Jika minggu lalu saya tampilkan foto aneka gaya orang berolahraga. Hari ini saya belajar dengan membuat video masih di lokasi yang sama, yaitu taman di selasar Bintaro Xchange yang selalu penuh dengan orang berolahraga.

Dari mulai jogging, senam, lari, karate, pencak silat, dan lain-lain. Tapi kebanyakan adalah olahraga yang paling ringan yaitu jogging.

Untuk pertamakalinya saya membuat video menggunakaan aplikasi Adobe Premier Clipe, dengan iringan lagu dari AronChupa yang saya ambil dari koleksi album di Winamp.

Silahkan simak ya, mohon maaf masih belajaran.

Advertisements

Mengisi akhir pekan tidak harus berlibur dengan biaya mahal. Jika anda berada di daerah sekitar Ciputat, Pamulang, atau Depok, ada satu tempat yang cocok buat outbound dan menghabiskan akhir pekan anda yaitu D’Kandang Amazing Farm yang berada di Pasir Putih, Sawangan Depok.

Tempat rekreasi sekaligus edukasi bagi anak dan keluarga ini sangat luas. Cuma memang tempatnya jauh tersembunyi di daerah Pasir putih Sawangan. Akses kesana cukup sulit jika dari stasiun kereta, atau pinggir jalan raya.  Lebih baik memang bawa kendaraan sendiri atau darang bersama rombongan.

Biaya masuk pun termasuk terjangkau. Biasanya jika akhir pekan di dekat pintu masuk ada orang senam. Berjalan kemudian melewati beberapa spot yang bagus untuk foto dan ada juga ruang pameran untuk event tertentu.

 

Sebelum jalan lebih jauh ke dalam anda akan menemukan kandang ternak aneka hewan. Dari sapi, kuda dan kambing ada di sini. Posisi kandang ada di sebelah kanan sebelum jembatan.

Di jembatan tengah yang dibuat kreatif dengan hiasan caping di atas
kawat dan aneka pot bunga dari daur ulang sepatu dan wadah lainnya, anda akan senang melihat setiap pengunjung yang melewati jembatan, berhenti sejenak dan naik bagian atas.

Setelah itu anda bisa naik lewat jalan batu agak ke atas anda akan melihat hamparan kebun, bunga dan pepohonan. Semua ditanam dengan beragam cara berkebun yang kekinian.

Hamparan kebun ini juga dipisahkan berdasarkan jenis tanaman yang ditanam. Sehingga anda, anak-anak dan keluarga bisa melihat bagaimana cara berkebun yang baik di sana.

Jadi tidak ada salahnya jika akhir pekan ini ajak anak, keluarga dan tetangga bermain di D’Kandang Amazing Farm.

13 April 2018, Pukul 13:30

Jika di belantara ibukota penuh dengan hiruk pikuk dan dituntut serba cepat, di kampungku kehidupan berjalan biasa saja. Semua berjalan santai, tidak ada kemacetan yang berarti. Anak muda juga tidak selalu sibuk dengan gadget, setiap pagi begini banyak diantara mereka justru pergi ke sawah, membantu orangtuanya di sawah menanam, hingga memanen padi.

Perkembangan zaman telah membuat pemuda sekarang tidak seperti orang tua dulu jika ke sawah. Mereka sekarang tidak segan memakai celana jeans digulung, memakai kaos dan bertopi karena cuaca panas. Mereka mengikuti betul semua tahapan menanam padi. Dari mulai menggaru (membajak sawah) memakai kerbau  hingga musim panen seperti gambar di bawah ini.

Usai memanen padi dan dijemur, anak muda lainnya sesama tetangga membantu membawa padi yang sudah kering, memanggulnya di atas pundak kemudian di bawa ke penggilingan padi.

Begitulah kehidupan di bumi Pasundan, gemah, ripah, loh jinawi. Foto diambil tepatnya di desa Landeuh, Bantarkaret Lebak, Sukabumi. Posisinya tidak persis kampung saya, namun jalan sedikit ke arah selatan. Tetangga kampung masih satu desa. Desa ini berada di bawah kaki Gunung Walat, dekat sungai Cimahi.

Meskipun demikian tidak semua pemuda bertani. Sebagian ada yang kerja di home industri sandal, pegawai, wiraswasta, hingga menjadi TKI ke Jakarta dan luar negeri. Sedangkan yang perempuan selain menjadi ibu rumah tangga, sebagian ada mengajar, karyawan pabrik garmen, dan membuka usaha. Semua pekerjaan mulia di mata Tuhan, mari bertebaran mencari rejeki.

Kembali ke pemuda bertopi yang semangat menanam padi, saya jadi teringat beberapa pesan kedaulatan pangan yang sangat kuat seperti dalam buku Max Havelaar, juga sebuah acara bincang televisi tentang pasangan muda yang berhenti bekerja lalu memberdayakan petani dan mengelola sawah di Bantul Jogjakarta.

Semoga semangat pemuda ini menular kepada pemuda lainnya untuk kembali ke desa, menanam padi dan mengelola sawah. Baik itu sawah milik sendiri maupun milik orang tua.

12 April 2018, Pukul 11:20

Hari ini hanya ada sedikit tulisan yang saya baca di sebuah pembatas buku warna orange.

Ungkapan sederhana tentang skala prioritas dalam hidup.

“Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal;
tapi tentang memedulikan hal sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak dan penting,” Mark Manson.

11 April 2018, Pukul 17:10

Resensi Buku
Judul : Einstein, Kehidupan dan Pengaruhnya Bagi Dunia
Penulis: Walter Isaacson
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi : Cet I, November 2012

Einstein Bersepeda

Einstein Bersepeda

Jauh sebelum menulis tentang biografi Steve Jobs, Walter Isaacson sudah menulis tentang kisah fisikawan terkemuka, penerima nobel bidang Fisika Albert Einstein. Saya mungkin terlambat membaca buku pria kelahiran Swabia Jerman ini. Akan tetapi tidak ada salahnya jika di selasa sore ini saya bercerita sedikit tentang Albert Einstein.

Siapa yang tidak mengenal sosok fenomenal dan genius Albert Einstein yang terkenal dengan teori relativitas kuantumnya. Seluruh dunia mengakui kecerdasan Einstein dari anak kecil, remaja, hingga orang tua. Namun anda tahu, bagaimana kehidupan keluarganya, hal-hal yang paling membahagiakan, ketenaran, perceraian, pemberontakan, hingga kematiannya yang mengejutkan dunia.

