Jika anda memiliki barang yang mudah pecah atau retak karena tidak sengaja terjatuh atau karena air suhu tinggi saat dipakai merebus, maka anda jangan langsung membuang atau tidak memakainya lagi keramik atau tembikar itu.

Karena selain barang yang terbuat dari tanah liat itu rapuh dan  memiliki nilai seni tradisional pembuatnya, barang tersebut juga sangat bermanfaat.

Contohnya tembikar retak dibawah ini karena kepanasan usai menampung air panas saat menggodok daun. Cukup lama didiamkan, beberapa waktu yang lalu saya mengoleskan putih telur di dalam dan diluar. Setelah itu saya jemur.

Namun, tidak puas dengan putih telur. Saya mencoba dengan satu cara lain agar  tembikar ini benar-benar rekat dan menyatu, sehingga besok bisa dipakai lagi. Hari ini saya mencoba mengoleskan agar-agar dan cuka untuk memperbaiki keretakan tembikar.

Pertama-tama ambil satu bungkus agar-agar. Lalu campur dengan tiga sendok cuka. Lalu aduk-aduk hingga membuat satu adonan. Lalu oles-oles ke dalam tembikar yang pecah atau retak.

Jika sudah dioles, langkah berikutnya adalah jemur dalam cuaca panas atau terik matahari hingga mengering.

Silahkan mencoba ya, jaga perabotan anda dengan baik dan hati-hati menyimpan peralatan rumah tangga.
23 Oktober 2018

Advertisements

Antara Kesetaraan dan Kebebasan

Posted: October 23, 2018 by Eva in Artikel

Alexis De Tocqueville, seorang pemikir besar Prancis yang sangat berpengaruh pernah menulis dalam pemikirannya tentang Revolusi, Demokrasi dan Masyarakat sebagai berikut.

1540258364732

Semua orang berkomentar bahwa pada zaman kita, dan terutama di Prancis, hasrat akan kesetaraan ini makin mendapat tempat di hati manusia. Sudah ratusan kali dikatakan bahwa orang yang sezaman dengan kita terikat secara jauh lebih bersemangat dan erat kesetaraan ketimbang kepada kebebasan; namun ketika saya tidak melihat bahwa penyebab fakta telah dianalisis secara memadai,saya akan berupaya memperlihatkannya.

Tidak mustahil kita membayangkan titik ekstrem tempat kebebasan dan kesetaraan bertemu dan berbaur. Marilah kita beranggapan bahwa semua anggota komunitas mengambil bagian dalam pemerintahan dan masing-masing memiliki hak yang setara padanya.

Ketika tiada seorangpun yang

berbeda dari rekan-rekannya, tiada

seorangpun  yang bisa menjalani

tirani manusia akan bebas secara

sempurna karena mereka akan

sepenuhnya setara; dan mereka

akan semua sempurna, karena

mereka akan sepenuhnya bebas. 

Dia mengambil contoh dari negara demokratis seperti Amerika Serikat.

Menurut Tocquoville menuju keadaan ideal inilah negara-negara demokratis terarah itulah bentuk terlengkap yang bisa dicapai oleh kesetaraan di muka bumi; namun ada ribuan kesetaraan lain yang tanpa menjadi benar-benar sempurna, tidak kurang dihargainya oleh negara – negara itu.

 

Selamat hari Selasa WP reader, sarapan apa pagi ini? yuk masak ikan tongkol pindang blimbing wuluh biar semangat kerja hari ini.

 

Di sini tadi pagi hujan gerimis saat saya mau ke luar rumah belanja ke pasar Kanigoro karena bakul ethek (tukang sayur keliling) gak datang.  Hari ini rencana saya mau masak oseng kangkung sama ikan tongkol pindang dan tempe goreng.

Aku suka banget masak ikan ini karena bikin makan nambah. Kecut-kecut blimbing wuluh seger banget. Kalau kangkung udah banyak yang tahu resepnya, apalagi tempe goreng gampang bikinnya jadi gak usah aku tulis.

Resep ikan tongkol pindang blimbing wuluh

Dua keranjang ikan tongkol pindang (8-10 ekor) di goreng, santan 100 ml direbus.

Bumbu halus: bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, garam, gula.

Bumbu iris: Blimbing wuluh, cabe hijau, lombok.

