Sebenarnya pertemuan WordPress Meet up ke -13 Jakarta sudah berlangsung sejak April 2018 di Estubizi Jakarta Selatan. Namun saya baru tulis laporannya sekarang karena sibuk pindahan dan serba – serbi lainnya, hingga tertunda. Semoga saya belum lupa materinya.

WPJKT 13 ini mengambil tema besar “Dari Freelancer Menjadi Owner“. Pada bulan April lalu, Komunitas WP Jakarta mengadakan  Dimana pada waktu itu ada empat orang pembicara yaitu Mas Ivan Kristanto dari WP Jakarta, Mas Tiko dari Sinergi Antar Benua (SAB), Mas Anas dan Mas Leo dari Kompas.id

Acara yang berlangsung sejak sore hari ini berlangsung seru. Setelah dibuka oleh Pak Ruslan, owner (pemilik) rumah Estubizi, menyampaikan kegembiraannya kepada Peserta WP13 mejadi tuan rumah pertemuan kali ini.

Pembicara pertama adalah Mas Ivan Kristanto yang menjelaskan tentang perkembangan komunitas WP yang terus berkembang. Bagaimana menghadirkan topik bagus, membaut video menarik dan aneka tips-tips menarik yang berguna bagi pembaca.

Selain itu, Mas Ivan juga bercerita sedikit tentang penerjemahan artikel yang dilaksanakan oleh para komunitas WP di berbagai tempat. Seperti di Ubud Bali, ada khusus penerjemahan artikel oleh komunitas penerjemah.

Pembicara Kedua adalah Mas Trilastiko yang menyampaikan tema “From Freelancer to Bussines Owner” Apa yang disampaikan oleh Tiko menarik banyak perhatian peserta diskusi karena banyak hal baru yang disampaikan berkaitan dengan peningkatan kualitas dan kebonafitan freelancer.

Selama ini memang masih banyak para pemilik modal meragukan kemampuan freelancer. Dimana kalau istilah saya itu mereka kadang dianggap sebagai manusia kelas dua. Karena para owner mengatakan jika freelancer itu kerjanya sedikit saja.

Namun, menurut Tiko yang punya pengalaman sekolah di Jerman dan mitra kerjasama luas di dalam dan luar negeri, tidak selamanya freelancer akan menjadi kelas dua. Dia pun memberikan tips agar freelancer berubah kelas menjadi pemilik (owner).

Selain kiat agar lebih bonafit, untuk menjadi owner, freelancer bisa sharing jobs (berbagi pekerjaan, baik dengan programmer, penulis, dll). Karena dengan sharing jobs kita bisa meningkatkan perekonomian kita. Ketika freelancer bisa dengan mudah menjalankan semua kerjaannya, maka ketika menjadi owner, seorang freelancer akan lebih fleksibel.

Langkah berikutnya agar freelancer menjadi lebih mandiri dengan membuka usaha sendiri adalah menjaga integritas. Misalnya jangan terlambat dari deadline, juga member tenggat waktu yang pasti bagi rekan-rekan freelancer yang sudah sharing jobs.

Di sinilah tahapan seorang freelancer menjadi owner saat orang tersebut bisa memanage (mengatur) orang atau karyawan. Dan yang terakhir adalah Performa, Berkaitan dengan performa itu akan berbanding lurus dengan kualitas pekerjaan dan output yang kita hasilkan. Jika performa sudah baik maka dengan sendirinya anda sudah mencapai cita-cita menjadi owner.

Pembicara Ketiga dan Keempat adalah Mas Anas dan Mas Leo dari  Dimana  mereka menyampaikan perbedaan kompas.com dan http://www.kompas.id. Dimana kompas.com lebih ke berita online yang sangat bergantung pada kecepatan waktu dan kekinian berita. Sedangkan kompas.id adalah laman milik harian Kompas versi Digital e-paper. Jadi meski masih dalam satu payung Kompas Grup, namun beda manajemen.

Saya tidak akan menyampaikan rahasia bagaimana Mas Anas dan Mas Leo, mengelola ribuan artikel karena itu menyangkut rahasia perusahaan. Jadi hanya baik untuk dikonsumsi WPJKT13 aja ya (off thr record), karena kan nanti banyak ditiru media online lain.

Setelah selesai acara, masing-masing pembicara mendapat souvenir dari Dewa Web. Ada  Yasa dan Natasha yang hadir mewakili Dewa Web. Saya pun berbincang lama dan minta no kontak teman-teman peserta #WP13JKT di bloknote biru yang merupakan hadiah dari Wordcamp 2017 Sunter. Namun, karena catatan biru saya hilang di hotel Alana Jogjakarta, maka saya tidak ada kontak satu pun dengan mereka. (Semoga Tuhan tidak memaafkan pencuri itu…).

