Archive for the ‘Seni’ Category

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat.
So live a life you will remember.” 

 

Saya mengenal Avicii belum lama setelah dia meninggal di Muscat Oman pada usia 28 tahun April 2018. Penyanyi dan Dj asal Swedia ini dikenal sebagai DJ penyayang keluarga.

Ada dua lagu yang saya suka, pertama berjudul “You Wake Me Up”  bercerita tentang kisah perempuan yang mengurus anak perempuannya tanpa suami dan yang kedua kisah berjudul “The Nights” tentang kisah seorang pemuda yang sangat mencintai ayah kandungnya dan selalu ingat nasehat sang ayah kemanapun dia pergi.

Kini meski Avicii telah meninggal dunia dengan kontroversi, namun namanya dikenang dunia. Meninggalkan pesan yang kuat agar kita harus selalu ingat dan patuh nasehat orangtua.

Berikut liriknya:

The Nights

Hei, tahun yang lebih muda 
Hey, once upon a younger year 

Ketika semua bayangan kita menghilang 
When all our shadows disappeared 

Hewan-hewan di dalam keluar untuk bermain 
The animals inside came out to play 

Hei, ketika berhadapan muka dengan semua ketakutan kita 
Hey, when face to face with all our fears 

Mempelajari pelajaran kita melalui air mata 
Learned our lessons through the tears 

Membuat kenangan yang kami tahu tidak akan pernah memudar
Made memories we knew would never fade

Suatu hari ayah saya — dia memberi tahu saya, 
One day my father—he told me, 

Nak, jangan biarkan itu hilang” 
“Son, don’t let it slip away” 

Dia memeluk saya, saya mendengar dia berkata,
He took me in his arms, I heard him say,

“Ketika kamu bertambah tua 
“When you get older 

Kehidupan liar Anda akan hidup untuk hari yang lebih muda 
Your wild life will live for younger days 

Pikirkan aku jika kamu takut. “
Think of me if ever you’re afraid.”

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat. ” 
So live a life you will remember.” 

Ayah saya mengatakan kepada saya ketika saya masih anak-anak 
My father told me when I was just a child 

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die 

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Ketika awan guntur mulai mengalir turun 
When thunder clouds start pouring down 

Nyalakan api yang tidak bisa mereka keluarkan 
Light a fire they can’t put out 

Ukir nama Anda menjadi bintang yang bersinar 
Carve your name into those shinning stars 

Dia berkata, “Pergilah jauh-jauh di luar pantai. 
He said, “Go venture far beyond the shores. 

Jangan mengabaikan hidupmu ini. 
Don’t forsake this life of yours. 

Saya akan memandu Anda pulang ke mana pun Anda berada. “
I’ll guide you home no matter where you are.”

Suatu hari ayah saya — dia memberi tahu saya, 
One day my father—he told me, 

“Nak, jangan biarkan dia lolos.” 
“Son, don’t let it slip away.” 

Ketika saya masih kecil saya mendengar dia berkata,
When I was just a kid I heard him say,

“Ketika kamu bertambah tua 
“When you get older 

Kehidupan liar Anda akan hidup untuk hari yang lebih muda 
Your wild life will live for younger days 

Pikirkan aku jika kamu takut. “
Think of me if ever you’re afraid.”

Dia berkata, “Suatu hari Anda akan meninggalkan dunia ini 
He said, “One day you’ll leave this world behind 

Jadi jalanilah kehidupan yang akan Anda ingat.
So live a life you will remember.” 

Ayah saya mengatakan kepada saya ketika saya masih anak-anak 
My father told me when I was just a child 

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Ini adalah malam-malam yang tidak pernah mati 
These are the nights that never die 

Ayah saya mengatakan kepada saya
My father told me

Penulis lagu: Ash Pournouri / Gabriel Benjamin / John Feldmann / Jordan Suecof / Nicholas Furlong / Tim Bergling
Lirik The Nights © BMG Rights Management, Tunecore Inc

Berikut videonya

Advertisements

Jerawat Hilang dan Awet Muda

Posted: August 6, 2018 by Eva in Seni
Tags: ,

“Jerawat guede (sangat besar) pun bisa hilang lho, dan saya sekarang terlihat awet muda,” ujarnya sambil tertawa

Siang itu cuaca tidak begitu panas. Saya mengantri di sebuah studio  foto dan mencetak foto digital yang berada di sebuah ruko di pusat kota.

Di depan saya ada dua orang yang antri. Satu perempuan muda dan satu lagi lelaki setengah baya yang datang lengkap dengan dasi dan jas.

Sambil menunggu giliran saya berfoto, tiba-tiba pria berambut ikal itu keluar dari ruang pemotretan. Dia terlihat bahagia dan tersenyum gembira.

Sebelum saya masuk ke ruang foto, pria itu keluar sambil memegang jas yang digantung di hanger itu sabar menunggu proses pencetakan.