Masukkan bumbu halus, gongso sampai warna kekuningan, masukkan santan, ikan aduk-aduk sampai meresap. Lalu masukkan belimbing wuluh, cabe hijau dan lombok.

Setelah itu aduk aduk agak lama sampai asat (airnya megental) lalu matikan kompor angkat dan hidangkan. Dimakan hangat-hangat enak.

Yuk selamat pagi selamat sarapan

Blitar 23 Oktober 2018

Pukul 07.58

Tangi…tangi…tangi…

(bangun…bangun…bangun) suara itu sampai sekarang masih selalu kuingat ketika masa awal-awal mondok di PP Sunan Pandanaran Jogja.

Perempuan kurus tinggi, berambut panjang berkulit coklat merupakan sosok yang sangat terkenal di komplek putri.

Dia adalah Mbak Maesaroh, santri yang sudah sangat senior tinggal di komplek putri. Dia adalah orang kepercayaan Bapak Ndalem KH. Mufid Mas’ud untuk menegakkan tata tertib dan aturan santri putri.

Komplek kami berada di dekat rumah Bapak Ndalem. Jadi kalau nderes mengaji subuh dan sore tinggal jalan sebentar ke dekat rumah Bapak.

Namun, karena santrinya banyak maka ada ritual beragam tentunya sebelum mengaji Al-qur’an dan mempersiapkan sekolah. Di situlah peranan kepala keamanan pondok putri sangat diandalkan. Yaitu membangunkan santri dan mendisiplinkan dalam segala hal baik sarapan pagi, makan siang dan juga sholat.

Aku yang masih usia 12 – 15 tahun saat itu selalu takut jika berjumpa Mbak Maesaroh. Jika kita santri di dalam santai dan sibuk sendiri atau bermain dengan santri lain saat ada Mbak Maisaroh semua takut. Bubar…bubar…. geli kalau ingat.

Bagaimanapun juga di komplek putri harus ada perempuan yang berani seperti Mbak Maesaroh yang tanggung jawab penuh atas ketertiban dan kedisipilinan. Dimana para santri Hufadz (Tahfidz 30 juzz) setiap saat ada di komplek putri tahu betul perkembangan tiap komplek.

Ada komplek putri dimana aku tinggal namanya SQL (Sekolah Luar) ada Mts Pandanaran, ada Madrasah Aliyah SPA (MASPA) dan ada Khuffadz (Hafalan 30 juzz) (semoga gak salah tulis). Kita semua sama rasa seperjuangan di Candi jalan Kaliurang.

Kini setelah 26 tahun tahun lewat (1992-2018) saya merasakan manfaat ketika di pondok dulu. Sama halnya kenangan tentang Mbak Maesaroh. Santri perempuan yang tegas dan bersahaja. Saat saya keluar tahun 1995 dia masih memimpin kepala keamanan komplek putri, entah setelah itu siapa penggantinya.

Selamat hari santri buat Mbak Maesaroh dan alumni PPSPA Jogja.

22 Oktober 2018
Pukul 20.00

“Ketika aku menembak, aku melihat seorang jatuh. Aku gemetar hingga ujung kaki, dan aku merasa sangat kedinginan..itu adalah kali pertama aku membunuh seseorang, -Anonim, milisi Thomas Lubanga, Kongo.

Judul : Anak – Anak Peluru ( Fenomena Tentara Anak di Dunia)

Penulis: Heri Sudiono dan Rini Rahmawati

Penerbit : Mata Padi Pressindo, Jogjakarta

Edisi : 2015

Ketika dilahirkan ketika dunia apakah pernah memilih akan menjadi anak siapa? Rahasia itu adalah milik semua anak yang suci dilahirkan ke dunia. Menjadi anak bangsawan atau lahir di tengah suasana medan perang dimana orangtua meninggal terhunus senjata tajam.

Perang yang Mereka Tidak Pahami

Inilah buku yang mengupas tentang anak-anak yang yang telah menjadi korban dari salah satu aksi terburuk dalam banyak konflik bersenjata di dunia. Pembunuhan, ritus kekerasan merupakan pengalaman sehari-hari anak ini di tengah kecamuk perang yang tidak mereka pahami. Satu-satunya hal yang mereka ketahui adalah mereka harus terus patuh dan terus membunuh demi kelangsungan hidup.