Acara yang berlangsung sampai malam ini seru dan gayeng. Makanannya juga sederhana, ada aneka minuman dengan beragam pilihan. Menyenangkan dan penuh keakraban. Usai tanya jawab, kita pun foto bersama dengan salam khas kita. Salam WordPress atau salam W.

Setelah acara WPjkt13 masih adalagi WP berikutnya yaitu WPJKT14 meetup dengan tema Optimalization and PWD yang dilaksanakan di kantor Dewaweb Kebon jeruk, dengan sponsor Dewaweb dan Google. WPJKT15 juga tidak kalah serunya mengambil tema SEO (Search Engine Optimalization, Amp dan Adsense) yang dilaksanakan di kantor Google Indonesia, WPJKT16 mengambil tema  Woo Commerce For Newbie dan Terakhir WPJKT17 mengulas tentang aplikasi android dengan WordPress.

Bulan Bersinar di Pagi Hari

Posted: October 26, 2018 by Eva in Rumah
Tags:

Apakah anda pernah merasa aneh, ketika bangun pagi melihat ke langit sebelum fajar dan matahari terbit di sebelah timur, anda menengok ke bumi bagian barat masih ada bulan bersinar terang.

Itulah yang kurasakan pagi ini. Pukul 04.50 atau jam lima kurang sepuluh, di belahan bumi bagian barat masih ada bulan yang bersinar terang dan sempurna. Di tengah langit biru, abu-abu dan semburat lembayung. Sungguh saya takjub dengan anugerah Yang Maha Kuasa.

Saya tidak menyangka jika bisa melihat sinar bulan di pagi hari  dan mengabadikannya. Terburu – buru saya pun menutup gawai dan masuk ke dalam rumah.

Jum’at 26 Oktober 2018

Pukul 07.01

Kompor gas yang saya miliki sudah lama, sekitar 12 tahun. Sudah lama saya sering bermasalah dengan karat dan lemak yang menempel sulit dihilangkan. Tidak seperti kompor model baru yang bahan dasarnya bening dan mudah dilap, kompor ini warnanya hitam pekat.

Dulu suka saya sikat, cuma kadang sakit sampai pegel apalagi kalau nyentuh ujung-ujungnya jeruji yang buat nyala api. Nah, belum lama ini saya menemukan cara cepat menghilangkan karat.

Rebus air secukupnya hingga mendidih, lalu anda masukkan asam sitrat. Rendam  tatakan jeruji itu sekitar 3 – 5 jam. Diamkan cukup lama. Setelah itu sikat pelan-pelan pakai sikat gigi bekas. hingga karat yang membandel mengelupas. Jangan pakai sabun ya…

Nah jika sudah bersih, lalu jemur di panas matahari dan coba lihat. Karatnya bisa hilang tidak? Selamat mencoba ya, semoga bermanfaat terutama buat ibu-ibu yang suka memasak..

Kanigoro, 25 Oktober 2018

Pukul 18.16 WIB

Bila Harimu Penuh Warna

Posted: October 25, 2018 by Eva in Inspirasi, Seni
Tags: ,

Melihat bunga warna warni ini sangat menyegarkan mata. Meski ini bunga yang berada di pinggir jalan, tapi bunga ini milik orang yang punya rumah.

Aku melewatinya saat berjalan beberapa hari yang lalu menyusuri jalan Madura. Ada beragam warna yang aku suka.

Jadi ingat lagi Armada yang liriknya…

Bayangkan bila harimu penuh warna
Itulah yang saat ini ku rasakan..

Lanjutkan sendirinya lagunya 🎶🎵🎼semoga kita yang menyukai beragam warna terhindar dari kebencian….

25 Oktober 2018

08.05

Ketika Matahari Beranjak Naik

Posted: October 24, 2018 by Eva in Inspirasi, Rumah
Tags:

Semangat menyambut hari kamis teman-teman. Saya sangat bahagia tiap hari hujan terus meski sebentar. Tiga hari berturut – turut kemarin hujan memberi kesejukan bagi bumi yang sudah lama kering.

Ketika hati kita bahagia, maka apapun yang ada di depan kita terlihat istimewa. Seperti cahaya matahari yang mulai terbit menyinari pagi yang cerah.

Rencanakanlah hidup anda sebelum direncanakan orang lain. Selamat beraktivitas sahabat semuanya. Semoga rencana kita hari ini berjalan lancar.

