Kangen Karedok

Posted: November 3, 2018 by Eva in Artikel
Tags: ,

Udah dua hari ini aku kangen masakan sunda yaitu Karedok. Makanan yang terdiri dari kacang panjang, kubis (kol), tauge dan ketimun ini membuatnya gampang. Tidak usah direbus, semua mentah.

Bahan yang dihaluskan, bawang putih, garam, kencur, gula jawa, dan air asam. Kalau tidak pedas enggak usah pakai lombok rawit, tapi kalau anda suka pakai terserah.

Setelah semua bahan dihaluskan, jangan lupa masukkan kemangi dan goreng bawang merah. Tapi hari ini aku lupa gak pake keduanya dan males bolak balik ke pasar cari bahan yang kurang, jadi seadanya. Bawang goreng juga enggak, sayang minyak. Ini makanan khas Sunda kesukaanku Karedok.

Akhir pekan ini banyak waktu buat istirahat. Enaknya masak makanan kesukaan kita. Yuuk makan dulu dan jangan sampai terlambat makan dan selalu jaga kesehatan.

2 November 2018

Advertisements

Gethuk Ditaburi Parutan Kelapa

Posted: November 2, 2018 by Eva in Artikel
Tags: ,

Jajanan pasar di sini tidak berbeda dengan di Jogja dalam beberapa hal seperti jajanan yang sangat saya suka yaitu gethuk ditaburi parutan kelapa muda.

Dua minggu sekali saya  membeli gethuk ke pasar Banggle. Gethuk terbuat dari singkong yang dihaluskan dan dicampur gula merah. Sebelum memulai aktivitas rutin enaknya makan gethuk dulu. Biar perutnya tidak kosong.

Selain sehat, gethuk ini juga dijual oleh ibu-ibu sejak pagi, kebayang ya jam berapa mereka membuat gethuk ini.

Padahal kalau sudah agak siang dan  jajanan tradisional ini tidak habis, berarti sudah tidak awet. Mari yuuk lestarikan makanan tradisional.

2 November 2018

Pukul 08.44

Sudah memasuki bulan November sekarang ini, tidak terasa sudah 3, 5 bulan tinggal di perantauan,  kampung Mas Arif. Blitar terdiri dari dua wilayah, ada kabupaten dan ada kotamadya. Saya tinggal di Kabupaten Blitar, namun jarak dari kabupaten dan kota berdekatan.

Beberapa kali saya mengunjungi makam dan perpustakaan Bung Karno itu posisinya di daerah Kota Blitar, sedangkan perpustakaan kabupaten Blitar itu ada di jalan Veteran, sehingga saya menyebutnya Perpus Veteran.

20181101_093207-1

Pagi ini saya sengaja menyusuri Kota Blitar lewat trotoar jalan dari tempat alat jahit Fanny sampai jalan merdeka. Dimana di sini ada Taman Pecut, di dekat alun-alun kota Blitar.

Di Blitar berbeda dengan daerah seperti daerah pinggiran Jakarta yang dimana semua bahan baku baik sayuran mengoptimalisasikan produksi masyarakat setempat. Hasil pertanian seperti jagung, lombok dan aneka sayuran lainnya adalah hasil petani setempat, bukan merupakan kiriman dari daerah penyangga.

Di sini juga tidak banyak supermarket, ada mall juga sepi. Para pedagang setempat masih ramai membuka toko baik kelontong, toko kain, toko pakaian, industri kerajinan seperti batok kelapa, batik, pandan, anyaman bambu, tembikar bahkan sampai perbankan semua berjalan biasa saja, denyut ekonomi berjalan dengan baik, namun tidak begitu terasa persaingan yang kencang.

Setiap pagi banyak warung makanan buka dan ramai pengunjung, seperti sarapan nasi pecel, gado-gado, bubur bayi, dll. Ada juga para penjual makanan seperti  rempeyek, tahu lontong, dan lain-lain senantiasa ramai setiap hari.

Beberapa kali saya mengunjungi toko bahan kue dan  mengunjungi toko peralatan jahit,  juga toko kain di jalan merdeka membuat saya suka dengan aneka jenis sandang di sini. Hingga tidak terasa waktu pun beranjak siang.

Saya merasakan bahwa Blitar itu baik kota maupun kabupatennya sangat mandiri. Beberapa bahan masakan, ikan yang biasa saya konsumsi dulu pun di sini tidak semua ada, mungkin diproteksi melindungi pengusaha lokal.

Sepertinya ada kebijakan tertentu berkaitan dengan sistem ekonomi, jika tidak salah mungkin saya menyebutnya sistem ekonomi di sini seperti sistem dumping di Jepang. Namun dalam skala lokal.