Terlepas dari motivasi setiap perjuangan buku yang membuat pembaca ngilu jika ini terdiri dari empat bab. Pertama, Anak-anak peluru, bercerita tentang tentara anak dalam perang di empat benua yaitu Afrika, Asia, Eropa dan Amerika Latin.

Bab kedua berjudul “Mereka yang terjerumus: Kisah kelam tentara anak”,  bab tiga tentang “Kerja Lembaga – Lembaga Internasional”.  Bab empat “Rintihan Yang Masih Terdengar” yang membahas tentang GVSV di Kongo, anak kartel di Brazil, gerakan sipil dan pemimpin tradisional, kendala dalam usaha rehabilitasi, anak-anak dan trauma, serta pencegahan dan perekrutan anak dan bab kelima berisi “Kesaksian Setiap Tentara Anak” (ungkapan seperti di kalimat pembuka tulisan ini, 89-108).

Saya membaca buku ini tidak dari awal, langsung ke bab lima itu, sangat tidak menyangka ada buku yang menceritakan pengalaman luar biasa anak-anak yang dilahirkan penuh nestapa dan derita.

Mereka dididik menjadi bengis, menjadi pembunuh, akrab dengan senjata, alat penyoksa, tongkat, kawat berduri rantai serta belenggu.

Lokasi perang pun berbeda-beda. Ada yang dari milisi Kongo, FARC Kolombia, RUF, Sierra Leone, LRA Sudan, Renamo, Mozambik, Angkatan bersenjata Myanmar, Sandinista Venezuela, Girl Soldier Srilanka, tentara anak di Najaf Irak, tentara anak tahanan pasukan Israel di luar Ramallah.

Selain itu ada juga anak tentara yang berperang di Angola, Meksiko, dan juga informan anak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Indonesia yang masih berusia 17 tahun ada juga pengakuannya di buku ini ( halaman 98).

Tangan Kecil Berlumuran Darah

Perang telah merenggut mereka, menjerumuskan mereka ke dalam wilayah terkelamnya dan menghadirkan narasi kemanusiaan yang terburuk.Konflik berkepanjangan fisik maupun bathin menyisakan trauma mendalam.

Tangan-tangan kecil yang seharusnya menggenggam mainan dan buku pelajaran itu kini mengokang logam panas yang memuntahkan peluru, golok dingin pengooyak tubuh dengan jari berlumuran darah.

Tidak Ada Data Akurat

Tidak pernah ada catatan yang pasti tentang berapa banyak anak yang telah dilibatkan dalam semua konflik bersenjata di abad ini, tetapi kepedihan mereka menjadi catatan buruk dari setiap konflik.

Kesaksian pedih harus mereka alami terus hadir. Erang lirih dari balik barak militer menghadirkan horor kemanusiaan yang tidak terbayangkan. Kesaksian pemerkosaan yang dialami anak perempuan dan menjadi eksekutor terhadap orang yang mereka cintai.

Meski buku ini ada kelemahan karena bukan pengalaman pribadi, namun saya sangat apresiatif karena penulis buku ini menulis untuk tugas akhir kuliah Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman.

Meski kini perang senjata sudah tidak sebanyak dulu, namun kini perang melawan kepongahan perusak lingkungan justru sulit dilawan. Padahal korban bencana alam jumlahnya ribuan, mereka juga harus diselamatkan begitu juga  milyaran manusia sekarang ini harus berjuang dengan iklim yang tidak  menentu, pangan yang kian sulit dan sumber daya mineral dan non mineral kian menipis.

22 Oktober 2018

Pukul 09.32

 

Ketika bangun pagi ada banyak hal yang kita lakukan selain aktivitas rutin. Namun kemarin pagi terasa tidak biasa karena saya bisa menyaksikan momen istimewa yaitu menyaksikan fajar menyingsing sebelum matahari terbit.

Sekitar  pukul lima pagi lebih sedikit, cuaca masih agak gelap, semburat fajar berwarna jingga memenuhi langit. Warnanya hampir sama dengan lembayung senja ketika matahari terbenam itu kesan pertama kali saya melihat munculnya fajar pagi  menyambut kehidupan.

Warna orange keemasan sangat indah berpadu dengan langit yang masih gelap dan putihnya awan menjulang di angkasa.