Blitar 25 Oktober 2018

Era Reformasi Bukan Basa Basi

Oleh : Qasidah Palapa

Era Reformasi bukan basa basi
Era Reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita salah arti

Era Reformasi bukan basa basi
Era Reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita salah arti

Politik Ekonomi
Sering jadi ambisi
Janganlah reformasi
Untuk hajat pribadi

Jangan cuma bicara
Tanpa bukti yang nyata
Siapa yang akan percaya
Tak kan ada yang percaya

Era reformasi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai kita salah arti
Kita salah arti

Politik ekonomi sering jadi ambisi
Janganlah reformasi untuk hajat pribadi

Jangan cuma bicara

Semua orang bisa

Tanpa bukti yang nyata

Siapa yang kan percaya

Tak ka nada yang percaya

Era reformasi bukan basa basi
Era reformasi bukan basa basi
Bergema dalam negeri
Ingat jangan sampai
Kita salah arti
Kita Salah arti

Simak lagunya ya

*) Saya bukan aktivis ’98, saat itu saya masih kelas 3 SMA, jadi ini sekedar mengingatkan saja mohon maaf jika ada yang kurang berkenan

 

Jika anda memiliki barang yang mudah pecah atau retak karena tidak sengaja terjatuh atau karena air suhu tinggi saat dipakai merebus, maka anda jangan langsung membuang atau tidak memakainya lagi keramik atau tembikar itu.

Karena selain barang yang terbuat dari tanah liat itu rapuh dan  memiliki nilai seni tradisional pembuatnya, barang tersebut juga sangat bermanfaat.

Contohnya tembikar retak dibawah ini karena kepanasan usai menampung air panas saat menggodok daun. Cukup lama didiamkan, beberapa waktu yang lalu saya mengoleskan putih telur di dalam dan diluar. Setelah itu saya jemur.

Namun, tidak puas dengan putih telur. Saya mencoba dengan satu cara lain agar  tembikar ini benar-benar rekat dan menyatu, sehingga besok bisa dipakai lagi. Hari ini saya mencoba mengoleskan agar-agar dan cuka untuk memperbaiki keretakan tembikar.

Pertama-tama ambil satu bungkus agar-agar. Lalu campur dengan tiga sendok cuka. Lalu aduk-aduk hingga membuat satu adonan. Lalu oles-oles ke dalam tembikar yang pecah atau retak.

Jika sudah dioles, langkah berikutnya adalah jemur dalam cuaca panas atau terik matahari hingga mengering.

Silahkan mencoba ya, jaga perabotan anda dengan baik dan hati-hati menyimpan peralatan rumah tangga.
23 Oktober 2018

Antara Kesetaraan dan Kebebasan

Posted: October 23, 2018 by Eva in Artikel

Alexis De Tocqueville, seorang pemikir besar Prancis yang sangat berpengaruh pernah menulis dalam pemikirannya tentang Revolusi, Demokrasi dan Masyarakat sebagai berikut.

1540258364732

Semua orang berkomentar bahwa pada zaman kita, dan terutama di Prancis, hasrat akan kesetaraan ini makin mendapat tempat di hati manusia. Sudah ratusan kali dikatakan bahwa orang yang sezaman dengan kita terikat secara jauh lebih bersemangat dan erat kesetaraan ketimbang kepada kebebasan; namun ketika saya tidak melihat bahwa penyebab fakta telah dianalisis secara memadai,saya akan berupaya memperlihatkannya.

Tidak mustahil kita membayangkan titik ekstrem tempat kebebasan dan kesetaraan bertemu dan berbaur. Marilah kita beranggapan bahwa semua anggota komunitas mengambil bagian dalam pemerintahan dan masing-masing memiliki hak yang setara padanya.

Ketika tiada seorangpun yang

berbeda dari rekan-rekannya, tiada

seorangpun  yang bisa menjalani

tirani manusia akan bebas secara

sempurna karena mereka akan

sepenuhnya setara; dan mereka

akan semua sempurna, karena

mereka akan sepenuhnya bebas. 

Dia mengambil contoh dari negara demokratis seperti Amerika Serikat.

Menurut Tocquoville menuju keadaan ideal inilah negara-negara demokratis terarah itulah bentuk terlengkap yang bisa dicapai oleh kesetaraan di muka bumi; namun ada ribuan kesetaraan lain yang tanpa menjadi benar-benar sempurna, tidak kurang dihargainya oleh negara – negara itu.

 

Selamat hari Selasa WP reader, sarapan apa pagi ini? yuk masak ikan tongkol pindang blimbing wuluh biar semangat kerja hari ini.

 

Di sini tadi pagi hujan gerimis saat saya mau ke luar rumah belanja ke pasar Kanigoro karena bakul ethek (tukang sayur keliling) gak datang.  Hari ini rencana saya mau masak oseng kangkung sama ikan tongkol pindang dan tempe goreng.