Setelah menjelang siang, saya pun beranjak pulang. Melihat – lihat sebentar taman pecut yang bersebrangan dengan ruang terbuka hijau dimana ada beberapa pohon beringin besar mengitarinya. Angin siang semilir terasa di siang itu, para tukang becak pun banyak berada di sekitar taman. Saya pun segera pulang.

Blitar, 1 November 2018
Pukul 12.34 WIB

Membuat Sendiri Mie Goreng Jawa

Posted: November 1, 2018 by Eva in Artikel

Selama ini saya agak sulit mencari mie goreng jawa yang biasa dijual di beberapa tempat di Selatan Jakarta. Sebenarnya ada beberapa pilihan aneka yang rasanya enak banget dan masaknya di anglo atau tungku.

Selama ini ada bakmie jogja, mie nyemek dan yang terakhir mie goreng jawa, dimana saya terakhir kali makan saat di Jakarta.

Kini saya mencoba bikin sendiri mie goreng jawa dengan tahapan sebagai berikut:

mie telur satu bungkus (rebus air sampai mendidih, angkat masukkan mie diamkan 5-10 menit) jangan sampai lembek.
sawi satu ikat (iris)
kecap
lombok rawit 8
bawang daun dan seledri
satu butir telur
bawang merah digoreng

Bumbu halus

bawang merah lima
bawang putih tiga
kemiri tiga
garam
merica secukupnya

Langkah-langkah:

Goreng bawang merah tiriskan
panaskan minyak
setelah ditiriskan, lalu aduk dengan kecap, haluskan bumbu halus semua dalam minyak panas, masukkan lombok utuh dan telur, orak arik telur dan semua bahan dengan api kecil.
Masukkan sawi, bawang daun seledri dalam bumbu halus.

Setelah menyerap masukkan mie yang sudah dibalur kecap
Aduk semua bahan dalam, masukkan garam lalu aduk-aduk  dengan api sedang dan matikan kompor.
Hidangkan mie goreng jawa yang telah matang dengan bawang goreng.

Yuuk sarapan

Pantun Hari Rabu

Posted: October 31, 2018 by Eva in Seni, Film dan Budaya
Tags: ,

Pantun Hari Rabu

Dari Sudimara ke stasiun ke Palmerah
Pulang dari Tanabang menuju ke Serpong
Kalau terpanah asmara pipinya memerah
Saat jatuh cinta bawaannya rempong

Naik kereta ke stasiun Kalibata
Salah turun di stasiun Tebet
Awalnya dari tatapan mata
Eh lama-lama kok suka banget

Stasiun manggarai setiap hari ramai
Banyak orang pindah ke stasiun Bekasi
Jika hati kita cinta damai
Mari kita saling asah saling asih

Paling Ramai stasiun Sudirman
Tangganya banyak dari kiri dan kanan
Kalau mau naik kereta aman
Jangan banyak barang bawaan

Dari Sudirman ke stasiun kota
Berhenti sebentar di stasiun Cikini
Terimakasih petugas kereta
Tugas siang malam kerja tiada henti

 

Selamat Beraktivitas

Rabu, 31 Oktober 2018

Pukul 08.27

 

Selamat pagi ibu-ibu yang suka masak. Apakah pernah lupa matiin kompor karena sesuatu hal saat anda memasak atau memepes, merebus sayuran atau ikan. Lantas peralatan masak anda hangus atau gosong.

Jika anda pernah mengalaminya jangan khawatir, lakukan langkah berikut ini dengan kalem saja jangan panik.

Pertama rebus air hangat, masukkan dalam alat rumah tangga yang gosong, lalu masukkan cuka secukupnya. Rendam cukup lama berhari-hari, saya sudah pernah 4 hari. Diamkan amati biar perlahan – lahan ngelupas gosongnya berarti panci atau wajan anda masih bisa dipakai. Sikat pake sendok kecil bagian hitamnya sedikit-sedikit hingga menghilang.

20181031_135659

Jika sudah mengelupas gosongnya bisa anda cuci bersih memakai sabun pelan-pelan sampai bersih benar. Wajan ataupun panci bersih kembali.

Akan tetapi jika memang tidak bisa, berarti gosongnya parah panci atau wajan anda tidak bisa diselamatkan.

Selamat masak ya ibu-ibu jangan terlalu besar apinya jika memasak atau menggoreng, hemat gas dan jangan ditinggal pergi jika sedang memasak.

