Posts Tagged ‘#widyanuariekoputra’

Awal November kemarin, majalah Basis tiba. Tema utama yang diangkat kali ini tentang “Kekayaan dan Persoalan Moral” dan sub tema lainnya seperti yang anda lihat di halaman sampul. Namun, ada beberapa artikel menarik yang saya suka dalam edisi kali ini, terutama wawasan baru berkaitan dengan istilah yang selama ini kita kenal. Dimana yang menulis di Majalah Basis tidak hanya para redaktur dan dosen Universitas Sanata Dharma (USD) tapi juga beberapa guru yang mengajar di sekolah dasar, penggiat literasi, penulis cerita anak dan pemerhati sosial, yang ditutup dengan pembahasan arsitektur sebuah galeri yang bernilai artistik.

Seperti biasa, majalah Basis itu saya baca harus saat tenang. Saat datang tidak langsung dibaca. Namun yang saya suka, karena saya sudah tidak lama mengikuti perkembangan akademik, saya tidak menyangka jika perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat dan binal.

Dimulai dari Mesianisme, dan Keutamaan Hidup Bertetangga

Apa itu Mesianisme? bagi saya ini istilah terbaru dalam dunia filsafat, membuat saya merasa sangat bodoh. Dalam artikel berjudul “Mesianisme sebagai Struktur Pengalaman dan Sejarah” yang ditulis dengan sangat keren oleh Fitzerald Kennedy Sitorus, Dosen Filsafat Fakultas Liberal Alts (FLA), Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci Tangerang, menegaskan jika Mesianisme adalah istilah yang berasal dari tradisi religius Judeo-Kristen yang dalam perkembangannya kemudian menjadi istilah generik untuk setiap kepercayaan atau ajaran mengenai kedatangan (kembali) seorang atau sekelompok penyelamat atau penebus pada akhir sejarah / zaman untuk mengembalikan segala kebaikan dari masa lalu yang telah hilang.

Peristiwa kembalinya masa lalu di masa depan itu bisa bersifat eskatologis apokaliptik, yakni penyelamatan manusia dari dunia ini melalui penghancuran dunia sekarang dan penciptaan baru yang sama sekali baru, tapi bisa juga bersifat politis, yakni penyelamatan manusia di dunia sekarang ini melalui total struktur-struktur sosial politis lama dan penciptaan struktur baru yang dapat mewujudkan harapan masyarakat yang berangkutan (Sabin Brachter).

Secara etimologis, mesias berasal dari bahasa Ibrani, mashiah, yang artinya (yang diurapi, atau yang diberkati (oleh Tuhan), atau yang terpilih (Lanternari, 1962: 52). Sesuai dengan asal – usulnya dalam konteks bangsa Israel, istilah ini mengacu kepada seorang pribadi yang berasal dari tengah-tengah bangsa Israel sendiri, yang dipilih Tuhan untuk mengemablikan zaman kejayaan Israel. Dimana zaman yang dimaksud adalah zaman ketika bangsa Israel hidup dalam kebebasan, kedamaian, harmoni, dan keadailan pada masa pemerintahan Raja Daud.

Tulisan sepanjang tujuh halaman ini bagus, anda wajib membacanya dimana ada beberapa bab tentang Universalisasi Paham Mesianisme, Beberapa Konsepsi paham mekanisme intelektual Yahudi, Struktur Pemikiran Mesianistik, serta Mesianisme dalam sejarah.

Setelah saya membaca Mesianisme, saya membaca tulisan Almarhum Anton M. Moeliono seorang Pemulia Bahasa yang ditulis oleh Tri Winarno, seorang esais dan kolektor buku. Dimana edisi beberapa waktu yang lalu ada Gorys Keraf, kali ini perkembangan bahasa membahas pemikiran beliau, pelopor terbentuknya Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Namun, dari sekian pemikiran almarhum, yang menarik adalah kredo pamungkas Anton M. Moeliono yang dituliskannya pada 1983.