Sambil berkelakar dia pun bercerita “Sekarang itu ya mbak, selesai di foto jerawat guede (besar sekali) yang ada di pipi kita bisa hilang, begitu juga kerutan wajah, saya senang lihat hasilnya, saya jadi kelihatan awet muda,” ujarnya tertawa….

6 Agustus 2018, Pukul 18:18

“Tanahku Tak Ku Lupakan, Engkau Kubanggakan”

Selamat datang bulan Agustus. Bulan ini kita akan melewati banyak peristiwa bersejarah yang penuh dengan kegembiraan. Bulan dimana bangsa ini mengalami kejadian penting baik pesta olahraga maupun pesta-pesta lainnya.

Pagi ini saya sangat bergembira, karena sedang berada di kota Surabaya, Kota pahlawan dimana Bung Karno menyatakan bahwa Surabaya adalah Dapur Nasionalisme.

Maka, untuk mengobarkan nasionalisme, saya ingin memutar sebuah video yang memadukan orasi Bung Karno dengan Lagu Ciptaan Ibu Sud berjudul Tanah air yang diakhiri dengan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Lagu ini diaransemen oleh EDM X Gamelan by Alffy Rev Ft Brisia jodi dan Gasita Karawitan.

Berikut videonya

Saya membaca berita meninggalnya kartunis GM Sudarta saat berlangsungnya kualifikasi Piala Dunia. Saya sangat terkejut, mengingat beberapa waktu yang lalu saya mendatangi pameran kartun GM Sudarta di Bentara Budaya tentang perjalanan almarhum berkarya selama 50 tahun di harian Kompas, menampilkan sosok Om Pasikom dengan beragam karakter yang menggelitik.

Waktu itu, ada tiga orang pembahas karya-karya GM Sudarta, yaitu Trias Kuncahyono, Seno Gumira Aji Darma, Romo Mudji Sutrisno dan dipandu oleh Putu Fajar Arcana. Diskusi berlangsung serius dalam beragam perspektif, Pak Trias Kuncahyono membahas dalam kebiasaan GM Sudarta yang sering mengganti tema menjelang deadline, Seno Gumira Ajidarma membahas sejarah kartun dari sisi historis dan filosofis, sedangkan Romo Mudji melengkapinya dalam sisi etika.

Diskusi berlangsung seru, dan saya pun bertanya tentang beberapa kartun yang menyulut kontroversi di pelbagai media dunia, batasan berekspresi, hingga kurang dihargainya eksistensi hasil karya kartunis belakangan ini.

Saya masih ingat, dia menulis dalam tulisan yang dipigura sangat besar, tentang pergulatannya selama 50 tahun bersama Om Pasikom. Om Pasikom adalah teman diskusi, bertukar pikiran, pemberi nasehat, juga teman bercanda yang mengasyikkan. Sangat disayangkan, saat acara berlangsung, almarhum tidak bisa datang karena alasan kesehatan. Namun, beberapa karya maestronya mengitari sepanjang dinding gedung Bentara Budaya tempat terjadinya diskusi.

Meskipun GM Sudarta tidak hadir, namun tulisan di pigura itu saya simpan. Dia selalu menganggap bahwa yang membuat dia betah menjadi kartunis adalah bisa “mati ketawa cara indonesia”. Dia juga selalu ingat nasehat Pak Jakob Oetama berikut ini.

Acara yang dihadiri banyak pecinta kartun ini berlangsung meriah dan semarak. Para pembicara dan peserta diskusi semangat untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Seno Gumira Ajidarma panjang lebar menjelaskan tentang historis dan batasan-batasan yang sakral dan profan dalam membuat karikatur.

Acara ditutup dengan jawaban yang memuaskan dan peserta diskusi pulang dengan gembira. Termasuk saya yang mengitari karya-karya GM Sudarta yang tersebar mengelilingi Bentara Budaya sore itu. Berikut foto-foto karikatur yang saya abadikan. Semoga, segala amal baik, kritik Om Pasikom yang telah 51 tahun berkarya mendapat Pahala dari Sang Maha Pencipta.

Tadi pagi saya  naik bis Damri dari terminal Lebak Bulus ke arah Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Berangkat dari habis Shubuh sampai di terminal Damri Pukul 05.40 WIB.

Pagi-pagi penumpang bis Damri ramai. Menurut Supir bis, bis baru berangkat jam 06.00 WIB. Tiba-tiba saat menunggu bis jalan, datang seorang perempuan setengah baya menyanyikan lagu “Hargai Aku” yang dipopulerkan Armada.

Saya merekam tidak dari awal, karena HP rendah batrenya. Baru di bait kedua saya rekam sampai selesai. Silahkan simak, mohon maaf kepotong ya..