Salam

31 Oktober 2018
Pukul 07.56

Wandra Banyuwangi

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

hang sun karepno biso ambi riko
selawase yo mung ambi riko
tapi kelendi maning ceritone wis bedo
saikine riko wis sing ono, digowo wong liyo

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

kelangan isun iki wis kelangan
kembang hang sun eman-eman
loro rasane ati mulo loro
kudangan di gowo wong liyo
lilo sun cobo ngelilakeno
masio abot hang sun roso

Resensi Buku

Judul : Biografi Singkat Mohammad Hatta (1902-1980)

Penulis : Salman Alfarizi

Penerbit: GARASI, Jogjakarta

Edisi : Cetakan II, Juli 2009

Editor: Abdul Qadir Shaleh

Pada suatu ketika B.M Diah diminta oleh Majalah Prisma tentang generasi 1928 seperti Sukarno, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. Kata Diah :  “Sukarno dan Hatta disekap Belanda, Sjahrir idem dito. Tan Malaka lari.”

Setelah 73 tahun Indonesia merdeka, ada beragam generasi melintasinya. Indonesia tidak melupakan Mohammad Hatta, salah seorang proklamator dan pemimpin bangsa ini yang jujur dan antikorupsi. Memegang teguh prinsip, tegas, terampil organisasi, memiliki intelektualitas tak tertandingkan, dan pemegang paham sosialisme yang setia.

Sosok Mohammad Hatta, sudah lama dikenal sebagai salah satu pendiri bangsa. Wakil presiden yang mendampingi Ir. Sukarno ini dikenal sebagai sosok yang sederhana dan disipin tinggi. Ekonomi Kerakyatan yang diperjuangkan atau disebut sebagai Hattanomics pernah diterapkan di era awal kemerdekaan.

Saya tidak akan menjelaskan bagaimana kiprah sejarah dan perjuangannya sebelum kemerdekaan yang sudah banyak orang paham, namun akan mengulas sisi pribadi dia yang patut di tiru kita sebagai orangtua maupun generasi muda penerus.

Ada banyak buku yang mengulas tentang biografi ekonom terkemuka Indonesia Mohammad Hatta. Ditulis oleh beberapa penulis dan penerbit dengan pendekatan berbeda, semua sama bagusnya. Namun, jika anda ingin membaca singkat, cepat dan padat, tidak ada salahnya anda membaca buku ini.

Yatim Sejak Usia Delapan Tahun

Lelaki yang bertubuh kecil pendek dan berbadan gempal ini lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Ayahnya seorang mursyid, sebuah pemimpin tarekat sufi di Sumatera Barat bernama Haji Mohammad Djamil dan Ibunya Siti Saleha. Mohammad Djamil adalah cucu seorang seorang ulama Minangkabau bernama Syaikh Abdurrahman atau dikenal Syaikh Batuhampar.

Menurut Hamka, nama Mohammad Hatta berasal dari Muhammad Ata yang diambil dari seorang penulis kitab Al-Hikam bernama Muhammad Ibn Abdul Karim Ibn Ata-Ilah Alsukandari. Sedangkan kakek dan nenek dari pihak ibunya adalah pengusaha angkutan pos antara Bukittinggi dan Lubuk Sikaping dengan menggunakan kuda, bernama Ilyas Bagindo Marah dan istrinya Aminah. Hatta memanggil keduanya Pak Gaek dan Mak Gaek.

Pernikahan Mohammad Djamil dengan Saleha melahirkan dua orang anak yaitu Hatta dan Rafi’ah. Ketika berusia delapan tahun, ayahnya mursyid Mohammad Djamil wafat. Ibunya menikah lagi dengan Haji Ning, pengusaha asal Palembang. Dari pernikahan itu, Hatta punya adik  empat orang perempuan.

Kondisi rumah tangga semasa kecil sangat berpengaruh dalam pola hidup Hatta yang terlepas dari pola budaya Minangkabau tradisional yang lazimnya konservatif, ada kalanya cenderung reaksioner. Sama halnya dengan pemuka gerakan nasional sezamannya yang berasal dari Minangkabau seperti Ibrahim Marah Sutan, Rustam Effendi, Abdul Muis, Bahder Johan, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, Hazairin, Syaikh Djamil Djambek dan Syaikh Abdullah Muhammad.

Menikah Dengan Mas Kawin Buku

Terlalu panjang jika saya bercerita proses mahasiswa, menempuh pendidikan ke Belanda, aktif di organisasi dan memproklamasikan kemerdekaan RI. Saya kira nanti anda bisa baca sendiri dari halaman 15-32.