Profesor Pengembara yang Gemar Bersepeda

Buku ini diawali dengan sangat ceria. Sosok Albert Einstein, mengayuh sepeda di sebuah taman di Santa barbara pada tahun 1933. Rambut ikalnya yang bergelombang tampak tertiup angin, senyuman gembira tampak di wajahnya. Dalam tulisan di bawah foto itu, Einstein berpesan kepada anak pertamanya Eduard.

“Hidup itu seperti mengendarai sepeda, agar tetap seimbang kau harus tetap bergerak,”-Albert Einstein

Einstein lahir dari pasangan ayah ibu berdarah Yahudi. Kedua orang tuanya adalah keturunan pedagang dan penjual keliling Yahudi yang lebih dari dua abad hidup sederhana di pedesaan Jerman Barat. Dari generasi ke generasi mereka membaur dengan budaya Jerman yang mereka sukai. Sejak kecil, Einstein mengalami terlambat dalam berbicara, sehingga orangtuanya sempat khawatir dan diperiksa ke dokter.

Saat mahasiswa di politeknik pun termasuk tipe mahasiswa yang kurang ajar (Bab-3, 1896-1900). Kisah cintanya juga sangat berliku dan mengharukan dengan Mileva, gadis berdarah Serbia yang memberinya tiga anak, namun mereka memutuskan bercerai. Disinilah kisah mengharukan bagaimana kita mengenal siapa itu Mileva, bagaimana anak-anak Einstein, juga kehidupannya pasca bercerai.

Buku yang bersampul biru ini terdiri dari 25 bab. Sekitar 12 bab bercerita dari masa kecil saat, tahun keajaiban, relativitas khusus, pikiran paling menggembirakan hingga cerita indah sebagai profesor pengembara.

Sosok Pemberontak dan Penyendiri

Setelah hampir separuh bab bercerita masa-masa remaja hingga kecerdasannya yang sudah terlihat sejak muda, dan pemikiran dan pandangannya terhadap kekuasaan. Separuh bab berikutnya lebih banyak mengupas tentang proses penerimaan nobel, mendalami tentang teori kuantum, ulang tahun ke-50, Pengungsi, Amerika, Tonggak Sejarah, Red Scare, hingga kehidupan di akhir hayatnya.

Hampir semua tulisan Isaacson, ditulis dengan sangat mendetail dalam menjelaskan suatu hal. Baik itu dalam kehidupan pribadi, teori, penemuan, bahkan masa-masa suram serta akhir hayat Einstein. Terlihat beberapa tokoh terkenal seperti surat-surat dari Galileo, Planck, Poincare, Lorentz dan lain-lain dalam mengungkap hubungan mereka dengan Einstein semasa hidupnya.

Ada serangkaian rumusan sederhana yang menentukan pandangan Einstein. Kreativitas mewajibkan kita untuk bersedia tidak patuh. Hal tersebut selanjutnya menuntun kita pada pikiran dan jiwa yang bebas yang selanjutnya menuntut semangat toleransi.

“Fondasi toleransi kerendahan hati-Keyakinan bahwa tidak seorangpun berhak memaksakan ide atau keyakinan pada orang lain,” tulis Isaacson tentang sosok Einstein.

Hal yang membuat Einstein istimewa adalah pikiran dan jiwanya yang ditempa oleh kerendahan hati. Dia dapat menjadi sangat percaya diri dalam perjalanan sunyinya, tetapi juga kagum oleh keindahan hasil karya alam.
“Jiwa adalah manifestasi dalam hukum alam semesta-Jiwa yang jauh lebih kuat daripada jiwa manusia dan jiwa yang ketika kita menghadapinya dengan kekuatan kita yang kecil, kita pasti merasa rendah hati,” – Einstein, hal 597

Dimata Isaacson, Albert Einstein adalah sosok penyendiri dan seorang pemberontak yang penuh rasa hormat.

Sampul Buku

Sampul Buku

 

Banjir Pujian

Karya Isaacson ini luar biasa. Banyak sekali media mauilmuwan baik di Amerika, Jerman dan negara lain memujinya. Dari New York Times, People, Chicago Tribun, Sunday Times dan lain sebagainya. Thomas L Friedman bahkan menyebut buku ini sebagai bacaan yang provokatif. Sedangkan Profesor Fisika Sylvesteer James Gates Jr dari Maryland University mengatakan jika buku ini berhasil menjalankan tugasnya yang mengagumkan, menjelaskan sains dengan benar, dan mengungkapkan seorang manusia.

Lebih dari dua puluh endorsement (pujian) hadir di edisi terjemahan Indonesia ini. Tidak ada salahnya jika anda membaca buku yang brilian dan mencerahkan ini. Sangat berguna terutama bagi pecinta sains, pecinta biografi, juga setelah selesai dibaca akan bermanfaat bagi anak atau kerabat kita kelak.

Saya suka dengan karya Walter Isaacson yang kaya ilmu dan mendalam dalam setiap buku yang ia tulis. Dua buku lainnya yang saya resensi adalah Biografi Steve Jobs klik di sini dan The Innovator. Silahkan mampir jika berkenan.

Di balik nama besar tokoh terkemuka baik dalam ilmu pengetahuan, sosial, humaniora dan digital, ada banyak kisah indah dan mengharukan tentang kehidupan pribadi yang belum terungkap dari sebuah biografi. Isaacson menceritakannya dengan bahasa yang mengalir, mudah dicerna dan tanpa menyudutkan.

10 April 2018, Pukul 20.29

Kalau anda berkunjung ke daerah Serang, Rangkasbitung, Lebak dan sekitarnya di Provinsi Banten, jangan lupa membeli oleh-oleh khas yang enak dan bermanfaat, yaitu gula batok/gula batu yang berbentuk bulat lonjong terdiri dari lima butir gula yang diikat jadi satu.

Namanya yaitu gula sarangeuy. Kenapa disebut “sarangeuy” artinya orang menyebutnya gula satu ikatan, tapi ikatan disini disebut satu tangkai seperti ikatan buah anggur atau stroberi orang Sunda menyebutnya sarangeuy.

Oleh-oleh ini bisa diperoleh di tempat-tempat tertentu seperti pusat oleh-oleh dekat wisata atau di pinggir jalan dekat sentra produksi gula warga yang membuat sendiri oleh-oleh  ini.