“Hargai Aku” Penyanyi : Armada

Seringkali kau merendahkanku
Melihat dengan sebelah matamu
Aku bukan siapa-siapa

Selalu saja kau anggap ku lemah
Merasa hebat dengan yang kau punya
Kau sombongkan itu semua

Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku

Sering kali (sering kali) kau merendahkanku (kau merendahkanku)
Melihat dengan sebelah matamu
Aku bukan siapa-siapa

Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku

Coba kau lihat dirimu dahulu
Sebelum kau nilai kurangnya diriku
Apa salahnya hargai diriku
Sebelum kau nilai siapa diriku
Sebelum kau nilai… siapa diriku

Aaron Ashab dan Hidup Sesuka Hati

Posted: April 22, 2018 by Eva in Artikel, Seni
Tags: ,

Sebenarnya saya sudah lama mendengar lagu ini dari winamp. Lagunya rancak menyenangkan dengan iringan musik ceria seperti isi lagu.

Sambil menunggu akhir pekan habis tidak ada salahnya anda mendengarkan lagu karya penyanyi muda Aaron Ashab ini dengan santai dan hati gembira.

Cocok buat kamu yang cuek dan tidak begitu peduli atau memperhatikan pendapat orang lain hehehe…😅😊

Silahkan buka lagu ini di website youtube.com ya, judulnya Aaron Ashab “Sesuka Hati”.

 

Pertama kali mendengar lagu ini dikabari kemarin saat sore hari. Wah langsung senang dan baper mendengarkan lagu ini. Liriknya sangat menyanjung perempuan.

Setelah sukses dengan debut pertama yang meledak di pasaran berjudul “Surat Cinta untuk Starla” Virgoun kembali menggebrak musik Indonesia dengan lagu “Bukti”. Ungkapan kejujuran seorang laki-laki, dalam hal ini Virgoun tentunya kepada pasangan yang telah banyak mengubah hidupnya dan melembutkan keras ego dirinya.

Lirik lagu “Bukti” sangat mendalam. Penuh penghayatan. Virgoun pintar membuat hati perempuan meleleh dan tersanjung mendengar lagu ini. Saat saya mendengarkan lagu ini yang mengunduh sudah 130 juta lebih. Mungkin sebagian dari pembaca sudah ada yang tahu, tapi bagi yang belum simak dan suka dengan lagu-lagu Virgoun, silahkan simak ya…

Katakan Sejujurnya

Posted: April 2, 2018 by Eva in Seni
Tags: ,

Perjalanan kemarin sore usai akhir pekan panjang ini perjalanan lancar, dari arah Ciawi ada seorang pengamen  lelaki setengah baya naik bis Parung Indah. Dia  menyanyikan lagu “Katakan Sejujurnya” ciptaan Rinto Harahap yang dipopulerkan oleh Christine Pandjaitan.

Meski saat merekam di awal kamera belum on, namun lagu yang dinyanyikan sangat jelas dan enak didengar.

Berikut saya tulis liriknya:

Kalau dulu kita tak bertemu
Takkan pernah ku rasakan artinya rindu
Kalau dulu kita tak kenal
Takkan pernah ku rasakan jatuh cinta
Kau berikan aku cinta dan semua yang terindah
Namun hanya sehari saja

Katakanlah.. katakan sejujurnya..
Apa mungkin kita bersatu
Kalau tak mungkin lagi hujan menyatukan hati kita
Untuk apa kau dan aku bersatu
Kalau tak mungkin lagi kita bercerita tentang cinta
Biarkanlah ku pergi jauh

Kalau memang hatimu tak sayang
Mengapa dulu kau kirim surat padaku
Sampul biru bertulis namaku
Serasa terbang seluruh jiwa ragaku
Namun apa yang terjadi kau hancurkan semua mimpi
Yang menyakitkan hati ini

Katakanlah.. katakan sejujurnya..
Apa mungkin kita bersatu
Kalau tak mungkin lagi hujan menyatukan hati kita
Untuk apa kau dan aku bersatu
Kalau tak mungkin lagi kita bercerita tentang cinta
Biarkanlah ku pergi jauh..

Gencarnya promo perjalanan (travelling) baik dari dalam negeri maupun luar negeri, memberi keuntungan sendiri bagi para pengrajin industri kecil di beberapa pelosok daerah.

Para pelaku industri kecil membuat aneka souvenir yang beragam dan memiliki ciri khas tersendiri yang tidak ada di daerah atau negara lain.

Salah satu yang menarik saya belakangan adalah para pedagang souvenir yang langka tapi unik dan cantik.
Keterbatasan suatu daerah untuk membuat bahan baku kerajinan tangan (cinderamata) atau souvenir tidak membuat mereka kehabisan akal.

Contohnya adalah souvenir lukisan dari kulit pohon yang berasal dari Pulau Fiji, suatu Pulau kecil dekat Selandia Baru.

Waktu melihat pertama kali wah keren ya, melukis di kulit pohon tanpa mblobor (tak beraturan) atau tinta yang tembus acak-acakan mengingat kulit pohon itu sangat tipis dan rapuh.