Saya merasa sangat bersyukur bisa melihat fajar pagi, menyambut matahari terbit dan siap menjalani hari-hari yang panjang.

22 Oktober 2018

Pukul 06.38

 

Embun Pagi Sisa Hujan Semalam

Posted: October 21, 2018 by Eva in Lingkungan, Rumah
Tags: ,

 

Semalam saya terjaga tengah malam. Ketika hujan turun deras namun sebentar. Saya langsung keluar rumah dan sangat gembira setelah hampir dua bulan hujan jarang turun.

 

Saat subuh tiba, taman depan rumah bersukacita. Embun pagi hinggap di setiap dedaunan dan kelopak bunga. Pagi ini saya semangat dan gembira.

Selamat hari minggu….

 

 

Menggadaikan Bumi

 

Gempa Tsunami Aceh, 2006

Allah menciptakan bumi

Dengan segala isinya

Manusia menghuni dan beranak pinak

Menanami dengan sukacita

 

Orang serakah menggali tanah

Untuk gaya hidup yang mewah

Hingga akhirnya bumi marah

Murka dengan bencana dan musibah

 

Berulangkali diperingatkan

Kedzaliman dan kesombongan

Paling sulit dihilangkan

Bagi orang yang terbius Kenikmatan

 

Kini setelah bumi digali, digadaikan

Alam menjadi tidak seimbang dan goyang

Ribuan manusia meninggal terlupakan

Membayar bumi yang tergadaikan

 

Apa yang lebih mengerikan

Selain trauma kehilangan

Melihat tangisan korban bencana

Diceraikan alam dengan kejam

 

Jika Allah menciptakan alam

Memberi nyawa manusia untuk hidup

Mengambil nyawa dengan bencana

Disitulah makna peringatan Tuhan semesta Alam

 

Kita jangan berputus asa

Semoga Allah maha mendengar

Kita bisa bangkit dari keterpurukan

Dari aneka bencana yang datang

 

Wahai Tuhan Penguasa Alam

Kembalikan bumi yang telah digadaikan

Oleh orang yang serakah dan berutang

Izinkan kami  tinggal sampai sisa Akhir kehidupan

 

Perpustakaan Veteran, 19 Oktober 2018

Pukul 10.04

 

 

 

 

Langkah demi langkah
Telah ku telusuri
Masa demi masa
Aku lalui begitu banyak

Segala hinaan yang  kualami

Tanya demi tanya
Semua telah kudaki
Jatuh dan bangun
Tegar kembali

Betapa pedih luka dan derita
Yang telah kujalani
Namun kini penderitaan serta hinaan
Berganti kebahagiaan dan kemuliaan

Air mata menjadi permata
Kebencian menjadi cinta
Bila hidup di dalam dunia
Bak sandiwara

Selamat tinggal kesengsaraan
Selamat tinggal penderitaan
Terimakasih atas pengalaman
Yang kau berikan

Reff:
Namun kini penderitaan serta hinaan
Berganti kebahagiaan dan kemuliaan
Air mata menjadi permata
Kebencian menjadi cinta
Bila hidup di dalam dunia
Bak sandiwara

Selamat tinggal kesengsaraan
Selamat tinggal penderitaan
Terimakasih atas pengalaman
Yang kau berikan

Kini terbukti cinta yang kualami
Bukannya mimpi
Lautan api telah menjadi
Taman surgawi

Apa yang dirindukan jika jauh dari Pamulang? salah satunya adalah makanan andalan kalau lagi malas  masak yaitu Kupat Tahu Magelang. Biasanya beli di Cilandak dekat Bona.

Di sini saya pun mencoba membuatnya sendiri meski baru pertama kali dan lumayan pegel dan cukup lama masaknya pagi tadi sampai 1,5 jam.

Dari mulai mencuci bersih bahan dasar seperti tauge (disiram air panas), tahu di goreng, kol dicuci lalu di goreng, seledri di iris, kacang tanah dan bawang merah digoreng.

Setelah itu membuat bahan bakwan berupa irisan wortel, kol, tepung, bawang daun di campur lalu di goreng. Setelah kering dan mengeras di potong-potong bakwannya.

Kuah gula juga mudah, rebus gula jawa 5 sendok dengan 70 ml, laos dan daun salam sampai mendidih lalu saring. Setelah itu siapkan bahan utama tauge, kol, tahu. Siapkan dengan rebusan gula dan bakwan yang telah dipotong.

