Posts Tagged ‘Bahanjilbab’

(Kisah dan Sejarah Jilbab selama 25 tahun (Periode 1992-2017) )

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis kisah dan pengamatanku tentang fenomena jilbab dari sejak aku pertama kali mengenakan tahun 1992 saat di SMPN Sardonohardjo dan mondok di Pesantren Sunan Pandanaran hingga saat ini 2017, aku mengenakan hijab untuk bekerja atau OOTD.

Kerudung Era 90an

Pada awal tahun 1990an, gaya hidup belum semeriah sekarang. Era orde baru, meski penuh dengan sejarah kelam tentang korupsi dan nepotisme, tapi masa-masa itu kaum muslim di Indonesia di mana aku tinggal tidak banyak gaya, tampil seadanya dengan jilbab sederhana. Waktu di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Sejak dahulu model penutup kepala (kerudung), jilbab atau hijab mengalami banyak perubahan. Ibuku adalah seorang pedagang yang suka memakai kerudung langsungan model brokat lama atau selendang disampirkan. Pada saat periode aku kecil 1979-1980an orang Indonesia belum begitu rapat menutup kepala, ala kadarnya saja tradisional yang penting sopan. Anak-anak usia sekolah seperti SD-SMP juga jarang mengenakan jilbab kecuali sekolah yang berbasiskan ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Pada tahun 1992 lulus SD aku melanjutkan ke SMP 30 Ngaglik, Sardonoharjo Sleman dan mondok di PP Sunan Pandanaran, nyantri kepada Kyai Mufid Mas’ud. Waktu itu aku datang ke pondok diantar kakak pertama dan di tengok A Iwan setiap bulan. Kadang di PPSPA aku nakal curi-curi kesempatan kabur dari kobong jalan naik colt Kaliurang berhenti di depan Mirota Kampus kemudian naik bis pemuda ke rumah kakak di Condongcatur.

Saat SMP ini cara pake jilbabku, begitu juga ketika bermain sesama santri PPSPA. Jilbab segi empat biasa yang bisa kubeli di pasar dengan aneka warna, kalau di dalam kita pake sarung dan tidak berkerudung, atau  jilbab langsungan. Waktu itu di asrama SQL (khusus Sekolah Luar) dimana anak2 pandanaran yang sekolah di luar MTS dan MASPA. Temanku di SMP hanya anak pondok saja yang berhijab yang lain tidak ada.  Kala itu periode 1992-1995.

Pada 1996 aku masuk SMU Muhammadiyah II dimana waktu itu semua murid perempuan berjilbab. Aku masuk sekolah ini karena aku gagal di terima di SMA 7 tadinya kakakku menyarankan aku masuk SMA negeri dan lanjut mondok di Krapyak. Tapi takdir mengatakan lain, NEM ku kurang dua digit sehingga aku gagal masuk SMA negeri unggulan di Jogja.

Jilbab saat SMA

Saat SMA aku berkenalan dengan banyak teman ada yang asli Jogja, ada juga yang dari luar kota seperti Kalimantan, Riau, Kuningan dan daerah lainnnya, aku masuk kelas IPA I Muha. Ada dua orang teman searah yang sering berangkat dan pulang bareng ke sekolah yaitu Veny Setyaningrum dan Nida Nadia.Veny bawa motor sendiri dari rumahnya Jambu Sari aku suka berangkat bareng, sedangkan Nida tinggal di Timoho bersama kakaknya yang kuliah di UII ada 3 orang.

Bersama Veny dan Nida aku banyak menghabiskan waktu berangkat dan pulang sekolah. Di kelas aku bukan termasuk anak pintar, aku sering nakal dan bolosan bersama Dyank Aflahah main radio Geronimo atau ke Malioboro Mall. Sedangkan Nida adalah anak yang pendiam dan sopan, orang Sunda banget yang halus bertutur kata, rapi berpenampilan dan tekun belajar.

Sama Veny Sebelum Balik ke Jambusari Jogja

Sedangkan Veny itu anak manja, orangtuanya dosen UII dan sudah lama tinggal di Jogja, ayahnya asli Kulonprogo dan ibunya Makassar. Aku sering banyak jalan sama veny kadang hunting jilbab di beberapa toko baju muslim, jilbabnya bagus-bagus, namun pernah juga kita beli jilbab meteran.