Gula ini rasanya lebih manis dan enak dibanding gula aren atau gula kelapa yang biasa ada di warung, toko atau suoermarket. Selain industri rumahan, kemasannya pun alami diikat pakai daun. Harganya 75.000 dapat sarangeuy yang berisi lima butir gula, dimana setiap butir bisa dibelah menjadi dua isinya juga padat.

Selain gula oleh-oleh khas Banten lainnya adalah emping dan madu murni. Emping juga ukurannya lebih besar dari emping yang ada dipasaran.

Jadi jangan lupa ya, kalau mampir ke Banten pulangnya beli gula sarangeuy.

10 April 2018, Pukul 11.48

Tidak terasa sudah hari senin lagi di minggu kedua  Bulan April. Hati ini gembira ketika bangun melihat tanaman di depan rumah.

Minggu lalu ketika meninggalkan rumah selama lima hari, saat pulang tanaman kering dan layu, waah sedih banget karena gak ada yang menyiram.

Namun, sekarang sudah kembali normal. Tanaman kembali segar, tumbuh kembali bahkan ada yang berbuah dan berbunga.Seperti jeruk limo dan belimbing wuluh yang berbuah lagi serta bunga kamboja yang kuncup di senin pagi ini.

Bunga kamboja ini aku bawa dari Cikampek dikasih Om Sugeng saat kami berdua silaturahmi ke rumah saudara di Cikampek Karawang. Dulu pas pertama kali dibawa bunga ini tampak kerdil dan tidak memiliki daun. Namun tidak menyangka dalam hitungan lima bulan kini bisa mekar dan kuncup sempurna.

Selamat hari senin dari bunga kamboja..

9 April 2018, Pukul 08.55

Pertama kali mendengar lagu ini dikabari kemarin saat sore hari. Wah langsung senang dan baper mendengarkan lagu ini. Liriknya sangat menyanjung perempuan.

Setelah sukses dengan debut pertama yang meledak di pasaran berjudul “Surat Cinta untuk Starla” Virgoun kembali menggebrak musik Indonesia dengan lagu “Bukti”. Ungkapan kejujuran seorang laki-laki, dalam hal ini Virgoun tentunya kepada pasangan yang telah banyak mengubah hidupnya dan melembutkan keras ego dirinya.

Lirik lagu “Bukti” sangat mendalam. Penuh penghayatan. Virgoun pintar membuat hati perempuan meleleh dan tersanjung mendengar lagu ini. Saat saya mendengarkan lagu ini yang mengunduh sudah 130 juta lebih. Mungkin sebagian dari pembaca sudah ada yang tahu, tapi bagi yang belum simak dan suka dengan lagu-lagu Virgoun, silahkan simak ya…

Aneka Gaya Orang Berolahraga di Bintaro

Posted: April 8, 2018 by Eva in Kesehatan

Minggu pagi di Bintaro, dekat stasiun Jurang Mangu ramai orang berolahraga. Sejak subuh hingga jam 10 pagi mereka melakukan jogging, bulutangkis, lari, karate, sepeda, silat hingga ada senam bersama.

Saya suka memperhatikan aneka gaya orang berolahraga. Ada yang ekstrim, lari keliling marathon, tapi ada juga yang biasa aja, setelah keluar keringat mereka beristirahat di selasar taman terbuka.

Dari yang hobi selfie, hingga enggan difoto

Saya perhatikan ada banyak orang yang selfie sambil berolahraga, namun ada juga yang sebaliknya.

Bahkan saya perhatikan ada komunitas fotografi yang sedang mengabadikan aksi-aksi seru anak remaja bermain karate. Mereka kompak melakukan gerakan-gerakan atraktif yang menarik perhatian.

Saat saya sedang mengamati aneka gaya dan tingkah laku anak-anak, remaja, ibu rumah tangga, hingga lansia berolahraga, seorang ibu enggan anaknya di foto.

Wah padahal saya suka sekali lihat gaya anak-anak lucu-lucu, sedang bermain roller coaster dan juga bermain bola. Tapi memang saya juga harus hati-hati sekarang jika memposting foto harus seijin orang yang bersangkutan.

Lapar Habis Olahraga

Lapar Habis Olahraga

Tapi tak apalah, maklum juga. Saya melanjutkan mengitari lapangan, dan memperhatikan orang-orang kelelahan habis berolahraga. Aneka jajanan ringan dari siomay, tutut hingga minuman segar ada disini, ramai sekali yang jualan. Jadi anda jangan khawatir kelaparan habis berolahraga.

Bintaro, 8 April 2018
Pukul 10.06

Sangat menarik mencermati kehidupan nelayan di pesisir pantai utara Jawa. Tiga terasa tiga tahun masa-masa indah itu berlalu.

Profesi nelayan sebenarnya berkasta-kasta. Ada nelayan juragan atau pemilik kapal, nahkoda, dan nelayan anak buah kapal (ABK) . Begitu juga kapal yang dipakai untuk berlayar ada yang ada kapal yang 6GT – 30 GT bahkan ada yang diatas 30 GT – 300 GT yaitu kapal besar.

Ketika hendak berlayar pun, pemilik kapal dan nahkoda harus mengurus surat izin yang  dilengkapi, menyiapkan perbekalan, peralatan seperti jaring,dan es agar ikan awet disimpan di dalam kapal. Berbeda dengan nelayan kecil yang memakai perahu dan sehari langsung pulang, nelayan yang berlayar di atas kapal 30 GT harus meninggalkan anak istri cukup lama, hitungan minggu dan bulan.

Jenis jaring yang dipakai untuk menangkap ikan pun bermacam-macam. Ada jaring nilon, ada juga jaring lawek (kain). Bagi nelayan menangkap ikan memakai jaring sangat melelahkan karena harus memiliki tangan yang kuat.

Nelayan pantai utara Jawa di mana cuaca bagus seperti bulan ini berlayar jauh hingga menuju  tiga zona daerah yang kaya ikan yaitu Natuna, Karimata dan Selat Makassar.

Ketika mereka pulang berlayar pun mereka tidak bisa langsung pulang ke rumah. Sesampainya di muara tempat pelelangan ikan, mereka harus antri melewati empat tahapan yaitu timbang, lelang, packing dan administrasi.