“Yang enggan berbagi hidupnya dengan tetangga, yang segan memberi hidupnya untuk sesama, akan binasa. Yang rela berkorban memberi cinta dan jasa, yang suka berkawan akan tahu bahwa ia hidup selalu,”.

Wedang yang Mengejutkan

Saat menelusuri lembar demi lembar yang saya baca seperti Perenialisme (Heru Prakosa), Cerita, Kematian, dan Hal-hal yang Bersehadap (Wdyanuari Eko Putra), Galilah dan Daminah (Satyaningsih), Sawah, Petuah dan Pemandangan Indah (Bandung Mawardi), Kolonialisme, Pergundikan dan Alat Pergerakan (Retor Aw Kaligis), saya dikejutkan dengan tulisan menarik tentang “Air” yang ditulis oleh Tuginem (Guru SMPN 2 Karangdowo).

Dengan bahasa yang mengalir, Tuginem menjelaskan asal muasal air, manfaat air dari mulai memasak, mandi, menyiram tanaman, dan pentingnya air bagi kehidupan, sehingga air menjadi bahan utama hidup.

“Ketika sedang duduk di serambi rumah, seorang teman datang dengan wajah pucat dan kehausan. Segelas air segera kutuangkan untuknya. Rasa haus yang dideritanya segera lenyap. Wajahnya kembali ceria. Ucapan terimakasih meluncur tulus dari mulutnya. Air menjadi perekat untuk bersaudara. Sesuai dengan tema wedang dalam budaya Jawa yang dimaknai “nggawe kadang” atau membuat persaudaraan.

Sastra yang Merakyat

Pada bagian berikutnya, satu artikel menarik di bab buku yang ditulis oleh Dian Vita Ellyati, seorang pemerhati anak, berjudul “Ujung Pelangi di Pangkuan Ibu”. Dimana di awal kalimat dia mengutip tulisan seorang tokoh perempuan.

“Di pangkuan orangtuanya, anak-anak dibentuk sebagai pembaca,” (Emilie Buchwad). Dalam penjelasan di bawahnya ia menjelaskan tentang keutamaan membacakan buku. Selain agak sulit dipahami karena terlalu banyak referensi dan meloncat-loncat, saya mengira mungkin tulisan ini bermaksud bahwa membaca bagi anak itu mendorong pembentukan sirkuit ketika otak secara aktif menerima informasi – informasi essensial. Saya kira penulis harus membedakan mana buku anak dan penulis lagu anak di rubrik buku (tentu ini berbeda), biar pembaca tidak bingung.

Di rubrik tentang kabar, ada satu tulisan Willy Satya Putranta, yang menulis tentang pemikiran Sindhunata tentang Sastra yang Merakyat. Di mana saat ini kita melihat pameran sastra berada di mall atau pusat perbelanjaan mewah, butik ternama dan diulas secara membahana namun terkadang isinya di luar dugaan.

Akan tetapi, Willy Satya Putranta justru mengupas tentang beberapa karya Shindunata seperti “Anak Bajang Menggiring Angin”, “Putri Cina”, dan “Air Kata-kata”. Misalnya dalam puisi “Air Kata-kata” yang dihiphopkan oleh kelompok Jahanam dan Rotra, tukang becak pun hafal dari kata ke kata “Cintamu Sepahit Topi Miring,”.

“Tidak mungkin puisi yang elite akan sampai pada pembaca yang demikian. Orang-orang itu mungkin tidak tahu kalau itu puisi, tetapi bisa menikmatinya sebagai puisi. Inilah seharusnya sastra. Kalau sastra hanya bergerak di kalangan elit sastra, apa gunanya menjadi sastra yang memang bicara tentang kehidupan? semoga ini pula yang mewarnai bahwa sebuah sastra itu akhirnya betul-betul hidup merakyat semacam ini,” harap Sindhunata menandaskan.

Kanigoro, 13 November 2018
Pukul 13.53

Advertisements