Jilbab meteran ini kita beli biasanya di Jalan Solo ada sebuah toko bernama Bombay Textil dekat Toserba Gardena, sebrang Galeria Mall. Bahan untuk jilbab di sana cakep-cakep, ada aneka warna kebanyakan berbahan tipis seperti sutra India, tapi harganya terjangkau. Kita berdua senang dan beli beberapa warna lalu kita jahit pinggirannya.

Jilbab meteran aku pakai di depan tugu

Kalau tidak sama Veny aku kadang cari jilbab sendiri di toko bahan cari bahan yang ringan dan motif tidak pasaran. Hal ini berlanjut hingga kuliah, aku sering mix match pakaian dengan jilbab meteran atau jilbab biasa yang aku beli di pasar berbahan katun segi empat

Jilbab Era Awal Tahun 2000-an.

Saat awal kuliah orang yang suka menjaga penampilan, tampil modis dan lipstikan. Akan tetapi setelah aku aktif di organisasi aku berubah total tidak suka dandan dan tidak peduli penampilan. Kampus putih IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga merubah cara pandangku tentang gaya hidup dan kesederhanaan. Aku senang melihat mahasiswa UIN yang tampil sederhana, kaosan, sandal jepitan dan tidak mengutamakan penanmpilan. Akan tetapi mereka kritis dan sangat pintar dalam pemikiran. Terlihat saat berdiskusi dalam aneka bidang baik sosial filsafat atau keagamaan. Saat itu aku lebih senang beli buku daripada pakaian.

 

Pada tahun 2002 aku ketemu mas Arif dan berkenalan dan bertemu dengan temann-temannya di pergerakan. Aku juga ikut dengan orang-orang NGO di Jogja.Aku aktif di Solidaritas Perempuan Kinasih dan Mas arif saat itu merintis usaha kaos bersama Mas Yusrol di Laron oblonk. Saat wisuda tahun 2003 aku dibelikan jilbab hijau yang sampai sekarang masih terawat dengan baik.

Jilbab hadiah wisuda terakhir aku pakai ke Perpus Depdikbud Juli 2017, sudah 14 tahun usia jilbab

Di LSM aku belajar banyak tentang isu pangan dan perubahan iklim, aku waktu itu kenalan dengan mba Farida, Mbak Tini sastra dan Rini YA. Ada sekitar dua tahun aku aktif di SP Kinasih mengelola buletin dan berkenalan dengan mas Kus Indarto seorang illustrator komik dari ISI, waktu itu kantor SP di lantai 2 Gedung AJI Gejayan.

Ini jilbab ketika di LSM

Usai lulus aku kerja di Kebayoran Lama tapi tidak lama, hanya periode Desember – Mei 2004. Aku tidak kuat di Jakarta dan kembali ke Jogja, Mas Arif waktu itu sudah pindah ke Malang. Namun aku kembali lagi ke Jakarta dan bekerja di Cililitan, waktu itu aku tinggal di guru alif satu kost sama Sunariyah. Di samping bekerja aku juga berjualan sandal buka lapak di Senayan sebrang hotel Mulia berangkat jam 4 subuh, suka sendirian atau kadang juga ditemani Nana adiknya Sunar.

Sunariyah, teman pertamakali di Jakarta, bertemu sejak masih di YLKI

Bersama Sunariyah teman pertama di Jakarta berteman sejak di YLKI

Ini jilbab ketiika aku awal kerja di Jakarta

Pada November 2004 aku ditawari kerja merintis penerbitan Pustaka Alvabet bersama bang Ahmad Zaky dan Pak Baedhowi. Waktu sudah ada Lika, Pak Pri dan Mas fahmi. Bang Zaky sebagai Direktur dan aku Redaktur Pelaksana.

Jilbab kain meteran bersejarah aku pakai di acara pameran Buku Pustaka Alvabet

Selama di Alvabet, semua naskah yang akan diterbitkan harus mendapat persetujuan Dewan Redaksi dan Pemegang Saham. Waktu itu ada 5 orang  Pak Bae, HBS, SRP, TAA dan IAF. Aku banyak mengenal mereka selama periode 2004-2007. Garis hidupku berjalan linear, skripsiku tentang Fazlur Rahman dan aku bekerja bersama para penerus pemikiran Neo Modernisne itu. Entah kebetulan atau tidak bagiku ini sangat berguna saat ini juga di masa yang akan datang.