Usai proses administrasi ini lah ikan hasil tangkapan langsung di distribusikan kepada para penjual ikan baik skala besar maupun kecil yang sudah menunggu di pelabuhan. Setelah itu, barulah para nelayan mendapat bayaran dari juragan pemilik kapal.

Oleh karena resiko berlayar sangat besar dan banyak keperluan untuk berlayar maka koperasi nelayan mutlak diperlukan. Begitu juga keselamatan dimana sekarang asuransi nelayan pun sudah dilaksanakan.

Hari ini, 6 April 2018, Semoga saya belum terlambat mengucapkan Selamat Hari Nelayan, kepada para nelayan yang mungkin malam ini sedang berlayar, bertarung dengan ombak dan cuaca, menjaring ikan sampai lautan terdalam. Juga kepada nelayan yang mungkin saat ini dalam perjalanan pulang dari berlayar dan tidak sabar menunggu anak istri di rumah yang lama ditinggal menjaring ikan.

6 April 2018, pukul 22:08

Nelayan Turun dari Kapal

Nelayan Turun dari Kapal

Ibarat Daun

Posted: April 6, 2018 by Eva in Puisi

Ucapan ibarat daun
Sekalinya jatuh ke tanah
Tidak bisa lagi kembali ke tangkai
Akan terbawa angin…

Apalagi jika ucapan yang menyakitkan
Akan terus mengendap dalam hati
Meski sudah tidak terdengar lagi
Mengiris kalbu jika teringat…

6 April 2018, Pukul 16:03

Perjalanan naik kereta baik jarak dekat maupun jauh adakalanya membuat kita lapar. Jika anda terburu-buru tidak membawa bekal, tidak ada salahya anda mencoba menu baru yang ada di Kereta Api Indonesia.

Sebenarnya saya juga tidak begitu paham apa saja menu yang ada di dalam kereta. Cuma karena tadi di perjalanan menuju stasiun kehujanan, setelah masuk ke dalam kereta, badan terasa dingin dan perut keroncongan. Saya pun memesan makanan.

Ada dua jenis makanan yang ditawarkan, yaitu nasi ayam kecap dan nasi daging. Saya pun tidak banyak pertimbangan asal pesan saja karena sudah lapar. Saya pesan nasi daging.

Pas saya makan, di luar dugaan ternyata nasi daging ini enak sekali. nasinya hangat dan dagingnya  pedas,  disuwir empuk dengan rasa pedas manis. Ada sambal dan bawang gorengnya. Saya pun melahapnya habis. Di kemas dalam plastik keras menyerupai tempat makan anak yang bisa dipakai ulang.

Krengsengan Mercon

Usai makan, saya penasaran lihat tutup kemasan di bagian sampul. Oh ternyata nama menu nasi daging ini adalah “Krengsengan Mercon”.  Saya baru sekarang ini merasakan, kalau di lidah saya rasanya menyerupai bistik sapi, bedanya ini pedas cabenya nendang.

Menu favorit di dalam kereta yang pernah saya rasakan enak banget adalah mie jawa di kereta jurusan Surabaya-Banyuwangi, namun saat saya pesan menu ini  di jenis kereta lain ternyata tidak ada. Rupanya tiap kereta berbeda dalam  mengolah menu makanan bagi penumpang.

Jadi, tidak ada salahnya jika anda ingin mencoba menu baru “Krengsengan Mercon” di dalam kereta Pangrango, persembahan dari Kereta Api Indonesia (KAI), coba saja memesannya dijamin anda pasti suka, tapi ini bukan iklan ya 😊.

Kereta Pangrango
5 April 2018, Pukul 18.36

Dari Gank SMP Hingga Anaknya Masuk SMP

– Dalam persahabatan, hindari ingin menang sendiri, hormati dan saling memahami kepentingan mereka, semua sahabat istimewa –

Bulan Maret kemarin aku merasa sangat bahagia. Semenjak jarang aktif di media sosial, aku sekarang lebih merasakan kebahagiaan ketika menjumpai sahabat lama dengan bertatap muka. Ada kegembiraan tersendiri, melepas rindu, peluk cium dengan teman-teman.

Di usia 39 sekarang, menjelang 40 tahun kehadiran seorang teman sangat berarti, disamping tentu saja keluarga dan urusan pekerjaan. Media sosial telah mempertemukan kita dengan teman saat SD, SMP, SMA, kuliah, hingga teman saat di kantor lama.

Nah yang aku ceritakan ini adalah teman SMP. Seperti kebanyakan orang waktu SMP teman-teman punya gank atau grup kan? begitu juga aku. Gankku SMP tiga orang perempuan, Kita dekat sejak tahun 1992, kita memang jarang ketemu, baru pada Maret 2018 kemarin kita berjumpa melepas rindu meskipun tidak semua kumpul.

Ada keharuan, kerinduan yang membuncah saat pertama berjumpa setelah sekian lama. Semalam sepertinya tidak cukup untuk bercerita tentang masa-masa kita terpisah jarak.

Tidak ada banyak hal yang berubah dari teman-teman saat menemuinya, berkenalan dengan suami dan anak-anak teman. Tentu berbeda dengan saat kita remaja dulu. Sekarang sudah ada skala prioritas lain bagi kita semua.

Kedua temanku subur, masing-masing sudah punya anak empat dan lima. Bahkan tahun ini anak-anak mereka masuk SMP, seperti kita dulu, agar bisa mandiri anak-anaknya sekolah sambil tinggal di asrama, ada yang di Batam dan ada yang di Jogja.

Cerita seputar anak ini selalu menggemaskan. Dari seputar mengerjakan PR hingga yang sakit dan harus rawat jalan. Semua menjadi pelajaran. “Menjadi orangtua itu sulit lho, harus hati-hati dalam bicara,” ujar temanku yang sampai jam 10 malam masih membantu anaknya mengerjakan PR Matematika.

Saat kita melakukan video call dengan satu orang teman lagi, ada satu anak teman itu ikutan kepo dan nimbrung, seru. Di saat kita tertawa, dia juga ikut terrtawa.

Suasana tambah seru mengingat masa-masa dulu kita, kebiasaan-kebiasaan buruk saat alay, apakah masih ada atau enggak sampai sekarang juga hal-hal kocak lainnya. Itulah persahabatanku paling lama, meski on/off juga komunikasinya.

Ada dua nilai yang aku pelajari dalam menjalin persahabatan, yaitu cinta dan kasih sayang. Cinta melahirkan ketulusan dan kasih sayang menumbuhkan rasa kepedulian.