Aku suka banget masak ikan ini karena bikin makan nambah. Kecut-kecut blimbing wuluh seger banget. Kalau kangkung udah banyak yang tahu resepnya, apalagi tempe goreng gampang bikinnya jadi gak usah aku tulis.

Resep ikan tongkol pindang blimbing wuluh

Dua keranjang ikan tongkol pindang (8-10 ekor) di goreng, santan 100 ml direbus.

Bumbu halus: bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, garam, gula.

Bumbu iris: Blimbing wuluh, cabe hijau, lombok.

Masukkan bumbu halus, gongso sampai warna kekuningan, masukkan santan, ikan aduk-aduk sampai meresap. Lalu masukkan belimbing wuluh, cabe hijau dan lombok.

Setelah itu aduk aduk agak lama sampai asat (airnya megental) lalu matikan kompor angkat dan hidangkan. Dimakan hangat-hangat enak.

Yuk selamat pagi selamat sarapan

Blitar 23 Oktober 2018

Pukul 07.58

Tangi…tangi…tangi…

(bangun…bangun…bangun) suara itu sampai sekarang masih selalu kuingat ketika masa awal-awal mondok di PP Sunan Pandanaran Jogja.

Perempuan kurus tinggi, berambut panjang berkulit coklat merupakan sosok yang sangat terkenal di komplek putri.

Dia adalah Mbak Maesaroh, santri yang sudah sangat senior tinggal di komplek putri. Dia adalah orang kepercayaan Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud untuk menegakkan tata tertib dan aturan santri putri.

Komplek kami berada di dekat rumah Bapak Ndalem. Jadi kalau nderes mengaji subuh dan sore tinggal jalan sebentar ke dekat rumah Bapak.

Namun, karena santrinya banyak maka ada ritual beragam tentunya sebelum mengaji Al-qur’an dan mempersiapkan sekolah. Di situlah peranan kepala keamanan pondok putri sangat diandalkan. Yaitu membangunkan santri dan mendisiplinkan dalam segala hal baik sarapan pagi, makan siang dan juga sholat.

Aku yang masih usia 12 – 15 tahun saat itu selalu takut jika berjumpa Mbak Maesaroh. Jika kita santri di dalam santai dan sibuk sendiri atau bermain dengan santri lain saat ada Mbak Maisaroh semua takut. Bubar…bubar…. geli kalau ingat.

Bagaimanapun juga di komplek putri harus ada perempuan yang berani seperti Mbak Maesaroh yang tanggung jawab penuh atas ketertiban dan kedisipilinan. Dimana para santri Hufadz (Tahfidz 30 juzz) setiap saat ada di komplek putri tahu betul perkembangan tiap komplek.

Ada komplek putri dimana aku tinggal namanya SQL (Sekolah Luar) ada Mts Pandanaran, ada Madrasah Aliyah SPA (MASPA) dan ada Khuffadz (Hafalan 30 juzz) (semoga gak salah tulis). Kita semua sama rasa seperjuangan di Candi jalan Kaliurang.

Kini setelah 26 tahun tahun lewat (1992-2018) saya merasakan manfaat ketika di pondok dulu. Sama halnya kenangan tentang Mbak Maesaroh. Santri perempuan yang tegas dan bersahaja. Saat saya keluar tahun 1995 dia masih memimpin kepala keamanan komplek putri, entah setelah itu siapa penggantinya.

Selamat hari santri buat Mbak Maesaroh dan alumni PPSPA Jogja.

22 Oktober 2018
Pukul 20.00

“Ketika aku menembak, aku melihat seorang jatuh. Aku gemetar hingga ujung kaki, dan aku merasa sangat kedinginan..itu adalah kali pertama aku membunuh seseorang, -Anonim, milisi Thomas Lubanga, Kongo.

Judul : Anak – Anak Peluru ( Fenomena Tentara Anak di Dunia)

Penulis: Heri Sudiono dan Rini Rahmawati

Penerbit : Mata Padi Pressindo, Jogjakarta

Edisi : 2015

Ketika dilahirkan ketika dunia apakah pernah memilih akan menjadi anak siapa? Rahasia itu adalah milik semua anak yang suci dilahirkan ke dunia. Menjadi anak bangsawan atau lahir di tengah suasana medan perang dimana orangtua meninggal terhunus senjata tajam.

Perang yang Mereka Tidak Pahami

Inilah buku yang mengupas tentang anak-anak yang yang telah menjadi korban dari salah satu aksi terburuk dalam banyak konflik bersenjata di dunia. Pembunuhan, ritus kekerasan merupakan pengalaman sehari-hari anak ini di tengah kecamuk perang yang tidak mereka pahami. Satu-satunya hal yang mereka ketahui adalah mereka harus terus patuh dan terus membunuh demi kelangsungan hidup.

