Posts Tagged ‘#bukukaryasukarno’

Resensi Buku: Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia)
Penulis : Ir. Sukarno
Edisi : Tjetakan Ketiga, 1963
Penerbit: Panitya Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Sukarno
Koleksi: UPT Perpustakaan Bung Karno Kota Blitar, Perpustakaan Nasional RI
Sarinah dan Perjuangan Perempuan untuk Keadilan Sosial

“Sjair Inggris mengatakan Man works from rise to set of sun, woman’s work is never done, artinya, laki kerdja dari matahari terbit sampai terbenam, perempuan kerdja tiada hentinja siang dan malam,” Ir.Sukarno, dalam buku Sarinah halaman 77

Screenshot_2018-07-28-14-34-15

Orang Ketjil Berbudi Besar

Raden Soekemi Sosrodiningrat dan Ida Ayu Nyoman Ray memiliki dua orang anak, yaitu Sukarmini dan Sukarno. Sebagai keluarga bangsawan, mereka memiliki kesibukan lain disamping membesarkan dua orang anaknya yang masih Balita. Sukarno akhirnya di asuh oleh Sarinah.

Kitab Sarinah ditulis oleh Sukarno sesudah berpindah kediaman dari Djakarta ke Djogjakarta, dimana saat itu tiap dua pekan sekali Sukarno mengadakan banyak kursus-kursus keputrian. Sukarno menulis bahwa alasan utamanya kenapa kitab (buku) ini dinamakan “Sarinah”?

Saja menamakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terimakasih saja kepada pengasuh saja ketika saja masih kanak-kanak. Pengasuh saja itu bernama Sarinah. Ia “mbok” saja. Ia membantu ibu saja, dan dari dia saja menerima banjak rasa kasih. Dari dia saja mendapat peladjaran mentjintai “orang ketjil”. Dia sendiripun “orang ketjil” tetapi budinja selalu besar! Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu.

Mendapat Pujian dari Tiga Pemimpin Dunia

Sebagai orang yang pernah bekerja di penerbitan, saya tidak menyangka jika buku yang ditulis presiden pertama Indonesia ini, sampulnya memuat endorsement (pujian) dari para pemimpin dunia, padahal buku ini terbit tahun 1963. Berarti bisa dibayangkan jika, dunia penerbitan di Indonesia sudah mengalami kemajuan pesat sejak jaman perjuangan. Paling sulit dalam proses penerbitan buku selain editing adalah mencari endorsement, harus lama menunggu, menyesuaikan jadwal dan menanti tokoh tersebut membaca buku yang ditulis. Ini membuktikan bahwa Bapak Proklamator kita selain menguasai banyak bahasa juga dikagumi pemimpin dunia.

Orang pertama yang menulis pujian terhadap buku bersampul gading dengan judul merah ini, adalah Mahatma Gandhi. Dia menulis sebagai berikut. Banyak sekali pergerakan-pergerakan kita kandas di tengah djalan, oleh karena keadaannya wanita kita”-Gandhi.
Setelah itu, pemberi pujian kedua adalah  Lenin. Lenin berkata “Djikalau tidak dengan mereka (wanita), kemenangan ta’ mungkin kita tjapai,” Lenin dan sebagai penutupnya adalah Presiden Turki,  yang menulis “Diantara soal-soal perjuangan yang harus diperhatikan, soal wanita hampir selalu dilupakan,” Kemal Ataturk.

Enam Bab Penuh Makna Filosofis

Anda jangan membayangkan jika buku ini menceritakan biografi Sarinah dari A-Z. Karena yang dalam buku ini yang dimaksud Sarinah oleh Bung Karno adalah symbol perempuan Indonesia yang tidak berdaya, lebih banyak menceritakan tentang pemikiran perempuan Indonesia yang harus berjuang, memperjuangkan dirinya, bangkit dari kebodohan dan keterpurukan namun tidak lupa kodrat.

Bab pertama, Sukarno menulis panjang lebar tentang Makna dan Soal Perempuan, bab kedua mendedahkan tentang Laki-laki dan Perempuan, bab tiga tentang dari Gua ke Kota. Terlihat, dalam proses penulisan, Sukarno sangat bersemangat dengan tulisan yang diketik dan banyak penekanan huruf-huruf besar jika menyangkut salah satu nilai yang diperjuangkan.

 

Usai tiga bab menjelaskan tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga, bernegara, dan kehidupan sosial, bab empat pembahasannya lebih mendalam yaitu menyangkut ideologi Matriarchat dan Patriarchat, yang dilanjutkan dengan bab lima membahas tentang wanita bergerak.

Dalam kaitannya dengan ideologi matriarki, patriarki, feminis dan neo feminis anda akan kaget dengan pemikiran Beliau. Dimana disini, dia mengambil banyak ide-ide tentang gerakan wanita yang menurut dia bisa menjadi semacam ruh dalam suatu perjuangan. Selain karena perempuan memiliki rahim (kasih sayang), maka ruh dalam rahim perempuan harus memperjuangkan diri akan terciptanya suatu kehidupan penuh harapan.

Sarinah Dalam Perdjoangan Republik Indonesia (more…)

Advertisements