Lebih menarik kita membahas sisi pribadinya. Dimana Muhammad Hatta yang menikah usai Indonesia merdeka. Perempuan yang dinikahi Hatta adalah perempuan biasa yang saat menikah masih belia, bernama Siti Rahmiati Rachim. Mereka bertemu saat usia Rahmi berusia 17 tahun, selisih usianya dengan Mohammad Hatta adalah 24 tahun. Rahmi adalah perempuan kelahiran Bandung 16 Februari 1926. Mereka bertemu saat Sukarno dan Hatta kembali dari pengasingan. Hatta dan Rahmi menikah pada 18 November 1945 di Megamendung Bogor dengan mas kawin sebuah buku berjudul “Alam pikiran Yunani.”

Kecintaan Hatta pada buku sudah ada sejak kecil. Sejak umur lima tahun sudah bisa membaca dan menulis. Hatta punya kebiasaan membaca yang patut diteladani. Membaca buku pelajaran pada malam hari dan membaca buku lain termasuk roman untuk meluaskan cakrawala pengetahuan dibacanya pada sore hari. Selama 11 tahun di Belanda dia membawa 11 peti buku dan pakaian hanya satu koper.

Bagi Hatta, buku hampir seperti sebuah benda sakral. Dalam dunia pergerakan, mungkin Hatta adalah aktivis yang paling banyak menulis. Konon saat mahasiswa di Amsterdam kamarnya penuh sesak dengan buku. Dalam kehidupan sehari-hari, Hatta memiliki waktu khusus untuk belajar. Jauh dari kemewahan dan kegairahan akan perempuan.

Kekasih Hatta adalah buku, buku, dan buku. Karena itu, lahirlah anekdot; istri pertama Hatta sesungguhnya adalah buku, istri kedua Hatta adalah buku dan istri ketiga adalah Rahmi Hatta.

Berbeda dengan Sukarno yang sanggup membakar massa melalui pidato-pidatonya yang memikat. Hatta lebih banyak diam; ia lebih suka menulis. Isi buku-bukunya menggambarkan spektrum dan minat yang luas terhadap ekonomi, sosial dan sastra. Tokoh yang disukai Hatta adalah Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker, penulis Belanda yang pernah menulis Max Havelaar.

Satu ucapan Dekker yang kerap dikutip Hatta, dengan tepat menggambarkan sosok bekas wakil presiden itu adalah onhoorbar groeit de padi, artinya tak terdengar tumbuhlah padi. Hatta adalah padi yang tak terdengar itu.

Kepala Keluarga yang Disiplin dan Penuh Kasih Sayang

Selama mengayuh biduk rumah tangga, Hatta dan Rahmi memiliki tiga anak. Yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah dan Halida Nuriah. Sebagai orang tua, Hatta terkesan pendiam dan kaku. Namun dia sangat berwibawa dan penuh kasih sayang.

Curahan kasih sayang pun terasa unik, karena beliau bukan sosok yang suka memuji, membelai dan menyanjung berkepanjangan.

Namun, menyapa anak-anaknya dengan sopan tanpa memanggil “kamu”. Dia biasa bertanya misalnya “Meutia sudah membaca tulisan ini? Atau “Gemala, dimana letakkan buku tadi?.”

Bahasa Indonesia yang digunakan Hatta adalah Bahasa yang standar. Mungkin ini pula yang menyebabkan nilai Bahasa Indonesia ketiga putrinya 8 dan 9, karena mereka terbiasa mendengar ayahnya menggunakan Bahasa Indonesia standar. (Ini harus dicamkan orangtua dan generasi milenial hehehe).

Menurut anak-anaknya, Hatta adalah sosok ayah yang sangat disiplin selam hidupnya yang dijalani selama puluhan tahun saat sehat. Ketiga anaknya dibesarkan oleh orang tua dengan alam pikiran modern. Meutia Farida, anak tertua dibiarkan memilih jurusan yang disukainya. Hatta justru banyak memberi saran berharga untuk studi antropologinya.

Gemala menjelaskan jika ayahnya bangun pada 04.30 WIB, lalu sembahyang dan berolahraga satu jam. Sesudah mandi dan berpakaian selama 15 menit ia akan sarapan pada pukul 06.30 sembari mendengarkan radio, Hatta akan masuk ruang kerja dan mendengarkan agenda yang dibaca oleh sekretaris pribadi bernama Wangsa Widjaya. Penghargaan Hatta kepada waktu juga terlihat betul dalam menanggapi hidup rencana anak-anaknya.

Wafat Menjelang Matahari Terbenam

Ciri khas Hatta, sanggup menjadi seorang rasional tanpa harus kebarat-baratan. Tokoh yang taat beragama ini berorientasi kerakyatan mengambil teladan dari dunia barat dalam urusan disiplin dan berorganisasi. Di mata sang istri yang selama ini mendampinginya, Rahmi melukiskan sosok suaminya sebagai orang yang teguh prinsip.

