Posts Tagged ‘#kanigoro’

Sedikit cerita tentang akhir pekan kemarin, kami mengunjungi salah satu tempat yang menjadi tujuan wisata warga Kanigoro dan sekitarnya, yaitu Pembangkit Jawa Bali, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lodoyo di Dusun Serut, Kecamatan Gogodeso, Kabupaten Kanigoro, kurang lebih setengah jam dari tempat kami tinggal.

Melewati jalur alternatif, kami melewati Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tlogo, almamater Mas Arif. Kami berjalan pelan menyusuri jalan sore itu. Tampak matahari sudah tenggelam meski hari masih jam lima sore.

 

Sesampainya di sana kami melihat bendungan air yang menjadi sumber tenaga listrik di sebelah kiri kanan luas membentang. Airnya tenang, dan aliran dari sungai-sungai sebelah kiri kanan deras kencang sehingga suasana sore itu sangat indah.

Kemarau panjang rupanya tidak mempengaruhi debit air yang ada. Meski di sepanjang perjalanan menuju kesana banyak pohon-pohon tinggi kering dengan daun berguguran, namun kondisi air di sini tetap melimpah dan bisa menjadi andalan untuk menerangi listrik yang ada di Jawa Bali.

Tidak terasa setengah jam lebih kita disana, bagus kan ya pemandangannya.  Banyak orangtua membawa anaknya ke sana. Pasangan muda mudi, remaja, dewasa, hingga lelaki setengah baya banyak berkunjung dan mampir disana sejenak untuk berfoto dan mengabdikan momen istimewa mereka.

Peranan PLTA sangat bergantung pada kondisi debit air yang ada. Mudah-mudahan jika kemarau panjang kelak, air yang ada bisa kita hemat semaksimal mungkin agar bisa menyinari Pulau Jawa dan Bali. Kita juga bersama keluarga harus menghemat penggunaan listrik mulai dari mengurangi main game di gawai, mengurangi nonton televisi dan matikan lampu jika tidak penting.

5 November 2018

Pukul 09.49

Advertisements

Sore tadi kami berjalan-jalan sore menyusuri perumahan kampung, pematang sawah, dan kebun jagung. Tujuannya selain untuk berolahraga, kami ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir (sarean).

Jarak dari rumah keluarga besar kami di Dusun Banggle, Kanigoro Blitar lumayan jauh, ada sekitar kurang lebih dua kilo meter. Kami berjalan enam orang, saya, mas arif dan empat orang keponakan.

Kurang lebih 50 menit kami berjalan, cuaca sore itu sangat cerah dengan udara segar. Meskipun bulan ini bukan musim penghujan, namun semua tanaman di perkebunan tumbuh subur dan saatnya musim berbuah.

Di Banggle, suasana desa sangat terasa meski kami tinggal di pinggir jalan raya. Namun, rumah di sini tidak begitu padat dan rapat. Jarak satu rumah dengan yang lain tidak berdekatan, akan tetapi disini hidup rukun dan damai.

Bahkan, jika anda berjalan jauh ke setiap sudut desa, lebih banyak perkebunan dan sawah daripada rumah tempat tinggal. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa yang lain mulus dan dipergunakan masyarakat dan petani untuk membawa hasil perkebunan, atau untuk mencari dedaunan makanan ternak dan sapi.

Ada yang naik sepeda, ada juga yang naik gerobak motor.Banyak rumah yang di belakangnya memelihara sapi dan kambing, dimana setiap sore para petani laki-laki atau perempuan pulang dari kebun mereka atau memberi makan ternak.

Tidak terasa kami pun sampai di tujuan, tidak lama kemudian kami pulang dan kembali berjalan sambil olahraga sore. Tidak sengaja kami yang berjalan sambil bercanda bersama keponakan melihat matahari yang hampir tenggelam sore itu. Tidak sia-sia kami abadikan.
Jika ingat matahari saya suka ingat usia kita yang juga akan semakin tua dan tenggelam seperti matahari, untuk kemudian, terbit lagi besok pagi dengan semangat baru.

Ada satu lagu yang selalu kuingat yang berkisah tentang Matahari, lagu Iwan Fals yang sangat terkenal.

Mata Hati

Matahari yang berangkat pulang
Tinggal jingga tersisa di jiwa
Bintang-bintang menyimpan kenangan
Kita diam tak bisa bicara

Hanya mata, hanya hati, hanya kamu hanya aku.
Aku di sampingmu, begitu pasti
yang tak kumengerti masih saja terasa sepi