Selama ini di beberapa daerah melimpah ruah bahan dasar untuk melukis.Dari mulai kain, kanvas, kulit diolah sedemikian rupa, namun Pulau Fiji yang terpencil ini justru lebih kreatif, membuat lukisan dari kulit pohon, terkesan artistik namun sangat unik, jarang ada yang punya.

Ternyata kreasi cenderamata berbahan dasar kulit pohon ini tidak hanya ada di Pulau Fiji, kini Papua pun memiliki kreasi dengan bahan dasar sama.

Bedanya di Papua, kulit pohon dibuat untuk membuat tas tangan atau sejenis dompet yang natural. Tanpa cat dan polesan, hanya ada sedikit bordir komputer benang bertuliskan dan berlogo Papua.

Cendramata ini tampak cantik dan alami jika dipakai untuk sehari-hari atau belanja. Lengkap dengan beberapa wadah yang diresleting yang bisa menyimpan kartu, uang, hingga smartphone. Ringkas, masuk semua.

Ketika melihat dua souvenir berbahan kulit pohon ini saya sungguh penasaran seperti apa ya proses pembuatannya. Mengingat, proses pengambilan kulit pohon itu rumit, belum setelah itu proses produksi yang tentu dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian.

Saya salut sama kreativitas tanpa batas para pengrajin kulit pohon baik di Pulau Fiji maupun Papua, atau mungkin di daerah lainnya. Meskipun ada kelemahan dimana kedua barang itu tidak boleh kena basah dan hujan, karena akan mengkerut bahkan rusak, semoga bahan dasarnya tidak merusak pohon atau lingkungan.

Adakalanya kreativitas muncul justru saat kita dalam kondisi serba terbatas. Terimakasih buat yang sudah memberiku oleh-oleh lukisan dari Pulau Fiji dan Dompet dari Papua. Tabik….

Pamulang 27 Maret 2018
Pukul 17:21

Seorang ibu-ibu berbadan gemuk membawa seorang anaknya mengamen di bis Mulya jurusan Serang-Kalideres.Tiga lagunya asyik-asyik dan enak di dengar.

Berikut lagu pertama

Rindu Berat oleh Camelia Malik

Kau suka ku cinta
jadinya sama-sama
Kau rindu ku kangen
jadinya satu sama

Kalo sudah begini, sayang
berpisah ku tak kuat
Jangankan satu minggu, sayang
Sehari ku rindu beraaat

Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Kau cinta kau suka

Kau dan aku sama-sama sudah dewasa
Wajar saja kalo kita sudah menyinta

Aku mau walaupun hidup seadanya
Asal cinta tak kan pernah terbagi dua
Dirimu diriku bagaikan kancing dan baju
Kemana bersama bagai Romie da Juli

Kau suka ku cinta
jadinya sama-sama
Kau rindu ku kangen
jadinya satu sama

Kalo sudah begini, sayang
berpisah ku tak kuat
Jangankan satu minggu, sayang
Sehari ku rindu beraaat

[Reff:]
Kita sama-sama suka
Kita sma-sama cinta
Biar saja orang mau bilang apa

Lagu Kedua

Wulan Merindu
By: Cici Paramida

Sunyi Sepi Malam Tanpa Sinar Bulan
Sesepi Diriku Sendiri Dalam Penantian
Tak Tahan Rasanya Gelora Di Jiwa
Ingin Segera Bertemu

Duhai Kekasihku Duhai Pujaanku
Aku Rindu Kepadamu
Sekian Lamanya Kumemendam Rasa
Tak Tertahan Lagi Rasa Gundah Di Dalam Dada

Teringat Dirimu Terbayang Kau Selalu
Setiap Malam-malamku
Datanglah Sayangku Hadirlah Kasihku
Wulan Ini Merindumu

Betapa Indahnya Dunia Terasa
Bila Kau Ada Di Sisiku
Alangkah Syahdunya Seakan Terasa
Bagaikan Ku Di Alam Surga

Bawalah Diriku Oh Sayang
Kuingin Selalu Bersamamu
Tak Sanggup Lagi Diri Ini
Berpisah Denganmu Kasih

Cintaku Sayangku Kasihku
Kuserahkan Hanya Kepadamu
Semoga Tuhan Merestui
Bahagia Selamanya

Lagu ketiga

Iming-Iming oleh Rita Sugiarto

Haa..haaaa…
Haaa haaaa…
Bulan yang engkau janjikan
Bintang malam kau tawarkan
Yang ada hanya celakaaa…
Karena hati.. kau sakiti..

Ku..rang apakah..
ya.. aku ini..
baik sudah cantik juga sudah
Di matamu

Musim hujan kepanasan
Musim panas kehujanan
Pantaslah saja diriku
Selalu dalam keresahan

Kau janji janji..
Kau tawar tawar..
Kau janjikan kau tawarkan cinta
Iming-iming saja

Cinta siapa..
Rindu siapa..
Kalau cinta milik orang lain
Ya percuma saja
Biarlah.. diriku..
sendiri.. sendiri saja..