Pada 2007 aku pindah kerja ke Kalibata. Saat itu kantorku menjadi mitra Kemendikbud. Aku sering rapat di Senayan dan liputan ke daerah juga acara-acara Kependidikan.Waktu itu aku suka mengenakan jilbab minimalis dengan ditarik ke belakang terasa simpel dan elegan. Dulu aku suka model ini karena praktis dan simpel sehingga terkesan stylish. Sampai sekarang kebanyakan orang Indonesia mengenakan model jilbab seperti ini.

Di Acara Rembug Nasional Pendidikan era Pak Nuh

Pada 2009 aku berhenti kerja dari Kalibata dan aktif kembali di SP sebagai Dewan Pengawas Komunitas. Inilah penyesalaanku terbesar aku sakit parah sepulang kongres SP di Jakarta,  hingga baru sembuh pada 2010 dan aku kembali bekerja di Kalibata. Aku juga merintis usaha online Gerai Amira, di sana aku jualan sandal, kaos nama, jilbab dan baju muslim.

Sama ketiga kakak pengrajin sandal

ini jilbabku saat jualan online.

Jilbab Langsungan

Booming Pashmina dan Shawl Pada 2010

Pada  periode 2010-2012 aku suka memakai jilbab pashmina yang simpel dengan aneka warna menarik. Biasanya aku beli di Thamrin city dengan harga murah 100 ribu dapat tiga kadang empat. Biasanya aku beli di lantai 5 Thamcit setiap senin dan kamis atau pasar Tasik istilah pengunjung.Kadang aku beli juga di Pamulang square atau Point Square, namun harganya selisih di atas dikit dari jilbab Thamcit.Sesekali beli online juga di Saqina.com.

Pashmina Ceruty Thamcit

Saat lebaran memakai jilbab Saqina

Pada tahun itu juga aku kembali bekerja kali  ini di Empang tiga Pejaten Timur. Namun tidak lama aku sakit typus dan akhirnya tergoda lagi merintis usaha. Aku buka toko jersey di Pamulang. Awalnya laris hingga akhirnya sepi dan bangkrut. Aku berhenti buka toko setelah Apa meninggal dan kembali bekerja di Kebayoran lama pada Maret 2015.

Saat Kerja di Kebayoran Lama

Aneka Shawl dan Pashmina suka aku kenakan, saat itu aku bekerja sebagai Ghost Writer. Aku suka juga jilbab berbahan kaos tipis agar mudah dibentuk dan jilbab tipis pashmina ringan bermotif.

Pada awal tahun 2014 mulai banyak jilbab berbahan jersey besar yang sepadan dengan gamis, ukurannya besar dan panjang menjuntai.Fenomena ini berkembang setelah banyak orang berumroh.Aku sempat beli untuk pengajian, dan sempat jualan dan dikirim ke Arab Saudi.

Pada Mei 2016 aku berhenti kerja, aku memilih menjadi ghost writer dan cari klien sendiri atau tim marketing. Selama 1, 5 tahun aku riset di daerah atau berlama -lama di perpustakaan, tapi lebih sering di rumah Pamulang dan lebih sering pulang ke Sukabumi. Aku juga sempat sakit cukup lama waktu hingga aku mengundurkan diri dari pengurus pengajian.

Pulang ke Sukabumi Stasiun Cibadak

Saat off ngantor aku sering memakai gamis katun dan jilbab jersey yang aku jahit di Bu Hardyanto tetangga  depan rumah Pamulang elok, aku suka jahitannya rapi rendanya juga menyesuaikan. Aku berburu gamis katun lucu, ada yang jahit ada juga diskonan dan kadang dikirim juga dari kakak ipar mas arif Mbak  Lilik dari Malang.

Jilbab karya Bu Hardyanto

Pada 2016 aku lupa bulan apa, aku memutuskan untuk berganti model dari pashmina, atau segiempat tarik belakang,  ke model jilbab segi empat yang menutup dada. Aku lupa awalnya kenapa, tiba-tiba pas acara formal aku memakai jilbab segi empat dan seterusnya. Kata Mas Arif jilbab yang kupakai sekarang lebih sopan dari sebelumnya pashmina yang kata dia bentuknya tidak beraturan, disilang sana sini (uwel-uwelan) dan memakai bross besar kadang menurut dia kurang berkenan.