Terlepas dari motivasi setiap perjuangan buku yang membuat pembaca ngilu jika ini terdiri dari empat bab. Pertama, Anak-anak peluru, bercerita tentang tentara anak dalam perang di empat benua yaitu Afrika, Asia, Eropa dan Amerika Latin.

Bab kedua berjudul “Mereka yang terjerumus: Kisah kelam tentara anak”,  bab tiga tentang “Kerja Lembaga – Lembaga Internasional”.  Bab empat “Rintihan Yang Masih Terdengar” yang membahas tentang GVSV di Kongo, anak kartel di Brazil, gerakan sipil dan pemimpin tradisional, kendala dalam usaha rehabilitasi, anak-anak dan trauma, serta pencegahan dan perekrutan anak dan bab kelima berisi “Kesaksian Setiap Tentara Anak” (ungkapan seperti di kalimat pembuka tulisan ini, 89-108).

Saya membaca buku ini tidak dari awal, langsung ke bab lima itu, sangat tidak menyangka ada buku yang menceritakan pengalaman luar biasa anak-anak yang dilahirkan penuh nestapa dan derita.

Mereka dididik menjadi bengis, menjadi pembunuh, akrab dengan senjata, alat penyoksa, tongkat, kawat berduri rantai serta belenggu.

Lokasi perang pun berbeda-beda. Ada yang dari milisi Kongo, FARC Kolombia, RUF, Sierra Leone, LRA Sudan, Renamo, Mozambik, Angkatan bersenjata Myanmar, Sandinista Venezuela, Girl Soldier Srilanka, tentara anak di Najaf Irak, tentara anak tahanan pasukan Israel di luar Ramallah.

Selain itu ada juga anak tentara yang berperang di Angola, Meksiko, dan juga informan anak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Indonesia yang masih berusia 17 tahun ada juga pengakuannya di buku ini ( halaman 98).

Tangan Kecil Berlumuran Darah

Perang telah merenggut mereka, menjerumuskan mereka ke dalam wilayah terkelamnya dan menghadirkan narasi kemanusiaan yang terburuk.Konflik berkepanjangan fisik maupun bathin menyisakan trauma mendalam.

Tangan-tangan kecil yang seharusnya menggenggam mainan dan buku pelajaran itu kini mengokang logam panas yang memuntahkan peluru, golok dingin pengooyak tubuh dengan jari berlumuran darah.

Tidak Ada Data Akurat

Tidak pernah ada catatan yang pasti tentang berapa banyak anak yang telah dilibatkan dalam semua konflik bersenjata di abad ini, tetapi kepedihan mereka menjadi catatan buruk dari setiap konflik.

Kesaksian pedih harus mereka alami terus hadir. Erang lirih dari balik barak militer menghadirkan horor kemanusiaan yang tidak terbayangkan. Kesaksian pemerkosaan yang dialami anak perempuan dan menjadi eksekutor terhadap orang yang mereka cintai.

Meski buku ini ada kelemahan karena bukan pengalaman pribadi, namun saya sangat apresiatif karena penulis buku ini menulis untuk tugas akhir kuliah Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman.

Meski kini perang senjata sudah tidak sebanyak dulu, namun kini perang melawan kepongahan perusak lingkungan justru sulit dilawan. Padahal korban bencana alam jumlahnya ribuan, mereka juga harus diselamatkan begitu juga  milyaran manusia sekarang ini harus berjuang dengan iklim yang tidak  menentu, pangan yang kian sulit dan sumber daya mineral dan non mineral kian menipis.

22 Oktober 2018

Pukul 09.32

 

Ketika bangun pagi ada banyak hal yang kita lakukan selain aktivitas rutin. Namun kemarin pagi terasa tidak biasa karena saya bisa menyaksikan momen istimewa yaitu menyaksikan fajar menyingsing sebelum matahari terbit.

Sekitar  pukul lima pagi lebih sedikit, cuaca masih agak gelap, semburat fajar berwarna jingga memenuhi langit. Warnanya hampir sama dengan lembayung senja ketika matahari terbenam itu kesan pertama kali saya melihat munculnya fajar pagi  menyambut kehidupan.

Warna orange keemasan sangat indah berpadu dengan langit yang masih gelap dan putihnya awan menjulang di angkasa.

Saya merasa sangat bersyukur bisa melihat fajar pagi, menyambut matahari terbit dan siap menjalani hari-hari yang panjang.

22 Oktober 2018

Pukul 06.38

 

Embun Pagi Sisa Hujan Semalam

Posted: October 21, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah
Tags: ,

 

Semalam saya terjaga tengah malam. Ketika hujan turun deras namun sebentar. Saya langsung keluar rumah dan sangat gembira setelah hampir dua bulan hujan jarang turun.