Musim hujan kepanasan
Musim panas kehujanan
…..

Cukup sampai disitu Ibu itu mempersembahkan lagu, dia turun di Balaraja.

Lumayan lama dia menyanyi diiringi hujan deras di luar sana.
Saya sempat videokan, coba simak ya..

(Kisah dan Sejarah Memakai Jilbab selama 25 tahun (Periode 1992-2017) )

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis kisah dan pengamatanku tentang fenomena jilbab dari sejak aku pertama kali mengenakan tahun 1992 saat di SMPN Sardonohardjo dan mondok di Pesantren Sunan Pandanaran hingga saat ini 2017, aku mengenakan hijab untuk bekerja atau OOTD.

Kerudung Era 90an

Pada awal tahun 1990an, gaya hidup belum semeriah sekarang. Era orde baru, meski penuh dengan sejarah kelam tentang korupsi dan nepotisme, tapi masa-masa itu kaum muslim di Indonesia di mana aku tinggal tidak banyak gaya, tampil seadanya dengan jilbab sederhana. Waktu di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Sejak dahulu model penutup kepala (kerudung), jilbab atau hijab mengalami banyak perubahan. Ibuku adalah seorang pedagang yang suka memakai kerudung langsungan model brokat lama atau selendang disampirkan. Pada saat periode aku kecil 1979-1980an orang Indonesia belum begitu rapat menutup kepala, ala kadarnya saja tradisional yang penting sopan. Anak-anak usia sekolah seperti SD-SMP juga jarang mengenakan jilbab kecuali sekolah yang berbasiskan Ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Pada tahun 1992 lulus SD aku melanjutkan ke SMP 30 Ngaglik, Sardonoharjo Sleman dan mondok di PP Sunan Pandanaran, nyantri kepada KH. Mufid Mas’ud. Waktu itu aku datang ke pondok diantar kakak pertama dan di tengok A Iwan setiap bulan. Kadang di PPSPA aku nakal curi-curi kesempatan kabur dari kobong jalan naik colt Kaliurang berhenti di depan Mirota Kampus kemudian naik bis pemuda ke rumah kakak di Condongcatur.

Saat SMP

Saat SMP

Saat SMP ini cara pake jilbabku, begitu juga ketika bermain sesama santri PPSPA. Jilbab segi empat biasa yang bisa kubeli di pasar dengan aneka warna, kalau di dalam kita pake sarung dan tidak berkerudung, atau  jilbab langsungan. Waktu itu di asrama SQL (khusus Sekolah Luar) dimana anak-anak pandanaran yang sekolah di luar MTS dan MASPA. Temanku di SMP hanya anak pondok saja yang berhijab yang lain tidak ada.  Kala itu periode 1992-1995.

Pada 1996 aku masuk SMU Muhammadiyah II dimana waktu itu semua murid perempuan berjilbab. Aku masuk sekolah ini karena aku gagal di terima di SMA 7 tadinya kakakku menyarankan aku masuk SMA negeri dan lanjut mondok di Krapyak. Tapi takdir mengatakan lain, NEM ku kurang dua digit sehingga aku gagal masuk SMA negeri unggulan di Jogja.

Saat SMA

Saat SMA

Saat SMA aku berkenalan dengan banyak teman ada yang asli Jogja, ada juga yang dari luar kota seperti Kalimantan, Riau, Kuningan dan daerah lainnnya, aku masuk kelas IPA I Muha. Ada dua orang teman searah yang sering berangkat dan pulang bareng ke sekolah yaitu Veny Setyaningrum dan Nida Nadia.Veny bawa motor sendiri dari rumahnya Jambu Sari aku suka berangkat bareng, sedangkan Nida tinggal di Timoho bersama kakaknya yang kuliah di UII ada 3 orang.

Bersama Veny dan Nida aku banyak menghabiskan waktu berangkat dan pulang sekolah. Di kelas aku bukan termasuk anak pintar, aku sering nakal dan bolosan bersama Dian Aflahah main ke radio Geronimo atau ke Malioboro Mall. Sejak SMA aku suka beli jilbab meteran, awalnya diajak Veny tapi sering juga sendirian.

Jilbab meteran ini kita beli biasanya di Jalan Solo ada sebuah toko bernama Bombay Textil dekat Toserba Gardena, sebrang Galeria Mall. Bahan untuk jilbab di sana cakep-cakep, ada aneka warna kebanyakan berbahan tipis seperti sutra India, tapi harganya terjangkau. Kita berdua senang dan beli beberapa warna lalu kita jahit pinggirannya.

Kalau tidak sama Veny aku kadang cari jilbab sendiri di toko bahan cari bahan yang ringan dan motif tidak pasaran. Hal ini berlanjut hingga kuliah, aku sering menyesuaikan pakaian dengan jilbab meteran atau jilbab biasa yang aku beli di pasar berbahan katun segi empat.