“Keteguhan prinsipnya tidak bisa dipatahkan oleh orang-orang terdekatnya sekalipun,”

Kesabaran Hatta dan Rahmi juga terasa saat mereka merasakan kecilnya tunjangan wakil presiden saat itu. Pengabdian Mohammad Hatta kepada bangsa Indonesia sudah terbukti dengan baik. Begitu jujurnya Hatta, saat pensiun dari jabatan wakil presiden, dia pernah mengalami kesulitan membayar listrik rumahnya di jalan Diponegoro (hlm 7). Hal ini dikarenakan sedikitnya tunjangan pensiun wakil presiden (apres) saat itu.

Banyak cerita menarik lainnya seputar buku yang ditulis, perpustakaan pribadi Bung Hatta di Sumatera Barat dan Jogjakarta yang terbengkalai, (halaman, 202-203). Begitu juga dia tidak menyukai Siti Hartini, sehingga selalu menghindar jika ketemu Presiden Sukarno kalau ada Hartini, karena Beliau sangat hormat kepada Ibu Fatmawati. Beliau juga menengok Bung Karno saat dua hari sebelum meninggal dunia, dan kisah menggelora lainnya yang harus anda baca.

Namun, resensi ini harus diakhiri dengan meninggalnya Mohammad Hatta pada 14 maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta,  dan dikuburkan di Tanah Kusir pada 15 Maret 1980 pada usia 77 tahun.

Penyanyi Iwan Fals mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Halida Nuriah mengatakan jika hidup ayahnya sudah diatur Tuhan sedemikian rupa. “Seakan diatur oleh tangan yang lebih kuasa, masa hidupnya bagaikan satu kali putaran matahari. Ayah dilahirkan menjelang fajar menyingsing di kala panggilan sembahyang subuh berkumandang di surau-surau Kota Bukittinggi, dan wafat setelah tenggelamnya matahari, menjelang berakhirnya waktu maghrib…”.

Buku ini bagus dan singkat sesuai judulnya. Namun kelemahannya ada pada sampul yang kurang nyeni, struktur penulisan yang meloncat, ke belakang dulu lalu memulai lagi saat muda. Namun terlepas dari itu semua tidak banyak ejaan yang salah, bahasanya pun mengalir dan nyaman dibaca dari bab mana saja.

Selamat membaca…

Perpustakaan Veteran Blitar, 30 Oktober 2018
Pukul 12.59 WIB

Lihatlah airmataku
Ya Tuhan Yang Maha Pengasih
Bercerita tentang duka
Dan kehancuran

Setiap tetes mengandung arti
Dari derita yang menekan
Telah lama daku mencoba
Namun tak mampu jua

Tuhan tolong hapuskan airmataku
Tiada satu dapat melakukannya
Dari derita ini
Dari dalamnya dosa
Hanya Engkau yang kuasa
Menghapuskan setiap tetes airmata
Menghapuskan setiap tetes airmata

Lihatlah airmataku
Berderai penuh kesedihan
Kucoba tuk menghentikannya
Namun tak mampu jua

Hari ini aku mau mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda buat generasi muda yang ada di sekitarku saja. Bukan saudara,  tapi orang – orang yang pernah bertemu dalam berbagai suasana.

Aku suka sama lagu Superman Is Dead (SID) yang berduet dengan Iwan Fals. Berjudul Bangunlah Putra Putri Pertiwi. Semoga kita terus semangat membangun negeri tercinta,  dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan video ini. Harap maklum masih amatiran videonya hehehehe….

28 Oktober 2018

07.48 WIB

Bangunlah Putra Putri Pertiwi

Oooh…oooh….oooh………
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Kejam nadimu tak kan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramu

Angin gerimis
Mengelus merah putihku
yang berkibar

Mengelus merah putihmu
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putih pun suci berkharisma

Pulau-pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu

Reff:
Terbanglah garudaku
Singirkan kutu-kutu di sayapmu
Oooh…ooh
Berkibarlah benderaku
Singkirkan kutuk di tiangmu

Hai jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu
Oooh….oooh….ooh…

Mentari pagi sudah membubung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi

Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi, esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut

….

Slogan Pinggir Jalan

Posted: October 27, 2018 by Eva in Ekonomi Bisnis, Inspirasi

Malam ini ada yang masih lembur  atau masih di kantor menunggu deadline kerjaan. Atau masih joged dangdutan menyambut esok hari hahaha…

Jangan lupa ya yang masih kerja, istirahat, ngeteh-ngeteh atau ngopi biar gak ngantuk. Mak Pyar…

Kalau bicara ngopi saya jadi ingat sebuah slogan sederhana di pinggir jalan perbatasan Malang – Blitar. Tulisannya begini.

