Posts Tagged ‘#JeanPaulSartre’

Judul Buku:
Seks dan Revolusi
Penulis:
Jean Paul Sartre
Penerjemah :
Sivester G Sukur
Cetakan: I, Mei 2002
Tebal: 258 Halaman
Penerbit: Bentang Pustaka Yogyakarta

Buku ini merupakan kompilasi dari berbagai esai Sartre yang dikelompokkan ke dalam dua tema utama, yaitu seks dan revolusi. Masing-masing tema berdiri sendiri dan dibahas dengan sudut pandang yang berbeda. Namun demikian pemaparan secara kontekstual dengan gagasan-gagasan yang mengejutkan menjadi ciri dari esai-esai Sartre ini. Buku ini diterjemahkan dari buku “Modern Times: Selected Non Fiction”, Penguin London, 2000.

Jean Paul Sartre (1905-1980) seorang pendiri eksistensialisme Perancis, memiliki pengaruh besar di berbagai bidang pemikiran modern. Sebagai seorang penulis yang cerdas dan orisinil, Sartre berkarya dalam banyak genre yang berbeda-beda. Sebagai seorang filsuf, novelis, penulis drama, biograf, kritisi di bidang kebudayaan, dan seorang wartawan politik, Sartre mendalami makna kebebasan manusia dalam suatu abad yang dibayangi oleh peperangan.

Sejumlah esai panjang dalam buku ini merefleksikan visi eksistensialis Sartre tentang Seksualitas dan revolusi. Hasrat seksual, cinta maternal,  bagi Sartre merupakan fenomena yang sesungguhnya tak lepas dari suatu modus kesadaran (tubuh) untuk mengada dan menjadi. Yang unik, didalam seks, kesadaran itu kemunculannya melibatkan penemuan tubuh lain.

Ketika berbicara tentang seks, cara pemaparan Sartre sangat berbeda dengan pembicaraan-pembicaraan seks pada umumnya. Seks, bagi seorang eksistensialis seperti Sartre tidak hanya bisa dipandang dari satu sisi saja yakni hasrat pemenuhan seksual. Seks adalah suatu hal yang harus dijabarkan secara mendetail dengan karakter dan fungsi yang melekat padanya.

Dalam esai panjang di awal buku ini, Sartre membahas tentang apakah makna hasrat yang sesungguhnya? Benarkah bahwa hasrat merupakan bagian terdiri dari fungsi tubuh sehingga pemenuhannya pun memerlukan kondisi tertentu. Sartre mengaitkan setiap permasalahan tersebut dengan keadaan tubuh fisik, meski hal ini tidak dapat diartikan bahwa setiap anggota tubuh tersebut akan juga bisa merasakan pemenuhan kondisi psikologis tersebut. Pertautan antara kondisi psikologis dan tubuh fisik ini kembali dipaparkan ketika Sartre membicarakan cinta keibuan.

Keingintahuan yang dingin dan kecemasan hati ini adalah kunci untuk memahami dunia seksual Sartre. Hal ini menimbulkan penghayatan yang tak terlupakan terhadap orang lain secara rinci, tanpa ilusi. Dia sangat piawai dalam seni kelam tentang cinta. Selain anak sekolah Perancis yang pakar dalam seluk beluk rumah bordil, Sartre mengetahui gairah menghanyutkan yang melambung dalam puisi-puisi seksual Baudelaire dan keletihan yang menggelisahkan yang murung dalam Baron Charlus-nya Proust.

Kebebasan yang merupakan ciri dari pemikiran Sartre, sangat mewarnai esai-esai ini hingga acapkali memunculkan suatu hal yang bagi para pembaca tidak lazim untuk dibicarakan.

Adapun mengenai revolusi, pandangan-pandangan Sartre tidak dapat dilepaskan dari pengalaman pribadinya saat menjalani wajib militer, ditangkap dan dipenjara oleh pihak Jerman ketika terjadi Perang Dunia II. Pengalamannya saat melarikan diri dari penjara tersebut untuk kemudian bergabung dengan gerakan perlawanan di Prancis sangat memperkaya pemikirannya sehingga dia mengalami beberapa fase revolusi secara intelektual. Oleh karena itu tidaklah mengherankankan jika darinya terlahir pemikiran-pemikiran yang begitu orisinil dan mendalam, saat ia merespon gagasan-gagasan tentang demokrasi, kelahiran, Stalinisme, konolialisme Eropa terhadap bangsa kulit hitam Afrika, pembebasan Paris, dan juga situasi Chekoslovakia tahun 1968.

Revolusi-revolusi besar yang muncul pada aabd ke-20 diulas oleh Sartre secara mendalam dan dinamis. Ia mendedahkan keterkaitan antara pengalaman historis kolektif itu dengan kesadaran individual. Terutama pada kaum libertarian penganut doktrin kebebasan yang selalu kritis. Disamping itu, esai-esai tentang revolusi inipun memprediksikan suatu bayangan ke depan, yakni peristiwa-peristiwa besar yang menyusul kemudian.

Meski merupakan respon terhadap situasi zamannya esai-esai Sartre ini tetap layak dibaca oleh pembaca masa kini karena di sini terimplikasi penghargaan yang tinggi terhadap manusia sebagai individu, yakni sesuatu yang kini cukup langka ketika manusia lebih banyak dipahami sebagai massa, masyarakat, gerombolan, ataupun semacam pangsa pasar dan konsumen yang tak lagi memiliki kebebasan memilih, berimajinasi, bebas memilih dan mempertanggungjawabkan hidup.

Buku ini adalah salah satu karya Sartre yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Membaca buku ini akan membuka cakrawala pembaca yang tidak hanya tentang seks dan revolusi saja, tapi juga banyak menyinggung masalah cinta kasih, moralitas, dan ketulusan seorang eksistensialis.

Gaya penulisan yang blak-blakan menjadi daya tarik buku ini, apalagi sang penulis, Sartre mempunya reputasi internasional yaitu penghargaan Nobel dibidang kesusastraan pada tahun 1964, meskipun akhirnya dia tolak. Tergugah oleh keinginan besarnya akan kebebasan dan keadilan, dicintai dan dibenci dalam kehidupan, Sartre memposisikan diri sebagai pengganti autentik modern bagi Voltaire, Victor Hugo, dan Emilie Zola, sayang sekali bila anda melewatkan buku ini.

Resensi ini dimuat pada 21 Juli 2002 di Harian Bernas yang sekarang surat kabarnya sudah tutup.

Advertisements