Jilbab Era Awal Tahun 2000-an

Saat awal kuliah aku termasuk orang yang suka menjaga penampilan, tampil modis dan lipstikan. Akan tetapi setelah aku aktif di organisasi aku berubah total tidak suka dandan dan tidak peduli penampilan. Kampus putih IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga merubah cara pandangku tentang gaya hidup dan kesederhanaan.

Aku senang melihat mahasiswa UIN yang tampil sederhana. Ada sebagian kecil pada masa itu yang sandal jepitan dan tidak mengutamakan penampilan. Namun banyak juga yang rapi, bersepatu dan berpenampilan sopan.

Akan tetapi mereka kritis dan sangat pintar dalam pemikiran. Terlihat saat berdiskusi dalam aneka bidang baik sosial filsafat atau keagamaan. Saat itu aku lebih senang beli buku daripada pakaian.

Pada tahun 2002 aku ketemu mas Arif,  berkenalan dan bertemu dengan teman-temannya di pergerakan. Aku juga ikut dengan orang-orang LSM di Jogjakarta. Aku aktif di Solidaritas Perempuan Kinasih dan Mas arif saat itu merintis usaha kaos bersama Mas Yusron Hana’i di Laron oblonk. Saat wisuda tahun 2003 aku dibelikan jilbab hijau yang sampai sekarang masih terawat dengan baik.

Di LSM aku belajar banyak tentang isu pangan dan perubahan iklim, waktu itu kenalan dengan mba Farida, Mbak Tini sastra dan Rini Yuni Astuti. Ada sekitar dua tahun aku aktif di SP Kinasih mengelola buletin dan berkenalan dengan mas Kuss Indarto seorang illustrator komik dari Indtitut Seni Indonesia (ISI) Jogja.

Usai lulus aku kerja di Kebayoran Lama tapi tidak lama, hanya periode Desember – Mei 2004. Aku tidak kuat kerja di Jakarta dan kembali ke Jogjakarta. Mas Arif waktu itu sudah pindah ke Malang.

Pada November 2004 aku ditawari kerja merintis penerbitan Pustaka Alvabet bersama Bang Ahmad Zaky dan Pak Baedhowi. Waktu sudah ada Muslikah Kurniawati, Pak Priyanto dan Mas Fahmi. Bang Zaky sebagai Direktur dan aku Redaktur Pelaksana.

Jilbab kain meteran bersejarah aku pakai di acara pameran buku Pustaka Alvabet

Selama di Pustaka Alvabet, semua naskah yang akan diterbitkan harus mendapat persetujuan Dewan Redaksi dan Pemegang Saham. Waktu itu ada lima orang Dewan Redaksi yaitu Pak Ahmad Baedhowi, HBS, SRP, TAA dan IAF. Aku banyak mengenal mereka selama periode 2004-2007. Garis hidupku berjalan linear, skripsiku tentang Fazlur Rahman dan aku bekerja bersama para penerus pemikiran Neo Modernisne itu. Entah kebetulan atau tidak bagiku ini sangat berguna saat ini juga di masa yang akan datang.

Pada 2007 aku pindah kerja ke Kalibata. Saat itu kantorku menjadi mitra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aku sering rapat di Senayan dan liputan ke daerah juga liputan acara-acara Kependidikan.Waktu itu aku suka mengenakan jilbab minimalis dengan ditarik ke belakang terasa simpel dan elegan. Dulu aku suka model ini karena praktis dan simpel sehingga terkesan stylish. Sampai sekarang kebanyakan orang Indonesia mengenakan model jilbab seperti ini.

Di Acara Rembug Nasional Pendidikan era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh

Pada 2009 aku berhenti kerja dari Kalibata dan aktif kembali di Solidarits Perempuan (SP) sebagai Dewan Pengawas Komunitas (DPK). Inilah penyesalanku terbesar bekerja di LSM aku sakit parah sepulang kongres SP di Jakarta, karena terlalu lelah memimpin sidang, cukup lama aku sakit hingga baru sembuh pada 2012 dan aku kembali bekerja di Kalibata. Aku juga merintis usaha online Gerai Amira, di sana aku jualan sandal, kaos nama, jilbab dan baju muslim.

Meledaknya Pashmina dan Shawl Pada 2010

Pada  periode 2010-2012 aku suka memakai jilbab pashmina yang simpel dengan aneka warna menarik. Biasanya aku beli di Thamrin city dengan harga murah 100 ribu dapat tiga kadang empat. Biasanya aku beli di lantai lima Thamcit setiap senin dan kamis atau saat ada pasar Tasik istilah pengunjung. Kadang aku beli juga di Pamulang square atau Point Square, namun harganya selisih di atas dikit dari jilbab Thamcit. Sesekali beli online juga di Saqina.com.