“Ojo Lali Kerjamu Melupakan Ngopimu” kalau ingat aku suka ketawa aja bacanya..🍵☕🍵☕🍵☕

Memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda esok hari gegap gempita terasa dimana-mana. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan salah satu janji sumpah pemuda yaitu Barbahasa  Satu Bahasa Indonesia.

Jujur saja, kalau sedang semangat dan buru-buru saya sering salah ketik,  dll. Kemudian, terus terang, di era teknologi ini saya sangat kerepotan dengan banyaknya istilah bahasa Inggris terutama bahasa serapan yang dimana antara ucapan dengan tulisan adakalanya kaku.

Tantangan terbesar bahasa Indonesia sekarang ini menurut saya ya itu, menghadang serbuan bahasa asing agar bahasa Indonesia tetap terjaga kualitasnya.

Belum lagi bahasa alay, bahasa instagram, bahasa yang disingkat di wa/sms, dan istilah-istilah kekinian yang dimana tidak semua generasi banyak yang tidak paham bahkan cenderung kurang sopan.

Seperti bokap gue, pembokat, nongki di mana lu, ngehe, typo, dan lain-lain. Terlepas dari itu semua saya juga tidak merasa paling benar dalm hal ini, karena saya juga dalam menulis kadang tidak konsisten dan tidak luput dari kesalahan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda teman-teman semua…

27 Oktober 2018

17.32 WIB

Setelah cukup lama menyusuri Pantai Karangsong Indramayu, saya sangat kaget dengan potensi ikan yang luar biasa di pantai utara Jawa.

Lalu saya berpikir, sebagai orang yang berasal dari  Selatan Jawa, saya penasaran dengan potensi ikan dan ekosistem laut di pantai selatan Jawa dalam hal ini Pantai Pelabuhan Ratu.

Selama ini, orang kampung saya biasa menyebut Pelabuhan Ratu, dengan nama  “Palabuan” lebih terkenal dengan potensi wisatanya daripada potensi bahari lainnya baik itu ikan, udang kerang dll.

Sampai sekarang pun saya belum tahu seperti apa perkembangan nelayan dan potensi ikan di Pantai Pelabuhan Ratu. Karena saya tidak pernah datang langsung ke koperasi nelayan di sana, begitu juga kapal atau perahu berlayarnya sampai mana.

Yang saya tahu di Palabuan terkenal dengan ikan tongkol  yang sudah di pindang, ikan layur basah, dan daerah kami banyak ikan asin. Teri hurang,  peda, cumi, ikan  tembang jeung saparakanca, (dan sejenisnya)

Kalau yang jualan ikan tongkol keliling tidak jualan, harganya naik atau ikannya kecil-kecil, paling jawabannya sederhana.

“Keur hese laukna, ngeus sababaraha poe puguh hese ceunah,” kata penjual.

Bukannya tidak mau mengenal lebih dalam potensi bahari di Sukabumi kampung sendiri, tapi entah kenapa akses ke pusat pelelangan ikan di Pelabuhan Ratu tidak semudah ketika saya mengunjungi Pantai Karangsong di Utara Jawa.

Tapi ah sudahlah…tidak bermaksud membandingkan atau mencari kesalahan nanti dikira ada udang di balik batu karang hehehe….

Pantai Pelabuhan Ratu Dua Tahun Lalu

 

Ketika di depan mata

Saya merasakan

Daun bergoyang pelan

Putik bunga berjatuhan

 

Disitulah desiran angin

Berhembus lembut setiap saat

Menghadirkan kegembiraan

Bagi segenap mahluk Tuhan

 

Angin ibarat cinta

Tidak berwarna dan rupa

Tapi bisa kita rasakan

Lembutnya sejukkan jiwa

 

Aku ingin mengucapkan selamat pagi

Kepada angin yang selalu hadir

Bersama matahari, bulan dan hujan

Hingga embun di daun yang tertahan

 

Kanigoro Blitar, 27 Oktober 2018

Pukul 08.32

 

 

 

 

 

 

Akhir pekan ini terasa istimewa,  saya mau masak sayur lodeh karena ada ikan asin dan sisa kol wortel bekas sayur sop kemarin untuk bikin bakwan.

Sudah lima bulan ini kami masak tanpa sambal. Kalau pun ingin pedas biasanya saya masukin cabe satuan (ceplus) di sayur.

Saya gak usah tulis resep, pasti pembaca semua sudah tahu caranya bikin sayur lodeh dll. Cuma untuk bakwan kriuk saya tambahkan tepung terigu dan sedikit tepung beras (dua sendok). Jangan lupa menu wajib di sini ada rempeyek.

