Posts Tagged ‘#KisahRakyat’

Rara Mendut (Sebuah Trilogi)
Penulis: Y.B. Mangunwijaya
Penerbit: Gramedia, 2008
Tebal: 799 Halaman

Lebih Baik Menyambut Ajal di Ujung Keris, daripada Melayani Nafsu

Novel karya Romo Mangun ini dibuka dengan sebuah cerita¬† dari pinggir pantai. Menggambarkan kehidupan perempuan dan nelayan di sebuah teluk. Bahasanya yang humanis, syahdu, kadang campur bahasa Jawa, merupakan ciri khas Romo Mangun dalam mengurai kata. Membuat anda akan jatuh cinta membaca “Rara Mendut” sejak halaman pertama.

Ombak-ombak berbuih di pantai kampung nelayan Telukcikal pagi itu, seperti pagi-pagi yang lain, tak jera menderukan gelora kemerdekaan dan himne warna keabadian.

Tetapi tidak seperti hari-hari lazim, dari dalam buih-buih putih mendidih muncullah wajah, lalu sosok seorang gadis berkuncup-kuncup harapan; basah kuyup, rambut panjang sebagian terurai tak karuan dari ikatan ; tertawa bahagia karena baru saja ter-kapyuk (terciprat).

Entah kenapa saya selalu suka karya -karya Romo Mangun seperti halnya Rara Mendut yang bercerita tentang budak rampasan yang menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna, demi cintanya kepada Pranacitra.

Dibesarkan di kampung nelayan pantai utara Jawa, ia tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tak pernah menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya dianggap nyebal tatanan di lingkungan istana dimana perempuan diharuskan serba halus dan serba patuh. Tetapi ia tak gentar. Baginya lebih baik menyambut ajal di ujung keris daripada melayani nafsu sang Panglima tua.

Ada juga tokoh lain dalam kisah rakyat ini yaitu Genduk Duku dan Lusi Lindri. Kisah yang dikembangkan dari Babad Tanah Jawi dan berbagai sumber oleh Y.B. Mangun Wijaya, dicipta baru dan dibumbuinya dengan humor-humor segar khas almarhum Romo Mangun. Hingga tetap relevan untuk generasi masa kini.

4 April 2018, Pukul 16.04