Posts Tagged ‘#batavia’

Tidak, tidak ada ikatan yang membelenggu lebih erat,
Laut kehidupan tidak pernah begitu liar
Dibandingkan dengan ikatan yang ditetapkan Tuhan
Tidak juga ikatan ibu dan anaknya!

(Max Havelaar, Karya Multatuli halaman 41)

Resensi Buku
Judul : Max Havelaar
Penulis : Multatuli (Eduard Douwes Dekker)
Alih bahasa: Andi Tenri W
Editor : Hamonangan Simanjuntak
Penerbit : Narasi, Jogjakarta
Edisi : 2014

Saya sudah lama mengincar buku ini dan menemukan buku yang masih baru dan meminjamnya di Perpustakaan Kabupaten Blitar yang berada di jalan Veteran. Buku bersampul kuning emas ini merupakan karya seorang tokoh terkemuka asal Belanda yang tinggal cukup lama di Kabupaten Lebak Banten bernama Multatuli yang merupakan nama samaran dari Eduard Douwes Dekker.

Eduard Douwes Dekker adalah anggota Dewan Pengawas Keuangan Pemerintah Belanda yang pertama kali ditempatkan di wilayah Batavia (Hindia-Belanda) pada 1840. Tahun 1842 ia meminta dipindahkan ke Sumatera Barat. Di tahun yang sama pula, ia dipindahkan ke Natal, Sumatera Utara, untuk bertugas sebagai Kontelir. Baru setelah itu ditugaskan di Banten.

Membuka Busuknya Kolonialisme

Buku ini dibuka dengan sebuah pendahuluan yang menyentuh tentang keadaan seniman di akhir hidupnya. Sebuah persembahan untuk istrinya yang bernama Tina. Buku ini ditulis Multatuli di sebuah losmen yang disewanya di Belgia pada musim dingin tahun 1859, setelah cukup lama ia tinggal di Indonesia mengunjungi perkebunan kopi.

Tulisan setebal 396 halaman ini berisi tentang kritik tajam yang telah membuka sebagian besar mata publik dunia tentang betapa perihnya arti sebuah penindasan (kolonialisme).

Dalam buku ini, Multatuli menjelaskan tentang busuknya Kolonialisme Hindia Belanda, dan memberi ilham bangsa Indonesia untuk merdeka. Cerita tentang menderitanya petani di Lebak Banten yang karena kemiskinannya tidak bisa mendapatkan jodoh dari kelas yang lebih tinggi. Petani dianggap sebagai profesi yang sangat rendah, miskin dan tidak berkelas.

Menginspirasi Kartini dan Bung Karno

Di era jaman penjajahan Belanda, Max Havelaar merupakan buku yang sulit dicari bahkan dilarang beredar. Namun, beberapa tokoh pergerakan Indonesia membacanya dengan seksama seperti tokoh pergerakan Wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini dan Presiden pertama Indonesia Ir. Sukarno.

Kini, setelah 70 tahun merdeka (terbit 2014), anda bisa membaca karya fenomenal Multatuli yang saya sendiri merasa kebingungan membacanya karena ditulis dengan bahasa sastra tingkat tinggi yang membutuhkan perenungan terhadap curahan hati tokoh Max Havelaar tentang perasaannya pada perempuan yang ada dalam hidupnya, tentang kemiskinan kaum petani dan menderitanya perempuan yang terpisah dari suaminya yang ikut berperang menentang kolonialisme.

“Nak, jika mereka memberitahumu bahwa aku adalah bajingan yang tidak memiliki keberanian melakukan keadilan…, bahwa banyak ibu yang meninggal karena kesalahanku…, ketika mereka berkata bahwa ayah melalaikan tugas yang telah mencuri berkah dalam kepalamu…, oh, Max, max beritahu mereka betapa menderitanya aku! (Multatuli)

Saat saya menulis resensi ini, saya belum selesai membacanya. Jadi tidak tahu kelemahan kelebihannya. Semoga suatu hari nanti, orang akan paham dan bisa membedakan siapa itu Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, apa hubungannya dengan Ernest Douwes Dekker  yang pernah menjadi penjaga perpustakaan di Kotabaru Jogjakarta? Dan apa saja karya  Multatuli dan pemikirannya di masa lalu.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah berkunjung ke Museum Multatuli di Rangkas Bitung Lebak Banten. Sebaiknya, jika anda ingin tahu lebih dalam sosok Multatuli baca terlebih dulu buku ini.

Setelah itu baru berkunjung ke museum Multatuli, lihat film dokumentasinya dan harus paham betul sejarah kolonialisme dan prrgerakan Indonesia.

Malang, 22.06 WIB

Advertisements