Ambil bawang putih, lombok rawit sesuai selera jika suka pedas ambil beberapa, jika tidak suka pedas ya tidak usah pake lombok. Ulek halus dengan garam dan kacang. Ulek dipiring yang tidak mudah pecah.

Sajikan Hangat-hangat

20181018_074443

Karena disini gak ada ketupat saya ganti lontong. Potongi kecil-kecil. Hidangkan dengan menu utama yang disebutkan di atas bumbu halus. Masukkan bakwan dan siram dengan kuah gula. Aduk-aduk semua lalu sajikan dengan hangat. Taburkan irisan seledri dan bawang goreng.

Setelah mencoba lumayan pegal pas bikin bakwan karena gorengnya lama dengan api kecil jangan sampai gosong.

Jadi penasaran kapan-kapan pengen bikin lagi karena pertamakali puas dan kenyang. Cocok buat sarapan pagi atau makan malam. Selamat masak, silahkan mencoba ya…

Kanigoro 18 Oktober 2018

Pukul 20.29

 

“65 % kebahagiaan manusia ditentukan oleh lingkungan alam. Terutama oleh Pertanian dan Peternakan,” Eka Budianta, Budayawan, Kolumnis Trubus. 

Pergeseran gaya hidup yang sudah lama ditinggalkan rakyat Indonesia karena banyak yang melakukan urbanisasi ke kota besar menjadi buruh pabrik, pekerja otomotif, atau bekerja  di industri dengan teknologi maju di berbagai bidang  perlahan-lahan tapi pasti mulai mengalami pergeseran meski belum revolusioner.

Godaan gaji besar, gaya hidup hedonisme bertabur kemilau berlian dan nikmatnya jalan-jalan, senang-senang sepertinya masih akan lama untuk disadarkan. Entah jika Tuhan sudah memperingatkan  sesudah bencana beruntun yang menimpa ribuan korban gempa tsunami di Lombok, Sulawesi Tengah dan Jawa Timur beberapa  waktu terakhir.

Namun, saya percaya jika selama ini kembali ke desa, atau berkebun ditanah seadanya,  tidak hanya milik kaum petani di kampung. Masyarakat korban perkotaan juga sudah banyak yang menerapkan gaya hidup hijau, baik hijau di rumah, hijau pengelolaan sampah dan hijau alamiah dengan gaya hidup yang sederhana.

Dalam opini tetap seputar agribisnis yang berjudul “Hijau Tangguh” yang ditulis oleh Eka Budianta, masyarakat di Indonesia dan juga dunia menulis tentang perkembangan pesat luar biasa bisnis hijau.

Di mulai dengan konferensi Kota Hijau di Warsawa Polandia, Pak Eka menulis dengan semangat perkembangan terkini industri hijau seperti terapi hortikultur, chemo garden, forest bathing, dan aneka agrowisata.

Bangunan Hijau

Semalam saya melihat ada upaya membangun rumah bambu bagi korban bencana gempa tsunami itu membuat saya tertarik membaca tulisan Trubus edisi Oktober 2018 ini. Eka Budianta menjelaskan jika di Jepang dan Singapura berdiri konstruksi rumah sakit dengan tanaman di dinding, kebun dan ikan-ikan parit di atapnya.

Lomba kebersihan di galakkan, biopori hidroponik, daur ulang dan gaya hidup hijau menyeruak ke seantero nusantara. kampung hijau dan disiplin, rajin dan semangat sukses di Malang dan Surabaya.

Meningkatnya Indeks Bahagia

Pada 2017 kemarin Indonesia, menduduki peringkat ke-81 dari 155 negara. Ada 10 aspek kehidupan essensial yang diperhitungkan. Mulai dari kesehatan, penghasilan, harmonis keluarga, hubungan sosial, kondisi rumah dan lingkungan, bahkan ketersediaan waktu luang.

Peningkatan produksi dan konsumsi buah dan sayur di pelosok negeri sangat berpengaruh untuk meningkatkan indeks bahagia orang Indonesia. Kata Pak Eka di Sangeh bali ada program forest bathing, dimana disana ada hutan pala yang menjadikan udara memiliki kandungan positif bagi tubuh manusia.