Selamat berakhir pekan…yuuk masak…

Sebenarnya pertemuan WordPress Meet up ke -13 Jakarta sudah berlangsung sejak April 2018 di Estubizi Jakarta Selatan. Namun saya baru tulis laporannya sekarang karena sibuk pindahan dan serba – serbi lainnya, hingga tertunda. Semoga saya belum lupa materinya.

WPJKT 13 ini mengambil tema besar “Dari Freelancer Menjadi Owner“. Pada bulan April lalu, Komunitas WP Jakarta mengadakan  Dimana pada waktu itu ada empat orang pembicara yaitu Mas Ivan Kristanto dari WP Jakarta, Mas Tiko dari Sinergi Antar Benua (SAB), Mas Anas dan Mas Leo dari Kompas.id

Acara yang berlangsung sejak sore hari ini berlangsung seru. Setelah dibuka oleh Pak Ruslan, owner (pemilik) rumah Estubizi, menyampaikan kegembiraannya kepada Peserta WP13 mejadi tuan rumah pertemuan kali ini.

Pembicara pertama adalah Mas Ivan Kristanto yang menjelaskan tentang perkembangan komunitas WP yang terus berkembang. Bagaimana menghadirkan topik bagus, membaut video menarik dan aneka tips-tips menarik yang berguna bagi pembaca.

Selain itu, Mas Ivan juga bercerita sedikit tentang penerjemahan artikel yang dilaksanakan oleh para komunitas WP di berbagai tempat. Seperti di Ubud Bali, ada khusus penerjemahan artikel oleh komunitas penerjemah.

Pembicara Kedua adalah Mas Trilastiko yang menyampaikan tema “From Freelancer to Bussines Owner” Apa yang disampaikan oleh Tiko menarik banyak perhatian peserta diskusi karena banyak hal baru yang disampaikan berkaitan dengan peningkatan kualitas dan kebonafitan freelancer.

Selama ini memang masih banyak para pemilik modal meragukan kemampuan freelancer. Dimana kalau istilah saya itu mereka kadang dianggap sebagai manusia kelas dua. Karena para owner mengatakan jika freelancer itu kerjanya sedikit saja.

Namun, menurut Tiko yang punya pengalaman sekolah di Jerman dan mitra kerjasama luas di dalam dan luar negeri, tidak selamanya freelancer akan menjadi kelas dua. Dia pun memberikan tips agar freelancer berubah kelas menjadi pemilik (owner).

Selain kiat agar lebih bonafit, untuk menjadi owner, freelancer bisa sharing jobs (berbagi pekerjaan, baik dengan programmer, penulis, dll). Karena dengan sharing jobs kita bisa meningkatkan perekonomian kita. Ketika freelancer bisa dengan mudah menjalankan semua kerjaannya, maka ketika menjadi owner, seorang freelancer akan lebih fleksibel.

Langkah berikutnya agar freelancer menjadi lebih mandiri dengan membuka usaha sendiri adalah menjaga integritas. Misalnya jangan terlambat dari deadline, juga member tenggat waktu yang pasti bagi rekan-rekan freelancer yang sudah sharing jobs.

Di sinilah tahapan seorang freelancer menjadi owner saat orang tersebut bisa memanage (mengatur) orang atau karyawan. Dan yang terakhir adalah Performa, Berkaitan dengan performa itu akan berbanding lurus dengan kualitas pekerjaan dan output yang kita hasilkan. Jika performa sudah baik maka dengan sendirinya anda sudah mencapai cita-cita menjadi owner.

Pembicara Ketiga dan Keempat adalah Mas Anas dan Mas Leo dari  Dimana  mereka menyampaikan perbedaan kompas.com dan http://www.kompas.id. Dimana kompas.com lebih ke berita online yang sangat bergantung pada kecepatan waktu dan kekinian berita. Sedangkan kompas.id adalah laman milik harian Kompas versi Digital e-paper. Jadi meski masih dalam satu payung Kompas Grup, namun beda manajemen.

Saya tidak akan menyampaikan rahasia bagaimana Mas Anas dan Mas Leo, mengelola ribuan artikel karena itu menyangkut rahasia perusahaan. Jadi hanya baik untuk dikonsumsi WPJKT13 aja ya (off thr record), karena kan nanti banyak ditiru media online lain.

Setelah selesai acara, masing-masing pembicara mendapat souvenir dari Dewa Web. Ada  Yasa dan Natasha yang hadir mewakili Dewa Web. Saya pun berbincang lama dan minta no kontak teman-teman peserta #WP13JKT di bloknote biru yang merupakan hadiah dari Wordcamp 2017 Sunter. Namun, karena catatan biru saya hilang di hotel Alana Jogjakarta, maka saya tidak ada kontak satu pun dengan mereka. (Semoga Tuhan tidak memaafkan pencuri itu…).