 

Saat subuh tiba, taman depan rumah bersukacita. Embun pagi hinggap di setiap dedaunan dan kelopak bunga. Pagi ini saya semangat dan gembira.

Selamat hari minggu….

 

 

Menggadaikan Bumi

 

Gempa Tsunami Aceh, 2006

Allah menciptakan bumi

Dengan segala isinya

Manusia menghuni dan beranak pinak

Menanami dengan sukacita

 

Orang serakah menggali tanah

Untuk gaya hidup yang mewah

Hingga akhirnya bumi marah

Murka dengan bencana dan musibah

 

Berulangkali diperingatkan

Kedzaliman dan kesombongan

Paling sulit dihilangkan

Bagi orang yang terbius Kenikmatan

 

Kini setelah bumi digali, digadaikan

Alam menjadi tidak seimbang dan goyang

Ribuan manusia meninggal terlupakan

Membayar bumi yang tergadaikan

 

Apa yang lebih mengerikan

Selain trauma kehilangan

Melihat tangisan korban bencana

Diceraikan alam dengan kejam

 

Jika Allah menciptakan alam

Memberi nyawa manusia untuk hidup

Mengambil nyawa dengan bencana

Disitulah makna peringatan Tuhan semesta Alam

 

Kita jangan berputus asa

Semoga Allah maha mendengar

Kita bisa bangkit dari keterpurukan

Dari aneka bencana yang datang

 

Wahai Tuhan Penguasa Alam

Kembalikan bumi yang telah digadaikan

Oleh orang yang serakah dan berutang

Izinkan kami  tinggal sampai sisa Akhir kehidupan

 

Perpustakaan Veteran, 19 Oktober 2018

Pukul 10.04

 

 

 

 

Langkah demi langkah
Telah ku telusuri
Masa demi masa
Aku lalui begitu banyak

Segala hinaan yang  kualami

Tanya demi tanya
Semua telah kudaki
Jatuh dan bangun
Tegar kembali

Betapa pedih luka dan derita
Yang telah kujalani
Namun kini penderitaan serta hinaan
Berganti kebahagiaan dan kemuliaan

Air mata menjadi permata
Kebencian menjadi cinta
Bila hidup di dalam dunia
Bak sandiwara

Selamat tinggal kesengsaraan
Selamat tinggal penderitaan
Terimakasih atas pengalaman
Yang kau berikan

Reff:
Namun kini penderitaan serta hinaan
Berganti kebahagiaan dan kemuliaan
Air mata menjadi permata
Kebencian menjadi cinta
Bila hidup di dalam dunia
Bak sandiwara

Selamat tinggal kesengsaraan
Selamat tinggal penderitaan
Terimakasih atas pengalaman
Yang kau berikan

Kini terbukti cinta yang kualami
Bukannya mimpi
Lautan api telah menjadi
Taman surgawi

Apa yang dirindukan jika jauh dari Pamulang? salah satunya adalah makanan andalan kalau lagi malas  masak yaitu Kupat Tahu Magelang. Biasanya beli di Cilandak dekat Bona.

Di sini saya pun mencoba membuatnya sendiri meski baru pertama kali dan lumayan pegel dan cukup lama masaknya pagi tadi sampai 1,5 jam.

Dari mulai mencuci bersih bahan dasar seperti tauge (disiram air panas), tahu di goreng, kol dicuci lalu di goreng, seledri di iris, kacang tanah dan bawang merah digoreng.

Setelah itu membuat bahan bakwan berupa irisan wortel, kol, tepung, bawang daun di campur lalu di goreng. Setelah kering dan mengeras di potong-potong bakwannya.

Kuah gula juga mudah, rebus gula jawa 5 sendok dengan 70 ml, laos dan daun salam sampai mendidih lalu saring. Setelah itu siapkan bahan utama tauge, kol, tahu. Siapkan dengan rebusan gula dan bakwan yang telah dipotong.

Ambil bawang putih, lombok rawit sesuai selera jika suka pedas ambil beberapa, jika tidak suka pedas ya tidak usah pake lombok. Ulek halus dengan garam dan kacang. Ulek dipiring yang tidak mudah pecah.

Sajikan Hangat-hangat

20181018_074443

Karena disini gak ada ketupat saya ganti lontong. Potongi kecil-kecil. Hidangkan dengan menu utama yang disebutkan di atas bumbu halus. Masukkan bakwan dan siram dengan kuah gula. Aduk-aduk semua lalu sajikan dengan hangat. Taburkan irisan seledri dan bawang goreng.