Untuk lengkapnya beli majalah Trubus ya biar puas, bisa belajar berkebun dan menerapkan gaya hidup hijau. Selamat membaca dan terimakasih Pak Eka Budianta.

Perpustakaan Veteran, 16 Oktober 2018

Pukul 14.39

 

Pada majalah Trubus edisi September 2018, Dwi Andreas Santosa menulis tentang kebijakan pangan di Indonesia dalam dasawarsa tigapuluh tahun terakhir. Dalam artikel berjudul “Demi Padi”.

Andreas Santosa mengupas pertanian dari mulai meningkat produksi padi dan menekan impor serta aneka program seperti subsidi pupuk, perbaikan irigasi dan bantuan lainnya, yang berakibat pada peningkatan tajam sebesar 611 % pada periode 2004-2013.
Dalam hal ini pembangunan infrastruktur ke perbaikan jaringan irigasi, waduk dan pencetakan sawah sangat dirasakan petani.

Mereka yang senang dengan pembangunan infrastruktur buat petani adalah petani swasembada Pajale (Padi, Jagung, Kedelai). Anggaran pertanian yang meningkat dan program “Lumbung Pangan Dunia” yang diharapkan tercapai 2045 yang paradigmanya sama dengan kebijakan negara lainnya yaitu ketahan pangan (food security), atau yang sekarang biasa disebut sebagai kedaulatan pangan (food sovereignty).

Andreas Santoso juga menjelaskan konsep yang diadopsi negara-negara lainnya ketahanan pangan Indonesia diletakkan dalam kerangka perdangan internasional sebagaimana diatur World Trade Organization. Dimana menurut saya semua proses distribusi pangan bagi negara yang kekurangan pangan banyak diatur dalam sistem ekonomi yang dianut IMF-World Bank.

Data Akurat

Selain akuratnya segala hal kebutuhan petani, hasil panen, sistem perdagangan, Andreas Santoso yang merupakan guru besar juga menulis tentang data stagnasi dan turun naik produksi pane, menyangkut luas panen padi di tahun 2017 yang mengalami peningkatan mencapai 15,8 juta hektare, tetapi dari hasil citra satelit hanya 11,3 juta atau selisih 4,5 juta hektare.

Kajian data selama 17 tahun, keputusan impor dan volume beras impor panjang lebar dikupas Andreas Santoso yang menulis tentang padi atau beras tidak sebatas apa yang kita makan namun melalui distribusi yang panjang sampai dengan satgas pangan. Saya juga baru tahu jika pertumbuhan penduduk terus naik 1,49 % pertahun, di tengah stagnasi produksi padi. bahkan sampai margin perdagangan dan pengangkutan juga dikupas dengan data yang sangat lengkap.

Gandum

Hal lain yang cukup mengkhawatirkan adalah jika beras mahal terjadinya pergeseran konsumsi pangan pokok masyarakat Indonesia yang semula aneka pangan di dominasi beras bergeser ke gandum. Indonesia saat ini menjadi importir gandum terbesar di dunia dengan volume 12,5 juta ton pada 2017.

Menurut Andreas Konsumsi aneka olahan gandum justru meningkat dan menjadi pilihan sebagai cadangan bagi rumah tangga. Pasar beras yang relatif baik justru hancur akibat intervensi satgas pangan akibat kebijakan berlandaskan asumsi salah terkait produksi dan pergerakan harga.

Perpustakaan Veteran, 16 Oktober 2018

Pukul 13.51

Desa Jadi Kota (Tembang Sunda)

Posted: October 15, 2018 by Eva in Seni
Tags: , ,

Jauh tinggal di perantauan membuat aku kadang tidak bisa menahan rindu dengan suasana kampung halaman bumi Pasundan Sukabumi.

Mencari momen – momen berharga saat di kampungku yang sudah tidak sehijau dulu membuat aku melamun, setelah hampir tiap hari dengar lagu Jawa Timuran, kini aku memutar lagu degung, dan tembang sunda untuk mengobati kerinduan.

Yang nyanyi anak kecil suaranya bagus tapi gak tahu namanya, hanya ada nama penyanyi aslinya. Semoga berkenan. Ceuk urang Sunda mah keur sono ka lembur ceunah euy urang teh hehehe….