Aku membuka koleksi lama, untung masih ada.Beberapa koleksi jilbab segi empat aneka warna berbahan chiffon (sifon), ceruti dan voile. Ada juga jilbab Turki oleh-oleh haji dari kakak ipar mbak Atik dan jilbab berbahan hycon dari mbak Lilik, masih kusimpan dengan baik.

Jilbab Turki Oleh-oleh Haji

Tidak lama kemudian pada Mei 2016 mulai beredar jilbab licin yang harganya lumayan.Waktu itu aku dikasih Arien saat main ke kantor Kalibata. Aku suka warna merah dan hitam, aku pakai di acara Ubud Writers dan Readers Festival Oktober 2016 di Ubud, Bali.

Jilbab merah penuh kisah

Di Ubud Gianyar Bali

Ada banyak bahan dasar jilbab dari mulai sifon (chiffon), hycon, voile, sutra, spandek, ceruty, higet, rayon, PE (poly ethilene), TC atau Tetoron cotton, kaos, rajut, jersey, katun, kashmir, dan polyster. Belakangan ada juga bahan mulberry silk, katun (cotton tyrex), voal, dan poycrepe.

Belakangan jilbab segi empat satin yang berbahan printing menjadi model kekinian dan dijual dengan harga menjulang.

Aneka Warna Jilbab (HL)

Aku juga bernah menjual jilbab segi empat yang ada bordir pinggiran dan jilbab langsungan bermonte dulu pesan di mbak Iim Azizah Kakak ipar Semarang, sampai sekarang jilbabnya suka aku kenakan. Pernah pula pesan jilbab Padang saat Dewi Nofrita pulang ke kampung halaman di Bukit Tinggi.

Jilbab coklat bordir dari Mbak IIm Semarang

Jilbab coklat bordir dari Mbak Iim Azizah Semarang

Gencarnya Promo Jilbab di Instagram (IG)

Sejak instagram booming pada 2014 hingga  tahun sekarang,  fashion muslim dan hijab berkibar di IG. Aneka hijab di jual dengan harga beragam dari 30 ribuan sampe 280 ribu beredar di di kalangan toko online di IG yang diendorse selebgram.

Ada satu akun yang sering aku jadi rujukan di IG namanya @heavin_lights. Jilbabnya keren dengan warna dan motif kekinian. Model andalannya adalah Mega Iskanti humas Wardah yang sangat elegan mengenakan aneka hijab, baik pashmina, segi empat maupun syar’i.

Koleksi Jilbab HL Motif

Akan tetapi aku kalau pesan tidak  pernah kebagian karena akun itu kebanyakan milik ratusan reseller padahal aku cuma beli satu saja. Dari akun ini aku menemukan banyak model dan warna jilbab kekinian terutama warna pastel yang sebelumnya tidak aku kenal seperti dusty pink, mocca cappucino, green avocado, peach, baby pink dll.

Aku punya satu jilbab dari HL berwarna abu, nama jilbabnya Selena Grey berbahan mulberry silk.
Satu warna coklat, hijau atau pink saja skg turunannya bisa memiliki 4 sampai lima warna gradasi dari yang paling tua sampai paling muda dan warna soft (lembut).Meski tidak pernah antrian, aku  dapat mengakalinya dengan menscreenshot dan mencari warna serupa di toko langganan.Beberapa aku dapat harganyapun murah dan tidak pakai ongkir.

Warna mocca capucino, atau Peach Makuta dan warna abu-abu serta warna lembut saat ini menjadi incaran setelah grey dan dusty pink, green mint dan pastel purple. Di IG HL warna ini laris manis dan jadi rebutan setiap upload.yang pesen sampai antri seharian.

Warna Pastel Purple

Toko online HL yang sangat

Selain itu aku mengkritisi para artis yang menjual jilbab printing dengan harga tinggi seperti merk Mandja dan Ashanty,menurutku itu tidak bagus untuk persaingan dunia hijab. Jangan jadikan bisnis ini terlalu berlebihan mengeruk keuntungan.