Cerita tentang sahabat tidak akan pernah habis, begitu juga seperti orang kebanyakan masih ada cerita seru dari teman SMA, kuliah, organisasi dan rekan kerja, semua memiliki kenangan di hatiku. Semua sahabat istimewa. Meskipun mungkin kesempatan bertemu jarang ada, jadi jarang berjumpa.

5 April 2018, Pukul 14:32

Berperawakan tinggi besar, tutur katanya lembut dan sopan. Setiap kata yang diucapkan terucap dari hati yang terdalam. Dengan sabar dia bercerita panjang lebar kiprahnya selama ini di dunia pendidikan. Selama mengajar jadi guru Taman Kanak-Kanak hingga menjadi Kepala TK Asmaul Husna Ranca Ekek Kabupaten Bandung.

Jika selama ini ada slogan “Guru Mulia Karena Karya” sepertinya Dr. Tjitji Wartisah, S.Pd, M.Pd (biasa disapa Cici) sudah memenuhi segala kriteria. Tidak banyak di Indonesia Kepala Taman Kanak-Kanak sudah lulus S3, bergelar Doktor, serta sudah menulis 73 buku yang diterbitkan penerbit ternama di Ibu Kota.

Sangat beralasan kiranya, jika gelar Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak Berprestasi Tingkat Nasional pada tahun 2017 ini berhasil ia sandang. Selain memiliki banyak karya dengan produktivitas yang luar biasa dalam dunia literasi, Cici Wartisah juga memiliki banyak terobosan serta menjadi teladan di sekolah, di lingkungan keluarga, dan masyarakat.

Dididik Orang Tua untuk Jujur dan Kerja Keras

Cici Wartisah adalah perempuan kelahiran Bandung 19 Februari 1971. Ia adalah anak keenam dari delapan bersaudara, pasangan D’Sape’i dan Sumiati. Sejak kecil orangtuanya selalu mendidik, mengasuh, dan menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Mereka selalu mengajarkan kejujuran, kerja keras, itu yang selalu diterapkan. Kini ayah ibuku sudah meninggalkan kami,” ujar Cici panjang lebar. Meskipun demikian, Cici ingin mewariskan didikan orangtua pada ketiga anaknya sekarang.

Istri dari Engkos Kamaludin ini berusaha mengatur keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga di sela kesibukannya. Ia merasa bersyukur memiliki suami yang baik, sangat menyayangi, penuh perhatian, selalu mendukungnya dalam kondisi apa pun. Karena dukungan dan motivasinya saya bisa meraih cita-cita dan berbagai prestasi. Cici memiliki tiga orang anak, dua orang putri dan satu orang putra. Anak saya paling besar bernama Fauziah Nurul Aini, lahir yang kedua bernama Tazkiyah Nur Mujahidah, dan putra bungsu kami bernama Salman Shidiq Al Mujahid.

Rajin Membaca dan Haus Ilmu Pengetahuan

Sebelum mengajar di TK Asmaul Husna Rancaekek sekarang, Cici mengajar di TK Darussalam Bumi Asri Padasuka Cimenyan Bandung. Untuk menunjang kariernya, setiap hari sebelum mengajar, dia rajin membaca buku dan memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang pendidikan anak usia dini. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi terbuka lebar. Pada 2002, Cici melanjutkan kuliah di Universitas Pendidikan Islam Bandung jurusan

Administrasi Pendidikan dan selesai tahun 2007. Motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 terus membara.

“Alhamdulillah saya diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk bisa lanjut kuliah S2 di STKIP Pasundan Cimahi jurusan Pendidikan IPS, walaupun tidak linear, saya bersyukur karena saya lebih mendalami materi dan wawasan sosial sehingga menumbuhkan kepekaan serta kepedulian untuk memajukan masyarakat dan pendidikan di Indonesia,”ujarnya semangat.

Pada tahun 2009 Cici berkesempatan mengikuti Lomba guru Berprestasi jenjang Guru TK meraih juara II Tingkat Nasional. “Keberhasilan di tahun ini sangat membawa berkah, karena saya mendapat hadiah luar biasa, umroh dan beasiswa melanjutkan kuliah S3,” ujarnya senang. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan, program Doktoral dia peroleh dari Universitas Nusantara (UNINUS) jurusan Manajemen Pendidikan.

Menulis 73 Buku dan Aktif di Organisasi

Di usianya yang sudah matang saat ini, bertubi-tubi keberuntungan menghampiri perempuan hitam manis ini. Bahkan pernah meraih “Teacher of the Year” pada tahun 2016 dan memiliki banyak kesempatan berbagi ilmu dengan sesama guru di berbagai pelosok Indonesia.

“Alhamdulillah dari dulu saya hobi menulis dan sering menulis walaupun untuk kalangan terbatas. Akan tetapi tahun 2013 saya diminta oleh Penerbit Erlangga untuk menulis buku-buku Erlangga. Sampai tahun ini sudah cukup banyak buku-buku karya saya yang diterbitkan Erlangga,” ujarnya.

Sampai saat ini ada 73 buku karyanya yang sudah diterbitkan. Beberapa judul seperti empat seri buku berjudul “Hobiku Membaca”, empat jilid buku berjudul “Aktivitas Pendidikan Karakter” dan “Seri 4 Sahabat – Tematik Saintifik usia 4-5 tahun Tema Lingkunganku” (Sesuai Kurikulum 2013 PAUD) dan masih berderet judul buku lainnya.

Cici juga senang berorganisasi, baik organisasi kemasyarakatan, sosial dan juga organisasi profesi. Pernah menjadi Sekretaris Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak (IGTKI-PGRI) di Kabupaten
Bandung dua periode, PKK RW, sekretaris dan PKK Kabupaten Bandung pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung sebagai Bendahara, juga sekretaris II di Forum Doktor. “Aktif di berbagai organisasi merupakan salah satu bentuk kontribusi untuk terlibat pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM),” ujarnya menyampaikan alasan kuat aktif di organisasi.


GE-BOT Membawa Berkah Juara

Selama mengikuti ajang pemilihan Kepala Berprestasi tingkat Nasional pada 2017 ini, dia mempresentasikan Karya nyata hasil pengalamannya berjudul “GE-BOT Kreatif Bermain Belajar Permulaan Berhitung dan Membaca”.