Desa jadi Kota – Kustian

Tah di dinya baheulamah
Saur emak saur bapak
Aya kebon cikur
Aya kebon sawah
Susukana heurang
Tempat urang
Kokojayan arulin
Jeung babaturan

Tuh di ditu baheulamah
Saur emak saur bapak
Gunung meuni hejo
Hantap meuni waas
Meuni waas
Rea sasatoan
Tempat paniisan urang
Arulin jeung babaturan

Ayeunamah beda jeung baheula
Rupa desa tos geus robahna jadi kota
Na kamana kebon sawah
Nu ngeplak mapaes endah
Na kamana ci susukan
Nu heurang cai ngagenclang
Na kamana gunung leuweung
Nu subur ku tatangkalan
Jeung kamana sasatoan nu
Reang teba- tebaan

Na kamana
Kiwari tinggal carita

Lirik Lagu
Siapa sangka menjadi begini
Siapa duga kita kan berpisah
Tak Percaya biarpun kenyataan
Yang pastinya ku kan kehilanganmu

Kita sebungbung
Tapi tak bersama
Kita bercinta tapi tidak sekata

Tunggu setahun hilang
Sekerlip mata
Lautan kasih
Disapa kemarau

Kukuderita kau kau berpulang
Diriku menangis engkau tertawa
Kau-kau aku sayang
kukukusingkirkan
Siksa aku selamanya

Kuku tak menduga
Kau kau telah berubah
Dalam diam kau menolak cintaku

Aku sadar siapalah diri ini
Bagaikan titik di sisimu

Dan kau merasa nyaman
Ku tak disenangi
Kusapu air mata
Tanda perpisahan

IMG-20170628-WA0006

Seks di Usia Menjelang Senja

Posted: October 15, 2018 by Eva in Artikel, Kesehatan
Tags: ,

Seks di Usia Menjelang Senja, Siapa Takut?
“Ingatlah bahwa berapa pun usia anda, Anda berhak menikmati kehidupan seksual yang tetap romantis dan membahagiakan.”

Kehidupan seksual yang sehat dan romantic akan menambah semangat Anda dalam menikmati hidup; berapapun usia Anda bersama pasangan halal, tak perlu khawatir. Anda berhak menikmatinya dan menemukan makna di balik kehidupan seksual Anda bersama orang yang Paling anda kasihi, yang menemani hari-hari Anda menikmati karunia hidup.

Bagaimana jika Anda sudah berusia menjelang senja atau lanjut? Anda masih bisa menikmati hubungan seksual dengan nyaman atau tidak untuk kehidupan positif anda. Hal ini juga meningkatkan tingkat kenyamanan, mengurangi ketegangan, dan memperbaiki kualitas tidur yang membawa anda dan pasangan pada kualitas hidup yang lebih meningkat.

Jadi, bila anda dan pasangan mengalami problema seksual, jangan terburu-buru patah semangat. Semua problem seksual hendaklah Anda analisis dengan cerdas. Ingatlah bahwa berapapun usia anda, Anda berhak menikmati kehidupan seksual yang tetap romantic, sehat dan membahagiakan.

Pada laki-laki ada empat jenis gejala seksual yang mengganggu di usia senja. Yaitu, Disfungsi Ereksi (DE), menurunnya hasrat seksual, gangguan ejakulasi, dan nyeri testikuler pasca hubungan seksual. Sedangkan pada perempuan ada lima jenis gangguan. Yaitu Gangguan terbangkitnya hasrat seksual, kehilangan hasrat seksual, gangguan orgasme, vaginismus dan perubahan sensasi (Menua yang Sehat, dr. Yahya Wardoyo, SKM, Talenta Media, Jakarta, 2006)

Gangguan seksual banyak terjadi dengan kondisi diabetes mellitus, hipertensi, sclerosis, dan neurologis dan pemakaian obat berkepanjangan.Problem seksual yang timbul karena pengaruh psikologis dan psikososial perlu penanganan terprogram dalam lingkup lebih luas. Termasuk di dalamnya mempertahankan kebugaran fisik, kesehatan mental, dan sosial.