Pashmina Ceruty Thamcit

Pada tahun itu juga aku kembali bekerja kali  ini di Empang tiga Pejaten Timur. Namun tidak lama aku sakit typus dan akhirnya tergoda lagi merintis usaha. Aku buka toko jersey di Pamulang. Awalnya laris hingga akhirnya sepi dan bangkrut. Aku berhenti buka toko setelah Apa meninggal dan kembali bekerja di Kebayoran lama pada Maret 2015.

Aneka Shawl dan Pashmina suka aku kenakan. Aku suka juga jilbab berbahan tyrex tipis agar mudah dibentuk dan jilbab tipis pashmina ringan bermotif.

Pada awal tahun 2014 mulai banyak jilbab berbahan jersey besar yang sepadan dengan gamis, ukurannya besar dan panjang menjuntai.Fenomena ini berkembang setelah banyak orang berumroh. Aku sempat beli untuk pengajian, dan sempat jualan dan dikirim ke Arab Saudi.

Aku suka juga kalau di rumah memakai jilbab langsungan jersey yang dijahit di Bu Hardyanto tetangga  depan rumah Pamulang elok, aku suka jahitannya rapi rendanya juga menyesuaikan. Aku berburu gamis katun lucu,kadang dijahit, adakalanya   juga beli yang biasa dan kadang dikirim kakak Bantul dan Kakak ipar Malang.

Jilbab karya Bu Hardyanto

Pada 2016 aku lupa bulan apa, aku memutuskan untuk berganti model dari pashmina, atau segiempat tarik belakang,  ke model jilbab segi empat yang menutup dada. Aku lupa awalnya kenapa, tiba-tiba pas acara formal aku memakai jilbab segi empat dan seterusnya. Kata Mas Arif jilbab yang kupakai sekarang lebih sopan dari sebelumnya pashmina yang kata dia bentuknya tidak beraturan, disilang sana sini (uwel-uwelan) dan memakai bross besar kadang menurut dia kurang berkenan.

Aku membuka koleksi lama, untung masih ada. Beberapa koleksi jilbab segi empat aneka warna berbahan chiffon (sifon), ceruti dan voile. Ada juga jilbab Turki oleh-oleh haji dari kakak ipar mbak Atik dan jilbab berbahan hycon dari mbak Lilik, masih kusimpan dengan baik.

Tidak lama kemudian pada Mei 2016 mulai beredar jilbab licin yang harganya lumayan.Waktu itu aku dikasih Arien saat main ke kantor Kalibata. Aku suka warna merah dan hitam, aku pakai di acara Ubud Writers dan Readers Festival Oktober 2016 di Ubud, Bali.

Jilbab merah penuh kisah

Di Ubud Gianyar Bali

Ada banyak bahan dasar jilbab dari mulai sifon (chiffon), hycon, voile, sutra, spandek, ceruty, higet, rayon, PE (poly ethilene), TC atau Tetoron cotton, kaos, rajut, jersey, katun, kashmir, dan polyster. Belakangan ada juga bahan mulberry silk, katun (cotton tyrex), voal, dan poycrepe.

Belakangan jilbab segi empat satin yang berbahan printing menjadi model kekinian dan dijual dengan harga menjulang.

Aneka Warna Jilbab koleksi heaven lights

Aku juga bernah menjual jilbab segi empat yang ada bordir pinggiran dan jilbab langsungan bermonte dulu pesan dari  Semarang, sampai sekarang jilbabnya suka aku kenakan. Pernah pula pesan jilbab Padang saat teman kuliah di Tarbiyah Jogja, Dewi Nofrita pulang ke kampung halaman di Bukit Tinggi.

Gencarnya Promo Jilbab di Instagram (IG)

Sejak instagram meledak pada 2014 hingga  sekarang,  fashion muslim dan hijab berkibar di IG. Aneka hijab di jual dengan harga beragam dari 30 ribuan sampe 280 ribu beredar di  kalangan toko online di IG yang mendapat pujian (endorsement) selebriti instagram (selebgram).

Ada satu akun yang sering aku jadi rujukan di IG namanya @heavin_lights. Jilbabnya keren dengan warna dan motif kekinian. Model andalannya adalah Mega Iskanti humas Wardah yang sangat elegan mengenakan aneka model hijab, baik pashmina, segi empat maupun syar’i.

Koleksi Jilbab Heaven Lights Motif

Akan tetapi  kalau aku pesan tidak  pernah kebagian karena akun itu kebanyakan milik ratusan reseller padahal aku cuma beli satu saja. Dari akun ini aku menemukan banyak model dan warna jilbab kekinian terutama warna pastel yang sebelumnya tidak aku kenal seperti dusty pink, mocca cappucino, green avocado, peach, baby pink dll.
Satu warna coklat, hijau atau pink saja sekarang turunannya bisa memiliki 4 sampai lima warna gradasi dari yang paling tua sampai paling muda dan warna soft (lembut). Meski tidak pernah antrian, aku  dapat mengakalinya dengan menscreenshot dan mencari warna serupa di toko langganan. Beberapa aku dapat harganyapun murah dan tidak memakai ongkos kirim.