Acara yang berlangsung sampai malam ini seru dan gayeng. Makanannya juga sederhana, ada aneka minuman dengan beragam pilihan. Menyenangkan dan penuh keakraban. Usai tanya jawab, kita pun foto bersama dengan salam khas kita. Salam WordPress atau salam W.

Setelah acara WPjkt13 masih adalagi WP berikutnya yaitu WPJKT14 meetup dengan tema Optimalization and PWD yang dilaksanakan di kantor Dewaweb Kebon jeruk, dengan sponsor Dewaweb dan Google. WPJKT15 juga tidak kalah serunya mengambil tema SEO (Search Engine Optimalization, Amp dan Adsense) yang dilaksanakan di kantor Google Indonesia, WPJKT16 mengambil tema  Woo Commerce For Newbie dan Terakhir WPJKT17 mengulas tentang aplikasi android dengan WordPress.

Bulan Bersinar di Pagi Hari

Posted: October 26, 2018 by Eva in Rumah
Tags:

Apakah anda pernah merasa aneh, ketika bangun pagi melihat ke langit sebelum fajar dan matahari terbit di sebelah timur, anda menengok ke bumi bagian barat masih ada bulan bersinar terang.

Itulah yang kurasakan pagi ini. Pukul 04.50 atau jam lima kurang sepuluh, di belahan bumi bagian barat masih ada bulan yang bersinar terang dan sempurna. Di tengah langit biru, abu-abu dan semburat lembayung. Sungguh saya takjub dengan anugerah Yang Maha Kuasa.

Saya tidak menyangka jika bisa melihat sinar bulan di pagi hari  dan mengabadikannya. Terburu – buru saya pun menutup gawai dan masuk ke dalam rumah.

Jum’at 26 Oktober 2018

Pukul 07.01

Kompor gas yang saya miliki sudah lama, sekitar 12 tahun. Sudah lama saya sering bermasalah dengan karat dan lemak yang menempel sulit dihilangkan. Tidak seperti kompor model baru yang bahan dasarnya bening dan mudah dilap, kompor ini warnanya hitam pekat.

Dulu suka saya sikat, cuma kadang sakit sampai pegel apalagi kalau nyentuh ujung-ujungnya jeruji yang buat nyala api. Nah, belum lama ini saya menemukan cara cepat menghilangkan karat.

Rebus air secukupnya hingga mendidih, lalu anda masukkan asam sitrat. Rendam  tatakan jeruji itu sekitar 3 – 5 jam. Diamkan cukup lama. Setelah itu sikat pelan-pelan pakai sikat gigi bekas. hingga karat yang membandel mengelupas. Jangan pakai sabun ya…

Nah jika sudah bersih, lalu jemur di panas matahari dan coba lihat. Karatnya bisa hilang tidak? Selamat mencoba ya, semoga bermanfaat terutama buat ibu-ibu yang suka memasak..

Kanigoro, 25 Oktober 2018

Pukul 18.16 WIB

Bila Harimu Penuh Warna

Posted: October 25, 2018 by Eva in Inspirasi, Seni
Tags: ,

Melihat bunga warna warni ini sangat menyegarkan mata. Meski ini bunga yang berada di pinggir jalan, tapi bunga ini milik orang yang punya rumah.

Aku melewatinya saat berjalan beberapa hari yang lalu menyusuri jalan Madura. Ada beragam warna yang aku suka.

Jadi ingat lagi Armada yang liriknya…

Bayangkan bila harimu penuh warna
Itulah yang saat ini ku rasakan..

Lanjutkan sendirinya lagunya 🎶🎵🎼semoga kita yang menyukai beragam warna terhindar dari kebencian….

25 Oktober 2018

08.05

Ketika Matahari Beranjak Naik

Posted: October 24, 2018 by Eva in Inspirasi, Rumah
Tags:

Semangat menyambut hari kamis teman-teman. Saya sangat bahagia tiap hari hujan terus meski sebentar. Tiga hari berturut – turut kemarin hujan memberi kesejukan bagi bumi yang sudah lama kering.

Ketika hati kita bahagia, maka apapun yang ada di depan kita terlihat istimewa. Seperti cahaya matahari yang mulai terbit menyinari pagi yang cerah.

Rencanakanlah hidup anda sebelum direncanakan orang lain. Selamat beraktivitas sahabat semuanya. Semoga rencana kita hari ini berjalan lancar.

Blitar 25 Oktober 2018