 

Abid

Bicara Tanda Mendengar

Kusampaikan sajak ini
Karena kamu mendengar
Kusampaikan sajak ini
Supaya aku tetap bicara
Dan kamu tetap mendengar

Kulukiskan hatimu langit
Menunggu terbitnya matahari
Bicara untuk mendengar
Mendengar untuk bicara
Dengan Puisi Leluhurmu

Selamat Ulang Tahun Muhammad Abid Manik
(Kumpulan Puisi Hadiah Seorang Ayah, Karya Eka Budianta, 2007)

Speak to show you have listened

I am sending you this poem
Simply because you listen
I am sending you this poem
So I can keeping talking
And you keep listening

I am painting your heart a sky
Waiting for the rising sun
Speaking to listen and
Listening to speak
With your ancestor poetry
Happy Birthday Muhammad Abid Manik
(Selected Poems, A Father’s Gift, By Eka Budianta, 2007)

Bukan Aku Tak Cinta – Saleem Iklim

Posted: October 15, 2018 by Eva in Seni

 

Selamat Jalan Saleem Iklim…

Iseng dengerin lagu siang ini, kangen masa-masa di Batavia. Aku amati beberapa foto yang ada selama di sana.

Lirik lagunya rancak dan lucu,

dengerin ya…

Cikini ke Gondangdia

Cikini ke Gondangdia
Ku jadi begini gara-gara dia
Cikampek Tasikmalaya
Hatiku capek bila kau tak setia

Jakarta ke Jayapura
Jangan cinta kalau  pura-pura
Madura sampai Papua
Jangan kira ku tak  bisa mendua

Walau kau hanya tukang ojek
Tak Pernah absen meski hujan dan becek
Walau kau hanya supir bajaj
Hatiku senang tiap kali kau belai

Percuma kau jadi pilot
Makin tinggi cintamu makin melorot
Apalagi kau jadi nahkoda
Jarang pulang karena kepincut janda

Biarpun sederhana asalkan kau setia

Aku pun akan selalu cinta

Percuma banyak harta

Di luar kau mendua

Jangan kira aku diam saja

 

 

 

 

Selamat Akhir Pekan

Posted: October 12, 2018 by Eva in Lingkungan
Tags:

Tidak terasa sudah memasuki bulan kedua tinggal di Jawa Timur. Banyak sudah ilmu yang kupelajari dan mulai memahami sosiologi kultural orang Jawa.

Banyak tradisi baru yang harus aku sesuaikan dengan kebiasaanku dan tradisi setempat yang memiliki banyak perbedaan frontal. Dimana aku dididik orangtuaku untuk berani jika itu benar, sementara orang Jawa itu penuh unggah ungguh, hati-hati kalau bicara, dan jangan terlalu blak-blakan membuat saya harus berpikir beberapa kali jika ingin melakukan suatu hal takut menyinggung hati warga setempat.

Akan tetapi terlepas dari semua itu, aku tetap menjadi diri aku sendiri dengan segala kelemahan yang aku miliki dan senang berkeliling menyusuri daerah-daerah yang selama ini tidak aku temui di Sukabumi, Jogjakarta atau Pamulang.

Masyarakat di sini beraneka profesi. Dari petani, profesional hingga TNI. Kalau sore biasanya aku suka melihat kebun jagung, kebun cabe, dan aneka kebun lainnya di sekitar daerah Papungan di pinggir sungai yang ada di dekat kami tinggal.

Berikut aku videokan beberapa gambar yang aku temui di sini. Biasanya sabtu minggu banyak waktu berkumpul dengan keluarga. Selamat berakhir pekan teman-teman. Kangen kalian semua.

Blitar, 13 Oktober 2018

Pukul 06.56

Kemarau panjang cukup lama membuat suhu bumi naik dan tanaman layu, tidak berbuah dan stok bahan bakar menipis karena tambangnya sudah terlalu dalam dan sering digali.

Setelah gempa tsunami, kemarin ada gunung meletus, banjir dan kebakaran di pasar dan terakhir kebakaran di sebuah hutan di Boyolali.

Bumi yang semakin tua, bencana bertubi-tubi, digali-gali sumber energi, dan sekarang sangat kering disana-sini, isinya terlalu berat karena kebanyakan manusia dan segala barang bawaannya, sampah dan lain-lain membuat kita harus banyak waspada, hemat energi, tidak usah banyak wara wiri.

Apa bedanya neraka dengan musibah kekeringan dan kebakaran yang menyala-nyala. Harusnya kita selalu awas akan setiap pertanda.