Warna mocca capucino, dan warna abu-abu (grey) serta warna lembut saat ini menjadi incaran setelah abu-abu, dusty pink, green mint dan pastel purple. Di IG HL warna ini laris manis dan jadi rebutan setiap upload yang pesen sampai antri seharian.

Warna Pastel Purple

Toko online HL yang sangat laris

Selain itu aku mengkritisi para artis yang menjual jilbab printing dengan harga tinggi seperti merk Mandja dan Ashanty, menurutku itu tidak bagus untuk persaingan dunia hijab. Jangan jadikan bisnis ini terlalu berlebihan mengeruk keuntungan.

Aku follow akun @kain_printing yang menjual harga jilbab printing aneka bahan. Di situ dia jual dengan harga 90 rb sampai 110 ribuan silahkan buka jika penasaran. Di sini anda bisa tahu modal jilbab printing artis kenamaan, dari biaya produksi 90 ribuan, para artis tenar  menjualnya hingga di atas 200 ribuan, karena ditambahi merk kenamaan…wah…

Akan tetapi fenomena jilbab printing ini tidak tahu sampai kapan,yang jelas aku lihat responnya ramai di awal namun sepi belakangan padahal banyak outlet tersebar.

Sekarang orang berpikir dua kali  untuk beli jilbab mahal, karena sudah menjauh dari tujuan awal menutup aurat. Sebenarnya sah-sah saja itu dilakukan utk meramaikan dunia fashion hijab kekinian asal jangan terlalu berlebihan.

Saat kerja untuk acara 17 Agustus tahun ini di KC

Belum lama ini aku dapat jilbab oleh-oleh dari luar negeri saat Elin kuliah di Australia, berwarna biru dan abu, dan peach, motifnya lucu ada yang motif aneka garis dan kubus ada yang sangat aku suka, yaitu motif sepeda, setahuku ini jarang yang punya. Kakakku di Bantul sekarang berjilbab lebar, dia lungsurkan juga banyak banget aneka warna jilbab segi empat yang biasa dia pakai sebagai PNS, yaitu jilbab sifon dan jilbab batik sutra.

Mungkin itu saja pengamatan dan pengalamanku tentang dunia hijab. Foto yang aku tampilkan hanya menggambarkan variasi dan perkembangan  model berjilbab tidak bermaksud pamer, hanya menjelaskan perkembangan model, tapi terserah juga jika ada yg berpendapat demikian.

Jilbab Paling Sering kupakai warna baby pink

Sebenarnya masih banyak cerita tentang pernik pelengkap hijab seperti  ciput, atau inner serta bross yang menjadi pemanis hijab.Waktu masih memakai pashmina aku suka mengkombinasikan dengan kalung etnik, dulu suka koleksi dan dibeliin Mas Arif saat dinas luar kota. Tapi sekarang sudah jarang aku kenakan.

Berkaitan dengan bross aku suka beli secara kebetulan di penjual keliling yang lewat, saat bazaar atau belakangan beli di kakak ipar Teh Neng A Iwan. Murah meriah harganya Rp.15.000 Dua minggu lalu baru saja menemukan bross cantik dari limbah plastik kresek kreasi ibu-ibu upcycle Depok. Wah ini keren sekali bagaimana pun sekarang era sustainability, mengolah sampah plastik menjadi bros cantik itu sangat keren.

Cerita selanjutnya tentang dunia hijab, jilbab, kerudung atau apalah yang aku pakai dan pernik lainnya. Saat menulis cerita ini di kereta jurusan Tanabang – Pasar Minggu baru. Aku menyadari dalam hal berpakaian aku adalah orang tidak konsisten, kapan hari bisa berubah santun dan sopan, tapi juga adakalanya juga urakan ya seadanya aja, sebenarnya tidak terlalu mengikuti mode juga, aku lebih memilih kenyamanan dalam berbusana dan berjilbab.

Selain IG untuk mixmatch kadang aku suka memperhatikan gaya hijab para penumpang kereta commuter sepanjang perjalanan Sudimara-Pasar Minggu Baru. Banyak inspirasi, apalagi jika duduk di gerbong perempuan itu seru dan menyenangkan.

Entah apa yang terjadi di masa depan dan entah model apa lagi hijab yang akan diminati dan kekinian.Terakhir aku lihat muncul jilbab brintik dan  jilbab printing motif bendera di status whatssapp (WA) sebuah toko hijab langganan, setelah itu entah apa lagi.

Sebentar lagi sudah mau sampai kantor tempat aku bekerja, cukup mungkin ceritaku ini, mohon maaf jika tidak berkenan.Semoga bisa di sambung lagi  kapan-kapan.

Stasiun Tebet 12 Oktober 2017 pukul 08.48