Menurut Cici di hadapan juri, permainan ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Beberapa orang menganggap mengajarkan matematika atau membaca permulaan sangat sulit dilakukan pada anak usia dini. Oleh karena itu media pembelajaran ini dibuat untuk membantu ibu guru dalam belajar.

“Media GE-BOT Kreatif Untuk membaca Dan berhitung yang menyenangkan, merupakan alat peraga edukatif yang murah meriah, mudah  diperoleh dari bahan bekas,” ujar Cici sambil memperlihatkan alat peraga GE-BOT dari olahan limbah. Apa yang disampaikan media GE-BOT ini sudah ia terapkan lama di TK Asmaul Husna Bandung.

Maka saat namanya dipanggil ke depan menjadi juara I Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional, dia merasa sangat gembira, bangga dan haru.

“Saya tidak mengejar keberhasilan untuk pribadi, selama saya menjadi kepala sekolah saya berusaha untuk menjadikan lembaga sekolah yang terbaik, anak didik yang berpotensi, serta memotivasi guru-guru di sekolah untuk selalu menjadi guru yang hebat, serta berani bersaing dengan guru lain,” ungkapnya menutup cerita. (ER)

Quote  —  Posted: April 5, 2018 by Eva in Pendidikan, Perempuan
Tags: , , ,

Rara Mendut (Sebuah Trilogi)
Penulis: Y.B. Mangunwijaya
Penerbit: Gramedia, 2008
Tebal: 799 Halaman

Lebih Baik Menyambut Ajal di Ujung Keris, daripada Melayani Nafsu

Novel karya Romo Mangun ini dibuka dengan sebuah cerita  dari pinggir pantai. Menggambarkan kehidupan perempuan dan nelayan di sebuah teluk. Bahasanya yang humanis, syahdu, kadang campur bahasa Jawa, merupakan ciri khas Romo Mangun dalam mengurai kata. Membuat anda akan jatuh cinta membaca “Rara Mendut” sejak halaman pertama.

Ombak-ombak berbuih di pantai kampung nelayan Telukcikal pagi itu, seperti pagi-pagi yang lain, tak jera menderukan gelora kemerdekaan dan himne warna keabadian.

Tetapi tidak seperti hari-hari lazim, dari dalam buih-buih putih mendidih muncullah wajah, lalu sosok seorang gadis berkuncup-kuncup harapan; basah kuyup, rambut panjang sebagian terurai tak karuan dari ikatan ; tertawa bahagia karena baru saja ter-kapyuk (terciprat).

Entah kenapa saya selalu suka karya -karya Romo Mangun seperti halnya Rara Mendut yang bercerita tentang budak rampasan yang menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna, demi cintanya kepada Pranacitra.

Dibesarkan di kampung nelayan pantai utara Jawa, ia tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tak pernah menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya dianggap nyebal tatanan di lingkungan istana dimana perempuan diharuskan serba halus dan serba patuh. Tetapi ia tak gentar. Baginya lebih baik menyambut ajal di ujung keris daripada melayani nafsu sang Panglima tua.

Ada juga tokoh lain dalam kisah rakyat ini yaitu Genduk Duku dan Lusi Lindri. Kisah yang dikembangkan dari Babad Tanah Jawi dan berbagai sumber oleh Y.B. Mangun Wijaya, dicipta baru dan dibumbuinya dengan humor-humor segar khas almarhum Romo Mangun. Hingga tetap relevan untuk generasi masa kini.

4 April 2018, Pukul 16.04

Kamus Bahasa Sunda Karya Raden
Satjadibrata
Cetakan: Keempat, 2016
Tebal : 376 Halaman
Penerbit: Kiblat Buku Utama Bandung

Dalam sejarah Sunda, Kamus Basa Sunda Karya Raden Satjadibrata termasuk kamus yang banyak dipakai oleh pemerhati Bahasa Sunda.

Sebelumnya ada kamus Bahasa Sunda- Belanda yang disusun oleh orang Belanda. Yaitu, Soendaneesch-Hollandsch Woordenboek (Leiden,1884, dan 1913), tapi yang memakai adalah orang Belanda.

Jadi, kamus ini dibuat dengan sepenuh hati oleh Satjadibrata dengan kesadaran bahwa Bahasa Sunda, dan budaya sunda lainnya akan memiliki banyak peminat dari daerah lain baik dari suku di luar suku sunda maupun peneliti dari luar negeri yang tertarik dengan tanah Pasundan.

“Karaos perlu teu kinten ayana kamus nu kenging di damel tuduh jalan, nyaeta kamus Sunda nu diterangkeun ku basa Sunda tur diangken ku ahli Basa Sunda, yen leres kateranganana.Hanjakal teu aya kamus sarupi kitu teh,” ujar Satjadibrata dalam pengantarnya.

Namun sebelum kamus Satjadibrata ini ada Bupati Cianjur R.Arya Kusumaningrat, namun kamus Melayu-Sunda pada tahun 1857, sayang belum dibukukan.

Cetakan pertama kamus Basa Sunda Karya Satjadibrata ini terbit pada tahun 1944 dengan judul Kamus Soenda-Melajoe, kemudian di revisi pada 1950 dengan judul Kamoes Soenda Indonesia.

Enampuluh tahun setelah edisi kedua terbit, Penerbit Kiblat Buku Utama dapat menerbitkan kembali Kamus sunda edisi ketiga. Namun, karena Bahasa Indonesia yang digunakan oleh Satjadibrata adalah Bahasa Indonesia yang berkembang tahun 1950, yang lebih dekat ke Bahasa Melayu, maka penerbit Kiblat menyuntingnya agar lebih sesuai dengan Bahasa Indonesia yang digunakan sekarang.

Ketika saya membaca kamus ini memang sangat lengkap sampai hal-hal terkecil (diterangkeun nepi ka bubuk leutikna) yang rumit dan jarang diucapkan. Meskipun saya asli orang Sunda, namun ada istilah-istilah yang saya belum familiar di kamus ini.

Seperti istilah “mutiktrik, artinya gede beuteung lantaran seubeuh dahar (kenyang akibat kebanyakan makan) kemudian “mutuh” yang artinya kacida teuing (keterlaluan), saya membacanya juga sambil seuserian (tertawa) karena banyak istilah-istilah lucu dan masih banyak istilah lainnya.