Setelah mencoba lumayan pegal pas bikin bakwan karena gorengnya lama dengan api kecil jangan sampai gosong.

Jadi penasaran kapan-kapan pengen bikin lagi karena pertamakali puas dan kenyang. Cocok buat sarapan pagi atau makan malam. Selamat masak, silahkan mencoba ya…

Kanigoro 18 Oktober 2018

Pukul 20.29

 

“65 % kebahagiaan manusia ditentukan oleh lingkungan alam. Terutama oleh Pertanian dan Peternakan,” Eka Budianta, Budayawan, Kolumnis Trubus. 

Pergeseran gaya hidup yang sudah lama ditinggalkan rakyat Indonesia karena banyak yang melakukan urbanisasi ke kota besar menjadi buruh pabrik, pekerja otomotif, atau bekerja  di industri dengan teknologi maju di berbagai bidang  perlahan-lahan tapi pasti mulai mengalami pergeseran meski belum revolusioner.

Godaan gaji besar, gaya hidup hedonisme bertabur kemilau berlian dan nikmatnya jalan-jalan, senang-senang sepertinya masih akan lama untuk disadarkan. Entah jika Tuhan sudah memperingatkan  sesudah bencana beruntun yang menimpa ribuan korban gempa tsunami di Lombok, Sulawesi Tengah dan Jawa Timur beberapa  waktu terakhir.

Namun, saya percaya jika selama ini kembali ke desa, atau berkebun ditanah seadanya,  tidak hanya milik kaum petani di kampung. Masyarakat korban perkotaan juga sudah banyak yang menerapkan gaya hidup hijau, baik hijau di rumah, hijau pengelolaan sampah dan hijau alamiah dengan gaya hidup yang sederhana.

Dalam opini tetap seputar agribisnis yang berjudul “Hijau Tangguh” yang ditulis oleh Eka Budianta, masyarakat di Indonesia dan juga dunia menulis tentang perkembangan pesat luar biasa bisnis hijau.

Di mulai dengan konferensi Kota Hijau di Warsawa Polandia, Pak Eka menulis dengan semangat perkembangan terkini industri hijau seperti terapi hortikultur, chemo garden, forest bathing, dan aneka agrowisata.

Bangunan Hijau

Semalam saya melihat ada upaya membangun rumah bambu bagi korban bencana gempa tsunami itu membuat saya tertarik membaca tulisan Trubus edisi Oktober 2018 ini. Eka Budianta menjelaskan jika di Jepang dan Singapura berdiri konstruksi rumah sakit dengan tanaman di dinding, kebun dan ikan-ikan parit di atapnya.

Lomba kebersihan di galakkan, biopori hidroponik, daur ulang dan gaya hidup hijau menyeruak ke seantero nusantara. kampung hijau dan disiplin, rajin dan semangat sukses di Malang dan Surabaya.

Meningkatnya Indeks Bahagia

Pada 2017 kemarin Indonesia, menduduki peringkat ke-81 dari 155 negara. Ada 10 aspek kehidupan essensial yang diperhitungkan. Mulai dari kesehatan, penghasilan, harmonis keluarga, hubungan sosial, kondisi rumah dan lingkungan, bahkan ketersediaan waktu luang.

Peningkatan produksi dan konsumsi buah dan sayur di pelosok negeri sangat berpengaruh untuk meningkatkan indeks bahagia orang Indonesia. Kata Pak Eka di Sangeh bali ada program forest bathing, dimana disana ada hutan pala yang menjadikan udara memiliki kandungan positif bagi tubuh manusia.

Untuk lengkapnya beli majalah Trubus ya biar puas, bisa belajar berkebun dan menerapkan gaya hidup hijau. Selamat membaca dan terimakasih Pak Eka Budianta.

Perpustakaan Veteran, 16 Oktober 2018

Pukul 14.39

 

Pada majalah Trubus edisi September 2018, Dwi Andreas Santosa menulis tentang kebijakan pangan di Indonesia dalam dasawarsa tigapuluh tahun terakhir. Dalam artikel berjudul “Demi Padi”.

Andreas Santosa mengupas pertanian dari mulai meningkat produksi padi dan menekan impor serta aneka program seperti subsidi pupuk, perbaikan irigasi dan bantuan lainnya, yang berakibat pada peningkatan tajam sebesar 611 % pada periode 2004-2013.
Dalam hal ini pembangunan infrastruktur ke perbaikan jaringan irigasi, waduk dan pencetakan sawah sangat dirasakan petani.

Mereka yang senang dengan pembangunan infrastruktur buat petani adalah petani swasembada Pajale (Padi, Jagung, Kedelai). Anggaran pertanian yang meningkat dan program “Lumbung Pangan Dunia” yang diharapkan tercapai 2045 yang paradigmanya sama dengan kebijakan negara lainnya yaitu ketahan pangan (food security), atau yang sekarang biasa disebut sebagai kedaulatan pangan (food sovereignty).

