Posts Tagged ‘#pedomanluhurdanprinsiphiduporangjawa’

Resensi Buku
Judul: Etika Jawa (Pedoman Luhur dan Prinsip Hidup Orang Jawa)
Penulis: Sri Wintala Achmad
Editor: Fita Nur A
Edisi: Januari, 2018
Penerbit: Araska, Bantul Jogjakarta
ISBN: 978-602-300-470-6

Dalam kehidupan manusia, peran etika sangat penting setelah ditegakkannya hukum. Karena dengan etika, manusia dapat membangun pribadi dan kepribadiannya menjadi kepribadian yang baik. Dalam prakata buku ini, ada semacam ungkapan bahwa hewan (binatang) hidup dengan nalurinya. Oleh karena itu hewan tidak mengenal etika. Tidak mengenal baik buruk dan benar atau salah. Maka sangatlah bodoh jika manusia menghajar hewan sampai tewas.

Berbicara mengenai etika, tidak dapat dilepaskan dengan daerah atau negara, dimana etika tersebut oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu orang-orang Barat berbeda dengan etika orang-orang Timur. Etika yang diterapkan oleh orang-orang Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Bali berbeda dengan etika yang diterapkan oleh orang-orang Jawa.

Mendalami Etika Filosofis dan Etika Teologis

Terlihat dalam pemaparan buku ini, sang penulis, Sri Wintala Achmad perempuan asal Cilacap  ini sangat hati-hati dalam menulis bertutur. Dimulai dengan makna etika dan arti kata Jawa.

Ada tiga pandangan dalam memahami etika yaitu etika filosofis yaitu etika yang berasal dari kegiatan berpikir menyangkut dua sifat yaitu non empiris dan praktis. Kedua, etika teologis yang bertitik tolak dari preuposisi agama. Etika teologis disebut juga Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris. Pandangan ketiga adalah relasi etika filosofis dan etika teologis menyangkut tiga aspek revisionsme (Augustinus), sintesis (Thomas Aquinas) dan Diaparalelisme (FED. Schleirmacher).

Banyak pertanyaan muncul kenapa perspektif budaya dan bahasa Jawa hanya meliputi Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimwa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Timur. Sri Wintala Achmad menjelaska  jika ketiga wilayah tersebut memiliki budaya hampir sama yaitu masyarakat asli Jawa Tengah menggunakan bahasa Jawa Panginyongan, DIY menggunakan bahasa Jawa dan Jawa Timur menggunakan Bahasa Jawa Pangarekan.

Sembilan Bab Bermutu dan Berkualitas

Terus terang, jika anda mengibaratkan makan, membaca buku ini isinya daging semua atau bernas dan berkualitas. Dimana ada sembilan bab dalam buku ini yang membahas saripati pembelajaran etika Jawa.

Dari mulai Pengertian hingga Slogan Etika Jawa, Ciri-Ciri Etika Jawa, Petuah Lisan Sumber Etika Jawa, Karya Sastra Etika Jawa, Aneka Simbol dan Etika Jawa, Etika Jawa Dalam Seni Tradisi, Etika Jawa Dalam Upacara Tradisi, Etika Jawa dan Aliran Kepercayaan serta Slogan-Slogan Etika Jawa.

Selain pengamatan pribadi, Sri Wintala Achmad juga menyampaikan beberapa pemikiran pengamat Jawa lainnya seperti Pardi Suratmo dan Iman Budhi Santoso misalnya dalam beberapa slogan-slogan dan etika Jawa.

Ada tujuh slogan yang dijadikan sumber etika antara lain. Eling lan waspada (bersikap ugahari, kritis dan tidak mudah terombang ambing), Sepi ing pamrih rame ing gawe (agar manusia bersikap penuh tanggung jawab, bertindak karena keinginan melainkan kebaikan), Andhap Asor (slogan yang mengajarkan sikap penuh rendah hati terhadap apa yang digariskan), Nrima (slogan agar manusia tidak memaksakan kehendak dan ambisius), Sabar (slogan agar manusia tidak terburu-buru, penuh perhitungan dalam bertindak), Aja Dumeh, slogan yang mengajarkan kepada manusia agar tidak sok atau sombong saat hidup bergelimang harta atau benda saat berkuasa), Gotong royong, slogan yang mengajarkan kepada manusia untuk bersikap suka memberi kesempatan kepada orang lain, saling menolong dan bekerjasama.

Sebenarnya masih banyak lagi beberapa tradisi dan makanan khas Jawa, kaitannya etika Jawa dan aliran kepercayaan. Namun sebaiknya jika anda ingin memahami lebih mendalam buku ini anda pasti akan sangat gembira.

Karena kalau saya baca sampai akhir  bagian Manunggaling Kawula Gusti hingga Kasampurnaning Dumadi (208-209) penulis yang merupakan alumni Fisafat UGM Yogyakarta ini pemaparannya sangat bagus, editannya bersih, nyaris sempurna tanpa cela.

Berbagai sumber yang lazim digunakan oleh orang tua dalam etika Jawa juga ada seperti dongeng, lelagon, tembang, simbol, benda pusaka, bahasa aksara, sesaji, kuliner, arsitektur, busana adat dan seni tradisi.

Apalagi di bagian akhir, ada beberapa slogan jawa yang berjumlah 57 slogan yang mengandung etika Jawa yang membuat anda mengerti kehidupan masyarakat Jawa.

Seperti Mikul dhuwur mendhem jero (memikul yang tinggi, mengubur yang dalam,dimana seorang anak harus menghormati orangtuanya yang telah melahirkan), Nabok nyilih tangan (memukul dengan meminjam tangan, Menang tanpa bala, ngasorke tanpa senjata artinya seseorang dapat meraih kemenangan dan menaklukkan dunia tanpa senjata hanya dengan cinta dan lain sebagainya.

Mengutamakan Spiritualitas daripada Materialitas

Jadi jika anda berada di luar daerah dari suku manapun dan memiliki sahabat, pasangan dan pimpinan dari suku Jawa tidak ada salahnya membaca buku ini sebagaai rujukan dan pedoman hidup etika Jawa.

Masyarakat Jawa Dimana seperti disampaikan Franz Magnis Suseno yang mengatakan jika di dalam lingkup masyarakat Jawa yang lebih memerhatikan spiritual ketimbang material, etika Jawa mendapatkan tempat utama. Oleh sebab itu pembelajaran mengenai etika Jawa tersebut dilakukan orang tua sejak anak masih berusia dini.

Koleksi khusus perpustakaan Bung Karno

28 Agustus 2018

Pukul 15:38

20180827_153639

 

Advertisements