4 April 2018, Pukul 13.52

Perkembangan batik di Indonesia, tidak hanya berpusat di Jawa Tenga h, Jogjakarta, Jawa Timur dan Cirebon saja yang terkenal, kini anda pun bisa melirik potensi lokal yang ada di Selatan Jawa Barat yaitu Batik Kenarie, khas batik dari Sukabumi.

Ada beragam motif yang menjadi ciri khas batik Sukabumi, karena memiliki tempat wisata berupa laut di Pasir Putih Ujung Genteng Sukabumi yang terkenal dengan penyu, kemudian wisata alam yang hijau di pegunungan telah menginspirasi pembatik di daerah Sukabumi membuat batik khas.

Disini dijual tiga jenis batik berdadarkan proses pembuatan. Yaitu dengan cara batik printing, batik cap dan batik tulis, dijual dengan harga beragam dan aneka motif.

Motif Binatang

Ada dua jenis motif binatang yang menjadi inspirasi dalam pembuatan batik yaitu motif penyu dan motif ikan.

Motif Penyu

Motif Penyu

Motif Daun

Untuk motif daun, Batik Sukabumi yang merupakan daerah pegunungan yang dingin kaya inspirasi.

Ada motif batik daun rimba selabintana, daun pisang, hingga paralayang. Aneka jenis motif daun ini warnanya bermacam-macam, namun kebanyakan adalah warna-warna yang hijau, pastel, mocca, orange, hingga biru dongker.

Motif Daun Rimba Selabintana

Motif Daun Rimba Selabintana

Selain itu ada juga motif yang abstrak dan aneka motif lainnya yang menarik.

Jika anda ingin lebih tahu secara mendalam aneka jenis Batik Sukabumi, datang saja ke sentra Batik Kenarie di jl. Kenari no 2 Sukabumi, anda bisa memilih beragam motif yang anda inginkan dari harga yang paling murah yaitu mulai  Rp.70.000, Rp.99.000, Rp.125.000, Rp.210.000, Rp.400.000 hingga Rp.1.600.000 juga ada, yaitu jenis batik tulis.
Aneka motif dan corak batik Sukabumi

Gambar di sebelah kanan atas no 2 dari kanan yang bergaris kuning dan hitam adalah batik corak daun pisang dan aneka motif lainnya yang menarik hati. Silahkan dipilih.

Jadi jika anda sedang berwisata ke Sukabumi, ada tugas kantor, atau lewat,  jangan lupa pulangnya mampir ke Batik Kenarie Sukabumi ya…

4 April 2018
Pukul 12.33

Saya sudah mendengar sejak lama, jika di Jogjakarta sudah dibangun perpustakaan yang sangat besar. Tepatnya di jalan Janti. Namun, sejak didirikan belum sekalipun kesana. Pada bulan Maret lalu, saya pun sengaja singgah di perpustakaan yang diberi nama Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Grhatama Pustaka. Wah saya senang sekali melihat penampakannya sejak dari pintu gerbang, hingga masuk dan mencermati ke setiap ruangan tertata rapi dan bersih layaknya sebuah hotel.

Sangat Nyaman Meski Harus Lepas Sepatu

Arsitektur perpustakaan  ini unik dan artistik, kental budaya Jawa. Di setiap tiang-tiang besar yang mengitarinya. Beberapa falsafah Jawa, dan kata-kata mutiara terkait dengan minat baca ditulis sedemikian rupa dengan bahasa Jawa kuno. Gedung ini memiliki tiga lantai, dengan fasilitas lengkap. Di setiap lantai ada selasar dengan taman yang sedikit terbuka untuk ruang diskusi pengunjung.

Di lantai satu ada layanan koleksi anak-anak, ruang bermain Anak, ruang musik, kemudian di lantai dua, layanan keanggotaan perpustakaan, layanan bebas pustaka, layanan informasi dan customer service, hingga layanan koleksi huruf Braile.

Nah saya langsung masuk di lantai dua ini dan sangat gembira melihat pengunjung yang sangat ramai. Bantal Sofa warna warni bertebaran di setiap sudut ruangan. Faktor kenyamanan dalam membaca sangat terasa di ruangan yang dilengkapi AC dingin dan free wifi ini. Anak-anak SMP hingga orang dewasa terlihat membaca di setiap sudut perpustakaan. Bantal sofa seperti ini pertama kali saya lihat di Taman Baca Sanggingan Ubud Bali. Di sana di letakkan di luar dekat alam terbuka, menyatu dengan tanah, kalau di perpus Grhatama Pustaka, diletakkan di setiap sudut, dekat rak buku.

Namun jangan lupa, sebelum anda masuk ke ruang baca utama yang ada di lantai dua, anda harus melepas sepatu. Usai dilepas, dikantongin dan sepatunyapun harus dibawa kemanapun anda pergi. Saya cukup lama berada disini, mencermati tiap pengunjung dan serta buku apa saja yang ada di rak buku.

20180309_135100

Termasuk mengamati salah satu pengunjung yang sedang pewe (posisi uwenak) istilah sekarang membaca sambil tiduran di bantal sofa beralaskan karpet merah yang empuk.

Dari Karya Karl May Hingga Biografi Nelson Mandella

Usai mengamati tingkah para pengunjung, saya mampir ke pojok sastra dan biografi yang berada di sebelah tengah. Disitu saya menemukan banyak buku lama dan juga buku baru. Dari mulai Karl May, Edward Said, William James, Pramoedya Ananta Toer, hingga biografi Nelson Mandela.

20180309_135048

20180309_133549

Sambil mencermati beberapa buku tersebut, saya pun membacanya. Bagus dan lengkap saya cermati. Padahal saya baru mencermati beberapa rak saja yang menurut saya menarik. Ada beragam buku seperti  biografi Warren Buffet,  kicauan Indra Herlambang dalam buku Kicau Kacau, bersampul kuning dll. Jadi lengkap dari karya yang historis, hingga populis bisa anda temui di sini.

Bahkan ada sebuah buku berjudul menarik karya Ara berjudul “Lelaki, Gadis dan Kopi Campur Garam”. Penasaran saya tertarik baca tapi waktunya tidak memungkinkan. Jadi hanya sekilas saja dibolak balik, sambil berharap bisa ke Jogja lagi dalam waktu yang lebih lama.

20180309_133448

Saat waktu sudah beranjak sore, saya mendengar akan ada pemutaran film di lantai tiga tepatnya di ruang audio visual, saya lupa film apa yang akan diputar. Namun, saya  tidak sempat menontonnya. Selain ruang audiovisual di lantai tiga ini ada juga ruang digital, majalah dan koran hingga kamus dan ensiklopedia.