Andreas Santoso juga menjelaskan konsep yang diadopsi negara-negara lainnya ketahanan pangan Indonesia diletakkan dalam kerangka perdangan internasional sebagaimana diatur World Trade Organization. Dimana menurut saya semua proses distribusi pangan bagi negara yang kekurangan pangan banyak diatur dalam sistem ekonomi yang dianut IMF-World Bank.

Data Akurat

Selain akuratnya segala hal kebutuhan petani, hasil panen, sistem perdagangan, Andreas Santoso yang merupakan guru besar juga menulis tentang data stagnasi dan turun naik produksi pane, menyangkut luas panen padi di tahun 2017 yang mengalami peningkatan mencapai 15,8 juta hektare, tetapi dari hasil citra satelit hanya 11,3 juta atau selisih 4,5 juta hektare.

Kajian data selama 17 tahun, keputusan impor dan volume beras impor panjang lebar dikupas Andreas Santoso yang menulis tentang padi atau beras tidak sebatas apa yang kita makan namun melalui distribusi yang panjang sampai dengan satgas pangan. Saya juga baru tahu jika pertumbuhan penduduk terus naik 1,49 % pertahun, di tengah stagnasi produksi padi. bahkan sampai margin perdagangan dan pengangkutan juga dikupas dengan data yang sangat lengkap.

Gandum

Hal lain yang cukup mengkhawatirkan adalah jika beras mahal terjadinya pergeseran konsumsi pangan pokok masyarakat Indonesia yang semula aneka pangan di dominasi beras bergeser ke gandum. Indonesia saat ini menjadi importir gandum terbesar di dunia dengan volume 12,5 juta ton pada 2017.

Menurut Andreas Konsumsi aneka olahan gandum justru meningkat dan menjadi pilihan sebagai cadangan bagi rumah tangga. Pasar beras yang relatif baik justru hancur akibat intervensi satgas pangan akibat kebijakan berlandaskan asumsi salah terkait produksi dan pergerakan harga.

Perpustakaan Veteran, 16 Oktober 2018

Pukul 13.51

Desa Jadi Kota (Tembang Sunda)

Posted: October 15, 2018 by Eva in Seni
Tags: , ,

Jauh tinggal di perantauan membuat aku kadang tidak bisa menahan rindu dengan suasana kampung halaman bumi Pasundan Sukabumi.

Mencari momen – momen berharga saat di kampungku yang sudah tidak sehijau dulu membuat aku melamun, setelah hampir tiap hari dengar lagu Jawa Timuran, kini aku memutar lagu degung, dan tembang sunda untuk mengobati kerinduan.

Yang nyanyi anak kecil suaranya bagus tapi gak tahu namanya, hanya ada nama penyanyi aslinya. Semoga berkenan. Ceuk urang Sunda mah keur sono ka lembur ceunah euy urang teh hehehe….

Desa jadi Kota – Kustian

Tah di dinya baheulamah
Saur emak saur bapak
Aya kebon cikur
Aya kebon sawah
Susukana heurang
Tempat urang
Kokojayan arulin
Jeung babaturan

Tuh di ditu baheulamah
Saur emak saur bapak
Gunung meuni hejo
Hantap meuni waas
Meuni waas
Rea sasatoan
Tempat paniisan urang
Arulin jeung babaturan

Ayeunamah beda jeung baheula
Rupa desa tos geus robahna jadi kota
Na kamana kebon sawah
Nu ngeplak mapaes endah
Na kamana ci susukan
Nu heurang cai ngagenclang
Na kamana gunung leuweung
Nu subur ku tatangkalan
Jeung kamana sasatoan nu
Reang teba- tebaan

Na kamana
Kiwari tinggal carita

Lirik Lagu
Siapa sangka menjadi begini
Siapa duga kita kan berpisah
Tak Percaya biarpun kenyataan
Yang pastinya ku kan kehilanganmu

Kita sebungbung
Tapi tak bersama
Kita bercinta tapi tidak sekata

Tunggu setahun hilang
Sekerlip mata
Lautan kasih
Disapa kemarau

Kukuderita kau kau berpulang
Diriku menangis engkau tertawa
Kau-kau aku sayang
kukukusingkirkan
Siksa aku selamanya

Kuku tak menduga
Kau kau telah berubah
Dalam diam kau menolak cintaku

Aku sadar siapalah diri ini
Bagaikan titik di sisimu

Dan kau merasa nyaman
Ku tak disenangi
Kusapu air mata
Tanda perpisahan

IMG-20170628-WA0006