Aku follow akun @kain_printing yang menjual harga jilbab printing aneka bahan. Di situ dia jual dengan harga 90 rb sampai 110 ribuan silahkan buka jika penasaran. Di sini anda bia tahu modal jilbab printing artis kenamaan, dari biaya produksi 90 ribuan, para artis tenar  menjualnya hingga di atas 200 ribuan, karena ditambahi merk kenamaan…wah…

Akan tetapi fenomena jilbab printing ini tidak tahu sampai kapan,yang jelas aku lihat responnya rame di awal sepi belakangan padahal banyak outlet tersebar.

Sekarang orang berpikir dua kali  untuk beli jilbab mahal, karena sudah menjauh dari tujuan awal menutup aurat. Sebenarnya sah-sah saja itu dilakukan utk meramaikan dunia fashion hijab kekinian asal jangan terlalu berlebihan.

Saat kerja untuk acara 17 Agustus tahun ini di KC

Belum lama ini aku dapat jilbab oleh-oleh dari luar negeri saat Elin kuliah di Australia, berwarna biru dan abu, motifnya lucu ada yang motif aneka garis dan kubus ada yang sangat aku suka, yaitu motif speda, setahuku ini jarang yang punya. Kakakku di Bantul sekarang berjilbab lebar, dia lungsurkan juga banyak banget aneka warna jilbab segi empat yang biasa dia pakai sebagai PNS, yaitu jilbab sifon dan jilbab batik sutra, aku senang dan kegirangan bisa mix match buat aku kerja.

Saat acara pemuda milenial berdamai dengan sesama dan lingkungan, pake jilbab batik sutra dari teh geugeu

Mungkin itu saja pengamatan dan pengalamanku tentang dunia hijab. Foto yang aku tampilkan hanya menggambarkan variasi dan perkembangan  model berjilbab tidak bermaksud pamer,hanya menjelaskan perkembangan model, tapi terserah juga jika ada yg berpendapat demikian.

Jilbab Paling Sering kupakai warna baby pink

Sebenarnya masih banyak cerita tentang pernik pelengkap hijab seperti  ciput, atau inner serta bross yang menjadi pemanis hijab.Waktu masih pake pashmina aku suka mengkombinasikan dengan kalung etnik dulu suka koleksi dan titip Mas Arif saat dinas luar kota. Tapi sekarang sudah jarang aku kenakan.

Berkaitan dengan bross aku suka beli secara kebetulan di penjual keliling yang lewat, saat bazaar atau belakangan beli di kakak ipar Teh Neng A Iwan.Murah meriah harganya 15.000an. Dua minggu lalu aru saja menemukan bross cantik dari limbah plastik kresek kreasi ibu-ibu upcycle Depok. Wah ini keren sekali bagaimana pun sekarang era sustainability, mengolah sampah plastik menjadi bros cantik itu sangat keren.

Ini Bross Cantik dari Daur Ulang Kantong Kresek Plastik

Cerita selanjutnya tentang dunia hijab, jilbab, kerudung atau apalah yang aku pakai dan pernik lainnya. Saat menulis cerita ini di kereta jurusan Tanabang – Pasar Minggu baru, aku sedang memakai jilbab motif bunga kecil dengan bross dari limbah plastik kresek dan kaos orange untuk bekerja. Aku menyadari dalam hal berpakaian aku adalah orang tidak konsisten, kapan hari bisa berubah santun dan sopan, tapi juga adakalanya juga urakan ya seadanya aja, sebenarnya tidak terlalu mengikuti mode juga, aku lebih memilih kenyamanan dalam berbusana dan berjilbab.

Selain IG untuk mixmatch kadang aku suka memperhatikan gaya hijab para commuter sepanjang perjalanan Sudimara-Pasar Minggu Baru. Banyak inspirasi, apalagi jika duduk di gerbong perempuan itu seru dan menyenangkan.

Entah apa yang terjadi di masa depan dan entah model apa lagi hijab yang akan diminati dan kekinian.Terakhir aku lihat muncul jilbab brintik dan  jilbab printing motif bendera di status wa sebuah toko hijab langganan, setelah itu entah apa lagi.

Jilbab Kondangan Kekinian

Kita tunggu saja…Sebentar lagi sudah mau sampai kantor tempat aku bekerja, cukup mungkin ceritaku ini, mohon maaf jika tidak berkenan.Semoga bisa di sambung lagi  kapan-kapan.

Stasiun Tebet 12 Oktober 2017 pukul 08.48

Advertisements