Perpustakaanmu Surgamu

Usai menghabiskan sekitar tiga jam, di Grhatama Pustaka,  akhirnya saya keluar  pulang dan akan melanjutkan perjalanan ke Perpustakaan Universitas Sanata Dharma. Karena jam lima harus ke Panti Rapih. Sebelum pulang saya mampir ke toilet Grahatama Pustaka dan toiletnya  sangat bersih, ada juga ruang tunggu yang ramai pengunjung.

Saat menunggu jemputan, saya memperhatikan suatu papan nama yang bagus di atas pintu masuk utama dekat dengan beberapa backdrop informasi. Papan itu bertuliskan The library place we went to find out what there was to know it was absolutely essenstial, your library is your paradise. Saya pun memperhatikannya dengan seksama, setelah itu kemudian pulang.

Jika anda berkunjung ke Jogja, atau berada di Jogjakarta dan sekitarnya,  atau sedang sekolah di kota gudeg ini, bisa datang ke perpustakaan Grhatama Pustaka yang buka setiap Senin-Jumat dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam. Bahkan sabtu minggupun buka meski hanya sampai jam empat sore. Semoga lengkapnya fasilitas, kenyamanan dan kelengkapan buku yang ada di kota pelajar ini memberi inspirasi bagi perpustakaan yang ada di daerah lain di Indonesia.

3 April 2018, 21:11

Beragam Makna Dibalik Tatapan Mata Perempuan

Resensi Buku: Tatapan Perempuan
(Perempuan Sebagai Penonton Budaya Populer)
Judul asli: The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture
Editor: Lorraine Gamman dan Margareth Marshment
Penerbit: Jalasutra, 2017

Sebuah buku bersampul biru, menarik perhatian saya sore itu. Sampulnya yang menawan dan judulnya yang menarik perhatian membuat mata ini tidak bisa melepaskan pandangan. Buku yang saya baca hari ini berjudul “Tatapan Perempuan” karya terjemahan dari Bahasa Inggris The Female Gaze: Women as Viewers of Popular Culture yang terbit sudah lama yaitu pada tahun 1988.

Ada tiga belas penulis perempuan yang menulis disini. Mereka adalah Lorraine Gamman, Margareth Marshment, Suzanne Moore, Andrea Stuart, Maggie Anwell, Avis Lawellen, Belinda Budge, Jacky Stacey, Jacqui Roach dan Petal Felix, Anna Ross Muir, Ann Treneman, Janet Lee dan Shelagh Young.

Dari Teka-teki Tatapan Perempuan Hingga Status Perempuan di Bidang Film dan Televisi

Membuka lembaran awal buku ini, ada ungkapan menarik, kenapa menulis buku tentang perempuan yang memandang? Tentu ini adalah suatu teka-teki, memandangnya kepada siapa? kepada laki-laki atau kepada sesama perempuan? Dalam representasi yang paling popular tampaknya laki-laki melihat dan perempuan adalah yang dilihat. Dalam film, televisi, pers, narasi, dan narasi popular pun laki-laki diperlihatkan sebagai yang mengendalikan tatapan; perempuan yang dikendalikan.

Bagaimana kita dapat mengubahnya? Perubahan seringkali merupakan perlawanan pelan-pelan yang dilakukan hari demi hari yang memerlukan strategi pragmatis untuk hari ini dan besok. Umumnya strategi-strategi ini melibatkan perlawanan terhadap makna.

Budaya populer adalah wilayah perjuangan tempat pelbagai makna ditentukan dan diperdebatkan. Budaya populer juga dipandang sebagai suatu wilayah tempat makna diperdebatkan dan ideologi dominan dapat diobrak abrik. Diantara pasar dan ideologi, para pelaku finansial dan para produser, sutradara dan aktor, penerbit dan penulis, kapitalisme dan buruh, perempuan dan laki-laki dibahas maknanya dalam pelbagai hal, sejalan dengan perjuangan tanpa henti demi pengendalian.

Bahkan dalam Bab 10, Anne Ross Muir membahas tentang status perempuan yang bekerja di bidang film atau televisi. Ada banyak penulis, sutradara, produser, teknisi actor, penerbit, jurnalis, kritikus, guru, dan mahasiswi yang berpartisipasi yang berpartisipasi dalam produksi dan distribusi bentuk-bentuk populer pelbagai wacana disekelilingnya.

Tidak Hanya Berdasar Gender

Ada banyak film, sinetron dan karya lainnya yang dibahas dalam buku ini, meski sudah tidak kekinian karena settingnya tahun 1980-an. Bagaimana perempuan melihat film detektif polisi, juga cerita-cerita tentang persahabatan antar perempuan.

Menarik sekali mengupas tentang beberapa film bertemakan persahabatan perempuan seperti Stage Door (1937), The Woman (1939), Caged (1950), Girlfriend (1978) dll.

Seringkali kita melihat di televisi perempuan diperlihatkan bukan sebagai teman, tapi sebagai tokoh antagonis yang saling membenci, lawan dalam cinta atau bisnis.

Beberapa tokoh perempuan yang berhasil sebagai pejuang emansipasi, politisi, bahkan pengusaha sukses kadang jarang muncul, meski belakangan mulai ditampilkan.Entah karena tidak seimbang atau memang jumlahnya kurang.Meskipun dalam pengamatan saya lebih banyak peran segi sisi seksisme yang diutamakan.

Meskipun demikian buku ini tidak menghakimi batasan gender. Ada juga kritik terhadap para aktris perempuan di masa itu yang justru tidak terlihat memperjuangkan feminis, tapi lebih kepada memperjuangkan diri sendiri. Terlepas dari itu semua buku ini menarik sebagai bahan referensi bacaan bagi kalangan akademisi, pemuda hingga pelaku industri hiburan ditanah air juga bagi siapa saja yang tertarik melakukan kajian bagaimana posisi perempuan dalam budaya populer.

3 April 2018
Pukul 16.14

Sudah sejak hari minggu
Kita terpisah ruang dan waktu
Ada sejumput rindu
Yang tersimpan di dadaku

Waktu terasa lambat berlalu
Masih ada dua hari lagi menunggumu
Kupandangi sebuah foto darimu
Sebagai rasa pelepas rindu…

3 April 2018
Pukul 09.55