selalu
Setiap Malam-malamku
Datanglah Sayangku Hadirlah Kasihku
Wulan Ini Merindumu

Betapa Indahnya Dunia Terasa
Bila Kau Ada Di Sisiku
Alangkah Syahdunya Seakan Terasa
Bagaikan Ku Di Alam Surga

Bawalah Diriku Oh Sayang
Kuingin Selalu Bersamamu
Tak Sanggup Lagi Diri Ini
Berpisah Denganmu Kasih

Cintaku Sayangku Kasihku
Kuserahkan Hanya Kepadamu
Semoga Tuhan Merestui
Bahagia Selamanya

Lagu ketiga

Iming-Iming oleh Rita Sugiarto

Haa..haaaa…
Haaa haaaa…
Bulan yang engkau janjikan
Bintang malam kau tawarkan
Yang ada hanya celakaaa…
Karena hati.. kau sakiti..

Ku..rang apakah..
ya.. aku ini..
baik sudah cantik juga sudah
Di matamu

Musim hujan kepanasan
Musim panas kehujanan
Pantaslah saja diriku
Selalu dalam keresahan

Kau janji janji..
Kau tawar tawar..
Kau janjikan kau tawarkan cinta
Iming-iming saja

Cinta siapa..
Rindu siapa..
Kalau cinta milik orang lain
Ya percuma saja
Biarlah.. diriku..
sendiri.. sendiri saja..

Musim hujan kepanasan
Musim panas kehujanan
…..

Cukup sampai disitu Ibu itu mempersembahkan lagu, dia turun di Balaraja.

Lumayan lama dia menyanyi diiringi hujan deras di luar sana.
Saya sempat videokan, coba simak ya..